Anda di halaman 1dari 8

TEORI-TEORI YANG MENDASARI PERKEMBANGAN

SOSIOLOGI-ANTROPOLOGI
A. TEORI EVOLUSI
Teori evolusi sosial mendapatkan pengaruh yang sangat kuat dari teori evolusi
biologis yang digagas oleh Charles Darwin. Inti teori ini adalah mengumpamakan
masyarakat sebagai organisme yang tumbuh secara bertahap sesuai dengan fase-fase
perkembangannya.
Dalam kehidupan kemasyarakatan, ada masyarakat yang sangat adaptif dengan
lingkungan sosialnya, sehingga mereka cepat mengalami perkembangan dari satu tahap
ke tahap berikutnya secara evolutif. Tetapi ada juga kelompok masyarakat yang tidak
mudah menyesuaikan diri dengan perkembangan masyarakat sekitar, sehingga mereka
lambat berkembang bahkan cenderung tidak mengalami perkembangan yang cukup
berarti dari waktu ke waktu.
Dalam memahami teori evolusi ada empat prinsip yang harus diperhatikan :
1. Harus terus berjuang untuk hidup (struggle for life).
2. Mereka yang bertahan hidup adalah mereka yang memiliki perlengkapan hidup
yang paling baik (survival of the fiftest).
3. Adanya seleksi alam (natural selection).
4. Adanya kemajuan ynag cukup berarti (progress).
Teori Charles Darwin ada kelemahannya, yaitu karena menyamakan sosiologi atau
ilmu sosial pada umumnya dengan ilmu biologi.
Beberapa tokoh lain dalam teori evolusi yang kemudian diadopsi sebagai teori evolusi
sosial :
1. Herbert Spencer (Stephen K. Sander, 1993:15)
Spencer berusaha memahami proses terjadinya segala sesuatu di alam semesta
ini dengan mereduksinya kedalam prinsip universal tunggal yang disebut hukum
evolusi. Menurut hukum ini segala sesuatu di alam semesta ini memiliki
kecenderungan berkembang dari keadaan yang tidak tentu, kacau, dan seragam
kepada keadaan yang dapat ditentukan, teratur, dan beragam.
2. Lewis Henry Morgan (Stephen K. Sanderson, 1993:15-16)
Ia membagi sejarah manusia ke dalam tiga tahap besar, yaitu tahap kebuasan,
barbarisme, dan peradaban. Tahap kebuasan adalah saat orang menggantungkan

3.

4.

hidupnya dengan berburu binatang liar dan meramu tanaman liar. Transisi ke
tahap barbarisme ditandai dengan domestikasi berbagai binatang dan tanaman
tersebut serta adanya perbaikan tambahan dalam teknologi. Munculnya tahap
peradaban menandai transisi dari masyarakat primitif yang disebut societas ke
masyarakat sipil yang disebut civitas.
Auguste Comte (Karl J. Veeger, 1992:80-81)
Mengemukakan teori evolusinya dengan mengambil cirri khas manusia, yaitu
akal budi sebagai prinsip evolusinya. Di jaman orang masih berfikir konkrit,
partikular, dan bukan disiplin rasional, maka magic, takhayul, dan agama
memainkan peran utama dalam masyarakat. Sedangkan di masa pemikiran
empiris, teknologi dan ilmu pengetahuan mengambil alih peran magic.
Kelemahan Auguste Comte dalam teori di atas adalah menganggap agama,
filsafat, dan magic harus ditinjau kembali, diubah, disesuaikan, dan dilengkapi
pemikiran bebas di bawah kekangan hukum evolusi.
Freidrich Hegel (Karl J. Veeger, 1992:81-82)
Sejarah dunia merupakan perwujudan bertahap dari roh yang berdiri sendiri.
Para sosiolog yang mengkuti paham filsafat Hegel diantaranya adalah Vilfedo
Trotter dengan teori nalurinya, Lugwig Gumplowics dengan teori rasanya.
Sedangkan Frederic Le Play dengan teori determinismenya, memisahkan
perkembangan masyarakat dari manusia, dan mengembalikan seluruh realitas
sosial itu kepada roh.
B. TEORI FUNGSIONALISME STRUKTURAL
Teori fungsionalisme struktural muncul sekitar tahun 1940-an. Secara esensial,
prinsip-prinsip pokok fungsionalisme struktural menurut Stephen K. Sanderson (1993:9)
adalah sebagai berikut:
1) Masyarakat merupakan sistem yang kompleks yang terdiri dari bagian-bagian
yang saling berhubungan dan saling tergantung.
2) Setiap bagian dari sebuah masyarakat eksis karena bagian tersebut memiliki
fungsi penting dalam memelihara eksistensi dan stabilitas masyarakat secara
keseluruhan.
3) Semua masyarakat memiliki mekanisme untuk mengintegrasikan dirinya, yaitu
mekanisme yang dapat merekatkannya menjadi satu.
4) Masyarakat cenderung mengarah pada suatu keadaan ekuilibrium atau
keseimbangan.
5) Perubahan sosial merupakan kejadian yang tidak biasa dalam masyarakat. Tetapi
apabila itu terjadi juga, maka perubahan itu pada umumnya akan membawa
kepada konsekuensi-konsekuensi yang menguntungkan masyarakat secara
keseluruhan.
Sosiolog Amerika Serikat, Robert K. Merton menegaskan bahwa terdapat enam arti
fungsi , yaitu sebagai berikut:

1) Sosiologi mengartikan fungsi sebagai akibat atau konsekuensi logis, obyektif


(nyata, lepas dari maksud atau motivasi seseorang) terbuka untuk setiap
pengamatan empiris dan dari suatu unsur sosio-budaya bagi kesatuan sosial yang
lebih besar.
Contoh, dapat dipertanyakan apakah fungsi sekolah bagi masyarakat luas?
Sekolah menyampaikan pengetahuan dan keterampilan kepada generasi muda,
mengurung anak-anak di suatu kompleks selama beberapa jam sehingga tidak
merepotkan orang tua atau membahayakan lalu lintas, saling mempertemukan
orang yang sebelumnya tidak dikenal, membuat orag mengalami berbagai
pengaruh yang berperan untuk membentuk kepribadian mereka dan lain-lain. Juga
tidak lupa akan adanya hal-hal negatif yang timbul dari suatu fenomena sosiobudaya ini yang mungkin tidak disadari orang adalah termasuk dalam konsep
fungsi. Misalnya, suatu sistem pendidikan tertentu dapat mengakibatkan
tertundanya proses pendewasaan para remaja, menghambat pemikiran
individual,mengakibatkan ketergantungan yang lebih lama atau suatu kultus guru
yang berlebihan.
2) Merton, dalam hal fungsi ini membantah pendapat Malinowsky, bahwa semua
praktek atau unsur sosio-budaya mesti mempunyai suatu fungsi. Pandangan
Fungsionalisme semacam ini tidak boleh diapriorikan. Hanya penelitian empiris
saja yang dapat membuktikannya.
3) Merton juga membatasi asumsi lain dari Malinowsky dan Radclife Brown yang
menyebutkan bahwa setiap unsur sosio-budaya mempunyai fungsi baik dan
positif. Lebih-lebih di zaman sekarang ini, kondisi dan komposisi masyarakat
bersifat pluricultural dan terdiri dari kelas-kelas sosial yang jarang atau tidak
pernah akan tejadi bahwa suatu adat, kebiasaan, peraturan, atau norma menjadi
sama fungsinya untuk semua golongan.
4) Dalam mempelajari dan mengiventarisasi konsekuensi-konsekuensi tertentu,
haruslah diperhitungkan juga adanya kemungkinan bahwa suatu adat atau norma
dapat diganti.
5) Disamping konsep alternatif-alternatif fungsional, menurut Merton harus juga
dipahami konsep keharusan fungsional(functional necessity) atau prasyarat
fungsional(functional prerequisites)
Human Societies (1974:28) menyebutkan ada enam keharussan fungsional,
yaitu: komunikasi, produksi, distribusi, pertahanan, penggantian anggota lama,
dan control sosial.
6) Dalam hal fungsi di atas, Merton membuat pembedaan terkenal, yaitu fungsi
nyata (manifest function) dan fungsi sembunyi (latent function). Fungsi disebut
nyata apabila konsekuensi tersebut disengaja, dimaksudkan atau setidaknya
diketahui. Adapun fungsi disebut sembunyi apabila konsekuensinya tersebut
secara obyektif ada tetapi tidak (belum) dketahui.

Teori fungsionalisme struktural menekankan kepada keteraturan (order) dan


mengabaikan konflik dan perubahan dalam masyarakat. Konsep utama mereka adalah
fungsi, disfungsi, fungsi laten, fungsi manifest,dan keseimbangan (equilibrium).
Menurut George Ritzer (1985:25), asumsi dasar teori fungsional struktural adalah
bahwa setiap struktur dalam dalam sistem sosial, juga berlaku fungsional terhadap yang
lainnya. Sebaliknya kalau tidak fungsional maka struktur itu tidak akan ada atau akan
hilang dengan sendirinya.
C. TEORI KONFLIK
Teori ini kurang memperhatikan fenomena konflik dalam masyarakat. Proposisi yang
dikemukakan oleh penganut teori konflik selalu bertentangan dengan proposisi dalam
teori fungsionalisme struktural.
Teori konflik adalah suatu perspektif dalam sosiologi yang melihat masyarakat
sebagai suatu sistem sosial yang terdiri dari bagian-bagian yang masing-masing
komponennya memiliki kepentingan yang berbeda. Teori ini memiliki akar yang kuat
dalam karya Karl Marx.
Dasar ajaran Marx adalah penguasaan alat-alat produksi (mode of production) dan
barang-barang material dapat menyebabkan konflik sosial. Menurut Marx,dalam proses
produksi barang-barang material tersebut ada dua kelompok yang terlibat. Pertama adalah
pemilik modal dan pemilik alat produksi (kaum borjouis), kedua adalah kelompok
pekerja (kaum proletariat). Kaum proletariat dianggap memiliki posisi yang lemah
(subordinat), sehingga mereka mengalami alienasi (keterasingan) dalam bidang: 1)
alienasi dari pekerjaannya, 2) alienasi dari hasil pekerjaannya, 3) alienasi dari pekerja
lainnya, 4) alineasi dari kemampuan mereka. (Raho, 2007)
Dalam kondisi seperti inilah kaum kapitalis (borjouis) sering terlibat konflik yang tak
terelakkan dengan kaum proletar. Di satu pihak, ingin mendapatkan keuntungan yang
sebesar-besarnya, tetapi di lain pihak kaum proletar ingin mendapatkan upah yang
selayak-layaknya.
Di antara berbagai tipe konflik, Weber menekankan dua tipe yang sangat penting.
Pertama, yaitu konflik dalam arena politik sebagai sesuatu yang fundamental. Ia
berpendapat bahwa pertentangan untuk memperoleh kekuasaan tidaklah terbatas hanya
pada organisasi-organisasi politik formal, tetapi juga terjadi di dalam setiap tipe
kelompok seperti organisasi keagamaan dan pendidikan. Kedua, adalah tipe konflik
dalam hal gagasan dan cita-cita. Ia berpendapat bahwa orang seringkali tertantang untuk
memperoleh dominasi dalam hal pandangan dunia mereka. Baik itu berupa doktrin
keagamaan, filsafat sosial, ataupun konsepsi tentang bentuk gaya hidup kultural yang
terbaik. Orang dapat berkelahi untuk memperoleh kekuasaan dan pada saat yang sama,
berusaha saling meyakinkan satu sama lain bahwa bukan kekuasaan itu yang mereka tuju
tetapi kemenangan prinsip-prinsip yang secara etis dan filosofis benar.

Tokoh utama teori konflik setelah era Karl Marx dan Marx Weber yang ternama
adalah Ralf Dahredorf dan Lewis A. Coser.
Coser membedakan konflik yang realistis dari yang tidak realistis. Konflik yang
realistis berasal dari kekecewaan terhadap tuntutan-tuntutan khusus yang terjadi dalam
hubungan dan dari perkiraan kemungkinan keuntungan para partisipan dan yang
ditunjukkan pada obyek yang dianggap mengecewakan. Para karyawan yang
mengadakan pemogokan melawan manajemen merupakan contoh dari kolnflik realistis.
Adapun konflik yang tidak realistis adalah yang bukan berasal dari tujuan-tujuan saingan
yang antagonis., tetapi dari kebutuhan untuk meredakan ketegangan, paling tidak dari
salah satu pihak.
Ralf Dahrendorf melihat teori konflik ebagai teori parsial, menganggap teori itu
meurpakan perspektif yang dapat digunakan untuk menganalisa fenomena sosial. Ia
menganggap masyarakat bersisi ganda, memiliki sisi konflik dan sisi kerja sama. Ia
membedakan golongan yang terlibat konflik itu atas dua tipe, yaitu kelompok semu
(quasi group) dan kelompok kepentingan (interest group). Kelompok semu merupakan
kumpulan dari para pemegang kekuasaan atau jabatan yang disertai kepentingan tertentu
yang lama terbentuk karena munculnya kelompok kepentingan. Sedangkan kelompok
kepentingan terbentuk dari kelompok banyak yang lebih luas.
Terdapat perubahan antara teori fungsionalisme struktural dengan teori konflik. Teori
fungionalisme struktural memandang bahwa masyarakat itu berada dalam kondisi statis
atau bergerak dalam kondisi keseimbangan, sebaliknya menurut teori konflik masyarakat
senantiasa berada dalam proses perubahan yang ditandai oleh pertentangan yang terus
menerus di antara unsur-unsurnya.
Kontras lainnya adalah bahwa kalau penganut teori fungsionalisme struktural melihat
anggota masyarakat terikat secara informal oleh norma-norma, nilai-nilai, dan moralitas
umum, maka teori konflik menilai keteraturan yang terdapat dalam masyarakat itu hanya
disebabkan karena adanya tekanan atau pemaksaan kekuasaan dari atas oleh golongan
yang berkuasa.
D. TEORI KRITIS
Teori kritis adalah bagian sekaligus perkembangan dari teori konflik. Teori kritis
dikemukakan oleh sekelompok ilmuwan dari Sekolah Frankfurt. Ada bebrapa kritik yang
dilontarkan oleh Sekolah Frankfurt terhadap kondisi objektif yang berkembang di
masyarakat, seperti kritik mereka kepada ilmu sosial. Kritiknya adalah sebagai berikut:

Ilmu sosial dinilai tidak bisa bersifat objektif, karena ide-idenya adalah produk
dari masyarakat dimana mereka hidup. Maka kita tidak mungkin mencapai pengetahuan
dan kesimpulan yang objektif, yakni kesimpulan yang bebas dari pengaruh lingkungan
dan masa tertentu.


Para ilmuwan sosial tidak boleh mengabaikan nilai-nilai dalam karya mereka.
Para kritikus tidak setuju dengan pendapat yang mengatakan bahwa ilmu sosial itu bebas
nilai. Sebaliknya mereka harus bersikap kritis dan berpihak pada terbangunnya perubahan
sosial.

Mereka juga mengkritik sosiologi yang dianggapya sibuk dengan pengembangan


metode-metode ilmiah dan tidak peduli kepada nasib banyak orang. Sosiologi mestinya
menjadi agen perubahan sosial, mereka harus melakukan kritik masyarakat dan menjadi
pendorong terjadinya perubahan masyarakat.
Menurut Herbert Mercuse: Sekalipun dunia modern ditandai oleh hal-hal yang
kelihatannya rasional, namun masyarakat secara keseluruhan adalah irasional atau tidak
masuk akal". Ia melihat teknologi adalah alat untuk mempengaruhi dan mendominasi
orang lain. Contohnya adalah televisi, karena alat ini mampu untuk mempengaruhi
pendapat dan tindakan orang lain bahkan mampu meperbudak orang.
Sedangkan Erich Fromm melakukan kritik terhadap masyarakat modern, karena
teknologi dan sistem kapitalis telah menciptakan aliensi di dalam individu-individu
namun sekaligus menciptakan kepribadian yang otoriter.
E. TEORI INTERAKSI SIMBOL
Erving Goffman cenderung melihat kehidupan sosial sebagai satu seri drama atau
seri pertunjukan dimana para aktor memainkan peran-peran tertentu. Pendekatan ini
disebut pendekatan dramaturgi.
Menurut Goffman ada beberapa hal yang harus diperhatikan dalam sebuah
dramaturgi, terutama ketika seorang aktor berada dalam front stage:
Seorang aktor hendaknya mampu menyembunyikan keburukan-keburukan atau
tindakan-tindakan yang negatif. Misalnya seorang dokter harus menyembunyikan
hal-hal negatif yang berlawanan dengan profesinya.
Aktor harus mampu menyebunyikan kekeliruan-kekeliruan yang terjadi selama
latihan, sehingga ia perform secara sempurna.
Seorang aktor harus menekan perasaan yang ada pada dirinya, sehingga perasaa
itu tidak mempengaruhinya ketika berada di front stage.
Salah satu aspek dari dramaturgi, khususnya dalam front stage bahwa si aktor atau
aktris harus seringkali mencoba untuk memberikan kesan bahwa mereka lebih
dekat dengan penonton dari pada kenyataan yang sesungguhnya.
Jika penonton menemukan kekeliruan, mereka mengharapkan bahwa hal itu tidak
bakal merubah citra mereka di mata penonton.
Salah satu teknik yang digunakan oleh aktor dalam melakukan pertunjukan adalah
melakukan mystification, yaitu aktor berusaha menjaga jarak dengan penonton
untuk menciptakan kekaguman-kekaguman agar image aktor tetap terjaga.
F. TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL : Bronislaw K. Malinowski

Berbeda dari teori fungsional struktural sebelumnya yang lebih beraroma sosiologis,
dalam teori structural fungsional yang dikembangkan Malinowski dan Radcliffe Brown
ini merupakan teori-teori ssosial yang berbasis antropologi. Objek kajiannya pun lebih
banyak pada folklore, dongeng rakyat, dan benda-benda budaya yang dijadikan aktivitas
sosial ekonomi masyarakat yang masih sederhana. Itulah sebabnya pendekatan
penelitiannya menggunakan tradisi penelitian antropologis, yakni penelitian etnografi
yang kemudian berkembang menjadi etnologi.
Menurut Malinowski, dalam masyarakat modern, tata tertib kemasyarakatan dijaga,
antara lain oleh suatu sistem pengendalian sosial yang bersifat memaksa, yaitu hukum.
Untuk melaksanakan hukum itu, ia disokong oleh suatu sistem alat kekuasaan seperti
kepolisian, pengadilan, dan sebagainya, yang kesemuanya ini diorganisir oleh negara.
Sedangkan pada masyarakat primitif, alat kekuasaan serupa itu kadang-kadang tidak ada.
Suatu pendirian penting dari pemikiran Malinowski adalah tentang teorinya untuk
menganalisa fungsi dari kebudayaan, yang disebutnya sebagai teori fungsional tentang
kebudayaan atau a functional theory of culture.
Inti dari teori ini adalah mengenai pendirian Malinowski bahwa segala aktivitas
kebudayaan itu sebenarnya bermaksud memuaskan suatu rangkaian dan sejumlah
kebutuhan naluri makhluk manusia yang berhubung dengan seluruh hidupnya.
Malinowski memandang bahwa setiap aspek dalam kehidupan masyarakat satu sama
lainnya saling berhubungan dan menjadi penggerak bagi perkembangan masyarakat dan
kebudayaannya.
Pendekatan struktural-fungsional dari Malinowski disamping berorientasi biological
yang berintikan kebutuhan, pendekatan ini juga menggunakan pendekatan psikologikal
yang kemudian telah melahirkan satu konsep kebudayaan personality. Malinowski
memandang bahwa keluarga merupakan satu lembaga yang membentuk personality, dan
tempat dimana ikatan emosi seseorang serta emosi sosial yang penting terwujud. Ia
beranggapan bahwa keluarga merupakan lembaga yang membentuk dan mendidik, serta
menjaga anak-anak sejak lahir hingga dewasa.
G. TEORI STRUKTURAL FUNGSIONAL : Radcliffe Brown
Teori-teori struktural dalam antropologi ada beberapa macam, tetapi konsepnya
pertama kali diajukan oleh A.R.Radcliffe Brown. Dalam tulisan On the Concept of
Function In Social Science ia menjelaskan bahwa kehidupan sosial adalah merupakan
suatu komunitas yang member fungsi kepada strukturnya dan fungsi suatu proses
kehidupan sosial ini adalah untuk memelihara kehidupan sosial secara keseluruhan.
Pada tulisannya On Social Structure Radcliffe Brown (1980:220) menyatakan
bahwa: struktur sosial itu hanya dapat dilihat dalam kenyataan yang konkrit dan dapat
diamati secara langsung karena struktur itu terdiri dari:
Semua hubungan sosial yang terjadi antara individu dengan individu lainnya.

Adanya perbedaan antara individu yang satu denga individu lainnya serta kelas
sosial di antara mereka sebab mengikuti peranan sosial yang dimainkan oleh
mereka.
Contoh yang dikemukakan oleh Radcliffe Brown adalah tentang analisa yang tajam
mengenai joking relationship yang di Afrika dianggap begitu penting adanya. Menurut
Radcliffe Brown, joking relationship di Afrika adalah hal yang dipunyai beberapa orang
untuk bersikap sangat bebas terhadap saudara tertentu. Yang sering digunakan Radcliffe
Brown tentang joking relationship ini ketika ia mengamati sekelompok masyarakat di
Afrika dan di antara orang-orang Indian Amerika Utara. Biasanya hal itu terjadi dalam
relasi antara saudara laki-laki pihak ibu dan laki-laki saudara perempuan, serta antara ipar
lelaki, dan juga antara kakek-nenek dan cucu-cucunya. Biasanya relasi antara kakeknenek dan cucunya tersebut berlangsung sangat baik.
Jika terjadi ketegangan yang memuncak, seperti misalnya pertikaian antara mertua
perempuan dengan menantu laki-lakinya, maka pilihan yang terbaik ialah menghindar.
Jika terjadi penghindaran maka itu bukan berarti karena adanya pertikaian atau
permusuhan. Tetapi ini dilakukan untuk memberikan rasa hormat kepada pihak yang
disengketa.
Perhatian Radcliffe Brown mengenai hal di atas sebagaimana juga dikemukakannya
dalam tulisannya Religion and Society (1945) menunjukkan bahwa adanya usaha
Radcliffe Brown untuk menggabungkan diri kepada pemahaman Emile Durkheim yang
menyebutkan tentang fungsi yang ada dalam religi. Wlaupun dalam merumuskannya
Radcliffe Brown menggunakan cara yang lain dari Email Durkheim, yaitu bahwa realigi
itu menciptakan suatu kesadaran akan adanya suatu ketergantungan yang bersegi dua. Di
satu pihak Radcliffe Brown membuat manusia untuk menanggung nasib malangnya
karena dengan kepercayaan itu manusia memandang bahwa ia tergantung kepada
kekuasaan dimana atau kepada siapa ia akan tergantung dan di lain pihak ia dipaksa
untuk menyerahkan dirinya kepada kekuasaan yang menguasai dirinya.