Anda di halaman 1dari 24

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Sumber daya alam merupakan salah satu modal dasar dalam pembangunan
nasional,oleh karena itu harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan dan
kesejahteraan rakyat dengan memperhatikan kelestarian lingkungan hidup sekitarnya,
sebagaimana dimanfaatkan pada pasal 33 ayat 3 dalam undang-undang dasar 1945.
Untuk meningkatkan pembangunan pada ssuatu daerah, salah satunya dengan
memacu pertumbuhan ekonomi dan yang ditunjang dengan keberadaan sumber daya alam
yang tersedia,oleh pemerintahan setempat mengupayakan mengoptimalkan potensi SDA
tersebut dengan membuka peluang terhadap investor yang dapat memberikan kontribusi
terhadap pembangunan daerah khususnya di bidang pertambangan yang menjadi
pendapatan Negara.
Dalam hal ini, PT. Wijaya Karya Bitumen

adalah salah satu perusahaan

yang

bergerak dibidang pertambangan aspal di Kecamatan Pasarwajo, Kabupaten Buton,


Provinsi Sulawesi Tenggara mendapat kesempatan dari pemerintah kabupaten buton
dengan memberikan izin usaha pertambangan (IUP) operasi produksi yang terletak di
Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton Sulawesi Tenggara .dengan beroperasinya PT.
Wijaya Karya Bitumen di Kabupaten Buton telah memeberikan kontribusi terhadap
pembangunan daerah di Provinsi Sulawesi Tenggara.
PT.Wijaya Karya Bitumen, sebagai perusahaan pertambangan telah mendapatkan
ijin usaha pertambangan operasi produksi dari pemerintah kabupaten buton provinsi
Sulawesi tenggara untuk melakukan pengusahaan aspal yang meliputi tahapan sistem
penambangan, dari kegiatan

study kelayakan, eksploitasi, pengolahan dan pemurnian

sampai dengan pengangkutan dan penjualan. Dalam penambangan PT.Wijaya Karya


Bitumen.

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Salah satu potensi sumber daya alam yang dimiliki Kabupaten Buton adalah aspal
alam.cadangan aspal alam buton diakui paling besar di dunia. Hampir semua jazirah pulau
buton di penuhi aspal.cadangan aspal buton yang masih tertinggal sebanyak 179,1 juta ton
dengan sumber daya hipotetik minyak dalam aspal sebesar 10.577.646.000 liter.upaya
modifikasi produk telah dilakukan oleh pihak terkait seperti membuat BGA(Buton Granule
Asphalt) dalam ukuran -2,36 mm.
1.2 Tujuan
Tujuan yang ingin dicapai dari kerja praktek ini adalah untuk mengetahui system
penambangan pada PT.Wika bitumen
1.3 Batasan Masalah
Adapun batasan masalah pada kerja praktek kali ini dibatasi pada teknis
penambangan aspal di PT. Wijaya Karya Bitumen pada

lokasi

tambang C, Desa

Kabungka Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara.


1.4 Metodologi
1. Jenis Studi Kasus
Penelitian ini merupakan penelitian yang bersifat evaluasi. Pada penelitian ini
dilakukan analisa data primer dan tambahan juga data sekunder, kemudian dari
analisa tersebut bisa mendapat singkronisasi antara data real dilapangan dengan
beberapa teori yang ada. Setelah itu baru dapat disimpulkan, apakah kondisi real di
lapangan

sesuai

dengan

teori

yang dikemukakan, jika tidak sesuai, penulis akan

mengoreksi dan memberikan saran.


2. Jenis Data
a. Data Primer

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Data primer merupakan data yang penulis peroleh langsung dari


lapangan yaitu mengetahui proses penambangan aspal dan metode penambangan
pada PT.Wika bitumen.
b. Data Sekunder
Data sekunder merupakan data yang diperoleh penulis dari studi
literature PT. WIKA BITUMEN, untuk mendukung data-data penelitian seperti
peralatan tambang, data spesifikasi alat angkut, data pendukung metode
penambangan aspal,

sejarah

perusahaan,

deskripsi

perusahaan

dan

data

pendukung lainnya.
3. Metode Pengambilan Data
a. Studi Literatur
Dilakukan dengan mengumpulkan berbagai

referensi

kepustakaan

mengenai kajian teknis penambangan aspal dan mempelajari laporan penelitian


yang telah dilakukan sebelumnya dengan tujuan untuk mengetahui bagaimana
cara penambangan yang baik dan benar.
b. Observasi
Merupakan kegiatan pengamatan secara langsung di lapangan mengenai
studi kasus seperti melakukan pengamatan tentang proses penambangan aspal.
peneliti dibantu oleh Manager operasi.

1.5 Sistematika penulisan

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Sistematika penulisan yang digunakan pada Laporan Kerja Praktek ini terdiri dari
tiga bagian, yakni :
1. Bagian awal terdiri atas : halaman sampul, halaman pengesahan, sertifikat/surat
keterangan telah magang, kata pengantar, daftar isi, daftar gambar, daftar tabel,
dan daftar lampiran.
2. Bagian inti yang meliputi :
I.
Bab I Pendahuluan, dalam bab pendahuluan diuraikan beberapa sub
bab yang terdiri atas: latar belakang
alasan-alasan

yang

yang

memaparkan mengenai

mendorong dilakukannya kerja praktek; tujuan

kerja praktek yang memaparkan mengenai pencapaian yang hendak


dicapai selama kerja praktek berlangsung; batasan masalah yang
memaparkan tentang

batasan-batasan masalah yang diamati selama

kegiatan kerja praktek; metodologi menjelaskan tentang metode yang


digunakan dalam penyelesaian kerja praktek ini; Dan sistematika
penulisan menjelaskan mengenai gambaran umum dalam penulisan
laporan kerja praktek.
II.

Bab II Tinjauan Umum Perusahaan , dalam bab tinjauan umum


perusahaan

diuraikan

beberapa

informasi-informasi

mengenai

perusahaan, yang dijadikan sebagai lokasi kerja praktek. Bab ini


memaparkan mengenai gambaran umum perusahaan, sejarah perusahaan
dan informasi-informasi umum lainnya mengenai perusahaan.
III.

Bab III Pelaksanaan Kerja Praktek, dalam bab ini diuraikan kegiatankegiatan selama kerja praktek berlangsung. Bab ini juga memaparkan

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

mengenai pembelajaran-pembelajaran yang didapatkan selama kegiatan


praktek berlangsung.
IV.

Bab IV Pembahasan, dalam bab ini diuraikan mengenai hal-hal yang


dapat dikembangkan menjadi sebuah penelitian berdasarkan aktivitas
kerja praktek.

V.

Bab V Kesimpulan dan Saran, dalam bab ini disimpulkan hal yang
diperoleh dari kegiatan kerja praktek dan memberikan masukan kepada
perusahaan dari hasil kerja praktek yang didapatkan.

3. Bagian akhir terdiri dari daftar pustaka dan lampiran-lampiran.

BAB II
TINJAUAN UMUM

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

2.1 Profil Perusahaan


Di belahan Bumi bagian timur terbentang Negara Republik Indonesia terdiri dari
beribu pulau yang tercipta dengan kekayaan alam nan beragam khususnya di jazirah
Tenggara Ke pulau Sulawesi tepatnya di Pulau Buton terkarunia sumber daya alam yang
cukup banyak. Pada tahun 1920 penduduk setempat menemukan batuan berwarna hitam
pekat, ringan dan melehkan Aspal, oleh kedatangan Belanda pada tahun 1922 Ir. W C B
Koolhoven mulai mengadakan penelitian di Pulau Buton, setahun kemudian yaitu tahun
1923 penelitian tersebut dilanjutkan oleh Mijnbouwkunding seorang ahli Geologish
Onderzook Oost Celebes (Penelitian Geologi Tambang Sulawesi Timur) mendapatkan
endapan Aspal di bagian Selatan Pulau Buton tepatnya pada suatu jalur dari teluk
sampolawa sebelah selatan sampai ke teluk Lawele di bagian Utara.
Oleh A. Walker, atas izin Kesultanan Buton membuat kontrak eksplorasi dan
eksploitasi meliputi wilayah Waisiu, Kabungka, Wariti Dan Lawele mengambil Aspal Batu
Buton (asbuton) yang sebelumnya dinamakan BUTAS (Buton Aspal). Tahun 1926 A.
Walker menyerahkan hak eksploitannya kepada MMB (Mijnbouw en Cultur maattschapij
Buton Belanda) selama 30 Tahun terhitung sejak tanggal 21 Oktober 1924 sampai dengan
tanggal 21 Oktober 1954 dalam kurun waktu selama 30 tahun itu asbuton tidak hanya di
eksport ke beberapa negara Eropa tetapi dipakai juga untuk permintaan pembuatan jalan di
dalam Negeri karena berkwalitas sangat baik.
Tingkat produksi yang dicapai pada waktu itu masih sangat rendah oleh karena
peralatan yang digunkan untuk proses produksi sangat sederhana, alat angkut yang sangat
vital kala itu adalah cabel way yang saat itu masyarakat menyebutnya kabel ban, rute
angkutan alat angkut ini langsung dari Tambang Kabungka ke daerah penimbunan Aspal
(Stock File) di Banabungi dan pengangkutan dari tambang ke stasiun kabel ban
dipergunakan lori dengan lokomotif dan proses produksi seperti ini berlangsung hingga
tahun 1954.
Sejak tahun 1954 MMB telah diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia
menyerahkan pekerjaan pengambilan asbuton kepada kementerian pekerjaan umum,

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

jawatan jalan jalan dan jembatan dengan surat keputusan Menteri Perekonomian tanggal 12
Oktober 1954 Nomor : 14.637/M dan Tanggal 15 Oktober 1955 Nomor: 13.840/M maka
pada Tanggal 22 Oktober ditetapkan sebagai Hari Jadi Perusahaan yang Mengelola Aspal
Buton.
Pemerintah berusaha meningkatkan Produksi guna memenuh kebutuhan Aspal
dalam Negeri yang sangat mendesak, atas dasar ini Pemerintah melebur BUTAS menjadi
PAN (PERUSAHAAN ASPAL NEGARA), periode BUTAS berlangsung sampai dengan
tahun 1960. Pada tanggal 12 Mei 1961 dikeluarkan peraturan pemerintah nomor : 195
tentang pendirian perusahaan aspal negara.
Sejak masa PAN (Perusahaan Aspal Negara) Tahun 1961 menunjukan kemajuan
dan perkembangan yang sangat pesat dan tingkat produktifitasnya menunjukan angka
kenaikan bila dibandingkan dengan BUTAS, peningkatan jumlah produksi dan penjualan
yang dicapai selama periode PAN berakhir sampai dengan tahun 1984.
Pada tanggal 30 Januari 1984 dikeluarkan Peraturan Pemerintah Nomor : 3 tentang
pengalihan bentuk Perusahaan Aspal Negara menjadi Perusahaan Perseroan (PT. Persero).
Sejak saat itu Pemerintah mendirikan PT. Sarana Karya (Persero) berdasarkan Akta Notaris
Imas Fatimah, SH Nomor : 1 Tahun 1984 pada tanggal 1 September 1984 dengan Modal
sebesar 10 Milyar.
Aspal Buton merupakan Aspal alam yang terdiri dari batuan yang mengandung
bitumen Aspal dan menurut penelitian Konsultan Bank Dunia kadar bitumen rata-rata
mencapai 10 40%. Deposit Aspal yang terdapat di Pulau Buton dalam 3 (tiga) amatan
meliputi kawasan Pasarwajo, Sampolawa dan Lasalimu dan jumlah cadangan diperkirakan
sekitar 400 Juta Ton.
Produksi tertinggi yang Pernah tercapai yaitu pada Tahun 1983 sebesar 533.000 ton
dan pemakai Asbuton adalah Ditjen Binamarga hingga tahun 1985, akan tetapi mulai tahun
1986 karena keterbatasan Dana pada APBN oleh Ditjen Binamarga tidak melakukan
pembelian sama sekali. Pemasaran Asbuton ke Instalasi Daerah (Departemen Dalam
Nageri) pada Tahun 1986 hanya mencapai 121.940 ton, namun pada tahun berikutnya
mengalami penurunan yang sangat drastis ini disebabkan karena Dana Rupiah pada APBN
juga dipergunakan sebagai Dana Pendamping Bantuan Luar Negeri. Dengan menurunnya
Page iii
Teknik Pertambangan Uho

pemasaran Aspal Buton ini maka pada Tahun 1987 di Kompleks Pelabuhan Banabungi
bertumpuk Asbuton sejumlah + 360.000 ton, dan sejak Tanggal 1 Agustus 1987 produksi
dihentikan sehingga mengakibatkan perampingan karyawan besar-besaran yang pada saat
itu jumlah karyawan mencapai 827 orang dirampingkan menjadi 343 orang. Penghentian
produksi ini bergemah di tingkat Nasional, para Menteri berdatangan, demikian pula
Pejabat DPA Anggota DPR RI dari berbagai Fraksi bahkan wapres h. Umar
wirahadikusuma Tanggal 14 November 1989 juga berkunjung ke Banabungi, dan terakhir
pada tanggal 10 September 1990 Bapak Presiden Suharto bersama rombongan juga
berkunjung ke Banabungi Pulau Buton.
Selama penghentian Produksi sebenarnya Aspal Buton masih digunakan terus untuk
konstruksi jalan terutama jalan jalan kabupaten, Propinsi Sulawesi Tenggara dan berbagai
propinsi lainnya sehingga Aspal yang bertumpuk di Kompleks Pelabuhan Banabungi dari
Tahun 1987 berjumlah + 360.000 ton pada akhir Oktober 1990 berkurang hingga +
150.000 ton.
Mulai Bulan November 1990 PT. Sarana Karya (Persero) mulai aktif berproduksi
kembali namun karena lama tidak berproduksi banyak kendala yang dihadapi terutama
peralatan banyak mengalami kerusakan. Dengan berproduksinya kembali PT. Sarana Karya
(Persero) oleh departemen pekerjaan umum sebagai pemakai utama Asbuton meminta agar
kualitas produksinya ditingkatkan terutama mengenai ukuran butiran dan kadar air, untuk
ini pemerintah akan memberikan tambahan dana untuk rehabilitasi peralatan produksi.
Sejak tahun 2003 perusahaan membuka tambang baru di lawele yang masih di
produksi dalam bentuk curah, meskipun sejak tahun 1998 sudah banyak investor yang akan
mengolah Aspal Lawele dengan cara di ekstraksi tapi kenyataannya sampai saat ini belum
ada yang terealisasi.
Untuk meningkatkan penjualan Asbuton, sejak tahun 2006 sudah dilakukan
perintisan Expor ke Negara Cina yang diharapkan akan menjadi peluang besar yang
menjanjikan, dan Tahun 2011 terlaksanalah pemuatan Expor ke Negara Cina tersebut yang
mencapai + 200.000 ton / tahun dan hal ini masih berlanjut hingga sekarang ini.
Walaupun sejak Tahun 2011 Perusahaan sudah mulai mengadakan penjualan dan
hasilnya dinilai cukup, namun upaya proses akuisisi yang di inginkan Pemerintah Pusat
Page iii
Teknik Pertambangan Uho

tetap harus dilaksanakan dan akhirnya tepat pada Tanggal 30 Desember 2013 terjadi
Peralihan Pemegang Saham oleh PT. Wijaya karya (Persero) tbk terhadap PT. Sarana Karya
(Persero) yang kemudian sejak saat itu status PT. Sarana Karya berubah menjadi anak
Perusahaan PT. Wijaya Karya (Persero) tbk.
2.2 Lokasi, Waktu Dan Kesampaian Daerah
Aspal alam yang dikelola oleh PT. WIJAYA KARYA BITUMEN terdapat di dua
tempat di pulau Buton yang secara administratif terletak di Desa Kabungka Kecamatan
Pasar Wajo Lasalimu Kabupaten Buton Provinsi Sulawesi Tenggara.
Secara Geografis Pulau Buton terletak di ujung Tenggara Pulau Sulawesi tepatnya
122 42-123 24 BT dan antara 5 30-6 LS. Pulau yang memanjang memanjang dari
Utara ke Selatan dengan panjang 120 km dengan lebar 15-60 km. Daerah ini, secara
umum dapat dijangkau dengan mudah berbagai sarana transportasi yakni lewat darat dan
laut. Pulau Buton dengan alternatif dari Kendari ke buton menggunakan kapal laut. Jarak
antara kota Pasar Wajo sebagai ibu kota Kabupaten Buton dengan lokasi penambangan PT.
WIJAYA KARYA BITUMEN di Desa Kabungka adalah 15 km dan dapat ditempuh
dengan menggunakan kendaraan roda dua maupun roda empat, dengan lama perjalanan
30 menit, sedangkan jarak Kota Pasar Wajo dengan lokasi penambangan di Desa Lawele
adalah 120 km, juga dapat ditempuh dengan menggunakan kendaraan dua maupun roda
empat, dengan lama perjalanan 3 jam.dalam penelitian kali ini,tempat dilakukan
penelitian adalah di Desa Kabungka Kecamatan Pasarwajo Kabupaten Buton Provinsi
Sulawesi Tenggara.
2.3 Keadaan Geologi
2.2.1 Geomorfologi

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Menurut teori lempeng yang dikemukakan oleh prof. dr Katili, Pulau Buton berasal
dari busur banda yang di dorong dengan pergeseran melingkar benua Australia dan
selanjutnya membelok kesebelah barat sehingga terbentuk pulau Buton dengan kedudukan
yang sekarang ini di Sulawesi Tenggara.
Busur Banda adalah istilah yang digunakan oleh para geologist untuk menjelaskan
pulau buton,pulau timur dan pulau seram yang sebelumnya diketahui posisinya jauh berada
diselatan dan sejajar dengan Pulau Jawa dan Pulau Timur.menurut penyelidikan
hetzel(1936) bahwa pada masa miosen sampai neogen,pulau buton mengalami suatu
perlipatan sehingga terjadi pegunungan yang membujur dari arah utara kearah
selatan.endapan aspal yang terdapat pada bagian timur pulau Buton terletak pada zona
patahan di sepanjang pinggiran timur pada suatu graben yang memebentang dari teluk
lawele disebelah utara sampai ke teluk sampolawa pada bagian selatan dengan panjang 75
km dan dengan lebar 12 km.
2.3.2 Stratigrafi
Jenis batuan yang terungkap di pulau buton sangat bervariasi demikian pula dengan
umur batuannya yang mencangkup mulai dari Mezoik hingga Kuarter.sebaran paling luas
dari batuan pra tersier tersebut ditemukan di bagian ujung utara dari pulau buton di wilayah
Kulisusu

dan juga di sekitar aliran Sungai Mokito(Buton Selatan).sedangkan batuan

Kuarter yang didominasi oleh satuan batu gamping terumbu,tersebar terutama dibagian
selatan dan tengah pulau Buton.gambaran urutan stratigrafi pulau buton dari tua ke muda
adalah sebagai berikut:
1. Sekis Kristalin
Batuan malihan ini terutama dari sekis plagioklas yang hanya tersingkap di aliran
Sungai Mokito.menurut hetzel (1936) satuan ini diperkirakan berumur lebih tua dari trias
yang di dasarkan pada satuan mesozoik lainnya tidak terlalu terubahkan seperti halnya
sekis kristalin ini.sikumbang,dkk(1945) menamakan satuan batuan tersebut sebagai
Formasi Mokito yang juga diperkirakan berumur pra tias.
2. Batuan Mesozoik

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Batuan Mesozoik ini termasuk beberapa satuan beberapa dengan satuan dengan
umur tertentu,yaitu:
a. Formasi Winto
Satuan ini tersingkap di daerah Buton Selatan,di bagian atas aliran Sungai
Winto,yang disusun oleh batuan selang seling serpih,serpih napalan,batu pasir
arkose,konglomerat dengan sisispan tipis batugamping berwarna gelap.satuan ini
menutupi sekis kristalin yang terlipatkan.berdasarkan fosil yang terdapat dalam
lapisan batugamping seperti Halabia Sp,satuan ini berumur trias atas.satuan ini
tersingkap di sekitar Lawele dan bagian atas aliran Sungai Winto.
b. Formasi Doole
Batuan dari Formasi Doole ini terutama terdiri dari batuan malihan yang
berderajat rendah.satuan ini tersingkap di sepanjang pantai timur buton utara
antara teluk doole hingga tanjung Lakansai.adanya kemiripan dengan batuan
Formasi Winto,satuan Formasi Doole ini diperkirakan berumur Trias.
c. Formasi Ogena
Batuan yang menyusun Formasi Ogena terutama terdiri dari batugamping
dengan sisipan napal.dalam lapisan napal sering ditemukan fosil amonit seperti
phylloceras sp dan arietites sp.keberadaan fauna amonit ini menentukan umur
satuan tersebut sebagai jurah bawah. Formasi Ogena terutama di dapatkan
bagian utara dan selatan Buton,sedangkan dibagian tengah tidak ditemukan
sebaran satuan batuan ini.
d. Formasi Rumu
Satuan ini terutama disusun oleh selang seling batu gamping, napal dan
sisipan batulempung. Dalam satuan ini banyak ditemukan Fosil Belemnopsis Sp,
seperti Belemnopsis Gerardi, Belemnopsis Alfurica,dan Ancela Cf.kontak
dengan satuan di bawahnya yaitu Formasi Ogena terlihat selaras.berdasarkan
kandungan Fosil tersebut,umur satuan batuan ini diperkirakan jura atas.
e. Formasi Tobelo
Seperti halnya dua satuan sebelumnya seperti Formasi Ogena dan formasi
rumu, satuan batuan Formasi Tobelo terutama disusun oleh lapisan batugamping
dengan sisipan tipis napal. Ciri satuan ini adalah terdapatnya sisispan tipis rijang,
dengan kandungan Fosil Foraminifera yang banyak ditemukan dalam satuan ini
terdiri

dari

Globotruncana

Canaliculata,Globigerina
Page iii

Teknik Pertambangan Uho

Cretacea

dan

Pseudotextulaia Globulosa.fosil-fosil tersebut adalah fauna khas berumur kapur.


lapisan batugamping Kalsilutit dari satuan ini banyak mengandung Fosil
Radiolaria.
3. Batuan Tersier
Satuan batuan yang berumur tersier ini terbagi atas batuan berumur Paleogen dan
Neogen.menurut Hetzel terdapat satuan batuan berumur Paleogen yang dinamakan Formasi
Wani yang disekitar Pegunungan Tobelo,disusun oleh lapisan batuan konglomerat aneka
bahan, batupasir dan batupasir gampingan.dalam lapisan konglomerat tersebut ditemukan
pecahan batugamping mengandung Fosil Glabotruncana yang berumur kapur, juga
ditemukan Fosil Nummulites,Isolepidina Boetonensis.berdasarkan keberadaan Fosil
Nummulites, Asterocyclina Sp, Spyroclipeus Sp dan Borelis Sp tersebut ditentukan satuan
batuan tersebut berumur Eosen. Penyebaran satuan batuan ini terbatas disekitar aliran
Sungai Wani,Pegunungan Tobelo,Buton Utara.
Penyebaran paling luas yaitu batuan tersier dimana hampir tiga perempat wilayah
pulau buton ditempati oleh batuan tersebut.batuan tersier atas(neogen) terletak tidak selaras
di atas satuan yang lebih tua(Mesozoik).secara umum endapan muda ini dimulai dengan
batuan konglomerat hingga pasiran, yang kemudian berubah menjadi lebih kearah
gampingan napalan.terdapat dua karakter sedimen berbeda dari satuan tersier muda ini,
yaitu sedimen konglomeratik pasiran dari lapisan Tondo dan sedimen yang lebih
gampingan napalan dari lapisan Sampolakosa.
a. Formasi Tondo
Satuan batuan dari Formasi Tondo terutama disusun oleh konglomerat dan batupasir
berselang seling dengan lempung dan napal.seperti halnya dalam Formasi Wani,dalam
lapisan konglomerat dari Formasi Tondo juga ditemukan fragmen-fragmen batuan Sedimen
Mesozoik, Peridotit dan Serpentin.selain itu juga dalam satuan tersebut terdapat lapisan
batugamping.sikumbang,dkk memasukkannya sebagai anggota batugamping Formasi
Tondo.kandungan fosil yang terdapat dalam satuan ini seperti Lepidocyclina Sumatrensis,
Lepidocyclina Ferreroi, Miogypsina Sp, mencirikan umur Miosen tengah hingga atas.
b. Formasi Sampolakosa
Formasi Sampolakosa memeperlihatkan satuan yang lebih napalan,jarang terdapat
sisipan batupasir, dan terletak selaras di atas Formasi Tondo. Dlam satuan ini banyak

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

sekali ditemukan Fosil Moluska dan khas untuk lingkungan laut dalam(marks,1957).
Umumnya pulau buton ditutupi sangat luas oleh satuan dari Formasi Sampolakosa ini.
4. Batuan Kuarter.
Kedalam batuan kuarter ini termasuk batugamping terumbu, yang terutama tersebar
di sebelah tengah dan selatan pulau buton. Batugamping terumbu sangat khas
memeperlihatkan satuan undak pantai.selain ini juga disusun oleh endapan batupasir
gampingan,batulempung dan napal yang kaya akan Foraminifera Plangton.di Buton
Selatan ditemukan gamping terumbu yang terangkat hingga ketinggian 700 meter.
2.4 Keadaan Tanah
Kondisi topografi tanah daerah kabupaten buton pada umumnya memiliki
permukaan yang bergunung,bergelombang, dan berbukit-bukit. Diantara gunung dan bukitbukit tersebut, terbentang daratan yang merupakan daerah-daerah potensial untuk
pengembangan sector pertanian.permukaan tanah pegunungan yang relative rendah ada
yang juga yang bisa digunakan untuk usaha yang sebagian besar berada pada ketinggian
100-500 meter di atas permukaan laut,kemiringan tanah mencapai 40

2.5 Keadaan Iklim Dan Curah Hujan


Keadaan iklim di wilayah Kabupaten Buton pada umumnya sama seperti daerahdaerah lain di Indonesia dimana mempunyai dua musim,yakni musim hujan jan musim
kemarau.pengukuran iklim dipusatkan di Stasiun Meteorology kls III Betoambari Kota
Bau-Bau.musim hujan terjadi di antara bulan desember sampai dengan bulan April.pada
saat tersebut,angin barat bertiup dari benua Asia serta lautan pasifik banyak mengandung
uap air.
Musim kemarau terjadi antara bulan juli dan September, pada bulan-bulan tersebut
angin timur yang bertiup dari benua Australia sifatnya kering dan kurang mengandung uap
air.khusus untuk bulan april dan mei di daerah Kabupaten Buton,arah angin tidak
menentu,demikian pula dengan curah hujan,sehingga pada pada bulan-bulan ini dikenal
sebagai musim pancaroba. Berikut adalah data curah hujan Kabupaten Buton
Table. 2.1 Data Curah Hujan 2015
Bulan

CH(mm)

HH(hari)

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

CH/hujan

Januari
Februari
Maret
April
Mei
Juni
Juli
Agustus
September
Oktober
November
Desember

203
173
250
303
444
338
113
96
0
11
83
368

17
15
15
17
21
18
11
10

1
2
19

11.94
11.53
16.66
17.82
21.14
18.77
10.27
9.6

11
41.5
19.36

2.6 Penyebaran Aspal Buton


Potensi aspal alam di Indonesia sangat terbatas yakni provinsi Sulawesi tenggara
(table 2.2), di pulau buton masih terdapat beberapa lapangan aspal berpotensi dan cukup
ekonomis. Mencakup pada sifat fisik aspal alam siswosoebrotho (2005) membedakan aspal
danau (lake asphalt) dan aspal batu (rock asphalt). Aspal danau seperti yang ditemukan di
Trinidad sedangakan aspal batu di temukan di daerah buton yang di klasifikasikan sebagai
aspal batu.
Keterdapatan aspal di bagian selatan pulau buton mencakup:

Tersebar pada daerah yang mengalamai perlipatan dan pensesaran kuat


Sebagai resapan dalam batugamping dan batu pasir formasi sampolakosa
Sepanjang zona batas formasi tondo dan formasi sampolakosa
Aspal buton dapat mengisi antar butir, berbentuk lensa ataupun tidak teratur
dalam lapisan batuan.

Tabel 2.2 Lokasi Aspal Buton


Provinsi

Lokasi

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Sulawesi tenggara

Ereke, lawele, siontopina, ulala, kabungka

BAB III
PELAKSANAAN KERJA PRAKTEK
2.3 Kegiatan Kerja Praktek
Kegiatan Kerja praktek dilakukan pada jalan Front tambang F menuju Crusher pada
PT. Wijaya Karya Bitumen yang terletak di Desa Kabungka, Kecamatan Pasarwajo,
Kabupaten Buton, Sulawesi Tenggara yang dilaksanakan pada tanggal 6 Juni 2016 sampai
21 Juli 2016.
Rincian kegiatan selama kerja praktek ini adalah sebagai berikut :
Tabel 3.1 Kegiatan Kerja Praktek
No
.

Tanggal

Lokasi

Aktifitas

1.

20 Juni 2016

Laboratorium

Pengenalan Software Autocad LD4

2.

21 Juni 2016

Area tambang E

Ikut teman monitoring Pengupasan


overburden

Area tambang C

Melihat proses penambangan aspal

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

3.

22-24 Juni2016

Laboratorium

Lanjut Pengolahan data menggunakan


Software

4.

27 Juni 2016

Area Crusher

5.

2829 Juni 2016

Laboratorium

Membantu Pembimbing dalam


pengukuran Lahan untuk pembuatan
pabrik mini
Penyusunan Laporan

6.

4-12 Juli 2016

Raha

Cuti Bersama/Lebaran

7.

13-14 juli 2016

Kantor

Konsultasi Laporan

8.

15 Juli 2016

Laboratorium

Acara bersama staff lab

9.

18-19 Juli 2016

Laboratorium

Rampungkan laporan

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

BAB IV
PEMBAHASAN MASALAH
4.1. Penambangan Aspal ( Sistem penambangan Batuan Aspal )
Penambangan aspal di wilayah kabungka PT.Wijaya Karya Bitumen menggunakan
sistem penambangan terbuka ( surface mining ) dengan metode quarry mine yang bertipe
side hill type. Metode Quarry mine merupakan metode tambang terbuka yang di gunakan
untuk menggali endapan-endapan bahan galian industri, seperti batu marmer,batu granit,
batu andesit, batugamping, Aspal dll. Sedangkan side hill type merupakan bentuk
penambangan untuk batuan atau bahan galian industri yang terletak di lereng-lereng bukit.
Medan kerja yang digunakan pada PT.Wijaya Krya Bitumen dibuat mengikuti arah lerenglereng bukit itu dengan 2 ( dua) kemungkinan, yaitu :
1. Bila seluruh lereng bukit itu di gali dari atas kebawah, maka medan
kerja di buat melingkar bukit dengan jalan masuk ( access road )
berbentuk spiral.
2. Bila hanya sebagian lereng bukit saja yang akan di tambang atau bentuk
bukit itu memanjang, maka medan kerja di buat memanjang pula dengan
jalan masuk dari salah satu sisinya atau dari depan yang di sebut
straight ramp.

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Kemudian setelah medan kerja telah di tentukan maka di lakukan


penggalian overburden (OB) menggunakan geyan breaker dengan
bantuan untuk material batuan yang keras seperti batugamping
sedangkan untuk material yang lunak menggunakan excavator backhoe.
Dan kemudian setelah penggalian dilakukan proses pemuatan
oleh excavator backhoe dan pengangkutan oleh Dump truck begitu
pulan

dengan

penggalian

material

aspal

yang

terjebak

pada

batugamping, maka peralatan yang harus di gunakan adalah dengan


menggunakan geyan breaker, sedangkan untuk material yang terjebak
dengan lempung maka peralatan yang digunakan adalah menggunakan
excavator backhoe.
4.2. Alat-Alat Mekanis Penambangan Aspal.
Proses penambangan aspal bitumen pada mining area PT. Wijaya Karya
Bitumen yang terletak di daerah kabungka menggunakan beberapa peralatan
mekanis yang menunjang kegiatan penambangan aspal dapat berjalan dengan baik.
Adapun alat-alat yang dimaksud sebagai berikut :
1. Excavator backhoe
Backhoe yang digunakan pada proses penambangan aspal bitumen pada
mining area PT. Wijaya Karya Bitumen adalah excavator komatsu type PC
200 dengan jumlah 3 unit ( berdasarkan target produksi )

Gambar 4.2 Excavator Komatsu dengan type PC 200

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Kegunaan excavator backhoe dalam kegiatan proses penambangan aspal


adalah untuk menggali material aspal yang terdapat pada batulempung.
1. Geyan Breaker
Geyan Breaker yang digunakan pada proses penambangan aspal bitumen
pada mining area PT. Wijaya Karya Bitumen menggunakan tenaga excavator
untuk mengerakannya.

Gambar 4.3 Geyan Breaker


geyan breaker digunakan untuk menghancurkan material aspal yang
terdapat pada batugamping yang cendrung keras, sehingga akan
mempermuda proses pemuatan dan pengangkutan material aspal menuju ke
2.

stock pile yang terdapat pada area pabrik.


Dump truck
Dump truck yang digunakan pada proses penambangan aspal
bitumen pada mining area PT. Wijaya Karya Bitumen adalah dump truck
dengan type HINO FM260TI dengan jumlah sebanyak 5 unit ( berdasarkan
target produksi ) dengan kapasitas masing-masing sekitar 15 ton

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Gambar 4.4 Dump truck type HINO FM160TI


Kegunaan dari dump truck pada proses penambangan aspal adalah sebagai alat
untuk materil berupa material top soil yang di angkut dari lokasi penambangan Run Of
Mining (ROM) menuju ke lokasi penampung material top soil yang selanjutnya akan
di gunakan untuk kegiatan reklamasi, digunakan untuk mengangkut material
overburden menuju ke lokasi pembuangan material OB yang biasa di kenal dengan
istilah disposal yang letaknya 3 km dari lokasi penambangan, dump truck digunakan
digunakan untuk mengankut material aspal dari Run Of Mining ( ROM ) menuju ke
stok pile yang letaknya berada pada area pabrik pengolahan. Selain itu dump truck
digunakn untuk mengangkut material aspal yang telah di olah di pabrik pengolahan
yakni di desa wining menuju ke plabuhan pengiriman aspal yang terletak pada desa
banabungi.
Tepatnya pada area luas yang terdapat di sekitar kantor PT. Wijaya Krya Bitumen yang
berada di desa banabungi, kabupaten buton.

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Penggalian dan pengangkutan material aspal


Setelah semua overburden dikupas maka tahapan selanjutnya adalah
penggalian material aspal dengan menggunakan geyan breaker dan excavator
backhoe setelah itu material dimuat pada dump truck menggunakan alat muat
berupa excavator backhoe PC 200 untuk selanjutnya di angkut menuju stock
pile pertama, tepatnya lokasi pabrik pengolahan aspal.

Gambar 4.5 Penggalian material aspal

Gambar 4.6 Pengangkutan material aspal

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Dari pengamatan yang di lakukan selama kegiatan kerja praktek di PT. Wijaya
Karya Bitumen maka dapat di simpulkan sebagai berikut :
Penambangan aspal di wilayah desa kabungka, kecamatan pasarwajo
kabupaten buton, provinsi Sulawesi tenggara PT. Wijaya Krya Bitumen
menggunakan sistem penambangan terbuka (surface mining ) dengan menggunakan
metode quarry yang memiliki tahapan-tahapan penambangan sebagi berikut:
-

Land clearing ( pembersihan lahan )


Perintisan
Stripping ( pengupasan lapisan tanah humus dan tanah penutup )

Dan setelah itu melakukan proses kegiatan penambangan yang dimana


proses penambangannya sebagai berikut :
-

Penggalian/pembokaran
Pemuatan/loading
Pengangkutan

5.2 Saran
Saran yang saya biasa berikan kepada PT. Wijaya Karya Bitumen, yaitu sebaiknya
sistem mnejemen K3 dapat dilakukan dengan baik sesuai dengan Standar Operasi ( SOP ).

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Page iii
Teknik Pertambangan Uho

Page iii
Teknik Pertambangan Uho