Anda di halaman 1dari 17

IMPLEMENTASI MAQASHID SYARIAH PADA PASAR

UANG & PASAR MODAL SYARIAH


Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah
Pasar Uang dan Pasar Modal Syariah
Dosen Pengajar :
Isma Swadjaja, CIFP

Rendy A. L. G. R.

(C74213140)

PRODI EKONOMI SYARIAH


FAK U LTAS E K O N O M I D A N B I S N I S I S L A M
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL
SURABAYA
2015

KATA PENGANTAR
Alhamdulillah, saya ucapkan puji syukur kepada Allah SWT, karena rahmat dan
karunia-Nyalah saya dapat menyelesaikan makalah dengan judul Implementasi Pasar Uang
dan Pasar Modal Syariah. Karena campur tangan-Nya, semua hambatan dan kendala dapat
diselesaikan dengan lancar. Sholawat serta salam selalu saya ucapkan kepada Nabi
Muhammad SAW atas segala teladannya sehingga sampai saat ini saya tidak tersesat dalam
jalan kegelapan dan kebodohan. Tidak lupa kami ucapkan terima kasih kepada Bapak Isma
Swadjaja, CIFP. selaku dosen pengajar yang telah banyak memberikan ilmu kepada penulis.
Serta pada semua pihak yang telah membantu dalam penyelesaian makalah ini.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas mata kuliah Pasar Uang dan Pasar
Modal Syariah, yang bertujuan untuk melatih ketajaman berpikir penulis sebagai mahasiswa
yang sedang belajar. Dalam makalah ini, kami membahas tentang konsep integral tak tentu
beserta aplikasinya di bidang ekonomi.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih terdapat banyak kekurangan. Oleh sebab
itu, kami mengharap segala kritik dan sarannya yang bersifat membangun demi
kesempurnaan makalah ini guna peningkatkan pembuatan makalah di waktu mendatang.
Akhir kata, kami berharap penulisan makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.
Sekian dan terima kasih.
Surabaya, 17 Desember 2015
Penulis

(Rendy A.L.G.R.)

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR............................................................................................... 1
DAFTAR ISI............................................................................................................. 2
BAB 1 PENDAHULUAN ....................................................................................... 3
BAB 2 PEMBAHASAN
A. Pengertian Maqashid Syariah ................................................................. 4
B. Macam-Macam Maqashid Syariah ..................................................................... 6
C. Implementasi Maqashid Syariah Pada Pasar Modal .......................................... 8
D. Implementasi Maqashid Syariah Pada Pasar Uang ............................................ 9
BAB 3 PENUTUP
A. Kesimpulan........................................................................................................... 14
B. Saran..................................................................................................................... 14
DAFTAR PUSTAKA................................................................................................ 15

BAB 1
PENDAHULUAN

Perlu diketahui bahwa syariah tidak menciptakan hukum-hukumnya dengan kebetulan,


tetapi dengan hukum-hukum itu bertujuan untuk mewujudkan maksud-maksud yang umum.
Kita tidak dapat memahami nash-nash yang hakiki kecuali mengetahui apa yang dimaksud
oleh syara dalam menciptakan nash-nash itu. petunjuk-petunjuk lafadz dan ibaratnya
terhadap makna sebenarnya, kadang-kadang menerima beberapa makna yang ditarjihkan
yang salah satu maknanya adalah mengetahui maksud syara.
Kaidah-kaidah pembentukan hukum Islam ini, oleh ulama ushul diambil berdasarkan
penelitian terhadap hukum-hukum syara, illat-illatnya dan hikmah (filsafat) pembentukannya
diantara nash-nash itu pula ada yang menetapkan dasar-dasar pembentukan hukum secara
umum, dan pokok-pokok pembentukannya secara keseluruhan seperti juga halnya wajib
memelihara dasar-dasar dan pokokpokok itu dalam mengistimbath hukum dari nashnashnya, maka wajib pula memelihara dasar-dasar dan pokok-pokok itu dalam hal yang tidak
ada nashnya, supaya pembentukan hukum itu dapat merealisasikan apa yang menjadi tujuan
pembentukan hukum itu, dan dapat mengantarkan kepada merealisasikan kemaslahatan
manusia serta menegakkan keadilan diantara mereka.
Dalam makalah ini nanti akan dibahas berbagai macam hal yang berhubungan dengan
Maqasid al-Syariah, baik mengenai pengertian, macam-macam dan tingkatan dari Maqasid
al-Syariah, dan juga bagaimana penerapannya dalam Pasar Uang dan Pasar Modal Syariah

BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian Maqasid al-Syariah
Secara lughawi maqasid al syariah terdiri dari dua kata, yakni
maqasid dan syariah. Maqasid adalah bentuk jama dari maqsud yang
berarti kesengajaan atau tujuan.1 Syariah secara bahasa berarti

yang berarti jalan menuju sumber air. Jalan menuju air ini
dapat dikatakan sebagai jalan kearah sumber pokok kehidupan.2
Menurut al-Syatibi sebagai yang dikutip dari ungkapannya sendiri3:

...

Sesungguhnya syariat itu bertujuan untuk mewujudkan kemaslahatan
manusia di dunia dan di akhirat.
Dalam ungkapan yang lain dikatakan oleh al-Syatibi


Hukum-hukum disyariatkan untuk kemaslahatan hamba."
Jadi,

maqashid

merupakan

tujuan

yang

ingin

dicapai

dalam

melakukan sesuatu. Terdapat berbagai pendefinisian telah dilontarkan


oleh ulama usul fiqh tentang istilah maqasid. Ulama klasik tidak pernah
mengemukakan definisi yang spesifik terhadap maqasid, malah al-Syatibi
yang

terkenal

sebagai

pelopor

ilmu

maqasid

pun

tidak

pernah

memberikan definisi tertentu kepadanya4. Namun ini tidak bermakna


1 Hans Wehr, A Dictionary of Modern Written Arabic, J. Milton Cowan (ed)(London:
Mac Donald &Evan Ltd, 1980), hlm. 767
2 Ibn Mansur al-Afriqi, Lisan al-Arab, Dar al-Sadr, Beirut, hlm.175
3 Al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Syariah, Kairo, I, hlm. 54
4 Hammad al-Obeidi, al-Syatibi wa Maqasid al-Syariah, Mansyurat Kuliat alDa'wah al-Islamiyyah, Tripoli, cet. Pertama, 1401H/1992M, m.s. 131
4

mereka mengabaikan maqasid syara' di dalam hukum-hukum syara'.


Berbagai tanggapan terhadap maqasid dapat dilihat di dalam karya-karya
mereka. Kita akan dapati tanggapan ulama klasik yang pelbagai inilah
yang menjadi unsur di dalam definisi-definisi yang dikemukakan oleh
ulama mutakhir selepas mereka. Apa yang pasti ialah nilai-nilai maqasid
syara' itu terkandung di dalam setiap ijtihad dan hukum-hukum yang
dikeluarkan oleh mereka. Ini karena nilai-nilai maqasid syara' itu sendiri
memang telah terkandung di dalam al-Quran dan al-Sunnah.
Ada yang menganggap maqasid ialah maslahah itu sendiri, sama
dengan

menarik

maslahah

atau

menolak

mafsadah.Ibn

al-Qayyim

menegaskan bahwa syariah itu berasaskan kepada hikmah-hikmah dan


maslahah-maslahah untuk manusia di dunia atau di akhirat.Perubahan
hukum yang berlaku berdasarkan perubahan zaman dan tempat adalah
untuk menjamin syariah dapat mendatangkan kemaslahatan kepada
manusia.5 Sementara Al-Izz bin Abdul Salam juga berpendapat sedemikian
apabila beliau mengatakan "Syariat itu semuanya maslahah, menolak
kejahatan atau menarik kebaikan".
Ada juga yang memahami maqasid sebagai lima prinsip Islam yang
asas yaitu menjaga agama, jiwa, akal, keturunan dan harta. Di satu sudut
yang lain, ada juga ulama klasik yang menganggap maqasid itu sebagai
logika pensyariatan sesuatu hukum.
Kesimpulannya maqasid syariah ialah "matlamat-matlamat yang
ingin dicapai oleh syariat demi kepentingan umat manusia". Para ulama telah
menulis tentang maksud-maksud syara, beberapa maslahah dan sebab-sebab yang menjadi
dasar syariah telah menentukan bahwa maksud-maksud tersebut dibagi dalam dua golongan
sebagai berikut:
a.) Golongan Ibadah, yaitu membahas masalah-masalah Taabbud yang berhubungan
langsung antara manusia dan khaliqnya, yang satu persatu nya telah dijelaskan oleh syara.
b.) Golongan Muamalah Dunyawiyah, yaitu kembali pada maslahah-maslahah dunia, atau
seperti yang ditegaskan oleh Al Izz Ibnu Abdis Salam sebagai berikut:
5 Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I'lam al-Muwaqqi'in, Beirut, Dar al-Kutub al-Ilmiyyah,
1996M, jil.3, m.s.37
5

Segala macam hukum yang membebani kita semuanya, kembali kepada maslahah di
dalam dunia kita, ataupun dalam akhirat. Allah tidak memerlukan ibadah kita itu. Tidak
memberi manfaat kepada Allah taatnya orang yang taat, sebagaimana tidak memberi
mudarat kepada Allah maksiatnya orang yang durhaka.
Akal dapat mengetahui maksud syara terhadap segala hukum muamalah, yaitu
berdasarkan pada upaya untuk mendatangkan manfaat bagi manusia dan menolak mafsadat
dari mereka. Segala manfaat ialah mubah dan segala hal mafsadat ialah haram. Namun ada
beberapa ulama, diantaranya, Daud Azh Zhahiri tidak membedakan antara ibadah dengan
muamalah.6
2. Macam-Macam Maqasid al-Syariah
Beberapa ulama ushul telah mengumpulkan beberapa maksud yang umum dari
mensyariatkan hukum menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.) Syariat yang berhubungan dengan kebutuhan primer manusia (Maqashid al- Dharuriyat)
Hal-hal yang bersifat kebutuhan primer manusia seperti yang telah kami uraikan adalah
bertitik tolak kepada lima perkara, yaitu: Agama, jiwa, akal, kehormatan (nasab), dan harta.
Islam telah mensyariatkan bagi masing-masing lima perkara itu, hukum yang menjamin
realisasinya dan pemeliharaannya. lantaran dua jaminan hukum ini, terpenuhilah bagi
manusia kebutuhan primernya.
1) Agama
Agama merupakan persatuan akidah, ibadah, hukum, dan undang-undang yang telah
disyariatkan oleh Allah SWT untuk mengatur hubungan manusia dengan Tuhannya
(hubungan vertikal), dan hubungan antara sesama manusia (hubungan horizontal). agama
Islam juga merupakan nikmat Allah yang tertinggi dan sempurna seperti yang dinyatakan
dalam Al-Quran surat al-Maidah : 3
pada hari Ini Telah Kusempurnakan untuk kamu agamamu, dan Telah Ku-cukupkan
kepadamu nikmat-Ku, dan Telah Ku-ridhai Islam itu jadi agama bagimu.
Beragama

merupakan

kekhususan

bagi

manusia,

merupakan

kebutuhan utama yang harus dipenuhi karena agama lah yang dapat
menyentuh nurani manusia. seperti perintah Allah agar kita tetap

6 Kahairul Umam dan Ahyar Aminudin, Ushul Fiqih II, Pustaka Setia, Bandung,
2001, hlm 125-126.
6

berusaha menegakkan agama, seperti firman-Nya dalam surat Asy-syura :


13.
Agama Islam juga harus dipelihara dari ancaman orang-orang yang
tidak bertanggung jawab yang hendak meruska akidahnya, ibadah-ibadah
akhlaknya,atau yang akan mencampur adukkan kebenaran ajaran islam
dengan berbagai paham dan aliran yang batil. walau begitu, agama islam
memberi perlindungan dan kebebasan bagi penganut agama lain untuk
meyakini dan melaksanakan ibadah menurut agama yang diyakininya,
orang-orang islam tidak memaksa seseorang untuk memeluk agama
islam. hal ini seperti yang telah ditegaskan Allah dalam firman-Nya dalam
surat al-Baqarah : 256.
2) Memelihara Jiwa
Islam melarang pembunuhan dan pelaku pembunuhan diancam dengan hukuman Qisas
(pembalasan yang seimbang), diyat (denda) dan kafarat (tebusan) sehingga dengan demikian
diharapkan agar seseorang sebelum melakukan pembunuhan, berfikir secara dalam
terlebih dahulu, karena jika yang dibunuh mati, maka seseorang yang membunuh tersebut
juga akan mati, atau jika yang dibunuh tersebut cidera, maka si pelakunya akan cidera yang
seimbang dengan perbuatannya.
Banyak ayat yang menyebutkan tentang larangan membunuh, begitu pula hadist dari
nabi Muhammad, diantara ayat-ayat tersebut adalah :
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Surat Al-Baqarah ayat 178-179


Surat al-anam ayat 151
Surat Al-Isra ayat 31
Surat Al-Isra ayat 33
Surat An-Nisa ayat 92-93
Surat Al-Maidah ayat 32.

Berikut ini adalah salah satu contoh ayat yang melarang pembunuhan terjadi di
dunia, yaitu surat Al-Isra ayat 33
Dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah
(membunuhnya), melainkan dengan suatu (alasan) yang benar[853]. dan
barangsiapa dibunuh secara zalim, Maka Sesungguhnya kami Telah
memberi kekuasaan[854] kepada ahli warisnya, tetapi janganlah ahli
waris itu melampaui batas dalam membunuh. Sesungguhnya ia adalah
orang yang mendapat pertolongan.
7

3) Memelihara Akal
Manusia adalah makhluk yang paling sempurna diantara seluruh makhluk ciptaan Allah
yang lainnya. Allah telah menciptakan manusia dengan sebaik-baik bentuk, dan melengkapi
bentuk itu dengan akal.
Untuk menjaga akal tersebut, Islam telah melarang minum Khomr (jenis menuman
keras) dan setiap yang memabukkan dan menghukum orang yang meminumnya atau
menggunakan jenis apa saja yang dapat merusak akal.
Begitu banyak ayat yang menyebutkan tentang kemuliaan orang yang berakal dan
menggunakan akalnya tersebut dengan baik. Kita disuruh untuk memetik pelajaran kepada
seluruh hal yang ada di bumi ini, termasuk kepada binatang ternak, kurma, hingga lebah,
seperti yang tertuang dalam surat An-Nahl ayat 66-69.
66.

Dan Sesungguhnya pada binatang ternak itu benar-benar

terdapat pelajaran bagi kamu. kami memberimu minum dari pada apa
yang berada dalam perutnya (berupa) susu yang bersih antara tahi dan
darah, yang mudah ditelan bagi orang-orang yang meminumnya.
67. Dan dari buah korma dan anggur, kamu buat minimuman yang
memabukkan dan rezki yang baik. Sesunggguhnya pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang
memikirkan.
68.

Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: "Buatlah sarang-

sarang di bukit-bukit, di pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang


dibikin manusia",
69.

Kemudian makanlah dari tiap-tiap (macam) buah-buahan dan

tempuhlah jalan Tuhanmu yang Telah dimudahkan (bagimu). dari perut


lebah itu ke luar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di
dalamnya

terdapat

obat

yang

menyembuhkan

bagi

manusia.

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda


(kebesaran Tuhan) bagi orang-orang yang memikirkan.
4) Memelihara Keturunan
Untuk memelihara keturunan, Islam telah mengatur pernikahan dan mengharamkan
zina, menetapkan siapa-siapa yang tidak boleh dikawini, sebagaimana cara-cara perkawinan
8

itu dilakukan dan syarat-syarat apa yang harus dipenuhi, sehingga perkawinan itu dianggap
sah dan percampuran antara dua manusia yang berlainan jenis itu tidak dianggap zina dan
anak-anak yang lahir dari hubungan itu dinggap sah dan menjadi keturunan sah dari ayahnya.
Islam tak hanya melarang zina, tapi juga melarang perbuatan-perbutan dan apa saja yang
dapat membawa pada zina.
5) Memelihara harta benda
Meskipun pada hakikatnya semua harta benda itu kepunyaan Allah, namun Islam juga
mengakui hak pribadi seseorang. Oleh karena manusia sangat tama kepada harta benda, dan
mengusahakannya melalui jalan apapun, maka Islam mengatur supaya jangan sampai terjadi
bentrokan antara satu sama lain. Untuk itu, Islam mensyariatkan peraturan-peraturan
mengenai muamalat seperti jual beli, sewa menyewa, gadai menggadai dll7.
b.) Syariat yang berhubungan dengan kebutuhan sekunder manusia (Maqashid al-Hajiyat)
Hal-hal yang bersifat kebutuhan sekunder bagi manusia bertitik tolak kepada sesuatu
yan gdapat menghilangkan kesempitan manusia, meringankan beban yan gmenyulitkan
mereka, dan memudahkan jalan-jalan muamalah dan mubadalah (tukar menukar bagi
mereka). Islam telah benar-benar mensyariatkan sejumlah hukum dalam berbagai ibadah,
muamalah, dan uqubah (pidana), yang dengan itu dimaksudkan menghilangkan kesempitan
dan meringankan beban manusia.
Dalam lapangan ibadah, Islam mensyariatkan beberapa hukum rukhsoh (keringanan,
kelapangan) untuk meringankan beban mukallaf apabila ada kesullitan dalam melaksanakan
hukum azimah (kewajiban). contoh, diperbolehkannya berbuka puasa pada siang bulan
ramadhan bagi orang yang sakit atau sedang bepergian.
Dalam lapangan muamalah, Islam mensyariatkan banyak macam akad (kontrak) dan
urusan (tasharruf) yang menjadi kebutuhan manusia. seperti, jual beli, syirkah (perseroan),
mudharobah (berniaga dengan harta orang lain) dll.
c.) Syariat yang berhubungan dengan kebutuhan pelengkap manusia (Maqashid al-Tahsini)
Dalam kepentingan-kepentingan manusia yang bersifat pelengkap ketika Islam
mensyariatkan

bersuci

(thaharah),

disana

dianjurkan

beberapa

hal

yang

dapat

7 Ismail Muhammad Syah, Filsafat Hukum Islam, Bumi aksara, Jakarta, 1992, hlm
67-101
9

menyempurnakannya. Ketika Islam menganjurkan perbuatan sunnat (tathawwu), maka Islam


menjadikan ketentuan yang di dalamnya sebagai sesuatu yang wajib baginya. Sehingga
seorang mukallaf tidak membiasakan membatalkan amal yang dilaksanakannya sebelum
sempurna .
Ketika Islam menganjurkan derma (infaq), dianjurkan agar infaq dari hasil bekerja yang
halal. Maka jelaslah, bahwa tujuan dari setiap hukum yang disyariatkan adalah memelihara
kepentingan pokok manusia, atau kepentingan sekundernya atau kepentingan pelengkapnya,
atau menyempurnakan sesuatu yang memelihara salah satu diantara tiga kepentingan
tersebut8.
3. Implementasi Maqashid Syariah Pada Pasar Modal
Keberadaan pasar modal yang menerapkan prinsip-prinsip syariah
mutlak diperlukan. Hal ini dalam rangka mewujudkan tujuan syariah atau
maqashid syariah, di mana salah satu tujuannya adalah dalam rangka
menjaga harta manusia yang merupakan amanah dari Allah Swt., dan
akan dipertanggungjawabkan di akhirat kelak.
Perusahaan (emiten) yang menjual sahamnya di pasar modal, sangat
membutuhkan modal untuk pengembangan usahanya. Modal sangat
dibutuhkan untuk menjaga kelangsungan hidup perusahaan maupun
untuk pengembangan usaha suatu perusahaan. Pertanyaannya adalah
darimanakah perusahaan memperoleh modal, terutama dalam bentuk
uang (fresh money), untuk memenuhi kebutuhan tersebut? Alternatif bagi
perusahaan untuk mengatasi kebutuhan akan modal antara lain dengan
mencari pihak lain untuk berpartisipasi sebagai pemilik perusahaan
dengan cara menanamkan modal. Apabila cara ini yang dilakukan, berarti
perusahaan harus menjual sebagian dari modal yang berupa kepemilikan
(equity) atas perusahaan atau biasa disebut dengan saham perusahaan
kepada masyarakat luas. Kegiatan perusahaan mencari modal melalui
penjualan

saham

kepada

masyarakat

luas

dikenal

dengan

istilah

penawaran umum. (Pasal 1 angka 15 Undang-undang No. 8 Tahun 1995


tentang Pasar Modal )
8 Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam Abdul Wahab Khallaf, Raja
Grafindo Persada, Jakarta, 1996, hlm 333-343
10

Setiap perusahaan yang bermaksud menawarkan efeknya di pasar


modal harus memberikan informasi atau fakta penting dan relevan
mengenai peristiwa, kejadian, atau fakta yang dapat mempengaruhi
harga efek di bursa dan atau keputusan investor, calon investor atau
pihak lain yang berkepentingan atas informasi atau fakta tersebut.
Keterbukaan ini disebut dengan prinsip keterbukaan (disclosure principle),
hal ini sangat penting dalam pengembangan pasar modal syariah untuk
memberikan rasa aman bagi investor dalam bertransaksi dan memberi
keyakinan bahwa emiten menggunakan dana dalam usaha yang tidak
bertentangan dengan syara.
Selanjutnya, apabila dirinci tujuan prinsip keterbukaan oleh Emiten
atau perusahaan publik kepada investor, maka rinciannya adalah
pertama, untuk menciptakan mekanisme pasar efisien. Pasar efisien
sering didefinisikan sebagai pasar di mana harga saham berpengaruh
terhadap semua informasi yang tersedia secara langsung. (John C. Coffee
Jr, 2001 : 747) Menurut Johon Coffee, Jr, bahwa pasar yang efesien
tersebut berkaitan dengan sistem keterbukaan, oleh karena itu, pada
dasarnya sistem keterbukaan menyediakan informasi teknis (tecnical
information) bagi analisis saham yang profesional. (John C. Coffee Jr, 2001
: 747) Menurut Brad M. Barber Paul A Griffin dan Baruch Lev. Bahwa dalam
suatu pasar yang efesien seluruh informasi publik disampaikan secara
cepat dan penuh yang hal itu dicerminkan pada harga saham yang ada di
pasar. (Brad M. Barber. Paul A Griffin dan Baruch Lev, 2004 : 294)
Kedua perlindungan terhadap investor, khususnya investor biasa
(unsophisticated investors) dari penipuan. Karena tujuan prinsip
keterbukaa tersebut dilakukan dengan cara menyamakan akses terhadap
informasi di antara para pelaku pasar. Cara penyamaan akses tersebut di
antara investor akan dapat menjaga kepercayaan investor dan dapat
mencegah terjadinya penipuan. Cara penyamaan akses terhadap
informasi tersebut adalah suatu yang dibutuhkan investor. (Brad M.
Barber. Paul A Griffin dan Baruch Lev, 2004 : 294). Apabila hukum yang
mewajibkan prinsip keterbukaan ditegakkan secara fair dan mengandung
11

unsur creaditability serta accountability, maka kejahatan dalam bentuk


misstatement atau misrepresentation dan omission yang mengakibatkan
pernyataan menyesatkan (misleading statement) akan dapat diatasi.
Sebab dengan prinsip keterbukaan itu membuat kegiatan yang dilakukan
manajemen sangat mudah dideteksi. (Brad M. Barber. Paul A Griffin dan
Baruch Lev, 2004 : 294)
Dengan demikian unsphisticated, yang pada umumnya kurang dapat
mengakses

informasi

dibadingkan

dengan

investor

potensil

yang

profesional, dapat terlindung dari eksploitasi. Karena terdapat pendapat,


bahwa investor yang tidak mengetahui informasi adalah termasuk
sebagai investor tereksploitasi. Dalam perkataan lain, barang siapa
yang mengetahui sedikit informasi akan memperoleh suatu deal yang
merugikan. (Frank H. Easterbrook dan Daniel R., 2008 : 38) Di pihak lain,
eksploitasi akan membuat rasa ketakutan dan ketakutan eksploitasi ini
akan

merusak

kepercayaan.

Meskipun

investor

tersebut

terbukti

mengalami kerugian ataupun tidak dirugikan. (Frank H. Easterbrook dan


Daniel R., 2008 : 38) Investor yang tereksploitasi dari informasi ini sangat
dirugikan, dibandingkan dengan investor lain yang memiliki informasi,
karena informasi tersebutlah ia berada dalam posisi yang diuntungkan
(informational advantages). Oleh karena itu, dapat dipahami bahwa fungsi
keterbukaan

tersebut

dapat

melindungi

investor

dari

ketakutan

eksploitasi.9
3. Implementasi Maqashid Syariah Pada Pasar Uang
Indonesia terbukti sangat ketat dalam menjaga Maqashid Syariah
pada Pasar Uang Syariah di Indonesia. Hal ini berbeda dengan negara lain
yang peranan produk-produk di sektor keuangan (pasar uang dan pasar
modal) lebih dominan. Secara esensi, struktur pengembangan keuangan
syariah di Indonesia akan lebih kuat dibanding dengan negara lain.

9 Abdul Halim Barkatullah, Penerapan Prinsip Keterbukaan Dalam Pasar Modal


Syariah Di Indonesia, Jurnal Cakrawala MIH, Hal 2-5
12

Kekurangan

instrumen

di

pasar

keuangan

syariah

tersebut

berdampak pada pengelolaan likuiditas perbankan syariah. Pengelolaan


likuiditas perbankan syariah masih mengandalkan mekanisme Pasar Uang
Antar Bank Syariah (PUAS) dengan menggunakan instrumen Sertifikat
Investasi Mudharabah (SIMA), dan melakukan penempatan di instrumen
yang diterbitkan oleh Bank Indonesia, yakni FASBI Syariah dan SBI
Syariah. Masih sedikit sekali portofolio penempatan pada instrumen
sukuk. Tingginya porsi pengelolaan likuiditas perbankan syariah pada
instrumen
bank sentral menyebabkan pengembangan pasar keuangan syariah
menjadi terkendala dan mekanisme self adjustment menjadi kurang
optimal.
Penerbitan
mekanisme

Surat

transaksi

Perbendaharaan
komoditi

Negara

murabahah

Syariah
dapat

(SPNS)

menjadi

dan
suatu

terobosan instrumen yang dapat digunakan oleh perbankan syariah dalam


melakukan

pengelolaan

likuiditasnya.

Ketersediaan

instrumen

pengelolaan likuiditas menjadi sangat penting dalam mencegah terjadinya


krisis yang berkelanjutan pada industri keuangan syariah. Para pakar yang
tergabung dalam IAEI dapat membantu industri dalam melakukan inovasi
produk keuangan syariah, khususnya untuk perbankan syariah. Agar
jangan sampai kekurangan instrumen keuangan syariah tersebut diisi oleh
instrumen dari negara lain yang belum tentu sesuai dengan kondisi pasar
keuangan dan perbankan syariah domestik.
Kendala lainnya yang perlu mendapat perhatian serius adalah upaya
untuk memenuhi gap SDI dari tenaga kerja domestik agar tidak diisi oleh
tenaga kerja asing. Perlu disaari bahwa salah satu butir kesepakatan
dalam MEA 2015 adalah freedom of movement for skilled and talented
labours. Hal ini merupakan tantangan yang serius, mengingat pusat-pusat
pendidikan dan pelatihan keuangan dan perbankan syariah berada di luar
negeri seperti Bahrain, Uni Emirat Arab, dan Malaysia. Pelaku industri
perbankan syariah dapat bekerjasama mendirikan pusat pendidikan dan
pelatihan perbankan syariah untuk mencetak tenaga ahli guna memenuhi
13

gap tersebut daripada saling bersaing dan melakukan pembajakan


pegawai. IAEI tentunya dapat berperan dalam menyediakan tenaga ahli
untuk mengajar di pusat pendidikan dan pelatihan tersebut. Agar lebih
terarah dan tepat guna, IAEI juga dapat membantu melakukan penelitian
untuk mengidentifikasi jenis-jenis keahlian yang dibutuhkan oleh industri
perbankan syariah sehingga strategi link and match dapat dijalankan.10

10 Halim Alamsyah, Perkembangan dan Prospek Perbankan Syariah Indonesia:


Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015. Jurnal Milad ke-8 IAEI, Hal 7-8
14

BAB III
PENUTUP
A. Kesimpulan
Maqasid syariah ialah matlamat-matlamat yang ingin dicapai oleh syariat demi kepentingan
umat manusia. Beberapa ulama ushul telah mengumpulkan beberapa maksud yang umum
dari menasyriatkan hukum menjadi tiga kelompok, yaitu:
a.) Syariat yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat kebutuhan primer manusia.
Kebutuhan primer ini dibagi menjadi lima, yaitu agama, jiwa, akal, keturunan, dan
harta
b.) Syariat yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat kebutuhan sekunder
manusia. Kebutuhan ini yang dapat memperlancar hubungan antar manusia, seperti
muamalah, mubadalah ibadah secara horizontal, dll.
c.) Syariat yang berhubungan dengan hal-hal yang bersifat kebutuhan pelengkap
manusia.
Inti dari implementasi maqashid syariah pada pasar modal adalah prinsip keterbukaan dari
pasar modal itu. Hal ini agar melindungi harta kekayaan para investor dari sesuatu yang
dilarang oleh syariah
Inti dari implementasi maqashid syariah pada pasar uang adalah prinsip kehati-hatian atas
tercampurnya uang dengan segala sesuatu tidnakan yang dilarang oleh syariah.
B. Saran
Penyusun menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna. Oleh karena
itu, kami berharap semoga makalah ini bisa menjadi inspirasi dan motivasi agar teman-teman
bisa membuat makalah yang lebih sempurna.

15

DAFTAR PUSTAKA
Abdul Halim Barkatullah, Penerapan Prinsip Keterbukaan Dalam Pasar
Modal Syariah Di Indonesia, Jurnal Cakrawala MIH
Abdul Wahab Khallaf, Kaidah-kaidah Hukum Islam Abdul Wahab Khallaf, Raja Grafindo
Persada, Jakarta, 1996
Halim

Alamsyah,

Perkembangan

dan

Prospek

Perbankan

Syariah

Indonesia: Tantangan Dalam Menyongsong MEA 2015. Jurnal Milad


ke-8 IAEI
Hammad al-Obeidi, al-Syatibi wa Maqasid al-Syariah, Mansyurat Kuliat alDa'wah al-Islamiyyah, Tripoli, cet. Pertama, 1401H/1992
Ibn Qayyim al-Jauziyyah, I'lam al-Muwaqqi'in, Beirut, Dar al-Kutub alIlmiyyah, 1996, jilid 3
Ismail Muhammad Syah, Filsafat Hukum Islam, Bumi aksara, Jakarta, 1992
Khairul Umam dan Ahyar Aminudin, Ushul Fiqih II, Pustaka Setia, Bandung, 2001
Muhammad Fathi al-Duraini, al-Manahij al-usuliyyah, Beirut, Muassasah alRisalah, 1997
Nuruddin Mukhtar, al-Khadimi, al-Ijtihad al-Maqasidi,Qatar , 1998

16