Anda di halaman 1dari 2

PENDAHULUAN

Sistem pendidikan di Indonesia sering kali menghadapi masalah distribusi


guru misalnya, kita belum mampu untuk menyebarkan guru SD secara merata
hingga ke pelosok tanah air. Hal ini merupakan akibat dari kondisi geografis
wilayah Indonesia yang terdiri dari ribuan pulau yang tersebar. Daerah terpencil
dan akses transportasi menuju lokasi yang sulit yang menyebabkan penyebaran
guru kurang merata. Selain itu masalah lainnya yaitu mengajar murid dengan
jumlah yang kecil, atau murid yang tinggal di pemukiman yang jarang
penduduknya, keterbatasan ruang kelas dan ketidakhadiran guru.
Untuk mengatasi masalah-masalah tersebut maka perlu menggabungkan dua
atau lebih kelas yang diasuh atau dibimbing oleh seorang guru. Seorang guru
dituntut untuk dapat menguasai bentuk atau model pembelajaran kelas rangkap
(PKR). PKR memungkinkan kita untuk memenuhi asas quantity (jumlah) dan
equity (pemerataan), yaitu dengan mengoptimallkan sumber daya yang ada. PKR
secara ekonomis juga dapat menghemat tetapi juga harus tetap berkualitas. Dalam
pembelajaran kelas rangkap murid dituntut agar menjadi aktif dan mandiri dalam
proses belajar. Maka dari itu PKR merupakan solusi yang tepat dan praktis
PEMBAHASAN
Pembelajaran kelas rangkap (PKR) adalah suatu model pembelajaran yang
mempersyaratkan seorang guru mengajar dalam satu kelas atau lebih dalam waktu
yang sama dan menghadapi dua atau tingkatan kelas yang berbeda. Pembelajaran
kelas rangkap (PKR) berbeda dengan merangkap kelas, dalam kelas rangkap
menggabungkan satu atau lebih menjadi satu kelas dengan satu RPP. Sebagai
salah satu bentuk pembelajaran, PKR mengikuti prinsip-prinsip pembelajaran
secara umum, seperti bentuk-bentuk pembelajaran yang lain. PKR mengikuti
prinsip khusus antara lain keserempakan waktu keaktifan akademik.
Waktu Keaktifan Akademik (WKA) adalah waktu kegiatan pembelajaran
selama kelas rangkap itu berlangsung, yang tidak berlanjut ke hari berikutnya
yang berarti tuntas pada hari itu juga. Dan materi hari ini tidak bisa diberikan
kembali atau diulang kembali di hari berikutnya. Hitungan satu kali waktu

keaktifan akademik (WKA) itu satu hari pembelajaran. Jadi kelas 1 itu sekitar 7 x
35 menit dalam satu WKA. Kalau dikelas tinggi bisa 10 atau 11 x 35 menit. Jadi
untuk hitungan WKA itu adalah hitungan hari. Setiap satu WKA itu tidak boleh
ada pekerjaan rumah (PR) yang dibawa ke rumah. Jadi pembelajaran harus tuntas
saat itu juga.
Syarat pelaksanaan PKR yaitu keterpaduan, dimana dalam satu WKA bisa
dibuat menjadi satu tema dalam satu materi yang sama. Harus ada persiapan
sintak materi dari setiap kelas. Jadi guru yang melaksanakan PKR harus
mengetahui kelas mana yang mau dirangkap, yang kira-kira akan dibuat model
jaringan dan yang berbeda akan dibuat model benang. Syarat yang lain yaitu akses
kognitif pembelajaran, jadi guru lebih menekankan pada akses kognitif atau
kemampuan berfikir dan mengesampingkan tentang psikomotor dan afektif anak.
Selama PKR berlangsung yang menentukan kadar tinggi rendahnya WKA
adalah kualitas dan lamanya kegiatan pembelajaran berlangsung. Selain itu agar
terjadi WKA yang tinggi semua sumber harus dimanfaatkan secara efisien, baik
itu sumber yang beupa peralatan/ sarana, orang dan waktu. Jadi PKR tidak
memberikan toleransi pada banyaknya WKA yang hilang karena guru yang tidak
terampil dalam mengelola kelas. Waktu harus dikelola dengan cermat sehingga
menghasilkan kadar WKA yang tinggi. Kemampuan murid untuk belajar mandiri
akan memungkinkan guru mengelola pembelajaran secara lebih baik sehingga
kadar WKA semakin tinggi.
KESIMPULAN
Dalam pembelajaran kelas rangkap (PKR) salah satu prinsip yang harus
dipenuhi yaitu keserempakan Waktu Keaktifan Akademik (WKA). Waktu
Keaktifan Akademik (WKA) adalah waktu kegiatan pembelajaran selama kelas
rangkap itu berlangsung, yang tidak berlanjut ke hari berikutnya yang berarti
tuntas pada hari itu juga. Hitungan satu kali waktu keaktifan akademik (WKA) itu
satu hari pembelajaran. Dalam satu WKA bisa dibuat menjadi satu tema dalam
satu materi yang sama. Guru harus cermat mengelola kualitas dan lamanya
kegiatan berlangsung serta mengakomodasi sumber yaitu sarana/peralatan, orang
dan waktu.