Anda di halaman 1dari 18

BAB 1

PENDAHULUAN
1.1. LATAR BELAKANG
Status gizi adalah ukuran keberhasilan dalam pemenuhan nutrisi untuk
anak yang diindikasikan oleh berat badan dan tinggi badan anak. Status gizi juga
didefinisikan sebagai status kesehatan yang dihasilkan oleh keseimbangan antara
kebutuhan dan masukan nutrien. Penelitian status gizi merupakan pengukuran
yang didasarkan pada data antropometri serta biokimia.
Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang berasal dari data yang
diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu
populasi atau individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih.
Sedangkan status gizi adalah keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel
tertentu atau perwujudan dari nutriture (keadaan gizi) dalam bentuk variabel
tertentu.
Penilaian Status Gizi dengan Subjective Global Assessment (SGA)
merupakan suatu metode penilaian status nutrisi yang subyektif, sederhana, murah
dan efektif . Penilaian Status Gizi dengan Subjective Global Assessment (SGA)
adalah Salah Satu Metode Penilaian Status Gizi yang bertujuan untuk memeriksa
status gizi berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik .

Penilaian

berdasarkan 5 kriteria dari riwayat pasien seperti perubahan berat badan ,


perubahan asupan gizi , gejala gastrointestinal , kemampuan fungsional , penyakit
dan kaitannya dengan kebutuhan gizi . sedangkan Penilaian berdasarkan 5 kriteria
dari pemeriksaan fisik seperti hilangnya lemak subkutan didaerah tricep ,
musclewasting , edema di pergelangan kaki , edema di daerah pinggul dan ascites.
Pada SGA tidak memiliki kriteria penilaian yang baku dan sifatnya
subjektif dengan penekanan pada penurunan berat badan , asupan gizi yang
kurang , hilangnya jaringan subkutan, muscle wasting. Penggolongan pada SGA
terbagi menjadi 3 : Gizi Baik , Gizi kurang/beresiko malnutrisi dan malnutrisi
berat SGA (Gold Standard).

Teknik SGA lebih komprehensif dibandingkan

dengan antropometri

karena terdiri dari dua tahap dan menggunakan pendekatan klinis terstruktur,
terdiri dari anamnesis dan pemeriksaan fisis yang

mencerminkan perubahan

metabolik dan fungsional. Berbagai penelitian menyatakan bahwa teknik SGA


memiliki sensitivitas

dan spesifisitas lebih baik dibandingkan dengan

antropometri.
1.2. RUMUSAN MASALAH
Yang perlu kita ketahui berkaitan dengan penilaian status gizi dengan SGA, yaitu
antara lain :
1. Apa saja indikator penilaian status gizi dengan Subjective Global Assessment
(SGA)?
2. Bagaimana penilaian status gizi dengan metode Subjective Global Assessment
(SGA)?
3. Apa saja hasil dari penilaian status gizi dengan menggunakan metode Subjective
Global Assessment (SGA) ?
1.3. TUJUAN
a.

Tujuan Khusus
Diharapkan mahasiswa memahami tentang bagaimana penilaian status gizi

dengan menggunakan metode Subjective Global Assessment serta mampu


menginterpretasikan hasil penilaian status gizi dengan Subjective Global
Assessment (SGA) .
a. Tujuan Umum
Setelah membuat dan memahami isi makalah ini diharapkan mahasiswa
mampu:
1. Mengetahui indikator penilaian status gizi dengan Subjective Global Assessment
(SGA).

2. Mengetahui metode penilaian status gizi dengan Subjective Global Assessment


(SGA) .
3. Mengetahui hasil dari penilaian status gizi dengan menggunakan metode
Subjective Global Assessment (SGA) .
1.4 MANFAAT
1.

Bagi Penulis

Makalah ini dapat dijadikan sebagai sarana untuk meniangkat minat, bakat, dan
kreativitas penulis. Makalah ini juga dapat dijadikan sarana informani untuk
mengetahui tentang apa itu Penilaian Status Gizi dengan SGA (Subjective Global
Assesment)
2.
Bagi Mahasiswa
Makalah ini dapat dijadikan media informasi bagi Siswa mengenai Penilaian
Status Gizi dengan SGA (Subjective Global Assesment)
3.
Bagi Masyarakat
Makalah ini dapat dijadikan media untuk menginformasikan masyarakan tentang
Penilaian Status Gizi dengan SGA (Subjective Global Assesment)

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 PENGERTIAN STATUS GIZI
Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh seseorang yang
dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di dalam
tubuh. Status gizi dibagi menjadi tiga kategori, yaitu status gizi kurang, gizi
normal, dan gizi lebih (Almatsier, 2005).
Status gizi normal merupakan suatu ukuran status gizi dimana terdapat
keseimbangan antara jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh dan energi yang
dikeluarkan dari luar tubuh sesuai dengan kebutuhan individu. Energi yang masuk
ke dalam tubuh dapat berasal dari karbohidrat, protein, lemak dan zat gizi lainnya
(Nix, 2001). Status gizi normal merupakan keadaan yang sangat diinginkan oleh
semua orang (Apriadji, 1986).
Status gizi kurang atau yang lebih sering disebut undernutrition merupakan
keadaan gizi seseorang dimana jumlah energi yang masuk lebih sedikit dari energi
yang dikeluarkan. Hal ini dapat terjadi karena jumlah energi yang masuk lebih
sedikit dari anjuran kebutuhan individu (Wardlaw, 2007).
Status gizi lebih (overnutrition) merupakan keadaan gizi seseorang dimana
jumlah energi yang masuk ke dalam tubuh lebih besar dari jumlah energi yang
dikeluarkan (Nix, 2005).
2.2.

FAKTOR-FAKTOR

LINGKUNGAN

YANG

MEMPENGARUHI

STATUS GIZI
Faktor lingkungan yang dapat mempengaruhi status gizi seseorang adalah
lingkungan fisik, biologis, budaya, sosial, ekonomi, dan politik (Achmadi, 2009).

1. Kondisi fisik yang dapat mempengaruhi terhadap status pangan dan gizi suatu
daerah adalah cuaca, iklim, kondisi tanah, sistem bercocok tanam, dan kesehatan
lingkungan.
2. Faktor lingkungan biologi misalnya adanya rekayasa genetika terhadap tanaman
dan produk pangan. Kondisi ini berpengaruh terhadap pangan dan gizi. Selain itu
adanya interaksi sinergis antara malnutrisi dengan penyakit infeksi yaitu infeksi
akan mempengaruhi status gizi dan mempercepat malnutrisi.
3. Lingkungan ekonomi. Kondisi ekonomi seseorang sangat menentukan dalam
penyediaan pangan dan kualitas gizi. Apabila tingkat perekonomian seseorang
baik maka status gizinya akan baik. Golongan ekonomi yang rendah lebih banyak
menderita gizi kurang dibandingkan golongan menengah ke atas.
4. Faktor lingkungan budaya. Dalam hal sikap terhadap makanan, masih banyak
terdapat pantangan, takhayul, tabu dalam masyarakat yang menyebabkan
konsumsi makanan menjadi rendah. Di samping itu jarak kelahiran anak yang
terlalu dekat dan jumlah anak yang terlalu banyak akan mempengaruhi asupan zat
gizi dalam keluarga.
5. Lingkungan sosial. Kondisi lingkungan sosial berkaitan dengan kondisi ekonomi
di suatu daerah dan menentukan pola konsumsi pangan dan gizi yang dilakukan
oleh masyarakat. Misalnya kondisi sosial di pedesaan dan perkotaan yang
memiliki pola konsumsi pangan dan gizi yang berbeda. Selain status gizi juga
dipengaruhi oleh kepadatan penduduk, ketegangan dan tekanan sosial dalam
masyarakat.
6. Lingkungan politik. Ideologi politik suatu negara akan mempengaruhi kebijakan
dalam hal produksi, distribusi, dan ketersediaan pangan

2.3. FAKTOR-FAKTOR YANG MEMBANTU TERCAPAINYA STATUS


GIZI YANG BAIK
Ada beberapa faktor yang membantu tercapainya status gizi yang baik, antara lain
(Barasi, M.E, 2007: 90) :
a.) Aktivitas fisik
Aspek ini mempertahankan kebutuhan energi dan nafsu makan, menjamin
asupan makanan yang adekuat, serta mempertahankan massa otot, yang
menunjang hidup mandiri dan kemampuan menyediakan makanannya
sendiri
b.) Interaksi sosial
Hal ini mendorong orang untuk makan dan mempertahankan minat
mereka terhadap makanan.
.

c.) Pemilihan makanan


Pemilihan makanan dari berbagai macam jenis, yang mencakup semua
kelompok makanan dalam jumlah yang sesuai.

2.4.

PENGERTIAN PENILAIAN STATUS GIZI


Penilaian status gizi merupakan penjelasan yang berasal dari data yang

diperoleh dengan menggunakan berbagai macam cara untuk menemukan suatu


populasi atau individu yang memiliki risiko status gizi kurang maupun gizi lebih
(Hartriyanti dan Triyanti, 2007).
Peran dan kedudukan Penilaian Status Gizi didalam ilmu gizi adalah untuk
mengetahui status gizi , yaitu ada tidaknya malnutrisi pada individu atau
masyarakat . Mengapa PSG menjadi penting ? karena terjadinya kesakitan dan
kematian terkait dengan status gizi maka dengan melakukan PSG pada individu

atau masyarakat kita akan dapat mengetahui kelainan tersebut (Yayuk Hartriyanti
dan Triyanti) .
Data penilaian status gizi dapat dikumpulkan dengan berbagai cara .
Pengumpulan data ini akan menjadi penting kedudukannya dalam PSG karena
akan sangat memengaruhi hasil yang didapat yang pada akhirnya akan
memengaruhi juga informasi yang disampaikan . Hal penting lainnya dalam PSG
adalah perencanaan dan penerapan (Hartriyanti dan Triyanti) .
Penilaian status gizi terdiri dari dua jenis, yaitu Penilaian Status gzi secara
langsung maupun tidak langsung . Salah satu penilaian status gizi secara tidak
langsung atau bersifat subjektif adalah metode penilaian status gizi dengan
Subjective Global Assessment (SGA) Penggolongan pada penilaian status gizi
berdasarkan SGA terbagi menjadi 3 yakni Gizi Baik , Gizi kurang/beresiko
malnutrisi dan Malnutrisi berat SGA (Gold Standard) .

BAB III
PEMBAHASAN
3.1.INDIKATOR PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN SUBJECTIVE
GLOBAL ASSESSMENT (SGA)
Penilaian Status Gizi dengan Subjective Global Assessment (SGA) adalah
Salah Satu Metode Penilaian Status Gizi yang bertujuan untuk memeriksa status
gizi berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik Penilaian status gizi dengan
Subjective Global Assessment (SGA) tergolong baru dibandingkan dengan
penilaian status gizi metode sebelumnya dan hanya menggunakan formulir
sederhana yang berisi beberapa pertanyaan yang diajukan kepada pasien . Kualitas
data tergantung dari kemampuan petugas penilai dalam berkomunikasi secara
efektif dengan pasien dan ketajaman observasi indikator fisik . Subjective Global
Assessment terdiri dari dua komponen dan menggunakan pendekatan klinis
terstruktur, terdiri dari anamnesis (riwayat medis) dan pemeriksaan fisik yang
mencerminkan perubahan metabolik dan fungsional. Anamnesis terdiri dari
keterangan mengenai perubahan berat badan, perubahan asupan nutrisi, gejala
saluran cerna, gangguan kemampuan fungsional, dan penyakit yang dialami
pasien.
Anamnesis pada Subjective Global Assessment (SGA) ini bertujuan untuk
mencari etiologi malnutrisi apakah akibat penurunan asupan makanan,
malabsorbsi, maldigesti atau peningkatan kebutuhan sedangkan Pemeriksaan fisis
menilai kehilangan massa otot dan lemak serta adanya asites dan bermanfaat
untuk mengidentifikasi perubahan komposisi tubuh akibat efek malnutrisi atau
pengaruh proses penyakit.

3.2. PENILAIAN STATUS GIZI DENGAN SUBJECTIVE GLOBAL


ASSESSMENT (SGA)
Metode penilaian status gizi dengan Subjective Global Assessment (SGA)
terdiri dari dua tahap yakni Anamnesis(riwayat medis) dan Pemeriksaan fisik .
Penggolongan penentuan status gizi pada Subjective Global Assessment (SGA)
terbagi menjadi 3 : Gizi Baik , Gizi kurang/beresiko malnutrisi dan malnutrisi
berat SGA (Gold Standard).
3.2.1.ANAMNESIS (RIWAYAT MEDIS)
A. Pengertian Anamnesis
Anamnesis adalah suatu teknik pemeriksaan yang dilakukan lewat suatu
percakapan antara seorang dokter dengan pasiennya secara langsung atau dengan
orang lain yang mengetahui tentang kondisi pasien, untuk mendapatkan data
pasien beserta permasalahan medisnya seperti keterangan mengenai perubahan
berat badan, perubahan asupan nutrisi, gejala saluran cerna, gangguan
kemampuan fungsional, dan penyakit yang dialami pasien. Anamnesis tentang
asupan pangan merupakan satu tahap penilaian status gizi yang paling sulit dan
tidak jarang membuat penilai frustasi karena berbagai sebab .
B. Tujuan Anamnesis
Tujuan pertama anamnesis adalah memperoleh data atau informasi tentang
permasalahan yang sedang dialami atau dirasakan oleh pasien. Apabila anamnesis
dilakukan dengan cermat maka informasi yang didapatkan akan sangat berharga
bagi penegakan diagnosis, bahkan tidak jarang hanya dari anamnesis saja seorang
dokter sudah dapat menegakkan diagnosis. Secara umum sekitar 60-70%

kemungkinan diagnosis yang benar sudah dapat ditegakkan hanya dengan


anamnesisyangbenar.

C. Jenis Anamnesis
Ada 2 jenis anamnesis yang umum dilakukan, yakni Autoanamnesis dan
Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Pada umumnya anamnesis dilakukan
dengan tehnik autoanamnesis yaitu anamnesis yang dilakukan langsung terhadap
pasiennya. Pasien sendirilah yang menjawab semua pertanyaan dokter dan
menceritakan permasalahannya. Ini adalah cara anamnesis terbaik karena pasien
sendirilah yang paling tepat untuk menceritakan apa yang sesungguhnya dia
rasakan. Meskipun demikian dalam prakteknya tidak selalu autoanamnesis dapat
dilakukan. Pada pasien yang tidak sadar, sangat lemah atau sangat sakit untuk
menjawab pertanyaan, atau pada pasien anak-anak, maka perlu orang lain untuk
menceritakan permasalahnnya. Anamnesis yang didapat dari informasi orag lain
ini disebut Alloanamnesis atau Heteroanamnesis. Tidak jarang dalam praktek
sehari-hari anamnesis dilakukan bersama-sama auto dan alloanamnesis.
D. Sistematika Anamnesis
Sebuah anamnesis yang baik haruslah mengikuti suatu metode atau
sistematika yang baku sehingga mudah diikuti. Tujuannya adalah agar selama
melakukan anamnesis seorang dokter tidak kehilangan arah, agar tidak ada
pertanyaan atau informasi yang terlewat. Sistematika ini juga berguna dalam
pembuatan status pasien agar memudahkan siapa saja yang membacanya.
E.Gambaran Metode Subjective Global Assessment (SGA) dalam Anamnesis
(riwayat medis)
a. Penurunan Berat Badan
Penurunan BB dalam 2 minggu atau 6 bulan bulan terakhir (kg) :

10

<5%

kehilangan ringan

5-10%

kehilangan potensial secara mutlak

>10%

kehilangan signifikan secara mutlak

Asupan makanan berdasarkan pola makan pasien sehari-hari (derajat dan durasi)
- Normal atau tidak ada perubahan
- Abnormal atau ada perubahan
* Lama
* Bentuknya
b. Gejala Gastrointestinal

Anoreksia
Mual
Muntah
Diare
c. Kapasitas Fungsional

Normal atau tidak ada perubahan


Ada kelainan fungsi tubuh :
- Mengalami sedikit penurunan
- Tanpa Aktivitas/di tempat tidur
d. Kaitan Penyakit dengan Kabutuhan Gizi
Ada tidaknya perubahan metabolisme atau penyakit yang mempengaruhi
kebutuhan zat gizi (stress metabolik) :
- Tidak ada
- Ada :
* rendah
* sedang
* tinggi

11

3.2.2 PEMERIKSAAN FISIK


A. Pengertian Pemeriksaan Fisik
Pemeriksaan fisik atau pemeriksaan klinis adalah sebuah proses dari
seorang ahli medis memeriksa tubuh pasien untuk menemukan tanda klinis
penyakit. Hasil pemeriksaan akan dicatat dalam rekam medis. Rekam medis dan
pemeriksaan fisik akan membantu dalam penegakkan diagnosis dan perencanaan
perawatan pasien.
B. Konsep Dasar Pemeriksaan Fisik
Bagian integral dari segala upaya untuk memperoleh data tentang keadaan
kesehatan diri pasien dan lingkungan/keluargnya. Keadaan kesehatan pasien
meliputi :
a. Riwayat kesehatan dan penyakit
b. Hasil pemeriksaan fisik
c. Data/hasil pemeriksaan penunjang seperti Lab/Ro./EKG,USG/CT.Scan
C. Tujuan Dari Pemeriksaan Fisik
a. Mengonfirmasi dan mengidentifikasi diagnosa keperawatan
b. Membuat penilaian klinis tentang perubahan status kesehatan klien dan
penatalaksanaannya
c. Mengevaluasi hasil fisiologis dari asuhan
d. Menilai keadaan pasien dari hasil inspeksi umum
Seperti pasien tampak sakit ringan/sedang/berat/tidak sakit, pasien tampak bisa
jalan/makan/gembira, pasien tampak sesak/terpasang cairan infus, dll.
e. Menilai tanda-tanda vital (Tekanan Darah, Suhu, Respirasi, Nadi)
f. Menilai keadaan fisik tubuh, meliputi : ada tidak berkurangnya lemak subkutan
didaerah tricep , berkurangnya massa otot , ada tidaknya edema di pergelangan
kaki , edema di daerah pinggul dan ada tidaknya asites .

3.2.3 MENGINTERPRETASIKAN HASIL DARI PENILAIAN STATUS


GIZI DENGAN MENGGUNAKAN METODE SUBJECTIVE GLOBAL
ASSESSMENT (SGA)
A. Aplikasi penilaian status gizi dengan Subjective Global Assessment (SGA)
di Rumah Sakit perlu memerhatikan yakni :

12

1. Kriteria pasien baru masuk rumah sakit :


Pasien baru masuk <48 jam
Komunikatif
Tidak dalam keadaan gawat darurat
2. Penilaian awal status gizi pasien baru masuk rumah sakit berguna bagi petugas
kesehatan seperti dokter , perawat dan sebagainya untuk merancang terapi
yang tepat dan pemberian dukungan gizi untuk menilai kejadian malnutrisi .
B. Hasil penilaian status gizi dengan menggunakan metode Subjective Global
Assessment (SGA) di Rumah Sakit
Sebanyak 162 orang menjadi subjek penelitian yang dibagi menjadi dua
kelompok berdasarkan indikator SGA yaitu kelompok terpapar adalah pasien
dengan status gizi kurang sebanyak 82 orang dan kelompok tidak terpapar adalah
pasien dengan status gizi baik sebanyak 80 orang. Adapun data karakteristik
umum dari subjek penelitian ini dapat dilihat pada Tabel 1
Hasil pada penelitian ini didapatkan bahwa status gizi awal masuk pasien
dewasa di ruang penyakit dalam lebih banyak subjek dengan status gizi kurang
yaitu sebanyak 82 orang (50,6%) dibandingkan dengan gizi baik. Adapun faktorfaktor yang berpengaruh secara bermakna terhadap status gizi awal pasien adalah
umur, tingkat pendidikan, dan pekerjaan sedangkan jenis kelamin, kelas
perawatan, diagnosis dan ada tidaknya penyakit lain sebelum masuk rumah sakit
tidak berpengaruh terhadap status gizi pasien.

13

Penelitian

di

Argentina

menyebutkan

bahwa

faktor-faktor

yang

menentukan status gizi pasien di rumah sakit di antaranya status sosial ekonomi,
umur, patologi penyakit, dan riwayat masuk rumah sakit Penelitian lain yang
menggunakan metode SGA dalam menilai status gizi awal pasien masuk rumah
sakit didapatkan hasil yang bervariasi, di antaranya adalah penelitian yang
dilakukan di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, pada pasien penyakit dalam dan
saraf jumlah gizi kurang sebanyak 54,3% (9), penelitian di Argentina pada pasien
penyakit dalam jumlah gizi kurang didapat sebanyak 47,6% (8), sedangkan
penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Spanyol pada pasien umum
diperoleh status gizi kurang 63,3% dan diagnosis tidak berpengaruh terhadap
status gizi pasien Pada penelitian ini berdasarkan NSSA sebanyak 56 orang
(72,7%) berisiko malnutrisi, dan sisanya sebanyak 25 orang (29,4%) tidak
berisiko malnutrisi. Hasil penelitian yang dilakukan di RS. Moewardi Surakarta
menunjukkan bahwa pasien yang berisiko kekurangan gizi hingga aktual
malnutrisi ditemukan pada 13 pasien (26%) dengan serum albumin, 21 pasien

14

(42%) dengan menggunakan alat penilaian gizi sederhana (PGS) pertama, dan 24
pasien (48%) dengan PGS kedua. Sedangkan pasien dengan gizi baik atau tidak
berisiko malnutrisi ditemukan pada 37 pasien (74%) dengan serum albumin, 29
pasien (58%) dengan PGS pertama, dan 26 pasien (52%) dengan PGS kedua
menunjukkan bahwa pasien yang mempunyai risiko masalah gizi berkisar antara
50-61,6%, apabila menggunakan indikator Malnutrition Screening Tool (MST),
The Short Nutritional Assesment Questionnaire (SNAQ), Nutrition Risk Sreening
(NRS) dan SGA, sedangkan dengan indikator Malnutrition Universal Screening
Tool (MUST) didapatkan hasil yang paling rendah yaitu 34% .
SGA merupakan salah satu cara untuk menilai status gizi pasien di rumah
sakit. Penilaian SGA meliputi nilai subjektif umum berdasarkan riwayat medis
dan penilaian fisik. Riwayat medis meliputi empat hal yaitu perubahan berat
badan, perubahan asupan makan, adanya gejala gastrointestinal, kapasitas
fungsional serta penyakit dan hubungannya dengan kebutuhan gizi. Penilaian fisik
meliputi lemak subkutan, massa otot, adanya odeme, dan acites.
Penelitian lain yang menggunakan metode SGA dalam menilai status gizi
awal pasien masuk rumah sakit didapatkan hasil yang bervariasi, di antaranya
adalah penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, pada pasien
penyakit dalam dan saraf jumlah gizi kurang sebanyak 54,3% (9), penelitian di
Argentina pada pasien penyakit dalam jumlah gizi kurang didapat sebanyak
47,6% (8), sedangkan penelitian yang dilakukan di Rumah Sakit Umum Spanyol
pada pasien umum diperoleh status gizi kurang 63,3% dan diagnosis tidak
berpengaruh terhadap status gizi pasien
Status gizi awal pasien penyakit dalam yang dinilai dengan metode SGA
maupun NSSA lebih banyak menderita status gizi kurang. Namun berdasarkan
metode NSSA, jumlah pasien dengan status gizi awal yang dikategorikan kurang
persentasenya lebih banyak dibandingkan dengan menggunakan metode SGA.
Jenis kelamin dan status gizi awal masuk pasien dewasa yang dinilai
dengan menggunakan metode SGA akan berpengaruh terhadap lama rawat inap
namun tidak untuk status pulang pasien. Kemampuan indikator SGA lebih baik

15

dari indikator NSSA dalam memprediksi lama rawat inap sedangkan untuk status
pulang pasien tidak dapat ditentukan.
Pasien penyakit dalam yang akan menjalani rawat inap harus dilakukan
skrining awal dengan menggunakan indikator NSSA sedangkan dalam menilai
status gizi dengan menggunakan metode SGA agar mempertimbangkan sumber
daya manusia yang ada. Penilaian status gizi ini penting guna pemberian
intervensi gizi yang tepat sesuai dengan status gizi pasien sehingga kejadian
komplikasi penyakit dapat dicegah dan kesembuhan pasien dapat lebih cepat yang
berdampak pada lama rawat inap pasien menjadi lebih pendek. Adapun
kesembuhan dan lama rawat inap pasien dapat dijadikan tolak ukur dari gambaran
mutu pelayanan rumah sakit.

BAB IV
PENUTUP

4.1 KESIMPULAN

16

Salah Satu Metode Penilaian Status Gizi yang bertujuan untuk memeriksa
status gizi berdasarkan riwayat pasien dan pemeriksaan fisik. Penilaian
berdasarkan 5 kriteria dari riwayat pasien seperti perubahan berat badan,
perubahan asupan gizi, gejala gastrointestinal, kemampuan fungsional, penyakit
dan kaitannya dengan kebutuhan gizi sedangkan Penilaian berdasarkan 5 kriteria
dari pemeriksaan fisik seperti hilangnya lemak subkutan didaerah tricep,
mmusclewasting, edema di pergelangan kaki, edema di daerah pinggul dan
ascites.
Pada SGA tidak memiliki kriteria penilaian yang baku dan sifatnya
subjektif dengan penekanan pada penurunan berat badan , asupan gizi yang
kurang , hilangnya jaringan subkutan , muscle wasting .Dengan adanya berbagai
macam metode penilaian status Gizi, kita dapat mengetaui masalah Gizi seseorang
berupa Malnutrisi. Adapun Malnutrisi merupakan suatu kondisi medis yang
disebabkan oleh pemberian atau cara makan yang tidak tepat atau tidak
mencukupi.
4.2 SARAN
Penilaian status gizi ini penting guna pemberian intervensi gizi yang tepat
sesuai dengan status gizi pasien sehingga kejadian komplikasi penyakit dapat
dicegah dan kesembuhan pasien dapat lebih cepat.
Kami memahami bahwa setiap manusia mempunyai kekurangan dan
kelebihan, oleh karenanya, tentu dalam pembuatan makalah ini kami masih
banyak

kesalahan,

kritik

dari

pembaca

sangat

kami

butuhkan

guna

penyempurnaan makalah kami selanjutnya.

DAFTAR PUSTAKA
1. Susetyowati. Yenita, Dan Kunianda. Johan. (2010). Status Gizi Awal
Berdasarkan

Patient

Generated

Subjective

Global

Assesment

(Pg.Sga)

Berhubungan Dengan Asupan Zat Gizi Dan Perubahan Berat Badan Pada

17

Penderita Kanker Rawat Inap Di Rsup. Dr . Muhammad Hoesin Palembang.


Journal Gizi Klinik Indonesia. 8 (2), 80-84
(Di Akses Pada Tanggal 25 Agustus 2016)
2. Harimawan.Wayan I Agustinus, Hadi. Hamam, Dan Susetyawati. (2011). Kajian
Metode Subjective Global Assesment (Sga) Dan Nutrition Services Screening
Assesment (Nssa) Sebagai Prediktor Lama Rawat Inap Dan Status Pulang.
Jurnal Gizi Klinik Indonesia. 7(3), 1-6
(Http://I-Lib.Ugm.Ac.Id/Jurnal/Detail.Php)
(Di Akses Pada Tanggal 25 Agustus 2016)
3. Sada Claudia (2016). Penilaian Status Gizi
(http://claudiasada.blogspot.co.id/)
(Di akses Pada tanggal 23 November 2016)
4. Susetyowati

(2011).

Penilaian

Status

Gizi

Rumah

Sakit

(http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/62484/6b34ee952e11b0338505367a
a0fc1d61)
(Di akses Pada tanggal 23 Agustus 2016)
5. (http://elisa.ugm.ac.id/user/archive/download/62484/6b34ee952e11b0338505367a
a0fc1d1)
(Di akses pada tanggal 23 Agustus 2016)
6. (http://www.medrec07.com/2014/12/pengertian-anamnesa-pemeriksaan-fisikpemeriksaan-penunjang-diagnosis-prognosis-terapi-tindakan-medis.html)
(Di Akses pada tanggal 23 Agustus 2016)
7. MaulanaRazi(2008).Anamnesis.
(https://razimaulana.wordpress.com/2008/12/02/anamnesis/)
(Di Akses Pada tanggal 23 Agustus 2016)
8.
Achadi. L Endang. (2007). Gizi Dan Kesehatan Masyarakat. Depok: Raja
Grafindo Persada

18