Anda di halaman 1dari 15

1

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Masalah hama masih menjadi kendala utama dalam peningkatan
produksi tanaman. Salah satu cara pengendalian yang dapat memberikan
jaminan terhadap keamanan lingkungan dan cukup efektif ialah pengendalian
hayati. Dalam pengendalian hayati, patogen serangga merupakan agens hayati
yang cukup potensial. Nematoda entomopatogen (NEP) adalah salah satu agens
hayati untukmengendalikan hama tanaman. Terdapat dua genus NEP yang
berperan sebagai agens pengendali hayati yaitu genus Steinernema dan
Heterorhabditis. NEP menginfeksi inangnya dengan bersimbiosis dengan bakteri
yang ada pada saluran pencernaannya. Nematoda famili Steinernematidae
bersimbiosis

dengan

Heterorhabditidae

bakteri

bersimbiosis

genus
dengan

Xenorabdus
bakteri

dannematoda
genus

famili

Photorabdus

(Afifah et.al ., 2013).

Penggunaan pestisida yang tidak bijaksana dapat menimbulkan dampak


negatif, seperti semakin meningkatnyaketahanan hama terhadap bahan aktif
pestisida, menurunnya populasi musuh alami dan mengakibatkan pencemaran
lingkungan. Untuk mengatasi dampak negatif penggunaan pestisida, maka perlu
dicari alternatif pengendalian yang ramah lingkungan, salah satunya dengan
pemanfaatan agens hayati seperti nematoda entomopatogen (NEP)(Febrianasari
et.al, 2014).
Salah satu solusi atas permasalahan tersebut adalah menggunakan
kembali pengendalian hayati yang lebih ramah lingkungan. Agens hayati
yang digunakan untuk pengendalian hayati adalah nematoda entomopatogen,

yang dapat menggantikan fungsi pestisida kimia. Nematoda entomopatogen


yang banyak diteliti dan dikembangkan berasal dari genus Steinernema dan
Heterorhabditis nematoda Steinernema spp. yang diisolasi dari tanah-tanah
beberapa

daerah

ternyata

mampu

membunuh

uret

dengan

mortalitas

mencapai 90% selama 48 jam (Alfarizi et.al., 2010).


Sampai saat ini upaya pengendalian secara konvensional seringkali di
lakukan oleh kebanyakan petani di Indonesia yang lebih menekankan penggunaan
insektisida sintetik. Tingginya ketergantungan terhadap insektisida sintetik
membawa dampak negatif. Pengaruh penggunaan insektisida sintetik yang tidak
berjadwal serta kurang tepat banyak menimbulkan dampak negatif yang sangat
merugikan antara lain ketahanan serangga hama (resistensi), peledakan serangga
hama sekunder (resurjensi), dan matinya musuh alami hama. Oleh karena itu,
dibutuhkan suatu upaya untuk mengembangkan teknik pengendalian yang ramah
lingkungan misalnya dengan pemanfaatan agens hayati. Salah satu pengendalian
hayati yaitu dengan memanfaatkan nematoda entomopatogen (Haryani, 2014).
Nematoda entomopatogen telah dipergunakan untuk mengendalikan
serangga hama pada tanaman pangan, perkebunan, rumput lapangan golf serta
tanaman hortikultura. Nematoda entomopatogen dapat diisolasi dari berbagai
tempat di seluruh belahan dunia, khususnya dari golongan Steinernematidae dan
Heterorhabditidae dapat digunakan untuk mengendalikan hama-hama golongan
Lepidoptera, seperti : Galleria mellonella (L), Spodoptera exigua Hubner, Agrotis
ipsilon Hufnayel yang virulensinya mencapai 100 persen (Nugrohorini, 2010).

Tujuan Penulisan
Adapun tujan dari laporan ini adalah untuk mengetahui Uji Efektifas
Nematoda Entomopatogen Terhadap Mortalitas Ulat Jengkal (Plusia signata)
Kontak Dan Sistemik Dilaboratorium Kegunaan Penulisan.
Kegunaan Penulisan
Adapun kegunaan penulisan ini adalah sebagai salah satu syarat untuk
memenuhi Memenuhi Komponen Penilaian di Laboratorium Pengendalian
Hayati Hama Penyakit Tumbuhan Program Studi Agroekoteknologi Fakultas
Pertanian Universitas Sumatera Utara, Medan dan sebagai salah satu informasi
bagi pihak yang membutuhkan dan untuk mengetahui parasitasi alami dalam
keberadaan hama.

TINJAUAN PUSTAKA

Ulat Jengkal (Plusia signata)


Biologi
Klasifikasi ulat kubis (Plusia signataL.) menurut Kalshoven (1981) adalah
sebagai berikut :Kingdom : Animalia Phylum : Arthropoda Kelas : Insecta Ordo :
Lepidoptera Famili : Plusidae Genus : PlusiaSpesies : Plusia signataL.
Plutella xylostella adalah serangga kosmopolitan pada daerah tropis dan
daerah subtropis.Di Indonesia saat ini penyebaranya bukan hanya di daerah
pegunungan

tetapi

saat

ini

sudah

menyebar

sampai

di

dataran

rendah.P.xylostellamemiliki kisaran inang yang luas.Banyak jenis kubis, sawi dan


beberapa tanaman silangan lainnya, termasuk Raphanaus sativius (lobak).Ulat
kubis banyak memakan daun muda dan daun tua. Jenis kerusakan oleh ulat kubis
ini sangat khas: daunmenampilkan jendela putih tidak teratur, jarang lebih besar
dari 0,5 cm yang kemudian memecah ke lubang bentuk (Kalshoven, 1981).
Stadium telur antara 3-6 hari.Larva instar pertama setelah keluar dari telur
segera menggerek masuk ke dalam daging daun. Instar berikutnya baru keluar dari
daun dan tumbuh sampai instar keempat. Pada kondisi lapangan, perkembangan
larva dari instar I-IV selama 3-7; 2-7; 2-6; dan 2-10 hari (Hermintato, 2010).
Larva atau ulat mempunyai pertumbuhan maksimum dengan ukuran
panjang tubuh mencapai 10-12 mm. Prepupa berlangsung selama lebih kurang 24
jam, setelah itu memasuki stadium pupa. Panjang pupa bervariasi sekitar 4,5-7,0
mm dan lama umur pupa 5-15 hari (Kalshoven, 1981).
Siklus hidup pupa berlangsung 10 sampai 14 hari dan membentuk kokon
pada daun atau tangkai untuk pupasi.Telur imago ulat kubis (ngengat) berukuran
sangat kecil, agak bulat telur.Diletakkan secara tunggal pada sisi bawah

daun.Produksi telur adalah 180-320 per. Telur yang diletakkan secara terpisah
pada permukaan daun yang lebih rendah (Hermintato, 2010).
Serangga dewasa atau ngengat berbentuk ramping, berwarna coklatkelabu. Sayap depan bagian dorsal memiliki corak khas seperti berlian, sehingga
hama ini terkenal dengan nama ngengat punggung berlian (diamondback moth).
Nama lain dari serangga tersebut adalah ngengat tritip dan ngengat kubis
(cabbage moth). Ngengat memakan sari bunga dan merupakan penerbang yang
lemah serta sering terlihat pada waktu senja (Hermintato (2010).
Gejala Serangan Ulat Jengkal (Plusia signataL.) (Lepidoptera: Plusidae)
Infestasi P. signata yaitu dengan meletakan telur didekat urat daun pada
permukaan daun.Larva yang baru menetas memakan bagian dalam jaringan daun,
dan menimbulkan gejala pada daun yang khasKegiatan makannya meninggalkan
pola bergaris pada permukaan daun. Larva yang lebih dewasa, yang biasanya
berwarna hijau keabu-abuan dan berubah menjadi hijau cerah, akan memakan
permukaan daun. Larva tidak memakan urat daun, hanya jaringan di antaranya,
membuat efek jendela pada tanaman yang mengalami serangan serius.Larva
meliuk dengan cepat saat diganggu dan bergantung pada utas sutra.Larva dewasa
membentuk kepompong berwarna hijau muda atau coklat muda di dalam
gulungan sutra pada batang atau bagian bawah daun (Rukmana, 2010).
Larva

bisa

memakan

tanaman

sawi

pada

semua

tahap

pertumbuhan.Serangan paling merusak saat tanaman masih muda atau pada tahap
menguncup.Ngengat tidak menyebabkan kerusakan langsung terhadap kuncup,
tetapi merusak daun pembungkus, walaupun tidak secara langsung mempengaruhi
hasil panen, tetapi bias mengurangi nilai panen (Irwanto, 2011).

Pengendalian Hama Ulat Jengkal (Plusiasignata F.) (Lepidoptera: Plusidae)


1. Secara

mekanik

dengan

mengumpulkan

telur

maupun

ulat

untuk

dimusnahkan dan juga dengan memangkas daun yang terserang kemudian di


bakar.
2. Secara biologi dengan penggunaan musuh alami seperti parasitoid dan
predator.
3. Secara kimiawi dengan insektisida yang berbahan aktif Kuinalfos dan
Triklorfon atau insektisida yang bersifat sistemik (Sarwani, 2010).

Penggunaan agens hayati (pengendalian biologis). Pengendalian biologis


pada dasarnya adalah pemanfaatan dan penggunaan musuh alami untuk
mengendalikan hama. Musuh alami seperti parasitoid, predator, dan patogen
serangga hama merupakan agens hayati yang dapat digunakansebagai pengendali
ulat grayak. NPV efektif mengendalikan hama ulat grayak. Kombinasi NPV
dengan azadirachtin (insektisida nabati dari tanaman mimba) lebih efektif
mengendalikan ulat grayak.Bacillus thuringiensis (Bt) merupakan agens hayati
berbahan aktif bakteri yang efektif mengendalikan ulat grayak. Pemanfaatan Bt
sebagai agens hayati untuk mengendalikan ulat grayak aman terhadap serangga
bukan sasaran seperti parasitoid dan predator (Marwoto dan Suharsono, 2014).
Nematoda Entomopatogen
Nematoda entomopatogen merupakan pathogen serangga yang dapat
menyebabkan infeksi dan menimbulkan penyakit pada serangga hama. Penetrasi
NEP di lakukan langsung melalui kutikula serangga dan lubang-lubang alami
seperti spirakel, mulut, dan anus. Nematoda membunuh serangga melalui bantuan
dari simbiosis mutualisme dengan bakteri yang dibawa dalam saluran
pencernaannya (Haryani, 2014).

NEP adalah mikroorganisme berbentuk cacing transparan, panjang dan


agak silindris berukuran 700-1200 mikron dan diselubungi oleh kutikul non
seluler yang elastic yang berada di dalam tanah. Nematoda yang ada di dalam
tanah, ada yang tergolong free living, nematoda parasit tanaman dan nematoda
entomopatogen. Nematoda yang saat ini dikembangkan adalah nematoda
entomopatogen yang dapat digunakan sebagai agens pengendali hayati serangga
hama baik ordo Lepidoptera, Coleopteran dan Dipteral (Febrianasari et.al, 2014).
Nematoda entomopatogen mempunyai siklus hidup sederhana dan
mempunyai stadia utama perkembangan dari telur, juvenil dan dewasa. Juvenil
terbagi menjadi juvenil instar 1 (J1), juvenil instar 2 (J2), juvenil instar 3 (J3) dan
juvenil instar 4 (J4). Siklus hidup nematoda mulai dari menginfeksi sampai
muncul JI generasi baru berkisar 7-10 hari. JI meninggalkan bangkai inang 2-3
minggu setelah berkembang di dalam tubuh inang dan mencari inang yang baru.
Pergantian instar di tandai dengan terjadinya pergantian kulit (molting) (Haryani,
2014).
NEP adalah parasit yang spesifik menyerang larva serangga sehingga
aman bagi hewan dan tumbuhan, penggunaan NEP memiliki peluang besar untuk
mengandalikan serangga hama. Keunggulan NEP dibandingkan agens hayati yang
lain adalah keberadaannya yang mudah ditemukan hampir seluruh tanah di
banyak wilayah selain mudahnya NEP beradaptasi dan bertahan hidup. Dengan
demikian, secara berangsur-angsur, upaya penggunaan pestisida kimiawi dan
mulai beralih kepadapengendalian agen hayati NEP yang aman bagi lingkungan
(Febrianasari et.al, 2014).

Nematoda Entomopatogen (NEP) merupakan nematoda endoparasit


khusus serangga. NEP yang umum digunakan sebagai biokontrol berbagai macam
serangga

hama

pertanian

berasal

dari

famili

Steinernematidae

dan

Heterorhabditidae. Kedua famili masing-masing memiliki 4 stadium juvenil


(juvenil I sampai juvenil IV). Stadium yang paling infektif adalah juvenil III (JI
III). Stadium III (JI III) inilah yang nantinya digunakan sebagai biokontrol
pengendali serangga hama. Siklus hidup NEP dari famili Steinernematidae dan
Heterorhabditidae (Fauzi, 2014).
klasifikasi Steinernema spp. adalah sebagai berikut. Kingdom : Animalia
Filum : Nematoda Kelas : Secernentea Ordo : Rhabditida Famili :
Steinernematidae Genus : Steinernema Spesies : Steinernema spp. Klasifikasi
Heterorhabditis spp. adalah sebagai berikut. Kingdom : Animalia Filum :
Nematoda Kelas : Secernentea Ordo : Rhabditida Famili : Heterorhabditidae
Genus : Heterorhabditis Spesies : Heterorhabditis spp. (Haryani, 2014).
Xenorhabdus sp dan Photorhabdus sp adalah bakteri gram negatif famili
Enterobacteriaceae yang hidup bersimbiosis dengan nematoda Heterorhabditis
dan Steinernema. Kedua bakteri tersebut mampu membunuh serangga hama
dengan waktu yang sangat cepat sekitar 24-48 jam karena mengeluarkan racun
(toksin). Pada umumnya gejala serangga hama yang terserang oleh nematoda
adalah adanya perubahan warna, tubuh menjadi lembek, dan bila di bedah
jaringan menjadi cair tetapi tidak berbau (Haryani, 2014).
Cara Menyerang Inang
NEP masuk ke dalam tubuh serangga melalui berbagai cara, baik secara
langsung melalui lubang tubuh alami (mulut, spirakel, anus), kutikula, atau secara

kebetulan termakan oleh larva serangga. Setelah berada di dalam tubuh larva,
NEP melepaskan bakteri simbion ke dalam sistem hemolimfa. Bakteri kemudian
berkembang secara cepat sehingga mampu membunuh inang antara 24-48 jam
setelah proses infeksi (Fauzi, 2014).

10

HASIL DAN PEMBAHASAN


Hasil
Ulat ke-

Hari ke
1

Pembahasan
Dari hasil praktikum diketahui bahwa ulat grayak mulai mati pada hari ke 2
dan diikuti oleh hari ketiga. Hal ini membuktikan bahwa nematode
entomopatogen sangat efektif dalam mengendalikan hama. Hal ini sesuai dengan
literature Ehler (1996) yang menyatakan bahwa Nematoda yang saat ini
dikembangkan adalah nematoda entomopatogen yang dapat digunakan sebagai
insektisida biologi yang sangat potensial untuk mengendalikan serangga hama
baik ordo Lepidoptera, Coleoptera dan Diptera.
Dari hasil praktikum, terlihat gejala yang disebabkan oleh nematode
entomopatogen terhadap ulat grayak berupa perubahan warna yang menjadi coklat
muda hal ini sesuai dengan literatur Nugrohorini (2010) yang menyatakan bahwa
kutikula larva yang menunjukkan bahwa tubuh larva yang mati berwarna coklat

11

karamel, lunak, tidak berbau busuk dan apabila dibedah didalamnya terdapat
nematoda. Warna coklat karamel pada tubuh serangga yang terserang
menunjukkan

bahwa

serangga

tersebut

terserang

nematoda

genus

Steinernema spp.
Dari hasil praktikum diketahui bahwa NEP masuk ke tubuh inang melalui
lubang alami. Hal ini sesuai dengan literatur Gauler (2006) yang menyatakan
bahwa Nematode entomopatogen masuk ke dalam tubuh inang melalui lubang
alami, seperti mulut, anus, dan spirakel atau melalui luka pada kutikula atau
kutikula tipis antarsegmen. Setelah masuk, nematoda melepas bakteri simbion ke
dalam haemocoel inang. Bakteri tersebut berbiak dengan cepat dan mengeluarkan
toksin yang mengakibatkan kematian inang.
Dari hasil praktikum diketahui bahwa mekanisme parasitasi nematode
terhadap ulat grayak dimulai dengan menembus tubuh inang dan perbanyakan
bakteri simbion secara cepat yang menghasilkan toksin. Hal ini sesuai dengan
literatur Indobiogen (2007) yang menyatakan bahwa kemampuan nematoda
entomopatogen untuk masuk menembus tubuh inang merupakan kunci pertama
keberhasilan nematoda menginfeksi inangnya. keberhasilan kedua adalah
kemampuan bakteri simbion untuk menghasilkan toksin yang mampu mematikan
serangga inang secara cepat, menghasilkan eksoenzim yang mampu mencerna
makromolekul penyusun tubuh inang menjadi hara yang tersedia bagi nematoda
bersangkutan, serta beberapa toksin yang menghambat pertumbuhan mikroba
pesaingnya. Produksi toksin tersebut sangat dipengaruhi oleh kesesuaian
nematoda dengan bakteri simbionnya.

12

Dari hasil praktikum nematode entomopatogen yang digunakan diisolasi


dari tanah dan dilihat apakah nematode itu mampu memparasitasi ulat dengan
menggunakan ulat hong. Hal ini sesuai dengan literatur Indriyanti dkk (2014) yang
menyatakan bahwa NEP hidup di tanah dengan tekstur tanah, kelembaban,
intensitas cahaya dan bahan organik yang sesuai. Hasil penelitian menunjukkan
bahwa NEP ditemukan pada tanah yang memiliki karakteristik tekstur tanah
berpasir dan kelembaban tanah yang tinggi.

KESIMPULAN

13

1. Nematoda entomopatogen dapat digunakan sebagai entomopatogen sangat


potensial untuk mengendalikan serangga hama baik ordo Lepidoptera,
Coleoptera dan Diptera
2. Gejala yang disebabkan oleh nematode entomopatogen terhadap ulat grayak
berupa perubahan warna yang menjadi coklat muda.
3. Nematode entomopatogen masuk ke dalam tubuh inang melalui lubang alami,
seperti mulut, anus, dan spirakel atau melalui luka pada kutikula atau kutikula
tipis antarsegmen.
4. Mekanisme parasitasi nematode terhadap ulat grayak dimulai dengan
menembus tubuh inang dan perbanyakan bakteri simbion secara cepat yang
menghasilkan toksin.
5. Nematode entomopatogen yang digunakan diisolasi dari tanah dan dilihat
nematode itu mampu memparasitasi ulat dengan menggunakan ulat hong.

DAFTAR PUSTAKA

14

Hermintato, N. 2010.Keanekaragaman Hayati dan Komposisi Musuh Alami Hama


Kelapa Brontispa longissima di Kecamatan Parigim Provinsi Sulawesi
Tengah, Sulawesi Tengah.
Irwanto, F. X. 2011. Pengendalian Hayati Hama Kutu Perisai Kelapa Dengan
Predator Chilocorus politus.Gadjah Mada University Press, Yogyakarta
Kalshoven, L.G.E. 1981.The Pestsof Crops in Indonesia. (Rev. And Transl:
P.A.van Der Laan).P.T. Ichtiar BaroeVan Hoeve.Jakarta. 701 PP.
Marwoto dan Suharsono. 2008. Strategi dan Komponen Teknologi Pengendalian
Ulat Grayak (spodoptera litura) Pada Tanaman Kedelai. Balai Penelitian
Tanaman Kacang-Kacangan dan Umbi-Umbian.Jurnal Litbang Pertanian
27(4) 2008.
Rukmana. 2010. Budidaya Tanaman Tembakau. Kanisius.Yogyakarta.
Sarwani, R. 2010. Tanggap Fungsional Predator Cyrtorhinus lividipennis Reuter.
(Hemiptera: Miridae) Terhadap Hama Wereng Batang Cokelat
Nilaparvata lugens STAL. (Hemiptera: Delphacidae). Skripsi. Institut
Pertanian Bogor, Bogor.
Afifah, L., Bambang, T.R. dan Hagus, R. 2013. Eksplorasi Nematoda
Entomopatogen Pada Lahan Tanaman Jagung, Kedelai Dan Kubis Di
Malang Serta Virulensinya Terhadap Spodoptera Litura Fabricius.
Universita Brawijaya. Malang.
Alfarizi, S., Hari, P., dan Mohammad, W. J. 2010. Pengendalian Hayati Uret
Menggunakan Nematoda Patogen Serangga (NPS) dan
Metarhizium
sp.
Di
Laboratorium. Universitas Jember. Jember.

Fauzi,

B. A. 2014. Uji Efektivitas Nematoda Entomopatogen Pada


Hama Bawang MerahSpodoptera Exigua. Universitas Negeri Semarang.
Semarang.

Febrianasari, R., Maziatul, U. Z., Annike, P. D., dan Muhammad, A. Z. 2014.


Nematoda EntomopatogenIndigenous Dalam UjiPerbandingan Efikasi
Pengendalian Plutella xylostella(Lepidoptera: Plutellidae). Universitas
Brawijaya. Malang.
Haryani,

M. E. 2014. Kepadatan Populasi Nematoda Entomopatogen


Pada Berbagai Media Pakan Buatan. Universitas Negeri Semarang.
Semarang.

Nugrohorini. 2010. Eksplorasi Nematodaentomopatogen Pada Beberapa Wilayah Di


Jawa Timur. Faklutas Pertanian, UPN Veteran Jawa Timur.

15