Anda di halaman 1dari 62

ATAMBUA DAN AIR

BERSIH:
Bagaimana Solusi Terhadap
Ketersediaan Sumber Daya Air?

Makalah Kebijakan

ATAMBUA DAN AIR


BERSIH
Bagaimana Solusi Terhadap Ketersediaan
Sumber Daya Air?

Putri D. Potabuga

Friedrich Naumann Stiftung


Freedom Institute

ATAMBUA DAN AIR BERSIH


Bagaimana Solusi Terhadap Ketersediaan Sumber Daya Air?
Putri D. Potabuga
ISBN :
Editor & Layout : Elisabeth Montessory
Cetakan Pertama : November, 2016
Diterbitkan atas kerjasama :
Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit
Jl. Kertanegara No.51, Kebayoran Baru
Jakarta 12110 Indonesia
Tel: (021) 725 6012/13
Website: indonesia.fnst.org
Email: jakarta@fnst.org
Freedom Institute
Website: freedom-institute.org
Email: office@freedom-institute.org

KATA PENGANTAR
Ketersedian air di Nusa Tenggara Timur dan wilayah
perbatasannya terutama Atambua menjadi salah satu
permasalahan penting bagi Indonesia. Seperti yang kita ketahui
bahwa ketersediaan air bagi umat manusia itu adalah kebutuhan
pokok untuk keberlanjutan kehidupan kedepan. Hal ini juga
didukung melalui UUD No. 7 Tahun 2004 yang menjamin setiap
Warga Negara Indonesia layak untuk mendapatkan sumber daya
air bersih, pemanfaatan air bersih dan pengolahan sumber air
bersih. Kebijakan yang sudah ada mengenai sumber daya air ini
menjadi dasar kajian Penulis dalam menuliskan rekomendasi
kebijakan ini dengan judul: Atambua dan Air Bersih, Bagaimana
Solusi Terhadap Ketersediaan Sumber Daya Air.
Dalam kajian ini, ketersediaan air di Atambua diidentifikasi dari
letak geografi dari provinsi Nusa Tenggara Timur, khususnya
Atambua, untuk melihat potensi sumber daya air. Pengembangan
infrastruktur dan teknologi terbarukan dibidang pengolahan
sumber air bersih menjadi salah satu solusi bagi keterbatasan
sumber daya air yang berada di seluruh Indonesia. Akan tetapi
dalam kajian ini ditemukan bahwa hal yang tidak kalah penting
adalah perlunya peningkatan pengetahuan dari masyarakat
Atambua melihat permasalahan keterbatasan sumber daya air
bersih ini dengan melakukan tindakan strategi dalam pengolahan
sumber daya air bersih.
Kajian ini dilakukan penulis dengan tujuan memberikan
informasi, solusi, dan rekomendasi kebijakan bagi semua lapisan
terkait terutama kepada pemerintah daerah provinsi Nusa
Tenggara Timur dan masyarakat di wilayah Atambua. Pemerintah
daerah Atambua diharapkan dapat merumuskan rencana dan
tindak lanjut nyata terhadap permasalahan sumber daya air bersih
di Atambua melihat pada posisi prioritas untuk solusi tepat
terhadap keterbatasan sumber daya air di Atambua. Kiranya kajian
ii

ini dapat bermanfaat dan dijadikan acuan bagi para pembuat


kebijakan dan perancang kegiatan pusat daerah ketika membuat
perencanaan terkait sumber daya air.
Kajian kebijakan mengenai sumber daya air dan air bersih ini
dibuat atas kerjasama Friedrich Naumann Stiftung untuk
kebebasan (FNF-Indonesia) dengan Freedom Institute.

Jakarta, November 2016


Putri D. Potabuga

iii

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR .........................................................................ii
DAFTAR ISI ..................................................................................... iv
I.

Pengantar................................................................. 1

II. Kondisi Geografis Kota Atambua .............................5


III. Sumber Daya Air Di Indonesia ................................ 8
3.1 Pemanfaatan Air .....................................................................8
3.2 Kebijakan Yang Sudah Ada Mengenai Sumber Daya Air... 15
3.3 Permasalahan Sumber Daya Air Bersih Dan Air Minum ..23
IV. Krisis Air Di Atambua ........................................... 26
4.1 Daerah Aliran Sungai (DAS) ................................................ 31
4.2 Penggunaan Lahan ...............................................................32
V. Tantangan Pengolahan Sumber Daya Air Dan Air
Bersih Di Atambua ...................................................... 42
5.1 Letak Geografi Dan Struktur Tanah ....................................42
5.2 Karakteristik Tanah..............................................................43
5.3 Daerah Aliran Sungai ...........................................................43
VI. Penutup................................................................. 48
6.1 Solusi Ketersediaan Sumber Air dan Air Bersih. ............... 48
6.2 Kesimpulan dan Saran .........................................................49
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................ 52
Lampiran 1 ....................................................................................... 54

iv

I.
Pengantar

Atambua adalah ibukota Kabupaten Belu di provinsi Nusa


Tenggara Timur, Indonesia. Kata "Atambua", berarti "tempat
budak atau hamba dan suanggi". Konon kota ini merupakan
tempat budak-budak yang telah dibeli dibawa ke pantai utara. Saat
ini dikenal dengan nama pelabuhan Atapupu yang berjarak 48
kilometer dari Kota Atambua. Atambua yang merupakan daerah
perbatasan, yang bagi sejumlah besar penduduk Timor Leste yang
masih memilih NKRI, mengungsi dan hidup sebagai eksodus di
Atambua. Sebagian besar masyarakatnya berbahasa Tetun dan
Dawan L. Atambua adalah kota yang multi etnis dari suku Timor,
Rote, Sabu, Flores, sebagian kecil suku Tionghoa dan pendatang
dari Ambon, dan beberapa suku bangsa lainnya. Tetapi terlepas
dari keragaman suku bangsa yang ada, penduduk Kota Atambua
tetap rukun menjalani kehidupan sosial mereka.
Sejak bulan April 2016, kota ini sedang dipersiapkan menjadi Kota
Layak Anak.1 Atambua menjadi kota terbesar kedua di Pulau Timor
dalam hal ekonomi, jumlah penduduk, pemerintahan dan

Kabupaten/kota yang mempunyai sistem pembangunan berbasis hak anak


melalui pengintegrasian komitmen dan sumber daya pemerintah, masyarakat
dan dunia usaha, yang terencana secara menyeluruh dan berkelanjutan dalam
kebijakan, program dan kegiatan untuk menjamin pemenuhan hak dan
perlindungan anak. Sumber http://www.kla.or.id/

sebagainya. Pembangunan Ekonomi di wilayah Atambua cukup


pesat dan mampu menandingi pertumbuhan ekonomi di Kota
Kupang, karena proyek-proyek yang digelar Pemerintah Republik
Indonesia

di

wilayah

perbatasan

yang

membuat

banyak

masyarakat yang memutuskan pindah ke Atambua untuk mencari


nafkah dan menghidupi keluarga. 2
Daerah

perbatasan

Republik

Indonesia

dikenal

banyak

menyimpan potensi yang dapat memberikan kontribusi terhadap


kesejahteraan masyarakat, seperti potensi yang dimiliki oleh
Kecamatan Atambua, Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara
Timur. Wilayah ini banyak menyimpan berbagai kekayaan alam
seperti pertanian, perkebunan, peternakan, dan pariwisata.
Kabupaten Belu masuk dalam kategori daerah tertinggal bila
diukur

dari

tingkat

kesejahteraan

penduduknya.

Indeks

Pembangunan Manusianya baru mencapai 62.8, sedangkan


daerah lain sudah mencapai 65.4. Pendapatan asli daerah
Kabupaten Belu juga baru mencapai 8.6 persen dari total APBD.
Kontribusi terbesar perekonomian Kabupaten Belu diperoleh
melalui sektor pertanian, jasa, perdagangan, hotel, dan restoran.
Hal tersebut perlu ditunjang melalui penguatan faktor keamanan.
Hal ini disebabkan pelanggaran hukum sering muncul di daerah
perbatasan seperti aktivitas penyelundupan dan aksi ilegal lainnya.
Di samping itu, urusan tapal batas negara antara Indonesia dan
Timor Leste juga belum selesai. Untuk itu kontribusi pihak
kepolisian dan TNI dalam melaksanakan pengamanan di titik

https://id.wikipedia.org/wiki/Atambua

perbatasan Indonesia dan Timor Leste merupakan sesuatu hal


yang penting.3
Menyusuri jalan di kota ini kita akan menemukan semacam
penampungan air di beberapa titik, yang mereka sebut Embung.
Masyarakat memanfaatkan penampungan air tersebut untuk
memenuhi

kebutuhan

air

sehari-hari.

Prosesnya

melalui

pendistribusian air lewat truk-truk tangki air 6000an liter dan


tentu saja ini tidak gratis. Dengan jumlah penduduk yang kian
bertambah di Atambua, masalah sumber daya air dan ketersediaan
air bersih menjadi tantangan yang belum selesai hingga saat ini,
apalagi di daerah yang hampir setengahnya mengalami masa
kekeringan.
Dengan keadaan tersebut, penulis tertarik untuk melakukan riset
dengan

tujuan

memberikan

rekomendasi

solusi

kepada

masyarakat Atambua melalui pemerintah setempat. Tulisan ini


merupakan analisa deskriptif dengan metode analisa data deskritif
kualitatif4 yang di lakukan melalui pengumpulan data dan melalui
serangkaian kajian dan kegiatan, yaitu: Studi literatur dilakukan
melalui penelusuran yang berasal dari beberapa dokumen,
laporan, skripsi, buku, jurnal, media cetak dan beberapa naskah,

Jurnal : MEMBANGUN PERILAKU MASYARAKAT ATAMBUA MELALUI


PEMANFAATAN POTENSI DAERAH DAN KEAMANAN PERBATASAN
REPUBLIK INDONESIA DENGAN REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR LESTEChairil Nur Siregar- Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan, Fakultas Seni Rupa
dan Desain, Institut Teknologi Bandung. Jurnal Sosioteknologi Volume 13,
Nomor 2, Agustus 2014
4 Pendekatan kualitatif dipilih karena menekankan pada pemahaman mengenai
masalah-masalah dalam kehidupan sosial berdasarkan kondisi realitah dan
membuat analisis secara lebih mendalam terhadap fakta yang teliti.

dan wawancara dengan beberapa warga yang langsung dari lokasi


penelitian dari tulisan ini.

II.
Kondisi Geografis Kota Atambua

Kota Atambua terletak pada Koordinat 09 10 LS 125 00 BT.5


yang membentang sejauh kurang lebih 8,5 km dari Utara
(Haliwen) ke Selatan (Motabuik) dan sekitar 5 km dari Timur
(Fatubenao) ke Barat (Wekatimun). Luas Kota Atambua adalah
56.18 km, atau 56.180 Ha, terbagi habis menjadi 3 kecamatan,
dan 12 kelurahan. Karena kurangnya akses jalan ke wilayah ini,
belum semua wilayah kota Atambua sudah dimanfaatkan. Hanya
2/3 wilayah yang dapat dimanfaatkan, sedangkan sisanya 1/3
belum tersentuh (lahan hijau).
Atambua yang terletak pada ketinggian 350 mdpl, dengan suhu
berkisar antara 27-37 derajat Celsius, menjadikan daerah ini cukup
hangat. Sekeliling kota Atambua dipagari oleh perbukitan sehingga
kota ini cukup terlindungi dari terjangan angin yang keras. Namun
ini juga menyebabkan tidak banyak dataran yang rata di seputar
kota Atambua. Kota Atambua adalah kota yang tidak rawan akan
bencana alam yang bisa menimbulkan kerusakan yang cukup
parah. Hal ini dikarenakan posisi kota ini yang terletak di antara
pegunungan dan memiliki banyak lahan yang masih belum
tersentuh (hijau).

https://id.wikipedia.org/wiki/Atambua

Gambar II.1 Peta Atambua

Kondisi fisik Wilayah Nusa Tenggara Timur beriklim kering yang


dipengaruhi oleh angin musim. Periode musim kemarau lebih
panjang yaitu 7 bulan (Mei sampai dengan Nopember) sedangkan
musim hujan hanya 5 bulan (Desember sampai dengan April).
Suhu udara rata-rata 27,6 C, dengan suhu maksimum rata-rata
29 C, dan suhu minimum rata-rata 26,1 C.
Tabel Presentase Penyinaran Matahari di Kota Kupang
Menurut Bulan6
No

Nama
Bulan

2009

2005

2006

2007

2008

Januari

53

64

40

59

65

Februari

43

84

66

57

37

Maret

75

69

54

53

65

April

96

77

70

75

89

Buku Nusa Tenggara Timur Dalam Angka 2010

No

Nama
Bulan

2009

2005

2006

2007

2008

Mei

85

94

88

97

99

Juni

98

96

82

82

90

Juli

94

89

89

98

97

Agustus

96

95

99

97

98

September

98

92

100

99

96

10

Oktober

98

86

99

95

92

11

November

83

70

98

84

80

12

Desember

60

54

72

58

41

Sumber : Buku NUSA TENGGARA TIMUR DALAM ANGKA 2010

III.
Sumber Daya Air Di Indonesia

3.1 Pemanfaatan Air


Air merupakan salah satu kebutuhan yang sangat esensial bagi
manusia. Sumber daya air dimanfaatkan manusia untuk berbagai
sektor dan kebutuhan, mulai dari kebutuhan rumah tangga,
industri, transportasi, pembangkit energi, kebutuhan kesehatan
dan lain sebagainya. Melihat nilai strategis dari sumber daya air,
maka sistem manajemen sumber daya air menjadi sangat penting
artinya. Berbagai kebijakan dalam manajemen sumber daya air
perlu

dilakukan

untuk

menanggulangi

krisis

air

yang

berkelanjutan. Di berbagai tempat di belahan muka bumi, pada


saat ini terjadi kekurangan sumber daya air, yang mengakibatkan
hilangnya kehidupan dan sumber-sumber kehidupan. Laporan
UNESCO Tahun 2003 dalam bukunya Water for people-water for
life, menyatakan bahwa terkait dengan permasalahan manajemen
sumber daya air terdapat sekitar 25.000 orang meninggal dunia
per hari akibat malnutrisi dan 6000 orang lainnya, yang
kebanyakan anak-anak dibawah umur 5 tahun, meninggal akibat
penyakit berkaitan dengan air (water-related diseases).
Dalam pertemuan puncak di Rio de Janeiro pada Tahun 1992 telah
disepakati tentang agenda 21 yang didalamnya juga memuat
tentang kebijakan sumber daya air. Pada bab 18 dinyatakan bahwa
tujuan secara umum dari pengembangan kebijakan sumber daya
8

air adalah untuk membuat kepastian terhadap ketersediaan supply


secara mencukupi dari sumber daya air dengan kualitas yang baik
dan pengelolaannya untuk seluruh populasi di muka bumi.
Melakukan pengelolaan secara hidrologis, biologis dan kemis dari
fungsi-fungsi ekosistem, adaptasi aktivitas-aktivitas manusia
dalam keterbatasan kapasitas alam dan melawan vektor penyakit
berkaitan dengan air (UN, 1992). Dalam United Nation Millenium
Declaration
menghimbau

(2000),
kepada

Perserikatan

Bangsa-Bangsa

negara-negara

anggotanya

(PBB)
untuk

menghentikan eksploitasi sumber daya air yang mengakibatkan


ketidaktersediaan sumber daya air yang berkelanjutan, melakukan
pengembangan strategi manajemen sumber daya air di tingkat
regional, nasional maupun lokal menuju akses berkeadilan dan
distribusi berkecukupan.
Ketersediaan sumber daya air sangatlah beragam secara spatial
maupun temporal. Sumber daya air dalam konteks siklus hidrologi
merupakan sumber daya yang sangat dinamis. Artinya sumber
daya tersebut senantiasa berubah dari waktu ke waktu dan dari
satu tempat ke tempat lain. Dengan dinamika tersebut maka
ketersediaan dan penggunaan kebutuhan sumber daya air selalu
berubah dan dinamis setiap saat. Terjadinya ketimpangan antara
kebutuhan dengan ketersediaan akan menimbulkan masalah, yang
kemudian disebut sebagai krisis air. Krisis air ini menurut
UNESCO dibagi menjadi tiga hal besar, yaitu kelangkaan air

(water scarcity), kualitas air (water quality), dan bencana


berkaitan dengan air (water-related disaster).7
Pemanfaatan sumber daya air bagi kebutuhan umat manusia
semakin hari semakin meningkat. Hal ini seirama dengan pesatnya
pertumbuhan penduduk di dunia, yang memberikan konsekuensi
logis terhadap upaya-upaya pemenuhan kebutuhan hidupnya.
Disatu sisi kebutuhan akan sumber daya air semakin meningkat
pesat dan disisi lain kerusakan dan pencemaran sumber daya air
semakin meningkat pula sebagai implikasi pertumbuhan populasi
dan industrialisasi. Sumber daya air yang dimanfaatkan untuk
kebutuhan manusia paling dominan berasal dari air hujan.
Menurut Shiklomanov (1997) dalam Unesco (2003) disebutkan
bahwa lebih dari 54% run off yang dapat dimanfaatkan, digunakan
untuk memenuhi kebutuhan manusia. Apabila tingkat kebutuhan
semakin lama semakin tinggi, maka dikuatirkan ketersediaan air
tidak mencukupi. Pada saat ini diperkirakan terdapat lebih dari 2
milyar manusia per hari terkena dampak kekurangan air di lebih
dari 40 negara didunia. 1,1 milyar tidak mendapatkan air yang
memadai dan 2,4 milyar tidak mendapatkan sanitasi yang layak
(WHO/UNICEF, 2000). Implikasinya jelas pada munculnya
penyakit, kekurangan makanan, konflik kepentingan antara
penggunaan dan keterbatasan air dalam aktivitas-aktivitas
produksi dan kebutuhan sehari-hari.

Unesco, 2003. Water for People-Water for Life. The United Nations World Water
Development Report. Unesco Publishing/Berghahn Books.

10

Prediksi pada tahun 2050 secara mencemaskan dikemukakan


bahwa 1 dari 4 orang akan terkena dampak dari kekurangan air
bersih (Gardner-Outlaw and Engelman, 1997 dalam UN, 2003).
Pada saat ini di negara-negara berkembang mempunyai kesulitan
dalam memenuhi kebutuhan air minum per kapita per tahun yaitu
1.7000 m3 sebagai air bersih yang diperlukan untuk aktivitas
sehari-hari dan untuk pemenuhan aspek kesehatan. Hal ini
sebagian besar terdapat di Afrika, diikuti kemudian oleh Asia dan
beberapa bagian di Eropa Timur dan Amerika Selatan (WWAP,
2002).
Sementara itu dalam konteks lokal di Indonesia, kelangkaan air ini
telah menjadi permasalahan dalam manajemen sumber daya air
yang harus dipecahkan. Kelangkaan air akan sangat terlihat pada
saat musim kemarau datang. Sebagai salah satu contoh, adalah
fenomena di Jakarta. Ibu Kota negara ini dialiri 13 sungai, terletak
di dataran rendah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa.
Seiring dengan pertumbuhan penduduk Jakarta yang sangat pesat,
berkisar hampir 9 juta jiwa, maka penyediaan air bersih menjadi
permasalahan yang rumit. Dengan asumsi tingkat konsumsi
maksimal 175 liter per orang, dibutuhkan 1,5 juta meter kubik air
dalam satu hari. Neraca Lingkungan Hidup Daerah Provinsi DKI
Jakarta tahun 2003 menunjukkan, Perusahaan Daerah Air Minum
(PDAM) diperkirakan baru mampu menyuplai sekitar 52,13 persen
kebutuhan air bersih untuk warga Jakarta.8

Kompas, 20 Juni 2005

11

Sumber daya air adalah sumber daya berupa air yang berguna atau
potensial bagi manusia. Kegunaan air meliputi penggunaan di
bidang pertanian, industri, rumah tangga, rekreasi, dan aktivitas
lingkungan. Sangat jelas terlihat bahwa seluruh manusia
membutuhkan air tawar.9 97% air di bumi adalah air asin, dan
hanya 3% berupa air tawar yang lebih dari 2 per tiga bagiannya
berada dalam bentuk es di glasier dan es kutub. Air tawar yang
tidak membeku dapat ditemukan terutama di dalam tanah berupa
air tanah, dan hanya sebagian kecil berada di atas permukaan
tanah dan di udara.
Air tawar adalah sumber daya terbarukan, meski suplai air bersih
terus berkurang. Permintaan air telah melebihi suplai di beberapa
bagian di dunia dan populasi dunia terus meningkat yang
mengakibatkan peningkatan permintaan terhadap air bersih.
Perhatian terhadap kepentingan global dalam mempertahankan
air untuk pelayanan ekosistem telah bermunculan, terutama sejak
dunia telah kehilangan lebih dari setengah lahan basah bersama
dengan nilai pelayanan ekosistemnya. Ekosistem air tawar yang
tinggi biodiversitasnya saat ini terus berkurang lebih cepat
dibandingkan dengan ekosistem laut ataupun darat.
Pada dekade sebelumnya, Indonesia telah menunjukkan kemajuan
signifikan dalam meningkatkan akses terhadap persediaan air
bersih dan pelayanan sanitasi. Air bersih dan sanitasi merupakan
sasaran Tujuan Pembangunan Milenium (MDG) yang ketujuh dan

https://id.wikipedia.org/wiki/Sumber_daya_air jam : 12.00 tanggal 21


September 2016

12

pada tahun 2015 diharapkan sampai dengan setengah jumlah


penduduk yang tanpaakses ke air bersih yang layak minum dan
sanitasi Dasar dapat berkurang. Bagi Indonesia, ini berarti
Indonesia perlu mencapai angka peningkatan akses air bersih
hingga 68,9 persen dan 62,4 persen, untuk sanitasi (Unicef, 2012).
Saat ini, Indonesia tidak berada pada arah yang tepat untuk
mencapai target MDG untuk masalah air bersih MDG pada tahun
2015. Perhitungan dengan menggunakan kriteria MDG nasional
Indonesia untuk air bersih dan data dari sensus tahun 2010
menunjukkan bahwa Indonesia harus mencapai tambahan 56,8
juta orang dengan persediaan air bersih pada tahun 2015. Di sisi
lain, jika kriteria Program Pemantauan Bersama WHO-UNICEF
(JMP) untuk air bersih akan digunakan, Indonesia harus mencapai
tambahan 36,3 juta orang pada tahun 2015. Saat ini, bahkan di
provinsi-provinsi yang berkinerja lebih baik (Jawa Tengah dan DI
Yogyakarta), sekitar satu dari tiga rumah tangga tidak memiliki
akses ke persediaan air bersih (Unicef, 2012).
Perhatikan pada Gambar dibawah ini. Sejak tahun 1993, Indonesia
telah menunjukkan peningkatan dua kali lipat prosentase rumah
tangga dengan akses ke fasilitas sanitasi yang lebih baik, tetapi
masih belum mencapai target sanitasi MDG 2015. Untuk mencapai
target sanitasi nasional MDG, diperlukan pencapaian tambahan 26
juta orang dengan sanitasi yang lebih baik pada tahun 2015.

13

Gambar III.1 Diagram Persentase Akses Sumber Air Bersih


(Sumber : Riskesdas, 2010)

Dari uraian data diatas, maka dapat disimpulkan adanya faktor


penghambat tercapainya target sanitasi nasional MDG di
Indonesia. Salah satunya yaitu pemanfaatan air bersih di
perkotaan tidak diatur dengan baik dan secara umum cakupannya
kecil. Dari 402 perusahaan daerah air minum (PDAM), yang
melayani sebagian besar daerah perkotaan, hanya 31 yang
memiliki lebih dari 50.000 sambungan pada tahun 2009. Ukuran
14

yang lebih kecil dari optimal menyebabkan biaya operasional yang


tinggi .10

3.2

Kebijakan Yang Sudah Ada Mengenai Sumber Daya


Air

Ada beberapa kebijakan terkait dengan pengolahan sumber daya


air bersih:
A. Melalui UUD No. 7 Tahun 2004:11
Pasal 1
Dalam undang-undang ini yang dimaksud dengan:
1. Sumber daya air adalah air, sumber air, dan daya air yang
terkandung di dalamnya.
Pasal 2
Sumber

daya

air

dikelola

berdasarkan

asas

kelestarian,

keseimbangan, kemanfaatan umum, keterpaduan dan keserasian,


keadilan, kemandirian, serta transparansi dan akuntabilitas.
Pasal 3
Sumber daya air dikelola secara menyeluruh, terpadu, dan
berwawasan lingkungan hidup dengan tujuan mewujudkan
kemanfaatan sumber daya air yang berkelanjutan untuk sebesarbesar kemakmuran rakyat.
Pasal 4

10

PERPAMSI (2010): Pemetaan Masalah PDAM di Indonesia (Mapping of PDAM


Problem in Indonesia). Jakarta: Persatuan Perusahaan Air Minum Seluruh
Indonesia (Indonesian Water Supply Association)
11 UNDANG-UNDANG REPUBLIK INDONESIA NOMOR 7 TAHUN 2004
TENTANG SUMBER DAYA AIR.

15

Sumber daya air mempunyai fungsi sosial, lingkungan hidup, dan


ekonomi yang diselenggarakan dan diwujudkan secara selaras.
Pasal 5
Negara menjamin hak setiap orang untuk mendapatkan air bagi
kebutuhan

pokok

minimal

sehari-hari

guna

memenuhi

kehidupannya yang sehat, bersih, dan produktif.


Pasal 6
1 Sumber daya air dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk
sebesar-besar kemakmuran rakyat.
2 Penguasaan sumber daya air sebagaimana dimaksud pada ayat
(1) diselenggarakan oleh Pemerintah dan/atau pemerintah
daerah dengan tetap mengakui hak ulayat masyarakat hukum
adat setempat dan hak yang serupa dengan itu, sepanjang tidak
bertentangan dengan kepentingan nasional dan peraturan
perundang-undangan.
3 Hak ulayat masyarakat hukum adat atas sumber daya air
sebagaimana dimaksud pada ayat (2) tetap diakui sepanjang
kenyataannya masih ada dan telah dikukuhkan dengan
peraturan daerah setempat.
BAB II
WEWENANG DAN TANGGUNG JAWAB
Pasal 13
1 Wilayah sungai dan cekungan air tanah sebagaimana dimaksud
dalam Pasal 12 ayat (1) dan ayat (2) ditetapkan dengan
Keputusan Presiden.
2 Presiden menetapkan wilayah sungai dan cekungan air tanah
sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dengan memperhatikan
pertimbangan Dewan Sumber Daya Air Nasional.
16

3 Penetapan wilayah sungai sebagaimana dimaksud pada ayat (1)


meliputi wilayah sungai dalam satu kabupaten/kota, wilayah
sungai lintas kabupaten/kota, wilayah sungai lintas provinsi,
wilayah sungai lintas negara, dan wilayah sungai strategis
nasional.
4 Penetapan cekungan air tanah sebagaimana dimaksud pada
ayat

(1)

meliputi

cekungan

air

tanah

dalam

satu

kabupaten/kota, cekungan air tanah lintas kabupaten/kota,


cekungan air tanah lintas provinsi, dan cekungan air tanah
lintas negara.
5 Ketentuan mengenai kriteria dan tata cara penetapan wilayah
sungai dan cekungan air tanah diatur lebih lanjut dengan
peraturan pemerintah.
Pasal 14
Wewenang dan tanggung jawab Pemerintah meliputi:
1 menetapkan kebijakan nasional sumber daya air;
2 menetapkan pola pengelolaan sumber daya air pada wilayah
sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan
wilayah sungai strategis nasional;
3 menetapkan rencana pengelolaan sumber daya air pada
wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara,
dan wilayah sungai strategis nasional;
4 menetapkan dan mengelola kawasan lindung sumber air pada
wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara,
dan wilayah sungai strategis nasional;

17

5 melaksanakan pengelolaan sumber daya air pada wilayah


sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas negara, dan
wilayah sungai strategis nasional;
6 mengatur, menetapkan, dan memberi izin atas penyediaan,
peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan sumber daya air
pada wilayah sungai lintas provinsi, wilayah sungai lintas
negara, dan wilayah sungai strategis nasional;
7 mengatur, menetapkan, dan memberi rekomenDASi teknis atas
penyediaan, peruntukan, penggunaan, dan pengusahaan air
tanah pada cekungan air tanah lintas provinsi dan cekungan air
tanah lintas Negara.
Paragraf 4
Sistem Prasarana Pengelolaan Lingkungan
Pasal 17
1 Sistem

prasarana

pengelolaan

lingkungan

sebagaimana

dimaksud dalam Pasal13 huruf d yaitu berupa:


a. sistem penyediaan air minum;
b. sistem prasarana pengelolaan sampah; dan
2 Sistem Penyediaan Air Minum sebagaimana dimaksud pada
ayat (1) huruf a terdiri atas:
a. Penyediaan Air Bersih dalam bentuk perpipaan dan non
perpipaan;
b. Penyediaan Air Bersih dalam bentuk perpipaan dikelola oleh
PDAM di seluruh Kabupaten/Kota di Wilayah Provinsi; dan
c. Penyediaan air bersih dalam bentuk non perpipaan
diusahakan oleh masyarakat dengan penyediaan sarana
pendukung.
18

3 Sistem prasarana pengelolaan sampah sebagaimana dimaksud


pada ayat (1) huruf b terdiri atas:
a. Pengumpulan sampah dari rumah ke tampat penampungan
sementara (TPS);
b. Pengangkuan sampah dari TPS ke Tempat Pembuangan
Akhir (TPA);
c. TPA regional terdapat di Kecamatan Alak - Kota Kupang
dengan menggunakan metode sanitary landfill, untuk
melayani Kota Kupang dan Kabupaten Kupang; dan
d. TPA lokal tersebar di seluruh Kabupaten/Kota di wilayah
Provinsi.12
B. Melalui Peraturan Pemerintah Republik Indonesia,
Nomor 122 tahun 2015, Tentang Sistem Penyediaan
Air Minum.
BAB I
KETENTUAN UMUM
Pasal 1
Dalam Peraturan Pemerintah ini yang dimaksud dengan:
1. Air Baku untuk Air Minum Rumah Tangga, yang selanjutnya
disebut Air Baku adalah air yang berasal dari sumber air
permukaan, air tanah, air hujan dan air laut yang memenuhi
baku mutu tertentu sebagai Air Baku untuk Air Minum.
2. Air Minum adalah Air Minum Rumah Tangga yang melalui
proses pengolahan atau tanpa proses pengolahan yang
memenuhi syarat kesehatan dan dapat langsung diminum.

12

Perda Tahun 2011. Provinsi Nusa Tenggara Timur.

19

3. Kebutuhan Pokok Air Minum Sehari-hari adalah air untuk


memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari yang digunakan untuk
keperluan minum, masak, mandi, cuci, peturasan, dan ibadah.
4. Penyediaan Air Minum adalah kegiatan menyediakan Air
Minum

untuk

memenuhi

kebutuhan

masyarakat

agar

mendapatkan kehidupan yang sehat, bersih, dan produktif.


5. Sistem Penyediaan Air Minum yang selanjutnya disingkat
SPAM merupakan satu kesatuan sarana dan prasarana
penyediaan Air Minum.
6. Sistem Pengelolaan Air Limbah yang selanjutnya disingkat
SPAL adalah satu kesatuan sarana dan prasarana pengelolaan
air limbah.
7. Penyelenggaraan SPAM adalah serangkaian kegiatan dalam
melaksanakan pengembangan dan pengelolaan sarana dan
prasarana yang mengikuti proses Dasar manajemen untuk
penyediaan Air Minum kepada masyarakat.
8. Pengembangan SPAM adalah kegiatan yang dilakukan terkait
dengan ketersediaan sarana dan prasarana SPAM dalam rangka
memenuhi kuantitas, kualitas, dan kontinuitas Air Minum yang
meliputi pembangunan baru, peningkatan, dan perluasan.
9. Pengelolaan SPAM adalah kegiatan yang dilakukan terkait
dengan kemanfaatan fungsi sarana dan prasarana SPAM
terbangun yang meliputi operasi dan pemeliharaan, perbaikan,
peningkatan sumber daya manusia, serta kelembagaan.
10. Pemerintah Pusat adalah Presiden Republik Indonesia yang
memegang

kekuasaan

pemerintahan

Negara

Republik

Indonesia yang dibantu oleh Wakil Presiden dan menteri


20

sebagaimana dimaksud dalam Undang-Undang Dasar Negara


Republik Indonesia Tahun 1945. DLL.13

C. Melalui Peraturan Presiden Nomor 185 Tahun 2014


tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan
Sanitasi pada Pasal 42 menyatakan bahwa pendanaan
APBD Kab/kota untuk percepatan penyediaan sanitasi
diselenggarakan berDasarkan kepada program dan
kegiatan penyediaan air minum yang tercantum dalam
RKPD Kabupaten/Kota yang mengacu pada SSK.14

RPJMN
RPJMD
Renstra
RTRW
Master
Plan

SSK

Renja
SKPD
RKPD
RPI2JM
Bidang
Cipta
Karya

Gambar III.2 Hubungan SSK dengan Dokumen Perencanaan Lainnya

Beberapa peraturan lain yang mengatur tentang sumber daya air


di Indonesia :
A. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2001 tentang
Pengelolaan Kualitas Air dan Pengendalian Pencemaran Air;

13

Dokumen PP Republik Indonesia. No 122 tahun 2015- salinan.

14

Dokumen Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK) Kabupaten Belu.


Hal : 2. Tahun 2013-2014.

21

B. Peraturan Pemerintah Nomor 16 Tahun 2005 tentang


Pengembangan Sistem Penyediaan Air Minum;
C. Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 185 tahun
2014 tentang Percepatan Penyediaan Air Minum dan Sanitasi
D. Surat Edaran (SE) Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia
Nomor 660/4919/SJ/2012 tentang Pedoman Pengelolaan
Program Percepatan Pembangunan Sanitasi Permukiman di
Daerah;
E. Keputusan Gubernur NTT Nomor 10 Tahun 2012 tentang
Pembangunan Air Minum dan Penyehatan Lingkungan;
F. Peraturan, Gubernur Nusa Tenggara Timur, Peraturan daerah
Nusa Tenggara Timur, Nomor 1 tahun 2011. Tentang rencana
tata ruang Provinsi Nusa tengara Timur. Tahun 2010-2030:
Diatas adalah beberapa peraturan dan kebijakan yang telah
dikeluarkan pemerintah daerah, pusat dan kabupaten terkait
mengenai pemanfaatan sumber air bersih dan ketersediaan air
bersih. Mulai dari hak untuk mengunakan air bersih, pengolahan,
pemanfaatan, pendampingan dan pemberdayaan bagi masyarakat
dan pemerintah dalam penanggulangan ketersediaan air bersih.
Seperti yang tertera di peraturan dan kebijakan, ada beberapa poin
penting mengenai sumber air bersih ini. Dimana sudah tertera
jelas dalam peraturan dan kebijakan yang berlaku, bahwa semua
warga negara Indonesia layak dan berhak mendapatkan air bersih
untuk kehidupan sehari-hari dalam melengkapi kebutuhan pokok
untuk hidup. Hal ini didasari oleh sumber air yang mempunyai
nyawa penting bagi kehidupan kelangsungan mahluk hidup
dimuka bumi ini. Akan tetapi pada kenyataannya masi banyak
22

saudara-saudara sebangsa dan setanah air kita yang masih susah


untuk mendapatkan sumber air bersih dan ketersediaan sumber
air yang mencukupi kehidupan sehari-hari mereka.
Kebijakan

lainnya

bahkan

sudah

jelas

tertera

bahwa

keterkaitannya dengan bantuan dan respon pemerintah untuk


melihat solusi bagi keterbatasan sumber air bersih dan menjadi
hak bagi seluruh masyarakat untuk memenuhi kebutuhan air
bersih.

3.3

Permasalahan Sumber Daya Air Bersih Dan Air


Minum

Permasalahan yang mendasar dalam upaya pengelolaan sumber


daya air secara terpadu adalah terjadinya gejala krisis air baik
kuantitas maupun kualitas di beberapa wilayah di Indonesia yang
mulai dirasakan saat ini. Pada dekade ini pulau Jawa dihadapkan
pada berbagai permasalahan dengan menurunnya kualitas air
akibat limbah yang dihasilkan oleh kegiatan industri, pertanian,
dan limbah perkotaan, termasuk limbah rumah tangga. Demikian
juga sering terjadi kekurangan air di musim kemarau, di lain pihak
air sangat berlimpah bahkan terjadi banjir pada musim penghujan.
Beberapa permasalahan lainnya yang dihadapi dalam pengelolaan
sumber daya air sebagai berikut:
1. Kerusakan daerah tangkapan hujan terutama disebabkan oleh
ketimpangan dalam pemanfaatan lahan. Ketimpangan tersebut
disebabkan oleh perubahan (konversi) lahan yang tidak
terkendali sehingga kawasan hutan yang semula dilindungi
oleh vegetasi alami berubah menjadi kawasan terbuka.
23

Sedangkan lahan pertanian dan kawasan pedesaan lainnya


berubah dengan cepat menjadi kawasan industri dan
perkotaan. Perubahan tata guna lahan tersebut mengubah
karakteristik hidrogeografis kawasan tersebut dan secara
langsung mengancam kelestarian tata guna airnya.
2. Erosi adalah peristiwa hilang atau terkikisnya bagian tanah di
suatu tempat yang disertai terangkutnya bagian tanah itu.
Hujan yang jatuh di lahan terbuka merupakan penyebab utama
erosi, karena tetesan air membawa momentum yang secara
mekanis dapat mengubah ikatan antar butiran tanah. Erosi
mengakibatkan terjadinya pemindahan butiran tanah ke
tempat lain melalui suatu proses yang dinamakan angkutan
sedimen.
3. Kekeringan, rusaknya daerah tangkapan hujan menyebabkan
kemampuan suatu DAS untuk menyimpan air di musim hujan
dan melepaskannya di musim kemarau sebagai base flow
dengan sendirinya akan menurun. Dengan demikian, debit
sungai pada musim kemarau akan menjadi kecil dan
mengakibatkan keterbatasan air untuk memenuhi berbagai
kebutuhan.

Fenomena

tersebut

kekeringan. Selain itu kekeringan

yang

disebut

dengan

juga dapat diakibatkan

pengaruh iklim.
4. Pencemaran air merupakan persoalan khas yang terjadi di
sungai dan badan air di Indonesia. Sumber pencemaran air
terutama disebabkan aktivitas manusia dan dipicu secara
kuadratika oleh pertumbuhan penduduk. Pencemaran air yang
terjadi di kawasan perkotaan disebabkan oleh sektor domestik,
berupa limbah cair dari rumah tangga dan industri rumah
24

tangga. Dengan demikian, keadaan tersebut dapat merusak


kualitas air permukaan. Penurunan kualitas air permukaan
secara keseluruhan berpengaruh pada kelayakan sistem
perairan Indonesia.
5. Banjir dapat terjadi akibat penurunan daya tampung (threshold
value) di sungai, saluran drainase, atau pembuangan air yang
disebabkan sedimentasi dan adanya kerusakan tanggul dan
prasarana pengairan lainnya15.
Contoh Kasus :

15

Suharjono,et al., 2014

25

IV.
Krisis Air Di Atambua

Daerah Atambua memiliki potensi yang dapat memberikan


kesejahteraan pada masyarakatnya bila dikelola dengan baik.
Kabupaten Belu yang dijadikan objek penelitian memiliki banyak
potensi

yang

dapat

dikembangkan

sebagai

penunjang

perekonomian.
Bidang pertanian Atambua banyak menghasilkan varietas
tanaman seperti jagung, padi, kacang-kacangan, mente, kelapa,
dan kemiri. Masyarakat menanam tanaman pangan, menggarap
lahan, menjual hasil panen, dan mengolah hasil panen tersebut.
Kondisi ini dilakukan masyarakat secara turun temurun dengan
metode yang masih tradisional. Hal ini memiliki sisi negatif yaitu
perkembangan masyarakat dlam bidang usaha pertanian dan
perkebunan cenderung stagnan bahkan menurun. Permasalahan
tersebut menjadi kom-pleks sebab usia anggota masyarakat yang
berkecimpung dalam bidang pertanian sudah memasuki masa
tidak produktif.16

16

Jurnal : MEMBANGUN PERILAKU MASYARAKAT ATAMBUA MELALUI


PEMANFAATAN POTENSI DAERAH DAN KEAMANAN PERBATASAN
REPUBLIK INDONESIA DENGAN REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR LESTEChairil Nur Siregar- Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan, Fakultas Seni Rupa
dan Desain, Institut Teknologi Bandung.

26

Kabupaten Belu, Provinsi Nusa Tenggara Timur terletak di Pulau


Timor. Posisinya berbatasan dengan Negara Timor Leste.
Penduduknya semakin bertambah sejak lepasnya Provinsi Timor
Timur dari Indonesia. Sehingga kebutuhan air bersih juga
meningkat. Khususnya untuk Kota Atambua, pasokan air bersih
yang dikelola PDAM berasal dari sumber mata air Wematan-Tirta
dan mata air Lahurus. Mengandalkan kedua sumber air tersebut
tidaklah cukup bagi kebutuhan air bersih penduduk kota yang
terus bertambah. Selama tahun 2010 akan terjadi defisit air bersih
sebanyak 1.086.325 m kubik atau 35 L/detik dari kebutuhan
sebesar 2.797.045 m kubik. Sungai Motamoru yang terletak di
Desa Lasilolat, Kecamatan Lasiolat, airnya belum dimanfaatkan
secara optimal. Bisa dijadikan sumber alternatif pasokan bagi
kebutuhan air bersih di masa yang akan datang. Debit sesaat yang
diukur pada Juni 2008 adalah 795 L/dt. Sepanjang yang dianalisis
qualitasnya

memenuhi

syarat

sebagai

sumber

air

bersih

(Permenkes. No.416/Menkes/Per/IX/1990). Litologi di sekitar


Sungai Motamoru terdiri dari batu gamping (satuan batu gamping
Koral), lempung bersisik mengandung bongkah asing (Formasi
Bobonaro), batuan ultrabasa, serta batuan metamorfik (Kompleks
Mutis). Dijumpai celah sempit pada batuan breksi bersifat kompak
di hilir sungai yang bisa dibendung untuk tapak pembangkit listrik
tenaga mikrohidro (PLTMH). Kapasitas energi listrik yang
dihasilkan bisa mencapai 343 Kw, dengan asumsi debit yang
dipakai sebesar 700 L/dt dan tinggi jatuh air sebesar 50 m. 17

17

Potensi Air Sungai Motamoru Sebagai Alternatif Pasokan Air Bersih Kota
Atambua Dan Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro, Kabupaten Belu, NTThttp://opac.geotek.lipi.go.id/index.php?p=show_detail&id=2079

27

Krisis air di Atambua, Nusa Tenggara Timur (NTT) akibat hujan


yang belum turun selama lima bulan, kini mengintai warga Kota
Kupang, NTT. Dalam pengamatan Bisnis.com, pepohonan dan
tanah di Kota Kupang sangat gersang dengan suhu udara yang
panas. Meski tak sepanas suhu udara di Atambua yang mencapai
39 derajat celcius, namun dampak kekeringan mulai menyerang
warga Kota Kupang. Sumur-sumur air andalan warga juga mulai
mengering. Berdasarkan data yang diterima Bisnis.com, di Kali
Oeba, Kelurahan Oeba dan Kolam Amnesi, Kelurahan Bakunase 2,
para warga mulai memanfaatkan air keruh dan berbau untuk
mencuci, memasak, dan mandi. Air dari dua kolam itu menjadi
keruh dan berbau karena debit air yang menurun akibat musim
kemarau.18
Bendungan Haekrit terletak di Desa Manleten, Kecamatan Tasifeto
Timur, Kabupaten Belu, Nusa Tenggara Timur merupakan
pengembangan sarana dan prasarana sumber air untuk memenuhi
kebutuhan air masyarakat setempat. Bendungan atau Embung
Haekrit memiliki daerah tangkapan air seluas 29.4 km sehingga
mampu menyuplai air baku 30 liter/detik untuk desa-desa sekitar
bendungan dan sebagian Kota Atambua. (Direktorat Jenderal
Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan Umum)19

18

Sumber : Kabar24.com KUPANG


Dokumen 2012 Direktorat Jenderal Sumber Daya Air, Kementerian Pekerjaan
Umum.
19

28

29

Meskipun begitu, warga Kota Kupang, Rafael M Beding


menyatakan, kekeringan di Kupang belum separah di Atambua.
Dia optimis masyarakat Kota Kupang tak akan mengalami krisis
air yang terlalu parah. "Di Atambua lebih kering karena disana 39
derajat celcius. Untungnya di Kupang belum mencapai suhu itu,
tetapi memang ini masih musim puncak kemarau jadi banyak
pemandangan pepohonan yang kering. Kalau nanti sudah
penghujan, akan subur kembali," kata Rafael kepada Bisnis.com,
Rabu (28/10/2015). Sebelumnya, Bisnis.com mengamati area
persawahan yang semestinya menjadi hamparan hijau nan subur
ditemukan berwarna coklat akibat puncak kekeringan bulan ini di
Atambua, NTT. "Saat ini mungkin sudah lima bulan hujan tidak
turun, kami mulai mengalami krisis air," ujar Nikodemus, salah
satu warga Atambua kepada Bisnis.com, Selasa (27/10/2015).
Fenomena kekeringan yang kritis ini tak hanya melanda warga
Kota Atambua. Salah satunya adalah Desa Buk, Kecamatan Bikomi
Tengah, Kabupaten Timor Tengah Utara (TTU). Adapun
30

kekeringan yang melanda Desa Buk karena sumber mata air mulai
mengering. Alhasil untuk mendapatkan air bersih warga desa
harus berjalan kaki sejauh lebih dari enam kilometer ke sungai di
perbatasan dengan Distrik Oekusi, Timor Leste.
"Krisis air ini membuat kami juga sulit mengonsumsi air. Tetapi ini
kan memang sedang puncak musim kemarau, semoga sesudah
musim ini bisa kembali subur dan air kembali tersedia," ujar
Lorenz salah satu warga Atambua lain kepada Bisnis.com.

4.1 Daerah Aliran Sungai (DAS)


Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (Daerah Aliran Sungai) di
wilayah Propinsi Nusa Tenggara Timur berDasarkan pada satuan
Wilayah Daerah Aliran Sungai (SWP DAS). SWP Daerah Aliran
Sungai di Provinsi Propinsi Nusa Tenggara Timur berjumlah 31
buah (Lampiran 1)
Dari 31 DAS tersebut ada beberapa yang sudah dibagi menjadi sub
DAS - sub DAS terutama pada daerah-daerah yang dianggap
strategis untuk mendukung pembangunan di sekitarnya baik
berupa cek dam, bendungan dll
Beberapa Sub DAS yang telah dibuat RTL-RLKT diantaranya,
antara lain:

DAS Oesao (Sub DAS Oesao, Noelbeno, Nunkurus, Pulukayu,


Oebelo, Manikin, Oesapa Besar) terletak di Kotamadya
Kupang dan kabupaten Kupang.

DAS Noelmina (Sub DAS Bokong, Lake, Besiam, Meto)


terletak di Kabupaten Kupang, Timor Tengah Selatan.
31

DAS Benenain (Sub DAS Noni, Lakoe, Maubesi, Baen-Tobino,


Kotoen, Bikomi) di Kabupaten Timor Tengah Selatan Timor
Tengah Utara dan Belu,

DAS Aisesa (Sub DAS Aisesa, Posolik, Waru) di Kabupaten


Ngada

DAS Kalada dan DAS Wonokaka (Sub DAS Karendi) di


Kabupaten Sumba Barat.

4.2

Penggunaan Lahan

Pemanfaatan lahan di Provinsi Nusa Tenggara Timur berbeda


antara masing masing kabupaten. Hal ini disebabkan oleh adanya
perbedaan kondisi fisik lahan yang bervariasi dalam hal topografl,
kelerengan, kesuburan tanah dan pasang surut air sungai. Wilayah
Nusa Tenggara Timur dengan luas 4.734.980 ha, sebagian besar
merupakan kawasan hutan 1.808.900 ha (Penunjukan Menhut
SK.423/Kpts-II/1999) dan 2.926.080 Ha kawasan yang berada
diluar kawasan hutan berupa lahan pertanian (sawah dan
ladang/tegalan), perkebunan, kebun dan areal penggunaan lain.
Dan keterangan tersebut diketahui bahwa sektor kehutanan
menjadi salah satu andalan di Provinsi Nusa Tenggara Timur.
Salah satu sektor andalan lainnya adalah sektor pertanian, dalam
hal ini lahan sawah sebagian besar terdapat di daerah pesisir
pantai utara dan pesisir sungai yang merupakan sawah tadah
hujan dan sawah pasang surut. Pertanian lahan kering meliputi
dataran rendah dan daerah lereng di kaki gunung.

32

Dikaitkan dengan mata pencaharian, hampir 80% penduduk Nusa


Tenggara

Timur

menggantungkan

hidupnya

pada

sektor

pertanian. Usaha tani sawah tadah hujan dan pertanian lahan


kering merupakan sistem yang paling banyak dilakukan. Selain
pertanian menetap, pedadangan berpindah dengan sistem tebas
bakar merupakan cara yang biasa dilakukan. Jenis tanaman yang
dikembangkan oleh petani di lahan kering antara lain padi gogo,
jagung, kacang kacangan, sayur sayuran dan buah buahan
(mangga, nangka, cempedak, dan lain lain). Jenis ienis tersebut
ditanam bercampur dengan cara tradisional, tanpa penggunaan
pupuk dan obat obatan untuk peningkatan produksinya. Pola
usaha tani sistem perladangan tersebut cenderung menimbulkan
masalah masalah erosi, kemunduran produksi dan degradasi
lahan.

Persentase Penggunaan
Lahan di Provinsi NTT
Kawasan
Hutan
38%
Kawasan di
luar kawasan
Hutan
(sawah,ladang
,tegalan,perke
bunan,kebun)
62%

Kondisi geologi dan terbatasnya curah hujan merupakan faktor


utama Daerah Kabupaten Belu, provinsi Nusa Tenggara Timur
sehingga termasuk daerah rawan air bersih. Mata air adalah
33

sumber utama air bersih masyarakat. Dalam rangka konservasi


dan mempertahankan kesinambungan sumber daya air telah
dilakukan pemetaan terhadap mata air ini. Sejumlah 97 mata air
telah dipetakan berDasarkan panduan hasil penafsiran citra
landsat. Pengamatan dan pengukuran aspek hidrogeologi,
pengukuran sifat fisika dan kimia air serta analisis contoh air di
laboratorium juga dilakukan. Kabupaten Belu sebagian besar
ditutupi oleh batuan lempung bersisik formasi Bobonaro, dan
Formasi lain yang terdiri atas serpih, napal, batu pasir, dan batu
gamping. Sejumlah mata air yang muncul menunjukkan
keterkaitan yang konsisten dengan struktur geologi seperti pola
kelurusan dan pola lainnya yang muncul di daerah penelitian.
Peta Curah Hujan Tahunan (1993 - 2003) memperlihatkan bahwa
curah hujan di selatan Kabupaten Belu sekitar 1500 mm dan makin
tinggi ke arah utara mencapai sekitar 2.500 mm. Kisaran intensitas
curah hujan ini termasuk sedang. Dengan demikian, kondisi
geologi lebih banyak berperan dalam mengontrol potensi air di
daerah Kabupaten Belu. Sebaran mata air lebih banyak ditemukan
pada daerah batu gamping (satuan batu gamping Koral. Ql) di
bagian Timur Laut dan selatan daerah telitian. Karakteristik utama
satuan ini berkaitan dengan banyaknya rongga hasil pelarutan
(secondary porosity) terutama pada batu gamping terumbu.
Bagian Dasar dari sistem akuifer berupa lapisan lempung Formasi
Bobonaro yang bertindak sebagai lapisan kedap ataupun lapisan
napal pasiran Formasi Noele. Mata air jenis ini umumnya memiliki
potensi besar yang dapat dipakai sebagai sumber air bersih
penduduk, pengairan maupun industri air minum. Beberapa di
34

antaranya seperti mata air Lahurus, Wetihu, Webot dan Wehalek


di Tasifeto Timur mempunyai tuah lebih dari 40 l/det dapat
dimanfaatkan sebagai pembangkit listrik mikrohidro. Selain
keluar dari kontak bidang perlapisan/bidang formasi, mata air di
daerah ini juga diduga dikontrol oleh sesar. Jejak-jejak patahan
teramati dengan jelas pada citra landsat berupa kelurusan
(lineament).
Sering kali mata air berjajar membentuk garis lurus yang berada di
zona patahan yang merupakan daerah lemah sehingga air hujan
yang jatuh di permukaan akan diteruskan melalui rekahan dan
keluar sebagai mata air. Hasil analisis kimia air memperlihatkan
sumber daya air di Kabupaten Belu secara umum memenuhi syarat
baku mutu air bersih. Parameter air yang sedikit tinggi adalah nilai
kesadahan namun belum melampaui nilai ambang batas.20
Musim Kemarau yang melanda wilayah Nusa Tenggara Timur
(NTT) telah mengakibatkan debit air pada empat sumber mata air
untuk Kota Atambua, Ibukota Kabupaten Belu menurun sekitar 10
persen.

Hasil

wawancara

dengan

beberapa

narasumber

mengatakan kalau benar adanya Atambua Kota, Atambua Barat,


dan Atambua selatan dalam waktu lima bulan kemarin mengalami
kekeringan yang cukup signifikan.
Salah satu wawancara dengan mahasiswa-mahasiswi Universitas
Nusa Cendana provinsi Nusa Tenggara Timur ini mengatakan:

20

Pemetaan Kualitas Air Kabupaten Belu Pemanfaatan air Nusa Tenggara TimurLIPI Press : Jakarta., 2007.Hal153-176

35

Awal tahun ini memang Atambua masih stabil untuk debit airnya.
Tapi mulai masuk bulan juli 2016 debit air berkurang dratis. Dari
penurunan debit air menjadi lumpur, airnya kotor, dan mulai kering.
Hampir semua sumur warga mengalami kekeringan dan pada
akhirnya demi mencukupi kebutuhan sehari-hari warga Atambua
kelurahan Fatubenao B harus membeli air bersih. Pada tanggal 13 Juli
2016 sampai akhir bulan Agustus air sumur makin kering. Sementara
konsumsi air bersih persatu rumah tangga/KK perbulan adalah
5000L. sampai akhir September ketersediaan air makin menipis. Para
warga harus memutar otak dengan membatasi aktifitas yang banyak
menggunakan air bersih, padahal kebutuhan buat sehari-hari saja
sangat terbatas. kami sering jarang mandi untuk bisa menghemat air
bersih.

Padahal sebenarnya dengan keterbatasan dan kekurangan air


bersih membuat para warga tidak nyaman dan membatasi
kebutuhan sehari-hari mereka. Itupun jika mereka mendapat air
harus berbagi dengan warga yang lain, ada juga beberapa oktum
penjualan air bersih mulai memainkan harga jika kelangkaan air
mulai datang.
Kenyataannya narasumber mengatakan kalau tidak ada bantuan
dari pemerintah sekitar, baik itu RT, Lurah dan perangkat
pemerintah lainnya. Melainkan inisyatif dari warga sendiri jika
ingin membutuhan air bersih. Hanya saja bantuan yang di lakukan

36

pemerintah kabupaten Belu itu dengan mengadakan pembuatan


bendungan.21
Penjabat Bupati Belu, Wilhelmus Fony yang dihubungi dari
Kupang, Sabtu (1/11) mengatakan, kendatipun mengalami
penurunan debit air, namun pasokan air bersih dari empat sumber
itu untuk Kota Atambua dan wilayah sekitarnya masih baik. Dia
menyebutkan empat sumber mata air itu adalah Haikat, Sirani,
Tirta Agung dan Lahurus. Keempat sumber mata itu menjadi
andalan pemasokan air bersih selama ini. Kami juga sudah
mengantisipasi berbagai kemungkinan yang terjadi. Jika dalam
kondisi darurat ada enam mobil tangki milik dinas pekerjaan
umum dan PDAM sudah disiagakan untuk mendistribusikan air
bersih kepada warga yang membutuhkan, katanya.
Menurutnya, mobil tangki tersebut akan disiagakan hingga awal
musim hujan, yang diperkirakan mulai terjadi pada medio atau
akhir November 2014, sebab puncak musim kemarau di NTT
terjadi pada Bulan Oktober. Sejauh ini, ujarnya, wilayah yang
berbatasan dengan Negara Timor Leste tersebut belum terjadi
krisis air bersih, sehingga tidak perlu dilakukan intervensi oleh
pemerintah kabupaten berupa distribusi air bersih kepada
masyarakat. Kami juga terus melakukan pemantauan ke sejumlah
wilayah terutama yang berbatasan dengan Timor Leste, terkait

21

Evandro Amput :Mahasiswa Universitas Nusa Cendana, fakultas Ilmu


Komputer_KKN Kel. Fatubenao B_Atambua. Jam : 07.00am tgl : 21 september
2016.

37

ketersediaan air bersih lantaran ada beberapa wilayah debit air


sungainya juga mengalami penurunan, paparnya.
Dia mengatakan, pihaknya juga sudah mengeluarkan himbauan
kepada masyarakat terutama petani untuk jauh-jauh hari
menyiapkan lahannya atau masuk kebun menjelang menjelang
musim hujan. Menjawab wartawan tentang ketersediaan pangan
masyarakat, Fony yang juga Kadis Sosial Provinsi NTT ini
mengatakan, ketersediaan pangan masih mencukupi, sehingga
pihaknya tidak khawatir akan ancaman rawan pangan. Hasil
panen di beberapa sentra produksi padi dan palawija masih bisa
memenuhi

kebutuhan

masyarakat

hingga

musim

panen

berikutnya, katanya.22
Pernyataan dari narasumber ini cukup memwakili dari apa yang di
rasakan warga sekitar, yang seharusnya sumber air itu selalu
memenuhi kebutuhan sehari-hari dan kelangsungan warga untuk
melanjutkan hidup. Malah menjadi tantangan sendiri dengan
membiasakan hidup dengan keterbatasan. Ini adalah contoh
suangai-suangai di Atambua yang mengering:

22

http://www.flobamora.net/berita/3955/2014-11-01/pasokan-air-bersih-untukkota-atambua-masih-baik.html

38

Gambar IV.1 Keadaan Sungai di Atambua.23

Gambar diatas adalah salah satu sungai yang ada di Atambua,


kelurahan Fatubenao B, terlihat dalam gambar debit air berkurang
dan mulai kering. Didalam gambar adalah beberapa mahasiswa
dan mahsiswi Universitas Nusa Cendana yang kebetulan KKN di
kelurahan Fatubenao B, dengan program pembuatan Pagar,
sensus, tanda jalan, dan sosialisasi BNP2TKI (sosialisasi
pemanfaatan pekarangan rumah) program ini dilaksanakan
serentak di 135 desa KKN yang ada di Nusa Tenggara Timur. Guna
untuk masyarakat menanam sayur di pekarangan rumah (karena
kekurangan air untuk ladang).

23

Sungai yang dulunya sangad dalam melebihi 2 meter sekarang jadi kering.

39

Gambar IV.2 Ladang dan Perkebunan yang Mengalami Kekeringan

Gambar diatas memperlihatkan kondisi terkini dari Atambua


dengan permasalahan kekeringan dan kekurangan air. Membuat
petani dan warga memutar otak untuk bagaimana bisa bercocok
tanam dengan menyesuaikan kondisi iklim, cuaca NTT, Atambua
yang mengalami kekeringan selama 5 bulan terakhir ini. Curah
hujan pun tidak tentu. Ini memaksa warga untuk bisa beradaptasi
dengan iklim buruk dan membuat tumbuhan pun mulai kering.
Bisa jadi kekeringan dan menyebabkan kebakaran hutan.

40

Gambar IV.3 Gambar Tanaman Warga yang Ikut Program Pemanfaatan


Pekarangan Rumah.
BNP2TKI

Gambar diatas memperlihatkan tanaman atau kebun kecil


masyarakat Atambua dengan melakukan program BNP2TKI
pemanfaatan pekarangan rumah dengan menanam tumbuhan
sayur-sayuran, cabe, toman, buah-buahan dengan memanfaatkan
lahan di sekitar rumah. Program ini bisa menjadi solusi untuk
keterbatasan air untuk bercocok tanam, program yang di damping
mahasiswa-mahasiswi dari Universitas Nusa Cendana yang sedang
melakukan KKN di 135 desa di provinsi Nusa Tenggara Timur.

41

V.
Tantangan Pengolahan Sumber Daya Air
Dan Air Bersih Di Atambua

Manajemen sumber daya air sangat diperlukan dalam rangka


menanggulangi krisis air yang terjadi baik dalam skala global,
nasional maupun lokal. Salah satu bentuk manajemen sumber
daya air adalah pengelolaan daerah aliran sungai (DAS).
Pengelolaan

DAS

sangat

diperlukan

dalam

rangka

mempertahankan keberadaan DAS agar tidak menjadi DAS kritis.


Hal tersebut dilakukan melalui monitoring dan perlindungan
ekosistem kawasan DAS. Melalui pengelolaan eksosistem DAS
secara komprehensif diharapkan permasalahan kekurangan air,
kualitas air dan bencana terkait air dapat ditanggulangi. Beberapa
hal yang berkaitan dengan pengelolaan DAS yang perlu
diperhatikan antara lain.

5.1 Letak Geografi Dan Struktur Tanah


Letak geografi dan struktur tanah yang ada di Nusa Tenggara
Timur termasuk Atambua memang cukup unik, dikarenakan
struktur tanah yang mengandung batu karang, bahkan beberapa
peneliti mengatakan bahwa Nusa Tenggara Timur adalah provinsi
batu karang terbesar di Indonesia selain Maluku.
42

5.2 Karakteristik Tanah


Wilayah Kabupaten Belu terbentuk oleh 4 jenis tanah antara lain
tanah Alluvial yang sangat subur dan tersebar di bagian selatan
wilayahnya, tanah campuran Alluvial dan Litosol yang kurang
subur tersebar di sekitar Aeroki, Halilulik dan Atambua, tanah
Litosol yang memiliki sifat asam dengan kesuburan rendah sampai
sedang dan tersebar di seluruh wilayah Belu, serta tanah campuran
Mediteran, Renzina dan Litosol yang bersifat porous tersebar di
wilayah Kecamatan Malaka Tengah. Kondisi fisik tanah di
Kabupaten Belu dirinci antara lain terdiri dari:
a.

Kedalaman Efektif Tanah, 0 30 cm seluas 21.191 Ha


(8.67%), 30 60 cm seluas 28.204 Ha (11.53%) ,60 90 cm
seluas 3.840 Ha (1.57%), 90 cm seluas 191.322 Ha (78.23%).

b. Tekstur Tanah: Tekstur halus seluas 4.599 Ha (1.88%).


Tekstur sedang seluas 201.361 Ha (84.79%). Tekstur kasar
seluas 32.597 Ha (13.33%).
c.

Drainase: Tidak tergenang seluas 233.622 Ha (95.53%),


Kadang-kadang tergenang seluas 6.805 Ha (2.78%), dan
Tergenang/rawa seluas 4.130 Ha (1.69%)24

5.3 Daerah Aliran Sungai


DAS Talau memiliki luas sekitar 720 km2, terletak di Indonesia
dan Timor Leste. Daerah hulu DAS ini terletak di Indonesia dengan
luas 562 km2 atau sekitar 78% dari luas keseluruhan DAS dan 23%
dari luas Kabupaten Belu. DAS Talau mencakup 5 kecamatan, yaitu

24

Ibid.

43

Lamaknen, Tasifeto Barat, Tasifeto Timur, Lasiolat dan Atambua


ibu kota Kabupaten Belu (berdasarkan pembagian wilayah tahun
2004). Sungai Talau mengalir ke Selat Ombai di Timur Leste. Anak
anak sungai di DAS Talau memiliki panjang sekitar 7 55 km.25

Gambar V.1

25

http://www.belukab.go.id/index.php?option=isi&task=view&id=12&Itemid=34
(3 November 2009, 16.15 WIB)

44

Gambar V.2

Geologi di daerah Talau terdiri dari batuan seperti silt, coral, filit,
kuartize, skiz, pasir alluvium dan napal pasiran dengan bongkahbongkah asing (bobonaro). Dari hasil survei di sekitar Atambua,
permukaan air tanah sekitar 11.2-11.25 m, dengan perkolasi tanah
dalam rentang 1.15 x 10-6 sampai 2.8.10-7 m2.hari-1, sedangkan
debit air melalui permukaan akuifer sekitar 5 x 10-6 1 x 10-7
m2.hari-126
Jenis Tanah DAS Talau ada sekitar 8 jenis tanah di DAS Talau
dengan rata-rata kedalaman mencapai 90 cm dan kedalaman
tanah permukaan (top soil) sekitar 20 cm. Tanah didominasi
dengan jenis inceptisol dengan lapisan atas tanah yang dangkal

26

Arismunandar dan Ruchijat S, 1995.


45

dan kedalaman top-soil dan solum dengan tekstur yang moderat


(silt).
Struktur tanah, curah hujan dan kondisi DAS dari provinsi NTT
dan Atambu membuat wilaya ini sering mengalami cuaca ekstrim
dan iklim yang tak menentu juga. Beberapa faktor-faktor diatas
membuat NTT dan Atambua menjadi wilayah yang rawan bencana
dan krisis sumber daya air dan air bersih. Faktor-faktor iklim dari
NTT membuat semakin kesulitan mendapatka air bersih di dukung
dengan curah hujan yang sangat rendah di wilayah timur
Indonesia terutama provinsi Nusa Tenggara Timur.
Implikasi dari bencana kekeringan terhadap pertanian adalah
berupa kegagalan panen, gagal panen yang terjadi di daerah Nusa
Tenggara Timur (NTT) yang disebabkan minimnya curah hujan
melanda

117

kecamatan

mencakup

1.108

desa

di

16

kabupaten/kota. Jumlah penduduk korban gagal panen mencapai


101.973 kepala keluarga (KK) atau 452.920 jiwa (Indomedia,
2005). Di berbagai daerah di Indonesia, terutama bagian timur,
yang curah hujannya relatif lebih rendah dibandingkan di bagian
barat, maka pada musim kemarau panjang lebih sering terkena
bencana kekeringan, gagal panen dan gizi buruk.27
Faktor-faktor diatas mempengaruhi ketersediaan sumber air dan
air bersih di Nusa Tenggara Timur, letak provinsi dan letak
geografi yang sangat kering membuat ketersediaan air sangat

27

Pos Kupang, 29 April 2004. 228 Desa di NTT berisiko rawan pangan.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/04/30/edisi30/3004kota6.ht
m. Akses Mei 2005.
46

memprihatinkan. Keterbatasan air juga memicu kelangsungan dan


keberlanjutan hidup bagi masyarakat NTT dan Atambua.
Kecukupan terhadap konsumsi air sehati-hari terbatas, munculnya
beberapa penyakit dikarenakan sanitasi yang kurang baik,
munculnya busung lapar karna ketahanan pangan terganggu
dengan tanaman yang tidak tumbuh dan gagal panen, dan masih
banyak lagi permasalahan yang akan bermunculan ketika ini terus
di biarkan.

47

VI.
Penutup
6.1

Solusi Ketersediaan Sumber Air dan Air Bersih.

Banyak solusi untuk menjaga ketersediaan sumber air dan air


bersih, akan tetapi kita harus mengenal dulu wilaya dan geografi
dari NTT dan Atambua. Seperti yang dijelaskan di atas, secara
struktur tanah, geografi, iklim, DAS dan curah hujan provinsi Nusa
Tenggara Timur dan Atambua memang sulit untuk berharap
banyak denga metode penggalian sumur, bendungan, dlln
dikarenakan kekeringan yang berat dan didukung oleh faktorfaktor yang dijelaskan diatas. Maka penawaran solusi yang baik
adalah meruba air tawar menjadi air layak di konsumsi sehari-hati.
Potensi ini dimiliki NTT dan Atambu dikarenakan provinsi yang
mempunyai pulau-pulau dan ketersediaan air asin tak akan pernah
habis.
Sutopo Purwo Nugroho, Peneliti Utama Bidang Hidrologi dan
Konservasi Tanah di BPPT & Kepala Pusat Data, Informasi, dan
Humas BNPB untuk sebuah media massa nasional di Jakarta
menjelaskan, salah satu teknologi yang perlu dikembangkan
adalah Natural Treatment Plant (NTP), yakni menyadap air
langsung dari akuifer di dalam tanah dan mendistribusikan ke
hilir. Lapisan akuifer di daerah pegunungan digali atau dicoblos
dengan pipa-pipa dan dibuat terowongan bawah tanah. Pada
terowongan tersebut disediakan lubang-lubang untuk masuknya
air tanah. Pengambilannya dilakukan seperti sumur biasa yang
48

lazim ditemui di Indonesia. Pipa-pipa horizontal yang menyebar


mengelilingi Dasar sumur dipasang sepanjang 60 meter sehingga
memperbesar kapasitas penyadapan. Air sadapan tersebut akan
ditampung di reservoar untuk didistribusikan ke kota atau daerah.
Konsep ini banyak diterapkan di Jerman. Sekitar 80% air minum
dipasok dari air tanah dan mata air yang disadap dengan teknologi
NTP sehingga jarang ditemukan instalasi penjernih air di Jerman.
Di kota Munich, penyediaan air melalui NTP mampu mengalirkan
air hingga 6.5 m3/detik untuk mencukupi 1.5 juta jiwa dan
industri. Pada penerapannya, Daerah Tangkapan Air (DTA) harus
diawasi secara serius. DTA seluas 6000 ha yang sebagian milik
pemerintah dan sebagian milik penduduk yang umumnya adalah
peternak, dijaga dari pencemaran lingkungan. Petani dilarang
menggunakan pupuk kimia di DTA dan sebagai gantinya
pemerintah memberikan kompensasi subsidi 250 Euro per hektar
dan petani diperbolehkan mengambil pupuk kompos yang
diproduksi secara lokal.28

6.2

Kesimpulan dan Saran

Kesimpulan dan saran kajian tulisan ini sebagai berikut:


1.

Daerah yang kering, letak geografi yang banyak mengandung


batu karang terbesar, curah hujan rendah, memaksa warga
dan pemerintah terkait melihat dan membuka pola pikir
dengan membuat inovasi teknologi, berkerjasama dengan
para

ilmuwan

untuk

menciptakan

28

mesin

untuk

http://himatesil.lk.ipb.ac.id/2015/07/27/permasalahan-ketersediaan-airbersih-dan-solusinya/

49

memperbaharui sumber daya air dan air bersih dengan


mengunakan air asin menjadi layak minum. Di dorong
dengan para ilmuan, pemerintah dan masyarakat terkait
untuk mengsosialisasikan pengalihan pengunaan air dengan
teknologi dan inovasi yang baru.
2. Berbicara masalah peran penting. Semua mempunyai peran
penting dalam permasalahan sumber daya air dan air bersih.
Dengan keterlibatan segala pihak, bukan hanya mendorong
kebijakan yang sudah ada, atau akan ada, tetapi turut
memastikan akan terlaksananya realisasi dengan baik.
Contohnya keterlibatan aparat pemerintah yang melihat
permasalahan ini sebagai kebutuhan pokok penting dari
kesejateraan masyarakat Nusa Tenggara Timur dan Atambua.
Sebaliknya masyarakat bisa ikut berpartisipasi dengan
menyelenggarakan program/melaksanakan, mengawas, dan
memberdayakan

sehingga

saat

keterbatasan

air

dan

kekeringan terjadi, masyarakat sudah punya solusi dan


inovasi untuk musim kemarau dan kekeringan datang. Mulai
dari bercocok tanam, kebutuhan sehari-hari, penyimpanan
air bersih, dan lain-lain.
3. Pengelolaan

DAS

harus

memberikan

batasan-batasan

operasional terhadap berbagai penggunaan lahan dan


pemanfaatan kawasan DAS. Dimana diperlukan regulasi dan
remonitoring tehadap pertumbuhan permukiman baru dan
konversi lahan pertanian produktif menjadi areal terbangun.
Persyaratan-persyaratan terhadap areal terbangun baru
harus memenuhi kaedah lingkungan, menerapkan sistem
sumur resapan dan membuat saluran drainase yang
50

memadai. Pemanfaatan lahan pinggiran sungai/riparian


untuk daerah permukiman baru perlu dikaji ulang, karena hal
ini secara lingkungan sangat kontra produktif.

4. Bahwa ekosistem DAS harus dipahami sebagai kawasan cross


boundary

antar

kabupaten/kota.

Program

pelestarian

kawasan DAS harus melibatkan kerjasama antar kabupaten,


sehingga muncul sinergitas dalam kaitannya dengan otonomi
daerah. Dalam hal ini bukan tidak mungkin keberadaan
potensi sumberdaya alam pada suatu daerah nilai beban yang
ditanggung akan lebih besar daripada nilai kemanfaatan yang
diperoleh. Pada daerah hulu sungai, biaya untuk menjaga
daerah tangkapan, daerah penyangga dan daerah konservasi
sangat besar dibandingkan dengan manfaat (ekonomis) yang
diperoleh. Apabila daerah hulu mengelola dan memanfaatkan
potensi sumberdaya alam yang ada kurang hati-hati maka
dampak lingkungan dan kerugian yang akan menerima
adalah daerah lain.

51

DAFTAR PUSTAKA

Asradi M.Jurnal Geoteknologi dalam Membagun Pembagunan


Berwawasan LIngkunganGeoteknologi LIPI: Bandung 2008.
Bakti Hendra & Edy M- Jurnal Sumber Daya Air dan LingkunganPotensi DegraDASi dan Masa Depan. LIPI Press: Jakarta
2007.
Dokumen Pemutakhiran Strategi Sanitasi Kabupaten (SSK).
Kabupaten Belu. Hal: 2. Tahun 2013-2014.
Jurnal: MEMBANGUN PERILAKU MASYARAKAT ATAMBUA
MELALUI

PEMANFAATAN

KEAMANAN

PERBATASAN

POTENSI

DAERAH

REPUBLIK

DAN

INDONESIA

DENGAN REPUBLIK DEMOKRATIK TIMOR LESTE- Chairil


Nur Siregar- Kelompok Keahlian Ilmu Kemanusiaan,
Fakultas Seni Rupa dan Desain, Institut Teknologi Bandung.
Jurnal Sosioteknologi Volume 13, Nomor 2, Agustus 2014
Marfai, Muh Aris., 2005. Moralitas Lingkungan, Refleksi Kritis
Atas Krisis Lingkungan Berkelanjutan. Penerbit Kreasi
Wacana, Yogyakarta.
Sukardi W, Dewi G.C, dan Sudibyakto, 2002, Panduan Mitigasi
Bencana Alam Kekeringan. Bakosurtanal dan Pusat Studi
Bencana UGM.
UNESCO, 2003. Water for People-Water for Life. The United
Nations World Water Development Report. UNESCO
Publishing/Berghahn Books.

52

Wawancara: Evandro Amput :Mahasiswa Universitas Nusa


Cendana, fakultas Ilmu Komputer_KKN Kel. Fatubenao
B_Atambua. Jam: 07.00am tgl : 21 september 2016.
Widyastuti, M, dan Marfai, M.A, 2004. Kapasitas Daya Tampung
Sungai Gajahwong Terhadap Beban Pencemaran. Majalah
Geografi, Vol 18 No 2, September 2004. ISSN 0125-1790, Hal
81-97. Fakultas Geografi UGM. Yogyakarta.
WWAP (World Water Assessment Proramme), 2002. Map of the
per Capita Total Internal Renewable Water Availability by
Country. Centre for Environmental Research. University of
Kassel. Jerman.
Internet:
http://www.skyscrapercity.com/showthread.php?t=1469891
https://id.wikipedia.org/wiki/Atambua
http://ntt-academia.org/timor/DAS-Lahurus-WP15424.pdf

(3

November 2009, 16.00 WIB)


http://www.belukab.go.id/index.php?option=isi&task=view&id=
12&Itemid=34 (3 November 2009, 16.15 WIB)
Pos Kupang, 29 April 2004. 228 Desa di NTT berisiko rawan
pangan.
http://www.indomedia.com/poskup/2005/04/30/edisi30/3004
kota6.htm. Akses Mei 2005.
http://www.flobamora.net/berita/3955/2014-11-01/pasokan-airbersih-untuk-kota-atambua-masih-baik.html

53

Lampiran 1
No.

Kabupaten/Kota

Nama DAS

1.
2.

Kota Kupang
Kupang

3.
4.

Rote Ndao
Timor Tengah Selatan

5.

Timor Tengah Utara

6.

Belu

7.

Sumba Timur

8.

Sumba Barat

9.

Alor

10.
11.

Lembata
Flores Timur

12.

Sikka

Oesao
1.
Oesao
2.
Tramanu
3.
Noelmina
P. Roti
1.
Noelmina
2.
Muke
3.
Benenain
1.
Besi Erat
2.
Benenain
1.
Benenain
2.
Laumea
3.
Lois
1.
Mangili-Rendi
2.
Kambaniru
3.
Kalada
4.
Wonokaka
1.
Kalada
2.
Wonokaka
3.
Bondokodi
1.
P. Alor
2.
P. Pantar
P. Lomblen
1.
P. Adonara
2.
P. Solor
3.
Waeruni
4.
Nebe
1.
Waeruni
2.
Nebe
3.
Magepanda
4.
Loworea
54

No.
13.

Kabupaten/Kota
Ende

14.

Ngada

15.

Manggarai

16

Manggarai Barat

Nama DAS
1.
Magepanda
2.
Loworea
1.
Magepanda
2.
Loworea
3.
Aisesa
4.
Wera Buntal
5.
Moke
1.
Wera Buntal
2.
Moke
3.
Waeterang
4.
Jamal Lembor
1.
Waeterang
2.
Jamal Lembor
3.
Anganae
4.
P. Komodo
5.
P. Rinca

55

Tentang FNF
FRIEDRICH-NAUMAN-STIFTUNG Untuk Kebebasan (FNF) adalah
sebuah Yayasan Politik Jerman. Di Jerman dan di 60 negara di seluruh
dunia, FNF bersama dengan mitra-mitra kerjanya mempromosikan
kebebasan, liberalism, demokrasi, hak asasi manusia, pluralism,
toleransi, ekonomi pasar dan negara hukum.
FNF memiliki hubungan dekat dengan partai politik Jerman Partai
Demokrat Bebas (FDP). FNF didirikan pada 1958 oleh Presiden pertama
Jerman, Theodor Heuss, dan telah bekerja di Asia sejak 1979, dan di
Indonesia sejak 1969. FNF beroperasi dengan dana publik dan berkantor
pusat di Postdam, Jerman.
FNF memberikan konsultasi kepada para pembuat keputusan di Berlin
dan menerbitkan berbagai laporan. FNF memfasilitasi dialog,
menyelenggarakan konferensi dan mengundang orang-orang muda dari
Asia dan berbagai wilayah lain untuk mengikuti seminar di Jerman.
Dalam kerjasama dengan mitra-mitra lokal, FNF fokus pada nilai-nilai
berikut:
- Demokrasi
- Rule of Law & Hak Asasi Manusia
- Kebebasan Ekonomi
- Perubahan Iklim

Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit


Jl. Kertanegara 51, Jakarta 12110, Indonesia
Tel: (62-21) 7256012/13
Fax: (62-21) 72799539
Email: jakarta@fnst.org
http://indonesia.fnst.org/

@fnfindonesia
@FNFIndonesia
a
FNF