Anda di halaman 1dari 50

REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK

MENCEGAH DAN MENGATASI


KEBAKARAN HUTAN DI PROVINSI
JAMBI

Billy Ariez
Diovio Alfath, S.H.

Friedrich Naumann Stiftung


Freedom Institute

REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK MENCEGAH DAN MENGATASI


KEBAKARAN HUTAN DI PROVINSI JAMBI
Billy Ariez & Diovio Alfath, S.H.
ISBN :
Editor & Layout: Adhitya Lanae
Cover: Hanang Pandu Dermawan
Cetakan Pertama : November, 2016
Diterbitkan atas kerjasama :
Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit
Jl. Kertanegara No. 51, Kebayoran Baru
Jakarta 12110 Indonesia
Tel: (021) 725 6012/13
Website: indonesia.fnst.org
Email: jakarta@fnst.org
Freedom Institute
Website: freedom-institute.org
Email: office@freedom-institute.org

DAFTAR ISI

Daftar Isi ..................................................................................................... i


Kata Pengantar ........................................................................................... ii
Bab 1 Tinjauan Umum Mengenai Hutan ................................................... 1
A. Gambaran Umum Mengenai Hutan ................................................. 1
B. Fungsi dan Mnfaat Hutan ................................................................ 5
C. Peran Ekonomis Hutan .................................................................... 7
Bab 2 Tinjauan Umum Provinsi Jambi ................................................... 12
A. Gambaran Umum Mengenai Provinsi Jambi .................................... 12
B. Potensi Ekonomi Hutan di Provinsi Jambi ....................................... 13
Bab 3 Permasalahan Kebakaran Hutan di Provinsi Jambi ................... 17
A. Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Jambi ................................ 17
B. Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut .............................. 19
C. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut ................................ 19
D. Upaya Penaggulangan ..................................................................... 23
Bab 4 Solusi Permasalahan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut ...... 26
A. Kriminalisasi Terhadap Pelaku Pembakaran Hutan .......................... 26
B. Optimalisasi Kebijakan Perda Kebakaran Hutan Jambi .................... 31
C. Mendorong Peran Aktif Perguruan Tinggi ....................................... 33
D. Memprakarsai Konsep Hutan Milik Masyarakat .............................. 35
Bab 5 Penutup ........................................................................................... 39
A. Kesimpulan ..................................................................................... 39
B. Saran ............................................................................................... 40
Daftar Pustaka .......................................................................................... 41

KATA PENGANTAR

Kajian kebijakan ini dibuat atas kerjasama Friedrich Naumann Stiftung


untuk Kebebasan (FNF-Indonesia) dengan Garda Bangsa, dengan judul
Rekomendasi Kebijakan Untuk Mencegah dan Mengatasi Kebakaran Hutan di
Provinsi Jambi.
Kajian ini dibuat guna memberikan masukan kepada Pemerintah Provinsi
Jambi dan multistakeholder dalam mengkaji permasalahan kebakaran hutan dan
lahan gambut yang dihadapi saat ini. Kajian ini bertujuan memberikan informasi
dan rekomendasi kepada Para Pembuat Kebijakan (Kementerian terkait,
Pemerintah Daerah, DPR dan DPRD), umum, dan media, dengan memaparkan
kondisi obyektif Provinsi Jambi, serta kerugian yang diderita akibat kebakaran
hutan dan lahan gambut, agar dapat menjaga kelestarian hutan sekaligus sebagai
upaya konservasi serta memberikan manfaat lainnya secara sosial, ekonomi, jasa
lingkungan/ekologis, serta berkontribusi menjaga stabilitas iklim.
Argumentasi di dalam kajian ini adalah fungsi strategis hutan dan lahan
gambut apabila dikelola secara baik dan konstibusi yang diberikan kepada pada
aspek ekonomi, sosial dan ekologi secara umum. Hal yang tak kalah penting
adalah peningkatan pengetahuan mengenai hutan dan lahan gambut yang akan
menumbuhkan kesadaran dan mempengaruhi internalisasi norma baru. Hal ini
dapat diadopsi oleh komunitas, perubahan perilaku atas permasalahan yang ada,
solusi yang ditawarkan yang diatur melalui peraturan daerah dalam bentuk
manfaat atau pemberian sanksi apabila terjadi pelanggaran.
Peningkatan kesadartahuan bagi pembuat kebijakan dan perancang
kegiatan (baik pusat maupun daerah) memegang peran penting. Hal ini juga harus
didukung oleh pengalokasian dana melalui APBN/APBD, baik di tingkat pusat
(KLHK) maupun Pemerintah Daerah (Pemda) selaku pelaksana kegiatan di
tingkat tapak. Koordinasi dan sinergi yang baik antara pusat dan daerah berperan
besar bagi suksesnya menjaga kelestarian hutan dan mengatasi bencana kebakaran
hutan dan lahan gambut yang setiap saat dapat terjadi.
Beberapa rekomendasi diberikan agar upaya mengatasi kebakaran hutan
dapat berjalan secara efektif. Selain itu, dapat menjadi solusi atas ancaman
ii

terhadap kerusakan hutan dan alam, memberikan manfaat secara ekonomi, sosial
serta menjaga stabilitas iklim.
Kiranya masukan dari kajian ini dapat bermanfaat dan dijadikan acuan
bagi para pembuat kebijakan dan perancang kegiatan (pusat dan daerah) ketika
membuat keputusan dan perencanaan pengelolaan hutan secara umum dan upaya
mengatasi kebakaran hutan.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada Bapak Moritz KleineBrockhoff dan Ingo Hauter dari Friedrich Naumann Foundation Indonesia, serta
Bapak Sofyan Ali anggota DPRD Provinsi Jambi atas kesediaan waktu untuk
berdiskusi dan memberikan masukan yang bermakna atas kajian ini.

Penulis

iii

BAB 1
Tinjauan Umum Mengenai Hutan

A. Gambaran Umum Mengenai Hutan


Indonesia merupakan salah satu negara dengan sumber daya alam
terkaya di dunia, bila dilihat dari segi sumber daya alam, Indonesia memiliki
potensi sumber daya alam yang sangat besar, dan salah satunya adalah hutan. 1
Menurut Black Law Dictionary, hutan (forest) adalah suatu daerah tertentu yang
tanahnya ditumbuhi pepohonan tempat hidup segala binatang. Hutan adalah
suatu lapangan pohon-pohon secara keseluruhan yang merupakan persekutuan
hidup alam hayati beserta alam lingkungannya, dan ditetapkan oleh pemerintah
sebagai hutan. Hutan merupakan harta kekayaan yang tidak ternilai, oleh karena
itu hasil dari hutan perlu dijaga, dipertahankan dan dilindungi agar hutan dapat
berfungsi dengan baik. Istilah hutan merupakan terjemahan dari kata bos
(Belanda) dan forrest (Inggris). Forrest merupakan dataran tanah yang
bergelombang dan dapat dikembangkan untuk kepentingan diluar kehutanan,
seperti pariwisata. Di dalam hukum Inggris kuno, forrest (hutan) adalah suatu
daerah tertentu yang tanahnya ditumbuhi pepohonan, tempat hidup binatang
buas dan burung-burung hutan. 2
Hutan menurut Dengler adalah sejumlah pepohonan yang tumbuh pada
lapangan yang cukup luas, sehingga suhu, kelembapan, cahaya, angin dan
sebagainya tidak lagi menentukan lingkungannya tetapi dipengaruhi oleh
tumbuh-tumbuhan/pepohonan baru yang tumbuh pada tempat yang cukup luas
dan tumbuhnya cukup rapat (horizontal dan vertikal). 3

Pada dasarnya, hutan merupakan salah satu bentuk tata guna lahan yang

Arifin Arief, Hutan dan Kehutanan, Yogyakarta : Penerbit Kanisius, 2001, hal. 11.

Suriansyah Murhaini, Hukum Kehutanan (Penegakan Hukum Terhadap Kejahatan di

Ibid.

Bidang Kehutanan), Yoyakarta: Laksbang Grafika, 2012, hal. 9.

lazim dijumpai di daerah tropis, subtropis, di dataran rendah maupun


pegunungan, bahkan di daerah kering sekalipun. Secara umum, hutan
didefinisikan sebagai sebuah kumpulan pepohonan yang tumbuh rapat dan lebat
beserta tumbuh-tumbuhan memanjat dengan aneka ragam jenis yang berperan
penting bagi kehidupan di bumi. Secara sederhana ahli kehutanan mengartikan
hutan sebagai suatu komunitas biologi yang didominasi oleh kumpulan pohonpohonan tanaman keras. Hutan adalah bentuk kehidupan yang tersebar di seluruh
dunia. Hutan merupakan suatu kumpulan tetumbuhan, terutama pepohonan atau
tumbuhan berkayu lain yang menempati daerah yang cukup luas. 4
Definisi hutan menurut pemerintah Indonesia, secara khusus tercantum
di dalam Undang-Undang (UU) Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan
yang menyebutkan bahwa hutan adalah suatu kesatuan ekosistem berupa
hamparan lahan berisi sumber daya alam hayati yang didominasi pepohonan
dalam persekutuan alam lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat
dipisahkan. 5
Hutan dalam pengertian pemerintah Indonesia ini memiliki 4 unsur
yang menjadi ciri-ciri dari hutan tersebut. Adapun 4 unsur dari ciri-ciri hutan
tersebut yaitu: (1) Unsur lapangan yang cukup (minimal hektar), (2) Unsur
pohon (kayu, bambu, palem), (3) Unsur lingkungan dan (4) Unsur penetapan
pemerintah.
Dalam UU Nomor 41/1999 tentang Kehutanan, pemerintah Indonesia
membagi hutan menjadi 4 jenis, yaitu berdasarkan: (1) statusnya, (2) fungsinya,
(3) tujuan khusus, (4) pengaturan iklim mikro, estetika dan resapan air. Adapun
penjelasan dan klasifikasi atas jenis-jenis hutan tersebut di atas yaitu: 6

1. Jenis hutan berdasarkan statusnya


Jenis hutan berdasarkan statusnya adalah merupakan suatu pembagian
4

Ibid., hal. 12.

Pasal 1 ayat 2 UU No.41/1999 Tentang Kehutanan.

IGM Nurdjana, Korupsi dan Illegal Logging Dalam Sistem Desentralisasi, Yogyakarta, 2005,

hal. 36.

hutan yang didasarkan pada status (kedudukan) antara orang, badan hukum,
atau institusi yang melakukan pengelolaan, pemanfaatan, dan perlindungan
terhadap hutan tersebut (Pasal 5 UU No.41/1999). Adapun jenis hutan
berdasarkan statusnya tersebut, dibagi menjadi dua yaitu :

a. Hutan Negara yaitu hutan yang tidak dibebani hak-hak atas tanah.
Kualifikasi Hutan Negara terdiri atas :
-

Hutan Adat yaitu hutan negara yang pengelolaannya diserahkan


kepada masyarakat hukum adat yang sebelumnya disebut juga hutan
ulayat.

Hutan Desa yaitu hutan negara yang dikelola oleh desa dan
dimanfaatkan untuk kesejahteraan desa.

Hutan Kemasyarakatan yaitu hutan negara yang pemanfaatan


utamanya ditujukan untuk memberdayakan masyarakat.

b. Hutan Hak yaitu hutan yang berada pada tanah yang telah dibebani hak
atas tanah. Hak atas tanah antara lain: hak milik, hak guna usaha, hak
guna bangunan, hak pakai, hak sewa, hak membuka tanah, hak
memungut hasil hutan, hak gadai, hak bagi hasil, hak menumpang dan
hak sewa pertanian. 7

2. Jenis hutan berdasarkan fungsinya


Jenis hutan berdasarkan fungsinya merupakan penggolongan hutan
yang didasarkan pada penggunaannya (Pasal 6 dan 7 UU No.41/1999). Adapun
jenis hutan berdasarkan fungsinya tersebut, dibagi menjadi lima yaitu :

a. Hutan Konservasi yaitu kawasan hutan dengan ciri khas tertentu yang
mempunyai fungsi pokok pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan
satwa serta ekosistemnya.
b. Hutan Lindung yaitu kawasan hutan yang mempunyai fungsi sebagai

Penjelasan UU No.41/1999 tentang Kehutanan, paragraf ke-10.

perlindungan sistem penyangga kehidupan untuk mengatur tata air,


mencegah banjir, mengendalikan erosi, mencegah intrusi air laut, dan
memelihara kesuburan tanah.
c. Hutan Produksi yaitu kawasan hutan yang mempunyai fungsi pokok
memproduksi hasil hutan.
d. Hutan Suaka Alam yaitu kawasan hutan dengan ciri khas tertentu, baik
di darat maupun di perairan yang mempunyai fungsi pokok sebagai
kawasan pengawetan keanekaragaman tumbuhan dan satwa, serta
ekosistemnya yang juga berfungsi sebagai wilayah sistem penyangga
kehidupan.
e. Taman Wisata Alam yaitu kawasan pelestarian alam yang terutama
dimanfaatkan untuk pariwisata dan rekreasi alam.

3. Jenis hutan berdasarkan tujuan khususnya


Jenis hutan berdasarkan tujuan khususnya merupakan penggolongan
hutan yang diperuntukkan untuk kepentingan umum seperti; penelitian dan
pengembangan, pendidikan dan latihan, serta religi dan budaya (diatur dalam
Pasal 8 UU No.41/1999)

4. Jenis hutan berdasarkan kepentingan iklim mikro, estetika, dan resapan air
Jenis hutan berdasarkan kepentingan iklim mikro, estetika, dan resapan
air merupakan suatu kawasan yang ditetapkan sebagai hutan kota (diatur dalam
Pasal 9 UU No.41/1999).

Di dalam hutan Indonesia, hidup berbagai jenis tumbuhan dan hewan


yang juga merupakan bagian dari spesies tumbuhan dan hewan yang ada di
dunia. Adapun diantaranya yaitu: 38.000 jenis tumbuhan (10% dari jumlah
jenis flora di dunia), 515 jenis mamalia (12% dari jumlah jenis mamalia di
dunia), 511 jenis reptilia (7,3% dari jumlah jenis reptil di dunia), 1531 jenis
burung (17% dari jumlah total jenis burung di dunia), 270 jenis amphibi, 2827

jenis avertebrata atau hewan tak bertulang belakang. 8 Hutan Indonesia sangat
luas, bahkan merupakan hutan yang terluas ketiga di dunia setelah Brazil dan
Zaire, berdasarkan data resmi yang pertama kali dipublikasikan oleh
Departemen Kehutanan RI pada tahun 1950, bahwa luas hutan Indonesia
adalah 162,0 juta hektar.9

B. Fungsi dan Manfaat Hutan


Bila dilihat dari segi fungsi ataupun manfaat, hutan memiliki fungsi dan
manfaat yang bersifat global dan sangat penting bagi kehidupan di bumi.
Adapun beberapa fungsi hutan tersebut diantaranya yaitu: 10
1. Sebagai pelestarian plasma nutfah
Plasma nutfah merupakan bahan baku yang penting untuk
pembangunan di masa depan, terutama di bidang pangan, sandang, papan,
obat-obatan

dan

industri.

Keberadaannya

merupakan

keuntungan

komparatif yang sangat besar bagi Indonesia di masa depan. Oleh karena
itu, plasma nutfah perlu terus dilestarikan dan dikembangkan bersama
untuk mempertahankan keanekaragaman hayati.

2. Sebagai penahan dan penyaring partikel padat dari udara


Udara alami yang bersih sering dikotori oleh debu, baik yang
dihasilkan oleh kegiatan alami maupun kegiatan manusia. Dengan adanya
hutan, partikel padat yang tersuspensi pada lapisan biosfer bumi akan dapat
dibersihkan oleh tajuk pohon melalui proses jerapan dan serapan. Partikel
yang melayang-layang dipermukaan bumi sebagian akan terjerap pada
permukaan daun, khususnya daun yang berbulu dan yang mempunyai
permukaan kasar dan sebagian lagi akan terserap masuk ke dalam ruang
8

Otto Soemarwoto, Atur Diri Sendiri : Paradigma Baru Pengelolaan Lingkungan Hidup,

Karden Eddy Sontang Manik, Op Cit, hal. 74.

Yogayakarta: Gadjah Mada University Press, 2001, hal. 23.


10

Karden Eddy Sontang Manik, Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta : Djambatan, 2003, hal.

77.

stomata daun. Ada juga partikel yang menempel pada kulit pohon, cabang
dan ranting. Dengan demikian hutan menyaring udara menjadi lebih bersih
dan sehat.

3. Sebagai penyerap partikel timbal


Kendaraan bermotor merupakan sumber utama yang mencemari
udara di daerah perkotaan. Diperkirakan, sekitar 60-70% dari partikel
timbal di udara perkotaan berasal dari kendaraan bermotor. Hutan dengan
keanekaragaman tumbuhan yang terkandung di dalamnya mempunyai
kemampuan menurunkan timbal dari udara tersebut.

4. Dapat mengurangi bahaya hujan asam


Pohon dapat membantu dalam mengatasi dampak negatif hujan
asam melalui proses fisiologis tanaman yang disebut proses gutasi.

5. Sebagai penyerap karbon dioksida dan penghasil oksigen


Hutan merupakan penyerap gas CO2 yang cukup penting, selain dari
fitoplankton, ganggang dan rumput laut di Samudera. Cahaya matahari
akan dimanfaatkan oleh semua tumbuhan baik di hutan kota, hutan alami,
tanaman pertanian dan lainnya dalam proses fotosintesis yang berfungsi
untuk mengubah gas CO2 dan air menjadi karbohidrat dan oksigen. Dengan
demikian proses ini menjadi sangat bermanfaat bagi manusia dan hewan
serta akan mengurangi akibat dari efek rumah kaca. Di lain pihak, proses ini
akan menghasilkan gas oksigen yang sangat diperlukan oleh manusia dan
hewan.

6. Dapat mengatasi penggenangan air


Daerah bawah yang sering digenangi air perlu ditanami dengan jenis
tanaman yang mempunyai jumlah daun yang banyak, sehingga mempunyai
stomata yang banyak pula.

7. Dapat mengatasi intrusi air laut dan abrasi


6

Hutan berupa formasi hutan mangrove dapat bekerja meredam


gempuran ombak dan dapat membantu proses pengendapan lumpur di
pantai. Dengan demikian hutan selain dapat mengurangi bahaya abrasi
pantai, juga dapat berperan dalam proses pembentukan daratan sebagai
Ameliorasi Iklim.
Hutan kota dapat dibangun untuk mengelola lingkungan perkotaan
agar pada saat siang hari tidak terlalu panas, sebaliknya pada malam hari
dapat lebih hangat karena tajuk pepohonan dapat menahan radiasi balik dari
bumi.

8. Pelestarian air tanah


Jika hujan lebat terjadi, maka air hujan akan turun masuk meresap ke
lapisan tanah yang lebih dalam menjadi air infiltrasi dan air tanah dan
hanya sedikit yang menjadi air limpasan. Dengan demikian pelestarian
hutan pada daerah air akan dapat membantu mengatasi masalah air dengan
kualitas yang baik.

9.

Sebagai sumber bahan-bahan produk eksraksi seperti kayu bakar, serat,


buah, dan lain- lain.

10. Sebagai perlindungan terhadap berbagai jenis flora dan fauna.

11. Sebagai produksi kayu atas dasar sistem produksi yang lestari.

C. Peran Ekonomis Hutan


Nilai ekonomi yang dihasilkan dari masing-masing tipe pemanfaatan
sumber daya alam (hasil hutan kayu, non kayu, tambang, perikanan, pertanian,
pariwisata, dll) serta nilai ekonomi dari jasa lingkungan yang disediakan oleh
kawasan hutan, hendaknya tidak dilihat sebagai nilai-nilai yang terpisah satu sama
lain, karena setiap kegiatan pemanfaatan sumber daya alam (kegiatan ekonomi
lain) tidak berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dan saling memberikan
7

dampak satu sama lain (Technical Focus Group Discussion 2006).


Prinsip-prinsip yang menyangkut faktor pembatas dan produktivitas di
masa lalu telah menetapkan pokok penerapan ekologi untuk pertanian dan
kehutanan, tetapi untuk alasan-alasan yang telah dikemukakan,

para ahli

pertanian dan kehutanan sekarang harus berfikir bahwa tanaman dan hutannya
mempunyai hasil lain selain dari makanan dan serat, dalam pengertian ekosistem
manusia secara keseluruhan. Komponen-komponen sistem pertanian berinteraksi
secara sinergis ketika komponen-komponen itu terlepas dari fungsi utamanya,
meningkatkan kondisi-kondisi bagi komponen lain yang berguna di dalam sistem
pertanian, misalnya; menciptakan iklim mikro yang cocok bagi komponen lain,
menghasilkan senyawa kimia untuk mendorong komponen yang diinginkan atau
menekan komponen yang berbahaya (pengaruh alelopatis dari pengeluaran akar
atau mulsa), memproduksi pelapis tanah atau struktur akar untuk meningkatkan
konservasi air dan tanah, mengusahakan sistem akar yang dalam untuk
meningkatkan daur ulang air dan unsur hara. Kurangnya pengetahuan masyarakat
tentang keterkaitan setiap komponen pertanian maupun komponen kehidupan
membuat mereka lupa bahkan tidak mengetahui sama sekali bahwa hutan sangat
mempengaruhi kehidupan disekitarnya. Manfaat atau fungsi hutan bagi kehidupan
manusia secara langsung maupun tidak langsung sangat banyak dan beragam.
Hutan tidak saja sebagai sumber kayu dan hasil hutan lainnya yang memberikan
manfaat ekonomi, secara tidak langsung hutan akan memberikan pengaruh pada
kehidupan di hilirnya. 11
Hutan juga mempunyai fungsi perlindungan terhadap tata air. Dengan
adanya seresah di lantai hutan dan struktur tanah gembur, air hujan terserap
seresah dan masuk ke dalam tanah. Karena itu dalam musim hujan debit
maksimum air dapat dikurangi, dengan demikian bahaya banjir berkurang. Hujan
yang jatuh ke bumi baik langsung menjadi aliran maupun tidak langsung melalui
vegetasi atau media lainnya akan membentuk siklus aliran air mulai dari tempat
yang tinggi (gunung dan pegunungan) menuju ke tempat yang rendah baik di

11

Ibid.

permukaan tanah maupun di dalam tanah yang berakhir di laut. Sebagian air
hujan yang jatuh di permukaan tanah meresap ke dalam tanah dalam bentuk
infiltrasi, perkolasi, kapiler. Aliran air tanah dapat dibedakan menjadi aliran tanah
dangkal, aliran tanah dalam, aliran tanah antara dan aliran tanah dasar. Disebut
aliran tanah dasar karena aliran ini merupakan aliran yang mengisi sisten jaringan
sungai. Hal ini dapat dilihat pada musim kemarau aliran ini akan tetap secara
berkesinambungan apabila kondisi hutan baik. Oleh sebab itu kita perlu
melestarikan hutan. Banyaknya air hujan yang meresap ke dalam tanah
menjadikan persediaan air tanah akan bertambah. Sebagian air tanah akan keluar
lagi di daerah yang lebih rendah sebagai mata air, dengan bertambahnya cadangan
air tanah, mata air serta sumur yang hidup di musim kemarau juga lebih banyak
daripada tanpa adanya hutan. Jadi, efek hutan adalah mengurangi resiko
kekurangan air dalam musim kemarau. Air sebagai sumber kehidupan
mempunyai berbagai macam fungsi, di sisi lain air juga merupakan bagian dari
sumber daya alam. Fungsi air sebagai sumber kehidupan adalah memenuhi
kebutuhan air baku untuk rumah tangga, pertanian, industri, pariwisata,
pertahanan, pertambangan, ketenagaan dan perhubungan. Sebagai sumber daya
alam air juga harus dilestarikan agar ketersediaan air di permukaan bumi ini bisa
terus berlanjut. Dengan melestarikan hutan berarti kita juga melestarikan
ketersediaan air sebagai sumber daya alam.
Banyaknya air yang tersedia di permukaan bumi ini akan sangat
membantu kehidupan manusia karena air diantaranya akan banyak memberikan
manfaat ekonomi. Di daerah-daerah yang pengairannya baik pertanian tidak lagi
bergantung pada hujan, petani dapat merencanakan pola pergiliran tanaman
dengan lebih baik.
Daerah-daerah hilir hutan pegunungan masyarakatnya akan merasakan
manfaat yang sangat menguntungkan bila pelestarian hutan terjaga, keseimbangan
ekosistem dalam hutan akan memelihara tata air di sekitarnya, masyarakat yang
ada di dataran rendah bisa memanfaatkan sumber daya air yang tersedia untuk
keperluan hidupnya maupun untuk aktivitas perekonomian. Secara tidak langsung
sumber daya air akan memberikan manfaat ekonomi pada rumah tangga dan
9

pertanian. Rumah tangga yang mempunyai industri akan membutuhkan air untuk
usahanya, petani dalam berusaha tani juga sangat membutuhkan air, baik untuk
penyemprotan maupun untuk kebutuhan tanaman itu sendiri. Tanaman yang
kekurangan air pertumbuhannya akan terganggu, produktivitas akan berkurang
bahkan akan terancam mati. Sebaliknya bila sumber air tersedia tanaman akan
tumbuh dengan baik dan produksinya akan tinggi. Selain dari manfaat yang tidak
langsung, masyarakat disekitar kawasan hutan juga bisa memanfaatkan hasil
hutan langsung dengan tidak secara berlebihan dan tetap berusaha adanya
pembaharuan untuk menjaga kelestariannya. Hasil hutan yang didapatkan bisa
untuk konsumsi sendiri atau untuk dijual sehingga dapat menjadi pendapatan
tambahan. 12
Selanjutnya secara spesifik, Taman Nasional (TN) mempunyai peran
penting dan strategis, tidak saja karena wilayahnya merupakan kawasan
konservasi tempat pelestarian keanekaragaman hayati, namun juga memberikan
kontribusi secara ekonomi, sosial, budaya dan ekologis/lingkungan. Kawasan
konservasi sebagai bagian dari hutan merupakan penyedia jasa lingkungan.
TN memiliki berbagai potensi nilai ekonomi yang tinggi bagi masyarakat
luas, melalui misalnya pengusahaan wisata (terutama di luar Pulau Jawa) yang
masih belum dilakukan secara profesional dan optimal. Pengelolaan TN secara
kolaboratif melalui investasi bersama berdasarkan PP No. 36/ 2010 sangat
dimungkinkan. Dalam rangka menanggapi tantangan globalisasi, Masyarakat
Ekonomi Asia, ASEAN Community 2015 dan WTO, sektor pariwisata alam ini
harus digenjot agar dapat berkontribusi terhadap pendapatan negara dan
mensejahterakan masyarakat.
TN berpeluang besar menjadi tujuan wisata unggulan apabila dikelola
secara lestari dan optimal, utamanya untuk menarik perhatian wisatawan manca
negara (wisman). Namun dalam kenyataannya TN masih belum menjadi tujuan
wisata unggulan. Pada 2014 kunjungan wisman ke Indonesia hanya mencapai 9
juta orang, kalah jauh dibandingkan dengan Malaysia dan Thailand yang sudah

12

Ibid.

10

mencapai 26 juta orang. Padahal secara internasional Indonesia sudah menjadi


salah satu tujuan wisata utama dunia, yang terkenal karena pantai pasirnya, karang
laut yang indah, gunung yang cantik, hutan hujan tropis yang memiliki banyak
spesies hewan langka seperti orang utan, komodo, serta kehangatan manusia
dengan budaya yang beragam.
Pada bulan Mei 2015, Kementerian Parawisata menargetkan 20 juta
wisman ke Indonesia pada tahun 2019, dengan prediksi pemasukan sebesar 24
miliar dolar. Target ini dapat tercapai apabila TN dijadikan tujuan wisata
unggulan yang dikelola secara optimal melalui pengelolaan konsep wisata
berwawasan lingkungan yang kolaboratif.
Konsep ekowisata saat ini tengah berkembang pesat dan diyakini dapat
menjadi solusi untuk mengkompromikan upaya konservasi dan pemanfaatannya
secara lebih berkelanjutan. Konsep ini mempromosikan wisata alam berkelanjutan
yang

melibatkan komunitas

lokal,

dan diyakini

menjadi

jalan

untuk

menyeimbangkan pendapatan ekonomi lokal tanpa harus mengorbankan fungsi


alamiah kawasan konservasi sebagai pendukung ekosistem yang melibatkan
masyarakat lokal dan budayanya, untuk masa depan yang lebih berkelanjutan.
Salah satu daya tarik ekowisata yang menarik adalah adanya kesempatan untuk
berinteraksi lebih dalam, saling belajar dan berkomunikasi dengan masyarakat
lokal, sembari menikmati alam dan budaya lokal.
Hingga saat ini, TN juga merupakan kawasan konservasi terbaik untuk
menyaksikan keanekaragaman,

keunikan dan

keindahan flora/fauna

yang

endemik, langka dan dilindungi, termasuk menyaksikan keindahan dan keajaiban


fenomena alam.

11

Bab 2
Tinjauan Umum Provinsi Jambi

A. Gambaran Umum Mengenai Provinsi Jambi


Secara geografis, Provinsi Jambi merupakan sebuah provinsi di Indonesia
yang terletak di pesisir timur di bagian tengah Pulau Sumatera. Provinsi Jambi
secara geografis terletak antara 0,45 Lintang Utara, 2,45 Lintang Selatan dan
antara 101,10-104,55 Bujur Timur. Di sebelah Utara berbatasan dengan
Provinsi Riau, sebelah Timur dengan Selat Berhala, sebelah Selatan berbatasan
dengan Provinsi Sumatera Selatan dan sebelah Barat dengan Provinsi Sumatera
Barat dan Provinsi Bengkulu. 13
Kondisi geografis yang cukup strategis di antara kota-kota lain di provinsi
sekitarnya membuat peran provinsi ini cukup penting terlebih lagi dengan
dukungan sumber daya alam yang melimpah. Kebutuhan industri dan masyarakat
di kota-kota sekelilingnya didukung suplai bahan baku dan bahan kebutuhan dari
provinsi ini. Luas Provinsi Jambi 53.435 km2 dengan jumlah penduduk Provinsi
Jambi pada tahun 2010 berjumlah 3.088.618 jiwa. Sedangkan sebanyak 46,88%
dari jumlah tenaga kerja Provinsi Jambi bekerja pada sektor pertanian,
perkebunan dan perikanan; 21,58% pada sektor perdagangan dan 12,58% pada
sektor jasa. Dengan kondisi ketenagakerjaan yang sebagian besar masyarakat di
provinsi ini sangat tergantung pada hasil pertanian, perkebunan sehingga
menjadikan upaya pemerintah daerah maupun pusat untuk mensejahterakan
masyarakat adalah melalui pengembangan sektor pertanian. 14
Masyarakat Jambi merupakan masyarakat heterogen yang terdiri dari
masyarakat asli Jambi, yakni Suku Melayu yang menjadi mayoritas di Provinsi
Jambi. Selain itu juga ada Suku Kerinci, juga ada suku-suku asli pedalaman yang
masih primitif yakni Suku Kubu dan Suku Anak Dalam. Selain itu juga ada
pendatang yang berasal dari Minangkabau, Batak, Jawa, Sunda, Cina, India dan
13

Pemerintah Provinsi Jambi, http://jambiprov.go.id/index.php?letluaswil, diakses pada

tanggal 28 Oktober 2016.

14

Ibid.

12

lain-lain. Sebagian besar masyarakat Jambi memeluk agama Islam, yaitu sebesar
90%, sedangkan sisanya merupakan pemeluk agama Kristen, Budha, Hindu dan
Konghuchu.
Tingkat

kesejahteraan

penduduk

yang

tercermin

melalui

Indeks

Pembangunan Manusia (IPM) tercatat sebesar 71,2 (data BPS tahun 2005).
Sedangkan angka pengangguran Provinsi Jambi sebesar 92.772 atau setara dengan
7,8% penduduk Provinsi Jambi (data SAKERNAS bulan Februari). Provinsi
Jambi termasuk dalam kawasan segitiga pertumbuhan Indonesia-MalaysiaSingapura (IMS-GT). Jarak tempuh Jambi ke Singapura jalur laut melalui Batam
dengan menggunakan kapal cepat (jet-foil) 5 jam. 15

B. Potensi Ekonomi Hutan Provinsi Jambi


Luas daratan Provinsi Jambi adalah sekitar 5.100.000,00 Ha. Luas daratan
itu terbagi menjadi 2, yaitu kawasan hutan sekitar 2.179.440,00 Hektar dan areal
penggunaan lainnya sekitar 2.920.560,00 Hektar. Dengan kondisi suhu udara
berkisar antara 23 C sampai dengan 31 C dan luas wilayah 53,435 km2 di
antaranya sekitar 60% lahan merupakan kawasan perkebunan dan kehutanan yang
menjadikan kawasan ini merupakan salah satu penghasil produk perkebunan dan
kehutanan utama di wilayah Sumatera.16

Kelapa sawit dan karet menjadi tanaman perkebunan primadona dengan


luas lahan perkebunan kelapa sawit mencapai 400.168 Hektar serta karet
mencapai 595.473 Hektar. Sementara itu, nilai produksi kelapa sawit sebesar
898,24 ribu ton pertahun.
Hasil perkebunan lainnya adalah karet, dengan jumlah produksi 240,146
ribu ton per tahun, kelapa dalam (virgin coconut) 119,34 ribu ton per tahun,
casiavera 69,65 ribu ton per tahun, serta teh 5,6 ribu ton per tahun. Sementara
produksi sektor pertanian yang dihasilkan oleh kawasan bagian barat Provinsi
Jambi yaitu beras kerinci, kentang, kol/kubis, tomat dan kedelai.
15
16

Ibid.
Transparency International, http://www.ti.or.id/index.php/priority/2015 /11 /18 /

dinas-kehutanan-provinsi-jambi, diakses pada tanggal 28 Oktober 2016.

13

Sedangkan luas hutan di Provinsi Jambi dan jenisnya terbagi dalam


beberapa cluster. Di antaranya adalah; Cagar Alam, Taman Nasional, Hutan
Wisata, Hutan Produksi Tetap dll.
Jenis

Luas

Cagar Alam

30.400.00 Ha (1,39%)

Taman Nasional

608.630,00 Ha (27,92%)

Taman Hutan Raya

36.660.00 Ha (1,68%)

Hutan Wisata Alam

430.00 Ha (0,02%)

Hutan Lindung

191.130.00 Ha (8,77 %)

Hutan Produksi Terbatas

340.700.000 Ha (15,63 %)

Huan Produksi Tetap

971.490.00 Ha (44,57%)

Hutan yang ada di Provinsi Jambi selama ini berfungsi sebagai sumber
ekonomi, fungsi ekologis dan fungsi sosial. Fungsi ekonomi hutan di Provinsi
Jambi dapat dilihat dengan menghasilkan kayu yang sangat banyak. Hal ini
menjadi pemasukan daerah dan juga bagian dari penerimaan negara. Sementara
fungsi lain dari hutan dalam aspek ekonomi dapat dihasilkan dari hasil-hasil hutan
selain kayu yang secara langsung berkontribusi terhadap pendapatan masyarakat.
Rotan, buah dan madu adalah sebagian dari fungsi hutan dari aspek ekonomi yang
langsung dirasakan oleh masyarakat. 17
Hutan juga berfungsi secara ekologis yang mana hutan berperan dalam
pengendalian daur ulang dan proses ekologis secara umum. Aneka macam
tumbuhan berkembang lalu mati dan digantikan oleh tunas baru yang berjalan
secara sistematis.
Sisi ekologis hutan lainnya juga berfungsi sebagai pengendalian iklim dan
cuaca. Hutan merupakan penyerap karbon yang sangat besar sekaligus berfungsi
sebagai sarana paling efektif untuk mencegah kenaikan suhu permukaan bumi
dibawah 2 derajat. Selain itu, fungsi ekologis lainnya dari hutan adalah penjaga
flora dan fauna.

17

Ibid.

14

Adapun fungsi sosial hutan terjadi karena hutan merupakan sumber obatobatan sekaligus sumber pendapatan masyarakat secara umum. Disamping itu,
hutan juga merupakan sumber tanaman obat yang tidak tergantikan. Adanya
kecenderungan perubahan pola hidup kembali ke alam (back to nature)
menyebabkan banyak masyarakat memilih menggunakan obat alamiah yang
diyakini tidak memiliki efek sampingan dengan harga yang lebih terjangkau.
Hasil industri obat tradisional ini juga telah banyak dimanfaatkan oleh negara
maju sebagai bahan baku herbal medicine. Ditjen POM pada tahun 2006
menyatakan telah terdaftar 283 spesies tumbuhan obat oleh industri obat
tradisional di Indonesia. Dari 283 spesies tanaman obat tersebut, 180 diantaranya
berasal dari hutan tropika. 18
Secara alamiah, hutan alam merupakan penghasil pangan dan obat bahan
alam yang potensial dan telah sejak lama dipergunakan oleh masyarakat
tradisional sebagai sumber pangan dan obat-obatan yang berasal dari umbi, daun,
getah, akar, bunga maupun bagian lainnya.
Selain fungsi-fungsi yang telah disebutkan sebelumnya, secara geologis
Indonesia mengandung potensi kekayaan Sumber Daya Alam yang relatif besar,
namun belum dimanfaatkan seoptimal mungkin untuk kemakmuran masyarakat.
Beberapa potensi hutan di Provinsi Jambi yang masih belum di kembangkan
secara maksimal adalah: 19

Hutan konservasi pada umumnya berada di pegunungan yang merupakan


hulu sungai-sungai besar. Dengan adanya elevasi (perbedaan ketinggian),
aliran air ini dapat dimanfaatkan dengan menggunakan teknologi
minihidro yang dapat menghasilkan energi terbarukan. Pemanfaatan air
dan energi air di kawasan konservasi hanya terjadi apabila hutan
disekitarnya terjaga dengan baik. Oleh karena erat hubungan antara energiair-hutan, maka ada manfaat ganda yang dapat dihasilkan yaitu:
menghasilkan energi dan hutan terselamatkan.

18

Ibid.

19

Ibid.

15

Terdapat potensi sumber air yang tersedia dari keseluruhan luasan


kawasan konservasi seluas 27,2 juta hektar yang diperkirakan sebanyak
600 milyar kubik belum termanfaatkan.

Penjualan karbon, meskipun skema ini masih sangat abstrak namun tidak
tertutup kemungkinan suatu saat akan terwujudkan, dalam bentuk skema
insentif yang saat ini tengah dikembangkan oleh dunia melalui skema
REDD+ (reducing emissions from deforestation and forest degradation).
Hingga saat ini, beberapa Demonstration Activities terkait REDD+ tengah
dikembangkan di beberapa Taman Nasional, salah satunya di TN Berbak,
terkait persiapan REDD+, pengembangan metodologis, teknologi dan
institusi pengelolaan.

Indonesia berada di dalam areal ring of fire, karena pertemuan antara


lempeng Eurasia dan lempeng Australia yang secara geografis rawan
terhadap bencana alam. Hal positifnya, menyebabkan Indonesia memiliki
cukup banyak potensi panas bumi. Tercatat 265 potensi panas bumi yang
dapat menghasilkan lebih dari 28.000 megawatt sumber daya panas bumi.
Hingga saat ini baru dimanfaatkan 4,4% dari keseluruhan potensi yang ada
(sekitar 1.281 megawatt).

16

Bab 3
Permasalahan Kebakaran Hutan di Provinsi Jambi

A. Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut di Jambi


Clouds bellied out in the sultry heat, the sky cracked open with a
crimson gash, spewed flame and the ancient forest began to smoke. By
morning there was a mass of booming, fiery tongues, a hissing, crashing,
howling all around, half the sky with smoke, and the bloodied sun just
barely visible. And what can little men do with their spades, ditches, and
pails? The forest is no more, it was devoured by fire: stumps and
ashPerhaps a city will grow up alive with ringing sound and motion,
all stone and crystal and iron and winged men will come here flying
over seas and mountains from all ends of the world. But never again the
forest, never again the blue winter silence and the golden silence of
summer.
and only the tellers of tales will speak in many-colored patterned
words about what had beenabout green-coated centuryto those
winged men, who will come in a hundred years to listen and to marvel at
it all as at a fairy tale.20
Kutipan tersebut di atas diambil dari karya In Old Russia yang ditulis oleh
Yevgeny Zamyatin, secara puitis beliau menggambarkan bahwa begitu indah dan
berartinya hutan bagi manusia. Dalam karyanya, beliau menggambarkan bahwa
suatu kawasan hutan telah habis terbakar akibat tersambar oleh fenomena alam
bermuatan listrik jutaan volt berupa petir. Apabila dicermati, dibalik puitisnya
tulisan tersebut, beliau juga mengemukakan secara implisit bahwa mengelola
hutan bukanlah suatu hal perkara yang mudah dan keberadaan ekosistem hutan

20

Yevgeny Zamyatin, In Old Russia, dalam The Dragon: Fifteen Stories, diterjemahkan oleh

Mirra Ginsburg, Chicago: The University of Chicago Press, 1976, hal. 161-162.

17

mungkin hanya akan menjadi suatu dongeng indah bagi generasi yang akan
datang.
Bila kita meresonansikan karya tulis Yevgeny Zamyati dikehidupan nyata, apa
yang disampaikan oleh Yevgeny Zamyatin adalah benar. Kebakaran hutan terjadi
dan merugikan manusia, kini kebakaran hutan telah menjadi perhatian
internasional sebagai isu lingkungan dan ekonomi. Di Indonesia, pada akhir tahun
1997 dan awal tahun 1998, telah terjadi perisitiwa kebakaran hutan yang dahsyat,
yang mana api telah membinasakan berjuta-juta hektar hutan tropika di Indonesia.
Peristiwa kebakaran yang merusak tersebut mengakibatkan terjadinya lintasan
panjang di pulau Sumatera dan Kalimantan, berbentuk selimut asap yang tebal
dan secara serius membahayakan kesehatan manusia. Bahkan, kebakaran ini juga
membahayakan keamanan perjalanan udara serta menyebabkan kerugian ekonomi
yang sangat besar diseluruh kawasan dan menimbulkan banyak kecaman dari
negara tetangga. 21
Kebakaran hutan, termasuk kebakaran hutan rawa gambut, masih sering
dianggap sebagai suatu bencana alam belaka dan merupakan takdir sang pencipta.
Sampai saat ini usaha pencegahan terulangnya kembali kebakaran dimasa
mendatang masih sangat terbatas, dan usaha tersebut dirasakan mustahil untuk
dapat dialakukan karena dianggap sebagai usaha sia-sia.
Secara historis, kebakaran hutan dan lahan yang terjadi di Indonesia, termasuk
di Provinsi Jambi, bukanlah sebuah fenomena baru, karena kebakaran hutan dan
lahan gabut memang telah berlangsung sejak beberapa tahun yang lalu. Bahkan,
kebakaran hutan itu sendiri merupakan bagian dari proses ekologi. Setelah
terjadinya kebakaran besar di Kalimantan tahun 1982-1983 yang digolongkan
sebagai salah satu peristiwa kebakaran terburuk di dunia, barulah perhatian dunia
terbuka dan menyadari betapa seriusnya fenomena ini. Saat ini sekitar 19.528,00
hektar lahan telah terbakar di wilayah Provinsi Jambi. Pada Agustus 2016,
21

Popi Tuhulele, Kebakaran Hutan di Indonesia dan Proses Penegakan Hukumnya Sebagai

Komitmen dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim, Supremasi Hukum (Desember 2014),
Volume 3, hal. 127.

18

Provinsi Jambi juga telah menetapkan status siaga darurat kebakaran hutan dan
lahan, hal ini dilakukan untuk meminimalkan kebakaran yang menyebabkan
bencana kabut asap. Saat ini sudah ada 20 kasus yang membuka lahan dengan
cara membakar, untuk menunjang penetapan status siaga darurat itu satuan tugas
(Satgas) telah mendirikan posko pusat bencana karhutla, yakni di area Bandara
Sultan Thaha yang lama, termasuk pendirian posko di setiap kecamatan di
Provinsi Jambi.
B. Penyebab Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut
Sebagaimana dikutip dari personifikasi puitis Zamyatin sebelumnya,
kebakaran hutan memang seringkali terjadi karena gejala dan fenomena alam,
seperti petir atau panasnya suhu di musim kemarau. Tetapi, pada kenyataannya
manusia juga mempunyai peran dalam memulai kebakaran tersebut.22 Pada
awalnya, para peladang tradisional atau peladang berpindah sering melakukan
pembakaran terhadap hutan ini salah satunya adalah untuk membuka lahan atau
bahkan menyuburkan tanah. Namun, karena biayanya yang murah, praktek ini
banyak diadopsi oleh korporasi-korporasi yang bergerak di bidang kehutanan
maupun perkebunan sebagai suatu metode praktis dan ekonomis untuk
membuka lahan dan menyuburkan tanah, mereka membakar hutan dan ladangladang tersebut, maka dari itu kebakaran terjadi di Indonesia.

C. Dampak Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut


Barber dan Schweithelm secara khusus mengemukakan dampak yang
disebabkan oleh kebakaran hutan di Kalimantan dan Sumatra pada tahun 1997
hingga 1998. Mereka membaginya dalam empat bagian besar, yaitu dampak
terhadap fauna dan flora yang ada di hutan, dampak terhadap aliran dan kualitas
air, dampak terhadap atmosfer, dan dampak terhadap kesehatan manusia.

22

Op.Cit. Yevgeny Zamyatin.

19

Adapun dampak terhadap fauna dan flora di hutan (effects on forest fauna and
flora), terbagi lagi menjadi beberapa bagian yaitu dampaknya terhadap vegetasi
hutan, primata, populasi burung, reptil dan amfibi, serta serangga dan
invertebrata. Dalam hal ini, mereka mendasarinya dengan penelitian yang
dilakukan setelah fenomena kebakaran hutan di Kalimantan yang terjadi pada
1982 hingga 1983. Terkait dengan vegetasi hutan, mereka mengemukakan bahwa
siklus pembakaran berulang yang terjadi, selain benar-benar dapat mengubah
suatu kawasan hutan menjadi padang rumput dan semak belukar, ternyata juga
dapat mendegradasi kawasan hutan yang bahkan tidak terbakar. Selain itu,
kebakaran hutan juga memiliki dampak negatif terhadap fauna yang ada di dalam
hutan, seperti primata, burung, reptil, hingga serangga beserta dengan habitathabitatnya. 23
Kemudian, kebakaran hutan ternyata juga memiliki dampak terhadap aliran
dan kualitas air (effects on water flows and water quality). Dalam hal ini,
kebakaran hutan dinilai telah meningkatkan potensi terjadinya erosi. Selain itu,
ketika kebakaran hutan diikuti dengan hujan lebat, maka jumlah abu, tanah, dan
unsur-unsur vegetatif yang ikut terbawa ke dalam sistem aliran air akan
meningkat secara dramatis. Hal ini tentunya dapat menyebabkan terjadinya
pencemaran biologis, karena endapan-endapan yang masuk ke dalam sistem aliran
air tersebut dapat mencemari air. 24
Sedangkan dampak terhadap atmosfer (effects on the atmosphere) juga terjadi,
karena gas yang dihasilkan oleh kebakaran hutan secara langsung maupun tidak
langsung memengaruhi atmosfer bumi, selain itu gas tersebut juga berkontribusi
besar atas tingginya kadar emisi gas rumah kaca yang diketahui merupakan
penyebab dari terjadinya global warming. Terkait hal ini, mereka juga mengutip
pernyataan dari World Bank yang memperlihatkan begitu parahnya akibat yang
23

Charles Victor Barber dan James Schweithelm, Trial by Fire: Forest Fires and Forestry Policy

in Indonesias Era of Crisis and Reform, Washington DC: World Resource Institute, 2000, hal. 16.
24

ibid., hal. 17.

20

ditimbulkan dari kebakaran hutan di Indonesia pada tahun 1997, sebagai berikut
[I]ndonesias fires in 1997 were estimated to have contributed about 30 percents
of all man-made carbon emissions globally more than the entire emissions from
man-made sources from North America. 25
Selanjutnya, terkait dampak terhadap kesehatan manusia (effects on human
health), tampaknya tidak perlu diperdebatkan lagi. 26 Terhirupnya asap yang
kemudian masuk dalam sistem pernafasan manusia tentu akan berdampak secara
negatif bagi paru-paru, belum lagi dampaknya terhadap kesehatan mata dan tubuh
secara umum. Bahkan, hasil wawancara reporter CNN kepada penduduk lokal di
Jambi menunjukkan begitu menderitanya para penduduk sekitar akibat kebakaran
hutan tersebut. Dalam wawancara tersebut, narasumber berkata bahwa [t]his
morning, like most mornings, I woke with a headache. In my stomach I feel
strange, and my eyes, they sting. Jambi cannot handle these things. This has gone
on too long. We have not seen the sun for more than a month. We are
suffocating.27 Dengan demikian, dapat dilihat begitu luasnya dampak negatif
yang dapat terjadi akibat kebakaran hutan, bukan hanya efeknya terhadap
kelangsungan hidup manusia, hewan, dan tumbuhan, namun juga terhadap
lingkungan secara umum.
Provinsi Jambi merupakan salah satu Provinsi di Indonesia yang setiap
tahun mengalami kebakaran hutan. Pada tahun 2015, kerugian akibat kebakaran
hutan dan lahan gambut mencapai 12 triliun. Sedangkan pada tahun 2013, biaya
yang dibutuhkan untuk merehabilitasi kawasan hutan yang rusak, membutuhkan
anggaran tidak kurang sebesar Rp. 15,8 triliun. Dana itu dibutuhkan untuk
merehabilitasi 934 ribu hektar hutan yang kondisinya kritis dengan asumsi satu
hektar diperlukan anggaran sebesar Rp. 17 juta. Sementara dengan asumsi
pendapatan dari dana reboisasi yang diterima yakni Rp. 21 miliar per tahun
diperlukan waktu selama 752 tahun untuk memulihkannya. Ditambah lagi untuk
25

ibid.

26

ibid., hal. 17-18.

27

Asia

Now,

We

Are

Suffocating:

No

Escape

for

the

People

of

Jambi,

http://edition.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/97/1010/cs2.html, diakses pada 14 Oktober 2016.

21

biaya pemulihan status hutan primer ke sekunder di dalam kawasan hutan biaya
yang dibutuhkan yakni sebesar Rp. 4,4 triliun, dengan luas hutan 883 ribu hektar
dan biaya yang diperlukan yakni Rp. 5 juta per hektar.
Sementara kemampuan pemerintah merehabilitasi hutan hanya seluas
7.250 hektar/tahun. Artinya, dibutuhkan waktu 128 tahun untuk merehabilitasi
934 ribu hektar hutan yang kondisinya kritis.
Sebagaimana diketahui bersama, laju kerusakan hutan di Indonesia
berdasarkan data kementerian kehutanan, pada periode 1990 hingga 2000,
mencapai 2,26 juta hektar per tahun. Periode 2000-2012, laju kerusakan hutan
Indonesia mencapai 450.000 hektar per tahun. Ironisnya, kerusakan hutan tersebut
bukan hanya terjadi di kawasan hutan produksi melainkan juga di kawasan hutan
konservasi dan lindung. Selama 10 tahun terakhir, laju kerusakan hutan
konservasi dan lindung semakin cepat.
Kebakaran dan kerusakan hutan yang terjadi telah meniadakan fungsi
hutan sebagai tempat menyimpan karbon dan menyerap karbondioksida yang
dihasilkan dari berbagai aktivitas ekonomi manusia. Ini menyebabkan jasa hutan
dalam memelihara lingkungan menurun drastis. Akibatnya, suhu bumi semakin
panas sehingga memicu berbagai fenomena alam yang ekstrim yakni naiknya
permukaan air laut dan tenggelamnya daratan, timbulnya jenis penyakit baru dan
hilangnya sumber air bersih dan habitat mahluk hidup.
Kerusakan hutan di Jambi, berdasarkan indeks tata kelola hutan terhadap
sembilan kabupaten tahun 2014, sudah berada pada titik nadir (titik terendah).
Provinsi itu mempunyai kawasan hutan seluas 2,1 juta hektar atau 43 persen dari
luas daratan Jambi. Seluas 934 ribu hektar atau 44,31 persen dari 2,1 juta hektar
hutan yang kini sudah bukan kawasan hutan lagi. Jumlah itu akan bertambah jika
memasukkan 883 ribu hektar yang berubah dari status hutan primer menjadi hutan
sekunder. Totalnya kerusakan hutan menjadi 86 persen dari seluruh luas kawasan
hutan yang ada.
Degradasi hutan juga terjadi di lokasi yang ditetapkan sebagai kawasan
hutan suaka alam seluas 136.000 hektar dan hutan lindung yang telah mengalami
kerusakan hutan seluas 56.000 hektar.

22

Sementara itu, berdasarkan statistik Dinas Kehutanan Jambi 2013,


pendapatan sektor kehutanan sebesar Rp. 19 miliar dan pendapatan dana reboisasi
1,8 juta dolar AS setara Rp. 21,6 miliar, tapi biaya rehabilitasi hutan yang rusak
yang mencapai 934.000 hektar membutuhkan biaya Rp15,8 triliun (Rp. 17 juta
per hektar) dan membutuhkan waktu 752 tahun.
Belum lagi jika dilihat dari aspek keadilan, berdasarkan data statistik dinas
hutan Jambi tahun 2013, pemerintah telah mengeluarkan 168 izin pertambangan
dengan luas 877.299 hektar hutan, tiga izin pemanfaatan hasil hutan seluas
105.230 hektar hutan dan izin pemanfaatan hutan tanaman dengan luas 663.721
hektar. Bandingkan dengan masyarakat Jambi yang memanfaatkan hutan
sebanyak 38.526 hektar hutan untuk hutan desa, 49.703 hektar untuk hutan
kemasyarakatan dan 28.429 hektar untuk hutan tanaman rakyat. Persentasenya
1,6 juta hektar hutan dimanfaatkan pengusaha dan 6,62 persen dimanfaatkan
masyarakat.

D. Upaya penaggulangan
Total lahan gambut di Provinsi Jambi kurang lebih 900.000 hektar yang
mayoritas berada di 3 kabupaten; Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat,
dan Muaro Jambi. Sedangkan kebakaran hutan dan lahan gambut di Provinsi
Jambi pada tahun 2015 yang lalu mencapai 130.000 hektar. Jumlah hotspot pada
tahun 2015 sebanyak 1.654 titik. Dari pengamatan UPP Kementerian Lingkungan
Hidup dan Kehutanan selama bertahun-tahun, ada 371 desa sangat rawan karhutla.
Hambatan penanggulangan kebakaran hutan dan lahan gambut (karhutla) di
musim kemarau adalah sulitnya mendapatkan air, terutama dengan luasnya lahan
gambut yang sulit dijangkau serta kebiasaan masyarakat membakar lahan.

23

Jumlah titik api di Provinsi Jambi selama periode 2001 sampai 2015,
berdasarkan wilayah kabupaten/kota

Akibat kebakaran tersebut, kerugian yang diderita mencapai kurang lebih


Rp. 12 triliun. Besarnya kerugian yang ditanggung berimbas pada penurunan
pertumbuhan perekonomian Provinsi Jambi.
Secara umum penyebab dari kebakaran hutan adalah, 90% kebakaran
hutan dan lahan akibat perbuatan manusia, sedangkan 10% karena faktor alam.
Setidaknya ada tiga penyebab kebakaran hutan dan lahan di Provinsi Jambi pada
tahun 2015; Pertama, dunia usaha belum secara maksimal menyediakan SDM dan
sarana prasarana yang memadai dalam membuka lahan industri. Kedua, sekat
kanal saat terjadinya musibah kebakaran belum maksimal, baik jumlah maupun
fungsinya. Sedangkan yang ketiga, kebiasaan masyarakat membuka lahan dengan
cara membakar.
Sedangkan strategi pencegahan yang dilakukan adalah dengan membentuk
Posko Satgas Pencegahan dan Pegendalian Karlahut yang bertugas deteksi dini
hotspot yang setiap hari dilaporkan kepada Ibu Menteri (Lingkungan Hidup dan
Kehutanan).
Saat ini Provinsi Jambi telah memiliki Perda No. 2 Tahun 2016 tentang
Pencegahan Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan. Salah satu isi perda
tersebut adalah; pemegang izin (lahan) wajib membuat sekat kanal dan embung
air. Hal ini juga telah disosialisasikan kepada semua perusahaan. Keterlibatan
24

NGO juga sangat penting, dimana berperan membangun sekat kanal, sumur
hydrant, dan juga embung air pada areal gambut di luar daerah pemegang izin.
Sekat-sekat kanal telah dibangun oleh perusahan, salah satunya di WKS
yang mana dari 426 unit, sudah terbangun 300 unit. Bahkan Kepala Badan
Restorasi Gambut Nazir Foead lebih teknis menjelaskan tata kelola gambut,
diantaranya dengan menyekat kanal yang diistilahkannya dengan penyekatan
kanal atau sekatisasi kanal. Jadi, bukan kanalisasi, tetapi sekatisasi kanal.
Pencegahan dan pengendalian karhutla identik dengan penyelamatan dari
krisis dalam pengawasan bank. Dalam penyelamatan dari krisis, supervisory
action-nya harus kuat. Setelah itu, baru akan ditangani sedikit demi sedikit dari
level yang berbeda yang bisa dijangkau. Dalam memberikan supervisory action
harus dicari tahu berapa desa dan desa mana saja yang rawan dan sangat rawan
kebakaran. Pencegahan dan pengendalian karhutla tidak bisa hanya menyatakan
bahwa lokasi karhutla di provinsi atau di kabupaten tertentu, tetapi harus lebih
spesifik ke level desa, dan untuk itu harus dipetakan desa yang rawan serta sangat
rawan karhutla (yang paling critical).
Selain itu, untuk membangun crisis centre, harus dimonitor sepanjang
tahun. Tidak bisa lagi dikatakan karhutla pada musim kemarau, karena sebelum
musim kemarau pun, sudah mulai banyak titik api.

25

Bab 4
Solusi Permasalahan Kebakaran Hutan dan Lahan Gambut

A. Kriminalisasi Pelaku Pembakaran Hutan dan Lahan Gambut


Menurut pendapat pakar Barda Nawawi, terdapat dua jenis tindak pidana
lingkungan hidup, yaitu Pencemaran Lingkungan Hidup (Environmental
Pollution) dan Perusakan Lingkungan Hidup (Environmental Damage). Pada
kenyataannya, kebakaran hutan dan lahan dapat dianggap memenuhi kedua
kualifikasi tindak pidana lingkungan hidup tersebut, sebab selain merusak fungsi
dan peruntukan hutan, gas buangan dari kebakaran hutan dan lahan juga
mencemari udara, dan bahkan zat-zat hasil pembakarannya juga dapat mencemari
tanah. Pengaturan mengenai tindak pidana kebakaran hutan dan lahan dapat
dilihat dalam berbagai peraturan perundang-undangan, yaitu sebagai berikut:
1. Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan (UU
Kehutanan)
a) Ketentuan Pasal 50 ayat (3) huruf d UU Kehutanan melarang setiap
orang untuk melakukan pembakaran hutan. Dalam hal ini terdapat
pengecualian, yaitu pembakaran hutan secara terbatas untuk tujuan
khusus atau kondisi yang tidak dapat dielakkan, antara lain
pengendalian kebakaran hutan, pembasmian hama dan penyakit,
serta pembinaan habitat tumbuhan dan satwa. Pelaksanaan
pembakaran secara terbatas tersebut pun harus memperoleh izin
dari pejabat yang berwenang terlebih dahulu. Adapun frasa orang
dalam pasal ini mencakup subyek hukum berupa orang pribadi,
badan hukum, maupun badan usaha.
b) Ketentuan Pasal 78 ayat (3) dan Pasal 78 ayat (4) UU Kehutanan.
Pasal 78 ayat (3) mengatur bahwa barang siapa dengan sengaja
melanggar ketentuan sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat
(3) huruf d, diancam dengan pidana penjara paling lama 15 (lima
belas) tahun dan denda paling banyak Rp. 5.000.000.000 (lima
26

miliar rupiah). Sedangkan, Pasal 78 ayat (4) mengatur bahwa


barang

siapa

karena

kelalaiannya

melanggar

ketentuan

sebagaimana dimaksud dalam Pasal 50 ayat (3) huruf d, diancam


dengan pidana penjara paling lama 5 (lima) tahun dan denda
paling banyak Rp. 1.500.000.000 (satu miliar lima ratus juta
rupiah).
Dapat dilihat bahwa kedua ketentuan pasal tersebut membedakan beratnya
sanksi pidana yang dibebankan kepada pelaku atas dasar unsur kesalahan yang
berupa keadaan subyektif atau kebatinan si pelaku, yaitu kesengajaan dan
kelalaian.
Dalam dimensi hukum pidana, dikenal terdapat tiga bentuk kesengajaan
(opzet), yaitu kesengajaan yang bersifat suatu tujuan untuk mencapai sesuatu
(opzet als oogmerk), kesengajaan dengan keinsyafan kepastian (opzet bij
zekerheids-bewustzijn), dan kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan (opzet
bij mogelijkheids-bewustzijn). 28 Dalam kesengajaan yang bersifat tujuan, si pelaku
benar-benar menghendaki atau ingin mencapai akibat yang menjadi pokok alasan
diadakan ancaman hukuman pidana. Sedangkan dalam kesengajaan dengan
keinsyafan kepastian, si pelaku dengan perbuatannya tidaklah bertujuan untuk
mencapai akibat yang menjadi dasar dari tindak pidana, namun ia tahu benar
bahwa akibat tersebut pasti akan mengikuti perbuatannya itu. 29 Adapun, dalam
kesengajaan dengan keinsyafan kemungkinan, si pelaku tidak memiliki bayangan
bahwa suatu kepastian akan terjadi akibat perbuatan yang bersangkutan, namun ia
hanya membayangkan bahwa suatu kemungkinan akan akibat itu. 30

28

Wirjono Prodjodikoro, Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung: Refika Aditama, 2011,

hal. 66.
29

Dalam hal ini, Wirjono Prodjodikoro berpendapat bahwa sebenarnya hampir tidak ada

perbedaan antara kesengajaan yang bersifat tujuan (opzet als oogmerk) dan kesengajaan dengan
keinsyafan kepastian (opzet bij zekerheids-bewustzijn). Lihat ibid., hal. 69.
30

ibid.

27

Selanjutnya, yang dimaksud dengan kelalaian terjadi ketika kebatinan si


pelaku yang menimbulkan keadaan yang dilarang bukanlah menentang laranganlarangan tersebut, dalam arti ia tidak menghendaki atau menyetujui timbulnya
keadaan yang dilarang tersebut itu (i.e. kebakaran hutan dan/atau lahan), namun
kesalahannya atau kekeliruannya dalam batin terletak pada fakta bahwa ia kurang
hati-hati atau kurang mengindahkan larangan itu. 31 Dengan demikian, dapat
dilihat bahwa UU Kehutanan memberikan dasar hukum perlindungan hutan dari
kebakaran dengan cukup luas, yaitu dengan mencakupi dua bentuk kesalahan
yaitu kesengajaan dan kelalaian.
Terkait hal ini, Wibisana berpendapat bahwa secara umum tindak pidana
terkait kebakaran hutan dan lahan merupakan tindak pidana lingkungan yang
membutuhkan adanya akibat berupa pencemaran atau kerusakan lingkungan
hidup. Namun demikian, di lain sisi tindak pidana terkait kebakaran hutan dan
lahan juga merupakan tindak pidana yang tidak membutuhkan bukti adanya akibat
tersebut, sehingga telah dianggap selesai pada saat selesainya perbuatan yang
dilarang (i.e. membakar hutan dan/atau lahan). Kedua pembagian tersebut
didasarkan pada sifat dari tindak pidana lingkungan yang memang dapat ditujukan
untuk menghukum adanya pencemaran/kerusakan, atau dapat pula ditujukan
untuk menghukum pelanggaran. 32 Dengan demikian, tindak pidana terkait
kebakaran hutan dan lahan selain termasuk dalam kualifikasi delik materiil, juga
termasuk ke dalam kualifikasi delik formil.
2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang Perlindungan dan
Pengelolaan Lingkungan Hidup (UUPPLH).
a) Ketentuan Pasal 69 ayat (1) huruf h UUPPLH melarang setiap
orang melakukan pembukaan lahan dengan cara membakar. Dalam
hal ini terdapat pengecualian sebagaimana digariskan ketentuan
Pasal 69 ayat (2) UUPPLH yang mengatur bahwa larangan
pembukaan

lahan

dengan

cara

membakar

tersebut

31

Moeljatno, Asas-Asas Hukum Pidana, Jakarta: Rineka Cipta, 2008, hal. 214-215.

32

Andri Gunawan Wibisana, op.cit., hal. 34.

28

harus

memperhatikan dengan sungguh-sungguh kearifan lokal di daerah


masing-masing. Adapun yang dimaksud dengan kearifan lokal
dalam pasal tersebut adalah melakukan pembakaran lahan dengan
luas lahan maksimal 2 hektar per kepala keluarga untuk ditanami
tanaman jenis varietas lokal dan dikelilingi oleh sekat bakar
sebagai pencegah penjalaran api ke wilayah sekelilingnya.
Selanjutnya, sama seperti UU Kehutanan, frasa setiap orang
dalam Pasal ini juga tidak terbatas pada subyek hukum orang
perseorangan saja, namun juga mencakup badan usaha, baik yang
berbadan hukum maupun yang tidak berbadan hukum.
b) Ketentuan Pasal 108 UUPPLH mengatur bahwa setiap orang yang
melakukan pembakaran lahan sebagaimana dimaksud dalam Pasal
69 ayat (1) huruf h, dipidana dengan pidana penjara paling singkat
3 (tiga) tahun dan paling lama 10 (sepuluh) tahun dan denda paling
sedikit Rp. 3.000.000.000 (tiga miliar rupiah) dan paling banyak
Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliar rupiah). Jika dilihat unsurunsur pasalnya, maka ketentuan tersebut termasuk ke dalam
kualifikasi delik formil, karena hanya mensyaratkan telah
selesainya perbuatan yang dilarang tersebut (i.e. membuka lahan
dengan cara membakar), tanpa memperhatikan akibatnya yaitu
kebakaran lahan.
Selain itu, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya bahwa pada
praktiknya, kebakaran hutan dan/atau lahan juga dapat mencemari lingkungan,
maka selain pasal di atas yang secara khusus mengatur mengenai tindak pidana
pembakaran lahan, dapat juga digunakan pasal-pasal di dalam UUPPLH yang
mengatur mengenai pencemaran lingkungan untuk menjerat pelaku pembakaran
hutan dan/atau lahan.
3. Undang-Undang

Nomor

39

Tahun 2014

Perkebunan)

29

tentang

Perkebunan (UU

a) Ketentuan Pasal 56 ayat (1) UU Perkebunan melarang setiap


Pelaku Usaha Perkebunan membuka dan/atau mengolah lahan
dengan cara membakar. Adapun yang dimaksud dalam frasa
Pelaku Usaha Perkebunan adalah Pekebun dan/atau Perusahaan
Perkebunan yang mengelola usaha perkebunan. Sedangkan yang
termasuk dalam kualifikasi Pekebun adalah orang perseorangan
warga Negara Indonesia yang melakukan usaha perkebunan dengan
skala usaha yang tidak mencapai skala tertentu. Sedangkan,
Perusahaan Perkebunan adalah badan usaha yang berbadan hukum,
didirikan menurut hukum Indonesia dan berkedudukan di wilayah
Indonesia yang mengelola usaha perkebunan dengan skala tertentu.
Dengan demikian, sama seperti UUPPLH dan UU Kehutanan; UU
Perkebunan juga tidak membatasi subyek hukum yang diatur dalam
UU tersebut pada orang perseorangan saja, melainkan juga
mengenal subyek hukum berupa badan usaha yang berbentuk
badan

hukum,

seperti Perseroan

Terbatas.

Namun,

perlu

diperhatikan bahwa dalam konteks tindak pidana kebakaran lahan,


UU Perkebunan tidak mengenal pelaku berupa badan usaha yang
tidak

berbentuk

badan

hukum,

seperti

Commanditaire

Vennotschaap atau Firma.


b) Ketentuan Pasal 108 UU Perkebunan mengatur bahwa setiap
Pelaku Usaha Perkebunan yang membuka dan/atau mengolah lahan
dengan cara membakar sebagaimana dimaksud dalam Pasal 56 ayat
(1) dipidana dengan pidana penjara paling lama 10 (sepuluh) tahun
dan denda paling banyak Rp. 10.000.000.000 (sepuluh miliar
rupiah). Dapat dilihat bahwa tindak pidana tersebut termasuk dalam
kualifikasi delik formil, karena tidak mensyaratkan adanya akibat
dari dilakukannya tindak pidana tersebut (i.e. terbukanya lahan atau
kebakaran lahan).
Berdasarkan pemaparan di atas telah terlihat jelas bahwa para pelaku
pembakaran hutan termasuk korporasi akan diberikan hukuman pidana yang berat
atas kejahatan lingkungan yang dilakukannya, namun pada praktiknya dapat
30

dilihat bahwa pelaku kejahatan lingkungan tersebut jarang dihukum, sehingga


tidak terdapat efek jera bagi para pelaku maupun bagi masyarakat pada umumnya.
Harusnya Pemerintah harus lebih tegas dalam menindaklanjuti permasalahan ini.
Selanjutnya

Pembentuk

Undang-Undang

dan

Peraturan

harus

memperhatikan pendapat Pascal yang menyatakan bahwa Corporate fault


should be seen as totally separate and distinct from individual fault. 33 Hal
tersebut dapat dilakukan dengan membuat konstruksi pertanggungjawaban
pidana Pengurus Korporasi yang berfokus pada elemen kesalahan dari
Pengurus Korporasi yang bersangkutan (dapat dengan konstruksi accessorial
liability, extended accessorial liability, atau direct liability). Ketentuanketentuan tersebut juga harus lebih memperhatikan asas-asas yang dijunjung
tinggi dalam dimensi hukum pidana (i.e. asas legalitas dan asas tiada
pertanggungjawaban pidana tanpa kesalahan), untuk mengkonstruksikan suatu
penegasan terhadap garis demarkasi antara konsep pertanggungjawaban
pidana

Korporasi

dan

Pengurus

Korporasi

yang

secara

sekaligus

mengakomodir usaha-usaha mengatasi kejahatan lingkungan.


B. Optimalisasi Kebijakan Perda Kebakaran Hutan Jambi
Kabut asap hebat yang melanda Sumatera yang berulang setiap musim
kemarau menyebabkan trauma yang mendalam bagi masyarakat. Kebakaran hutan
dan lahan yang terjadi di Jambi, sebagian besar disebabkan unsur kelalaian dan
kesengajaan. Kelalaian misalnya karena ketiadaan alat dan personil untuk
pemadaman kebakaran.

Meski sebenarnya

dalam setiap

perizinan ada

kesanggupan untuk menyediakan sarana dan prasarana pemadaman kebakaran,


dalam praktiknya masih sangat sulit ditemukan.
Fakta di lapangan yang ditemukan yang menunjukkan bahwa perusahaan,
masyarakat secara sadar dan mengetahui bahwa kasus pembakaran lahan dan

33

Ana-Maria Pascal, A Legal Persons Conscience: Philosophical Underpinnings of Corporate

Criminal Liability dalam European Developments in Corporate Criminal Liability, Newyork:


Routledge, 2011, hal. 45

31

hutan merupakan tindak pidana. Namun hal ini terus dilakukan karena pembukaan
lahan dengan cara membakar adalah langkah yang murah dan efisien.
Untuk itulah DPRD Provinsi Jambi, di penghujung tahun 2016 sudah
mengesahkan Peraturan Daerah Nomor Nomor 2 Tahun 2016 tentang
Penanggulangan Kebakaran Hutan dan Lahan, sejumlah NGO terlibat aktif dalam
pembahasan perda bersam anggota DPRD Provinsi Jambi.
Ketua Fraksi Partai Kebangkitan Bangsa (F-PKB) Dewan Perwakilan
Rakyat Daerah (DPRD) Provinsi Jambi, Sofyan Ali, menegaskan, fraksinya
berada di garda terdepan dalam pembahasan dan pengesahan Peraturan Daerah
(Perda) Pencegahan, Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan Provinsi Jambi
tahun lalu. Dengan harapan peristiwa tragis lima bulan lalu tidak perlu lagi terjadi
di Provinsi Jambi. Inisiasi kelahiran perda tersebut didasari atas keyakinan bahwa
sumber daya hutan dan lahan merupakan anugrah yang sangat bermanfaat bagi
manusia sebagai penjaga ekosistem kehidupan yang saat ini kondisinya telah
menurun akibat kebakaran hutan, illegal logging, dan proses pembangunan yang
tidak berkelanjutan.
Kebakaran hutan yang terjadi di Jambi setiap tahun merupakan ancaman
serius terhadap kelangsungan hidup masyarakat dan kelestarian lingkungan hidup
yang menyebabkan terjadinya kerugian ekonomi, sosial, budaya, pendidikan dan
juga kesehatan. Untuk mencegah hal itu semua, diperlukan payung hukum yang
dapat memberikan perlindungan kepada kehidupan masyarakat.
Peraturan daerah tentang pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan
dan lahan ini merupakan kelanjutan dari produk-produk yuridis yang pernah
dilahirkan Provinsi Jambi, seperti Perda nomor 10 tahun 2013 tentang rencana
Tata Ruang Wilayah Provinsi Jambi tahun 2013-2033.
Maksud dan tujuan ditetapkannya Perda ini, sesuai dengan Bab 2 pasal a2
adalah sebagai pedoman dalam upaya pencegahan dan pengendalian kebakaran
hutan dan lahan di Provinsi Jambi. Sedangkan tujuannya adalah untuk
memberikan kemudahan koordinasi dan pertanggung jawaban dalam rangka
pencegahan dan pengendalian kebakaran hutan dan lahan.
Dalam perda ini disebutkan secara nyata tentang pencegahan kebakaran
hutan dan lahan pasal 5, bahwa:
32

1. Setiap orang dan/atau badan hukum dilarang membuka hutan dan lahan
dengan cara membakar
2. Setiap orang yang akan membuka lahan diwajibkan melaporkan dan
memperoleh izin dari pemerintah daerah terdekat.
3. Tiap orang/atau badan hukum yang mengetahui adanya potensi kebakaran
atau terjadinya hal yang dapat menyebabkan kebakaran hutan dan lahan
wajib segera melaporkan kepada aparat pemerintah terdekat
4. Masyarakat yang berada disekitar hutan dan lahan yang rawan kebakaran
diminta siaga dan ikut berperan serta dalam melakukan upaya pencegahan
dan pengendalian terjadinya kebakaran hutan dan lahan, baik secara
perorangan maupun kelompok.

Gubernur Jambi, H. Zumi Zola, S.TP, MA menawarkan program Satu


Eskavator Satu Kecamatan, sebagai salah satu upaya untuk mencegah kebakaran
hutan dan lahan (karhutla).
Kebijakan-kebijakan tersebut diatas merupakan konsep yang menarik dan
memiliki harapan besar untuk menanggulangi permasalahan kebakaran hutan,
namun di sini pengawasan dan transparansi ke masyarakat haruslah optimal agar
tujuan yang ingin dicapai dapat diwujudkan secara efektif.

C. Mendorong Peran Perguruan Tinggi


Perguruan tinggi memiliki peran yang signifikan dalam upaya mencegah
kebakaran hutan dan lahan gambut serta pengelolaan hutan secara umum.
Sebagaimana kita ketahui dampak perubahan iklim terjadi pada banyak sektor.
antara lain; aspek Kehutanan. Akibat perubahan iklim, terjadi pergantian
beberapa spesies flora dan fauna yang ada di hutan. Selain itu, kebakaran hutan
menyebabkan punahnya berbagai keanekaragaman hayati lebih cepat.
Perubahan iklim juga memberikan dampak pada sektor Perikanan.
Peningkatan suhu air laut mengakibatkan terjadinya pemutihan terumbu karang,
dan selanjutnya matinya terumbu karang, Hal ini menyebabkan hilangnya
berbagai jenis ikan karena hilangnya akses terhadap makanan. Suhu air laut yang

33

meningkat, karena perubahan iklim juga memicu terjadinya migrasi ikan yang
sensitif.
Pada sektor Pertanian, perubahan iklim telah mempengaruhi hasil panen
dan juga kepastian terhadap akses dan ketersediaan makanan. Hal ini disebabkan
karena secara umum, semua bentuk sistem pertanian sensitif terhadap perubahan
iklim. Gagal panen yang disebabkan oleh fenomena alam el nino atau el nina telah
menyebabkan berkurangnya stok makanan setiap negera di dunia.
Sedangkan pada aspek Kesehatan. Dampak pemanasan global telah
menyebabkan meningkatnya frekuensi penyakit tropis, penyakit Infeksi Saluran
Pernafasan Akut (ISPA) juga menjadi ancaman seiring dengan terjadinya
kebakaran hutan. Selain itu, perubahan iklim juga menyebabkan terjadinya
bencana banjir yang diprediksi naik 9 kali dalam 10 tahun terakhir.
Kesepakatan COP 21 di Paris pada tahun 2016 yang lalu antara lain:
1.

Menyepakati batas kenaikan suhu rata-rata global di bawah dua derajat


celcius untuk pra-industri dan berupaya menekannya hingga suhu 1,5 derajat
celcius. Ini dianggap signifikan mengurangi risiko dampak perubahan iklim.

2.

Para pihak yang terlibat dalam menekan emisi gas rumah kaca dilakukan
secepat mungkin dengan cara mengembangkan tenologi dan menyerap
karbon. Hal ini juga harus mendung upaya pembangunan berkelanjutan dan
pemberantasan kemiskinan secara umum.
Yang bisa kita lakukan dalam rangka ikut berpartisipasi mengurangi

pemanasan global antara lain:


1. Hemat energi: kendaraan bermotor, listrik dan gas
2. Pemakaian energi alternatif: surya, angin, gelombang laut
3. Minimal kebakaran hutan dan lahan
4. Pengelolaan sampah : Reuse, Recycle dan Reduce
5. Mengurangi pemakaian CFC
6. Menanam pohon

Sebagaimana disebutkan dalam Undang-Undang Republik Indonesia


Nomor 12 tahun 2012 tentang Pendidikan Tinggi yang dimaksud dengan
pendidikan tinggi adalah jenjang pendidikan menengah yang mencakup diploma,
34

program sarjana, program magister, program doktor dan program profesi serta
program spesialis yang diselenggarkan oleh perguruan tinggi berdasarakan
kebudayaan bangsa Indonesia.
Peran perguruan tinggi dalam mencegah kebakaran hutan dan pengelolaan
hutan secara umum dapat dilakukan melalui tri dharma perguruan tinggi,
pendidikan, penelitian dan pengabdian masyarakat, Perguruan Tinggi sebagai
Pusat Pengembangan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Center of Excellent).

D. Memprakarsai Konsep Hutan Milik Masyarakat


Konsep hutan milik masyarakat adalah konsep yang menjelaskan bahwa
masyarakat seharusnya menjadi pengelola utama dan memiliki hak atas hutan,
yang mana mekanismenya terbagi sebagai berikut :

1. Melibatkan investor
Salah satu solusi pencegahan kebakaran dan pengrusakan hutan dan lahan
gambut di Provinsi Jambi adalah dengan menarik minat perusahaan bisnis untuk
membangun dan mengelola fasilitas ekowisata dalam Hutan Konservasi. Secara
UU memungkinkan pariwisata terbatas dalam hutan konservasi. Karenanya,
kerusakan hutan dapat diatasi dengan merekomendasikan untuk menarik minat
perusahaan bisnis untuk mengembangkan infrastruktur dan layanan pariwisata
yang meminimalkan dampak perusakan lingkungan seperti pemandu wisata alam,
toko souvenir, selasar, restoran, dan hotel untuk pengunjung taman.
Karena lembaga pemerintah tidak memiliki kapasitas dalam hal keahlian,
dana dan sumber daya manusia untuk mengelola pelayanan seperti itu, masuknya
perusahaan bisnis ke dalam skema ini memberikan peluang kerja tambahan bagi
masyarakat setempat di area sekitar hutan. Mereka memulai bisnis mereka sendiri,
menjadi pengantar wisata, atau dapat dipekerjakan dalam layanan tamu.
Perusahaan pariwisata juga dapat membantu untuk mengumpulkan biaya
konservasi yang dapat meningkatkan pendapatan bagi agenda konservasi
pemerintah.
Proses negosiasi kontrak jangka panjang antara pemerintah, perusahaan
bisnis dan komunitas lokal memberikan kesempatan bagi semua pihak untuk
35

menemukan penyelesaian yang mengikat secara hukum mengenai demarkasi


lahan dan lingkup kerja mereka. Hal ini akan menggerakkan proses penetapan
batas-batas taman dimana perusahaan bisnis dan komunitas dapat atau tidak dapat
beroperasi.
Kemitraan pemerintah dengan pihak swasta harus memperbolehkan
adanya berbagai operator untuk berkompetisi dalam proses pengadaan yang adil
dan transparan yang pada akhirnya akan memastikan akses terjangkau untuk
pengunjung dan kualitas jasa yang baik. Institusi pemerintah harus memiliki
tujuan konservasi dan indikator yang jelas untuk memandu negosiasi mereka
dengan perusahaan bisnis dan komunitas lokal.
Penggabungan upaya dari sektor swasta dan sektor pemerintah akan
memungkinkan penduduk setempat untuk menarik minat pengunjung ke hutan,
menciptakan peluang bisnis dan menghasilkan penghidupan dari area hutan yang
terlindungi dan dilestarikan dengan baik.

2. Memberikan hak pakai hasil (usufructuary rights) bagi koperasi


komunitas lokal untuk mengelola hutan lindung
Hutan lindung mendukung sistem ekologi untuk mencegah banjir,
mengatasi erosi dan menjaga kesuburan tanah. Untuk meningkatkan fungsi dari
hutan ini, kami menyarankan agar masyarakat setempat diberikan hak pakai hasil
atau hak kepemilikan tanah terbatas untuk mengelola sumber daya hutan tersebut.
Kebijakan beberapa negara telah menunjukan bahwa hanya dengan persepsi
bahwa petani dan penggarap lahan dapat menuai keuntungan jangka panjang dari
sumber daya hutan yang cukup untuk mendorong diterapkannya praktik-praktik
berkelanjutan yang dapat membantu mereka untuk menumbuhkan kembali
pepohonan, menghasilkan pendapatan, dan merangsang pertumbuhan ekonomi
lokal.
Penduduk setempat harus terorganisasi dalam komite yang diakui secara
hukum untuk dapat terlibat dalam pengelolaan hutan berbasis masyarakat. Sebuah
lembaga BUMDes atau Koperasi yang berbasis pedesaan dapat menjadi lembaga
pengelola hutan tersebut. Lembaga ini harus melibatkan anggota setiap rumah
36

tangga sebagai pemegang saham dan mereka akan menunjuk pemimpin


setempat untuk memandu kegiatan budidaya dan pemanenan kelompok. Menurut
UU No. 25 Tahun 1992, koperasi Indonesia merupakan badan hukum yang
anggotanya bekerja sama untuk perbaikan ekonomi mereka dan juga turut
membantu koperasi perkebunan dalam pengambilan keputusan bisnis
Koperasi BUMDes semacam ini memiliki beberapa preseden hukum di
Indonesia dalam bentuk Hutan Rakyat (community forests). Memperluas lingkup
pengelolaan hutan oleh masyarakat dapat dimulai dari komunitas yang sudah
mengelola kawasan hutan secara efisien pada basis de facto. Memberikan hak
kepemilikan tanah terbatas pada komunitas lokal membantu mereka dengan
jaminan hukum untuk mengelola dan menggunakan sumber daya hutan secara
berkesinambungan.

3. Memberikan

kepemilikan

masyarakat

atau

privatisasi

hutan

produksi
Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup

harus menjauhi

pendekatan yang melihat kawasan hutan sebagai sumber pendapatan negara.


Sebaliknya, hutan-hutan yang ditujukan untuk perkebunan kayu harusnya
dijadikan swasta atau diberikan kepada koperasi masyarakat lokal agar dapat
merangsang pertumbuhan ekonomi pedesaan. Di sini, keterlibatan koperasi
komunitas membawa tambahan manfaat yang melibatkan rumah tangga lokal
dalam nilai bruto industri untuk produk berbasis kayu, dan juga mendorong sistem
keuangan yang lebih inklusif melalui akses terhadap pelayanan keuangan.
Memberikan

komunitas

lokal

penyewaan

jangka

panjang

juga

memberikan mereka jaminan hukum atas ancaman dari pihak luar. Tingkat
kesadaran mereka lebih tinggi untuk melindungi hutan-hutan lokal. Komunitas
lokal memiliki posisi yang lebih baik dari pemerintahan pusat atau Badan Usaha
Milik Negara (BUMN) untuk membuat keputusan terkait tingkat penebangan
hutan yang baik, dan penggunaan berkelanjutan dari sumber daya hutan lainnya.
37

Dalam hal apapun, perlu diingat bahwa klasifikasi kawasan hutan yang
tepat adalah sangat penting, sama seperti upaya reformasi lainnya. Dalam kasus
hutan produksi, harus ada sistem audit lahan untuk memastikan penerapan
klasifikasi yang akurat dan tidak mencakup hutan-hutan dengan fungsi
perlindungan atau memiliki nilai konservasi yang tinggi.

38

Bab 5
Penutup

A. Kesimpulan
Hutan merupakan suatu kesatuan ekosistem berupa hamparan lahan berisi
sumber daya alam hayati, dengan didominasi pepohonan dalam persekutuan alam
lingkungannya yang satu dengan lainnya tidak dapat dipisahkan. Hutan memiliki
peran yang vital bagi manusia dan spesies lainya di muka bumi, hutan juga
memiliki klasifikasinya tersendiri, hutan diklasifikasikan mulai dari status
hukumnya, fungsinya hingga peranannya. Pengklasifikasian ini ditujukan untuk
kemudahan dalam menjaga dan mengelola hutan.
Namun pada praktiknya, walaupun telah terbagi dalam pengklasifikasian
tersebut, kadang penggunaan hutan menjadi kabur, bahkan sampai dirusak demi
mendapatkan keuntungan sebesar-besarnya. Pengrusakan itu terjadi melalui
banyak cara, salah satunya yaitu pembakaran hutan. Pembakaran hutan tersebut
tidak hanya ditujukan untuk merusak hutan, namun supaya hutan tersebut dapat
dioptimalkan lagi penggunaannya dengan motif untuk mendapatkan keuntungan
sebesar-besarnya dari perorangan maupun perusahaan. Hal ini terjadi karena
kurangnya kesadaran akan sustainable development dari pihak-pihak tersebut
dalam menjaga dan mengelola hutan.
Implikasi yang ditimbulkan dari pembakaran tersebut sangat beragam dan
dapat disimpulkan bahwa dampak-dampak tersebut memiliki konsekuensi yang
fatal terhadap ekosistem maupun terhadap makhluk hidupnya, terutama manusia.
Dampak tersebut dapat berupa dampak yang menggangu bahkan pada beberapa
level merusak kesehatan fisik maupun jiwa, ekonomi, sosial bahkan budaya.
Kerusakan hutan yang dimaksud diatas terjadi di Provinsi Jambi, dengan
kerugian yang seperti telah dipaparkan dalam tulisan ini, konsekuensikonsekuensi fatal tersebut masih berlangsung hingga kini di Provinsi Jambi.
Memang telah terdapat banyak upaya-upaya yang dilakukan oleh Pemerintah
Pusat maupun Pemerintah Daerah Provinsi Jambi, namun upaya tersebut masih
harus dioptimalkan agar kerusakan hutan yang disebabkan oleh pembakaran hutan
39

yang dimaksud dapat dikurangi, sehingga dampak negatifnya pun juga dapat
ditekan yaitu melalui; a. Kriminalisasi Terhadap Pelaku Pembakaran Hutan, b.
Optimalisasi Kebijakan Perda Kebakaran Hutan Jambi, c. Mendorong Peran Aktif
Perguruan Tinggi, d. Memprakarsai Konsep Hutan Masyarakat.

B. Saran
Penulis menyarankan kepada Pemerintah Daerah Provinsi Jambi untuk
melakukan optimalisasi program-program yang telah dijalankan dan membuat
kebijakan yang fokus memidanakan pelaku-pelaku pembakar hutan, serta mulai
memprakarsai konsep hutan masyarakat seperti yang telah dijelaskan di dalam
tulisan ini agar hal yang hendak dicapai oleh Pemerintah Daerah Provinsi Jambi
dapat secara efektif diterapkan.

40

DAFTAR PUSTAKA

Arief, Arifin. 2001. Hutan dan Kehutanan, Yogyakarta : Penerbit Kanisius.


Barber, C.V. dan James Schweithelm. 2000. Trial by Fire: Forest Fires and
Forestry Policy in Indonesias Era of Crisis and Reform, Washington DC:
World Resource Institute.
Barber, C.V. & Schweithelm, J. 2000. Trial by fire. Forest fires and forestry
policy in Indonesia's era of crisis and reform. World Resources Institute
(WRI), Forest Frontiers Initiative. In collaboration with WWF-Indonesia and
Telapak Indonesia Foundation, Washington D.C, USA.
Dennis, R.A. 1999. A review of fire projects in Indonesia 1982 - 1998. Center for
International Forestry Research, Bogor.
Friday, K.S., Drilling, M.E. & Garrity, D.P. 1999. Imperata grassland
rehabilitation

using

agroforestry

and

assisted

natural

regeneration.

International Centre for Research in Agroforestry (ICRAF), Bogor,


Indonesia.
Hutomo, Adhimas Putrastyo. 2016. Pertanggungjawaban Pidana Kejahatan
Lingkungan. Jakarta: Universitas Indonesia.
IGM,

Nurdjana.

2005.

Korupsi

dan

Illegal

Logging

Dalam

Sistem

Desentralisasi.
Yogyakarta: Yogyakarta Press.
MacKinnon, K., Hatta, G., Halim, H. & Mangalik, A. 1996. The Ecology of
Kalimantan, Periplus Editions, Singapore.
Manik, Karden Eddy Sontang. 2003. Pengelolaan Lingkungan Hidup, Jakarta :
Djambatan.
Murhaini, Suriansyah. 2012. Hukum Kehutanan (Penegakan Hukum Terhadap
Kejahatan di Bidang Kehutanan), Yogyakarta: Laksbang

Grafika,

Yogyakarta.
Moeljatno. 2008. Asas-Asas Hukum Pidana. Jakarta: Rineka Cipta, 2008.
Prodjodikoro, Wirjono. 2011. Asas-Asas Hukum Pidana di Indonesia, Bandung:
Refika Aditama.

41

Rahmadi, Takdir. 2014. Hukum Lingkungan di Indonesia. Jakarta: Rajawali Pers.


Radjagukguk, B. 2001. Perspektif permasalahan dan konsepsi pengelolaan lahan
gambut tropika untuk pertanian berkelanjutan. Pidato Pengukuhan Jabatan
Guru Besar, UGM, Yogyakarta.
Suyanto, S., Tomich, T. & Otsuka, K. (In press). Land Tenure and farm
management efficiency: The case of smallholder rubber production in
customary land areas of Sumatra. Agroforestry System.
Soemarwoto, Otto. 2001. Atur Diri Sendiri: Paradigma Baru Pengelolaan
Lingkungan Hidup, Yogayakarta : Gadjah Mada University Press.
Tuhulele, Popi. 2014. Kebakaran Hutan di Indonesia dan Proses Penegakan
Hukumnya Sebagai Komitmen dalam Mengatasi Dampak Perubahan Iklim.
Supremasi Hukum Volume 3.
Wibisana, Andri Gunawan. Penegakan Hukum Pidana Kebakaran Hutan/Lahan:
Pertanggungjawaban Pidana dan Jenis Tindak Pidana. Makalah disampaikan
pada Lokakarya dan Pelatihan Nasional tentang Penanganan Kebakaran
Hutan dan Lahan dengan Pendekatan Multidoor, Jakarta, 14-18 Maret 2016.
Wibisana, Andri Gunawan. Kejahatan Lingkungan oleh Korporasi: Mencari
Bentuk Pertanggungjawaban Korporasi dan Pemimpin/Pengurus Korporasi
Untuk Kejahatan Lingkungan di Indonesia. Dalam Jurnal Hukum dan
Pembangunan 46 2016.
Zamyatin, Yevgeny. 1976. In Old Russia, dalam The Dragon: Fifteen Stories,
diterjemahkan oleh Mirra Ginsburg. Chicago: The University of Chicago
Press.
Zipperman, Steven. 1991. The Park Doctrine: Application of Strict Criminal
Liability to Corporate Individuals for Violation of Environmental Crimes.
UCLA Journal of Environmental Law and Policy Volume 10.

42

Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 4 Tahun 2001 Tentang


Pengendalian Kerusakan dan atau Pencemaran Lingkungan Hidup yang
Berkaitan dengan Kebakaran Hutan dan atau Lahan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 41 Tahun 1999 Tentang Kehutanan.
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 18 Tahun 2004 Tentang
Perkebunan.
Peraturan Daerah Nomor Nomor 2 Tahun 2016 tentang Penanggulangan
Kebakaran Hutan dan Lahan.
Asia Now, We Are Suffocating: No Escape for the People of Jambi,
http://edition.cnn.com/ASIANOW/asiaweek/97/1010/cs2.html, diakses pada
14 Oktober 2016.
Pemerintah Provinsi Jambi, http://jambiprov.go.id/index.php?letluaswil, diakses
pada tanggal 28 Oktober 2016.
Transparency International, http://www.ti.or.id/index.php/priority/2015 /11 /18 /
dinas-kehutanan-provinsi-jambi, diakses pada tanggal 28 Oktober 2016.

43

44

Anda mungkin juga menyukai