Anda di halaman 1dari 52

Kajian Kebijakan

RISALAH RIMBA RIAU


DAN MASA DEPAN
HUTAN INDONESIA
Gracia Paramitha, S.Hub.Int., M.Si.

Diterbitkan oleh :
Friedrich Naumann Stiftung fr the Freiheit
Freedom Institute

Kajian Kebijakan

RISALAH RIMBA RIAU DAN


MASA DEPAN HUTAN
INDONESIA
Gracia Paramitha, S.Hub.Int., M.Si.

Diterbitkan oleh :
Friedrich Naumann Stiftung fr the Freiheit
Freedom Institute

RISALAH RIMBA RIAU DAN MASA DEPAN


HUTAN INDONESIA
Gracia Paramitha, S.Hub.Int., M.Si.
ISBN : 978-979-1157-43-8
Supervisi Penerbitan Indra Kusuma
Editor, Layout & Cover Fadly Noor M. Azizi
Cetakan Pertama : November, 2016
Diterbitkan atas kerjasama :
Friedrich-Naumann-Stiftung fr die Freiheit
Jl. Kertanegara No. 51, Kebayoran Baru
Jakarta 12110 Indonesia
Tel: (021) 725 6012/13
Website: indonesia.fnst.org
Email: jakarta@fnst.org
Freedom Institute
Website: freedom-institute.org
Email: office@freedom-institute.org

DAFTAR ISI

LATAR BELAKANG DAN METODE PENULISAN .. 1


Pengantar . 1
Metode Penulisan ... 6
RISALAH RIMBA RIAU DAN MASA DEPAN HUTAN
INDONESIA . 11
Hutan dan Kabut Asap di Riau .. 11
Peran dan Pengaruh Tatanan Global, Pemerintah Indonesia
dan ASEAN terhadap Kabut Asap ... 14
Tantangan Birokrasi Indonesia terhadap Kabut Asap . 17
Pengaruh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM) ... 19
Pengaruh dan Respon Kritis Masyarakat Transnasional
terhadap Kebijakan Kehutanan 21
Implikasi Boomerang Pattern Theory terhadap Jejaring
Masyarakat Transnasional .. 23
Jejaring dan Solidaritas Masyarakat : Studi Kasus
Rimba Baling .. 30
Tata Kelola dan Masa Depan Hutan di Indonesia . 32
DAFTAR PUSTAKA 38
SEKILAS TENTANG PENULIS 42

iv

LATAR BELAKANG
DAN METODE PENULISAN

Pengantar
Kekuatan terbesar di Indonesia sebenarnya ada di kekayaan
alamnya yang berlimpah. Salah satunya ialah hutan tropis terluas
ketiga di dunia, yang juga sebagai paru-paru dunia, setelah Brazil
dan Kongo. Menurut catatan Bank Dunia, hutan Indonesia
memiliki keanekaragaman hayati yang begitu tinggi, yaitu 17
persen dari spesies burung, 16 persen reptil dan hewan amfibi, 12
persen mamalia dan 10 persen tumbuhan di dunia. Peran hutan
menjadi lebih penting lagi dalam kebijakan perubahan iklim di
Indonesia. Hutan menutupi antara 86-93 juta hektar, atau
hampir setengah total wilayah daratan negara Indonesia. Hasil
hutan kayu, hasil hutan bukan kayu (HHBK) dan jasa lingkungan
merupakan kontribusi penting dari hutan terhadap pembangunan
di Indonesia selama ini.
Namun, kelimpahan sumber kehutanan ini tidak disertai
dengan kepedulian dan pelestarian yang kuat. Banyaknya
degradasi hutan hingga mencapai 59,62 juta hektar turut
melemahkan kekuatan hutan Indonesia yang semakin rapuh.
Menurut situs Mongabay, Indonesia telah mengalami deforestasi
terhebat sejak tahun 1990 yang disebabkan oleh illegal logging,
produksi pulp dan kertas, kebakaran hutan, dan implan kelapa
1

sawit. Laju degradasi hutan di Indonesia pada periode 1982-1990


mencapai 0,9 juta hektar per tahun. Memasuki periode 1990-1997
telah mencapai 1,8 juta hektar per tahun dan meningkat pada
periode 1997-2000, di mana kerusakan hutan mencapai 2,83 juta
hektar per tahun. Kabut asap hasil pembakaran hutan maupun
kegiatan degradasi hutan lainnya pun turut menyumbang 20%
emisi karbon di dunia. Bahkan, tingginya tingkat emisi karbon
yang

dihasilkan

oleh

hutan

primer

dan

gambut

telah

menyumbang emisi sebesar 75% dari seluruh total gas rumah


kaca

di

Indonesia

(http://news.mongabay.com/2013/0412-

dparker-moratorium-confusion.html#0PBxRzs2IAFJEMys.99,
diakses tanggal 20 September 2016).
Dengan adanya kasus di atas, maka pemerintah Indonesia
berinisiatif

untuk

menjadi

leading

agency

dalam

kasus

deforestasi yang akhirnya berhasil merumuskan konsep Reducing


Emission from Deforestation and forest Degradation (REDD)
pada saat Conference of Parties ke-13 atau COP 13 United
Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC)
yang diselenggarakan di Bali pada bulan Desember 2007.

Kegiatan yang diprakarsai oleh pemerintah Indonesia secara


global ini mampu memberikan kontribusi baru dalam melakukan
tindakan mitigasi perubahan iklim dunia. Bahkan, dua tahun
berikutnya di tahun 2009 mulai dikenal REDD+ karena
mencakup:

penerapan

pengelolaan

hutan

berkelanjutan,

pengakuan atas pentingnya peranan konservasi, pengayaan


1 Decision 2/CP 13. Reducing Emissions from Deforestation in Developing
Countries; Pendekatan yang Menstimulus Tindakan Nyata. Keterangan
selanjutnya, bisa buka di website http://www.unfccc.int, lalu cari dokumen:
FCCC/CP/2007/6/Add.1 hal 8-11.

simpanan karbon. REDD+ mengandung gagasan yang secara


khusus dimaksudkan untuk mewujudkan pemberian kompensasi
oleh negara maju kepada negara berkembang pemilik hutan yang
berhasil menurunkan emisinya. Pembayaran kompensasi untuk
kegiatan REDD+ bisa diberikan kepada: pemerintah, pengusaha,
komunitas, dan juga individu. REDD+ merupakan suatu
paradigma tata kelola lahan yang berkembang untuk memastikan
agar pembangunan berbasis lahan di Indonesia terwujud sesuai
dengan kaidah kaidah ekonomi hijau yang berkesinambungan
dan berkeadilan sosial (http://www.satgasreddplus.org/satgasredd/mengenai-satgas-redd, diakses tanggal 19 September
2016).
Selain itu, secara politik pemerintah Indonesia juga
memutuskan untuk menanggulangi deforestasi melalui komitmen
untuk menurunkan emisi sebesar 26% dari business as usual
(BAU) di tahun 2020 dan sebesar 41% jika mendapat dukungan
atau bantuan internasional. Angka tersebut disampaikan oleh
Presiden Indonesia saat pertemuan G20 pada bulan September
tahun 2009 lalu. Keuntungan internasional yang didapat dari
politik luar negeri Indonesia ini ialah bantuan internasional dari
pemerintah Norwegia yang ingin mengembangkan REDD+
sebesar USD 1 milliar. Pada tanggal 26 Mei 2010, pemerintah
Indonesia dan Kerajaan Norwegia telah menandatangani Letter
of Intent (LoI)

untuk

REDD+ yang mencakup:

adanya

pengembangan strategi nasional REDD+, mendirikan agen atau


badan

untuk

mengembangkan

mengimplementasikan
pelaksanaan

instrument

REDD+,
kebijakan

serta
dan

kapabilitas mengenai 2 tahun moratorium kehutanan terhadap


3

konversi lahan gambut dan area hutan primer.2


Berkaitan dengan penanggulangan deforestasi ataupun
konsep REDD, ada tindakan pemerintah Indonesia yang patut
diperhatikan saat ini yaitu moratorium kehutanan. Alasan yang
mendasari tindakan moratorium kehutanan ialah persepsi hutan
yang menjadi common property dan dapat menimbulkan tragedy
of common jika tidak dilestarikan dan diregulasi dengan baik.
Moratorium hutan Indonesia artinya tindakan penundaan atau
menghentikan

sementara setiap

aktivitas

deforestasi

atau

degradasi hutan pada lahan gambut dan area hutan primer.


Moratorium ini dicanangkan oleh Presiden SBY melalui Instruksi
Presiden (Inpres) No.10/2011 mengenai penundaan izin tebang
hutan sementara selama dua tahun hingga berakhir 20 Mei 2013.
Efektivitas tindakan moratorium ini terlihat dalam inisiatif
kebijakan satu peta yang disebut Indicative Moratorium Map
(IMM), yang diketuai oleh tim Unit Kepresidenan bidang
Pengawasan dan Pengendalian Pembangunan (UKP4) beserta
beberapa Kementerian terkait. Peta moratorium pun direvisi
setiap 6 bulan berdasarkan ground-truthing survey seperti
misalnya dari bulan Mei 2011 jumlah lahan sebesar 69.144.073
hektar hutan berkurang menjadi 65.282.006 ha di bulan Mei
tahun 2012 (http://news.mongabay.com/2013/0412-dparkermoratorium-confusion.html#0PBxRzs2IAFJEMys.99.

Diakses

tanggal 22 Mei 2013). Melalui moratorium hutan menjadi

2
http://www.norway.or.id/PageFiles/404362/Letter_of_Inten_Norway_
Indonesia_26_May_2010.pdf. Buku lain yang membahas REDD+ Indonesia dan
Norwegia ialah Buku Kerajaan Norwegia yang berjudul Norway and Indonesia: A
Strategic Partnership. Diakses tanggal 22 Mei 2013.

langkah

awal

meningkatkan

kerangka

ketatapemerintahan

(governance framework) di sektor kehutanan dan agraria,


sehingga akhirnya kelestarian hutan Indonesia tetap terjaga.
Peningkatan good governance di sektor kehutanan juga menjadi
kunci utama untuk mencegah konflik di masyarakat. Selama ini
alih fungsi lahan hutan menjadi perkebunan seperti sawit telah
menimbulkan dampak sosial konflik di masyarakat. Penyelesaian
konflik sosial tersebut, adalah upaya utama untuk menjaga
keutuhan dan keamanan wilayah (Dody, 2013).
Namun, konsistensi pemerintah terhadap perlindungan dan
penegakkan hukum atas kerusakan hutan tidak berkunjung lama.
Adanya krisis kepemimpinan yang terbelit kasus korupsi, motif
ekonomi, serta kurangnya transparansi izin usaha ataupun
pengelolaan kelapa sawit secara terpadu menjadi permasalahan
pelik provinsi Riau, hingga mengalami kabut asap sekitar dua
dekade.

Masyarakat

sipil

pun

tidak

lagi

berniat

untuk

menyelamatkan diri lalu peduli untuk tidak membakar hutan


secara semabarangan. Lahan hutan lindung yang makin tipis,
kerusakan habitat dan punahnya habitat orang utan akibat
dianggap sebagai hama bagi perkebunana kelapa sawit, serta
geramnya negara tetangga seperti Singapura dan Malaysia kini
menjadi persoalan umum yang terus diterima oleh masyarakat
Riau. Perjanjian global dan inisiatif hebat yang dilakukan oleh
pemerintah

Indonesia

beserta

komunitas

internasional

nampaknya tidak berbanding lurus dengan kondisi realistis yang


ada di daerah. Disparitas sosial lingkungan ini kian nyata ketika
perjanjian ASEAN untuk menanggulangi kabut asap tidak
kunjung ditandatangani oleh Indonesia. Sedangkan pihak swasta
5

daerah Riau semakin lincah menggerakkan masyarakat untuk


mengelola perkebunan kelapa sawit, mengalihfungsikan hutan,
dan menenggelamkan esensi dasar keberadaan hutan bagi
ekosistem Riau. Apakah deforestasi tidak akan berakhir dan kian
drastis layaknya penyakit kanker? Atau sebenarnya masih ada
aktor

non-negara

yang

mau

berjuang

dan

meyakinkan

pemerintah daerah untuk kembali konsisten terhadap upaya


positif terhadap masa depan hutan? Kajian ini dibuat untuk
melihat peran

penting aktor non

negara yang semakin

berpengaruh dalam kebijakan pemerintah, khususnya di daerah.


Hal ini pula yang menjadi perhatian utama penulis yang dijadikan
masukan bagi para pelaku kebijakan dan pemangku kepentingan
di Riau.

Metode Penulisan
Tulisan ini dibuat berdasarkan hasil studi pustaka dari
berbagai sumber, yakni: jurnal, skripsi dan tesis mahasiswa, serta
publikasi-publikasi ilmiah lainnya. Selain itu, ada juga beberapa
hasil observasi penulis selama berada di Riau, khususnya saat
kabut asap terjadi di tahun 2013 dan kegiatan masyarakat di
Rimba Baling pada bulan Agustus 2016 lalu. Adapun kerangka
pemikiran dari kajian kebijakan ini, yakni

transnational

advocacy network.
Konsep jejaring advokasi transnasional

(transnational

advocacy Network) sebenarnya merupakan turunan praktis dari


pandangan teori kritis, yang memperjuangkan hak-hak, keadilan,
6

dan kesejahteraan sosial seluruh masyarakat global dalam


harmonisasi

pembangunan.

Bentuk

jaringan

advokat

transnasional ini lebih menjelaskan tentang peran masyarakat


transnasional dalam menukarkan informasi antar partisipan, baik
antar masyarakat sipil itu sendiri secara internal maupun
masyarakat dengan negara ataupun pasar secara eksternal.
Penulis memasukkan konsep jaringan advokasi transnasional
karena ingin memfokuskan signifikansi masyarakat transnasional
dalam mengadvokasi struktur, ide, nilai penting demi terciptanya
perubahan progresif rezim lingkungan global. Advokasi yang
dimaksud

tidak

terbatas

pada

partisipasi

masyarakat

transnasional dalam menyuarakan kritik dan masukannya dalam


negosiasi lingkungan global, tetapi diharapkan dapat melibatkan
diri dalam proses pengambilan keputusan (voting) dan evaluasi
kebijakan.
Adapun pola menarik yang bisa dipelajari gerakan advokasi
transnasional ini yaitu boomerang pattern of the network.
Gerakan tersebut melibatkan kelompok domestik dan aliansi
internasional untuk membawa tekanan atau desakan kepada
pemerintah

untuk

merubah

praktik-praktik

domestik,

menyediakan informasi yang kontradiktif dengan negara dan


merefleksikan kekurangan atau kegagalan pemerintah dalam
mengatasi permasalahan sosial (Keck & Sikkink, 1998). Jika
dikaitkan

dengan

transnasional

rezim

mampu

lingkungan

menuangkan

global,

ide

masyarakat

kritisnya

kepada

pemerintah suatu negara lalu mengkoneksikannya dengan cepat


melalui jaringan telekomunikasi mutakhir, media sosial, internet,
ataupun blog untuk membentuk konsolidasi antar masyarakat
7

sipil dan menggabungkannya menjadi suara global di forum


lingkungan internasional. Jejaring yang dibawa oleh kelompok ini
kadang tidak dapat terdeteksi karena menggunakan kecanggihan
alat komunikasi, transportasi, maupun teknologi informasi
lainnya.
Sedangkan
agregasi

antara

John

Meyer (1987)

jaringan

advokasi

menunjukkan

adanya

transnasional

dengan

konsepnya yaitu world polity theory, yakni nilai budaya dunia


yang berperan krusial dalam mengkonsitusi aksi, karakter, dan
interaksi negara. Pemikiran tersebut lebih mencondongkan
pentingnya budaya dunia bagi keberlangsungan koalisi advokat
transnasional untuk menyamakan perjuangan, visi, ataupun
tujuan yang dibangun bersama. Semakin solid jaringan tersebut,
semakin mudah masyarakat transnasional untuk mendesak,
menuntut, dan memperjuangkan haknya di hadapan aktor
negosiasi lingkungan global.
Satu argumen tambahan dari Andrew Hurrel (1995) yang
menyatakan

bahwa politik

dari

masyarakat

transnasional

merupakan sentralitas tentang bagaimana sekelompok tertentu


muncul, berkembang, dan terlegitimasi (baik oleh pemerintah,
institusi, ataupun kelompok-kelompok tertentu). Artinya, posisi
dan keberadaan masyarakat transnasional saat ini merupakan inti
dari pembangunan masa depan, yang harus didukung oleh aktor
lainnya

seperti

negara

dan

masyarakat.

Perhatian

akan

pergerakan masyarakat transnasional dalam rezim lingkungan


global pun menjadi suatu pandangan alternatif bahwa masyarakat

bertumbuh cepat dan turut andil dalam setiap dinamika politik


internasional yang terjadi.
Jika dikaitkan dengan konteks permasalahan hutan di Riau,
karakteristik masyarakat daerah tersebut lebih cenderung
kombinasi antara world polity theory yang ditunjukkan oleh
John Meyer (1987) dan sentralitas dari masyarakat transnasional
oleh Hurrel (1995). Hal ini terlihat dari banyaknya peneliti,
akademisi, organisasi seperti Save Orang Utan atau lembaga
jejaring lingkungan internasional lainnya terus berupaya dan
konsisten dalam menyelematkan kelestarian hutan. Tidak hanya
bergerak dari bantuan asing, kehadiran dan perjuangan Aliansi
Masyarakat Adat Nusantara (AMAN) dan eksistensi WALHI
sebagai advokat utama dalam penegakan lingkungan hidup di
Indonesia membuktikan bahwa masyarakat lokal turut andil dan
menjadi motor perubahan yang berdampak bagi jejaring
internasionalnya, tanpa menunggu keputusan dan tindak lanjut
pemerintah Riau.

10

RISALAH RIMBA RIAU


DAN MASA DEPAN HUTAN INDONESIA
Hutan dan Kabut Asap di Riau
Riau memiliki kawasan hutan sebesar 5.499 .693 hektar,
yang dibagi menjadi beberapa bagian: (a) Kawasan Suaka Alam
(KSA)/Kawasan Pelestarian Alam (KPA), Taman Buru seluas
633.420 hektar; (b) Kawasan Hutan Lindung (HL) , seluas
234.015 hektar; (c) Kawasan Hutan Produksi Terbatas (HPT),
seluas 1.031.600 hektar (http://www.hutanriau.org/dataset/
sk878menhut-ii2014, diakses tanggal 23 September 2016).
Namun, angka ini tidak selamanya membahagiakan masyarakat
Riau. Perkebunan kelapa sawit yang semakin besar jumlahnya
terus menggerus unsur ekologis alam rimba di Riau. Berikut data
presentasi luas lahan kritis di Riau:

Gambar 1
Persentase Luas Lahan Kritis Terhadap Luas Wilayah, dari Perkembangan
Pembangunan Provinsi Riau 2014, 2015 (Marinna, 2016)

11

Luas Areal Tanaman Kelapa Sawit, Kelapa


dan Karet Tahun 2010-2014 Provinsi Riau
10,000,000
8,000,000
6,000,000
4,000,000
2,000,000
-

2010

2011

2012

2013

2014

sawit 6,293,

7,047,

7,343,

7,570,

7,761,

Gambar 2
Luas Areal Tanaman Kelapa Sawit, Kelapa dan Karet Tahun 2010-2014
Provinsi Riau (Marina, 2016)

Berdasarkan data di atas, telah menunjukkan bahwa Riau


telah mengalami pergantian fungsi lahan hutan sejak lama.
Bahkan, Riau mendapat kategori lahan sangat kritis tertinggi
dengan pertambahan sawit yang melebihi 100.000 hektar/tahun.
Perhitungan krusial ini semakin lengkap dengan adanya data
yang telah dibuat oleh WRI Indonesia dengan Global Forest
Watch mengenai titik api Sumatra sejak tahun 2013:

Gambar 3
Titik Api di Sumatra sejak tahun 2013-2014

12

Jika mengacu pada gambar di atas, telah terbukti bahwa


hutan Indonesia sangat drastis penurunan fungsinya, dan
semakin signifikan karena adanya jumlah pergantian lahan
menjadi kelapa sawit yang kian meroket. Upaya moratorium yang
dilakukan pemerintah di tahun ini pun tidak serta merta
menghentikan aksi ilegal pembalakan liar ataupun pembakaran
sebagai deforestasi paling akut. Teguh Surya (2016) menyatakan
bahwa setidaknya ada 3 asumsi yang melatarbelakangi aksi
kebakaran tersebut, antara lain: kurangnya informasi dan sumber
daya untuk menanggulangi bencana di era 1980; belum
memadainya kapasitas sumber daya di tahun 1990; serta
minimnya

komitmen

akan

teknologi

yang

membantu

penganggulangan risiko deforestasi di tahun 2000an. Bahkan,


masalah anggaran kerapkali menjadi faktor andalan tidak
selesainya usaha pengurangan dan pemusnahan kabut asap di
Riau.
Greenpeace

sebagai

organisasi

lingkungan

hidup

internasinoal telah berinisiatif meluncurkan platform peta online


yang disebut peta kepo di tanggal 15 Maret 2016. Organisasi yang
telah lama memiliki jejaring internasional ini juga mendesak
pemerintah untuk menyelesaikan permasalahan deforestasi ini
secara serius, khususnya sejak dibuatnya regulasi PP No.71 Tahun
2014. Dengan demikian, perubahan data terbaru mengenai kasus
kabut asap dan kerusakan hutan di Riau semakin terbuka dan
mengikuti waktu terkini, semakin mudah dipantau dan diakses
oleh berbagai kalangan masyarakat.

13

Peran dan Pengaruh Tatanan Global, Pemerintah


Indonesia dan ASEAN terhadap Kabut Asap
Greenpeace juga menyatakan bahwa lebih dari 7 juta hektar
hutan rusak di tahun 1997. Dengan dasar inilah perlu dilakukan
program pengendalian laju deforestasi, atau yang dikenal dengan
sebutan REDD. Program yang menjadi agenda penting bagi
Indonesia ini berlangsung sejak tahun 2009 dan mendapat
bantuan sebesar 1 miliar dollar AS dari Pemerintah Norwegia.
Menanggapi hal tersebut, WALHI menganggap bahwa REDD
gagal menangani isu konsumsi berlebihan, yang merupakan salah
satu pendorong utama deforestasi. Masalah hak-hak karbon
masih belum terpecahkan di Indonesia, yang merupakan
kekhawatiran, mengingat hak-hak masyarakat adat tidak diakui
secara kuat dalam hukum di Indonesia. WALHI menganggap
persetujuan atas dasar informasi awal tanpa paksaan hal yang
sangat penting dalam REDD.
Bank Dunia memiliki pandangan lain mengenai deforestasi.
Peran Indonesia melalui REDD dilihat Bank Dunia sebagai
konsultasi atas dasar informasi awal secara sukarela mengenai
Fasilitas Kerja sama Karbon Hutan, Program Investasi Hutan,
Fasilitas Lingkungan Hidup Global, dan Program Kehutanan
Berkelanjutan

dari

Korporasi

Keuangan

Internasional.

Greenpeace sendiri menjadi penengah di antara perdebatan


REDD

dengan

moratorium

sejumlah

yang

tersistem

persyaratan,
dan

yakni

terkendali

pengadaan

dengan

baik

(http://www.down-toearth-indonesia.org/id/story/aktoraktor-redd-di-indo-nesia-sepuluh-wawancara. Diakses tanggal


20 September 2015).
14

Peran dan kontribusi pemerintah mengenai deforestasi juga


terlihat dalam keputusan pemerintah dalam menandatangani
ASEAN Agreement on Transboundary Haze Pollution (AATHP)
pada 2013. Secara umum, Indonesia akan memperoleh manfaat
yang besar setelah mengesahkan AATHP. Pertama, sebagai
negara Pihak dalam AATHP, Indonesia akan memainkan peran
penting

dalam

pengambilan

keputusan

dan

ikut

aktif

mengarahkan keputusan ASEAN dalam pengendalian kebakaran


lahan dan/atau hutan. Kedua, melalui berbagai kegiatan
peningkatan kapasitas dalam kerangka AATHP, Indonesia dapat
lebih baik melindungi masyarakat Indonesia dari dampak negatif
kebakaran

lahan

dan/atau

kesehatan

manusia,

hutan

mengganggu

yang dapat merugikan


sendi-sendi

kehidupan

masyarakat dalam bidang sosial dan ekonomi, serta menurunkan


kualitas lingkungan hidup. Ketiga, melindungi kekayaan sumber
daya lahan dan hutan dari bencana kebakaran lahan dan/atau
hutan. Keempat, memberikan kontribusi positif terkait upaya
pengendalian

kebakaran

lahan

dan/atau

hutan

yang

menyebabkan pencemaran asap lintas batas, seperti:


1)

Penguatan regulasi dan kebijakan nasional;

2) Pemanfaatan sumber daya di negara asean dan di luar


negara asean;
3) Penguatan

manajemen

dan

kemampuan

teknis

pengendalian kebakaran lahan dan/atau hutan yang


menyebabkan pencemaran asap lintas batas.
Pengesahan AATHP ini merupakan langkah yang tepat bagi
Indonesia untuk menunjukkan keseriusan dalam penanggulangan
15

asap lintas batas akibat dari kebakaran lahan dan/atau hutan.


Selama

ini,

serangkaian
kebakaran

Pemerintah

kegiatan
lahan

Indonesia

pencegahan

dan/atau

telah

dan

hutan.

melakukan

penanggulangan

Indonesia

pun

telah

meratifikasi Piagam ASEAN (ASEAN Charter) melalui Undangundang Nomor 38 Tahun 2008. UU ini yang menjadi payung
hukum bagi berbagai perjanjian kerja sama di tingkat ASEAN,
termasuk AATHP.
Melalui pengesahan Persetujuan ASEAN ini, Indonesia,
sebagai negara dengan luas lahan dan hutan terbesar di kawasan,
akan

bekerjasama

dalam

kerangka

ASEAN

dan

dapat

memanfaatkan bantuan internasional guna meningkatkan upaya


pengendalian

kebakaran

lahan

dan/atau

hutan

yang

menyebabkan pencemaran asap lintas-batas. Dari sisi regulasi


nasional,

Indonesia

telah

memiliki

perangkat

peraturan

perundang-undangan yang mendukung ke arah pencapaian misi


tersebut. Perangkat regulasi ini terdiri atas (Kambuaya, 2014):
1) Undang-Undang Nomor 41 Tahun 1999 tentang
Kehutanan;
2) Undang-Undang Nomor 18 Tahun 2004 tentang
Perkebunan;
3) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 2009 tentang Metereologi, Klimatologi, dan Geofisika;
4) dan Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2009 tentang
Perlindungan dan Pengelolaan Lingkungan Hidup.

16

Tantangan Birokrasi Indonesia terhadap


Kabut Asap
Kontribusi Indonesia dalam AATHP tidak serta merta
memberikan dampak nyata bagi masyarakat Riau. Hal ini terlihat
dari hasil penelitian Hutami (2014) yang menyatakan bahwa
ASEAN Agreement On Transboundary Haze Pollution (AATHP)
tidak efektif dalam menangani masalah polusi asap lintas batas di
Asia Tenggara karena struktur masalah yang menjadi fokus
AATHP merupakan masalah yang bersifat malign, sedangkan di
dalam

kapasitas

penyelesaian

masalahnya

tidak

mampu

mengatasi masalah. Pada penelitian, problem malignancy


terpenuhi dua indikator yaitu asymmetry dan cumulative
cleavages. Sedangkan pada problem solving capacity hanya
terpenuhi satu indikator yaitu distribution of power. Keadaan
inilah yang menyebabkan AATHP menjadi tidak efektif karena
kemampuan menyelesaikan masalah yang di miliki oleh negaranegara milik ASEAN tidak mampu mengatasi masalah polusi asap
yang menjadi fokus dari AATHP (Halim, 2016).
Adanya rentang waktu yang jauh antara kasus kabut asap
sejak tahun 1997 dan pembuatan perjanjian AATHP tahun 2002
sebenaranya menjadi bumerang bagi negara ASEAN sendiri.
AATHP tidak memiliki kekuasaan yang kuat dan mengikat karena
semakin latennya kasus kebakaran hutan di Riau tanpa solusi
praktis dan cepat. Sejak tahun 2003 hingga 2015, polusi asap
lintas batas telah melingkupi area Myanmar, Laos, Thailand,
Brunei Darussalam, Malaysia, dan Singapura. Hal ini diperkuat
dengan temuan Arisandi (2014), bahwa faktor internal dan
eksternal

telah

mempengaruhi

lambatnya

negosiasi

yang
17

dilakukan Indonesia dalam meratifikasi AATHP. Penundaan


ratifikasi dilakukan bukan tanpa dasar, melainkan adanya
kepentingan ekonomi di sektor perkebunan sawit dan dinamika
politik domestik yang menghasilkan ketidaksepakatan di tingkat
Parlemen Indonesia.
Kepentingan pemerintah daerah sendiri telah terbelenggu
oleh arus korupsi yang merajalela hingga KPK memutuskan
Gubernur Riau sejak tahun 1998-2016 sebagai tersangka korupsi
yang mengakibatkan kerugian negara yang begitu besar dan
dampak lingkungan akibat kabut asap. Saleh Djasit sebagai
Gubernur Riau tahun 1998-2003 tersandung korupsi pengadaan
mobil pemadam kebakaran dan merugikan anggaran negara
sebesar 4, 719 miliar rupiah. Selanjutnya Gubernur Rusli Zainal
untuk Riau di tahun 2003-2013 menjadi tersangka korupsi PON
Riau dan kehutanan. Hukuman penjara selama 14 tahun serta
denda sebesar 1 miliar rupiah harus dijalankan oleh Rusli Zainal.
Kepemimpinan provinsi Riau semakin diragukan dengan
tersandungnya Annas Maamun akibat ulah korupsi kasus suap
alih fungsi lahan. KPK telah menjatuhkan hukuman bagi mantan
Bupati Rokan Hilir (Rohil) tahun 2006-2016 ini berupa 7 tahun
penjara

dan

denda

200

juta

rupiah

(http://www.

riauonline.co.id/2016/06/09/inilah-10-kepala-daerah-di-riautersangkut-kasus-korupsi, diakses tanggal 23 September 2016).


Annas Maamun juga terseret sebagai tersangka dalam kasus suap
pembahasan APBD dan RAPBD Riau. Annas terbilang gubernur
tersingkat selama menjabat di Riau. Ketiga kasus ini telah nyata

18

bahwa Riau membutuhkan figur politik yang bersih dan jauh dari
kepentingan pribadi.

Pengaruh Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM)


Kebijakan hutan di Riau membutuhkan bantuan aktor nonnegara. Beragamnya aktor non-negara telah disatukan oleh
kesamaan upaya untuk membuat peraturan transnasional.
Pembuatan peraturan transnasional (transnational rule-making)
berupa proses berkumpulnya anjuran perilaku (behavioral
prescriptions) yang dapat diimplementasikan di berbagai negara
(Dingwerth and Pattberg, 2009). Ciri khas aktor negara terletak
pada unsur sukarela (voluntary). Paksaan sangat dihindari oleh
tata kelola aktor non-negara dalam memanuver pergerakanannya
dengan masyarakat luas.
Akan tetapi, kadangkala beberapa aktor non negara memiliki
tingkat perbedaan partisipasi dan pembuatan keputusan. Bahkan,
seringkali aktor non negara hanya berada pada level representasi
dan

absensi

kehadiran

dalam

forum-forum

lingkungan

internasional, tanpa ada tindak lanjut dan akses langsung ke


pemerintah lokal maupun nasional. Salah satu aktor non-negara
yang berperan penting dalam tata kelola hutan secara khusus
adalah Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM). Thomas Princen
(1994) menyatakan bahwa isu lingkungan hidup sangat kompleks
dan multidimensional sehingga memerlukan peran penting dari
aktor non-negara, terutama dari kalangan Lembaga Swadaya
Masyarakat (LSM). Adanya dikotomi pendekatan top down
(elitis, state centric, trade oriented, powerful finance) dan
19

bottom

up

(participatory

decision

making,

grass

roots

organizing) telah meyakinkan Princen bahwa peran LSM justru


mengkombinasi kedua pendekatan tersebut di mana LSM turut
hadir dan berpartisipasi dalam pengambilan keputusan yang
ditandai dengan adanya poin-poin yang dicapai LSM di dalam
hasil perundingan, serta fungsi praktikal dari LSM itu sendiri
yang langsung bergerak ke masyarakat secara konkrit dan
menekankan grass-roots organizing dengan local self-reliance
(Princen, 1994).
Sedangkan Michele M. Betsill (2001) menjelaskan bahwa
meningkatnya isu lingkungan hidup ke dalam tatanan global
turut mempengaruhi tingkat minat masyarakat dunia, khususnya
jumlah organisasi atau kelompok masyarakat sipil seperti LSM.
Pemicu utama dari meningkatnya jumlah tersebut didasari oleh
pengaruh

LSM

terhadap

keputusan

pemerintah

untuk

mengembangkan kebijakan domestik dalam melindungi kekayaan


alam dan menegosiasikan perjanjian internasional, termasuk
bagaimana seorang individu bergulat atau menanggulangi
masalah lingkungan. Pengaruh LSM ini semakin penting ketika
negosiasi internasional bidang lingkungan hidup secara sengaja
terjadi untuk mentransmit informasi ke negosiator yang
mensinyalir proses negosiasi dan hasil yang ditimbulkan. Tesis
dari tulisan Betsill ialah semakin banyaknya jumlah, baik secara
kualitas maupun kuantitas, LSM lingkungan yang bermain di
arena negosiasi lingkungan internasional.
Cara tercepat agar LSM dapat berpengaruh ialah peran aktif
LSM dalam aktivitas negosiasi lingkungan internasional. Secara
20

kolektif, bukti aktivitas dan pengaruh penting LSM tercermin


dalam akses mereka untuk bernegosiasi dan memanfaatkan
secara strategis sumber daya yang ada dan berlaku dalam
negosiasi atau politik lingkungan global. Spesialisasi LSM dalam
negosiasi lingkungan internasional ialah keahlian mereka untuk
memodifikasi aksi yang dilakukan oleh negara atau pengambil
keputusan dari pemerintah dengan cara mengkritisi konsep dari
kepentingan mereka, yang dirangkum menjadi 2 poin utama
yakni: (1) the intentional transmission of information, and (2)
alterations in behavior in response to that information. Dalam
hal ini, informasi sangatlah penting bahkan menjadi kunci utama
untuk

memicu

terbentuknya perjanjian internasional dan

berperan efektif dalam perundingan tersebut.

Pengaruh dan Respon Kritis Masyarakat Transnasional


Terhadap Kebijakan Kehutanan
Sebelum membahas lebih jauh keterkaitan masyarakat
transnasional terhadap isu kehutanan, ada sejumlah program dari
masyarakat bekerjasama dengan pemerintah (dalam hal ini
Satuan Tugas REDD+) dalam melestarikan hutan. Kalimantan
Tengah merupakan daerah percontohan yang ditunjuk oleh
pemerintah Indonesia untuk melaksanakan praktik REDD+.
Sebanyak 38 proyek yang sudah dikerjakan oleh pemerintah
daerah Kalimanatan Tengah, di antaranya ialah: pelatihan
penanggulangan

kebakaran

hutan

berbasis

masyarakat

(Community Based Forest Fire Management) di 15 desa dari 5


kabupaten dan kota. Selain itu memfasilitasi kegiatan pendidikan
21

untuk pembangunan berkelanjutan (Education for Sustainable


Development) di 120 sekolah, pelatihan Jurnalisme Warga
(Citizen Journalism) bagi 2 lembaga mitra, yaitu AMAN dan
PNPM

Mandiri

Pedesaan.

Proyek

lainnya

yang

sedang

dikembangkan adalah program Desa Hijau (Green Village),


sebagai suatu inisiatif untuk menopang keberlanjutan proyekproyek yang telah dan sedang berlangsung serta memperkuat
inisiatif REDD+ yang telah ada di masyarakat (Laporan
Sekretariat

Bersama

REDD+

Kalimantan

Tengah,

2012).

Informasi Kegiatan ini berisi gambaran umum proyek-proyek


berbasis masyarakat yang telah dan sedang dilaksanakan.
Badan Kerja Sama Antar Desa (BKAD) Jabiren Raya
merupakan lembaga masyarakat yang dibina oleh PNPM Mandiri
Pedesaan yang terpilih sebagai salah satu pelaksana Proyek
Khusus eks-Pengembangan Lahan Gambut (PLG). Lembaga ini
melaksanakan kegiatan pelatihan penganyaman rotan kepada
kelompok perempuan di Desa Henda, Kecamatan Jabiren Raya,
Pulang Pisau. 52 orang anggota kelompok perempuan di Desa
Henda, yang terbagi dalam 2 kelompok, mulai menerima kegiatan
pelatihan pada bulan Oktober 2012. Terdapat 3 jenis pelatihan
berbeda yang diberikan kepada penerima manfaat, yaitu: (1)
pelatihan menganyam rotan; (2) pelatihan pengembangan motif
anyaman; (3) pelatihan pemasaran hasil anyaman rotan. Tiga
jenis pelatihan mulai diberikan kepada penerima manfaat pada
Oktober 2012 hingga berakhirnya proyek pada Januari 2013.
Sejak 2010 BPTP mulai melakukan survei lokasi bekas
kebakaran besar di desa Jabiren pada tahun 2005, yang
22

kemudian menjadi proyek penelitian pengembangan lahan


gambut secara berkelanjutan di atas lahan 5 hektar. Proyek ini
dibiayai oleh dana ICCTF (Indonesian Climate Change Trust
Fund), terletak sekitar 2 km dari jalan utama Trans Kalimantan.
Disertai dengan program Jari Indonesia yang mengembangkan
budidaya perikanan dan inisiatif Balai Pengkajian Teknologi
Pertanian yang mengadakan pengolahan lambut berkelanjutan.

Implikasi Boomerang Pattern Theory terhadap


Jejaring Masyarakat Transnasional

Sumber: Margaret. E Keck and Kathryn Sikkink. (1998). Transnational


Advocacy

Networks

in

International

Politics:Introduction.

Ithaca, Cornell University Press, hal 13

Jaringan antara pemerintah dan masyarakat yang sering


diistilahkan dengan dengan public-private partnership tidak
selamanya menghasilkan mutualisme tetapi justru memicu
23

tekanan-tekanan yang bersifat lembam (seperti boomerang)


terhadap negara tersebut. Jika dikaitkan dengan bagan di atas,
satu negara yang memblokade pertahanannya dengan masyarakat
(terutama LSM), akan menimbulkan jejaring-jejaring terselubung
antar LSM secara nasional dan transnasional. Ketika informasi
sudah dikumpulkan oleh sekelompok LSM lokal, maka proses
transmisi data akan terjadi secara cepat sehingga koalisi antara
LSM lokal dengan LSM internasional terjalin dengan kuat lalu
menjadi solidaritas masyarakat global. Solidaritas tersebut
terbangun

dari

pengaruh

dan

bantuan

organisasi

intergovernmental yang nantinya berdampak besar terhadap


negara tertentu sehingga tekanan domestik sudah tidak dapat
dibendung lagi. Akibatnya, negara awal yang memiliki benteng
pertahanan lebih tinggi semakin melemah karena adanya tekanan
besar dari LSM lokal yang di-back up kuat oleh sekelompok LSM
international dan organisasi global.
Aplikasi konsep teori pola bumerang ini juga berlaku
terhadap

permasalahan

moratorium

di

Indonesia.

Ketika

pemerintah Indonesia telah menetapkan Intruksi Presiden


mengenai

moratorium,

sebenarnya

secara

tidak

langsung

pemerintah juga memberi batasan atau semacam benteng


pemisah terhadap masyarakat karena kebijakan masih bersifat
elitis. Sebagai tanggapan proaktif, terbentuklah koalisi antar LSM
di tingkat lokal dan internasional dalam merespon kritis tindakan
moratorium kehutanan 2011-2013. Terdapat sekitar 40 LSM lokal
bekerjasama

dengan

beberapa

berpengaruh

untuk

mempertanyakan

pemerintah

mengenai

24

tindakan

tokoh

masyarakat

yang

wujud

komitmen

moratorium

kehutanan

(http://www.redd-monitor.org/2013/01/29/indonesian-ngosdemand-action-saving-indonesias-remaining-forests-can-nolonger-be-delayed/. Diakses tanggal 22 Mei 2016). Mereka


mengkritisi kinerja Satgas REDD+ yang tidak berkesinambungan
karena masa tugasnya yang hanya berlaku sampai Juni 2013
nanti. Bagaimana nasib hutan Indonesia tanpa moratorium dan
peran Satgas REDD+? Siapkah LSM lokal untuk benar-benar
menjaga kelestarian hutan Indonesia selama 10-20 tahun ke
depan?
Hutan alam tersisa luasannya terus menyusut setiap
tahunnya,

sebagaimana

yang

terjadi

di

Provinsi

Papua.

Berdasarkan analisis PIPIB Revisi Ke-3, Greenpeace menemukan


terjadi lagi perubahan fungsi kawasan dari hutan lindung menjadi
hutan produksi seluas 339.791 hektar. Hingga saat ini pun,
kawasan hutan yang telah dikukuhkan dan memiliki legalitas
status baru sekitar 14 persen. Selain itu, hingga 2012, hanya 14
propinsi yang telah memiliki Peraturan Daerah Rencana Tata
Ruang Wilayah Propinsi (RTRWP). Padahal, RTRWP berperan
penting guna mengontrol sekaligus mengamankan luasan hutan
dari sasaran obral perizinan Pemerintah Daerah. Tata kelola yang
buruk ini menyebabkan konflik kehutanan terus berkembang.
Dewan Kehutanan Nasional bahkan mencatat terjadinya konflik
tenurial pengelolaan kawasan hutan pada 19.420 desa di 33
propinsi seantero Indonesia, seperti yang terjadi di Mesuji,
Senyerang, dan Pulau Padang, sementara 31.957 desa di dalam
dan di kawasan hutan belum jelas statusnya. Menyikapi situasi di
atas, Koalisi LSM lokal mendesak pemerintah untuk sesegera
mungkin melakukan perbaikan mendasar dan menyeluruh tata
25

kelola sumber daya alam melalui perpanjangan pelaksanaan


moratorium berbasis capaian dan implementasi Strategi Nasional
REDD+ secara menyeluruh untuk menyelesaikan secara sistemik
persoalan pengabaian hak masyarakat adat dan komunitas lokal
yang selama ini memicu konflik tenurial dan mendorong hutan
Indonesia ke jurang kehancuran. Berikut keterangan detail nama
LSM yang bergabung dalam koalisi:

26

Sumber:

http://www.redd-monitor.org/2013/01/29/indonesian-ngosdemand-action-saving-indonesias-remaining-forests-can-nolonger-be-delayed/. Diakses tanggal 22 Mei 2016.

Koalisi yang terbentuk di gambar atas menjadi cerminan


bahwa para LSM lokal dan internasional telah menyiapkan
strategi untuk memblokade balik pemerintah Indonesia dalam
mengimplementasi tindakan moratorium. Dengan semakin
banyaknya informasi dan koalisi yang terjalin, maka tekanan dan
pengaruh yang dihasilkan jaringan LSM transnasional ini
semakin besar. Seperti contohnya, sekelompok LSM lokal yang
bekerjasama dengan LSM internasional seperti Greenpeace,
Conservancy International, World Resource Institute, University
of Maryland, The Woods Hole Research Center, the David Lucile
and Packard Foundation, Environmental Defense Fund, serta
sejumlah institusi sosial lainnya turut memikirkan dan meneliti
27

signifikansi moratorium hutan terhadap masyarakat. Menurut


Jonah Busch (2013), tindakan moratorium kehutanan dapat
meminimalisir degradasi hutan dan emisi sebanyak 8,3% (Bush,
2013). Angka tersebut bukanlah angka sedikit yang patut
diapresiasi, bahkan perlu ditingkatkan keterlibatan masyarakat
melalui LSM lokal dan internasional secara masif. Hal ini
diperkuat dengan pernyataan Jon Birger (1995) yang menyatakan
bahwa model pluralistik dalam suatu pengambilan keputusan
politik lingkungan global sangatlah penting karena bersifat
society-oriented (Birger, 1995). Asumsi yang mendasari model
pluralis ini ialah peran kekuasaan elit pusat atau pemerintah
tertinggi dalam mengutamakan kebutuhan atau dukungan politik
domestik. Adanya preferensi dan kepentingan yang berbasis
masyarakat ini justru memudahkan berbagai LSM untuk
melaksanakan kebijakan pemerintah termasuk apresiasi positif
terhadap pemerintah yang memikirkan societal groupnya. Dalam
pelaksanaannya,
unanimity

model

yang

ini

cenderung

menimbulkan

adanya

memegang
dukungan

prinsip
selain

pemerintah dalam mengambil keputusan ataupun menyelesaikan


masalah,

sehingga

transnasional.

28

terciptalah

aliansi-aliansi

masyarakat

Peta Indikatif Moratorium Indonesia yang Diinisiasi


Oleh Koalisi LSM Lokal-Internasional

Peta yang dibuat berdasarkan hasil koalisi LSM lokal dan


internasional di atas menjadi bukti nyata bahwa mereka mampu
menandingi kekuatan pemerintah sekaligus menekan pemerintah
untuk segera mengoptimalkan kebijakan moratorium. Adanya
informasi ini juga semakin memperjelas pengaruh kuat para LSM
transnasional dalam mengelola dan memanfaatkan solidaritas
kritisnya

untuk

menekan

terimplementasinya

kebijakan

moratorium pemerintah Indonesia secara strategis. Sebagai


akibatnya, jelas pemerintah sudah tidak dapat menggantungkan
diri kepada kekuatan birokrasinya saja, melainkan harus
memberikan peluang serta membuka kehendak politiknya
terhadap masyarakat untuk sama-sama menjalankan kebijakan
29

moratorium. Jika tindakan moratorium tidak berhasil dan Inpres


tidak efektif dijalankan, maka pemerintah Indonesia harus segera
melakukan kebijakan baru yang semakin melibatkan masyarakat
dalam memonitori atau mengevaluasi kasus pengelolaan hutan di
Indonesia selama ini. Di sinilah konsep Boomerang pattern
theory berlaku.

Jejaring dan Solidaritas Masyarakat : Studi Kasus


Rimba Baling
Jejaring masyarakat tidak harus dimulai dari tingkat
internasional ataupun transnasional. Karena di tingkat lokal pun
telah ada upaya positif dan itikad baik yang dilakukan oleh
sekelompok masayarakat Rimba Baling. Kawasan yang berada di
Kota Lamo, Bukit Rimbang, Kabupaten Kampar, Provinsi Riau ini
telah ada sejak abad 16, di mana seorang seorang Portugis yang
mencari hutan dan emas. Alam yang terbentang di Rimba Baling
sangatlah indah, memiliki air sungai yang sangat jernih dan
sangat dijaga oleh penduduk sekitar, adapun sungai yang
bernama sungai Biyo. Sebagai penyangga kehidupan flora dan
fauna seperti harimau, kucing hutan, dan kambing hutan, Rimba
Baling memiliki tradisi hanya menangkap ikan selama 1 kali
setahun

demi

kelestarian

dan

keseimbangan

ekosistem.

Berdasarkan keputusan Menteri Kehutanan RI 173/Kpts-11/1986


dan SK Gubernur Riau Nomor Kpts.149/v/1982, Rimba Baling
telah dijadikan suaka margasatwa. Lahan selua 141.226 hektar ini
telah dilindungi oleh masyarakat setempat sejak 10 tahun lalu.
Sebagai bukti pentingnya masyarakat lokal dalam tata kelola
30

hutan di Rimba Baling terlihat dari pembentukan program Hakiki


yang diinisiasi oleh Rumah Budaya Siku Kulouang bekerjasama
dengan Koalisi Seni Indonesia. Mereka juga mengkampanyekan
keberadaan Rimba Baling di media sosial dengan berita tagar
#SAVERIMBABALING. Laman Budaya Mabio, sebagai bentuk
kesenian lain di Rimba Baling dilakukan untuk mengekspresikan
dan

mengenalkan

daerah

mereka

melalui

seni

budaya.

Pendekatan seni dan sosial budaya menjadi lebih efektif dalam


menyadarkan masyarakat akan pentingnya tata kelola hutan yang
baik.
Kisah sukses ini telah membuktikan bahwa masyarakat sipil
tidak hanya perlu diinformasikan tentang politik lingkungan dan
aksi internasional semata. Adanya kearifan lokal yang mampu
beradaptasi

dengan

kebijakan

senantiasa

mempercepat

pemerintah

kinerja

provinsi

pemerintah

Riau
dalam

menanggulangi permasalahan deforestasi. Tentunya, mereka juga


perlu didukung oleh bantuan asing atau bantuan eksternal
lainnya seperti dalam konsep kemitraan yang banyak dieluelukan adalah Public-Private Partnership (P3). Kini, P3 telah
bertransformasi menjadi konsep kerjasama multi-pihak, yang
lebih mengedepankan kepentingan sosial masyarakat bersama
tanpa melihat latar belakang kelompok tersebut. Definisi dari
Multi-Stakeholders Partnership (MSP) ialah:
An alliance between organizations from two or more
sectors that commit themselves to working together to
undertake a sustainable project. Such a partnership
undertakes to share risks and benefits, review the
relationship regularly and revise the partnership as
31

necessary (Tennyson & Wilde, 2000: 12)


Collaborative arrangements in which actors from two or
more spheres of society (state, market, civil society) are
involved in a non-hierarchical process through which these
actors strive for a sustainability goal. (Glasbergen, 2007:
2)
Aktor non negara siapapun punya peran khusus dalam
membangun

political

will

pemerintah

negara

untuk

menggunakan pendekatan pembangunan yang mengintegrasikan


environmental and social goals (Gemill & Bamidele-Izu, 2002:
9). Kelebihan ini dilengkapi dengan adanya modalitas, expertise,
dan pengetahuan dari aktor-aktor non-negara yang krusial bagi
upaya penyelamatan lingkungan (Kate ONeill, 2009: 183). Selain
itu, mereka juga punya kemampuan beradaptasi yang lebih cepat
terhadap lingkungan, khususnya dalam membudidayakan aset
dan fungsi hutan lebih baik. Fleksibilitas, keterbukaan, dan
konsistensi mereka dalam mendampingi masyarakat adat atau
primitif di hutan tersebut cukup teruji.

Tata Kelola dan Masa Depan Hutan di Indonesia


Dari sisi pelaksanaan teknis yang diamanatkan oleh AATHP,
Pemerintah Indonesia telah melakukan serangkaian kegiatan
pencegahan dan penanggulangan kebakaran lahan dan/atau
hutan sebagai berikut (Kambuaya, 2014). Pertama, melakukan
kegiatan sosialisasi AATHP dan peningkatan kapasitas secara
masif dan berkelanjutan kepada kementerian/lembaga terkait,
32

kalangan dunia usaha, masyarakat, LSM, dan pemerintah daerah


di daerah rawan kebakaran lahan dan/atau hutan. Kedua,
melakukan

koordinasi,

baik

antar-kementerian/lembaga,

pemerintah daerah, maupun dengan masyarakat yang didasarkan


pada

Indonesia

Comprehensive

Plan

of

Action

on

Transboundary Haze Pollution seperti :


1)

Pemetaan daerah rawan kebakaran lahan dan/atau


hutan;

2) Penguatan data dan informasi terkait dengan hotspot, persebaran asap, pemetaan daerah terbakar, Fire
Danger Rating System (FDRS), pengembangan SOP
dalam pencegahan dan penanggulangan kebakaran
lahan dan /atau hutan, dan pengelolaan lahan gambut.
Bahkan, lembaga antariksa dan penerbangan nasional
(lapan) telah memberikan pelatihan kepada malaysia
dalam pengembangan FDRS melalui sistem remote
sensing;
3) Penguatan dan peningkatan kapasitas masyarakat
peduli api yang dilakukan melalui sosialisasi, kegiatan
pence- gahan dini maupun pelatihan;
4) Penanggulangan bencana asap yang terkoordinir dalam rangka tanggap darurat bencana, antara lain
melalui gelar pasukan pemadaman api, operasi
modifikasi cuaca, dan lain-lain;
Ketiga, pemerintah melakukan penegakan hukum (pidana dan
perdata) terhadap pelaku (individu dan korporasi) pembakaran
lahan dan/atau hutan serta pencemaran asap lintas batas yang
mengakibatkan kerusakan lingkungan. Penegakan hukum pidana
33

dilakukan secara terpadu dan terkoordinasi oleh Penyidik


Pegawai Negeri Sipil Kementerian Lingkungan Hidup (PPNS
KLH) bersama-sama Penyidik Kepolisian Negara Republik
Indonesia (Polri) maupun melalui mekanisme multi-doors (kerja
sama UKP4, Kementerian Kehutanan, Kejaksaan Agung, Komisi
Pemberatasan Korupsi (KPK), Polri, dan KLH). Keempat,
pemerintah memperkuat kelembagaan dan peraturan perundangundangan yang mendukung kebijakan pembukaan lahan tanpa
bakar (zero burning policy) dan pencegahan dan penanggulangan
kebakaran lahan dan/ atau hutan serta pencemaran asap lintas
batas.
Rentetan upaya pemerintah Indonesia ini sudah semestinya
didukung dengan upaya konkrit dan langkah yang lebih mudah
untuk dijalankan oleh masyarakat lokal, khususnya di Riau.
Moratorium sebenarnya tindakan positif yang sudah dilakukan
oleh pemerintah Indonesia. Bahkan, tindakan tersebut juga
melibatkan aktor non-negara sehingga tercipta kemitraan yang
lebih kuat. Namun, kelemahan dari moratorium yang sudah
dikritisi oleh sekelompok LSM ialah kurangnya koordinasi dan
kerjasama internal antar kementerian. Political clash antar
kementerian seringkali terjadi, apalagi dalam kasus moratorium
Kementerian Pertanian yang masih berkaitan dengan kelestarian
hutan tidak dilibatkan sebagai tim pelaksana. Untuk itu,
kepemimpinan tertinggi, baik dari Presiden maupun Wakil
Presiden sangatlah dibutuhkan dan mampu mengendalikan
gejolak politis yang terjadi.
Kelemahan berikutnya dari praktik moratorium ini ialah
kurangnya transparansi, baik secara material maupun non
34

material, dari peta mortarium yang sudah dilakukan. Maka tak


mengherankan jika koalisi LSM lokal dan internasional membuat
peta sendiri untuk menunjukkan krisisnya beberapa titik di hutan
Indonesia. Yang sangat disayangkan lagi ialah peran dari Satgas
REDD+ yang belum pasti diperpanjang masa berlakunya,
mengingat bahwa tahun depan akan terjadi pergantian pemimpin
negara atau Pemilihan Presiden yang baru (Priyambodo, 2012).
Untuk melaksanakan tata kelola hutan yang baik, diperlukan
beberapa hal penting sebagai rekomendasi, yaitu:
1)

Transparansi Data dan Informasi


Transparansi data dan informasi menjadi landasan
penting demi kelangsungan tata kelola kehutanan di
Indonesia. Dengan adanya transparansi, setiap aktor
di

dalam

suatu

negara

mampu

mengatur,

mengendalikan, serta menjaga kelestarian hutan yang


bersifat technically sound, legally accurate, up-todate spatial data, license and permit data.
2) Reformasi Tata Kelola Pemerintahan
Layaknya

reformasi

birokrasi,

di

dalam

kasus

kehutanan pun perlu dilakukan reformasi tata kelola


pemerintahan,
implementasi

khususnya

dalam

penanggulangan

kebijakan

kabut asap

dan
Riau.

Perizinan apapun harus diawasi dan dikontrol secara


ketat,

setiap

petugas

yang

ditunjuk

memiliki

tanggungjawab yang profesional demi berlangsungnya


sistem ekologis kehutanan kita bersama. Saat ini,
Kapolri Tito Karnavian pun bersikap tegas terhadap
35

para pelaku kejahatan lingkungan di Riau. Itikad baik


ini perlu dikoordinasikan dengan Dirjen Penegakan
Hukum

Kementerian

Lingkungan

Hidup

dan

Kehutanan dan Gubernur dan jajaran Bupati di Riau.


Yang

paling

penting

sebenarnya

pembentukan

pasukan atau komite khusus dalam pimpinan Provinsi


Riau dalam mengawasi kinerja Gubernur supaya tidak
tersandung kasus korupsi atau bentuk pidana lainnya.
3)

Enforcement
Hukum tanpa penegakan sama halnya manusia yang
tidak bernyawa atau memiliki roh. Artinya, kasus
korupsi kehutanan, pembalakan liar, dan kejahatan
lingkungan lainnya dalam kawasan hutan perlu
diberikan sanksi tegas dan jelas sebagai penegakan
hukum di pemerintahan Indonesia. Konsistensi KPK
telah terbukti dalam melihat lemahnya kehendak
politik dan kepemimpinan Gubernur Riau.

4) Koordinasi dan Sinergi


Koordinasi dan sinergi antar aktor di dalam suatu
tatanan

negara

sangatlah

diperlukan

mengingat

bahwa hutan tersebut milik bersama atau common


property. Artinya, setiap individu memiliki tanggung
jawab dan hak yang sama untuk mengatur, mengelola,
serta melindungi kelestarian hutan tanpa adanya
perbedaan kelas ataupun status. Ini menjadi sangat
penting ketika praktik moratorium, konservasi hutan
atau suakamargasatwa, serta bentuk penyelamatan
36

hutan

lainnya

benar-benar

dijalankan

dalam

lingkungan masyarakat.
5) Climate-compatible Development
Moratorium hutan membentuk insentif yang mampu
meningkatkan produktivitas dan penggunaan lahan
rendah karbon ketimbang lahan gambut atau hutan
yang sudah dikonversi oleh kelapa sawit. Setiap
ekspansi agrikultural perlu diawasi dan dikendalikan,
yang nantinya juga memberikan manfaat serta nilai
tambah

bagi

penduduk

lokal

dan

komunitas

indigenous (Austin, 2012).


6) Pengembangan Efektivitas AATHP di Tingkat
Lokal dan Adat
Sebagai tindak lanjut dari implementasi AATHP,
penulis merasa perlu untuk membuat regulasi yang
juga berdampak terhadap kabut asap lintas batas di
tingkat lokal, khususnya daerah perbatasan IndonesiaMalaysia atau Indonesia-Brunei Darussalam. Regulasi
ini dilakukan dan diawasi atas kerjasama bilateral dari
kedua negara tersebut yang memiliki asas kesetaraaan
dan keadilan.

37

38

DAFTAR PUSTAKA

Buku/Artikel/Jurnal
Arisandi, M. A. (2014). Faktor Yang Mempengaruhi Diplomasi
Indonesia Dalam Menunda Ratifikasi Asean Agreement On
Transboundary Haze Pollution. Universitas Indonesia.
Diperoleh dari lib.ui.ac.id/unggah/?q=system/files/node/
2012/2/marini.ayu/marini_ayu_arisandi-tesis-fakultas_
ilmu_sosial_politik-naskah_ringkas-2013.doc.
Birger, Jon. (1995). The Fruitfulness of Various Models in the
Study of International Environmental Politics, London:
SAGE.
Busch, Jonah. (2013). Indonesias Forest Moratorium and
Emissions from Deforestation, dalam Workshop Forest
Moratorium 6 May 2013 di Hotel Borobudur, Jakarta.
Dingwerth, Klaus, and Philipp Pattberg (2009), World Poli- tics
and Organizational Fields: The Case of Transna- tional
Sustainability

Governance,

European

Journal

of

International Relations, Vol. 15, No. 4: 707-744.


E Keck, Margaret and Sikkink, Kathryn. (1998). Activits Beyond
Borders, Advocacy Networks in International Politics.
Ithaca, Cornell University Press.
39

Gemmill, B, and A. Bamidele-Izu (2002). The Role of NGOs and


Civil

Society

in

Global.

In

Global

Enviornmental

Governance Options & Opportunities, eds. Daniel C. Esty


and Maria H. Ivanova, 77 100. New Haven: Yale School of
Forestry & Environmental Studies.
Halim, Inneke.M. (2016). Efektivitas ASEAN Agreement on
Transboundary Haze Pollution dalam Penanggulangan
Polusi Asap di Indonesia. Jakarta: LSPR.
Hurrell, Andrew. (1995). Regionalism in World Politics. London,
Oxford University Press.
Hutami, P. A. R. (2014). Ketidakefektifan ASEAN Agreement on
Transboundary

Haze

Polution

(AATHP)

dalam

Penanggulangan Polusi Asap di Asia Tenggara. Universitas


Brawijaya, Malang. Diperoleh dari http://www.scribd.com/
doc/269309270/JURNAL- AATHP#scribd.
Laporan Akhir Tahun 2012 Sekretariat Bersama REDD+
Kalimantan Tengah.
Marina. (2016). Dampak Pembangunan Ekonomi Terhadap
Lingkungan

Hidup

di

Linfen

China

dan

Pekanbaru

Indonesia. Jakarta: LSPR Jakarta.


M. Betsill, Michele and Corell, Elisabeth. (2001). NGO Influence
in

International

Environmental

Framework for Analysis.

40

Negotiations:

ONeill, Kate. (2009), The Environment and International


Relations (Cambridge: Cambridge University Press).
P. Glasbergen et al. (2007): Partnerships, Governance, and
Sustainable Development: Reflections on Theory and
Practice, Cheltenham and Northampton: Edward Elgar.
Princen,

Thomas.

(1994).

NGOs:

Creating

Niche

in

Environmental Diplomacy, dalam Thomas Princen and


Matthias Finger. (1994). Environmental NGOs in World
Politics- Linking the Local and the Global, London:
Routledge.
Tennyson, Ros dan Luke Wilde. (2000), The Guiding Hand:
Brokering

Partnerships

for

Sustainable

Development

(United Nations Department of Public Information).

Internet
Austin, Kemen. (2012). Indonesias Moratorium on new Forest
Concessions:

Key

Findings

and

Next

Step,

dalam

http://insights.wri.org/news/2012/02/new-studyhighlights-opportunities-and-challenges-indonesia-forestmoratorium. Diakses tanggal 22 Mei 2013.


Dody.R, A.
Depan

(2013). Moratorium Hutan jadi Penentu Masa


Indonesia,

dalam:

http://nrmnews.com/2013/

04/24/moratorium-hutan-jadi-penentu-masa-depanindonesia/. Diakses tanggal 22 Mei 2013.


41

H, Priyambodo. (2012). Dalam http://www.antaranews.com/


en/news/87859/redd-working-unit-urges-indonesia-govtto-extend-forest-moratorium. Diakses tanggal 22 Mei 2016.
http://news.mongabay.com/2013/0412-dparker-moratoriumconfusion.html#0PBxRzs2IAFJEMys.99. Diakses tanggal 22
Mei 2016.
http://www.unfccc.int, lalu cari dokumen: FCCC/CP/2007/
6/Add.1 hal 8-11, diakses tanggal 22 Mei 2016.
http://www.satgasreddplus.org/satgas-redd/mengenai-satgasredd. Diakses tanggal 22 Mei 2013.
http://www.norway.or.id/PageFiles/404362/Letter_of_Inten_
Norway_Indonesia_26_May_2010.pdf. Diakses tanggal 22
Mei 2016.
http://news.mongabay.com/2013/0412-dparker-moratoriumconfusion.html#0PBxRzs2IAFJEMys.99. Diakses tanggal 22
Mei 2016.
http://www.redd-monitor.org/2013/01/29/indonesian-ngosdemand-action-saving-indonesias-remaining-forests-canno-longer-be-delayed/ . Diakses tanggal 22 Mei 2016.

42

SEKILAS TENTANG PENULIS

Gracia Paramitha adalah seorang


mahasiswa S3 (PhD) bidang Politik di
University of York, Inggris. Karirnya
sebagai

akademisi

yakni

sebagai

salah satu staf pengajar LSPR untuk


beberapa mata kuliah, seperti: Public
Speaking,
Lingkungan

Hidup,

serta

Perubahan

Pengantar

Ilmu

Iklim

dan

Hubungan

Internasional. Gracia mendapatkan gelar S1-nya dari Universitas


Airlangga dan Magister Sains dari Departemen Hubungan
Internasional FISIP Universitas Indonesia.
Selain mengajar, Gracia pernah bekerja di Kementerian
Lingkungan Hidup, khususnya Biro Perencanaan dan Kerjasama
Luar Negeri sejak bulan Juni 2011. Pengalaman kerja yang sudah
didapat yaitu negosiasi lingkungan internasional, kemitraan
bilateral, diplomasi, forum keamanan lingkungan bersama United
States Pacific Command (US PACOM), dan pengajar tamu bidang
institusi lingkungan global. Gracia juga kerapkali menjadi
pembicara dan partisipan dalam berbagai kegiatan terkait isu-isu
perubahan iklim dan juga diplomasi pemuda (youth diplomacy).
Salah satu prestasinya adalah menjadi UNEP TUNZA Youth
Advisory Council untuk region Asia Pasifik. Beberapa publikasi
Gracia meliputi artikel berjudul The UNEP Governance and Its
43

Challenge Towards the Mechanism of NGO Engagement in


Indonesia yang dimuat dalam http://onglobalization.com/_uploads/FullProgram.pdf dan UNEP Todays Expert on Green
Economy Issues yang dimuat dalam http://www.unep.org/experts/Default.asp?Page=profiles&ExpertID=2692&ShowList=
no&eName=-Gracia%20Paramitha. Gracia

dapat dihubungi

melalui alamat surel gracia.p@lspr.edu atau gp791@york.ac.uk.

44