Anda di halaman 1dari 2

KONFORMITAS SOSIAL

By: Khrisnaresa Aditya May, 2009


Sebagai makhluk hidup yang tidak dapat hidup sendiri, sudah pasti kita sebagai
manusia membutuhkan keberadaan orang lain untuk melangsungkan kehidupan kita.
Tercermin dari kehidupan bermasyarakat yang tercipta dari awal leluhur kita, yaitu
membentuk kelompok dan membagi tugas di dalam kelompok tersebut adalah cikal bakal
kehidupan bermasyarakat yang sedemikian kompleks saat ini. Dari kelompok-kelompok
masyarakat yang ada, sebagai manusia yang tergabung di dalamnya timbul perasaan-perasaan
untuk menegaskan diri bahwa kita adalah bagian dari kelompok tertentu atau perasaan tidak
ingin berbeda dari yang lain. Terkadang, dari perasaan tersebut, timbullah tingkah laku yang
disebut dengan konformitas sosial.
Konformitas sosial adalah proses dimana tingkah laku seseorang terpengaruh atau
dipengaruhi oleh orang lain di dalam suatu kelompok. Cara seseorang terpengaruh ada
bermacam-macam, ada yang secara tidak langsung ataupun tidak langsung. Memakai sepatu
berwarna hitam karena ada teguran dari teman kelompok adalah contoh pengaruh langsung
sedangkan memakai sepatu berwarna hitam karena semua teman kelompok memakai sepatu
berwarna hitam adalah pengaruh tidak langsung yang menyebabkan seseorang melakukan
konformitas. Menurut Herbert Kelman, seorang Psikolog dari Harvard University, bentuk
dari konformitas dibagi menjadi 3 macam, yaitu:
1. Identifikasi (Saat seseorang meniru tokoh yang diidolakan, seperti ayah atau artis)
2. Internalisasi
3. Compliance
Internalisasi atau juga disebut pengaruh informasional muncul pada saat standar sosial
yang jelas ambigu. Sebagai contoh, Dodi dan teman sekelasnya ditugaskan untuk membuat
tugas oleh guru, tetapi tidak ada yang tahu apakah tugas tersebut dikumpulkan esok hari atau
minggu depan. Karena situasinya ambigu, Dodi bertanya-tanya pada teman sekelasnya, dan
rata-rata dari mereka akan mengumpulkan tugasnya minggu depan. Karena mendengar hal
tersebut, Dodi pun ikut mengumpulkan tugas tersebut minggu depan, tanpa peduli mana yang
benar. Lain halnya dengan compliance atau juga disebut pengaruh normatif. Pada perilaku

konform yang ini, seseorang mengikuti perilaku kelompoknya meskipun ia berpendapat


berbeda dengan kelompoknya. Penelitian yang dilakukan oleh Solomon E. Asch pada tahun
1955

merupakan

contoh

yang

baik

untuk

menjelaskan

internalisasi.

Pada penelitian tersebut, satu kelompok partisipan penelitian diberikan 2 lembar


kertas seperti di samping. Peneliti meminta semua partisipan untuk menentukan antara garis
a, b, atau c yang palaing mirip dengan garis yang ada di lembar yang paling kiri. Semua
partisipan kecuali satu orang, sudah diberi instruksi secara rahasia untuk menjawab salah.
Hasilnya, satu orang yang tidak diberi instruksi rahasia, beberapa kali mengubah jawabannya
ke jawaban yang dibuat oleh mayoritas partisipan kelompok tersebut.
Bila merujuk pada faktor yang mempengaruhi seseorang untuk melakukan perilaku
konform, hal tersebut kembali pada seberapa kuat keyakinan seseorang pada dirinya sendiri
terlepas dari tekanan kelompok sosial yang diterimanya. Sebagai penutup, berikut ini adalah
contoh penelitian yang menunjukkan betapa kuatnya tekanan sosial terhadap seseorang dan
keinginan untuk tidak berbeda dari lingkungan sekitarnya dari orang tersebut. (khrisnaresa)