Anda di halaman 1dari 17

LAPORAN PRAKTIKUM

BIOFARMASETIKA DAN FARMAKOKINETIKA


PERCOBAAN VII-VIII
PENETAPAN WAKTU PENGAMBILAN CUPLIKAN DAN ASUMSI MODEL
KOMPARTEMEN

Kelompok : 1C

Auliyani Rosdiana K

1113102000015

Fitrahtunnisah

1113102000014

Selvy Nurkhayati

1113102000035

Muhammad Faisal

1113102000064

PROGRAM STUDI FARMASI


FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH JAKARTA
DESEMBER/ 2016

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penetapan waktu pengambilan cuplikan dan asumsi model kompartemen merupakan dua
faktor yang saling berkaitan. Sehingga, kesalahan waktu pengambilan cuplikan dapat
menyebabkan kesalahan dalam penentuan model kompartemen. Untuk obat yang
diberikan secara intravena, waktu sampling hendaknya dilakukan secepat mungkin
setelah pemberian obat.
Pengambilan cuplikan diperoleh dari darah maupun urin. Jika darah digunakan sebagai
cuplikan, pencuplikan dilakukan sampai 3-5 x T1/2 eliminasi obat dan bila digunakan urin
sampai 7-10 x T

1/2

eliminasi. Data yang diperoleh dari proses pengambilan cuplikan

digunakan untuk memperkirakan model farmakokinetikanya dengan cara memplotkan


kadar obat dalam tubuh (sumbu Y) dengan waktu (sumbu X) di kertas semilog.
Pada fase farmakokinetika, obat mengalami proses ADME yaitu aabsorpsi, distribusi,
metabolisme dan ekskresi yang berjalan secara stimulant langsung atau tak langsung
meliputi perjalanan suatu obat melintasi sel membrane (Shargel & Yu, 1988). Parameter
farmakokinetika dapat dihitung dari data yang diperoleh

berdasarkan model

kompartemen suatu obat. Parameter yang dapat dihitung meliputi T1/2, K, Vd, Cl dan
AUC. Suatu obat dikatakan mengikuti model kompartemen satu jika kurva yang
diperoleh menunjukkan kurva monofase. Sedangkan, untuk model dua kompartemen
diperoleh kurva bifase.
1.2 Tujuan
-

Mahasiswa mampu memperkirakan model kompartemen berdasarkan kurva

semilogaritmik kadar obat dalam plasma / darah lawan waktu


Agar mahasiswa menetapkan jadwal dan jumlah pencuplikan untuk pengukuran
parameter farmakokinetika berdasarkan model kompartemen suatu obat.

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Model Farmakokinetik merupakan suatu hubungan matematik yang menggambarkan


perubahan konsentrasi terhadap waktu dalam sistem yang diperiksa. Metode analisis
kompartemental digunakan untuk memperkirakan dan menentukan secara kuantitatif apa
yang terjadi terhadap obat sebagai fungsi waktu dari saat diberikan sampai waktu dimana
obat tersebut sudah tidak ada lagi di dalam tubuh.
Model farmakokinetik berguna untuk (Shargel & Yu, 1988):
a) Memperkirakan kadar obat dalam plasma, jaringan dan urine pada berbagai
pengaturan dosis
b) Menghitung pengaturan dosis optimum untuk tiap penderita secara individual
c) Memperkirakan kemungkinan akumulasi obat dngan aktivitas farmakologi atau
metabolit metabolit
d) Menghibungakan kemungkinan konsentrasi obat dengan aktivitas farmakologik atau
toksikologik
e) Menilai perubahan laju atau tingkat availabilitas antar formulasi
f) Menggambarkan perubahan faal atau penyakit yang mempengaruhi absorbsi,
distribusi dan eliminasi
g) Menjelaskan interaksi obat
Macam-macam model kompartemen :
a) Model Mammillary
Model Mammillary merupakan model kompartemen yang paling umum digunakan
dalam farmakokinetika. Model terdiri atas satu atau lebih kompartemen perifer yang
dihubungkan ke suatu kompartemen sentral. Kompartemen sentral mewakili plasma dan
jaringan-jaringan yang perfusinya tinggi dan secara cepat berkesetimbangan dengan obat.
Model Mammillary dapat dianggap sebagai suatu sistem yang berhubungan secara erat,
karena jumlah obat dalam setiap kompartemen dalam sistem tersebut dapat diperkirakan
setelah obat dimasukkan ke dalam suatu kompartemen tertentu. Bila suatu obat diberikan
secara IV, obat secara langsung masuk ke dalam kompartemen sentral. Eliminasi obat dari
kompartemen sentral terjadi oleh karena organ-organ yang terlibat dalam eliminasi obat
terutama ginjal dan hati, merupakan jaringan yang diperfusi secara baik. Tetapan laju dari
farmakokinetika dinyatakan dengan huruf K. Kompartemen satu mewakili plasma atau
kompartemen sentral, sedangkan kompartemen dua mewakili kompartemen jaringan.
Penggambaran model ini mempunyai tiga kegunaan, yaitu :

Memungkinkan ahli farmakokinetika merumuskan persaman diferensial untuk


menggambarkan perubahan konsentrasi obat dalam masing-masing kompartemen,

Memberikan suatu gambaran nyata dari laju proses, dan

Menunjukkan berapa banyak tetapan farmakokinetik yang diperlukan untuk


menggambarkan proses secara memadai.

Model 1. Model kompartemen satu terbuka, injeksi IV

Ka

Model 2. Model kompartemen satu terbuka denagn absorpsi order kesatu


K12

K21

Model 3. Model kompartemen dua terbuka, injeksi IV


K12

Ka

1
K

K21

Model 4. Model kompartemen dua terbuka dengan absorpsi order kesatu


b) Model Catenary

Dalam farmakokinetika model mammillary harus dibedakan dengan macam model


kompartemen yang lain yang disebut model catenary. Model Catenary terdiri atas
kompartemen-kompartemen yang bergabung satu dengan yang lain menjadi satu deretan
kompartemen. Sebaliknya, model mammillary terdiri atas satu atau lebih kompartemen yang
mengelilingi suatu kompartemen sentral seperti satelit. Oleh karena itu model catenary tidak
dapat dipakai pada sebagian besar organ yang fungsional dalam tubuh yang secara langsung
berhubungan dengan plasma, model ini digunakan tidak sesering model mammillary.
K21
K12

Ka

K23
2

K32

c) Model Fisiologi
Model fisiologi juga dikenal sebagai model aliran darah atau model perfusi, merupakan
model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomik dan fisiologik yang diketahui.
Perbedaan utama antara model perfusi dan model kompartemen yang lazim adalah sebagai
berikut :

Ia tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi. Konsentrasi obat dalam
berbagai jaringan diperkirakan melalui ukuran jaringan organ, aliran darah, dan
melalui percobaan ditentukan perbandingan obat dalam jaringan darah (yakni partisi

obat antara jaringan dan darah).


Aliran darah, ukuran jaringan dan perbandingan obat dalam jaringan darah dapat
berbeda sehubungan dengan kondisi patofisiologik tertentu. Oleh karena itu, dalam
model fisiologik pengaruh perubahan-perubahan ini terhadap distribusi obat harus

diperhitungkan.
Model farmakokinetik dengan dasar fisiologik dapat diterapkan pada beberapa
spesies, dan dengan beberapa data obat pada manusia dapat diekstrapolasikan. Jumlah
kompartemen jaringan dalam suatu model perfusi berbeda-beda bergantung obatnya.
Sebagai ciri khas, jaringan atau organ yang tidak ditembus obat dikeluarkan dari
model ini. Dengan demikian organ-organ seperti otak, tulang-tulang, dan bagianbagian lain sistem saraf pusat sering tidak dimasukkan dalam model karena hampir

semua obat mempunyai daya tembus yang kecil ke dalam organ-organ tersebut.
Makna yang nyata dari model fisiologik adalah dapat digunakannya model ini dalam
memprakirakan farmakokinetik pada manusia dari data hewan. Besarnya berbagai
organ tubuh atau jaringan, tingkat ikatan protein, kapasitas metaboisme obat, dan
aliran darah pada manusia dan spesies lain seringkali telah diketahui atau dapat
ditentukan. Jadi, parameter-parameter, fisiologik dan anatomik dapat digunakan untuk
memprakirakan efek obat pada manusia berdasar efek obat pada hewan.
Waktu pengambilan obat dalam media cairan hayati (waktu sampling) dan perkiraan model
kompartemen memiliki hubungan keterkaitan. Keterkaitan kedua faktor ini sedemikian rupa
sehingga apabila terjadi kesalahan waktu pengambilan cuplikan, maka dapat menyebabkan
kesalahan pula pada penentuan model kompartemen. Untuk menghindari kesalahan dalam
penetapan model farmakokinetik, terutama untuk obat yang diberikan secara intravena, waktu
sampling hendaknya dilakukan sedini mungkin sesudah pemberian obat. Untuk percobaan
pendahuluan lama pengambilan cuplikan perlu diperhatikan. Jika sebagai cuplikan digunakan
darah, pencuplikan dilakukan 3-5 kali T1/2 eliminasi obat karena diasumsikan kadar obat yang
dapat dianalisis pada waktu tersebut mencapai 90-95% kadar obat total. Jika digunakan urin,
pencuplikan dilakukan 7-10 kali T1/2 eliminasi obat berdasarkan asumsi bahwa pada waktu
tersebut kadar obat yang diekskresikan sudah mencapai 99% kadar obat total. Sedangkan
pada percobaan pendahuluan sebaiknya waktu sampling dicari setelah pemberian intravena.
Dalam waktu sampling perlu ditetapkan interval pengambilan dan lamanya waktu
pengambilan sampling. Untuk hasil terbaik pada ektravaskuler, perlu diambil pada dua belas
titik, yaitu tiga titik pada tiap tahap absorpsi, sekitar puncak, distribusi dan eliminasi, untuk
model dua kompartemen. Sedangkan untuk model satu kompartemen, diambil pada sembilan
titik yaitu tiga titik pada tiap tahap absorpsi, sekitar puncak dan eliminasi.
Data yang diperoleh dari hasil percobaan pendahuluan tersebut selanjutnya digunakan untuk
memperkirakan model kompartemen suatu obat dalam farmakokinetiknya, yaitu dengan
memplotkan kadar obat dalam darah vs waktu pada kertas semilogaritma atau plot log
kecepatan ekskresi (dDE/dt) vs waktu pada kertas grafik normal jika digunakan data urin.

Satu kompartemen

Dua kompartemen

INTRA
VASKULER

EKSTRA
VASKULER

1. Model 1 kompartemen
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen tempat obat menyebar dengan seketika dan
merata ke seluruh cairan dan jaringan tubuh. Model ini terlalu disederhanakan
sehingga untuk kebanyakan obat kurang tepat.
2. Model 2 kompartemen
Tubuh dianggap terdiri atas kompartemen sentral dan perifer. Kompartemen sentral
terdiri dari darah dan berbagai jaringan yang banyak dialiri darah seperti jantung, hati
ginjal dan kelenjar-kelenjar endokrin. Obat tersebar dan mencapai kesetimbangan
dengan cepat. Komponen perifer adalah berbagai jaringan yang kurang dialiri darah
misalnya otot, kulit, dan jaringan lemak, sehingga obat lambat masuk ke dalamnya.
Model ini prinsipnya sama dengan model 1 kompartemen, bedanya hanya dalam

proses distribusi karena adanya kompartemen perifer; eliminasi tetap dari


kompartemen sentral. Model ini cocok untuk banyak obat.
3. Model 3 kompartemen
Kompartemen perifer dibagi atas kompartemen perifer yang dangkal (kompartemen
2) dan kompartemen perifer yang dalam (kompartemen 3).

Untuk perhitungan

regimen dosis klinik, biasanya digunakan model 1 kompartemen untuk pemberian


peroral dan kompartemen 2 untuk pemberian intravena. Pada pemberian bolus
intravena, biasanya fase distribusi terlihat jelas (menandakan 2 kompartemen),
sedangkan pada pemberian oral, fase distribusinya sering tertutup oleh fase absorpsi.
Dalam model kompartemen terbuka, tubuh diasumsikan sebagai kompartemen
terbuka, seluruh kompartemen badan dianggap sebagai kompartemen sentral. Dalam
hal ini kompartemen sentral didefinisikan sebagai jumlah seluruh bagian tubuh (organ
dan jaringan atau bagian lainnya) dimana kadar obat segera berada dalam
kesetimbangan dengan yang ada dalam plasma/darah.

Model dua

kompartemen terbuka berarti badan diasumsikan terbagi menjadi dua bagian


kompartemen yaitu kompartemen sentral dan kompartemen perifer. Kompartemen
perifer merupakan jumlah seluruh bagian tubuh (organ dan jaringan atau bagian
lainnya) kemana obat akhirnya akan menyebar tetapi tidak segera dalam
kesetimbangan. Pemberian dosis harus diperhatikan karena berkaitan dengan salah
satu syarat metode yaitu sensitifitas metode. Hal ini disebabkan karena besarnya dosis
yang digunakan harus memungkinkan obat dapat terdeteksi. Di samping itu ada juga
beberapa obat yang kinetikanya tergantung dari dosis sehingga harus ditetapkan
jumlah dosis yang akan diberikan agar memperoleh efek terapeutik.

Pemilihan dosis dapat mengacu pada LD50 obat yang akan diuji. Perbandingan harga LD50
oral lawan intravena dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang absorbabilitas
obat sebagai fungsi dari pemberian peroral. Jika informasi ini tidak tersedia dapat digunakan
dosis awal 5-10 % dari LD50 intravena .Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah metode
analisis mendukung besaran dosis tersebut sehingga fase eliminasi kadar obat masih dapat
dimonitor.
Dosis awal ini kemudian dinaikkan menurut besaran tertentu untuk mendeteksi timbulnya
kinetika tergantung dosis (dose dependent farmacocinetic). Untuk obat-obat yang mudah

mengalami saturasi dalam sistem transportasi dan eliminasinya (misalnya fenitoin, warfarin,
dan seftriakson), kenaikan nilai-nilai parameter kinetiknya (misalnya AUC, T1/2) tidak
sebanding dengan kenaikan dosis. Pemilihan dosis juga harus memperhatikan adanya
fenomena kinetika yang tergantung dosis, yaitu fenomena yang menunjukkan adanya
perubahan parameter farmakokinetika obat bila dosisnya berubah. Keadaan ini berkaitan
dengan asumsi orde kinetika obat tersebut.
Kinetika diasumsikan mengikuti orde nol bila menunjukkan fenomena tergantung dosis
(dependent dose). Tapi bila parameter farmakokinetik obat tidak dipengaruhi oleh perubahan
dosis (independent dose), maka dianggap mengikuti orde pertama. Hal ini dapat diketahui
dengan membandingkan harga waktu paruh eliminasi (T1/2) obat setelah pemberian beberapa
dosis yang berbeda. Jika harga T1/2 yang diperoleh berbeda akibat perbedaan dosis yang
diberikan, maka kinetik obat tersebut menunjukkan fenomena tergantung dosis (dependent
dose).
Parasetamol dan Sifat Fisika Kimianya
Parasetamol merupakan zat hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutanya adalah larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95 % P, 13 bagian aseton
P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam alkali
hidroksida. Berat molekulnya adalah 151, 16 dengan nama senyawa N asetil p
aminofenol ( Depkes RI, 1995 ).

Rumus struktur dari parasetamol atau asetaminofen adalah :

Berikut dibawah ini merupakan sifat fisika kimia parasetamol :

Nama senyawa

: 4-hidroksiasetanilida [103-90-2] ,N-Acetyl-p-aminophenol ,

Paracetamolum , N-(4-hydroxipheny-1) acetamide. ( Martindal )

Struktur molekul

Berat molekul
: 151,16
Sifat organoleptis
: Bentuk hablur atau serbuk putiH
Rasa pahit
Bau tidak berbau
Sifat dalam larutan :
Farmakope III : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13

: C8H9NO2

bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut
dalam larutan alkali hidroksida
Martindale : Larut dalam 70 bagian air , dalam 20 bagian air mendidih , Dalam 7
10 bagian alkohol, dalam 9 bagian propilen glikol, dalam 15 bagian sodium hydroxide

1N, Sangat mudah larut dalam kloroform, Praktis tak larut dalam eter
Titik leleh
: titik leburnya 169-172C.
PKa
: 9,9
Stabilitas
: Sediaan harus disimpan pada suhu 15-30 C. Sediaan bentuk larutan
atau suspensi tidak boleh dibekukan (stabilitas penyimpanan). Parasetamol sangat
stabil dengan air, Stabil pada pH > 6, dan tidak stabil pada pH asam atau pada kondisi

alkalin (stabilitas terhadap pelarut).


Dosis
:
Farmakope III : 6-12 bulan 50 mg (1xp), 200 mg (1xh)
1-5 tahun 50-100 mg (1xp), 200-400 mg (1xh)
5-10 tahun 100-200 mg (1xp), 400-800 mg (1xh)
10 tahun 250 mg (1xp), 1 g (1xh)
Dewasa 500 mg (1xp), 500mg-2 g (1xh)
Dewasa & anak >12 thn; oral 650 mg atau 1 g tiap 4-6 jam bila perlu, maksimum 4 g
per hari.
Anak utk tiap 4-6 jam (maksimum 5 dosis per 24 jam) :
< 4 bln (2.7 - 5 kg) 40 mg,
2.3 ln (5-8 kg) 80 mg,
2-3 bln (8-11 kg)120 mg,
2.3 thn (11-16 kg)160 mg

Indikasi : Analgetis, antipiretik, parasetamol sebaiknya tidak diberikan terlalu lama

karena kemungkinan menimbulkan nefropati analgetik


Kontra Indikasi : Reaksi hipersensitifitas dan kelainan darah, Disfungsi ginjal atau

hati
Efek samping : Eritem dan Urtikaria, gejala yang lebih berat berupa demam dan lasi
pada mukosa. Penggunaan semua jenis analgesik dosis besar secar menahun dapat

menyebabkan nefropati analgesic.


Farmakokinetik : parasetamol diabsorbsi cepat dan sempurna melalui saluran cerna.
Konserntrasi tertinggi dalam plasma dicapai dalam waktu jam dan masa paruh
plasma antara 1-3 jam. Pada plasma,25% parasetamol terikat protein plasma dan
dimetabolis oleh enzim mikrosom hati. 80% dikonjugasi dengan asam glukoronat dan
sebagian kecil lainnya dengan asam sulfat.Obat dapat mengalami hidroksilasi,
metabolit dari hasil tersebut dapat menimbulkan methemoglobinemia dan hemolisis

eritrosit.
Farmakodinamik : efek analgesiknya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri
sedang dan menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan
efek sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah sehingga tidak
digunakan sebagai anti reumatik. Efek iritasi, erosi, gangguan pernafasan dan
perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini. Memiliki keseimbangan asam basa.

BAB IV
METODOLOGI PRAKTIKUM

4.1. Alat dan Bahan

Larutan

parasetamol

dosis 1 gram

Vortex
Larutan metanol
Sentrifuge
Darah kelinci
Spuit
Natrium nitrit 0,1%
HPLC

N-(1-naftil) etilen diamin

0,1%
Spektrofotometer UV-VIS
Aquadest
Kuvet
Parasetamol tablet
Gelas beker
Silet
Stopwatch

4.2. Langkah Kerja

4.2.1. Pembuatan Larutan Parasetamol

Ditimbang parasetamol 100 mg


Parasetamol dilarutkan di dalam labu ukur ad 10 ml
Didapat larutan induk parasetamol dengan konsentrasi 100 ppm

4.2.2. Pengambilan Darah (tidak dilakukan seluruhnya)

Ditimbang kelinci dan kemudian dibersihkan bulu telinga sekitar vena

marginalis dengan pisau cukur


Kelinci dimasukkan ke dalam holder, dan diambil darahnya melalui vena

(0,5) sebagai blanko


Larutan parasetamol diberikan secara peroral dengan dosis 1500 mg/kgBB
Darah kelinci diambil (1 ml) melalui vena telinga pada menit ke 30, 90, 150

4.2.3. Pembuatan Plasma Darah (tidak dilakukan)

Darah diambil sebanyak 1 ml kemudian dimasukkan ke dalam tabung

eppendorf
Darah disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rp, selama 7 menit pada suhu

250 C
Akan terbentuk pelet dan supernatan. Bagian supernatan diambil (plasma
darah)

4.2.4. Presipitasi Protein (tidak dilakukan)

Supernatan yang diambil dimasukkan ke dalam tabung eppendorf


TCA (zat pengendap protein) ditambahkan sebanyak 2 kalinya plasma

tabung eppendorf
Difortex selama lebih kurang 10 detik
Lalu disentrifugasi dengan kecepatan 15.000 rpm, selama 2 menitpada

suhu 250 C
Supernatan yang diperoleh, dipisahkan
Tiap tabung ditambahkan larutan NaNO2 (0,1 ml; 0,1%)

Larutan ditambahkan NH4-sulfamat (0,2 ml; 0,5%), dan didiamkan 2 menit


Larutan ditambahkan N-(naftil) etilendiamin (0,2 ml; 0,1%) dan didiamkan

selama 3 menit
Dilakukan pengamatan dengan Spektrofotometer UV-VIS

BAB V

HASIL DAN PEMBAHASAN

Pembahasan

Dalam praktikum kali dicoba serangkaian uji in vivo pada subjek kelinci yang
diberi obat parasetamol dengan rute peroral untuk mengetahui model
kompartemen dan parameter farmakokinetik obat parasetamol yang diberikan
secara peroral.

Tahapan yang dilakukan yaitu, menyiapkan subjek kelinci dengan menyukur


bulu pada daerah sekitar telinga untuk memudahkan menemukan pembuluh
vena. Kemudian mengambil darah kelinci sebelum diberikan parasetamol
secara peroral untuk dijadikan blanko. Kemudian menyiapkan larutan obat
parasetamol yang dosisnya telah dikonversi kedalam dosis hewan kelinci.
Selanjutknya memberikan obat parasetamol pada kelinci dengan rite peroral
menggunakan sonde. Lalu mengambil cuplikan darah kelinci melalui
pembuluh vena pada telinganya pada 3 titik waktu yaitu 30, 60 dan 90 menit.
Setelah itu menyiapkan plasma darah dari masing masing cuplikan dengan
memisahkannya dengan protein menggunakan TCA.

Dari plasma darah yang di dapat kemudian dibuat kurva kalibrasi dengan
pengenceran bertingkat. Lalu diukur persen perolehan kembali untuk
memvalidasi apakah metode yang digunakan sudah benar. Dan yang terakhir
menghitung kadar sampel dari cuplikan yang sudah diambil.

Namun terjadi beberapa permasalahan dalam pelaksanaan praktikum kali ini.


Yang pertama pada minggu pertama praktikum, kelinci yang digunakan tidak
bisa diambil darahnya. Hal ini dikarenakan kelinci yang digunakan terlalu
kecil yaitu sekitar 600 gram, sehingga pembuluh darah pada daerah telinganya
sangat halus dan sangat sulit diambiil darahnya menggunakan syringe.

Praktikum dilakukan kembali pada minggu berikutnya dengan kelinci yang


berbeda, kali ini kelinci yang digunakan cukup besar sekitar 1.900 gram. Pada
saat pengambilan darah melalui pembuluh vena di bagian telinga berhasil
dilakukan sampai pada cuplikan terakhir. Namun, darah yang diambil
mengalami cepat mengalami pembekuan setelah dilakukan sentrifugasi.
Karena keterbatasan bahan, tidak adanya agen antikoagulan darah maka
praktikum kali ini tidak bisa dilanjutkan.

Kesimpulan

Praktikum uji in vivo pada subjek kelinci tidak bisa dilaksanakan karena
beberapa hal yaitu :

Kesulitan dalam pengambilan darah, karena pembuluh vena pada telinga kelinci

cukup kecil
Terbatasnya jumlah darah yang bisa diambil dari subjek kelinci, sehingga plasma

yang didapat sedikit karena harus melalui proses penghilangan protein darah
Membekunya darah kelinci
Tidak adanya zat antikoagulan

DAFTAR PUSTAKA

Anonim.

1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen

Kesehatan RI

Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departemen


Kesehatan RI

Shargel, L., dan Yu, AB., 1988, Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan,
Airlangga University Press: Surabaya.

Anda mungkin juga menyukai