Jelajahi eBook
Kategori
Jelajahi Buku audio
Kategori
Jelajahi Majalah
Kategori
Jelajahi Dokumen
Kategori
Kelompok : 1C
Auliyani Rosdiana K
1113102000015
Fitrahtunnisah
1113102000014
Selvy Nurkhayati
1113102000035
Muhammad Faisal
1113102000064
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penetapan waktu pengambilan cuplikan dan asumsi model kompartemen merupakan dua
faktor yang saling berkaitan. Sehingga, kesalahan waktu pengambilan cuplikan dapat
menyebabkan kesalahan dalam penentuan model kompartemen. Untuk obat yang
diberikan secara intravena, waktu sampling hendaknya dilakukan secepat mungkin
setelah pemberian obat.
Pengambilan cuplikan diperoleh dari darah maupun urin. Jika darah digunakan sebagai
cuplikan, pencuplikan dilakukan sampai 3-5 x T1/2 eliminasi obat dan bila digunakan urin
sampai 7-10 x T
1/2
berdasarkan model
kompartemen suatu obat. Parameter yang dapat dihitung meliputi T1/2, K, Vd, Cl dan
AUC. Suatu obat dikatakan mengikuti model kompartemen satu jika kurva yang
diperoleh menunjukkan kurva monofase. Sedangkan, untuk model dua kompartemen
diperoleh kurva bifase.
1.2 Tujuan
-
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Ka
K21
Ka
1
K
K21
Ka
K23
2
K32
c) Model Fisiologi
Model fisiologi juga dikenal sebagai model aliran darah atau model perfusi, merupakan
model farmakokinetik yang didasarkan atas data anatomik dan fisiologik yang diketahui.
Perbedaan utama antara model perfusi dan model kompartemen yang lazim adalah sebagai
berikut :
Ia tidak dibutuhkan data yang tepat dalam model perfusi. Konsentrasi obat dalam
berbagai jaringan diperkirakan melalui ukuran jaringan organ, aliran darah, dan
melalui percobaan ditentukan perbandingan obat dalam jaringan darah (yakni partisi
diperhitungkan.
Model farmakokinetik dengan dasar fisiologik dapat diterapkan pada beberapa
spesies, dan dengan beberapa data obat pada manusia dapat diekstrapolasikan. Jumlah
kompartemen jaringan dalam suatu model perfusi berbeda-beda bergantung obatnya.
Sebagai ciri khas, jaringan atau organ yang tidak ditembus obat dikeluarkan dari
model ini. Dengan demikian organ-organ seperti otak, tulang-tulang, dan bagianbagian lain sistem saraf pusat sering tidak dimasukkan dalam model karena hampir
semua obat mempunyai daya tembus yang kecil ke dalam organ-organ tersebut.
Makna yang nyata dari model fisiologik adalah dapat digunakannya model ini dalam
memprakirakan farmakokinetik pada manusia dari data hewan. Besarnya berbagai
organ tubuh atau jaringan, tingkat ikatan protein, kapasitas metaboisme obat, dan
aliran darah pada manusia dan spesies lain seringkali telah diketahui atau dapat
ditentukan. Jadi, parameter-parameter, fisiologik dan anatomik dapat digunakan untuk
memprakirakan efek obat pada manusia berdasar efek obat pada hewan.
Waktu pengambilan obat dalam media cairan hayati (waktu sampling) dan perkiraan model
kompartemen memiliki hubungan keterkaitan. Keterkaitan kedua faktor ini sedemikian rupa
sehingga apabila terjadi kesalahan waktu pengambilan cuplikan, maka dapat menyebabkan
kesalahan pula pada penentuan model kompartemen. Untuk menghindari kesalahan dalam
penetapan model farmakokinetik, terutama untuk obat yang diberikan secara intravena, waktu
sampling hendaknya dilakukan sedini mungkin sesudah pemberian obat. Untuk percobaan
pendahuluan lama pengambilan cuplikan perlu diperhatikan. Jika sebagai cuplikan digunakan
darah, pencuplikan dilakukan 3-5 kali T1/2 eliminasi obat karena diasumsikan kadar obat yang
dapat dianalisis pada waktu tersebut mencapai 90-95% kadar obat total. Jika digunakan urin,
pencuplikan dilakukan 7-10 kali T1/2 eliminasi obat berdasarkan asumsi bahwa pada waktu
tersebut kadar obat yang diekskresikan sudah mencapai 99% kadar obat total. Sedangkan
pada percobaan pendahuluan sebaiknya waktu sampling dicari setelah pemberian intravena.
Dalam waktu sampling perlu ditetapkan interval pengambilan dan lamanya waktu
pengambilan sampling. Untuk hasil terbaik pada ektravaskuler, perlu diambil pada dua belas
titik, yaitu tiga titik pada tiap tahap absorpsi, sekitar puncak, distribusi dan eliminasi, untuk
model dua kompartemen. Sedangkan untuk model satu kompartemen, diambil pada sembilan
titik yaitu tiga titik pada tiap tahap absorpsi, sekitar puncak dan eliminasi.
Data yang diperoleh dari hasil percobaan pendahuluan tersebut selanjutnya digunakan untuk
memperkirakan model kompartemen suatu obat dalam farmakokinetiknya, yaitu dengan
memplotkan kadar obat dalam darah vs waktu pada kertas semilogaritma atau plot log
kecepatan ekskresi (dDE/dt) vs waktu pada kertas grafik normal jika digunakan data urin.
Satu kompartemen
Dua kompartemen
INTRA
VASKULER
EKSTRA
VASKULER
1. Model 1 kompartemen
Tubuh dianggap sebagai 1 kompartemen tempat obat menyebar dengan seketika dan
merata ke seluruh cairan dan jaringan tubuh. Model ini terlalu disederhanakan
sehingga untuk kebanyakan obat kurang tepat.
2. Model 2 kompartemen
Tubuh dianggap terdiri atas kompartemen sentral dan perifer. Kompartemen sentral
terdiri dari darah dan berbagai jaringan yang banyak dialiri darah seperti jantung, hati
ginjal dan kelenjar-kelenjar endokrin. Obat tersebar dan mencapai kesetimbangan
dengan cepat. Komponen perifer adalah berbagai jaringan yang kurang dialiri darah
misalnya otot, kulit, dan jaringan lemak, sehingga obat lambat masuk ke dalamnya.
Model ini prinsipnya sama dengan model 1 kompartemen, bedanya hanya dalam
Untuk perhitungan
Model dua
Pemilihan dosis dapat mengacu pada LD50 obat yang akan diuji. Perbandingan harga LD50
oral lawan intravena dapat digunakan untuk memperoleh gambaran tentang absorbabilitas
obat sebagai fungsi dari pemberian peroral. Jika informasi ini tidak tersedia dapat digunakan
dosis awal 5-10 % dari LD50 intravena .Hal yang perlu diperhatikan adalah apakah metode
analisis mendukung besaran dosis tersebut sehingga fase eliminasi kadar obat masih dapat
dimonitor.
Dosis awal ini kemudian dinaikkan menurut besaran tertentu untuk mendeteksi timbulnya
kinetika tergantung dosis (dose dependent farmacocinetic). Untuk obat-obat yang mudah
mengalami saturasi dalam sistem transportasi dan eliminasinya (misalnya fenitoin, warfarin,
dan seftriakson), kenaikan nilai-nilai parameter kinetiknya (misalnya AUC, T1/2) tidak
sebanding dengan kenaikan dosis. Pemilihan dosis juga harus memperhatikan adanya
fenomena kinetika yang tergantung dosis, yaitu fenomena yang menunjukkan adanya
perubahan parameter farmakokinetika obat bila dosisnya berubah. Keadaan ini berkaitan
dengan asumsi orde kinetika obat tersebut.
Kinetika diasumsikan mengikuti orde nol bila menunjukkan fenomena tergantung dosis
(dependent dose). Tapi bila parameter farmakokinetik obat tidak dipengaruhi oleh perubahan
dosis (independent dose), maka dianggap mengikuti orde pertama. Hal ini dapat diketahui
dengan membandingkan harga waktu paruh eliminasi (T1/2) obat setelah pemberian beberapa
dosis yang berbeda. Jika harga T1/2 yang diperoleh berbeda akibat perbedaan dosis yang
diberikan, maka kinetik obat tersebut menunjukkan fenomena tergantung dosis (dependent
dose).
Parasetamol dan Sifat Fisika Kimianya
Parasetamol merupakan zat hablur atau serbuk hablur putih tidak berbau, rasa pahit.
Kelarutanya adalah larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol 95 % P, 13 bagian aseton
P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut dalam alkali
hidroksida. Berat molekulnya adalah 151, 16 dengan nama senyawa N asetil p
aminofenol ( Depkes RI, 1995 ).
Nama senyawa
Struktur molekul
Berat molekul
: 151,16
Sifat organoleptis
: Bentuk hablur atau serbuk putiH
Rasa pahit
Bau tidak berbau
Sifat dalam larutan :
Farmakope III : larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol (95%), dalam 13
: C8H9NO2
bagian aseton P, dalam 40 bagian gliserol P dan dalam 9 bagian propilenglikol P, larut
dalam larutan alkali hidroksida
Martindale : Larut dalam 70 bagian air , dalam 20 bagian air mendidih , Dalam 7
10 bagian alkohol, dalam 9 bagian propilen glikol, dalam 15 bagian sodium hydroxide
1N, Sangat mudah larut dalam kloroform, Praktis tak larut dalam eter
Titik leleh
: titik leburnya 169-172C.
PKa
: 9,9
Stabilitas
: Sediaan harus disimpan pada suhu 15-30 C. Sediaan bentuk larutan
atau suspensi tidak boleh dibekukan (stabilitas penyimpanan). Parasetamol sangat
stabil dengan air, Stabil pada pH > 6, dan tidak stabil pada pH asam atau pada kondisi
hati
Efek samping : Eritem dan Urtikaria, gejala yang lebih berat berupa demam dan lasi
pada mukosa. Penggunaan semua jenis analgesik dosis besar secar menahun dapat
eritrosit.
Farmakodinamik : efek analgesiknya menghilangkan atau mengurangi rasa nyeri
sedang dan menurunkan suhu tubuh dengan mekanisme yang diduga juga berdasarkan
efek sentral seperti salisilat. Efek anti-inflamasinya sangat lemah sehingga tidak
digunakan sebagai anti reumatik. Efek iritasi, erosi, gangguan pernafasan dan
perdarahan lambung tidak terlihat pada obat ini. Memiliki keseimbangan asam basa.
BAB IV
METODOLOGI PRAKTIKUM
Larutan
parasetamol
dosis 1 gram
Vortex
Larutan metanol
Sentrifuge
Darah kelinci
Spuit
Natrium nitrit 0,1%
HPLC
0,1%
Spektrofotometer UV-VIS
Aquadest
Kuvet
Parasetamol tablet
Gelas beker
Silet
Stopwatch
eppendorf
Darah disentrifugasi dengan kecepatan 5000 rp, selama 7 menit pada suhu
250 C
Akan terbentuk pelet dan supernatan. Bagian supernatan diambil (plasma
darah)
tabung eppendorf
Difortex selama lebih kurang 10 detik
Lalu disentrifugasi dengan kecepatan 15.000 rpm, selama 2 menitpada
suhu 250 C
Supernatan yang diperoleh, dipisahkan
Tiap tabung ditambahkan larutan NaNO2 (0,1 ml; 0,1%)
selama 3 menit
Dilakukan pengamatan dengan Spektrofotometer UV-VIS
BAB V
Pembahasan
Dalam praktikum kali dicoba serangkaian uji in vivo pada subjek kelinci yang
diberi obat parasetamol dengan rute peroral untuk mengetahui model
kompartemen dan parameter farmakokinetik obat parasetamol yang diberikan
secara peroral.
Dari plasma darah yang di dapat kemudian dibuat kurva kalibrasi dengan
pengenceran bertingkat. Lalu diukur persen perolehan kembali untuk
memvalidasi apakah metode yang digunakan sudah benar. Dan yang terakhir
menghitung kadar sampel dari cuplikan yang sudah diambil.
Kesimpulan
Praktikum uji in vivo pada subjek kelinci tidak bisa dilaksanakan karena
beberapa hal yaitu :
Kesulitan dalam pengambilan darah, karena pembuluh vena pada telinga kelinci
cukup kecil
Terbatasnya jumlah darah yang bisa diambil dari subjek kelinci, sehingga plasma
yang didapat sedikit karena harus melalui proses penghilangan protein darah
Membekunya darah kelinci
Tidak adanya zat antikoagulan
DAFTAR PUSTAKA
Anonim.
Kesehatan RI
Shargel, L., dan Yu, AB., 1988, Biofarmasetika Dan Farmakokinetika Terapan,
Airlangga University Press: Surabaya.