Anda di halaman 1dari 24

Kata Pengantar

EBT:
SEBUAH KEBUTUHAN YANG TAK TERELAKKAN
Saat ini kondisi ekonomi yang dialami pemerintah Indonesia sedang dalam masa
sulit. Penerimaan Negara belum masksimal dan oleh karena itu, Menteri Keuangan
memutusakan untuk mengurangi anggaran terhadap beberapa lembaga kementerian
nasional. Anggaran Ditjen Energi Energi Baru dan Terbarukan dipangkas menjadi Rp 1,7
trilium pada tahun 2016 dibandingkan sebelumnya Rp 2,1 triliun. Pemangkasan anggaran
itu berdampak terhadap penundaan beberapa proyek EBTK di seluruh nusantara.
Padahal rasio elektrifikasi Indonesia masih berada di peringkat relatif rendah,
apabila dibandingkan dengan negara-negara tetangga di kawasan seperti

Thailand,

Malaysia, Singapura dan juga Phillipina. Pemotongan anggaran yang dilakukan terhadap
sektor strategis ini memunculkan pertanyaan sederhana: Apakah pemerintah serius
mengembangkan energy terbarukan di Indonesia?
Turunnya harga minyak dunia seharusnya dijadikan momentum untuk
mengembangkan dan mengimplementasikan proyek-proyek energi baru dan terbarukan.
Namun pada kenyatannya turunnya harga minyak

menjadi justifikasi untuk

memproduksi energi listrik dari energi fosil dan menggunakan bahan bakar minyak untuk
transportasi. Belum ada kesadaran yang cukup bahwa energi baru dan terbarukan
merupakan salah satu kunci utama masa depan bangsa Indonesia..
Dibutuhkan suatu perubahan paradigma untuk tidak lagi melihat energi terbarukan
sebagai alternatif, melainkan sebagai sumber energi utama yang meningkatkan
kesejahtraan masyarakat. Tanpa cara pandang seperti ini target bauran energi terbarukan
sebesar 23% pada tahun 2025 tidak akan tercapai dan pengurangan emisi sebesar 29%
pada tahun 2030 tanpa keterlibatan sektor energi terbarukan akan semakin susah untuk
terealisasi.
Negara Indonesia faktanya memiliki potensi yang sangat besar dalam
mengembangkan energi baru dan terbarukan. Khususnya untuk energi terbarukan potensi
tenaga hidro, tenaga angin, panasbumi dan tenaga matahari tersedia dalam skala yang

massif, apabila dikelola dengan teknologi yang benar, pemberian insentif yang tepat dan
juga kemauan politik yang kuat sektor energi terbarukan akan tidak lagi membuat negara
ini menjadi net-importir minyak mentah.
Di sisi yang lain kita juga haru memahami untuk mencapai ketahanan energi
dalam waktu yang dekat ini kita masih membutuhkan energi bahan bakar fosil baik untuk
trasnportasi dan produksi listrik. Tanpa bahan bakar energi fosil seperti batu bara, minyak
dan gas permintaan BBM dan permintaan listrik nasional tidak bias terpenuhi karena
pelbagai alasan. Proyek-proyek enerrgi baru dan energi terbarukan masih dalam tahap
awal atau lebih dikenal dengan tahap uji coba dimana infrastruktur seperti transmisi
masih belum cukup memadai.
Namun seiring berlalunya waktu Indonesia harus mengurangi ketergantungan
energi fosil secara bertahap dan meningkatkan produksi listrik dan bahan bakar melalui
sketor energi baru dan terbarukan secara ekspansif. Dan diharapkan di masa depan
Negara kepulauan ini tidak lagi menggunakan energi dari sumber fosil. Pencapaian yang
terdengar utopis tapi di satu sisi juga realistis akan meningkatkan kesejahtraan di
pedesaan dan daerah-daerah yang tertinggal. Tidak hanya keuntungan ekonomi yang kita
raih melalui kebajikan ini, tetapi Indonesia juga berpotensi menjadi negara rendah
karbon, karena sektor energi terbarukan dapat mengurangi emisi secara signifikan.
Tidak hanya aktor negara saja yang bertanggung jawab untuk mendorong
paradigma energi baru dan terbarukan. Institusi pendidikan baik sekolah dan kampus
dapat membantu meningkatkan kesadaraan mahasiswa dan pelajar, khususnya
menunjukan cara sederhana bagaimana menghemat energi di level individu. Ditambah
lagi tempat-tempat pendidikan dapat memberikan suatu ruang yang bebas yang
mengisnpirasi para pemuda untuk melakukan temuan dan inovasi yang dapat menolong
bangsa khususnya di sektor energi.
Sendangkan pihak swasta harus lebih ditingkatkan keterlibatannya di sektor
generasi, transmisi dan distribusi. Dengan regulasi yang kondusif dari pemerintah, maka
keterlibatan sektor swasta akan menciptakan ruang kompetisi yang sehat yang akan

membuat harga listrik maupun bahan bakar dari energi terbarukan bias bersaing dengan
listirik sumber energi konvensional dan BBM.
Tulisan ini akan dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama membahas jenis-jenis
energi baru energi terbarukan. Bagian kedua akian memberikan argumentasi kenapa EBT
tidak dapat dipandang sebagai energi alternative dan akan menjadi komoditas yang
penting di masa mendatang. Bagian ketiga akan membahas tantangan dan kendala yang
dihadapi sektor energi terbarukan secara umum dan di Indonesia. Dan di bagian terakhir
ini juga akan dipaparkan rekomendasi kebijakan dan kesimpulan khusus untuk
perkembangan energi terbarukan yang berpotensi mengurangi GRK secara signifikan.

BAB I
KETAHANAN ENERGI, EBT KUNCI MENUJU EMISI RENDAH KARBON

Indonesia merupakan negara kaya akan sumber daya alam dengan mayoritas
penduduk yang berusia muda dan tren pertumbuhan ekonomi yang positif. Akan tetapi
Indonesia sedang menghahapi salah satu isu krusial yakni bagaimana mencapai
ketahanan energi yang berkelanjutan.
Permasalahan klasik pembangunan di negara-negara berkembang, termasuk
Indonesia adalah bagaimana membangun perekonomian nasional yang kuat tanpa
mengabaikan permasalahan lingkungan. Dengan kata lain bagaimana Indonesia bisa
melakukan pembangunan yang bersifat berkelanjutan.
Bunyi dari laporan Bruntland tentang pembangunan berkelanjutan: Memenuhi
kebutuhan sekarang tanpa mengorbankan pemenuhan kebutuhan generasi masa depan.
Untuk mencapai target-target pembangunan negara berkembang membutuhkan
pemanfaatan dan pengunaan energi yang banyak terutama dari sumber-sumber energi
fosil seperti minyak dan batubara.
Sayangnya pemfaatan energi fosil yang tidak ramah lingkungan berdampak pada
peningkatan volume gas-gas rumah kaca di atmosfer yang meningkatkan temperatur
permukaan bumi. Peningkatan temperatur pada permukaan bumi dapat merubah iklim
yang membawa pelbagai dampak-dampak negatif yang mempengaruhi hajat hidup orang

banyak. Ditambah lagi ketersediaan energi fosil seperti Migas dan batu bara memiliki
pasokan yang terbatas dan tidak bisa diperbaharui. Dengan tingkat produksi listrik dan
bahan bakar yang sangat tinggi seiring meningkatnya pertumbuhan penduduk dan
permintaan pasar di Indonesia, sektor energi kovensional tidak akan dapat memenuhi
kebutuhan generasi masa depan.
Indonesia tidak bisa selamanya tergantung

dengan komoditas-komoditas yang

terbatas. Oleh karena itu dibutuhkan sumber energi baru dan sumber energi terbarukan
yang mengganti pengunaan dan pemanfaatan energi konvensional secara bertahap. Dan
salah satu cara untuk melaksanakan prinsip pembangunan berkelanjutan adalah
menyediakan infrastruktur yang kokoh untuk pembangkit listrik dari tenaga air, tenaga
surya, tenga panass bumi, tenaga angin dan tenaga gelombang laut.
Diharapkan akan ada kebijakan bauran energi yang menjadikan sumber energi
terbarukan sebagai sumber energi primer. Hal ini berarti energi terbarukan dapat
memproduksi listrik jauh lebih banyak dari pada sumber energi fosil dan mengganti
sumber bahan bakar minyak untuk sektor transportasi.
Masa depan memang penuh tidak kepastian dan dapat didominasi oleh faktorfaktor yang sangat berbeda dari kondisi saat ini. Tetapi apabila solusi yang ada sudah di
depan mata dan diabaikan begitu saja, maka ada yang salah dengan moral bangsa ini.
Bahkan orang awam pun tahu lebih baik mencegah daripada mengobati.

1.1) Jenis-Jenis Energi Baru


Energi Baru sebenarnya merupakan jenis energi hydrokarbon yang sumbernya
sampai saat ini di Indonesia belum bisa dimanfaatkan secara maksimal karena
keterbatasan teknologi, pengetahuan dan pembiayaan dari pemerintah. Untuk mencapai
ketahanan energi dan realisasi bauran energi nasional bangsa ini membutuhkan sumber
energi baru yang memiliki potensi cadangan yang relatif sangat besar. Untuk saat ini
terdapat dua sumber energi baru yang menjanjikan yaitu coal bed methane dan shale gas.

Coal Bed Methane(CBM) adalah suatu bentuk gas alam yang tergolong dalam
kategori unconventional gas. Gas CBM sendiri dihasilkan oleh batu bara. Pada dasawarsa
belakangan ini, CBM telah menjadi suatu sumber energi yang penting di negara-negara
maju dan negara maju menggunakan pembangkit tenaga listrik dari CBM untuk
meningkatkan pasokan energi listrik mereka. CBM secara sains juga dikenal sebagai Coal
Seam Gas (CSG) atau Coal Seam Natural Gas (CSNG).Batubara memiliki lapisanlapisan berisi gas alam dengan kandungan utamanya metana atau methane (CH4) yang
disebut CBM. CBM (Coal Bed Methane) adalah gas metana yang dihasilkan selama
proses pembatubaraan dan (tetap) terperangkap dalam batubara. Gas tersebut dapat
terbentuk secara biogenik maupun thermogenik (dalam eksplorasi CBM yang dicari
adalah thermogenik). Ciri fisiknya gas ini: tak berwarna, tidak berbau, tidak beracun, tapi
ketika bercampur dengan udara bisa tiba-tiba meledak (mudah terbakar).
Menurut laporan RENSTRA ESDM potensi gas yang dihasilkan oleh CBM
biasanya lebih besar daripada gas-gas konvensional, sumber daya CBM Indonesia
disinyalir sekitar 453 TCF.

(Sumber RENSTRA ESDM 2015 2019 hlm 67 )

Walaupun potensinya menjanjikan, menghasilkan energi melalui CBM


permasalahannya sama dengan semua bahan bakar fosil berbasis karbon, pembakaran gas

metan melepaskan karbon dioksida (CO2) ke atmosfer. Produksi CBM tidak hanya
menggelontorkan karbon dioksida ke atmosfer, tetapi juga gas methana. Sedangkan gas
methana memiliki efek 72 kali lebih besar per unit massa daripada gas CO2 dalam
meningkatkan intensitas efek gas rumah kaca.
Terlepas dari permasalahan ilmiah, teknologi CBM memiliki kendala legalistas
dan absenya regulasi yang kodusif untuk menarik perhatian investor.Terkait kendala ini
Indonesia-Investment mengatakan bahwa pemerintahan Indonesia menggunakan
mekanisme kontrak pembagian produksi (production-sharing) untuk perkembangan
CBM, sebuah mekanisme yang mirip yang diggunakan dalam mengelola sektor Migas.
Pendekatan seperti ini mendapat kritikan dari sektor swasta karena gas-gas yang tidak
konvensional seperti CBM memiliki karakteristik yang berbeda. Dibawah regulasi
sekarang blok-blok minyak dikuasai oleh pemerintah dan risiko dan biaya sebagian besar
ditanggung oleh para kontraktor. Apabila projek mengalami keberhasilan baru biaya
eksplorasi dan lain-lainnya akan digganti oleh pihak pemerintah kepada kontraktor
dengan skema reimburse. Mekanisme pembagian produksi seperti ini hanya
menguntungkan pemerintah dan menyudutkan kontraktor.
Sumber energi baru lainnya adalah shale gas yang sudah dimanfaatkan dengan
baik pengunaanya di negri Paman Sam dan terbukti harga komoditinya dapat bersaing
dengan energi bahan bakar fosil lainnya seperti minyak dan batu bara. Shale Gas adalah
gas alam atau juga bisa disebut sebagai gas bumi yang ditemukan biasanya di kedalaman
lebih dari 1500m. Lapisan di kedalaman tersebut kaya akan material organik sehingga

(Sumber RENSTRA ESDM 2015 2019 hlm 67 )

dapat menjadi sumber energi yang diekstraksi menggunakan teknik fracking. Survei
potensi yang dilakukan oleh Badan Geologi mencatat Shale Gas Resources pada
cekungan sedimen utam Indonesia sebesar 574 TSCF, tersebar di Sumatera,
Kalimantan, Jawa dan Papua.
Shale gas meskipun (secara signifikan) merupakan sumber energi yang lebih
bersih dibandingkan dengan batubara, masih menghasilkan emisi karbon yang
signifikan, sehingga menjadi kurang dapat diterima dari sudut pandang lingkungan
dibandingkan sumber energi baru dan terbarukan lainnya.

1.2) Jenis-Jenis Energi Baru

Energi terbarukan merupakan sumber energi yang berasal dari alam dan memiliki
proses recycling secara alamiah. Ketersediaan energi terbarukan ini tak terbatas dan bisa
dimanfaatkan secara terus menerus. Sumber energi terbarukan adalah sumber energi yang
ramah lingkungan dan tidak memberikan kontribusi terhadap perubahan iklim, terkecuali
bahan nabati yang dihasilkan melalui perkebunan kelapa sawit karena faktor pengunaan
lahan gambut dan hutan lindung yang dibabat habis tanpa memikirkan faktor
ekologisnya.
Untuk mencapai ketahanan energi, energi terbarukan harus dikembangkan secara
maksimal sebelum cadangan energi bahan bakar fosil habis. Lembaga WWF memiliki
visi bahwa pada tahun 2050 energi yang diproduksi untuk kebutuhan masyarakat global

dapat disediakan oleh sumber yang berasal 100% dari energi terbarukan. Perhitungan
skenario ini dikalkulasikan secara matang oleh perusahaan konsultan energi Ecofys.
Ecofys memberikan skenario kalkulasi yang realistis, akan tetapi bangsa ini
belum siap untuk merubah sektor energi secara radikal hingga 2050 karena keterbatasan
anggaran dan hambatan iklim investasi yang belum kondusif. Sampai saat ini dan untuk
jangka waktu ke depannya Indonesia masih membutuhkan kebijakan bauran energi
nasional yang realistis. Artinya negara kepulauan terbesar di dunia ini masih
membutuhkan energi dari sumber konvensional dan energi dari sumber terbarukan.
Ketika kebijakan bauran energi berhasil meraih target-target presentase yang ditentukan
oleh Bappenas dan segala tantangan yang bermunculan mulai bisa diatasi dengan baik,
maka untuk kedepannya Indonesia baru bisa secara bertahap melakukan transisi menuju
100% energi terbarukan.
Indonesia sendiri memiliki potensi yang luar biasa hebat akan energi terbarukan
karena letak posisi geografisnya di tengah ring of fire (lempeng-lempeng tektonik).
Tenaga matahari (surya), angin, biomassa, gelombang laut, energi air (hidro) dan panas
bumi (geothermal) adalah solusi utama untuk menjawab permasalahan kekurangan listrik
dan borosnya anggaran negara dalam mengimpor bahan bakar minyak. Sampai saat ini
pengunaan energi terbarukan baru sebatas 6,8%. Sedangkan target energi terbarukan pada
tahun 2025 dalam bauran energi nasional direncanakan mencapai 23%.

Energi Surya merupakan energi yang berasal dari tenaga matahari. Tenaga
matahari dapat memberikan energi yang tak terbatas yang dikonversikan menjadi energi
listrik dan energi panas. Melalui teknologi photovoltaik, sinar matahari dapat
dikonversikan menjadi energi solar. Permasalahannya sinar matahari tidak mampu
memberikan energi yang konstan untuk setiap titik di bumi karena perputaran rotasi
bumi, sehingga pengunaanya terbatas. Tantangan yang dihadapi bagaimana menyimpan
energi matahari di siang hari dengan kuantitas yang banyak agar pada malam hari energi
tersebut dapat diggunakan juga.
Tenaga surya sangat cocok diaplikasikan di Indonesia bagian timur, dikarenakan
intensitas matahari di daerah timur lebih kuat dibanding daerah lainnya. Sesuai bagan
diatas, tenaga surya memiliki potensi 4,8 kWh/m2/day, tetapi kapasitas yang terpasang
hanya 27 MW. Sumber kapasitas yang terpasang masih kalah jauh dibandingan sumber
energi terbarukan dari air, panas bumi dan biomassa.

Indonesia juga memiliki potensi yang relatif besar dari energi panas bumi yang
tersebar sepanjang jalur sabuk gunung api mulai dari Sumatera, Jawa, Bali, Nusa
Tenggara, Sulawesi Utara dan Maluku. Energi panas bumi berasal dari peluruhan
radioaktif di pusat Bumi, yang membuat Bumi panas dari dalam, serta dari panas
matahari yang membuat panas permukaan bumi. Enegi panas bumi bisa dimanfaatkan
sebagai tenaga pembangkit listrik.
Bagan nomer 3 menunjukan bahwa potensi panas bumi sebesar 29 GW. Tetapi
pada kenyatannya kapasitas terpasang pembangkit listrik panas bumi (PLTP) hingga
tahun 2014 baru mencapai 1.403,5 MW atau sebesar 4,6% dari potensi panas bumi yang
ada. Negara tetangga seperti Filipina memiliki potensinya lebih kecil dibandingkan
dengan Indonesia, namun presentase pemanfaatan potensi panas buminya mencapai
46,2%.

Energi terbarukan dengan potensi terbesar lainnya, adalah air. Gambar diatas
menunjukan potensi yang dimiliki sumber daya dari air sebesar 75 GW. Energi air atau
juga dikenal dengan energi hidroeletrik menggunakan tenaga sungai dan tenaga ombak.
Bendungan buatan manusia dapat mengkonversikan aliran air menjadi listrik melalui
jumlah massa air, kecepatan air dan ketinggian air. Namun tenaga ini memiliki dampak
terhadap ekosistem yang kurang bagus. Sedangkan tenaga ombak memiliki potensi
sebagai pembangkit listrik yang luar biasa. Untuk sementara pembangkit listrik dari
tenaga ombak masih dalam tahap uji coba dan di Indonesia teknologinya belum tersedia.
Biomassa juga merupakan salah satu bentuk energi terbarukan yang memiliki
potensi daya hingga 50GW. Bahan organik seperti kotoran hewan dan tanaman
merupakan sumber daya yang penting untuk menghasilkan energi biomassa. Biomassa
sendiri dihasilkan melalui proses fotosintesis di mana klorofil menyerap energi matahari
yang diggunakan untuk konversikan karbon dioksida dari udara dan tanah menjadi
karbohidrat. Energi biomassa disebut sebagai energi karbon netral, karena ketika
karbohidrat dibakar mereka diubah kembali menjadi air dan karbon dioksida, dan dalam
proses ini energi dari matahari dirilis kembali ke atmosfer.
Berdasarkan data Renstra KESDM pengembangan bioenergi untuk listrik atau
pengembangan pembangkit listri tenaga (PLT) Biomassa, Biogas, dan Sampah Kota,
sampai dengan tahun 2014 telah menghasilkan kapasitas terpasang sebesar 1.740 MW,
dengan mayoritas 1.626 MW off-grid dan selebihnya 114 MW on-grid. Pada umumnya
pengembangan biomassa untuk menghasilkan listrik menggunakan limbah kelapa sawit,
baik cair maupun padat, dari Pabrik Kelapa Sawit.
BAB2
Alasan-alasan Mengembangkan EBTK
Dibutuhkan pemahaman sederhana kenapa energi terbarukan tidak boleh
dipandang lagi sebagai energi alternatif. Seperti yang dikatakan oleh mantan Menteri
Energi dan Sumberdaya Mineral Pak Sudirman Said Mulai sekarang harus dilakukan
hal-hal besar yang membuat energi baru terbarukan dan konservasi energi menjadi
mainstream. Dalam Kebijakan Energi Nasional tahun 2014 tertulis penekanan yang
serupa yang bunyinya Memprioritaskan penggunaan energi baru terbarukan serta

meminimalkan penggunaan minyak bumi dengan mengoptimalkan pemanfaatan gas


bumi dan mengandalkan batu bara sebagai pasokan energi nasional.
Alasan pertama kenapa energi terbarukan harus menjadi sumber energi utama
atau menjadi mainstream dikarenakan energi dari bahan bakar fosil memiliki jumlah
yang terbatas yang pada akhirnya akan habis. Sedangkan sumber energi terbarukan
bisa digunakan lagi secara alami tanpa batasan alam. Contohnya tenaga surya yang
menggunakan kekuatan sinar matahari, tenaga air yang memiliki proses daur ulang
alami dan tenaga angin yang diciptakan oleh konveksi udara.
Terbatasnya ketersediaan sumber energi konvensional, bersumber dari minyak

bumi dan gas, dapat dilihat dari laporan Renstra KSDM tahun 2015-2019. Cadangan
minyak bumi di tahun 2014 sebesar 3,6 miliar barel dan dengan tingkat produksi saat ini,
maka cadangan tersebut hanya cukup untuk mensuplai kebutuhan energi sekitar 13
tahun ke depan. Sedangkan cadangan gas bumi tahun 2014 sebesar 100,3 TCF dan
akan bertahan selama 34 tahun.
Senada dengan laporan tersebut, kajian ADB mengenai sektor Energi di Idonesia
pada tahun 2015 menyatakan, bahwa Indonesia memiliki sumber daya batubara sekitar
120.500.000.000 ton, minyak bumi sekitar 3.690.000.000 barel, dan cadangan gas alam
sekitar 101.540.000.000.000 kubik feet.
Pada tingkat produksi seperti saat ini, cadangan minyak akan bertahan sampai
23 tahun, cadangan gas akan bertahan sampai 59 tahun, dan cadangan batu bara akan
bertahan sampai 146 tahun. Usia cadangan Migas ini diasumsikan apabila tidak
ditemukan cadangan baru. Jika skenario terburuk terjadi dengan tidak ditemukannya
cadangan baru, maka Indonesia dalam waktu dekat harus mengimpor lebih banyak

Migas dari negara lain yang secara otomatis akan menambah defisit anggaran negara
dan membuat perekonomian menjadi stagnan dan sulit berkembang.
Sehubungan dengan hal ini, Mckinsey Indonesia telah memproyeksikan bahwa
kebutuhan akan minyak akan tumbuh 5 hingga 6 persen pada tahun 2030.

Dimana

pada tahun tersebut, Indonesia diperkirakan perlu mengimpor 75 persen dari kebutuhan
minyaknya. Mengingat harga energi yang telah meningkat hampir empat kali lipat dalam
15 tahun terakhir, dalam 15 tahun ke depan Indonesia akan menjadi lebih rentan
terhadap guncangan pasokan atau harga energi di masa depan. Hal ini patut menjadi
perhatian kita semua.
Berdasarkan data Badan Geologi KESDM tahun 2013 jumlah sumber daya
batubara tercatat 12miliar ton dan cadangan 31 miliar ton atau 26% dari jumlah sumber
daya. Berbeda dengan minyak bumi, penemuan cadangan batubara meningkat tiap
tahunnya dari tahun 2010 sebesar 21 miliar ton menjadi 31 miliar ton pada tahun 2013.
Tetapi sebagian besar dari hasil tambang batu bara nasional memiliki kualitas yang
rendah. Dan apabila setiap tahun nilai produksi sebesar 435 juta ton tanpa temuan
cadangan baru, maka umur ekonomis pemanfaatan batubara hanya diproyeksikan
hanya dapat dimanfaatkan hingga 72 tahun lagi.
Alasan kedua kenapa energi terbarukan harus menjadi energi utama,
dikarenakan sumber-sumber energi konvensional menggelontarkan emisi gas rumah
kaca yang sangat besar. Pencemaran lingkungan yang terjadi melalui penggunaan
energi konversional juga dikarenakan oleh lemahnya payung hukum dan sistem
pemantauan kualitas standar produksi yang baik.
Secara faktual sektor energi di Indonesia merupakan kotributur GRK ketiga
terbesar. Pendataan dari Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanana (KLHK)
mengungkap bahwa pada tahun 2013, total emisi karbon dioksida dari energi sebesar
494.998.490 ton. Sementara, pada sektor transportasi, emisi pada tahun 2013
meningkat hampir tiga kali lipat, mencapai 142.318.307 ton. Diprediksi, emisi akan terus
meningkat bila berlaku business as usual.
Batubara, sebagai bahan bakar pembangkit tenaga listrik dan bahan bakar
minyak untuk transportasi dan kegiatan industri, menyebabkan peningkatan emisi gas
rumah kaca (GRK) yang sangat besar. Emisi yang dihasilkan dari pembakaran batubara
dapat kita lihat sebagaimana berikut:

Sulfur dioksida (S02) yang berkontribusi terhadap hujan asam dan penyakit
pernafasan

Nitrogen Oksida (NOx) yang berkontribusi terhadap penyakit pernapasan dan asap

Partikulat, yang berkontribusi terhadap asap, kabut , penyakit pernapasan dan


penyakit paru-paru

Karbon dioksida (CO2) yang merupakan gas emisi rumah kaca utama dari
pembakaran bahan bakar fosil (batubara, minyak, dan gas alam).

Merkuri dan logam berat lainnya, yang telah dikaitkan dengan kerusakan baik
neurologis dan perkembangan pada manusia dan hewan. Konsentrasi merkuri di
udara biasayan rendah dan memiliki dampak yang kecil. Namun, ketika merkuri
memasuki air - baik secara secara langsung atau melalui deposit dari udara - proses
biologis mengubahnya menjai metilmerkuri, suatu bahan kimia yang sangat beracun
yang terakumulasi pada ikan dan hewan (termasuk manusia yang mengkonsumsi
ikan)
Meskipun demikian batu bara tetap dibutuhkan untuk mendorong pembangunan

dan perekonomian di Indonesia, karena jumlah cadangan batu bara yang relatif besar.
Ketergantungan akan batu bara harus dikurangi secara bertahap dengan
memaksimalkan potensi energi terbarukan. Dibutuhkan payung hukum yang jelas dan
kordinasi antar lembaga yang sistematis untuk menjamin kualitas produksi energi dari
batu bara melalui penerapan teknologi batu bara yang bersih, dimana gas-gas rumah
kaca bisa diserap dan difilter.
Alasan ketiga kenapa energi terbarukan harus menjadi energi primer,
dikarenakan subsidi negara di sektor transportasi membebani APBN dan menghambat
laju perekonomian. Pemerintah sesuai aturan di undang-undang wajib memberikan
subsidi terhadap masyarakat yang tidak mampu.Tetapi permasalahannya subsidi
dimanfaatkan oleh golongan masyarakat yang tidak membutuhkannya.
Salah satu alasan kenapa negara ini harus memberikan subsidi minyak
dikarenakan kualitas dan kapasitas kilang minyak di Indonesia. Laporan 2015
Kementerian ESDM di buku RENSTRA menunjukan bahwa kebutuhan BBM Indonesia
tercatat sebesar 1,3 juta bpd dan hanya dapat menghasilkan produksi BBM sekitar 650
ribu bpd.
Dengan fakta yang dibeberkan, pemerintah mau tidak mau mengimpor minyak
sekitar 600 ribu dari negara lain untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Rendahnya

produksi dari kilang dikarenakan kondisi kilang minyak yang sudah tidak layak Produksi.
Perusahaan Mckinsey dalam gagasannya untuk perbaikan sektor energi,
mengidentifikasi lima kilang minyak dan gas utama Indonesia yang mengalami kerugian
sekitar $1 miliar per tahun mengacu pada harga saat ini. Penyebabnya adalah
konfigurasi teknis kilang tersebut pada saat dibangun yang sudah tidak sesuai lagi
dengan kondisi Indonesia pada saat ini. Kilang didesain pada saat itu untuk minyak
mentah Indonesia yang berupa sweet and light curde oil, konfigurasi kilang-kilang ini
tidak lagi sesuai untuk memenuhi kebutuhan saat ini.
Alhasil, harga bensin dan diesel dari kilang-kilang tersebut jauh lebih mahal untuk
diproduksi dibandingkan denga harga produk impor. Hal inilah yang menyebabkan
sekitar 40% produksi minyak mentah Indonesia diekspor karena semua spesifikasi
kilang minyak dalam negeri cocok untuk mengolah minyak mentah Indonesia.

Gambar diatas menunjukan bahwa dari tahun 2010 hingga 2012 menunjukan
bahwa produksi minyak Indonesia, walaupun kuantitasnya meningkat tidak dapat
memenuhi kebutuhan permintaan pasar domestik, akibatnya Indonesia selalu
mengalami defisit minyak. Dan potensi yang dimiliki oleh kilang minyak di Indonesia
tidak dapat dimaksimalkan mendekati sempurna. Dengan kata lain produksi minyak
selalu dibawah potensi kilang minyak.
Alasan Keempat kenapa energi terbarukan wajib menjadi energi primer
dikarenakan meningkatnya pertumbuhan penduduk di Indonesia yang menyebabkan
meningkatnya permintaan pasokan energi, terutama pasokan energi listrik. Untuk saat

ini pembangkit listrik yang menggunakan energi konvensional seperti batu bara dan
minyak tidak dapat memenuhi permintaan masyarakat karena cadangan semakin
menipis dan membuat sarana pembangkit listrik sangat mahal, meskipun secara historis
rasio elektrifikasi meningkat.
Permintaan tenaga listrik dari tahun ke tahun terus mengalami peningkatan
dengan pertumbuhan rata-rata sekitar 10,1% per tahun. Sementara itu, pengembangan
sarana dan prasarana ketenagalistrikan hanya dapat memenuhi pertumbuhan listrik
sekitar 7% per tahun.
Harga listrik rata-rata hanya sekitar delapan cent per kilowatt-hour (kWh),
sedangkan biaya produksi listrik realitanya berada di kisaran 9-11 cents. Pemerintah
terpaksa memberikan insentif subsidi harga listrik untuk PLN agar selisih antara biaya
produksi dan harga jual bisa tertutup. Namun, hal ini tetapi tidak cukup untuk
memungkinkan investasi yang memadai. Subsidi yang diberikan hanya menjadi pil
penenang untuk mengatasi fenomena bayar selisih listrik yang sering terjadi.

BAB 3
TANTANGAN MENGEMBANGKAN ENERGI TERBARUKAN DI INDONESIA

Setiap negara di dunia, khususnya negara berkembang seperti Indonesia,


sedang mengahadapi permasalahan umum yang disebut sebagai trilema energi dalam
mengembangkan sektor energi nasional yang kuat. Trilema yang dihadapi adalah
interaksi antara emisi karbon, keamanan energi dan biaya energi. Untuk melakukan dua
hal dalam waktu yang bersamaan seperti mengurangi emisi dan meningkatkan pasokan
energi dengan biaya terjangkau merupakan hal sulit.
Dari perspektif jangka pendek, jauh lebih mudah meningkatkan rasio eletrifikasi
melalui

PLTU yang menggunakan teknologi lama dengan biaya rendah. Tetapi

pembangkit listrik tersebut tidak ramah lingkungan karena pembakaran batu bara
terbukti menggelontorkan emisi GRK secara masif dan menyebabkan pencemaran
lingkungan yang diakibatkan oleh pembuangan limbahnya. Untuk perspektif jangka
panjang seharusnya digunakan PLTU dengan teknologi CCS (carbon storage capture)
yang menyimpan dan memfilter emisi GRK yang dihasilkan, tetapi biaya produksi listrik
jauh lebih mahal karena biaya teknologi yang tinggi. Sektor energi terbarukan adalah
jalan untuk melepas ketergantungan akan bahan bakar fosil, solusi untuk memproduksi

listrik tanpa karbon, membuat kendaraan menjadi rendah emisi dan menghemat biaya
produksi listrik maupun bahan bakar.
Meskipun demikian energi terbarukan di tahap awal membutuhkan biaya
produksi energi yang lebih mahal ketimbang sumber-sumber energi yang berasal dari
bahan bakar fosil. Dengan insentif pemerintah yang tepat, infrastruktur yang memadai,
keterlibatan pihak swasta yang efisien, pengelolaan yang transparan maka diharapkan
di waktu yang dekat trilema permasalahan energi khususnya untuk sektor energi
terbarukan dapat diatasi dengan baik, karena energi terbarukan memungkinkan untuk
melakukan tiga hal sekaligus yaitu mencapai ketahanan energi, mengurangi emisi dan
memproduski energi yang relatif terjangkau untuk kegiatan ekonomi.
Salah satu cara untuk mengatasi trilema adalah dengan melakukan pendekatan
fuel mix. Untuk mencapai target energy fuel mix yang optimal dan target penurunan
emisi yang ditentukan di dalam RAN-GRK, energi terbarukan memiliki peranan dan
kontribusi yang vital. Diharapkan pada tahun 2025, sumber-sumber dari EBT dapat
berkontribusi sebesar 23% dalam bauran energi untuk mengahsilkan listrik nasional.
Untuk mencapai target tersebut masih terdapat kendala-kendala teknis dan nonteknis yang harus dihadapi oleh pemerintah dan sektor swasta. Blue Print pengelolaan
energi nasional mengidentifikasi kendala-kendala penting yang berpotensi besar
menghambat pencapaian target-target bauran energi.

Struktur harga energi belum mendukung diversifikasi dan konservasi energi

Adanya disparitas perkembangan ekonomi antar wilayah

Ketidaksesuaian antara persebaran sumber energi dan konsumen

Subsidi energi masih menjadi beban negara akibat kemampuan/daya beli


masyarakatyang masih rendah

Industri energi khususnya minyak dan gas bumi serta ketenagalistrikan pada
umumnya belum kompetitif

Ketidakstabilan pasar dan harga energi fosil

Sistem plough back tidak diterapkan secara maksimal

Mekanisme iklim investasi belum kondusif

Sistem perencanaan energi belum diterapkan pada sisi permintaan/pengguna yang


mendukung efisiensi penggunaan energi

Energi masih dianggap sebagai infrastruktur, belum sebagai komoditi

Tumpang tindih regulasi antar sektor dan otonomi daerah belum sesuai dengan
yang diharapkan

Kepastian hukum untuk investasi belum jelas

Hambatan Teknis Energi Terbarukan


Energi Terbarukan memiliki dua kendala teknis yang membuat energi ini mahal
atau tidak dapat bersaing dengan energi bahan bakar di fosil. Pertama adalah masalah
penyimpanan energi terbarukan yang bersifat intermiten atau dengan kata lain tidak
dapat memberikan pasokan energi secara kontinyu. Sumber EBT seperti tenga surya
dan tenaga angin termasuk dalam klasifikasi energi intermiten. Tenaga surya contohnya
tergantung pada sinar matahari dan intensitas kekuatan sinar matahari tergantung pada
waktu, cuaca dan faktor lingkungan lainnya. Dan juga karena gerakan rotasi bumi sinar
matahari tidak dapat menyinari selurunh bagian secara konstan. Artinya pada malam
hari kita tidak bisa memberdayakan atau menggunakan tenaga surya.
Sedangkan tenaga angin mengalami permasalahan serupa, karena angin yang
dihasilkan oleh konveksi udara hangat dan dingin, sehingga tidak dapat memberikan
tiupan atau hembusan dengan kekuatan sama.
Untuk mengakali energi intermiten dibutuhkan teknologi penyimpanan yang
efektif dan efisien. Untuk sementara terdapat teknologi baterai

dan non-bateri untuk

menyimpan energi intermiten.


Di Indonesia, industri maupun rumah tangga cenderung menggunakan teknologi
hybrid karena mahalnya penyimpanan menggunakan teknologi baterai. Namun sistem
hybrid menggunakan diesel yang menghasilkan emisi karbon. Jadi percuma saja
menggunakan energi terbarukan sebagai pembangkit listrik dengan tekologi
penyimpanan hybrid.
Teknologi penyimpanan dengan baterai masih terbilang tidak efisien dan mahal.
Sistem penyimpanan dengan teknologi baterai bisa mencapai $200-$500 per Kwh.
Permasalahan harga yang mahal idealnya dapat diatasi dengan adanya dukungan
pemerintah maupun swasta terhadap terobosan-terobosan teknologi.
Negara tetangga, Australia berdasarkan laporan Deutsche Welle (DW) telah
mengalami peningkatan sebesar 600 persen untuk produksi panel surya dalam waktu 5
tahun terakhir dan konsekuensinya harga panel surya turun lebih dari 80%.

Permasalahan teknis kedua adalah luasan lahan yang dibutuhkan untuk


pembangkit energi terbarukan. Hasil studi menunjukan bahwa pembangkit tenaga listrik
dan tenaga surya membutuhkan luas lahan yang lebih besar ketimbang energi bahan
bakar fosil dan tenaga nuklir. Membebaskan lahan di Indonesia untuk

membangun

pembangkit dari energi terbarukan tidak mudah, karena klaim lahan yang tumpang
tindih, proses hukum dan negosiasi yang lama dengan pemilik lahan.

Feed inTariff
Anggaran negara, APBN, sendiri tidak cukup untuk membangun infrastruktur
energi terbarukan yang kokoh. Maka dari itu, dibutuhkan dana dari pihak swasta untuk
membangun pembangkit, transmisi dan distribusi yang kokoh. Namun untuk melibatkan
pihak swasta, harus didahului dengan adanya insentif yang berupa kebijakan.
Pemerintah dapat memberikan pelbagai kebijakan, seperti insentif fiskal dan finansial.
Salah satu insentif penting yang menarik investor dan membuat harga energi terbarukan
dapat berkompetisi dengan harga bahan bakar fosil d pasar adalah feed in tariff.

Lembaga Migration and Momentum mendefinisikan Feed in Tariff sebagai


instrumen ekonomi yang umum digunakan untuk merangsang investasi dalam teknologi
energi terbarukan. Melalui skema Fit, perusahaan listrik negara membeli listrik dari
pembangkit listrik IPP (Independen Power Producer) energi terbarukan dengan harga
yang ditetapkan oleh pemerintah setempat untuk menyeimbangi biaya produksi yang
tinggi dan risiko-risiko yang berkatian dengan pengelolaan energi terbarukan.

Fit di Indonesia ditentukan atau diberikan dalam mata uang rupiah. Dari
perspektif investor rupiah bukanlah mata uang yang kuat dan sangat rentan terhadap
depresiasi mata uang. Biaya investasi awal untuk mengembangkan pembangkit maupun
infrastruktur energi terbarukan dikeluarkan dalam mata uang asing seperti pembelian
turbin, instalasi mesin dan sebagainya. Ketika terjadi depresiasi mata uang atau
pelemahan rupiah terhadap mata uang asing (US dollar),tariff fits bersifat statis tidak
mengikuti fluktuasi mata uang. Di sisi lain ketika inflasi terjadi, biasanya bank pusat atau
bank sentral negara akan meningkatkan suku bunga untuk meningkatkan cadangan
uang negara. Peningkatan suku bunga akan memberikan beban ekstra untuk
pengembang energi terbarukan. Suku bunga yang tinggi meningkatkan hutang para
pengembang atau nominal modal pinjaman awal dari bank lokal

yang harus

dikembalikan menjadi lebih tinggi.


Singkatnya, pertukaran mata uang diperlukan untuk menutupi biaya modal untuk
komponen proyek yang bersumber internasional. Mata uang Rupiah yang lemah akan
menurunkan daya beli Rupiah dan meningkatkan biaya investasi pengembang (IPP)
energi terbarukan. Selanjutnya pendapatan yang diterima dalam mata uang Rupiah
akan kembali berkurang karena tingkat pinjaman yang lebih tinggi yang disebabkan
faktor inflasi.

Terdapat juga risiko tambahan bagi investor asing, ketika pendapatan yang
mereka terima dalam bentuk mata uang rupiah dan ditukarkan kembali ke mata uang
domestik mereka yang menguat, maka pertukaran mata uang tersebut akan mengurangi
pendapatan mereka.
Sedangkan dari perspektif pemerintah harus diwaspadai agar kebijakan feed-in
tariff tidak berakhir dengan pembayaran lebih kepada pemilik proyek. Karena harga
optimal tidak diketahui dan regulator tidak ingin mengambil risiko skema yang tidak
memberikan hasil.
Pemerintah sangat rentan terhadap biaya teknologi yang cepat jatuh: rata-rata
harga panel surya turun 20 % pada 2009, membuat banyak negara terlanjur
memberikan tarif terlalu menarik. Tarif yang atraktif umumnya cepat menarik
pembangunan, yang mungkin pada akhirnya justru menjadi terlalu mahal bagi
pemerintah, yang kemudian dapat merevisi kebijakan Fit-nya, mendorong pasar melalui
siklus boom-bust. (W00, 2012)

REKOMENDASI KEBIJAKAN UNTUK


MENGEMBANGKAN ENERGI BARU TERBARUKAN DI INDONESIA
Indonesia memiliki sumberdaya energi yang besar, namun belum mampu untuk
dimanfaatkan secara maskimal. Potensi cadanga nenergi yang dimiliki Indonesia berupa
minyak dan gas bumi konvensional sebesar 22 miliarbarrel, dimana 4 miliar diantaranya
terpulihkan (recoverable). Jumlah tersebut, kira-kira setaradengan produksi minyak
selama 10 tahun dan produksi gas selama 50 tahun. Indonesia juga memiliki potensi
sumberdaya yang besar dalam bentuk tenaga matahari, angin, biomassa, dan biofuel
(bahan bakra rnabati).
Akan tetapi, semua potensi ini belum dimanfaatkan dengan selayaknya. Padahal
konsumsi minyak domestik Indonesia telah tumbuh dari 1,2 juta barel per hari di tahun
20003 menjadi 1,6 juta barel per hari pada tahun 2013. Hal ini menjadi indikasi paling
kuat akan kebutuhan energi yang besar di masa yang akan datang.
Perbaikan sektor energi di Indoesia membutuhkan langkah yang berani, dengan
keputusan-keputusan yang sulit dan investasi dalam jumlah yang besar. Beberapa

rekomendasi dapat kami sampaikan,untuk menguatkan kembali sektor energi di


Indonesia serta mewujudkan pertumbuhan yang berkelanjutan di masa mendatang.
1. Memperbaiki sistem Fit and Tariff melalui transparansi dalam metodologi
perhitungan, penyesuaian terhadap perubahan makroekonomi dan biaya teknologi,
penyesuaian inflasi dan memberikan pembayaran melalui dan ainternasional atau
sektor pajak tertentu. Peningkatan Fit bisa memberikan sinyal yanglebih baik untuk
pasar dan mengembalikan kepercayaan investor.
2. Meningkatkan peran pihak swasta melalui payung hukum yang elas, revisi undangundang dan pembuatan RUU energi terbarukan. Diharapkan dengan adanya RUU
Energi Terbarukan praktik kebocoran atau kerugian negara dapat dihindarkan,
pengelolaan pembangkit listrik, transmisi dan distribusi dapat dilakukan secaraefisien
dan transparan.
3. Mendorong kompetisi di sektor energiterbarukan dengan meningkatkan keterlibatan
IPP, pembuatan PPA yang kompetitif, mengurangi dominasi sektor publik dalam
transmisi dan distribusi, memberikan akses untuk IPP menjual langsung ke konsumen
tanpa pembatasan signifikan.
4. Menghilangkan subsidi secara bertahap untuk bahan bakar minyak, gas dan listrik
supaya sumber energi terbarukan dapat bersaing dengan sumber energi dari bahan
bakar fosil
5. Meningkatkan pengetahuan dan pemahaman pemimpin negeri tentang membuat
kebijakan di tingkat nasional dan daerah tentang teknologi energi terbarukan dan
mekanisme pendanaan yang berkelanjutan untuk proyek-proyek tersebut. Pembuat
kebijakan diharapkan dapat membuat kerangka peraturan yang mendukung
pengembangan energi berkelanjutan.
6. Bebas pajak untuk semua komponen energi terbarukan dan onestopservice investasi
melalui satu pintu lembaga pemerintah untuk memudahkan birokrasi dan
mengakseerasi investasi dan pendanaan.
7. Membangun fasilitas pembiayaan yang berkelanjutan untuk proyek skala kecil atau
proyek listrik pedesaan yang bisa: Mendukung terciptanya dana modal tahap awal,

menyediakan modal dan pengembangan usaha jasa untuk inovasi pengusaha energi
bersih dalam melaksanakan penyediaan energi di pedesaan. Menambahkan tambahan
kredit untuk berbagi risiko (jaminan) atau menurunkan biay apendanaan melalui
penurunan tingkat suku bunga.
8. Membangun R&D energi terbaruka nnasiona lyang kredibel melalui skema
pendanaan campuran (publik&swasta) untuk menciptakan insyinur2 berkompeten dan
teknologi EBT.
9. Membuat independen regulator untuk energi terbarukan dalam konteks menguatkan
mekanisme check andbalance.
10. Bekerjasama dengan negara-negara di kawasan untuk meraih ketahanan energi
ASEAN seperti transfer teknologi, pendanaan infrastruktur dan perencanaan EBT
regional.
KESIMPULAN

Target pemerintah Indonesia untuk mencapai persentase 23% energyiterbarukan


dalam total bauran energy Indonesia pada tahun 2025 merupakan target yang sangat
ambisius. Karena itu, pencapaian kedaulatan energi, terutama melalui peningkatan
energi baru terbarukan, selayaknya mendapatkan perhatian kita semua.
Perjalanan dalam mencapai ketahanan energi , dibutuhkan tata kelola energi
dengan mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil dengan memaksimalkan
potensi energy non-fosil yang sampai saat ini masih relatif kecil pemanfaatanya.
Penggunaan energi baru terbarukan yang lebih besar dapat menghasilkan
manfaat jangka panjang bagi lingkungan, kesehatan dan juga pembangunan secara
umum. Kajian yang dialkukan oleh IPCC (2011) mengidentifikasi 4 manfaat yang lebih
besar dari penggunaan energi baru terbarukan, antara lain: manfaat bagi lingkungan
hidup, manfaat bagi kesehatan, meningkatkan akses energy, terutama daerah daerah
perbatasan dan pedesaan, maningkatkan kesempatan kerja serta meningkatkan
ekonomi makro. Selain itu yang tidak kalah penting dengan energi baru terbarukan
adalah: meningkatkan ketahanan energi dimasa depan.

Inilah yang menjadi prioritas kita saat ini. Dibutuhkan kemauan politik (political
wiil) yang kuat dari para pemimpin negeri untuk berani menata kebijakan soal subsidi.
Subsidi sektor energy dan kebijakan yang tidak berkelanjutan merugikan perekonomian
dan juga lingkungan. Dampaknya yang dialami seperti defisit fiskal, biaya anggaran
yang tidak bisa diduga, dan keuntungan tak terduga bagi konsumen kaya. Subsidi yang
sama juga merugikan lingkungan kita. Dengan mempertahankan harga bahan bakar di
level rendah, konsumen akan terus menggunakan energi dan listrik secara tidak efesien
dan berlebihan. Pola konsumsi seperti ini berakibat pada tingginya tingkat emisi gas
rumah kaca, serta dampak lingkungan dan kesehatan lainnya. Pada akhirnya subsidi
akan menghambat pengembangan sumber energi baru terbarukan. Menyediakan energi
yang dapat diandalkan, terjangkau dan berkelanjutan, dan disaat bersamaan dapat
mengurangi kontribusi terhadap perubahan iklim adalah tantangan pembangunan
Indonesia.
Indonesia membutuhkan energi dan transportasi untuk bertumbuh. Pertumbuhan
ekonomi berkelanjutan mendorong kebutuhan akan listrik meningkat 7 persen setiap
tahun. Namun penyediaan listrik tidak sejalan dengan pertumbuhan yang tinggi
ini.Bahkan pertumbuhan lebih tinggi dapat terjadi apabila 70 juta orang yang saat ini
tidak memiliki akses atas listrik, dapat terlayani.
Akses dan konsumsi listrik masyarakat Indonesia masih yang terendah diantara
negara-negara berkembang di Asia Timur. Saatnya kita mendorong perubahan sektor
kelistrikan di Indonesia. Metode pembangkit listrik yang digunakan saat ini, terus
meningkat bersumber dari batu bara. Batu bara itu sendiri adalah penghasil gas rumah
kaca yang terus meningkat. Akibat kebutuhan akan listrik yang terus meningkat, emisi
gas rumah kaca Indonesia yang berasal dari pembakaran bahan bakar fosil,
diperkirakan akan terus bertambah pula.Melihat tren sektor energi dan kelistrikan saat
ini, tingkat emisi bahan bakar fosil Indonesia akan meningkat tiga kali lipat di tahun
2030. Peningkatan ini sebagian besar diakibatkanoleh penggunaan bahan bakar fosil
untuk pembangkit listrik. Walaupun kerusakan hutan dan konversi lahan masih
mendominasi penyumbangan emisi terbanyak saat ini, namun emisi dari bahan bakar
fosil akan meningkat sangat cepat, apabila tidak dilakukan perubahan.
Negara Indonesia sangat kaya akan sumber energi terbarukan, terutama pans
bumi, tenaga air dan bio massa. Namun, sumber-sumber ini masih belum dieskploitasi

atau belum dikembangkan, walaupun potensinya sanagat besar bagi sumber energi
bersih dalam negeri.
Startegi kebijakan sektor energi yang lebih berkelanjutan dan rendah emisi
diharapkan dapat mengirimkan pesan yang jelas kepada investor, produsen dan
konsumen. Hal ini dapat dicapai dengan kebijakan dan insentif yang tepat agar
mendorong investasi sumber energi terbarukan. Pendekatan kebijakan yang terintegrasi
dapat mencakup: kebijakan sektor perbankan, pajak, dan depresiasi insentif, serta
kebijakan perdagangan yang membantu penerapan teknologi yang lebih bersih.