Anda di halaman 1dari 174

MEMBONGKAR JAMAAH ISLAMIYAH

Pengakuan Mantan Anggota JI

MEMBONGKAR JAMAAH ISLAMIYAH Pengakuan Mantan Anggota JI Penulis: Nasir Abas Tata Letak Isi dan Desain Cover:

Penulis:

Nasir Abas

Tata Letak Isi dan Desain Cover:

Studio Kreativa

ISBN 979-3858-05-2 Cetakan I, Juli 2005

Diterbitkan oleh Penerbit Grafindo Khazanah Ilmu

Pasar Minggu, Jakarta Selatan e-mail: grafindoina@yahoo.com.sg

Hak cipta dilindungi undang-undang Dilarang mereproduksi atau memperbanyak seluruh maupun sebagian dari buku ini dalam bentuk atau cara apapun tanpa izin tertulis dari penerbit.

 

Pengantar Penerbit

 

Alhamdulillah, akhirnya kami dapat menerbitkan sebuah karya yang amat

berharga, dan sangat penting untuk diketahui khalayak publik. Dilihat dari segi substansi maupun penulisnya, buku yang ada di hadapan Anda sekalian ini, jelas bukan sembarang karya yang ditulis untuk kepentingan sesaat atau maksud- maksud tertentu. Sebab, karya ini sarat dengan data, sesuai dengan fakta, dan tidak berpretensi menggurui pembaca terhormat.

Buku berjudul MembongkarJamaah Islamiyah; Pengakuan Mantan Anggota JI, ini adalah sebuah penelusuran panjang penulisnya, sejak mulai dari pergumulannya dengan pemahaman tentang Islam, persentuhannya dan pertemanannya dengan para aktivis dan tokoh Jamaah Islamiyah (JI) seperti Imam Samudra, Abu Bakar Baasyir, Hilmi Bakar dan lain sebagainya, hingga pergulatan sang penulis ke belantara negeri seperti Afghanistan, Malaysia (yang notabene adalah negerinya sendiri), Mindanao, Filipina, dan beberapa daerah di Indonesia.

Perjalanan panjang ini adalah bagian dari pengabdian Nasir Abas, sang penulis, kepada Jamaah Islamiyah, dengan cita-cita utama mendirikan Negara Islam di Nusantara (meliputi Indonesia, Malaysia, Brunei, dan Filipina). Nasir sendiri adalah mantan petinggi JI, dengan jabatan terakhir sebagai Amir Mantiqi III

(meliputi Sabah, Serawak, Brunei, Kalimantan, Sulawesi, dan Filipina Selatan). Kini, ia telah keluar dari JI, yang menurutnya penuh kesesatan dalam memahami Islam yang hanif dan anggun, menjadi Islam yang keras, dan

menakutkan

publik.

Kontroversi tentang Jamaah Islamiyah sendiri dalam beberapa tahun terakhir memang cukup menjadi perhatian dan sorotan publik Indonesia dan dunia internasional. Masalah ini mencuat terutama sejak rentetan aksi kekerasan dan terorisme marak empat tahun terakhir. Tragedi memilukan pemboman WTC di AS pada 2001, Bom Bali tahun 2002, Bom J.W. Marriott pada 2003, Bom Kuningan tahun 2004, dan serentetan kejadian mengenaskan lainnya.

Tak ada satu pun agama di dunia ini yang melegitimasi, apalagi mengajarkan bahwa kekerasan sebagai cara yang absah untuk meraih tujuan. Justifikasi

terhadap agama atas pelbagai kejadian teror misalnya, oleh sekelompok orang tertentu, jelas salah. Ini tampaknya berpangkal dari kesalahan menangkap dan memahami pesan agama, apa pun namanya, bahwa kekerasan, apapun bentuknya, tak dapat ditolerir dan karenanya mesti dikikis hingga ke akar- akarnya. Sebab, ia tak saja merugikan kehidupan sosial manusia dalam jangka pendek, tapi juga dalam jangka panjang seperti trauma psikis yang diderita

masyarakat

terkena

aksi

biadab

teror.

Sebagai contoh, doktrin jihad misalnya, kerap kali dipahami sekelompok orang, seperti kebanyakan pemahaman anggota JI, secara sempit, yakni sebagai sepongkah kekerasan menghalalkan darah orang berbeda agama (non-Muslim), guna meraih apa yang dicitakannya. Orang kafir adalah musuh utama Islam, dan karenanya mestilah diperangi. Ini suatu pemahaman amat bodoh, mengingat makna jihad sesungguhnya amat luas dan mulia.

Menyingkirkan duri dari jalanan, menuntun orang tua menyeberang jalan, tersenyum pada orang yang dijumpai, silaturrahim kepada sahabat dan sanak famili, dan seterusnya, adalah bagian dari jihad. Jadi, jihad membunuh orang tanpa alasan yang jelas dan dibenarkan agama, bukanlah pemahaman ajaran Islam yang tepat. Bukankah Islam menegaskan, membunuh satu nyawa sama artinya menghilangkan nyawa banyak orang? Inilah antara lain yang akan diluruskan dalam buku ini. Masih banyak lagi fakta dan pemahaman menyesatkan kelompok radikal JI dan beberapa kelompok lainnya, yang akan dibongkar dalam karya yang juga akan diterbitkan dalam versi bahasa Inggris ini.

Semoga penerbitan buku ini dapat membantu dan memandu kita menyelami ajaran Islam dengan benar, sehingga tidak lagi terjadi aksi kekerasan dengan mengatasnamakan agama tertentu. Sekali lagi, kekerasan selamanya adalah terkutuk, dan karenanya, kita memiliki tanggung jawab untuk mencegahnya. Akhirnya, kritik konstruktif tentu kami butuhkan untuk penyempurnaan penerbitan edisi berikutnya. Selamat membaca.

Wallahu

A’lam

Jakarta, Grafindo Khazanah Ilmu

Awal

Juli

2005

Sekapur Sirih Dari Penulis

 
B om Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002 telah menimbulkan tuduhan dan prasangka terhadap

Bom Bali yang terjadi pada 12 Oktober 2002 telah

menimbulkan tuduhan dan prasangka terhadap berbagai pihak. Ada yang menuduh TNI, rekayasa intelijen Indonesia, keterlibatan Amerika dengan 'Mikro nuklir', misi Australia untuk menguasai Indonesia, dan ada juga yang menuding keterlibatan sebuah organisasi Islam yang bekerja sama dengan Al-Qaedah beserta Osama Bin Laden.

Sampai-sampai Nordin M.Top dan Dr. Azahari dianggap sebagai tokoh ciptaan polisi belaka yang menjadikan nama

tersebut sebagai kambing hitam sasaran di setiap pengejaran, mereka dianggap tidak pernah ada. Malah para terpidana Bom Bali dikatakan sebagai orang-orang teraniaya termasuk para ustaz dan aktivis masjid yang dipaksa mengaku sebagai orang-orang yang terlibat dalam kasus Bom Bali. Siapakah sebenarnya orang-orang yang terlibat dalam kasus tersebut dan bahkan apakah kasus pemboman yang selama ini terjadi adalah benar dilakukan oleh kelompok atau orang-orang tertentu yang mempunyai tujuan tersembunyi? Dan, apakah tidak menyedihkan dan berbahaya apabila sudah timbul suatu fenomena agama Islam identik dengan kekerasan karena pembelaan para pelaku bom yang mengatas-

namakan

Jihad

fie

sabilillah?

Buku ini mencoba memberikan jawaban atas semua tudingan atau kecurigaan di antara kita. Berdasarkan pengalaman penulis yang pernah bersama dengan para pelaku Bom Bali di sebuah organisasi, baik di tingkat pimpinan sampai pada tingkat anggota pelaksana di lapangan, memberikan gambaran kepada pembaca tentang latar belakang dan kemampuan mereka dalam menggunakan

perlengkapan milker

dan

bahan

kimia.

Karena itu, buku ini diupayakan bisa menjawab berbagai pertanyaan yang beredar di tengah-tengah masyarakat. Di antaranya adalah, apakah Al-Jamaah Al-Islamiyah alias JI itu? Sejak kapan JI terbentuk dan melakukan aktivitasnya? Apa yang diperjuangkannya? Lalu apa kaitannya dengan Bom Bali?

Untuk itulah saya, sebagai seorang mantan pimpinan JI, memberikan jawaban kepada masyarakat, tentang apa yang selama ini masih menjadi tanda tanya besar bagi sebagian orang, baik Indonesia maupun dunia.

Juli

2005

Nasir Abas

 

DAFTAR ISI

 

Halaman Muka

 

Pengantar Penerbit … 5

Sekapur Sirih dari Penulis … 11

Daftar Isi

Muqadimah … 13

 

Bab 1

: Perjalanan ke Afghanistan … 19

 

Bab 2

: Pejuang-pejuang Afghanistan … 69

 

Bab 3

: Jamaah Negara Islam Indonesia (NII) … 81

 

Bab 4

: Al-Jamaah Al-Islamiyah … 87

 

Bab 5

: Perjalanan ke Mindanao … 139

Bab 6

: Boleh Berbohong … 169

 

Bab 7

: Kebohongan Imam Samudra … 183

 

Bab 8

: Bom Bali dan Kesesatan Imam Samudra … 193

 

Bab 9

: Ghozwah (Peperangan) … 271

 

Bab 10 : Jihad Membela Agama, Bangsa, dan Negara … 281

 

Bab 11 : Keluar dari Al-Jamaah Al-Islamiyah … 303

 

Lampiran: Sketsa Sejarah dalam Gambar … 319

 

Tentang Penulis … 329

 
 

Muqadimah

 

049.013

ﺎَﻳ ﺎَﻬّﻳَُأ سﺎُّ ﻨﻟاَ ﺎّﻥَِإ ﻢُْ آﺎَﻨْﻘَﻠَﺧ ﻦِْ ﻣ ﺮٍَ آَذ ﻰَﺜْﻥُأَو ﻢُْ آﺎَﻨْﻠَﻌَﺟَو ﺎًﺑﻮُﻌُﺷ ﻞَِ ﺋﺎَﺒَﻗَو اﻮُﻓَرﺎَﻌَﺘِﻟ نَِّ إ ﻢُْ ﻜَﻣَﺮْآَأ ﺪَْ ﻨِﻋ ﻪِّ ﻠﻟاَ ﻢُْ آﺎَﻘْﺕَأ نَِّ إ ﻪَّ ﻠﻟاَ ﻢﻴٌِ ﻠَﻋ ﺮﻴٌِ ﺒَﺧ

Artinya: “Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-

laki dan seorang perempuan dan menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kamu saling kenal mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal.” (Al-

Hujurat:

 

13).

003.103

اﻮُﻤِﺼَﺘْﻋاَو ﻞِْ ﺒَﺤِﺑ ﻪِّ ﻠﻟاَ ﺎًﻌﻴِﻤَﺟ ﻻَو اﻮُﻗّﺮََ ﻔَﺕ اوُﺮُآْذاَو ﺔََ ﻤْﻌِﻥ ﻪِّ ﻠﻟاَ ﻢُْ ﻜْﻴَﻠَﻋ ذِْ إ ﻢُْ ﺘْﻨُآ ءاًَ ﺪْﻋَأ ﻒَّ ﻟََﺄَﻓ ﻦَْ ﻴَﺑ ﻢُْ ﻜِﺑﻮُﻠُﻗ ﻢُْ ﺘْﺤَﺒْﺹَﺄَﻓ ﻪِِ ﺘَﻤْﻌِﻨِﺑ ﺎًﻥاَﻮْﺧِإ ﻢُْ ﺘْﻨُآَو

ﻰَﻠَﻋ

ﺎَﻔَﺷ

ةٍَ ﺮْﻔُﺡ

ﻦَِ ﻣ

رﺎِّ ﻨﻟاَ

ﻢُْ آَﺬَﻘْﻥَﺄَﻓ

ﻪَْ ﻨِﻣا

ﻚَِ ﻟَﺬَآ

ﻦُّ ﻴَِﺒُﻳ

ﻪُّ ﻠﻟاَ

ﻢُْ ﻜَﻟ

ﻪِِ ﺕﺎَﻳﺁ

ﻢُْ ﻜّﻠََﻌَﻟ نوَُ ﺪَﺘْﻬَﺕ

Artinya: "Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan

janganlah kamu bercerai berai, dan ingatlah akan ni’mat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahilijah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena ni’mat Allah orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu daripadanya. Demikianlah Allah menerangkan ajat-ayat-Nya kepadamu, agar

kamu mendapat

 

petunjuk."

 

(Ali

Imran: 103)

009.071

نﻮَُ ﻨِﻣْﺆُﻤْﻟاَو تﺎَُ ﻨِﻣْﺆُﻤْﻟاَو ﻢُْ ﻬُﻀْﻌَﺑ ءﺎَُ ﻴِﻟْوَأ ﺾٍْ ﻌَﺑ نوَُ ﺮُﻣْﺄَﻳ فوُِ ﺮْﻌَﻤْﻟﺎِﺑ نَْ ﻮَﻬْﻨَﻳَو ﻦَِ ﻋ ﺮَِ ﻜْﻨُﻤْﻟا نﻮَُ ﻤﻴِﻘُﻳَو ةﻼَّ ﺼﻟاَ نﻮَُ ﺕْﺆُﻳَو ةﺎََ آّﺰﻟاَ نﻮَُ ﻌﻴِﻄُﻳَو

ﻪَّ ﻠﻟاَ

ﻪَُ ﻟﻮُﺳَرَو ﻚَِ ﺌَﻟوُأ

 

ﻢُُ ﻬُﻤَﺡْﺮَﻴَﺳ

ﻪُّ ﻠﻟاَ

نَِّ إ

ﻪَّ ﻠﻟاَ

ﺰﻳٌِ ﺰَﻋ

ﺡﻢﻴَِ ﻜ

Artinya: “Dan orang-orang yang beriman, lelaki dan perempuan, sebahagian mereka (adalah) menjadi penolong bagi sebahagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf, mencegah dari yang mungkar, mendirikan sembahyang, menunaikan zakat, dan mereka takut kepada Allah dan Rasl-Nya.

Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi

Maha

Bijaksana.”

 

(At-Taubah:

 

71)

Penulis adalah mantan anggota Negara Islam Indonesia (NII) dan mantan anggota Al-Jamaah Al-Islamiyah (JI) yang mengalami berbagai macam pengalaman selama bersama dengan organisasi tersebut. Kisah pengalaman dapat dipertanggung-jawabkan di hadapan Allah SWT dan di hadapan manusia. Bagi orang-orang yang mengalami pengalaman yang sama seperti penulis pasti akan mengingat nostalgia dari kisah yang terdapat di buku ini. Nama-nama mereka yang disebut dalam buku ini akan menjadi saksi kebenaran dan Allah

SWT juga akan menjadi saksi atas semua persaksian mereka. Buku tulisan Imam Samudra yang berjudul Aku Melawan Teroris(AMT) memberi saya inspirasi pertama dan dorongan yang kuat untuk menjelaskan kepada masyarakat.

Bukan tujuan saya untuk membuka aib seorang Muslim dengan sengaja. Apa yang saya jelaskan dalam buku ini bukanlah untuk menjerumuskan teman- teman, tetapi bertujuan menambah wawasan dan pengetahuan masyarakat. Saya tidak tega melihat umat Islam mendapatkan informasi yang tidak jelas, apalagi penyesatan informasi. Sebagai jawaban saya di hadapan Allah SWT nanti bahwa saya sudah menyampaikan apa adanya sesuai pengetahuan saya kepada masyarakat umumnya, dan kepada umat Islam khususnya. Cukuplah kita menghadapi musuh Islam yang berusaha menyesatkan umat Islam, jangan pula kita sebagai Muslim menyesatkan sesama umat Muslim.

Tujuan saya yang lain dalam menulis buku ini adalah untuk saling mengingatkan sesama Muslim dengan harapan agar teman-teman yang terlibat dalam aksi pemboman di luar medan pertempuran atau mempunyai hasrat dan rencana, agar supaya menghentikan perbuatan mereka yang menurut pengetahuan saya, kegiatan tersebut termasuk dalam kategori berbuat kerusakan di muka bumi. Tiada upaya fisik yang dapat saya lakukan untuk menghentikan operasional pemboman mereka kecuali hanya dengan lisan, semoga dapat membuka hati nurani teman-teman Muslim tersebut. Mengingat sabda Rasulullah SAW yang memerintahkan sahabatnya untuk membantu orang yang telah berlaku zalim dengan cara menghentikan aksi kezalimannya.

Artinya: Dari Anas r.a berkata, Sabda Rasulullah Saw: “Bantulah saudaramu yang berbuat zalim dan (bantulah saudaramu) yang dizalimi.” Kemudian berkata seorang sahabat “Aku membantu orang yang dizalimi, lalu bagaimana aku membantu orang yang berbuat zalim?” Lalu Rasulullah SAW menjawab, “kamu menghalanginya dan mencegahnya dari berbuat zalim karena yang demikian itu adalah membantunya.” (Hadis riwayat Bukhari).

Dari Jabir r.a, Rasulullah SAW bersabda: “… kamu tidak perlu menyembunyikan persoalan. Seharusnya kamu menolongnya baik yang zalim maupun yang dizalimi. Terhadap yang zalim, maka hendaklah mencegah kezalimannya. Sesungguhnya itu berarti telah menolongnya. Manakala terhadap yang dizalimi hendaklah membelanya.” (Hadis Bukhari dan Muslim)

Saya memohon maaf kepada pembaca, karena tulisan ini masih belum cukup sempurna yang pastinya akan ditemukan kekurangan-kekurangan, di antaranya disebabkan oleh kesulitan yang dihadapi dalam memindahkan bahasa percakapan (verbal) kepada bahasa tulisan, ditambah lagi karena faktor human error yaitu kelupaan. Maka saya sangat mengharapkan saran dan kritik yang membangun dari teman-teman dan pembaca supaya pada masa mendatang akan dapat memberi penjelasan dengan sedetil-detilnya dengan bahasa yang mudah difahami dan dengan sumber rujukan yang lebih lengkap.

Dengan demikian usaha meluruskan penyimpangan faham terhadap orang-orang yang mendahulukan sikap kekerasan dengan aksi pemboman, dapat terlaksana dengan baik dan menaruh perhatian ke hati nurani mereka. Dan, usaha ini juga bertujuan demi mencapai kemaslahatan umat Islam khususnya dan umat

manusia pada umumnya di seluruh dunia, insyaAllah… Amin ya Robbal ‘alamin…

Sebenarnya, saya bukanlah orang yang paling layak untuk menjelaskan apa itu Al-Jamaah Al-Islamiyah karena saya dahulunya bukanlah bagian dari pimpinan tertinggi yang mengetahui seluruh kegiatan Al-Jamaah Al-Islamiyah. Tetapi, oleh karena tidak ada satupun dari kalangan pihak pimpinan Al-Jamaah Al-Islamiyah yang mau menjelaskan dan malah mereka memutarbalikkan fakta, maka dalam keterpaksaan saya merasa harus mengambil bagian untuk menjelaskan kepada umat Islam khususnya dan umat manusia umumnya tentang apa itu Al-Jamaah Al-Islamiyah, sejauh yang saya alami sendiri. Dengan harapan supaya masyarakat mengetahui apa yang sebenarnya terjadi dan umat Islam tidak bingung melihat perilaku para pelaku bom seperti Imam Samudra, Ali Ghufron, Amrozi (figur Bom Bali) dan orang-orang yang sefaham dengannya. Percaya tidak percaya terserah kepada pembaca yang menilai. Yang paling penting adalah bahwa saya telah menyempurnakan hajat dengan menceritakan apa yang saya alami lalu disuguhkan kepada masyarakat sebagai perbandingan dengan informasi pihak-pihak yang hanya mengumbar opini publik dan menyesatkan.

Saya tidak mengetahui perencanaan Bom Bali dan tidak ikut terlibat dengan aksi tersebut, tetapi maksud dari tulisan ini adalah untuk menjelaskan latar belakang dari sebagian pelaku Bom Bali atau yang terkait dengannya. Sehingga pembaca dapat menilai kemampuan para pelaku Bom Bali yang disangkal oleh setengah pihak akan kemampuan mereka, dan apakah semua orang yang pernah ke Afghanistan adalah sama, keras, dan sadis? Pembaca dapat melihat bahwa hanya segelintir saja yang terlibat dalam aksi pemboman atau yang terkait dengannya. Dari sekian banyak nama orang-orang dari para alumni Afghanistan dan alumni pendidikan kemiliteran di Mindanao Filipina Selatan, kebanyakan tidak menginginkan dan tidak menyetujui aksi pemboman di tempat awam serta sasaran orang sipil, kecuali segelintir dari mereka yang terpengaruh dengan faham Usama Bin Laden dan Imam Samudra yang membolehkan membunuh orang sipil non-Muslim sebagai pembalasan. Silakan rujuk nama-nama para pelaku bom dengan daftar nama-nama yang ada di dalam buku ini.

Di dalam buku ini saya tidak menjelaskan tentang teori Jihad secara mendetil, sebab teori-teori tersebut bisa didapatkan dari buku-buku yang banyak tersedia. Apa yang ingin saya sampaikan melalui buku ini adalah tentang Al-Jamaah Al- Islamiyah dan anggota-anggotanya yang terlibat dalam aksi kekerasan pemboman sepanjang pengetahuan dan pengalaman saya semenjak jejak pertama munculnya kelompok ini dan perjalanan Jihad yang telah pernah terlaksana di Afghanistan dan di Mindanao Filipina Selatan. Yang kedua adalah mengenai hukum-hukum Islam terhadap faham Jihad yang diyakini oleh Imam Samudra yang termaktub di dalam buku Aku Melawan Teroris.

Jazakumullah khairal jaza dan terima kasih kepada orang-orang yang telah mendidik saya tentang Islam sehingga sampai saat ini saya masih dapat terus istiqomah membela martabat Islam dari dicemar dengan faham-faham yang mengkotorinya, juga membela nasib umat Islam daripada menjadi korban bom yang mengatasnamakan Jihad. Harapan saya semoga dengan tulisan ini dapat menyurutkan niat dan hasrat orang-orang yang ingin melakukan praktek pemboman di tempat orang awam baik keatas warga Muslim ataupun non- Muslim.

Akhir kata, jika kita memahami dengan baik kisah perjalanan Rasulullah SAW, mempelajari tafsir-tafsir Al-Qur’an dan membaca hadis-hadis Nabi Muhammad SAW, pasti kita akan menemukan bagaimana besarnya toleransi dalam agama Islam terhadap agama-agama yang lain yang dituntun oleh Rasulullah SAW di muka bumi ini sejak kenabiannya hinggalah wafatnya. Sungguh indah dan sungguh benar jika dikatakan Islam adalah agama kesejahteraan untuk sekalian alam. Wassalamualaikum w.w.

Bab 1 : Perjalanan Ke Afghanistan

1.01

Maahad Ittiba'us Sunnah

1.08

Berbaiat sebelum berangkat ke Afghanistan

1.02

Hasrat belajar ke luar negeri

1.09

Berangkat ke Pakistan

 

1.03

Antara dua pilihan sekolah

1.10

Harus belajar dan berlatih

 

1.04

Orang-2 Indonesia pada pandangan pertama

1.11

Akademi Militer Mujahidin Afghanistan

 

1.05

Pertama kali mengenal kata jihad

1.12

Berperang ketika liburan kuliah

 

1.06

Tawaran ke Afghanistan

1.13

Pengalaman

sebagai

Instruktur

di

Akmil

1.07

Persiapan keberangkatan ke Afghanistan

 

Mujahidin Afghanistan

 
NAMA Afghanistan mulai saya dengar ketika masih duduk di kelas 2 atau 3 Sekolah Menengah
NAMA Afghanistan mulai saya dengar ketika masih duduk di kelas 2 atau 3
Sekolah Menengah (setingkat SMP), Johor Bahru, Malaysia, sekitar tahun
1983/1984. Berita dan artikel mengenai Jihad Afghanistan sering dimuat di
tabloid dan surat kabar harian. Ketika itu orang tua saya biasa membeli surat
kabar Berita Harian (Malaysia). Sungguh memprihatinkan keadaan orang-orang
Afghanistan yang hampir setiap hari diberitakan diserang oleh pasukan tentara
Rusia, disebut juga pasukan Beruang Merah. Seingat saya, semua media pada
waktu itu menyebut pejuang Afghanistan yang berperang memperjuangkan
tanah
airnya
sebagai
Mujahidin.
Sebutan Mujahidin Afghanistan berulang-ulang ditulis, baik di media elektronik
maupun cetak. Sebutan Mujahidin tentu terkesan sangat istimewa bagi orang
Islam pada waktu itu. Pasalnya, konflik di Afghanistan telah membangkitkan
rasa sentimen umat Islam terhadap pemerintah Rusia yang bukan Islam. Foto-
foto yang dimuat di surat kabar atau ditayangkan TV dapat membangkitkan rasa
haru dan simpati semua orang. Dan, saya yakin umat non-Muslim pun
bersimpati terhadap hal-hal yang terjadi di Afghanistan.
Sementara
itu,
sekitar
tahun
80-an,
berbagai
yayasan,
persatuan,
dan
organisasi masyarakat di Malaysia juga menyediakan dana dari para donator
untuk membantu para Muhajirin (pengungsi) dan Mujahidin Afghanistan, sebagai
rasa
solidaritas
sesama
Muslim.
Sempat terbesit niatan dalam hati untuk pergi ke Afghanistan agar bisa turut
membela nasib umat Islam di sana. Tapi, niatan itu tak pernah terealisasi karena
saya baru berusia 15 tahun dan belum mengetahui prosedur pergi ke
Afghanistan, terlebih bagaimana mendapatkan biayanya. Karena itu, kembali
saya memusatkan perhatian pada pelajaran sekolah, untuk mempersiapkan diri
menghadapi ujian sekolah atau SRP (Sijil Rendah Peperiksaan) yang diadakan
setiap bulan Oktober. Peperiksaan itu sekarang dinamakan PMR (Peperiksaan
Menengah
Rendah).
Maahad
Ittiba'us
Sunnah

Sekitar pertengahan tahun 1984, orang tua membawa saya jalan-jalan ke Kuala Pilah Negeri Sembilan. Memang saya tidak bisa menolak setiap kali diajak orang tua berjalan-jalan, sebab saya suka bersiar-siar bak kata pepatah Melayu 'Jauh perjalanan luas pandangan'. Rupanya saya dibawa ke sebuah masjid tua bertingkat di tengah sawah di Jalan Seremban Kuala Pilah untuk menghadiri

'Ijtimak',

sebuah

acara

silaturrahmi.

Kami mendengarkan ceramah yang disampaikan oleh para ustadz berpaham Muhammadiyah yang menamakan diri Ahlus Sunnah Wal Jamaah, dari seluruh Malaysia. Hadir pada waktu itu seorang mubaligh keturunan Cina Muslim, Ustadz Husain Yee yang sangat saya kagumi. Saya sangat terkesan karena keistimewaannya dalam menyampaikan ceramah agama.

Bagi saya, seorang keturunan Tiong Hoa menyampaikan Islam dengan fasih dan mudah difahami, sungguh merupakan sesuatu yang istimewa. Bahkan, pada acara itu juga diadakan pembacaan Al-Quran dan diterjemahkan tanpa menggunakan kitab Al-Quran terjemahan. Bagi saya, hal ini merupakan sebuah keajaiban dan keistimewaan tersendiri, sebab ia tidak pernah belajar di sekolah agama tetapi memiliki kemampuan menterjemahkan Al-Quran dengan baik.

Saya jadi teringat pada Pak Tambi, teman orang tua saya yang mengajarkan

pelajaran harfiah menterjemahkan Al-Quran di rumahnya di Johor Bahru Malaysia. Ketika saya masih di duduk kelas 3 Sekolah Menengah, dua kali dalam seminggu orang tua mengantarkan saya dan Ummu Asma (adik) ke rumahnya. Tetapi sayangnya saya tidak begitu sungguh-sungguh belajar darinya. Rupanya beliau mempunyai pengetahuan yang sama dengan Maahad Ittiba'us Sunnah Kuala Pilah dalam ilmu menterjemahkan Al-Quran. Beliaulah orang tua yang pertama kali mengajarkan dan memperkenalkan kepada saya asas bahasa Arab

dan

menterjemahkan Al-Quran.

Usai mendengar ceramah dari para ustaz pada acara silaturrrahmi di Maahad Ittiba'us Sunnah tersebut, entah bagaimana, tanpa ada orang yang mempengaruhi dan mendorong saya, tiba-tiba timbul niatan untuk mendalami pengetahuan agama Islam. Terbetik keinginan untuk membela paham Ahlus Sunnah wal Jamaah dan menjelaskan kepada Umat Islam yang telah banyak melakukan amalan-amalan ibadah namun bercampur dengan bid'ah, yaitu amal ibadah yang tidak dituntunkan oleh Syariat Islam.

Padahal, bagi saya pelajaran agama Islam di sekolah menengah merupakan pelajaran yang sangat berat. Saya selalu didenda dan dihukum oleh guru agama karena sering tidak mengerjakan atau menyempurnakan PR menulis ayat-ayat suci Al-Quran dan Hadis Nabi. Hal itu justru membuat saya tidak suka dengan kelas pelajaran agama Islam di sekolah, bukan tidak suka dengan agama Islam. Kekurangmampuan saya membaca Al-Quran dan menulis Jawi (tulisan Arab) itulah yang membuat pelajaran agama Islam tersebut menjadi beban bagi saya.

Paham Muhammadiyah yang saya pahami pada waktu itu adalah sebagaimana yang dipahami orang-orang yang memegang paham Ahlus Sunnah wal Jamaah. Tetapi, kebanyakan orang di Malaysia pada waktu itu sering kali mengatakan bahwa paham yang diyakini oleh Muhammadiyah adalah paham Wahabiy atau paham kaum muda. Tak dapat dipungkiri, akibat dari sikap yang keras tanpa toleransi serta menghormati perbedaan pendapat dan paham sesama Muslim,

hanya akan menyebabkan timbulnya kebencian satu dengan yang lain. Padahal tidak ada perbedaan yang mendasar antara kaum tua dan muda yang sama- sama Muslim. Perbedaan yang terjadi hanyalah di tingkat pendapat (fatwa) dalam masalah furu'iyah (cabang) saja. Wallahu a’lam.

Dalam perjalanan pulang ke Johor Bahru usai acara ijtimak di Maahad Ittiba'us Sunnah, saya sampaikan niat untuk berhenti sekolah kepada orang tua saya; hal itu disaksikan oleh Pak Mat Dollah yang berada dalam satu mobil. Saya katakan bahwa saya akan menyelesaikan sekolah sampai akhir tahun tingkatan 3 dan berniat berhenti sekolah setelah peperiksaan SRP (Sijil Rendah Peperiksaan). Lulus atau tidak pada peperiksaan SRP itu, saya tetap mau berhenti sekolah dan belajar di Maahad Ittiba'u Sunnah di Kuala Pilah. Keinginan tersebut disetujui oleh orang tua saya yang memang tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk sekolah. Meski demikian, mereka tidak pernah bosan memberikan nasihat dan dorongan, bahkan pilihan kepada anak-anaknya yang seandainya sudah tidak mau bersekolah lagi agar lebih baik bekerja membantu keluarga.

Sehari setelah kertas terakhir peperiksaan SRP di sekolah menengah pada akhir Oktober 1984, saya minta izin kepada orang tua untuk berangkat ke Kuala Pilah

Negeri Sembilan. Saya sudah tidak peduli lagi dengan hasil peperiksaan SRP dan lebih terpikat pada Maahad Ittiba'u Sunnah meski tidak pandai membaca Al- Quran dan menulis Jawi (arab melayu). Maahad Ittiba'us Sunnah adalah sebuah masjid yang terletak di Bt 1½ Jalan Seremban Kuala Pilah Negeri Sembilan. Sekarang lebih dikenal dengan Jalan Lama ke Seremban. Seremban adalah

bandar

(ibukota)

Negeri

Sembilan.

Perkampungan di sekitar Maahad Ittiba’u As-Sunnah (Kursus Menterjemah Al-

Furqan) oleh penduduk di sekitar Kuala Pilah lebih dikenal dengan nama 'Parit'. Maahad Ittiba As-Sunnah adalah sebuah Masjid yang digunakan sebagai tempat belajar menterjemahkan Al-Quran yang disebut juga Kursus Menterjamah Al- Furqan. Dipimpin oleh Mudir Maahad bernama Ustaz Hashim A Ghani (guru yang banyak membimbing saya memahami Al-Quran), Maahad itu terkenal dengan pelajaran menerjemahkan Al-Quran dengan cepat. Metodenya itu juga disebut dengan menterjemah Al-Quran secara harfiyah. Sistem pelajaran yang mudah dan cepat tersebut juga menarik perhatian para mahasiswa untuk mengisi waktunya dengan turut belajar menterjemahkan Al-Quran. Mahasiswa perguruan tinggi yang paling banyak datang ke sana pada waktu itu adalah dari UPM, UM,

UKM,

dan

juga

dari

universitas

yang lain.

Masjid yang juga maahad itu menampung pelajar yang jumlahnya tidak menentu, terkadang banyak dan terkadang sedikit. Yang paling banyak jika datang musim libur sekolah menengah dan perguruan tinggi, jumlahnya bisa mencapai 60-80 orang atau sedikitnya 25-40 orang. Ukuran masjid tidak terlalu besar sehingga tidak mampu menampung pelajar dalam jumlah besar. Bilik-bilik tidur untuk para pelajar berada di sekeliling masjid tetapi jumlahnya tidak banyak, sehingga sebagian pelajar harus menggunakan ruang shalat untuk tidur. Sementara untuk makan siang dan malam disediakan oleh Ibu Yam, seorang dermawan dari kampung setempat. Khusus makan malam pada hari Kamis, para pelajar mendapat sumbangan dari beberapa orang penduduk

sebagai

kampung

sadaqah.

Maahad atau masjid ini memberi peluang belajar kepada semua lapisan umur.

Tidak ada kewajiban mengenakan pakaian seragam, tidak ada program 24 jam bagi yang tinggal di Maahad, dan tidak ada pembagian kelas menurut umur atau tingkat belajar. Siapa saja boleh hadir untuk belajar atau sekadar mendengarkan pelajaran yang diberikan. Bahkan para siswa diperbolehkan mengikuti pelajaran tersebut jika mereka mampu. Dengan begitu, di dalam kelas belajar akan kelihatan siswa dari berbagai umur. Begitu juga tidak ada ketentuan masa waktu belajar yang pasti di Maahad Ittiba As-Sunnah. Sistemnya bak pepatah 'siapa

dapat'.

cepat

dia

Pelajaran utama adalah pelajaran Harfiyah yang memerlukan ketekunan pelajar

untuk berlatih setiap waktu menerjemahkan Al-Quran dengan bantuan kamus terjemahan Al-Furqan tulisan Mudir Maahad Ittiba'u Sunnah. Selain itu terdapat juga mata pelajaran yang lain seperti Ilmu Nahwu dan Ilmu Saraf (keduanya tatabahasa Arab), Hadis Nabi (buku Bulughul Maram dan Subulus Salam sebagai kajian) dan Kajian hukum-hukum Hadis, Tafsir dan Ushulul Tafsir, Ushul Fikih,

Ulumul

Quran,

dan

lain-lain.

Kelas di Maahad mungkin dapat diklasifikasikan menjadi kelas senior, kelas junior, dan kelas gabungan. Pada waktu-waktu tertentu setiap minggu diadakan pengajian umum untuk penduduk kampung yang juga dihadiri oleh para pelajar Maahad itu. Saya sendiri sempat mengajar di Maahad Ittiba As-Sunnah itu pada awal tahun 1986 hingga akhir 1987, yaitu setelah setahun belajar. Kemudian pada tahun berikutnya saya mulai mengajar kelas junior sambil belajar di kelas senior. Saya juga diangkat menjadi ketua pelajar di Maahad itu.

Dua tahun berada di Maahad Ittiba'us Sunnah tersebut saya ditugaskan untuk mengajar kelas senior dan junior untuk mata pelajaran Harfiyah menterjemah Al-Quran dan tatabahasa Arab (Nahwu dan Saraf). Mengingat kesibukan di siang hari untuk mengajar, maka saya manfaatkan waktu malam hari untuk menambah pengetahuan dengan mendatangi rumah mudir Maahad, Ustadz Hashim A Ghani. Saya belajar dan mempertanyakan kepadanya berbagai permasalahan yang saya dapatkan dari buku-buku. Di samping itu, saya juga mendalami pengetahuan tersebut secara otodidak.

Hasrat

belajar

ke

luar

negeri

Saya pernah meminta kepada Mudir Maahad Ittiba'us Sunnah untuk mencarikan peluang melanjutkan belajar ke negara Arab guna memperdalam pengetahuan tentang agama Islam. Sayangnya dia belum mendapatkan akses setelah sekian lama menunggu sehingga saya berniat pergi keluar negeri dengan cara belajar ke sekolah Arab di Johor Bahru, Malaysia. Dengan bantuan orang tua, saya mendaftarkan diri ke sekolah Arab di Kampung Melayu Majidee Johor Bahru Malaysia pada pertengahan tahun 1987. Saya berharap dapat masuk ke kelas 6 dan langsung mengambil ujian. Namun, kenyataannya saya dimasukkan ke kelas 3. Di dalam kelas saya menjadi rujukan pelajaran bagi teman-teman sekelas, sebab saya sudah memahami semua pelajaran di kelas tersebut. Bahkan seandainya diminta mengajarkannya, saya mampu melakukannya.

Perasaan bosan dengan suasana sekolah yang berbeda dengan Maahad Ittiba'u Sunnah membuat saya merasa rindu dengan Maahad Ittiba'us Sunnah. Itulah sebabnya saya hanya bertahan sekitar dua bulan di bangku sekolah Arab itu. Sementara itu, teman-teman orang tua saya menyarankan agar saya kembali ke Maahad Ittiba'u Sunnah Kuala Pilah. Pasalnya, mereka mendengar bahwa Ustadz

Hashim A Ghani sudah mempunyai akses untuk mengirim pelajar ke luar negeri. Tanpa berpikir panjang, saya menuruti saran mereka dengan harapan dapat dikirim ke negara Arab untuk melanjutkan pendidikan.

Antara

dua

pilihan

sekolah

Pada bulan Desember 1984, adik perempuan saya, Ummu Asma, mengingatkan agar saya melihat hasil keputusan SRP (Sijil Rendah Pelajaran) tingkatan 3 yang diumumkan di sekolah. Namun, saran itu tak saya hiraukan karena sudah telanjur jatuh hati pada pelajaran yang ada di Maahad Ittiba'u Sunnah. Saya pun hanya meminta Ummu Asma untuk melihat dan menginformasikan kepada saya hasil keputusan ujian itu. Saya sudah berniat jauh hari untuk tidak melanjutkan sekolah menengah lagi sehingga saya menolak pindah sekolah ke sekolah menengah di Kuala Pilah sambil belajar di Maahad Ittiba'u Sunnah sebagaimana yang disarankan oleh Ustadz Hashim A Ghani setelah ia mengetahui hasil Ujian

SRP

saya.

Saya katakan kepadanya, jika saya belajar di dua sekolah dalam waktu bersamaan, maka pasti salah satunya akan ketinggalan atau menjadi lemah serta mendapatkan prestasi buruk. Pertimbangan dan keputusan itu tentu berdasarkan ukuran kemampuan yang saya miliki. Maka saya lebih memilih berkonsentrasi pada pelajaran yang ada di Maahad Ittiba'u Sunnah. Mudir Maahad Ittiba'us Sunnah sekali lagi mengingatkan saya agar tidak menyesal di kemudian hari karena tidak melanjutkan pendidikan ke tingkatan 4, seterusnya ke angkatan 5 untuk mengambil peperiksaan SPM (Sijil Peperiksaan Menengah). Saya katakan kepadanya bahwa saya insya Allah tidak akan menyesal di kemudian hari karena yakin Allah SWT tidak akan membiarkan saya tanpa rezeki dari-Nya.

Ternyata saya keliru dengan ucapan itu. Memang benar Allah SWT akan memberikan rezeki kepada semua makhluk ciptaan-Nya di dunia, baik kepada yang Muslim maupun yang non-Muslim. Sedangkan Sijil atau sertifikat hasil ujian itu hanyalah salah satu penyebab dan jalan atau alternatif bagi seseorang mendapatkan rezeki yang sewaktu-waktu diperlukan. Wallahu a’lam.

Orang-orang

Indonesia

pada

pandangan

pertama

Pada awal tahun 1985, setelah tiga bulan saya menuntut ilmu di Maahad Ittiba'u Sunnah, sekitar 50 orang dari Indonesia datang ke Malaysia. Itulah pertama kali saya bertemu dan berkenalan dengan orang dari Indonesia. Dijelaskan oleh Mudir Maahad Ittiba'u Sunnah dalam Majelis perkenalan bahwa mereka datang untuk mempelajari sistem pendidikan Islam yang ada di Malaysia, atau yang mereka istilahkan dengan studi banding. Peristiwa inilah yang kemudian kelak diakui oleh Hilmy Bakar Almascaty ketua DPP FPI dalam tulisan opininya di Harian Republika edisi 4 Mei 2004, yang berbunyi "Pada awal 1985, penulis dengan beberapa rekan mahasiswa berkunjung ke Pondok Pesantren ini".

Saya melihat kebaikan akhlak serta budi pekerti yang ada pada orang-orang Indonesia itu, terutama setelah saya bertemu dengan Ustadz Abdul Halim di Maahad Ittiba'us Sunnah yang biasa disapa oleh anggota rombongan lain dengan panggilan Abah. Pertama kali saya mengira bahwa orang yang memanggilnya Abah adalah anak beliau, tetapi ternyata bukan demikian. Saya kemudian menyadari bahwa Abah adalah panggilan hormat selaku orang tua. Namun saya tidak terbiasa memanggil beliau dengan panggilan Abah, melainkan

Ustaz. Belakangan, sekitar tahun 1998, saya baru mengetahui nama beliau di

Indonesia

adalah

Abdullah

Sungkar.

Saya juga bertemu dengan Ustadz Abdus Somad di Maahad Ittiba'us Sunnah, yang biasa dipanggil oleh orang-orang Indonesia pada waktu itu dengan panggilan Ustadz Abu. Sempat terlintas di pikiran saya mengapa orang-orang Indonesia itu memanggil Ustadz Abdus Somad dengan panggilan Ustadz Abu? Hampir semua orang-orang Indonesia yang bersamanya memanggil beliau dengan nama Ustadz Abu. Baru sekitar tahun 1997 saya mengetahui bahwa kebiasaan mereka di Indonesia memanggil Ustadz Abdus Somad dengan singkatan Ustadz Abu. Sebelum menyeberang ke Malaysia pada awal 1985, di Indonesia beliau lebih dikenal dengan nama Ustadz Abu Bakar Baasyir.

Sekali lagi, tulisan opini Hilmy Bakar Almascaty, ketua DPP FPI, di Harian Republika edisi 4 Mei 2004 tentang kehadiran Ustadz Abdus Somad di Maahad Ittiba'us Sunnah, berbunyi: “Di antara yang pernah datang pada saat penulis nyantri (di Maahad Ittiba'u Sunnah) adalah tokoh Muhammadiyah Indonesia, Lukman Harun dan beberapa tokoh gerakan Indonesia, termasuk Abu Bakar Ba'asyir.

Perkenalan saya dengan orang-orang Indonesia pada tahun 1985 itu termasuk antara lain:

1. Pak Adung, pada sekitar bulan Juni 2004 setelah beliau ditahan oleh pihak Polri. Saya mendengar langsung penjelasan darinya bagaimana beliau menyembunyikan Noordin M. Top dan Azahari sejak sekitar bulan November 2003.

2. Abu Jibril, melalui media saya mengetahui beliau pernah menjadi tahanan ISA di Malaysia tahun 2001 hingga 2003 / 2004.

3. Pak Solihin.

4. Ustadz Afif, hingga sekarang beliau adalah guru di Ponpes Al-Mukmin Ngruki.

5. Pak Agung, melalui media saya mengetahui beliau sekarang tahanan ISA Malaysia.

6. Feri, melalui media saya mengetahui beliau sekarang tahanan ISA Malaysia.

7. Saiful, (almarhum).

8. Pak Ristan (almarhum).

Ternyata mereka semua adalah para mubaligh yang banyak mengetahui tentang agama Islam (penilaian saya pada waktu itu). Mereka ramah dan suka berbincang tentang agama Islam. Malah di antara mereka ada yang membawa buku-buku bacaan untuk dijual. Kebanyakan buku-buku tentang gerakan Islam, seperti buku tulisan Hasan al-Banna, Ikhwanul Muslimin, buku kisah-kisah perjuangan Mujahidin Afghanistan, buku-buku Jihad Islamiy, buku-buku Aqidah

dan Tauhid dan berbagai buku fiqih Ibadah. Saya sering membeli dan meminjam buku-buku dari orang-orang Indonesia itu atau dari ustadz (panggilan kepada

dari

sebagian

mereka).

Yang menarik perhatian saya adalah kehidupan sehari-hari mereka yang mengaku sebagai mahasiswa, datang untuk studi banding. Tetapi yang saya heran, setelah beberapa hari mereka menginap di Maahad Ittiba'us Sunnah,

mengapa mereka sampai mencari tempat tinggal dan bekerja, dan bahkan tidak pulang-pulang ke Indonesia? Meskipun
mengapa mereka sampai mencari tempat tinggal dan
bekerja, dan bahkan tidak pulang-pulang ke Indonesia?
Meskipun pada waktu itu saya baru berumur 15 tahun,
namun saya dapat memperhatikan dan mempertanyakan
'keanehan' (menurut saya) yang terdapat pada orang-
orang
Indonesia
itu.
Ustadz Zainun (guru di Maahad Ittiba'u Sunnah) dan
Ustadz Hasyim pernah mengatakan bahwa orang-orang
Indonesia ini melarikan diri dari Indonesia. Saya
sebenarnya tidak memahami apa yang dimaksudkan oleh kedua orang guru itu
yang kemudian saya anggap sebagai angin lalu. Saya berfikir lebih baik mereka
tinggal di Malaysia daripada ditangkap di Indonesia. Tetapi kemudian setelah
saya berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan bersama-sama dengan
orang-orang Indonesia pada akhir tahun 1987, mereka menjelaskan kepada
saya bahwa orang-orang Indonesia yang menyeberang ke Malaysia pada awal
tahun 1985 itu adalah orang-orang NII yang berusaha menyelamatkan diri dari
ditangkap
oleh
aparat
Indonesia.
Kisah pelarian dan penyeberangan orang-orang Indonesia ke Malaysia dikuatkan
lagi oleh pengakuan Hilmy Bakar Almascaty ketika berdialog di kantor Majalah
Gatra Jakarta pada 25 Mei 2004. Ia menceritakan pengalamannya ketika
melarikan diri ke Malaysia secara ilegal pada awal tahun 1985, bersama-sama
Ustadz Abu Bakar Baasyir menyeberang dalam satu perahu. Saya heran dengan
Hilmy Bakar Almascaty sewaktu acara dialog itu yang menantang untuk
bermubahalah (ritual pembuktian kebohongan) untuk membuktikan bahwa saya
yang berbohong. Sepengetahuan saya, Hilmy Bakar Almascaty telah melakukan
penyelewengan istilah mubahalah dari ayat Allah SWT yang digunakannya. Saya
teringat dengan firman Allah SWT yang termaktub dalam Al-Quran Surah Ali
Imran
ayat
61.
Artinya: Siapa yang membantahmu tentang kisah ‘Isa sesudah datang ilmu
(yang
meyakinkan
kamu),
maka
katakanlah
(kepadanya):
“Marilah
kita
memanggil anak-anak kami dan anak-anak kamu, istri-istri kami dan istri-istri
kamu, diri kami dan diri kamu; kemudian marilah kita bermubahalah kepada
Allah dan kita minta supaya la’nat Allah ditimpakan kepada orang-orang yang
dusta.”
(Ali
Imran:
61).
Pertama
kali
mengenal
kata
jihad
Kata jihad sudah saya kenal sejak di bangku sekolah menengah. Tetapi saya
tidak
tahu
arti
jihad
yang
sebenarnya.
Seringkali pada waktu itu saya
mengartikan jihad sebagai perang dalam Islam. Ketika mulai belajar di Maahad
Ittiba'u Sunnah di Kuala Pilah barulah saya mengerti arti jihad itu melalui
penjelasan
guru
tafsir,
Ustadz
Hashim
A
Ghani.
Setiap malam saya bersama dua atau tiga orang teman datang ke rumahnya
dengan membawa berbagai macam buku bacaan pilihan, di antaranya adalah
buku Fiqih Jihad yang berdasarkan kepada ayat-ayat Al-Quran dan Hadis Nabi
Muhammad SAW tentang jihad. Ustadz Hashim A Ghani memberikan penjelasan
dengan sejelas-jelasnya, namun ketika ditanya tentang kewajiban berangkat
pergi berjihad ke Afghanistan sampai mengorbankan jiwa sendiri, beliau
mengatakan bahwa kewajiban itu sudah dilaksanakan oleh rakyat Afghanistan.

Sementara para pendakwah dari Malaysia (santri Maahad Ittiba'us Sunnah) punya kewajiban untuk menjalankan dakwah di Malaysia. Pada saat itu saya hanya menerima jawaban Ustadz Hashim A Ghani sebagai pendapat pribadi. Tetapi saya keliru ternyata beliau seorang yang bijaksana dan banyak pengetahuannya.

Pada waktu yang lain saya menyediakan waktu untuk bersilaturrahmi dengan mendatangi ustadz-ustadz dari Indonesia yang berada di Kuala Pilah untuk menimba ilmu pengetahuan yang tidak saya dapatkan penjelasannya di Maahad. Saya ingin mendengar penjelasan dan berguru dari beberapa orang di luar tenaga pengajar yang ada di Maahad Ittiba'u Sunnah.

Di antara ustadz (orang Indonesia) yang pernah saya datangi sambil membawa

buku untuk berguru dan meminta penjelasan serta bertanya tentang berbagai macam persoalan agama di Kuala Pilah Malaysia adalah Ustadz Abdul Halim, Ustadz Abdus Somad, Ustadz Afif, Ustadz Abu Jibril, Ustadz Solihin, dan Ustadz Saiful (alm). Saya meminta mereka menjelaskan berbagai persoalan agama

Islam termasuk permasalahan ibadah sehari-hari dan masalah Jihad Fisabilillah.

Di antara mereka juga ada yang menjadi pengajar sementara di Maahad Ittiba'u

Sunnah, seperti Ustadz Afif yang mengajar tatabahasa Arab (Nahwu dan Saraf).

Kemudian jika Hilmy Bakar Almascaty mengatakan pernah mengajar di Maahad

Ittiba'u Sunnah pada tahun 1985 karena dia pelajar senior, sebagaimana pengakuannya dalam tulisan opininya di Republika edisi 4 Mei 2004: “… penulis termasuk santri yang senior, kadang kala ditugaskan untuk menggantikan dosen yang berhalangan…” adalah berbeda dengan apa yang saya alami. Seingat saya dia datang pada awal tahun 1985, sedangkan saya datang ke Maahad Ittiba'us Sunnah pada bulan Oktober 1984. Kemungkinan Hilmy Bakar Almascaty terlupa

siapa

yang

senior

dan

yang junior.

Hilmy hanya mengajar selama beberapa hari saja tentang pengetahuan yang pernah dipelajarinya di Indonesia, bukan mengajarkan materi pelajaran yang diajarkan di Maahad Ittiba'us Sunnah. Karena itu saya tidak begitu ingat Hilmy Bakar Almascaty yang mengaku pernah mengajar di Maahad Ittiba'us Sunnah dan pelajaran apa yang diajarkannya. Yang jelas bukan pelajaran yang diajarkan oleh Mudir Maahad, Ustadz Hashim A Ghani. Sedangkan Hilmy Bakar Almascaty ketika datang ke Malaysia pada awal 1985, memperkenalkan dirinya dengan nama samaran yaitu Haikal bukan Hilmy. Entah mengapa Hilmy Bakar Almascaty tidak berani memperkenalkan namanya yang benar pada waktu itu, mudah-mudahan bukan berniat untuk berbohong.

Di samping mendapatkan penjelasan lisan dari para ustadz yang saya datangi,

saya juga banyak membaca buku-buku bacaan berbahasa Indonesia dan berbahasa Malaysia. Buku-buku itu menjelaskan tentang hukum-hukum Jihad dan kisah-kisah Jihad Nabi Muhammad SAW serta para Sahabat-sahabatnya (seperti buku Hayatus Sohabah) Saya juga membaca buku kisah Jihad Mujahidin Afghanistan (di antaranya adalah terjemahan dari bahasa Arab). Buku-buku tersebut saya pinjam atau beli dari orang-orang Indonesia yang tinggal di Kuala Pilah yang di antara mereka menjual berbagai macam buku bacaan Islamiy.

Tawaran

ke

Afghanistan

Setelah berhenti dari Sekolah Arab Majidee Johor Bahru (hanya sempat belajar sekitar sebulan atau dua bulan) saya datang kembali ke Maahad Ittiba'u Sunnah. Sebelumnya saya mendengar bahwa ada seorang dari teman saya yang bernama Mat Beduh akan berangkat melanjutkan belajar ke luar negeri, tetapi saya tidak tahu negara yang akan ditujunya. Sekitar bulan September 1987, Pak Ristan almarhum (orang Indonesia yang datang ke Malaysia pada awal 1985) berjumpa saya di Maahad Ittiba'u Sunnah. Dia menanyakan apakah Ustadz Hashim A Ghani telah menyampaikan pesan darinya untuk saya. Saya katakan bahwa saya tidak paham apa yang dimaksudkan oleh Pak Ristan. Dia kemudian meminta saya menemui Ustadz Hashim A Ghani untuk menanyakan isi pesan yang dimaksudkan. Dengan penuh penasaran saya langsung mendatangi rumah

Ustadz Hashim A

Ghani sebelum waktu Zuhur.

Ustadz Hashim A Ghani tidak langsung menjelaskan pesan dari Pak Ristan yang ingin saya ketahui. Dia berdiam diri agak lama. Baru selepas shalat Zuhur berjamaah di rumahnya dan makan siang bersamanya, Ustadz Hashim A Ghani membuka cerita dengan sebuah pertanyaan kepada saya. Katanya, “kamu mau ke Afghanistan atau ke Perlis?” Dengan cepat pikiran saya terbayang kisah Jihad dan Mujahidin Afghanistan dan juga terbayang kisah teman saya yang dikirim

bertugas mengajar di Perlis (salah satu negara bagian di Malaysia). Dalam waktu hitungan detik saya tidak percaya akan tawaran dan pertanyaan yang diajukan

kepada

saya

tersebut.

Bagaikan bulan jatuh ke riba dan bahkan tidak percaya; seolah mimpi menjadi kenyataan. Dalam hitungan detik saya teringat bagaimana kisah seorang ustadz dari Maahad Ittiba'us Sunnah yang mengajar di sebuah Maahad besar di Perlis (saya lupa nama maahad itu) lengkap dengan berbagai fasilitasnya. Sebelumnya

saya juga pernah berharap supaya dipilih dan dikirim ke Perlis untuk mengajar

di

Sana.

Saya melihat wajah Ustadz Hashim A Ghani sepertinya mengharap agar saya tetap membantunya mengajar di Maahad Ittiba'u Sunnah atau saya berangkat ke Perlis mengajar di Maahad di sana. Tetapi saya sudah tidak dapat menguasai rasa kegembiraan karena nama Afghanistan telah lebih mendominasi pikiran. Terlebih perasaan hati lebih mendorong untuk berangkat ke Afghanistan sebab rasa ingin tahu dan ingin mengalami sendiri suasana Jihad yang selama ini hanya dapat dibaca di buku-buku dan surat kabar harian saja. Saya sudah membayangkan suasana perang bersama Mujahidin Afghanistan yang akan saya alami sendiri dan juga membayangkan bagaimana memegang senjata api serta mulai merasakan kesedihan yang kemungkinan saya tidak akan kembali lagi ke Malaysia karena gugur di medan pertempuran.

Menurut Ustadz Hashim A Ghani, seluruh pembiayaan ditanggung oleh Ustadz Abdul Halim. Saya hanya perlu mempersiapkan diri dan mental untuk berjauhan dari keluarga dalam tempo waktu yang lama. Kemudian saya minta izin kepada Ustadz Hashim A Ghani untuk pulang ke Johor Bahru guna menemui orang tua dan meminta izin untuk berangkat ke Afghanistan. Saya tidak boleh berangkat tanpa pamit kepada orang tua; cara saya selama ini untuk meminta pandangan

dan

izin

dari

orang

tua,

yaitu ayah saya.

Keinginan untuk keluar negeri akan menjadi kenyataan seandainya saya menerima tawaran ke Afghanistan, tetapi seandainya tawaran itu ditolak belum

tentu akan ada tawaran kali kedua. Terlebih lagi orang tua saya tergolong kurang mampu untuk mengeluarkan biaya guna melanjutkan pendidikan ke luar negeri. Saya pun berpikir ini adalah kesempatan emas yang tidak boleh

dilepaskan

 

begitu

 

saja.

Orang

tua saya

menerima

kenyataan

dengan

tenang

setelah

mendengar

penjelasan

Afghanistan. Saya katakan bahwa biaya keberangkatan akan ditanggung oleh Ustadz Abdul Halim, mubaligh asal Indonesia yang juga dikenal orang tua saya.

saya ke luar negeri, yaitu

tentang

rencana

keberangkatan

Orang

tua

saya

memberi

dukungan

moral

sepenuhnya

dan mendoakan

keberhasilan

 

saya

di

Afghanistan.

Niat saya hanyalah ingin bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan membela dan mempertahankan tanah air mereka yang menurut berita yang tersebar pada waktu itu, dikuasai oleh tentera Rusia. Sebenarnya saya bukanlah orang yang punya kemampuan lebih untuk membantu Mujahidin Afghanistan. Apatah lagi umur saya pada waktu itu baru meningkat delapan belas tahun, tetapi semoga dengan kehadiran saya dapat menambah jumlah pasukan Mujahidin Afghanistan. Tiada bekal materi yang dibawa dari rumah melainkan hanyalah bekal doa restu dari ayah. Sementara ibu tidak mengerti tujuan saya ke Afghanistan. Ia hanya mengetahui saya kembali ke Kuala Pilah dan mendoakan selamat tiba di Kuala Pilah. Saya tidak sampai hati memberitahu ibu akan tujuan yang telah dipilih sebab saya khawatir ibu akan merasa sedih. Belakangan ibu hanya mengetahui bahwa saya belajar di Pakistan.

Persiapan

keberangkatan

ke

Afghanistan

Hanya beberapa hari saja (sekitar awal Oktober 1987) berada di rumah orang

tua saya di Johor Bahru yang kemudian saya kembali ke Kuala Pilah menemui Pak Ristan. Saya menyatakan kesiapan diri untuk berangkat dan memberitahukan sudah pamit kepada orang tua. Saya kemudian disuruh pergi ke rumah Saiful (alm) di Kuala Pilah untuk bergabung dengan empat belas orang yang dikatakan akan berangkat bersama-sama ke Afghanistan. Ternyata di rumah itu juga ada orang yang saya kenal dengan baik yaitu Mat Beduh (orang Malaysia) yang juga ikut serta di dalam rombongan saya untuk berangkat ke Afghanistan. Barulah saya ingat bahawa Mat Beduh yang kabarnya mendapatkan peluang melanjutkan pendidikan ke luar negeri itu adalah sebenarnya akan

berangkat

ke

Afghanistan.

Saya gembira sebab bukan saya sendiri dari warganegara Malaysia yang akan berangkat. Namun saya tidak mengerti ketika teman-teman Indonesia satu rombongan yang akan berangkat itu mengatakan bahwa kami berdua adalah orang Malaysia pertama yang akan diikutsertakan dalam program Jihad ke Afghanistan. Saya tidak mempertanyakan lebih mendalam mengapa hanya kami

berdua orang Malaysia. Sementara tiga belas orang yang lain dari Indonesia dan mengapa kami berdua adalah orang pertama yang dipilih dan ditawarkan untuk berangkat ke Afghanistan. Bagi saya yang paling penting adalah saya dapat berangkat dan menginjakkan kaki di Afghanistan. Kalau saya banyak bertanya dan cerewet (rewel) kemungkinan akan digugurkan dari rombongan (yang akan berangkat) maka sikap yang lebih baik adalah ikuti saja apa yang telah

ditetapkan

oleh

Pak

Ristan.

Meski sudah saling berkenalan dengan teman-teman yang nantinya menjadi satu

rombongan dengan saya, tidak terlintas di pikiran untuk menanyakan kelompok apakah mereka yang datang dari Indonesia ini? Siapakah yang memberangkatkan mereka? Apakah tujuan mereka berangkat? Dari manakah biaya ongkos perjalanan didapatkan? Rasa kegembiraan yang timbul karena dapat berangkat bersama-sama menutupi semua keraguan dan kecurigaan sampai-sampai tidak perlu menanyakan lagi yang macam-macam dan juga kalau dapat secepat mungkin diberangkatkan lalu esoknya tiba di Afghanistan.

Dalam hari-hari menunggu keberangkatan, saya dinasihati agar tidak memberitahu kepada sesiapapun tentang rencana pemberangkatan ke Afghanistan serta tidak memberitahu akan keberadaan tiga belas orang Indonesia yang akan menjadi satu rombongan. Saya tidak diberitahu alasan

mengapa harus menutup mulut untuk tidak menceritakan kepada siapa saja. Pak Ristan mengingatkan jika rencana pemberangkatan diketahui banyak orang,

maka

ada

kemungkinan

akan

digagalkan.

Saya mencoba memahami apa yang dimaksudkan harus menjaga rahasia, yaitu supaya pemberangkatan nanti ke Afghanistan tidak akan ada halangan yang melintang. Inilah pengalaman pertama saya menghindari berbagai pertanyaan teman-teman di Kuala Pilah serta mengalihkan perhatian mereka terhadap saya yang akan berangkat ke Afghanistan. Dengan kata lain saya mulai diajar berbohong untuk membela kepentingan suatu kelompok (rombongan yang akan berangkat) bukan bohong untuk kepentingan diri sendiri.

Ternyata Pak Ristan juga bukan nama yang biasa dikenal di Indonesia, menurut teman-teman serombongan saya mengatakan bahwa nama Ristan adalah kebalikan dari nama Natsir, yaitu namanya di Indonesia. Beliaulah yang mengatur proses pemberangkatan orang-orang NII ke Pakistan lewat Malaysia di bawah pengaturan Ustadz Abdul Halim. Dan beliau jugalah yang memberikan saya nama Sulaiman yang menurutnya setiap orang yang akan berangkat ke Afghanistan harus mengubah nama. Ini untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan pada masa mendatang. Inilah pengalaman saya pertama kali harus mengubah nama. Saya tidak membantah sebab jika memang mengubah nama termasuk persyaratan berangkat ke Afghanistan.

Berbaiat

sebelum

berangkat

ke

Afghanistan

Pada malam hari sebelum hari keberangkatan ke Subang, Kuala Lumpur, kami semua sebanyak lima belas orang yaitu rombongan yang akan diberangkatkan

ke Afghanistan berkumpul di rumah Pak Ristan di Serting Negeri Sembilan. Kami semua duduk membentuk sebuah halaqah (bundaran) bersama Pak Ristan, kemudian tidak berapa lama datang Ustadz Abdul Halim, Ustadz Abdus Somad dan Ustadz Hashim A Ghani. Majelis pertemuan dimulai dengan pembukaan oleh Pak Ristan dan kemudian satu persatu dari rombongan yang akan diberangkatkan maju ke hadapan duduk menghadap Ustadz Abdul Halim dengan berjabat tangan sambil menyebutkan kata-kata pendek yang saya tidak begitu

tepatnya.

ingat

susunan

Saya tidak tahu apa yang dilakukan oleh orang-orang Indonesia ini dan ritual apakah yang sedang berlangsung di hadapan mata saya sebab kebanyakan di antara mereka menangis ketika berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim sambil menyebutkan kata-kata (yang kemudian setelah berada di Afghanistan barulah saya mengetahui bahawa pratik itu adalah berbaiat).

Sebelum tiba giliran saya, sempat terdetik di hati saya untuk tidak melakukan hal yang sama, yaitu berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim. Masalahnya, saya tidak pernah melihat guru saya, Ustadz Hashim A Ghani, Mudir Maahad Ittiba'us Sunnah, menyuruh atau mengajarkan praktik itu kepada saya rnaupun murid-muridnya yang lain. Pak Ristan juga tidak pernah memberitahukan bahwa akan dilaksanakan upacara berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim sebelum berangkat. Tetapi saya berpikir kembali jangan sampai karena tidak melakukan berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim akan menyebabkan saya tidak diberangkatkan ke Afghanistan. Karena itu, saya anggap kecil urusan berjabat tangan itu; bukanlah satu hal yang berat kalau hanya sekadar berjabat tangan. Lagipun prosesi itu tidak lebih dari tiga menit sudah selesai.

Seingat saya, perkataan yang saya ucapkan ketika berjabat tangan adalah “Aku berbaiat untuk mendengar dan taat dalam keadaan senang dan susah” atau dalam bahasa Arabnya “Baya’tuka ‘alas sam’i wat thoah fil ‘usri wal yusri.” Setelah selesai semua peserta yang akan berangkat mendapatkan giliran masing-masing berjabat tangan dengan Ustadz Abdul Halim lalu beliau menyampaikan sedikit wejangan sebagai bekal di hati.

Berangkat

ke

Pakistan

Keesokan harinya, pada pertengahan bulan Oktober 1987, kami semua berlima belas orang diantar Pak Ristan dengan menaiki mobil menuju ke perumahan di Subang, Kuala Lumpur. Kami singgah di salah satu ruko (rumah toko) sambil menunggu jam penerbangan. Di antara mereka, saya adalah orang yang paling sedikit membawa pakaian dan membawa tas paling kecil, sampai-sampai saya ditertawakan teman serombongan. Saya heran niengapa teman-teman semua membawa baju banyak dengan jaket yang tebal-tebal. Saya memang tidak pernah melihat orang-orang Afghanistan seperti yang dipublikasikan di surat kabar, majalah, dan televisi memakai pakaian seperti orang-orang di Malaysia maupun Indonesia. Pastinya pakaian yang dikenakan nanti akan disesuaikan dengan para pejuang Afghan, supaya tidak kelihatan asing.

Kemudian saya juga heran mengapa teman-teman membawa peralatan tulis dan juga peralatan geometris; bukankah rombongan ini akan berangkat perang? Yang tak kalah mengherankan lagi, mengapa mereka membawa kamus Inggris- Indonesia, Indonesia-Inggris, dan kamus Arab. Dalam pikiran saya, apakah ada waktu untuk belajar sedangkan waktu akan disibukkan dengan perang. Ya

sudahlah, yang penting saya dapat berangkat. Saya tidak peduli dengan urusan orang yang membawa banyak barang, itu adalah urusan mereka, yang memikul beban juga mereka sendiri. Kemungkinan juga saya salah melakukan persiapan. Tetapi tidak mungkin sebab Pak Ristan tidak pernah menyuruh mempersiapkan

perlengkapan

itu

semua.

Pesawat yang dinaiki adalah pesawat Aeroflot, yaitu penerbangan (maskapai) milik negara Rusia. Inilah pengalaman pertama kali menaiki pesawat, begitu juga teman-teman serombongan. Kemudian saya berpikir apakah tidak keliru kami semua dinaikkan ke pesawat Rusia. Bagaimana kalau mereka tahu bahwa kami semua akan berangkat ke Afghanistan menghadapi pasukan tentara negara Rusia, pasukan tentara negara mereka? Syukurlah mereka tidak mengetahui. Kemudian belakangan saya mengetahui dari teman-teman bahwa pemilihan pesawat Aeroflot adalah karena tiket penerbangannya lebih murah

dibandingkan

dengan

pesawat

yang

lain.

Pesawat berangkat dari Airport Subang, Kuala Lumpur, menuju Pakistan yang kemudian mendarat di Karachi. Setibanya di Airport Karachi, kami dijemput oleh orang Indonesia yang fasih berbahasa Pakistan (belakangan saya ketahui bahasa itu adalah bahasa Urdu dan Parsi). Dia memperkenalkan dirinya dengan nama Pak Saad. Kami semua dibawa ke sebuah rumah yang disebut Maehmon Khana (bahasa Afghan) yang bermakna rumah tamu atau ruang tamu. Rumah itu milik Tanzim Ittihad-e-Islamiy (salah satu organisasi Mujahidin Afghanistan) yang dipersiapkan untuk urusan organisasi Tanzim Ittihad-e-Islamiy di Karachi bagi menjemput para tetamu Mujahidin yang mendarat di Karachi Pakistan.

Dalam perkenalan di Maehmon Khana saya mengetahui bahwa Pak Saad adalah orang yang sudah lama di Pakistan dan Afghanistan. Dia berbicara dengan orang-orang Afghan yang berada di rumah itu dengan menggunakan bahasa setempat, sangat menakjubkan sekali. Beliau sudah berada di Pakistan dan Afghanistan sejak akhir 1984 atau awal 1985. (Belakangan saya ketahui sekitar tahun 2002 bahwa Pak Saad biasa dipanggil oleh teman-temannya di Indonesia dengan nama Abu Hadid. Tetapi ketika kasus Bom Bali 12 Oktober 2002 ternyata nama yang tertera di berita adalah Ahmad Roichan).

Harus

belajar

dan

berlatih

Keesokannya dari kota Karachi kami berangkat menuju Peshawar dengan menaiki bus yang memakan waktu dua malam. Kemudian saya dan teman- teman dibawa Pak Saad ke perkampungan Muhajirin (pengungsi) Afghanistan di Pabbi, yaitu sebuah kawasan luas bertanah gersang di Pakistan. Di sana kami ditempatkan di sekolah menengah militer milik Tanzim Ittihad-e-Islamiy yang menurut bahasa Afghan dinamakan Harbiy Sohanjay. Rasa sedih dan rasa simpati timbul memuncak ketika melalui kemah-kemah muhajirin yang memprihatinkan dan bangunan-bangunan yang dibangun dari tanah dan tumpukan batu untuk tempat tinggal kebanyakan para muhajirin Afghanistan. Perasaan kasihan membangkitkan semangat untuk membela nasib umat Islam Afghanistan yang terusir dari kampung halaman mereka.

Ketika tiba di Harbiy Sohanjay, saya mendengar suara sorakan kegembiraan dan seruan takbir dari orang-orang yang sebangsa dan serumpun yaitu yang berbeda dari orang Afghan. Mereka adalah orang-orang Indonesia yang telah lama berada di Afghanistan dan Pakistan. Sebagian dari mereka langsung memeluk teman serombongan saya, sepertinya mereka sudah saling kenal ketika di Indonesia dan bahkan di antara mereka menggunakan bahasa yang asing bagi saya yang belakangan saya ketahui bahwa bahasa itu adalah bahasa Jawa dan bahasa Sunda dan ada juga yang menggunakan bahasa Lombok. Saya dan Mat Beduh terkadang tertawa dan tersenyum sendiri sebab kami anggap lucu dan kami berdua tidak begitu paham dengan bahasa orang Indonesia itu. Tetapi jika mereka berbicara dengan kami berdua, mereka menggunakan bahasa

Nasional

Indonesia.

Saya dan Mat Beduh disambut oleh mereka dengan gembira kerena kami berdua adalah orang Malaysia yang pertama datang ke situ. Semua ingin berkenalan dan mengajukkan (menirukan) bahasa Malaysia seolah-olah di antara mereka pernah tinggal di Malaysia. Saya perhatikan setiap gerak, tingkah, dan mendengarkan orang-orang Indonesia yang saling menanyakan kabar kampung

halaman mereka (Indonesia). Belakangan saya tahu bahwa mereka sudah hampir tiga tahun tidak pulang kampung, betapa rindunya mereka dan betapa gembiranya mereka ketika bertemu dengan orang Indonesia yang baru datang.

Mereka adalah angkatan kedua (Daurah Duwom, untuk Akademi Milker Mujahidin Afghanistan) yang diberangkatkan ke Afghanistan pada tahun 1985 yang berjumlah sekitar 59 orang. Mereka juga bercerita tentang alasan yang diberikan kepada keluarga mereka di saat akan berangkat ke Afghanistan. Ada di antara mereka yang memberikan alasan belajar ke negara Arab Saudi sehingga mereka harus mencari kesempatan belajar bahasa Arab di Akademi

Militer Mujahidin Afghanistan. Dan ada di antara mereka yang beralasan bekerja di Malaysia sehingga mereka mengambil kesempatan menabung dari hasil uang honor yang didapatkan setiap bulan. Bentuk fisik mereka semua tidak sama, ada yang kecil, ada yang gemuk, ada yang kelihatan kurus, jarang sekali yang

bertubuh

tegap

seperti

militer.

Di Harbiy Sohanjay inilah (akhir 1987) pertama kali saya bertemu dan berkenalan dengan orang yang bernama Mukhlas (ia menikah dengan adik perempuan saya pada tanggal 1 Juli 1990 di Johor Bahru Malaysia). Mukhlas menikah bukan karena kedekatan hubungan keluarga istrinya dengan para TKI sebagaimana yang di jelaskan oleh Hilmy Bakar Almascaty ketua DPP FPI dalam tulisan opininya di Koran Republika edisi 4 Mei 2004, “… alumni PP Al-Mukmin, Ngruki, yang bekerja sebagai TKI ataupun pengajar di Malaysia seperti Mukhlas (Ali Ghufron) yang akhirnya menikah dengan saudara perempuan Nasir…”

Tetapi pernikahan itu terjadi karena orang tua saya yang berkenan dengan akhlak dan budi pekertinya yang bagus serta kemampuannya yang cemerlang dalam memahami agama Islam, dan lagi pula dalam satu jamaah (waktu itu dalam jamaah NII). Mukhlas adalah ustadz yang hebat dalam ilmu pengetahuan Islam dan paling rasional yang pernah saya kenal pada waktu itu. Saya bangga Mukhlas menikah dengan adik saya itu, sampai-sampai saya disuruh pulang ke Malaysia menghadiri majelis pernikahannya untuk meyakinkan adik saya bahwa

Mukhlas adalah teman saya yang sepaham dan satu perjuangan di Pakistan dan Afghanistan (saya hanya sempat sebulan di Malaysia antara Juni dan Juli 1990

lalu

kembali

ke

Afghanistan).

Saya tidak pernah dan tidak akan menyesal Mukhlas menikah dengan adik saya itu. Adik saya telah mendapatkan suami yang terbaik untuk dirinya, tiada yang dapat sebanding Mukhlas selaku suami kepada adik saya itu. Sebagai suami, ia adalah seorang suami yang teladan di sebagian hal. Hilmy Bakar Almascaty bukan dari kalangan keluarga saya, jadi saya mengira baginya adalah lebih baik tidak berbicara daripada bercerita yang tidak diketahuinya dan menurut saya adalah kurang pantas baginya membicarakan urusan keluarga saya karena beliau tidak mengerti urusan dalaman keluarga saya.

Sekitar bulan November atau Desember 2002, barulah saya mengetahui nama Mukhlas melalui media adalah Ali Ghufron. Mukhlas sendiri menyatakan pengakuannya kepada saya pada sekitar akhir bulan Oktober 2002 di rumah kontrakannya di Gresik bahwa beliau dan adik-adiknya yang melakukan pemboman di Bali tanggal 12 Oktober 2002 itu. Saya tidak meragui kemampuan Mukhlas dan adik-adiknya (seperti Ali Imran) karena mereka memang sudah pernah mendapatkan pendidikan kemiliteran di Afghanistan. Hanya saya merasa

cukup kaget dan tidak bisa berbuat apa-apa, sebab sasaran pemboman mereka

kebiasaan pertempuran.

itu

di

luar

Dan di Harbiy Sohanjay ini kami (rombongan angkatan saya) diingatkan untuk mengaku berasal dari Filipina jika ditanya oleh orang-orang Afghan atau orang- orang Arab, alasannya sebagai cover yaitu berselindung, tanpa membantah kami

semua

mentaati

aturan

itu.

Dan disini juga (akhir 1987) saya berkenalan dengan orang-orang seangkatan Mukhlas yang berjumlah 59 orang dari angkatan kedua Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (Daurah Duwom). Mereka antara lain:

1. Hamzah. Waktu itu ia masih bujang, tetapi setelah menikah di Indonesia dan mempunyai anak laki-laki, lalu ia biasa dipanggil dengan nama Abu Rusdan yang berarti bapaknya Rusdan. Diketahui namanya Ustadz Thoriqudin setelah beliau ditahan oleh Polri pada sekitar bulan April 2003 yang dicurigai menyembunyikan informasi pelaku Bom Bali.

2. Mustapha. Waktu itu ia masih bujang tetapi setelah mempunyai anak di Indonesia yang bernama Tolut, maka ia memperkenalkan dirinya dengan nama Abu Tolut. Pada sekitar akhir tahun 1999 ketika bertugas di Kamp Hudaybiyah di Mindanao, Filipina Selatan, ia memperkenalkan dirinya dengan menggunakan nama Hafid Ibrahim yang berarti cucunya Ibrahim. Kemudian saya mengetahui namanya Pranata Yuda melalui media setelah ia ditahan oleh Polri pada sekitar bulan Juli 2003 atas kasus pemilikan senjata api di rumahnya.

3. Muhammad Qital. Waktu itu ia masih bujang, tetapi sekitar tahun 1999 ketika bertugas di Kamp Hudaybiyah di Mindanao Filipina Selatan, dia memperkenalkan dirinya dengan nama Humam atau Abu Humam karena memiliki anak lelaki yang bernama Humam. Kemudian setelah ditahan oleh Polri pada tahun 2004 barulah saya mengetahui namanya Adi Suryana. Menurut kabar yang saya terima ia dicurigai melakukan perencanaan bom.

4. Ustadz Mustaqim, atau dikenal juga di Malaysia dengan nama Abu Hawari (karena anaknya bernama Hawari) dan dengan nama Muzayyin di Indonesia yang sekarang adalah salah seorang guru di Pondok Pesantren Al-Mukmin Ngruki. (Saya tidak tahu kalau dia sudah berhenti mengajar di Ponpes itu). Pernah menggunakan nama Ustadz Muslih Ahmad ketika bertugas di Kamp Hudaybiyah di Filipina pada tahun 1998-1999, selaku ketua kamp Hudaybiyah dan ketua Akademi Militer Al-Jamaah Al- Islamiyah bagi semester I angkatan pertama.

5. Wahyudin, dikenal juga dengan nama Muhammad Yunus ketika melaksanakan tugas sebagai salah seorang instruktur di Kamp Hudaybiyah pada akhir tahun 1999 hingga pertengahan tahun 2000.

6. Ikhsan Miarso.

7. Mukhlas, dikenal juga dengan nama Abu Zaid di Malaysia dan dikenal dengan nama Ali Ghufron di Indonesia. Mengaku merencanakan dan melaksanakan aksi pemboman di Bali pada tanggal 12 Oktober 2002.

8. Fahim, sewaktu itu masih bujang dan saya mengetahui namanya Usman setelah ditahan oleh pihak Polri pada sekitar bulan Juni 2004.

9. Zaid, yang juga dikenal dengan nama Samean.

10. Nasrullah.

11. Shamsudin.

12. Syakir, sekitar tahun 2003 baru saya mengetahui namanya Abu Faruq atau Utomo, setelah di tahan oleh pihak Polri yang menurut kabar dicurigai terlibat perencanaan bom.

13. Faruq, sekitar tahun 2003 saya mengetahui namanya Surono setelah ditahan oleh pihak Polri yang menurut kabar diduga terlibat pemilikan amonisi.

14. Usman, sekitar April 2003 ditahan oleh Polri dan divonis di Surabaya atas kasus pemilikan senjata api.

15. Ziad.

16. Saiful, dikenal dengan nama Bambang Setiono ditahan oleh Polri pada akhir tahun 2002 atas kasus menyembunyikan pelaku Bom Bali.

17. Jibril.

18. Zaid, yang juga dikenal dengan nama Nur.

19. Abdul Hakim.

20. Idris.

21. Abdus Salam.

22. Mukmin.

23. Firdaus.

24. Fazlul Ahmad.

25. Naim.

26. Maskur.

27. Syuja.

28. dan lainnya yang saya lupa nama mereka.

Kemudian orang yang mengurusi orang-orang Indonesia di Peshawar adalah Utbah yang kemudian diganti oleh Zulkarnain sebagai mas’ul (ketua) orang- orang NII di Pakistan dan Afghanistan. Zulkarnain pulang ke Indonesia dan kembali membawa Isttinya ke Peshawar pada sekitar 1988/1989.

Sementara angkatan pertama (Daurah Awal) dari anggota NII berjumlah hanya 5 orang di tempat pendidikan Akademi Milker Mujahidin Afghanistan. Mereka adalah Syawal (pernah ditahan oleh Polri di Manado pada sekitar akhir tahun 1999 atau awal 2000 atas kasus pemilikan senjata api), Zulkarnain, Mohamad

Faiq, Idris alias Solahudin dan Saad alias Ahmad Roichan. Mereka lebih senior setahun dari angkatan Mukhlas di antara orang-orang NII yang berada di

Afghanistan

pada

waktu

itu.

Ada satu perkataan yang menarik perhatian saya di Harbiy Sohanjay ketika mendengarkan orang-orang Indonesia saling berbicara antara satu sarna yang lain yaitu perkataan Pohantun. Setiap kali perkataan Pohantun disebut, mereka akan berbicara tentang belajar dan berlatih. Pada awalnya saya tidak ingin memperhatikan apa yang mereka bicarakan sebab apa yang ada dalam benak saya adalah kapan saya dan yang lain akan diberangkatkan ke medan pertempuran, hanya itu saja yang ditunggu-tunggu. Tetapi oleh kerana perkataan Pohantun semakin sering kedengaran di telinga ketika hari-hari menantikan acara atau tujuan berikutnya sehingga memancing saya untuk bertanya. Sebab seolah-olah Pohantun adalah tempat yang akan kami tuju.

Salah seorang di antara mereka belakangan saya ketahui bahwa dia adalah angkatan Mukhlas yang sudah lulus belajar di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan bagi angkatan kedua (Daurah Duwom, bhs Parsi) menjelaskan

kepada saya dan Mat Beduh. Menurutnya, nanti saya dan teman-teman serombongan akan diberangkatkan ke sebuah tempat pelatihan yang dinamakan Harbiy Pohantun tetapi lebih sering dipanggil Pohantun saja. Harbiy Pohantun berarti Akademi Militer, sedangkan Pohantun berarti Akademi.

Anak-anak Afghan yang telah tamat pendidikan dan lulus ujian di Harbiy Sohanjay (Sekolah Menengah Milker) akan melanjutkan pendidikan ke Harbiy Pohantun (Akademi Militer). Keberadaan orang-orang Indonesia di Harbiy Sohanjay pada waktu kedatangan saya dan rombongan adalah sebagai tempat penginapan sementara, sebelum mereka (yang sudah selesai berlatih di Akademi Militer, Daurah Duwom angkatan kedua) dikirim pulang ke Malaysia atau ke Indonesia. Tempat itu juga dijadikan penginapan sebelum saya serta rombongan

diberangkatkan dalam kelompok-kelompok kecil ke Harbiy Pohantun (Akademi Militer), yaitu tempat pendidikan yang sebenarnya bagi orang-orang Indonesia yang bercampur dengan orang Afghan. Lama waktu pendidikan di Harbiy

Pohantun

adalah

selama

tiga

tahun.

Mendengar penjelasan tentang tempat pendidikan itu, jiwa saya menjadi lemah dan perasaan menjadi tidak bersemangat. Begitu juga Mat Beduh langsung termenung memikirkan betapa lamanya harus belajar sebelum dapat pergi bertempur di medan pertempuran. Apalagi Mat Beduh sudah berkeluarga dan jauh lebih tua, dua kali umur saya. Timbul rasa kekecewaan dalam diri saya dan ingin menyalahkan orang-orang yang tidak memberi penjelasan dengan sejelas- jelasnya sebelum berangkat dari Malaysia. Tak heran jika teman-teman serombongan saya membawa berbagai macam perlengkapan belajar dan alat

tulis, karena mereka sudah mengetahui lebih dulu akan tujuan keberangkatan mereka sejak dari di Indonesia. Terlebih lagi untuk berlatih di Akademi Militer

Mujahidin

Afghanistan.

Saya tidak siap belajar di sebuah kampus pendidikan seperti Akademi, saya sudah meninggalkan bangku sekolah sejak akhir tahun 1984 dan sekarang akhir 1987 (apalagi Mat Beduh yang sudah berumur) disuruh masuk ke Akademi untuk belajar selama tiga tahun. Padahal saya juga sudah lama meninggalkan matematika dan geografi, dua pelajaran yang sangat berat bagi saya sewaktu di sekolah menengah dulu. Belum lagi bahasa Indonesia yang tidak dipahami dengan banyaknya istilah-istilah asing. Dan menurut mereka, yang akan mengajar serta melatih adalah orang Indonesia. Saya dan Mat Beduh merasa dibohongi, sebab tawaran awal berangkat ke Afghanistan adalah untuk berjihad membela umat Islam Afghanistan, sedangkan kami berdua tidak dijelaskan harus belajar dan berlatih untuk jangka waktu yang lama.

Kemudian orang-orang Indonesia yang senior itu membujuk saya dan memberikan nasihat untuk bersabar dan juga menasihati bahwa harus memiliki ilmu sebelum `beramal. Demikian juga untuk berperang ke medan pertempuran haruslah mempunyai ilmu pertempuran. Saya coba menenangkan diri dengan menerima nasihat dan siap untuk belajar serta berlatih. Sekali lagi saya berpikir jangan sampai dengan tidak mengikuti program untuk belajar di Akademi Militer akan dipulangkan ke Malaysia selanjutnya musnahlah impian untuk berjihad bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan. Maka kalaulah dengan belajar di Akademi Militer itu adalah sebagai syarat boleh ikut berjihad dan berperang di medan pertempuran maka lebih baik saya bersabar sehingga dapat berperang bersama-sama dengan Mujahidin Afghanistan.

Akademi

Militer

Mujahidin

Afghanistan

(Harbiy

Pohantun

Mujahidin-e-Afghanistan

Ittihad-e-Islamiy)

Pemberangkatan saya dan rombongan dari Harbiy Sohanjay menuju ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan diatur oleh orang-orang Indonesia yang bertugas seperti Utbah, Saad, dan Zulkarnain yang mengurus semua orang-orang

Indonesia di Pakistan dan Afghanistan. Mereka tidak tinggal di Harbiy Sohanjay, tetapi di sebuah rumah, di perumahan Pabbi, yaitu kawasan Muhajirin yang mereka sebut 'Perwakilan'. Dengan kata lain mereka adalah sejumlah orang yang dipilih untuk bertugas setelah menyelesaikan pendidikan di Akademi Militer

Mujahidin

Afghanistan.

Sayangnya teman saya satu-satunya orang Malaysia, Mat Beduh, hanya sempat berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda Pakistan, sekitar sebulan saja. Tidak diketahui dengan jelas alasan dipulangkannya ke Malaysia. Ada kabar bahwa Mat Beduh tidak tahan dengan sistem yang ada di Akademi Militer, sebab fisiknya yang tidak mendukung. Namun ada juga kabar bahwa Mat Beduh tidak cocok (tidak serasi) dan tidak sepaham dengan orang-orang Indonesia yang berada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu. Kebenaran alasan kembalinya Mat Beduh ke Malaysia hanya dia sendiri yang lebih tahu. Memang Mat Beduh ada kalanya mengeluhkan kepada saya rasa tidak nyamannya terhadap sikap dan perilaku orang-orang Indonesia.

Menurut pengamatan saya secara pribadi memang budaya, kebiasaan, dan paham yang dimiliki oleh orang Malaysia dengan orang Indonesia terdapat perbedaan, baik dari segi penggunaan bahasa, selera rasa lidah, pendidikan, maupun ideologi. Tetapi bagi saya berbagai macam perbedaan itu seharusnya tidak perlu menjadi masalah sebab manusia adalah makhluk Tuhan teristimewa

yang seharusnya dapat beradaptasi dengan lingkungan. Bagi saya perbedaan itu tidak memberi beban pikiran. Saya mengambil sikap untuk cepat beradaptasi sehingga cepat memahami pelajaran yang diberikan dengan bahasa Indonesia. Di samping juga supaya saya dapat bergaul dengan baik sehingga tidak merasa asing di tengah-tengah orang Indonesia dan malah seolah-olah saya menjadi

seperti,

bedanya.

tidak

ada

Akademi Militer Mujahidin Afghanistan adalah milik organisasi Tanzim Ittihad-e- Islamiy Afghanistan di bawah pimpinan Prof Ustadz Abdur Robbir Rasul Sayyaf. Tanzim Ittihad-e-Islamiy adalah salah satu dari tujuh organisasi orang-orang Afghan yang berjuang di Afghanistan hingga Kabul, ibukota Afghanistan, jatuh di tangan Mujahidin sekitar tahun 1992 (pada masa itu belum ada organisasi atau kelompok yang menamakan diri mereka Taliban).

Kawasan Akademi Militer yang pertama adalah terletak di Pabbi, Peshawar, Pakistan, yaitu di sekitar lokasi penampungan para Muhajirin (pengungsi) dan Mujahidin Afghanistan. Setahun kemudian, sekitar tahun 1986 Akademi Militer berpindah ke perbatasan, yaitu di Sadda Pakistan berdekatan dengan Paracinar atau perbatasan dengan Khowst Utara (Shamali Khowst).

Akademi Militer itu pada asalnya adalah untuk anak-anak Afghan yang dididik dan dilatih untuk menjadi komandan pasukan dan orang lapangan yang akan mengendalikan peperangan di medan pertempuran Afghanistan dalam menghadapi tentara Rusia atau pemerintah Komunis Kabul yang dipimpin oleh

Najibullah, Presiden Afghanistan. Karena situasi di tanah Afghanistan pada waktu itu dalam kondisi peperangan, maka sangat tidak kondusif untuk diadakan sebuah kamp pelatihan atau tempat pembelajaran seperti sebuah Akademi Militer. Maka, Tanzim Ittihad-e-Islamiy mendirikan Akademi Militer di tanah Pakistan atas izin pemerintah Pakistan waktu itu di tempat yang aman dan tidak

terganggu

oleh

suasana peperangan.

Lokasi Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu terletak di sebuah lembah di perkampungan Kheldan Sadaa Pakistan berdekatan dengan perbatasan ke

Afghanistan yaitu Khowst Utara. Perjalanan menuju ke Akademi Militer itu harus menaiki kendaraan angkutan darat dari Peshawar Pakistan yang mengarah ke

Parachinar

Pakistan.

Menurut keterangan para instruktur berketurunan Afghan yang pernah mengikuti pendidikan di Akademi Militer India, bahawa sistem pelajaran yang diterapkan di wilayah Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ini sama seperti Akademi Militer yang lain. Para instruktur senior yang bertugas di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu semuanya adalah bekas komandan-komandan tentara pemerintah Afghanistan yang berpihak kepada Mujahidin di bawah organisasi atau Tanzim Ittihad-e-Islamiy Afghanistan. Ada juga di antara instrukturnya yang bukan lulusan Akademi Militer India yaitu instruktur junior

yaitu pilihan terbaik dari lulusan angkatan pertama (1986) dan lulusan angkatan kedua (1987) Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang di antara mereka

adalah

orang-orang

Indonesia.

Tetapi, para instruktur orang-orang Indonesia itu tidak mengajar siswa Afghan. Mereka hanya mengajar dan melatih orang-orang Indonesia saja. Padahal orang-orang Indonesia angkatan pertama dan kedua menerima pendidikan dan pelatihan dari instruktur berketurunan Afghan, hanya saja kelas pembelajarannya tidak bercampur dengan orang Afghan sebab penggunaan

bahasa

yang

berbeda

ketika

mengajar.

Di dalam kelas, orang-orang Afghan menggunakan bahasa Poshtun atau bahasa Parsi. Sementara itu, instruktur Afghan yang mengajar orang-orang Indonesia menggunakan bahasa Inggeris. Kemudian ketika instruktur pelantikan baru mulai mengajar yang terdiri atas orang-orang Indonesia pilihan dari lulusan angkatan pertama (lulusan 1986, disebut Daurah Awwal) dan angkatan kedua (lulusan 1987, disebut Daurah Duwom), mereka menerjemahkan buku pelajaran dari bahasa Inggris kepada bahasa Indonesia supaya angkatan berikutnya dapat

memahami pelajaran dan pelatihan dengan baik. Kebijakan ini diambil karena sangat sedikit sekali orang Indonesia yang dikirim untuk mengikuti pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang memahami bahasa Inggeris. Beruntunglah saya dan angkatan serombongan saya yang diajar dan dilatih oleh orang-orang Indonesia, membuat pendidikan saya dan teman-teman seangkatan menjadi lebih efektif. Saya dan teman-teman serombongan (lulusan tahun 1990) masuk dalam angkatan kelima yang disebut Daurah Phanjum dalam bahasa

Parsi

di

Akademi

Militer

itu.

Akademi Militer Mujahidin Afghanistan memiliki lima fakultas, yaitu Fakultas Infantery (Pohanzay Piyadah), Fakultas Engineering (Pohanzay Engineering), Fakultas Artillery (Pohanzay Tupciy), Fakultas Logistic (Pohanzay Logistik), Fakultas Communication (Pohanzay Mukhobarat) dan Fakultas Kavalery

(Pohanzay Zahridor). Semua siswa keturunan Afghan dibagi ke semua fakultas dan mereka mendapatkan pendidikan sesuai bidang fakultas yang ditetapkan kepada mereka. Sementara orang-orang Indonesia tidak mengkhususkan

pendidikan pada fakultas tertentu yang ada di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan tersebut. Pendidikan yang diberikan bersifat umum, tetapi lebih

berkonsentrasi kepada pelajaran

Infantery.

Kamar barak istirehat bagi siswa orang-orang Indonesia digabungkan dengan siswa orang Afghan yang dipisah-pisahkan ke semua fakultas. Angkatan saya dibagikan ke barak fakultas yang berbeda, di mana saya dan beberapa siswa Indonesia yang lain mendapat bagian tinggal di barak fakultas Artillery (Pohanzay Tupciy) yang dipimpin oleh komandan Fakultas Artillery, yaitu

Komandan Dziarat Shah Khan. Seluruh administrasi keperluan siswa diatur sesuai tempat tinggal di fakultas yang ditentukan, termasuk siswa Indonesia

yang bertempat tinggal

di

fakultas

itu.

Begitu juga jadwal kegiatan 24 jam yang telah diatur di Akademi Militer, secara umum harus diikuti oleh semua siswa dan tidak terkecuali siswa Indonesia. Hanya saja kelas belajar yang terpisah dari siswa Afghan, semua siswa Indonesia yang bertempat tinggal terpisah di berbagai barak fakultas akan berkumpul di dalam satu kelas menurut tingkatan kelasnya masing masing. Selain dari kegiatan di dalam kelas belajar mengajar itu, semua siswa Indonesia mendapat bagian dan melakukan kegiatan yang sama dengan siswa Afghan.

Masa pendidikan di Akademi Militer adalah tiga tahun. Adapun pembagian kelas adalah, kelas satu (Sinfi Awwal), kelas dua (Sinfi Du atau Sinfi Duwom), kelas tiga (Sinfi Say atau Sinfi Suwom). Di setiap tingkatan kelas terdapat siswa orang-orang Indonesia sebab setiap tahun ada pengiriman siswa dari Indonesia dan terkadang juga terdapat siswa dari Malaysia.

Materi

pelajaran

militer

yang

utama

diberikan

adalah:

1.

Tactic,

yaitu

seni

pertempuran

 

infanteri.

2.

Map

Reading,

yaitu

kemahiran

seputar

peta

dan

navigasi.

3.

Weapon

Training,

yaitu kemahiran

seputar berbagai macam senjata

infanteri

4. Field Engineering, yaitu kemahiran seputar ranjau standar buatan pabrik,

artileri.

dan

bahan peledak, penempatan bom, dan penggunaannya sebagai alat penghancur.

Termasuk pengetahuan peracikan bahan kimia dan juga bahan dapur yang dapat

diolah

Destruction'.

'Mine and

menjadi

bahan

peledak.

Disebut

juga

Materi

pelajaran

Selain materi pelajaran militer terdapat juga materi pelajaran agama Islam, seperti Tafsir Al-Quran, Hadis Nabi SAW, Fiqih Sirah, Fiqih Harakiy, Fiqih Ibadah,

Jihad.

Kepimpinan

Islamiy,

dan

Fiqih

Angkatan pertama dan kedua dilatih oleh para instruktur orang Afghanistan dengan menggunakan bahasa Inggris. Sementara untuk pelajaran agama Islam diajarkan oleh ustadz dari orang Arab yang berlatih atau melatih di kamp latihan orang arab (Muaskar Kheldan) yang letaknya berdekatan dengan Akademi Militer itu.

Untuk

angkatan

selanjutnya

(angkatan

ketiga

hingga

kesembilan)

para

instrukturnya adalah orang-orang Indonesia (anggota jamaah) yangbertugas melatih orang-orang jamaah Darul Islam (Negara Islam Indonesia) itu sendiri. Dengan begitu proses pembelajaran menjadi lebih lancar dan cepat dipahami

karena kebanyakan orang Indonesia yang dikirim belajar di Akademi Militer itu tidak memahami bahasa Inggris ataupun bahasa Arab. Dan tidak perlu lagi disediakan waktu untuk menterjemahkan setiap pelajaran yang diajarkan oleh

instruktur

Afghan

atau

Arab.

Ketika angkatan saya (angkatan kelima/Daurah Phanjum) sedang duduk di kelas satu (Sinfi awal/Sinfi Yak), terdapat angkatan keempat (Daurah Chorrum) dari orang-orang Indonesia yang menduduki kelas dua (Sinfi Duwom/Sinfi Du), mereka adalah angkatan Hambali. Sementara tidak ada orang Indonesia pada waktu itu dari angkatan ketiga (Daurah Suwom) yang menduduki kelas tiga (Sinfi Suwom/Sinfi Say) di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (Harbiy Pohantun).

Orang-orang Indonesia yang berada di angkatan keempat (Daurah Chorrum) di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan yang pernah saya kenal sejak di Malaysia adalah para ustadz Indonesia yang pernah saya kenal di Kuala Pilah pada awal tahun 1985. Di antaranya adalah Ustadz Abu Jibril yang menggunakan nama Abdurrahman di Akademi Militer itu dan Ustadz Solihin. Saya agak terperanjat dengan keberadaan mereka di Akademi Militer itu. Tak heran jika saya tidak menemukan mereka di Kuala Pilah Malaysia, selama hampir setahun yang dikabarkan telah pulang ke Indonesia. Ternyata mereka berdua berangkat ke Pakistan/Afghanistan pada akhir tahun 1986, kurang lebih setahun sebelum saya

ke

sana.

Siswa Indonesia di Daurah Chorrum (angkatan keempat) berjumlah

sekitar

01. Hambali (menurut kabar di media, telah ditangkap oleh aparat Thailand lalu

Amerika).

02. Abu Jibril, dikenal juga dengan nama Abdurrahman (pernah ditahan di

sekarang

20

orang,

tahanan

di

antaranya:

dalam

aparat

Malaysia,

tahanan

ISA).

03.

Hasan.

04.

Shihabuddin.

05.

Fazlullah.

06.

Ali.

07.

Daud.

08.

Husain.

09.

AbdulQohar.

10.

Solihin.

11.

Abdul

Somad.

12.

Abdul

Manaf.

13.

Yunus.

14.

Taufiq.

Sayangnya, peluang belajar di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan ini, di antara para anggota yang dikirim oleh Jamaah Darul Islam (akan dijelaskan pada bab: NII dan DI/TII) tidak melalui proses seleksi yang baik. Praktik Nepotisme telah mengakibatkan banyak di antara siswa (orang Indonesia) yang

dikirim di antaranya yang sudah lewat umur, sehingga efektifitas belajar atau

tingkat kecerdasannya di

bawah standard.

Maka lulusan dari Akademi Militer Mujahidin Afghanistan pada setiap angkatan tersebut akan diseleksi oleh pimpinan orang-orang Indonesia di Peshawar. Bagi mereka yang terpilih akan diberikan tambahan dari sudut pengembangan pengetahuan kemiliteran, kemahiran, keterampilan, dan menambah pengalaman tempur. Selain yang ditugaskan sebagai instruktur di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, maka yang lainnya akan dipulangkan ke Malaysia atau Indonesia. Pendidikan lanjutan ini dibiayai dan diajarkan oleh orang-orang Arab di tempat latihan orang Arab di Afghanistan (pada waktu itu belum ada Kamp Latihan Al- Qaedah). Di antara pendidikan dan pelatihan lanjutan yang diberikan kepada yang terpilih adalah seperti:

1. Latihan komando.

2. Perbengkelan senjata dan amonisi.

3. Keterampilan menembak dengan pistol.

4. Sniper atau markmanship.

5. Mengendalikan tank tempur Rusia.

6. Memperdalam pengetahuan elektronik untuk kegunaan pemicu (Firing Devices).

7. Pengolahan bahan-bahan kimia sebagai bahan peledak, racun dan untuk kegunaan membunuh.

Pada setiap akhir tahun pembelajaran terdapat acara praktik lapangan yang diprogramkan oleh Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Acara ini disebut Tathbiqot dalam bahasa Parsi, yaitu praktik menembak dan penerapan taktik infantery dalam peperangan menurut teori yang telah didapatkan di kelas.

Pelaksanaan praktik lapangan (Tathbiqot) dilakukan di daerah tanah Afghanistan yang berdekatan dengan lokasi Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, yaitu

wilayah

Khowst

Utara

(Shamali

Khowst).

Bagi siswa-siswa Fakultas Artillery yang akan melaksanakan praktik penembakan dapat mengarahkan langsung ke musuh Mujahidin Afghan di wilayah Khowst dengan memanfaatkan senjata berat yang sudah tersedia bersama Mujahidin ataupun membawanya sendiri, jika siswa mampu memikulnya.

Setelah acara Tathbiqot, diadakan ujian akhir tahun di Akademi Militer, pengumuman hasil ujian, dan selanjutnya liburan akhir tahun. Pada liburan akhir tahun inilah saya dan teman-teman yang lain (orang Indonesia) diprogramkan oleh mas’ul (ketua/penanggungjawab) orang Indonesia untuk berangkat ke medan pertempuran di wilayah-wilayah Afghanistan secara bergantian selama

waktu

liburan,

sekitar

dua

bulan.

Pernah pada awal tahun pembelajaran (akhir tahun 1987) ketika saya berada di

kelas

instruktur, kelas satu dan kelas dua, disuruh pindah dulu untuk sementara pergi dari Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda sebab Akademi itu akan

baik

satu,

kami

semua

(hanya

kelompok

orang-orang

Indonesia)

diperiksa

oleh

pemerintah

Pakistan.

Seingat saya semua orang Indonesia dipindahkan ke salah satu tempat yang dijadikan markaznya Tanzim Ittihad-e-Islamiy yaitu di Khowst Utara (Shamali Khowst). Dalam masa pelatihan di Khowst ini, ada sejumlah sepuluh orang

Indonesia yang baru datang dan digabungkan dengan angkatan saya yaitu angkatan kelima (Daurah Phanjum), menjadikan jumlah dalam angkatan saya yang asalnya 15 orang menjadi 25 orang. Sempat sekitar 2 bulan pendidikan

diadakan di tempat itu yang berlangsung di medan pertempuran, walaupun jarak ke musuh Mujahidin (kota Khowst) agak jauh tetapi bombardir dari jet pesawat

tempur

di kemah-kemah, tempat pendidikan yang baru bagi orang-orang Indonesia ini.

terkadang

jatuh

Setelah sekitar dua bulan dan kondisi pemeriksaan yang dilakukan pemerintah Pakistan terhadap Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda dianggap selesai, maka semua orang-orang Indonesia kembali ke lokasi akademi tersebut. Pada waktu masih bertempat tinggal di Khowst Utara ini sempat didatangi oleh orang-orang yang tergolong sebagai pimpinan Jamaah Darul Islam (NII) pada awal tahun 1988 yaitu Ustadz Abdul Halim, Ustadz Abdus Somad dan Ajengan Masduki untuk melihat kegiatan anggota NII di program pendidikan dan pelatihan Akademi Militer Mujahidin Afghanistan.

Angkatan kelima Akademi Militer Mujahidin Afghanistan dari orang NII adalah:

01.

Saya

sendiri.

02.

Nuaim

dikenal

juga

dengan

nama

Abu

Irsyad.

03.

Huzaifah,

dikenal

juga

dengan

nama

Taufik.

04.

Abdul

Ghoni.

05.

Abu

Hurairah.

06.

Walid.

07.

Hilal.

08.

Furson

(almarhum).

09.

Mughirah.

10.

Bilal

11.

Khoidir.

12. Usman, dikenal juga dengan nama Abbas (kabarnya ia divonis atas kasus

Bom

Atrium

Jakarta).

13.

Abdul

Rosyid.

14.

Firdaus,

dikenal

juga

dengan

nama

Azzam

atau

Nyong

Ali.

15.

Qodri.

16.

Daud.

17.

Abdul

Aziz.

18.

Imadudin.

19.

Ikrimah.

20.

Syafiee.

21.

Kholil.

22.

Usamah.

23.

Uzair.

24.

Yasir,

dikenal

juga

dengan

nama

Farihin.

25. Jamaluddin (almarhum).

Berperang

ketika

liburan

kuliah

Selama saya menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan itu sebanyak tiga kali dilakukan program pemberangkatan ke medan pertempuran, yaitu pada masa liburan, tahun 1987-1990. Karena statusnya masih menjadi siswa di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan, maka kami semua tidak boleh

berangkat ke medan tempur untuk seterusnya. Kami semua harus berkonsentrasi pada pendidikan dan latihan. Waktu yang diperbolehkan hanyalah ketika libur sekolah saja dan itupun secara bergantian karena ada juga program tambahan di Akademi Militer selama liburan sekolah. Kecuali siswa Afghan yang langsung pulang ke kampung halaman mereka di Afghanistan yang terkadang ada di antara mereka yang tidak lagi kembali ke Akademi Militer ketika masuk sekolah. Sebab mereka sudah mati syahid atau gugur menjadi korban peperangan di medan pertempuran. Selama beberapa kali mengikuti pertempuran ketika liburan sekolah Akademi Militer, terdapat siswa Indonesia yang mati syahid atau gugur tewas di medan pertempuran, seingat saya seperti Sofyan (angkatan ketujuh) yang ketika itu dia masih menduduki siswa kelas 2 (1991) dan Jamaluddin (angkatan kelima) ketika itu baru lulus dari pendidikan

Akademi Militer,

dia

seangkatan saya.

Biasanya orang-orang Indonesia yang berada di bawah Tanzim Ittihad-e-Islamiy, tidak dibenarkan untuk mengikuti pertempuran di barisan paling depan (pasukan infantery). Artinya, mereka ditempatkan di bagian belakang yaitu di pasukan senjata artillery. Sebab sudah ada pesan amanat dari pimpinan Tanzim Ittihad- e-Islamiy yaitu Ustadz Abdur Robbir Rasul Sayyaf yang tidak membenarkan mereka di infantery. Menurut dia, orang-orang Indonesia harus berjuang di Indonesia. Saya tidak mengerti apakah sudah ada kesepakatan dengan pimpinan NII yaitu Ustadz Abdul Halim sehingga dilarang. Sebab, orang-orang Indonesia yang berangkat dari Indonesia sudah mengetahui keberangkatan

mereka

ke Afghanistan adalah untuk berlatih.

Karena itu dalam satu tahun, siswa-siswa Indonesia di Akademi Milker Mujahidin Afghanistan hanya memiliki peluang sekali selama sekitar sebulan untuk dapat bergabung dengan Mujahidin Afghanistan di medan pertempuran. Jika melewati peluang tersebut, maka dia harus menunggu hingga liburan Akademi Militer pada tahun berikutnya. Sungguh sangat beruntung bagi siswa Akademi Militer Mujahidin Afghanistan asal Indonesia yang dapat bergabung dengan pasukan Infantery Mujahidin Afghanistan. Meski itu pernah terjadi tapi sangat jarang sekali, saya dan beberapa orang (sekitar 8 orang) dari angkatan saya pernah mendapatkan kesempatan itu bersama instruktur kami yaitu Syawal dan Mohamad Qital di Samarkhil Jalalabad di Propinsi Nangrahar untuk selama

sebulan, pada

liburan

di

kelas

dua.

Setelah lulus dari pendidikan Akademi Militer pada tahun 1990 dan selanjutnya bertugas sebagai instruktur di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan tersebut, saya sempat beberapa kali mengikuti pertempuran pada masa liburan sekolah. Pada tahun 1992 setelah ibukota Afghanistan, Kabul, dapat dikuasai oleh Mujahidin, saya tidak lagi berangkat ke wilayah-wilayah medan perang di Afghanistan. Ini disebabkan pertempuran tersebut bukan lagi antara Mujahidin dengan pasukan pemerintahan Komunis Afghanistan, melainkan perkelahian dari oknum masing-masing organisasi mujahidin. Begitulah yang pernah saya alami

pada

waktu

masih

berada

di

sana.

Negara Afghanistan pada tahun 1992 dipimpin oleh Pemerintahan Mujahidin di bawah Presiden pilihan yang pertama (pilihan menurut kesepakatan tujuh organisasi mujahidin di Afghanistan) yaitu Prof Mujaddidiy. Setahun kemudian Presiden Afghanistan dipimpin oleh Prof Ustadz Burhanuddin Robbani.

Siswa Akademi Militer asal Indonesia yang berangkat ke medan pertempuran di Afghanistan bergabung dengan Mujahidin dari organisasi Tanzim Ittihad-e- Islamiy. Selama berada di medan pertempuran, berbagai macam senjata ringan diberikan sebagai amanah yang harus dijaga dan dipakai sewaktu-waktu terjadi kontak senjata. Dan ketika bergabung dengan pasukan Artillery Mujahidin dari Ittihad-e-Islamiy, mereka dapat sekalian mempraktikkan pengetahuan sesuai dengan tingkat pengetahuan yang telah didapatkannya di Akademi Militer.

Kecuali orang-orang Indonesia yang bukan lagi berstatus siswa di Akademi Militer, maka program keterlibatan mereka di medan pertempuran di Afghanistan diatur oleh Zulkarnain di perwakilan mereka di Peshawar, Pakistan, sehingga dapat bergabung dengan orang-orang Arab selain orang Afghan. Sebab orang-orang Arab menyusun pasukannya sendiri ketika melakukan perlawanan dengan pasukan Rusia maupun pasukan pemerintah komunis Afghanistan.

Selain orang-orang Indonesia (dari NII) yang diberangkatkan ke Pakistan/Afghanistan untuk mengikuti program pendidikan dan pelatihan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan di Sadda, terdapat juga anggota NII yang diberangkatkan untuk mengikuti pelatihan kursus singkat selama satu atau dua bulan. Di antaranya adalah Ashim (belakangan diketahui di Indonesia dengan nama Holisudin), Abdul Matin yang lebih dikenal di Indonesia dengan nama Dul

Matin, Agung Riyadi, Suhaimi, Faiz Bafana, dan lain-lain yang berjumlah sekitar

20

orang.

Terdapat juga orang-orang Indonesia di Afghanistan yang di luar jalur Ustadz Abdul Halim yang bergabung dengan Mujahidin Arab di Afghanistan. Biasanya orang-orang Indonesia dari jalur Ustadz Abdul Halim akan menghindarkan diri dari bertemu dengan orang-orang Indonesia itu. Dan jika pun bertemu pasti akan mengaku sebagai orang Malaysia bukan orang Indonesia. Sikap berbohong ini dilakukan adalah karena di medan pertempuran di Afghanistan sangat dikhawatirkan kemungkinan kehadiran personel intelijen pemerintah Indonesia.

Pengalaman

sebagai

Instruktur

di

Akmil

Mujahidin

Afghanistan

(Harbiy

Pohantun

Mujahidin-e-Afghanistan).

Di antara yang pernah berpengalaman bertugas sebagai instruktur untuk orang-

orang

Indonesia

(NII)

di

Harbiy

Pohantun

Sadda

adalah:

*

Zulkarnain

(1),

*

Syawal

(1),

*

Hamzah

(2),

*

Mustapha

(2),

*

Ziyad

(2),

*

M.Qital

(2),

*

Mustaqim

(2),

*

Ikhsan

(2),

*

Hambali

(4),

*

Husain

(4),

*

Nuaim

(5),

*

Saya

sendiri

(5),

*

Mughirah

(5),

*

Tamim

(7),

*

Habib

(7),

*

Qotadah

(7),

*

Ukasyah

(7).

Pengalaman saya sebagai instruktur bermula sekitar tahun 1989 ketika duduk di

kelas 2 (Sinfi Duwom) Akademi Militer Mujahidin Afghanistan. Waktu itu sedang liburan akhir tahun kelas 2. Pada masa-masa menunggu giliran saya ke medan pertempuran di Afghanistan, saya ditugaskan untuk mengajar dan melatih orang-orang yang mengaku dari Bangladesh. Waktu latihannya hanya sekitar 2 minggu, dan materinya berkisar pengenalan senjata api dan penggunaannya. Saya diminta untuk menggunakan bahasa Inggris yang kemudian oleh salah seorang dari mereka menterjemahkan ke bahasa yang dipahami oleh mereka. Walaupun ada instruktur yang berada di Akademi pada waktu itu, namun para instruktur itu memberikan tugas kepada saya sebagai latihan dan kegiatan ekstra selama liburan akhir tahun kelas 2. Kegiatan melatih orang Bangladesh yang berjumlah sekitar 40 orang itu diadakan di wilayah Akademi Militer

Mujahidin

Afghanistan.

Pengalaman kedua ketika saya duduk kelas 3 di Akademi Militer tersebut. Saya ditugaskan untuk merangkap sebagai instruktur bantuan mengajar kelas 1 (Sinfi Awal) orang-orang Indonesia di Akademi Militer (angkatan ketujuh), di bidang

persenjataan (small arms). Dan kegiatan sebagai instruktur bantuan ini berjalan sekitar 3 bulan sebab saya merasa terbebani dengan banyaknya pelajaran yang saya anggap banyak ketinggalan akibat waktu yang diluangkan untuk mengajar kelas 1. Bukan hanya saya sendiri yang ditugaskan untuk menjadi instruktur bantuan, tetapi ada dua orang teman seangkatan saya, Nuaim dan Mughirah (keduanya adalah warga Indonesia) yang ditugaskan untuk mengajar mata

pelajaran

yang

lain.

Pengalaman ketiga ketika liburan kelas 3 sebelum upacara wisuda (Rasmi Gojas). Pada waktu liburan itu juga saya mendapat giliran sebagai rombongan kedua untuk berangkat ke medan pertempuran di Afghanistan. Saya dan dua orang seangkatan, yaitu Nuaim dan Mughirah ditugaskan untuk bersama-sama dengan salah seorang instruktur asal Indonesia, Syawal (lulusan angkatan pertama), untuk melatih orang-orang Kashmir di Khowst Utara (Shamali Khowst) Afghanistan di sebuah kamp latihan orang Mesir.

Sekali lagi saya diberi tugas untuk melatih bidang persenjataan, meliputi

berbagai jenis senjata api berkaliber ringan dan senjata yang berkaliber besar (artillery). Sementara Nuaim mengajarkan mata pelajaran 'Map Reading and Navigation', sedangkan Mughirah mengajarkan 'Field Engineering' atau disebut juga 'Mine and Destruction'. Mereka adalah orang-orang Kashmir yang sempat melarikan diri dari kampung halamannya karena diserang oleh tentara pemerintah India. Mujahidin Kashmir itu bermaksud berlatih kemiliteran dan ingin memisahkan wilayah Kashmir yang mayoritas beragama Islam untuk tujuan bergabung dengan Pemerintah Pakistan. Begitulah salah seorang dari sekitar 100 orang yang mengikuti pelatihan selama 1 bulan itu menjelaskan

kepada

saya.

Sebelum Rasmi Ghojas (meminjam istilah orang Afghan yang berarti wisuda), yaitu setelah angkatan saya selesai program pendidikan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan (1990), maka saya diperintahkan pulang oleh Zulkarnain ke Malaysia pada pertengahan Juni 1990 untuk menghadiri acara pernikahan adik saya dengan Mukhlas yang berlangsung pada 1 Juli 1990.

Tinggal di Johor Bahru Malaysia selama satu bulan, saya harus kembali ke Akademi Militer Mujahidin Afghanistan untuk menghadiri wisuda angkatan saya dan selanjutnya mengemban tugas menjadi instruktur tetap di Akademi. Saya hanya mengajar bidang persenjataan untuk semua tingkat kelas kuliah, yaitu kelas 1, 2 dan 3 bagi orang-orang NII angkatan keenam, ketujuh, kedelapan, dan seterusnya hingga angkatan kesepuluh. Begitu juga siswa-siswa selain Afghan, jika ada yang mengikuti pelatihan di Akademi Militer Mujahidin Afghanistan.

Berikut adalah 9 nama dari 10 orang angkatan keenam yang masuk tahun 1988:

01.

Yazid.

02.

Arkam.

03.

Muaz.

04.

Rofi.

05.

Nu’man.

06.

Rifa’ah.

07.

Haris.

08.

Sofwan.

09.

Robi’.

Sementara dari 22 orang angkatan ketujuh yang masuk tahun 1989 adalah:

01.

Sofyan

(alm),

02.

Habib.

03.

Tamim,

ditahan

oleh

Polri

tahun

2003.

04.

Zubair,

ditahan

oleh

Poki

tahun

2003.

05.

Urwah yang dikenal juga dengan nama Pepen, ditahan oleh Polri tahun

2003.

06. Jabir (alm). Meninggal dunia ketika kecelakaan disaat mempersiapkan bom

rakitan

di

Antapane,

Bandung

pada

akhir

tahun

2000.

07.

Usaid

(alm).

Belakangan

ia

diketahui

di

Indonesia

bernama

Zainal,

meninggal di Ambon dalam kecelakaan ketika mempersiapkan bom rakitan.

08. Umair. Belakangan saya ketahui di Indonesia bernama Abdul Ghani atau

Suramto

ketika

dicurigai

terlibat

dengan

aksi

Bom

Bali

tahun

2002.

09.

Abu

 

Dujanah.

10.

Qotadah, dikenal dengan nama Baasyir ketika berada di Mindanao Filipina.

11.

Suhail.

12.

Ukasyah,

dikenal

juga

dengan

nama

Zuhair.

13.

Auf,

warga

Malaysia.

14.

Qois,

warga

Malaysia.

15.

Aqil,

warga

Malaysia.

16.

Suhaib.

17.

Anas.

18.

Adi.

19.

Dzakwan.

20.

T.

Furqan.

21.

T.

Abdul

Fattah.

22.

T. Abdul Hafiz.

Adapun 22 orang angkatan kedelapan yang masuk tahun 1990 adalah:

01. Said, warga Malaysia yang belakangan di Indonesia diketahui bernama

Farhan,

02. Saad, belakangan di Indonesia diketahui bernama Faturrahman Al-Ghozi

(alm).

03. Bara’, pernah bertugas di Kamp Hudaybiyah Mindanao Filipina pada tahun

1996 dengan menggunakan nama Amin. Kemudian belakangan diketahui di Indonesia bernama Mubarak atau Utomo Pamungkas melalui media setelah

di Indonesia tahun 2003.

terlibat

kasus

imigrasi

terlibat

peristiwa

Bom

Bali

2002.

04.

Salim.

05.

Ismail.

06.

Saib.

07.

Muktib, pernah divonis atas kasus pemboman di Batam pada tahun 2000.

08.

Makmar.

09.

Abdullah.

10.

MuBaasyir.

11.

Ilyas, pernah bertugas di Kamp Hudaybiyah pada 1995-1997 dengan

menggunakan

nama

Hanif.

12.

Hatib.

13.

Aus.

14.

Robi’ah.

15.

Unais, pernah dihukum di Jawa Barat atas kasus pemboman di Pangandaran

pada

bulan

Desember

2000.

16.

Abdul Hamid, belakangan diketahui bernama Muh Musyafak setelah ditahan

dan

divonis

terlibat

menyembunyikan

pelaku

Bom

Bali.

17.

Abu

Yasar.

18.

Sahal.

19.

T.

Hamzah.

20.

T.

Silahullah.

21.

T.

Yusuf.

22.

T. Zahid.

Angkatan kesembilan yang masuk tahun 1991 berjumlah 23 orang yang di antara mereka:

01. Zaid, belakangan diketahui di Indonesia bernama Ali Imran (melalui media)

setelah

02. Sawad, belakangan diketahui di Indonesia bernama Sarjiyo (melalui media)

setelah

03. Abu Syekh, belakangan diketahui di Indonesia yang disebut-sebut bernama

Umar

Bali.

dinyatakan

terlibat

dalam

peristiwa

Bom

dinyatakan

dan