Anda di halaman 1dari 19

HUKUM I KIRCHHOFF DAN RANGKAIAN PADA

RESISTOR
05.19 No comments
HUKUM I KIRCHHOFF
Dengan menggunakan hukum Ohm kita dapat menemukan besarnya arus yang
mengalir pada suatu rangkaian gabungan seri-paralel. Meskipun demikian, kadangkadang kita menjumpai rangkaian yang sulit untuk dianalisis. Sebagai suatu contoh,
kita tidak dapat menemukan aliran arus pada setiap bagian rangkaian sederhana
dengan kombinasi hambatan seri dan paralel.
Menghadapi rangkaian yang sulit seperti ini, kita menggunakan hukum-hukum yang
ditemukan oleh G. R. Kirchhof pada pertengahan abad 19. Terdapat dua hukum
Kirchof, dan hukum-hukum ini adalah aplikasi sederhana yang baik sekali dari
hukum-hukum kekekalan muatan dan energi.

Berdasarkan hukum kekekalan muatan, muatan yang masuk harus sama dengan muatan yang
keluar tanpa ada yang hilang atau diambil.
Hukum I Kirchhoff menyatakan :
" pada setiap cabang, jumlah semua arus yang memasuki cababg harus sama dengan jumlah arus
yang meninggalkan cabang tersebut "
Secara matematis persamaan tersebut ditulis sebagai berikut :
I masuk = I keluar

Maka sesuai dengan Hk I Khircoff adalah I1 + I2 = I3 + I4


Contoh soal

Hitunglah nilai X pada gambar di atas !


Jawab :
Jumlah arus yang masuk ke titik cabang = jumlah arus yang meninggalkan titik cabang
1 + 3 + 7 = 4 + X
11 = 4 + X
X =7A
RANGKAIAN PADA RESISTOR
a. Seri
Jika beberapa resistor dihubungkan dengan baterai dari terminal positif ke terminal negatif, maka
rangkaian resistor tersebut dikatakan duhubungkan secara seri.

Karakteristik hambatan susunan seri:


1. Rangkaian seri bertujuan untuk memperbesar hambatan rangkaian, nilai Rtotal untuk susunan
seri adalah R1 + R2 + R3 = Rtotal. Hambatan total merupakan jumlah hambatan setiap
komponen. Hal ini berlaku untuk hambatan yang disusun seri, semakin banyak hambatan yang di
susun seri, maka semakin kecil arus yang mengalir
2. Kuat arus yang melewati setiap hambatan adalah sama. I1 = I2 = I3 = Itotal,

3. Beda potensial dapat dihitung dengan hukum ohm V= I.R, sehingga


V1 = I1.R1,
V2 = I2.R2,
V3= I3 . R3
Vtotal= Itotal . Rtotal

4. Berfungsi sebagai pembagi tegangan. V1 : V2 : V3 = R1 : R2 : R3 Kelemahan susunan seri


adalah ketika salah satu komponen listrik pada rangkaian seri putus, maka rangkaian listrik
menjadi terbuka, sehingga komponen lain yang masih baik ikut padam. Namun sekring sengaja
dipasang seri dengan rangkaian komponen-komponen lain untuk tujuan pengaman.
5. Jika n buah resistor ekivalen, masing-masing dengan hambatan R ohm disusun seri maka
hambatan listrik resistor pengganti dinyatakan oleh:
R P = nR
Contoh Soal :
Jika tiga buah resistor dengan besar hambatan masing-masing 12 , 9 , dan 6 disusun secara
seri dan dihubungkan dengan sumber tegangan, maka tentukanlah besar hambatan total yang
dihasilkan ketiga resistor tersebut.
Jawab :
Dik : R1 = 12 ; R2 = 9 ; R3 = 6.
Rs = R1 + R2 + R3
Rs = 12 + 9 + 6
Rs = 27
Jadi, besar hambatan total atau hambatan pengganti adalah 27 .
Contoh Soal :
Dua buah resistor disusun seri dan dihubungkan dengan sumber tegangan 12 volt. Jika hambatan
masing-masing resistor tersebut adalah 4 dan 12 , maka tentukanlah kuat arus yang mengalir
dalam rangkaian tersebut.
Jawab:
Dik : R1 = 2 ; R2 = 10 ; V = 10 volt.
Rs = R1 + R2
Rs = 4 + 12
Rs = 16
I = V/Rs
I = 12/16
I = 0,75 A.
Jadi arus yang mengalir pada rangkaian itu adalah 0,75 A.
Keuntungan pemasangan resistor dengan cara seri adalah diperolehnya hambatan gabungan yang
lebih besar. Akan tetapijika susunan seri diterapkan pada pemasangan alat-alat rumah tangga,
maka jika salah satu peralatan tersebut putus (mati), arus listrik tidak dapat mengalir karena
rangkaian tersebut menjadi rangkaian terbuka. Dengan demikian peralatan yanglain akan mati
juga. Untuk memperbaikinya, masing-masing peralatan harus dites untuk mengetahui peralatan
mana yang mati.
Paralel
Penyusunan hambatan listrik secara paralel berfungsi untuk membagi-bagi arus dan memperkecil
hambatan listrik. Besar hambatan total pengganti pada rangkaian listrik paralel adalah kebalikan
hambatan penggantinya sama dengan jumlah kebalikan hambatan dari tiap-tiap penghambatnya.
Jika beberapa resistor disusun secara paralel, maka arus dari sumber akan mengalir bercabangcabang melewati maasing-masing resistor.

Karakteristik hambatan susunan paralel:


1. Tegangan pada setiap hambatannya adalah sama yaitu sama dengan tegangan resistor
penggantinya (V1 = V2 = V3 = Vtotal). Susunan paralel seperti pada gambar berikut.
2. Bertujuan untuk memperkecil hambatan rangkaian, maka nilai Rtotal untuk susunan paralel
adalah:
1/RP
=
1/R1
+
1/R2
+
1/R3
3. Khusus untuk dua buah resistor R1 dan R2 yang disusun paralel, nilai Rtotal dapat dihitung
secara:
1/RP
=
(R1R2)/(R1
+
R2)
4. Kuat arus yang melalui resistor dapat dihitung dengan hukum Ohm
I1 = V1/R1
I2 = V2/R2
I3 = V3/R3
IP
=
VP/RP
5. Berfungsi sebagai pembagi arus, yaitu kuat arus yang melalui tiap-tiap resistor berbanding
terbalik dengan hambatan listriknya
I1
:
I2
:
I3
=
1/R 1
:
1/R2
:
1/R3
Salah satu contoh hubungan paralel adalah peralatan listrik di rumah kita. Dalam susunan
paralel, jika salah satu komponen rusak atau gagal, maka komponen-komponen lain dalam
rangkaian
masih
tetap
bekerja.
6. Jika n buah resistor ekivalen, masing-masing dengan hambatan R ohm disusun paralel maka
hambatan listrik resistor pengganti dinyatakan oleh:
RP
=
R/n
Contoh
Soal
:
Jika tiga buah resistor dengan besar hambatan masing-masing 4 , 3 , dan 2 disusun secara
paralel. Tentukanlah besar hambatan total yang dihasilkan ketiga resistor tersebut.
Jawab :
Dik : R1 = 4 ; R2 = 3 ; R3 = 2.
1/Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3
1/Rp = 1/4 + 1/3 + 1/2
1/Rp = (3 + 4 + 6) / 12
1/Rp = 13/12
Rp = 12/13
Rp = 0,92
Jadi, besar hambatan pengganti pada susunan itu adalah 0,92 .
Contoh Soal :

Jika suatu rangkaian yang terdiri dari tiga buah resistor yang disusun secara paralel dialiri listrik
sebesar 6 A, maka tentukanlah besar teggangan pada tiap resistor jika masing-masing memiliki
hambatan 1 , 2 dan 3 .
Jawab
Dik : R1 = 1 ; R2 = 2 ; R3 = 3 ; I = 6 A.
1/Rp = 1/R1 + 1/R2 + 1/R3
1/Rp = 1/1+ 1/2 + 1/3
1/Rp = (6 + 3 + 2) / 6
1/Rp = 11/6
Rp = 6/11
Rp = 0,55
V = I Rp
V = 6 (0,55)
V = 3,27 volt.
Karena pada susunan paralel, besar tegangan pada tiap-tiap komponen sama dengan sumber
tegangan, maka besar tegangan pada masing-masing resistor adalah 3,27 volt.
Seri-Paralel
Selain disusun secara seri dan paralel, beberapa resistor juga disusun secara campuran yang
disebut rangkaian seri-paralel.

Contoh penerapannya dalam soal sebagai berikut :


Dua buah resistor masing-masing 1 dan 9 dihubungkan secara seri kemudian dirangkaikan
secara paralel dengan dua buah resistor lainnya yang disusun seri. Kedua resistor tersebut
masing-masing 2 dan 8 . Tentukanlah hambatan total atau hambatan pengganti pada
rangkaian tersebut.
Jawab :
Dik : R1 = 1 ; R2 = 9 ; R3 = 2; R4 = 8.
Rs1 = R1 + R2
Rs1 = 1 + 9
Rs1 = 10
Rs2 = R3 + R4
Rs2 = 2 + 8
Rs2 = 10
1/Rp = 1/Rs1 + 1/Rs2

1/Rp = 1/10+ 1/10


1/Rp = 2/10
Rp = 10/2
Rp = 5
Jadi, besar hambatan pengganti pada susunan itu adalah 5 .

Hukum II Kirchhof
Hukum II Kirchhoff
Hukum II Kirchhoff berbunyi : Di dalam sebuah rangkaian tertutup, jumlah aljabar gaya gerak
listrik () dengan penurunan tegangan (I.R) sama dengan nol. Maksud dari jumlah penurunan
potensial sama dengan nol adalah tidak ada energi listrik yang hilang dalam rangkaian tersebut,
atau dalam arti semua energi listrik bisa digunakan atau diserap.

Hukum II Kirchhoff dirumuskan sebagai


E +IR = 0
Keterangan :
E = jumlah ggl sumber arus (V)
IR = jumlah penurunan tegangan. (V)
I = arus listrik (A)
R = hambatan (W)
Penggunaan Hukum II Kirchhof adalah sebagai berikut:
1. Pilih rangkaian untuk masing-masing lintasan tertutup dengan arah tertentu.
Pemilihan arah loop bebas, tapi jika memungkinkan diusahakan searah
dengan arah arus listrik.

2. Jika pada suatu cabang, arah loop sama dengan arah arus, maka penurunan
tegangan (IR) bertanda positif, sedangkan bila arah loop berlawanan arah
dengan arah arus, maka penurunan tegangan (IR) bertanda negatif.
3. Bila saat mengikuti arah loop, kutub sumber tegangan yang lebih dahulu
dijumpai adalah kutub positif, maka gaya gerak listrik bertanda positif,
sebaliknya bila kutub negatif maka penurunan tegangan (IR) bertanda
negatif.

Hukum Kirchhoff pada Rangkaian Satu Loop Dengan menerapkan Hukum Ohm dan
Hukum Kirchoff I, kalian dapat mencari besar arus dan tegangan pada rangkaian dengan satu
sumber tegangan. Namun, bagaimanakah kita mencari arus dan tegangan jika pada rangkaian
terdapat lebih dari satu sumber tegangan? Perhatikan Gambar skema rangkaian tertutup dengan
dua sumber tegangan dan dua hambatan berikut ini

Gambar 5. Skema rangkaian tertutup


Kita dapat mencari besar arus dan tegangan pada resistor dengan menggunakan prinsip Hukum
Kirchoff II yang telah dipaparkan sebelumnya.
Perhatikan kembali rangkaian pada Gambar 5. Rangkaian tersebut merupakan rangkaian tertutup
dengan loop tunggal (1 loop). Untuk menganalis rangkaian tersebut, kita dapat menggunakan
hukum Kirchoff II dengan mengikuti langkah berikut.
a. Memilih arah loop. Agar lebih mudah, arah loop dapat ditentukan searah dengan arah arus
yang berasal dan sumber tegangan yang paling besar dan mengabaikan arus dan sumber
tegangan yang kecil (ingat, arah arus bermula dan kutub positif menuju kutub negatif).
b. Setelah arah loop ditentukan, perhatikan arah arus pada percabangan. Jika arah arus
sama dengan arah loop, penurunan tegangan (IR) bertanda positif. Namun, jika arah arus
berlawanan dengan arah loop, IR bertanda negatif.
c. Jika arah loop menjumpai kutub positif pada sumber tegangan lain, maka nilai E positif.
Namun, jika yang dijumpai lebih dulu adalah kutub negatif, maka E bertanda negatif.

Nah, dengan mengikuti langkah di atas, mari kita analisis bersama rangkaian tersebut. Pada
rangkaian tersebut, jika E2>E1, kita dapat menentukan arah loop sebagai berikut.

Gambar 6. penentuan arah arus pada loop (arah loop dan abcda.)
Setelah menentukan arah loop, kita dapat menerapkan hukum Kirchhoff II sebagai berikut.
IR2 E1 + IR1 E2 = 0
I(R1 + R2) = E1 + E2
Jadi kuat arus yang mengalir pada rangkaian tersebut adalah :
I = (E1 + E2) / (R1 + R2)
Contoh soal Penggunaan Hukum II Kirchhof

1. Suatu rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar 7, dengan hukum Kirchhoff II hitunglah arus
yang mengalir dalam rangkaian tersebut.

Gambar 7. Suatu loop tertutup untuk menerapkan hukum II Kirchhoff

Coba kalian pahami, kemudian bandingkan dengan kunci jawaban ini. Klik Disini.
2. Suatu rangkaian seperti ditunjukkan pada gambar 8, dengan hukum II Kirchhoff, hitunglah
arus yang mengalir dalam rangkaian tersebut!

Gambar 8. Suatu loop tertutup untuk menerapkan hukum II Kirchhoff


Nah bagaimana dengan soal yang ini. Apakah sudah sama dengan jawaban kalian? Cek Disini.
Rangkaian dengan Dua Loop atau Lebih Rangkaian yang memiliki dua loop atau lebih
disebut juga rangkaian majernuk. Langkah-langkah dalam menyelesaikan rangkaian majemuk
adalah sebagai berikut.
a. Gambarlah rangkaian listrik majemuk tersebut.
b. Tetapkan arah kuat arus untuk setiap cabang,
c. Tulislah persaman-persarmaan arus untuk tiap titik cabang menggunakan Hukum IKirchhoff
d. Tetapkan loop beserta arahnva pada setiap rangkaian tertutup.
e. Tulislah persarnaan-persamaan untuk setiap loop rnenggunakan Hukurn II Kirchhoff
f. Hitung besaran-besaran yang ditanyakan menggunakan persarnaan-persamaan pada langkah e.
Contoh menghitung Rangkaian dengan Dua Loop atau Lebih
1. Perhatikan gambar rangkaian listrik berikut:

Gambar 9. Rangkaian majemuk


a. Kuat arus yang mengalir dalam hambatan 1, 2,5 dan 6
b. beda potensial antara titik A dan B
Cari tau cara penyelesaiannya disini.
Contoh Soal :
Tentukan kuat arus yang mengalir melalui E1, E2, R3 !

Bagaimana Cara menjawabnya? Cari tahu jawabannya klik Disini.

Share this:

Hukum II Kirchhoff digunakan untuk menghitung besaran-besaran yang terdapat pada rangkaian
listrik. Besaran itu diantaranya kuat arus pada suatu cabang, ataupun beda tegangan antara dua
titik. Hukum II Kirchhoff menyatakan bahwa:
" Pada rangkaian tertutup jumlah GGL (gaya gerak listrik) sumber arus dengan penurunan
tegangan adalah nol."
Hukum II Kirchoff dirumuskan sebagai :
E +IR = 0
Keterangan :
E = jumlah ggl sumber arus (V)
IR = jumlah penurunan tegangan. (V)
I = arus listrik (A)
R = hambatan (W)
Untuk mengunakan hukum II Kirchhoff digunakan aturan dan langkah sebagai berikut :
a. Memisalkan arah arus pada setiap cabang.
b. Membuat suatu persamaan arus pada suatu titik dengan hukum I Kirchooff.
c. Membuat arah putaran loop pada setiap rangkaian tertutup, dengan arah sembarang.
d. Menerapkan hukum II Kirchoff pada kedua loop, dengan ketentuan:
Apabila mengikuti arah loop, bertemu kutub + dari sumber tegangan maka sumber tegangan itu
dinilai positif, dan sebaliknya.
Apabila mengikuti arah loop ternyata seaarah dengan arah arus pemisalan maka arus tersebut
dinilai positif dan sebaliknya

contoh 1

Contoh 2