Anda di halaman 1dari 17

Urolithiasis Pada Anjing Pug

(urolithiasis in pug dog)


I Made Agus Darmaditha1
Fakutas Kedokteran Hewan Universitas Udayana
Jalan P.B. Sudirman, Denpasar, Bali
Telp/fax (0361) 223791
Email : darmaditha@live.com
ABSTRAK
Urolithiasis adalah kondisi terbentuknya urolith atau kalkuli yang berlebihan
pada saluran perkencingan, seperti pada vesika urinaria, ginjal, ureter dan
uretra. Kejadian terbentuknya urolith pada vesika urinaria biasa terjadi pada hewan
domestic (anjing dan kucing) terutama karena pola diet pakan yang buruk. Anjing pug
bernama Bimo, umur 4 tahun, berjenis kelamin jantan, dan memiliki berat badan 7 kg.
Gejala klinis yang teramati adalah kesulitan kecing (dysuria), dengan volume urin yang
masih normal, saat kencing punggung diangkat ke atas (kifosis). Anjing ini sudah pernah
didiagnosa urolithiasis,sudah pernah diobati dan sudah dikastrasi. Hasil pemeriksaan
hematologi dengan interpretasi anemia mikrositik normokromik, leukositosis dan
Lympositosis. Pada pemeriksaan dipstick test dengan hasil blood (-), bilirubin (+),
urinobilinogen (-), keton (-), protein (-), nitrit (-), glukosa (-), pH (5), berat jenis (1.005),
leukosit (++). Pemeriksaan sedimen urin ditemukan adanya kalkuli struvit. Hasil dari
USG ditemukan adanya kalkuli pada vesika urinaria. Dapat disimpulkan dari
pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium bahwa hewan anjing pug yang bernama
Bimo mengalami urolithiasis. Terapi yang diberikan yaitu dengan pemberian
ciprofloxacin (antibiotika), furosemide (diuretika), nephrolite, dan vitamin B komplek
sebagai suportif.
Kata kunci : anjing, pug, urolithiasis
ABSTRACT

Urolithiasis is a condition of the formation of calculi urolith or excessive urinary


tract, such as the bladder, kidney, ureter and urethra. Genesis formation urolith the
urinary bladder is common in domestic animals (dogs and cats) mainly due to a
poor diet feed. Pug dog named Ben, aged 4 years, male gender, and has a weight
of 7 kg. The observed clinical symptoms are difficulty urinating (dysuria), with
the volume of urine is normal, when urinating lifted onto the back (kyphosis).
Hematological examination results with interpretation normochromic anemia,
leukocytosis and Lympositosis. On examination dipstick test with the results of
blood (-), bilirubin (+), urinobilinogen (-), ketones (-), protein (-), nitrite (-),

glucose (-), pH (5), specific gravity (1,005 ), leukocytes (++). Examination of


urine sediment found any struvite calculi. The results of the ultrasound discovered
the existence of calculi in the urinary bladder. It can be concluded from the
clinical examination and laboratory tests that animal pug dog named Ben
experiencing urolithiasis. Therapy was given namely by giving ciprofloxacin (an
antibiotic), furosemide (diuretic), nephrolite, and vitamin B complex as
supportive.
Keywords: dog, pug, urolithiasis
PENDAHULUAN
Anjing Pug banyak dipelihara masyarakat sebagai hewan kesayangan
dengan berbagai tujuan dan alasan. Anjing ini

memiliki ciri bertubuh kecil,

gempal, persegi, dan kekar. Kepala bulat dengan moncong pendek, tumpul dan
berbentuk persegi. Hidungnya pesek dan telinga kecil tipis berbentuk bunga
mawar atau kancing. Mata besar dan menonjol berwarna gelap. Wajahnya
mempunyai kerutan yang besar dan dalam. Ekornya menggulung/ikal ke
belakang. Bulunya pendek, halus, lembut dan mulus memiliki warna apricot,
fawn, hitam dan silver. Tinggi badan berkisar antara (jantan) 30-36 cm, (betina)
25-30 cm dan berat badan (jantan) 6-9 kg, (betina) 6-8 kg. Usia anjing pug
berkisar antara 12-15 tahun jika dipelihara dengan baik. Kecintaan terhadap anjing
seringkali membuat pemilik anjing memberikan makanan yang sama dengan
makanan yang dikonsumsinya, selain dog food yang dijual di pasaran. Komposisi
makanan yang tidak sehat dapat menyebabkan ketidakseimbangan nutrisi dalam
tubuh anjing tersebut. Selain itu, pola pemberian pakan juga dapat berpengaruh
terhadap pH urin, volume urin, dan konsentrasi urin yang dapat menyebabkan
terbentuknya presipitasi mineral, seperti urolit yang terdiri dari berbagai mineral
(Mariyani, 2009).
Urolithiasis adalah

kondisi

terbentuknya urolith atau

kalkuli

yang

berlebihan pada saluran perkencingan, seperti pada vesika urinaria, ginjal, ureter
dan uretra. Kejadian terbentuknya urolith pada vesika urinaria biasa terjadi pada
hewan,

terutama

pada

hewan

domestik

seperti

kucing

dan

anjing. Urolith terbentuk didalam vesika urinaria dalam berbagai bentuk dan

jumlah tergantung pada infeksi, pakan yang dikonsumsi, dan genetik (Suryandari,
2012). Saat urin mengalami tingkat kejenuhan yang tinggi, yang disertai dengan
kelarutan garam, garam tersebut mengalami presipitasi dan membentuk kristal
(crystalluria). Jika kristal itu tidak dikeluarkan maka akan terbentuk agregat yang
disebut

dengan

kalkuli. Urolith merupakan

batu

yang

terbentuk

akibat

supersaturasi di urin dengan kandungan mineral-mineral tertentu (Fossum, 1992).


Faktor-faktor yang mendukung terjadinya batu adalah aktivitas statis,
kurang minum, makanan yang banyak mengandung kalsium, oksalat dan fosfat
serta penurunan pH urin (Sastrowardoyo, 1997). Menurut Meyer dan Harvey
(1998) asupan protein tinggi menyebabkan pH urin lebih bersifat asam, sedangkan
apabila asupan makanan mengandung serat menyebabkan pH urin bersifat alkalis
atau netral. Nilai pH urin berhubungan erat dengan makanan pada hewan, dan saat
sampel urin diambil. Menurut Loeb dan Quimby (1989) pH urin kucing berkisar
antara 5,58,00. Coles (1986) juga melaporkan bahwa hewan yang tergolong
carnivora mempunyai kisaran pH yang luas. Suasana pH urin yang alkalis dapat
ditemui pada carnivora yang sehat.
Pembentukan urolith dimulai dari ginjal yang kemudian terbawa melalui
ureter dan terakumulasi di vesika urinaria. Kejadian urolithiasis umumnya terjadi
pada semua spesies hewan, terutama pada kucing, anjing, dan sapi.
Terbentuknya urolith pada anjing sering terjadi, kecuali pada ras Dalmatian hanya
1%, sedangkan pada kucing frekuensinya lebih besar yaitu 5-10% (Bloom et al.,
1954).
Urolith dengan berbagai komposisi mineral telah ditemukan pada anjing,
seperti struvite,

kalsium

oksalat,

kalsium

fosfat, uric

acid/urate,

dan cystine. Struvite dan kalsium oksalat adalah urolith yang paling umum
ditemukan pada kasus klinik. Batu dan kristal tersebut dapat ditemukan di ginjal,
urethra, dan kebanyakan di vesika urinaria (kandung kencing).Setelah terjadi
pengendapan,

partikel-partikel

yang

telah

mengkristal

bertambah

besar

ukurannya, memperparah kerusakan dan menimbulkan gejala klinis pada hewan


tersebut (Gipson, 1996). Diagnosa penyakit urolithiasis dapat diperoleh melalui
anamnesa, pemeriksaan fisik, gejala klinis, urinalisis dengan evaluasi sedimen,

pemeriksaan kimia darah seperti kadar ureum dan kreatinin, urin kultur, urolith
analisis, pemeriksaan USG serta radiografi abdomen (Birchard & Sherding 2000).
Diagnostik laboratorium menggunakan analisis kuantitatif dilakukan untuk
menentukan jenis atau tipe kalkuli yang spesifik (Hostutler et al., 2005).
Ada berbagai metode terapi yang bisa dilakukan dalam pengeluaran batu
ginjal pada kasus urolithiasis. Pengeluaran batu ginjal hingga bersih merupakan
tujuan utama dari terapi batu ginjal, sehingga diharapkan dapat mengurangi
organisme penyebab, membebaskan obstruksi, mencegah pertumbuhan batu lebih
besar, mencegah infeksi, serta mempertahankan fungsi ginjal. Beberapa modalitas
yang digunakan dalam penatalaksanaan batu ginjal baik sebagai monoterapi atau
kombinasi adalah: extracorporeal shock wave lithotripsy (ESWL), percutaneous
nephrolitotomy (PCNL), dan operasi terbuka yang invasive (Syahputra, 2011).
ESWL, terapi non-invasif menggunakan gelombang kejut yang pertama
kali digunakan pada tahun 1980, secara umum menjadi pilihan untuk
memecahkan batu ginjal berukuran kurang dari 20 mm. Pemecahan batu
berukuran besar dengan ESWL memberikan angka bebas batu yang rendah serta
kurang efektif secara biaya karena memerlukan beberapa sesi pengulangan.
Teknik PCNL sejak pertama kali dilaporkan Fernstrom dan Johansson pada tahun
1976 kini semakin disempurnakan, berkembang dan menggantikan operasi
terbuka konvensional sebagai terapi batu kompleks pada saluran kemih atas yang
tidak memenuhi indikasi dilakukan modalitas lainnya.6 Perkembangan teknologi
dan peralatan PCNL terkini memungkinkan pengeluaran batu ginjal yang efektif
dengan morbiditas lebih rendah, tanpa insisi lebar, masa pulih lebih pendek, dan
total biaya yang lebih rendah dibandingkan operasi terbuka (Syahputra, 2011).
KEJADIAN KASUS
Signalement
Hewan anjing bernama Bimo, ras Pug, jenis kelamin jatan, umur 4 tahun,
berat badan 7 kg dengan warna dominan coklat. Pemilik bernama Ella yang
beralamat di Jalan Tukad Pakerisan, Panjer Denpasar.
Anamnesa
4

Berdasarkan anamnesa yang telah dilakukan, anjing pug bernama bimo


telah dipelihara Ella selama 1 tahun. Anjing ini ditemukan dijalan dan
diselamatkan oleh Ella sekitar 1 tahun yang lalu, Pemilik hanya memiliki 1 ekor
anjing di tempat tinggalnya dipelihara dengan cara dikandangkan terkadang juga
dilepas di sekitar tempat tinggal. Kandang dibersihkan setiap hari oleh
pemiliknya. Obat cacing sudah diberikan namun setatus vaksin belum jelas. Pakan
yang diberikan yaitu dry food biasanya dicampur dengan nasi. Pemilik
mengetahui anjingnya mengalami kencing berdarah dan mengalami kesulitan saat
kencing (dysuria), terkadang anjing kencing urinnya sedikit (oligouria) sudah
mulai dari 3 minggu yang lalu. Anjing sudah pernah diberikan terapi di Rumah
Sakit Hewan FKH Udayana tanggal 15 november 2016 dan didiagnosa
Urolitiasis. Penanganan yang telah dilakukan pengechekan urin, USG, dan
pemasangan kateter urin namun tidak dapat masuk karena adanya sumbatan pada
urethra. Obat yang telah di berikan antara lain Injeksi Biodin 0,7 ml, Nefrolit Caps
satu hari sekali selama 4 hari, Cifrofloxacin tablet 250 Mg Pulv 2 kali sehari satu
pulv selama 6 hari, Furosemide tablet 1kali sehari tablet selama 6 hari, L-E
plex tablet 1 kali sehari selama 10 hari. Nafsu makan anjing menurun, minumnya
masih normal. Pakan kering diganti dengan pakan basah selama masa pengobatan
dan diberikan pada pagi dan sore hari, untuk air minum pemilik menggunakan air
PDAM. Pasca pengobatan anjing mengalami peningkatan status kesehatan dengan
tidak dijumpai lagi darah pada urin dan urin tidak pekat, nafsu makan dan minum
meningkat, anjing mampu beraktivitas normal namun anjing masih dijumpai sulit
urinasi (urin keluar menetes) dalam jumlah yang masih normal dengan rentang
waktu yang lama.
Pemeriksaan fisik
Berdasarkan pemeriksaan fisik diperoleh data anjing Bimo dengan suhu
normal, frekuensi jantung dan pulsus normal, CRT normal, frekuensi nafas
normal.
Tabel 1. Hasil Pemeriksaan Status Preasens
No
1
2

Jenis Pemeriksaan
Temperatur
Denyut Jantung

Keterangan
37,6oC
147 kali/menit
5

3
4
5

Pulsus
Respirasi
CRT

143 kali/menit
58 kali/menit
< 2 detik

Tabel 2. Hasil Pemeiksaan Klinis


No
1
2
3
4
5
6
7
8

Jenis Pemeriksaan
Kulit dan Kuku
Anggota Gerak
Muskuloskeletal
Syaraf
Sirkulasi
Urogenital
Respirasi
Pencernaan

Keterangan
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Tidak Normal
Normal
Normal

Gejala klinis
Kesulitan kecing (dysuria) dengan volume urin normal, namun urinasi
berlangsung lama (stranguria).
Uji laboratorium
Untuk menunjang diagnosa maka dilakukan pemeriksaan hematologi rutin,
urinalisis, dan sedimen urin. Pemeriksaan hematologi rutin terhadap sampel darah
anjing pug (Bimo) diperoleh hasil seperti pada tabel berikut :
Tabel 3. Hasil Pemeriksaan Hematologi Rutin
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Parameter
Hb
RBC
WBC
PCV
Limfosit
Eusinofil
MCV
MCH
MCHC

range
12.1 g/dL
6.66 x 106 /ul
21.9 x 103 /ul
35.7 %
9.4 x 103 /ul
0.5 x 103 /ul
53.6 fl
18.2 pg
33.9 g/dL

normal range
12.0-18.0 g/dL
5.0-8.50 x 106 /ul
6.0-17.0 x 103 /ul
37.0-55.0 %
1.0-4.8 x 103 /ul
0.1-0.8 x 103 /ul
60.0-77.0 fl
14.0-25.0 pg
31.0-36.0 g/dL

Keterangan
Normal
Normal
Tinggi
Rendah
Tinggi
Normal
Rendah
Normal
Normal

Dari hasil pemeriksaan diatas didapatkan interpretasi yaitu : anemia


normositik hipokromik.
Tabel 4. Hasil Pemeriksaan Uji Dipstik Test
Pemeriksaan

Hasil

Normal

Berat Jenis
pH
Leukosit
Nitrit
Protein
Glukosa
Keton
Urobilinogen
Bilirubin

1,005
5
(++)
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
(+)

1,020-1,040
6-7
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Blood

Negatif

Negatif

Pemeriksaan dengan ultrasonografi (USG) menunjukkan adanya urolith


atau kristal pada vesika urinaria.

Gambar 1. USG pada Vesika Urinaria (Dokumentasi Pribadi)

Gambar 2. USG ginjal kanan dan kiri (dokumentasi pribadi)


Pemeriksaan sedimen urin ditemukan adanya Kristal magnesium amonium
phosphate atau struvit.

Gambar 2. Sedimen urin ditemukan adanya Kristal Magnesium amonium


phosphate atau Struvit (Dokumentasi Pribadi)
Diagnosis
Berdasarkan hasil pemeriksaan klinis dan pemeriksaan laboratorium pada
anjing Bimo dapat disimpulkan bahwa Bimo mengalami urolithiasis.

Prognosis
Melihat dari hasil pemeriksaan dan kondisi hewan kasus secara umum
maka prognosa yang dapat diambil adalah fausta.
Terapi
Terapi yang diberikan pada hewan kasus adalah dengan plasing urine serta
pemberian ciprofloxacin (antibiotika) 500mg 6 tablet dijadiakan pulveres 12
diberikan 2x sehari 1 pulveres, furosemide (diuretika) dengan dosis 3 tablet
dijadikan pulveres 6 diberikan 2x sehari 1 pulveres, nephrolite sebagai
penghancur batu (urolith) dengan dosis 1 capsul per hari, vit B kompleks 1 tablet
sehari untuk terapi suportif.
PEMBAHASAN
Berdasarkan pemeriksaan secara klinis dan beberapa pemeriksaan
laboratorium

yang

telah

dilakukan dapat didiagnosa anjing

pug

milik

Ella mengalami urolithiasis. Urolithiasis adalah penyakit yang disebabkan oleh


adanya batu pada saluran perkencingan. Pada saat dilakukan pemeriksaan klinis,
didapatkan hasil frekuensi denyut jantung anjing yaitu 147 kali/menit, dan pulsus
143 kali/menit, frekuensi pulsus normal anjing kecil antara 90-120 kali/menit.
Terjadinya peningkatan denyut jantung dan pulsus akibat kepanikan dan rasa
stress karena sebelumnya anjing sudah pernah diterapi pada ruangan yang sama,
anjing cenderung ketakutan saat melihat manusia menggunakan hand gblove.
Hasil pemeriksaan frekuensi nafas anjing yaitu 58 kali/menit, frekuensi nafas
normal anjing berkisar 15 30 kali/menit. Peningkatan frekuensi nafas karena
kompensasi denyut jantung yang meningkat. Untuk suhu tubuh anjing normal
yaitu 37,6C karena temperatur rektum normal anjing berkisar 37C - 39,2C.
Pada pemeriksaan klinis teramati turgor kulit normal, mukosa berwarna merah
muda, dan CRT kurang dari 2 detik. Pada kasus ini tanda klinis yang terlihat pada
anjing pug bernama Bimo adalah sulit kencing (dysuria), volume urin normal,
serta punggung diangkat ke atas (kifosis) dan durasi kencing yang lama. Menurut
pernyataan Widmer et al., (2004), adanya urolith dan radang pada saluran
perkencingan menyebabkan stranguria atau pengeluaran urin dalam frekuensi

lambat, dysuria atau nyeri, dan anuria atau tidak dapat mengeluarkan urin sama
sekali hingga hematuria atau urin disertai darah.
Berdasarkan dari anamnesa yang telah dilakukan terhadap pemilik, bahwa
anjing dipelihara secara dikandangkan dan terkadang dilepas di daerah tempat
tinggal. Anjing biasanya diberikan pakan dry food biasanya juga dicampur dengan
nasi. Menurut Nelson (2003), pemberian pakan kering secara terus menerus akan
meningkatkan terjadinya penyerapan Mg dan mineral-mineral lainya, yang mana
akan menyebabkan terbentuknya urolith. Formasi kristaluria yang terbentuk dapat
diindikasikan oleh pH urin. Nilai pH urin > 7 memudahkan terbentuknya kalsium
karbonat, kalsium posfat, magnesium amonium phosphate atau struvit serta
penyakit hepar, sedangkan pH urin < 7 cenderung terbentuk kalsium oksalat
dehidrat, kalsium oksalat monohidrat, sistin, sodium urat atau ammonium urat,
asam urat, dan xanthin (Stockhom and Scot, 2002).
Pada pemerikaan dipstick test urin didapatkan hasil berat jenis urin normal
1,005 dan ditemukan adanya leukosit, dan bilirubin. Adanya leukosit dalam urin
menunjukkan bahwa di suatu bagian saluran perkencingan mengalami
peradangan, bisa jadi disebabkan oleh urolith yang ada pada vesica urinaria.
Sedangkan adanya bilirubin dalam urin dapat sebagai petunjuk adanya penyakit
pada system perkemihan sendiri atau yang berkaitan dengan system lain
(Stockhom and Scot, 2002). Keadaan pH 5 menunjukkan
Selain itu uji hematologi yang dilakukan dengan sampel darah
menunjukkan bahwa kucing persia bernama Reno hemoglobin rendah, sel darah
merah rendah, dan sel darah putih juga rendah, anemia normositik hipokromik.
Sehingga dapat diindikasikan bahwa kucing mengalami perdarahan dan
mengakibatkan kekurangan darah merah.
Pada pemeriksaan ultrasonografi (USG) ditemukan adanya urolith dan
penebalan pada vesika urinaria. Adanya peradangan pada vesiak urinaria
kemungkinan disebabkan oleh adanya urolith didalamnya. Ultrasonografi (USG)
merupakan teknik yang dapat dipergunakan untuk menentukan ukuran ginjal dan
mengevaluasi saluran-saluran perkencingan (urinaria). USG juga bermanfaat
dalam evaluasi kegagalan ginjal akut (Woodley and Whelan, 1995). Adanya

10

urolith dapat dibuktikan dengan pemeriksaan mikroskopis sedimen urin yaitu


ditemukannya magnesium ammonium fosfat atau struvite.
Terapi yang diberikan pada kucing persia milik Ainun ini adalah dengan
pemberian Ciprofloxacin 500 mg yang telah dijadikan pulvers 10 diberikan 2x
sehari. Kemudian diberikan juga Nephrolite yang mengandung Orthopisom
stamineus 18 mg sebanyak 1/2 kapsul sehari sebagai pemecah kristal-kristal urin
agar mudah dikeluarkan melalui urinasi. Selain itu diberikan obat diuretik
Furosamide untuk membantu mengeluarkan urolith dengan dosis 2 tablet
dijadikan pulveres 4 diberikan 2x sehari dan vitamin B kompleks 1 tablet sehari.
Setelah dilakukan perawatan terhadap hewan kasus secara intensif, dengan
pemberian obat dan mengganti pakan kering menjadi pakan basah. Menurut
Moser dan Branon (1990), pakan yang baik untuk kucing adalah makanan yang
dapat mempertahankan pH urin 66,6 tanpa menimbulkan metabolic acidosis.
Manajemen pakan direkomendasikan untuk meminimalkan resiko berkembangnya
penyakit, meliputi magnesium yang terlalu tinggi dan makanan yang
menyebabkan pH urin menjadi asam. kondisi kucing persia milik Ainun bernama
Reno menunjukkan perkembangan kesembuhan yang baik. Hal ini ditandai
dengan nafsu makan dan minum yang semakin meningkat, urinasi normal, fisik
kucing normal, urin berwarna kuning jernih dan berbau ammonia.
SIMPULAN
Simpulan yang dapat diambil berdasarkan anamnesa, pemeriksaan klinis,
serta pemeriksaan laboratorium yaitu kucing persia bermama Reno mengalami
urolithiasis.

Dengan

ditemukannya

kristal

magnesium

ammonium

phosphate/struvite pada pemeriksaan mikroskopik urin dan pada pemeriksaan


USG di vesika urinaria. Untuk pengobatan diberikan ciprofloxacin (antibiotika)
dengan dosis 1/10, furosemide

(diuretik) 2 tablet dijadikan pulveres 4 dan

biberikan 2x sehari, nephrolite sebagai penghancur batu (urolith) dengan dosis


1/2x1 per hari, vitamin B kompleks 1 tablet sehari untuk terapi suportif. Prognosa
dari kasus ini adalah fausta.

11

PUSTAKA
Bloom F. 1954. Pathology of The Dog and Cat :The Genitorinary Sistem, with
Cinical Consideration. American Veterinary Publication inc. United States
of America. Evanston. pp 463.
Birchard SJ dan Sherding RG. 2000. Saunders Manual of Small Animal Practice.
Edisi ke-2. Pennsylvania: W. B. Saunders Company. Hlm. 913-957.
Coles EH. 1986. Veterinary Clinical Pathology. W.B. saunders Co. Philadelphia.
Fossum TW. 2002. Small Animal Surgery, ed 2nd Mosby, St. Lois London.
Toronto. Philandelphia sydney.
Gipson JM. 1996. Biokimia Patologi Hewan. Pusat Antar Universitas Institut
Pertanian Bogor. pp 141.
Hardi ESO. 2014. Kajian Profil Leukosit pada Kucing Persia dan Kucing
Domestik di Rumah Sakit Hewan Prof. Soeparwi Yogyakarta. Skripsi.
Fakultas Kedokteran Hewan, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta,
Indonesia.
Hostutler RA, Chew DJ, Dibartola SP. 2005. Recent Concepts In Feline Lower
Urinary Tract Disease. Veterinary Clinics Small Animal. 35:147-170.
Loeb WF,Quimby FW.1989. The Clinical Chemistry of Laboratory. Animals.
Pergamon Press Inc.
Nelson RW dan Couto CG. 2003. Small Animal Internal Medicine. Mosby Co.
Philadelphia.
Meyer DJ, Harvey JW. 1998. Veterinary Laboratory Medicine : Interpretation an
Diagnosis. W.B. Saunders Co. Philadelphia.
Moser E, Branon JF. 1990. Topical Issues in Feline Nutrition. Continuing
Education. 12 (9): 1227 1232.
Perdanawinata AE. 2005. Manajemen pakan pada kucing. Seminar Ilmiah Kasus
Medis dan Non Medis di Meja Praktek Dokter Hewan. Jogyakarta.
Indonesia.
Sastrowardoyo S. 1997. Urologi Penuntun Praktis. Fakultas Kedokteran
Universitas Indonesia. Jakarta. pp: 72.
Suryandari P,Santi P,Fajar P. 2012. Kasus Urolithiasis pada Kucing. Universitas
Brawijaya. Malang.

12

Stockhom SL andScot MA.2002. Fundamental of Veterinary Clinical Pathology.


Iowa State Press.
Syahputra FA. 2011. Terapi Batu Ginjal: Dari Era Hippocrates ke Era Minimal
Invasif. Maj Kedokt Indon. 61 (3): 99-100.
Widmer WR, Biller DS, Larry GA. 2004. Ultrasonography of the Urinary Tract in
Small Animals. Journal of the American Veterinary Medical Association.
225 (1): 46-54.
Woodley M dan Whelan A. 1995. Pedoman Pengobatan. Edisi I. Yayasan essensial
Medica dan Penerbit Andi Offset. Yogyakarta, hal: 571-572.

13

Lampiran 1. Dosis Pemberian Obat


1. Ciprofloxacin
Sediaan = 500 mg
Jumlah pemberian=

berat badan dosis aplikasi


kandungan sediaan

Jumlah pemberian = 3,5 kg x (5-15) mg/kg BB


500 mg
= (17,5-52,5) / 500 = 0,035 0,105
R/ Ciprofloxacin 500mg Tab. No. I
f.pulv.dtd. No. X
S.2.dd. Pulv I
#
2. Furosemide ( Lasix 5% )
Sediaan = 20 mg
Jumlah pemberian=

berat badan dosis aplikasi


kandungan sediaan

Jumlah pemberian = 3,5 kg x (1-4) mg/kg BB


20 mg
= (3,5-14)/ 20 = 0,175 0,7
R/ Furosemide 40 mg Tab. II
f.pulv.dtd. No. IV
S.2.dd. Pulv I
#

14

3. Nephrolite (Kapsul)
Tiap kapsul mengandung :
Orthosiphon stamineus 18 mg, Strobilanthus crispus 6 mg, Sonchus
arvensis 24 mg, Phyllanthus niruri 2,4 mg, Plantigo mayor 100 mg.
R/ Nephrolite caps No. II
f.pulv.dtd. No. IV
S.1.dd. Pulv I
#

Lampiran 2. Gambar
1. Hewan Kasus

15

2. Urin

3. Hasil Uji Dipstik

16

4. Hasil Pemeriksaan Sedimen Urin

17

Anda mungkin juga menyukai