Anda di halaman 1dari 22

MAKALAH ILMU LINGKUNGAN

Gangguan Daur Nitrogen dan Pencemaran Air


Akibat Pengaruh Limbah Peternakan

Oleh:
Kelas

:E

Kelompok

:9

RIFALDI SEPTYAN HAKIKI

200110130180

GALIH MUHARRAM HENDRO PRAYOGA

200110150025

FRISKIHARI LAKSONO WIJIONO

200110150124

PUNGKY UTAMI DESTYARINDI

200110150142

ARIF RAHMAN HAKIM

200110150274

SYAHRUL FAUZAAN

200110150292

FAKULTAS PETERNAKAN
UNIVERSITAS PADJADJARAN
SUMEDANG
2016

Kata Pengantar

Puji syukur kehadirat Allah Swt yang yang telah melimpahkan


nikmat dan karunia-Nya sehingga makalah ini selesai dengan
lancar. Tak lupa semoga Allah selalu melimpahkan shalawat dan
salam kepada Nabi Muhammad SAW.
Makalah ini disusun untuk memenuhi tugas perkuliahan ilmu
lingkungan. Makalah dibuat agar membantu pembaca dan
khususnya

penulis

mengenal

lebih

dalam

tentang

ilmu

lingkungan mengenai materi pencemaran air oleh limbah ternak.


Materi diambil dari beberapa internet atau situs website. Dalam
makalah ini banyak dipaparkan tentang pencemaran air oleh
limbah ternak,penanganan limbah, pemanfaatan limbah dan lain
sebagainya.
Kepada semua pihak yang telah membantu menyelesaikan
makalah ini, penulis mengucapkan terima kasih. Mohon maaf
karena masih banyak kekurangan dalam makalah ini, dan penulis
mengharapkan saran yang berguna untuk membuat makalah
yang lebih baik lagi kedepannya.

Sebagai penutup, mudah-

mudahan makalah ini bermanfaat bagi yang membacanya dan


khususnya bagi penulis sendiri. Amin

Sumedang, September
2016

Penulis

I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Pencemaran merupakan pemasukan bahan pencemar seperti
bahan kimia, suara, suhu, cahaya dan tenaga ke dalam alam
sekitar yang mengakibatkan kesan yang memusnahkan sehingga
membahayakan kesehatan manusia, mengancam sumber alam
dan ekosistem, serta mengganggu kelestarian dan keadaan alam
sekitar.

Pencemaran

tercemarnya

air

oleh

air
zat

adalah
kimia,

terkontaminasinya
limbah

ternak

dan

atau
lain

sebagainya yang dapat mengurangi fungsi dari kegunaan air


tersebut.
Perkembangan

usaha

peternakan

berkembang memberikan dampak ganda.

di

negera-negara

Di satu sisi secara

ekonomi usaha peternakan membawa perubahan serta manfaat


yang besar.

Usaha peternakan (produksi peternakan) adalah

bagian penting yang tak terpisahkan bagi umumnya masyarakat


petani-peternak di negara-negara berkembang karena kurang
lebih 2/3 dari ternak di dunia berada di negara berkembang. Di

sisi lain muncul dampak negatif yang mengakibatkan terjadinya


degradasi lingkungan secara luas.

Hal ini dapat dimaklumi

sebagai akibat kotoran (feces), urine, sisa pakan, air buangan,


alas kandang (litter) atau bangkai ternak dan sisa hasil olahan
produk peternakan (bulu, darah, kulit, isi perut) yang dihasilkan
notabene adalah limbah yang harus dibuang.

Masalah ini

kemudian menjadi serius, karena sistem yang dikembangkan


hanya

dari

sisi

input

dan

produksi

saja,

dan

kurang

memperhatikan usaha menjaga keseimbangan antara produksi


limbah yang dihasilkan dengan daya tampung lingkungan
sekitarnya.
Pada usaha peternakan yang intensif, sejumlah besar limbah
bahkan melebihi kapasitas memberikan kontribusi terhadap
meningkatnya nitrogen dan fosfor.

Sebaliknya nitrogen dan

fosfor dikenal sebagai pemicu utama terjadinya penurunan


kualitas aliran air permukaan dan air bawah tanah yang
merupakan sumber air alami. Hal inilah yang melatarbelakangi
penyusunan makalah mengenai Gangguan Daur Nitrogen dan
Pencemaran Air Akibat Pengaruh Limbah Peternakan.

1.2 Identifikasi Masalah


1. Bagaimana proses daur nitrogen yang terjadi di alam.
2. Apa yang dimaksud limbah peternakan.
3. Bagaimana kandungan limbah peternakan.

4. Bagaimana pengaruh limbah peternakan terhadap daur


nitrogen dan kandungan air.
5. Bagaimana cara mengetasi pencemaran oleh limbah
peternakan.

1.3 Maksud dan Tujuan


1. Mengetahui proses daur nitrogen yang terjadi di alam.
2. Mengetahui apa yang dimaksud limbah peternakan.
3. Mengetahui kandungan dari limbah peternakan.
4. Mengatahui bagaimana pengaruh limbah peternakan
terhadap daur nitrogen dan kandungan air.
5. Mengetahui cara mengetasi pencemaran oleh limbah
peternakan.

II
PEMBAHASAN

2.1 Daur Nitrogen


Nitrogen merupakan suatu bagian dari sel hidup dan bagian
utama dari semua protein, enzim dan proses metabolik yang
disertakan pada sintesa dan perpindahan energi.

Sedangkan

Siklus nitrogen adalah proses di mana nitrogen dari atmosfer


diubah menjadi bentuk yang dapat digunakan oleh tanaman dan
hewan atau merupakan proses perubahan nitrogen anorganik

menjadi nitrogen organik yaitu amonia NH3, NO2, NO3 kemudian


menjadi nitrogen anorganik lagi. Nitrat merupakan zat nutrisi
yang dibutuhkan oleh tumbuhan untuk dapat tumbuh dan
berkembang, sementara nitrit merupakan senyawa toksik yang
dapat mematikan organisme air. Keberadaan nitrat diperairan
sangat dipengaruhi oleh buangan yang dapat berasal dari
industri, bahan peledak, pirotehnik dan pemupukan.

Secara

alamiah kadar nitrat biasanya rendah namun kadar nitrat dapat


menjadi tinggi sekali dalam air tanah didaerah yang diberi pupuk
nitrat/nitrogen (Alaerts, 1987).
Dwidjoseputro (1987) mengatakan, Gas nitrogen banyak terdapat di
atmosfer, yaitu 80% dari udara. Nitrogen bebas dapat difiksasi
terutama oleh tumbuhan yang berbintil akar (misalnya jenis
polongan) dan beberapa jenis ganggang. Nitrogen bebas juga
dapat bereaksi dengan hidrogen atau oksigen dengan bantuan
petir.

Unsur

karbohidrat

hara
ialah

yang

tidak

protein,

kalah

yakni

pentingnya

suatu

senyawa

dengan
yang

mengandung nitrogen disamping C, H, dan O.Dan kita ketahui,


udara mengandung 79 % nitrogen. Nitrogen bebas ini (dalam
bentuk N2) dapat difiksaasi terutama oleh tumbuhan yang
berbintil akar (misalnya jenis polongan) dan beberapa jenis
ganggang. Nitrogen bebas ini mempunyai sifat lembab (tidak
mudah bereaksi). Sehingga untuk memecahnya diperlukan
energi tinggi, seperti contoh bantuan petir.Selain itu , nitrogen
bebas ini diasimilasi oleh tumbuhan lewat perakaran dalam

bentuk nitrat. Nitrogen yang diikat biasanya dalam bentuk


amonia. Amonia diperoleh dari hasil penguraian jaringan yang
mati oleh bakteri. Amonia ini akan dinitrifikasi oleh bakteri nitrit,
yaitu Nitrosomonas dan Nitrosococcus sehingga menghasilkan
nitrat yang akan diserap oleh akar tumbuhan. Selanjutnya oleh
bakteri denitrifikan, nitrat diubah menjadi amonia kembali, dan
amonia diubah menjadi nitrogen yang dilepaskan ke udara.
Dengan

cara

ini

siklus

nitrogen

akan

berulang

dalam

ekosistem.Berikut ini penjelasan lebih lanjut dari proses-proses


dalam siklus nitrogen :

Gambar 1. Proses daur nitrogen


Nitrogen hadir di lingkungan dalam berbagai bentuk kimia
termasuk nitrogen organik, amonium (NH4+), nitrit (NO2-), nitrat
(NO3-), dan gas nitrogen (N2). Nitrogen organik dapat berupa
organisme hidup, atau humus, dan dalam produk antara
dekomposisi bahan organik atau humus dibangun. Proses siklus
nitrogen mengubah nitrogen dari satu bentuk kimia lain. Banyak
proses yang dilakukan oleh mikroba baik untuk menghasilkan

energi atau menumpuk nitrogen dalam bentuk yang dibutuhkan


untuk pertumbuhan. Diagram di atas menunjukkan bagaimana
proses-proses cocok bersama untuk membentuk siklus nitrogen.
Berikut merupakan proses yang terjadi dalam daur nitrogen
Dwidjoseputro (1987):
a. Fiksasi
Fiksasi Nitrogen adalah proses alam, biologis atau abiotik
yang mengubah nitrogen di udara menjadi amonia (NH 3).
Mikroorganisme yang memfiksasi nitrogen disebut diazotrof.
Mikroorganisme ini memiliki enzim nitrogenaze yang dapat
menggabungkan hidrogen dan nitrogen. Reaksi untuk fiksasi
Nitrnitrogen biologis ini dapat ditulis sebagai berikut :
N2 + 8 H+ + 8 e 2 NH3 + H2
Mikroorganisme yang melakukan fiksasi nitrogen antara lain:
Cyanobacteria, Azotobacteraceae, Rhizobia, Clostridium, dan
Frankia. Selain itu ganggang hijau biru juga dapat memfiksasi
nitrogen.Beberapa tanaman yang lebih tinggi, dan beberapa
hewan (rayap), telah membentuk asosiasi (simbiosis) dengan
diazotrof. Selain dilakukan oleh mikroorganisme, fiksasi nitrogen
juga terjadi pada proses nonbiologis, contohnya sambaran petir.

b. Asimilasi
Asimilasimerupakan Penyerapan dan penggabungan dengan
unsur lain membentuk zat baru dengan sifat baru. Senyawa
Nitrat (NO3)- diserap oleh tumbuhan mengalami proses asimilasi

menjadi bahan penyusun organ pada tumbuhan. Tumbuhan


sebagai

Produsen

dikonsumsi

oleh

manusia

dan

hewan.

Nitrogen pada biomassa tumbuhan masuk ke dalam proses


biokimia pada manusia dan hewan. Jumlah relatif NO 3- dan
nitrogen

organik

lingkungan.

dalam

Jenis

xylem

tumbuhan

bergantung
yang

pada

akarnya

kondisi
mampu

mengasimilasi N, dalam cairan xylem dijumpai banyak asam


amino, urine, tidak dijumpai NH4+. Sedangkan jika di dalam
cairan xylem mengandung NO3- berarti akar tumbuhan itu tidak
mampu mengasimilasi NO3-. Kalau dalam lingkungan perakaran
NO3-

terdapat

dalam

jumlah

besr,

cairan

xylem

akan

mengandung NO3- juga.


Tanaman mendapatkan nitrogen dari tanah melalui absorbsi
akar baik dalam bentuk ion nitrat atau ion amonium. Sedangkan
hewan memperoleh nitrogen dari

tanaman yang mereka

makan.Tanaman dapat menyerap ion nitrat atau amonium dari


tanah melalui rambut akarnya. Jika nitrat diserap, pertama-tama
direduksi menjadi ion nitrit dan kemudian ion amonium untuk
dimasukkan

ke

dalam

asam

amino,

asam

nukleat,

dan

klorofil.Pada tanaman yang memiliki hubungan mutualistik


dengan rhizobia, nitrogen dapat berasimilasi dalam bentuk ion
amonium langsung dari nodul. Hewan, jamur, dan organisme
heterotrof lain mendapatkan nitrogen sebagai asam amino,
nukleotida dan molekul organik kecil.

c. Amonifikasi
Jika tumbuhan atau hewan mati, nitrogen organik diubah
menjadi amonium (NH4+) oleh bakteri dan jamur.

d. Nitrifikasi
Nitrifikasi merupakan reaksi penting dalam siklus nitrogen,
yaitu oksidasi amonium menjadi nitrit dan oksidasi nitrit
menjadi

nitrat.

Nitrifikasi

autotrofik

dilakukan

oleh

dua

kelompok bakteri kemolitotrofik yang berbeda, yaitu ammoniaoxidizing

bacteria

nitriteoxidizingbacteria
nitrifikasi sebenarnya

(AOB)
(NOB)
tidak

seperti
seperti
hanya

Nitrosomonas
Nitrobacter.

dan
Proses

dilakukan oleh bakteri

kemolitotrofik tetapi berbagai mikroorganisme lainnya, seperti


bakteri heterotrofik, kapang, dan khamir juga mempunyai
kemampuan untuk mengoksidasi berbagai komponennitrogen
(Sakai et al. 1996).
Nitrifikasi heterotrofik pertama kali dilaporkan padatahun
1894. Proses ini merupakan komponen minor dari biogeokimia
siklusnitrogen. Secara kuantitatif, peran nitrifikasi heterotrofik
relatif kecil dibanding nitrifikasi autotrofik, namun nitrifikasi
heterotrofik menjadi dominan di tanah hutan konifer yang
bersifat asam). Bakteri heterotrofik berperan dalam proses
nitrifikasi di alam jika bakteri kemolitoautotrofik berada dalam
kondisi tidak aktif, seperti pada tanah yang terlalu asam atau
basa, pada kondisikadar oksigen yang rendah, kadar nitrogen

terlarut yang tinggi, suhu yang terlalu rendah atau tinggi, atau
terdapatnya senyawa penghambat nitrifikasi seperti nitrapirin
(Muller 2002).

e. Denitrifikasi
Denitrifikasi merupakan proses preduksian senyawa nitrat
menjadi gas nitrogen atau gas nitrogen oksida, dengan nitrogen
bertindak sebagai penerima hydrogen. Produksi nitrogen bebas
dari

senyawa-senyawa

organic

tidaklah

melalui

aksi

mikroorganisme, namun terbentuk secara tidak langsung oleh


saling tindak antara asam nitrat bebas dengan senyawa amino,
yang keduanya dihasilkan secara bersama melalui biang
bakteri.

Dalam

keadaan

anaerob,

bakteri

aerob

dapat

memanfaatkan nitrat untuk menggantikan oksigen sebagai


penerima elektron, sehingga mengurangi gas-gas produk akhir
seperti NO, N2O atau N2, tahapan dalam nitrifikasi adalah
sebagai berikut:NH4+ O2 NO3- +H2O + 2H Gas dinitrogen dan
nitrogen oksida adalah dua komponen produk akhir yang sangat
penting dan N2 biasanya diproduksi dari N2O sedang dari NO
dapat terjadi tetapi dalam kondisi tertentu. Terbentuknya N 2O
dan N2 tidak saja dari nitrat selama respirasi, tetapi dapat juga
konversi dengan cara asimilasi ke NH4+ dalam komponen
organic biomasa. Tentu pula mikroorganisme dapat merubah
NO3- ke NH4+ melalui mekanisme diasimilasi pada kondisi

anaerob, mekanisme ini bersama denitrifikasi adalah proses


memanfaatkan energi (Sakai et al. 1996).

f. Oksidasi Amonia Anaerobik


Dalam

proses

biologis,

nitrit

dan

amonium

dikonversi

langsung ke elemen (N2) gas nitrogen. Proses ini membentuk


sebagian besar dari konversi nitrogen unsur di lautan. Reduksi
dalam kondisi anoxic juga dapat terjadi melalui proses yang
disebut oksidasi amonia anaerobik.
NH4+ + NO2 N2 + 2 H2O
Protein yang dibuat oleh tumbuhan masuk dan melalui
jarring-jaring makanan seperti pada karbohidrat. Pada tiap
tingkatan

trofik,

terdapat

kehilangan

yang

kembali

ke

sekitarnya, terutama dalam ekskresi. Yang terakhir mengambil


keuntungan dari senyawa nitrogen adalah mikroorganisme
pembusuk yang merombak menjadi ammonia (Sakai et al.
1996).

2.2 Limbah Peternakan


Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha
peternakan seperti usaha pemeliharaan ternak, rumah potong
hewan, pengolahan produk ternak, dll. Limbah tersebut meliputi
limbah padat dan limbah cair seperti feses, urine, sisa makanan,
embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu, kuku, tulang, tanduk, isi
rumen,

dan

lain-lain.

Semakin

berkembangnya

usaha

peternakan,

limbah

yang

dihasilkan

semakin

meningkat

(Sihombing, 2000). Sedangkan Soehadji (1992), mengemukakan


bahwa

limbah

peternakan

meliputi

semua

kotoran

yang

dihasilkan dari suatu kegiatan usaha peternakan baik berupa


limbah padat dan cairan, gas, maupun sisa pakan. Limbah padat
merupakan semua limbah yang berbentuk padatan atau dalam
fase padat (kotoran ternak, ternak yang mati, atau isi perut dari
pemotongan ternak).Limbah cair adalah semua limbah yang
berbentuk cairan atau dalam fase cairan (air seni atau urine, air
dari pencucian alat-alat).Sedangkan limbah gas adalah semua
limbah berbentuk gas atau dalam fase gas.
Total limbah yang dihasilkan peternakan tergantung dari
species ternak, besar usaha, tipe usaha dan lantai kandang.
Manure yang terdiri dari feces dan urine merupakan limbah
ternak yang terbanyak dihasilkan dan sebagian besar manure
dihasilkan oleh ternak ruminansia seperti sapi, kerbau kambing,
dan domba.

Umumnya setiap kilogram susu yang dihasilkan

ternak perah menghasilkan 2 kg limbah padat (feses), dan setiap


kilogram daging sapi menghasilkan 25 kg feses (Sihombing,
2000).
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat
yang potensial untuk mendorong kehidupan jasad renik yang
dapat

menimbulkan

pencemaran.

Suatu

studi

mengenai

pencemaran air oleh limbah peternakan melaporkan bahwa total


sapi dengan berat badannya 5000 kg selama satu hari, produksi

manurenya dapat mencemari 9.084 x 10 7 m3 air. Selain melalui


air, limbah peternakan sering mencemari lingkungan secara
biologis yaitu sebagai media untuk berkembang biaknya lalat.
Kandungan air manure antara 27-86% merupakan media yang
paling baik untuk pertumbuhan dan perkembangan larva lalat,
sementara kandungan air manure 65-85% merupakan media
yang optimal untuk bertelur lalat (Dyer, 1986).

2.3 Kandungan Limbah Peternakan


Kandungan

yang

terdapat

dalam

limbah

peternakan

khususnya dalam kotoran ternak dianyaranya adalah nitrogen,


kalsium,

magnesium,

NH4,

dan

lain

lain.

Malone

(1992)

kandungan unsur-unsur yang terdapat dalam feses ternak ratarata adalah sebagai berikut :
Tabel 1. Kandungan rata-rata unsur pada kotoran ternak
Kandungan unsur pada kotoran/bobot
basah

Nama Unsur
Minimum

Maksimum

Rata-rata

Total padatan (%)

38

92

75,5

Total N (%)

0,89

5,8

2,94

NH4-N (%)

0,08

1,480

0,75

PO2O5 (%)

1,09

6,14

3,22

K2O (%)

0,63

4,26

2,03

Ca (Kalsium)

0,51

6,22

1,79

(ppm)

Mg (Magnesium)

0,12

1,37

0,52

Sulfida (ppm)

0,07

1,05

0,52

Mn (Mangan)

66

579

266

Zn (Seng) (ppm)

48

583

256

Cu (Tembaga)

16

6,34

283

(ppm)

(ppm)

(ppm)
2.4 Pengaruh Limbah Peternakan Terhadap Daur
Nitrogen dan Air
Salah satu akibat dari pencemaran air oleh limbah ternak
ruminansia

ialah

meningkatnya

kadar

nitrogen.

Senyawa

nitrogen sebagai polutan mempunyai efek polusi yang spesifik,


dimana

kehadirannya

dapat

menimbulkan

konsekuensi

penurunan kualitas perairan sebagai akibat terjadinya proses


eutrofikasi, penurunan konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil
proses

nitrifikasi

yang

terjadi

di

dalam

air

yang

dapat

mengakibatkan terganggunya kehidupan biota air (Farida, 2000).


Hasil penelitian Farida, (2000)

dari limbah cair Rumah

Pemotongan Hewan Cakung, Jakarta yang dialirkan ke sungai


Buaran mengakibatkan kualitas air menurun, yang disebabkan
oleh kandungan sulfida dan amoniak bebas di atas kadar
maksimum kriteria kualitas air.

Selain itu adanya Salmonella

spp. yang membahayakan kesehatan manusia.

Tinja dan urine dari hewan yang tertular dapat sebagai


sarana penularan penyakit, misalnya saja penyakit anthrax
melalui kulit manusia yang terluka atau tergores. Spora anthrax
dapat tersebar melalui darah atau daging yang belum dimasak
yang mengandung spora. Kasus anthrax sporadik pernah terjadi
di Bogor tahun 2001 dan juga pernah menyerang Sumba Timur
tahun 1980 dan burung unta di Purwakarta tahun 2000
(Soeharsono, 2002).

2.5 Cara mengetasi pencemaran oleh limbah peternakan


Cara mengatasi pencemaran limbah peternakan yaitu dengan
dapat dimanfaatkan untuk berbagai kebutuhan, apalagi limbah
tersebut dapat diperbaharui (renewable) selama ada ternak.
Limbah ternak masih mengandung nutrisi atau zat padat yang
potensial untuk dimanfaatkan. Limbah ternak kaya akan nutrient
(zat makanan) seperti protein, lemak, bahan ekstrak tanpa
nitrogen (BETN), vitamin, mineral, mikroba atau biota, dan zatzat yang lain (unidentified subtances). Limbah ternak dapat
dimanfaatkan untuk bahan makanan ternak, pupuk organik,
energi dan media pelbagai tujuan (Sihombing, 2002).
Cara mengatasi pencemaran limbah ternak yaitu dengan
memanfaatkan untuk hal hal berikut ini :
a. Pemanfaatan Untuk Pakan dan Media Cacing Tanah
Sebagai pakan ternak, limbah ternak kaya akan nutrient seperti protein, lemak
BETN, vitamin, mineral, mikroba danzatlainnya. Tinja ruminansia juga telah

banyak diteliti sebagai bahan pakan termasuk penelitian limbah ternak yang
difermentasi secara anaerob.
Penggunaan feses sapi untuk media hidupnya cacing tanah, telah diteliti
menghasilkan biomassa tertinggi dibandingkan campuran feces yang ditambah
bahan organik lain, seperti feses 50% + jerami padi 50%, feses 50% + limbah
organik pasar 50%, maupun feses 50% + isi rumen 50% (Farida, 2000).

b. Pemanfaatan Sebagai Pupuk Organik


Pemanfaatan limbah usaha peternakan terutama kotoran ternak sebagai pupuk
organik dapat dilakukan melalui pemanfaatan kotoran tersebut sebagai pupuk
organik. Penggunaan pupuk kandang (manure) selain dapat meningkatkan unsur
hara pada tanah juga dapat meningkat kanaktivitas mikrobiologi tanah dan
memperbaiki struktur tanah tersebut.

Kotoran ternak dapat juga dicampur

dengan bahan organik lain untuk mempercepat proses pengomposan serta untuk
meningkatkan kualitas kompos tersebut (Simamora. dkk, 2006).

c. Pemanfaatan Untuk biogas


Permasalahan

limbah

ternak,

khususnya

manure

dapat

diatasi dengan memanfaatkan menjadi bahan yang memiliki


nilai yang lebih tinggi. Salah satu bentuk pengolahan yang
dapat dilakukan adalah menggunakan limbah tersebut sebagai
bahan masukan untuk menghasilkan bahan bakar biogas.
Kotoran ternak ruminansia sangat baik untuk digunakan sebagai
bahan dasar pembuatan biogas(Simamora. dkk, 2006).

Ternak ruminansia mempunyai sistem pencernaan khusus


yang

menggunakan

mikroorganisme

dalam

sistem

pencernaannya yang berfungsi untuk mencerna selulosa dan


lignin dari rumput atau hijauan berserat tinggi. Oleh karena itu
pada tinja ternak ruminansia, khususnya sapi mempunyai
kandungan selulosa yang cukup tinggi. Berdasarkan hasil
analisis

diperoleh

bahwa

tinja

sapi

mengandung

22.59%

sellulosa, 18.32% hemi-sellulosa, 10.20% lignin, 34.72% total


karbon organik, 1.26% total nitrogen, 27.56:1 ratio C:N, 0.73%
P, dan 0.68% K .
Biogas adalah campuran beberapa gas, tergolong bahan
bakar gas yang merupakan hasil fermentasi dari bahan organik
dalam kondisi anaerob, dan gas yang dominan adalah gas
metan (CH4) dan gas karbondioksida (CO2). Gasbio memiliki nilai
kalor yang cukup tinggi, yaitu kisaran 4800-6700 kkal/m 3, untuk
gas metan murni (100 %) mempunyai nilai kalor 8900
kkal/m3(Simamora. dkk, 2006).
Pembentukan biogas dilakukan oleh mikroba pada situasi
anaerob, yang meliputi tiga tahap, yaitu tahap hidrolisis, tahap
pengasaman, dan tahap metanogenik. Pada tahap hidrolisis
terjadi

pelarutan

bahan-bahan

organik

mudah

larut

dan

pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana,


perubahan struktur bentuk primer menjadi bentuk monomer.
Pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana)
yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan

makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari gulagula sederhana pada tahap ini akan dihasilkan asam asetat,
propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas
karbondioksida, hidrogen dan amoniak (Simamora. dkk, 2006).

d. Pemanfaatan Lainnya
Selain dimanfaatkan untuk pupuk, bahan pakan, atau gasbio,
kotoran ternak juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar
dengan

mengubahnya

menjadi

briket

dan

kemudian

dijemur/dikeringkan. Briket ini telah dipraktekkan di India dan


dapat mengurangi kebutuhan akan kayu bakar. Pemanfaatan
lain adalah penggunaan urin dari ternak untuk campuran dalam
pembuatan pupuk cair maupun penggunaan lainnya (Sihombing
2000).

III
KESIMPULAN

1. Daur nitrogen yang terjadi di alam meliputi 6 tahapan yaitu :


fiksasi, asimilasi, amonifikasi, nitrifikasi, denitrifikasi, dan
oksidasi amonia anaerobik
2. Limbah ternak adalah sisa buangan dari suatu kegiatan usaha
peternakan

seperti

usaha

pemeliharaan

ternak,

potong hewan, pengolahan produk ternak, dll.

rumah
Limbah

tersebut meliputi limbah padat dan limbah cair seperti feses,


urine, sisa makanan, embrio, kulit telur, lemak, darah, bulu,
kuku, tulang, tanduk, isi rumen, dan lain-lain.
3. Kandungan
khususnya

yang

terdapat

dalam

kotoran

dalam
ternak

limbah

peternakan

dianyaranya

adalah

nitrogen, kalsium, magnesium, NH4, PO2O5, K2O, Sulfida,


mangan (mg), seng (zn), dan tembaga (Cu).
4. Limbah peternakan berpengaruh dengan peningkatan kadar
nitrogen

dalam

tanah

yang

mengakibatkan

polutan

mempunyai efek polusi yang spesifik, dimana kehadirannya


dapat menimbulkan konsekuensi penurunan kualitas perairan
sebagai akibat terjadinya proses eutrofikasi, penurunan
konsentrasi oksigen terlarut sebagai hasil proses nitrifikasi
yang

terjadi

di

dalam

air

yang

terganggunya kehidupan biota air.

dapat

mengakibatkan

5. Penanganan limbah peternakan dapat dilakukan dengan


menjaddikan pakan atau media cacing tanah, sebagai pupuk
organik, dan sebagai biogas.

DAFTAR PUSTAKA

Alaerts. 1987. Metode Penelitian Air. Surabaya : Usaha Nasional.


Dwidjoseputro,1987.EkologiManusiadanLingkungannya. Jakarta:Erlangga.
Dyer L A. 1986. Beef Cattle. In Cole and Brander Ed.: Ecosystem
of the world 21-Bioindustrial Ecosystem. Elsevier, New York.
Farida E. 2000. Pengaruh Penggunaan Feses Sapi dan Campuran
Limbah Organik Lain Sebagai Pakan atau Media Produksi
Kokon dan Biomassa Cacing Tanah Eisenia foetida savigry.
Skripsi Jurusan Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak. IPB, Bogor.

Malone, G. W. 1992. Nutrient enrichment in integrated broiler


production system. Poultry Sci. 71: 117-1122.
Muller, C., RJ. Stevens, RJ. Laughlin. 2002. Evidence of carbon
stimulated N transformations in

grasslandsoil

after

slurry applications. Soil Biol. Biochem. : 1-9.


Sakai, K., Y. Ikehata, Y. Ikenaga, M.Wakayama& M. Moriguchi.
1996.Nitrite oxidation by

heterotrophic bacteria under

various

nutritional

and

aerobic

conditions.

J.

Ferment.Bioeng. 82(6): 613-617.


Sihombing

H.

2000.

Teknik

Pengelolaan

Limbah

Kegiatan/Usaha Peternakan. Pusat Penelitian Lingkungan


Hidup Lembaga Penelitian, Institut Pertanian Bogor
Simamora, S. et al. 2006. Membuat Biogas Pengganti Bahan Bakar Minyak Dan
Gas Dari Kotoran Ternak. Jakarta: AgroMedia Pustaka.

Soehadji, 1992. Kebijakan Pemerintah dalam Industri Peternakan


dan Penanganan Limbah Peternakan. Direktorat Jenderal
Peternakan, Departemen Pertanian. Jakarta.
Soeharsono, 2002. Anthrax Sporadik, Tak Perlu Panik. Dalam
kompas.

http://www.kompas.com/kompas-

cetak/0209/12/iptek/anth29.htm
September 2016)

(diakses

pada

22