Anda di halaman 1dari 5

Bagian ini hanya contoh

penugasan. Anda dapat


memodifikasi agar materi
menjadi lebih kaya.
Role play materi inti II: KIE SHK
1. Fasilitator mempersilahkan satu orang untuk berperan sebagai penyuluh,
peserta yang lain berperan sebagai masyarakat pendengar yang diberi
penyuluhan.
2. Penyuluh mengucapkan salam kepada pendengar
a. Assalaamualaikum, selamat........(pagi/siang)
3. Penyuluh berkenalan dengan pendengar, dan menyampaikan maksud
diadakannya penyuluhan
a. Sebelumnya, perkenalkan nama saya......... dari........
4. Penyuluh menerangkan tentang HK, SHK dan keuntungan dan kerugian
SHK
a. Hari ini saya bermaksud mengajak bapak dan ibu sekalian untuk
ngobrol tentang SHK.
b. Apa itu SHK? SHK itu adalah Skrinng Hipotiroid Kongenital . Skrining
maksudnya adalah menyaring. Menyaring bayi-bayi yang dilakukan
skrining untuk emilah bayi yang menderita hiotirid kongenital dari
yang bukan penderita.
c. Hipotirid Kongenital atau HK adalah penyakit akibat kekurangan
hormon tiroid yang terjadi sejak lahir.
d. Saat lahir, bayi tidak menunjukkan gejala atau bila ada gejala,
sangat tidak khas. Jadi untuk mendeteksi bayi yang menderita
kelainan ini dilakukan skrining.
e. Jika setelah dilakukan skrining dan dilakukan tindak lanjut, bayi
didiagnosa menderita HK, maka bayi akan segera diobati.
f. Pengobatannya mudah dan murah.
g. Bila bayi mendapatkanpengobatan segera sebelum usia 1 bulan,
maka bayi masih dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
h. Bila tidak diobati segera, maka bisa timbul kelainan pertumbuhan
dan perkembangan bahkan anak menjadi idiot atau terbelakang
mental
i. Jadi untuk mencegah anak-anak kita dari keterbelakangan mental
akibat kekurangan hormon tiroid, perlu dilakukan SHK, sehingga
dapat dilakukan pengobatan dini.
5. Penyuluh bertanya kepada pendengar, apakah ada pertanyaan atau tidak
a. Dari penjelasan tadi, kira-kira ada yang masih belum dipahami?
b. Bagi yang belum paham dipersilahkan bertanya.
6. Penyuluh berterimakasih kepada pendengar, kemudian memberi salam
dan mohon diri.

a. Demikian diskusi kita. Terimakasih atas perhatian bapak dan ibu


sekalian, mohon maaf bila ada kekurangan dan kata-kata yang
salah
b. Assalamualaikum, selamat ......(siang/sore)
7. Fasilitator mempersilahkan peserta lain untuk menjadi penyuluh
8. Fasilitator memberikan evaluasi dari kegiatan role play
Penugasan materi inti II: Proses Skrining
Role play melakukan informed consent:
1. Fasilitator mempersilahkan 3 orang peserta untuk bermain peran menjadi
petugas kesehatan, ibu bayi, dan ayah bayi.
2. Para pemeran berperan melakukan dialog sebagai berikut:
a. Petugas kesehatan (P): selamat pagi/siang, bu. Bagaimana kondisi
saat ini, ada keluhan?
b. Ibu (I): Alhamdulillah tidak ada keluhan berarti. Cuma masih pegalpegal. Si dede juga sudah mau menetek.
c. P: Alhamdulillah. Si dede tampak sehat, ya. Biarpun tampak sehat,
tapi masih perlu dilakukan SHK lo, Bu.
d. Ayah (A): Apa itu SHK?
e. P: SHK singkatan dari Skrining Hipotiroid Kongenital. Yaitu kegiatan
skrining atau uji saring untuk memilah bayi yang menderita
hipotiroid kongenital dari yang tidak. Hipotiroid kongenital adalah
penyakit akibat kekurangan hormon tiroid yang dapat menyebabkan
gangguan pertumbuhan dan perkembangan hingga terrjaddi cacat
mental alias retardasi alias idiot.
f. I: Haa? Tapi anak kami kan normal-normal saja, tu. Kenapa harus
diperiksa-periksa lagi..! Trus periksanya pakai apa?
g. P: bayi yang menderita HK tidak menunjukkan gejala pada saat lahir
bu. Cuma 5 % yang menunjukkan gejala dan itu juga tidak khas.
Jadi suka terlewat. Periksanya dengan pakai tetes darah tumit.
Cuma dua atau tiga tetes kok, bu. Tidak akan menyakiti dede.
h. A: Kenapa tidak nunggu nanti kalo keluar gejalanya saja? Daripada
anak saya ditusuk-tusuk
i. P: Kalau sudah ada gejala, berarti sudah ada gangguan
pertumbuhan dan perkembangan. Ini menunjukkan ada gangguan
di otak yang permanen. Tidak bias diperbaiki, Pak. Padahal kalau
diobati sebelum usia 1 bulan, gangguan ini dapat dicegah lo. Jadi
bayi akan dapat tumbuh dan berkembang secara normal.
j. I: oooo, gitu, ya. Gimana, yah. Kita periksakan saja si dede?
k. A: pemeriksaannya mahal tidak?
l. P: Ouw tidak, Pak. Apalagi saat ini kami masih mendapat dana dari
pemerintah untuk melaksanakan program ini. Jadi, saat ini
pemeriksaan akan ditanggung dana tersebut.
m. A: baiklah, kami periksakan bayi kami.
n. P: kalau begitu, nanti akan saya hubungi petugas bagian skrining,
ya. Terimakasih, pak, bu. Saya permisi dulu. Semoga dedenya
sehat, yaa
Demonstrasi:

1. Fasilitator menyiapkan alat peraga yang terdiri dari kaki bayi buatan,
lancet, kertas saring, kassa steril, kapas alcohol, sarung tangan, rak
pengering, ballpoint.
2. Fasilitator menunjukkan alat-alat peraga pada peserta.
3. Fasislitator mulai mendemonstrassikan pengambilan spesimen darah
a. Isi data bayi di kertas saring
b. Cuci tangan dengan prinsip PHBS
c. Gunakan sarung tangan steril dan APD
d. Menghangatkan tumit bayi
e. Antisepsis dengan alcohol swab
f. Penusukan tumit bayi
g. Tetes darah pertama dihapus dengan kasa steril
h. Pijat lembut tumit bayi
i. Teteskan darah pada kertas saring
j. Tekan bekas tusukan dan tinggikan tumit, plester bila perlu
k. Letakkan kertas saring di rak pengering
l. Buka sarung tangan
m. Masukkan kertas saring ke dalam palstik zip lock kemudian amplop
n. Tuliskan lembar pengiriman, masukkan ke dalam amplop bersama
kertas saring
o. Rekatkan amplop dan tuliskan alamat tujuan dan alamat pengirim
4. Fasilitataor mempersilahkan peserta untuk bertanya bila masih ada yang
belum jelas, dilanjutkan dengan simulasi.
Simulasi:
1. Peserta dibagi menjadi beberapa kelompok
2. Untuk masing masing kelompok disediakan alat peraga pengambilan
spesimen darah.
3. Peserta mencoba melakukan pengambilan spesimen pada alat peraga
dengan urutan sebagai berikut:
a. Isi data bayi di kertas saring
b. Cuci tangan dengan prinsip PHBS
c. Gunakan sarung tangan steril dan APD
d. Menghangatkan tumit bayi
e. Antisepsis dengan alcohol swab
f. Penusukan tumit bayi
g. Tetes darah pertama dihapus dengan kasa steril
h. Pijat lembut tumit bayi
i. Teteskan darah pada kertas saring
j. Tekan bekas tusukan dan tinggikan tumit, plester bila perlu
k. Letakkan kertas saring di rak pengering
l. Buka sarung tangan
m. Masukkan kertas saring ke dalam palstik zip lock kemudian amplop
n. Tuliskan lembar pengiriman, masukkan ke dalam amplop bersama
kertas saring
o. Rekatkan amplop dan tuliskan alamat tujuan dan alamat pengirim
4. Fasilitator mempersilahkan peserta bergantian melakukan proses
pengambilan spesimen.
Penugasan materi inti II, pokok bahasan 3: Tindak lanjut hasil skrining
1. Fasilitator membagi peserta menjadi 4 kelompok

2. Masing-masing kelompok diberikan soal skenario berbeda terkait tindak


lanjut SHK
3. Masing-masing kelompok mendiskusikan tindak lanjut yang perlu
dilakukan pada skenario pada soal.
4. Wakil dari masing-masing kelompok mempresentasikan hasi diskusinya
5. Fasilitator memberikan evaluasi dan memimpin diskusi
6. Skenario soal:
a. Bayi ani, lahir tanggal 6 Juli 2014. Pengambilan spesimen tanggal 7
juli 2014. Hasi yang disampaikan oleh laboratorium adalah tinggi.
Apa yang perlu dilakukan oleh petugas di dinas kesehatan
kabupaten kota? Apa yang perlu dilakukan di fasilitas pelayanan
kesehatan
b. Bayi ina, mendapatkan hasi tinggi pada SHK. Ibu menolak untuk
dilakukan tes konfirmasi. Apa yang harus dilakukan?
c. Ibu inu, mempertanyakan hasil pemeriksaan SHK bayinya yang
sudah sebulan belum diterimanya. Apa yang harus disampaikan
oleh petugas?
d. Ibu ana mendapati bahwa hasil SHK bayinya tinggi. Apa yang harus
dilakukan bu Ana?
Penugasan materi inti III: Pengorganisasian
1. Peserta dibagi menjadi 4 kelompok.
2. Fasilitator memberikan skenario untuk dimasukkan ke dalam form
pencatatan dan pelaporan.
a. Bayi Ny. Maria lahir secara normal tanpa gejala kelainan apapun
tanggal 17 Agustus 2014 di RB Sayang Anak dan ditangani oleh dr.
Nindya, Sp.A(K). Diambil spesimen darahnya pada tanggal 19
Agustus 2014. Ayahnya bernama Sapii, beralamat di jalan damai
gang senggol no 13, Kota Bunga. Ada riwayat Ny Maria mendapat
pengobatan saat kehamilan, yaitu paracetamol dan amoxicillin.
Tidak ada riwayat hipotiroid maupun hipertiroid. Dua minggu
kemudian,Ny Maria mendapatkan hasil pemeriksaan SHK bayinya
yang menunjukkan hasil normal.
b. Bayi Nabil lahir di RSIA Tralala-Trilili. Orang tuanya menolak ketika
ditawari untuk melakukan SHK bagi bayinya. Ibu memiliki riwayat
hipertiroid, sedang dalam pengobatan. Ibu takut jika mendapati
kenyataan anaknya mengalami penyakit yang sama.
c. Dinkes Kabupaten Sehat mendapati bahwa ada 17 bayi yang lahir
di daerahnya menolak dilakukan SHK. Dari spesimen yang dikirim,
23 diantaranya harus diambil ulang karena hasil yang didapat tidak
dpat diperiksa. Di beberapa kecamatan adalah daerah endemik
GAKI. Dari bayi yang diskrining ada 3 orang dengan hasil tinggi dari
247 bayi yang diskrining bulan agustus 2014. Hasil tes konfirmasi
menunjukkan hanya satu yang didiagnosa HK dan mendapatkan
pengobatan.
d. Dinas Kesehatan Provinsi Abrakadabra mendapat laporan dari
dinkes kabupaten/kota di wilayahnya. Kota Hocus terdapat 7
penolakan dan mengirim 86 spesimen. Lima diantaranya harus

dilakukan pengambilan ulang karena kesalahan pengambilan. Hasil


menunjukkan 84 normal dan 2 tinggi, namun tidak terlacak.
Kabupaten Pocus mengirim 93 spesimen, 3 yang harus diambil
ulang. Hasil yang didapat 90 normal, 3 hasil tinggi dan dilakukan tes
konfirmasi. Dari tes konfirmasi didapat 2 yang terdiagnosa HK, dan
mendapat pengobatan. Kabupaten Sesame mengirim 63 spesimen
dan mendapat 13 penolakan. Tidak ada yang harus diulang. Hasil
yang didapat 60 diantaranya normal, 3 mendapatkan hasil tinggi
dan dilakukan tes konfirmasi. Ketiganya mendapatkan hasil normal
pada tes konfirmasi.