Anda di halaman 1dari 18

BAB I

PENDAHULUAN
A.

LATAR BELAKANG
Kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang secara terus menerus

mengakibatkan tingkat pendidikan dan teknologi semakin maju. Orang dengan mudah
berobat dan tidak takut dengan penyakit berbahaya. Tapi hal ini dipengaruhi oleh peningkatan
biaya pengobatan sementara masyarakat, masih banyak yang hidup dibawah garis
kemiskinan. Oleh karena itu masyarakat Indonesia harus sudah mengenal kesehatan keluarga
dari sekarang agar masyarakat mengenal arti pentingnya kesehatan. Agar masyarakat
Indonesia hidup sehat keperawatan keluarga merupakan salah satu area spesalis dalam
keperawatan yang berfokus kepada keluarga sebagai target pelayanan. Tujuan dari
keperawatan

keluarga

adalah

untuk

meningkatkan

kesehatan

keluarga

secara

menyeluruh bagianggota keluarga.


Karakteristik keluarga terdiri dari dua atau lebih individu yang diikat oleh hubungan
darah, perkawinan, atau adopsi, anggota keluarga biasanya hidup bersama, atau jika terpisah
mereka tetap memperhatikan satu sama lain. Anggota keluarga berinteraksi satu sama lain
dan masing-masing mempunyai peran sosial yaitu suami, istri, anak, kakak, dan adik yang
mempunyai tujuan. Perawat perlu mengetahui dan memiliki pikiran yang terbuka mengenai
konsep keluarga. Sekilas keluarga memiliki hal-hal yang umum, tetapi setiap bentuk keluarga
memiliki kekuatan dan permasalahan yang unik. Keluarga banyak menghadapi tantangan
seperti salah satunya pada tahap perkembangan keluarga childbearing. Periode childbearing
adalah waktu transisi fisik dan psikologis bagi ibu dan seluruh keluarga. Orang tua harus
beradaptasi terhadap perubahan struktur karena adanya anggota baru dalam keluarga, yaitu
bayi. Dengan kehadiran bayi maka sistem dalam keluarga akan berubah dan pola interaksi
dalam keluarga harus dikembangkan.
Pada periode transisi, keluarga membutuhkan adaptasi yang cepat, sehingga kondisi
ini menempatkan keluarga menjadi sangat rentan dan mereka memerlukan bantuan untuk
beradaptasi dengan peran yang baru. Stress dari berbagai sumber dapat berefek negatif pada
fungsi dan interaksi ibu dengan bayi dan keluarga, yang berdampak pada kesehatan fisik ibu
dan bayi. Maka dari itu kelompok tertarik untuk membahas mengenai konsep keluarga dan
tumbuh kembang keluarga child bearing.
B. TUJUAN PENULISAN
1.
Umum
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu :
a. Memahami konsep dasar keluarga.

b. Memahami konsep keluarga dalam periode child-bearing.


a.
Memahami asuhan keperawatan keluarga dengan tahap perkembangan childbearing.
2.
Khusus
Setelah membaca makalah ini, mahasiswa diharapkan mampu:
a.
Menjelaskan definisi konsep dasar keluarga dalam periode child-bearing
b.
Mengaplikasikan
asuhan
keperawatan
keluarga
dengan
tahap
perkembangan childbearing
C. METODE PENULISAN
Metode penulisan yang digunakan dalam pembuatan makalah ini adalah metode
deskriptf idan menggunakan pendekatan teknik studi kepustakaan yaitu dengan mempelajari
teori dan membaca literatur yang berhubungan dengan judul makalah.
D.
RUANG LINGKUP PENULISAN
Dalam menyusun makalah ini penulis membatasi ruang lingkup

penulisannya,

yaitu asuhan keperawatan keluarga khususnya pada keluaga pada tahap childbearing.
DAFTAR PUSAKA

A.
a.
yang

BAB II
TINJAUAN TEORI
KONSEP DASAR KELUARGA
Pengertian
Keluarga adalah sekumpulan orang dengan ikatan perkawinan, kelahiran, dan adopsi
bertujuan

untuk

menciptakan,

mempertahankan

budaya,

dan

meningkatkan

perkembangan fisik, mental emosional, serta sosial dari tiap anggota keluarga. (Duvall dan
Logan,1986, dalam Setiawati, 2008 : hal 67)
Keluarga adalah dua atau lebih individu yang hidup dalam satu rumah tangga karena adanya
hubungan darah, perkawinan atau adopsi. Mereka saling berinterakasi satu dengan yang
lainnya, mempunyai peran masing-masing dan menciptakan serta mempertahankan suatu
budaya. (Bailon dan Magiaya, 1978, dalam Setiawati, 2008: hal 68)
Keluarga adalah kumpulan dua orang atau lebih yang mempunyai hubungan darah
yang sama atau tidak, yang terlibat dalam kehidupan yang terus menerus, yang tinggal dalam

satu atap, yang mempunyai ikatan emosional dan mempunyai kewajiban antara satu orang
dengan orang yang lainnya. (Bergess, 1962, dalam Setiawati, 2008: hal 13)
Menurut kelompok keluarga adalah sekumpulan individu yang tinggal serumah karena
adanya hubungan darah, perkawinan ataupun adopsi, yang saling berinteraksi dan
mempertahankan kebudayaan.
b.
Tipe keluarga
Keluarga yang memerlukan pelayanan kesehatan berasal dari berbagai macam pola
kehidupan. Sesuai dengan perkembangan sosial, maka tipe keluarga berkembang
mengikutinya. Agar dapat mengupayakan peran serta keluarga dalam meningkatkan derajat
kesehatan, maka perawat perlu memahami beberapa tipe keluarga. (Mubarak, dkk, 2011, :
hal 70 - 71)
a.
Tradisional Nuclear
Keluarga inti yang terdiri dari ayah, ibu dan anak yang tinggal dalam satu rumah
ditetapkan oleh sanksi-sanksi legal dalam suatu ikatan perkawinan, satu atau kedduanya dapat
bekerja diluar rumah.
b.
Extended Family
Adalah keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, misalnya nenek, kakek,
keponakan, saudara sepupu, paman, bibi dan lain sebagainya.
c.
Reconstituted Nuclear
Pembentukan baru dari keluarga inti melalui perkawinan kembali suami atau istri,
tinggal dalam pembentukan satu rumah dengan anak-anaknya, baik itu bawaan dari
perkawinan lama maupun hasil dari perkawinan baru. Satu atau keduanya dapat bekerja
diluar rumah.
d.
Niddle Age/Aging Couple
Suami sebagai pencari uang, istridi rumah atau kedua-duanya bekerja di rumah, anakanak sudah meninggalkan rumah karena sekolah/ perkawinan/ meniti karir.
e.
Dyadic nuclear
Suami istri yang sudah berumur dan tidak mempunyai anak, keduanya atau salah satu
bekerja diluar rumah.
f.
Single Parent
Satu orang tua sebagai akibat perceraian atau kematian pasanganya dan anak-anaknya
dapat tinggal dirumah atau diluar rumah.
g.
Dual cariier
Suami istri atau keduanya orang karier dan tanpa anak
h.
Commuter married
Suami istri atau keduanya orang karier dan tinggal terpisah pada jarak tertentu,
keduanya saling mencari pada waktu-waktu tertentu.
i.
Single adult
Wanita atau pria dewasa yang tinggal sendiri dengan tidak adanya keinginan untuk kawin.
j.
Three Generation
Tiga generasi atau lebih tinggal dalam satu rumah
k.
Institusional

Anak-anak atau orang-orang dewasa tinggal dalamm suatu panti-panti.


l.
Communal
Satu rumah terdiri dari dua atau lebih pasangan yang monogamy dengan anak-anaknya dan
bersama-sama dalam penyediaan fasilitas.
m. Group Marriage
Satu perumahan terdiri dari orang tua dan keturunanya didalam satu kesatuan keluarga dan
tiiap individu menikah dengan yang lain dan semua adalah orang tua dari anak-anak.
n.
Unmarried parent and Child
Ibu dan anak dimana perkawinan tidak dikehendaki, anak diadopsi.
o.
Cohibing Couple
Dua orang atau pasangan yang tinggal bersama tanpa kawin.
c. Struktur keluarga
Struktur keluarga terdiri dari beberapa macam, diantaranya: (Friedmann, 1989, dalam
Mubarak, dkk, 2011 : hal 68 69 )
a)
Patrilinear
Patrilinear adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak keluarga sedarah dalam beberapa
generasi, dimana hubungan itu disusun melalui jalur garis ayah
b) Matrilinear
Adalah keluarga sedarah yang terdiri dari sanak saudara sedarah dari beberapa generasi,
dimana hubungan itu disusun melalui jalir garis ibu.
c)
Matrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah istri
d) Patrilokal
Adalah sepasang suami istri yang tinggal bersama keluarga sedarah suami
e)
Keluarga kawinan
Adalah hubungan suami istri sebagai dasar pembinaan keluarga, dan beberapa sanak saudara
menjadi bagian keluarga karena adanya hubungan dengan suami istri.

Ada beberapa ciri-ciri struktur keluarga, yaitu: (friedmann, 1998, dalam Mubarak, dkk,
2011 : hal 69)
a.
Terorganisasi
Saling berhubungan, saling ketergantungan antara anggota keluarga.
b.
Ada keterbatasan
Setiap anggota memiliki kebebasan tetapi mereka juga mempunyai keterbatasan dalam
menjalankan fungsi dan tugasnya masing-masing.
c.
Ada perbedaan dan kekhususan
Setiap anggota keluarga mempunyai peranan dan fungsinya masing-masing.
d. Bentuk- Bentuk Keluarga
1. Sussman (1974) dan Maclin (1988) ( dalam Setiawati, 2008 : hal 16-17)
a.
Keluarga tradisional
a)
Keluarga inti adalah keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak.
b)
Pasanagn inti adalah keluarga yang terdiri dari suami dan istri saja.

c)

Keluarga dengan orang tua tunggal adalah satu orang yang mengepalai keluarga

sebagai konsekuensi perceraian.


d)
Bujangan yang tinggal sendirian.
e)
Keluarga besar 3 generasi.
f)
Pasangan usia pertengahan atau pasangan lansia.
b. Keluarga non Tradisional
a)
Keluarga dengan orang tua yang memiliki anak tanpa menikah.
b)
Pasangan yang memiliki anak tanpa menikah.
c)
Pasangan yang hidup bersama tanpa menikah (kumpul kebo)
d)
Keluarga gay.
e)
Keluarga lesbi.
f)
Keluarga komuni: keluarga dengan lebih dari satu pasangan monogami dengan anakanak yang secara bersama- sama mengunakan fasilitas, sumber dan memiliki pengalaman
yang sama.
2. Anderson Carter ( dalam Setiawati, 2008 : 17)
a.
Keluarga inti (nuclear family)
Keluarga yang terdiri atas ayah, ibu dan anak-anak.
b.
Keluarga besar (ekstensed family)
Keluarga inti ditambah dengan sanak saudara, nenek, kakek, keponakn , sepupu, paman, bibi
dsb.
c.
Keluarga berantai (sereal family)
Keluarga yang terdiri dari wanita dan pria yang menikah lebih dari satu kali dan merupakan
satu keluarga inti.
d.
Keluarga duda / janda (single family)
Keluraga yang terjadi karena perceraian atau kematian.
e.
Keluarga berkomposisi
Keluarga yang perkawinannyaberpologami dan hidup secara bersama-sama.
f.
Keluarga kabitas
Dua orang menjadi satu tanpa pernikahan tetapi membentuk satu keluarga.
d.
Fungsi keluarga
Friedmann mengidentifikasikan lima prinsip fungsi dasar keluarga, diantaranya adalah
fungsi afektif, fungsi sosialisasi, fungsi reproduksi, fungsi ekonomi, dan fungsi keperawatan
keluarga. (Friedmann, 1998, dalam Mubarak, dkk, 2011: 76-78)
a)
Fungsi afektif berhubungan erat dengan fungsi internal keluarga, yang mkerupakan
basis kekuatan keluarga. Fungsi afektif berguna untuk pemenuhan kebutuhan psikososial.
Keberhasilan melaksanakan fungsi afektif tampak pada kebahagiaan dan kegembiraan dari
seluruh anggota keluarga. Tiap anggota keluarga slaing mempertahankan iklim yang positif.
Hal tersebut dapat dipelajari dan didkembangkan melalui interaksi dan hubungan dalam
kelduarga. Dengan demikian, keluarga yang berhasil melaksanakan fungsi afektif, seluruh
anggota keluarga dapat mengembangkan konsep diri positif.
b)
Fungsi sosialisasi adalah proses perkembangan dan perubahan yang dilalui individu,
yang menghasilkan interaksi social dan belajar berperan dalam lingkungan sosial. Sosialisasi
dimulai sejak manusia lahir. Keluarga merupakan tempat individu untuk belajar

bersosialisasi, misalnya anak yang baru lahir dia akan menatap ayah, ibu dan orang-orang
yang disekitarnya. Kemudian beranjak balita dia mulai belajar bersosialisasi dengan
lingkungan sekitar meskipun demikian keluarga tetap berperan penting dalam bersosialisasi.
Keberhasilan perkembangan individu dan keluarga dicapai melalui interaksi atau hubungan
antar anggota keluarga yang diwujudkan dalam sosialisasi anggota keluarga belajar disiplin,
belajar norma-norma, budaya dan perilaku melalui hubungan dan interaksi keluarga.
c)
Fungsi reproduksi untuk meneruskan keturunan dan menambah sumber daya manusia.
Maka dengan ikatan suatu perkawinan yang sah, selain untuk memenuhi kebutuhan biologis
pada pasangan tujuan untuk membentuk keluarga adalah untuk meneruskan keturunan.
d)
Fungsi ekonomi merupakan fungsi keluarga untuk memenuhi kebutuhan seluruh
anggota keluargta seperti memenuhi kebutuhan akan makanan, pakaian, dan tempat tinggal.
Banyak pasangan sekarang kita lihat dengan penghasilan yang tidak seimbang antara suami
dan istri hal ini menjadikan permasalahan yang berujung pada perceraian.
e)
Fungsi perawatan kesehatanjuga berperan atau berfungsi untuk melaksanakan praktek
asuhan kesehatan, yaitu untuk mencegah terjadinya gangguan kesehatan dan atau merawat
anggota keluarga yang sakit. Kemampuan keluarga dalam memberikan asuhan kesehatan
mempengaruhi status kesehatan keluarga. Kesanggupan keluarga melaksanakan pemeliharaan
kesehatan dapat dilihat dari tugas kesehatan keluarga yang dilaksanakan. Keluarga yang
dapat melaksanakan tugas kesehatan berarti sanggup menyelesaikan masalah kesehatan.

B.

KONSEP DASAR KELUARGA DENGAN TAHAP CHILDBEARING


Perkembangan keluarga adalah proses perubahan yang terjadi pada system keluarga

meliputi perubahan pola interaksi dan hubunga antara anggotanya di sepanjang waktu. Siklus
perkembangan keluarga sebagai komponen kunci dalam setiap kerangka kerja yang
memandang keluarga sebagai suatu system. Perkembangan ini terbagi menjadi beberapa
tahap atau kurun waktu tertentu. Pada setiap tahapnya keluarga memiliki tugas perkembangan
yang harus dipenuhi agar tahapan tersebut dapat dilalui dengan sukses. Kerangka
perkembangan keluarga menurut Evelyn Duvall memberikan pedoman untuk memeriksa dan
menganalisa perubahan dan perkembangan tugas-tugas dasar yang ada dalam keluarga
selama siklus kehidupan mereka.
1.
Tahap-tahap perkembangan keluarga Childbearing (kelahiran anak pertama).
Tahap perkembangna keluarga dibagi sesuai kurun waktu tertentu yang dianggap
stabil, misalnya keluarga dengan anak pertama berbeda dengan anak keluarga remaja.
Meskipun setiap keluarga melalui tahapan perkembangan secara unik, namun secara umum

seluruh keluarga mengikuti pola yang sama. Tiap tahap perkembangan membutuhkan tugas
dan fungsi keluarga agar dapat melalui tahap tersebut. Keluarga yang menantikan kelahiran
dimulai dari kehamilan sampai kelahiran anak pertama dan berlanjut sampai anak pertama
berusia 30 bulan (3,2 tahun) merupakan tahap perkembangan keluarga childbearing.
Kehamilan dan kelahiran bayi pertama dipersiapkan oleh pasangan suami istri melalui
beberapa tugas perkembangan yang penting. Kelahiran bayi pertama memberikan perubahan
yang besar bagi keluarga, sehingga pasangan harus beradaptasi dengan peranya untuk
memenuhi kebutuhan bayi. Sering terjadi dengan kelahiran bayi, pasangan merasa diabaikan
karena focus perhatian kedua pasangan tertuju pada bayi. Suami merasa belum siap menjadi
ayah atau sebaliknya istri belum siap menjadi ibu. Peran utama perawat keluarga adalah
mengkaji peran orang tua; bagaimana orang tua berinteraksi dan merawat bayi serta
bagaimana bayi berespon. Perawat perlu memfasilitasi hubungan orang tua dan bayi yang
positif dan hangat sehingga jalinan kasih sayang antara bayi dan orang tua dapat tercapai.
2.

Tugas perkembangan dengan keluarga childbearing


Tahap ini dimulai dimulai saat ibu hamil sampai dengan kelahiran anak pertama dan

berlanjut sampai dengan anak pertama berusia 30 bulan. Ada beberapa hal tugas
perkembangan keluarga pada fase childbearing yaitu: (Duval, dalam buku Santun Setiawati :
19 dan dalam buku Mubarak, dkk : 87-88).
a.
Persiapan menjadi orang tua dan merawat bayi
b.
Membagi peran dan tanggung jawab
c.
Menata ruang untuk anak atau mengembangkan suasana rumah yang menyenangkan
d.
Mempersiapkan biaya atau dana Child Bearing
e.
Memfasilitasi role learning anggota kleuarga
f.
Bertanggung jawab memenuhi kebutuhan bayi sampai balita
g.
Mengadakan kebiasaan keagamaan secara rutin
h.
Beradaptasi pada pola hubunga seksual
i.
Mensosialisasikan anak dengan lingkungan keluarga besar masing-masing pasangan.
Sedangkan menurut Carter dan Mc. Goldrik, 1988, Duval dan Miller, 1985, (Dalam
buku ilmu keperawatan komunitas, hal: 87-88) tugas perkembangan keluarga pada tahap
ini adalah sebagai berikut:
a.
Membentuk keluraga muda sebagai sebuah unit yang mantap ( mengintegrasikan bayi
baru ke dalam keluarga).
b.
Rekonsiliasi tugas-tugas perkembangan yang bertentangan dan kebutuhan anggota
keluarga .
c.
Mempertahankan hubungan perkawinan yang memuaskan.
d.
Memperluas persahabatan dengan keluarga besar dengan menambahkan peran-peran
orang tua, kakek, dan nenek.
3.

Fungsi perawat dalam tahap perkembangan keluarga dengan childbearing.

Sebagai kekhususan perawatan keluarga memiliki peran yang cukup banyak dalm
memberikan asuhan keperawatan keluarga.
Fungsi perawat dalam tahap ini adalah melakukan perawatn dan konsultasi antara lain
(Mubarak, dkk : 88) :
a.
Bagaimana cara menentukan gizi yang baik untuk ibu hamil dan bayi,
b.
Mengenali gangguan kesehatn bayi secara dini dan mengatasinya,
c.
Imunisasi yang dibutuhkan anak,
d.
Tumbang anak yang baik,
e.
Interaksi keluarga,
f.
Keluarga berencana, serta
g.
Pemenuhan kebutuhan anak terutama pada ibu yang bekerja.
4.
Asuhan keperawatan tahap perkembangan keluarga denganchildbearing.
Asuhan keperawatan keluarga merupakan proses yang kompleks dengan menggunakan
pendekatan sistematis untuk bekerjasama dengan keluarga dan individu sebagai anggota
keluarga. Tahapan dari proses keperawatan keluarga adalah sebagai berikut:
a.
Tahap Pengkajian
Pengkajian merupakan tahap terpenting dalam proses keperawatan, mengingat
pengkajian sebagai awal bagi keluarga untuk mengidentifikasi data yang ada pada keluarga.
Oleh karena itu, perawat keluarga diharapkan memahami betul lingkup, metode, alat bantu,
dan format pengkajian yang digunakan. Data-data yang dikumpulkan antara lain: (Santun
setiawan dkk, hal 45)
a)
Data umum
b)
Riwayat dan tahapan perkembangan
c)
Lingkungan
d)
Struktur keluarga
e)
Fungsi keluarga
f)
Stress dan koping keluarga
g)
Harapan keluarga
h)
Data tambahan
i)
Pemeriksaan fisik
Dari hasil pengumpulan data tersebut maka akan dapat diidentifikasi masalah kesehatan yang
dihadapi keluarga.
b.
Tahap perumusan diagnosa keperawatan
Diagnosa keperawatan merupakan kumpulan pernyataan, uraian dari hasil wawancara,
pengamatan langsung dan pengukuran dengan menunjukan status kesehatan mulai dari
potensial, resiko tinggi sampai dengan masalah yang aktual.(Santun setiawan dkk, hal 48)
c.
Tahap penyusunan rencana keperawatan
Apabila masalah kesehatan maupun masalah keperawatan telah teridentifikasi, maka
langkah selanjutnya adalah menyusun rencana keperawatan sesuai dengan urutan prioritas
masalahnya. Rencana keperawatan keluarga merupakan kumpulan tindakan yang
direncanakan oleh perawat untuk dilaksanakan dalam menyelesaikan atau mengatasi masalah
kesehatan atau masalah kesehatan yang telah diidentifikasi. (Mubarak dkk, 2011,hal 106)
d.
Tahap pelaksanaan keperawatan keluarga

Pelaksanaan merupakan salah satu dari proses kepearawatan keluarga dimana perawat
mendapat kesempatan untuk membangkitkan minat keluarg dalam mengadakan perbaikan
kearah perilaku yang hidup sehat. (Mubarak dkk, 2011,hal 108)
e.
Tahap evaluasi
Sesuai dengan rencana tindakan yang telah diberikan, tahap penilaian dilakukan untuk
melihat keberhasilannya. Bila tidak atau belum berhasil, maka perlu disusun rencana baru
yang sesuai. Sesuai tindakan keperawatan mungkin tidak dapat dilakuka dalam satu kali
kunjungan ke keluarga. Oleh karena itu, kunjungan dapat dilakukan secara bertahap sesuai
dengan waktu dan ketersediaan keluarga. (Mubarak dkk, 2011,hal 109)

BAB III
ASUHAN KEPERAWATAN PADA KELUARGA BARU MEMPUNYAI ANAK APADA
KELUARGA TN D DI A.
PENGKAJIAN KELUARGA
1.
Identitas kepala keluarga
Nama
: Tn. D
Umur
: 33 tahun
Agama
: Islam
Suku
: Sunda
Pendidikan
: Smp
Alamat
: Kp Pakuawon Rt 08/02, Desa Cibodas, Kec Bojong Genteng, Kab
Sukabumi
2.
Komposisi keluarga
No Nama
1
Ny. L
2
An. C
1.

Genogram

L/P
P
P

Umur
20 tahun
4 bulan

Hub. keluarga
Istri
Anak

Pendidikan
SMP
-

Status kes
sehat
sakit

BB
42 kg
3,8 kg

Keterangan :
= Laki Laki

= Perempuan
--- = tinggal serumah
= Klien
2.
Type keluarga:
a. jenis type keluarga: The Extended Family
b. masalah yang terjadi dengan type keluarga: Ny. L mengatakan tidak ada masalah dengan
type keluarga
3.
Suku bangsa:
a.
Asal suku bangsa: Tn. D dan Ny. L sama-sama bersuku Sunda
b.
Budaya yang berhubungan dengan kesehatan: Ny. F mengatakan tidak ada budaya yang
bertentangan dengan kesehatan
4.
Agama dan kepercayaan yang mempengaruhi kesehatan: Bila ada anggota Keluarga
yang sakit Ny. L suka meminta air doa dari Ustad agar cepat sembuh
5.
Status sosial ekonomi keluarga:
a.
Anggota keluarga yang mencari nafkah: yang mencari nafkah Tn. D sebagai kepala
keluarga
b.
Penghasilan: Rp. 2.000.000
c.
Upaya lain: Ny. F mengatakan tidak ada usaha lain
d.
Harta benda yang dimiliki: Rumah, motor, dan peralatan rumah tangga
e.
Kebutuhan yang dikeluarkan tiap bulan: Ny. F mengatakan kebutuhan yang
dikeluarkan tiap bulan yaitu berbelanja untuk kebutuhan sehari-hari seperti susu anaknya,
berbelanja makanan sehari-hari.
f.
Aktivitas rekreasi keluarga: Jika liburan panjang keluarga pergi ke kampong halaman
suaminya
6.
1.

Riwayat dan tahap perkembangan keluarga


Tahap perkembangan keluarga saat ini: Keluarga Tn. D dan Ny. L baru memiliki anak 1,

jadi keluarga Tn. D dan Ny. berada pada tahap perkembangan keluarga dengan anak baru
lahir.
2.
Tahap perkembangan keluarga yang belum terpenuhi dan kendalanya:
Saat ini keluarga Ny. D dan Tn. L sebagai keluarga childbearing yang memiliki anak 1 dan
rencana untuk memiliki anak lagi. Menurut Ny. L nanti setelah 5 tahun anaknya, ingin
memiliki anak lagi. Namun Ny. L belum pernah bicarakan dengan suaminya. Menurut Ny. L

saat ini dia dengan suaminya berusaha untuk membina hubungan dengan keluarga lain, teman
dan masyarakat sekitar. Menurut Ny. L pula bahwa dirinya dan suaminya mau bekerja
mencari uang dulu baru merencanakan punya anak lagi.
3.
Riwayat kesehatan keluarga inti:
a) riwayat kesehatan keluarga saat ini: anak saya mengalami batuk dan pilek selama 1
minggu dan terdapat bintik kemerahan di badannya
b) riwayat penyakit keturunan: Ny L mengatakan keluarganya mempunyai riwayat
Hipertensi
5.
Sumber

pelayanan

kesehatan

yang

dimanfaatkan: menurut

Ny.

keluarga

menggunakan jamkesmas dari desa


6.
Riwayat kesehatan keluarga sebelumnya. Dari riwayat kesehatan keluarga Tn. Y dan
Ny. F tidak ada yang memilki penyakit kronis maupun penyakit keturunan.
7.
Pengkajian lingkungan
1.
Karakteristik rumah
a.
Luas rumah : 126 M2
c.
Kepemilikan : hak pemilik orang tua
d.
Jumlah dan ratio kamar/ruang: 2 ruang kamar, 1 ruang tamu, 1 dapur, dan 1 ruang
keluarga dan 2 l\kamar mandi
e.
Ventilasi/jendela: jumlah ventilasi dirumah ada 8 buah, namun hanya 4 jendela yang
sering dibuka
f.
Pemanfaatan ruangan: di ruang keluarga tempat keluarga berkumpul menonton tv
g.
Sumber air minum : air sumur
h.
Kamar mandi/wc : kamar mandi dan wc masing-masing berjumlah satu dan terpisah,
jarak sumur dengan septictenk
i.
Sampah: sampah di buang di belakang rumah kemudian dibakar
j.
Kebersihan lingkungan : lingkungan rumah klien bersih
2.
Karakteristik tetangga dan komunitas RW
a.
Kebiasaan : setiap hari kamis selalu ada kegiatan pengajian
b.
Aturan/kesepakatan : tidak ada aturan yang mengikat
c.
Budaya : setiap hari jumat mengadakan kerja bakti ( kadang-kadang)
3.
Mobilitas geografis keluarga : Ny L mengatakan pernah pindah kerumah suaminya
tetapi semenjak mengandung kembali tinggal kerumah orang tuanya
4.
Perkumpulan keluarga dan interaksi dengan masyarakat: menurut Ny. L tidak ada
perkumpulan atau pertemuan-pertemuan khusus dan biasanya berkumpul hanya di waktuwaktu tertentu seperti lebaran kemarin semua keluarga berkumpul.
5.
System pendukung keluarga : Saat ini dalam keluarga terdapat anggota keluarga yang
sakit, hubungan satu anggota keluarga dengan yang lainnya cukup baik dan sudah terbiasa
saling tolong menolong.
8.
Struktur keluarga
a.
Pola/cara komunikasi keluarga: Menurut Ny. F dalam keluarganya berkomunikasi biasa
menggunakan bahasa sunda, menurut Ny. F dirinya juga cepat akrab dengan keluarga
suaminya.

b.

Struktur kekuatan keluarga : Dalam pengambilan keputusan keluarga Tn. D dan Ny. L

selalu memutuskan secara bersama-sama atau musyawarah dan meminta pendapat dari ibu
dan bapak mertuanya. Perbedaan-perbedaan pendapat yang ada selalu bisa di atasi jika
mereka bermusyawarah
c.
Struktur peran : Dalam keluarga Ny. L, Tn.D sebagai kepala keluarga berkewajiban
mencari nafkah untuk keluarga,Ny.L hanya melakukan perannya sebagai isteri yang harus
menyiapkan semua keperluan suaminya di rumah,dia biasa memasak setiap hari di rumah.
d.
Nilai dan norma keluarga : Sebagai bagian dari masyarakat Sukabumi dan beragama
islam keluarga memiliki nilai-nilai dan norma yang dianut seperti sopan santun terhadap
orang tua, suami terhadap isteri. Selama ini dirinya dan suaminya makan bersama kalau
malam hari, karena siang hari suaminya kerja sampai sore.
9.
Fungsi keluarga
a.
Fungsi afektif : Menurut Ny. F belum pernah menemukan masalah. Tn. A dan Ny. F
selalu memberikan dukungan satu sama lain. Hubungan antara dirinya dengan suaminya
sampai sejauh ini baik dan hubungna dengan keluarga besarnya pun baik. Mereka selalu
menumbuhkan sikap saling menghargai.
b.
Fungsi sosialisasi :
1)
Kerukunan hidup dalam keluarga : Hubungan antara dirinya dengan suaminya sampai
sejauh ini baik dan hubungna dengan keluarga besarnya pun baik. Hubungan keluarga dengan
orang lain pun baik, terutama tetangga-tetangga terdekat.
2)
Interaksi dan hubungan dalam keluarga : interaksi dan hubungan dalam keluarga baikbaik saja.
3)
Anggota keluarga yang dominan dalam pengambilan keputusan : menurut Ny. F yang
selalu mengambil keputusan ialah Tn. Y .
4)
Kegiatan keluarga waktu senggang: kegiatan di waktu senggang keluarga sering jalanjalan bersama anaknya.
5)
Partisipasi dalam kegiatan social : membantu dalam kegiatan gotong royong
c.
Fungsi perawatan kesehatan
Menurut Ny. F sebenarnya dalam keluarganya belum mengetahui tentang bagaimana
memberikan perlindungan yang terbaik untuk anaknya. Karena kesibukan dari suami istri
anak menjadi kurang perhatian. Karena sejauh ini anak lebih banyak menghabiskan waktunya
dengan pengasuhnya.
d.
Fungsi reproduksi
1)
Perencanaan jumlah anak : Menurut Ny. F ingin memiliki anak 2 orang saja yakni
seorang laki-laki dan seorang perempuan
2)
Akseptor : Ya, yang digunakan alat kontrasepsi yang berbentuk pil
e.
Fungsi ekonomi

1)

Upaya pemenuhan sandang pangan: Ny. F mengatakan penghasilannya dan suaminya

sudah cukup untuk memenuhi kebutuhan sandang, pangan dan papan keluarga Tn. Y dan Ny.
F tersebut.
10. Stres dan Koping Keluarga
a.
Stressor jangka pendek: Menurut Ny. F dirinya tidak tahu dari pihak suaminya apakah
sedang mengalami beban pikiran atau tidak, tetapi dari dirinya yang jadi stressor adalah
adaptasi dengan adanya memiliki anak.
b.
Respon keluarga terhadap stressor: Baik, menurut Ny. F dirinya yakin perlakuan dari
keluarga suaminya tergantung dari dirinya dan sekarang dirinya sedang berusaha belajar
menjadi ibu rumah tangga yang baik dengan belajar mengurusi anak.
c.
Strategi koping: Untuk menghadapi stressor Ny. F lebih banyak belajar pada orang
tuanya tentang cara mengurus rumah tangga.
11. Keadaan Gizi Keluarga
a.
Pemenuhan gizi: Pemenuhan gizi keluarga terpenuhi.
12. Harapan Keluarga
a.
Terhadap masalah kesehatannya : Keluarga berharap agar tetap sehat.
b.
Terhadap petugas kesehatan yang ada: Dengan adanya petugas kesehatan yang datang
ke rumahnya menurutnya mengharapkan supaya petugas kesehatan bisa memberikan
pengetahuan kepada masyarakat dengan penyuluhan-penyuluhan seperti saat ini diharapkan
dapat membantu dirinya mempersiapkan bagaimana sebenarnya kesehatan dalam rumah
tangga yang baru dibangunnya.
13. Pemeriksaan fisik
1. An C
Keadaan umum :
Ttv : RR : 35 x /menit
Nadi : 120x/ menit
Suhu : 36,2 o c
Bb : 3,8 kg
Tb : 54cm
Wajah : simetris
Rambut: distribusi rambut, merata pontanel cekung
Mata : bentuk mata simetris
Telinga : simetris, tidak terdapt pengeluaran cairan
Hidung: simetris, tidak terdapat pernafasaan cuping hidung, terdapat secret
Mulut: mukosa bibir lembar, tidak terdapat sianosis
Gigi: belum tumbuh
Leher: tidak ada pembesaran kelenjar tyroid
Dada: terdapat retraksi dingdimh dada, terdengar gargling, RR 35x/ menit
Abdomen: bentuk simetris. Turgor kulit < 3 detik bising usus 11x/menit
Integument: Terdapat ruam kemerahan
Ekstermitas: jari lengkap, CRT <3detik, pergerakan aktif
Genetalia : tidak ada kelainan

Riwayat kehamilan : kehamilam G1P1A0 . Ny L mengatakan rutin memeriksakan kandungan


nya ke bidan
Riwayat persalinan : bayi lahir spontan dengan usia kehamilan 36 minggu
Riwayat kelahiran : BB 2OOOgram, tb 45 cm, LILA 12 CM, LK 32CM
Riwayat imunisasi hbo, polio, BCG

2. Ny L
Ttv : 120/80 mmHg
RR : 18 x /menit
Nadi : 74x/ menit
Suhu : 36,5 o c
Bb : 40kg
Tb : 155cm
Wajah : simetris
Rambut: distribusi rambut merata, kulit kepala bersih,
Mata : bentuk mata simetris, konjungtiva tidak anemis,
Telinga : simetris, tidak terdapt pengeluaran cairan
Hidung: simetris, tidak ada pengeluaran cairan
Mulut: mukosa bibir lembar, tidak terdapat stomatitis
Gigi: tidak terdapat karies gigi, ada gigi yang bolong
Leher: tidak ada pembesaran kelenjar tyroid dan getah bening
Dada: suara paru vesicular, tidak terdapat retaksi dinding dada
Abdomen: bentuk simetris, tidak teraba masa. Tidak terdapat nyeri tekan
Integument: turgor kulit< 3, akral hangat
Ekstermitas: tidak terdapat edema, CRT < 3 detik kekuatan otot baik
Genetalia : tidak di kaji

ANALISA DATA
Kemungkinan

Data

Masalah / Diagnosis
Penyebab
-bersihan jalan nafas Bersihan jalan nafas tidak efektif pada An c

DS:
Keluarga

tidak efektif pada An keluarga

mengatakan
tidak

tahu

penyebab An.
C

menglami

batuk pilek
Keluarga

C keluarga Tn D

Tn

b/d

ketidakmampuan

keluarga merawat anak sakit

mengatakan
takut An. C
penyakitnya
semakin
parah
Keluarga
mengatakan
An. C sering
berkeringat
dimalam hari
Keluarga
mengatakan
tidak

tahu

cara merawat
anak sakit
DO:
Anak

batuk

berdahak
- Anak tampak rewel
beberapa hari ini
- Suara nafas anak
gargling
DS:

-Ansietas/cemas

Ny.L
mengatakan
takut hal ini
akan
memperparah
kondisi
kesehatan
anak nya
Ny.F
mengatakan
belum
membawa

Ansietas/cemas tingkat sedang pada Ny L

tingkat sedang pada keluarga Tn D


An. R keluarga Tn. Y

b/d ketidakmampuan

keluarga memanfaatkan fasilitas kesehatan

anaknya

ke

dokter
DO:
SKORING
Bersihan jalan nafas tidak efektif pada An c keluarga Tn D b/d ketidakmampuan keluarga
merawat anak sakit
NO
1

KRITERIA
Sifat masalah

PERHITUNGAN
Skore x bobot = 3
Angka tertinggi 3

SKORE
1

Skore x bobot = 4
Angka tertinggi 2

Skala

actual 3
Resiko 2
Potensial 1
Kemungkinan masalah

Dengan masalah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0

Potensi masalah untuk Skore x bobot = 2


Angka tertinggi 3
di cegah
Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
Menonjolnya masalah

Masala berat harus

segera di tangani 2
Ada masalah tetapi
tidak

harus

tangani 1
Masalah

Skore x bobot = 2
Angka tertinggi 2

2/3

di
tidak

dirasakan 0
Jumlah

4 1/3

SKORING
Ansietas/cemas pada Ny L keluarga Tn D

b/d ketidakmampuan keluarga memanfaat

pelayanan / fasilitas kesehatan


NO
1

KRITERIA
Sifat masalah

PERHITUNGAN
Skore x bobot = 3
Angka tertinggi 3

SKORE
1

Skala

actual 3
Resiko 2
Potensial 1
Kemungkinan masalah

Dengan masalah 2
Hanya sebagian 1
Tidak dapat 0

Skore x bobot = 2
Angka tertinggi 2

Potensi masalah untuk Skore x bobot = 2


Angka tertinggi 3
di cegah
Tinggi 3
Cukup 2
Rendah 1
Menonjolnya masalah

Masala berat harus

segera di tangani 2
Ada masalah tetapi
tidak

harus

tangani 1
Masalah

2/3

Skore x bobot = 1
Angka tertinggi 2

di
tidak

dirasakan 0
Jumlah

3 1/6

RENCANA TINDAKAN KEPERAWATAN


Diagnose

Tujuan
Khusus
Umum

keperawatan
Bersihan
jalan

Setelah

Setelah

nafas di

Kriteria evaluasi
Kriteria
Standar
di Respon verbal

Keluarga

dapat

lakukan

mendemontrasik

tidak efektif lakukan

tindakan

an fisotrapi dada

pada An

keperawatan

untuk

c kunjunga

keluarga

Tn n rumah bersihan

b/d 2x

ketidakmamp

di jalan

harapkan

uan keluarga keluarga


merawat

mampu

efektif

nafas

Intervensi
1.

anak sakit

memberi
kan
keperawa
tan pada
An

dengan
Bersihan
jalan
nafas
tidak
efektif

DAFTAR PUSTAKA
Mubarak,

Wahit

Iqbal,

dkk.

2011. Ilmu

Keperawatan

Komunitas

Konsep

dan

Aplikasi. Jakarta: Salemba Medika


Setiawati, Satun, dkk. 2008. Penutun Praktis Asuhan Keperawatan Keluaraga. Jakarta: Trans
Info Media
Diposkan oleh Edy Novriadi di 20.57
Kirimkan Ini lewat EmailBlogThis!Berbagi ke TwitterBerbagi ke FacebookBagikan ke
Pinterest
Label: Keperawatan Keluarga
s