Anda di halaman 1dari 153
s si EG EE BE g < 3255 P $288 £3 2528 ge wo BS 5 eee. 28 3 zes2 gar z am EEE SE Base E $ Be Me aba ay a ae s a at: g< Z 35 Bz aa © Hak cipta milik IPB (Institut Pertanian Bogor) Bogor Agricultural University Hale Cipta Dilindungi Undang-Undang ilarang mengutip sebagian atau seluruh kar «. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidi b, Pengutipan tidak merugikzan kepentingan yang 2. Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagiar ‘tonpa mencantumkan dan menyebutkan sumber: ian, penuiisan karya iimich, penyusunan laporan, penulisan kriti atau tinjauan suatu masalah -au seluruh Rarya tulls ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB, g : i 3 & a 3 2 BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 Naquuns uoegnqasualu UDp UD WMUODUALL DUD} fu SanETe) 3 a zg z g 5 g a g 8 8 Ayssaaiug jesnynowby 1060g PERNYATAAN MENGENAI DISERTASI DAN SUMBER INFORMASI ‘Dengan ini saya menyatakan bahwa disertasi Kinerja Pertumbuhan Kepiting Bakau Betina (Seylla serrata Forsskal) pada Berbagai Safinitas Media dan Evaluasinya pada Salinitas Optimum dengan Kadar Protein Pakan Berbeda adalah karya saya sendiri dan belum diajukan dalam bentuk apa pun kepeda perguruan tinggi mana pun. Sumber informasi yang berasal atau dikutip dari karya yang diterbitkan maupun tidak diterbitkan dari penulis lain telah discbutkan dalam teks dan dicantumken dalam Daftar Pustaka di bagian akhir disertasi ini Wiz Mubfamad Yusri Karim NIM G426010031 “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: ABSTRAK MUHAMMAD YUSRI KARIM. Kinerja Pertumbuhan Kepiting Bakau Betina (Seylla serrata Forsskal) pada Berbagai Salinitas Media dan Evaluasinya pada Salinitas Optimum dengan Kadar Protein Pakan Berbeda. Dibimbing olch BAMBANG KIRANADI, RIDWAN AFFANDI, WASMEN MANALU dan DEWI APRI ASTUTI. Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan penting yang berpengaruh pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepiting bakau, Penelitian ini bertujuan mengkaji kinerja pertumbuhan kepiting bakau yang dipelihara pada berbagai salinitas dan menentukan salinitas optimum yang menghasilkan pertumbuhan kepiting bakau yang maksimal. Penelitian dilaksanakan di Balai Budidaya Air Payau (BBAP) Takaler, Sulawesi Selatan mulai bulan Oktober 2003 sampai Februari 2005. Penelitian dilaksanakan dalam 4 tahapan percobaan yaitu (1) pengaruh salinitas pada osmoregulasi kepiting bakau, (2) pengaruh salinitas pada metabolisme kepiting bakau, (3) pengaruh salinitas pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepiting bakau, dan (4) pengaruh kadar protein pakan pada kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepiting bakau. Penelitian dirancang dengan pola rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan salinitas (5, 15, 25, dan pt) dan 3 ulangan. Salinitas terbaik yang diperoleh diaplikasikan pada percobaan penggunaan kadar protein pakan 30, 35, 40, dan 45%, Data dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji respon. Uji Tukey digunakan untuk membandingkan perbedaan antarperlakuan. Salinitas media berpengaruh pada osmoregulasi, metabolisme, tingkat S kelangsungan hidup, pertumbuhan, dan molting kepiting bakau, Salinitas 25 ppt menghasilkan tingkat kerja osmotik kepiting bakau paling rendah, meningkatkan kepiting bakau. yobog uelueHed inNsul) Gal NIL eIdID eH (O) Ayisueaiun jeanynow6 “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: ABSTRACT MUHAMMAD YUSRI KARIM. Growth Performance of Female Mud Crab (Scylla serrata Forsskal) at Various Medium Salinity and Evaluation its in Optimum Salinity at Various of Feeding Proteiz: Levels. Under the supervision of BAMBANG KIRANADI, RIDWAN AFFANDI, WASMEN MANALU, and DEWI APRI ASTUTI. Salinity is one of environmental important factors that affect the survival and growth rate of mud crab. The objective of this experiment was to study the = Browth performance of mud crab cultured at different salinities and to determine = the optimum. salinity which produce maximum growth. The experiment was carried out at the Center of Brackishwater Aquaculture Development, Takalar, South Sulawesi from October 2003 until February 2005. ‘The experiment consisted of four parts (1) the effect of salinity on = osmoregulation of mud crab, (2) the effect of salinity on the metabolism of mud 5 crab, (3) the effect of salinity on the survival and growth rate of mud crab, and © (4) the effect of protein level on the survival and growth rate of mud crab. Complete randomized design with 4 treatments (salinity with 5, 15, 25, and 35 ppt) and 3 replications was done in this study. ‘The best salinity was applied for the treatments of protein level, 30, 35, 40, and 45%. Analysis of data using variance analysis and continue with response test. Tukey test was used to compare the different of mean among the treatments. Medium salinity affected the osmoregulation, metabolism, survival rate, growth, and moulting. Salinity 25 ppt produced low osmotic regulation, increased & survival rate, spesific growth rate, carapace width, biomass production, retension & (protein, lipid, energy, calcium, and phosphor), and shorter molting time period. The highest basai metabolic rate was found at salinity 5 ppt, while feeding and routine metabolic rate was at salinity 25 ppt. Metabolic rate of mud crab became lower with the increase of the body weight. Feeding protein level has no effect on survival rate, carapace width, and moulting, but affected the spesific growth rate and biomass production. Feeding protein level 35% increased spesific growth rate, biomass production, and nutrient retension (protein, lipid, energy, calcium, and phosphor), yuu eyo oI uejuevied imnsul Aylsueaiun jeinynowby 060g hd ES Baad Fez . Ee ; 38 oom B 3 28 cae : ly ue Ba2% s wi 28 Bas 5 gees Soe 254g 4 EEEe 2E88 ease s ogee Hom <45 = me ease = ; gE bape 3 Me zhea ; ae Eee i s ae a3 & © Hak cipta milik IPB (Institut Pertanian Bogor) Bogor Agricultural University Halk Cipta Dilindungi Undang-Undang farang mengutip sebagian atau seluruh Fearya tus ini tana mencantumkan dan menyebutlan sumber: Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidiizan, peneltian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penul -ngutipan tidak merugikzan kepentingan yang wajar IPB. 2. Dilarang mengumumlan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tuls ini dalam bentuk apapun tanpa iin IPB. iti atau tinjauan suatu masalah, Ki tua, . Wasm Anggota Dr. Ir. Dedy Duryadi, DEA ‘Tanggal Ujian : 30 Agustus 2005 gs g 3 3 i Ab ob gi yl & p a8 I § E Wl |< | ae 4 z = a x 34 5. 4 id Z a ; We. : , ( taal 3 i i a , Z Nama NIM. Ketua Program Studi Biologi itut Pertanian Bogor) Bogor Agricultural University IPB ( © tak eipta Halk Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tuls ini tanpa mencantumban dan menyebutkean sumber: ‘. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulsan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritie atau tinjauan suatu masalah, . Pengutipan tidak merugikran kepentingan yang wajar IPB. 2.Dilarang mengumumban dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentule apapun tanpa izin IPB. ‘| yrunjas ney uByBoqas dnBuews 6UEI0 Iq SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH “a J0f0m Buns uo6ujuadoy uoHOr¥eus Yopr; UodANEUEd '| syyoxOU Mors uonofuR Noo YAY UDSYNLed ‘UOLodo| LOURSNKued yoHLN Ofsny UDsIRLed ‘uohyaued ‘o¥pIpUe UBEURUeded| Hraun DAUoY| uEdNEL -D (060g ueleped imnsu!) dal mm exdio 4H (O) ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 sequins uoegnqasuelu UDP UOYLUMUDDUAL oduD} fu Ayisseniun jeinyjnowby s060g PRAKATA Paji syukur penulis panjatkan ke hadirat Allah SWT atas segala karunia-Nya sehingga karya_ilmiah ini berhasil diselesaikan. Tema yang dipilih dalam penelitian yang dilaksanakan sejak bulan Oktober 2003 sampai Februari 2005 ialah kepiting bakau, dengan judul Kinerja pertumbuhan Kepiting Bakau (Scylla serrata Forsskal) pada Berbagai Salinitas Media dan Evaluasinya pada Salinitas Optimum dengan Kadar Protein Pakan Berbeda. Selesainya karya ilmiah ini tidak lepas dari bantuan dan dorongan dari berbagai pihak. Melalui prakata ini penulis mengucapkan terima kasih kepada: Rektor Universitas Hasanuddin dan Dekan Fakultas mu Kelautan dan Perikanan, Universitas Hasanuddin, Makassar yang telah memberikan kesempatan mengikuti pendidikan Program Doktor pada Sekolah Pascasarjana Institut Pertanian Bogor. 2 Rektor Institut Pertanian Bogor dan Dekan Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian Bogor yang berkenan menerima penulis melanjutkan pendidikan Program Doktor. 3. Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia dalam hal ini Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi yang telah membiayai penulis selama mengikcuti pendidikan Program Doktor di Institut Pertanian Bogor lewat BPPS. 4 Bapak Dr. Bambang Kiranadi, MSc., Dr. Ir. H. Ridwan Affandi, DEA, Prof. Dr. Ir. Wasmen Manalu, dan Ibu Dr. Ir. Hj, Dewi Apri Astuti, MS. selaku Komisi Pembimbing atas segala petunjuk, saran dan bimbingannya. 5 Bapak Ir. H, Haruna Hamal selaku Kepala Balai Budidaya Air Payau Takalar beserta staf yang telah memberikan izin dan fasilitas selama penelitian. Saudara Umarrifai S.Pi., Akmal $.Pi, Andi Ahmad Tahir $.Pi., Ir. Usman, MSi., Mansyur S.Pi, Ghurdi, dan H. Hasanuddin yang telah membantu selama penelitian. dr.Aris Wibudi SpPD, Ir. R. Umar Hasan Saputra M.Si., Syahrul S.Pi, Mi. Ir. Siti Astamyah MP, Ir. Mub. Ali Yahya, M.Si, Fahrul S.Pi, Ruslan, $.Pi., I. Muh. Farid Samawi, MSi,, Ir. Syafiuddin, M.Si., La Eddy $.Pi., dan rekan- rekan dari Forum Komunikasi Mahasiswa Pascasarjana [PB Asal Sulawesi a ~ “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O g : 2 z é $ 3 g a £ Naquuns uoegnqasualu UDp UD WMUODUALL DUD} fu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH SanETe) (060g uejueyed ym! AysJBAluA jesnynowHy 1060g Selatan (FKMP-IPB-SS) serta semua pihak atas kerjasamanya selama penulis mengikuti pendidikan di IPB. 8 Khusus kepada kedua orang tuaku Drs. KH. Abd. Karim (almarhum) dan Hj. Sitti Badriah, kedua mertuaku Sutarma Suryapermana dan Mien Rukminawati,isteriku Ir. Nita Rukminasari MP, kedua anakku Ratu Syamsiah Nila Kencana dan Muhammad Mubarak Dimas Aditya Kusuma tercinta, serta seluruh keluarga atas segala pengorbanan, dukungan, bantuan, pengertian dan doa yang selalu menyertai penulis selama mengikuti pendidikan di Institut Pertanian Bogor. Semoga segala bantuan yang diberikan mendapat pahala yang berlipat ganda dari Allah SWT. Akhir kata semoga karya ilmiah ini bermanfaat. Bogor, Oktober 2005, Muhammad Yusri Karim “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YUL UOsYNUed ‘uOJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYNUed ‘UD}}/eued ‘UDHypIpued UDBURUEded AqUN DAUDY| UBdANBUad{-O g : 2 Z é 3 3 g a £ z z z 2 i ‘ i : Naquuns uoegnqasuall UDP UD WMUODUALL DduD} 1 © (060g uejueyed ym! AysJBAluA jesnynowHy 1060g RIWAYAT HIDUP. Penulis dilahitkan di Pangkep, Sulawesi Selatan pada tanggal 8 Januari 1985 dari pasangan Drs. KH. Abd. Karim (almarhum) dan Hj, Sitti Badriah, Pendidikan sarjana ditempuh di Jurusan Perikanan, Fakultas Peternakan dan Perikanan UNHAS, lulus pada tahun 1989. Pada tahun 1996, penulis diterima di Program studi Timu perairan pada Program Pascasarjana IPB dan menammatkannya pada tahun 1998, Kesempatan untuk melanjutkan ke program doktor di Program Studi Biologi pada perguruan tinggi yang sama diperoleh pada tahun 2001. Beasiswa BPPS diperoleh dari Dirjen Dikti, Departemen Pendidikan Nasional Republik Indonesia. Penulis bekerja sebagai staf pengajar pada Yayasan Pendidikan Arfanita Pangkep tahun 1989 sampai 1990. Sejak tahun 1991 sampai sekarang bekerja sebagai staf pengajar pada Fakultas IImu Kelautan dan Perikanan UNHAS ‘Makassar. Menikah dengan Ir. Nita Rukminasari, MP, pada tahun 1994 dan dikarunia dua orang anak bernama Ratu Syamsiah Nila Kencana dan Muhammad Mubarak Dimas Aditya Kusuma, F é i 8 3 i j 3 Supun-Buopun !6uNpUIG BIdiD HOH, Joforn 6UD4 uoBuRuadey UDWIBrUALL YopR UodlANBUed “q 8 ? é & a z 3 i i & E 3 5 3 z a 5 & 3 = i 3 : z a i 3 i “ag] uz pdupy undode ymquaq Wojop [Ul syMa BAuDe Yunjes now UD|GOqes YOKUDqladLUaLU Up UDYUINLUNBUALL BUOIOIG Z Naguuns uoygnqasuall UOp UDy.UM|UODUALU DUD} © z 2 3 (GoBog uejueved imps AYSJOAIUF JesNYNOWHy 1060g DAFTAR ISI Halaman DAFTAR TABEL .... . xii DAFTAR GAMBAR 0. csscccss en xiii DAFTAR LAMPIRAN ..... PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1 Pendekatan Pemecahan Masalah 2 Tujuan dan Kegunaan 4 Hipotesis 4 TINJAUAN PUSTAKA Sistematika dan Ciri Morfologi Kepiting Bakau . 5 Salinitas dan Osmoregulasi 6 Kebutuhan Pakan Kepiting Bakau 9 Kebutuhan Protein dan Energi Kepiting Bakau . 10 Pertumbuhan dan Molting Kepiting Bakau 12 Pengarub Salnites pada EfisiensPemanfaian 14 Metabolisme .. 15s Fisika Kimia Air 17 Suhu 7 Keasaman (pH) 18 Oksigen Terlarut 19 AMONIA Leos 20 Nitrit. oer 21 BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Bahan Penelitian Hewan Uji Sumber Air dan Media Pemeliharaan . Metode Penelitian .. Pengaruh Salinitas pada Osmoregulasi Kepiting Bakau. Tingkat Kerja Osmotik . Glukosa, Protein, Asam. nia Hemolimfe. Konsentrasi lon-ion Media dan Hemolimfe Konsumsi Oksigen Insang ... Pengaruh Salinitas pada Metabolisme Kepiting Bakau Pengaruh Salinitas pada Tingket Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Kepiting Bakau . Tingkat Kelangsungen Hidup 33 Konsumsi Pakan .. 33 Laju Pertumbuhan Bobot Spesifik Harian.. 33 Pertumbuhan Lebar Karapas. 33 Produksi Biomassa.... 34 x “a J0f0m Buns uo6ujuadoy uoHOr¥eus Yopr; UodANEUEd '| ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 “yoJpsOWW MYON UONo|UR MEAD YALL UOsYNUEd ‘uoLda| UOUASsNAUad “yoILUI Of4_Y UOSYMUAd ‘UD)/eUed ‘OWYpIpUEd UBBURUadaY YUN OAUDY UBdANBUDd “O ‘| yrunjas ney uByBoqas dnBuews 6UEI0 Iq SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH sequins uoegnqasuelu UDP UOYLUMUDDUAL oduD} fu Fenomena Molting.. Retensi Nutrien .. Efisiensi Pemanfaatan Pakan . Neraca Energi... 35 Fisika Kimia Air 36 Pengaruh Kadar Protein Pakan pada Tingkat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Kepiting Bakau pada Salinitas Optimum. Analisis Data ... HASIL DAN PEMBAHASAN, Pengaruh Salinitas pada Osmoregulasi Kepiting Bakau 0... 38 Osmolaritas dan Tingkat Kerja Osmotik Glukosa, Protein, Asam Amino, dan Amonia Hemolimfe 2 Konsumsi Oksigen Insang Pengaruh Salinitas pada Metabolisme Kepiting Bakau Pengaruh Salinitas pada Tingkat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Kepiting Bakau 56 Tingkat Kelangsungan Hidup 56 Pertumbuhan ........ 58 Produksi Biomassa 65 Fenomena Molting .. 67 Neraca Energi ee Pengaruh Kadar Protein Pakan pads Tingkat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Kepiting Bakau pada Salinitas Optimum... ‘Tingkat Kelangsungan idup Pertumbuhan ......... Produksi Biomassa . Fenomena Molting Fisika Kimia Air Pembahasan Umum . SIMPULAN DAN SARAN Simpulan Saran DAFTAR PUSTAKA. OD_AMPIRAN .... (060g uelweped ymnsu) dal mm exdio 4H (O) Ayssaniug jesnynouBby 4060; ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 ‘fej yrunjas ney uo\Boqas dignBueUs BUDIONQ )PUN-BUEPUN IBUNPUIIIC] DIC! HOH i ; i z a 5 & E waquins uoygnqasuall UDP UDYWMUODUaLL DUD} K “ypIPsOW! RDN UOND{UR NDAD AAI UOSYNUAd “UL (o60g uejeped insu!) gal mW ed19 eH (O) AysJBAluA jesnynowHy 1060g DAFTAR TABEL Halaman 1 Parameter fisika kimia air yang diukur dan metode/alat yang digunakan ... 36 2. Osmolaritas hemolimfe (OH), osmolaritas media (OM), dan tingkat kerja osmotik (TKO) kepiting bakau pada berbagai salinitas media 38 3 Konsentrasi ion-ion hemolimfe = Kpitng bakau pada bevbagai salinitas media on 39 4 Glukosa: (oi, p protein (PH), total asam amino (AAH), dan amonia hemolimfe (AH) kepiting bakau pada berbagai salinitas media 5 Konsumsi oksigen insang kepiting bakau pada berbagai salinitas medit 6 Konsumsi oksigen basal, kenyang, dan rutin me Oream) Kepiting bakau pada berbagai salinitas dan bobot tubuh. -. 7 Laju metabolisme basal, kenyang, rutin, dan SDA (ki/g/hari) kepiting bakau pada berbagai salinitas dan bobot tubub . 8 Tingkat kelangsungan hidup (TKH), konsumsi pakan (KP), laju pertumbuban bobot spesifik harian (LPBH), pertumbuhan lebar karapas (PLK), produksi biomassa (PB), dan efisiensi pemanfaatan pakan re) kepiting bakau yang dipelihare pada berbagai salinitas media... 9 Persentase retensi protein (RPr), temak (RL), kalsium (RCa), dan fosfor (RP) kepiting bakau yang dipelihara pada berbagai salinitas media......... 63 10 Komposis bu kepiting bakau yang petra pad ertngaslinias media 11 Frekuensi mmotng ), periode waktu antarmolting pertama (Mo,), kedua (M2), konsentrasi kalsium, dan fosfor eksuvia kepiting bakan pada berbagai salinitas media. 12 Konsumsi energi (KE), energi metabolis (EM), Laju metabolisme (LM), SDA, dan retensi overs we) kepiting baka » rae berbagai salinitas media... 13 Tingkat “yelangsungan hidup (TKH), konsumsi pekan (KP), laju pertumbuhan bobot spesifik harian (LPBH), pertumbuhan febar karapas (PLK), produksi biomassa (PB), dan efisiensi pemanfaatan pakan (EPP) kepiting bakau yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda ....... 14 Persentase retensi protein (RPr), lemak (RL), energi (RE), kalsium RCA), dan fosfor (RP) kepiting bakau yang diberi pakan dengan kadar roein berbeda. 15 Frekuensi molting (F), periode waktu antarmolting pertama (Mo.:), kedua (M12), konsentrasi kalsium, dan fosfor eksuvia epring ba bakau yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda.... . 3 16 xii “ag ure! oduoy undodo ynqueq wopop f BuD4 uoBuRUedsy uDa!6rie\u YopR UodANBUEd "q 1yr9 BAe YrUnjas NOx UJSOqes YosuDqueduoU! UP UOYWUNWNBUELY BUOIDI Z faday yrqun oAuBY uodAnBudd °D ‘equuns uoyanq@suelu Uop uByuunqUDDuEUL od {yojos0U mons UONDuR NOY aH Us|NUAd “uoLodo] UoUNsn Aad “YyoHUy! D&sDy UDs|NUad "UORE DAFTAR GAMBAR Halaman 1 Skema pendekatan pemecahan masalah dan rencana evaluasi pengaruh santas pad Kine pertambuban keptng bakaubetina den evalsinya pada salinitas optimum dengan kadar protein pakan berbeda .. 2 Kepiting bakau (S. serrata Forsskal) © 3 Prosedur pembuatan media perlakuan . 4 Tata letak satuan percobaan setelah pengacakan 0... cccccceeesceceeeneeee 27 5 Wadah percobaan pengukuran metabolisme . 6 Wadah percobaan pemeliharaan Kepiting baka 7 Hubungan salinitas media dengan Konsentrasi ion Na’, CI, Me". ca”, K*, dan SO?” hemolimfe kepiting bakau .. . 8 Hubungan salinitas media dengan tingkat kerja osmotik kepiting bakau . 9 Hubungan salinitas media dengan konsentrasi glukosa (a) dan protein © hemolimfe kepiting bakau .. . 44 10 Hubungan salinitas media dengan konsentrasi amonia hemolimfe kepiting bakau. 11 Hubngan salinins media dengan kon 2 insang ising 48 (080g ueluered ymnsul) Gal HIM eIdIO HEH, 2 rnp salinitas media dengan konsumsi ozigen pada kondisi basal (a), kenyeng (b), dan rutin (c) kepiting bakau bobot 20, 40, 60, dan 80 g . SL 13 Tingkat konsumsi oksigen kenyang kepiting bakau a pada | bobot 20 0), 40) © (60), dan 80 (2) pada Derbi ingkat santas selama 24 jam sesudah maken ... oe 14 Hubungan salinitas media dengan SDA kepiting bakau dan 20, 40, 60, dan 80 g. 56 Wis Hubungan salinitas media dengan sna relangsungan hidup kepiting bakau .. wn 58 ©..6 Hubungan salinitas media dengan konsumsi pakan (a) dan efisiensi pemanfaatan pakan (b) kepiting bakau ........ (Q.7 Hubungan salinitas media dengan laju pertumbuhan bobot spesife harian (a) dan pertumbuhan lebar karapas (b) kepiting bakau.. 8 Hubungan salinitas media dengan retensi protein (a) dan kalsium 0 kepiting bakau 9 Hubungan salinitas media dengan produksi biomassa kepiting bakau.. 52 65 xiii Aysioniun jesnyjnouby 4! a % Fog 893 Hi S28 igi geb gb gd Pe Ege 2.3 Ee Ha a ai, Hew erretel ge gdiidie fe E Em Flee 8s HUGE Hu ae eae EPaE 4 i Hu h H a a ag 8 8 © Hak cipta mitik IPB (Institut Pertanian Bogor) Bogor Agricultural University Hak Cipta Dilindungi Undang-Undar 1.Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkaan sumber: engutipan hanya untuk kepentingan pendidiizan, penelitian, penulsan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan krtie atau tinjauan suatu masalah, Pengutipan tidak merugian kepentingan yang waar IPB. 2.Dilarang mengumumban dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tulis ini dalam bentule apapun tanpa izin IPB. Joforn 6UD4 uoBuRuadey UDWIBrUALL YopR UodlANBUed “q 8 2g Fe ga i ze a8 a4 : te bs Fe la i z a8 Zz a2 ae Eg if q 2 i 3 £ “ag] uz pdupy undode ymquaq Wojop [Ul syMa BAuDe Yunjes now UD|GOqes YOKUDqladLUaLU Up UDYUINLUNBUALL BUOIOIG Z z g Q g i 8 i 4 5 = q é i a DAFTAR LAMPIRAN Halaman 1 Komposisi bahan pakan percobaan..... 2 Komposisi vitamin mix pakan percobaan. 3 Komposisi mineral mix pakan percobaan .. 98 98 99 © 4 Hasil analisis proksimat bahan pakan percobaan ... 99 E 5 Prosedur pembuatan pakan percobaan 0c nner, 100 8 6 Hasil analisis proksimat pakan percobaan .... ve 101 E 7 Prosedurpeagukuranosmolanteshemolizfekepiting balan . 102 8 Prosedur pengukuran osmolaritas media percobaan 6... 9 Prosedur pengukuran glukosa hemolimfe kepiting bakaw 10 Prosedur pengukuran amonia hemolimfe kepiting bakau.. q e 3 i 3 z 12 Prosedur analisis proksimat kadar protein . 13 Prosedur analisis proksimat kadar lemak... 14 Prosedur analisis proksimat kadar enetgi ....0.0 15 Prosedur analisis proksimat kadar kalsium .. 16 Prosedur analisis proksimat kadar fosfor 17 Prosedur pengukuran konsumsi oksigen kepiting bakau ... 18 Khlorinitas dan osmolaritas media pada berbagai salinitas ... 19 Konsentrasi ion-ion media pada berbagai salinitas 20 ral ag ragam pengeh saints spa tngkat era onmotikkepting g ¢ g 5 g a 8 8 (21 Analisis ragam pengeruh salinitas pada Konsentas Na® hemolimfe Q _ kepiting bakan 13 ‘5 22 Analisis ragam pengarub salnitas pada konsentrasi CI” hemolimfe S kepiting bakau.... woe MB & 23 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsentrasi Mg’* hemolimfe kepiting bakau, 24 Analisis ragam pengaruh salinitas s pada konsentrasi Ca" hemolimfe kepiting bakau. - 25 Analisis ragam bengaruh sa salinitas nn konsentrasi K* hemolimfe kepiting bakau.............. AissOAluN Jesnyinow “ag] uz pdupy undode ymquaq Wojop [Ul syMa BAuDe Yunjes now UD|GOqes YOKUDqladLUaLU Up UDYUINLUNBUALL BUOIOIG Z ‘al fom 6u0K uoBuRuedse UDHBrueLU YopA UDdaNBUad q “yoyosows ngons uon{uR ney eguuH UDKYLAd ‘uDJodo) UDUNsnAued “Yow! O4uDy UDsYUed ‘uORY/aued ‘uDe'pypUad UDBURUadeH YMUN BAuDY LOd)|NBUad “> g 2 5 a s 3 z 2 & 2 i 5 i g i 3 & i 5 ' z g Q g i 8 i 4 5 = q é i a 26 Analisis maga peng sliis pds onsets sow hemolimfe kepiting bakau.... 27 Analisis ram peng slinitas yada glukosahemolimfe kepiting 28 Analisisragam pengaruh saiinitas pada protein hemolimfe kepiting bakeu. 29 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsentrasi total asam amino © _ hemolimfe kepiting baka. 30 Analisis ragam pengaruhslinias pads amonia hemolimfekepting z 2 3 31 sat apn png ants ons otsigen isang (apa digitalis blok ATPase) kepiting bakau... . 32 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi oie insang (dengan digitalis biok ATPase) kepiting bakaw... 33 Analisis ragam Pesgaruh salinitas pada kemapuan pompa ion kepiting gal 34 Anslisis ragam pengaruh satinitas pada konsumsi oksigen basal kepiting bakau bobot 20 g 35. Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi oksigen basal kepiting bakau bobot 40 g.. 36 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi oksigen basal kepiting bakau bobot 60 g.. 37 Analisis ragam pengaruh salinitas eda konsums osigen basal kepitng bakau bobot 80 g... . 38 Analisis ragam pengaruh salinitas ada konsumsi aso enyang Kepiting bakau bobot 20 g.... 39 Analisis ragam pengaruh salinitas peda konsumsi oksigen kenyang kepiting bakau bobot 40 g.... eee 40 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi oksigen kenyang kepiting bakau bobot 60 g... 41 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi oksigen kenyang kepiting bakau bobot 80 g. a 42. Analisis ragam pengaruh salinitas spa Konsum obsigen tin keptng bakau bobot 20 g..... . 43. Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi otsigenrtinkepiting bakau bobot 40 g. se 44 Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi skeen rutin n keting bakau bobot 60 g. . g ¢ g 5 g a 8 8 AYSJOAIUF JesNYNOWHy 1060g ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 ‘Gd s0(om Bud uD6uRUadey UDYsGnJ2UN YOPA UDdANBUed '¢ {yojsow MON UOND|U NERO YL UOHNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YoU Of¥OH UDsYMUEd ‘UD//etEd ‘UOWpIpuEd OBUAUEdeY YUN OAUDY UodANBUD “O sequins uoegnqasuelu UDP UOyWnUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NOY UB/BOqes d|NBUaUE BUDLO|C, SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH 45 Analisis ragam pengaru sa salinitas as pad konsumsi oksigen rutin kepiting bakau bobot 80g... ve 46 Analisis ragam engaruh salinitas pada laju metabolisme basal kepiing aka BObOE 20 Bo. .nees enn nenntntnnnnetsinennnsen 19 47 Analisis ragam pengaruh salinitas pa aj metabolisme basat kepting bakau bobot 40 g..... a 48 Analisis ragam pengaru salinias pada bu mesbolme basal ping 50 Analisis ragam pengaruh salinitas pada Iaju metabotisme kenyang kepiting bakau bobot 20 g.... 51 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme kenyang kepiting bakau bobot 40 g... 52 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme kenyang kepiting bakau bobot 60 g. 53 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme kenyang kepiting bakau bobot 80 g. ; 54 Analisis ragam pengaruh salinitas pada Iaju metabolisme rutin kepiting bakau bobot 20 55 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme rutin kepiting bakau bobot 40 g. 56 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme rutin kepiting. bakau bobot 60 g... vn 57 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme rutin kepiting bakau bobot 80 g... 58 Analisis ragam pengaruh salinitas pada SDA kepiting bakau bobot 20 g 59 Analisis ragam pengaruh salinitas pada SDA kepiting bakau bobot 40 g... 60 Analisis mgam pengaruhsainitas pada SDA kepiting bakau bobot 60 g 61 Analisis ragam pengaruh salinitas pada SDA kepiting bakau bobot 80 g...123 S 62 Analisis ragam pengaruh salinitas pada tingkat ‘elangsongan hidup ut) el MUI BCID 12H (060g uejueped ym 0! kepiting bakau... 63 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju Permian oboe ses harian kepiting bakau... . 64 Analisis ragam pengaruh salinitas pada sm lear karpas kepiting bakau. 124 65. analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi pakan kepiting bakau ...124 xvii Ayisueniun jeanynouby “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D Dud yrunjos noqo Uo6Oqas dANBUOLL BUDIO}.G Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 66 Analisis raga pengaruh salintas pada efisinst pemanfntan akan kepiting bakau .. a 67 Analisis ragam pengaruh salinitas pada kandungan protein daging kepiting bakau... 68 Analisis ragam pengaruh kepiting bakau.. 69 Analisis ragam pengaruh salinitas pada kandungan energi daging kkepiting pertama kepiting bakau = 70 Analisis ragam pengaruh salinitas pada retensi protein kepiting bakau 271 Analisis ragam pengaruh salinitas pada retensi lemak kepiting bakau.... ‘= 72 Analisis ragam pengaruh salinites pada retensi kalsium kepiting bakau. 2.73 Analisis ragam pengaruh salnitas pada retensi fosforkepitng bakau 374 Analisis ragam pengruh slnias pada prods biomass Kepiting 75 Analisis ragam pengaruh salinitas pada frekuensi molting kepiting bakau..127 76 Analisis ragam pengaruh salinitas pada periode waktu antarmoiting pertama kepiting bakau. 77 Analisis ragam pengaruh salinitas pada periode waktu antarmolting kedua kepiting bakau.... 78 Analisis ragam pengaruh salinitas pada kadar kalsium eksuvia kepiting bakau setiap molting..... . 79 Analisis ragam Pengaruh salinitas ada kadar fosfor eksuvia kepiting bakau setiap molting... . 30. Analisis ragam pengaruh salinitas pada konsumsi energi kepiting bakau ... 31 Analisis ragam pengaruh salinitas pada energi metabolis kepiting bakau ... 32 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme basal kepiting 127 (080g uejueyed mmnsul) € (7033 Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme kenyang Q Wepiing bakau.. . io 34. Analisis ragam pengaruh salinitas pada SDA kepiting bakau 3s Analisis ragam pengaruh salinitas pada laju metabolisme rutin kepiting GS bakaw... seo . . 5% ‘Analisis ragam pengaruh salinitas pada retensi energi kepiting bakau........ S37 Analisis ragam penarah salinitas pada rasio energi metabolis-konsumsi E energikepiting bakau . 338 Analisis ragam pengarsh salinitas pada rasio retensi energi-konsumsi energi kepiting bakau. AyISJOAIUA) ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 ‘gd s0(om Bud uD6uRUadey UOYsGnv9Ul YOPA UOdANBUEd 'G {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O sequins uoegnqasuelu UDP UOyWNUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NDAD UB/BOqes dyNBUaUL BUDLO|C, SuppUN-SuDpUN \GuNPUIG BId!D HOH 89 Analisis ragam pengaruh salinitas pada rasio SDA-konsumsi energi kepiting bakau.. 90 Analisis ragam pengaruh salinitas pada rasio ie metabolisme rutin- konsumsi energi kepiting bakaw......... 9 Analisis ragam pengarh kadar ron man Sn isimennemn hidup kepiting bakau........ . 2 Acai nam pega: tin plan pal perambhan bobot spesifik harian kepiting bakau .. se os 93 Analisis ragam pengoruh kadar protein pakan pada perrumbuhan lebar karapas kepiting bakau.. . 94 Analisis ragam pengaruh kadar protein pekan pada konsumsi pakan kepiting bakau.. 95 Analisis ragam pengaruh kadar protein pakan pada efisiensi pemanfaatan pakan kepiting bakau ... 96 Analisis ragam pengaruh kadar protein pakan pada retensi protein ” ABI 131 131 1) at ma exdta ner, ©) kepiting bakau Analisis ragam pengaruh kadar protein pakan pada retensi lemak kepiting bakau....... | 98 Analisis rayam peogaruh Kader protein pakan pads retensi energ kepiting bakau...... (060g uejueped ym 99 Analisis raga pengaruh adec Proein pakan pada sete als epiting bakaw.... . 100 Analisis ragam a kadar protein pakan pada retensi fostor kepiting bakau..... 101 Anal go pene apron olan ed pros biomassa kepiting bakau.... a 102 Analisis ragam pengamuh kadar er pron akan pe fran molting, kepiting bakau........ 103 Analisis ragam pengaruh kadar protein pakan ade peviode waktu antarmolting pertama kepiting bakau... : 104 Analisis ragam pengaruh kadar protein pata ia pee waktu antar molting kedua kepiting bakau........ 105 Analisis ragam pengaruh kadar protein pakan ads konsecrasi asim eksuvia kepiting bakau setiap molting 134 106 Analisis ragam pengaruh kadar protein pakan Pada konsentrsifosfor eksuvia kepiting bakau setiap molting... 134 134 2134 Aylsseniun jeinyjnowby s060g ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 ‘gd 40{om 6uDé UDBuRuedsy UoH|GnJ=Lu YoPH) UOdNBUEG G {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O sequins uoegnqasuelu UDP UOyWnUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NOY UB/BOqes d|NBUaUE BUDLO|C, SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH PENDAHULUAN Latar Belakang Kepiting bakau (Scylla serrata Forsskal) merupakan salah satu organisme estuaria bemnilai ekonomis tinggi (Millamena dan Quinito 2000; Fratini dan @© Vannini 2002; Trino dan Rodriguez 2002). Jenis kepiting ini telah dikenal baik di = pasaran dalam negeri maupun luar negeri karena rasa dagingnya yang lezat dan bemilai gizi tinggi yakni mengandung berbagai mutrien penting seperti mineral dan asam lemak @-3 (Catacutan 2002). Selama ini permintaan konsumen akan kepiting bakau sebagian besar ipenuhi dari basil penangkapan di alam yang sifamya fluktuatif. Di sisi lain, meningkaya permintaan konsumen terutema di pasar internasional menuntut — produksi kepiting bakau yang berkesinambungan yang hanya dapat dipenubi melalui upaya budidaya secara intensif. Keberhasilan budidaya kepiting bakau = ditunjukkan oleh pertumbuhan yang pesat dalam wakt singkat dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi. Pertumbuban hanya dapat terjadi apabila terdapat kelebihan energi, setelah energi yang dikonsumsi dikurangi dengan kkebutuhan energi untuk hidup pokok, Perubaban kondisi lingkungan, terutama salinitas, akan berpengaruh pada besaran energi yang dikonsumsi, dan besarnya energi yang digunakan untuk osmoregulasi. Dengan demikian, perubahan lingkungan akan mempengaruhi pertumbuhan. Salinitas merupakan salah satu faktor Singkungan yang berpengaruh penting pada kelangsungan hidup, konsumsi pakan, metabolisme, dan pertumbuhan organisme akuatik (Kumlu ef al. 2001; Rowe 2002; Villareal ef al. 2003; Huynh Q dan Fotedar 2004; Zacharia dan Kakati 2004) karena merupakan masking factor S yang dapat memodifixasi peubah fisika dan kimia air menjadi satu kesatuan (G Pengaruh yang berdampak osmotik pada osmoregulasi dan bioenergotik &onganisme akuatik (Gilles dan Pequeux 1983; Ferraris ef al. 1986), Dalam hal ini, E salinitas akan berpengaruh pada pengaturan ion-ion internal, yang secara langsung Smemerlukan energi untuk transport aktif ion-ion guna mempertahankan —lingkungan intemal. Pertumbuhen yang maksimun hanya dapat dicapai bila U1) le NU BCD 91 (o60g uejueped e. AyISJOAIUQ) “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D Dud yrunjos noqo Uo6Oqas dANBUOLL BUDIO}.G Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 2 kondisi salinitas medium mampu mendukung proses-proses fisiologis secara maksimal, Dengan demikian, untuk menghasilkan pertumbuhan kepiting bakau yang pesat dan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi diperlukan salinitas media pemeliharaan yang mampu mengoptimalkan konsumsi pakan dan meminimalkan pembetanjaan energi untuk osmoregulasi. © Pendekatan Pemecahan Masalah z 2 $ reatang salinitas lebar yakni 1 sampai 42 ppt (Chen dan Chia 1997), kisaran salinitas yang optimun untuk tumbuh lebih sempit jika dibandingkan dengan kisaran untuk mempertahankan kehidupannya. Pada dasamya pertumbuhan kepiting bakau bergantung pada energi yang tersedia, bagaimana energi tersebut digunakan di dalam tubub, dan pertumbuhan hanya akan terjadi apabila terdapat Kkelebiban energi setelah kebutuhan energi tminimalnya (untuk hidup pokok) terpenubi. Kepiting bakau akan kehilangan energi sebagai akibat dari penggunaan energi untuk osmoregulasi, Tingkat Pemanfaatan pakan (energi) untuk pertumbuhan sangat bergantung pada daya dukung lingkungannya. Dalam rentang kualitas air yang layak dan kebutuhan pakan bagi kebidupan kepiting bakau terpenubi, salinitas media akan menentukan pertumbuhan yang selanjutnya aken menentukan tingkat efisiensi pemanfaatan (0pakan (Gambar 1). Q Dari permasalahan di atas dapat dinyatakan bahwa untuk menghasifkan © pertumbuhan kepiting bakau yang meksimal diperlukan media pemeliharaan Fsonean salinitas yang optimun sehingga mampu meningkatkan efisiensi S.pemanfaatan pakan (energi). Oleh Karena tingkat salinitas optimun untuk € pertumbuhan kepiting bakau belum dapat ditentukan, perlu dilakukan penefitian E dengan Tingkup kajian sebagai berikut © 1 Osmoregulasi, yaitu kemampuan kepiting untuk melakukan adaptasi sehingga dapat hidup dan tumbuh pada salinitas tertentu. (080g uelered mn: AyISJOAIUA) Pertumbuhan Efisiensi pakan {energi) Metabolisme Osmotik tubuh (Energi) Konsumsi pakan var 1 Skema pendekatan pemecaban masalah dan rencana evaluasi pengaruh salinitas pada kinerja pertumbuhan kepiting bake dan Bogor Agficultural University evaluastaya pada salinitas optimum dengan kadar protein pakan berbeda. “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOx!Brie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz! oduo} undodo ynqueq wojop tu) sma B4u04 YnUnjes NEYO UDjBOges YosUOGieduioWL UDP UDYUNWNBUELL BUOIONQ 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun !GuNPUIG OId!D AH ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} (J060g uelwered imnsu!) gat mW edio ¥eH O) Aylsueaiun jeinynowby 060g 4 2 Metabolisme, yaitu kemampuan kepiting untuk memetabolisme energi pada salinitas tertentu. 3. Pertumbuhan, yaitu kemampuan kepiting untuk tumbuh pada salinitas tertentu Ffisiensi pemanfaatan pakan, yaitu kemampuan kepiting mengkonsumsi pakan secara maksimun pada salinitas tertentu dan memanfaatkannya untuk tumbuh. * - Tujuan dan Kegunaan Berdasarkan rumusan masalah yang diwraikan di atas, penclitian ini i i 1 Mengetahui pola osmoregulasi dan metabolisme kepiting bakau yang dipelihara pada berbagai satinitas. 2 Mengevaluasi kinerja pertumbuhan kepiting bakau yang dipelihara pada berbagai salinitas dan menentukan salinitas optimum yang menghasitkan pertumbuhan yang maksimal 3 Mengevaluasi kinerja pertumbuhan kepiting bakau yang diberi pakan dengan kadar protein berbeda pada salinitas optimun, Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan informasi pengetahuan mengenai peran salinitas pada tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepiting bakau Hipotesis Hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut : Perbedaan salinitas media akan mempengaruhi perbedaan _kinerja pertambuhan kepiting bakau, Apabila salinitas media pemeliharaan optimum, tingkat konsumsi pakan meningkat, pertumbuhan kepiting bakau akan maksimal dan pemanfaatan pakan lebih efisien wv Suppun-buopun iGunpuliC Drdig HOH “Ad] fom 6uD6 un6uquadey| uDy!GnvelL YopA UOdANBUed q, “yoyosoU mjons uonofuR neo YAY UoRIUd ‘uoIedo| oUNNfued “YORU BfuDy UUad ‘uORtad piped UoBURLaddY MUN EfvD| todANBLeR -O : equuns uDepngasuatu top UOYLUNUDDLELH DdUD} JU S\N DADE YRUNjas MOYO UDIBOgas dianBuBW BUD!D|IG “| “Ad] uz odu5y undodo amueq wo} ju 54M BALDY YnuNjes NOW UD|Boqes YoKUDGredwElN UDP UDYLWNWINBUaLY UBIO} Z (1060g uejuevied ympsul) eal mu esd19 eH (O) Ayssaniuq jesnyjnowby s0o60g TINJAUAN PUSTAKA Sistematika dan Ciri Morfologis Kepiting Bakau Kepiting bakau (Seylla serrata Forsskal) tergolong ke dalam filum Arhtropoda, subfilum Mandibulata, kelas Crustacea, subkelas Malacostraca, seri Eumalacostraca, superordo Eucarida, ordo Decapoda, subordo Raptantia, seksi Brachiura, subscksi Branchyrhyncha, famili Portunidae, marga Scylla (Motoh 1977; Keenan er al, 1998), Ciri-ciri morfologis kepiting bakau adalah karapasnya berukuran lebih lebar dari pada panjang, panjang karapas kurang lebih dua pertiga dari lebaraya. Sisi antero-lateral berduri sembilan buah dengan ukuran yang hampir sama besar. Di antara sepasang matanya terdapat enam buah duri, sedangkan di bagian kanan dan kirinya masing-masing mempunyai sembilan buah duri. Pada dahi terdapat empat buah gigi tumpul, tidak termasuk ruang mata sebelah dalam yang berukuran kurang lebih sama. Mempunyai sepasang sapit, tiga pasang kaki jalan dan sepasang kaki renang. Pasangan sapit mempunyai bagian propodus yang menggembung dengan permukean licin dan ukuran yang cukup besar dibanding kaki-kaki yang lain dan berfungsi untuk memegang. Pasangan kaki terakhir (periopod V) berebentuk pipih pada ruas terakhir dan berfungsi sebagai alat renang (Motoh 1977; Kuntiyo ef al. 1994; Keenan et al. 1998) (Gambar 2). Gambar 2 Kepiting bakau (Scylla serrata Forsskal). ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 ‘gd s0(om Bud uD6uRUadey UOYsGnv9Ul YOPA UOdANBUEd 'G {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O sequins uoegnqasuelu UDP UOyWnUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NOY UB/BOqes d|NBUaUE BUDLO|C, SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH 6 Ukuran ruas-ruas abdomen dapat digunakan untuk membedakan antara kepiting jantan dan betina. Ruas abdomen kepiting jantan sempit, sementara pada betina lebih besar. Perut kepiting jamtan berbentuk segitiga meruncing, sementara betina berbentuk segitiga melebar. Perbedaan lain adalah pleopod (kaki renang) yang terletak di bawah abdomen. Pada kepiting jantan pleopod tersebut berfungsi © sebagai alat kopulas, sedangkan pada betina berfungsi sebagai tempat pelekatan/ = penempelan telur (Motoh 1977). Salinitas dan Osmoregulasi Salinitas merupaken konsentrasi total dari semua ion yang larut dalam air, dan dinyatakan dalam bagian perseribu (ppt) yang setara dengan gram per liter (Boyd 1990). Sifat osmotik air berasal dari seluruh elektrolit yang larut dalam air tersebut, Semakin tinggi salinitas, konsentrasi elektrolit makin besar, sehingga tekanan osmotiknya makin tinggi (McConaughey dan Zottoli 1983). Air laut mengandung 6 elemen terbesar, yaitu Cl, Na’, Mg”, Ca”, K, dan SO,” (lebih dari 90% dari garam total yang terlarut) ditambah clemen yang jumlahnya kecil (unsur mikro) seperti Br’, Sr*, dan B*. Ion-ion yang dominan dalam menentukan_ tekanan osmotik (osmolaritas) air laut adalah Na* (450 mM) dan CI (560 mM), dengan porsi 30.61 dan 55.04 persen dari total konsentrasi ion-ion terlarut (McConnaughey dan Zottoli 1983; Nybakken 1990; Boeuf dan Payan 2001; Mananes ef al, 2002). Salinitas dapat mempengaruhi aktivitas fisiologis organisme akuatik karena pengaruh osmotiknya (Gilles dan Pequeux 1983; Ferraris e¢ al, 1986), D dari aspek ckofisiologi, organisme akuatik dapat dibagi menjadi dua kategori sehubungan dengan mekanisme faalinya dalam menghadapi osmolaritas media (salinitas), yaita osmokonformer dan osmoregulator. Osmokonformer adalah organisme yang secara osmotik labil Karena tidak mempunyai_kemampuan U1) lel MINH BAD > (060g uejueped ym > mengatur kandungan garam serta osmolaritas cairan intemalnya, Oleh sebab itu, osmolaritas cairan tubuhnya selatu berubah sesuai dengan kondisi osmolaritas media hidupnya. Osmoregulator adalah organisme yang mempunyai mekanisme faali untuk menjaga kemantapan jingkungan internalnya dengan cara mengatur ‘osmolaritas (kandungan garam dan air) pada cairan intemalnya (Mantel dan Ayisseniun jeinyjnowby s060g “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D Dud yrunjos noqo Uo6Oqas dANBUOLL BUDIO}.G Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 7 Farmer 1983; Nybakken 1990). Sesuai dengan rentang salinitas yang masih dapat ditolerir yaite 1 sampai 42 ppt (Chen dan Chia 1997), kepiting bakau termasuk organise akuatik tipe osmoregulator, Kemampuan osmoregulasinya sangat bergantung pada tingkat salinitas medianya. Osmoregulasi merupakan mekanisme adaptasi lingkungan yang penting rae’ organisme skuatik, Khususnya krustasea, untuk menjoga kemantapan F lingkungen interalnya dengan cara mengatur keseimbangan osmotik antara @ yang dominan. Hal ini dilakukan untuk mempertahankan gradien osmotik antara & cairan tubuh dan cairan medium agar proses fisiologis dalam tubub berjalan = normal (Towte et al. 2001; Mananes ef al. 2002). Aktivitas Na‘/K’-ATPase lebih @ tinggi pada insang bagian posterior karena insang bagian posterior berhubungan 3 dengan fungsi osmoregulasi utama, sedangkan insang anterior sebagian besar & berfungsi untuk respirasi (Thurman 2003; Palacios ef al. 2004), Osmoregulasi S pada organisme akuatik bergantung pada transport aktif ion-ion melalui pompa ~ elektrogenik pada membran selluler (Alvares ef al. 2004). Osmoregulasi dapat terjadi lewat dua mekanisme yaitu dengan mempertahankan kemantapan osmolaritas cairan ekstrasel tanpa harus mendekati isoosmotik pada salinitas media, dan menjaga kemantapen osmolaritas cairan intrasel agar tetap isoosmotik dengan cairan ckstraselnya. Kedua mekanisme tersebut dilakukan dengan cara mengatur volume air di dalam cairan ekstrasel Jserta mengatur pertukaran ion antara cairan intrasel dan ekstrasel (Gilles dan & Pequeux 1983). Faktorfaktor yang mempengaruhi tekanan osmatik intraselluler © akan mempengaruhi metabolisme asam amino dan selanjutnya mempengaruhi SF komposisi protein pada kondisi sires osmotik. Dalam hal lain, osmoregulasi = ckstasellulcr, dengan keta lain, berbubungan dengan penggunsan energi untuk © transpor ion aktif, meliputi degradasi bahan-bahan yang kaya energi seperti jemak Mekanisme ini akan menghasilkan respon perubahan biokimia pada. © salinitas yang bervariasi (Torres et al. 2002). jes! AyISJOAIUA) “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O 8 : 2 Z é 3 3 g a £ “quins uoygnqasuall UDP UDYWMUODUALL DUD} tu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH Komponen yang terlibat dalam osmoregulasi adalah (1) kendali hormonal (organ X/kelenjar sinus dan organ perikardia), dan (2) protein pada membran sel, yang berperan sebagai sistem pompa ion, pengemban (karier) dan biokatalisator (enzim, Na-K ATP ase), serta energi (ATP) untuk transport aktif, Adapun organ- organ tubuh yang ikut berperan sebagai tempat berlangsungnya osmoregulasi © adalah insang, saluran pencemsan, integumen (kulit) dan orgun ekskresi pada % kelenjar antena (Mantel dan Farmer 1983; Wilder et ai. 2000; Mananes et al. Pada kondisi tingkungan yang hipertonik, cairan tubuh kepiting bersifat hipoosmotik terhadap media hidupnya. Oleh sebab itu, air dari cairan tubuh cenderung untuk bergerak ke luar secara osmosis (Mantel dan Farmer 1983). Dalam kondisi tersebut Kepiting akan berusaba mempertahankan osmolaritas cairan tubuh agar cairan internal tidak keluar dari selnya serta mencegah agar cairan urin tidak lebih pekat dari hemolimfenya. Untuk keperluan itu, kepiting mengekstrak H,0 dari medianya, dengan cara minum air atau memasukkan air Tewat insang dan kulit (pada saat ganti kulit). Di dalam saluran pencemaan, ait dan ion terlarut itu diabsorbsi, Kelebihan ion, terutama Na* dan CI’ yang diambil oleh hemolimfe akan dikeluarkan oleh insang melalui sel-sel epitel (salt secreting epithelium), sehingge diperoleh air bebas ion untuk pembentukan urin dan keseimbangan osmetik cairan tubuh Kepiting. Pengaturan kescimbangan ion tersebut dilakukan dengan cara transport aktif yang memerlukan sejumlah energi yang berasal dari ATP (Adenosin tri-fosfat) (Mantel dan Farmer 1983; Verslycke dan Janssen 2002). wo Pada kondisi lingkungan yang hipotonik, cairan tubuh kepiting bersifat © hiperosmotik terhadap media eksternalnya, Pada kondisi tersebut, air dari media S eksternal cenderung untuk menembus masuk ke dalam bagian tubuh yang berlapis G tipi, antara lain insang, usus dan kulit (pada saat ganti Kuli), Tonion cenderung 5 berdifusi ke luar tubuh dan cairan internal akan terancam Kekurangan ion melalui Eekskresi. Untuk mengatasi hal itu, kepiting akan berusaha mempertahankan © kemantapan osmolaritas cairan tubuh dengan mekanisme regulasi hiperosmotile © yeitu dengan cara meningkatkan absorbsi ion (garam) dari media eksternal CS metatui insang dan usus, dan menghasilken urin yang hipoosmotik melalui organ z g 5 g a g 8 8 AYISION “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 9 ckskresi {kelenjar antena). Dalam hal ini alat ekskresi berfungsi sebagai “pompa air” sehingga kelebihan volume air di dalam cairan ekstrasel dapat dikeluarkan melalui urin yang hipoosmotik (Gilles dan Pequeux 1983; Mantel dan Farmer 1983), Rainbow dan Black (2001) mengemukakan bahwa permeabilitas krustasea dekapoda berhubungan dengan salinitas. Adaptasi secara fisiologis dalam © Permeabiltas pada salinitas rendah mengurangi pengambilan dan pengeluaran air, = Kehilangan garam-garam dan pembelenjaan energi dibutuhkan untuk pengambilan 6, ion pada salinitas rendah, Kebutuhan Pakan Kepiting Bakau Informasi mengenai pakan Kepiting bakau di alam telah dilaporkan oleh @ Lavina (1980), Kuntiyo et al. (1994) dan Catacutan (2002), Kepiting bakau E dewasa termasuk jenis hewan pemakan segala dan bangkai (omnivorous © scavenger), Pada saat larva, kepiting bakau memakan plankton, dan pada saat 2 juvenil menyukai detritus sedangkan kepiting dewasa menyulkai ikan dan moluska terwtama kekerangan, Penggunaan pakan buatan pada kepiting bakau telah C ditakukan (Sheen dan Wu 1999; Sheen 2000; Millamena dan Quinito 2000; © Catacutan 2002) meskipun masih sebatas penelitian, Kepiting bakau membutuhkan pakan untuk mempertahankan eksistensi hidup serta pertumbuhannya, dan akan bertumbuh dengan baik jika pakan yang wersedia mengandung semua unsur-unsur nutrien yang dibutuhkan, Gutierrez- Yurrita dan Montes (2001) mengemukakan bahwa komposisi nutrisi pakan ssensial akan menentukan pertumbuban dan efisiensi pemanfoatan pakan Dreanisme 9 Secara umum kebutuhan nutrien kepiting bakau meliputi protein, S -arbohidrat,lemak, vitamin, dan mineral, Protein merupakan komponen pakan Derpenting dalam sel makhluk hidup yang berfungsi untuk membentuk jaringan Gubub, memperbaiki jaringan tubuh yang rusak, merupakan komponen enzim Salam tubuh dan sumber energi untuk keperluan metabolisme. Karbohidrat, selain © ntuk memenuhi kebutuhan energi dan persediaan makanan di dalam tubuh, juga IN) al ta eno > nas Ayssoalu ‘gd s0(om Bud uD6uRUadey UOYsGnv9Ul YOPA UOdANBUEd 'G ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH sequins uoegnqasuelu UDP UOyWnUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NOY UB/BOqes d|NBUaUE BUDLO|C, 10 untuk pertumbuhan, yang berfungsi untuk pemeliharaan struktur dan integritas membran sel dalam bentuk fosfolipid dan sebagai sumber energi. Vitamin merupakan senyawa organik yang dibutuhkan meskipun dalam jumlah yang sedikit, tetapi mempunyai peranan penting dalam proses fisiologisnya. Mineral ‘mempunyai peranan dalam pembentukan eksoskeleton, mempertahankan tingkat © koloidal cairan tubun dan mengatar beberapa sift fisik sistem Koloidal seperti = viskositas, difusi, tekanan osmosis, struktur jaringan, pengiriman impuls syaraf, kontraksi otot, mengatur keseimbangan asam basa dan sebagai komponen atau aktifator enzim (NRC 1993; Anwar dan Piliang 1992, Hernandez et al. 2001; Pratoomchat er al. 2002; Satpathy er al. 2003). Manajemen pemberian pakan pada budidaya kepiting bakau merupakan faktor penentu keberhasilan. Menurut Ilyas ef ai. (1987), terdapat 5 prinsip yang = perlu dipertimbangkan dalam memilih pakan yang tepat, yaitu : (1) kuantitas, (2) ‘kualitas (nilai nutrisi dan sanitasi), (3) bentuk dan ukuran, (4) daya tarik, dan (5) ; ketahanan (stabilitas) di dalam air (media), Tujuan akbir aplikasi pakan adalah untuk mendapatkan tingkat kelangsungan hidup yang tinggi, taju pertumbuhan yang pesat dan biaya terjangkau. U1) le NU BCD 91 (o60g uejueped Kebutuhan Protein dan Energi Kepiting Bakau Keberadaan protein dalam pakan sangat penting, baik dalam kualitas maupun kuantitasnya, Selain digunakan sebagai bahan untuk pertumbuhan, protein juga penting untuk poduksi enzim, dan lain-lain (Hernandez et al. 2001; Kim dan Lali 2001; Satpathy ef af. 2003). Pertumbuhan digambarkan sebagai e peningkatan protein tubuh dan protein merupakan komponen paling mahal dalam (Q formulasi pakan (Kim dan Lall 2001). =i Jika kebutuban protein dari pakan tidak tercukupi, akan terjadi penurunan © 4rastis dan penghentian pertumbuhan atau kehilangan bobot tubuh karena hewan Sakan menarik kembali protein dari beberapa jaringan untuk mempertahankan fungsi jaringan yang lebih penting. Sebaliknya jika pasokan protein berlebih maka S energi yang digunakan untuk proses deaminasi asam-asam amino akan meningkat = sehingga mengurangi energi untuk pertumbuhan vital (NRC 1993; Hernandez et Sat 2001). Penggunaan protein maksimun untuk pertumbuhan berhubungan AYISION “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosow mons Uonoul| now ye UDsNUEd ‘uOLodD) uoUNsnAued “yojUN! {BDH UDsMUEd ‘uOA}auad ‘UOY|pIpUad UDBURUEdeY YMQUN OAUDY UodANBUDG|-D z g : ; i zi 3 3 : 2 : 2 z 3 g E : o i i ¢ 2 i 4 z i é (J060g uelwered imnsu!) gat mW edio ¥eH O) Aylsueaiun jeanyjnowbGy 1060 1 dengan pemasukan protein dan ketersediaan sumber energi nonprotein, yaitu Jemak. Pemasukan energi nonprotein memperlihatkan penghematan protein dari katabolisme untuk penyediaan energi dan meningkatkan pemanfaatan protein untuk pertumbuhan, suatu proses yang dikenal dengan protein sparing effect (Satpathy er ai. 2003). Energi adalah suatu kapasitas untuk melakukan kerja yang diperlukan dalam semua fase metabolisme tubuh, Kebutuban energi dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain spesies, umur, ukuran, aktivitas, dan jenis pakan. Energi dibutuhkan untuk kontraksi (gerak) dan untuk aktivitas proses metabolisme. Hampir 60% energi pakan yang dikonsumsi organisme digunakan untuk memelihara tubuh dan selebihnya digunakan untuk pertumbuhan. Kebutuhan energi kepiting harus dipenuhi melalui pemberian pakan seperti protein, lemak, dan karbohidrat yang merupakan sumber energi. Kandungan energi dan ukuran partikel pakan penting karena akan menentukan laju pertumbuhan dan deposisi energi (Halver 1989; Kim dan Lall 2001), Hasil penelitian Catacutan (2002) memperlihatkan bahwa pertumbuhaa kepiting bakau yang baik dihasilkan pada kepiting yang diberi pakan dengan kadar energi 14.7 sampai 15.7 MI/kg. Pertumbuhan sangat dipengaruhi oleh imbangan protein dan energi dalam pakan. Pakan yang mengandung protein tinggi belum tentu dapat mempercepat pertumbuhan apabila kandungan energinya rendah, Kebutuhan enengi untuk pemeliharaan dan kegiatan tubuh harus dipenuhi terlebih dahulu, sebelum energi akan tersebut digunakan untuk pertumbuhan. Protein dalam pakan akan digunakan untuk menghasilkan energi jika kandungen energi pakan tak seimbang CD dengan kandungan proteinnya (Lovell 1989). Taboada ef al. (1998) dan Rosas ef ai. (2001) mengemukakan bahwa pakan dengan rasio protein per cnergi optimum menggambarkan titik keseimbangan antara jumlah energi yang dibutuhkan untuk metabolisme basal dan pertumbuhan, Keseimbangan antara kebutuhan protein dan energi untuk pertumbuhan adalah salah satu kunci untuk mendapatkan pakan yang sesuai. Satpathy ef al. (2003) mengemukakan bahwa pakan dengan rasio protein per energi optimun akan menghasilkan pertumbuhan dan pemanfaatan pakan yang paling optimal. “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O 8 : 2 Z é 3 3 g a £ “quins uoygnqasuall UDP UDYWMUODUALL DUD} tu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH 12 Penambahan nutrien sebagai penghasil energi dapat menurunkan penggunaan protein sebagai sumber energi (protein sparing effect) sehingga dapat meningkatkan fungsi protein dalam menunjang pertumbuhan. Halver (1989) mengemukakan bahwa pakan yang kekurangan energi akan menyebabkan sebagian besar protein pakan digunakan sebagai sumber energi untuk keperluan ©metadolisme, Sebaliknye jékn kandungan energi pakan terlalu tinggi dapat % menyebabkan pakan yang dimakan berkurang dan penerimaan nutrien lainnya 5, termasuk protein yang diperlukan untuk pertumbuban juga berkurang. 3 mt Pertumbuhan dan Molting Kepiting Bakau 5 —_Pertumbuhan pada kepiting bakau merupakan pertambahan bobot badan dan jebar karapas yang terjadi sccara berkala setelah terjadi pergantian kulit atau E molting (Sheen dan Wu 1999; Mayrand et al. 2000; Catacutan 2002). Molting Z bagi krustasea merupakan periode kritis yang menggambarkan kondisi fisiologis dari proses pergantian kaulit lama (cksoskeleton) (Gimenez. et af. 2001; Dooley et al, 2002). Molting dipengaruhi oleh faktor eksternal seperti salinitas, temperatur, dan factor internal termasuk status nutrisi dan ablasi mata (koo et al 2005). Peningkatan ukuran tubuh dan biomassa terjadi setelah molting (Hoang ef al. 2003) yakni selama periode antara postmolt dan premolt karena proses fisiologis intensif dan biokimia terjadi selama periode tersebut (Mayrand ef al. 2000; Godbout e¢ al. 2002), sedangkan pada periode postmolt terjadi peningkatan pengambilan air (Dooley ef al. 2002). Pratoomchat et al. (2002) mengemukakan Dbahwa perubahan osmotalitas hemolimfe S serrata selama siklus motting (Q mungkin berkorelasi dengan elemen-elemen minor seperti kalsium, kalium, Stembega, dan mangan atau tingkat protein dan karbohidrat. Kemungkinan © konsentrasi paling tinggi bahan organik ini terjadi selama premolt. Kalsium adalah Sion utama yang diangkut dan disimpan dalam kutilcula sebagai kalsium karbonat, © sedangkan tembaga memainkan peranan penting sebagai karier oksigen dalam © hemolimfe pada S. serrata, 2 Menurut Wamer (1977), proses pergantian kulit pada kepiting terdiri atas 5 Suse yaitu persigpan ganti Kult (premolt), ekdisis, ganti kulit (molting), 5 o 8 a g AYISION ‘al fom 6u0K uoBuRuedse UDHBrueLU YopA UDdaNBUad q “ag] uz pdupy undode ymquaq Wojop [Ul syMa BAuDe Yunjes now UD|GOqes YOKUDqladLUaLU Up UDYUINLUNBUALL BUOIOIG Z “yoyosows ngons uon{uR ney eguuH UDKYLAd ‘uDJodo) UDUNsnAued “Yow! O4uDy UDsYUed ‘uORY/aued ‘uDe'pypUad UDBURUadeH YMUN BAuDY LOd)|NBUad “> g 2 5 a s 3 z 2 & 2 i 5 i g i 3 & i 5 ' z g Q g i 8 i 4 5 = q é i a B pascaganti kulit (postmolt), periode waktu antarganti kulit (intermolt). Pada persiapan ganti kulit pertama, epidermis menyebar dari lapisan membran dan epikutikula baru, dan mobilisasi glikogen pada jaringan epidermal, Pada persiapan ganti kulit kedua, endokutikula baru mulai disekresi, duri baru keluar dari jaringan lipatan dactyius, dan lapisan membran lama mengalami degenerasi: menjadi © lapisan gelatin. Pade persiapan gant kulitketign, period resorbsieksoskeleton = tua, Pada persiapan ganti kulit keempat, resorpsi lengkap, eksoskeleton tua retak z sepanjang garis epimeral dan penyerapan air dimulai, Pada ekdisis, kepiting melepas eksoskeleton tua dan penyerapan air dipercepat. Pada periode ganti kulit periama, eksoskeleton terdiri atas membran yang sangat lunak, kaki belum dapat menyanggah bobot badan, kepiting tidak aktif, penyerapan air kontinyu, dan ‘mineralisasi eksoskeleton dimulai. Pada periode ganti kulit kedua, eksoskeleton terasa keras, kaki sudah dapat menyanggah bobot badan, kandungan air dalam tubuh konstan sekitar 86% dan mulai terjadi penumpukan dan mineralisasi pada endokutikula, Pada periode pascaganti kulit pertama, eksoskeleton umumnya tidak cacat. Pada periode pascaganti kulit kedua, bagian-bagian eksoskeleton kaku, dan kepiting mulai mencari pakan. Pada periode waktu antarmolting pertama, karapas hampir seluruhnya koku kecuali branchiostegites, sterntes, carpus dan merus dari kaki jalan dan periode pertumbuhan jaringan. Pada periode waktu antarmolting kedua, karapas seluruhnya kaku, branchiostegites, sternites dan kaki jalan hampir kaku dan retak jika ditekuk, dan jaringan terus tumbuh, Pada periode waktu antarmolting ketiga, seluruh eksoskeleton kaku tetapi mineralisasi pada endokutikula terus berlangsung, lapisan membran bagian (dalam sampai akhir tidak lengkap, pertumbuhan sempurna dan lapisan membran Q metekat pada eksoskeleton. Q Molting merupakan salah satu faktor penting yang mempengaruhi EF eonsentrasi total protein dan glukosa hemolimfe beberapa spesies krustasea. = Osmolatitas hemolimfe krustasea sering bervariasi pada tingket siklus molting yang berbeda. Hal ini mongkin merupakan bagian dari refleksi yang berhubungan E dengan pergerakan ion-ion natrium, kblorida, kalsium, magnesium, kalium, dan, © mangan di antara kutikula dan hemolimfe (Pratoomchat et ai. 2002). 2 3 g ¢ g 5 g a 8 8 AYSJOAIUQ, “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O 8 : 2 Z é 3 3 g a £ sequins uoygnqasuall UOp UDYWMUODUaLL DUD} tu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH 4 Pertumbuhan krustasea dibatasi oleh keberadaan eksoskeleton yang keras, konsekuensinya eksoskeleton tersebut secara berkala harus diganti oleh yang baru untuk tumbuh. Pada saat kepiting ganti kulit, sebagian bobot hilang sebagai eksuvia, Kehilangan bobot pada setiap ganti kulit ini mengakibatkan model pertumbuhan kepiting bakau bersifat diskontinyu karena hanya terjadi setelah Oanti kulit, Ketika molting, kepiting meningkatkan pengambilan air untuk E mengembangkan cksoskeleton baru dan menambah ukuran _sebelum $ eksoskeletonnya mengeras (Styrishave ef al. 2004). 5 ‘Selama masa pertumbuhan menjadi dewasa, kepiting bakau akan mengalami = beberapa kali molting yaitu berkisar 17 sampai 20 kali, Hal ini terjadi karena S rangka luar yang membungius tubuhnya tidak dapat membesar, sehingga perlu fibuang dan diganti dengan yang lebih besar. Setiap periode (fase intermolt) 5 pertumbuhan kepiting dapat mencapai 20 sampai 30% dari ukuran semula a (Kuntiyo et al. 1994), Wamer (1977) mengemukakan bahwa pada kepiting yang 5 masih kecil penambahan bobot dapat mencapai 400 persen, Secara keseluruhan, ® penambahan bobot pada setiap molting berkisar 3 sampai 44%, Menurut Lavina ‘8 (1980), pertumbuhan kepiting bakau sejak dari telur sampai dewasa dengan lebar karapas sekitar 114.2 mm memerlukan waktu minimal 369 hari Pengaruh Salinitas pada Efisiensi Pemanfaatan Pakan dan Pertumbuhan Pengaruh salinitas pada efisiensi pemanfaatan pakan dan pertumbuhan dapat terjadi baik secara angsung maupun secara tidak langsung. Pada kebanyakan organisme laut tipe osmoregulator-eurihaline, pengaruh langsung_salinitas media Padatah lewat efek osmotiknya pada osmoregulasi dan kemampuan pencemaan seta absorpsi sari pakan, sedangkan secara tidak langsung__salinitas \ mempengaruhi organisme akuatik melalui perubahan kualitas air seperti pH dan G oksigen terlarut (Gilles dan Pequeux 1983; Ferraris e al. 1986). Penelitian tentang hubungan antara salinitas dan pemanfaatan pakan telah Fdilakukan oleh beberapa peneliti. Dilaporkan bahwa salinitas telah terbukti | mempengaruhi tingkat konsumsi, kecernaan, dan efisiensi pakan pada berbagai no} jean jenis ikan laut, antara lain Tricnectes maculatus, Mugil cephalus, Salmo gairdnert vih efisi lu f i ‘ & x g 5 5 E E £ Z Hl é a AySJOAIUA, “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 1s bila media eksternal sedikit hipotonik di bawah rentang isoosmotik organisme akuatik eurihaline (Ferraris ef af. 1986). Akan tetapi, pada krustasea khususnya kepiting bakau, fenomena tersebut belum diketahui. Pada dasamya pertumbuhan kepiting bakau bergantung pada energi yang tersedia, bagaimana energi itu dipergunakan di dalam tubuh dan secara teoritis © hanya akan terjadi bila kebutuhan minimumnya (untuk hidup pokok) terpenuhi. Kepiting bakau memperoleh energi dari pakan yang dikonsumsi dan kehilangan energi sebagai akibat metabolisme, termasuk untuk keperluan osmoregulasi Efisiensi pemanfaatan pakan (energi) untuk pertumbuhan sangat bergantung pada daya dukung lingkungannya. Pertumbuhan akan efisien bila hewan itu hidup pada media yang tidak jauh dari titik isoosmotik (Ferraris ef al. 1986). Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan abiotik penting yang mempengaruhi pertumbuhan oragnisme akuatik. Dilaporkan bahwa kisaran salinitas yang optimum untuk pertumbuhan krustasea berbeda pada setiap sepesies, antara lain 15 sampai 25 ppt untuk Penaeus monodon, 20 sampai 30 ppt untuk P. chinensis, 30 ppt untuk P. escelentus, 34 ppt untuk P. merguiensis, 30 Ppt untuk Metapenaeus monoceros dan untuk P. vannamet di atas 30 ppt (Kumlu et al, 2001; Huynh dan Fotedar 2004). Dalam kaitannya dengan osmoregulasi, Jobling (1994) menjelaskan bahwa pembelanjaan energi untuk osmoregulasi dapat ditekan apabila organisme dipelibara pada media yang isoosmotik sehingga pemanfaatan pakan menjadi fisien serta pertumbuhan dapat meningkat. Pertumbuhan kepiting bakau secara internal selain dipengaruhi oleh kelancaran proses ganti kulit, juga oleh tingkat W kerja osmotik (osmoregulasi). (080g ueluered ympsul) Gal HIM eIdIO HEH, Metabolisme By 1060; Metabolisme adalah segala proses reaksi kimia yang terjadi di dalam tubuh @ organisme yang meliputi anabolisme dan katabolisme. Dalam proses ini € organisme mendapat, mengubah dan memakai senyawa kimia dari sckitarnya @) untuk mempertahankan kelangsungan hidup. Anabolisme dibedakan dari C katabolisme dalam beberapa hal. Anabolisme merupakan proses sintesis molekul 3 kimia kecil menjadi lebih besar, sedangkan katabolisme adalah sebaliknya, yaitu Ayisio. “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 16 proses penguraian molekul besar menjadi kecil. Anabolisme adalah proses yang, membutuhkan energi sedangkan katabolisme melepaskan energi. Anabolisme merupakan reaksi reduksi, sedangkan katabolisme adalah reaksi oksidasi, Hasil akhir anabolisme seringkali merupakan senyawa pemula untuk proses katabolisme (Wirahadikusumah 1985). Perubahan sabinitas media dapat mempengaruhi Ieju metabolisme dan tingkah laku kepiting bakau. Peningkatan laju metabolisme ditandai dengan peningkatan Jaju konsumsi oksigen dan penurunan aktivitas mencari pakan. Selain itu, terjadi perubahan pola respirasi sebagai bentuk respons penyesuaian metabolik terhadap tekanan osmotik dan pengaturan keseimbangan komposisi ion terhadap cairan ekstraselluler (Vernberg 1983). Hubungan antara salinitas dan proses fisiologis krustasea dapat menjadi variabel yang ekstrim (Rowe 2002). Verslycke dan Janssen (2002) mengemukakan bahwa ketika organisme ditempatkan pada medium yang lebih tinggi atau tekanan osmotik rendah, proses yang membutuhkan energi terjadi untuk memelihara tekanan osmotik intemal agar © konstan, Glukosa menghasilkan energi dengan cepat dalam bentuk ATP melalui proses glikolisis dan fosforilasi oksidatif. Semua energi yang diperlukan untuk anabolisme dan katabolisme berasal dari hasil proses oksidasi zat-zat makanan dalam sel. Tingkat metabolismne ini dapat ditaksir secara tidak langsung yaitu dengan mengukur tingkat konsumsi ‘oksigen yang dipergunakan dalam proses oksidasi. Penentuan tingkat konsumsi oksigen merupakan suatu teknik pengujian yang biasa digunakan untuk menaksir laju metabolisme. Konsumsi oksigen dapat digunakan sebagai pendekatan tingkat (J metabolisme yang praktis karena jumlah panas yang dihasitkan untuk setiap liter oksigen yang digunakan dalam metabotisme hampir Konstan terlepas dari ape © yang teroksidasi (protein, karbohidrat, atau lemak) dan dapat dikonversikan ke gitiam nilai cnergi. Taksiran metabolisme ini juga penting dalam kajian S. bioenergetika karena merupakan suatu bagian yang penting dari persamaan neraca © energi (Schmidt-Nielsen 1990; Lemos dan Phan 2001). ‘Tingkat konsumsi oksigen dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor eksternal dan faktor internal. Faktor ekstemal yang berpengaruh adalah salinitas, konsentrasi oksigen terlarut, suhu, cahaya, status makanan dan karbondioksida. jueved impsul) al mw esd} 4eH CO) (1080; AyssonluA jesny “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 17 Faktor intemal adalah spesies, stadia, aktivitas, jenis kelamin, reproduksi, dan molting, Jika organisme berada pada medium yang tekanan parsial oksigennya lebih rendah dari lingkungan (ambient), maka untuk mencukupi kebutuhan oksigennya dilakukan pemompaan air yang lebih besar melalui peningkatan frekuensi pergerakan operkulum. Peningkatan CO, lebih besar pengaruhnya pada @peningkatan gerakan operkulum dalam respirasi dibandingkan dengan kandungan = oksigen (Kumlu et af, 2001; Verslycke dan Janssen 2002; Villareal ar al. 2003). Adaptasi lingkungan untuk hidup, termasuk Kisaran salinitas yang lebar © melalui efisiensi osmoregulasi dan fisiologi respirasi (hyper-hypo-osmoregulator). cto > = | E. E = l 8 &, zg g 3 energi secara umum, akan mempengaruhi karakteristik kehidupan organisme selanjutnya seperti pertumbuhan dan reproduksi (Verslycke dan Janssen 2002). Fisika Kimia Air zg joBog UelUeHed IMINSUI) Gl HIN Suhu merupakan salah satu faktor abiotik penting yang mempengaruhi S aktivitas, nafsu makan, konsumsi oksigen, laju metabolisme, kelangsungan hidup, serturmbuhan, dan molting krustasea (Kumlu et al. 2001; Whiteley e¢ af. 2001; aloang et al. 2003; Villareal e¢ al. 2003; Zacharia dan Kakati 2004; Xiangli er al. 2004; Kumlu dan Kir 2005). Hubungan antara Iaju pertumbuhan kepiting dan suhw telah dilaporkan oleh >eberapa peneliti bahwa Iaju pertumbuhan proporsional dengan suhu air media. Boeuf dan Payan (2001) mengemukakan bahwa suhu dan salinitas adalah faktor Ovang secara langsung menentukan peningkatan atau penurunan pertumbuhan. ‘Srengaruh utama suhu adalah meningkatkan laju pergesekan intermolekular dan au reaksi-reaksi kimia (Reiber dan Birchard 1993). a Di antara faktor-faktor lingkungan, suhu merupakan faktor yang paling © verpengarah pada pertumbuhan dan molting (Hoang ef al. 2003). Perairan yang -Pmempunyai subu tinggi cenderung akan meningkatkan pertumbuhan dan @) Temperpendek masa interval molting krustasea (Hoang ef al. 2003; Xiangli et al. (004), Fenomena ini terjadi pada Penaeus semiculatus yang pertumbuhan dan ( 3 : i 8 i é i é t a : AsJOAIU), Joforn 6UD4 uoBuRuadey UDWIBrUALL YopR UodlANBUed “q “yoyosows mons uono{uR Moyo YAY UOKINUed ‘uDJodoy UOUNSNAued “yoILU D%uDy UOSYUed ‘uORJeued ‘uo¥ypIpUed UOBURUEdEY yMUN ofuoY LOdN;NBUEG "D “ag] uz pdupy undode ymquaq Wojop [Ul syM4 BAuDe Ynunjes now UD|BOqes YOKUEqlad\UDLU Up UDYUNLUNBUALL BUOIOIG Z "a i 3 € s : : Z i & 2 a 5 é 3 i i & i 5 ; z g Q g i 8 i a 5 = q é i a AYSJOAIUF |esNYNBHy 4 18 rendah (Kumlu dan Kir 2005), Menurut Kuntiyo et al. (1994) suhu yang optimun untuk pertumbuhan kepiting bakau adalah 26 sampai 32°C. Keasaman (pH) Boyd (1990) mengemukakan bahwa pH yang didefinisikan sebagai © Iogaritma negatif dari konsentrasi ion hidrogen (H"), merupakan indikator Keasaman serta kebasaan air, Nilai pH ini penting untuk dipertimbangkan, karena dapat mempengaruhi proses dan kecepatan reaksi kimia di dalam air serta reaksi biokomia di dalam tubuh kepiting bakau. Wang et al, (2002) mengemukakan bahwa pada pH rendah dan tinggi terjadi peningkatan penggunaan energi atau penurunan produksi energi dan penahanan/penckanan metabolisme cnergi aerobik. Jika organisme dipelihara pada pH rendah maka jumlah mukus pada permukean insang akan meningkat. Peningkatan mukus tersebut akan mengganggu pertukaran gas pada saat respirasi dan pertukaran ion melalui insang. Keasaman rendah akan mengganggu keseimbangan asam-basa darah dan menurunkan konsentrasi NaCl dalam darah yang pada akhimya akan ‘mengacaukan metabolisme tubuh organisme. Efek lebih lanjut adalah kerusakan insang sehingga proses respirasi dan keseimbangan asam-basa dalam darah terganggu (Boyd 1990), penurunan laju metabolisme, dan dapat mempengaruhi potensi toksin seperti logam-logam berat (Wang et al. 2002). Jika perairan bersifat asam (pH rendah), organisme (ikan dan krustasea) dapat mengalami kelambatan pertumbuhan dan merusak pengeturan ion (Wang @ erat. 2002), daya racun nitct akan meningkat (Chen dan Cheng 2000), sedangkan z 2 2 (GoBog uejueved imps G pada pH tinggi daya racun amonia menjadi meningkat (Wang_ et al. 2002) Chen dan Chen (2003) merangkum beberapa hasil penelitian tentang toksitas akut pH pada krustasea. Dijelaskan bahwa pH rendah memperlambat pertumbuhan Penaeus monodon, mengganggu pengaturan ion pada crayfish dan. tiger prawn, ketidakseimbangan asam basa pada crayfish dan udang air tawar. Menurut Kuntiyo ef al. (1994) dan Christensen ef al. (2005), agar pertumbuhan ‘maksimal, kepiting bakau sebaiknya dibudidayakan pada media dengan pH antara 75 dan 85. “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: Oksigen Terlarut Oksigen terlarut merupakan salah satu faktor lingkungan yang sangat esensial yang mempengaruhi proses fisiologis organisme akuatik (Warner 1977; Cheng ef ai, 2003). Secara umum, kandungan oksigen terlarut rendah (<3 ppm) akan menyebabkan nafsu makan organisme dan tingkat pemanfaatannya rendah, Oerpengarh pada tingkah laku dan proses fisiologis seperti tingkat kelangsungan & hidup, pernafasan, sirkulasi, makan, metabolisme, molting, dan pertumbuhan z krustasea, Bila kondisi ini berlanjut untuk waktu yang relatif lama konsumsi 3 pakan akan berhenti dan akibamya pertumbuhan menjadi terhenti (Boyd 1990; = Cheng et a. 2003). Walaupun kepiting bokau dapat hidup pada konsentrasi oksigen terlarut & yang rendah (Wamer 1977), kondisi tersebut sangat berbahaya karena dapat Schubungan dengan variabel lingkungan, suhu dan salinitas berpengaruh & pada konsentrasi oksigen terlarut dalam air, Peningkatan subu dapat menyebabkan kadar oksigen terlarut menjadi rendah. Demikian pula halaya dengan salinitas, Kelarutan oksigen akan rendah apabila tingkat salinitas tinggi atau sebaliknya (Riley dan Chester 1981). Kebutuhan oksigen terlarut untuk tiap jenis organisme air berbeda, bergantung pada jenis yang mentolerir fluktuasi (naik-turunnya) oksigen Pada umumnya semua organisme yang dibudidayakan (kepiting, udang, ikan) tidak © mampu mentolerir perubahan fluktuasi oksigen yang ekstrim (mendadak). Oleh ‘G sebab itu, untuk menghasilkan pertumbuhan kepiting bakau yang dibudidayakan Spiecara maksimal, kandungan oksigen terlarut harus selalu dipertahankan dalam Q ‘ondisi optimun, Untuk budidaya kepiting bakau agar pertumbuhannya baik maka © sandungan ‘oksigen sebaiknya lebih besar dari 3 ppm (Kuntiyo e¢ al. 1994; Christensen ef al. (2005). AyssoaluA jean: “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yojosow mons won ne Lupsynud ‘uotodoy ‘ 1 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} 20 Amonia ‘Amonia merupakan senyawa produk utama dari limbah nitrogen dalam perairan yang berasal dari organisme akuatik (Cavalli et al. 2000; Durand ef at 2000; Neil et al. 2005). Amonia dapat berasal dari buangan bahan organik yang mengandung senyawa nitrogen seperti protein maupun sebagai hasil ekskresi = organisme budidaya dan mineralisesi detritus organik (Durand ef al, 2000; Lin 2 dan Chen 203%), Amonia juga dihasitkan melalui amonifikasi bahan organik 5 seperti pakan yang tidak terkonsumsi,feses dan sist-sisa pakan (Chen dan Chen = 2000; Lin dan Chen 2003%; Lee dan Chen 2003), Pada krustases dekapoda, £8 adanya amonia dalam air merupakan indikasi adanya katabolisme asam amino dan = deaminasi adenilat pada siklus nukleotida purin (Chen dan Chen 1998; Chen dan = Chen 2000; Lee dan Chen 2003), Krustasea menghasilkan 60 sampai 70% nitrogen sebagai amonia melalui insang secara difusi pasif dan sisanya sejumlah kecil berbentuk asam amonia dan urea (Neil ef al. 2005). ‘Amonia dapat digunakan langsung oleh tumbuhan akuatik atau lebih dabulu diuboh menjadi nitrit dan nitrat oleh bakteri, lalu diserap oleh tumbuban akuatik. Oksidasi amonia menjadi nitrit dan nitrat terjadi oleh adanya peran bakteri Kemotropik yaitu bakteri Nitrozomonas sp pada tahap pertama (pembentukan nitrit), kemudian dilanjutkan oleh bakteri Nitrobacter sp pada tahap kedua (pembentukan nitrat) dengan menggunakan ion ammonium dan nitrit sebagai sumber energi dan Karbondioksida sebagai sumber karbon. Pertumbuhan dan aktivitas bakteri nitrifikasi dipengaruhi oleh konsentrasi amonia, oksigen, kelembatan, su, pH dan bahan organik (Boyd 1990; Chen dan Chen 2000). 8 ‘Amonia di dalam air biasanya terdapat dalam dua bentuk, yaitu (1) amoniak S (NHS) yang bersifat racun, dominan pada pH tinggi, serta (2) ion ammonium Bi (QNHL) yang tidak beracun, dominan pada pH rendah (Cavalli et al. 2000; Durand aj et al, 2000; Koo et al. 2005), Daya racun amonia dipengaruhi olch kondisi pH, = CO; dan oksigen terlarut. Daya racun amonia meningkat sejalan dengan peningkatan pH, CO» bebas, suhu dan _penurunan oksigen terlarut (Boyd 1990; (080g uelueped ymnsul) | = g 2 8 g ‘Amonia bersifat toksik sehingga dalam konsentrasi yang tinggi dapat meracuni organisme. Mekanisme toksitas amonia dalam tubuh organisme belum AyISJOAIUA) “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: (2060g uejueved imnsu!) adil mw edi 4H O) 21 diketahui, akan tetapi peningkatan konsentrasi amonia di dalam air secara fisiologis akan memperkecil ekskresi amonia organisme dan mengakibatkan kandungan amonia dalam darah seria jaringan jain akan meningkat (Boyd 1990; Cavalli ef al. 2000) Peningkatan konsentrasi amonia akan memepengaruhi ermeabilitas organisme dan menurunkan konsentrasi ion internalnya, mempengaruhi pertumbuhan dan konsumsi oksigen, Selain meningkatkan konsumsi oksigen oleh jaringan, amonia juga dapat menyebabkan kerusakan pada organ-organ tubuh yang ada kaitannya dengen transpor oksigen (insang, sel-sel eritrosit dan jaringan penghasil eritrosit) serta menurunkan kemampuan darah untuk mengangkut oksigen (Chen dan Chen 2000). Sclanjutnya, peningkatan kadar amonia dalam darah akan mempengaruhi pH darah, schingga menghambat reaksi enzimatis-katalisis dan stabilitas membran (Boyd 1990; Chen dan Chen 1998). Wang ef al. (2002) mengemukakan bahwa akumulasi amonia dalam tubuh juga merusak fungsi biosintesis protein pada hepatopankreas. Akumulasi amonia yang tinggi dalam hemolimfe mengindikasilan eningkatan aminogenesis yang mungkin berhubungan dengan tingkat kelangsungan hidup yang rendah (Chen dan Chen 1998), peningkatan konsumsi ‘oksigen, penurunan pertumbuban, yang berpengaruh pada hemolimfe dan asam amino bebas serta dapat menyebabkan mortalitas tinggi (Kir et al. 2004), Oleh sebab itu, agar kepiting bakau dapat tumbuh dengan baik maka konsentrasi amonia dalam media tidak lebih dari 0.1 ppm (Boyd 1990; Kuntiyo et al. 1994) Nitrit . Kehadiran nitrit (NO;) di dalam air merupakan hasil nitrifikasi amonia oleh io bakteri Mitrozomonas dan Nitrobacter pada denitrifikasi nitrat (Chen dan Cheng <2000; Cheng dan Chen 2002; Tsai dan Chen 2002; Lin dan Chen 2003”; (QKoo et ai 2005), Senyawa ini memiliki pengaruh positif dan negatif pada Qkehidupan dalam perairan. Pengaruh positif terjadi khususnya berlaku bagi =>kepentingan bakteri nitrifikasi karena nitrit digunakan sebagai sumber energi pada gj ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun !GuNPUIG OId!D AH ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} 22 merupakan salah satu jenis bahan yang bersifat toksik, biasanya terbentuk pada budidaya intensif atau pada perairan yang tercemar (Wedemeyer 1996 , Tsai dan Chen 2002 ; Jensen 2003). ‘Akumulasi nitrit dapat memperburuk kualitas air, _ menurunkan pertumbuhan, meningkatkan konsumsi oksigen dan ekskresi amonia serta dapat Qmeningkatkan mortalitas (Lin dan Chen 2003"), Pada golongan krustasea, nitit Fakan berdifusi ke dalam darah (Cheng ef ai. 2003) mengoksidasi Cu” dalam hemosianin menjadi methemosianin (Cheng dan Chen 1999). Dalam bentuk ini © methemosianin tidak mampu mengikat dan mengangkut oksigen dengan baik. = Peningkatan konsentrasi nitrit menyebabkan peningkatan PO dan Ps (indikasi Zpenurunan affinitas oksigen oleh darah), sebaliknya menurunkan tingkat Zooksihemosianin pada organisme, Peningkatan PO, dan Pso akan mendorong = penurunan affinitas oksigen hemolimfe pada organisme di bawah kondisi tekanan : nitrit, Bila hal ini terjadi, seluruh seV/jaringan dalam tubuh organisme juga akan 2 mengalami gangguan dalam proses fisiologisnya (Cheng dan Chen 1999). Faktor a luar seperti salinitas dan oksigen terlarut mempengaruhi hemosianin kepiting biru '$ (Callimectes sapidus) dan udang (Crangon crangon) (Cheng dan Chen, 2002) Proporsi nitrit meningkat dengan peningkatan salinitas. Adanya nitrit di dalam air merupakan indikator bahwa organisme air mengoksidasi protein untuk keperluan metabolismenya (Lee dan Chen 2003). Pada kadar tertentu, nitrit dapat menghambat laju pertumbuhan kepiting bakau. Menurut Kuntiyo ef al. (1994), pada budidaya kepiting bakau sebaiknya kadar nitrit tidak melebihi 0.5 ppm. Aylsueaiun jeinynowby 060g ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 ‘gd s0(om Bud uD6uRUadey UOYsGnv9Ul YOPA UOdANBUEd 'G {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O sequins uoegnqasuelu UDP UOyWnUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NOY UB/BOqes d|NBUaUE BUDLO|C, SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH BAHAN DAN METODE PENELITIAN Waktu dan Tempat Penelitian dilaksanakan mulai bulan Oktober 2003 sampai Februari 2005 di Balai Budidaya Air Payau (BBAP), Kecamatan Galesong Selatan, Kabupaten © Takatar, Sulawesi Selatan, z 2 Bahan Penelitian 3 5 Hewan Uji 3 —_—_-Hewan uji yang digunakan adalah kepiting bakau betina yang didatangkan a dari perairan Pallime, Kabupaten Bone, Sulawesi Selatan. Kepiting yang aken 2 digunakan diseleksi menurut ukuran dan jenis kelamin. Selanjutnya kualitasnya g diseleksi berdasarkan ciri-ciri kelengkapan anggota tubuh, tingkah laku untuk 3, menghindar atau melawan bila akan dipegang, dan wara cerah hijau kecokelatan. 5 > _ Pengangkutan kepiting terpilih ke lokasi penelitian menggunakan stirofoam & berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 50 x 40 x 30 em. Pada setiap sisi stirofoam diberi lubang untuk sirkulasi udara, dan bagian dasamya dilapisi Kain basah. Sebelum dimasukkan ke dalam stirofoam, kepiting diikat terlebih dahulu dengan pelepah pisang serta dicelupkan ke dalam air laut selama beberapa saat. Sclama pengangkutan berlangsung kepiting tidak diberi pakan tetapi diperciki dengan air laut setiap | jam. Segera setelah sampai di lokasi penelitian, kepiting ditempatkan dalam (pwadeh penampungan berupa bak fiber berukuran panjang, lebar dan tinggi Q masing-masing 2.0 x 1.0 x 0.5 m yang diisi air media bersalinitas 20 ppt selama 3 Q hari. Selanjutnya salinites air media secara perlahantahan disesuaikan dengan 2Dsalinitas perlakuan. Sebelum ditebar ke wadah penelitian, kepiting terlebih dahulu Stiadaptasikan ke salinitas media dan pakan perlakuan. Proses adaptasi ini 2 oerlangsung sclama 10 hari dan selama masa edaptasi tersebut kepiting diberi Eoakan buatan berbentuk bulat dengan diameter 1 cm berkadar protein 35% {3 dengan energi pakan 15.2 Mi/kg pakan, Frekuensi pemberian pakan dilakukan cu Kali sehari secara ad libitum yakni pada jam 06.00 dan 18,00, AYISION “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 BABY YrUnjes ND UDJBoqes drANBuaUi BUDO] (A Suppun-6uopun !GuNPUIG OId!D AH 3c "uowypipuad un6uquedeyynqun OAUBY uodANBudd °D 3 : 2 : 2 z 3 i z z a z i a i 3 5 i 5 24 Sumber Air dan Media Pemeliharaan Sumber air yang digunakan terdiri atas air laut bersalinitas 35 sampai 38 ppt, yang diperoleh dengan cara evaporasi, dan air tawar. Stok air laut diambil dari perairan pantai Galesong Selatan, Kabupaten Takalar, Sulawesi Selatan dengan menggunakan mesin diesel Kubota berdaya 22 PK yang ditampung pada QO vak penampungan bervoiume 225 ton, Dari bak reservoar tersebut, air laut © dialiskan ke bak beton bervolume 10 ton menggunakan pompa (dinamo) berdaya = 2.4 PK yang disaring dengan filter bag berukuran 20 yum. Sclanjutnya sebelum 5 dievaporasi, stok air laut tersebut dibiarkan (diendapkan) terlebih dahl. selama = 24 jam dengan menggunakan bak fiber bervolume 4 ton kemudian disaring © {embali dengan saringan nomor 10 ym, ad g ‘Air tawar diperoleh dengan cara mendestilasi air sumur bor di Balai 5 Budidaya Air Payau, Takalar. Untuk mendapatkan media perlakuan sesuai dengan g salinitas yang diinginkan maka dilakukan teknik pengenceran dengan air tawar 3 (Gambar 3). Pengenceran dilakukan dengan berpedoman pada rumus 2 g 8 axSl S s= ata dimana $2 adalah tingkat salinitas yang diinginkan (ppt), S1 adalah tingkat salinitas air laut yang akan diencerkan (ppt), a adalah volume air taut yang diencerkan (L), dan n adalah volume air tawar yang perlu ditambahkan (L). Setclah diencerkan sesuai dengan salinites perlakuan, air media ditampung pada bak fiber kerucut bervoluume 300 liter sebanyak 8 buah, Selanjutnya dari bak © tersebut air dialirkan ke wadah-wadah penelitian. Sebelum digunakan, semua S wadah dan air media terlebih dahutu disterilkan dengan menggunakan khlorin 150 ppm kemudian dinetralisir dengan natrium thiosulfat (Na,S,0;) 25 ppm. Ayisueaiun jeanynouby 4 25 (4 ton) ag 10 wm, dipompa NaxS:0325 ppm Disteritkan dengan khlorin 150 ‘ppm dan dinetratkan dengan B 300 L Disaring dengan filter b: Perlakuan Stok Media Proses pengenceran dan aerasi (4 ton! Disaring dengan filter bag 10 ym, disterilkan dengan khlorin 150 ppm dan Bak Pencampuran (V- 225 ton) 10 ton) Gambar 3. Prosedur pembuatan media perlakuan. wukuran 20 jam ik Pe Penampun; Disaring dengan filter bag dinetralkan dengan Na;S2O; 25 ppm Bak Penam, © Hak cipta milik IPB (Institut Pertanian Bogor) Bogor Agricultural University Hale Cipta Dilindungi Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tuls ini tanpa mencontumkan dan menyebutkan sumber: ‘©. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendidikan, penelitian, penulsan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan krtik atau tinjauan suatu masaloh, '. Pengutipan tidak merugian kepentingan yang wojar IPB, 2.Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh Rarya tulls ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB, “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} 26 Metode Penelitian Sesuai dengan tujuan yang ingin dicapai maka penelitian ini dilaksanakan dalam empat tahapan percobaan, yaitu: pengaruh selinitas.pada osmoregulasi Kepiting bakau, pengaruh salinitas pada metabolisme kepiting bakau, pengaruh salinitas pada tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepiting bakau, dan © pengaruh kadar protein pakan padetingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan i a E i g i 2 3 5 Pengaruh Salinitas pada Osmoregulasi Kepiting Bakau Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas pada osmoregulasi kepiting bakan betina. Wadah percobaan yang digunakan adalah baskom plastik berwarna hitam sued INIASUI) Gel HII EIdIO HEH, g § & 3 i F 5 E i 3 i i g © aerasi, Wadah-wadah tersebut diisi air media sebanyak 30 liter dan pada bagian © dasarnya diberi pasir setebal 10 cm. Kepiting uji yang digunakan mempunyai bobot 200 sempai 210 g dengan ~ lebar karapas 10 sampai 12 em per ekor. Percobaan ini berlangsung selama 20 hati, Selama percobaan berlangsung kepiting diberi pakan buatan berbentuk bulat dengan diameter 1 cm berkadar protein 35% dengan energi 15.2 Milke Frekuensi pemberian pakan dilakukan dua Kali sehari secara ad libitum yakni pada pukul 06.00 dan 18.00. Percobaan dirancang dengan pola rancangan acak lengkap (RAL) yang pterdiri atas 4 perlakuan salinitas yaitu 5, 15, 25, dan 35 ppt yang diidentifikasi Q sebagai perlakuan A, B,C, dan D, Setiap perlakuan diulang 3 kali, sehingga Q terdapat 12 unit percobasn. Penempatan unit-unit percobaan dilakukan secara JDacak menurut pola rancangan acak lengkap (Steel dan Torrie, 1993), Adapun tata ‘S etak satuan percobaan setelah pengacakan disajikan pada Gambar 4. 2 Peubah yang diamati adalah tingkat kerja osmotik (TKO), konsentrasi ion- ion, glukosa, protein, asam amino, amoniak hemolimfe dan konsumsi oksigen {) insang kepiting. Sampel hemolimfe diambil dari begian membran arthrodial kaki Calan kepiting dengan menggunakan syringe bervolume 1 mL. Sebelum om (uoBoa AyISIOA ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 “a J0f0m Buns uo6ujuadoy uoHOr¥eus Yopr; UodANEUEd '| “yoJpsOWW MYON UONo|UR MEAD YALL UOsYNUEd ‘uoLda| UOUASsNAUad “yoILUI Of4_Y UOSYMUAd ‘UD)/eUed ‘OWYpIpUEd UBBURUadaY YUN OAUDY UBdANBUDd “O ‘| yrunjas ney uByBoqas dnBuews 6UEI0 Iq SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH sequins uoegnqasuelu UDP UOYLUMUDDUAL oduD} fu 27 pengambilan hemolimfe ditakukan, kepiting uji terlebih dahulu dipuasakan selama tiga hari dengan tujuan mengosongkan laju pencemaan. COO OD © CO @ © © Gambar 4 Tata letak satuan percobaan setelah pengacakan, Pengukuran osmolaritas hemotimfe kepiting dilakukan di Laboratorium Anatomi, Fakultas Kedokteran Hewan, IPB, Bogor. Protein hemolimfe diukur di 2 Laboratorium Pascapanen, Balai Penelitian Pascapanen Pertanian, Cimanggu, = Bogor. Glukosa dan amonia hemolimfé diukur di Laboratorium Kualitas Air, Fakultas Iimu Kelautan dan Perikanan, UNHAS, Makassar. Konsentrasi ion-ion media dan hemolimfe kepiting diukur di Laboratorium Balai Pengkajian Teknologi Pertanian Makassar. weed IMNSU!) dal MUN eIdI9 eH (O) Tingkat Kerja Osmotik ( —_Untuk menentukan tingkat kerja osmotik (TKO) yang dialami kepiting uji, i osmolaritas hemolimfe kepiting percobaan dan media perlakuan diukur. Tingkat Qkerja osmotik ditentukan dari perbedaan antara nilai osmolaritas hemolimfe Dkepiting dan osmolaritas media perlakuan (Lignot et al. 2000). Pengukuran ‘S osmolaritas dilakukan dengan menggunakan osmometer (SOP OSMOTAT 30) n 5 3 & 5 £ 2 3 AYSIOAIUA [EIN] “a J0f0m Buns uo6ujuadoy uoHOr¥eus Yopr; UodANEUEd '| ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O ‘| yrunjas ney uByBoqas dnBuews 6UEI0 Iq SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH sequins uoegnqasuelu UDP UOYLUMUDDUAL oduD} fu 28 Glukosa, Protein, Asam Amino dan Amonia Hemolimfe Konsentrasi glukosa dan amonia hemolimfé diukur dengan menggunakan spektrofotometer, protein dengan metode Kjeldahl, dan asam amino dengan HPLC (high performance liquid chromatography) (AOAC 1990). Konsentrasi Ion-ion Media dan Hemolimfe Konsentrasi ion-ion media dan hemolimfe yang diukur adalah natrium (Na*), kalsium (Ca), kalium (K*), magnesium (Mg”), Kkhlorida (CI), dan sulfat (SO), Konsentrasi ion-ion Na’, Ca, K*, dan Mg” diukur dengan menggunakan spektrofotometer serapan atom (AAS), sedangkan Cl’ dan SO?” dengan spektrofotometer (Varian 1989; AOAC 1990). Konsumsi Oksigen Insang Konsumsi oksigen insang kepiting diukur pada wadah bervolume 30 mL. menggunakan DO meter model 5509 Iutron (skala 0 sampai 20 ppm). Peubah yang diamati adalah konsumsi oksigen insang tanpa menggunakan digitalis blok ATPase (TG) yang melibatkan pompa ion dan menggunakan digitalis blok ATPase (DG) yang tidak melibatkan pompa. Digitalis blok ATPase yang digunakan adalah digoxin (Yarindo, Scrang) dengan dosis 0.025 mg. Selanjutnya dari selisih antara nilai konsumsi oksigen tanpa digitalis blok ATPase dan digitalis, blok ATPase dapat ditentukan besamya kemampuan pompa ion insang. Pengukuran berlangsung selama 1 jam untuk setiap perlakuan dengan selang gy Waktu pencatatan 5 menit (060g ueleped imnsu!) dal mm exdio 4H (O) Pengarub Salinitas pada Metabolisme Kepiting Bakau Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas pada . metabolisme kepiting bakau betina, Wadah percobaan yang digunakan adalah stoples plastik bervolume 16 L yang dirancang dengan sistem sirkulasi (Gambar 5). Wadah tersebut dilengkapi © dengan alat pengatur suhu (termostat) einynouBy 4060; AyISJOAIUQ) z i 2 i g z é z ; i : “Al 10fom 6upé uoBuRUadae, uOHBNs0UU YopH UDdA|NBUEd ‘¢ -ypyoro. mons uono(up neyo yp UoRNued ‘uosodo| uoUnnfued "yon 24504 uoRNUod ‘uOHfaUed ‘UoHypIpUEd UODUIuadeyerqun OAD] uodynoUeg i i 2 3 i i 5 | “€d] Uz} Bduo} undodo ymUeq WO}OP [Uy BéLOy YRUNas NoxD UOIBEqes YosuDgleduew UOp UByUINLN6UaLL BUBIOI (JoBog uejevied impsu)) adi mw esd} 4eH O) By 1060g Gambar 5 Wadah percobaan pengukuran metabolisme. Kepiting uji yang digunakan berukuran bobot 20, 40, 60, dan 80 g. Kepiting ditebar dengan kepadatan 1 ckor per wadah pada setiap perlakuan berdasarkan bobot tubuh kepiting. Perlakuan yang digunakan sama dengan yang dipakai pada percobaan pengaruh salinitas pada osmoregulasi kepiting bakau dan setiap perlakuan terdiri atas tiga ulangan. Percobaan ini berlangsung selama 150 hari Peubah yang diukur adalah laju metabolisme basal, kenyang, dan rutin. Laju metabolisme basal ditentukan melalui pengukuran tingkat konsumsi oksigen setelah kepiting uji terlebih dahulu dipuasakan selama 48 jam dan nilai konsumsi oksigen yang diambil adalah yang terendah selama minimal 1.5 jam. Untuk ‘metabolisme kenyang, pengukuran konsumsi oksigen dilakukan pada saat sesudah kepiting makan sampai kenyang (feeding maximun) dan dipantau selama 24 jam. Nilai konsumsi oksigen yang diambil adalah pada jam ke 8 sampai 14 Metabolisme rutin diukur dalam keadaan kepiting tetap diberi pakan dan melakukan aaktivitas hariannya, Pakan yang digunakan adalah pakan buatan berbentuk bakso berkadar protein 35% dengan energi 15.2 Mi/kg pakan. Pemberian pakan dilakukan sama dengan percobaan pengaruh salinitas pada ‘osmoregulasi kepiting bakau Laju metabolisme dihitung dengan mengkonversi nilai rata-rata konsumsi oksigen (g) x 13.78 ki/g untuk laju metabolisme basal (Becker dan Fishelson 1986) dan konsumsi oksigen (g) x 14.85 ki/g untuk laju metabotisme kenyang dan “al oom 6upf uDbuguadey uoeni2U YopH UBdaNBUad ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O 8 : 2 Z é 3 3 g a £ “quins uoygnqasuall UDP UDYWMUODUALL DUD} tu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH 30 rutin (Huisman 1976). Specific dynamic action (SDA) ditentukan dari selisih antara laju metabolisme kenyang dan laju metabolisme basal (SDA = LM - LM). Pengukuran konsumsi oksigen dilakukan dengan menggunakan dissolved oksigen meter (model 5509 lutron skala 0 sampai 20 ppm) selama 24 jam dengan selang waktu pencatatan 30 menit. Nilai konsumsi oksigen (O2) dihitung dengan menggunakan modifikasi rumus Rosas e¢ al. (2001) rin ~ O2oa) QO; = ———— x LA BB SsnETS) = Gimana QO, adalah konsumsi oksigen (g Ox/g bobot badan/iam), Oxy adalah © yonsentrasi O; yang masuk ke dalam wadah (mg/L), Ozou adalah konsentrasi Or fang keluar wadah (mg/L), LA adalah Kecepatan aliran air (L/jam), dan BB adalah bobot badan, Pengeruh Salinitas pada Tingkat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuhan Kepiting Bakau (080g uejueyed ym! Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh salinitas pada tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuhan kepiting bakau betina, dan menentukan salinitas optimum yang menghasilian pertumbuhan kepiting bakau betina yang maksimum, Percobaan dirancang dengan pola rancangan acak lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan dengan masing-masing 3 ulangan. Perlakuan dan tata letak satuan percobaan ini sama dengan yang dipskai pada percobaan pengaruh © satinitas pada osmoregulasi kepiting bakau. 5 _Wadah percobaan yang digunakan adalah akuarium kaca dengan sistem sp Festus berukuran panjang, lebar dan tinggi masing-masing 75 x 75 x 50 cm G derjumlah 12 buab yang dls’ air media sesuai perlakuan salinitas setinggi 25 em © ‘dan dilengkapi dengan pompa aerasi. Setiap akuarium disekat menjadi 6 bagian = kecil yang masing-masing berukuran 37.5 x 25 x $0 cm (Gambar 6). Pada setiap fj Pasian akuarium yang disekat, sebagian dasamya diberi pasir setebal 10 om dan E AYSIOAIUN | © Hak cipta milik IPB (Institut Pertanian Bogor) Hake Cipta Dilindung! Undang-Undang Dilarang mengutip sebagian atau seluruh karya tulis ini tanpa mencantumkan dan menyebutkan sumber: b. Pengutipan tidak merugikan kepentingan yang wajar IPB. 2.Dilarang mengumumkan dan memperbanyak sebagian atau seluruh karya tus ini dalam bentuk apapun tanpa izin IPB. Gambar 6 Wadah percobaan pemeliharaan kepiting bakau, Bogor Agricultural University «a. Pengutipan hanya untuk kepentingan pendiditkan, penelitian, penulisan karya ilmiah, penyusunan laporan, penulisan kritik atau tinjauan suatu masala. “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 32 Kepiting uji yang digunakan berukuran bobot tubuh 25 sampai 30 g dengan Iebar karapas 3 sampai 4 cm per ekor yang ditebar dengan kepadatan 1 ekor per sekat atau 6 ekor per wadah. Sebelum ditebar ke wadah percobaan, bobot badan dan lebar karapas awal terlebih dahulu ditentukan dengan menggunakan timbangan elektrik merek TOA dan jangka sorong berketelitian masing-masing ©2001 g dan 0.01 mm. Selain iu, analisis proksimat dilakukan pada beberape = ekor kepiting. Percobaan ini berlangsung sclama 90 hari. Selama percobaan & berlangsung, kepiting diberi pakan seperti pada percobaan pengaruh salinitas pada osmoregulasi kepiting bakau, Pemberian pakan dilakukan secara ad libitum = dengan frekuensi pemberian 2 kali sehari yakni pada pukul 06.00 dan 18.00. & Komposisi bahan pakan percobaan disajikan pada Lampiran 1. Untuk menjaga kualitas air media percobaan, sisa-sisa pakan dan kotoran E belting uj setiap tani ibuang dengan cara menyipon, Penyiponan dilakukan $ dengan mengeunakan selang plastik berdiameter 5/16 inci. Sebelum dilakukan 8 penyiponan, pompa aerasi dimatikan. Sise-sisa pakan yang telah disipon a dikumpulkan dan dikeringkan dengan menggunakan oven pada suhu 105°C untuk selanjutnya ditimbang, Agar kualitas air media senantiasa berada pada ~ ambang batas kelayakan hidup kepiting bakau, dilakukan pergantian air sebanyak 25% setiap hari dan 75% setiap tima belas hari, Untuk mempertahankan salinitas perlakuan, maka dilakukan pengukuran salinitas pada setiap pagi dan sore hari dengan menggunakan hand refraktometer. Jika terjadi peningkatan salinitas, dilakuken penambahan air tawar sampai salinitas media sesuai dengan perlakuan. Peubah yang diamati adalah tingkat kelangsungan hidup, konsumsi pakan (pertumbuhan, produksi biomassa, fenomena molting, retensi nutrien, efisiensi GQ pemanfaatan pakan, dan neraca energi Kkepiting bakau, Selain iu dilakukan pengukuran beberapa parameter fisika kimia air, Pada akhir percobaaan, G iilakukan penimbangan bobot, pengukuran lebar karapas serta analisis proksimat S.akhir kepiting uji. Analisis proksimat pakan dan kepiting uji dilakukan di € Laboratorium Nutrisi dan Makanan Temnak, Fakultas Petemakan, UNHAS. E Analisis kualitas air dilakukan di Laboratorium Kualitas Ait, Falcultas Iimy © Kelautan dan Perikanan, UNHAS, Makassar. Percobaan ini berlangsung selama S00 hari. sul) Ayisueaiu “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O g : 2 Z é 3 3 g a £ aquuns uoxgngasualu Uop uDd iM UODUALU DUD} tu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH 33 Tingkat Ketangsungan Hidup Tingkat kelangsungan hidup kepiting uji dihitung dengan menggunakan rumus Huynh-dan Fotedar (2004) Ne TKH x 100 No dimana TKH adalah kelangsungan hidup kepiting uji (%), No adalah jumlah kepiting uji pada awal percobsan (ekor), dan Nt adalah jumlah kepiting uji yang, hidup pada akhir percobaan (ekor). SanETe) & Konsumsi Pakan Konsumsi paken dihitung dengan menggunakan rumus Borner dan Coneklin (1981) FsI-$ Dimana F adalah jumlah pakan yang dikonsumsi (g), I adalah jumlah pakan yang, diberikan (g), dan § adalah jumlah pakan yang tersisa, (060g uejueyed ym! Laju Pertumbuhan Bobot Spesifik Harian Laju pertumbuhan bobot spesifik harian dihitung dengan menggunakan Tumus Changbo et al. (2004) Bog © dimana LPBSH adalah laju pertumbuhan bobot spesifik harian (%), Wo adalah > bobot rata-rata kepiting bakau pada awal percobaan (g), Wi adalah bobot rata-rata © kepiting bakau pada waktu t (g), dan t adalah lama pemeliharaan (hari) 2g 2 E 5 z : i Pertumbuhan febar karapas kepiting dihitung dengan menggunakan rumus Catacutan (2002) Aysseniug je4nyn9} “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun !GuNPUIG OId!D AH ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} 34 PLK = LK,-LK, dimana PLK adalah pertumbuhan lebar karapas kepiting wji (cm), LK, adalah lebar karapas kepiting pada awal percobaaan (cm), dan LK, adalah lebar karapas kepiting pada akhir percobaan (em) © Produksi Biomassa = —_Produksi biomassa kepiting bakau sctiap perlakuan dihitung berdasarkan z perkalian antara bobot rata-rata individu dan jumlah kepiting yang hidup pada 5, akhir percobaan. @ Fenomena Molting 3 g Fenomena molting yang diamati adalah waktu molting, frekuensi molting, z periode waktu antarmolting, kadar kalsium dan fosfor eksuvia pada setiap g § molting. Waktu molting adalah saat terjadinya molting menurut pembagian waktu 8 dini hari (00.01 sampai 05.00), pagi hari (05,01 sampai 10.00), siang hari (10.01 2 sampai 14.00), sore hari (14.01 sampai 18,00), dan malam hari (18.01 sampai = 30.00). Pengamatan waktu molting dilakukan sebanyak 6 kali setiap hari yaitu gada pukul 00.00; 05.00; 10.00; 14.00; 18,00 dan 22.00. Frekuensi molting adalah jumlah kejadian molting pada individu Kepiting yang sama selama vereobaan. Periode waktu antarmolting adalah lamanya waktu antara molting ertama dengan molting berikutnya. Pengamatan peubah-peubah tersebut filakukan dengan mengikuti petunjuk AOAC (1990), Affandi er ai: (1994), dan Forochova (2000). og (O Retensi Nutrien By 40! Retensi nutrien yang diamati adalah perubshan kandungan protein (Pr), S2mak (L), energi (), kalsium (Ca), dan fosfor (P). Untuk mengetahui ertambahan protein, temak, energi, kalsium, dan fosfor kepiting bakau dilakukan Eralisis proksimat, Analisis dlakukan pada awal dan akhir percobaan dengan {3 renggunakan metode AOAC (1990), Selanjutnya dengan mengalikan kandungan rotein, lemak, energi, kalsium, dan fosfor pakan dengan jumlab berat kering Re) Ayisuaaiu “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-Suopun ‘GunpUmG BId!D HOH ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} 35 pakan yang dikonsumsi maka jumiah protein, lemak, energi, kalsium, dan fosfor dapat ditentukan. Persentase retensi tersebut dihitung dengan menggunakan rumus Takeuchi (1988) Pertambahan Pr, L, E, Ca dan P(g) Retensi Pr, L, E, Ca, dan P (%) >. x 100 Total Pr, L, E, Ca dan P yang dikonsumsi (g) dimana Pr adalah protein, L adalah lemak, E adalah energi, Ca adalah kalsium, dan P adalah fosfor. Efisiensi Pemanfaatan Pakan Efisiensi pemanfaatan pakan dihitung berdasarkan rumus Lixin dan Shuanglin (2002) (Bt +Bm)-Bo Epp = ————— x 100 F og ueIueHed Immnsul) al HIIW eId!9 eH (O) & dimana EPP adalah efisiensi pemanfaatan pakan (%), Bt adalah biornassa kepiting ~ pada akhir percobaan (g), Bo adalah biomassa kepiting pada awal percobaan (g), Bm adalah biomassa kepiting yang mati selama percobaan (g), dan F adalah umlah pakan yang dikonsumsi selama percobaan (g). Neraca Energi Neraca energi yang diamati adalah konsumsi energi, energi metabolis, dan Wetensi energi. Konsumsi energi (KE) ditentuken berdasarkan jumlah pakan yang © tikonsumsi dikali dengan kandungan energi pakan, Energi metabolis (EM) Q iihitung berdasarkan penjumlahan antara laju metabolisme rutin dan retensi ori (EM = LMg + RE), Retensi energi (RE) dihitung dari besamya a enambahan energi dari bobot tubuh kepiting selama pemeliharaan. Kadar energi Cubuh kepiting diukur dengan menggunakan bom kalorimeter (adiabatic bomb E salorimeter). Pada akhir percobaan dilakukan perhitungan nilai laju metabolisme basal, Cenyang, dan rutin. Besamya nilai metabolisme tersebut_ditentukan berdasarkan JuqQ Ie. Ayssani “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 BABY YrUnjes ND UDJBoqes drANBuaUi BUDO] (A Suppun-6uopun !GuNPUIG OId!D AH 3c "uowypipuad un6uquedeyynqun OAUBY uodANBudd °D ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} “yoypsow! maons uon_{uR ney YALL UOAYNUad ‘uBJodo| UOUNSNAUad “YON BfLDR UDSyNUEd “LORI 36 pada persamaan regresi yang diperoleh pada percobaan pengaruh salinitas pada metabolisme Kepiting bakau yang mengacu pada bobot kepiting pada akhir percobaan, Fisika Kimia Air © _Selama percobaan berlangsung dilakukan pengukuran beberapa parauneter % ffisika kimia air. Adapun parameter fisika kimia yang diukur serta metode pengukurannya disajikan pada Tabel 1. Tabel 1 Parameter fisika kimia air yang diukur dan metode/alat yang digunakan ‘No. Parameter Metode/Alat 1. Salinitas (ppt) Hand-refractometer (model atago s/mill, skala 0-100 ppt) 2. ‘Suku (°C) ‘Termometer Hg (skala -20 sampai 50°C) 3. ‘pH (unit) pH meter (model HI 98107 skala 1,0 - 14,0) 4. Oksigen terlarut (ppm) DO meter (model 5509 lutron skala 0 - 20 ppm) 5. Amonia (ppm) Spektrofotometer 6. __Nitrit (ppm) Spektrofotometer (oBog uejuered Imnsul) dal *INILH eIdL9 > Pengaruh Kadar Protein Pakan pada Tingkat Kelangsungan Hidup dan Pertumbuban Kepiting Bakau pada Salinitas Optimum Percobaan ini bertujuan untuk mengetshui pengaruh pemberian pakan dengan kadar protein berbeda pada salinitas optimun pada pertumbuhan kepiting bakau betina. Selain itu, menentukan kadar protein pakan optimum yang rmenghasilkan pertumbuhan kepiting bakau betina yang maksimum, Kepiting uji dan wadah yang digunakan pada percobaan ini sama dengan Q Peteobaan pengaruhsalinitas pada pertumbuhan dan tingkatKelangsungan hidup © kepiting bakau. Salinitas yang digunakan adalah salinitas optimun yang > didasarkan pada hasil percobaan pengaruh salinitas pada pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau. Komposisi bahan pakan percobaan yang digunakan disajikan pada Tabel Lampiran 1 Rancangan percobsan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan yang masing-masing mempunyai 3 ulangan. Perlakuan AyssoaluA jesnyino “a J0f0m Buns uo6ujuadoy uoHOr¥eus Yopr; UodANEUEd '| ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 “yoJpsOWW MYON UONo|UR MEAD YALL UOsYNUEd ‘uoLda| UOUASsNAUad “yoILUI Of4_Y UOSYMUAd ‘UD)/eUed ‘OWYpIpUEd UBBURUadaY YUN OAUDY UBdANBUDd “O ‘| yrunjas ney uByBoqas dnBuews 6UEI0 Iq SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH Hagluns uoegnqasu@lu Wop UOLUMUDDUAL uD} Ayssaniug jesnynouby 1060g 37 yang dicobakan adalah 4 jenis pakan buatan dengan kadar 30, 35, 40, dan 45% yang masing-masing diidentifikasi sebagai perlakuan A, B, C, dan D. Peubah yang diteliti adalah tingkat kelangsungan hidup, konsumsi pakan, pertumbuhan, produksi biomassa mutlak, fenomena molting, retensi nutrien tubuh, dan efisiensi pemanfaatan pakan kepiting bakau. Metode dan cara pengukuran sama dengan yang dilakukan peda percobaan pengaruh salinitas pada Pertumbuhan dan tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau. Percobaan z E € é 4 Z s Eg Analisis Data Data yang diperoleh dianalisis dengan menggunakan sidik ragam dan dilanjutkan dengan uji respon. Uji Tukey digunakan untuk membandingkan perbedaan antara perlakuan. Selanjutya untuk mengetahui bentuk seria keeratan sebagai efek perlakuan dilakukan analisis teknik regresi-korelasi (Steel dan Torrie, 1993). Sebagai alat bantu untuk metaksanakan uji statistik tersebut digunakan paket program SPSS. Adapun peubah kualitas air yang diperoleh dianalisis secara deskriptif berdasarkan kelayakan kehidupan kepiting bakau. GoBog uelened insult) gal HIN ed9 > “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O 8 : 2 Z é 3 3 g a £ “quins uoygnqasuall UDP UDYWMUODUALL DUD} tu HASIL DAN PEMBAHASAN Pengaruh Salinitas pada Osmoregulasi Kepiting Bakau Osmolaritas dan Tingkat Kerja Osmotik Salinitas merupakan salah satu faktor lingkungan yang berpengaruh pada kehidupan organisme akuatik termasuk kepiting bakau. Salinitas media melalui perubahan osmolaritas media air akan menentukan tingkat kerja osmotik (beban cosmotik) yang dialami kepiting dan akan mempengaruhi tingkat konsumsi pakan. Efek Janjutnya akan menentukan tingkat kelangsungan hidup dan pertumbuban BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH kepiting. Hasil pengukuran osmolaritas hemolimfe, osmolaritas media, dan tingkat kerja osmotik (TKO) kepiting bakau pada berbagai salinitas media disajikan pada Tabel 2. Tabel 2 Osmolaritas hemolimfe (OH), osmolaritas media (OM), dan tingkat kerja, osmotik (TKO) kepiting bakau pada berbagai salinitas media ‘Osmolaritas Salinitas (ppt) (n= 3) (mOsm/L H,0) 3 15 25 35 OH 607.67 £71.43" 685.004 17.59" 842.33 £5.73" 897.33 £98.57" OM 143.92 + 0.009 432.66 0,00" _ 726.20 + 0,00" 1026.31 +0.00* TKO 463.75 + 71.43" 252.34 + 117.59" 116.13 + 85,73” 195.04 + 98,57° Keterangan ' Horuf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang. nyata pada tarat uit 5% (p< 0.05) (060g uejueyed ym! Osmolaritas media merupakan penentu tingkat kerja osmotik yang dialami kepiting, Osmolaritas media makin besar dengan peningkatan salinitas (Tabel 2). icy Hal tersebut disebabkan peningkatan konsentrasi ion-ion terlarut, Sifat osmotik dari media bergantung pada seturuh ion yang terlarut di dalam media tersebut. Adapun ion-ion utama yang menentukan osmolaritas tersebut adalah CI, Na’, ‘Mg**, Ca", K*, dan SO,?. ion Na” dan Cl merupakan kontributor utama pada osmolaritas hemolimfe, pengaturan dan permeabilitasnya menjadi terpusat pada ketahanan gradien salinitas. Jon Mg™menstabilkan struktur ATP dalam reaksi enzim yang membutubkan ATP. Jon K* merupakan elektrolit intraselluler/kation yang mempengaruhi tekanan osmose seiluler, dan dalam hubungannya dengan Na‘ dan CI di luar sel menyebabkan adanya potensial muatan dalam dinding sel Ayssaaiug jesnynow6y 4060! ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} 39 yang memungkinkan terjadinya impuls syaraf, denyut jantung dan lain-lain. ion Ca” memegang peran yang sangat vital dalam mengatur fungsi sel dan syaraf serta berperan dalam pembentuken karapas (Linder 1992; Catacutan 2002; Lucu dan Towle 2003). Hasi! pengukuran Konsentrasi ion-ion hemolimfe kepiting dan media perlakuan pada berbagai salinitas disajikan pada Tabel 3 dan Lampiran 19. Tabel 3 Konsentrasi ion-ion hemolimfe kepiting bakau pada berbagai salinitas media Konsenterasi Salinitas (mmol/L) 5 15 25 33 Nav 365.1) £2.25" 409134189" 471134181 525332241" cr. 366.59 42.21% 412174249" 478.18+159° $30.7142.10° * 9.142007 9,6920.15* — 10.4240.12 11,4040.13° Catt 2.12 £0.21 — 3.0040.12° 4.794019 6, 71.40.59" Kt 4302014" 6.782001° 743 £0.14 8.4340,30° Soe 14910344 16354022" 1897+0.06"__ 21.23 4.0.08" Keterangan : Huru? yang berbeda pada baris yang sama menanjukkan perbedaan yang nyata pada taraf wii 5% (p <0.08) joBog ueueHed ImNsul) Gal mL ed! 4H (CO) Salinitas media mempengaruhi konsentrasi ion-ion (Na”, Cl, Mg”, Ca”*, K*, dan SO,”) hemolinmfe kepiting bakau (Tabe! 3). Konsentrasi semua ion (Na, CI, ~ we, Ca®*, K*, dan SO.) hemolimfe kepiting bakau makin besar dengan, geningkatan salinitas media. Hasil yang sama diperoleh pada percobean Chen dan Chia (1997), dimana kepiting bakau dipelibara pada media bersalinitas 24 ppt cemudian dipindahkan ke media bersalinitas 14, 34, dan 44 ppt. Dilaporkan rahwa kepiting bakau yang dipindahkan ke salinitas 14 ppt mengalami penurunan sonsentrasi ion-ion hemolimfe, sementara kepiting bakau yang dipindahkan ke Palins 34 dan 44 ppt mengalami peningkatan konsentrasi ion-ion hemolimfenya. 8 Yalam media encer, kepiting berada dalam kondisi hiperregulasi tethadap media Qkternalnya, ion-ion secara pasif cenderung berdifusi ke Ivar tubuh dan eairan Qrternal akan terancam kekurangan ion. Dalam kondisi seperti itu, kepiting akan renverap ion-ion dari media eksternal melalui insang untuk mengatur konsentrasi Cairan dalam hemolimfe sebagai kompensasi kehilangan garam-garam. Sementara i ¥, dalam media pekat, kepiting berada dalam hiporegulasi, ion-ion cenderung Dergerak ke dalam tubuh. Dalam kondisi seperti itu, kelebihan ion akan Citetuarkan melalui insang dan urin (Mananes ¢t al. 2002; Palacios et al. 2004). Ayisueaiu “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 BABY YrUnjes ND UDJBoqes drANBuaUi BUDO] (A Suppun-6uopun !GuNPUIG OId!D AH 3c "uowypipuad un6uquedeyynqun OAUBY uodANBudd °D ‘yoquuns useangasueUu Uop uDywnyuosUaLU oduD} “yoypsow! maons uon_{uR ney YALL UOAYNUad ‘uBJodo| UOUNSNAUad “YON BfLDR UDSyNUEd “LORI 40 Hubungan salinitas dengan konsentcasi ion-ion hemolimfe kepiting bakau berpola linier disajikan pada Gambar 7 (2060g uejueved imnsul) gal uw edi 48H O) Konsentrasi Ion Na dan Cl (mmol/L) Konsentrasi lon Mg, Ca, K dan SO, (mmol/L) (pt) Gambar 7 Hubungan salinitas media dengan konsentrasi ion Na‘, CI’, Mg”, Ca”* K*, dan SO.” hemolimfe kepiting bakau, Besarnya nilai konsentrasi ion Na‘, Cl’ Mg”*, Ca’*, K dan SO?” (Y) Gi hemotimfe kepiting masing-masing berbanding lurus dengan salinitas media (X), © mengikuti persamaan Yyu' = 334,14 + 5.4266 X (P = 0.99), Yor = 335.04 + = 5.5436 X (= 0.99), Yq" = 4.1265 + 0.1303 X (7 = 0.91), Yea" = 1.0456 + (G 0.1954 X (P = 0.95), Yuvg"* = 8.6578 + 0.0752 X (7 = 0.97), dan Ysou" = 13.551 B+ 0.2156 X (F = 0.98) Semua persamaan hubungan antara salinitas dan & konsentrasi ion-ion hemolimfe memperlihatkan korelasi positif yang kuat. Dengan semakin besamya jumlah ion terlarut di dalam media, tingkat —kepekaan osmolaritas larutan akan semakin tinggi pula, sehingga akan menyebabkan makin bertambah besamya tekanan osmotik media. Demikian pula jean: un AyISIOA “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 4t halnya dengan osmolaritas hemolimfe kepiting yang meningkat secara linier dengan peningkatan salinitas media. Peningkatan osmolaritas tersebut berkaitan dengan mekanisme osmoregulasi yang dilakukan kepiting. Osmoregulasi merupakan mekanisme adaptasi lingkungan yang penting bagi organisme akuatik Khususnya krustasea (Lignot et af. 1999; Huynh dan Fotedar 2004). Fenomena yang sama diperoleh Ferraris et al. (1986), Chen dan Chia (1997), Chen dan Lin (1998), Lemaire ev al. (2002), dan Huynh dan Fotedar (2004) pada krustasea spesies Scylla serrata, Penaeus stylirostris, P. laticulatus, yang osmolaritasnya ‘meningkat dengan peningkatan salinitas media, Nilai osmolaritas media (Yow) dan hemolimfe (You) berbanding Jurus dengan salinitas media (X), mengikuti persamaan You ~ -6.6600 + 29.3800 X, = 0.99 dan You = 552.8200 + 10.2630 X, = 0.72. Persamaan hubungan salinitas dengan osmolaritas media dan hemolimfe tersebut memperlihatkan korelasi positif yang kuat. Tingkat kerja osmotik yang dialami kepiting bakau sebanding dengan perbedaan osmolaritas antara media dan cairan tubuh (hemolimfe), Pada media dengan tingkat kerja osmotik di luar kisaran isoosmotik, kepiting melakukan kerja osmotik untuk keperluan osmoregulasi. Kepiting bakau termasuk organisme akuatik euribalin (Chen dan Chia 1997), yang memiliki kemampuan untuk ‘menjaga lingkungan intemalnya dengan cara mengatur osmolaritas (kandungan garam dan ait) pada cairan intemalnya, Dengan demikian, kepiting bakau bersifat hiperosmotik apabila berada pada media bersalinitas rendah dan hipoosmotik pada media bersalinitas tinggi. wo Salinitas media nyata (p < 0.05) mempengaruhi tingkat kerja osmotik 2) kepiting bakau (Lampiran 20). Tingkat kerja osmotik tertinggi dihasilkan pada media bersalinitas 5 ppt dan terendah pada salinitas 25 ppt. Hubungan salinitas ama dengan tingkat kerja osmotik kepiting bakau berpola kuadratik (Gambar 8). = Berdasarkan persamaan regresi dapat diprediksi bahwa tingkat kerja osmotik kepiting bakau minimum berada pada salinitas 26.46 ppt atau setara dengan E osmolaritas media 770.73 mOsm/L HO. Kurva respon tersebut menggambarkan 1D bahwa tingkat kerja osmotk kepiting akan mencapai titk minimum pada salinitas Gti dan selanjutnya akan meningkat di luar kisaran isoosmotik. (J060g uelwered imnsu!) gat mW edio ¥eH O) Ayisueaiu “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: uejueried imnsul) at uu erdio ¥eH ©) o 8 & wD ° WY 106i a zy o & iS = e. iS 2. AyISIOA 2 8 ¥rKo = 645.2700 = 38,5320 X + 0.7280 X? F=072 ‘TKO (mOsm/L 1,0) 3 8 oe 3 Salinitas (ppt) Gambar 8 Hubungan salinitas media dengan tingkat kerja osmotik kepiting bakau Glukosa, Protein, Asam Amino, dan Amonia Hemolimfe Hasil pengukuran konsentrasi glukosa, protein, total asam amino, dan amonia hemolimfe kepiting bakau pada berbagai salinitas disajikan pada Tabel 4. Tabel 4 Glukosa (GH), protein (PH), total asam amino (AAH), dan amonia hemolimfe (AH) kepiting bakau pada berbagai salinitas media Parameter Salinitas (ppt) (a = 3) 5 15 25 35 GHQumolL) —37.4240.35 $2.46 £0.78" 88.63 £0.54" 74.26 + 0.60° PH (%) 4.054007 8.044017 9.88+0.30° 5,170.14 AAH (mp/100g) 1.764023 2.074003 2.154002 1.77 0.09 AH (umoVL) — 13.8240.01" 12.2340.68 3.434050 5.234 0.23° eterangan : Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5% (p < 0.05) Salinitas media sangat nyata (p < 0.01) mempengaruhi konsentrasi glukosa ‘Lampiran 27), protein (Lampiran 28), dan amonia hemolimfe kepiting bakau Lampiran 30), akan tetapi tidak mempengaruhi total asam amino hemolimfe Lampiran 29). Konsentrasi glukosa dan protein hemolimfe tertinggi pada media verselinitas 25 ppt dan terendah pada salinitas 5 ppt. Sementara itu, konsentrasi -monia hemolimfe tertinggi pada media bersalinitas 5 ppt dan terendah pada alinitas 25 ppt. “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D Dud yrunjos noqo Uo6Oqas dANBUOLL BUDIO}.G Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 43 Glukosa dan protein hemolimfe memegang peren penting pada ‘osmoregulasi. Glukosa hemolimfe berperan sebagai salah satu sumber energi metabolik untuk Keperluan osmoregulasi. Pada siklus glikolisis digambarkan proses transformasi glukosa ke dalam asam laktat, jalur katabolik utama pada krustasea, oleh sebab itu, glukosa dapat dianggap sebagai salah satu sumber energi @© tama pada krustasea (Chang dan O’Connor 1983; Rosas ef al. 1992). Protein dan = asam amino hemolimfe memainkan peran penting dalam menjaga tekanan ‘osmotik pada proses osmoregulasi (Mantel dan Farmer 1983; Chen dan Chia 1997), Profit protein hemolimfe tetah diteliti pada krustasea spesies Penaeus Japonicus, Scylla serrata, dan Macrobrachium rosenbergii (Chen dan Chia 1997; ‘Cheng er af. 2003). Dilaporkan bahwa konsentrasi protein hemolimfe organisme tersebut bervariasi pada setiap stadia molting. Namun informasi tentang konsentrasi protein hemolimfe kepiting bakau yang dipelihara pada berbagai salinitas media belum diketahui, Pada media bersalinitas 25 ppt tingkat kerja osmotik yang dialami kepiting paling rendah schingga penggunaan glukosa sebagai energi dan protein untuk keperluan osmoregulasi rendah. Sementara itu, tingkat kerja osmotik kepiting pada media bersalinitas 5 ppt adalah tinggi menyebabkan penggunaan energi untuk keperluan osmoregulasi tinggi, dan salah satu sumber energi yang digunakan berasal dari glukosa. Pengaturan glukosa merupakan mekanisme fisiologis penting yang dipengaruhi oleh variasi lingkungan (Lignot et al. 1999) Glukosa hemolimfe dapat digunakan sebagai petunjuk pada kondisi fisiologis, peningkatan osmolaritas hemolimfe dapat berasal dari peningkatan glukosa GH hemolimfe (Rosas et al 2001), Sejumlah penetitian tentang pola glukosa 2) hemolimfe telah dilakukan pada beberapa krustasea dekapoda. Dilaporkan bahwa © konsentrasi glukosa hemolimfe berubah berdasarkan aktivitas harian (Rosas ef al. 1). Pada media bersalinitas 5 ppt, cairan tubuh kepiting bakau bersifat = hiperosmotik pada lingkungannye, sementara pada salinitas 35 ppt cairan tubuh & kepiting bersifat hipoosmotik. Kerja osmotik kepiting pada kedua kondisi tersebut E meningkat, menyebabkan terjadinya degradasi protein hemolimfe yang tinggi 3 © menjadi asam amino. Selanjutnya asam amino tersebut dimobilisasi dan masuk Se dalam sel (intrasclluler) untuk menjaga tekanan osmotik intraselluler agar sel eI (o6og ueleped ynynsul) aa HIIW eIdI9. Ayisueaiu “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 44 tidak mengerut dan akibatnya Konsentrasi asam amino pada hemolimfe menurun. Namun demikian, konsentrasi total asam amino di hemolimfe tidak memperlihatkan perubahan yang nyata sekalipun protein hemolimfe menurun, Ha! inj diduga akibat adanya asa amino yang berasal dari suplai pakan sehingga organisme masih dapat hidup dan tumbuh sekalipun pada media yang mendekati © tittawar. Kemampuan hidup kepitingpade salnias rend juga ditunjukkan pada = blue crabs (Calinectes similis) yang dapat hidup dalam salinitas 2 ppt (Guerin dan © Stickle 1997). Asam amino yang masuk ke dalam intraselluler selain dipakai untuk menjaga tekanan osmotik juga termetabolisme, Tingginya metabolisme S terlihat dari turunnya konsentrasi glukosa dan meningkatnya amonia di hemolimfe. Hubungan salinitas media (X) dengan glukosa (You) dan protein hemolimfe kepiting bakau (Yeu) berpola kuadratik (Gambar 9) ju ey (060g uejueped ymynsul) gal > 100 2 a oF 60 i . a You" 13.639 + 3.9078 X - 0.0735 x? g~ F083 co ° gu zu ge Es By Yu +0.2366 +0.9219X -0.0218 x? i a P2095 =o 5 18 2s 35 Salinitas (pp!) Sambar 9 Hubungan salinitas media dengan konsentrasi glukosa (a) dan protein hemolimfe (b) kepiting bakau. Ajisueniuy jeinynowby 1060g “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 {yojosOU mons UonDuR NOY aAHe| UDsNUAd “uBJodo] UOUNSNAued “YyolUN! D/UDY UDsMUEd ‘uoR||eUEd ‘uOY)pIpUad uDBUAUEdeY YMyUN OAUBY wodANBUDd “D ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 45 Kurva di atas menggambarkan bahwa konsentrasi glukosa dan protein hemolimfe mencapai maksimum apabila berada pada salinitas optimum. Setanjutnya konsentrasi ginkosa dan protein akan menurun apabila terjadi peningkatan atau penurunan salinitas karena kerja osmotik yang tinggi. Pada krustasea dekapoda, produk akhir nitrogen dickskresikan sebagai amonia, Amonia merupakan produk sisa utama dari katabolisme protein (Affandi = et al, 1992). Adanya amonia merupakan indikator bahwa organisme mengoksidasi © protein untuk keperluan metabolismenya. Hal ini selaras dengan yang ditemukan © pada organisme terestrial dimana peningkatan nitrogen urin menunjukkan = katabotisme protein. Besamya konsentrasi amonia hemolimfe yang dihasilkan § (Lee dan Chen 2003, Gomez-Jimenez et al. 2005). Dilaporkan bahwa salinitas 5 media mempengaruhi konsentrasi amonia hemolimfe kedua organisme tersebut, & yang konsentrasinya meningkat ketika berada pada media yang hipoosmotik. Bila ~ dihubungkan dengan hasil percobean ini, konsentrasi amonia hemolimfe tertinggi dihasilkan pada media bersalinitas 5 ppt dan terendah pada salinitas 25 ppt. Hat ini menggambarkankan bahwa konsentrasi amonia hemolimfe pada kepiting akan meningkat pada kondisi yang jauh dari isoosmotik, baik pada salinitas tinggi maupun rendah akibat katabolisme protein pada proses osmoregulasi. Hubungan salinitas media (X) dengan amonia hemolimfe kepiting bakau ([O(Yax) berpola kuadratik (Gambar 10). Kurva tersebut menggambarkan bahwa Q konsentrasi amonia hemolimfe akan meningkat apabila berada di Iuar salinitas © optimum. Ayisueaiun jeanyjnovby “@d] 20fom BuD4 uoBuRUEdDY UOaIBrie\ YOpR UOdANBUEd "q “al rz] oduo} undodo ynqueq wojop tu) sr D4u04 YrUnjes NEYO UDjBOges YoSUOGieduiOlL UDP UDYLUNLUNBUELL BUOY 2 “yoypsow! mons uono{uR ney yA UOs|Uad ‘uBJodo| UOUNsNAUad “YORU BfuDy UDs|NUEd ‘UORatEd ‘UopIpUied UOBURUadeY yM|UN OAUDY LOdANBUEg "> ‘fuby{ yrunjas neyo uby6oqas daNBuews BUDIO}IQ Suppun-6uopun yunpumig Ord AH equuns uoyanq@suelu Uop UByuUN|UODuEUL Edu: 46 Yan = 17.9176 - 0.6842 X + 0.6085 X* P=0.79 Insang kepiting bakau, selain berperan dalam proses respirasi juga berperan = daiam proses osmoregulasi (Thurman 2003, Palacios e al. 2004). Oleh sebab itu, tingkat konsumsi oksigen insang dapat digunakan sebagai salah indikator kerja osmotik (osmoregulasi) pada kepiting. Hasil pengukuran konsumsi oksigen insang kepiting bakeu pada berbagai salinitas media disajikan pada Tabel 5. 2 Ze 3. iis OR. = & s RB < 6 $ 2 3 0 z 5 6B 28 38 a Salinitas (ppt) 3 2 Gambar 10 Hubungan salinitas media dengan konsentrasi amonia hemolimfe Es kepiting bakau. 3 g = Konsumsi Oksigen Insang a & 8 Tabel 5 Konsumsi oksigen insang kepiting bakau pada berbagai salinitas media — _ Kensumsi 0, Salinitas a=3) © __{mgO,/g insang/jam) 5 15 25 35 (Q Tanpa Digitalis(TD) 0.0154 0.0148 0.0139 0.0144 + © (ompa Ion) 0.0004" 0,001" 0.0001° 0.0002" y> Dengan Digitalis(DG) 0.01482 0.01404 0.0127 += 0.0136 + (Tanpa pompa Ion) 0.0004" 0.0001" 0,0004° 0.0001" S. Kemapuan Pompalon 0.0006 0.0007 0.0012 + 0.0008 + Q Pl 0.0001 0.0001 0.0004 0.0001 Keterangan : Huruf yang berbeda pada baris yang sama menuajukkan perbedaan yang nyata pada taraf uji 5% (p <0.05) Salinitas media sangat nyata (p< 0.01) mempengaruhi konsumsi oksigen insang kepiting, baik yang tidak menggunakan digitalis blok ATPase (TD) Ayisueaiuy jeanyn “€d| 40lom Buf uDbuquaday uowy6ni0u yopn uodanBued ‘al uz! bdup} undode ymueq WO}Op [Ul syn BAuDH Yrunjes Noy UD;BEqes YOKUDGled\IAW UDP UDxLUNLUNBUELL BUBIOG 7 “yoqosOU Nyon UOND{UR ME}O YAU. UOXYNUed ‘UoJodo UDURENAUEd “yoILU Of¥_x, UDsYMUed ‘UD)/eued ‘UDHpIpued UBBURUEdad YqUN DAUDY| UBdANBUad{-O 8 : 2 Z é 3 3 g a £ “quins uoygnqasuall UDP UDYWMUODUALL DUD} tu BuPpUN-BUEPUN \BUNPUIIC] DIC! HOH 47 ‘maupun dengan menggunakan digitalis blok ATPase (DG) (Lampiran 31 dan 32). Konsumsi oksigen insang kepiting tertinggi pada media bersalinitas 5 ppt dan terendah pada salinitas 25 ppt baik TD maupun DG. Selanjutnya dari selisih antara konsumsi oksigen TD dan DG dapat ditentukan besamya kemampuan pompa ion (KPI). Akan tetapi, kemampuan pompa ion tidak memperlihatkan perbedaan yang nyata antarperlakuan (Lampiran 33). Tingginya nilai konsumsi oksigen insang kepiting pada media bersalinitas 5 ppt menggambarkan tingginya kerja osmotik yang dilakukan kepiting pada salinitas tersebut. Pada kondisi tersebut kepiting melakukan kerja hiperosmotik dengan cara mengatur keseimbangan antara cairan tubuh dan media serta mengatur pertukaran ion. Sebaliknya, rendahnya nilai konsumsi oksigen insang kepiting pada media bersalinitas 25 ppt menggambarkan rendahnya kerja osmotik kepiting pada salinitas tersebut, Menurut Rainbow dan Black (2001), krustasea yang mengalami perubahan salinitas dengan influks osmotik air dapat mengurangi stres osmotik melalui permukaan tubuluya yaitu pada insang, Sel-sel epitel insang krustasea dapat bersifat perantara yang selektif antera lingkungan eksternal dan lingkungan intemal, berperan pada perubahan gas-gas, transport osmolit, ekskresi limbah nitrogen, pengaturan volume, dan pengaturan asam basa (Lucu dan Towle 2003), Selain itu, sel-sel epitel insang berperan penting dalam memelihara keseimbangan NaCl (Wilder ef al. 2000). Baik pada medium encer maupun pekat insang kepiting memegang peran penting pada proses osmoregulasi terutama dalam pengaturan ion-ion. Hubungan salinitas (X) dengan konsumsi oksigen insang tanpa digitalis blok ( ATPase (Yrp), digitalis (Ypo), dan kemampuan pompa ion (Yxp) berpola i kuadratik dengan persamaan Yr + 0.0161-0.0001 X + 3E-05 X’ (r = 0.81), © Yoo ~ 0.0158 -0,0002X + 4E-06 X? (7 = 0.75), dan Yen = 0.0003 + 6E-05 X- 2 1E-06 X* ( = 0.32) (Gambar 11). Persamaan bubungan antara salinitas dan konsumsi oksigen (TD dan DG) memperlihatkan korelasi yang kuat, sedangkan hubungan salinitas dengan kemampuan pompa ion (KPI) tidak memperlihatkan korelasi yang kuat, © (060g uejueyed ym! AysJOAlUA jesnyNoW6 ‘ai le} bduD} undode ymueq WDjop [Ul sn DAuDy Yrunjes Noy UD|BEqes YOKUDgIed\e\H UDP UDx|LUNLUNBUELL BUOIO}G 2 ‘gd s0(om Bud uD6uRUadey UOYsGnv9Ul YOPA UOdANBUEd 'G {yojsow MON UOND|UA ME;O YL UORNUEd ‘uOJedD| UOUNENAUSd “YOU Of¥OR} UDsYMUEd ‘UD}/etEd ‘UOWpIpuEd uOBUAUEdEY YUN OAUDY| UodANBUD“O sequins uoegnqasuelu UDP UOyWnUNSUELL DduD} Ju 5 BALDY YrUNjes NOY UB/BOqes d|NBUaUE BUDLO|C, SuppUN-SuOpUN \GuNPUIG BIdID HOH 0,009 (mgOyg invangijam) 2 3 Konsurnsi Oksigen = 0.003 e 3 bakau. (060g ueleped mnsu!) dal mu erdio 4H (O) 15 25 Salinitus (ppt) 48 Gambar 11 Hubungan salinitas media dengan konsumsi oksigen insang kepiting Pengaruh Salinitas pada Metabolisme Kepiting Bakau Konsumsi oksigen dapat digunakan sebagai pendekatan untuk menaksir tingkat metabolisme. Hasii pengukuran konsumsi oksigen kepiting bakau pada berbagai bobot tubuh dan salinitas disajikan pada Tabel 6. Tabet 6 Konsumsi oksigen basal, kenyang, dan rutin (mgOz/p/jam) kepiting bakau pada berbagai salinites dan bobot tubuh Parameter Salinitas n=3) 5 15 25 35 Basal 208 0.5140.02" 0494001" 0.44001 0.47 £0.01" 40g 0452001" 0.4340.01° 0384001 0.4140.01° 60g 0434001" 0400.01 0,364 0.00° 0.384 0.01" e 808 0.40+0.01" 0.374001 0.34#001° 03720.01° G Kenyang © 20g 1324001 —1.3440.01° 1370.00" 1.35 + 0,00° 408 1.184001 1.194000" — 1.22 £0. 1.21 £0.00" Bg 60g 1001 1.144001 1.172001" 1140.01 =, 88 1.09+0.00' 1.1240.01% = 1.1540.01" 1.13 +0.00° Q Ratin = Wg 1.044002 1.094001 1.194001 1.1440.01 c 40g 096+0.01° 0.974001" —1.0740.01" 1.02 £0.01" © 8 0922001 0,950.01" 1,020.01" 0.98 0.01" — 0g 0900.01 0.93 0.01 _1.00+ 0.01" 0.96 +0.01° er ‘Huruf yang berbeda pada baris yang sama menunjukkan perbedaan yang nyata pada Aylsueniun tarat wi $¥% (p< 005) ‘al fom 6u0K uoBuRuedse UDHBrueLU YopA UDdaNBUad q “ag] uz pdupy undode ymquaq Wojop [Ul syMa BAuDe Yunjes now UD|GOqes YOKUDqladLUaLU Up UDYUINLUNBUALL BUOIOIG Z “yoyosows ngons uon{uR ney eguuH UDKYLAd ‘uDJodo) UDUNsnAued “Yow! O4uDy UDsYUed ‘uORY/aued ‘uDe'pypUad UDBURUadeH YMUN BAuDY LOd)|NBUad “> ei 2 5 € s 3 z 2 & 2 i 5 i g i 3 & i 5 ' z g Q g i 8 i a 5 = q é i a 49 Salinitas media sangat nyata (p < 0.01) mempengaruhi konsumsi oksigen kepiting bakau bobot 20, 40, 60, dan 80 g pada kondisi basal (Lampiran 34, 35, 36, dan 37), kenyang (Lampiran 38, 39, 40, dan 41), dan rutin (Lampiran 42, 43, 44, dan 45). Nilai konsumsi oksigen kepiting pada kondisi basal tertinggi ditemukan pada media bersalinitas 5 ppt dan terendah pada salinitas 25 ppt. Sementara itu, nilai kensumsi oksigen pada kondisi kenyang dan rutin tertinggi = diterukan pada media bersalintas 25 ppt dan terendah pada salinites § ppt untuk semua bobot kepiting. 2 Media bersalinitas 5 ppt kurang mendukung kebidupan kepiting sehinga pada kondisi tersebut kepiting melakukan kerja osmotik yang tinggi sebagai respon menghadapi stres osmotik dan hal tersebut menyebabkan peningkatan msumsi oksigen. Di sisi Jain, dengan salinitas media yang kurang nyaman menyebabkan penurunan aktivitas yang berkaitan dengan pencemaan dan rutinitas. Sementara itu, media bersalinitas 25 ppt merupakan media yang nyaman kepiting. Pada kondisi tersebut, laju pengambilan oksigen untuk jg Mempertahankan fungsi jaringan rendah, sedangkan aktivitas untuk pencernsan dan rutinitasnya meningkat. Beberapa hasil penelitian yang telah dirangkum © Villarreal at al. (2603) dan Spanopoulus-Hemandez et al. (2005) memperlihatkan >ahwa salinitas merupakan salah satu faktor utama yang mempengaruhi konsumsi aksigen. Salinitas dapat membatasi respons fisiologis dan variabel lainnya seperti nnigrasi vertikal dan pola reproduksi (Rosas et al. 1992). Faktor lain yang mempengaruhi nilai konsumsi oksigen adalah aktivitas dan akuran tubuh. Semakin tinggi aktivitas maka oksigen yang dikonsumsi juga (neningkat. Menurut Vemberg dan Vernberg (1972), organisme yang berukuran fe cecil mengkonsumsi oksigen lebih banyak per satuan waktu dan berat daripada & yang berukuran besar. Hasil percobean ini memperlihatkan bahwa semakin kecil Fikuran bobot kepiting pada semua perlakuan, nilai konsumsi oksigen per gram Soobotnya semakin tinggi. Hal ini disebabkan kepiting yang berukuran kecil © kepiting muda) lebih aktif daripada kepiting yang berukuran besar (kepiting E tewasa), Fenomena yang sama ditemukan oleh Shuhong (2005) pada Laternula © narifina, dimana dengan meningkatnya bobot tubuh maka konsumsi oksigen per Cram bobot menurun. Hasil penelitian Kazakop dan Khalyapina (1981) pada ikan g 2 3 z 3 agi JU; AYISION