Anda di halaman 1dari 23

BERJTA REDAKSI

Oseall%gi dan Lillln%gi di Indonesia


Volume 36, Nomor 3, Desember 2010

Sejarah majalah ilmiah ini dimulai sejak talum 19741ahir sebagai Oseanologi
di Indonesia. Pada tahun 1993 bergabung menjadi Oseanoiogi dan Limn%gi di
In donesia (Nomor 26). Kemudian pada tanggal I November 2006, Oseanolog i
dan Lillll1%gi di Indonesia ditetapkan sebagai MajaJah Berkala IImiah
TERAKREDITASI C dengan nomor 28/AKRED LIPUP2MBU9/2006. Untuk
mengikuti aturan majalah ilmiah berkala maka penomQran volume dan halaman
disesuaikan dengan aturan tersebut. Oleh karena itu, Oseanologi dan Linm%gi
di Indonesia, Nomor 42, Apri l 2007 menjadi Oseallo[ogi dan Limn%gi di
Indonesia, Volume 33, Nomor I, April 2007. Tiga tahun setelah itu, pada tanggal
28 Agustus 2009, Osean%gi dan Limn%gi di Indonesia ditetapkan sebagai
Majalah Berkala Ilmiah TERAKREDITASI B dengan nomor I 89/AU I l1P2MBII
08/2009. Oseanologi dan Limnologi dj Indonesia atau telah dikenal dengan
OLDI tetap berusaha mengikuti perkembangan jaman dan menyesuaikan terbitan
dengan terbitan ilmiah nasional maupun intemasional. Seiring dengan terbitnya
Oseanologi dall Limnologi di Indonesia Volume 36, Nomor 3, Desember 20 10
ada 2 (dua) hal yang ingin disampaikan oleh redaksi OLDI, yaitu :
(1) OLDI terbit online di http://www: limnologi.lipi.go.id sejak terbitan Volume
36, Nomor I, April 2010.
(2) Untuk menyesuaikan terbitan selanjutnya denganjumal ilmiah nasional maupun
intemasionai, maka OLDI melampirkan PETUNJUK. PENUllSAN NASKAH
dalam BERITA REDAKSI.
Petunjuk tersebut mulai berlaku untuk terbitan Volume 37, Nomor 1, Apri1201l.

Demikian berita redaksi in i disampaikan untuk tetap mempertahankan


OLDI sebagai majaJah ilmiah berkala. Redaksi mengucapkan banyak terimakasih
atas peran serta para penulis yang telah menyumbangkan tul isannya untuk
kelangsungan terbitan ini.

Pemimpin Redaksi

ISSN 0 125 - 9830

OSEANOLOGI DAN LIMNOLOGI D1INDONESIA


Volume 36, Nomor 3, Desember 2010

DAFfAR lSI

Halaman
I. SRl JUWANA,RUYITNO, YUSTlAN ROVI ALFlANZAH

dan SUJONO: Utilization ofArlemia nauplii, supplemented diet


and commercial probiotic, for production ofcrab seed (Portunus
pe/agicus) ................................ ............................................. .
2. TUTlK MURNlASIII dan ABDULLAH RASYID : Potensi
bakteri yang berasosiasi dengan spons asal Barrang Lompo
(Makassar) sebagai sumber bahan antibakteri ..................... .
3. EDDYYUSRON dan SUSETlONO: Diversitas fauna ekhino-

dennata di perairan Temate - Maluku Utara ............... ..... ..........


4. PETRUS CHRlSTlANUS MAKATlPU, TEGUH PERlSTIWADY danMARTHENLEUNA : Biodiversitasikan targetdi
tennnbu karang Taman Nasional Bunaken, Sulawesi Utara ... .... .
5. SUPONO dan UCUYANU ARBI : Strukturkomunitas ekhinodennata di Padang Lamun perairan Kema, Sulawesi Utara ....... .
6. SULASTRl, DEDE IRVING HARTOTO dan IWAN RJDWANSYAH: Pemilihan zonasi kawasan konservasi keanekaragaman biota Muara Layang di sekitar Teluk Klabat, Pulau
Bangka ....................................................................... ... ........ ..
7. WAWAN KlSWARA : Studi pendahuluan: Potensi padang
lamun sebagai karbon rosot dan penyerap karbon di Pulau
Pari, Teluk Jakarta ........... ....................................................... .
8. RlCKY ROSITASARl, SUYARSO, SURATNO dan BAYU
PRAYUDA: Kerentanan pesisir Cirebon terhadap perubahan
ikhm ................ ..... .......... .. .... ..... .. ..... ...... ..... ........................... .
9. ABDULLAH RASYID : Ekstraksi natrium alginat dari alga
coklat Sargassum echin ocarphum .................................... .
10. DEDE IRVING HARTOTO : Chronotone and abiotic ecological
connectivity in Lake LoaKang floodplain, East Kalimantan ...

259-279

281-292
293-307

309-327
329-342

343-360

36 1-376

377-392
393- 400
401-425

ISSN 0 I 25 - 9830

OSEANOLOGI DAN LIMNOLOGI DI INDONESIA

Volume 36, Nomor 3, Desember 2010

DAFTARISI

Halaman
II. SASANTI RETNO SUHARTI : Diversity and abundance of
reef fish in the coastal of Kia bat Bay, Bangka Island, Indonesia..
12. NlRMALASARl IDHA WUAYA, FREDINANYULIANDA,
MENNOFATRlA BOER dan SRI JUWANA: Bio1ogi popu1asi
kepiting bakau (Scylla serrala F.) di habitat mangrove Taman
Nasional Kutai Kabupaten Kutai Timur .................................... .

427- 442

443-461

Oseonologi dOli Limnologi di Illdonesio (2010) 36(3): 443 - 461

ISSN0 125 - 9830

BIOLOGI POPULASI KEPITING BAKAU (Scylla serrata Po)


DI HABITAT MANGROVE TAMAN NASIONAL KUTAI
KABUPATEN KUTAI TIMUR
oleh
NIRMALASARI IOHA WIJAYA ", FREDINAN YULIANDAl),
MENNOFATRIA BOERl) dan SRI JUWANA J )
''Sekolah Tinggi lImu Pertanian Kulai Timur
" Departemen Manajemen Sumberd aya Perikanan, instilut Pertanian Bogor
" Pusal Penelitian Oseanografi - LlPI, Jakarta
Received 27 July 2010, Accepted 16 November 2010

ABSTRAK

Taman Nasional Kulai memiliki 5.277,79 ha hutan bakau di sepanjang pesisir


pantainya. Kepiting bakau merupakan salah satu sumberdaya yang terdapat dalam
ekosistem bakau yang dapal dimanfaatkan. Penehtiun biologi populasi Scylla serrala di
hutan bakau Taman Nasional Kutai (TNK) bertujuan untuk mengetahul parameter
pertumbuhan, distribusi ukuran, laju mortalitas dan laju eksploitasi penangkapan. Hasil
pengukuran diharapkan dapat digunakan sebagai bahan penimbangan untuk pengelolaan
kepiting bakau di TNK, agar dapat dimanfaatkan secara optimal dan berkelanjutan.
Pengumpulan data biologi S. serrala diperoleh dari pengamatan yang dilakukan selama 4
bulan di musim hujan dan 4 bulan di musim kemarau (yaitu November 2008 - Juni 2009)
di tiga stasiun yang telab ditetapkan berdasarkan karakteristik habitat bakaunya, yaitu di
Muara Sangalta, Teluk Pcrancis dan Muara Sangkima. Data yang tcrkumpul dianalisis
dengan metode analitik menggunakan instrument FISAT-Il (FAO-ICLARM Stock
Assesment Tool II). Hasil penelitian menunjukkan bahwa pola pertumbuhan S. serrala
jantan di babitat bakau TNK bersifat allometrik positif, sedangkan S. serrala betina bersifat
allometrik negatlf. Kocfis icn pcrlumbuhan (K) berkisar antara 0,45-1,50. K di Muara
Sangatta lebih tinggi (1,2-1,5) dibanding di lokasi Teluk Peraneis (0,8-1,1) dan Muara
Sangkima (0,45-0,69). Laju penangkapan S. serrala di TNK sudah berada di atas laju
eksploitasi maksimal, hanya di Muara Sangkima masih dibawah laju eksploitasi yang
diperbolehkan. Distribusi \cbar karapas kepiting bakau (s. serra/a) di zona hulan bakau
mcmpunyai frekuensi tertinggi pada interval \09,5-\29,5 mm. Seeara umum ukuran ini
relatiflebih besar dibandingkan ukuran lebar ka rapas kepiting di zona depan hulan bakau
dengan frekuensi tertinggi pada interval 78-89 mm dan di zona perairan pantai dengan

443

frekuensi tertinggi pada interval 89.S -121.S mrn. Kelirnpahan individu betina matanggonad
rnencapai puncak pad:! bulan lanuari. Februari dan Maret. Diduga terjadi puncak kelimpahan
)'lmg kedua pada bulan Agustus dan September.
Kata kun ci: Kepitlng bakau, S cylia serrata , Taman Nasional Kutal, sebaran ukuran,
par a meter pertumbuha n, laju peoangkapan.

ABSTRA CT

BIOLOGY POPULATION OF MUD CRAB (Scylla se"a/a) AT MANGROVE


HABITAT OF KUTA.I NATIONAL PARK., EAST KUTAI REGENCY. Kutai National
Park possess 5 277.79 ha mangrove forest alollg its coastal area. Mangrove crabs is aile
of its natural resollTces that can be exploited. Biology populo /ion research on mangrove
forests 0/ Kulai National Park (KNP) aims to identify pa rameters 0/ growth. size
distribulio" . rate of mortality and rate a/exploitation o/S cJ'lIa serrata. The results could
be used as consideration on optimal mrd SUSlainable management a/mangrove crabs in
KNP. Collection of biological data a/the mangrove crab was done 4 monlhs during the
rainy season and 4 mOlllhs during Ihe dry season (thai is November 2008 to June 2009).
ntthree slatiollthnt can be selecled accom;ng 10 charaCterislic o/ils mangrove hobital.
that is at Muora Sangauo. Teluk Perm/cis alld Muara Sangkima . DolO collect ions were
analyzed wilh analytical methods uS/llg FISAT-II (FA O-ICLARM Stock Assessment Toool
II) illstrnmell/s. 11re results showed Ibaltlre growlh pal/ern ofthe mates crab at mangrove
forest o/KNPwas allometric positive, wereas the/emotes were allometric I/egalive. Growlh
coefficient index (K) 0/ tlte mangrove crab ranged from 0.45 to 1.50. K at Muara
Sallgatta higlter (1 .2 to 1.5) than at location Teluk Perallc/s (0.8 /0 1./) and Muara
Sallgkima (0.45 10 0.69). Thefishing rate o/the mangrove crab in KNP was already all
the maximum exploitation rate, only at Muara Sangkima/lShing rate explOitation rate is
slightly below the maximum exploitation. 11redistr;bution o/carapace width o/S. serrato
ill the mangrove/orest zones has Ihe highest/requency at imerval109.5 to 129.5 mm. In
gel/eral. thaI size relatively bigger tlran those in Ihe middle zone of mOllgrove/orests Ih at
was in the range 0/78 to 79 mm. those in lite inshore zone in the range 0/89. 5 10 /2/.5
mm. Peak o/the abundance o/the mature/emales was during January. Febrnary and
March. The second peak was assumed in August to September.

Key words: Mangrove c ra bs. Scylla serrato, Kutai Nationa l Park , siu distribution,
growth parameters, fishing rai l'.

444

PENDAHULUAN

Kepiting bakau telah menjadi komoditas perikanan penting di Indonesia sejak


awal tahun 1980-an. Perikanan kepiting bakau di Indonesia diperoleh dari penangkapan
stok alam di perairan pesisir, khususnya di area mangrove atau estuaria dan dari hasi!
budidaya di tambak air payau. Akhir-akhir ini, dengan semakin meningkatnya nilal
ekonomi perikanan kepiting, penangkapan kepiting bakau juga semakin meningkat.
Namun bersamaan dengan itu, rata-rata pertumbuhan produksi kepiting bakau di
beberapa provinsi penghasll utama kepiting bakau justru agak !ambat dan cenderung
menurun (CHOLIK 1999).
Kepiting bakau yang berrnlai sebagai sumber makanan dan pendapatan di
Kosrae, Negara Bagian Micronesia, juga mengalami deplesi kelimpahan dan ukuran,
akibat tekanan penangkapan yang dipengaruhi oJeh distribusi pendudukdan lokasi usaha
perikanan komersial (BONINE e( al. 2008). Penurunan popu!asi kepiting bakau di
a!am diduga disebabkan o!eh degradasi ekosistem mangrove dan kelebihan tangkap
(over exp!oitalion)(S lAH A INENlA 2008).
Kawasan konservasi Taman Nasiona! Kutai (TNK) memiliki hutan bakau pada
lokasi 1-2 Ian dari tepi pantai ke arah daratan yang didominasi olehjenis Rhizophora
dan Brnguiera (TAMAN NASIONAL KUTAI 2005). Hutan bakau di kawasan TNK
merupakan salah satu habitat kepiting di Kabupaten Kutai Iimur. Di dalam kawasan
mangrove tersebut saat ini teJah berdiri empat desa definitif. Masyarakat yang tingga!
dalam kawasan tersebut memanfaatkan sumberdaya yang terdapat dalam ekosistem
mangrove untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, baik sumberdaya hutan (vegetasi
mangrove) maupun sumberdaya perikanannya, tennasuk di antaranya kepiting bakau
(Scylla serrata). Pemanfaatan sumberdaya di kawasan taman nasional perJu dike!ola
dan dibatasi penggunaannya agar tidak sampai merusak sumberdaya dan menghilangkan
fungsi taman nasiona! sebagai kawasan konservasi.
Populasi kepiting bakau seeara khas berasosiasi dengan hu tan bakau yang
masih baik, sehingga hi!angnya habitat akan memberikan dampak yang serius pada
popuiasi kepiting. Status bioekologi kepiting bakau yang berhubungan dengan biologi
populasi dan penge!olaannya perlu dipahami untuk mendukung pengembangan dari
perikanan tangkap dan budidaya kepiting bakau yang berke!anjutan (LE VAY 200 I).
Pertumbuhan, mortalitas, rekruitmen dan laju eksploitasi kepiting bakau dapat digunakan
untuk menentukan tingkat penangkapan optimum (MSy) yang merupakan landasan
da!am kebijakan penge10laan penangkapan kepiting bakau (SPARRE & VENEMA

1999).
Tujuan penelitian ini un tuk memperoieh parameter pertumbuhan, distribusi
ukuran, laju mortalitas dan laju eksploitasi penangkapan Scylla serrata di habitat
mangrove I NK. Hasil kajian diharapkan dapat digunakan sebagai suatu bahan
pertimbangan dalam pengelolaan Scylla serrata di INK agar dapat dimanfaatkan
seeara optimal dan berkelanjutan.

445

WIJAVA, Y UUANDA, BOER

&

JUWANA

METODE PENELITIAN

Penetapan Stasiun Penelitian


Pene!itian dilakukan antara bulan November 2008 - Juni 2009 di kawasan
mangrove Taman Nasional Kutai (TNK) seluas 5277,79 ha. Habitat mangrove TNK
dibagi menjadi 3 lokasi pengamatan, berdasarkan karakteristik habitat mangrovenya,
yaitu Muara Sungai Sangana (StasiunA). Teluk Peraneis (Stasiun 8) dan Muara Sungai
Sangkima (Stasiun C). Kelompok substasiun I zona tengah hutan mangrove, 2 zona
depan hutan mangrove dan 3 zona pcrairan laut. (Gambar 1).
Mangrove di Muara Sangatta merupakan hutan bekas tcbangan yang telah
kehilangan pahon berdiameter besar dan sebagian dari areal ini telah dijadikan tambak.
Di dalam plot tidakdijumpai pahon-pahon berdiameter besar, sebagian besarmerupakan
trubusan dengan diameter < 10 em. Minimum ada 4 jenis pahon yang dijumpai di
Muara Sangatta. Jenis yang dominan adalah Aegiceras corniculaluln (gedangan)
kemudian Nypajrnclicans (nipah) Ceriops lagal (saga tinggi) dan Ceriops decandra
(bido-bido) tidak dominan. Muara Sangatta dieirikan oleh kerapatan vegetasi, tekstur
substrat, BOD dan kelimpahan S. serrala yang tinggi.
Mangrove di Teluk Perands relatif masih utuh dibandingkan dcngan Muara

Sangatta. Pohon dengan diameter besar masih banyak ditemukan. Penebangan pohon
ditemukan pada beberapa lokasi yang dijadikan tambak. Sebagian besar tambak tidak
produktiflagi dan menjadi lahan kritis. Ada 3 jenis pahon bakau yang dijumpai di Teluk
Peraneis. Jenis pohon yang dominan adalah Rhizophora apiculala (bakau minyak).
Rhizophora mucronala (bakau hitam) dan Brnguiera gymnorrhiza (bakau daun
besar) kurang domiman. KeJompok substasiun BI zona tengah hutan dan B3 zona
perairan Tcluk Perancis, dicirikan oleh parameter kelimpahan makrozoobcnthos dan
salinitas air yang tinggi.
Mangrove di Muara Sangkima mempunyai 6jenis pahon, yang didominasi
oleh Rhizophora apiculala (bakau minyak), kemudian Brnguiera gymnorrhiza (bakau
daun besar) dan Ceriops decandra (bido-bido). Tigajenis pohon waru tidak dominan,
yaitu Osbornia oclodonla, Hibiscus tiliaceus dan Lumnil;:era liltorea. Kelompok
substasiun Cl zona tengah hutan mangrove Muara Sangkima,juga dieirikan dengan
adanya kerapatan vegetasi, tckstur substrat, BOD dan kelimpahan S. serrala yang
tinggi.

446

BrOLOO I POP1JLASI K.!:PI1lNC BAKAU

"

,"

Gambar 1. Peta lokasi dan stasiun penelitian di ekosistem mangrove Taman


Nasional Kutai, 2008-2009.
Figure I. Map of the studi area and research station in mangrove ecosystem
Kutai National Park, 2008-2009.

Pengumpulan Data Biologi


Jenis kepiting Scylla yang digunakan dalam penelitian ini diidentifikasi
berdasarkan ciri-ciri yang dibuat oleh Keenan et al. (1998), yaitu chela dan kakikakinya memiliki pola poligon yang sempurna untuk kcdua jcnis kelamin dan pada
abdomen betina. Warna bervariasi dari unggu hijau sampai hitam kecoklatan. Duri
pada karapas di antara dua mata tinggi, rata dan agak tumpul dengan tepian yang
cendemng cekung dan membulat. Duri pada bagian luar cheliped bempa dua duri
tajam pada propodus dan sepasang duri tajam pada carpus (Gambar 2),
Biologi Scylla serrata dikaji dengan melihat parameter perrumbuhan, pola
distribusi, laju mortalitas dan laju eksploitasi. Pengumpulan data biologi Scylla senara
diperoleh dari obscrvasi tcrhadap kepiting bakau yang dilakukan selama 8 bulan
(Nopember 2008 - Juni 2009), pada lokasi 3 stasiun pengamatan yang dlplih sesuai
karakteristik habitat mangrove sepcrti tersebut di atas. Data primer dan sekunder (IS
responde,,) yang dikumpulkan berupa musim, lokasi tangkapan, sebaran ukuran, j enis
kelamin, lama upaya menangkap dan hasil tangkapan harian yang ditangkap dengan
alat tangkap kait, ra kkang maupun rengge.

447

W UAYA, Y ULIANDA , BoER

Duri di a nl a ra d ua mala

&

J UWANA

Pola polygona l pada kaki-kaki re nang

Our i pada propod us ( I('ngan bawah)


da n carpus (siku)

Pola polygonal pad a abdo men

Karapas

Gambar 2. Ciri-ciri khas kepiting bakau, Scylla serrala.


Hgure 2. Characteristic featu res of mangrove crab, Scylla serrala.

Analisis Data
Berdasarkan data tersebut dilakukan beberapa analisis yaitu: hubungan panjangbobot, yang digambarkan dalam dua bcntuk yaitu isometrik dan a llometrik berdasarkan
HI LE yang diacu oleh EFFENDIE ( 1979). Pendugaan kelornpok ukuran dilakukan
dengan menganalisis data frekuensi lehar karapas yang dianalisis mcnggu nakan program
Bhattacharya Method yang dikemas dalam paket program FlSAT II (FAO-ICLA RM
Stock Assesment Toof). Analisis pertumbuhan, Plot Ford-Walford un tuk menduga
parameter pertumbuhan L" dan K dari persamaan von Bertalanfly. Pendugaan laju
eksploit3si S. serrma dilakukan dcngan pendugaan laju mortalilas alami (Z) berdasarkan
persamaan Beverton dan Holt. Nilai Z dan pendugaan laju mortalitas alami (M)

448

BIOLOOI 1'0'1.II."SI K~"nNG B.",..u

digunakan untuk menduga kematian kepiting bakau akibat penangkapan (F) = Z-M.
Selanjutnya laju eksploitasi kepiting bakau (E) dapat diduga dengan mengguna kan
persamaan: E '" F: Z, nilai Yield per Rekrut (YIR) untuk menentu kan laju eksploitasi
maksimal yang diijinkan,

HASIL DAN P EMBAHASAN

Sebaran Spasial Ukuran Kepiting Ba kau (S cylla serrata)


Kepiting bakau (Scylla serrara) tidak memiliki bagian tubuh keras yang
pennanen sebagai indikator pelacak umur, sehingga metode interpretasi ukuran tubuh
yang digunakan adalah lebar karapas. Hasil tangkapan S. serrala di kawasan mangro ve
TNK (StasiunABC) memiliki struktur ukuran lebar karapas yang bervariasi berdasarkan
lokasi penangkapannya, Lokasi penangkapan da lam penelitian ini meliputi liga kondisi
habitat yang berbeda, yaitu kawasan bagian tengah hutan mangrove (s ubsta siun I),
kawasan pinggirnn hulan mangrove (garis pantai) (Subs\aslUn 2), dan ka wasan perairan
panlai (inshore) (substasiun 3). AlaI langkap yangdigunakan p.ada setiap lokasi berbedabeda, terganlung pada spesifikasi dan kemampuan alaI tangkap. Pada bagian lengah
hutan mangrove digunakan pengait, pada bagian pinggir pantai digunakan rakkang, dan
di perairan panlal digunakan alaI langkap rengge dengan ukuran diameter jaring 2
inchi. l umlah individu S. serrala hasil tangkapan ketiga jenis alaI tangkap pada liga
lokasi selama 8 bulan disajikan pada Tabel I.

Tabel I. Jumlah individu S. serrata hasil tangkapan alai pengait, rakkang dan
rengge, No vember 2008 ~ J u ni 2009.
Table 1. Tile number of S. serrata captured by the fis hing gear hook, t r a p and
gilln et, November 2008 to J une 2009 .
Fishing gear
Hook (pen gait)
Trnp (rnkkang)
Gillnet (rengge)

Total Individu
Male
Female
669
311
526
449
59
141

Sum or Tola l
Size Max-Min (mm)
(ind.)
Male
Fema le
980
68 154
65-17 \
50-143
45-155
975
70- 142
73-135
200

449

Wm,YA, YlIUA..'IDA, SOI!lt.

& JlIWANA

Tabel 1 menunjukkan bahwa ukuran lebar karapas terkecil kepiting yang


tertangkap adalah 45 mm dan ukuran lebar karapas terbesar adalah 171 mm. Ukuran
kepiting yang terkecil menunjulckan bahwa kepiting yang mulai dapa t tertangka p oleh
alat langkap adalah kepiting yang berukuran 45 mm. Grafik histogram sebaran ukuran
dan sebaranjenis ke lamin S. serrata berdasarkan hasil tangkapan dari bulan November
2008 - Juni 2009 dengan mcnggunakan alat tangkap rakkang, rengge, dan pengait
dapat dilihat pada Gambar 3.
Lebar karapas S. serrata di tengah hulan mangrove, yang dipe rolch dari
hasil tangkapan alaI pengail, umumnya berukuran lebih dari 100 mm, dengan frekuensi
tangkapan lertinggi pada interval 109,5-129,5 mm. Persenlase jumlah kepili ng yang
bcrukuran lehar karapas kurang dari 100 mm adalah 16,12%, arti nya hanya 16% kepi ring
yang d itangkap dengan alat pengait yang beJum dewasa kelamin, sedangkan sisanya,
sekitar 83,88% merupakan kcpiting yang diduga sudah dewasa keJamin. Hal ini
menunjukkan bahwa di kawasan tengah hutan mangrove cenderung lebih banyak
terdapat kepiting yang berukuran besar.
Rasio kelamin S. serrata di zona tengah hutan mangrove 1ebih didominasi
jenis kelamin jantan dengan nisbah jantan:betina adalah 1:0,47 dan nilai P<0,05
menunjukkan adanya perbedaan yang berarti dari pergeseran nisbah kelamin 1: 1.
Dominasi jantan dapal terjadi karena adanya poJa migrasi pada kepiting bakau. Kcpiting
S. serrata melangsungkan perkawinan di perairan mangrove dan secara berangsurangsur sesuai dengan perkembangan lelumya, kepiting betina akan beruaya (berenang)
ke laut dan memijah, sedangkan kepiting jantan letap di perairan hutan bakau atau
muara sungai (HILL 1975). HasH ini bersesuaian dengan hasil penelitian LE VAYet
al. (2007) yang menemuka-n bahwa hasil tangkapan kembali (recaptured) k epiting
bakau S. para/l!amosain yang telah ditandai (/I!arking) adalah 79% tertangkap pada
malam hari di dataran lumpurpinggiran mangrove menuj u ke lauI, 14% yangtertangkap
pada siang hari di dalam mangrove dcngan pancingan dan 7% tertangkap gil/nets
ditetapkan setidaknya pada jarak I Ian lepas pantai dari pinggiran bakau.
Pada zona depan hutan mangrove dipero leh struktur ukuran lebar karapas
Scylla serrata pada kelas ukuran kurang dari 100 mm mencapai 77,95%, dengan
frekuens i tangkapan tertinggi pada interval 78-89 mm. Sisanya sebesar 22,05%
merupa kan kepiting berukuran lebih dari 100 mm. Hal ini menunjukkan hahwa lebih
banyak kepiting muda yang lertangkap di lokasi zona depan mangrove dengan
menggunakan alaI langkap ralling. AlaI ralling umumnya dipasang di muara sungai,
pinggiran sungai, pinggiran pantai yang berlumpur dan sering terendam air pasang.
Banyaknya kepiting muda yang terlangkap dengan rakkang disebabkan pada tingkal
megalopa kepi ling mulai beruaya pada dasar perairan berlumpur menuju pcrairan pantai,
dan b iasanya pertama kali memasuki perairan muara sungai, kemudian ke perairan
berhutan bakau untu k kembali melangsungkan perkawinan (AFRIANTO &
UVlAWATY 1993).

450

BIOLOGI P OPIJI.'.SI K EPln NG B~KAU

>
0

""

.... .
,"
.....
....
"
,

..... . .
, . "" ,..

-0_
_
_
~ -

.. IO UO ZO~O 0 ' " ~ ~ G M OV'/HO O~ ( .. ALEI


.. l O l l . ZOH' O F .. ANCA ov .m O OK ( . . . . Al . 1
.A O N T ZO NE O F "AH G A OV E IT A 1">l El
F R ON T Z O NE O f .. . NGR OVE iTR .P I n .. , , ")
,NS KOR' ZO N E /G ' ll N E T I " . " )
' NS K OR ! l O NE /G lllNE T I . . . . A L E I

...
./

'.

,.:/

..

.,.,

\.

"

..

... . . ... ... ...

CARA P AS W I DT H (mm)

Gambar 3. Distribusi lebar karapas S. serrata di beberapa zona hutan mangrove,


di Taman Nasional Kutai, November 2008 - Juni 2009.
Figure 3. Distribution of carapace width of S. serrata in several zone of mangrove
forest, at Kutai National Park, November 2008 to June 2009.

WEBLEY et aJ. (2009) menyatakan bahwa megalopa dari beberapa spesies


kepiting menunjukkan se!eksi habitat aktifketika akan menetap. Mega!opa ini biasanya
memllih habitat yang kompleks secara struktural yang dapat memberikan perlindungan
dan makanan. Kepiting lumpur yang portunid, S serrata, umumnya ditemukan dl muara
yang berlumpur Indo-Pasifik Barat setelah mencapai lebar karapas > 40 mm. Meskipun
telah dilakukan upaya besar, mekanisme perekruitan kepiting lumpur remaja ke muara
tidak dipahami karena megaJopa dan tahap awal crablets (Iebar karapas < 30 mm)
jarang ditemu kan. Binatang ini ditempatkan di arena di mana m~reka punya pilihan
habitat: lamun, lumpur atau pasir dan arena di mana mereka tidak punya pilihan.
Berlawanan dengan asosiasi yang ditunjukkan oleh megalopa kepilmg portuoid lain,
megalopa S serrata tidak selektif terhadap habitat muara ini, menunjukkan bahwa
me reka cenderung tidak akan mcmilih habitat ini, atau tidak memperoieh keuntungan
dengan memilih salah satu dari yang lain. Namun kepiting muda, lebih memilih lamun,
menunjukkan bahwa berada dalam lamun bermanfaal bagi kepiting muda dan
meningkatkan kemungkinan bertahan hidup. Perilaku yang selcktifmulai berkembang
pada tahap kepiting muda, namun belum tampak pada lahap megalopa.
Rasio kelamin S. serrato hasil tangkapan rakkang lebih didominasi oleh jenis
kelamin jantan dengan nisbah jantan : betma adalah I :0,85 dan nilai P<O,05. Hal ini
menunjukkan adanya perbedaan yang berarti dari nisbah ke1amin 1: 1. Dominasi jantan

45 \

WUAYA, YUUANDA,

Sou &

JUWANA

diduga terjadi karena adanya persaingan makanan dan sifat yang agresi f dari S. serrata
jan tan, sehingga individu jantan leblh sering masuk ke dalam rakkang.
Scylla serrata has il tangkapan pad a zona perairan pantai dengan
menggunakan alat rengge, menunjukkan sebesar 42% merupakan kepiting yang
berukuran kurang dan 100 nun, dan sisanya (58%) merupakan kepiting yang berukuran
lebih dari 100 nun dan diduga sudah dewasa kelamin. Sebaran lebar karapas S. serrata
lebih bervariasi dibandingkan kedua alaI sebelumnya, dengan frekuensi tangkapan
teninggi pada interval 89,5-121,5 nun.
Rasio kelamin S. serrata hasil tangkapan rengge lebih didominaslJeniS kelamin
betina dengan nisbah jantan:betina adalah 1:2,5 (P<0,05). Lebih banyaJmya kepiting
betina yang tenangkap karena pola migrasi reproduksi kepiting betina yang memijah di
laut, sehingga merelai berenang ke laut dan tertangkap oleh alaI rengge. Rengge (gil/net)
digunakan di perairan dangka J di pesisir. Nelayan umumnya tidak seeara khusus
mengguna kan rengge untuk menangkap kepiting, namun hanya merupakan hasil
sampingan selain ikan yang menjadi tujuan utama cangkapan. Waktu penggunaan rengge
dapal siang alau malam han . Kepiling belina yang tertangkap sebagian adalah kepiting
yang malang gonad dan akan memijah, alau sebagian lagi adalah kepiting betina yang
salin (selesai memijah). Vanasi pada ukuran lebar karapas kepiting yang tertangkap
oleh alat rengge terjadi karena sebagian adalah kepiting betina matang go nad yang
bennigrasi ke laut untuk memijah dan sebagian lagi adalah kepiting muda (crable/s)
yang bennigrasi ke mangrove untuk meneari makan dan kawin.
Sebaran Tempo ral Induk Detina Matang Gonade (TKG IV)
Pengamalan terhadap induk betina matang gonad dilakukan seeara morfologi
pada semua sampel kepiting. Tingkat Kematangan gonad (TKG) yang diamati adalah
TKO N, yang seeara morfologi dapal diamali denganjelas seeara visual. Grafik sebaran
frekuensi induk betina TKO IV pada masil).g-maSing stasiun disajikan pada Gambar 4.
Induk hetina matang gonad TKG IV yang tenangkap di habitat mangrove
TNK mempunyai sebaran ukuran lebar karapas antara 91 -171 nun, sedangkan ukuran
berat tubuhnya berkisar antara 170-870 gram. Kelimpahan mdividu belina matang gonad
terbanyak di Muara Sangatta dibanding di lokasi lain. Hal ini terjadi karena Sungai
Sangatta merupakan sungai terbesar di kawasan hulan mangro ve TNK, sehingga
menjadi pintu masuk utama kepiting bakau yang beruaya kembah ke hulan mangrove.
Grafik distribusi jumlah individu kepiting bakau betina TKG N pada lokasi
Muara Sangatta mempcrlihatkan bahwajumlah individu mulai mengalami peningkatan
pada bulan lanuari dan meneapai puneak pada bulan Maret, kemudian eenderung
mcnurun bulan April dan ada indikasi mulai meningkat kembali pada bulan luni. Diduga
di lokasi Muara Sangatta puneak frekuensi betina matang gonad yang ked ua terjadi
pada bulan Agustus, berdasarkan perkiraan adanya rekruilmen yang terjadi pada bulan
Oktober.

452

30

25

.- . -<>....-. .

MASGT
T PERANCIS
MASANGKIMA

20

-t
c

15

Z
::>

@ 10

Ir
U-

<>

o
1'_08

12_08

,_09

2_09

3_09

4_09

5_09

6_09

MONTH
Gambar 4. Sebaran induk betina malang gonade TKG IV tertangkap di Taman
Nasiona1 Kutai.
Figure 4. Disribution of mature female on GM] IV caught in Kulai Natio nal Park.

Grafik distrihusi jumlah ind ividu kcpiting bakau belina TKG IV pada lokasi

Muara Sangkima memperlihatkan bahwa jumlah individu mulai meningkat pada hulan
Desember dan mencapai puncak pada bulan Febman, kemudian cenderung menurun
bulan April dan tidak menunjukkan indikasi adanya peningkatan kembali. Kclimpahan
individu betina malang gonad Teluk Perancis mulai meningkat pada bulan Desember
dan mencapai puncak pada bulan Januari, kemudian menunm pada bulanAprii . Diduga
puncak belina malang gonad TKO rv di Teluk Perancis terjadi dua kati , karena ada
indikasi peningkatan pada bulan Juni . Bila d ibandingkan dengan infonnasi rekruitmen.
dimana tetjadi rekruitmen pada bulan November, Pebruari, dan Mei, mab diduga puncak
pemijahan kedua teljad i pada bulan September.
Kepiting bakau umumnya memijah di perairan laul. ARRIOLA & BRICK,
ya ng diacu olch SlAHAINENIA (2008) menyatakan bahwa kepiting bakau bertelur
akan bermigrasi dari perairan payau ke peraira n laut untuk memijah. Migrasi kepiting
bakau belina matang gonad ke peraira n la ut, merupakan upaya mencari perai ran yang

453

kondisinya cocok sebagai tempat memijah, inkubasi dan menetaskan telur. Dengan
demikian merupakanjuga upaya penjamin kelangsungan hidup embrio serta bagi larva
yang dihasilkan. Kecocokan te rsebut menurut KASRY (1996), !erutama terhadap
parameter suhu dan salinitas lingkungan. intensitas pemijahan tertinggi atau puncak
musim pemijahan kepiting bakau terjadi pada bulan Februari sampai April. Hal tersebut
berarti puncak musim pemijahan kepiting bakau terJadi pada akhir musim hujan sampai
menjelang awal musim panas. SIAHAlNENlA (2008) menduga hal ini dimaksudkan
untuk menjamin keterscdiaan pakan alami bagi larva yang akan ditetaskannya. Pada
musim hujan sejumlah besar zat hara dari daratan terangkut ke laut melalui aliran
sungai maupun aliran air tawar lainnya, sehingga produktifitas perairan menjadi lebih
tinggi. Kondisi ini ditunjang dengan intcnsitas cahaya matahari yang ti nggi pada musim
panas, yang menyebab"kan terjadinya fotosintesa fitoplankon. Kelimpahan fitoplankton
selanjutnya akan berdampak terhadap kehadiran zooplankton yang merupakan makanan
alami larva kepiting bakau. HASTUTI (1998), menyatakan bahwa telur tingkat akhir,
emhrio, dan larva kepiting bakau merupakan penghuni laut dengan media bersa1initas
tinggi (polihaline). Pada stadia ini kepi ting bakau bcrada dalam lingkungan media
dengan osmolaritas yang mantap yang mendekati isoosmotik dengan cairan internal
tubuhnya. Hal tersebut di atas berarti, mulai awal pembuahan sel lelur, kepiting bakau
sudah membutuhkan perairan dengan salinitas yang relatiftinggi.

Pola Pertumbuhan
Pola pertumbuhan kepiting bakau dianalisa menggunakan metode regresi dengan
melihat hubungan antara -lebar karapas kepiting bakau dengan bobot tubuhnya.
Hubungan panjang dan bobot S. serrata (a dan b) disajikan pada Tabel 2. Hasil uji t
m!ai b untukkepitingjantan maupun betina menunjukkan bahwa t.,;, lebih besar dibanding
t"",,1. sehingga dapa! dikatakan hubungan lebar karapas dcngan bobot S. serrata di
habitat mangrove TNK tidak isometrik. Perbedaan ini cukup signifikan dengan nilai
P<0,05.
Nilai b akan menjadi indikator yang mendeslaipsikan pola pertumbuhan kepiting
bakau, sedangkan dari nilai koefisien korelasi (rl) dapat diketahui keeratan hubungan
antara lebar karapas kepiting bakau dan hobot tubuhnya, sehingga dapat ditentukan
apakah individu dalam suatu populasi dapat diduga bobot tubuhnya dengan mengetahui
ukuran tubuhnya alau lidak. Nilai koefisien korelasi (r) 0,886-0,924 menunjukkan bahwa
terdapat hubungan yang cukup era! antara ukuran lebar karapas dengan hobol tubuhnya,
sehingga biomass populasi kepiting bakau dapat diduga dengan mengetahui ukuran
lebar karapasnya. Penelitian ALI et al. (2004) menunjukkan hubungan lebar karapashobot untuk S. serrata jan Ian di ekosistem mangrove di Khulna Bangladesh adalah W
= 0,0078 CWll>6. sedangkan pada S. serrala betina W "" 0,0078 CW! .l02!. Hubungan
lebar karapas dengan bobot pada induk betina S. serrata matang gonade di Estuari
Umlalazy Afrika Se!atan adalah Y = 0,0014 Xl.S6 (DAVIS et at. 2004).

454

Tabel 2. Parameter pertumbuhan Scylla serrala di habitat mangrove Taman


Nasional Kutai, 2009.
Table 2. Growth parameter of Scyf/a serrata in mangrove habitats of Kutai
National Park, 2009.
5 11110n

50.

"

' - L...

L.

t tC5t carapas width-weight of female crabs: t.... - 6.02056; t ...... - 3.1824; P - 0.009
t lest carapas widtb-weight of male crabs:
"" ., 3.3692; t...... - 3.1824; P .w:O.0434

Pola pertumbuhan (b), ya ng menggambarkan hubungan lebar karapas denga n


bobot, menunjukkan kepitingjantan mempunyai pola pertumbuhan aJJometrik positif
(b>3) atau pertambahan bobo! lebih cepat dibanding pertambahan lebar karapas. Pada
kepiting betina polanya allometrik negatif(b<3) alau pertambahan bobot \ebih lamba!
dibanding pertambahan lebar karapas. Pada kepi ting belina pola allometrik negatif
terjadi karena S. serrato belina menggunakan asupan makanan lebih banyak untuk
moulting dan proses kcrnatangan gonad (bertc1ur). Pertumbuhan kepiting betina
cenderung lebih ke arah lebar karapas karena kepiting belina akan moulting setiap
akan melalcukan proses kopulasi. Pada Scylla serrala jantan moulting lebih jarang
teljadi, asupan makanan cenderung digunakan untuk mernanjangkan dan membesarkan
chelae (capit), yang berperan penting pada proses perkawinan. ONYANGO (2002)
menyatakan, Scylla serrato jantan biasanya memiliki capi! sangat besar dibandingkan
dengan hetina dengan ukuran yang sarna dan lebih disukai oleh nelayan selarna lebar
karapas lebih dati 70 nun, hal ini bisa menghasilkan perbedaan ulruran yang signifikan
antara jantan dan helina. Oleh karena itu bi la berada pada ulruran lebar karapas yang
sama, kecenderunglln S. serrala jantan lebih besar bobotnya, karena capilnya
menambah bobot tubuhnya. KASRY (1996), menyalakan capit (che/a ) kepiti ng bakau
yang besar dan lruat memungkinkannya untuk menyerang musuh, atau merobek-robek
makanannya.
Allometri dati capit kepiringjantan dapat digunakan untuk menentukan ukuran
morfometrik jantan dewasa, sehingga dapat digunakan sebagai dasar pengeJolaan
konservasi (HALL et of. 2006). Analisis pertumbuhan secara allometri pada capit
dibanding ulruran tubuh (lebar karapas) dipakai untuk memperkirakan rata-rala awal
ulruran dewasa kepiling (WATfERS & HOBDAY 1998; BUENO & SHIMIZU 2009).
WALTON et of. (2006) menyatakan hubungan alometrik anlara linggi chela dan lebar
karapas me nunjukkan 50% kepitingjantan memperoleh kedewasaan chela pada lebar

455

karapas inlernal (Internal Carapace Width/IC W) to,2 cm. Ukuran capil yang besar
pada kepiling bakau janlan dewasa kelamin sangal berfungsi kelika mendekap alau
mengepil kepiling bakau heli na selama masa percumbuan yakn i kelika kedua individu
kepiting bakau ini he rada dalam posisi berpasangan (doublers), serta unluk membalik
tubuh kepiting bakau helina ketika proses kopulasi akan herlangsung (SlAHAINENlA
2008). Capit yang hesar juga dibutuhkan kepiling bakau jantan dewasa kelamin untuk
hertarung denganjantan lainnya dalam upaya mempcrtahankan wilayah kawin (matting
territory), mempertahankan dirinya sendiri serta melindungi dan mempertahankan betina
yang menjadi pasangan kawinnya, mengingat menjelang kopulasi kepiting bakau hetina
melakukan pergantian kulit (moulting) sehingga bertubuh lunak dan sangat rentan
terhada p serangan alau bahkan pcmangsaan dari kepiting bakau lainnya, karena sifat
kanibalisme yang dimilikinya (KASRY 1996).
Dengan menggunakan bantuan program Elefan dari FlSAT]J dipcro[eh nilai
dugaan kurva pcrtumbuhan von BertalanfTy ya ng meliputi panjang infiniti (l...c.o) dan
kecepalan pertumbuhan ( K). Paramete r pertumbuhan S. serrata di habitat mangrove
TNK dapat dilihat pada Tabel2. Hasi! analisis program Elefan memperlihalkan lebar
karapas maksimum yang dapa! dicapai berkisar an!ara 143155 mm dengan kecepatan
pertumbuhan (K) berkisar an tara 0,451,50. Kecepatan pertumbuhan kepiting he tina
lebih hesar dibandingkan kepitingjantan, karena kepiting helina lebih scring me!akukan
moulting dibanding kepitingjantan, sehingga cenderung lebih cepat mencapai r..,.,.LE
VAY el al. (2007) menemukan nilai K dari 170 ekor kepiting S paramamosai" yang
tertangkap kembali sebesar 2.39 (rt - 0,63) dengan ~ pada usia 0,0095 lahun.
Kecepatan pertumbuhan S. serrala di Muara Sangatta lebih linggi dibanding
lokasi lainnya. UmulTUlya kepiting yang ditangkap di Muara Sangatta berukuran helum
dewasa ke lamin (lebar karapas kurang dari 110 mm). WIJAYA (2010) menduga,
perbedaan nilai K S. serrata di tiga lokasi pengamatan tersebut disebabkan oleh
perbedaan ekologi dan ciri habitat mangrovcnya.
Menurut SIAHAlNENlA (2008) kepiting yang herukuran keeil memberikan
garis regresi ke arah slope yang lebih tajam, karena modus tertinggi yang dilalui garis
pertumbuhan lebih banyak pada kelompok kepiting kecil, sehingga nilai K menjadi hesar.
Kecepatan pcrtumbuhan S. serrala di Muara Sangkima menunj ukkan keeenderungan
yang relatiflebih kecil dibanding pada kedua lokasi lainnya. Hal ini berkaitan dengan
kondisi ukuran lebar karapas kepiting S. serrala ya ng ditemukan di wilayah tersebut
umumnya berukuran lebih dari dewasa keJamin, sehingga kecepatan pertumbuhannya
menjadi lebih lambat. Kepiting betina dewasa lebih banyak menggunakan energinya
untuk pe rt um buhan dan pe r kembangan gonad ( LAVINA yang d iae u oleh
S lAHAINENIA 2008). ONYANGO (2002) menyatakan S. serrata betina yang lebih
besar tertangkap selama aktif makan, sehingga memungkinkan mereka menyimpan
energi yang eukup untuk migrasi dan berte!ur.
Pola pertumbuhan S. serrala jantan di habitat mangrove TNK bersifat
a1!ometrik poslti f, sedangkan S. serrala betina bersifat al10metrik negatif. Kepiting S.
serrala mempunyai koefisien pertumbuhan (K) herkisar antara 0,45- 1,50. Koefisien

456

pertumbuhan S. serrato di Muara Sangatta lebih linggi dibanding lokasi lainnya. Tekanan
penangkapan kcpiting bakau S. serrata sudah berada di alas laju eksploitasi maksimal,
hanya d i lokasi Muara Sangkima tekanan penangkapan masih sedikil di bawaheksploitasi
maksimal. Distribusi lebar karapas S. serrata di zona tengah hutan mangrove, yang
dipcroleh dari hasil tangkapan alat pengait, umumnya bcrukuran lebih dari 100 mm,
dengan frekuensi langkapan tcrtinggi pada interval 109,5-129,5 mm. Ukurnn lebar ini
relatif lebih besar dibandingkan ukuran lebar karapas S. serrata di zona depan hulan
mangrove, dimana frekuensi langkapan lertinggi pada interval 78-89 mm, dan d i zona
perairan panlai, dimana frekuensi tangkapan leninggi pada interval 89,5-121,5 mm.
Kelimpahan individu betina matanggonad mencapai puncakpada bulan Januari, Februari,
dan Maret. Puncak kelimpahan yang kedua diduga lerjadi pada bulan Agustus dan
September.
Laju Morta litas
Mortalitas adalah angka kematian dalam populasi. Laju mortalitas adalah laju
kemalian, yangdidefinisikan sebagai jum[ah individu yang mati dalam saru saruan waktu.
Laju mortalitas total dapat disebabkan karena adanya laju mortalitas alami dan atau
laju mortalitas penangkapan. Laju mortalitas alami pada kepiting bakau disebabkan
karena kepiting bakau tidak pemah tcnangkap sehingga mati alami karena umur lua,
atau karena daya dukung lingkungan yang rendah, misalnya alObat perubahan lingkungan
yang ekslrim atau tidak tercukupinya makanan alamilkelaparnn (SPARRE & VENEMA
\999).
Analisis laju mortalitas kepiting bakau di lakukan dengan menggunakan eSlimasi
mortalitas dari FISAT-JI, yang didasarkan pada data lebar karapas kepiting bakau yang
tcrtangkap. Laju mortalitas lotal (Z) digambarkan sebagai nilai numerik dari kemiringan
(slope) garis regresi antara logaritma NIdI terhadap umur relatif kepiting yang
tertangkap, dan dihitung dan persamaan pertumbuhan VON BERTALANFFY yang
dikenal dcngan metooc kurva hasil langkapan. Nilai laju monalitas 101al, mortalitas
alami, dan mortalitas penangkapan disajikan pada Tabel3.
Tabel 3. Laju mo rta litas da n laju eksploitasi S. serrato.
Table 3. T he r ate of morta lity a nd t he rate of exploitation of S. serrata.

STATION
Muara Sangana
Teluk Pcraneis
Muara Sangkima

SEX

Male
Female
Male
Female
Male
Female

2.89
2.41
2.87
3.40
1.36
1.79

1.2584
1.0744
0.9430
1.1774
0.64177
0.85202

1.6316
1.3356
1.9270
2.2226
0.71823
0.93798

E
fa ktua l
0.5645
0.554
0.671
0.654
0.5281
0.5240

E max
0.457
0.407
0.606
0.555
0.555
0.516

457

Hasil analisis menunjukkan di ketiga lokasi umumnya tekanan penangkapan


(eksploitasi faktual) kepiting bakau S. serrata sudah berada di atas laju cksploitasi
maksimal, hanya kepiting jantan di lokasi Muara Sangkima yang laju eksploitasi
faktualnya masih sedikit di bawah eksploitasi maksimal (TabeI 3).
Tingginya kematian karcna penangkapan di Muara Sangatta diduga karena
adanya pemllkiman nelayan, sehingga aktifitas penangkapan cukup tinggi. Setain itu,
kondisi ekosistem mangrove Muara Sangatta juga tdah terdegradasi akibat tingginya
pembukaan mangrove untuk tambak. Arcallahan kritis di mangrove Muara Sangatta
mencapai:l: 440,3 ha. SlAHAINENLA (2008) pada penelitiannya di Kabupaten Sllbang
juga menemukan bahwa kelimpahan kepiting bakau terendah umumnya dijumpai pada
zona belakang hulan yang memiliki tingkat kerapatan vegetasi mangrove rendah, serta
berada di sekitar areal j>emukiman penduduk atau mendapat tekanan akibat tingginya
aktifi tas masyarakat.
Tingginya angka mortalitas penangkapan di Teluk Perancis diduga karena
penangkapan kepiting bakau di lokasi ini lebih banyak menggunakan alat tangkap pancingl
pengait. Teluk Peraneis memiliki hulan mangrove yang masih cllkup rapat, sehingga
alat tangkap yang sesuai digllnakan adalah pengail. Alat tangkap pengait cenderung
hanya menangkap kepiling yang berukuran besar saja, akibatnya hasi l perhitllngan
konstanta pertumbuhan (1<) mcnjadi keell, karena semakin besar kcpiling semakin lambal
pertllmbuhan lebar karapasnya. Nilai K merupakan salah satu variabcl yang dipakai
dalam formula llntukmenghitung mortalitas alami. Kecilnya nilai K akan mempengaruhi
nilai mortalitas alami (M) menj adi lebih keeil (PAULI yang diaeu oleh SPARRE &
VENEMA 1999), dan akibatnya nilai mortalitas penangkapan (F) eenderung menjadi
lebih besar. Selain ito, di Dusun Tetuk Lombok yang berdckatan dengan Telllk Perancis
juga eukup banyak penduduk, sehingga aktifitas penangkapanjuga menjadi lebih besar.
Laju penangkapan S. serrata di lokasi Muara Sangkima cenderung lebih rendah
dibanding kedua lokasi lainnya. Rendahnya tekanan penangkapan diduga karena lokasi
inijauh dari pemukiman penduduk. WALTON (yangdiacll oleh EWEL2008) menyatakan
bahwa poPlllasi Scylla serrata dapat mempunyai scharan ukuran yang berbeda karena
pcrbedaan kondisi lingkungan dan pola penangkapan. Maka EWEL (2008) menyarankan
peraturan lokal (local regulations) sebagai tambahan tarangan daerah (regiollal
restrictions ) mungkin layak (appropriate) untuk banyak wi layah di Indo-Pacific.
Pcmantauan populasi secara teratur dapat meningkatkan komunitas keeil tcrpisah
mengeiola sllmberdaya penting secara berke!anjutan.

KESIMPULAN
Pota pertumbllhan Scylla serrata jantan di habitat mangrove TNK bersifat
allomctrik positif, sedangkan S. serrata betina bersifat allometrik negatif. Koefisien
pertumbuhan (K) S. serrma berkisar an tara 0,45-1,50. Koefisien pertumbuhan S.

458

serrata di Muara Sangatta lebih tinggi dibanding lokasi lainnya. Tekanan penangkapan
kepiting bakau S. serrata sudah berada di atas laju eksploitasi maksirnal, hanya di
lokasi Muara Sangkima tekanan penangkapan masih sedikit di bawah eksploitasi
maksimal. Distribusi Icbar karapas S. serrata di zona tengah hutan mangrove, yang
dipcroleh dari hasiltangkapan alat pcngait, umumnya bcrukuran lebih dari 100 mm,
dengan frekuensi tangkapan tertinggi pada interval 109,5- 129,5 nun. Ukuran lcbar ini
relatiflebih besar dibandingkan ukuran lebar karapas S. serrata di zona depan hulan
mangrove, dimana frekucnsi langkapan tertinggi pada interval 78-89 nun; dan di zona
perairan panlai, dimana frekuensi langkapan tcrtinggi pada interval 89,5- 121 ,5 mm.
Kelimpahan individu helina matang gonad mcncapai puncak pada bulan-bulan Januari,
Februari dan Maret. Puncak kelimpahan yang kedua diduga terjadi pada bulan Agustus
dan September.

DAFTAR PUSTAKA

AFRIANTO, E. dan E. LIVIAWATY 1993. Pemeliharaan kepiting. Kan isi us.


Yogyakarta: 78 hal.
ALI, MY, D. KAMAL, S.M.M. HOSSAIN , M.A. AZAM, W. SAB81R, A.
MURSHIDA, 8 . AHMED and K. AZAM 2004. Biological studies of the
mud crab, Scylla serrala (Forskal) of the sundarbans mangrovc ecosystcm in
Khulna Region of Bangladesh. Pakistan Journal of Biological Sciences 7:
1981-1987.
BONINE, K.M., E.P. BJORKSTEDT, K.C. EWEL and M. PALeK 2008. Population
characteristic of the mangrove crab S. serrala (Dccapoda: Portunidae) in
Kosrae, Federation Statcs of Micronesia: Effect of harvest and implications
for management. Jurnal Pacific Science 62: 1- 19.
BUENO, S.L.S. and R.M. SHIMIZU 2009. Allometric growth, sexual maturity and
adult male chelae dimorphism in Aegla f ranca (Decapoda: Anomura:
AcgJidae). Journal of CnlSlacean Biology 29(3): 317-328.
CHOLIK , F. 1999. Review of mud crab culture research in Indonesia. Ac/AR
Proceedings No. 78. Proceedings of An International Scientific Forum
Held In Darwin, Australia, 21- 24 April 1997. Canberra. Australia: 14-20.
DAVIS, l A., GJ. CHURCHILL, T. HECHT and P. SORGELOSS 2004. Spawning
characteristics of the South African mudcrab Scylla serrata (Forskall) in
captivity. Journal of lhe World Aquacullure SocielY 35: t 21-133.

459

EFFEl\T()lE, M.J. 1979. Metode biologi perikanan. Yayasan Dewi Sri. Bogor: 112

"'I.
EWEL, K.C. 2008. Mangrove crab (Scylla serrata) populations may sometimes be
best managed locally. Journal of Sea Research 59: 114 - 120.
HALL, N.G , K.D. SMITH, S. de LESTANG and I.e. POTTER 2006. Does the
largest chela of the males of three crab species undergo an allometric change
that can be used to determine morphometric maturity ? ICES J. Mar. Sci. 63
(I): 140-150.
HASTUTI, S. 1998. Pertumbuhan embrio kep iting bakau, Scylla serrato, pada
beberapa tingkat salinitas media. (Thesis). Program Pascasarjana WB. Bogor.
HI LL B. J. 1975 . Abundance, breeding and growth of the crab Scylla serrato in two
South African estuaries. Marine Biology 32: 119-126.
KASRY, A. 1996. Budidoya kepiting bakau dan biologi ringkas. Pencrbit Bharata.
Jakarta. 93 haL
KEENAN, C.P., PIE DAVIE, and D. L. MANN. 1998. A Revision of the genus
Scylla De Haan, 1983 (Crustacea: Decapoda: Brachyura: Portunidae). The
Raffles Bulletin of Zoology 46 (I): 217-245.
LE VAY, L. 2001. Ecology and management of mud crab Scylla spp. Asian Fisheries
Science 14: 101-111.
LE VAY L., V. N. UT and M.E. WALTON 2007. Population ecology of the mud crab
Scylla paramamosain (Estampador) in an estuarine mangrove system; a markrecapture study. Marine Biology 151: 1127- 1135.
ONYANGO, S. D. 2002. The breeding cycle of Scylla serrata (ForskAl, 1755) at
Ramisi River estuary, Kenya. Wetlands Ecology and Management 10: 257263.
SPARRE, P. and S.C. VENEMA 1999. Introdu/csi pengkajian stok ikon trapis
buku-I manual (Edisi Terjemahan). Kerjasama Organisasi Pangan,
Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan Pusat Penelitian dan Pengembangan
Perikanan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Jakarta: 435 ha L
SIAHAfNENIA, L. 2008. Bioekologi kcpiting bakau (Scylla spp.) di ekosistem
mangrove Kabupaten Subang Jawa Bara!. Disertasj S3 . Sckolah Pascasarjana
IPo. Bogor.

BIOUXiI POP'Ul.o.SI K U ITING B ... KA U

TAMAN NASIONAL KUTAI [TNK]. 2005, Data dasar Taman Nasional Kulai.
Balai Taman NaslOnal Kutai. Bontang, Kalimantan Timur.
WATfERS, G andA.J. HOBDAY 1998. Anew method forestimating the morphometric
size at maturity of crabs. Can. 1. Fish. Aquat, Sci. 55(3): 704714.
WALTON, MARK E. , L. LE YAY, L.M. TRUONG, and V.N. UT 2006. Significance
of mangrove- mudflat boundaries as nursery grounds for the mud crab, Scylla
paramamosain. Marine Biology 149: 11991207.
WEBLEY, l .A.C., R.M. CONNOLLY and R.A. YOUNG 2009, Habitat selectivity of
megalopae and juvenile mud crabs (Scylla serrata): implications for
recruitment mechanism. Marine Biology 156: 891 899.
WIJAYA, NJ . 2010. Pengelolaan zona pemanfaatan ekosistem mangrove melalui
optimasi pemanfaatan sumberdaya kepiting bakau (Scylla serrata) di Taman
Nasional Kutai Provinsi Kalimantan Timur. Diserlasi S3. Mayor Pengelolaan
Sumberdaya Pesisir dan Lautan. Sekolah Pascasarjana, Institut Pertanian
Bogar. Manuscript.

461