Anda di halaman 1dari 40

Contoh makalah AUDIT SEKTOR PUBLIK

Posted on Mei 20, 2012 by olin


BAB I
PENDAHULUAN
Selama ini sektor publik tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi,
kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara. Keluhan
birokrat tidak mampu berbisnis ditujukan untuk mengkritik buruknya
kinerja perusahaan-perusahaan sektor publik. Pemerintah sebagai salah satu
organisasi sektor publik pun tidak luput dari tudingan ini. Organisasi sektor
publik pemerintah merupakan lembaga yang menjalankan roda
pemerintahan yang sumber legitimasinya berasal dari masyarakat. Oleh
karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada
penyelenggara pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya
pemerintahan yang bersih.
Pemerintahan yang bersih atau good govermance ditandai dengan tiga pilar
utama yang merupakan elemen dasar yang saling berkaitan. Ketiga elemen
dasar tersebut adalah partisipasi, transparansi dan akuntabilitas. Suatu
pemerintahan yang baik harus membuka pintu yang seluas-luasnya agar
semua pihak yang terkait dalam pemerintahan tersebut dapat berperan serta
atau berpartisipasi secara aktif, Jalannya pemerintahan harus
diselenggarakan secara transparan dan pelaksanaan pemerintahan tersebut
harus dapat dipertanggungjawabkan. Dalam bahasa akuntansi, akuntabilitas
(kemampuan memberikan pertanggungjawaban) merupakan dasar dari
pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan pemerintah tersebut memegang
peran yang penting agar dapat memenuhi tugas pemerintahan yang dapat
dipertanggungjawabkan kepada masyarakat dalam suatu masyarakat yang
demokratis.
Dalam negara demokrasi, pelaporan keuangan yang transparan merupakan
sesuatu yang dituntut oleh rakyat kepada pemerintahnya. Sebaliknya, dalam
negara demokrasi, pemerintah berkewajiban memberikan laporan keuangan
yang transparan kepada rakyat. Pemerintah demokratis harus bertanggung
jawab atas integritas, kinerja dan kepengurusan, sehingga pemerintah harus
menyediakan informasi yang berguna untuk menaksir akuntabilitas serta
membantu dalam pengambilan keputusan ekonomi, sosial dan politik.

Pemerintah adalah entitas pelapor (reporting entity) yang harus membuat


laporan keuangan dengan beberapa pertimbangan berikut:

Pemerintah menguasai dan mengendalikan sumber-sumber yang


signifikan.

Penggunaan sumber-sumber tersebut oleh pemerintah dapat


berdampak luas terhadap kesejahteraan ekonomi rakyat.

Terdapat pemisahan antara manajemen dan pemilikan sumber-sumber


tersebut.

Laporan keuangan yang dihasilkan oleh organisasi sektor publik pemerintah


merupakan instrumen utama untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik.
Akuntabilitas mengacu pada kewajiban perseorangan, suatu kelompok atau
suatu organisasi yang diasumsikan harus melaksanakan kewenangan
dan/atau pemenuhan tanggung jawab. Kewajiban tersebut meliputi :

Answering, usaha untuk memberikan penjelasan atau justifikasi untuk


pelaksanaan dan/atau pemenuhan tanggung jawab.

Reporting, pelaporan hasil atas pelaksanaan dan/atau pemenuhan.

Producing, asumsi kewajiban atas hasil yang dicapai.

Adanya tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabilitas


publik menimbulkan implikasi bagi manajemen sektor publik untuk
memberikan informasi kepada publik, salah satunya melalui informasi
akuntansi yang berupa laporan keuangan. Dilihat dari sisi internal organisasi,
laporan keuangan sektor publik merupakan alat pengendalian dan evaluasi
kinerja manajerial dan organisasi. Sedangkan dari sisi eksternal, laporan
keuangan merupakan alat pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai
dasar untuk pengambilan keputusan. Menurut GASB, tujuan laporan
keuangan sektor publik adalah:

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan fungsinya (demonstrating


accountability).

Melaporkan hasil operasi (reporting operating result).

Melaporkan kondisi keuangan (reporting financial condition).

Melaporkan sumber daya jangka panjang (reporting long live


resources).

Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor


publik mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik
serta value for money dalam menjalankan aktivitasnya serta untuk menjamin
dilakukannya pertanggungjawaban publik oleh organisasi sektor publik, maka
diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik tersebut. Audit yang
dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan, namun
perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi sektor
publik tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Audit Sektor Publik


2.1.1 Definisi audit sektor publik
Auditing merupakan suatu invetigasi independen terhadap aktivitas khusus.
Mekanisme audit merupakan suatu mekanisme yang menggerakkan
akuntanbilitas dalam pengelolaan sektor pemerintah, BUMN atau instan
pengelola aset negara, serta organisasi sektor publik lainnya sperti yayasan,
LSM, dan partai politik.
Suatu proses sistematik yang secara objektif terkait evaluasi bukti-bukti
berkenaan dengan asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi guna
memastikan derajat atau tingkat hubungan anatara asersi tersebut dengan
kriteria yang ada, serta mengomunikasikan hasil yang diperoleh kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.
Pengertian audit sektor publik menurut Indra Bastian adalah jasa
penyelidikan bagi masyarakat atas organisasi publik dan politikus
yang sudah mereka danai. Sedangkan pengertian audit sektor publik
menurut I Gusti Agung Raiadalah sebagai berikut: Audit sektor publik
adalah kegiatan yang ditujukan terhadap entitas yang menyediakan
pelayanan dan penyediaan barang yang pembiayaannya berasal dari

penerimaan pajak dan penerimaan negara lainnya dengan tujuan


untuk membandingkan antara kondisi yang ditemukan dengan
kriteria yang ditetapkan.
Dari pengertian di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa
audit sektor publik adalah pemeriksaan terhadap pemerintah yang dilakukan
untuk mengetahui pertanggungjawaban (akuntabilitas) atas pengelolaan
dana masyarakat (public money) yang bertujuan untuk membandingkan hasil
pencapaian program, fungsi atau kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Audit sektor publik di Indonesia dikenal sebagai audit keuangan negara. Audit
keuangan negara ini diatur dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang
Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab Keuangan Negara. Undangundang ini merupakan pengganti ketentuan warisan Belanda, yaitu Indische
Comptabiliteitswet (ICW) dan Instructie en verdere bepalingen voor de
Algemene Rekenkamer (IAR), yang mengatur prosedur audit atas
akuntabilitas pengelolaan keuangan oleh pemerintah.
Dari definsi tersebut, beberapa bagian perlu mendapatkan perhatian yaitu :
1)

Proses sistematik Audit merupakan aktivitas terstruktur yang

mengikuti suatu urutan yang logis.


2)

Objektivitas Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi yang

disediakan serta kualitas orang yang melakukan audit.


3)

Penyediaan dan evaluasi bukti Hal ini berkaitan dengan pengujian

yang mendasari dukungan terhadap asersi ataupun representasi.


4)

Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi Hal ini merupakan

deskripsi yang luas tentang subyek permasalahn yang diaudit.


5)

Derajat hubungan kriteria yang ada Hal ini berarti suatu audit

memberikan kecocokan antara asersi dan kriteria yang ada.


6)

Mengkomunikasikan hasil Agar bermanfaat hasil audit perlu

dikomunikasikan kepada pihak-pihak yang berkepentingan.


2.1.2 Regulasi dalam audit sektor publik

Untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan organisasi sektor


publik, keuangan organisasi harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang undang, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung
jawab dengan memperhatikan rasa keadilan serta kepatutan.
Keuangan negara wajib dikelola secara tertib, taat pada peraturan
perundang-undangan, efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan
bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan serta kepatuhan.
2.1.3 Audit sektor publik dan Sektor Bisnis
Audit sektor publik dan audit sektor bisnis berbeda atau sektor swasta.
Audit sektor publik dilakukan pada organisasi pemerintahan yang bersifat
niralaba seperti Pemda, BUMN, BUMD, instan lain yang berkaitan dengan
pengelolaan aset kekayaan negara, dan organisasi sektor publik lainnya
seperti yayasan, LSM, serta partai politik.
Sedangkan audit sektor bisnis dilakukan pada perusahaan milik swasta yang
berorientasi laba. Audit sektor publik dan sektor bisnis sama-sama terdiri dari
audit keuangan, audit kinerja, dan audit untuk tujuan tertentu.
1)

Persamaan sektor publik dengan sektor swasta

Memberikan informasi mengenai posisi keuangan dan hasil operasi.


Mengikuti prinsip-prinsip dan standar akuntansi yang diterima
umum;Objectivity, Cosistency, Materiality, Full Disclosure.
Merupakan bagian integral sistem ekonomi di suatu negara.
Menghadapi masalah kelangkaan sumber daya (scarcity of resources).
Proses pengendalian manajemen, termasuk manajemen keuangan;
membutuhkan informasi yang handal dan releven untuk melaksanakan fungsi
manajemen.
Terikat pada peraturan perundangan dan ketentuan hukum.
2)

Perbedaan sektor publik dengan sektor swasta

Segi kegiatan dan tujuan.

Dalam Akuntansi Pemerintahan terdapat perkiraan anggaran (budgetary


accounting) yang tidak ada dalam akuntansi komersial.
Akuntansi pemerintahan menggunakan akuntansi dana. Dalam akuntansi
komersial, semua aset, kewajiban dan ekuitas merupakan bagian dari satu
dana.
Dalam akuntansi pemerintahan, pengeluaran modal dilaporkan dalam
laporan operasional maupun neraca yang dalam akuntansi komersial tidak
dilaporkan dalam laporan operasional.
Akuntansi pemerintahan sangat dipengaruhi oleh peraturan-peraturan
pemerintah sehingga bersifat lebih kaku (kurang fleksibel) dibandingkan
dengan akuntansi komersial.
3)

Perbedaan sifat dan karakteristik organisasi sektor publik dengan

sektor swasta

Perbedaan

Sektor publik

Sektor swasta

Tujuan organisasi

Nonprofit motive

Profit motive

Pembiayaan internal:
modal sendiri, laba
ditahan, penjualan aktiva

Sumber pendanaan

Pajak, retribusi,
utang,obligasi
pemerintah, laba
BUMN/BUMD, penjualan
aset negara, dsb

Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban
kepada masyarakat
(publik) dan parlemen
(DPR/DPRD)

Pertanggungjawaban
kepada pemegang saham
dan kreditor

Struktur organisasi

Birokratis, kaku, dan


hierarkis

Fleksibel: datar, piramid,


lintas fungsional, dsb

Karakteristik anggaran

Terbuka untuk publik

Tertutup untuk publik

Pembiayaan eksternal:
utang bank, obligasi,
penerbitan saham

Sistem akuntansi

Laporan keuangan

Cash accounting

Accrual accounting

Neraca, aliran kas dan


laporan realisasi
Neraca, aliran kas,
anggaran, catatan atas
laporan rugi laba dan
laporan keuangan
laporan perubahan modal

Standar akuntansi

Pernyataan standar
akuntansi pemerintah

Pernyataan standar
akuntansi keuangan

Auditor

Auditor sektor publik

Kantor akuntan publik

Standar audit

Standar pemeriksaan
akuntansi sektor publik

Standar pemeriksaan
akuntan publik

2.1.4 Jenis-jenis audit sektor publik


Jenis-jenis audit sektor publik yang dilaksanakan atas kegiatan yang
tercermin dalam APBN, APBD, kegiatan BUMD/BUMN, serta kegiatan yayasan,
LSM, atau partai politik. Penetapan tujuan untuk menentukan jenis audit yang
akan dilaksanakan, serta standar audit yang harus diikuti oleh auditor
merupakan awal.
Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN, terdapat tiga jenis audit
keuangan negara, yaitu:
1)

Audit keuangan, merupakan audit atas laporan keuangan yang

bertujuan untuk memberikan keyakinan yang memadai (reasonable


assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan secara wajar, dalam
semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip
akuntansi yang berlaku umum di Indonesia. Audit keuangan adalah audit
yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan pengendalian keuangan berjalan
secara efisien dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi serta dicatat
secara benar.

2)

Audit kinerja, meliputi audit ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, pada

dasarnya merupakan perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan
prosedurnya. Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakantindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja
entitas atau fungsi yang diaudit. audit kinerja merupakan perluasan dari
audit keuangan dalam hal tujuan dan prosedurnya. Audit kinerja
memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Audit
kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara
independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian
hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan
hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah
dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta
mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.
Perbandingan antara audit kinerja dengan audit keuangan adalah sebagai
berikut:

Perbandingan Audit Keuangan dengan Audit Kinerja

Audit Keuangan

Audit Kinerja

Objek audit: laporan keuangan

Objek audit: organisasi, program,


aktivitas/ kegiatan, atau fungsi

Menguji kewajaran laporan keuangan


dari salah saji yang material dan
kesesuaiannya dengan prinsip
akuntansi yang diterima umum

Menguji tingkat ekonomi, efisiensi,


dan efektivitas dalam penggunaan
sumber daya untuk mencapai tujuan

Lebih bersifat kuantitatif keuangan

Lebih bersifat kualitatif

Tidak terlalu analitis

Sangat analitis

Tidak menggunakan indikator kinerja,

Membutuhkan indikator, standar, dan

standar, dan target kinerja

target kinerja untuk mengukur kinerja

Biasanya tidak mempertimbangkan


analisis biaya manfaat

Biasanya mempertimbangkan analisis


biaya-manfaat (cost-benefit analysis)

Waktu pelaksanaan audit tertentu


(biasanya pada akhir periode akuntansi) Audit bisa dilakukan sewaktu-waktu

Audit dilakukan untuk peristiwa


keuangan masa lalu (post event)

Mempertimbangkan kinerja masa lalu,


sekarang, dan yang akan datang

Tidak dimaksudkan untuk membantu


Dimaksudkan untuk memperbaiki
melakukan alokasi sumber daya secara alokasi sumber daya secara optimal
optimal
dan memperbaiki kinerja

Tidak terdapat rekomendasi audit


danfollow-up audit

3)

Terdapat rekomendasi audit


dan follow-up audit

Audit dengan tujuan tertentu, merupakan audit khusus di luar audit

keuangan dan audit kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas
hal yang diaudit. Audit dengan tujuan tertentu dapat bersifat
eksaminasi(examination), reviu (review), atau prosedur yang
disepakati (agrees-upon procedures). Audit dengan tujuan tertentu
mencakup audit atas hal-hal lain di bidang keuangan, audit investigatif, dan
audit atas sistem pengendalian internal.
2.1.5 Audit keuangan sektor publik
Secara spesifikasi pendefinisian audit atas laporan keuangan dapat
ditemukan sbb:
Tujuan penguji atas laporan keuangan oleh auditor adalah

Ekspresi suatu opini secara jujur tentang posisi keuagan.

Hasil operasi.

Arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi.

Laporan auditor merupakan media mengepresikan opini auditor atau dalam


kindisi tertentu dalam mrnyangkal opini.
Perbandingan antara definis audit laporan keuangan tersebut dengan
definis audit secara umum dapat mengungkapkan aspek esensial audit
keuagan sbb:
1)

Proses sistematik secara objektif.

2)

Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi.

3)

Derajat atau tingkat hubungan.

4)

Hasil audit atas laporan keuangan dikomunikasikan dalam suatu

pelaporan audit.
Audit atas hal yang berkaitan dengan keuangan meliputi sbb:
1)

Segmen laporan keuangan

2)

Pengendalian internal

3)

Pengendalian atau pengawasan internal

4)

Ketaatan terhadap peraturan UU yang berlaku.

2.2 Sistem Audit Keuangan Sektor Publik


1)

Pemeriksaan Siklus Pendapatan


Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk mengungkapkan ada

tidaknya salah saji yang material dalam proses Pendapatan


Daerah/Organisasi, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lain-lain yang sah.
Jenis koreksi pembukuan yang harus dilakukan atas pendapatan adalah
sebagai berikut:
1. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo awal tahun
anggaran/sisa perhitungan anggaran tahun lalu.

2. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian pendapatan daerah.


3. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo akhir tahun anggaran
sisa perhitungan anggaran tahun perhitungan.
4. Kesalahan penyajian dalam daftar lampiran perhitungan anggaran
tahun anggaran perhitungan.
5. Kesalahan yang wajib dikoreksi oleh auditor, yang terdiri atas:

Kesalahan pembukuan (kekeliruan pencatatan).

Kesalahan pembebanan.

Kesalahan penjumlahan dan pengurangan angka (aritmatika).

2)

Pemeriksaan Siklus Belanja


Tujuan audit siklus belanja adalah untuk memperoleh bukti mengenai

masing-masing asersi yang signifikan, yang berkaitan dengan transaksi dan


saldo siklus belanja.
1. Berbagai proses dan keputusan untuk memperoleh barang dan jasa
yang diperlukan dalam pelaksanaan kegiatan organisasi sektor publik.
Dua kelompok transaksi utama dalam siklus ini adalah transaksi
pembelian dan pengeluaran kas. Kedua transaksi tersebut
mempengaruhi berbagai akun berikut:

Kas,

Persediaan barang habis pakai,

Aktiva tetap,

Aktiva lain-lain,

Utang.

1. Risiko bawaan pos belanja organisasi sektor publik pada banyak


organisasi sangatlah tinggi. Ada berbagai faktor yang menyebabkan
tingginya risiko bawaan siklus belanja ini, yaitu:

Volume transaksi yang selalu tinggi,

Pembelanjaan dan pengeluaran tanpa otoritasi yang dapat terjadi,

Pembelian aset yang tidak perlu,

Masalah akuntansi yang berkembang.

1. Tingginya volume transaksi akan memperbesar kemungkinan


terjadinya salah saji. Semakin tinggi volume transaksi, semakin tinggi
kemungkinan kesalahan pencatatan transaksi tersebut. Disamping itu,
juga ada kemungkinan bahwa organisasi sektor publik melakukan
pembelian aset yang tidak perlu.
2. Tingginya risiko bawaan siklus belanja menyebabkan banyak organisasi
sektor publik memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian
internal siklus belanja untuk mencegah dan mendeteksi salah saji.
Seperti siklus pendapatan, pengujian pengendalian umumnya tidak
mengurangi risiko pengendalian asersi hak dan kewajiban. Jadi, auditor
dapat menggunakan kombinasi strategi risiko pengendalian yang
ditetapkan lebih rendah dan pengujian subtantif.
3. Pengujian pengendalian tergantung pada pertimbangan biaya manfaat.
Auditor harus membandingkan biaya melakukan pengujian
pengendalian internal degnan penghematan yang diperoleh akibat
berkurangnya pengujian substantif.
3)

Pemeriksaan Aktiva Tetap


Aktiva tetap merupakan aset/harta yang dimiliki oleh organisasi sektor

publik yang digunakan dalam kegiatan operasi organisasi. Tujuan audit aktiva
tetap adalah untuk memperoleh bukti tentang setiap asersi signifikan yang
berkaitan dengan transaksi dan saldo aktiva tetap. Audit atas aktiva tetap
sangat penting karena biasanya aktiva tetap merupakan aset/kekayaan
terbesar yang dimiliki oleh suatu organisasi sektor publik.
4)

Pemeriksaan Jasa Personalia

Siklus jasa personalia sangat penting karena masalah gaji, pajak penghasilan
pegawai, dan biaya ketenagakerjaan lainnya merupakan komponen biaya
utama di hampir semua entitas.
5)

Pemeriksaan Siklus Investasi (Pembiayaan)

Investasi ini pada umumnya merupakan bagian dari strategi jangka panjang
suatu organisasi sektor publik. Jangka waktu investasi sementara tidak lebih
dari satu periode akuntansi. Risiko salah saji pada transaksi investasi
organisasi sektor publik umumnya rendah karena jarangnya transaksi yang
terjadi.
6)

Pemeriksaan Siklus Saldo Kas

Saldo kas berasal dari pengaruh kumulatif siklus belanja, siklus investasi, dan
siklus jasa personalia. Tujian audit saldo kas adalah untuk memperoleh bukti
tentang masing-masing asersi yang signifikan, ynag berkaitan dengan
transaksi dan saldo kas. Tujuan audi ditentukan berdasarkan kelima kategori
asersi laporan keuangan:

Asersi keberadaan dan keterjadian

Asersi kelengkapan

Asersi hak dan kewajiban

Asersi penilaian dan pengalokasian

Asersi pelaporan dan pengungkapan

2.3 Siklus Audit Keuangan Sektor Publik


Terdapat 17 siklus dalam audit keuangan sektor publik:
2.3.1 Perencanaan audit keuangan
Standar pertama dari GAAS (General Accepted Auditing Standard) di
Indonesia SPAP untuk audit lapangan adalah perencanaan yang memadai.

Berikut adalah tiga alasan utama mengapa seorang auditor harus


mempersiapkan rencana kontrak kerja yang tepat sehingga (1) auditor dapat
memperoleh cukup bukti kompeten untuk kondisi yang ada, (2) membantu
menjaga agar biaya audit yang dikeluarkan tetap wajar, (3) serta
menghindari kesalah pahaman dengan klien.
Perencanaan audit awal melibatkan empat hal, yang semuanya harus
dilakukan terlebih dahulu dalam audit. Keempatnya adalah sebagai berikut:
(1) Auditor harus memutuskan apakah akan menerima seorang klien baru
atau melanjutkan pelayanan untuk klien yang telah ada sekarang, (2) Auditor
harus mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau membutuhkan
audit, informasi ini akan mempengaruhi bagian lain dari proses perencanaan,
(3) Auditor memperoleh pemahaman klien tentang cara-cara penugasan
untuk menghindari kesalahpahaman. (4) Dipilihnya staf untuk penugasan,
termasuk bila dibutuhkannya spesialis audit.
Merancang pendekatan audit
1)

Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal,

2)

Memahami bisnis dan industri klien,

3)

Menilai resiko bisnis klien,

4)

Menetapkan meterialitas, dan menilai resiko akseptabilitas audit serta

resiko inhern,
5)

Memahami pengendalian intern, dan menilai resiko pengendalian,

6)

Menyusun seluruh rencana serta program audit.

Tahap selanjutnya dalam suatu laporan keuangan adalah melaksanakan


pengujian audit. Tahap ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan
lapangan. Tahap terakhir dari suatu audit adalah laporan temuan. Pada tahap
ini harus dilaksanakan standar umum dan standar pelaporan dari standar
auditing.
Tahap perencanaan audit menurut Indra bastian (2010):
1)

Pemahaman atas sistem akuntansi keuangan sektor publik.

Hal ini sangat penting karena saat ini audit sektor publik tidak lagi berfokus
pada laporan realisasi anggaran saja tetapi juga laporan keuangan lainnya.
2)

Penentuan tujuan dan lingkup audit

Dalam menentukan tujuan dan ruang lingkup, auditor harus memastikan


bahwa tujuan dan ruang lingkup audit yang ditetapkan telah sesuai dengan
mandat serta wewenang lembaga audit dan pengawas yang bersangkutan.
3)

Penilaian resiko

Kegiatan audit dilaksanakan melalui berbagai pengujian yang mengandung


resiko kesalahan, sehingga penilaian risiko pengendalian (control risk), risiko
bawaan (inherent risk), dan risiko deteksi (detection risk) harus dilakukan.
4)

Penyusunan rencana audit

Suatu rencana audit harus disusun berdasarkan tahapan kegiatan


perencanaan audit.
2.3.2 Penetapan regulasi audit keuangan
Bagian ini penting dalam proses audit karena dibutuhkan aturan
untuk memberikan arahan yang jelas, dan sebagai kontrol agar pelaksanaan
audit laporan keuangan bisa memberikan opini yang tepat.
2.3.3 Penyusunan perencanaan audit tahuann oleh lembaga auditor
Setelah ditetapkan aturan dan regulasi langkah selanjutnya adalah
menyusun perencanaan. Perencanaan audit yang matang akan sangat
menentukan kesuksesan audit.
2.3.4 Temu rencanaan audit tahunan
Setelah lembaga auditor selesai menyusun perencanaan audit
tahunan, kemudian mereka bertemu dengan kepala atau pimpinan organisasi
sektor publik untuk membicarakan perencanaan audit yang sudah disusun.
2.3.5 Penerbitan regulasi tentang tim dan kebijakan audit tahunan

Regulasi yang ditetapkan dalam tahap ini menyangkut tim atau


personel yang akan melakukan audit terhadap organisasi sektor publik
maupun regulasi dalam menjalankan proses audit.
2.3.6 Penerimaan regulasi organisasi yang akan diaudit
Kemudian regulasi yang telah diterbitkan tersebut akan diterima oleh
lembaga pemeriksa sehingga bisa melakukan proses audit di lembaga atau
organisasi sektor publik.
2.3.7 Survei awal karakter industri/organisasi yang akan diaudit
Tahapan selanjutnya dalam siklus audit audit sektor publik ini adalah
survei awal terhadap karakter industri/organisai yang akan diaudit.
2.3.8 Pembuatan program audit
Untuk setiap area yang diaudit, auditor harus menyusun langkahlangkah audit yang akan dilakukannya. Langkah-langkah ini tertuang dalam
program audit.
Suatu program audit akan berisi:

Tujuan audit untuk setiap area

Prosedur audit yang akan dilakukan

Sumber bukti audit

Deskripsi mengenai kesalahan (error).

2.3.9 Penerbitan surat tugas audit


Pihak organisasi sektor publik segera mengeluarkan surat tugas
kepada lembaga pemeriksa untuk melaksanakan audit.
2.3.10 Pelaksanaan audit keuangan
Dalam melaksanakan audit keuangan, auditor melakukan hal-hal berikut:
1)

Menilai Pengendalian Internal

Suatu proses yang dijalankan oleh eksekutif didesain untuk memberikan


keyakinan yang memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut:
1. Keandalan atau reliabilitas laporan kkeuangan.
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
3. Efektivitas dan efisiensi operasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang dirancang oleh organisasi sektor
publik untuk menjaga aset yang dimiliki agar terbebas dari kecurangan dan
penyalahgunaan. Hal inilah yang disebut sebagai pengendalian internal.
Jenis-jenis pengendalian internal:
1. Organisasi
Penyerahan wewenang dan tanggung jawab, termasuk jalur pelaporan
untuk semua aspek operasi dan pengendaliannya, harus disebutkan secara
rinci dan jelas.
1. Pemisahan tugas
Salah satu fungsi utama pengendalian adalah pemisahan tugas dan
tanggung jawab. Apabila kedua hal tersebut digabungkan, maka seseorang
dapat saja mencatat dan memproses sebuah transaksi secara lengkap.
1. Fisik
Pengendalian ini berhubungan dengan supervisi aset. Prosedur dan
keamanan yang memadai harus dirancang untuk memberi keyakinan bahwa
akses langsung maupun tidak langsung melalui dokumentasi aset terbatas
pada personel yang berwenang.
1. Persetujuan dan Otorisasi
Seluruh transaksi harus diotorisasi atau disetujui oleh orang yang tepat.
Batas wewenang juga harus dijelaskan.
1. Akuntansi

Pengecekan atas keakuratan catatan, penghitungan jumlah total,


rekonsiliasi, pemakaian nomor rekening, , jurnal, dan akuntansi untuk
dokumen.
1. Personalia
Keberadaan prosedur akan menjamin penempatan personel yang sesuai
dengan kemampuan dan tanggung jawabnya.
1. Supervisi
Setiap sistem pengendalian internal harus mencakup supervisi oleh
atasan yang bertanggung jawab terhadap transaksi dan pencatatannya
sehari-hari.
1. Manajemen
Ini adalah pengendalian yang dilakukan oleh manajemen diluar tugas
rutinnya, yang meliputi pengendalian secara keseluruhan oleh fungsi
pengendalian internal dan prosedur review khusus lainnya.
2)

Melakukan Prosedur Analtis

Prosedur analisis adalah pengevaluasian informasi keuangan yang dilakukan


dengan mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan
data nonkeuangan.
Prosedur analitis akan membantu auditor dengan mendukung dan
meningkatkan pemahamannya tentang operasi organisasi yang diaudit.
Prosedur analitis juga membantu auditor dalam mengidentifikasi hubungan
yang tidak sewajarnya dan fluktuasi data yang tidak diharapkan.
Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur
analitis, yaitu:
1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang akan dibuat
2. Mengembangkan ekspektasi
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan

4. Menganalisi data
5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan yang tidak diharapkan yang
signifikan
6. Menentukan pengaruh perbedaan atau penyimpangan terhadap
perencanaan audit.
2.3.11 Pembuatan daftar temuan
Setelah melakukan kegiatan pelaksanaan audit, auditor biasanya
mendapatkan temuan-temuan terkait dengan keuangan klien. Temuantemuan tersebut kemudian didaftar sebagai bukti dalam penyampaian
pendapat nantinya.
2.3.12 Pembicaraan awal tentang daftar temuan
Berdasarkan temuan-temuan di lapangan , kemudian auditor melakukan
pembicaraan dengan pimpinan organisasi sektor publik terkait temuantemuan tersebut. Dalam tahapan ini, auditor akan melakukan crosscheck atas hasil temuannya dengan fakta yang terjadi di lapangan.
2.3.13 Penyusunan draft laporan hasil pemeriksaan
Setelah hasil temuan hasil auditor di bicarakan atau melakukan crosscheckdengan pejabat organisasi sektor publik, auditor kemudian menyusun
draft laporan hasil pemeriksaan.
2.3.14 Pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dengan
organisasi yang diaudit
Dalam tahapan ini, auditor memastikan apa yang telah di susun di dalam
draft laporan hasil pemeriksaan sudah selesai dengan fakta yang terjadi di
lapangan.

2.3.15 Penyelesaian laporan hasil pemeriksaan


Setelah melakukan pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dan di
pastikan kellengkapan serta kesepakatan mengenai draft tersebut sudah

tercapai, kemudian akan di lakukan penyelesaian atau finalisasi draft


tersebut menjadi laporan hasil pemeriksaan akhir.
2.3.16 Tindak lanjut temuan laporan hasil pemeriksaan
Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, auditor melakukan
tindak lanjut atau dengan kata lain, memberikan rekomendasi perbaikan
kepada organisasi sektor publik.
2.3.17 Penerbitan laporan hasil pemeriksaan
Tahapan terakhir dari siklus audit keuangan adalah penerbitan laporan hasil
pemeriksaan kepada pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap
organisasi yang telah di audit tersebut.
2.4 Tekhnik Audit Keuangan Sektor Publik
1)

Prosedur analitis (Analitycal Procedures)


Prosedur analitis terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan

diantra data. Prosedur ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio


sederhana, analisis vertikal, atau laporan persentase, perbandingan jumlah
yang sederhana dengan data historis atau anggaran, serta penggunaan
model matematis dan statistik, seperti analisis regresi.
Contoh prosedur analitis adalah membandingkan item belanja
menurut anggaran dan item realisasi belanja. Hasil perbandingan itu akan
menunjukan ada tidaknya penyimpangan jumlah realisasi belanja dari jumlah
yang dianggarkan sebelumnya.
2)

Inspeksi (Inspecting)
Inspeksi meliputi pemeriksaan yang rinci terhadap dokumen dan

catatan serta pemeriksaan sumber daya berwujud. Prosedur ini digunakan


secara luas dalam auditing. Inspeksi seringkali digunakan dalam
mengumpulkan dan mengevalusai bukti, baik bottom-up mapun topdown. Dengan melakukan inspeksi atas dokumen, auditor dapat menentukan
ketepatan persyaratan dalam faktur atau kontrak yang memerlukan
pengujian bottom up atas akuntansi transaksi tersebut. Pada saat yang

sama, auditor seringkali mempertimbagkan implikasi bukti dalam konteks


pemahaman faktor-faktor ekonomi dan persaingan entitas.
Contoh kegiatan inspeksi adalah pemeriksaan terhdap bukti-bukti
transaksi seperti rekening bank, kwitansi atau tanda terima lainnya untuk
mengevaluasi apakah transaksi yang dilakukan telah sesuai atau
menyimpang dari rencana dan anggaran yang telah ditetapkan.
3)

Konfirmasi (Confirming)

Kegiatan konfirmasi adalah bentuk kegiatan keterangan yang memungkinkan


auditor memperoleh informasi secara langsug dari sumber independen di luar
organisasi sektor publik yang di audit. Dalam kasus yang lazim, klien
(organisasi yang di audit) mengajukan permintaan kepada pihak luar secara
tertulis, namun auditor yang mengirimkan permintaan keterangan tersebut.
Contoh kegiatan konfirmasi adalah meminta keterangan kepada
bendahara pengeluaran terkait bukti-bukti transaksi pembelian atau
pengalokasian anggaran yang telah dilakukannya. Kegiatan ini akan
mengajukan apakah bukti transaksi tersebut fiktif atau benar adanya. Selain
keteranagn-keterangan lainya terkait bukti tersebut.
4)

Permintaan keterangan (Inquiring)

Kegiatan ini meliputi permintaan keterangan secara lisan maupun tertulis


oleh auditor. Permintaan keterangan tersebut biasanya ditunjukan kepada
manajemen atau karyawan organisasi sektor publik, yang umumnya berupa
pernyataan-pernyataan yang timbul setelah dilaksanakannya prosedur
analitis. Auditor juga dapat secara langsung meminta keterangan kepada
pihak external.
Contoh kegiatan permintaan keterangan adalah auditor meminta
keteragan bendahara pengeluaran atas ketidaksesuaian jumlah pengeluaran
(berdasarkan bukti transaksi yang ada) dengan jumlah anggaran yang telah
ditetapkan sebelumnya.
5)

Perhitungan (Counting)

Dua aplikasi yang paling umum adalah perhitungan (counting) adalah (1)
perhitungan fisik sumber daya berwujud, seperti jumlah kas dan persediaan

yang ada dan (2) akuntansi seluruh dokumen, dengan nomor urut yang telah
dicetak(prenumbered). Hal pertama menyediakan cara untuk mengevaluasi
bukti fisik tentang jumlah yang ada. sementara yang ke dua dapat dipandang
sebagai penyediaan cara untuk mengevaluasi pengendalian internal
organisasi melalui bukti yang objektif tentang kelengkapan catatan
akuntansi.
Contoh kegiatan perhitungan adalah auditor menghitung asset yang
telah dibeli bagian pengadaan berdasarkan bukti transaksi yang ada.
6)

Penelusuran (Tracing)

Dalam penelusuran seringkali disebut penelusuran ulang, auditor (1) memilih


dokumen yang dibuat pada saat transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan
bahwa informasi yang diberikan oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan
benar dalam catatan akuntansi (jurnal dan buku besar). Arah pengujian
prosedur ini berawal dari dokumen menuju ke catatan akuntansi, sehingga
menelusuri kembali asal-usul aliran data melalui sistem akuntansi.
Contoh kegiatan penelusuran adalah auditor membandingkan antara angka
yang tertera dalam kwitansi transaksi yang telah dilakukan dan jumlah angka
yang tertera dalam jurnal. Hal ini menunjukan apakah ada kesesuaian
penyajian, yaitu penyajian yang lebih rendah atau yang lebih tinggi.
7)

Pemeriksaan bukti pendukung (Vouching)


Pemeriksaan bukti pendukung meliputi (1) pemilihan ayat jurnal dalam

catatan akuntansi, dan (2) mendapatkan serta memeriksa dokumen yang


digunakan sebagai dasar ayat jurnal tersebut untuk menentukan validitas
dan ketelitian pencatatan akuntansi. Dalam melakukan vouching, arah
pengujian berlawanan dengan yang digunakan dalam penelusuran. Prosedur
pemeriksaan bukti pendukung digunakan secara luas untuk mendeteksi salah
saji berupa penyajian yang lebih tinggi dari yang sebenarnya dalam
pencatatan akuntansi.
Contoh kegiatan pemeriksaan bukti pendukung adalah auditor
memilih ayat jurnal Pembelian ATK dijurnal, kemudian membandingkanya
dengan kwitansi pembelian ATK tersebut atau tanda pembelianya.
8)

Pengamatan (observing)

Pengamatan berkaitan dengan memerhatikan dan menyaksikan


pelaksanaan beberapa kegiatan atau proses. Kegiatannya berupa
pemrosesan rutin atau jenis transaksi tertentu, seperti penerimaan kas,
untuk melihat apakah para pekerja sedang melaksanakan tugas yang telah
diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur organisasi sektor publik.
Pengamatan sangat terutama untuk memperoleh pemahaman atas
pengendalian internal.
Contoh kegiatan pengamatan adalah auditor mengamati kegiatan
bendahara gaji dalam menjurnal ketika mengeluarkan gaji kepada para
pegawai.
9)

Pelaksanaan ulang (Reforming)


Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang

perhitungan dan rekonsiliasi ynag dilakukan oleh organissasi sektor publik


yang di audit. Contohnya adalah menghitung ulang total jurnal, beban
penyusutan, dan lain-lain. Auditor juga dapat melakukan ulang beberapa
aspek pemrosesan transaksi tertentu untuk menentukan bahwa pemrosesan
awal sudah sesuai dengan pengendaliaan internal yang sudah dirumuskan.
Contoh kegiatan pelaksaaan ulang adalah auditor menghitung ulang
penyusutan kendaraan milik organisasi berdasarkan umur ekonomis yang
sebenarnya, kemudian dibandingkan dengan pencatatan beban peyusutan
kendaraan yang telah dilakukan.
10)

Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit

techniques)
Apabila catatan akuntansi organisasi sektor publik dilaksanakan
melalui media elektronik, maka auditor dapat menggunakan teknik ini untuk
membantu melaksanakan beberapa prosedur yang telah diuraikan
sebelumnya.
Contoh kegiatan audit berbantukan komputer adalah auditor dengan
bantuan komputer memeriksa angka-angka dalam file jurnal bendahara dan
membandingkanya dengan kwitansi pendapatan, dan bukti bukti transaksi
lainya.
11)

Pengujian pengendalian

Terdapat dua jenis pengujian pengendalian, yaitu:


1. Pengujian pengendalian yang berkaitan langsung dengan keefektifan
desain kebijakan atau posedur dan apakah benarbenar digunakan
dalam kegiatan organisasi
2. Pengujian pengendalian yang berkaitan dengan keefektifan kebijakan
dan prosedur serta bagaiman pengaplikasiannya, konsistensinya
dengan aplikasi terdahulu dan oleh siapa aplikasi itu dilaksanakan
selama satu periode.
Contoh kegiatan pengujian pengendalian adalah auditor
membandingkan dokumen SOP atau petunjuk teknis pegawai, dan
mengamati pelaksaannya dilapangan. Pengendalian akan dianggap baik jika
SOP atau petunjuk teknis mampu memberikan pedoman bagi pelaksanaan
tugas-tugas pegawai, pegawai mudah memahaminya dan
mengaplikasikannya pada setiap pekerjaanya secara konsisten.
12)

Pengujian substansif

Dua kateegori umum pengujian substansif adalah:


1. Prosedur analitis, yang merupakan prosedur dalam penyediaan bukti
bukti tentang validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca,
atau sebaliknya tentang kesalahan atau ketidak beresan yang terjadi;
2. Pengujian terinci atas transaksi atau neraca merupakan pengujian
untuk menyediakan bukti-bukti tentang validitas perlakuan akuntansi
atas transaksi dan neraca atau sebaliknya atas kesalah dan ketidak
beresan yang terjadi.
Contoh kegiatan pengujian substantive adalah auditor memeriksa
secara rinci angka dan jumlah transaksi yang telah terjadi,dimulaidari
memeriksa seluruh bukti tranaksi,catatan dalam jurnal, posting dalam buku
besar, hingga laporan yang telah jadi dengan demikian dapat ditemukan
apakah ada kesalah atau ketidak beresan.
2.5 Contoh Praktek Audit Sektor Publik Di Organisasi Sektor Publik
1)

Pemerintah Pusat

Audit atas pemerintah pusat ditujukan pada perolehan bukti audit yang
cukup dan tepat.
Sebagai contoh, akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan
pemerintah pusat maupun daerah sebagai organisasi sektor publik
merupakan tujuan penting dari reformasi akuntansi dan administrasi sektor
publik. Untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan keuangan pemerintah
yang telah dilakukan aparatur pemerintah , maka fungsi akuntabilitas dan
audit atas pelaporann keuangan sektor publik harus berjalan dengan baik.
Seiring dengan tuntutan masyarakat agar organisasi sektor publik
meningkatkan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik dalam
menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit yang tidak hanya terbatas pada
keuangan dan kepatuhan saja, tetapi perlu diperluas dengan melakukan audit
terhadap kinerja sektor publik.
2)

Pemerintah Daerah

Audit yang diselenggarakan atas kegiatan pemerintah daerah dapat dibagi


menjadi audit keuangan dan audit kinerja. Audit dapat mempunyai gabungan
tujuan audit keuangan dan audit kinerja, atau dapat juga mempunyai tujuan
yang terbatas pada beberapa aspek dari masing-masing jenis audit tersebut.
Sebagai contoh, pelaksanaan audit atas kontrak pemborongan pekerjaan
atau atas bantuan Pemerintah kepada yayasan atau badan hukum lainnya.
Tujuan audit semacam itu sering kali mencakup baik tujuan audit keuangan
maupun tujuan audit kerja.
Pemeriksaan atas pos pendapatan asli daerah mencakup:

Melakukan pengujian terhadap nilai realisasi pos

Melakukan verifikasi atas bukti-bukti penerimaan

Melakukan konfirmasi kepada instansi yang terkait dengan


pemungutan pajak

Mengetahui adanya kesalahan atau tidak atas penyetoran pendapatan

Melakukan koreksi

Melakukan pengujian.

3)

Di Indonesia ada dua jenis LSM. Pertama, LSM yang melakukan fungsi

kontrol masyarakat. Kedua, LSM yang melaksanakan program entitas.


Menjamurnya LSM terutama dipicu oleh persyaratan-persyaratan yang
diajukan oleh lembaga-lembaga keuangan internasional.
Sebagai contoh, bank dunia yang mensyaratkan perlunya entitas bekerja
sama dengan LSM dalam proyek yang akan dikucurkan dananya.
Dalam organisasi LSM dilakukan dua jenis audit:

4)

Audit kinerja keuangan

Audit kinerja nonkeuangan


Yayasan

Contohnya pelaksanaa audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas


bantuan pemerintah kepada yayasan atau badan hukum lainnya. Tujuan audit
semacam ini sering kali mencakup baik tujuan keuangan maupun tujuan
audit kinerja. Audit semacam ini umunya disebut audit kontrak.
5)

Partai Politik

Sama seperti organisasi-organisasi sektor publik lainnya, audit dalam


organisasi partai politik juga dibedakan menjadi dua, yaitu audit kinerja
keuangan dan audit kinerja nonkeuangan.

BAB III
KESIMPULAN
Selama ini sektor publik/pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai
sarang korupsi, kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan
negara, padahal sektor publik merupakan lembaga yang menjalankan roda
pemerintahan yang sumber legitimasinya berasal dari masyarakat. Oleh
karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada
penyelenggara pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya
pemerintahan yang bersih.

Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi


sektor publik mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas
publik serta value for money dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan
audit terhadap organisasi sektor publik tersebut. Akan tetapi, audit yang
dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan saja,
namun perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi
sektor publik tersebut.
Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan
kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi
yang diaudit. Audit kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk
memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan
penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas
dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan,
peraturan dan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja
yang telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta
mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.
Kemampuan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas) dari sektor
publik pemerintah sangat tergantung pada kualitas audit sektor publik. Tanpa
kualitas audit yang baik, maka akan timbul permasalahan, seperti munculnya
kecurangan, korupsi, kolusi dan berbagai ketidakberesan di pemerintahan.
Kualitas audit sektor publik dipengaruhi oleh kapabilitas teknikal auditor serta
independensi auditor baik secara pribadi maupun kelembagaan. Untuk
meningkatkan sikap independensi auditor sektor publik, maka kedudukan
auditor sektor publik harus terbebas dari pengaruh dan campur tangan serta
terpisah dari pemerintah, baik secara pribadi maupun kelembagaan.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Ketiga. Yogyakarta:


Penerbit Erlangga
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi. Yogyakarta.

http://www.google.com
http://id-jurnal.blogspot.com
http://suhardi.uap.ac.id

AUDIT SIKLUS PENGELUARAN


8 OCTOBER 2013 BY DEX SUAR

4.1SIFAT SIKLUS PENGELUARAN


Siklus pengeluaran (expenditure cycle) terdiri dari aktivitas-aktivitas
yang berkaitan dengan akuisisi dan pembayaran barang dan jasa.
Aktivitas utama dari siklus pengeluaran adalah 1). Membeli barang
dan jasa transaksi pembelian. 2) melakukan pembayaran transaksi
pengeluaran kas.
JURNAL
Debet
Debet
Kredit
Persediaan
barang
Usaha
Kas
Persediaan

baku
Pembelian
Retur pembelian
Biaya dibayar dimuka

Aktiva Tetap
Aktiva Lainnya

Kredit
dagangan

Hutang
bahan

Diskon pembelian

Pembelian

Pembayaran

Kas
4.2TUJUAN AUDIT SIKLUS PENGELUARAN
Manajemen akan menetapkan asersi implisit atau eksplisit tentang
transaksi dan saldo siklus pengeluaran dalam laporan keuangan
perusahaan. Asersi-asersi ini mendefinisikan tujuan audit spesifik dari
program audit siklus pengeluaran. Kebanyakan audit atas siklus
pengeluaran mencakup tujuan-tujuan utama tersebut, tetapi tidak
dimaksudkan untuk membahas semua situasi yang dihadapi klien.
Untuk mencapai tujuan audit spesifik tersebut, auditor menggunakan
bagian dari metode perencanaan dan pengujian audit.
Gambar 4.1 Tujuan Audit Spesifik Untuk Siklus Pengeluaran
Kategori
Asersi

Kelompok
Transaksi
Atau
Saldo

Eksistensi
atau
Kejadian

Transaksi

Kelengkapan

Transaksi

Saldo

Saldo
Hak dan
Kewajiban

Transaksi

Saldo
Penilaian

Transaksi

Tujuan Audit Spesifik

Mencatat pembelian barang, jasa, dan aktiva produk


yang diterima selama periode berjalan (EO1).
Mencatat transaksi pengeluaran kas yang dilakuka
selama periode berjalan kepada pemasok dan kredit
(E02).
Mencatat hutang usaha yang mencerminkan jumla
hutang perusahaan per tanggal neraca (E03).
Semua pembelian (Cl) dan pengeluaran kas (C2) yan
dilakukan selama periode beijalan telah dicatat.

Hutang usaha meliputi semua jumlah yang temtan


kepada pemasok barang dan jasa per tanggal nerac
(C3).
Perusahaan bertanggung jawab atas hutang yan
berasal dan pencatatan transaksi pembelian (Ri).
Hutang usaha merupakan kewajiban perusahaan per
tanggal neraca (R2).

Semua transaksi pembelian (VAI) dan pengeluaran ka

atau Alokasi

Saldo
Penyajian
dan
Pengungkap
an

Transaksi

Saldo

(VA2) telah dinilai dengan menggunakan GAAP dan


dijurnal, diikhtisarkan, serta diposting dengan benar.
Hutang usaha dinyatakan dalam jumlah yang ben
(VA3). Saldo beban yang berkaitan telah sesuai denga
GAAP (VA4).
Rincian pembelian (PD1) dan pengeluaran kas (PD
mendukung penyajiannya dalam laporan keuanga
termasuk kiasifikasi dan pengungkapannya yan
berkaitan.
Hutang usaha (PD3) dan beban terkait (PD4) tela
diidentifikasi dan dikiasifikasikan dengan benar dala
laporan keuangan.
Pengungkapan yang memadai yang telah dibu
berkaitan dengan komitmen, kewajiban kontinjen, da
penjaminan serta hutang pihak yang mempuny
hubungan istimewa (PD5).

4.3 PEMAHAMAN
BISNIS
KLIEN
UNTUK
MENGEMBANGKAN
STRATEGI AUDIT
Pemahaman Tentang Bisnis Dan Industri Akan Membantu
Auditor Dalam Memahami Risiko Bisnis Klien
Pemahaman tentang bisnis dan industri akan membantu auditor
dalam memahami risiko bisnis klien. Selain itu, pemahaman ini juga
akan membantu auditor dalam membuat pertimbangan tentang :
1. Materialitas
Materialitassiklus pengeluaran bagi pemakai laporan keuangan.
Siklus pengeluaran merupakan proses inti bagi banyak industri dan
mencerminkan jumlah serta volume transaksi dalam siklus ini di
mana risiko terjadinya salah saji yang material adalah tinggi.
Beberapa dari akun itu, seperti persediaan, properti, pabrik dan
peralatan, serta jenis beban utama yang secara individual dapat
bersifat material terhadap laporan keuangan. Dalam situasi ini,
auditor berusaha mencapai tingkat risiko yang rendah bahwa
transaksi siklus pengeluaran merupakan sumber terjadinya salah
saji yang material dalam laporan keuangan.
2.
Risiko inheren
Risiko inheren dalam siklus pengeluaran. Dalam menilai risiko
inheren untuk asersi-asersi siklus pengeluaran, auditor harus
mempertimbangkan faktor-faktor penting yang bisa mempengaruhi
asersi-asersi diseluruh laporan keuangan, serta faktor-faktor yang
hanya berkaitasn dengan asersi spesifik dalam siklus pengeluaran.

3.

Resiko Prosedur Analitis


Pengujian
analitis
merupakan
hal
yang
efektif
dalam
mengidentifikasi akun-akun siklus pengeluaran yang mengandung
salah saji. Resiko prosedur analitis merupakan resiko deteksi bahwa
prosedur tersebut akan gagal dalam mendeteksi kekeliruan dan
kesalahan pengujian.
Gambar 4-2 Prosedur Analisis yang Umum Digunakan dalam
Audit atas Siklus Pengeluaran
Rasio
Jumlah Hari
Perputaran
Hutang
Usaha

Rumus
Rata-rata
Hutang Usaha
Pembelian x 365

Harga
pokok
Penjualan
terhadap
Hutang
Usaha
Hutang
sebagai
porsentase
dari Total
Akttiva
Rasio
Lancar
(Curient
Ratio)

Harga Pokok
Penjualan
Hutang Usaha

Rasio Cepat
(Quick
Ratio)

Aktiva Moneter
Lancar
Kewajiban
Moneter Lancar

Hutang Usaha
Total Aktiva

Aktiva Lancar
Kewajiban
Lancar

Signifikansi Audit
Pengalaman sebelumnya atas jumlah hari
perputaran
hutang
usaha
dipadukan
dengan pengetahuan tentang pembelian
sekarang
dapat
bermanfaat
dalam
mengestimasi hutang periode berjalan.
Semakin
pendek
periode
dapat
menunjukkan masalah kelengkapan.
jumlah ini akan berubah sekitar persentase
yang sama dari tahun ke tahun, kecuali
perusahaan
mengubah
kebijakan
pembayarannya
Saldo hutang usaha di luar neraca
bermanfaat
dalam
membandingkannya
dengan data industri. Penurunan rasio ini
yang
signifikan
dapat
menunjukkan
masalah kelengkapan.
Kenaikan yang signifikan atas rasio lancar
dibandingkan dengan pengalaman tahun
sebelumnya dapat menunjukkan masalah
kelengkapan. Namun rasio ini juga dapat
dipengaruhi oleh perubahan akun aktiva.
Kenaikan yang signifikan atas rasio lancar
dibandingkan dengan pengalaman tahun
sebelumnya dapat menunjukkan masalah
ke1engkapan. Namun rasio ini juga dapat
dipengaruhi oleh perubahan akun aktiva.

Mempertimbangkan Komponen Pengendalian Internal


a. Lingkungan Pengendalian
Pemahaman tentang bagaimana manajemen bertanggungjawab
atas penggunaan sumber daya perusahaan merupakan hal yang
berguna untuk menentukan :

1.

Laporan yang digunakan manajemen untuk mengevaluasi


review kinerja peruahaan.
2. Seberapa sering dan seberapa cepat laporan manajemen
direview.
3. Keputusan yang didasarkan atas laporan itu.
4. Kebijakan perusahaan untuk menindaklanjuti masalah
yang berasal dari laporan utama.
b. Penilaian Risiko Manajemen
Penilaian risiko manajemen yang berkaitan dengan aktivitas
siklus pengeluaran meliputi pertimbangan atas hal-hal berikut :
Kemampuan perusahaan dalam memenuhi kebutuhan

arus kas untuk transaksi pembelian.


Kontinjensi kerugian yang berkaitan dengan komitmen

pembelian.
Terus tersedianya perlengkapan yang penting dan

stabilitas pemasok yang penting.


Pengaruh kenaikan biaya terhadap perusahaan.
Atensi perusahaan terhadap risiko terjadinya pembayaran

berganda.
Atensi perusahaan terhadap risiko kecurangan yang

dilakukan oleh pegawai.


c. Informasi dan komunikasi
Pemahaman atas sistem akuntansi memerlukan pengetahuan
tentang metode pemrosesan data dan dokumen serta catatan
penting yang digunakan dalam pemrosesan transaksi siklus
pengeluaran. Informasi penting yang harus dipahami auditor
meliputi :
Bagaimana pembelian, pembayaran, dan retur diawali.
Bagaimana transaksi pembelian diperhitungkan ketika
barang dan jasa diterima atau barang dikembalikan.
Catatan akuntansi, dokumen, akun, dan file komputer apa
yang digunakan dalam akuntansi untuk berbagai tahapan
dari setiap transaksi siklus pembelian.
Proses yang mengawali terjadinya pembayaran atas barang
dan jasa.
d. Pemantauan
Aktivitas pemantauan yang mengharuskan auditor mendapatkan
pengetahuan, apabila berlaku, mencakup :

o Umpan balik yang terus menerus dari pemasok perusahaan


menyangkut setiap masalah masalah pembayaran atau
masalah pengiriman di masa depan.
o Komunikasi dari auditor eksternal tentang kondisi yang
dapat dilaporkan atau kelemahan yang material atas
pengendalian internal yang relevan, yang ditemukan
selama audit sebelumnya.
o Penilaian periodik oleh auditor internal tentang kebijakan
serta prosedur pengendalian yang berhubungan dengan
siklus pengeluaran.
e. Penilaian awal atas risiko pengendalian
Auditor dapat melaksanakan beberapa pengujian pengendalian
secara berbarengan dengan prosedur untuk mendapatkan
pemahaman yang diperlukan. Dalam kasus ini, auditor dapat
memperoleh kepastian yang terbatas mengenai keefektifan
pengendalian bersangkutan. Bukti yang diperoleh dari pengujian
pengendalian secara berbarengan tersebut dapat mendukung
penurunan penilaian awal atas risiko pengendalian untuk asersiasersi terkait tertentu sedikit dibawah maksimum atau tinggi.
4.4 AKTIVITAS PENGENDALIAN-TRANSAKSI PEMBELIAN
Ada dua jenis pengendalian komputer, yaitu :
o Pengendalian umum, yang berkaitan dengan lingkungan
komputer dan yang mempunyai pengaruh pervasif terhadap
aplikasi komputer.
o Pengendalian aplikasi, yang berkaitan dengan setiap aplikasi
akuntansi yang terkomputerisasi, seperti siklus pengeluaran.
Dokumen Dan Catatan Yang Umum
Sejumlah dokumen dan catatan umum yang tercakup dalam siklus
pengeluaran Bagi perusahaan yang menggunakan sistem data-base,
catatan transaksi akan disimpan dalam suatu database dan auditor
perlu memahami tabel-tabel utama yang menggerakkan akses ke
informasi dalam sistem ini, serta bagaimana tabel-tabel tersebut
berkaitan satu sama lain. Meskipun demikian, dokumen dan catatan
berikut akan sering ditemukan dalam sebagian besar sistem
akuntansi:
Permintaan pembelian. Permintaan tertulis akan barang dan jasa
yang diajukan oleh orang atau departemen yang berwenang
kepada departemen pembelian.

Pesanan

pembelian.

Penawaran

tertulis

dari

departemen

pembelian kepada penjual atau pemasok untuk membeli barang


atau jasa sebagaimana tertulis dalam pesanan tersebut.
Laporan penerimaan. Laporan yang dibuat atas penerimaan
barang yang menunjukkan jenis dan kuantitas barang yang
diterima dari pemasok.
Faktur penjual. Tagihan dari pemasok yang menyebutkan jenis
barang yang dikirim atau jasa yang diberikan, jumlah yang harus
dibayar, termin pembayaran, serta tanggal tagihan tersebut.
Voucher. Suatu formulir internal yang menyebutkan nama
pemasok, jumlah yang harus dibayar, dan tanggal pembayaran
untuk pembelian yang telah diterima. Formulir ini digunakan untuk
mengotorisasi pencatatan dan pembayaran kewajiban. Banyak
sistem pembelian memerlukan paket voucher yang lengkap
sebelum menyetujui pembayaran. Paket voucher ini biasanya
berisi salian permintaan pembelian, pesanan pembelian, laporan
penerimaan, faktur penjual, dan voucher yang sesuaisemua
dokumentasi yang mendukung transaksi pembelian.
Laporan pengecualian. Laporan yang berisi informasi tentang
transaksi-transaksi yang diidentifikasi untuk diinvestigasi lebih
lanjut dengan pengendalian aplikasi komputer.
Ikhtisar voucher. Laporan yang berisi seluruh voucher yang
diproses dalam suatu batch atau selama hari itu.
Register voucher. Catatan akuntansi formal yang mencatat
kewajiban yang telah mendapat persetujuan untuk dibayar.
File induk pernasok yang telah disetujui. File komputer yang berisi
informasi tentang penjual dan pemasok yang telah disetujui untuk
membeli jasa dan serta melakukan pembayaran kepadanya.
File pesanan penibelian terbuka. File komputer tentang pesanan
pembelian yang telah dikirim ke para pemasok tetapi barang atau
jasa belum diterima.
File penerimaan. File komputer yang berisi informasi tentang
kuantitas persediaan yang diterima dari pemasok.
File transaksi pembelian. File komputer yang berisi data mengenai
voucher yang telah disetujui atas pembelian yang telah diterima.
File ini digunakan untuk mencetak register voucher dan
memutakhirkan file hutang usaha, persediaan, serta buku besar

File induk hutang usaha. File komputer yang berisi data tentang
voucher yang belum dibayar yang telah disetujui. File ini dapat
disusun oleh pemasok. File ini harus ditambahkan ke saldo dalam
akun pengendali hutang usaha.
File suspensi atau penolakan. File komputer yang menahan
transaksi-transaksi yang belum diproses karena ditolak oleh
program aplikasi komputer.
Fungsi-Fungsi
Pemprosesan transaksi pembelian mencakup fungsi-fungsi pembelian
berikut:
1. Pengajuan pembelian. Permintaan yang diajukan oleh
perusahaan untuk melakukan transaksi dengan perusahaan lain,
yang meliputi:
Pencantuman nama pemasok pada daftar pemasok yang

telah disetujui.
Pengajuan kembali permintaan barang dan jasa.
Pembuatan pesanan pembelian.

2. Penerimaan barang dan jasa. Penerimaan atau pengiriman fisik


barang atau jasa, yang mencakup:
Penerimaan barang
Penyimpanan barang yang diterima untuk persediaan.
Pengembalian barang ke pemasok.
3. Pencatatan kewajiban. Pengakuan formal oleh perusahaan atas
kewajiban hukum, yang meliputi:
Pembuatan voucher pembayaran dan pencatatan kewajiban.
Pertanggungjawaban atas transaksi yang telah dicatat.
4.5 AKTIVITAS PENGENDALIAN TRANSAKSI PENGELUARAN KAS
Dokumen dan Catatan Yang Umum
Dokumen dan catatan penting yang digunakan dalam pemprosesan
transaksi pengeluaran kas meliputi hal-hal berikut:
Cek. Perintah resmi kepada bank untuk membayar sejumlah uang
yang ditunjukkan pada perintah tersebut kepada payee.
Ikhtisar cek. Laporan total cek yang diterbitkan dalam batch atau
selama hari bersangkutan.

File transaksi pengeluaran kas. Informasi tentang pengeluaran


dengan cek kepada pemasok dan pihak lainnya. File ini digunakan
untuk pempostingan ke file induk hutang usaha dan buku besar.
Jurnal pengeluaran kas atau register cek. Catatan akuntansi formal
mengenai cek yang diterbitkan kepada pemasok dan pihak
lainnya
Fungsi-fungsi.
Fungsi pengeluaran kas adalah proses yang dilakukan perusahaan
sehubungan dengan penerimaan barang dan jasa dari pihak lain.
Fungsi pengeluaran kas biasanya meliputi pembayaran utang dan
pada saat yang bersamaan juga melakukan pencatatan pengeluaran
kas.
Pembayaran Utang dan Pencatatan Pengeluaran
Biasanya bendahara atau fungsi manajemen kas bertanggung jawab
untuk memutuskan voucher yang belum dibayar agar diproses
pembayarannya pada tanggal jatuhnya. Semua pembayaran harus
dilakukan dengan cek. Komputer bisa diprogram untuk memilih
voucher-voucher yang jatuh tempo pada setiap hari dari file induk
utang dagang dan laporan ini direview untuk menentukan utang nama
yang harus dibayar, dengan mempertimbangkan posisi pada kas.
Perolehan Pemahaman dan Penilaian Resiko Pengendalian
Auditor harus memperoleh pemahaman tentang siklus pembelian
yang mencukupi untuk merencanakan audit, yaitu auditor harus
memiliki pemahaman yang cukupa agar mampu mengidentifikasikan
jenis-jenis salah saji yang potensial, mempertimbangkan faktor-faktor
yang mempengaruhi risiko salah saji yang material, dan merancang
pengujian subtantif jika auditor merencanakan untuk menilai risiko
pengendalian pada tingkat yang rendah untuk suatu asersi.
Jika auditor merencanakan menilai resiko pengendalian pada tingkat
yang sedang atau tinggi, maka ia dapat menggunakan pengetahuan
tentang keefektifan pengendalian yang diperolehnya ketika
memahami pengendalian internal
Jika auditor merencanakan untuk menilai risiko pengendalian pada
tingkat rendah, maka ia biasanya harus (1) menguji keefektifan
pengendalian umum, (2) menggunakan teknik audit berbantuan

komputer (3) menguji keefektifan prosedur untuk menindaklanjuti


pengecualian yang diidentifikasi oleh pengendalian terprogram.
Pengujian subtantif atas saldo hutang usaha
Hutang usaha biasanya merupakan kewajiban lancar terbesar dalam
neraca dan merupakan faktor yang signifikan dalam mengevaluasi
solvensi jangka pendek perusahaan.

SIKLUS PENGELUARAN LANJUTAN


5.1PENENTUAN RISIKO DETEKSI UNTUK PENGUJIAN DETAIL
Utang dagang dipengaruhi oleh transaksi pembelian yang
menyebabkan bertambahnya saldo dan transaksi pengeluaran kas
yang menyebabkan berkurangnya saldo tersebut. Sehingga risiko
pengujian detil untuk asersi utang dagang dipengaruhi oleh risiko
bawaan, risiko prosedur analitis, dan faktor-faktor risiko pengendalian
yang ada pada kelompok transaksi tersebut. Tingkat risiko deteksi
diperlukannya bukti yang lebih meyakinkan untuk asersi-asersi
kelengkapan, penyajian dan pengungkapan dibandingkan dengan
asersi-asersi lainnya sesuai dengan metologi yang digunakan auditor
dalam menetapkan risiko.
5.2PERANCANGAN PENGUJIAN SUBSTANTIF
tingkat risiko deteksi yang dapat diterima untuk setiap asersi laporan
keuangan yang signifikan dicapai dengan mengumpulkan bukti dari
pengujian substantif yang dirancang secara tepat, termasuk prosedur
analitis dan pengujian rincian. Kerangka kerja umum untuk
mengembangkan program audit atas pengujian substantif
Perancangan pengujian subtantif meliputi :
5.3PROSEDUR AWAL
Pengujian audit selalu diawali dengan usaha mendapatkan
pemahaman tentang bisnis dan usaha klien. Pemahaman tentang
seberapa signifikan siklus pembelian dalam perusahaan klien.
Pemahaman tentang pemicu kemajuan ekonomi, luasnya bisnis pemasok.
Prosedur awal lainnya untuk pengujian substantif atas utang dagang
adalah melakukan penelusuran saldo awal ke kertas kerja tahun lalu, dan
menggunakan perangkat lunak audit digeneralisasi untuk memeriksa
selintas rekening utang dagang guna melihat kemungkinan adanya
pendebetan atau pengkreditan yang tidak biasa, dan untuk mendapatkan
daftar utang dagang per tanggal neraca beserta masing-masing saldonya.

5.4PROSEDUR ANALITIS
Tujuan auditor menerapkan prosedur ini adalah untuk menaksir
saldo utang dagang dan menetapkan hubungan antara utang dagang
dengan rekening-rekening kunci lainnya seperti pembelian atau
persediaan. Prosedur analitis yang dilakukan pada tahap akhir bertujuan
menjamin bahwa bukti yang dievaluasi dalam pengujian detil adalah
konsisten dengan gambaran menyeluruh yang dilaporkan dalam laporan
keuangan.
5.5PENGUJIAN DETIL TRANSAKSI
Dalam melaksanakan pengujian, auditor menitikberatkan pada
usaha medeteksi kurang saji dalam pencatatan utang dan utang yang
tidak dicatat. Seberapa luas pengujian tergantung pada tingkat risiko
deteksi pada masing-masing asersi-asersi bersangkutan.
1. Pencocokan
Utang
dalam
Pembukuan
ke
Dokumen
Pendukung
Dalam pengujian ini, pengkreditan dalam rekening utang
dagang dicocokkan ke dokumen pendukung yang ada pada arsip
klien, seperti faktur penjual, laporan penerimaan barang dan order
pembelian. Pendebetannya dicocokkan ke dalam dokumen
pengeluaran kas, seperti bukti pengeluaran cek, memo dari penjual
dan potongan lainnya. Pengujian ini akan menghasilkan bukti untuk
tujuan
audit
yang
berkaitan
dengan
empat
dari
lima
asersi,terkecuali asersi kelengkapan.
2. Pengujian Pisah Batas Pembelian
Bertujuan untuk memastikan bahwa pembelian yang terjadi di
seputar tanggal tutup buku telah dicatat pada periode yang tepat.
Pengujian ini biasanya dilakukan untuk masa lima sampai 10 hari
sebelum atau sesudah tanggal tutup buku. Bukti dari pengujian ini
berkaitan dengan asersi keberadaan atau ketersediaan dan asersi
kelengkapan utang dagang. Dalam melaksanakan pengujian ini
auditor harus menentukan bahwa pisah batas yang tepat telah
dilakukan pada saat klien melakukan perhitungan fisik persediaan
maupun dalam pencatatan transaksi pembelian
3. Pengujian Pisah Batas Pengeluaran Kas
Pengujian pisah batas pengeluaran kas dapat diperoleh
melalui observasi langsung atau review atas dokumen-dokumen
intern. Penelusuran juga dapat dilakukan dengan menelusuri cekcek dibayar dalam periode waktu beberapa hari sebelum dan

sesudah tanggal neraca ke tanggal pencatatan cek tersebut dalam


pembukuan. Bukti yang diperoleh dari pengujian ini juga berkaitan
dengan asersi-asersi keberadaan atau keterjadian dan asersi
kelengkapan utang dagang.
4. Pencarian utang tidak dicatat
Terdiri dari prosedur-prosedur yang dirancang secara khusus
untuk mendeteksi kewajiban per tanggal neraca yang dicatat.
5. Pembayaran kemudian.
Pemeriksaan atas pembayaran-pembayaran kemudian terdiri
dari pemeriksaan atas cek-cek yang diterbitkan atau voucher yang
dibayar setelah tanggal neraca. Pengujian ini dilakukan sampai
dengan akhir tanggal pekerjaan lapangan untuk memperbesar
kemungkinan memperoleh bukti tentang utang secara sengaja atau
kurang teliti sehingga tidak dimasukkan kedalam utang pada
tanggal laporan keuangan.
6. Prosedur-prosedur lain.
Dokumen-dokumen pendukung utang yang telah dicatat,
tetapi masih belum dibayar sampai tanggal terakhir pekerjaan
lapangan juga harus diperiksa dengan pengujian. Prosedur-prosedur
yang bisa membawa pada pembuktian adanya hutang tidak dicatat,
meliputi: menyelidiki order pembelian yang tidak lengkap dokomen
pendukung lainnya,
mengajukan pertanyaan pada personil
akuntansi dan pembelian tentang utang yang tidak dicatat,
mereview anggaran aktiva tetap,perintah kerja dan kontrak
pembangunan untuk mencari bukti adanya utang yang tidak
dicatat.
5.6PENGUJIAN DETIL SALDO
Pengujian ini meliputi dua kategori, yaitu:
1. Konfirmasi Utang Dagang
Pengiriman konfirmasi dalam audit terhadap utang dagang
tidak merupakan prosedur yang harus dilakukan auditor. Prosedur
ini bersifat opsional karena 1) konfirmasi tidak dapat menjamin
bahwa utang yang tidak dicatat dapat terdeteksi 2) bukti eksternal
berupa faktur dan laporan bulanan dari penjual biasanya telah
tersedia untuk sebagian besar utang. Auditor harus mengawasi
pembuatan dan pengiriman permintaan konfirmasi dan harus
menerima jawaban secara langsung dari respoden. Dalam

mengkonfirmasi utang dagang, auditor harus menghendaki agar


kreditur menyebutkan jumlah terutang karena jumlah itu akan
direkonsiliasi dengan jumlah menurut klien. Pengujian ini
menghasilkan bukti untuk semua asersi utang dagang, namun
demikian pembuktian yang dihasilkan dari asersi kelengkapan
hanya terbatas karena adanya kemungkinan kesalahan dalam
mengidentifikasi pemasok yang dikirimi konfirmasi disebabkan klien
tidak mencatat utang tertentu
2. Merekonsiliasi Utang yang Tidak Dikonfirmasi ke laporan
dari pemasok
Pemasok biasanya mengirimkan laporan bulanan yang bisa
dijumpai dalam arsip klien. Jika demikian, maka jumlah yang
terutang kepada pemasok menurut catatan klien dapat direkonsiliasi
dengan laporan tersebut. Bukti yang diperoleh dari prosedur ini
sama dengan yang yang diperoleh melalui prosedur konfirmasi,
hanya saja kurang dapat diandalkan karena laporan yang dikirim
pemasok kepada klien, tidak langsung kepada auditor.
3. Pembandingan Penyajian Utang di Neraca dengan Prinsip
Akuntansi Berlaku Umum
Utang dagang harus diidentifikasi dengan benar dan dikelompokkan
sebagai kewajiban lancar. Apabila saldo utang dagang mencankup
pembayaran di muka kepada pemasok untuk pesanan barang dan jasa
yang baru dikirimkan di kemudian hari dalam jumlah material maka
jumlah pembayaran dimuka direklasifikasi. Penyajian dan pengungkapan
yang dilakukan manajemen dalam laporan keuangan harus dibandingkan
dengan ketentuan yang ditetapkan oleh prinsip akuntansi berlaku umum.