Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN
Selama ini sektor publik tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi, kolusi, nepotisme,
inefisiensi dan sumber pemborosan negara. Keluhan birokrat tidak mampu berbisnis ditujukan
untuk mengkritik buruknya kinerja perusahaan-perusahaan sektor publik. Pemerintah sebagai
salah satu organisasi sektor publik pun tidak luput dari tudingan ini. Organisasi sektor publik
pemerintah merupakan lembaga yang menjalankan roda pemerintahan yang sumber
legitimasinya berasal dari masyarakat. Oleh karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh
masyarakat kepada penyelenggara pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya
pemerintahan yang bersih.
Pemerintahan yang bersih atau good govermance ditandai dengan tiga pilar utama yang
merupakan elemen dasar yang saling berkaitan. Ketiga elemen dasar tersebut adalah partisipasi,
transparansi dan akuntabilitas. Suatu pemerintahan yang baik harus membuka pintu yang seluasluasnya agar semua pihak yang terkait dalam pemerintahan tersebut dapat berperan serta atau
berpartisipasi secara aktif, Jalannya pemerintahan harus diselenggarakan secara transparan dan
pelaksanaan pemerintahan tersebut harus dapat dipertanggungjawabkan. Dalam bahasa
akuntansi, akuntabilitas (kemampuan memberikan pertanggungjawaban) merupakan dasar dari
pelaporan keuangan. Pelaporan keuangan pemerintah tersebut memegang peran yang penting
agar dapat memenuhi tugas pemerintahan yang dapat dipertanggungjawabkan kepada
masyarakat dalam suatu masyarakat yang demokratis.
Dalam negara demokrasi, pelaporan keuangan yang transparan merupakan sesuatu yang
dituntut oleh rakyat kepada pemerintahnya. Sebaliknya, dalam negara demokrasi, pemerintah
berkewajiban memberikan laporan keuangan yang transparan kepada rakyat. Pemerintah
demokratis harus bertanggung jawab atas integritas, kinerja dan kepengurusan, sehingga
pemerintah harus menyediakan informasi yang berguna untuk menaksir akuntabilitas serta
membantu dalam pengambilan keputusan ekonomi, sosial dan politik. Pemerintah adalah entitas
pelapor (reporting entity) yang harus membuat laporan keuangan dengan beberapa pertimbangan
berikut:

Pemerintah menguasai dan mengendalikan sumber-sumber yang signifikan.

Penggunaan sumber-sumber tersebut oleh pemerintah dapat berdampak luas terhadap


kesejahteraan ekonomi rakyat.

Terdapat pemisahan antara manajemen dan pemilikan sumber-sumber tersebut.

Laporan keuangan yang dihasilkan oleh organisasi sektor publik pemerintah merupakan
instrumen utama untuk menciptakan akuntabilitas sektor publik. Akuntabilitas mengacu pada
kewajiban perseorangan, suatu kelompok atau suatu organisasi yang diasumsikan harus
melaksanakan kewenangan dan/atau pemenuhan tanggung jawab. Kewajiban tersebut meliputi :

Answering, usaha untuk memberikan penjelasan atau justifikasi untuk pelaksanaan


dan/atau pemenuhan tanggung jawab.

Reporting, pelaporan hasil atas pelaksanaan dan/atau pemenuhan.

Producing, asumsi kewajiban atas hasil yang dicapai.

Adanya tuntutan yang semakin besar terhadap pelaksanaan akuntabilitas publik menimbulkan
implikasi bagi manajemen sektor publik untuk memberikan informasi kepada publik, salah
satunya melalui informasi akuntansi yang berupa laporan keuangan. Dilihat dari sisi internal
organisasi, laporan keuangan sektor publik merupakan alat pengendalian dan evaluasi kinerja
manajerial dan organisasi. Sedangkan dari sisi eksternal, laporan keuangan merupakan alat
pertanggungjawaban kepada publik dan sebagai dasar untuk pengambilan keputusan. Menurut
GASB, tujuan laporan keuangan sektor publik adalah:

Mempertanggungjawabkan pelaksanaan fungsinya (demonstrating accountability).

Melaporkan hasil operasi (reporting operating result).

Melaporkan kondisi keuangan (reporting financial condition).

Melaporkan sumber daya jangka panjang (reporting long live resources).

Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for money dalam
menjalankan aktivitasnya serta untuk menjamin dilakukannya pertanggungjawaban publik oleh
organisasi sektor publik, maka diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik tersebut. Audit
yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan, namun perlu diperluas
dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi sektor publik tersebut.
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Teori Audit Sektor Publik


2.1.1 Definisi audit sektor publik
Auditing merupakan suatu invetigasi independen terhadap aktivitas khusus. Mekanisme audit
merupakan suatu mekanisme yang menggerakkan akuntanbilitas dalam pengelolaan sektor
pemerintah, BUMN atau instan pengelola aset negara, serta organisasi sektor publik lainnya
sperti yayasan, LSM, dan partai politik.

Suatu proses sistematik yang secara objektif terkait evaluasi bukti-bukti berkenaan dengan
asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi guna memastikan derajat atau tingkat hubungan
anatara asersi tersebut dengan kriteria yang ada, serta mengomunikasikan hasil yang diperoleh
kepada pihak-pihak yang berkepentingan.
Pengertian audit sektor publik menurut Indra Bastian adalah jasa penyelidikan bagi
masyarakat atas organisasi publik dan politikus yang sudah mereka danai. Sedangkan
pengertian audit sektor publik menurut I Gusti Agung Rai adalah sebagai berikut: Audit
sektor publik adalah kegiatan yang ditujukan terhadap entitas yang menyediakan
pelayanan dan penyediaan barang yang pembiayaannya berasal dari penerimaan pajak
dan penerimaan negara lainnya dengan tujuan untuk membandingkan antara kondisi
yang ditemukan dengan kriteria yang ditetapkan.
Dari pengertian di atas, maka penulis dapat mengambil kesimpulan bahwa audit sektor publik
adalah pemeriksaan terhadap pemerintah yang dilakukan untuk mengetahui pertanggungjawaban
(akuntabilitas) atas pengelolaan dana masyarakat (public money) yang bertujuan untuk
membandingkan hasil pencapaian program, fungsi atau kegiatan sesuai dengan tujuan yang telah
ditetapkan sebelumnya.
Audit sektor publik di Indonesia dikenal sebagai audit keuangan negara. Audit keuangan negara
ini diatur dalam UU No. 15 Tahun 2004 tentang Pemeriksaan Pengelolaan dan Tanggung jawab
Keuangan Negara. Undang-undang ini merupakan pengganti ketentuan warisan Belanda, yaitu
Indische Comptabiliteitswet (ICW) dan Instructie en verdere bepalingen voor de Algemene
Rekenkamer (IAR), yang mengatur prosedur audit atas akuntabilitas pengelolaan keuangan oleh
pemerintah.
Dari definsi tersebut, beberapa bagian perlu mendapatkan perhatian yaitu :
1)
Proses sistematik Audit merupakan aktivitas terstruktur yang mengikuti suatu urutan
yang logis.
2)
Objektivitas Hal ini berkaitan dengan kualitas informasi yang disediakan serta kualitas
orang yang melakukan audit.
3)
Penyediaan dan evaluasi bukti Hal ini berkaitan dengan pengujian yang mendasari
dukungan terhadap asersi ataupun representasi.
4) Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi Hal ini merupakan deskripsi yang luas
tentang subyek permasalahn yang diaudit.
5)
Derajat hubungan kriteria yang ada Hal ini berarti suatu audit memberikan kecocokan
antara asersi dan kriteria yang ada.
6)
Mengkomunikasikan hasil Agar bermanfaat hasil audit perlu dikomunikasikan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.

2.1.2 Regulasi dalam audit sektor publik


Untuk mendukung keberhasilan penyelenggaraan organisasi sektor publik, keuangan
organisasi harus dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang undang, efisien,
ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa keadilan serta
kepatutan.
Keuangan negara wajib dikelola secara tertib, taat pada peraturan perundang-undangan,
efisien, ekonomis, efektif, transparan, dan bertanggung jawab dengan memperhatikan rasa
keadilan serta kepatuhan.
2.1.3 Audit sektor publik dan Sektor Bisnis
Audit sektor publik dan audit sektor bisnis berbeda atau sektor swasta. Audit sektor publik
dilakukan pada organisasi pemerintahan yang bersifat niralaba seperti Pemda, BUMN, BUMD,
instan lain yang berkaitan dengan pengelolaan aset kekayaan negara, dan organisasi sektor publik
lainnya seperti yayasan, LSM, serta partai politik.
Sedangkan audit sektor bisnis dilakukan pada perusahaan milik swasta yang berorientasi laba.
Audit sektor publik dan sektor bisnis sama-sama terdiri dari audit keuangan, audit kinerja, dan
audit untuk tujuan tertentu.
1)

Persamaan sektor publik dengan sektor swasta

Memberikan informasi mengenai posisi keuangan dan hasil operasi.


Mengikuti prinsip-prinsip dan standar akuntansi yang diterima umum; Objectivity, Cosistency,
Materiality, Full Disclosure.
Merupakan bagian integral sistem ekonomi di suatu negara.
Menghadapi masalah kelangkaan sumber daya (scarcity of resources).
Proses pengendalian manajemen, termasuk manajemen keuangan; membutuhkan informasi
yang handal dan releven untuk melaksanakan fungsi manajemen.
Terikat pada peraturan perundangan dan ketentuan hukum.
2)

Perbedaan sektor publik dengan sektor swasta

Segi kegiatan dan tujuan.


Dalam Akuntansi Pemerintahan terdapat perkiraan anggaran (budgetary accounting) yang
tidak ada dalam akuntansi komersial.

Akuntansi pemerintahan menggunakan akuntansi dana. Dalam akuntansi komersial, semua


aset, kewajiban dan ekuitas merupakan bagian dari satu dana.
Dalam akuntansi pemerintahan, pengeluaran modal dilaporkan dalam laporan operasional
maupun neraca yang dalam akuntansi komersial tidak dilaporkan dalam laporan operasional.
Akuntansi pemerintahan sangat dipengaruhi oleh peraturan-peraturan pemerintah sehingga
bersifat lebih kaku (kurang fleksibel) dibandingkan dengan akuntansi komersial.
3)

Perbedaan sifat dan karakteristik organisasi sektor publik dengan sektor swasta

Perbedaan

Sektor publik

Sektor swasta

Tujuan organisasi

Nonprofit motive

Profit motive

Sumber pendanaan

Pajak, retribusi,
utang,obligasi pemerintah,
laba BUMN/BUMD,
penjualan aset negara, dsb

Pembiayaan internal: modal


sendiri, laba ditahan,
penjualan aktiva
Pembiayaan eksternal: utang
bank, obligasi, penerbitan
saham

Pertanggungjawaban

Pertanggungjawaban kepada Pertanggungjawaban kepada


masyarakat (publik) dan pemegang saham dan kreditor
parlemen (DPR/DPRD)

Struktur organisasi

Birokratis, kaku, dan


hierarkis

Fleksibel: datar, piramid,


lintas fungsional, dsb

Karakteristik anggaran

Terbuka untuk publik

Tertutup untuk publik

Sistem akuntansi

Cash accounting

Accrual accounting

Laporan keuangan

Neraca, aliran kas dan


laporan realisasi anggaran,

Neraca, aliran kas, laporan


rugi laba dan laporan

catatan atas laporan keuangan

Standar akuntansi

perubahan modal

Pernyataan standar akuntansi Pernyataan standar akuntansi


pemerintah
keuangan

Auditor

Auditor sektor publik

Kantor akuntan publik

Standar audit

Standar pemeriksaan
akuntansi sektor publik

Standar pemeriksaan akuntan


publik

2.1.4 Jenis-jenis audit sektor publik


Jenis-jenis audit sektor publik yang dilaksanakan atas kegiatan yang tercermin dalam
APBN, APBD, kegiatan BUMD/BUMN, serta kegiatan yayasan, LSM, atau partai politik.
Penetapan tujuan untuk menentukan jenis audit yang akan dilaksanakan, serta standar audit yang
harus diikuti oleh auditor merupakan awal.
Berdasarkan UU No. 15 Tahun 2004 dan SPKN, terdapat tiga jenis audit keuangan negara, yaitu:
1) Audit keuangan, merupakan audit atas laporan keuangan yang bertujuan untuk memberikan
keyakinan yang memadai (reasonable assurance), apakah laporan keuangan telah disajikan
secara wajar, dalam semua hal yang material sesuai dengan prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia atau basis akuntansi komprehensif selain prinsip akuntansi yang berlaku
umum di Indonesia. Audit keuangan adalah audit yang menjamin bahwa sistem akuntansi dan
pengendalian keuangan berjalan secara efisien dan tepat serta transaksi keuangan diotorisasi
serta dicatat secara benar.
2) Audit kinerja, meliputi audit ekonomi, efisiensi, dan efektivitas, pada dasarnya merupakan
perluasan dari audit keuangan dalam hal tujuan dan prosedurnya. Audit kinerja memfokuskan
pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan
kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. audit kinerja merupakan perluasan dari audit keuangan
dalam hal tujuan dan prosedurnya. Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakantindakan dan kejadian-kejadian ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang
diaudit. Audit kinerja merupakan suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan
mengevaluasi bukti secara obyektif, agar dapat melakukan penilaian secara independen atas
ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan
terhadap kebijakan, peraturan dan hukum yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja

yang telah dicapai dengan kriteria yang telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan
hasilnya kepada pihak-pihak pengguna laporan tersebut.
Perbandingan antara audit kinerja dengan audit keuangan adalah sebagai berikut:

Perbandingan Audit Keuangan dengan Audit Kinerja

Audit Keuangan

Objek audit: laporan keuangan

Audit Kinerja

Objek audit: organisasi, program,


aktivitas/ kegiatan, atau fungsi

Menguji kewajaran laporan keuangan Menguji tingkat ekonomi, efisiensi,


dari salah saji yang material dan
dan efektivitas dalam penggunaan
kesesuaiannya dengan prinsip
sumber daya untuk mencapai tujuan
akuntansi yang diterima umum

Lebih bersifat kuantitatif keuangan Lebih bersifat kualitatif

Tidak terlalu analitis

Sangat analitis

Tidak menggunakan indikator kinerja, Membutuhkan indikator, standar,


standar, dan target kinerja
dan target kinerja untuk mengukur
kinerja

Biasanya tidak mempertimbangkan


analisis biaya manfaat

Biasanya mempertimbangkan
analisis biaya-manfaat (cost-benefit
analysis)

Waktu pelaksanaan audit tertentu


(biasanya pada akhir periode
akuntansi)

Audit bisa dilakukan sewaktu-waktu

Audit dilakukan untuk peristiwa


keuangan masa lalu (post event)

Mempertimbangkan kinerja masa


lalu, sekarang, dan yang akan datang

Tidak dimaksudkan untuk membantu Dimaksudkan untuk memperbaiki


melakukan alokasi sumber daya secara alokasi sumber daya secara optimal
optimal
dan memperbaiki kinerja

Tidak terdapat rekomendasi audit dan Terdapat rekomendasi audit dan


follow-up audit
follow-up audit

3) Audit dengan tujuan tertentu, merupakan audit khusus di luar audit keuangan dan audit
kinerja yang bertujuan untuk memberikan simpulan atas hal yang diaudit. Audit dengan tujuan
tertentu dapat bersifat eksaminasi (examination), reviu (review), atau prosedur yang disepakati
(agrees-upon procedures). Audit dengan tujuan tertentu mencakup audit atas hal-hal lain di
bidang keuangan, audit investigatif, dan audit atas sistem pengendalian internal.
2.1.5 Audit keuangan sektor publik
Secara spesifikasi pendefinisian audit atas laporan keuangan dapat ditemukan sbb:
Tujuan penguji atas laporan keuangan oleh auditor adalah

Ekspresi suatu opini secara jujur tentang posisi keuagan.

Hasil operasi.

Arus kas yang disesuaikan dengan prinsip akuntansi.

Laporan auditor merupakan media mengepresikan opini auditor atau dalam kindisi tertentu
dalam mrnyangkal opini.
Perbandingan antara definis audit laporan keuangan tersebut dengan definis audit secara
umum dapat mengungkapkan aspek esensial audit keuagan sbb:
1)

Proses sistematik secara objektif.

2)

Asersi tentang kegiatan dan kejadian ekonomi.

3)

Derajat atau tingkat hubungan.

4)

Hasil audit atas laporan keuangan dikomunikasikan dalam suatu pelaporan audit.

Audit atas hal yang berkaitan dengan keuangan meliputi sbb:


1)

Segmen laporan keuangan

2)

Pengendalian internal

3)

Pengendalian atau pengawasan internal

4)

Ketaatan terhadap peraturan UU yang berlaku.

2.2 Sistem Audit Keuangan Sektor Publik


1)

Pemeriksaan Siklus Pendapatan

Tujuan audit siklus pendapatan adalah untuk mengungkapkan ada tidaknya salah saji yang
material dalam proses Pendapatan Daerah/Organisasi, Dana Perimbangan, dan Pendapatan Lainlain yang sah.
Jenis koreksi pembukuan yang harus dilakukan atas pendapatan adalah sebagai berikut:
1. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo awal tahun anggaran/sisa perhitungan
anggaran tahun lalu.
2. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian pendapatan daerah.
3. Kesalahan pembukuan dan/atau penyajian saldo akhir tahun anggaran sisa perhitungan
anggaran tahun perhitungan.
4. Kesalahan penyajian dalam daftar lampiran perhitungan anggaran tahun anggaran
perhitungan.
5. Kesalahan yang wajib dikoreksi oleh auditor, yang terdiri atas:

2)

Kesalahan pembukuan (kekeliruan pencatatan).

Kesalahan pembebanan.

Kesalahan penjumlahan dan pengurangan angka (aritmatika).


Pemeriksaan Siklus Belanja

Tujuan audit siklus belanja adalah untuk memperoleh bukti mengenai masing-masing asersi
yang signifikan, yang berkaitan dengan transaksi dan saldo siklus belanja.

1. Berbagai proses dan keputusan untuk memperoleh barang dan jasa yang diperlukan
dalam pelaksanaan kegiatan organisasi sektor publik. Dua kelompok transaksi utama
dalam siklus ini adalah transaksi pembelian dan pengeluaran kas. Kedua transaksi
tersebut mempengaruhi berbagai akun berikut:

Kas,

Persediaan barang habis pakai,

Aktiva tetap,

Aktiva lain-lain,

Utang.

1. Risiko bawaan pos belanja organisasi sektor publik pada banyak organisasi sangatlah
tinggi. Ada berbagai faktor yang menyebabkan tingginya risiko bawaan siklus belanja ini,
yaitu:

Volume transaksi yang selalu tinggi,

Pembelanjaan dan pengeluaran tanpa otoritasi yang dapat terjadi,

Pembelian aset yang tidak perlu,

Masalah akuntansi yang berkembang.

1. Tingginya volume transaksi akan memperbesar kemungkinan terjadinya salah saji.


Semakin tinggi volume transaksi, semakin tinggi kemungkinan kesalahan pencatatan
transaksi tersebut. Disamping itu, juga ada kemungkinan bahwa organisasi sektor publik
melakukan pembelian aset yang tidak perlu.
2. Tingginya risiko bawaan siklus belanja menyebabkan banyak organisasi sektor publik
memprioritaskan atau memperluas struktur pengendalian internal siklus belanja untuk
mencegah dan mendeteksi salah saji. Seperti siklus pendapatan, pengujian pengendalian
umumnya tidak mengurangi risiko pengendalian asersi hak dan kewajiban. Jadi, auditor
dapat menggunakan kombinasi strategi risiko pengendalian yang ditetapkan lebih rendah
dan pengujian subtantif.
3. Pengujian pengendalian tergantung pada pertimbangan biaya manfaat. Auditor harus
membandingkan biaya melakukan pengujian pengendalian internal degnan penghematan
yang diperoleh akibat berkurangnya pengujian substantif.
3)

Pemeriksaan Aktiva Tetap

Aktiva tetap merupakan aset/harta yang dimiliki oleh organisasi sektor publik yang digunakan
dalam kegiatan operasi organisasi. Tujuan audit aktiva tetap adalah untuk memperoleh bukti
tentang setiap asersi signifikan yang berkaitan dengan transaksi dan saldo aktiva tetap. Audit atas
aktiva tetap sangat penting karena biasanya aktiva tetap merupakan aset/kekayaan terbesar yang
dimiliki oleh suatu organisasi sektor publik.
4)

Pemeriksaan Jasa Personalia

Siklus jasa personalia sangat penting karena masalah gaji, pajak penghasilan pegawai, dan biaya
ketenagakerjaan lainnya merupakan komponen biaya utama di hampir semua entitas.
5)

Pemeriksaan Siklus Investasi (Pembiayaan)

Investasi ini pada umumnya merupakan bagian dari strategi jangka panjang suatu organisasi
sektor publik. Jangka waktu investasi sementara tidak lebih dari satu periode akuntansi. Risiko
salah saji pada transaksi investasi organisasi sektor publik umumnya rendah karena jarangnya
transaksi yang terjadi.
6)

Pemeriksaan Siklus Saldo Kas

Saldo kas berasal dari pengaruh kumulatif siklus belanja, siklus investasi, dan siklus jasa
personalia. Tujian audit saldo kas adalah untuk memperoleh bukti tentang masing-masing asersi
yang signifikan, ynag berkaitan dengan transaksi dan saldo kas. Tujuan audi ditentukan
berdasarkan kelima kategori asersi laporan keuangan:

Asersi keberadaan dan keterjadian

Asersi kelengkapan

Asersi hak dan kewajiban

Asersi penilaian dan pengalokasian

Asersi pelaporan dan pengungkapan

2.3 Siklus Audit Keuangan Sektor Publik


Terdapat 17 siklus dalam audit keuangan sektor publik:
2.3.1 Perencanaan audit keuangan

Standar pertama dari GAAS (General Accepted Auditing Standard) di Indonesia SPAP untuk
audit lapangan adalah perencanaan yang memadai. Berikut adalah tiga alasan utama mengapa
seorang auditor harus mempersiapkan rencana kontrak kerja yang tepat sehingga (1) auditor
dapat memperoleh cukup bukti kompeten untuk kondisi yang ada, (2) membantu menjaga agar
biaya audit yang dikeluarkan tetap wajar, (3) serta menghindari kesalah pahaman dengan klien.
Perencanaan audit awal melibatkan empat hal, yang semuanya harus dilakukan terlebih dahulu
dalam audit. Keempatnya adalah sebagai berikut: (1) Auditor harus memutuskan apakah akan
menerima seorang klien baru atau melanjutkan pelayanan untuk klien yang telah ada sekarang,
(2) Auditor harus mengidentifikasi mengapa klien menginginkan atau membutuhkan audit,
informasi ini akan mempengaruhi bagian lain dari proses perencanaan, (3) Auditor memperoleh
pemahaman klien tentang cara-cara penugasan untuk menghindari kesalahpahaman. (4)
Dipilihnya staf untuk penugasan, termasuk bila dibutuhkannya spesialis audit.
Merancang pendekatan audit
1)

Menerima klien dan melakukan perencanaan audit awal,

2)

Memahami bisnis dan industri klien,

3)

Menilai resiko bisnis klien,

4)

Menetapkan meterialitas, dan menilai resiko akseptabilitas audit serta resiko inhern,

5)

Memahami pengendalian intern, dan menilai resiko pengendalian,

6)

Menyusun seluruh rencana serta program audit.

Tahap selanjutnya dalam suatu laporan keuangan adalah melaksanakan pengujian audit. Tahap
ini sering disebut juga sebagai pelaksanaan pekerjaan lapangan. Tahap terakhir dari suatu audit
adalah laporan temuan. Pada tahap ini harus dilaksanakan standar umum dan standar pelaporan
dari standar auditing.
Tahap perencanaan audit menurut Indra bastian (2010):
1)

Pemahaman atas sistem akuntansi keuangan sektor publik.

Hal ini sangat penting karena saat ini audit sektor publik tidak lagi berfokus pada laporan
realisasi anggaran saja tetapi juga laporan keuangan lainnya.
2)

Penentuan tujuan dan lingkup audit

Dalam menentukan tujuan dan ruang lingkup, auditor harus memastikan bahwa tujuan dan ruang
lingkup audit yang ditetapkan telah sesuai dengan mandat serta wewenang lembaga audit dan
pengawas yang bersangkutan.

3)

Penilaian resiko

Kegiatan audit dilaksanakan melalui berbagai pengujian yang mengandung resiko kesalahan,
sehingga penilaian risiko pengendalian (control risk), risiko bawaan (inherent risk), dan risiko
deteksi (detection risk) harus dilakukan.
4)

Penyusunan rencana audit

Suatu rencana audit harus disusun berdasarkan tahapan kegiatan perencanaan audit.
2.3.2 Penetapan regulasi audit keuangan
Bagian ini penting dalam proses audit karena dibutuhkan aturan untuk memberikan
arahan yang jelas, dan sebagai kontrol agar pelaksanaan audit laporan keuangan bisa
memberikan opini yang tepat.
2.3.3 Penyusunan perencanaan audit tahuann oleh lembaga auditor
Setelah ditetapkan aturan dan regulasi langkah selanjutnya adalah menyusun
perencanaan. Perencanaan audit yang matang akan sangat menentukan kesuksesan audit.
2.3.4 Temu rencanaan audit tahunan
Setelah lembaga auditor selesai menyusun perencanaan audit tahunan, kemudian mereka
bertemu dengan kepala atau pimpinan organisasi sektor publik untuk membicarakan perencanaan
audit yang sudah disusun.
2.3.5 Penerbitan regulasi tentang tim dan kebijakan audit tahunan
Regulasi yang ditetapkan dalam tahap ini menyangkut tim atau personel yang akan
melakukan audit terhadap organisasi sektor publik maupun regulasi dalam menjalankan proses
audit.
2.3.6 Penerimaan regulasi organisasi yang akan diaudit
Kemudian regulasi yang telah diterbitkan tersebut akan diterima oleh lembaga pemeriksa
sehingga bisa melakukan proses audit di lembaga atau organisasi sektor publik.
2.3.7 Survei awal karakter industri/organisasi yang akan diaudit
Tahapan selanjutnya dalam siklus audit audit sektor publik ini adalah survei awal
terhadap karakter industri/organisai yang akan diaudit.
2.3.8 Pembuatan program audit

Untuk setiap area yang diaudit, auditor harus menyusun langkah-langkah audit yang akan
dilakukannya. Langkah-langkah ini tertuang dalam program audit.
Suatu program audit akan berisi:

Tujuan audit untuk setiap area

Prosedur audit yang akan dilakukan

Sumber bukti audit

Deskripsi mengenai kesalahan (error).

2.3.9 Penerbitan surat tugas audit


Pihak organisasi sektor publik segera mengeluarkan surat tugas kepada lembaga
pemeriksa untuk melaksanakan audit.
2.3.10 Pelaksanaan audit keuangan
Dalam melaksanakan audit keuangan, auditor melakukan hal-hal berikut:
1)

Menilai Pengendalian Internal

Suatu proses yang dijalankan oleh eksekutif didesain untuk memberikan keyakinan yang
memadai tentang pencapaian tiga golongan tujuan berikut:
1. Keandalan atau reliabilitas laporan kkeuangan.
2. Kepatuhan terhadap hukum dan peraturan yang berlaku.
3. Efektivitas dan efisiensi operasi.
Oleh karena itu, dibutuhkan sistem yang dirancang oleh organisasi sektor publik untuk menjaga
aset yang dimiliki agar terbebas dari kecurangan dan penyalahgunaan. Hal inilah yang disebut
sebagai pengendalian internal.
Jenis-jenis pengendalian internal:
1. Organisasi
Penyerahan wewenang dan tanggung jawab, termasuk jalur pelaporan untuk semua aspek
operasi dan pengendaliannya, harus disebutkan secara rinci dan jelas.
1. Pemisahan tugas

Salah satu fungsi utama pengendalian adalah pemisahan tugas dan tanggung jawab. Apabila
kedua hal tersebut digabungkan, maka seseorang dapat saja mencatat dan memproses sebuah
transaksi secara lengkap.
1. Fisik
Pengendalian ini berhubungan dengan supervisi aset. Prosedur dan keamanan yang memadai
harus dirancang untuk memberi keyakinan bahwa akses langsung maupun tidak langsung
melalui dokumentasi aset terbatas pada personel yang berwenang.
1. Persetujuan dan Otorisasi
Seluruh transaksi harus diotorisasi atau disetujui oleh orang yang tepat. Batas wewenang juga
harus dijelaskan.
1. Akuntansi
Pengecekan atas keakuratan catatan, penghitungan jumlah total, rekonsiliasi, pemakaian
nomor rekening, , jurnal, dan akuntansi untuk dokumen.
1. Personalia
Keberadaan prosedur akan menjamin penempatan personel yang sesuai dengan kemampuan
dan tanggung jawabnya.
1. Supervisi
Setiap sistem pengendalian internal harus mencakup supervisi oleh atasan yang bertanggung
jawab terhadap transaksi dan pencatatannya sehari-hari.
1. Manajemen
Ini adalah pengendalian yang dilakukan oleh manajemen diluar tugas rutinnya, yang meliputi
pengendalian secara keseluruhan oleh fungsi pengendalian internal dan prosedur review khusus
lainnya.
2)

Melakukan Prosedur Analtis

Prosedur analisis adalah pengevaluasian informasi keuangan yang dilakukan dengan


mempelajari hubungan yang masuk akal antara data keuangan dan data nonkeuangan.
Prosedur analitis akan membantu auditor dengan mendukung dan meningkatkan pemahamannya
tentang operasi organisasi yang diaudit. Prosedur analitis juga membantu auditor dalam
mengidentifikasi hubungan yang tidak sewajarnya dan fluktuasi data yang tidak diharapkan.
Ada enam langkah yang harus dilakukan auditor dalam melakukan prosedur analitis, yaitu:

1. Mengidentifikasi perhitungan dan perbandingan yang akan dibuat


2. Mengembangkan ekspektasi
3. Melakukan perhitungan dan perbandingan
4. Menganalisi data
5. Menyelidiki perbedaan atau penyimpangan yang tidak diharapkan yang signifikan
6. Menentukan pengaruh perbedaan atau penyimpangan terhadap perencanaan audit.
2.3.11 Pembuatan daftar temuan
Setelah melakukan kegiatan pelaksanaan audit, auditor biasanya mendapatkan temuan-temuan
terkait dengan keuangan klien. Temuan-temuan tersebut kemudian didaftar sebagai bukti dalam
penyampaian pendapat nantinya.
2.3.12 Pembicaraan awal tentang daftar temuan
Berdasarkan temuan-temuan di lapangan , kemudian auditor melakukan pembicaraan dengan
pimpinan organisasi sektor publik terkait temuan-temuan tersebut. Dalam tahapan ini, auditor
akan melakukan cross-check atas hasil temuannya dengan fakta yang terjadi di lapangan.
2.3.13 Penyusunan draft laporan hasil pemeriksaan
Setelah hasil temuan hasil auditor di bicarakan atau melakukan cross-check dengan pejabat
organisasi sektor publik, auditor kemudian menyusun draft laporan hasil pemeriksaan.
2.3.14 Pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dengan organisasi yang diaudit
Dalam tahapan ini, auditor memastikan apa yang telah di susun di dalam draft laporan hasil
pemeriksaan sudah selesai dengan fakta yang terjadi di lapangan.

2.3.15 Penyelesaian laporan hasil pemeriksaan


Setelah melakukan pembahasan draft laporan hasil pemeriksaan dan di pastikan kellengkapan
serta kesepakatan mengenai draft tersebut sudah tercapai, kemudian akan di lakukan
penyelesaian atau finalisasi draft tersebut menjadi laporan hasil pemeriksaan akhir.
2.3.16 Tindak lanjut temuan laporan hasil pemeriksaan
Berdasarkan temuan-temuan yang ada di lapangan, auditor melakukan tindak lanjut atau dengan
kata lain, memberikan rekomendasi perbaikan kepada organisasi sektor publik.

2.3.17 Penerbitan laporan hasil pemeriksaan


Tahapan terakhir dari siklus audit keuangan adalah penerbitan laporan hasil pemeriksaan kepada
pihak-pihak yang memiliki kepentingan terhadap organisasi yang telah di audit tersebut.
2.4 Tekhnik Audit Keuangan Sektor Publik
1)

Prosedur analitis (Analitycal Procedures)

Prosedur analitis terdiri dari penelitian dan perbandingan hubungan diantra data. Prosedur
ini meliputi perhitungan dan penggunaan rasio-rasio sederhana, analisis vertikal, atau laporan
persentase, perbandingan jumlah yang sederhana dengan data historis atau anggaran, serta
penggunaan model matematis dan statistik, seperti analisis regresi.
Contoh prosedur analitis adalah membandingkan item belanja menurut anggaran dan item
realisasi belanja. Hasil perbandingan itu akan menunjukan ada tidaknya penyimpangan jumlah
realisasi belanja dari jumlah yang dianggarkan sebelumnya.
2)

Inspeksi (Inspecting)

Inspeksi meliputi pemeriksaan yang rinci terhadap dokumen dan catatan serta
pemeriksaan sumber daya berwujud. Prosedur ini digunakan secara luas dalam auditing. Inspeksi
seringkali digunakan dalam mengumpulkan dan mengevalusai bukti, baik bottom-up mapun topdown. Dengan melakukan inspeksi atas dokumen, auditor dapat menentukan ketepatan
persyaratan dalam faktur atau kontrak yang memerlukan pengujian bottom up atas akuntansi
transaksi tersebut. Pada saat yang sama, auditor seringkali mempertimbagkan implikasi bukti
dalam konteks pemahaman faktor-faktor ekonomi dan persaingan entitas.
Contoh kegiatan inspeksi adalah pemeriksaan terhdap bukti-bukti transaksi seperti
rekening bank, kwitansi atau tanda terima lainnya untuk mengevaluasi apakah transaksi yang
dilakukan telah sesuai atau menyimpang dari rencana dan anggaran yang telah ditetapkan.
3)

Konfirmasi (Confirming)

Kegiatan konfirmasi adalah bentuk kegiatan keterangan yang memungkinkan auditor


memperoleh informasi secara langsug dari sumber independen di luar organisasi sektor publik
yang di audit. Dalam kasus yang lazim, klien (organisasi yang di audit) mengajukan permintaan
kepada pihak luar secara tertulis, namun auditor yang mengirimkan permintaan keterangan
tersebut.
Contoh kegiatan konfirmasi adalah meminta keterangan kepada bendahara pengeluaran
terkait bukti-bukti transaksi pembelian atau pengalokasian anggaran yang telah dilakukannya.
Kegiatan ini akan mengajukan apakah bukti transaksi tersebut fiktif atau benar adanya. Selain
keteranagn-keterangan lainya terkait bukti tersebut.
4)

Permintaan keterangan (Inquiring)

Kegiatan ini meliputi permintaan keterangan secara lisan maupun tertulis oleh auditor.
Permintaan keterangan tersebut biasanya ditunjukan kepada manajemen atau karyawan
organisasi sektor publik, yang umumnya berupa pernyataan-pernyataan yang timbul setelah
dilaksanakannya prosedur analitis. Auditor juga dapat secara langsung meminta keterangan
kepada pihak external.
Contoh kegiatan permintaan keterangan adalah auditor meminta keteragan bendahara
pengeluaran atas ketidaksesuaian jumlah pengeluaran (berdasarkan bukti transaksi yang ada)
dengan jumlah anggaran yang telah ditetapkan sebelumnya.
5)

Perhitungan (Counting)

Dua aplikasi yang paling umum adalah perhitungan (counting) adalah (1) perhitungan fisik
sumber daya berwujud, seperti jumlah kas dan persediaan yang ada dan (2) akuntansi seluruh
dokumen, dengan nomor urut yang telah dicetak (prenumbered). Hal pertama menyediakan cara
untuk mengevaluasi bukti fisik tentang jumlah yang ada. sementara yang ke dua dapat dipandang
sebagai penyediaan cara untuk mengevaluasi pengendalian internal organisasi melalui bukti yang
objektif tentang kelengkapan catatan akuntansi.
Contoh kegiatan perhitungan adalah auditor menghitung asset yang telah dibeli bagian
pengadaan berdasarkan bukti transaksi yang ada.
6)

Penelusuran (Tracing)

Dalam penelusuran seringkali disebut penelusuran ulang, auditor (1) memilih dokumen yang
dibuat pada saat transaksi dilaksanakan, dan (2) menentukan bahwa informasi yang diberikan
oleh dokumen tersebut telah dicatat dengan benar dalam catatan akuntansi (jurnal dan buku
besar). Arah pengujian prosedur ini berawal dari dokumen menuju ke catatan akuntansi, sehingga
menelusuri kembali asal-usul aliran data melalui sistem akuntansi.
Contoh kegiatan penelusuran adalah auditor membandingkan antara angka yang tertera dalam
kwitansi transaksi yang telah dilakukan dan jumlah angka yang tertera dalam jurnal. Hal ini
menunjukan apakah ada kesesuaian penyajian, yaitu penyajian yang lebih rendah atau yang lebih
tinggi.
7)

Pemeriksaan bukti pendukung (Vouching)

Pemeriksaan bukti pendukung meliputi (1) pemilihan ayat jurnal dalam catatan akuntansi, dan
(2) mendapatkan serta memeriksa dokumen yang digunakan sebagai dasar ayat jurnal tersebut
untuk menentukan validitas dan ketelitian pencatatan akuntansi. Dalam melakukan vouching,
arah pengujian berlawanan dengan yang digunakan dalam penelusuran. Prosedur pemeriksaan
bukti pendukung digunakan secara luas untuk mendeteksi salah saji berupa penyajian yang lebih
tinggi dari yang sebenarnya dalam pencatatan akuntansi.

Contoh kegiatan pemeriksaan bukti pendukung adalah auditor memilih ayat jurnal
Pembelian ATK dijurnal, kemudian membandingkanya dengan kwitansi pembelian ATK
tersebut atau tanda pembelianya.
8)

Pengamatan (observing)

Pengamatan berkaitan dengan memerhatikan dan menyaksikan pelaksanaan beberapa


kegiatan atau proses. Kegiatannya berupa pemrosesan rutin atau jenis transaksi tertentu, seperti
penerimaan kas, untuk melihat apakah para pekerja sedang melaksanakan tugas yang telah
diberikan sesuai dengan kebijakan dan prosedur organisasi sektor publik. Pengamatan sangat
terutama untuk memperoleh pemahaman atas pengendalian internal.
Contoh kegiatan pengamatan adalah auditor mengamati kegiatan bendahara gaji dalam
menjurnal ketika mengeluarkan gaji kepada para pegawai.
9)

Pelaksanaan ulang (Reforming)

Salah satu prosedur audit yang penting adalah pelaksanaan ulang perhitungan dan
rekonsiliasi ynag dilakukan oleh organissasi sektor publik yang di audit. Contohnya adalah
menghitung ulang total jurnal, beban penyusutan, dan lain-lain. Auditor juga dapat melakukan
ulang beberapa aspek pemrosesan transaksi tertentu untuk menentukan bahwa pemrosesan awal
sudah sesuai dengan pengendaliaan internal yang sudah dirumuskan.
Contoh kegiatan pelaksaaan ulang adalah auditor menghitung ulang penyusutan
kendaraan milik organisasi berdasarkan umur ekonomis yang sebenarnya, kemudian
dibandingkan dengan pencatatan beban peyusutan kendaraan yang telah dilakukan.
10)

Teknik audit berbantuan computer (computer-assisted audit techniques)

Apabila catatan akuntansi organisasi sektor publik dilaksanakan melalui media


elektronik, maka auditor dapat menggunakan teknik ini untuk membantu melaksanakan beberapa
prosedur yang telah diuraikan sebelumnya.
Contoh kegiatan audit berbantukan komputer adalah auditor dengan bantuan komputer
memeriksa angka-angka dalam file jurnal bendahara dan membandingkanya dengan kwitansi
pendapatan, dan bukti bukti transaksi lainya.
11)

Pengujian pengendalian

Terdapat dua jenis pengujian pengendalian, yaitu:


1. Pengujian pengendalian yang berkaitan langsung dengan keefektifan desain kebijakan
atau posedur dan apakah benarbenar digunakan dalam kegiatan organisasi

2. Pengujian pengendalian yang berkaitan dengan keefektifan kebijakan dan prosedur serta
bagaiman pengaplikasiannya, konsistensinya dengan aplikasi terdahulu dan oleh siapa
aplikasi itu dilaksanakan selama satu periode.
Contoh kegiatan pengujian pengendalian adalah auditor membandingkan dokumen SOP
atau petunjuk teknis pegawai, dan mengamati pelaksaannya dilapangan. Pengendalian akan
dianggap baik jika SOP atau petunjuk teknis mampu memberikan pedoman bagi pelaksanaan
tugas-tugas pegawai, pegawai mudah memahaminya dan mengaplikasikannya pada setiap
pekerjaanya secara konsisten.
12)

Pengujian substansif

Dua kateegori umum pengujian substansif adalah:


1. Prosedur analitis, yang merupakan prosedur dalam penyediaan buktibukti tentang
validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca, atau sebaliknya tentang kesalahan
atau ketidak beresan yang terjadi;
2. Pengujian terinci atas transaksi atau neraca merupakan pengujian untuk menyediakan
bukti-bukti tentang validitas perlakuan akuntansi atas transaksi dan neraca atau
sebaliknya atas kesalah dan ketidak beresan yang terjadi.
Contoh kegiatan pengujian substantive adalah auditor memeriksa secara rinci angka dan
jumlah transaksi yang telah terjadi,dimulaidari memeriksa seluruh bukti tranaksi,catatan dalam
jurnal, posting dalam buku besar, hingga laporan yang telah jadi dengan demikian dapat
ditemukan apakah ada kesalah atau ketidak beresan.
2.5 Contoh Praktek Audit Sektor Publik Di Organisasi Sektor Publik
1)

Pemerintah Pusat

Audit atas pemerintah pusat ditujukan pada perolehan bukti audit yang cukup dan tepat.
Sebagai contoh, akuntabilitas dan transparansi dalam pengelolaan keuangan pemerintah pusat
maupun daerah sebagai organisasi sektor publik merupakan tujuan penting dari reformasi
akuntansi dan administrasi sektor publik. Untuk dapat memastikan bahwa pengelolaan keuangan
pemerintah yang telah dilakukan aparatur pemerintah , maka fungsi akuntabilitas dan audit atas
pelaporann keuangan sektor publik harus berjalan dengan baik. Seiring dengan tuntutan
masyarakat agar organisasi sektor publik meningkatkan kualitas, profesionalisme dan
akuntabilitas publik dalam menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit yang tidak hanya terbatas
pada keuangan dan kepatuhan saja, tetapi perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap
kinerja sektor publik.
2)

Pemerintah Daerah

Audit yang diselenggarakan atas kegiatan pemerintah daerah dapat dibagi menjadi audit
keuangan dan audit kinerja. Audit dapat mempunyai gabungan tujuan audit keuangan dan audit
kinerja, atau dapat juga mempunyai tujuan yang terbatas pada beberapa aspek dari masingmasing jenis audit tersebut.
Sebagai contoh, pelaksanaan audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan
Pemerintah kepada yayasan atau badan hukum lainnya. Tujuan audit semacam itu sering kali
mencakup baik tujuan audit keuangan maupun tujuan audit kerja.
Pemeriksaan atas pos pendapatan asli daerah mencakup:

Melakukan pengujian terhadap nilai realisasi pos

Melakukan verifikasi atas bukti-bukti penerimaan

Melakukan konfirmasi kepada instansi yang terkait dengan pemungutan pajak

Mengetahui adanya kesalahan atau tidak atas penyetoran pendapatan

Melakukan koreksi

Melakukan pengujian.

3)
Di Indonesia ada dua jenis LSM. Pertama, LSM yang melakukan fungsi kontrol
masyarakat. Kedua, LSM yang melaksanakan program entitas. Menjamurnya LSM terutama
dipicu oleh persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh lembaga-lembaga keuangan
internasional.
Sebagai contoh, bank dunia yang mensyaratkan perlunya entitas bekerja sama dengan LSM
dalam proyek yang akan dikucurkan dananya.
Dalam organisasi LSM dilakukan dua jenis audit:

4)

Audit kinerja keuangan

Audit kinerja nonkeuangan


Yayasan

Contohnya pelaksanaa audit atas kontrak pemborongan pekerjaan atau atas bantuan pemerintah
kepada yayasan atau badan hukum lainnya. Tujuan audit semacam ini sering kali mencakup baik
tujuan keuangan maupun tujuan audit kinerja. Audit semacam ini umunya disebut audit kontrak.
5)

Partai Politik

Sama seperti organisasi-organisasi sektor publik lainnya, audit dalam organisasi partai politik
juga dibedakan menjadi dua, yaitu audit kinerja keuangan dan audit kinerja nonkeuangan.

BAB III
KESIMPULAN
Selama ini sektor publik/pemerintah tidak luput dari tudingan sebagai sarang korupsi,
kolusi, nepotisme, inefisiensi dan sumber pemborosan negara, padahal sektor publik merupakan
lembaga yang menjalankan roda pemerintahan yang sumber legitimasinya berasal dari
masyarakat. Oleh karena itu, kepercayaan yang diberikan oleh masyarakat kepada penyelenggara
pemerintahan haruslah diimbangi dengan adanya pemerintahan yang bersih.
Seiring dengan munculnya tuntutan dari masyarakat agar organisasi sektor publik
mempertahankan kualitas, profesionalisme dan akuntabilitas publik serta value for money dalam
menjalankan aktivitasnya, diperlukan audit terhadap organisasi sektor publik tersebut. Akan
tetapi, audit yang dilakukan tidak hanya terbatas pada audit keuangan dan kepatuhan saja, namun
perlu diperluas dengan melakukan audit terhadap kinerja organisasi sektor publik tersebut.
Audit kinerja memfokuskan pemeriksaan pada tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian
ekonomi yang menggambarkan kinerja entitas atau fungsi yang diaudit. Audit kinerja merupakan
suatu proses yang sistematis untuk memperoleh dan mengevaluasi bukti secara obyektif, agar
dapat melakukan penilaian secara independen atas ekonomi dan efisiensi operasi, efektifitas
dalam pencapaian hasil yang diinginkan dan kepatuhan terhadap kebijakan, peraturan dan hukum
yang berlaku, menentukan kesesuaian antara kinerja yang telah dicapai dengan kriteria yang
telah ditetapkan sebelumnya serta mengkomunikasikan hasilnya kepada pihak-pihak pengguna
laporan tersebut.
Kemampuan mempertanggungjawabkan (akuntabilitas) dari sektor publik pemerintah
sangat tergantung pada kualitas audit sektor publik. Tanpa kualitas audit yang baik, maka akan
timbul permasalahan, seperti munculnya kecurangan, korupsi, kolusi dan berbagai
ketidakberesan di pemerintahan. Kualitas audit sektor publik dipengaruhi oleh kapabilitas
teknikal auditor serta independensi auditor baik secara pribadi maupun kelembagaan. Untuk
meningkatkan sikap independensi auditor sektor publik, maka kedudukan auditor sektor publik
harus terbebas dari pengaruh dan campur tangan serta terpisah dari pemerintah, baik secara
pribadi maupun kelembagaan.

DAFTAR PUSTAKA

Bastian, Indra. 2010. Akuntansi Sektor Publik. Edisi Ketiga. Yogyakarta: Penerbit Erlangga
Mardiasmo. 2002. Akuntansi Sektor Publik. Penerbit Andi. Yogyakarta.
http://www.google.com
http://id-jurnal.blogspot.com
http://suhardi.uap.ac.id