Anda di halaman 1dari 2

Kedudukan Islamic State Of Iraq and Syria dalam Hukum Internasional

Pada tahun 2014, aktifitas sekelompok militan jihad yang menamakan dirinya Islamic
State of Iraq and Syria (ISIS) secara tidak langsung menyatakan dirinya sebagai sebuah
Negara Islam. Hal ini menimbulkan keresahan bagi masyarakat internasional karena
dianggap telah mengancam perdamaian dan keamanan dunia. Di Indonesia sendiri
pergerakan kelompok ISIS mulai terlihat dari adanya warga negara Indonesia yang terlibat
dalam organisasi ISIS sekitar 56 orang, yang sampai saat ini tidak jelas statusnya dalam
hukum internasional sekalipun sebagian wilayah Irak berada dalam kekuasaannya.1
Pada tanggal 7 Juli 2014, bendera ISIS berkibar dalam aksi demonstrasi ratusan
orang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta. Mereka mengecam serangan Israel ke Gaza,
Palestina. Beberapa waktu setelah itu, muncul video berdurasi delapan menit dengan judul
"Join The Ranks" muncul di YouTube. Dalam tayangan tersebut, seorang pria yang
menyebut dirinya Abu Muhammad Al-Indonesia mengajak warga Indonesia mendukung
perjuangan ISIS menjadi khilafah dunia.2
Berkenaan dengan keberadaan ISIS tersebut diketahui bahwa aktifitas ISIS masuk
ke dalam lingkup hukum internasional karena melintasi batas-batas negara. Berdasarkan hal
tersebut, maka harus ada kewajiban- kewajiban dan hak-hak yang melekat pada ISIS
sebagai pelaku dalam aktifitas internasional, dimana ini berkaitan erat dengan penentuan
kedudukannya sebagai sebuah entitas dalam hukum internasional. Ketentuan-ketentuan
hukum internasional antara lain mencakup hak, kewajiban dan kepentingan suatu negara.
Ketentuan-ketentuan tersebut berbentuk piagam, traktat, deklarasi dan berbagai perjanjianperjanjian internasional yang ditandatangani oleh negara-negara yang terlibat di dalamnya,
dimana

ketentuan

mengenai

hak-hak

dan

kewajiban-kewajiban

dilaksanakan oleh para peserta dalam perjanjian tersebut.

negaranya

harus

Ketentuan mengenai subjek hukum internasional sangatlah penting bagi seluruh


masyarakat internasional untuk mengetahui status atau kedudukannya dalam hukum
1 Dikutip dari http://nasional.sindonews.com/read/888991/18/isis-masalah-bagiindonesia-1407400079, yang diakses pada 5 Juli 2016, pukul 16.30 WIB.

2 Dikutip dari, http://nasional.tempo.co/read/news/2014/12/28/078631345/jejak-aktivitasisis-di-indonesia, pada 5 Juli 2016 , pukul 17.00 WIB.

3 Abdul Muthalib Tahar, Hukum Internasional dan Perkembangannya, Lampung:


FakultasHukum Universitas Lampung, 2012, hlm. 37.

internasional, yang akan mempengaruhi hak dan kewajibannya dalam melakukan kegiatan
internasional.
ISIS secara tidak langsung menyatakan dirinya sebagai sebuah negara dengan
menambahkan kata state pada akhir namanya. Namun, hal tersebut tidak sertamerta
dapat membuktikan bahwa ISIS adalah sebuah negara. Beberapa kriteria utama yang harus
dipenuhi oleh sebuah kelompok atau entitas sehingga dapat dikatakan sebagai sebuah
negara, antara lain harus memiliki penduduk, wilayah tertentu, pemerintahan, dan
kemampuan melakukan hubungan dengan negara lain.4
Pada ruang lingkup hukum internasional, pengakuan internasional terhadap suatu negara
didasarkan pada terpenuhi atau tidaknya syarat-syarat berdirinya suatu negara. Salah satu
syarat negara yang juga tercantum dalam Konvensi Montevideo 1933 adalah adanya
wilayah yang tetap. Dalam wilayah itulah negara biasanya menjalankan kekuasaan hukum
(yurisdiksi) atas orang-orang dan barang-barang dengan mengucilkan yurisdiksi negara lain,
tetapi selalu tunduk ke bawah pembatasan yang dipikulkan oleh hukum internasional. 5
Dalam kaitannya dengan unsur wilayah yang terdapat dalam Konvensi tersebut, wilayah
sebagaimana yang dimaksud tidak perlu memiliki letak yang pasti atau dengan kata lain
walau perbatasan antara wilayah tersebut masih dalam sengketa tidak menimbulkan
masalah. Wilayah tersebut merupakan wilayah yang dimukimi oleh penduduk atau rakyat
dari negara tersebut.

4 Pasal 1 Konvensi Montevideo 1933 tentang Hak-Hak dan Kewajiban Negara.


5 J.L. Brierly, Hukum Bangsa-Bangsa : Suatu Pengantar Hukum Internasional (terj.
Moh.Radjab), Jakarta: Bhratara, 1996, hlm. 123.