Anda di halaman 1dari 2

Gula pada MPASI

Preferensi terhadap rasa sangat dipengaruhi oleh faktor alamiah. Sebagai contoh,
makanan yang manis dipilih oleh sebagian besar herbivore dan omnivore, diduga karena
rasa manis merefleksikan gula yang terkandung dalam tumbuhan. Bayi dan anak
memiliki preferensi yang lebih tinggi daripada dewasa. Rasa pahit merupakan sinyal
adanya kemungkinan senyawa toksik yang terkadung dalam makanan. Oleh karena itu,
rasa pahit umumnya tidak disukai dan dihindari oleh bayi dan anak.
Rasa merupakan parameter penting dalam menilai kualitas sensorik suatu
makanan. MPASI yang disiapkan dengan penambahan gula dan minyak memiliki skor
paling tinggi dalam hal rasa dan penerimaan. Gula tidak hanya memberikan rasa manis
tetapi juga penting terhadap rasa makanan secara keseluruhan.
Berdasarkan Codex Standard for Processed Cereal-Baed Foods for Infants and
Young Children, yaitu sereal berprotein tinggi yang harus disiapkan dengan air atau
cairan tanpa protein, maka penambahan sukrosa atau glukosa tidak boleh melebihi 5
g/100 kkal, sedangkan penambahan fruktosa tidak boleh melebihi 2,5 g/100 kkal.(1)
Pemberian MPASI dengan cara yang benar (responsive feeding)
Pada tahun pertama, bayi dan orang tua belajar saling mengenali dan
mengintepretasi bahasa komunikasi verbal dan non-verbal antar mereka. Proses yang
bersifat timbal-balik ini membentuk dasar untuk ikatan atau perlekatan emosional antara
bayi dan orang tua yang sangat penting bagi perkembangan fungsi sosial-emosional yang
sehat.
Bayi akan menunjukkan tanda lapar dan kenyang dengan bahasa tubuhnya
(feeding cue). Jika ibu memperhatikan feeding cue dari bayinya dan memberikan ASI
sesuai tanta-tanda tersebut maka akan tercipta suatu jadwal makan yang paling sesuai
untuk bayi tersebut yang berbeda dengan bayi lain. Hal ini memudahkan jika sampai
saatnya memberikan MPASI, maka jadwal MPASI tersebut menggantukan beberapa
jadwal ASI sehingg tidak akan terjadi tumpang tindih. Mengingat kapasitas lambung bayi
masih relative kecil maka frekuensi pemberian MPASI ditingkatkan secara bertahap.
Peningkatan ini sekaligus untuk memenuhi kebutuhan energi dan zat gizi lainnya yang
semakin meningkat sejalan dengan bertambahnya usia anak. Pada usia 6-8 buln diberikan
2-3 kali per hari, ditingkatkan menjadi 3-4 kali per hari pada usia 9-24 bulan. Di antara

waktu makan apabila diperlukan bias diberikan tambahan makanan selingan 1-2 kali
sesuai dengan kemampuan si anak.

Pada akhirnya akan terjadi proses penyapihan ASI menjadi makanan keluarga
yang mulus tanpa masalah. Sikap ibu/pengasuh yang tanggap terhadap tanda ini disebut
responsive feeding. Responsive feeding menurut WHO mencakup:
Pemberian makan langsung kepada bayi oleh pengasuh dan
Gambar 3.3. Feeding rules (aturan pemberian makan)
pendampingan untuk anak yang lebih tua yang makan sendiri.
Peka terhadap tanda lapar dan kenyang yang ditunjukkan bayi/batita.
Berikan makanan secara perlahan dan sabar.
Dorong anak untuk makan tanpa adanya paksaan
Mencoba berbagai kombinasi makanan, rasa, tekstur serta cara agar anak

mau bila anak menolak banyak macam makanan.


Sesedikit mungkin distractor selama makan bila anak mudah kehilangan

perhatian sewaktu makan.


Waktu makan merupakan periode pembelajaran, pemberian kasih saying
termasuk berbicara kepada anak disertai kontak mata.