Anda di halaman 1dari 14

PENGGUNAAN HORMON UNTUK

PEMBENIHAN IKAN

Di susun Oleh :
KELOMPOK 6
NAMA

: AYU ANDIRA

NPM

: 1401040002

SEMESTER : V
PRODI

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS ALMUSLIM
MATANGGLUMPANG DUA
BIREUN
2016

: BDPI

KATA PENGANTAR
Assalamuailaikum wr. wb
Puji dan syukur kami panjatkan atas kehadirat Allah SWT karena dengan
rahmat, karunia, serta taufik dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyusun
makalah tentang Penggunaan hormon untuk pembenihan tepat pada waktunya.
Kami juga berterima kasih kepada Ibu selaku dosen pengajar mata kuliah.
Kami sangat berharap makalah ini dapat berguna dalam rangka menambah
wawasan serta pengetahuan pembaca tentang Penggunaan hormon untuk
pembenihan.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari kata kesempurnaan,
baik dalam bentuk penyusunan maupun materinya. Kritik dan saran dari pembaca
sangat kami harapkan untuk penyempurnaan makalah selanjutnya.
Wassalamualaikum wr.w
Matangglumpangdua, November 2016

Penyusun

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR..........................................................................................1
DAFTAR ISI........................................................................................................2
BAB I PENDAHULUAN....................................................................................3
1.1 Latar Belakang.................................................................................................3
1.2 Rumusan Masalah...........................................................................................3
1.3 Tujuan..............................................................................................................3
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................5
2.1 Pengertian Hormon Dari Luar.........................................................................5
2.2 Peranan Hormon Luar Dalam Proses Reproduksi Ikan...................................6
2.3 Jenis-Jenis Hormon.........................................................................................
2.4 Mekanisme Kerja Hormon Luar......................................................................
2.5 Aplikasi Hormon Sintetik Dalam Reproduksi Ikan.........................................
BAB III PENUTUP.............................................................................................22
3.1 Kesimpulan......................................................................................................22
DAFTAR APUSTAKA

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar belakang
Dalam memenuhi kebutuhan spesies terhadap populasi yang banyak telah

terdapat cara rekayasa hormon ikan agar bisa seefisien mungkin. Pada saat ini
hormon GnRH (Gonadotropin Releasing Hormone) sangat dipercaya mampu
memberikan ransangan terhadap induk ikan untuk melakukan pemijahan apabila
sudah terjadi kematangan gonad. Untuk memperoleh hormon GnRH kita harus
mengekstrak dari kelenjar pituitary yang membutuhkan adanya ikan donor
sebagai penyumbang kelenjar pituitary tersebut. Namun kegitan ini harus
diperhatikan dosis kelenjar pituitary yang akan didonor serta metode dalam
mengekstrak kelenjar pituitary sebagai penghasil hormon GnRH. Dengan metode
dan perhitungan dosis yang tepat usaha ini dapat terus diaplikasikan dalam
kegiatan pembenihan ikan dan merupakan rekomendasi yang sangat baik untuk
dilakukan oleh pihak-pihak yang berada di dunia budidaya komoditas perikanan
meski ada sebagian kecil dari komoditas yang tidak bisa dilakukan dengan cara
ini.
Pasca pemijahan maka akan terjadi fertilisasi dari sel jantan atau sperma
dengan sel betina atau ovarium. Pada dasarnya ada dua macam fertilisasi yang
kitaketahui yaitu fertilisasi buatan dan fertilisasi alami. Fertilisasi secara alami
akan terjadi begitu saja ketika pasca pemijahan dan bagi ikan yang hidup di alam
bebas tanpa bisa dilakukan pengontrolan oleh manusia. Namun ada yang berbeda
ketika kita melakukan fertilisasi buatan pada ikan. Jadi upaya fertilisasi buatan
sangat menguntungkan bagi spesies yang ketersediaannya di alam bebas sedikit
ataupun mendekati kepunahan. Akan tetapi fertilisasi buatan juga tidak sematamata dilakukan untuk spesies tertentu yang hampir punah, melainkan suatu upaya
dalam meningkatkan populasi ikan yang ingin kita produksi. Sebab fertilisasi
buatan bisa langsung dapat dikontrol oleh manusia akan keberhasilan dalam segi
kulitas dan kuantitasnya. Sehingga kegiatan ini mampu memberikan dampak
positif untuk kegiatan budidaya perairan.

Tingkat keberhasilan dari fertisasi ikan dapat juga kita lihat dalam
perkembangan telur melalui teknologi yang biasa dilakukan seperti mikroskop,
karena ukurannya yang begitu kecil serta perkembangan telur yang berubah pada
jangka waktu tertentu sebelum menjadi larva. Dalam perkembangannya terdapat
berbagai stadia perkembangan telur hingga terbentuknya larva atau individu baru
sebagai calon benih. Stadia perkembangan sel telur menjelang terbentuknya larva
merupakan suatu tahapan yang sangat sensitif atau sering disebut dengan masa
kritis. Dalam penangannya juga perlu dilakukan dengan metode yang tepat untuk
mengurangi dampak yang tidak diinginkan. Pada prinsipnya ada dua faktor yang
mempengaruhi terhadap fase perkembangan telur menjelang larva yaitu faktor
lingkungan yang mencakup terhadap kualitas air serta iklim setempat dan faktor
gen asal yang memberikan sifat keturunan. Maka untuk mendapatkan hasil yang
baik seleksi induk memiliki peranan penting untuk kualitas yang baik. Sedangkan
untuk faktor lingkungan keadaan kualitas air yang ideal dialam mampu direkayasa
bagi fertilisasi buatan. Berbagai upaya dari persiapan induk hingga melahirkan
individu baru sangat berperan penting terhadap tekhnologi pembenihan ikan
dengan melihat bagaimana proses pembentukan benih dengan melewati tahapantahapan sebelum mencapai benih yang ideal untuk keberlangsungan usaha
budidaya.

BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Hormon
Hormon merupakan suatu senyawa yang ekskresikan oleh kelenjar endokrin,
dimana kelenjar endokrin adalah kelenjar buntu yang tidak memiliki saluran
(Zairin,2002). Kelenjar endokrin pada ikan menurut Lagleret al. (1962) dalam
Gusrina(2008) terdapat beberapa organ antara lain adalah pituitari, pineal, thymus,
jaringan ginjal, jaringan kromaffin, interregnal tissue, corpuscles of stannus,
thyroid, ultibranchial, pancreatic islets, intestinal tissue, intestitial tissue of gonads
danurohypophysis. Beberapa hormon sangat berperan dalam proses reproduksi
ikan , selain hormon primer dan sekunder yang terdapat dalam tubuh ikan adapula
hormon luar (sintesis) yang dapat mempengaruhi proses pematangan gonad ikan.
Hormon Luar adalah suatu senyawa sintetik yang berfungsi untuk menginduksi
terjadinya ovulasi.
2.2 Peranan Hormon Luar Dalam Proses Reproduksi Ikan
Proses pemijahan adalah proses yang ditujukan oleh suatu species ikan
dalam bentuk tingkah laku melakukan perkawinan. Pada ikan air tawar yang
hidup di perairan tropis, terlihat bahwa musim memijah ikan lebih panjang
waktunya. Setiap individu lain, namun demikian masih tetap terlihat adanya
puncak-puncak musim memijah dalam setiap periode waktu tertentu (Peter dan
Hontela dalam Deswita 1995). Dalam proses reproduksi, sebelum terjadi
pemijahan gonad semakin besar dan berat.
Berat gonad akan mencapai maksimum sesaat ikan akan memijah
kemudian menurun dengan cepat selama pemijahan sampai selesai (Effendie,
1979). Abidin (1996) menyatakan selama dalam proses perkembangan baik dalam
tahap pertumbuhan maupun tahap pematangan gonad atau produksi, gonad ikan
akan mengalami perubahan-perubahan, seperti perubahan berat, volume serta
perubahan morfologi. Perubahan-perubahan ini sering dipakai sebagai indikator
dalam menentukan tingkat perkembangan gonad dalam proses oogenesis pada

ikan betina atau spermatogenesis pada ikan jantan. Bye (1984) menyatakan bahwa
umumnya species ikan menunjukkan siklus reproduksi tahunan (annual), tengah
tahunan (binual) dan siklus reproduksi akan tetap berlangsung selama fungsi
reproduksi masih normal. Faktor-faktor yang mempengaruhi siklus reproduksi
ikan di perairan terdiri dari faktor fisika, kimia dan biologi. Untuk ikan di daerah
tropis faktor fisika yang utama mengontrol siklus reproduksi adalah substrat dan
arus, faktor kimia adalah gas-gas terlarut; pH, nitrogen, metabolik, alkalinity,
kesadahan dan zat buangan yang berbahaya bagi kehidupan ikan di perairan.
Selanjutnya faktor biologi di bagi atas faktor biologi dalam dan faktor biologi
luar. Faktor biologi dalam meliputi faktor fisiologi individu dan respon terhadap
berbagai faktor lingkungan.
Faktor biologi luar yang penting adalah predator dan kompetisi sesama species
ikan tertentu atau dengan species lain.
Berdasarkan dinamika perkembangan oosit, Wallace dan Selma (1980) dan
De Vlamming dalam Syandri (1993) mengklasifikasikan pola perkembangan
gonad ikan Teleostei ada tiga type yaitu:

Tipe Sinkronisme total, oosit dalam ovari dibentuk dalam waktu yang
bersamaan, tumbuh bersama-sama melalui tahapan perkembangan dan tidak

ditemukan adanya oosit pada tingkat perkembangan yang berbeda.


Type ovari demikian ditemukan pada species yang bersifat anadromus dan
katadromus ya ng mempunyai musim pemijahan sangat terbatas dan harus

bermigrasi cukup jauh untuk mencapai lokasi pemijahan


Tipe Sinkronisme kelompok, ditemukan paling tidak dua populasi yang
berbeda pada tingkat perkembangan oosit yang berbeda. Kebanyakan species

Cyprinidae mempunyai pola perkembangan ovari yang demikian.


Tipe Asinkronisme, ditemukan oosit pada tingkat perkembangan yang
berbeda, sementara oosit baru terus muncul. Ditemukan pada spec ies ikan
yang memijah sepanjang tahun.
Lowe Me Connel (1975) menyatakan bahwa berdasarkan kepada pola

pemijahannya, ada 4 tipe reproduksi ikan air tawar yang mengisi perairan tropis
yaitu :

Tipe Big Bang Spawner yaitu species ikan yang memijah satu kali seumur

hidupnya.
Tipe Total Spawner yaitu golongan ikan yang mengeluarkan telurnya secara
keseluruhan pada satu kali memijah. Tipe reproduksi seperti ini mempunyai

fekunditas yang tinggi dan musim pemijahan yang terbatas.


Tipe Partial Spawner atau Multiple Spawner yaitu ikan yang berpijah di
sungai dikaitkan dengan fluktuasi tingginya permukaan air akibat hujan atau
banjir. Beberapa ikan dari famili Cyprinidae, Characoida e dan Siluridae

tergolong pada pemijahan ini.


Tipe Small Brood Spawner yaitu golonga n ikan air tawar yang mempunyai
fekunditas sangat sedikit dan umumnya species ikan yang melindungi telur
dan anak di dalam mulutnya.
Menurut Effendie (2004), berdasarkan sifatnya proses pemijahan ikan

bisa berlangsung dalam dua cara yaitu :

Pemijahan Alami, Dalam pemijahan alami, telur dibuahi oleh sperma dalam
air setelah dikeluarkan oleh induk betina. Proses ini biasanya didahului oleh
aktivitas percumbuan oleh kedua induk ikan tersebut. Pemijahan induk ikan

secara alamiah bisa berlangsung secara berkelompok atau berpasangan.


Pemijahan Buatan, Pada pemijahan buatan dilakukan dengan ikut campur
tangan manusia, yaitu melalui penyuntikan atau ransangan hormon.
Ada 3 komponen yang mempengaruhi proses pemijahan pada ikan, yaitu

gonad,

sistem

hormon

dan

lingkungan.

Ketiga

komponen

ini

saling

mempengaruhi satu sama lainnya.


Ada beberapa persyaratan yang harus dipenuhi agar suatu proses pemijahan
dapat berlangsung, yaitu :
Individu ikan jantan dan betina sudah matang gonad. Ikan yang siap untuk
dipijahkan sudah berada pada tingkat kematangan IV (Effendie, 1979).
Tingkat kematangan gonad dari suatu individu dapat ditunjukkan dengan
melihat alat kelamin ataupun morfologi dari tubuh ikan yang akan
dipijahkan.
Adanya rangsangan lingkungan. Hal ini berhubungan timbulnya rangsangan
hormon dalam tubuh ikan untuk memijah. Menurut Ha r ve y dan Hoar

(1979), kondisi lingkungan seperti hujan, habitat, oksigen terlarut, suhu,


cahaya,

fisika

kimia

air

lainnya

akan

merangsang

otak

untuk

memerintahkan kelenjar hipothalamus dan hipofisa mensekresikan atau


melepas hormon dalam merangsang p emijahan ikan
Adanya rangsangan dari lawan jenis. M enurut Effendie (2004), dalam
proses pemijahan, keberadaan lawan jenis kelamin akan merangsang induk
ikan untuk memijah. Rangsangan ini disebabkan oleh feromen, yaitu suatu
zat yang dikeluarkan oleh ikan yang berlawanan jenis kelaminnya tersebut.
Adanya substrat. Pada ikan yang memiliki sifat telur menempel, adanya
subtrat pemijahan dapat merangsang terjadinya pemijahan (Effendie, 2004).
2.3 Jenis-Jenis Hormon
1. Kelenjar Hipofisa
Kelenjar hipofisa adalah kelenjar yang menghasilkan berbagai hormon, antara
hormon yang berkerja terhadap kelenjar kelamin jantan (testes) Maupun kelenjar
kelamin betina (kantong telur). Kelenjar hipofisa ini terletak disebelah bawah
bagian depan otak besar (dienchephala) sehingga jika bagian otak ini diangkat
maka kelenjar ini akan tertinggal. Dengan demikian, untuk mengambil kelenjar
hipofisa maka tulang tengkorak harus di angkat terlebih dahulu.
Kelebihan Dan Kekurangan Hipofisa
Kelebihan dari hormon hipofisa adalah hormon ini bisa disimpan dalam waktu
lama sampai dua tahun. Penggunaan hormon ini juga relatif mudah (hanya
membutuhkan sedikit alat dan bahan), tidak membutuhkan refrigenerator dalam
penyimpanan, dosis dapat diperkirakan berdasar berat tubuh donor dan resepien,
adanya kemungkinan terdapat hormon-hormon lain yang memiliki sifat sinergik.
Kekurangan dari teknik hipofisasi adalah adanya kemungkinan terjadi reaksi
imunitas (penolakan) dari dalam tubuh ikan terutama jika donor hipofisa berasal
dari ikan yang berbeda jenis, adanya kemungkinan penularan penyakit, adanya
hormon hormon lain yang mungkin akan merubah atau malah menghilangkan
pengaruh hormon gonadotropin.
Dari beberapa penelitian mengenai hipofisasi didapatkan bahwa dengan dosis
rendah, 1 mg hipofisa ikan mas per kg berat badan resipien dapat menginduksi

pematangan telur tetapi tidak menyebabkan ovulasi pada goldenperch, maquaria


ambigua. Sedangkan dengan dosis tinggi,15 mg/kg menyebabkan penurunan
kemampuan menetas dibanding dengan 10 mg/kg dengan kemampuan
menginduksi ovulasi adalah 100%.
2. LHRH (Luteinizing Hormone-Releasing Hormone)
LHRH (luteinizing hormon releasing hormon) adalah hormon dari golongan
protein yang dihasilkan oleh hipotalamus. Hormon ini molekulnya sangat kecil
dibandingkan dengan hormon golongan lainnya, yakni terdiri dari 10 asam amino
(dekapeptida). LHRH sebenarnya sama persis dengan GnRH. Karena LHRH
waktu paruhnya pendek sehingga mudah terurai dari dalam tubuh maka para ahli
menciptakan LHRH sintesis yang lebih tahan. LHRH jenis ini sering dikenal
dengan LHRH-analog (LHRH-a). jika hormon yang digunakan adalah LHRH,
berarti manipulasi yang dilakukan berada pada tingkat hipofisa.
LHRH-A telah berhasil digunakan dalam menginduksi pemijahan ikan Mas,
sidat, salmon, sturgeon, dan lain-lain (Lam, 1985). Di Indonesia pemakaian
LHRH-A telah berhasil digunakan dalam menginduksi pemijahan ikan Bandeng.
Penggunaan LHRH-A pada ikan tidak saja melalui penyuntikan tetapi juga dengan
implantasi menggunakan pellet cholesterol atau implantsilicone rubber. Dengan
teknik ini dapat mensuplai LHRH-A dalam waktu lama tanpa penanganan
berulang-ulang pada ikan dan memungkinkan induksi pematangan gonad dan
pemijahan yang lebih cepat.
3. 17-a-methyltestosteron
Aplikasi hormone ini untuk menjantankan atau membetinakan semua benih
ikan yang akan dibudidayakan, telah dilakukan pada beberapa jenis ikan, antara
lain ikan mujair, karper, mas koki, dan lain-lain. Caranya dengan menambahkan
metiltestosteron pada pakan dengan dosis 15-60 mg/kg pakan dapat menghasilkan
100% jantan. Sedangkan untuk membetinakan benih dapat dilakukan dengan
penambahan hormone-hormon estrogenic, sepertiestron, estriol, estradiol. Namun
hasil yang dicapai tidak segemilang menjantankan benih.
Hormone ini juga digunakan untuk meningkatkan laju pertumbuhan melalui
aplikasi hormone, juga telah banyak dilakukan, yakni dengan meningkatkan nilai

konversi makanan. McBride dan Fegerlund (1973 dalamMatty,1985), telah


berhasil menggunakan methyltestosteron untuk mempercepat pertumbuhan
juvenile ikan salmon.
Selain mencampur metiltestosteron dalam pakan, aplikasi hormon dapat juga
dilakukan dengan cara merendam telur pada fase bintik mata atau merendam
induk pada masa untuk ikan vivipar. Waktu perlakuan ini disesuaikan dengan
masa diferensiasi gonad. Bila gonad telah berdiferensiasi menjadi ovary atau
testis, maka perlakuan tersebut tidak akan memberi hasil sesuai yang diharapkan.
4. Feromon
Feromon adalah bahan kimia disekresi dan disampaikan ke reseptor pembau
dengan reaksi yang spesifik. Fungsi feromon ikan dapat dibagi tiga,yakni:
(1) Sebagai alarm dan pengenalan spesies,
(2) Untuk pengenalan seks dan perubahan tingkah laku seksual,
(3) Untuk pengenalan wilayah
Pengenalan Seks dan Perubahan Tingkah Laku Seksual :
Teleostei dan beberapa elasmobranch melakukan komunikasi dengan sinyal
kimia untuk mengontrol fertilitas, koordinasi seksual, dan koordinasi tingkah laku
seksual. Pada beberapa spesies, ikan jantan tertarik untuk berintegrasi dengan
betina melalui bau. Steroid seks merupakan salah satu bahan kimia yang secara
spontan membangkitkan afinitas elektrik organolfaktori. Pada ikan mas misalnya,
jantan dewasa dapat membedakan ikan betina matang gonad melalui feromon
yang terkandung dalam cairan ovary yang dilepaskan sesaat setelah ovulasi.
Substansi daya tarik dari gonad umumnya bersumber dari feromon seks yang
terlarut dalam air. Ikan guppy (Poecilia reticulate) jantan tertarik pada air yang
sebelumnya ditempati betina, terutama oleh betina yang sedang bunting. Feromon
seks juga menyebabkan sinkronisasi pelepasan sperma dari jantan dan telur dari
betina ikan karper (Cyprinus carpio) sehingga pembuahan dapat terjadi secara
efektif.
5. Ovaprim
Ovaprim adalah merek dagang bagi hormone analog yang mengandung 20g
analog salmon gonadotropin releasing hormone (sGnRH) LHRH dan10g
domperidone sejenis anti dopamin, per milliliter (Nandeesha et al, 1990).

Ovaprim digunakan sebagai agen perangsang bagi ikan untuk memijah,


kandungan sGnRHa akan menstimulus pituatari untuk mensekresikan GtH I dan
GtH II. Sedangkan anti dopamin menghambat hipotalamus dalam mensekresi
dopamin yang memerintahkan pituatari menghentikan sekresi GtH I dan GtH II.
Kegunaan Ovaprim antara lain :
Menekan musim pemijahan
Mengatur kematangan gonad selama musim pemijahan normal
Merangsang produksi sperma pada jantan untuk periode waktu yang lama dan

volume yang lebih banyak.


Merangsang pematangan gonad sebelum musim pemijahan.
Memaksimalkan potensi reproduksi
Mempertahankan materi genetic pada beberapa ikan yang terancam punah
Mempersingkat periode pemijahan.

6. HCG (Human Chorionic Gonadotropin)


HCG juga berperan dalam memacu terjadinya ovulasi, seperti pada ikan
Goldfish, penyuntikan hormon human chorionic gonadotropin (hCG) akan
menyebabkan sintesis indomethanin (prostaglandin inhibitor) terhambat sehingga
Prostaglandin dapat mendorong ovulasi ikan trout pelangi dan Goldfish.
Prostaglandin berperan penting dalam menstimulasi ovulasi ikan teleostei pada
tahap akhir. (Jalabert dan Szollosi, 1975 dalam Stacey, 1984).
2.4 Mekanisme Kerja Hormon Luar

Perangsangan

pemijahan

ikan

secara

hormonal

dilakukan

dengan

menyuntikan hormon tertentu kedalam ke tubuih ikan. Hormon tersebut masuk ke


dalam sistem sirkulasi darah ikan dan ketika mencapai organ target (Gonad)
langsung berkerja dan mempengaruhi organ tersebut. Dengan demikian,
perangsangan pemijahan secara hormonal ini merupakan upaya by pass cara kerja
hormon dalam sistem reproduksi ikan.
2.5 Aplikasi Hormon Sintetik Dalam Reproduksi Ikan
Metode Injeksi
Teknik penyuntikan hormon pada ikan ada 3 yaitu intra muscular
(penyuntikan kedalam otot), intra peritorial (penyuntikan pada rongga perut), dan

intra cranial (penyuntikan di kepala) (Susanto, 1999). Dari ketiga teknik


penyuntikkan yang paling umum dan mudah dilakukan adalah intra muscular,
karena pada bagian ini tidak merusak organ yang penting bagi ikan dalam
melakukan proses metabolisme seperti biasanya dan tingkat keberhasilan lebih
tinggi dibandingkan dengan lainnya. Menurut Muhammad dkk (2001) secara intra
muscular yaitu pada 5 sisik ke belakang dan 2 sisik ke bawah bagian sirip
punggung ikan.
Metode implantasi
O Menggunakan pellet kolesterol, atau
O Menggunakan implan silikon rubber
Melalui Pakan
Melalui Perendaman

BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Adapun kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pembahasan diatas adalah
:
1. Hormon luar sangat berperan penting dalam proses reproduksi ikan karena :
Memijahkan ikan yang sistem saraf pusatnya sulit dipengaruhi oleh sinyal
lingkungan atau kalaupun bisa pembangkitan sinyal lingkungan tersebut sulit
dan mahal serta belum diketahuinya sinyal lingkungan yang bisa
mempengaruhi sistem saraf pusat ikan tersebut.
Memijahkan ikan diluar musim pemijahannya (out season), terutama pada
ikan yang mengenal musim pemijahan tertentu.
2. Beberapa jenis hormon luar yaitu :
LHRH-a
HCG

GnRH ( SGnRHa dan PREGNYL)


17-a-methyltestosteron
Feromon
Kelenjar Hipofisa
Dll.

DAFTAR PUSTAKA
Affandi, R., D.S. Safei, M.F. Rahardjo, dan Sulistiono. 1992. Fisiologi Ikan;
Pencernaan. PAU Ilmu Hayat IPB. 215
Ellis, A.E. 1988. Fish Vaccination. Academic Press. 255 h.