Anda di halaman 1dari 22

hy

UNIVERISTAS INDONESIA

LAPORAN KASUS KELOLAAN


RUANG NON INFEKSI

ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK R.


DENGAN TUMOR INTRA ABDOMEN
DI RS CIPTO MANGUNKUSUMO JAKARTA

OLEH:
ELSA NAVIATI
NPM. 0906594305

PROGRAM RESIDENSI KEPERAWATAN


ANAK
FAKULTAS ILMU KEPERAWATAN
UNIVERSITAS INDONESIA
2012

IDENTIFIKASI MASALAH YANG TIMBUL DALAM


ASUHAN KEPERAWATAN DAN SOLUSI YANG DILAKUKAN PADA KLIEN An.
R DENGAN TUMOR INTRA ABDOMEN
24 29 SEPTEMBER 2012
A. RIWAYAT SINGKAT KLIEN
An. R, laki-laki usia 7 tahun. Klien mengeluh perutnya sakit dan sedikit membesar lalu
dibawa ke RS Berkah dikatakan iritasi perut kemudian dirawat 6 hari dan perut makin
membesar lalu dirujuk ke RSCM. Saat dikaji buang air besar klien berbentuk seperti
kotoran kambing. Sebelumnya klien pernah sakit TB/flek paru sudah diobati selama 6
bulan dan dinyatakan sembuh. Menurut ibu, tidak ada riwayat penyakit keganasan pada
keluarga, tidak ada riwayat alergi pada keluarga dan tidak ada riwayat penyakit keturunan
seperti diabetes mellitus dan asma pada keluarga.
Pada saat dilakukan pengkajian didapatkan hasil pemeriksaan penunjang, konsultasi dan
laboratorium sebagai berikut:
PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN KONSULTASI
NO TGL
1 27/9/12

BAGIAN

PEMERIKSAAN
HASIL
MSCT SCAN
Tampak massa bulky intra peritoneal
ABDOMEN
dengan komponen padat yang
prominen di abdomen dan pelvis
berbatas tidak tegas menyangat
heterogen disertai nekrosis pasca
pemberian kontras, mengisi abdomen
dengan komponen usus di tengahnya.
Batas massa dengan organ abdomen
tidak jelas, sangat mungkin sudah
terjadi perlekatan, massa mencapai
dinding abdomen, batas massa
dengan aorta tidak jelas, curiga
perlekatan. Dilatasi colon ascenden,
tranversum,
descenden
dan
iregularitas dinding colon sigmoid
sampai dengan rectum. Tampak
ascites abdomen dan efusi pleura
kanan.
Hepar: kesan membesar. Densitas
parenkim homogeny tampak lesi
fokal patologis. Vena porta, vena
hepatica dan sistem biliar tidak
melebar. Kandung empedu bentuk
dan ukuran bai, tidak tampak lesi
fokal patologis. Duktus pankreatikus
tidak melebar dan tidak tampak
kalsifikasi. Tidak tampak batu di

29/9/12 Radiologi

RONTGEN

kandung empedu. Limpa bentuk dan


ukuran baik, densitas homogeny,
tidak tampak ada lesi fokal. Vena
lienalis tidak melebar. Kedua ginjal
bentuk dan ukuran baik, tidak
tampak batu, massa. Dilatasi sistem
pelviokalises
terutama
kanan.
Dilatasi gaster, kelenjar supra renal
tidak membesar. Aorta caliber baik,
tidak tampak dilatasi. Kelenjar limfe
para aorta tidak dapat dievaluasi.
Vesika urin tampak terdesak ke
inferoanterior. Tulang-tulang tidak
tampak kelainan.
Kesimpulan;
massa
bulky
intraperitoneal dengan komponen
usus yang prominen di rongga
abdomen
dan
pelvis
dengan
komponen usus di tengah dan
menempel
dengan
organ
di
sekitarnya
mencapai
dinding
abdomen disertai ascites = curiga
malignansi peritoneal dan efusi
pleura kanan.
Efusi pleura kanan perburukan dari
pemeriksaan lalu tanggal 21/9/12

HASIL LABORATORIUM
NO
1
2

JENIS
Hemostasis
25/9/12
Hematologi
26/9/12

PEMERIKSAAN
PT
APTT
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
Albumin
Basofil
Eosinofil
Monosit
Limfosit
Neutrofil
LED
MCV
MCH

HASIL
11,8
30
8,8
26,1
450000
19250
3,12
2,86
0,2
0,7
6
14,9
78,2
110
83,7
28,2

NILAI NORMAL
11 15 detik
25 35 detik
12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
3,5 5 g/dl
01%
13%
37%
24 44 %
34 75 %

KETERANGAN
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Rendah
Tinggi

80-96 fl
27-32 pg

Normal
Normal

4
5

Hematologi
28/9/12

Fungsi ginjal
28/9/12
Urine Analisis
28/9/12

MCHC
Natrium
Kalium
Chlorida
Amilase
pankreatik
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Urea
Creatinin
Warna urine
Leukosit
Eritrosit
Silinder
Sel epitel
Kristal
Bakteri
BJ
pH
Protein
Glukosa
Urobilinogen
Nitrit
Leukosit esterase
Keton
Darah/Hb
Bilirubin

33,7
134
4,17
97,7
32

32-36 g/dl
135 145 mEq/l
3,5 5,5 mEq/l
97 107 mEq/l

Normal
Rendah
Normal
Normal
Tinggi

12,6
37,9
420000
25680
3,42
85,7
28,5
33,2
152
2
Kuning
keruh
45
30 35
Negatif
+1
Negatif
Negatif
1,010
6
Negatif
Negatif
3,2
Negatif
Negatif
Negatif
+3
Negatif

12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
15 40 mg/dl
0,3 0,7 mg/dl
Kuning jernih

Normal
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Tinggi
Tidak normal

56
<5
Negatif
Positif
Negatif
Negatif
1,01 1,03
4,6 8
Negatif
Negatif

Normal
Tinggi
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Negatif
Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal

Negatif

Normal

B. MASALAH KEPERAWATAN KLIEN


Dalam pemberian asuhan keperawatan pada An. R terdapat beberapa masalah
keperawatan diantaranya adalah:

1.
2.
3.
4.
5.
6.

Nyeri
Pola napas tidak efektif
Hipertermi
Gangguan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh
Defisit perawatan diri
Risiko cidera jatuh

C. ANALISIS MASALAH
An. R dengan diagnosis medis Tumor intra abdomen dan efusi pleura ditemukan 5
masalah keperawatan yaitu nyeri, pola napas tidak efektif, hipertermi, gangguan nutrisi
kurang dari kebutuhan tubuh dan defisit perawatan diri.
Berikut adalah data penunjang penegakan masalah keperawatan tersebut:
NO
DATA PENUNJANG
1 Data subjektif:
Klien mengatakan nyeri dirasakan di
perutnya. Skala nyeri 5
Menurut klien nyeri tersebut menetap namun
kadang rasanya lebih nyeri dari sebelumnya
terutama saat bergerak ke kanan atau kiri.
Data objektif:
Anak tampak meringis atau mengerutkan
dahi, ekstremitas tampak tegang/tidak tenang,
kadang gekisah, klien tidur berbolak balik
posisi, kadang disertai rengekan namun saat
merengek klien masih bisa ditenangkan.
Pemeriksaan fisik didapatkan terdapat
hepatomegali
Pemeriksaan penunjang: MSCT Scan
Terdapat massa bulky intraperitoneal, curiga
malignansi peritoneal dan efusi pleura kanan.
2 Data subjektif:
Ibu mengatakan kadang anak terlihat sesak
Data objektif:
Terdapat retraksi dinding dada, taktil fremitus
paru kanan menurun
RR = 24x/menit ireguler
Hasil MSCT scan dan rontgen = efusi pleura
kanan

MASALAH KEPERAWATAN

NO
DATA PENUNJANG
3 Data subjektif:
Ibu mengatakan suhu badan anaknya sering
teraba hangat
Data objektif:
Suhu badan saat dikaji 37,5C (pk. 15.00)
Lalu naik 38,5C (pk. 18.00)
4 Data subjektif:
Ibu klien mengatakan sejak belum masuk

MASALAH KEPERAWATAN

Nyeri

Pola napas tidak efektif

Hipertermi

rumah sakit napsu makan menurun terutama


saat mengeluh nyeri perut, di rumah sakit
klien harus puasa karena buang air besarnya
hitam
Data objektif:
Conjungtiva anemis
Tinggi badan klien = 128 cm
Berat badan klien = 22 kg
Berat badan klien/usia = 10%
Tinggi badan klien/usia = 90%
Berat badan/tinggi badan = 5%
Anak tergolong gizi buruk
Nilai laboratorium (tgl 24/9/12):
Hb=7,2 gr/dl Albumin=2,48gr/dl
Data subjektif:
Ibu mengatakan sejak masuk rumah sakit (di
RS Berkah sampai ke RSCM), anak jarang
dimansikan, hanya dilap bagian-bagian yang
tampak saja itupun jarang
Data objektif:
Kuku klien panjang dan hitam
Rambut kotor
Kulit di semua bagian tubuh sangat kotor
Data subjektif:
Klien mengatakan untuk duduk atau bangun
dari tidur harus dibantu apalagi untuk berjalan
Data objektif:
Berdasarkan
skoring
risiko
jatuh
(HumptyDumpty Scale) klien termasuk dalam
risiko tinggi jatuh dengan skor 14

Gangguan nutrisi kurang dari


kebutuhan tubuh

Defisit perawatan diri

Risiko cidera jatuh

D. SOLUSI YANG DIBERIKAN


Solusi yang diberikan pada An. R berdasarkan masalah keperawatan tersebut adalah
sebagai berikut:
NO
MASALAH
1 Nyeri

SOLUSI
a.
Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi
b.
Mengobservasi
reaksi
nonverbal
dari
ketidaknyamanan
c.
Mengajarkan teknik relaksasi napas dalam,
memberikan reinforcement positif, menonton televisi
melalui telepon genggam dan mengajarkan anak koping

2
3

positif.
d.
Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
paracetamol 250 mg
e.
Menganjurkan klien untuk tidur pada sisi yang tidak
nyeri
f.
Memberikan informasi tentang nyeri (penyebab
nyeri, berapa lama nyeri akan berkurang dan penanganan
nyeri)
Pola napas tidak efektif a. Memposisikan klien semi fowler
b. Memonitor vital sign
Hipertermi
a. Memonitor vital sign
b. Memonitor warna dan suhu kulit
c. Memonitor leukosit, Hb, dan Ht
d. Meonitor intake dan output
e. Kolaborasi memberikan antipiretik, paracetamol 250 mg
prn per oral. Paracetamol berguna untuk menurunkan set
point hypothalamus,
f. Memberikan Antibiotik cefotaxim 250 mg intravena
g. Memberikan cairan intravena
Kaen 1B(415) + D40(85) + KCl(10) 46 ml/jam
AF 5% 18 ml/jam
h. Mengompres pasien pada dahi, lipat paha dan aksila
i. Memonitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban
membran mukosa)
Gangguan nutrisi
a. Kolaborasi dengan dokter anak sub spesialis nutrisi dan
kurang dari kebutuhan
metabolik untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
tubuh
yang dibutuhkan pasien
b. Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
c. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan
kadar hematokrit
d. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
e. Monitor intake nuntrisi
f. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
g. Mempertahankan terapi intravena
h. Mencatat adanya edema, hiperemik, hipertonik
Defisit perawatan diri
a.
Membantu klien dalam personal hygiene
b.
Melibatkan keluarga dalam perawatan klien
c.
Mendorong klien untuk melakukan aktivitas seharihari yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki (klien
gosok gigi dengan kasa di tempat tidur)
Risiko cidera jatuh
a.
Memasang side rail tempat tidur
b.
Memasang gelang risiko jatuh berwarna kuning pada
pergelangan tangan klien
c.Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
d.
Memberikan penerangan yang cukup
e.Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.

REFERENSI
Hockenberry, M.J & Wilson, D. 2007. Wongs nursing care infant and children 8 th ed.
St.Louis: Mosby Inc.
Wong, D. 2004. Pedoman klinis: keperawatan pediatrik. Edisi 4. Jakarta: EGC
Kliegman m Robert et al. (2006). Nelson Essentials of Pediatrics fifth edition. Philadelphia:
Elsevier
Heather Herdman. (2010). Diagnosis Keperawatan: definisi dan klasifikasi 2009-2011.
Jakarta: EGC

TINDAKAN BERDASARKAN EVIDENCE BASED PRACTICE


PADA An. R DENGAN TUMOR INTRA ABDOMEN

A. RIWAYAT SINGKAT KLIEN


An. R, laki-laki usia 7 tahun. Klien mengeluh perutnya sakit dan sedikit membesar lalu
dibawa ke RS Berkah dikatakan iritasi perut kemudian dirawat 6 hari dan perut makin
membesar lalu dirujuk ke RSCM. Saat dikaji buang air besar klien berbentuk seperti
kotoran kambing. Sebelumnya klien pernah sakit TB/flek paru sudah diobati selama 6
bulan dan dinyatakan sembuh. Menurut ibu, tidak ada riwayat penyakit keganasan pada
keluarga, tidak ada riwayat alergi pada keluarga dan tidak ada riwayat penyakit keturunan
seperti diabetes mellitus dan asma pada keluarga.

Pada saat dilakukan pengkajian didapatkan hasil pemeriksaan penunjang, konsultasi dan
laboratorium sebagai berikut:
PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN KONSULTASI
NO TGL
1 27/9/12

BAGIAN

PEMERIKSAAN
HASIL
MSCT SCAN
Tampak massa bulky intra peritoneal
ABDOMEN
dengan komponen padat yang
prominen di abdomen dan pelvis
berbatas tidak tegas menyangat
heterogen disertai nekrosis pasca
pemberian kontras, mengisi abdomen
dengan komponen usus di tengahnya.
Batas massa dengan organ abdomen
tidak jelas, sangat mungkin sudah
terjadi perlekatan, massa mencapai
dinding abdomen, batas massa
dengan aorta tidak jelas, curiga
perlekatan. Dilatasi colon ascenden,
tranversum,
descenden
dan
iregularitas dinding colon sigmoid
sampai dengan rectum. Tampak
ascites abdomen dan efusi pleura
kanan.
Hepar: kesan membesar. Densitas
parenkim homogeny tampak lesi
fokal patologis. Vena porta, vena
hepatica dan sistem biliar tidak
melebar. Kandung empedu bentuk
dan ukuran bai, tidak tampak lesi
fokal patologis. Duktus pankreatikus
tidak melebar dan tidak tampak
kalsifikasi. Tidak tampak batu di
kandung empedu. Limpa bentuk dan
ukuran baik, densitas homogeny,
tidak tampak ada lesi fokal. Vena
lienalis tidak melebar. Kedua ginjal
bentuk dan ukuran baik, tidak
tampak batu, massa. Dilatasi sistem
pelviokalises
terutama
kanan.
Dilatasi gaster, kelenjar supra renal
tidak membesar. Aorta caliber baik,
tidak tampak dilatasi. Kelenjar limfe
para aorta tidak dapat dievaluasi.
Vesika urin tampak terdesak ke
inferoanterior. Tulang-tulang tidak
tampak kelainan.
Kesimpulan;
massa
bulky
intraperitoneal dengan komponen
usus yang prominen di rongga

29/9/12 Radiologi

RONTGEN

abdomen
dan
pelvis
dengan
komponen usus di tengah dan
menempel
dengan
organ
di
sekitarnya
mencapai
dinding
abdomen disertai ascites = curiga
malignansi peritoneal dan efusi
pleura kanan.
Efusi pleura kanan perburukan dari
pemeriksaan lalu tanggal 21/9/12

HASIL LABORATORIUM
NO
1
2

JENIS
Hemostasis
25/9/12
Hematologi
26/9/12

Hematologi
28/9/12

Fungsi ginjal
28/9/12
Urine Analisis

PEMERIKSAAN
PT
APTT
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
Albumin
Basofil
Eosinofil
Monosit
Limfosit
Neutrofil
LED
MCV
MCH
MCHC
Natrium
Kalium
Chlorida
Amilase
pankreatik
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Urea
Creatinin
Warna urine

HASIL
11,8
30
8,8
26,1
450000
19250
3,12
2,86
0,2
0,7
6
14,9
78,2
110
83,7
28,2
33,7
134
4,17
97,7
32

NILAI NORMAL
11 15 detik
25 35 detik
12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
3,5 5 g/dl
01%
13%
37%
24 44 %
34 75 %

KETERANGAN
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Rendah
Tinggi

80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
135 145 mEq/l
3,5 5,5 mEq/l
97 107 mEq/l

Normal
Normal
Normal
Rendah
Normal
Normal
Tinggi

12,6
37,9
420000
25680
3,42
85,7
28,5
33,2
152
2
Kuning
keruh

12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
15 40 mg/dl
0,3 0,7 mg/dl
Kuning jernih

Normal
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Tinggi
Tidak normal

28/9/12

Leukosit
Eritrosit
Silinder
Sel epitel
Kristal
Bakteri
BJ
pH
Protein
Glukosa
Urobilinogen
Nitrit
Leukosit esterase
Keton
Darah/Hb
Bilirubin

45
30 35
Negatif
+1
Negatif
Negatif
1,010
6
Negatif
Negatif
3,2
Negatif
Negatif
Negatif
+3
Negatif

56
<5
Negatif
Positif
Negatif
Negatif
1,01 1,03
4,6 8
Negatif
Negatif

Normal
Tinggi
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Negatif
Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal

Negatif

Normal

B. TINDAKAN BERDASARKAN EVIDENCE BASED PRACTISE


Berdasarkan masalah keperawatan yang muncul, masalah utama pada klien adalah
nyeri. Definisi nyeri adalah sensasi yang tidak menyenangkan yang sangat individual
sehingga tidak dapat dibagi dengan orang lain (Berman et al, 2009). Nyeri harus segera
diatasi karena efek negatif nyeri jangka panjang akan mengakibatkan meningkatnya
angka kematian dan kesakitan juga mengganggu proses tumbuh kembang anak (Zempsky
dan Schecter, 2003). Beberapa implementasi dilakukan dengan tujuan menurunkan nyeri.
Perawat sebagai salah satu tenaga kesehatan yang melakukan intervensi mandiri tanpa
obat memiliki beberapa implementasi yang dapat dilakukan saat menjumpai klien dengan
nyeri.
Intervensi nyeri non farmakologi berdasarkan review dari berbagai sumber
(Srouji, Ratnapalam dan Schneeweiss, 2010) adalah distraksi yang terbagi menjadi 2
yaitu aktif (anak berperan aktif) dan pasif (hanya perawat yang berperan aktif). Intervensi
dalam meminimalkan nyeri terdiri atas kognitif, perilaku dan kombinasi keduanya.
Intervensi kognitif yang dapat dilakukan adalah imagery, informasi, pernyataan koping,
parental training, memainkan video games dan menonton televisi. Sedangkan intervensi
perilaku terdiri dari: napas dalam, perilaku koping positif, desensitization, positif
reinforcement, parent coaching.
REFERENSI
Berman et al. (2009). Buku ajar praktek keperawatan klinis Kozier dan Erb. Jakarta: EGC

Srouji, Ratnapalam dan Schneeweiss (2010). Pain in children: assessment and


nonpharmacological management. International Journal of Pediatrics volume
2010.articleID474838
Zempsky and Schecter. (2003). Whats New in the Management of Pain in Children.
Pediatrics in review.vol24.no.10Oktober2003

MASALAH LEGAL DAN ETIK KEPERAWATAN YANG DITEMUKAN PADA


ASUHAN KEPERAWATAN An. R DENGAN TUMOR INTRA ABDOMEN
A. KONDISI KLIEN
An. R, laki-laki usia 7 tahun. Klien mengeluh perutnya sakit dan sedikit membesar lalu
dibawa ke RS Berkah dikatakan iritasi perut kemudian dirawat 6 hari dan perut makin
membesar lalu dirujuk ke RSCM. Saat dikaji buang air besar klien berbentuk seperti
kotoran kambing. Sebelumnya klien pernah sakit TB/flek paru sudah diobati selama 6
bulan dan dinyatakan sembuh. Menurut ibu, tidak ada riwayat penyakit keganasan pada
keluarga, tidak ada riwayat alergi pada keluarga dan tidak ada riwayat penyakit keturunan
seperti diabetes mellitus dan asma pada keluarga.
Pada saat dilakukan pengkajian didapatkan hasil pemeriksaan penunjang, konsultasi dan
laboratorium sebagai berikut:

PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN KONSULTASI


NO TGL
1 27/9/12

BAGIAN

PEMERIKSAAN
HASIL
MSCT SCAN
Tampak massa bulky intra peritoneal
ABDOMEN
dengan komponen padat yang
prominen di abdomen dan pelvis
berbatas tidak tegas menyangat
heterogen disertai nekrosis pasca
pemberian kontras, mengisi abdomen
dengan komponen usus di tengahnya.
Batas massa dengan organ abdomen
tidak jelas, sangat mungkin sudah
terjadi perlekatan, massa mencapai
dinding abdomen, batas massa
dengan aorta tidak jelas, curiga
perlekatan. Dilatasi colon ascenden,
tranversum,
descenden
dan
iregularitas dinding colon sigmoid
sampai dengan rectum. Tampak
ascites abdomen dan efusi pleura
kanan.
Hepar: kesan membesar. Densitas
parenkim homogeny tampak lesi
fokal patologis. Vena porta, vena
hepatica dan sistem biliar tidak
melebar. Kandung empedu bentuk
dan ukuran bai, tidak tampak lesi
fokal patologis. Duktus pankreatikus
tidak melebar dan tidak tampak
kalsifikasi. Tidak tampak batu di
kandung empedu. Limpa bentuk dan
ukuran baik, densitas homogeny,
tidak tampak ada lesi fokal. Vena
lienalis tidak melebar. Kedua ginjal
bentuk dan ukuran baik, tidak
tampak batu, massa. Dilatasi sistem
pelviokalises
terutama
kanan.
Dilatasi gaster, kelenjar supra renal
tidak membesar. Aorta caliber baik,
tidak tampak dilatasi. Kelenjar limfe
para aorta tidak dapat dievaluasi.
Vesika urin tampak terdesak ke
inferoanterior. Tulang-tulang tidak
tampak kelainan.
Kesimpulan;
massa
bulky
intraperitoneal dengan komponen
usus yang prominen di rongga
abdomen
dan
pelvis
dengan
komponen usus di tengah dan
menempel
dengan
organ
di

29/9/12 Radiologi

RONTGEN

sekitarnya
mencapai
dinding
abdomen disertai ascites = curiga
malignansi peritoneal dan efusi
pleura kanan.
Efusi pleura kanan perburukan dari
pemeriksaan lalu tanggal 21/9/12

HASIL LABORATORIUM
NO
1
2

JENIS
Hemostasis
25/9/12
Hematologi
26/9/12

Hematologi
28/9/12

Fungsi ginjal
28/9/12
Urine Analisis

28/9/12

PEMERIKSAAN
PT
APTT
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
Albumin
Basofil
Eosinofil
Monosit
Limfosit
Neutrofil
LED
MCV
MCH
MCHC
Natrium
Kalium
Chlorida
Amilase
pankreatik
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Urea
Creatinin
Warna urine
Leukosit
Eritrosit
Silinder

HASIL
11,8
30
8,8
26,1
450000
19250
3,12
2,86
0,2
0,7
6
14,9
78,2
110
83,7
28,2
33,7
134
4,17
97,7
32

NILAI NORMAL
11 15 detik
25 35 detik
12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
3,5 5 g/dl
01%
13%
37%
24 44 %
34 75 %

KETERANGAN
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Rendah
Tinggi

80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
135 145 mEq/l
3,5 5,5 mEq/l
97 107 mEq/l

Normal
Normal
Normal
Rendah
Normal
Normal
Tinggi

12,6
37,9
420000
25680
3,42
85,7
28,5
33,2
152
2
Kuning
keruh
45
30 35
Negatif

12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
15 40 mg/dl
0,3 0,7 mg/dl
Kuning jernih

Normal
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Tinggi
Tidak normal

56
<5
Negatif

Normal
Tinggi
Normal

Sel epitel
Kristal
Bakteri
BJ
pH
Protein
Glukosa
Urobilinogen
Nitrit
Leukosit esterase
Keton
Darah/Hb
Bilirubin

+1
Negatif
Negatif
1,010
6
Negatif
Negatif
3,2
Negatif
Negatif
Negatif
+3
Negatif

Positif
Negatif
Negatif
1,01 1,03
4,6 8
Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Negatif
Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal

Negatif

Normal

B. ANALISIS MASALAH
Solusi yang diberikan pada An. R berdasarkan masalah keperawatan adalah sebagai
berikut:
NO
MASALAH
1 Nyeri

2
3

SOLUSI
a. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi
b. Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c. Mengajarkan teknik relaksasi napas dalam
d. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
paracetamol 250 mg
e. Menganjurkan klien untuk tidur pada sisi yang tidak nyeri
f. Memberikan informasi tentang nyeri (penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan berkurang dan penenganan nyeri)
Pola napas tidak efektif a. Memposisikan klien semi fowler
b. Memonitor vital sign
Hipertermi
a. Memonitor vital sign
b. Memonitor warna dan suhu kulit
c. Memonitor leukosit, Hb, dan Ht
d. Meonitor intake dan output
e. Kolaborasi memberikan antipiretik, paracetamol 250 mg
prn per oral. Paracetamol berguna untuk menurunkan set
point hypothalamus,
f. Memberikan Antibiotik cefotaxim 250 mg intravena
g. Memberikan cairan intravena
Kaen 1B(415) + D40(85) + KCl(10) 46 ml/jam
AF 5% 18 ml/jam
Mengompres pasien pada dahi, lipat paha dan aksila
Memonitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban
membran mukosa)
Gangguan nutrisi
a. Kolaborasi dengan dokter anak sub spesialis nutrisi dan

kurang dari kebutuhan


tubuh

Defisit perawatan diri

Risiko cidera jatuh

metabolik untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi


yang dibutuhkan pasien
b. Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
c. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan
kadar hematokrit
d. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan
konjungtiva
e. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
f. Mempertahankan terapi intravena
g. Mencatat adanya edema, hiperemik, hipertonik
a. Membantu klien dalam personal hygiene
b. Melibatkan keluarga dalam perawatan klien
c. Mendorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari
yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki (klien
gosok gigi dengan kasa di tempat tidur)
a. Memasang side rail tempat tidur
b. Memasang gelang risiko jatuh berwarna kuning pada
pergelangan tangan klien
c. Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
d. Memberikan penerangan yang cukup
e. Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.

Asas etik menurut Ferry Efendi dan Makhfudli (2009) terdiri atas 6 asas yaitu
beneficence (asas manfaat), nonmaleficence (tidak merugikan klien), veracity (kejujuran),
Autonomy (otonomi), Confidentiality (kerahasiaan) dan justice (keadilan). Identifikasi
masalah legal etik pada klien adalah sebagai berikut:
Klien (An. R) terpasang 2 jalur intravena di tangan kanan dan kaki kanannya. Perawat
mengganti flabot infus tanpa mengecek adanya udara dalam selang infus. Tindakan ini
tidak sesuai dengan etik keperawatan asas Non-maleficence : tidak merugikan atau jangan
menyakiti klien. Seharusnya perawat dengan hati-hati memasukkan obat melalui IV
cateter dan memastikan tidak ada udara yang masuk saat dilakukan penyuntikan tersebut.
Udara yang masuk melalui vena dapat menyebabkan emboli yang selanjutnya masuk
dalam jantung dan paru yang dapat menyebabkan nekrosis jaringan (Underwood,1999).
Oleh sebab itu perawat sangat berhati-hati agar tidak melakukan tindakan yang akan
menyakiti klien.
REFERENSI
Ferry Efendi dan akhfudli (2009). Keperawatan kesehatan komunitas, teori dan praktek
dalam keperawatan. Jakarta: Salemba Medika

Underwood. (1999). Patologi umum dan sistematik edisi 2 vol 1. Jakarta: EGC

ANALISA HAL YANG DIPELAJARI


PADA ASUHAN KEPERAWATAN An. R. DENGANTUMOR INTRA ABDOMEN
A. KONDISI KLIEN
An. R, laki-laki usia 7 tahun. Klien mengeluh perutnya sakit dan sedikit membesar lalu
dibawa ke RS Berkah dikatakan iritasi perut kemudian dirawat 6 hari dan perut makin
membesar lalu dirujuk ke RSCM. Saat dikaji buang air besar klien berbentuk seperti
kotoran kambing. Sebelumnya klien pernah sakit TB/flek paru sudah diobati selama 6
bulan dan dinyatakan sembuh. Menurut ibu, tidak ada riwayat penyakit keganasan pada
keluarga, tidak ada riwayat alergi pada keluarga dan tidak ada riwayat penyakit keturunan
seperti diabetes mellitus dan asma pada keluarga.
Pada saat dilakukan pengkajian didapatkan hasil pemeriksaan penunjang, konsultasi dan
laboratorium sebagai berikut:
PEMERIKSAAN PENUNJANG DAN KONSULTASI
NO

TGL

BAGIAN

PEMERIKSAAN

HASIL

27/9/12

MSCT SCAN
ABDOMEN

Tampak massa bulky intra peritoneal


dengan komponen padat yang
prominen di abdomen dan pelvis
berbatas tidak tegas menyangat
heterogen disertai nekrosis pasca
pemberian kontras, mengisi abdomen
dengan komponen usus di tengahnya.
Batas massa dengan organ abdomen
tidak jelas, sangat mungkin sudah
terjadi perlekatan, massa mencapai
dinding abdomen, batas massa
dengan aorta tidak jelas, curiga
perlekatan. Dilatasi colon ascenden,
tranversum,
descenden
dan
iregularitas dinding colon sigmoid
sampai dengan rectum. Tampak
ascites abdomen dan efusi pleura
kanan.
Hepar: kesan membesar. Densitas
parenkim homogeny tampak lesi
fokal patologis. Vena porta, vena
hepatica dan sistem biliar tidak
melebar. Kandung empedu bentuk
dan ukuran bai, tidak tampak lesi
fokal patologis. Duktus pankreatikus
tidak melebar dan tidak tampak
kalsifikasi. Tidak tampak batu di
kandung empedu. Limpa bentuk dan
ukuran baik, densitas homogeny,
tidak tampak ada lesi fokal. Vena
lienalis tidak melebar. Kedua ginjal
bentuk dan ukuran baik, tidak
tampak batu, massa. Dilatasi sistem
pelviokalises
terutama
kanan.
Dilatasi gaster, kelenjar supra renal
tidak membesar. Aorta caliber baik,
tidak tampak dilatasi. Kelenjar limfe
para aorta tidak dapat dievaluasi.
Vesika urin tampak terdesak ke
inferoanterior. Tulang-tulang tidak
tampak kelainan.
Kesimpulan;
massa
bulky
intraperitoneal dengan komponen
usus yang prominen di rongga
abdomen
dan
pelvis
dengan
komponen usus di tengah dan
menempel
dengan
organ
di
sekitarnya
mencapai
dinding
abdomen disertai ascites = curiga
malignansi peritoneal dan efusi

29/9/12 Radiologi

RONTGEN

pleura kanan.
Efusi pleura kanan perburukan dari
pemeriksaan lalu tanggal 21/9/12

HASIL LABORATORIUM
NO
1
2

JENIS
Hemostasis
25/9/12
Hematologi
26/9/12

Hematologi
28/9/12

Fungsi ginjal
28/9/12
Urine Analisis

28/9/12

PEMERIKSAAN
PT
APTT
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
Albumin
Basofil
Eosinofil
Monosit
Limfosit
Neutrofil
LED
MCV
MCH
MCHC
Natrium
Kalium
Chlorida
Amilase
pankreatik
Hemoglobin
Hematokrit
Trombosit
Leukosit
Eritrosit
MCV
MCH
MCHC
Urea
Creatinin
Warna urine
Leukosit
Eritrosit
Silinder
Sel epitel
Kristal

HASIL
11,8
30
8,8
26,1
450000
19250
3,12
2,86
0,2
0,7
6
14,9
78,2
110
83,7
28,2
33,7
134
4,17
97,7
32

NILAI NORMAL
11 15 detik
25 35 detik
12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
3,5 5 g/dl
01%
13%
37%
24 44 %
34 75 %

KETERANGAN
Normal
Normal
Rendah
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Rendah
Normal
Rendah
Normal
Rendah
Tinggi

80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
135 145 mEq/l
3,5 5,5 mEq/l
97 107 mEq/l

Normal
Normal
Normal
Rendah
Normal
Normal
Tinggi

12,6
37,9
420000
25680
3,42
85,7
28,5
33,2
152
2
Kuning
keruh
45
30 35
Negatif
+1
Negatif

12-14 mg/dl
40-52%
150rb-480rb/uL
4500-13500/uL
4,115,59 juta/mm3
80-96 fl
27-32 pg
32-36 g/dl
15 40 mg/dl
0,3 0,7 mg/dl
Kuning jernih

Normal
Rendah
Normal
Tinggi
Rendah
Normal
Normal
Normal
Tinggi
Tinggi
Tidak normal

56
<5
Negatif
Positif
Negatif

Normal
Tinggi
Normal
Normal
Normal

Bakteri
BJ
pH
Protein
Glukosa
Urobilinogen
Nitrit
Leukosit esterase
Keton
Darah/Hb
Bilirubin

Negatif
1,010
6
Negatif
Negatif
3,2
Negatif
Negatif
Negatif
+3
Negatif

Negatif
1,01 1,03
4,6 8
Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal
Normal
Normal

Negatif
Negatif
Negatif

Normal
Normal
Normal

Negatif

Normal

Solusi yang diberikan pada An. R berdasarkan masalah keperawatan adalah sebagai
berikut:
NO
MASALAH
1 Nyeri

2
3

SOLUSI
a. Melakukan pengkajian nyeri secara komprehensif
termasuk lokasi, karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas
dan faktor presipitasi
b. Mengobservasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan
c. Mengajarkan teknik relaksasi napas dalam
d. Memberikan analgetik untuk mengurangi nyeri:
paracetamol 250 mg
e. Menganjurkan klien untuk tidur pada sisi yang tidak nyeri
f. Memberikan informasi tentang nyeri (penyebab nyeri,
berapa lama nyeri akan berkurang dan penenganan nyeri)
Pola napas tidak efektif a. Memposisikan klien semi fowler
b. Memonitor vital sign
Hipertermi
a. Memonitor vital sign
b. Memonitor warna dan suhu kulit
c. Memonitor leukosit, Hb, dan Ht
d. Memonitor intake dan output
e. Kolaborasi memberikan antipiretik, paracetamol 250 mg
prn per oral. Paracetamol berguna untuk menurunkan set
point hypothalamus,
f. Memberikan Antibiotik cefotaxim 250 mg intravena
g. Memberikan cairan intravena
Kaen 1B(415) + D40(85) + KCl(10) 46 ml/jam
AF 5% 18 ml/jam
Mengompres pasien pada dahi, lipat paha dan aksila
Memonitor hidrasi seperti turgor kulit, kelembaban
membran mukosa)
Gangguan nutrisi
a. Kolaborasi dengan dokter anak sub spesialis nutrisi dan
kurang dari kebutuhan
metabolik untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
tubuh
yang dibutuhkan pasien
b. Monitor adanya penurunan BB dan gula darah
c. Monitor kekeringan, rambut kusam, total protein, Hb dan
kadar hematokrit
d. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan

Defisit perawatan diri

Risiko cidera jatuh

konjungtiva
e. Kolaborasi dengan dokter tentang kebutuhan suplemen
makanan seperti NGT/ TPN sehingga intake cairan yang
adekuat dapat dipertahankan.
f. Mempertahankan terapi intravena
g. Mencatat adanya edema, hiperemik, hipertonik
a. Membantu klien dalam personal hygiene
b. Melibatkan keluarga dalam perawatan klien
c. Mendorong klien untuk melakukan aktivitas sehari-hari
yang normal sesuai kemampuan yang dimiliki (klien
gosok gigi dengan kasa di tempat tidur)
a. Memasang side rail tempat tidur
b. Memasang gelang risiko jatuh berwarna kuning pada
pergelangan tangan klien
c. Menyediakan tempat tidur yang nyaman dan bersih
d. Memberikan penerangan yang cukup
e. Menganjurkan keluarga untuk menemani pasien.

B. ANALISIS
Masalah yang paling dirasakan oleh klien (An. R) adalah nyeri. Ada berbagai cara untuk
mengukur derajat nyeri pada anak. Mahasiswa memperlajari beberapa pengkajian nyeri
dan mencoba memilih pengkajian mana yan tepat untuk anak. Respon perkembangan
pada anak usia sekolah terhadap nyeri menurut Joice Engel (2009) adalah: dapat ditemui
kekakuan muscular seperti menggenggam kuat, kekakuan tubuh, mata tertutup, dahi
berkerut. Perilaku motorik lain yang dapat ditemukan adalah ketegangan otot dan
menarik. Respon perkembangan lainnya adalah respon ekspresif: perilaku mencari dalih
atau menawar dan kemampuan mengantisipasi nyeri: tampak saat nyeri telah dirasakan
bukan sebelum dirasakan.
Pengkajian nyeri yang terdapat di ruang rawat non infeksi RSCM adalah FLACC untuk
mengukur nyeri pada bayi dan anak dengan komponen ekspresi wajah, ekstremitas,
gerakan, menangis dan kemampuan ditenangkan. Dalam lembar observasi harian,
tercantum skala nyeri Face Scale yang mengukur nyeri dari derajat 0 sampai 10.
Berdasarkan Engel 2009, Face Scale cocok untuk anak berusia 3 tahun kebawah namun
harus pada anak yang telah mulai bisa berhitung. Pengembangan skala ini kemudian diuji
validasi kepada anak usia 3 18 tahun dan hasil pengkajian tersebut valid sehingga
instrument tersebut dapat digunakan pada klien yang berusia 7 tahun.

Beberapa pengkajian nyeri yang ditemukan untuk anak berusia 7 tahun, adalah:
1. Skala nyeri pediatrik pra verbal, verbal dini (murphy et al 1994 dalam Engel 2009)
Skala ini mengukur nyeri menggunakan indikator denyut nadi, mimik wajah,
menangis, status istirahat, postur tubuh, kemampuan social dan mengisap atau
menyusu. (skala terlampir)
2. Colour Analogue Scale
Skala ini mengukur nyeri dari tingkat 0 sampai 10 menggunakan warna. Hijau tidak
sakit sampai merah sakit (skala 10).
3. Childrens Hospital of Eastern Ontario Pain Scale (CHEOPS)
Skala ini mengukur 6 tanda nyeri pada anak yang dilihat dari menangis, wajah, verbal,
gerakan kaki, sentuhan dan gerakan kaki.

REFERENSI
Ceilidh Stapelkamp, Bernie Carter, Jenny Gordon and Christ Watts. (2011). Assessment of
acute pain in children: development of evidence based guidline. International Journal
of Evidence Based Healthcare 20011 The Joannaa Briggs Institute.