Anda di halaman 1dari 19

PENGENALAN PENYEBAB PENYAKIT TUMBUHAN

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Gayatri Prastika Hening Permana


: B1J013204
: IV
:6
: Hanifah

LAPORAN PRAKTIKUM FITOPATOLOGI

KEMENTERIAN RISET TEKNOLOGI DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2015

I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Patogen merupakan organisme yang mengakibatkan tanaman menderita.
Menderita, dalam arti umum adalah berupa perubahan proses fisiologi yang terus
menerus (kontinyu) dan perubahan struktural. Oleh karena itu, tumbuhan yang
mengalami perubahan kontinyu pada proses fisiologi dan strukturalnya dikategorikan
sebagai tumbuhan yang menderita penyakit. Proses perubahannya secara umum
disebut gangguan. Penyebab penyakit atau penyebab gangguan disebut patogen, dan
ekspresi perubahan tanaman disebut gejala. Pemberian nama penyakit secara umum
dapat didasarkan kepada nama patogen, nama gejala, nama bagian tanaman yang
bergejala, atau kombinasinya dan keterangan lain (Purnomo, 2006).
Penyakit dapat dikenal dengan mata telanjang dari gejalanya. Penyakit
tumbuhan yang belum ada campur tangan manusia merupakan hasil interaksi antara
patogen, inang dan lingkungan. Konsep ini disebut dengan segitiga penyakit atau
plant disease triangle, sedangkan penyakit tanaman yang terjadi setelah campur
tangan manusia adalah interaksi antara patogen, inang, lingkungan dan manusia.
Konsep ini disebut segi empat penyakit atau plant disease square (Triharso, 1996).
Patogen menyerang tumbuhan inang dengan berbagai macam cara guna
memperoleh zat makanan yang dibutuhkan oleh patogen yang ada pada inang. Untuk
dapat masuk ke dalam inang, patogen mampu mematahkan reaksi pertahanan
tumbuhan inang. Patogen mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh
terhadap komponen tertentu dari tumbuhan dan juga berpengaruh terhadap aktivitas
metabolisme tumbuhan inang. Beberapa cara patogen untuk dapat masuk kedalam
inang diantaranya dengan cara mekanis dan cara kimia (Triharso, 1996).
B. Tujuan
Tujuan praktikum pengenalan penyebab penyakit tumbuhan adalah untuk
mengetahui berbagai penyebab penyakit pada tumbuhan.

II. TINJAUAN PUSTAKA


Penyakit tanaman merupakan penyimpangan dari sifat normal yang
menyebabkan tanaman tidak dapat melakukan kegiatan fisiologis seperti biasanya.
Ada tiga faktor yang mendukung timbulnya penyakit yaitu tanaman inang, penyebab
penyakit, dan faktor lingkungan. Tanaman inang adalah tanaman yang diserang oleh
patogen. Patogen ada dua yaitu fisiopath yang bukan organisme dan parasit yang
organisme seperti jamur, bakteri, dan virus (Motoredjo, 1989). Fisiopath merupakan
faktor lingkungan yang tidak tepat bagi tanaman, misalnya suhu yang terlalu rendah
atau terlalu tinggi, adanya gas beracun yang berasal dari pencemaran ataupun hasil
samping metabolisme tanaman itu sendiri dan kurangnya unsur hara pada tanah
(Pyenson, 1979).
Penyebab penyakit dapat dibagi menjadi dua kelompok yaitu biotik atau parasit
dan abiotik atau non parasit. Biotik yaitu penyebab penyakit yang sifatnya menular
atau infeksius, misalnya jamur, bakteri, nematoda, mycoplasma dan tanaman tinggi
parasitik. Abiotik yaitu penyebab penyakit yang sifatnya tidak menular atau non
infeksius. Penyakit-penyakit karena penyebab abiotik sering disebut penyakit
fisiologis atau fisiogenis, sedangkan patogennya disebut fisiopath. Fisiopath tersebut
antara lain kondisi cuaca yang tidak menguntungkan, kondisi tanah yang kurang
baik, dan kerusakan karena mekanik dan zat-zat kimia (Triharso, 1996).
Cendawan merugikan tanaman karena pengambilan zat makanan dari sel
tanaman, maka cendawan dapat mengganggu aktivitas tanaman inang dengan
berbagai cara seperti mengeluarkan enzirn pektinolitik atau selulolitik yang masingmasing dapat menguraikan zat pektin atau selulose. Selain itu cendawan tersebut
dapat mengeluarkan toksin yang disebarkan ke berbagai bagian tanaman lainnya dan
menimbulkan kerusakan pada jaringan tanaman. Cendawan akan melanjutkan
pertumbuhan dan membentuk spora untuk memperbanyak diri. Spora akan
dilepaskan melalui permukaan tanaman untuk disebarkan. Proses seperti di atas akan
berlangsung terus menerus (Mashari, 2008).
Penyakit tanaman dapat didefinisikan sebagai penyimpangan fungsi dari sel-sel
atau jaringan inang yang diakibatkan oleh gangguan secara terus-menerus oleh
agensia patogenik atau faktor-faktor lingkungan dan mendukung berkembangnya
gejala. Penyebab penyakit tanaman sangat meresahkan jika dibiarkan merajalela,
karena kebutuhan makanan yang berasal dari tanaman sangat diperlukan setiap hari

oleh penduduk di seluruh dunia. Penurunan hasil pangan dari tanaman akan
menyebabkan bencana kelaparan yang dapat berujung pada kematian. Masalah
penyakit ini dapat dicari pemecahannya dengan terlebih dahulu kita mengetahui
penyebab dari penyakit tanaman atau patogen (Donowidjojo dkk., 1999).
Siklus atau daur penyakit adalah rangkaian kejadian selama perkembangan
penyakit. Di samping itu ada yang disebut siklus hidup patogen yaitu perkembangan
patogen dari suatu stadium kembali ke stadium yang sama. Siklus ini biasanya dapat
dibedakan menjadi (Dasperlintan, 2008):
1. Stadium Patogenesis adalah stadium patogen di mana berhubungan dengan
jaringan hidup tanaman inangnya.
2. Stadium Saprogenesis adalah stadium patogen di mana tidak berhubungan
dengan jaringan hidup tanaman inangnya.
Fungi patogen terus hidup di tanah seperti saprobes pada puing pabrik atau
pada jenis lain dari hasil bahan organik di tanah, atau sebagai organisme
berkehidupan-bebas hidup secara langsung pada tanah. Banyak jamur ini
menghasilkan struktur survival berpegas pada materi organik. stuktur dilepaskan ke
dalam tanah oleh operasi pengolahan dan melalui penguraian dari materi organik.
Struktur survival dapat bertahan pada temperatur rendah atau ekstrim, kondisi kering,
dan periode ketika tidak ada proses yang terjadi. faktor lingkungan, bagaimanapun,
akibat berapa lama survival sruktur tersisa menyebabkan kondisi viabel. Kondisi ini
dapat membatasi pertumbuhan dari patogen seperti Macrophomina Phaseolina pada
kacang dan Scelerotium Rolfsii pada berbagai hulu cemeti (Koike Steven T. dkk,.
2003).

III. MATERI DAN METODE


A. Materi
Alat yang digunakan pada praktikum kali ini adalah mikroskop, kamera dan
alat tulis.
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah delapan preparat awetan
mikroorganisme patogen pada tumbuhan yaitu Puccinia arachidis, Puccinia
graminis, Ustilago zeae, Phytophthora infestans, Plasmodium brassicae, Fusarium
sp., Pyricularia sp., dan Erysiphe sp.
B. Metode
Cara kerja praktikum

pengenalan penyebab penyakit tumbuhan adalah

sebagai berikut:
Preparet awetan jamur patogen tumbuhan

Diamati di mikroskop cahaya

difoto

Digambar skematis

diidentifikasi

III.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil
a

Gambar 1. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Puccinia


graminis penyebab penyakit karat daun pada seralia
(perbesaran 4x10). (1) Picnia. (2) Aecia. (3) Uredia. (4) Telia.
(5) Epidermis daun. (6) Spora.
a

Gambar 2. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Puccinia


arachidis penyebab penyakit karat daun pada kacangkacangan (perbesaran 4x10). (1) Tulang daun. (2) Spora.
a

Gambar 3. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Pyricularia sp.
penyebab penyakit bercak pada tanaman jagung
(perbesaran 4x10). (1) Tulang daun. (2) Spora. (3) Sel inang.
a

Gambar 4. Preparat awetan (a) dan gambar skematis (b) Plasmodiopora


brassicae penyebab penyakit akar gada pada kubis-kubisann
(perbesaran 4x10). (1) Sel terinfeksi. (2) Spora. (3) sel tidak
terinfeksi.
a

bb

B. Pembahasan
Menurut Purnomo (2006), organisme yang dapat menyebabkan suatu penyakit
tanaman disebut patogen tanaman. Patogen tanaman meliputi organisme-organisme
sebagai berikut :
1. Jamur. Jamur ada yang menyebut cendawan atau fungi. Jamur merupakan
mikroorganisme yang inti selnya bermembran (eukariotik), tidak mempunyai
klorofil, berkembang biak secara seksual dan atau aseksual dengan membentuk
spora, tubuh vegetatif (somatik) berupa sel tunggal atau berupa benang-benang
halus (hifa, miselium) yang biasanya bercabang-cabang, dinding selnya terdiri
dari sellulosa dan atau khitin bersama-sama dengan molekul-molekul organik
kompleks lainnya.
2. Bakteri. Bakteri merupakan mikroorganisme prokariotik bersel tunggal. Ada
kurang lebih 200 jenis bakteri yang dapat menyebabkan penyakit tanaman.
3. Virus merupakan kesatuan ultramikroskopik yang hanya mengandung satu atau
dua bentuk asam nukleat yang dibungkus oleh senyawa protein kompleks.
Asam nukleat dan protein disintesis oleh sel inang yang sesuai dengan
memanfaatkan mekanisme sintesis dari sel-sel inang untuk menghasilkan
substansi viral (asam nukleat dan protein).
4. Mikoplasma dan MLO (mycoplasma like organism). Mikoplasma juga
merupakan mikroorganisme prokariotik seperti bakteri yang organelorganelnya tidak bermembran. Informasi genetiknya berupa rantai DNA yang
berbentuk cincin dan terdapat bebas dalam sitoplasma. Mikoplasma tidak
mempunyai dinding sel dan hanya diikat oleh unit membran berupa triplelayered, mempunyai sitoplasma, ribosom, dan substansi inti yang tersebar
dalam sitoplasma. Mikoplasma dapat berbentuk ovoid sampai filamen (benang)
dan kadang-kadang berbentuk menyerupai hifa bercabang-cabang dan biasanya
dijumpai di dalam jaringan di luar sel-sel inang. Mycoplasma like organism
(MLO) tanaman biasanya terdapat dalam cairan floem. Berbeda dengan
mikoplasma, MLO dapat tumbuh pada sitoplasma sel-sel parenkim floem.
MLO sering dijumpai membentuk koloni.
5. Tumbuhan tingkat tinggi parasittik. Lebih dari 2500 jenis tumbuhan tingkat
tinggi dikenal hidup secara parasitik pada tanaman lain. Tumbuhan parasitik
biasanya mampu menghasilkan biji dan bunga yang mirip dengan biji dan
bunga yang dihasilkan tanaman inangnya.

6. Nematoda. Aktivitas nematoda dalam tubuh tanaman berpengaruh secara


kontinyu terhadap fisiologi inang. Oleh karena itu, nematoda merupakan satusatunya kelompok hewan yang dikategorikan ke dalam patogen. Nematoda
berbentuk cacing tetapi dalam taksonomi bukan merupakan cacing (Vermes).
Patogen menyerang tumbuhan inang dengan berbagai macam cara guna
memperoleh zat makanan yang dibutuhkan oleh patogen yang ada pada inang. Untuk
dapat masuk ke dalam inang, patogen mampu mematahkan reaksi pertahanan
tumbuhan inang. Patogen mengeluarkan sekresi zat kimia yang akan berpengaruh
terhadap komponen tertentu dari tumbuhan dan juga berpengaruh terhadap aktivitas
metabolisme tumbuhan inang (Triharso, 1996).
Beberapa cara patogen untuk dapat masuk ke dalam inang menurut Triharso
(1996), diantaranya dengan cara mekanis dan cara kimia.
1. Cara Mekanis
Cara mekanis yang dilakukan oleh patogen yaitu dengan cara penetrasi
langsung ke tumbuhan inang. Proses penetrasi ini seringkali dibantu oleh enzim
yang dikeluarkan patogen untuk melunakkan dinding sel. Jamur dan tumbuhan
tingkat tinggi parasit sebelum melakukan penetrasi, diameter sebagian hifa atau
radikel yang kontak dengan inang tersebut membesar dan membentuk semacam
gelembung pipih yang biasa disebut dengan appresorium, yang akhirnya dapat
masuk ke dalam lapisan kutikula dan dinding sel.
2. Cara Kimia
Pengaruh patogen terhadap tumbuhan inang hampir seluruhnya karena
proses biokimia akibat dari senyawa kimia yang dikeluarkan patogen atau karena
adanya senyawa kimia yang diproduksi tumbuhan akibat adanya serangan
patogen. Substansi kimia yang dikeluarkan patogen diantaranya enzim, toksin, zat
tumbuh dan polisakarida. Substansi kimia tersebut memiliki peranan yang
berbeda-beda terhadap kerusakan inang. Misalnya, enzim sangat berperan
terhadap timbulnya gejala busuk basah, sedangkan zat tumbuh sangat berperan
pada terjadinya bengkak akar atau batang. Selain itu, toksin berpengaruh terhadap
terjadinya hawar.
Toksin merupakan substansi yang sangat beracun dan efektif pada
konsentrasi yang sangat rendah. Toksin dapat menyebabkan kerusakan pada sel
inang dengan merubah permeabilitas membran sel, inaktivasi atau menghambat
kerja enzim sehingga dapat menghentikan reaksi-reaksi enzimatis. Toksin tertentu

juga bertindak sebagai antimetabolit yang mengakibatkan defisiensi faktor


pertumbuhan

esensial.

Toksin

yang

dikeluarkan

oleh

patogen

dapat

dikelompokkan menjadi tiga, yaitu patotoksin, vivotoksin dan fitotoksin (Triharso,


1996).
Zat tumbuh yang terpenting yaitu auksin, giberellin dan sitokinin. Selain itu
etilen dan penghambat tumbuh juga memegang peranan dalam kehidupan
tumbuhan. Patogen tumbuhan dapat memproduksi beberapa macam zat tumbuh
atau zat penghambat yang sama dengan yang diproduksi oleh tumbuhan, dapat
memproduksi zat tumbuh lain atau zat penghambat yang berbeda dengan yang ada
dalam tumbuhan, atau dapat memproduksi substansi yang merangsang atau
menghambat produksi zat tumbuh atau zat penghambat oleh tumbuhan (Triharso,
1996).
Patogen seringkali menyebabkan ketidakseimbangan sistem hormonal pada
tumbuhan dan mengakibatkan pertumbuhan yang abnormal sehingga pada
tumbuhan yang terinfeksi oleh patogen tersebut akan timbul gejala kerdil,
pertumbuhan berlebihan, terlalu banyaknya akar-akar cabang dan berubahnya
bentuk batang. Beberapa patogen juga mungkin dapat mengeluarkan substansi
lendir yang menyelubungi tubuh patogen tersebut untuk melindungi diri dari
faktor lingkungan luar yang tidak menguntungkan. Peranan polisakarida pada
penyakit tumbuhan hanya terbatas pada layu. Polisakarida dalam jumlah yang
cukup banyak akan terakumulasi pada xilem yang akan menyumbat aliran air
pada tanaman (Triharso, 1996).
Praktikum kali ini menggunakan preparat awetan jamur patogen tumbuhan,
meliputi Ustilago zeae, Erysiphe sp., Fusarium sp., Plasmodiophora brassicae,
Phytophthora infestans, Cercospora sp., Puccinia graminis, Puccinia arachidis,
Puccinia sorghii, dan Pyricularia sp. Adapun deskripsi dari masing-masing spesies
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Ustilago zeae
Klasifikasi Ustilago zeae menurut Semangun (1989) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Basidiomycota

Classis

: Ustilaginomycetes

Ordo

: Ustilaginales

Familia

: Ustilaginaceae

Genus

: Ustilago

Spesies

: Ustilago zeae

Ustilago zeae merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap tanaman.


Patogen ini menyebabkan penyakit gosong (smut) pada biji jagung yang ditandai
dengan timbulnya spora yang lama kelamaan menjadi berwarna kehitaman.
Menurut Warisno (1998), penyakit gosong bengkak (corn smut) disebabkan oleh
cendawan Ustilago zeae. Penyakit ini seringkali menyerang tongkol jagung.
Cendawan masuk ke dalam biji ditandai dengan pembengkakan dan timbulnya
kelenjar (gall). Karena pembengkakan tersebut, klobot jagung terdesak keluar dan
rusak. Pembengkakan ini dapat menyebabkan kelenjar pecah dan spora menyebar
kemana-mana.
2. Erysiphe sp.
Klasifikasi Erysiphe sp. menurut Semangun (1989) adalah sebagai berikut:
Kingdom
: Fungi
Phylum
: Ascomycota
Classis
: Leotiomycetes
Subclassis
: Leotiomycetidae
Ordo
: Erysiphales
Familia
: Erysiphaceae
Genus
: Erysiphe
Spesies

: Erysiphe sp.

Erysiphe sp. merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap tanaman.


Patogen ini menyebabkan penyakit embun tepung pada tanaman kacang-kacangan
yang ditandai dengan timbulnya tepung putih seperti miselium yang tidak terlalu
tebal yang menutupi permukaan bawah daun. Menurut Hardaningsih dan Yusmani
(2001), penyakit embun tepung (Erysiphe polygoni) dan penyakit tular tanah
(Sclerotium rolfsii, Rhizoctonia solani, Fusarium, Pythium) merupakan gangguan
utama pada tanaman kacang hijau di Indonesia.
3. Fusarium sp.
Klasifikasi Fusarium sp. menurut Sunarmi (2010) adalah sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Eumycota

Subdivisi

: Deutromycotina

Classis

: Hypomycetes

Ordo

: Moniliales

Familia

: Tuberculariaceae

Genus

: Fusarium

Spesies

: Fusarium sp.

Jamur Fusarium sp. merupakan jamur yang tersebar luas baik pada tanaman
maupun dalam tanah. Beberapa spsesies dari jamur ini dapat memproduksi
mycotoxin dalam biji-bijian yang dapat mempengaruhi kesehatan manusia
maupun hewan jika memasuki rantai makanan. Toksin utama yang dihasilkan oleh
jamur ini adalah fumonisin dan trichothecenes. Jamur ini juga dapat menyebabkan
penyakit pada tanaman, yang disebut dengan penyakit layu fusarium. Peyakit layu
fusarium adalah penyakit sistemik yang menyerang tanaman mulai dari perakaran
sampai titik tumbuh (Sunarmi, 2010).
Penyakit layu fusarium ini ditandai dengan daun menguning, daun
terpelintir, dan pangkal batang membusuk. Asam fusarat yang dihasilkan oleh
Fusarium sp. merupakan racun yang larut dalam air. Toksin ini menggangu
permeabilitas membran dan akhirnya mempengaruhi aliran air pada tanaman.
Adanya hambatan pergerakan air dalam tubuh tanaman menyebabkan terjadinya
layu patologis yang tidak bisa balik (irreversibel) yang berakibat kematian
tanaman, seperti kasus-kasus penyakit layu pada cabai, kentang dan tomat
(Sunarmi, 2010).
Menurut Harizon (2009), penyakit layu fusarium pada tomat merupakan
masalah penting bagi petani. Penyakit ini dapat terjadi pada semua umur tanaman
tomat dan menjadi penyakit utama di hampir semua daerah sentra produksi tomat
di Indonesia. Selama ini para petani menggunakan fungisida sintetis dalam
mengendalikan Fusarium oxysporum. Pemakaian fungisida sintetis secara terusmenerus selain mempercepat timbulnya ras-ras patogen yang resisten, juga dapat
menyebabkan keracunan terhadap manusia sebagai pemakainya.
4. Plasmodiophora brassicae
Klasifikasi Plasmodiophora brassicae menurut Semangun (1989) adalah
sebagai berikut:
Kingdom

: Fungi

Filum

: Myxomicota

Classis

: Myxomicetes

Ordo

: Plasmodiophorales

Familia

: Plasmodiophoraceae

Genus

: Plasmodiophora

Spesies

: Plasmodiophora brassicae

Plasmodiophora brassicae merupakan jamur yang tergolong patogen


terhadap tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit akar gada pada tanaman
famili Brassicaceae yang ditandai dengan pembesaran sel yang abnormal
sehingga mengakibatkan terbentuknya tumor yang menyerupai bonggol pada akar
tanaman. Penyakit akar gada (clubroot) yang disebabkan oleh Plasmodiophora
brassicae Wor. merupakan salah satu penyakit tular tanah yang sangat penting
pada tanaman kubis-kubisan (Brassica spp.) di seluruh dunia (Karling, 1968).
Penyakit ini juga sering disebut penyakit akar pekuk (Semangun, 1989). Tingkat
produksi tanaman kubis kubisan sering kali dipengaruhi oleh serangan patogen P.
brassicae yang menyebabkan bengkak pada akar. Pembengkakan pada jaringan
akar dapat mengganggu fungsi akar seperti translokasi zat hara dan air dari dalam
tanah ke daun. Keadaan ini mengakibatkan tanaman layu, kerdil, kering, dan
akhirnya mati (Karling, 1968).
5. Phytophthora infestans
Klasifikasi Phytophthora infestans menurut Sunarmi (2009) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Eumycota

Classis

: Oomycetes

Ordo

: Peronosporales

Familia

: Pythiaceae

Genus

: Phytophthora

Spesies

: Phytophthora infestans

Phytophtora infestans memiliki ciri-ciri yaitu miseliumnya yang tidak


bersekat-sekat. Warna miseliumnya putih, jika tua mungkin agak coklat kekuningkuningan,

kebanyakan

sporangium

berwarna

kehitam-hitaman.

Hifanya

berkembang sempurna. Cendawan ini memiliki sporangium yang berbentuk bulat


telurdan mampu memproduksi spora aseksual yang disebut sporangia (Istiarini,
2009 dalam Sunarmi, 2010).
Phytophthora infestans merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap
tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit hawar pada daun tanaman kentang
yang ditandai dengan adanya bercak nekrotik, kering dan busuk di tepian daun
kentang. Jika suhu tidak telalu rendah dan kelembaban cukup tinggi, bercakbercak tadi akan meluas dengan cepat dan mematikan seluruh daun. Gejala

awalnya tampak berupa bercak-bercak hijau kelabu pada permukaan bawah daun,
kemudian berubah menjadi coklat tua. Semula serangannya hanya terjadi pada
daun-daun bawah, lambat laun merambat ke atas dan menjalar ke daun-daun yang
lebih muda. Bila udara kering, jaringan yang sakit akan mengkerut, melengkung,
dan memutar. Jika udara lembab, akibatnya akan semakin parah. Jaringan daun
akan segera membusuk dan tanaman akan mati (Trubus, 2004 dalam Sunarmi,
2010).
Penyakit hawar daun yang disebabkan oleh jamur Phytophthora infestans
ini menjadi salah satu penyakit penting pada tanaman kentang di Indonesia.
Penyakit hawar daun sangat merusak dan sangat sulit dikendalikan karena
Phytophthora infestans merupakan jamur patogen yang memiliki patogenitas yang
beragam. Umumnya patogen ini berkembang biak secara aseksual dengan
zoospora, tetapi dapat juga berkembang biak secara seksual dengan oospora.
Jamur ini bersifat heterolik, artinya perkembangbiakannya secara seksual atau
pembentukan oosporanya hanya terjadi bila adanya perkawinan silang antara dua
isolat Phytophthora infestans yang mempunyai tipe perkawinan berbeda.
Phytophthora infestans merupakan patogen utama perusak tanaman
kentang. Phytophthora infestans merupakan golongan Oomycetes, garis
keturunan yang berbeda dari eukariota menyerupai jamur yang berhubungan erat
dengan organisme seperti alga coklat dan diatom. Sebagai agen dari kelaparan
kentang di Irlandia pada pertengahan abad kesembilan belas, Phytophthora
infestans telah memberikan pengaruh besar pada sejarah manusia yang
mengakibatkan kelaparan dan pergeseran populasi. Sampai saat ini, Phytophthora
infestans

mempengaruhi

pertanian

dunia

dengan

menyebabkan

penyakit kentang yang merupakan tanaman pangan terbesar keempat dan


sekaligus alternatif kritis pengganti tanaman sereal sebagai bahan pangan utama
manusia di seluruh dunia ( Haas et al., 2009).
6. Puccinia graminis
Klasifikasi Puccinia graminis menurut Semangun (1989) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Basidiomycota

Classis

: Pucciniomycetes

Ordo

: Pucciniales

Familia

: Pucciniaceae

Genus

: Puccinia

Spesies

: Puccinia graminis

Puccinia graminis merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap


tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit karat daun pada tanaman serealia.
Jamur ini memiliki empat fase perkembangan yaitu picnia, aecia, uredia, dan telia.
Menurut Zuroaidah (2012), cendawan karat batang, karat hitam atau karat sereal
disebabkan oleh cendawan Puccinia graminis dan merupakan penyakit yang
signifikan efektif menyerang tanaman sereal.
Disebut karat karena digunakan untuk menunjukkan kepada sekelompok
cendawan yang gejalanya seperti berwarna karat yang penyakitnya disebabkan
oleh cendawan. Karat merupakan salah satu penyakit tanaman yang paling
merusak dengan beberapa parasit yang khusus menyerang tanaman inang tertentu.
Beberapa bentuk khusus dari karat (disebut ras) menyerang varietas tertentu
dalam spesies tanaman. Contohnya ras Puccinia graminis yang hanya menyerang
gandum sementara ras lain dari P. graminis hanya menyerang barley (Zuroaidah,
2012).
Karat dikenal menjadi sangat merusak pada tanaman biji-bijian seperti
gandum, oat dan barley dengan menyebabkan kekurangan produksi yang
mengakibatkan kelaparan dan merusak perekonomian seluruh negara. Karat juga
menyerang sayuran, kapas, kedelai, bunga, kopi, apel dan pohon pinus. Potensial
kerusakan disebabkan oleh jenis organisme penyebab penyakit yang tidak dapat
diperkirakan karena spesies jamur karat mencapai 4000 spesies (Zuroaidah,
2012).
Pycnia (atau spermagonia) dihasilkan dari infeksi pada daun muda barberry
oleh basidiospores yang terjadi pada tahap seksual dari siklus hidup cendawan
tersebut. Ketika hifa diterima dari satu pycnidium yang telah dibuahi oleh
pycniospores (atau spermatia) dari tipe perkawinan pycnidium yang compatible,
sel-sel haploid tersebut menjadi dikaryotik. Hifa yang dibuahi membentuk
aecium, pada bagian bawah daun barberry, yang menghasilkan rantai aeciospores
yang dikelilingi tampak seperti bentuk dari sel cendawan. Setiap aeciospores
berisi 2 inti yang tampak seperti urediniospores dan tampak seperti sel-sel aecium.
Aeciospores yang dibawa oleh angin, dan menginfeksi sereal yang menembus
melalui stomata. Setelah tanaman sereal terinfeksi, aeciospores berkembang dan
membentuk uredia dibawah epidermis tanaman, kemudian menghasilkan
urediniospores dikaryotik. Uredia ini akhirnya pecah pada epidermis tanaman dan

kembali menyebar oleh angin ke sekitar tanaman sereal, melanjutkan siklus


hidupnya (Zuroaidah, 2012).
7. Puccinia arachidis
Klasifikasi Puccinia arachidis menurut Semangun (1989) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi

: Basidiomycota

Classis

: Pucciniomycetes

Ordo

: Pucciniales

Familia

: Pucciniaceae

Genus

: Puccinia

Spesies

: Puccinia arachidis

Puccinia arachidis merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap


tanaman. Patogen ini menyebabkan penyakit karat daun pada tanaman kacangkacangan yang disertai dengan mencokelatnya warna daun. Menurut Pitojo
(2005), penyakit karat daun disebabkan oleh cendawan Puccinia arachidis.
Cendawan tersebut dapat menyerang tanaman kacang tanah sejak saat berbunga
hingga tanaman tersebut tua. Gejala serangan awal berupa bintik-bintik kuning
pada permukaan bawah daun-daun tua, semakin lama warna bintik menjadi
cokelat tua dan akan keluar spora berupa tepung halus. Spora ini dapat disebarkan
melalui angin. Daun yang terserang karat akan mengering dan rontok sebelum
waktunya. Serangan karat banyak terjadi pada musim hujan (Martoredjo, 1989).
8. Pyricularia sp.
Klasifikasi Pyricularia sp. menurut Dwidjoseputro (1975) adalah sebagai
berikut:
Kingdom

: Fungi

Divisi
Subdivisi
Classis
Subclassis
Ordo
Familia

: Mycota
: Eumycotina
: Deuteromycetes
: Sordariomycetidae
: Moniliales
: Moniliaceae

Genus

: Pyricularia

Spesies

: Pyricularia sp.

Pyricularia sp. merupakan jamur yang tergolong patogen terhadap tanaman.


Patogen ini menyebabkan penyakit bercak daun pada tanaman jagung yang

ditandai dengan menguningnya daun dan munculnya bintik-bintik pada


permukaan daun jagung (blast). Inang utama Pyricularia sp yaitu padi dengan
inang alternatif adalah rerumputan (Digitaria cilaris, Echinochloa colona) (Teng
et al., 1991 dalam Sudiadnyana, 2012) serta dapat juga memanfaatkan jagung
untuk mempertahankan hidupnya. Miselia patogen tersebut dapat bertahan selama
setahun pada jerami sisa-sisa panen. Spora yang berasal dari tanaman terinfeksi
atau yang disebarkan angin ditemukan sekitar 2 km dari sumber inokolum awal,
masih dapat menginfeksi pada tanaman sehat (Ou, 1985 dalam Sudiadnyana,
2012). Temperatur 24C - 28C adalah kondisi optimum untuk perkembangan
blast. Fase penetrasi spora cendawan ini hanya membutuhkan waktu yang singkat
yaitu 6-8 jam, menginfeksi melalui stomata, dan periode laten untuk memproduksi
kembali spora juga tergolong singkat sekitar 4 hari (Hashioka, 1985 dalam
Sudiadnyana, 2012).

V. KESIMPULAN DAN SARAN


A. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pembahasan, maka kesimpulan yang dapat diambil
adalah sebagai berikut:
1.
2.
3.
4.
5.
6.

Puccinia graminis menyebabkan penyakit karat daun serealia.


Puccinia arachidis menyebabkan penyakit karat daun kacang-kacangan.
Erysiphe sp. menyebabkan embun tepung pada kacang-kacangan.
Pyricularia sp. menyebabkan bercak pada daun jagung.
Ustilago zeae menyebabkan gosong bengkak pada jagung.
Plasmodiophora brassicae menyebabkan penyakit akar pekuk pada kubis-

kubisan
7. Phytophtora infestan menyebabkan penyakit hawar daun pada kentang.
8. Fusarium sp. menyebabkan layu pada tanaman tomat dan cabai.
B. Saran
Sebaiknya preparat yang digunakan lebih baik lagi sehingga mudah diamati,
selain itu tidak hanya patogen dari jamur saja, tetapi mewakili patogen yang lain
juga.

DAFTAR REFERENSI
Alexopoulus, G. N. and C. W. Mims. 1979. Introductory Mycology. Jhon Willey and
Sons. New York.

Dwidjoseputro, D. 1975. Pengantar Mikologi. Alumni. Malang.


Haas, B. J., S. Kamoun., M. C. Zody., R. H. Y. Jiang., R. E. Handsaker., L. M.
Cano., M. Grabherr., C. D. Kodira., S. Raffaele., T. T. Alalibo., T. O. Bozkurt.,
A. M. V. Ah-Fong., L. Alvarado., V. L. Anderson., M. R. Armstrong, A.
Avrova., Laura B., F. Govers., P. R. J. Birch., S. C. Whisson., H. S. Judelson
and C. Nusbaum1. 2009. Genome Sequence and Analysis of the Irish Potato
Famine Pathogen Phytophthora infestans. Nature. 461: 393-398.
Hardaningsih, S. dan Yusmani. 2001. Identifikasi Jamur Antagonis untuk
Pengendalian Jamur Tular Tanah pada Tanaman Kedelai. Laporan Teknik
Tahun 2000. Balitkabi.
Harizon. 2009. Biofungisida Berbahan Aktif Eusiderin I Untuk Pengendalian Layu
Fusarium Pada Tomat. Biospecies. 2(1): 30-41.
Karling, J. S. 1968. The Plasmodiophorales. 2nd edition. Hafner Publishing Co., New
York and London.
Martoredjo, T. 1989. Pengantar Ilmu Penyakit Tumbuhan Bagian Dari Perlindungan
Tanaman. Andi Offset. Yogyakarta.
Pitojo, Setijo. 2005. Benih Kacang Tanah. Kanisius. Yogyakarta
Purnomo, B. 2006. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Penggolongan Penyakit dan
Patogen Tumbuhan.
Semangun, H. 1989. Penyakit-penyakit Tanaman Hortikultura di Indonesia. Gadjah
Mada University Press. Yogyakarta.
Sudiadnyana, I. K. A. 2012. Penyakit Blas (Pyricularia Grisea) dan Strategi
Pengendaliannya pada Tanaman Padi. http://aryasudiadnyana.blogspot.com.
Diakses tanggal 9 Oktober 2013.
Sunarmi, N. 2010. Isolasi dan Identifikasi Jamur Endofit dari Akar Tanaman Kentang
sebagai Anti Jamur (Fusarium sp., Phytophthora infestans) dan Anti Bakteri
(Ralstonia solanacaerum). Fakultas Sains dan Teknologi. Universitas Negeri
Malang Maulana Malik Ibrahim. Malang.
Triharso. 1996. Dasar-Dasar Perlindungan Tanaman. Gadjah Mada University Press.
Yogyakarta.
Warisno. 1998. Jagung Hibrida seri budidaya. Kanisius. Yogyakarta
Zuroaidah. 2012. Penyakit Karat Daun (Puccinia spp.). Balai Karantina Pertanian
kelas II. Cilegon.

Beri Nilai