Anda di halaman 1dari 11

BAB I

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Usaha peternakan babi di Indonesia telah lama dikenal masyarakat. Agar usaha ini dapat
memberikan keuntungan yang optimal bagi pemiliknya maka perlu diperhatikan beberapa hal
yang menyangkut Manajemen pemeliharaan ternak babi. Melalui pengamatan dan penelitian
yang cukup panjang dalam kehidupan manusia, ternyata babi merupakan hewan yang memenuhi
syarat dapat cepat berkembang biak dan daspat menghasilkan daging yang lebih dari memadai
bila dikelola secara baik berdasarkan tatalaksana peternakan yang mapan, sesuai dengan
perkembangan ilmu beternak hasil pengalaman dan penelitian yang telah berjalan ribuan tahun.
Keunggulan babi sebagai ternak potong untuk pnyediaan daging babi manusia telah diakui
seluruh dunia.
Di Indonesia ternak babi telah cukup lama diketahui orang, namun pengetahuan tentang
beternak babi yang benar dan produktif belum banyak diterapkan, mengingat kurangnya
informasi, akibatnya peternakan babi di Indonesia cenderung masih dilakukan secara tradisional
bahkan di sana-sini banyak peternakan babi yang dikelola secara sangat sederhana dalam arti
belum

dikandangkan

secara

baik,

belum

diperhatikan

pakannya,

pertumbuhannya,

perkembangbiakannya maupun kesehatannya. Sebagai halnya ternak lain, babi yang di ternakan
orang berasal dari binatang liar. Babi liar dijinakkan, dibudidayakan, berkembang dan terbukti
bahwa babi-babi tersebut kemudian terkenal sebagai ternak penghasil daging yang paling unggul,
karena kemampuannya cepat tumbuh (gemuk) dan cepat berkembang biak. Pembudidayaan babi
dalam perkembangan peternakan babi secara modern di dunia ini menghasilkan berbagai jenis
babi unggul, babi-babi mana telah menjadi ternak potong yang memegang peranan dalam
memenuhi kebutuhan daging bagi manusia.

Rumusan Masalah
Bagaimana sejarah peternakan babi di Indonesia?
Bagaimana Tipe ternak babi?
Apa saja tipe babi yang ada di Indonesia dan di luar Indonesia?
Tujuan
Mengetahui sejarah peternakan babi di Indonesia
Mengetahui tipe ternak babi
Mengetahui tipe babi yang ada di Indonesia dan di luar Indonesia

BAB II
PEMBAHASAN
Sejarah Domestikasi Babi di Indonesia
Pendapat umum menyatakan bahwa bangsa babi merupakan hewan yang paling awal
dijinakkan, bukan kucing ataupun anjing. Hal ini ditunjukkan dengan adanya penemuan lukisan
dan ukiran babi yang berumur lebih dari 25.000 tahun yang lalu.
Asal usul ternak babi yang dikenal sekarang adalah keturunan dari dua jenis babi
liar; Sus Vittatus dari India timur, Asia Tenggara, China dan Sus Scrofa dari Eropa yang
didomestikasi pada 4900 tahum SM. Hingga kini masih ditemukan 2 (dua ) spesies babi liar ini
hidup bergerombol dan membentuk kelompok besar di hutan Eropa dan India Timur.
Data terakhir menunjukkan bahwa sudah ada 25 sub spesies Sus Scrofa yang diketahui,
dan perkembangannya telah beradaptasi dengan lingkungan lokal.
Babi lokal (indigenous) diberbagai daerah tropis sekarang ini sulit dijumpai karena pada
umumnya telah mengalami grading up dengan babi ras atau breed eksotik yang berasal dari
Ingris, Amerika dan Skandinavia; karena babi ras ini ternyata lebih cocok untuk daerah tropis.
Tipe dan Bangsa Ternak Babi
Ternak babi dibagi menjadi tiga tipe yakni:
a). Tipe lemak ( Lard Type ), memiliki ciri-ciri:
a. Ukuran tubuh berlebihan, lebar dan dalam
b.

Cepat atau mudah menjadi gemuk, kemampuan dalam pembentukan lemak


cukup tinggi, ukuran kaki pendek.
Contoh : bangsa-bangsa babi Indonesia cenderung ke arah tipe lemak.

b). Tipe daging ( Meat Type = Pork Type ), memiliki ciri-ciri:


a. Ukuran tubuh panjang, dalam, halus.
b. Bagian sisi tubuh panjang, dalam halus
c. Punggung berbentuk busur, kuat dan lebar. d.
Susunan badan padat, lemak sedikit
e. Kepala dan leher ringan, halus
f.

Ukuran kaki panjang sedang, tumit pendek kuat. g.

Ham berkembang cukup bagus dan dalam Kelompok


babi ini banyak diternakkan di AS
Contoh: Hampshire, Polan China, Spotted Poland China, Berkshire, Chester
White, Duroc.
c). Tipe dwiguna ( Bacon Type ).
Termasuk kelompok babi type sedang ialah yang memiliki tanda-tanda sebagai
berikut:
a. Ukuran tubuh panjang dan dalamnya tubuh sedang dan halus.
b. Ukuran lebar tubuh sedang, timbunan lemak sedang, halus
Kelompok babi tipe bacon banyak diternakkan di Inggris, Belanda, Kanada dan
Polandia. Contoh : Yorkshire, Landrace, Tamworth.
Bangsa Babi
a. Yorkshire dikenal dengan Large White
Babi Large White dikembangkan di Inggris pada akhir
tahun 1700-an. Ada hampir 4.000 ekor jenis babi large
white yang terdaftar di Inggris pada tahun 1981.,
dikenal juga sebagai babi Large White Inggris yang
merupakan jenis babi lokal yang berasal dari
Yorkshire oleh karena itu dikenal juga sebagai babi
Yorkshire, termasuk termasuk tipe bacon (dwiguna)
Gambar 5.39. Babi Yorkshire
dan merupakan babi yang paling dicari karena cepat
berkembang biak.
Ciri-ciri yang dimiliki antara lain:
a. babi ini berwarna putih dengan muka oval, telinga tegak,
b. termasuk type keibuan karena litter sizenya banyak dan keibuannya bagus,
c. persent ase karkasnya tinggi,
d. berat jantan 320-455kg, betina 225- 365kg.
b. Landrace
Berasal dari Denmark, warna putih, bertubuh panjang dan kakinya panjang, tampilan
yang khas telinganya rebah ke depan. Panjang tubuh 16 sampai 17 tulang rusuk, subur
mempunyai puting susu yang lebih banyak , jantan dewasa berbobot 320 410 kg dan betina
250-340 kg. Karkas panjang, paha besar, daging dibawah dagu gemuk dengan kaki pendek
dikenal karena konversi pakannnya sangat baik dan berat badan yang tinggi. Kelemahan kaki

belakang yang lemah saat bunting dan daging pucat, lembek dan exsudatif ini karena inbreeding
yang terlalu lama, termasuk babi bacon berkualitas tinggi.
Ciri-ciri yang dimiliki antara lain:
a. Tubuh panjang, besar (lebar) dan dalam
b. Warna putih dengan bulu yang halus
c. Kepala kecil agak panjang, dengan telinga terkulai
d. Leher panjang, punggung membentuk seperti busur
panjang dan lebar ,bahu rata, halus, kaki letaknya
baik dan kuat, dengan paha yang bulat dan tumit
yang kuat pula, Putting susu 6-7 buah
e. Berat jantan dewasa 320-410 betina 250-340 kg.

Gambar 5.40. Babi Landrace

c. Chester White
Memiliki ukuran medium dengan telinga droopy dan
biasanya memiliki taring besar untuk mencari makan,
kemampuan mereka untuk bereproduksi tinggi. Babi
dari breed ini biasanya agresif.
Gambar 5.41. Babi Chester White.

d. Duroc
Berasal dari Amerika Serikat, warna merah mulus, tubuh padat dan prolifik, babi siap
potong 90 kg, dapat dicapai 5 bulan atau lebih,

Gambar 5.42. Babi Duroc

e. Saddleback

Ciri-ciri yang dimiliki antara lain:


a. Tubuh panjang, besar, warna merah yang
bervareasi mulai dari merah muda sampai
merah tua,
b. Punggung berbentuk busur yang dimulai dari
leher sampai ekor dengan titik tertinggi di
tengah.
c. Kepala sedang dengan telinga terkulai kedepan
dan mukanya agak cekung
d. Produksi susu cukup baik dan banyak anak
c. Berat jantan 295 455kg, betina 295 455kg.

Gambar 5.43. Babi Sadlebacxk

Negara asal: Angeln, Bagian Utara Jerman.


a) Warna diantara Landrace hitam dan
putih dengan Wessex-Saddleback. Jalur
putih di atas badan yang hitam.
b) Ukuran besar. Jantan 350kg, betina
300kg.
c) Tipe lemak.
d) Kesuburan tinggi. maternitas yang baik
dengan susu yang banyak.
e) Bangsa babi yang sudah berkurang dan
hampir punah

f. Poland China

Gambar 5.44. Babi Poland China

Gambar 5.45. Babi Spoted Poland china

Mempunyai bentuk seperti Berkshire, breed ini memiliki enam titik putih pada tubuh,
telinga berukuran sedang/droopy dan menghasilkan daging dengan mata rusuk yang
besar. Ada juga yang memilki pola warna dasar putih dengan bercak hitam, breed ini
memiliki tipe telinga yang sama dikenal sebagai Spoted Poland China. Babi ini
digunakan untuk menghasilkan ternak babi dengan tingkat pertumbuhan yang tinggi

g. Berkshire
Mempunyai tubuh berwana hitam dengan enam titik
putih (hidung, ekor, dan kaki), babi ini memiliki
telinga tegak dan moncong pendek.dished. Dapat
berproduksi dengan b aik dalam fasilitas tertutup.
Gambar 5.46. Babi Berkshire

h. Hampshire
Mempunyai ciri yaitu berwarna hitam dengan sabuk
putih yang membentang dari satu kaki depan, di bahu,
dan di bawah kaki depan lain. Mempunyai telinga
yang tegak dan sangat populer karena memilki banyak
daging
Gambar 5.47. Babi Hampshire

i. Babi Lokal:
a). Babi Batak:
a. Tinggi pundak 54-51 cm, panjang 71-95 cm
b. Telinga tengah warna rata-rata hitam walaupun ada
warna bercak-bercak putih
c. Bulu pada bagian bahu dan leher agak tebal.
d. Rata-rata putting susu 10.
Gambar 5.48. Babi Batak
b). Babi Bali:
Babi di Bali terdapat dua tipe yaitu tipe pertama terdapat di bagian timur pulau Bali yang
diduga berasal dari Sus vittatus setempat. Babi ini berwarna hitam dan bulunya agak kasar.
Punggungya sedikit melengkung ke bawah namun tidak sampai menyentuh tanah dan
moncongnya relative panjang.
Tipe yang kedua terdapat di Pulau Bali bagian utara, tengah, barat dan. Babi ini
punggungnya sampai melengkung ke bawah (lordosis), perutnya besar dan sering menyentuh

tanah dalam keadaan bunting atau gemuk. Warnanya hitam kecuali di garis perut bagian bawah
dan keempat kakinya dan kadang-kadang di dahinya berwarna putih.. Babi Bali memiliki
kelebihan bila sepenuhnya diberikan pakan berupa limbah dapur. Babi inilah yang umumnya
disebut babi Bali
Ciri-ciri babi Bali meliputi :
a. Warna kulit mayoritas hitam, perut buncit,
b. Postur tubuh pendek dan kecil.
c. Kepala pendek sekitar 24-28 cm, telinga tegak dan
pendek, yakni sekitar 10-11 cm.
d. Warna hitam dan bulu agak kasar.
e. Rata-rata banyaknya anak adalah 12 ekor per
kelahiranproduksi daging (karkas) relatif kecil

Gambar 5. 49. Babi Bali


f. Induk babi bali mampu menghasilkan anak seba nyak 8-10 ekor (dalam satu kali
melahirkan).
g. Punggung melengkung kebawah, tidak sampai ketanah, cungurnya relatif pendek
h. Telinga tegak tinggi,
i. Pundak 48-54 cm, panjang tubuh 94 cm
j. Puting susu 12-14 buah dengan jumlah anak perkelahiran 12 ekor

Babi Hutuan (sebutan untuk babi Bali berumur satu bulan) banyak digunakan upacara
mecaru termasuk jenis upacara lainnya. Babi Bali yang sudah menginjak usia 6 bulan sudah bisa
mencapai berat 80 kg. Babi Bali yang berumur 1 bulan untuk kebutuhan upacara bisa dihargai
Rp 400.000 per ekor.
c). Babi Nias
Babi nias masih dekat hubungan dengan babi liar. Badannya
sedang, ukuran kepalanya lebih pendek dari babi Sumba.
Telinganya tegak,kecil, mulutnya runcing, bulunya agak
tebal, terutama pada leher dan bahu sedang babi ini berwarna
putih atau belang hitam. Ada satu fenomena yang akhir-akhir
Gambar 5.50. Babi Nias

ini dilakoni masyarakat di Nias Barat yaitu beternak babi di


pinggir pantai, Hanya memberi makan daging buah kelapa

sekali sehari sekedarnya saja.


Peternak babi di pantai ini memelihara ternaknya di pinggir laut dan membatasi areal
ternaknya dengan membuat parit selebar 1 meter (inoo) sehingga ternak babi mereka tidak bisa

pergi jauh. Karena dalam beternak ini boleh dikatakan beternak secara massal maka areal yang
dibatasi dengan inoo bisa luas mencapai 3 km persegi dan ini dikerjakan oleh orang se kampung
dan tiap keluarga dapat memelihara babi 10 ekor atau lebih dengan membiarkan berkeliaran di
areal yang sudah dibatasi sehingga di areal itu ada ratusan ekor babi dengan berbagai ukuran dan
pemiliknya berbeda-beda.
Makanan babi adalah bulu gowinasi/daun ubi jalar laut yang secara otomatis tumbuh
dipinggir pantai tanpa dipelihara sehingga babi tumbuh dengan sendirinya. Namun untuk
kesegaran ternak babi ini sekali sehari diberikan makanan variasi berupa kelapa parut sekedarnya
saja oleh pemiliknya. Cara memberikan makanan kelapa ini juga sangat unik yaitu pemilik
memanggil ternaknya dan menjaga agar hanya ternaknya yang memakan kelapa yang yang
diberikan, setelah habis baru pemiliknya pulang. Peternakan yang sangat menguntungkan karena
biaya sangat murah dan tidak membutuhkan tenaga manusia yang banyak. Ubi jalar laut tumbuh
dengan sendirinya dan sangat banyak serta cepat pertumbuhannya dan buah kelapa sangat
banyak di Nias dan tidak terlalu banyak dibutuhkan. Salah satu desa yang telah melaksanakan
peternakan massal ini adalah Desa Togimbgi Kecamatan Sirombu sehingga orang yang
membutuhkan babi selalu datang kesana karena hampir satu kampung memiliki ternak babi.
a) Babi Tana Toraja.
a. Babi kecil (minipig)
b. Tinggi pundak 45 cm, panjang 71 cm
c. Warna hitam putih dan ada yang hitam
semua.

Gambar 5. 51. Babi Toraja

BAB III

PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan asal usul ternak babi, ada dua teori yang saling bertentangan dalam
menerangkannya. Ada yang mengatakan babi dijinakkan di beberapa pusat peternakan yang
terpisah satu sama lain dan berdiri sendiri. Ada juga yang mengatakan babi dijinakkan di satu
pusat peternakan di Asia sebelah barat kemudian babi yang dijinakkan secara berangsur-angsur
disebarkan dari tempat lain ke Asia Tenggara, Eropa dan Afrika. Faktor-faktor yang
mempengaruhi pembentukan tipe babi adalah pemasaran/market, tujuan peternak, bangsa atau
strain, makanan dan saat pemotongan.

Daftar Pustaka
http://dodymisa.blogspot.com/2015/06/sejarah-ternak-babi-di-indonesia.html#ixzz4Ra46FIEm
http://jeblogans.blogspot.co.id/2014/10/makalah-ternak-babi.html