Anda di halaman 1dari 19

PENDAHULUAN

Latar belakang
Seiring perkembangan jumlah penduduk yang terus meningkat dari tahun
ke tahun, serta kesadaran akan arti pentingnya peningkatan mengkonsumsi gizi
dalam kehidupan, disamping itu meningkatnya kebutuhan akan masyarakat
terhadap konsumsi telur yang terus menigkat untuk dapat memberikan zat bagi
tubuh untuk mempertahankan hidup,selain itu telur mengandunag protein yang
tinggi dan energi yanag dibutuhkan oleh tubuh dalam menjalankan aktifitas
kehidupan
Disamping itu telur merupakan suatu jenis bahan makanan yang sangat
populer dikalangan masyarakat yang bermanfaat sebagai sumber protein hewani.
Hampir semua lapisan masyarakat dapat mengkonsumsi telur sebagai sumber
protein hewani karena telur merupakan salah satu bentuk makanan yang mudah
diperoleh dan mudah dalam pengelolahannya,sehingga telur merupakan jenis
bahan makanan yang selalu dibutuhkan dan dikonsumsi masyarakat
Fakta ini menunjukkan usaha ternak ayam ras petelur,merupakan jenis unggas
yang memiliki peluang pasar luas, disampig itu ternak ini mudah ditangani dengan
modal yang lebih kecil dibandingkan dengan hewan besar lainya seperti, sapi,
kerbau, dan kambing. Secara ekonomis, usaha ternak ayam ras petelur memiliki
prospek yang menguntungkan karena peermintaan jumlah konsumsi telur yang
selalu lebih tinggi daripada tingkat produksi telur,serta memiliki peluang pasar
yang besar yang lebih potensial dan usaha yang mampu bertahan saat krisis
ekonomi terjadi.

Rumusan Masalah
a.
b.
c.
d.
e.
f.

Bagaimana aspek ekonomi dan pemasaran ayam ras petelur?


Bagaimana aspek teknis produksi ayam ras petelur?
Bagaimana aspek organisasi dan manajemen ayam ras petelur?
Bagaimana aspek finansial ayam ras petelur?
Bagaimana aspek ekonomi dan pemasaran ayam ras petelur?
Bagaimana aspek sosial ayam ras petelur?

PEMBAHASAN
A. Aspek Ekonomi dan Pemasaran
1. Permintaan
2

Dalam ilmu ekonomi, istilah permintaan menunjukkan jumlah barang dan


jasa yang akan dibeli konsumen pada periode waktu dan keadaan tertentu. Periode
waktu tersebut bisa satu tahun dan keadaan yang harus diperhatikan antara lain
harga barang yang di beli, pendapatan konsumen, jumlah tanggungan, selera dan
lain-lain.
Harga telur yang terjangkau oleh semua lapisan masyarakat menyebabkan
permintaan pasar pada telur senantiasa tinggi. Demikian juga untuk telur produksi
peternakan ayam ras baik skala kecil maupun skala besar.
2. Penawaran
Hukum penawaran adalah suatu pernyataan yang menjelaskan tentang sifat
hubungan antara harga suatu barang dan jumlah barang tersebut yang ditawarkan
para penjual. Dalam hukum ini dinyatakan bagaimana keinginan para penjual
untuk menawarkan barangnya apabila harganya tinggi dan bagaimana pula
keinginan untuk menawarkan barangnya tersebut apabila harganya rendah.
Hukum penawaran pada dasarnya mengatakan bahwa makin tinggi harga suatu
barang, semakin banyak jumlah barang tersebut akan ditawarkan oleh para
penjual. Sebaliknya, makin rendah harga suatu barang semakin sedikit jumlah
barang tersebut yang ditawarkan.
Di sisi penawaran, kapasitas produksi peternakan ayam ras petelur di
Indonesia masih belum mencapai kapasitas produksi yang sesungguhnya. Hal ini
terlihat dari masih banyaknya perusahaan pembibitan, pakan ternak, dan obatobatan yang masih berproduksi di bawah kapasitas terpasang. Artinya, prospek
pengembangannya masih terbuka. Di sisi permintaan, saat ini produksi telur ayam
ras baru mencukupi kebutuhan pasar dalam negeri sebesar 65%.

3. Harga
Harga merupakan salah satu variabel yang harus dikendalikan secara
benar, karena harga akan sangat berpengaruh terhadap beberapa aspek kegiatan
perusahan, baik menyangkut kegiatan penjualan maupun aspek keuntungan yang
ingin dicapai oleh perusahaan.
Dengan demikian, harga suatu barang atau jasa merupakan penentu bagi
permintaan pasarnya. Harga juga dapat mempengaruhi posisi persaingan
perusahaan dan juga mempengaruhi market share-nya. Bagi perusahaan, harga
tersebut akan memberikan hasil dengan menciptakan sejumlah pendapatan dan
keuntungan bersih. Pemasaran telur yang paling penting adalah pihak produsen
memiliki kekuatan menentukan harga secara layak. Harga jual telur banyak
ditentukan oleh mutu telur. Semakin baik mutu telur yang dihasilkan, semakin
tinggi harga penjualan telur yang akan diterima. Harga untuk produk yang pada
umumnya dijual menggunakan satuan kilogram ini ditentukan berdasarkan harga
di pasaran pada umumnya.
4. Persaingan dan peluang pasar
Usaha peternakan ayam ras petelur mengarah pada bentuk usaha industri
skala menengah dan besar. Berbeda dengan ayam ras pedaging, kebebasan untuk
masuk dan keluar dalam sistem pasar ayam ras petelur relatif lebih terbatas.
Pelaku dalam bisnis ayam ras petelur umumnya kelompok lebih mapan dengan
modal cukup, dalam bentuk usaha mandiri. Perkembangan jumlah pelaku relatif
lambat karena memerlukan persiapan yang lebih matang dan modal lebih besar.
Minat masyarakat luas menangani usaha ternak ayam ras petelur relatif rendah
termasuk melalui kemitraan dengan pengusaha, tidak seperti ayam ras pedaging.

Investasi yang cukup besar, jangka waktu yang lama, dan memerlukan ketelitian
dan ketekunan lebih tinggi pada usaha ayam ras petelur menyebabkan daya tarik
untuk peternak rakyat rendah. Oleh karena itu persaingan dalam bisnis ayam ras
petelur yang terjadi adalah antar pelaku perusahaan skala menengah atau antar
perusahaan integrated di wilayah tertentu, sedangkan persaingan antara pelaku
skala menengah dan perusahaan integrated jarang terjadi karena biasanya
perusahaan integrated skala besar menjalin hubungan kerjasama dengan peternak
menengah.
Selain persaingan pasar produksi, persaingan yang terjadi antar perusahaan
integrated adalah dalam merebut peluang kerjasama dengan peternak menengah.
Berbagai strain dengan keunggulan masing-masing yang ditawarkan oleh
perusahaan besar merupakan salah satu siasat yang dilakukan perusahaan
integrated meraih sebanyak mungkin mitra perusahaan skala menengah. Selain itu
masing-masing perusahaan integrated melakukan berbagai terobosan dengan
memberikan berbagai kemudahan bagi pengusaha menengah. Kerjasama dengan
pengusaha

menengah

bagi

perusahaan

integrated

dirasakan

sangat

menguntungkan karena juga merupakan sarana dalam pemasaran aneka produk


terutama pakan sebagai komponen biaya terbesar. Kontribusi keuntungan pada
perusahaan integrated terbesar berasal dari usaha pakan, yang dapat mencapai 75
%, jauh lebih besar dibanding dengan tingkat keuntungan di tingkat budidaya
yang hanya 5 %.
5. Pemasaran
Dewasa ini kebutuhan telur dalam negeri terus meningkat sejalan dengan
peningkatan pola hidup manusia dalam meningkatkan kebutuhan akan protein

hewani yang berasal dari telur. Selain itu juga adanya program pemerintah dalam
meningkatkan gizi masyarakat terutama anak-anak. Kebutuhan akan telur yang
terus meningkat tidak diimbangi dengan produksi telur yang besar sehingga
terjadilah kekurangan persediaan telur yang mengakibatkan harga telur mahal.
Dengan melihat kondisi tersebut budidaya ayam petelur dapat memberikan
keuntungan yang menjanjikan bila di kelola secara intensif dan terpadu.
Penggunaan metode distribusi langsung dalam memasarkan barang, yaitu
dengan menunggu pembeli datang ke tempat penyimpanan hasil produksi adalah
metode yang dipandang menuntungkan, karena metode ini akan meminimalisir
kerusakan yang terjadi pada hasil peternakan, sehingga akan menjamin kualitas
mutu telur yang telah diproduksi.
6. Kendala dan hambatan aspek pemasaran
Menghadapi pasar yang semakin mengglobal, persaingan yang kemungkinan
datang berasal dari negara lain, sehingga perlu diwaspadai.
Pola konsumsi masyarakat sering fluktuatif harus selalu diantisipasi secermat
mungkin.
Teknologi pemeliharaan ayam petelur memerlukan upaya sebaik-baiknya
dalam hal menjaga standar kebutuhan pakan baik kuantitas maupun kualitas,
cahaya dan suasana lingkungan.
Usaha ayam ras petelur dituntut untuk selalu menghasilkan produk yang
diinginkan konsumen dalam hal warna, ukuran dan kualitas bahkan bentuk
kemasan yang sesuai dengan tuntutan selera masyarakat.
Adanya persaingan global, maka tuntutan untuk berproduksi dengan harga
yang lebih murah juga menjadi keharusan, sehingga perlu diantisipasi melalui
penerapan atau pengenalan teknologi (pakan, obat-obatan dan peralatan) yang
efisien.

Kerjasama antara peternak kecil, menengah dengan perusahaan besar untuk


menjamin kelangsungan produksi dan pemasaran.
Mengantisipasi fluktuatif harga produksi dan sarana produksi dengan
perencanaan dan evaluasi jangka panjang.
B. Aspek Teknis Produksi
1. Produk dan material
Secara singkat produk dapat diartikan sebagai setiap benda yang dapat
memenuhi kebutuhan manusia. Produk biasanya sengaja dibuat oleh sekelompok
orang sebagai ajang mendapatkan keuntungan melalui proses pertukaran ataupun
jual beli produk yang bersangkutan.
Material atau bahan adalah zat atau benda yang dari mana sesuatu dapat
dibuat darinya, atau barang yang dibutuhkan untuk membuat sesuatu. Material
adalah sebuah masukan dalam produksi. Mereka seringkali adalah bahan mentah yang belum diproses, tetapi kadang kala telah diproses sebelum digunakan untuk
proses produksi lebih lanjut.
Jenis produk yang dibuat dalam usaha ini adalah telur ayam. Dalam
menghasilkannya diperlukan :indukan ayam, pakan, vaksin dan obat, serta
kandang ayam
2. Penentuan lokasi
Lokasi yang dipilih harus merupakan perpaduan antara tempat yang cocok
untuk kehidupan ayam petelur, harga tanah relative murah serta mudah dijangkau
alat transportasi dan komunikasi. Memelihara ayam petelur sebaiknya dilakukan
pada ketingian 100-400 meter diatas permukaan laut. Kurang dari ketinggian 100
meter dari permukaan laut maka ayam mudah stress karena pengaruh panas.
Sementara ketinggian diatas 400 meter akan berpengaruh buruk karena curah
oksigen semakin rendah, sehingga ayam akan rentan terhadap penyakit pernafasan
7

maupun penyakit metabolisme lainnya. Selain ketinggian tempat, sumber air dan
tipe tanah, memilih lokasi harus mempertimbangkan

kelembapan lokasi.

Disamping itu, syarat mutlak lainnya adalah tersedia sumber air yang cukup. Jenis
tanah yang dipilih adalah yang mudah menyerap air seperti tanah berpasir.
Kelembapan idela untuk ayam sekitar 50-70%. Kelembapan ini akan
membantu perkembangan bulu akan semakin baik. Lingkungan dengan
kelembapan rendah akan menyebabkan perkembangan dan bentuk bulu menjadi
jelek. Sebaliknya kelembapan tinggi akan menyebabkan masalah seperti kadar
amoniak yang tinggi diikuti masalah gangguan pernafasan.Lokasi yang ideal
memang akan memudahkan dan menguntungkan peternak dalam bisnis ayam
petelur. Tetapi jangan melupakan harga tanah.
Pemilihan tempat peternakan ayam petelur yang dipilih yaitu dekat dengan
akses jalan sehingga memudahkan pemasaran, serta dekat dengan sumber air dan
diusahakan peternakan berada jauh dari pemukiman penduduk setempat
3. Spesifikasi mesin dan peralatan
Mengenai bahan dan peralatan dalam pemeliharaan, disiapkan peralatan
berupa kandang ayam berupa kandang baterai, tempat makan dan minum indukan
yang telah dirancang pada kandang, alat angkut ketika panen, tempat untuk
mencampur makannan ayam, dan tempat penyimpanan telur ayam sementara.
Dalam hal ini, peralatan-peralatan tersebut dianggarkan tergabung dalam kandang
ayam. Juga disediakan gudang dsebagai tempat pakan dan ruangan penanganan
telur, baik yang akan ditetaskan atau yang akan dipasarkan, peralatan sanitasi dan
vaksin serta obat-obatan. Peralatan lain yang terkait dengan penenganan, yaitu
biosecurity seperti cattle pack, sepatu boot, masker dan helm

C. Aspek Organisasi dan Manajemen


1. Manajemen proyek
Manajemen proyek adalah suatu penerapan ilmu pengetahuan, keahlian
dan juga ketrampilan, cara teknis yang terbaik serta dengan sumber daya yang
terbatas untuk mencapai sasaran atau tujuan yang sudah ditentukan agar
mendapatkan hasil yang optimal dalam hal kinerja, waktu, mutu dan keselamatan
kerja. Ruang lingkup proyek, diantaranya meliputi:

Menentukan waktu dimulai proyek .

Perencanaan lingkup dari proyek yang akan dikerjakan.

Pendefinisian dari ruang lingkup proyek.

Verifikasi proyek dan kontrol atas perubahan yang mungkin saja terjadi
ketika proyek tersebut dimulai.
Manajemen dalam pendirian usaha tentunya membutuhkan barang,

keuangan dan tenaga yang baik agar hasil yang di harapkan dapat dicapai.
Sebelum melakukan pengelolaan usaha, perlu di sampaikan bentuk organisasi dari
perusahaan, sehingga banyak orang terlibat yang telah mengetahui tuga masingmasing. Mengenai kebutuhan tenaga kerja adalah beberapa orang dengan jam
kerja dari jam 06.00-12.00 dan 13.00-06.00 dan tiap orang mempunyai tugas
masing-masing didalam struktur organisasi/ kelembagaan yang telah dibuat.
2. Struktur organisasi/kelembagaan
Struktur organisasi adalah suatu susunan komponen-komponen atau unitunit kerja dalam sebuah organisasi. Struktur organisasi menunjukan bahwa
adanya pembagian kerja dan bagaimana fungsi atau kegiatan-kegiatan berbeda
yang dikoordinasikan. Dan selain itu struktur organisasi juga menunjukkan

mengenai spesialisasi-spesialisasi dari pekerjaan, saluran perintah maupun


penyampaian laporan.
Struktur organisasi adalah suatu susunan atau hubungan antara komponen
bagian-bagian dan posisi dalam sebuah organisasi, komponen-komponen yang ada
dalam organisasi mempunyai ketergantungan. Sehingga jika terdapat suatu
komponen baik maka akan berpengaruh kepada komponen yang lainnya dan
tentunya akan berpengaruh juga kepada organisasi tersebut.

3. Job deskripsi dan job spesifikasi ketenagakerjaan


a) Direktur berposisi sebagai pemilik perusahaan, dan memiliki wewenang atas
manajer secara langsung dan secara tidak langsung pada staf karyawan secara.
b) Manajer terdiri atas manager produksi, pemasaran, dan keuangan sebagai
bawahan direktur yang memiliki wewenang atas staf secara langdung dan
secara tidak langsung pada karyawan,
c) Staf sebagai bawahan manajer dan memiliki wewenang langsung terhadap
karyawan, dan
d) Karyawan sebagai pekerja lapangan atau penanganan yang terjun langsung dan
melakukan pemeliharaan dan segala aspek lapangan.
D. Aspek Finansial
1. Komponen struktur biaya

10

Kalkulasi / perkiraan bagian besar kalkulasi anggaran dengan modal awal Rp


25.000.000,
Pengeluaran
1)
a)
b)
c)
d)

Modal tetap meliputi


kandang ayam ukuran 8x9 (2 buah)
tempat minum ayam
tempat makan ayam
lampu penerangan
Jumlah

= Rp. 5.000.000,= Rp. 600.000,= Rp. 650.000,= Rp. 800.000,= Rp. 7.050.000,-

2) Modal tidak tetap meliputi


a) Pembelian ayam betina sebanyak 500 ayam, per ekornya Rp.20.000,- =
Rp.20.000,- x 500
= Rp. 10.000.000.
b) Pembelian obat-obatan
= Rp. 500.000,c) Biaya listrik
= Rp. 700.000,
Jumlah
= Rp. 11.200.000,
Total pengeluaran Rp. 7.050.000,- + Rp. 11.200.000,= Rp. 18.250.000,
Sisa modal modal awal total pengeluaran = Rp. 25.000.000,- Rp.18.250.000,- = Rp. 6.750.000,maka 1000 telur x Rp. 800,- = 800.000/ hari.
Total pendapatan sehari Rp. 800,- dan Rp. 24.000.000,-/bln.
Maka laba/bln = Rp. 24.000.000,- - Rp. 6.750.000,- = Rp. 17.250.000,-.
2. Kebutuhan modal dan kredit
Modal dari sudut pandang adalah barang atau uang yang bersama-sama
dengan faktor produksi lain dan tenaga kerja serta pengelolaan yang dapat
menghasilkan barang baru. Modal dapat berupa materi seperti uang, tanah, dll.
maupun potensi pribadi (SDM) seperti keberanian, ketrampilan, kejujuran dll.
Modal dalam yang berupa uang sangat penting untuk menjalankan bisnis pullet,
sebab untuk memulai usaha ini membutuhkan modal yang cukup besar.
Modal dalam pengertian sehari-hari adalahsejumlah uang yang perlu
dimiliki sebagai langkah awal berusaha. Besarnya uang tergantung pada skala

11

usaha, jenis usaha, serta ketersediaan barang dan bahan yang diperlukan untuk
melaksanakan bisnis tersebut. Modal untuk bisnis pullet terdiri atas:
a) Modal investasi yaitu penyediaan sarana usaha yang bersifat fisik seperti sewa
tanah, pembuatan kandang, perizinan dll.
b) Modal kerja yaitu modal yang digunakan untuk membiayai semua kegiatan
usaha, seperti pembelian DOC, pakan, obat dll.
Modal dapat diperoleh dengan cara, masing-masing memiliki keunggulan
maupun kekurangannya terutama dilihat dari sesikonya. Cara memperoleh modal
tersebut antara lain:
a) Modal pribadi. Yaitu modal yang digunakan untuk usaha peternakan
seluruhnya berasal dari peternak. Resiko dari usaha ini ditanggung sepenuhnya
oleh pribadi.
b) Modal pinjaman (bisa dari bank maupun lainnya). Bank merupakan lembaga
keuangan yang bisa memberikan bantuan modal dalam bentuk kredit dengan
bunga tertentu.

Madal ini dapat digunakan untuk memulai usaha atau

mengembangkan usaha yang telah ada. Untuk menandapatkan pinjaman


peternak biasanya mengajukan pinjaman ke bank-bank dengan syarat tertentu
dan mengikuti aturan harus yang ditetapkan.
c) Modal patungan. Yaitu modal yang diperoleh dengan patungan antara dua
orang atau lebih untuk mendirikan atau melaksanakan usaha peternakan.
Keuntungan dari sistem permodalan seperti ini adalah resiko dapat ditanggung
bersama sehingga mungkin terasa lebih ringan.
d) Melibatkan beberapa penanam modal. Biasanya sistem ini lebih benyak dipakai
karena menguntungka kedua belah pihak. Dengan sistem ini pemilik modal
tidak perlu susah payah memikirkan atau melaksanakan usaha namun pemilik

12

bisa menarik keuntungan sesuai perjanjian yang telah disepakati dan pengusaha
dapat memulai usaha dengan modal dari investor tersebut.
3. Analisis arus kas
Arus pengeluaran pada kondisi pengembangan sama dengan kondisi awal yang
terdiri dari dua bagian yaitu biaya investasi dan biaya operasional yang dibagi
menjadi biaya tetap dan biaya variabel. Biaya investasi yang dikeluarkan oleh perusahaan dalam
melaksanakan pengembangan bisnisnya sebesar Rp 25.000.000,00. Biaya investasi ini
dikeluarkan dalam penambahan kandang layer baru untuk ayam sebanyak dua kandang dan
beberapa peralatan yang digunakan dalam produksi ketika pengembangan berjalan.
Sedangkan biaya operasional yang dikeluarkan dalam melakukan pengembangannya usahanya
dibagi menjadi dua yaitu biaya tetap sebesar Rp 7.050.000,00.
Pada biaya tetap tidak terjadi perubahan yang sangat besar dikarenakan
tidak adanya perubahan tenaga kerja dan variabel lain yang digunakan. Perubahan terjadi pada
biaya penyusutan yang diakibatkan berubahnya nilai investasi serta berubanya
nilai insentif. DLF tidak menambah tenaga kerja pada saat melakukan
pengembangan. Perusahaan hanya memberikan insentif tambahan kepada pekerja yang
melakukan pekrjaan tambahan.
Selain biaya tetap perubahan biaya juga terjadi pada biaya variabel, perubahan yang
terjadi diakibatkan berubahnya jumlah kuantitas setiap variabel yang digunakan pada saat
produksi yang diakibatkan penambahan sebesar Rp 11.200.000,00 Perubahan
terbesar tampak pada biaya pakan. Karena pakan merupakan salah satu variabel utama
dalam proses produksi selain DOC.
4. Evaluasi profitabilitas dan perencanaan investasi
Analisis profitabilitas pada usaha peternakan, yakni menggambarkan
tentang kemampuan peternak dalam memperoleh keuntungan dari sejumlah modal
yang diinvestasikan dan atas besarnya biaya operasional yang digunakan untuk
13

menunjang usaha peternakan tersebut. Fungsi dari analisis tersebut untuk


menentukan biaya-biaya produksi dan keuntungan yang diperoleh dari usaha
ternaknya. Analisis profitabilitas yang dilakukan adalah dengan melakukan
penghitungan tentang: Margin Laba Kotor/ Gross Profit Margin (GPM), Margin
Laba Bersih/ Net Profit Margin (NPM), Rasio Biaya Operasional/ Operational
Ratio (OR) dan Tingkat Perputaran Aktiva/ Turn Over of Assets (TOA).
Peluang untuk memperoleh keuntungan syarat proses produksi yang
efisien dari setiap usaha yang dilakukan. Keuntungan yang diterima oleh
peternakan telah memberikan kepuasan yang berarti bagi kemajuan usaha yang
dijalankan, akan tetapi keuntungan yang besar tidak menjamin bahwa usaha ayam
petelur tersebut sudah dikatakan berhasil, sehingga perlu untuk dianalisa lebih
lanjut mengenai faktor-faktor yang menyebabkan ketidak-berhasilan suatu usaha
peternakan, baik berasal dari biaya produksi yang dikeluarkan maupun dari hutang
perusahaan. Besar kecilnya keuntungan yang diperoleh dapat dijadikan salah satu
tingkat efisiensi suatu usaha.
Biaya operasional untuk budidaya ayam petelur meliputi biaya tetap (fixed
cost) dan biaya tidak tetap (variabel cost). Biaya tetap meliputi:biaya penyusutan,
biaya tenaga kerja tetap dan biaya listrik dan air. Biaya tidak tetap meliputi: biaya
pembelian bibit ayam berupa DOC , biaya pakan, biaya obat dan vaksin, biaya
pemeliharaan, biaya tenaga kerja tidak tetap, biaya packing dan transportasi, serta
biaya penunjang produksi. Total biaya operasional selama 5 tahun pada skala
pemeliharaan 5000 ekor sebesar Rp 2.444.093.166,67 atau rata-rata sebesar Rp
488.818.633,33 per tahun, sedangkan pada skala pemeliharaan 90000 ekor sebesar
Rp 36.283.700.777,78 atau rata-rata sebesar Rp 7.256.740.155,56. Komponen

14

biaya untuk pembelian pakan merupakan komponen terbesar dalam biaya


operasional budidaya ayam petelur.
5. Analisis Break Even Point (BEP)
Analisis break event point secara umum dapat memberikan informasi kepada
pimpinan, bagaimana pola hubungan antara volume penjualan, cost/biaya, dan
tingkat keuntungan yangakan diperoleh pada level penjualan tertentu.
Analisis break event point dapat membantu pimpinan dalam mengambil
keputusan mengenai hal-hal sebagai berikut :
1) Jumlah penjualan minimal yang harus dipertahankan agar perusahaan tidak
mengalami kerugian.
2) Jumlah penjualan yang hrus dicapai untuk memperoleh keuntungan tertentu.
3) Seberapa jauhkah berkurangnya penjualan agar penjualan tidak menderita rugi
Jenis-jenis Biaya Berdasarkan Break Even Point (Titik Impas),
diantaranya:
1) Variabel cost (biaya variabel). Variabel cost merupakan jenis biaya yang selalu
berubah sesuai dengan perubahan volume penjualan, dimana perubahannya
tercermin dalam biaya variable total.
2) Fixed cost (biaya tetap). Fixed cost merupakan jenis biaya yang selalu tetap
dan tidak terpengaruhi oleh volume penjualan melainkan dihubungkan dengan
waktu (function of time)sehingga jenis biaya ini akan konstan selama periode
tertentu.
3) Semi variable cost. Semi variable cost merupakan jenis biaya yang sebagian
variable dan sebagian tetap, yang kadang-kadang disebut dengan semi fixed
cost

15

6. Analisis sensivitas
Analisis sensivitas merupakan analisis yang dilakukan untuk mengetahui
akibat dari perubahan parameter-parameter produksi terhadap perubahan kinerja
system produksi dalam menghasilkan keuntungan.
Dengan melakukan analisis sentivitas maka akibat yang mungkin terjadi
dari perubahan- perubahan tersebut dapat diketahui dan diantisifikasi sebelumnya.
Alasan dilakukannya analisis sentivitas adalah untuk mengantisipasi adanya
perubahan-perubahan berikut : adanya cost overrn, yaitu kenaikan biaya-biaya,
seperti biaya konstruksi, biaya bahan baku, produksi, dsb. penurunan
produktivitas, dan mundurnya jadwal pelaksanaan proyek.
7. Kendala dan hambatan aspek
Masalah yang sering dihadapi perusahaan peternakan ayam petelur adalah
kurangnya penjualan karena perusahaan yang belum lama didirikan dimana belum
terlalu dikenal dikalangan masyarakat, dan musim panen yang belum menentu,
berbagai masalah lainnya yaitu beberapa perusahaan peternakan ayam petelur
berada jauh dari jalan dikarenakan mencari tempat yang jauh dari pemukiman,
sehingga saat membawa hasil produk ke agen pemasok biasanya terjadi
kerusakan, sehingga berdampak pada aspek keuntungan dan pendapatan
E. Aspek Sosial
1. Keadaan sosial ekonomi peternakan
Teori pertukaran menurut Blau lebih memperhatikan pada perangkatperangkat dimensi kekuasaan di dalam pertukaran sosial. Transaksi dan kekuasaan
adalah akibat dari pertukaran yang membentuk tekanan sosial sehingga harus
dipelajari dari dimensi pertukaran itu sendiri, dan bukan hanya dari sudut pandang
nilai dan konteks normatif sehingga dapat membatasi atau menguatkan studi
16

tersebut. Ketika seorang menggunakan kekuasaannya terhadap yang lain, maka


apapun bentuk kepuasannya berarti ia telah menekan dan menarik ongkos dari
yang lain, yakni orang yang dibebani kekuasaan tersebut.
Dampak sosial masyarakat akibat adanya usaha ternak ayam petelur di
suatu desa ada dampak negatif dan ada juga dampak positif. Dampak negatifnya
yaitu adanya bau yang tidak sedap sehingga mengganggu aktivitas kehidupan
sehari-hari masyarakat yang tinggal di dekat usaha ternak ayam petelur dan juga
banyaknya lalat yang membuat warga merasa risih karena kotoran ayam petelur
dari ternak itu tidak tertutup sehingga bau yang menyebar sangat menyengat.
Sedangkan dampak positifnya yaitu warga mendapatkan kontribusi dari pemilik
usaha ternak, memperbaiki ekonomi keluarga yang tinggal di dekat usaha
peternakan karena dibutuhkan tenaganya, dan juga warga dengan mudah
mendapatkan pinjaman uang dengan membayar menggunakan hasil pekerjaannya.

2. Analisis sosial
Telur sebagai sumber protein dengan segmentasi pasar seluruh lapisan
masyarakat dan ada kecendrungan dari waktu ke waktu permintaan telur selalu
meningkat karena adanya kebiasaan masyarakat kita yang gemar makan telur,
bahkan setiap ada perayaan hari besar selalu menghadirkan telur sebagai menu
lauk dalam hidangan mereka. Sikap masyarakat ini tentunya berimplikasi positif
pada perkembangan peternakan ayam ras petelur baik skala besar maupun skala
kecil.Kecenderungan selera masyarakat yang semakin menyukai telur ayam ras
dari lapisan perkotaan hingga

masyarakat pedesaan. Meskipun permintaan

17

masyarakat terhadap telur ayam ras fluktuatif, tetapi pada saat-saat tertentu
permintaan masyarakat terhadap telur ayam ras sangat tinggi, misalnya untuk
keperluan hajatan, hari-hari besar dan sebagainya, karena adanya budaya dalam
masyarakat kita menjadikan telur sebagai lauk wajib setiap acara. Kecendrungan
ini merupakan peluang pasar buat peternakan ayam ras petelur baik untuk skala
besar maupun untuk skala kecil.
Dampak sosial keberadaan usaha peternakan ayam ras petelur pada
wilayah pemukiman menunjukkan pengelolaan lingkungan yang dilakukan oleh
peternak ayam ras petelur yang berada pada pemukiman penduduk sudah
tergolong cukup baik (96% cukup baik, 4% kurang baik). Keberadaan usaha
peternakan ayam ras petelur belum memberikan dampak baik terhadap
masyarakat sekitarnya.

PENUTUP
Kesimpulan
Dalam melakukan analisis kelayakan suatu peternakan/ perusahaan
peternakan secara umum dan peternakan/perusahaan ayam petelur perlu
memperhatikan aspek-aspek kelayakan, sepeti: aspek ekonomi dan pemasaran,
aspek teknis dan produksi, aspek organisasi dan manajemen, aspek finansial dan
aspek sosial, yang mana akan menentukan keberhasilan usaha yang dilakukan.

18

Daftar Pustaka
Abidin, Z. 2003. Meningkatkan Produktivitas Ayam Ras Petelur. PT. Agromedia

Pustaka. Jakarta.
Direktorat Jenderal Peternakan. 1994. Pembangunan Jangka Panjang Kedua
Peternakan. Dirjen Peternakan, Departemen Pertanian, Jakarta.
Kotler, P. 1991. Manajemen Pemasaran. Jakarta. Erlangga. Jakarta.
Mila, F. 2011. Analisis Ekonomi Perusahaan Peternakan Ayam Petelur UD. Jaya
di Desa Bululawang Kecamatan Bululawang Kabupaten Malang. Skripsi.
Program Studi Ilmu Peternakan, Fakultas Peternakan, Universitas
Brawijaya Malang.
Safril, Erman. 2012. Dampak Sosial Keberadaan Usaha Peternakan Ayam Ras
Petelur pada Wilayah Pemukiman di Kabupaten Lima Puluh Kota.
Download www.scribd.com [30 November 2016].

19