Anda di halaman 1dari 8

Sistem Pendukung Keputusan Metode PROMETHEE II

Untuk Seleksi Penerima Beasiswa


Robi Kunia, Dinul Wikramaditya Syah
Informatika, Fakultas Ilmu Komputer, Universitas Brawijaya
Jl. Veteran No. 8 Malang, Informatika, Gedung A PTIIK-UB
2015

ABSTRAK
Beasiswa bukan hanya sekedar pemberian penghargaan bagi para siswa.Beasiswa merupakan
hak semua siswa yang kurang mampu namun memiliki kemampuan dan prestasi yang
baik.Beasiswa merupakan wujud kepedulian pemerintah ataupun instansi tertentu dalam
menunjang kemajuan di dalam bidang pendidikan.Dengan adanya program beasiswa sangat
membantu orang tua dan siswa dalam melanjutkan pendidikan. Pengambilan keputusan adalah
proses pemilihan, diantara berbagai alternatif aksi yang bertujuan untuk memenuhi satu atau
beberapa sasaran. Sistem pengambilan keputusan memiliki 4 fase yaitu intellegence, design,
choice dan implementation.Fase 1 sampai 3 merupakan dasar pengambian keputusan, yang di
akhiri dengan suatu rekomendasi.Preference Ranking Organization Method For Enrichment
Evaluation (PROMETHEE) merupakan suatu metode penentuan urutan atau prioritas dalam
analisis multikriteria. Dengan pertimbangan yang tepat, metode ini bisa menjadi salah satu alat
untuk menentukan kebijakan bagi universitas dalam sistem pengambilan keputusan terutama
penentuan siswa penerima beasiswa.Penentuan kebijakan yang diambil sebagai dasar dalam
pengambilan keputusan, harus menggunakan kriteria yang dapat terdefenisikan secara jelas dan
objektif.
Kata Kunci: Beasiswa, Sistem pendukung Keputusan, Promethee
1. Pendahuluan
Beasiswa merupakan salah satu
kebijakan yang di keluarkan oleh
pemerintah yang tercantum dalam
undangundang no 20 Tahun 2003
tentang Sistem Pendidikan Nasional
bahwa setiap peserta didik pada
satuan
pendidikan
berhak
mendapatkan beasiswa bagi yang

berprestasi, yang orang tuanya tidak


mampu membiayai pendidikannya.
Untuk memudahkan pihak sekolah
dalam pemberian beasiswa kepada
para siswanya, maka digunakanlah
sebuah
sistem
pengambilan
keputusan yang bertujuan untuk
menentukan
calon
penerima
beasiswa. Dengan sistem pendukung

keputusan ini diharapkan keputusan


yang akan diambil akan tepat guna
dan tepat sasaran, sehingga para
siswa yang seharusnya mendapatkan
beasiswa mendapatkan haknya.
Pengambilan
keputusan
juga
didasarkan oleh kriteria-kriteria yang
telah ditetapkan menurut prosedur
sekolah.
Pengambilan keputusan
adalah proses pemilihan, diantara
berbagai alternatif aksi yang
bertujuan untuk memenuhi satu atau
beberapa
sasaran.
Sistem
pengambilan keputusan memiliki 4
fase yaitu intellegence, design, choice
dan implementation. Fase 1 sampai 3
merupakan
dasar
pengambian
keputusan, yang di akhiri dengan
suatu
rekomendasi.
Promethee
merupakan salah satu metode dalam
pengambilan
keputusan
yang
digunakan untuk memperoleh suatu
pemecahan masalah.
2. Landasan Teori
2.1
Pengambilan Keputusan Persoalan
pengambilan
keputusan,
pada
dasarnya adalah bentuk pemilihan
dari berbagai alternatif tindakan yang
mungkin dipilih yang prosesnya
melalui mekanisme yang terbaik.
Penyusunan
model
keputusan
merupakan suatu
cara untuk
mengembangkan
hubunganhubungan logis yang mendasari
persoalan keputusan ke dalam suatu
model
matematis
yang
mencerminkan hubungan yang terjadi
diantara faktor-faktor yang terlibat.
Proses ini terdiri dari empat fase,
yaitu : 1. Intelligence Tahap di mana
dilakukan
pencarian
prosedur,

pengumpulan
data,
identifikasi
masalah, identifikasi kepemilikan
masalah, klasifikasi masalah, hingga
akhirnya
terbentuk
sebuah
pernyataan masalah. 2. Design Tahap
di mana diformulasikan model yang
akan digunakan dan kriteria-kriteria
yang ditentukan. Setelah itu, dicari
alternatif
model
yang
bisa
menyelesaikan
permasalahan
tersebut.
3.
Choice
Tahap
dilakukannya
proses
pemilihan
modelnya, termasuk solusi dari model
tersebut. Selanjutnya, dilakukan
anlisis sensitivitas, yakni dengan
mengganti beberapa variabel. 4.
Membuat
DSS
Tahap
mengimplementasikannya
dalam
aplikasi DSS. (Sumber: Kusrini,
Konsep Dan Aplikasi SPK, 31, 2007).
2.2
PROMETHEE (Perference Ranking
Organization Method for Enrichment
Evaluation
Metode
Promethee
termasuk
kedalam
kelompok
pemecahan masalah Multi Criteria
Decison
Making
(MCDM)
ataupengambilan keputusan kriteria
majemuk yang merupakan disiplin
ilmu yang sanga penting dalam
pegambilan keputusan atau suatu
masalah yang memiliki lebih dari satu
kriteria (multikriteria). Menurut
Brans dan Marcschal (1999:15),
Promethee
yang
merupakan
singkatan dari Preference Rangking
Organization Method for Enrichment
Evaluation adalah metode outranking
yang menawarkan cara yang fleksibel
dan sederhana kepada user (pembuat
keputusan)
untuk
menganalisis
masalah-masalah
multikriteria.
Prinsip yang digunakan adalah

penetapan prioritas alternatif yang


telah
ditetapkan
berdasarkan
pertimbangan dengan kaidah dasar:
Max {f1 (x), f2(x), f3(x),..., fi(x),....,
fk (x) Ix
Dimana k adalah sejumlah kumpulan
alternatif dan fi (i=1,2,...., k)
merupakan
nilai/ukuran
relatif
kriteria
untuk
masing-masing
alternatif. Termasuk dalam keluarga
dari metode outranking yang
dikembangkan oleh B.Roy (Brans et.
al,1999) dan meliputi dua fase: 1.
Membangun hubungan outranking
dari K, dimanaK adalah sejumlah
kumpulan alternaif
2.Eksploitasi dari hubungan ini
memberikan
jawaban
optimasi
kriteria
dalam
paradigma
permasalahn multikriteria. Dalam
fase pertama, nilai hubungan
outranking
berdasarkan
pertimbangan dominasi masingmasing kriteria. Indeks preferensi
ditentukan dan nilai outranking
secara grafis disajikan berdasarkan
preferensi dari pembuat keputusan.
Data dasar untuk evaluasi dengan
metode promethee disajikan sebagai
berikut:
Tabel 1 : Data dasar analisis
promethee

Dimana: Al:alternatif i Fk (ai) :


kriteria yang ditetapkan untuk
alternatif i struktural preferensi yang
dibangun atas dasar kriteria

Struktur kriteria diatas mempunyai


pengertian bahwa setiap alternatif a
dan b yang merupakan elemen
himpunan A, apabila nilai alternatif a
unuk kriteria yang ditetapkan untuk
alternatif a lebih dari nilai dari
alternatif b, maka alternatif a lebih
dipilih (prefer) daripada alernatif b,
sedangkan jika nilai dari alternatif
sama dngan nilai dari alternatif b,
maka dapat disimpulkan bahwa
alternatif a tidak mempunyai
perbedaan (indifference) dengan
fungsi b, sehingga untuk menentukan
alternatif
mana
yang
lebih
diprioritaskan dilakukan dengan
memperhatikan nilai dari alternatif
lainnya.
3. Analisa
3.1 Analisa Data dengan Metode
Promethee
1. Menentukan Beberapa Alternatif
Untuk mempermudah perhitungan
dengan promethee, setiap alternatif
menggunakan kode 1 sampai jumlah
alternatif untuk setiap jenis alternatif.
Berikut ini adalah data alternatif
siswa yang akan dipilih dapat dilihat
pada tabel 2.
Table 2 data Alternatif
No
1
2

DATA KUALITATIF
Yoga Sugma Pradana
Agastya Bramanta Sanjaya

Ryan Ivandry

2. Menentukan Beberapa Kriteria


Kriteria yang digunakan didasarkan
pada kebutuhan dalam proses
pengambilan keputusan. Adapun
kriterianya dapat dilihat pada tabel 3.
Tabel3
:

evaluasi dengan metode promethee,


data alternatif dan kriteria dibuatkan
simbolnya agar memudahkan dalam
proses promethee. 1. Pemberian
Simbol untuk Data Alternatif
Tabel 4 : Simbol Data Alternatif
No
1
2
3

DATA KUALITATIF
Yoga Sugma Pradana
Agastya Bramanta Sanjaya
Ryan Ivandry

A
B
C

2.Pemberian Simbol untuk Data


Kriteria
Tabel 5 : Simbol Data Kriteria

Tabel 6 : contoh Kasus Nilai


Kriteria Tiap alternative

Dari tabel alternatif dan tabel kriteria


dibuatkan data dasar untuk evaluasi
dengan metode promethee. Tapi
terlebih dahulu sebelum data
dimasukkan kedalam tabel untuk

Keterangan:
F1(.) = Pekerjaan Ayah
F2(.) = Pekerjaan Ibu
F3(.) = Penghasilan Orang Tua
F4(.) = Jumlah Tanggungan Orang
Tua F5(.) = Kepemilikan Rumah
A = Eko Prastya, di mana f1(A)=2,
f2(A)=3, f3(A)=2, f4(A)=4, f5(A)=2
B = Ardiansyah, di mana f1(B)=2,
f2(B)=2, f3(B)=2, f4(B)=3, f5(B)=1
C = Sari Mariantika, di mana
f1(C)=2, f2(C)=2, f3(C)=2, f4(C)=4,
f5(C)=2 T ipe 1 = Kriteria Umum
(Usual Criteria)
Langkah 1: Hitung nilai preferensi
antar alternative
1. Nilai Preferensi A dan B

a. Untuk f1(.)
A=2; B=2
d= A-B
=2-2
=0 Hasil selisih nilai A dengan B = 0
berdasarkan
kaidah
maximasi
diperoleh:

Maka P(A,B)=0
P(B,A)=0
b. Untuk f2(.)
A=3;B=2
d= A-B =3-2 =1
Hasil selisih nilai A dengan B =1
berdasarkan
kaidah
maximasi
diperoleh:
0 jika d=0
H(d)= 1 jika d = 0
Maka P(A,B)=1
P(B,A)=0
c. Untuk f3(.)
A=2;B=2
d= A-B
=2-2 =0 Hasil selisih nilai A dengan
B =0 berdasarkan kaidah maximasi
diperoleh:
0 jika d=0
H(d)= 1 jika d = 0
Maka P(A,B)=0
P(B,A)=0
d. Untuk f4(.)
A=4;B=3
d= A-B
=4-3 =1 Hasil selisih nilai A dengan
B =1 berdasarkan kaidah maximasi
diperoleh:
0 jika d=0
H(d)= 1 jika d = 0
Maka P(A,B)=1

P(B,A)=0
d. Untuk f5(.)
A=2;B=1
d= A-B
=2-1 =1 Hasil selisih nilai A dengan
B =1 berdasarkan kaidah maximasi
diperoleh: 0 jika d=0
H(d)= 1 jika d = 0
Maka P(A,B)=1
P(B,A)=0
2. Nilai Preferensi A dan C
a. Untuk f1(.)
A=2;C=2 d= A-C =2-2 =0
b. Untuk f2(.)
A=3;C=2 d= A-C =3-2 =1
c. Untuk f3(.)
A=2;C=2 d= A-C =2-2 =0
d. Untuk f4(.)
A=4;C=4 d= A-C =4-3 =0
e. Untuk f5(.)
A=4;C=3 d= A-C =2-2 =0
3. Nilai Preferensi B dan C
a. Untuk f1(.)
B=2;C=2 d=
B-C =2-2 =0
b. Untuk f2(.)
B=2;C=2 d=
B-C =2-2 =0
c. Untuk f3(.)
B=2;C=2 d=
B-C =2-2 =0
d. Untuk f4(.)

A02=5;A03=4
d= F(A02)-F(A03)
=5-4 =1
e. Untuk f5(.)
B=1;C=2 d=
B-C =1-2 =-1
Langkah 2:
Dengan
menggunakan
dasar
perhitungan berdasarkan persamaan:
Keterangan:
1.(a,b)
merupakan intensitas
preferensi pembuat keputusan yang
menyatakan bahwa alternatif a lebih
baik dari alternatif b dengan
pertimbangan secara simultan dari
seluruh kriteria
2. Xi (weight) merupaan ukuran
relatif dari kepentingan kriteria fi 3.
Pi merupakan fungsi preferensi Maka
di peroleh:
P(A,B)=1/5
(0+1+0+1+1)=0.6
P(B,A)=1/5
(0+0+0+0+1)=0.2
P(A,C)=1/5
(0+1+0+0+0)=0.2
P(C,A)=1/5
(0+0+0+0+0)=0
P(B,C)=1/5
(0+0+0+1+1)=0.4
P(C,B)=1/5
(0+0+0+0+1)=0.2
Intensitas
preferensi
pembuat
keputusan ( (a,b)) berupa nilai
kriteria
untuk
masing-masing
alternatif disajikan dalam tabel 7
Tabel 7 : Indeks preferensi

Langkah 3:
Perhitungan
arah
preferensi
dipertimbangkan berdasarkan nilai
indeks leaving flow (), entering
flow
() , dan net flow ()
mengikuti persamaan:

Keterangan:
(a, x) = Menunjukkan preferensi
bahwa alternatif a lebih baik dari pada
alternatif x. Maka di peroleh hasil:
1. Leaving Flow
(A) =1/2 (0.6+0.2)=0.4
(B) =1/2(0.2+0.4)=0.3
(C) =1/2(0+0.2)=0.1
2. Entering Flow
(A) =1/2(0.2+0)=0.1
(B) =1/2(0.6+0.2)=0.4
(C) =1/2(0.2+0.4)=0.3
3. Net Flow diperoleh dari Leaving
Flow(LF)Entering Flow(EF)
(A) =0.4-0.1=0.3
(B) =0.3-0.4=-0.1
(C) =0.1-0.3=-0.2
Dari
hasil
perhitungan
berdasarkan karakter leaving flow
dan entering flow maka diperoleh
urutan prioritas pada tabel 8
berdasarkan karakter net flow.
Tabel 8 : Net Flow

Keterangan: Hasil perankingan


prioritas yang akan dipilih
menggunakan metode promethee
1. A= f1(A)=2,
f2(A)=3,
f3(A)=2,
f4(A)=4,
f5(A)=2
dari hasil Net flow menempati
urutan I

2. B=
f1(B)=2,
f2(B)=2,
f3(B)=2,
f4(B)=3,
f5(B)=1
dari hasil Net Flow menempati
urutan II
3. C=
f1(A03)=2,
f2(A03)=2,
f3(A03)=2,
f4(A03)=4,
f5(C)=2
dari hasil Net Flow menempati
urutan III Dilihat dari evaluasi
dan hasil yang diperoleh dari tabel
4.7
diatas
maka
sistem
menyarankan bahwa yang terpilih
untuk mendapatkan beasiswa
adalah alternatif (A) urutan
langkah-langkah
dalam
menyelesaikan proses pemberian
beasiswa dengan menggunakan
metode Promethee adalah:
1. Algoritma Perhitungan Nilai
Preferensi Input :
A Nama mahasiswa
B Kriteria Output :
Nilai
Preferensi Proses :
For NP = 1 to 3
B = A-A
2.
Algoritma
Perhitungan
Leaving Flow Input :
NP jumlah nilai preferensi A
alternatif Output : leaving flow
jumlah nilai leaving flow Proses :
For LF = 1 to 3 LF = 1/2 (A+A)
3.
Algoritma Perhitungan
Entering Flow Input
: NP

jumlah nilai preferensi A


alternatif Output : entering flow
jumlah nilai entering flow Proses
: For EF = 1 to 3
EF = 1/2 (A+B)
4. Algoritma Perhitungan Net
Flow Input : LF Leaving Flow
EF Entering flow
Output : Net flow jumlah nilai
Net flow Proses :
For NF = 1 to 3
NF = LF-EF
5 Kesimpulan
Kesimpulan mengenai Penerapan
Metode promethe II dalam sistem
pendukung keputusan untuk
menentukan beasiswa:
1. Dalam penerapan metode
promethee
II
dalam
melakukan
perhitungan
seleksi penrima beasiswa
cukup akurat, dikarenakan
dalam metode promethee II
terdapat perhitungan net flow
yang membedakannya dengan
metode promethee II. Dengan
adanya
net
flow
ini
perankingan
akan
lebih
mudah dan akurat. Selain itu
semua kriteria
masuk
kedalam perhitungan tidak
seperti metode promethee I
yang mempunyai kelemahan
yaitu tidak semua kriteria
dapat dilakukan perhitugan.
2. Implementasi
sistem
penduukung keputusan seleksi
penerima
beasiswa
dengan

metode promethee II berjalan


dengan baik.

3. Perhitungan manual memiliki


kecocokan dengan perhitungan
menggunkan sistem yang telah
dibuat.
Daftar Pustaka
[1] Vojislav Tomi, Zoran
Marinkovi*,
Dragoslav
Janoevi, 2011. PROMETHEE
METHOD IMPLEMENTATION
WITH
MULTICRITERIA
DECISIONS. Serbia
[2] Michael Doumpos, Constantin
Zopounidis,
2010.
A
multicriteria decision support
system for bank rating. Germany.
[3]
Michael
Doumpos,
Constantin Zopounidis, 2009.
Decision support system to
urban infrastructure maintenance
management. Croatia
[4] V. Balali1 , B. Zahraie2 , A.
Hosseini3 , A. Roozbahani.
Selecting Appropriate Structural
System:
Application
of
PROMETHEE Decision Making
Method. Tehran