Anda di halaman 1dari 2

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA
2.1.
Hati
Hati adalah organ terbesar yang terletak di sebelah kanan atas rongga perut di b
awah diafragma. Beratnya 1.500 gr atau 2,5 % dari berat badan orang dewasa norma
l. Pada kondisi hidup berwarna merah tua karena kaya akan persediaan darah. Hati
terbagi menjadi lobus kiri dan lobus kanan yang dipisahkan oleh ligamentum falc
iforme. Lobus kanan hati lebih besar dari lobus kirinya dan mempunyai 3 bagian u
tama yaitu : lobus kanan atas, lobus caudatus, dan lobus quadratus. Hati disupla
i oleh dua pembuluh darah, yaitu :
a.
Vena porta hepatica yang berasal dari lambung dan usus, yang kaya akan n
utrien seperti asam amino, monosakarida, vitamin yang larut dalam air, dan miner
al.
b.
Arteri hepatica, cabang dari arteri kuliaka yang kaya akan oksigen.
Hati memiliki beberapa fungsi, yaitu :
a.
Metabolisme protein, lemak, dan karbohidrat.
b.
Tempat penyimpanan berbagai zat seperti mineral (Cu, Fe) serta vitamin y
ang larut dalam lemak (vitamin A,D,E, dan K), glikogen dan berbagai racun yang t
idak dapat dikeluarkan dari tubuh (contohnya : pestisida DDT).
c.
Detoksifikasi, hati melakukan inaktivasi hormon dan detoksifikasi toksin
dan obat.
d.
Fagositosis mikroorganisme, eritrosit, dan leukosit yang sudah tua atau
rusak.
e.
Sekresi, hati memproduksi empedu yang berperan dalam emulsifikasi dan ab
sorbsi lemak
(P.Ernawati Panjaitan, 2010)
Terdapat beberapa tes fungsi hati (Liver Function test) yang dapat memberikan ga
mbaran kondisi kesehatan hati, suatu indikasi keparahan akan kerusakan hati, per-u
bahan status hati dalam selang waktu tertentu, dan dapat menjadi batu loncatan unt
uk tes diagnosis selanjutnya, yaitu :
a.
Alanine Aminotransferase (ALT)
Enzim yang ditemukan di hati, paling baik untuk memeriksa hepatitis. Disebut jug
a sebagai SGPT (Serum Glutamic Pyruvate Transaminase). Enzim ini berada di dalam se
l hati/hepatosit. Jika sel rusak, maka enzim ini akan dilepaskan ke dalam aliran
darah.
b.
Alkaline Phosphatase (ALP)
Enzim yang terkait dengan saluran empedu; seringkali meningkat jika terjadi sumbatan
.
c.
Aspartate Aminotransferase (AST)
Enzim yang ditemukan di hati dan di beberapa tempat lain di tubuh seperti jantung
dan otot. Disebut juga sebagai SGOT (Serum Glutamic Oxoloacetic Tran-saminase), d
ilepaskan pada kerusakan sel-sel parenkim hati, umumnya meningkat pada infeksi akut
.
d.
Bilirubin
Bilirubin total mengukur semua kadar bilirubin dalam darah dan Bilirubin direk un
tuk mengukur bilirubin dalam bentuk yang terkonjugasi.
e.
Albumin
Protein yang dibuat oleh hati dan memberitahukan informasi apakah hati membuat pro
tein ini dalam jumlah cukup atau tidak.
f.
Protein total
Semua protein (termasuk albumin) dalam darah, termasuk antibodi guna memerangi inf
eksi.
Penyakit hati dibedakan menjadi dua berdasarkan waktu, efek dan keseriusannya, y
aitu :
a.
Penyakit Hati Akut
Dapat disebabkan oleh virus, obat-obatan, alkohol dan keadaan ischaemia/iskemik.

b.
Penyakit Hati Kronis
Hepatitis kronis, Sirosis hati dan Hepatoma.
(Elizabeth S. Nugraheni, 2013)
2.2.
Penyakit Hati Kronis / Chronic Liver Disease
Penyakit Hati Kronis adalah suatu kondisi medis yang ditandai dengan rusaknya ja
ringan hati secara bertahap seiring dengan perjalanan penyakit, dan biasanya ber
langsung lebih dari 6 bulan. Penyakit hati kronis meliputi Hepatitis kronis, Sir
osis hati dan Hepatoma.
a.
Hepatitis kronis
Hepatitis kronis adalah peradangan atau inflamasi pada hepar yang umumnya terjad
i akibat infeksi virus, tetapi dapat pula disebabkan oleh zat-zat toksik. Hepati
tis berkaitan dengan sejumlah hepatitis virus dan paling sering adalah hepatitis
virus A, hepatitis virus B, serta hepatitis virus C yang berlangsung terus tanp
a penyembuhan dalam jangka waktu 3
6 bulan lebih. (Sue Hincliff, 2000).
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya :
Peningkatan kadar AST (asparat amino transferase) dan ALT (alanin aminot
ransferase)
Billirubinuria
Hiperbillirubinemia
b.
Sirosis hati/hepatis
Sirosis hati/hepatis adalah penyakit hati kronis yang dicirikan dengan distorsi
arsitektur hati yang normal oleh lembar-lembar jaringan ikat dan nodul-nodul reg
enerasi sel hati yang tidak berkaitan dengan vaskulator normal. (Price Sylvia A.
, 2005).
Pada pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya :
Peningkatan bilirubin serum (disebabkan oleh kerusakan metabolisme bilir
ubin).
Peningkatan kadar amonia darah (akibat dari kerusakan metabolisme protei
n)
Peningkatan alkalin fosfat serum, ALT, dan AST (akibat dari destruksi ja
ringan hepar).
PT memanjang (akibat dari kerusakan sintesis protombin dan faktor pembek
uan). (Engram,1998 dan Tucker,1998)
c.
Hepatoma
Hepatocellular Carcinoma (HCC) atau hepatoma atau kanker hati primer atau Karsin
oma Hepato Selular (KHS) adalah satu dari jenis kanker yang berasal dari sel hat
i. Hepatoma biasa dan sering terjadi pada pasien dengan sirosis hati yang merupa
kan komplikasi hepatitis virus kronik. Hepatitis virus kronik adalah faktor risi
ko penting hepatoma, virus penyebabnya adalah virus hepatitis B dan C. Hepatoma
75 % berasal dari sirosis hati yang lama/menahun. Khususnya yang disebabkan oleh
alkoholik dan postnekrotik.
Pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya :
Peningkatan kadar bilirubin, alkali fosfatase, asparat aminotransferase
(AST) atau Serum Glutamic Oxalocetic Transaminase [SGOT] dan lactic dehidrogenas
e [LDH].
Leukositosis, eritrositosis, hiperkalsemia, hipoglikemia dan hiperkolest
erolemia.
Kadar Alfa fetrptein serum mengalami kenaikan yang abnormal pada 30% dan
40% penderita kanker hati (berfungsi sebagai penanda tumor).
Kadar antigen karsinoembrionik meningkat (berfungsi sebagai penanda kank
er saluran cerna).
CEA dan AFP secara bersama-sama dapat membantu membedakan antara tumor m
etastasis hati dan kanker primer hati.
Gambaran klinis dari penyakit hati kronis yang meliputi Hepatitis kronis, Sirosi
s hati dan Hepatoma, ketiganya menunjukkan adanya peningkatan kadar bilirubin ya
ng disebabkan karena gangguan metabolisme bilirubin.