Anda di halaman 1dari 16

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Obat-obat baru dapat ditemukan dari berbagai sumber bahan alam
atau diciptakan secara sintesis dalam laboratorium. Sepanjang sejarah,
bahan yang berasal dari tanaman merupakan suatu gudang dari obat-obatan
baru yang potensial. Hanya sebagian kecil dari jenis tanaman yang
diidentifikasi dan telah diselidiki untuk bahan obat. Sumbangan-sumbangan
besar tertentu dalam terapi obat modern yang menakjubkan dapat
disebabkan oleh penelitian yang berhasil dari obat-obat tradisional yang
berasal dari tumbuh-tumbuhan.
Salah satu tanaman yang banyak digunakan sebagai obat tradisional
seperti dapat digunakan untuk peluruh air seni dan penurun tekanan darah.
Selain itu biasanya rambut jagung juga digunakan sebagai terapi
pengobatan sistitis, urikosurik, gout, batu ginjal, nefritis dan prostat. Herbal
rambut jagung pada gout berkhasiat sebagai antiradang, menghilangkan
nyeri, meningkatkan kinerja ginjal dalam pembuangan asam urat, dan
mencegah terjadinya komplikasi pada ginjal dan organ tubuh lainnya.
Salah satu metode yang digunakan untuk penemuan obat tradisional
adalah metode ekstraksi. Pemilihan metode ekstraksi tergantung pada sifat
bahan dan senyawa yang akan diisolasi. Sebelum memilih suatu metode,
target ekstraksi perlu ditentukan terlebih dahulu. Selain secara maserasi,
penyarian juga dapat dilakukan dengan metode perkolasi yaitu cara
penyarian yang dilakukan dengan mengalirkan cairan penyari melalui
serbuk simplisia yang telah dibasahi. Metode perkolasi memberikan
beberapa keuntungan dibandingkan metode maserasi, antara lain adanya
aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan dan ruang di
antara butir-butir serbuk simplisia membentuk saluran kapiler tempat
mengalir cairan penyari. Kedua hal ini meningkatkan derajat perbedaan
konsentrasi yang memungkinkan proses penyarian lebih sempurna.
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

Sehingga, laporan ini akan membahas proses ekstraksi rambut jagung


dengan metode perkolasi.
B. Rumusan Masalah
1. Bagaimana ekstraksi dengan metode perkolasi?
2. Bagaimana proses ekstraksi rambut jagung (Zea Mays L.) dengan
metode perkolasi?
3. Apa kandungan kimia rambut jagung (Zea Mays L.)?
C. Tujuan Percobaan
1. Untuk mengetahui ekstraksi dengan metode perkolasi yang baik
2. Untuk mengetahui proses ekstraksi rambut jagung (Zea Mays L.)
dengan metode perkolasi
3. Untuk mengetahui kandungan kimia rambut jagung (Zea Mays L.)
D. Prinsip Percobaan
Simplisia yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan ke
dalam bejana perkolator, tetapi dibasahi dan dimaserasi terlebih dahulu
selama 24 jam dengan cairan penyari. Sampel dibasahi secara perlahan
dalam sebuah percolator. Pelarut ditambahkan pada bagian atas sampel dan
dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah dengan kecepatan 20
tetes/menit. Proses ini dilakukan hingga cairan penyari yang menetes
menjadi bening.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
A. Perkolasi
Ekstrak merupakan sediaan sari pekat tumbuh-tumbuhan atau hewan
yang diperoleh dengan cara melepaskan zat aktif dari masing-masing bahan
obat, menggunakan menstruum yang cocok, uapkan semua atau hampir
semua dari pelarutnya dan sisa endapan atau serbuk diatur untuk ditetapkan
standarnya (Ansel, 1989).
Metode dasar dari ekstraksi obat adalah maserasi dan perkolasi.
Biasanya metode ekstraksi dipilih berdasarkan beberapa faktor seperti sifat
dari bahan mentah obat dan daya penyesuaian dengan tiap macam metode
ekstraksi, dan kepentingan dalam memperoleh ekstrak yang sempurna atau
mendekati sempurna dari obat (Ansel, 1989).
Istilah perkolasi berasal dari bahasa latin per yang artinya melalui
dan colare yang artinya merembes. Jadi, perkolasi adalah penyarian dengan
mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah dibasahi.
Alat yang digunakan untuk mengekstraksi disebut perkolator, dengan
ekstrak yang telah dikumpulkan disebut perkolat (Ansel, 1989). Sebagian
besar ekstrak dibuat dengan mengekstraksi bahan baku secara perkolasi
(Anonim, 1995).
Perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi dikarenakan
adanya aliran cairan penyari menyebabkan pergantian larutan yang terjadi
dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah sehingga meningkatkan
derajat perbedaan konsentrasi dan keberadaan ruangan di antara butir-butir
serbuk simplisia membentuk saluran kapiler tempat mengalir cairan penyari
menyebabkan meningkatnya perbedaan konsentrasi (Anonim, 1986).
Serbuk simplisia yang akan diperkolasi tidak langsung dimasukkan
ke dalam bejana perkolator, tetapi dibasahi dan dimaserasi terlebih dahulu
dengan cairan penyari. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan kesempatan
sebesar-besarnya kepada cairan penyari memasuki seluruh pori-pori dalam
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II


simplisia

sehingga

mempermudah

penyarian

PERKOLASI
selanjutnya.

Untuk

menentukan akhir perkolasi, dapat dilakukan pemeriksaan zat aktif secara


kualitatif pada perkolat terakhir. Untuk obat yang belum diketahui zat
aktifnya, dapat dilakukan penentuan dengan cara organoleptis seperti rasa,
bau, warna dan bentuknya (Anonim, 1986).
Pada metode perkolasi, serbuk sampel dibasahi secara perlahan
dalam sebuah perkolator (wadah silinder yang dilengkapi dengan kran pada
bagian bawahnya). Pelarut ditambahkan pada bagian atas serbuk sampel
dan dibiarkan menetes perlahan pada bagian bawah. Kelebihan dari metode
ini adalah sampel senantiasa dialiri oleh pelarut baru. Sedangkan
kerugiannya adalah jika sampel dalam perkolator tidak homogen maka
pelarut akan sulit menjangkau seluruh area. Selain itu, metode ini juga
membutuhkan banyak pelarut dan memakan banyak waktu (Mukhriani,
2014).
Cara perkolasi lebih baik dibandingkan dengan cara maserasi, karena
:
1. Aliran cairan penyari menyebabkan adanya pergantian larutan yang
terjadi dengan larutan yang konsentrasinya lebih rendah, sehingga
meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi.
2. Ruangan antara butir-butir simplisia membentuk saluran tempat
mengalir cairan penyari. Karena kecilnya saluran kapiler tersebut, maka
kecepatan pelarut cukup untuk mengurangi lapisan batas, sehingga dapat
meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Alat yang digunakan untuk perkolasi disebut perkolator, cairan yang
digunakan untuk menyari disebut cairan penyari atau menstrum, larutan zat
aktif yang keluar dari perkolator disebut sari atau perkolat, sedangkan sisa
setelah dilakukan penyarian disebut ampas atau sisa perkolasi.
Pemilihan perkolator tergantung pada jenis serbuk simplisia yang
akan disari. Serbuk yang mengandung sejumlah besar zat aktif yang larut,
tidak baik bila diperkolasi dengan alat perkolasi yang sempit, karena
perkolat akan segera menjadi pekat dan berhenti mengalir. Pada pembuatan
tingtur dan ekstrak cair, jumlah cairan penyari yang tersedia lebih besar
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

dibandingkan dengan jumlah cairan penyari yang diperlukan untuk


melautkan zat aktif, pada keadaan tersebut pembuatan sediaan digunakan
perkolator lebar untuk mempercepat proses perkolasi. Ukuran perkolator
yang digunakan harus dipilih sesuai dengan jumlah bahan yang akan disari.
Jumlah bahan yang disari tidak lebih dari 2/3 tinggi perkolator.
Jika dalam monografi tertera penetapan kadar, setelah diperoleh 80
bagian perkolat, tetapkan kadarnya, atau kadar hingga memenuhi syarat,
jika perlu encerkan dengan cairan penyari secukupnya.
Untuk menentukan akhir perkolasi, dapat dilakukan pemeriksaan zat
aktif secara kualitatif pada perkolat terakhir. Untuk obat yang belum
diketahui zat aktifnya dapat dilakukan penentuan dengan cara organoleptis,
seperti rasa, bau, warna dan bentuknya.
Keuntungan metode ini adalah tidak memerlukan langkah tambahan
yaitu sampel padat telah terpisah dari ekstrak. Kerugiannya adalah kontak
antara sampel padat tidak merata atau terbatas dibandingkan dengan metode
refluks, dan pelarut menjadi dingin selama proses perkolasi sehingga tidak
melarutkan komponen secara efisien.
B. Rambut Jagung
Tanaman jagung termasuk dalam keluarga rumput-rumputan dengan
spesies Zea Mays L. Secara umum klasifikasi dan sistematika tanaman
jagung adalah sebagai berikut (Purwono, 2005).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

Gambar 1.1 Rambut Jagung


a. Klasifikasi Jagung (Purwono, 2005):
Regnum

: Plantae (tumbuh-tumbuhan)

Divisi

: Spermatophyta (tumbuhan berbiji)

Subdivisi

: Angiospermae (berbiji tertutup)

Kelas

: Monocotyledone (berkeping satu)

Ordo

: Graminae (rumput-rumputan)

Famili

: Graminaceae

Genus

: Zea

Species

: Zea Mays L.

b. Morfologi Rambut Jagung


Tanaman jagung termasuk jenis tumbuhan musiman dengan
umur 3 bulan. Tanaman jagung terdiri atas akar, batang, daun, bunga
dan buah. Jagung merupakan tanaman rumput kuat, sedikit berumpun
dengan batang kasar dan tingginya berkisar 0,6 - 3 m. Helaian daun
berbentuk pita dengan panjang 35 100 cm, dan lebar 3 - 12 cm.
Bungan jantan terkumpul pada ujung batang menjadi bulir yang rapat,
sedangkan bungan betina menjadi bulir yang berdiri sendiri, diketiak
daun, berbentuk tongkol. Panjang tongkol yang masak berkisar 8 20
cm. Tiap tongkol mempunyai daun pelindung yang pada keadaan

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

kering biasa dipakai sebagai daun rokok. Rambut jagung adalah kepala
putik dan tangkai kepala putik buah Zea mays L., berupa benangbenang ramping, lemas, agak mengkilat, dengan panjang 10 25 cm
dan diameter lebih kurang 0,4 mm (Steenis, 1978 dalam Nuridayanti,
2011).
Rambut jagung merupakan sekumpulan stigma yang halus,
lembut, terlihat seperti benang maupun rambut yang berwarna
kekuningan. Rambut jagung berasal dari bunga betina dari tanaman
jagung. Pada awalnya warna rambut jagung biasanya hijau muda, lalu
akan berubah menjadi merah, kuning maupun coklat muda tergantung
varietas. Fungsi dari rambut jagung sendiri adalah untuk menjebak
serbuk sari guna penyerbukan. Panjang rambut jagung ini bisa
mencapai 30 cm atau lebih dan memiliki rasa agak manis (Prasiddha
dkk, 2016).
c. Manfaat Rambut Jagung
Pemanfaatan rambut jagung yang merupakan limbah dari
budidaya jagung masih terbatas pada penggunaannya sebagai obat
tradisional seperti dapat digunakan untuk peluruh air seni dan penurun
tekanan darah. Selain itu biasanya rambut jagung yang masih terikut
pada kulit (klobot) jagung digunkaan sebagai pakan ternak (Prasiddha
dkk, 2016).
Ekstak etanol rambut jagung terbukti positif mengandung
flavonoid, alkaloid, fenol, steroid, glikosida, karbohidrat dan tannin
yang secara tradisional juga digunakan sebagai terapi diuretik,
pengobatan sistitis, urikosurik, gout, batu ginjal , nefritis dan prostat
(Bhaigyabati et al., 2011). Herbal rambut jagung pada gout berkhasiat
sebagai antiradang, menghilangkan nyeri, meningkatkan kinerja ginjal
dalam pembuangan asam urat, peluruh kemih, dan mencegah terjadinya
komplikasi pada ginjal dan organ tubuh lainnya (Wijayakusuma H,
2011 dalam Hamzah, 2014).

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Koloay dkk,


2015 disimpulkan bahwa ekstrak etanol rambut jagung (Zea mays L.)
memiliki efek untuk menurunkan kadar gula darah pada tikus putih
jantan galur wistar.
d. Kandungan Kimia Rambut Jagung
Rambut jagung mengandung senyawa metabolit sekunder
seperti fenol, flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, saponin, dan
glikosida. Senyawa-senyawa tersebut berdasarkan beberapa penelitian
diketahui memiliki aktivitas sebagai antioksidan (Atmoko dan Maruf,
2009).
Terdapat penelitian yang yang mengekstrak senyawa fitokimia
dari rambut jagung menggunakan berbagai pelarut seperti benzena,
kloroform, etanol, etil asetat, metanol dan petroleum eter. Hasil yang
diperoleh menunjukkan hasil positif akan adanya flavonoid, alkaloid,
fenol, steroid, glikosida, karbohidrat, terpenoid dan tannin (Prasiddha
dkk, 2016).
Kandungan kimia pada rambut jagung antara lain: protein,
karbohidrat, serat, beberapa vitamin seperti: vitamin B, vitamin C,
vitamin K, minyak atsiri, garam-garam mineral seperti: Na, Fe, Si, Zn,
K, Ca, Mg dan P, senyawa fitokimia seperti alkaloid, saponin, tanin,
flavonoid, antosianin, protokatekin, vanilic acid, steroid seperti
sitosterol dan stigmasterol, derivat hasperidin dan juga quersetin
mengandung fenol, terpenoid, dan glikosida. Selain itu rambut jagung
juga mengandung maysin, -karoten, beta sitosterol, geraniol,
hordenin, limonen, mentol dan viteskin. Rambut jagung kaya akan
senyawa fenolik terutama flavonoid. Rambut jagung diduga berpotensi
untuk digunakan sebagai tabir surya karena banyakanya kandungan
senyawa bioaktif yang memiliki ikatan terkonjugasi yang mampu
menyerap sinar UV sehingga dapat melindungi kulit. Salah satu
golongan senyawa yang memiliki ikatan terkonjugasi tersebut adalah
senyawa fenolik (Prasiddha dkk, 2016).
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

PERKOLASI

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

BAB III
METODE PRAKTIKUM
A. Alat dan Bahan
1. Alat yang digunakan
a. Batang pengaduk
b. Bejana
c. Corong
d. Gelas kimia
e. Kapas
f. Kain flanel
g. Timbangan digital
h. Wadah toples
2. Bahan yang digunakan
a. Aluminium foil
b. Etanol 70%
c. Rambut jagung
B. Cara Kerja
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Ditimbang sampel sebanyak 250 g, dimasuukan kedalam wadah toples
3. Sampel terlebih dahulu dibasahi dan dimaserasi dengan cairan penyari
selama 3 jam, dimaksudkan untuk memberikan kesempatan sebesarbesarnya pada cairan penyari memasuki seluruh pori-pori dalam sampel
sehinnga mempermudah penyarian selanjutnya
4. Pisahkan cairan penyari dengan sampel
5. Masukkan sampel kedalam wadah silinder yang dilengkapi dengan kran
pada bagian bawahnya, sedangkan cairan penyari dimasukkan kedalam
botol infus pada bagian atas sampel dan dibiarkan menetes perlahan
dengan kecepatan 1mL per menit, untuk membasahi sampel
6. Ditambahkan cairan penyari baru secara kontinyu, jika cairan penyari
didalam botol infus telah habis, hingga cairan penyari menjadi bening
7. Diperas sampel, dicampurkan cairan perasan kedalam perkolat
8. Ditutup wadah toples dan dibiarkan selama 2 hari di tempat sejuk
terlindungi dari cahaya
9. Diuapakan perkolat hingga diperoleh eksrtak kental.

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

10

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

11

PERKOLASI

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

BAB IV
DATA PENGAMATAN
A. Data Pengamatan
Sampel
Rambu
t
Jagung

Berat Sampel
Sebelum
Setelah
250,11

169,77

gram

gram

Volume Cairan
Sebelum
Setelah

3350 mL

3425 mL

1. Perhitungan cairan penyari


ekstraksi cairan 100
Cairan Penyari=
ekstraksi penyari

3350 mL
100
3425 mL

97,81

2. Perhitungan sampel
berat sampel sebelum eksraksi
Kadar=
100
berat sampel setelah ekstraksi

250,11 gram
100
169,77 gram

147,32
3. Perhitungan Rendemen
Bobot Ekstrak Kental
Rendemen=
100
Bobot Sampel Awal

100
250,11

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

12

Nilai
Randamen

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

BAB V
PEMBAHASAN
Perkolasi adalah penyarian dengan mengalirkan cairan penyari melalui
serbuk simplisia yang telah dibasahi. Alat yang digunakan untuk mengekstraksi
disebut perkolator, dengan ekstrak yang telah dikumpulkan disebut perkolat
Metode perkolasi dipilih karena perkolasi merupakan metode ekstraksi
yang aliran cairan penyarinya menyebabkan adanya pergantian larutan yang
terjadi

dengan

larutan

yang

konsentrasinya

lebih

rendah,

sehingga

meningkatkan derajat perbedaan konsentrasi. Selain itu, ruangan antara butirbutir simplisia membentuk saluran tempat mengalir cairan penyari. Karena
kecilnya saluran kapiler tersebut, maka kecepatan pelarut cukup untuk
mengurangi lapisan batas, sehingga dapat meningkatkan perbedaan konsentrasi.
Pemilihan cara perkolasi juga bertujuan untuk menghindari terjadinya
penguraian zat aktif yang terkandung dalam sampel oleh pemanasan tinggi.
Sebelum diekstraksi, rambut jagung di remaserasi terlebih dahulu selama
24 jam. Hal ini dilakukan agar sel rambut jagung dapat terbuka sehingga cairan
penyari dapat masuk kedalam sel.
Pelarut yang digunakan untuk penyarian zat aktif adalah ethanol 70%
karena etanol merupakan larutan penyari yang bersifat universal, mudah didapat
dan selektif sehingga penyarian dengan menggunakan pelarut ethanol
diharapkan mampu menarik semua zat-zat atau senyawa yang bersifat polar dan
non polar yang terkandung dalam simplisia, selain itu etanol tidak toksik serta
ekonomis
Etanol

tidak

menyebabkan

pembengkakan

membran

sel

dan

memperbaiki stabilitas bahan obat terlarut. Keuntungan lain, etanol mampu


mengendapkan albumin dan menghambat kerja enzim. Umumnya yang
digunakan sebagai cairan pengekstraksi adalah campuran bahan pelarut yang
berlainan, khususnya campuran etanol-air. Etanol (70%) sangat efektif dalam
menghasilkan jumlah bahan aktif yang optimal, dimana bahan
hanya skala kecil yang turut ke dalam cairan pengekstraksi.
AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

13

penganggu

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

Ekstrak kental rambut jagung diperoleh dengan cara penguapan di atas


pemanas pada suhu 50 OC. Nilai rendemen yang diperoleh yaitu X%. Nilai
rendemen mempengaruhi

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

14

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

BAB VI
PENUTUP
A. Kesimpulan
1. Pengambilan

ekstrak

dengan

metode

perkolasi

yaitu

dengan

mengalirkan cairan penyari melalui serbuk simplisia yang telah


dibasahi.
2. Ekstrak rambut

jagung

diperoleh

dengan

metode

perkolasi

menggunakan cairan penyari alcohol 70%, proses ini dilakukan hingga


cairan penyari yang menetes menjadi bening dengan kecepatan 20
tetes/menit. Nilai rendemen yang diperoleh yaitu
3. Rambut jagung mengandung senyawa metabolit sekunder seperti fenol,
flavonoid, tanin, alkaloid, terpenoid, saponin, dan glikosida.
B. Saran

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

15

LAPORAN PRAKTIKUM FARMAKOGNOSI-II

PERKOLASI

DAFTAR PUSTAKA
Ansel. 1989. Pengantar Bentuk Sediaan Farmasi Edisi keempat. Universitas
Indonesia: Jakarta
Atmoko, Tri., Maruf, Amir. 2009. Uji Toksisitas dan Skrining Fitokimia
Ekstrak Tumbuhan Sumber Pakan Orangutan Terhadap Larva Artemia
salina L. Balai Penelitian Teknologi Perbenihan Samboja. 6(1):37-45.
Hamzah, dkk. 2014. Pengaruh Ekstrak Etanol Rambut Jagung (Zea Mays L.)
Terhadap Kadar Asam Uratdarah Mencit Putih Jantan Hiperurisemia.
Jurnal Universitas Andalas; Padang
Mukhriani, 2014. Ekstraksi, Pemisahan Senyawa, Dan Identifikasi Senyawa
Aktif. Program Studi Farmasi Fakultas Ilmu Kesehatan UIN Alauddin
Makassar. Vol. VII No.2
Nuridayanti, Eka Fitri T. 2011. Uji Toksisitas Akut Ekstrak Air Rambut Jagung
(Zea Mays L.) Ditinjau Dari Nilai LD50 dan Pengaruhnya Terhadap
Fungsi Hati dan Ginjal Pada Mencit. Skripsi: Universitas Indonesia
Purwono dan R. Hartono. 2005. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya:
Jakarta

AKADEMI FARMASI BINA HUSADA

16