Anda di halaman 1dari 7

2.

2 Koefisien Dasar Bangunan (KDB)


Koefisien Dasar Bangunan (KDB) adalah nilai prosentase yang diperoleh setelah
membandingkan luas lantai dasar dengan luas tanah. Jadi KDB menyatakan
perbandingan total maksimal dari luas lantai struktur bangunan yang akan Anda dirikan
terhadap luas tanah yang dimiliki. Standar KDB di suatu kawasan ditentukan oleh
pemerintah yang berkuasa di daerah tersebut. Keputusan Menteri Pekerjaan Umum No.
441 Tahun 1998 menyatakan setiap area yang dinding pembatasnya memiliki tinggi di
bawah 1,2 meter maka tidak termasuk di dalam perhitungan KDB.
KDB dihitung berdasarkan nilai prosentase yang sudah ditetapkan oleh pejabat
pemerintah setempat. Sebagai contoh yakni daerah A memiliki nilai KDB sebesar 75%.
Artinya luas bangunan yang didirikan di daerah A tersebut tidak boleh melebihi 75
persen dari luas tanahnya. Sehingga apabila Anda memiliki sebidang tanah di daerah A
dengan luas 400 m2, maka luas maksimal lantai dasar bangunan yang diizinkan untuk
dibuat adalah 300 m2, sedangkan 100 m2 sisanya harus dijadikan RTH.
Selain nilai prosentase KDB, pemerintah juga biasanya menetapkan aturan
tambahan tentang ketinggian maksimal bangunan yang diperbolehkan. Contohnya
pemerintah daerah B mengatur bahwa ketinggian maksimal bangunan yang boleh
didirikan yaitu 7 lantai. Jadi bangunan-bangunan yang berada di daerah B ini harus
memiliki 1-7 lantai dan tidak diperkenankan melanggar ketentuan yang berlaku dengan
mendirikan bangunan sampai 8 lantai, 9 lantai, 10 lantai, dan seterusnya. Umumnya,
aturan tambahan mengenai ketinggian maksimal bangunan ini diberlakukan di daerahdaerah yang berdekatan dengan area penerbangan.
Aturan mengatur bagaimana di dalam membangun suatu bangunan, si pemilik
bangunan diwajibkan menyisakan lahannya untuk area resapan air. KDB ni biasanya
dinyatakan di dalam persentase. Misalnya anda memiliki lahan disuatu daerah dengan
KDB 60% dengan luasnya 150 m2, artinya anda hanya boleh membangun rumah seluas
60% x 150 m2 = 90 m2, sisanya 60 m2 sebagai area terbuka yang fungsinya seperti
disebutkan diatas.
Dasar perhitungan KDB ini memang hanya memperhitungkan luas bangunan
yang tertutup atap. Jalan setapak dan halaman dengan pengerasan yang tidak beratap
tidak termasuk dalam aturan ini. Walaupun demikian, sebaiknya lahan tersebut ditutup
dengan bahan yang dapat meresap air, seperti paving blok. Tujuan diberlakukannya
KDB antara lain untuk menciptakan Ruang Terbuka Hijau (RTH), menjaga

kelestarian daerah resapan air, dan membatasi ketinggan bangunan maksimal yang boleh
didirikan.

Gambar : Koefisien Dasar Bangunan


Sumber : http://www.mitrakarawang.com/indonesia/images/ksb.jpg

2.3 Garis Sempadan Bangunan (GSB)


Secara umum GSB adalah garis imaginer yang menentukan jarak terluar
bangunan terhadap pinggir ruas jalan. Kita dilarang keras membangun melebihi batas
GSB yang sudah ditentukan. Besarnya GSB ini tergantung dari besar jalan yang ada di
depannya.
Jalan yang lebar tentu saja mempuyai jarak GSB yang lebih besar dibandingkan
jalan yang mempunyai lebar yang lebih kecil. Biasanya jarak GSB ini rumusnya adalah
setengah lebar jalan, apabila lebar jalan adalah 10 meter, maka GSB-nya adalah 5 meter,
artinya jarak terluar yang diijinkan bangunan berdiri adalah 5 meter dari pinggir jalan.
Untuk lebih pastinya, pihak dinas tata kota akan memberikan advis planning penentuan
GSB dalam pengurusan KRK.
Dalam sebuah perencanaan yang ideal, sebaiknya ketentuan GSB ini dipatuhi.
Karena pihak Tata Kota telah mempertimbangkan aspek ke depan terkait pelebaran
jalan, pertamanan, pejalan kaki, dll. Sehingga pelanggaran GSB tidak dapat ditolerir
oleh pihak P2B, pengembang atau kontraktor yang membangun melebihi GSB akan
dibongkar.

Garis Sempadan Bangunan (GSB) adalah suatu aturan oleh pemerintah daerah
setempat yang mengatur batasan lahan yang boleh dan tidak boleh dibangun. Bangunan
yang akan didirikan tidak boleh melampaui batasan garis ini. Misalnya saja, rumah anda
memiliki GSB 3 meter, artinya anda hanya diperbolehkan membangun sampai batas 3
meter tepi jalan raya.
GSB ini berfungsi untuk menyediakan lahan sebagai daerah hijau dan resapan air,
yang pada akhirnya menciptakan rumah sehat. Karena rumah akan memiliki halaman
yang memadai sehingga penetrasi udara kedalam rumah akan lebih optimal. Selain itu,
dengan adanya jarak rumah anda dengan jalan di depannya, privasi anda tentunya akan
lebih terjaga.

Gambar : Garis Sempadan Bangunan


Sumber : https://ohanabi.files.wordpress.com/2016/09/gsb.png?w=663

2.5 Garis Sempadan Jalan (GSJ)


Garis Sempadan Jalan (GSJ) hampir mirip dengan GSB, tetapi GSJ lebih
ditujukan untuk tersedianya lahan bagi perluasan jalan di masa mendatang. Misalnya di
dekat lahan anda ada GSJ tertulis 1,5 meter, artinya 1,5 meter dari tepi jalan kearah

halaman anda sudah ditetapkan sebagai lahan untuk rencana pelebaran jalan. Bila suatu
saat ada pekerjaan pelebaran jalan, lahan anda selebar 1,5 meter akan "terambil".

Gambar : Garis sepadan jalan


Sumber : http://2.bp.blogspot.com/_G7aC7b5KerY/TGANHnLltqI/AAAAAAAAAPk/BL2K-izWg0w/s1600/GSB+n+GSJ.jpg

2.4 Koefisien Lantai Bangunan (KLB)


KLB adalah perbandingan antara luas lantai bangunan dengan luas tanah. (BCR X
n ), n = jumlah lantai (tingkat) bangunan. Angka koefisien yang digunakan biasanya
berupa desimal (misal : 1,2; 1,6; 2,5; dsb) Peraturan akan FAR/KLB ini akan
mempengaruhi skyline yang tercipta oleh kumpulan bangunan yang ada di sekitar.
Tujuan dari penetapan FAR/KLB ini terkait dengan hak setiap orang/bangunan untuk
menerima sinar matahari. Jika bangunan memiliki tinggi yang serasi maka bangunan
yang disampingnyapun dapat menerima sinar matahari yang sama dengan bangunan
yang ada di sebelahnya.
Kalau KDB hanya melibatkan luasan lantai dasar, maka KLB melibatkan seluruh
lantai yang kita desain termasuk lantai dasar itu sendiri. Cara perhitungannya tetap sama
yaitu membandingkan luasan seluruh lantai dengan luas kavling yang ada.
KLB merupakan perbandingan antara luas total bangunan dibandingkan dengan
luas lahan. Luas bangunan yang dihitung KLB ini merupakan seluruh luas bangunan
yang ada, mulai dari lantai dasar hingga lantai diatasnya. Mezanin atau bangunan
dengan dindingnya yang lebih tinggi dari 1.20 m, yang digunakan sebagai ruangan harus
dimasukkan kedalam perhitungan KLB.
KLB biasanya dinyatakan dalam angka seperti 1,5; 2 dan sebagainya. Tiap-tiap
daerah angka KLB ini berbeda-beda. Lokasi suatu daerah semakin padat, maka angka

KLB akan semakin tinggi pula. Bila di dalam PBS anda tertera KLB = 2, maka total luas
bangunan yang boleh didirikan maksimal 2 kali luas lahan yang ada.
Angka-angka KLB ini berkaitan dengan jumlah lantai yang akan dibangun.
Seandainya anda punya lahan 150 m2, dengan KDB 40 % dan KLB = 1, perhitungannya
sebagai berikut:
Lantai dasar = 40% x 150 m2 = 60 m2
Total luas bangunan yang boleh dibangun = 150
Dari perhitungan diatas diperoleh, luas lantai dasar yang boleh dibangun hanya
seluas 60 m2 saja. Sedangkan luas total bangunan yang diizinkan seluas 150 m2, berarti
anda bisa membangun rumah secara vertikal, dengan jumlah lantai hanya dua atau bisa
juga 2 1/5 lantai. Dari dua lantai ini, kalau dikalikan 2 didapat jumlah luas total bangunan
anda = 120 m2, masih tersisa 30 m2. Sisa luas yang diizinkan (30 m2) ini dapat anda
bangun diatasnya. Peraturan ini dibuat, agar pembangunan rumah disuatu daerah akan
lebih tertata dengan baik dan seimbang dan juga untuk kesehatan rumah itu sendiri.

Gambar : Koefisien Lantai Bangunan

Sumber : http://images.slideplayer.info/16/4875947/slides/slide_27.jpg

DAFTAR PUSTAKA :
Amran, Qotadah. Oktober 2014. Perencanaan dan Perangcan Kota Ekologi. 19 November
2016.

http://qotadahamran.blogspot.co.id/2014/10/perencanaan-dan-perancangan-kota-

ekologi.html
Kharunisa, Novi. 13 September 2016. Memahami KDB (Koefisien Dasar Bangunan dan GSB
(Garis

Sempadan

Bangunan).

19

November

2016.

https://ohanabi.wordpress.com/2016/09/13/memahami-kdh-koefisien-dasar-hijau-dan-gsb-garissempadan-bangunan/