Anda di halaman 1dari 31

Komponen Darah Manusia

Komponen darah manusia terdiri dari sel darah merah (eritrosit), sel darah putih (leukosit),
keping-keping darah (trombosit), dan plasma darah.
a. Sel Darah Merah (Eritrosit)
Sel darah merah manusia berbentuk cakram kecil bikonkaf (cekung di kedua sisinya). Sel darah
merah manusia berjumlah sekitar 5.000.000 sel di setiap ml darah. Sel darah merah mengandung
hemoglobin yang kaya akan zat besi dan memiliki kemampuan untuk mengikat oksigen dari
paru-paru dan disebarkan ke seluruh tubuh.
Sel darah merah dibentuk di dalam sumsum tulang, terutama dari tulang pendek, pipih, dan tak
beraturan. Umur sel darah merah kira-kira 115 hari.
Oleh karena itu, tubuh kita memerlukan protein dan zat besi yang cukup untuk pembentukan sel
darah merah yang baru. Protein dan zat besi ini dapat kita peroleh dari zat makanan yang kita
makan sehari-hari.
Sel darah merah yang telah berumur 115 hari akan dihancurkan di dalam limfa dan mati.
Hemoglobin akan dipecah menjadi hemo dan globin. Hemo akan digunakan untuk pembentukan
sel darah merah lagi dan sisanya akan diubah menjadi bilirubun (pigmen kuning) dan biliverdin.
Sedangkan, globin yang merupakan suatu protein, akan diubah menjadi asam amino yang akan
digunakan oleh jaringan.

Gambar: Sel darah merah


b. Sel Darah Putih (Leukosit)
Sel darah putih yang berfungsi sebagai pertahanan tubuh mempunyai bentuk yang lebih besar
dibanding sel darah merah. Akan tetapi, dalam setiap milimeter kubik darah, sel darah putih
mempunyai jumlah yang lebih kecil dibanding sel darah merah, yaitu sekitar 6000-8000 sel.

Sel darah putih tidak berwarna (bening). Sel darah putih ini ada bermacam-macam dan secara
umum dibagi menjadi 5 macam, yaitu granulosit, limfosit, monosit, netrofil, dan eosinofil.
Masing-masing sel darah putih ini mempunyai ciri dan peran yang berbeda-beda.

Gambar: Macam-macam Sel Darah Putih


Granulosit dan monosit mempunyai peran yang penting dalam perlindungan badan terhadap
mikroorganisme. Dengan kemampuannya sebagai fagosit dan gerakan amuboidnya, sel-sel ini
dapat bergerak bebas memakan mangsanya, sehingga sel-sel ini dapat menangkap dan
menghancurkan zat-zat asing yang masuk ke dalam tubuh.
Orang yang kelebihan sel darah putih (>10.000) disebut leukosis, sedangkan orang yang
kekurangan sel darah putih disebut leukopenia.
c. Keping Darah (Trombosit)
Trombosit berperan dalam proses pembekuan darah. Jumlah trombosit dalam setiap milimeter
darah adalah 300.000. Trombosit dibentuk di megakarosit sumsum merah tulang.
Trombosit memiliki ciri tidak berinti berukuran 2 - 4 mikron lebih kecil dari eritrosit dan
leukosit. Bentuknya tidak teratur dan berumur 8 - 12 hari. Proses pembekuan darah yang
dilakukan oleh trombosit, tampak pada diagram berikut.

Skema: Proses Pembekuan Darah


Jika terluka, maka akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase. Enzim trombokinase, ion
kalsium, dan vitamin K bersama-sama membantu mengubah protrombin menjadi trombin.
Dengan bantuan trombin, fibrinogen berubah menjadi fibrin yang akan menutupi luka
d. Plasma Darah
Plasma darah adalah cairan berwarna kuning yang dalam reaksi bersifat sedikit alkali. Plasma
darah mempunyai komposisi 55% dari cairan darah. Plasma darah tersusun atas air, protein,
garam mineral, dan bahan organik lainnya.

Plasma darah secara umum ikut berperan dalam proses pembekuan darah, sebagai antibodi, dan
mengendalikan metabolisme tubuh.
Trend Ilmu
Browse By Category
Home / biologi / Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah

Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah

Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah - Halo
pembaca yang setia, tahukah anda bahwa dalam tubuh kita terdapat
darah? Ya pasti tau lah kan, kali ini admin ini bercerita tentang darah.
Ya darah yang merupakan cairan yang berwarna dan terkadang
sebagian

orang

takut

akan

darah.

Jika

kalian

pernah

melihat

kecelakaan yang terjadi di jalan, pasti pernah melihat ya bagaimana


bentuk darah itu. Termasuk juga jika seandainya tangan kita terluka
atau teiris, pasti akan mengeluarkan darah juga. Meskipun darah
sebagai

cairan,

akan

tetapi

sebenarnya

darah

itu

komponen-

komponennya. Nah, bagian dari komponen-komponen darah inilah


yang akan kita bahas. Apa sajakah itu? Langsung saja kita bahas
dimulai dari pengertian darah.

Pengertian Darah
Darah merupakan unit fungsional seluler yang pada manusia yang
berperan untuk membantu proses fisiologis. Darah terdiri dari dua
komponen, yaitu ada plasma darah dan juga sel-sel darah. Sedikit
mengenai plasma darah, jadi plasma darah adalah bagian darah
yang cair. Komponen terbesar yang terdapat dalam plasma darah
adalah air. Banyaknya volume darah yang beredar di dalam tubuh

manusia adalah 8% dari berat badan atau sekitaran 5600 cc pada


orang yang berbobot 70 kg. dari 5600 cc tersebut ada sekitar 55%
terdiri dari plasma darah dan sisanya adalah sel-sel darah. Apa-apa
sajakah sel-sel darah itu? Akan kita bahas nantinya. Terlebih dahulu
mari kita kita ketahui dulu apa fungsi darah. Beberapa fungsi darah
diantaranya ialah:
1. Mengangkut zat-zat makanan dan oksigen ke seluruh tubuh dan

mengangkut sisa-sisa metabolisme tubuh ke organ yang


berfungsi untuk pembuangan.
2. Mempertahankan tubuh dari serangan bibit penyakit.
3. Mengedarkan hormon-hormon untuk membantu proses fisiologis
4. Menjaga stabilitas suhu tubuh, dan
5. Menjaga keseimbangan asam basa jaringan tubuh untuk

menghindari kerusakan.
Sel-Sel Darah

Sel-sel darah di kelompokkan menjadi tiga kelompok, yaitu eritrosit,


leukosit dan trombosit. Akan kita bahas satu persatu agar sahabat
semua bisa paham!
Eritrosit (sel darah merah)
Eristrosit atau sel darah merah dalam keadaan normal berbentuk
cakram bikonkaf berdiameter kira-kira 8 m, dan tidak mempunyai
nucleus. Bentuk eritrosit ini sebenarnya berubah-ubah, seperti ketika
sel-sel tersebut beredar melewati kapiler-kapiler. Jadi, sesungguhnya
eritrosit itu dapat di anggap sebagai kantung yang dapat berubah
menjadi berbagai jenis bentuk. Konsentrasi rata-rata pada pria dewasa
normal per mikro liter darah adalah 5,4 juta dan pada wanita normal

jumlahnya 4,8 juta butir. Jumlah eritrosit ini bervariasi pada kedua jenis
kelamin dan perbedaan umur.

Sel darah merah

Jadi, dari setiap butir eritrosit itu terdapat

hemoglobin yang

merupakan protein pigmen yang memberi warna merah pada darah.


Setiap hemoglobin terdiri dari protein yang disebut globin dan pigmen
non-protein yang disebut dengan heme. Setiap heme berikatan
dengan rantai polipeptida yang mengandung besi. Fungsi utama
hemoglobin ini adalah mengangkut oksigen dari paru-paru membentuk
oksihemoglobin. Oksihemoglobin beredar ke seluruh tubuh. Jika
kadar oksigen dalam jaringan tubuh lebih rendah daripada dalam paruparu maka oksihemoglobin dibebaskan dan oksigen di gunakan dalam
proses

metabolisme

sel.

Hemoglobin

juga

penting

dalam

pengangkutan karbon dioksida dari jaringan ke paru-paru. Dan


hemoglobin juga berperan dalam menjaga keseimbangan asam dan
basa atau penyangga asam basa.

Pembentukan eritrosit disebut juga eritropoiesis yang terjadi di


sumsum

tulang.

Pembentukannya

di

atur

oleh

suatu

hormone

glikoprotein yang disebut dengan eritropoitein. Sel pertama yang


diketahui

sebagai

rangkaian

pembentukan

eritrosit

disebut

proeritoblas. Jangka hidup eritrosit berkirsar 120 hari. Eritrosit yang


telah tua akan ditelan oleh sel-sel fagosit yang terdapat di dalam hati
dan limpa. Di dalam hati, nantinya hemoglobin akan di ubah menjadi
pigmen empedu (bilirubin) yang berwarna kehijauan. Pigmen empedu
di ekskresikan oleh hati ke dalam empedu. Zat besi dari hemoglobin
tidak di ekskresikan tetapi di gunakan kembali untuk membuat eritrosit
baru.
Leukosit ( sel darah putih )

Sel darah putih

Leukosit yang terdapat didalam darah manusia berjumlah sekitar 4.000


11.000 butir untuk setiap microliter darah manusia. Leukosit berumur
sekitar 12 hari. Leukosit keluar dari pembuluh kapiler apabila
ditemukan

antigen.

Proses

keluarnya

leukosit

disebut

dengan

diapedesis. Leukosit berperan melawan penyakit yang masuk ke


dalam tubuh disebut dengan antibodi. Leukosit mempunyai nukleus,
tidak berwarna (bening) dan menunjukkan gerakan amuboid. Leukosit
terbagi

kepada

plasmanya

dua

kelompok

bergranuler

dan

yaitu

kelompok

agranulosit

jika

granulosit

plasmanya

jika
tidak

bergranuler. Leukosit granulosit dibagi lagi menjadi tiga jenis yaitu,


netrofil, basophil dan eosinophil. Sementara itu untuk leukosit yang
agranulosit terbagi kepada dua yaitu, monosit dan limfosit. Limfosit
terbagi lagi menjadi dua dimana ada limfosit B yang dibentuk dari
sumsum tulang dan akan tetap berada di sumsum tulang. Sedangkan
limfosit yang berasal dari sumsum tulang berkembang menjadi pindah
ke timus berkembang menjadi sel T. Dari kelima jenis leukosit tadi,
neutrofil merupakan yang paling banyak sel-selnya yang menyusun
leukosit.

3 sel darah

Trombosit ( keping darah)


Trombosit atau keping darah juga disebut sebagai sel darah pembeku.
Trombosit berbentuk bulat kecil dengan ukuran diameter 2-4 m dan
tidak mempunyai inti. Trombosit di bentuk dalam sumsum tulang dari
megakariosit. Megakariosit merupakan trombosit yang sangat besar
dalam sumsum tulang. Trombosit berbentuk seperti tunas pada
permukaan megakariosit yang kemudian melepaskan diri untuk masuk
ke dalam darah. Konsentrasi normal trombosit adalah antara 150.000-

350.000 butir per millimeter kubik. Trombosit merupakan struktur yang


sangat aktif, waktu paruhnya dalam darah adalah 8-12 hari, setelah itu
proses kehidupannya berakhir.

Trombosit ini berperan dalam proses pembekuan darah. Contohnya


saja ketika kita mengalami luka maka trombosit pada permukaan yang
luka akan pecah dan mengeluarkan enzim trombokinase. Enzim
trombokinase ini akan mengubah protrombin menjadi thrombin
dengan bantuan ion ca2+. Protrombin ini merupakan protein tidak
stabil yang dengan mudah dapat pecah menjadi senyawa-senyawa
yang lebih kecil, salah satunya adalah thrombin. Protrombin dibentuk
oleh hati dan digunakan secara terus-menerus oleh tubuh untuk
pembekuan darah. Pembentukan protrombin di pengaruhi oleh vitamin
K. Thrombin adalah sebuah enzim yang mengkatalis perubahan
fibrinogen (protein plasma yang dapat larut dalam plasma darah)
menjadi fibrin (protein yang tidak dapat larut dalam plasma darah.
Pembentukan benang-benang fibrin ini akan menyebabkan luka
tertutup sehingga akan lebih cepat sembuh.

Maka dari itulah, pentingnya untuk menjaga keseimbangan tubuh agar


tetap berjalan sebagaimana mestinya. Menjaga kadar sel-sel darah di
dalam tubuh tetap normal. Sehingga kita bisa terus hidup sehat
dengan keadaan struktur tubuh di dalamnya juga sehat. Dan yang
pastinya terhindar dari penyakit. Sekian dari trendilmu.com. selamat
beraktifitas!

Baca juga
Pengertian Protista dan Ciri-Cirinya
Pengertian Zat Adiktif dan Psikotropika
Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan Beserta Fungsinya
Pengertian Ekosistem, Komponen, dan Macam-macamnya
Dampak buruk perkembangan ilmu biologi bagi kehidupan manusia.
Ciri-Ciri Perbedaan Tumbuhan Monokotil dan Dikotil

Share to:
Google+ Facebook Twitter
Kamu sedang berada dipostingan Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping
Darah, Pahami Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah, Artikel Sel
Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah Sangat Bermanfaat, Anda sedang
membaca Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah, Pembahasan terbaik
Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah hanya di Trendilmu.com, Selain
Artikel Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah Masih banyak hal lain
yang perlu Anda Ketahui, Terima kasih telah membaca Sel Darah Merah, Sel Darah
Putih dan Keping Darah
Posting Lebih Baru Posting Lama
Like Fanspage Trendilmu.com :)
Terima Kasih Telah Berkunjung ke Trendilmu.com
Entri Populer

Macam-Macam Posisi Pasien Lengkap dengan Gambar

Pengertian, Macam dan Manfaat Khiyar

Pengertian, Tahapan, Ciri-ciri Perkembangan Remaja

Pengertian Karakteristik Secara Umum

Label
agama antropologi biologi ekonomi fisika geografi kebidanan keperawatan
kesehatan kimia pendidikan PPKN Psikologi sejarah sosiologi umum
Arsip Blog

2016 (83)
o

Oktober (11)

Agustus (2)

Juli (1)

Juni (4)

April (13)

Reaksi Gelap Fotosintensis (Siklus Calvin)

Reaksi Terang Dalam Fotosintesis

Sistem Peredaran Darah Hewan Vertebrata dan Invert...

Sel Darah Merah, Sel Darah Putih dan Keping Darah

Proses Dan Tahapan Glikolisis

Proses Metamorfosis Lalat dari Telur - Lalat Dewas...

Pengertian, Ciri-ciri, Klasifikasi dan Peran Fungi...

Pengertian Sinkronisasi Sistem Operasi

Pengertian Pasar dan Jenis-jenis Pasar

Contoh Rantai Makanan Ekosistem Darat dan Air

Letak Astronomis, Geografis dan Geologis Indonesia...

Ejaan Dan Tanda Baca dalam Karya Ilmiah

Cara Membuat Teks Eksposisi dan Contohnya

Maret (17)

Februari (10)

Januari (25)

2015 (150)
o

Desember (10)

November (30)

Oktober (20)

September (23)

Agustus (7)

Juli (2)

Juni (9)

Mei (16)

April (17)

Maret (13)

Februari (3)

2014 (11)
o

September (1)

April (2)

Maret (7)

Februari (1)

2013 (3)
o

Maret (3)

2012 (3)
o

Februari (3)
Tekan Like, Lalu Klik (x) Untuk Menutup


Copyright 2015 - Trend Ilmu templatoid

About

Sitemap

Terms of Service

Contact

Fungsi dan Ciri-Ciri dari Jenis-Jenis Sel Darah Putih (Leukosit)


a. Monosit
(Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Monosit). Monosit adalah sel darah putih yang berjumlah
1-3% dalam tubuh kita yang merupakan baris kedua pertahanan tubuh kita terhadap infeksi
bakteri dan benda asing. Monosit adalah bagian dari kelompok sistem kekebalan tubuh kita yang
tidak mempunyai butiran halus dalam sel (granula). Dalam melawan infeksi bakteri dan benda
asing, monosit dapat melawan walaupun ukuran bakteri dan benda asing lebih besar dengan
memakannya.
Monosit beredar dalam darah sekitar 300-500 mikroliter darah yang diproduksi didalam sumsum
tulang manusia dan menyerbar keseluruh tubuh dalam 3 hari dengan masuk ke jaringan tubuh
tertentu yang mengalami pematangan menjadi makrofag yang berfungsi sebagai kekebalan
tubuh. Peningkatan jumlah monosit disebut dengan monositosis, yang dapat dijumpai pada
penyakit seperti parotitis, herpes zoster, mononucleosis, infeksiosa, toksoplasmosis, hemolitik,
arthrithis, dan masih banyak lagi.
1). Fungsi Monosit

Menghancurkan sel-sel asing

Mengangkat jaringan yang telah mati

Membunuh sel-sel kanker

Pembersih dari fagositosis yang dilakukan neutrofil

Meransang jenis sel darah putih yang lain dalam melindungi tubuh

Menunjukkan perubahan dalam kesehatan pasien dengan banyak sedikitnya monosit


dalam tubuh.

2). Ciri-Ciri Monosit

Berjumlah 1-10% dalam sel darah putih

Mempunyai waktu hidup yang lebih lama dari neutrofil

Memiliki sifat fagosit dan motil dengan inti bulat

Monosit dapat bergerak atau berimigrasi dengan cepat

Memiliki bentuk yang persis sama dengan kacang

Beredar dalam darah sekitr 300-500 mikroliter

Tidak mempunyai butiran halus dalam sel (granula).

b. Basofil
(Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Basofil). Basofil adalah sel darah putih yang berjumlah
0,01-0,03% dari tubuh kita. Basofil memiliki banyak granula sitoplasmik dengan jumlah dua
lobus. Basofil merupakan kelompok dari granulosit yang dapat bergerak keluar menuju ke
jaringan tubuh tertentu. Basofil akan bekerja disaat adanya reaksi alergi pada tubuh dengan
mengeluarkan histamin, sehingga pembuluh darah menjadi besar. Jumlah basofil akan bertambah
banyak atau meningkat jika meningkatnya jumlah alergi. Bertambah banyak jumlah basofil
disebut dengan basofilia.
1). Fungsi Basofil

Basofil berfungsi memberi reaksi antigen dan alergi dengan mengaktifkan atau
mengeluarkan histamin sehingga terjadi peradangan

Mencegah adanya penggumpalan dalam pembuluh darah

Membantu dalam memperbaiki luka

Memperbesar pembuluh darah

2). Ciri-Ciri Basofil

Bersifat fagosit, dan basa

Basofil biasanya berwarna biru

Berbentuk U dan berbintik-bintik

Basofil berdiameter sekitar 12-15 mikrometer

Berjumlah 0,01-0,3% pada sel darah putih

Granula yang kasar

Inti yang tidak bersegmen

Basofil dibentuk di sumsum tulang

c. Neutrofil
(Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Neutrofil). Neutrofil adalah Sel darah putih yang berjumlah
50-60% dalam darah yang merupakan kelompok granulosit karna memiliki butiran halus
(granula). Neutrofil juga diakatakan sebagai polymorphonuclear dikarenakan selnya memiliki
bentuk yang aneh. dan memiliki 3 inti sel. Neutrofil adalah sel yang paling pertama menghadang
dan melawan bakteri, virus dan benda asing lainnya yang berperan dalam proses peradangan.
Dari sifat fagosit yang dimilikinya, neutrofil menyerang dengan menggunakan serangan
respiratori yang memakai berbagai macam substansi yang mengandung hidrogen peroksida,
oksigen
radikal
bebas,
hipoklorit.
Neutrofil diproduksi dalam sumsum tulang dengan hasil produksi neutrofil sekitar 100 milliar
neutrofil dalam sehari, dan akan meningkat menjadi sepuluh kali lipat jika terjadi inflamasi kuat.
Setelah keluar dari sumsum tulang, akan mengalami 6 tahap morgolis, yakni mielocit,
metameolocit,
neutrofil
non
segmen
(band),
neutrofil
segmen
1). Fungsi Neutrofil

Menanggapi mikroba

Antibiotik dalam tubuh

Berfungsi dalam proses peradangan

Menghancurkan mikro organisme dan benda asing dengan memakannya atau fagositosis

Sebagai sel pertahanan tubuh dalam melawan infeksi

Membantu menghapuskan stimulus yang berbahaya penyebab matinya sel (nekrosis).

Membuat daerah yang kekurangan racun

2). Ciri-Ciri Neutrofil

Mempunyai 3 inti sel

Berjumlah 50-60% dalam darah

Sebagai polymorphonuclear

Merupakan kelompok granulosit.

Bersifat fagosit

Hasil produksi neutrofil sekitar 100 milliar neutrofil dalam sehari

Neutrofil berukuran sekitar 8 mm

Memiliki waktu hidup sekitar 6-20 jam

d. Limfosit
(Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Limfosit). Limfosit adalah sel darah putih berjumlah 2025% dalam tubuh yang merupakan jumlah terbanyak kedua setelah neutrofil. Limfosit dibentuk
di dalam sumsum tulang dan di limfa. Limfosit juga dibagi menjadi dua macam yakni limfosit
kecil dan limfosit besar. Hasil dari produksi limfosit 1 kubik kurang lebih 8000 sel darah putih.
jika sel tersebut mengalami peningkatan atau bertambah banyak maka akan menyebabkan
penyakit leukimia atau kanker darah. Limfosit terbagi atas 6 jenis yakni Limfosit B, Sel T
Helper, Sel T sitotoksit, Sel T memori, dan Sel T Supresor. Limfosit B memproduksi antibodi,
Sel T Helper mengaktifkan dan mengarahkan sistem kekebalan tubuh mikroorganisme, Sel T
Sitotoksit mengeluarkan bahan kimia dalam menghancurkan patogen, Sel T memori sistem
kekebalan tubuh dalam mengetahui patogen tertentu. Sel T Supresor untuk melindungi sel
normal tubuh.
1). Fungsi Limfosit

Menghasilkan antibodi

Mengaktifkan sistem kekebalan tubuh

Mengeluarkan bahan kimia dan menghancurkan patogen

Melindungi sel normal tubuh

Mengetahui patogen tertentu

Berubah menjadi antibodi (sel Plasma)

Melawan kanker

2). Ciri-Ciri Limfosit

Limfosit berjumlah 20-25% dari keseluruhan sel darah putih

Dibentuk di dalam sumsum tulang dan limfa

Berinti sel satu

Tidak dapat bergerak dengan leluasa

Memiliki warna biru pucat

Berbentuk oval/bulat,

Tidak bergranula dan tidak motil

e. Eosinofil
(Pengertian, Fungsi, dan Ciri-Ciri Eosinofil). Eosinofil adalah sel darah putih berjumlah 7%
dari dalam sel darah putih dan mengalami peningkatan terkait dengan adanya asma, alergi dan
demam. Eosinofil memiliki diameter 10 hingga 12 mikrometer. Eosinofil merupakan kelompok
dari granulosit yang bertugas dalam melawan parasit yang memiliki jangka waktu 8 hingga 12
hari. Eosinofil memiliki sejumlah zat kimiawi seperti ribonuklease, histamin, lipase, eosinofil
peroksidase dan deoksribonuklease serta beberapa macam asam amino.
1). Fungsi Eosinofil

Mencegah alergi

Menghancurkan antigen antibodi

Berfungsi dalam menghancurkan parasit-parasit besar

Berperan dalam respon alergi

2). Ciri-Ciri Eosinofil

Mempunyai nukleus dengan jumlah dua lobus

Bersifat fagosit dan bersifat asam

Biasanya berwarna merah

Berbentuk mirip seperti bola, dengan berukuran 9 mm dalam segar

Memiliki diamter 10-12 mikrometer

Mempunyai jangka waktu hidup dengan 8 sampai 12 hari

Dibentuk di sumsum tulang

Granula kasar dan padat

Inti berada ditengah

Pembekuan Darah
Proses Mekanisme Pembekuan Darah (trombosit)-

Pembekuan dimulai ketika keping-keping darah dan faktor-faktor lain dalam plasma
darah kontak dengan permukaan yang tidak biasa, seperti pembuluh darah yang
rusak atau terluka.Pada saat terjadi luka pada permukaan tubuh, komponen darah,
yaitu trombosit akan segera berkumpul mengerumuni bagian yang terluka dan akan
menggumpal sehingga dapat menyumbat dan menutupi luka.
proses pembekuan darah:
1. Kulit terluka menyebabkan darah keluar dari pembuluh. Trombosit ikut keluar
juga bersama darah kemudian menyentuh permukaan-permukaan kasar dan
menyebabkan trombosit pecah. Trombosit akan mengeluarkan zat (enzim)
yang disebut trombokinase.
2. Trombokinase akan masuk ke dalam plasma darah dan akan mengubah
protrombin menjadi enzim aktif yang disebut trombin. Perubahan tersebut
dipengaruhi ion kalsium (Ca+) di dalam plasma darah. Protrombin adalah
senyawa protein yang larut dalam darah yang mengandung globulin. Zat ini
merupakan enzim yang belum aktif yang dibentuk oleh hati.
Pembentukannya dibantu oleh vitamin K.
3. Trombin yang terbentuk akan mengubah firbrinogen menjadi benangbenang
fibrin. Terbentuknya benang-benang fibrin menyebabkan luka akan tertutup
sehingga darah tidak mengalir keluar lagi. Fibrinogen adalah sejenis protein
yang larut dalam darah. Coba Anda bayangkan, apabila fibrin ini beredar di
dalam darah kita tanpa adanya luka, apa yang akan terjadi? Tentunya akan
terjadi banyak penyumbatan darah yang bisa berakibat fatal dalam tubuh
kita.

yang paling utama dalam tubuh kita. Masih ingatkah kamu apa saja fungsi
darah? Ada beberapa fungsi penting darah bagi tubuh, yaitu sebagai berikut.
1. Mengangkut sari-sari makanan dari usus dan mengedarkannya ke
seluruh tubuh.

2. Mengangkut oksigen dari paru-paru serta mengedarkannya ke seluruh


tubuh dan juga mengambil karbon dioksida dari seluruh tubuh untuk
dibawa ke paru-paru.
3. Mengangkut hormon dari pusat produksi hormon ke tempat tujuannya
di dalam tubuh.
4. Mengangkut sisa-sisa metabolisme sel untuk dibuang di ginjal.
5. Menjaga kestabilan suhu tubuh. Suhu tubuh manusia tetap, yaitu
berkisar antara 36C sampai 37C. Suhu tubuh manusia tidak
dipengaruhi oleh lingkungan. Darah mampu menjaga suhu tubuh tetap
stabil. Caranya, darah melakukan penyebaran energi panas dalam
tubuh secara merata.
6. Membunuh kuman yang masuk ke dalam tubuh.
1.
Komposisi
Darah
Bagaimana darah bisa melakukan fungsi-fungsi tersebut? Darah memiliki
komposisi yang terdiri atas sekitar 55% cairan darah (plasma) dan 45% selsel darah. Terdapat tiga macam sel darah, yaitu sel darah merah (eritrosit),
sel darah putih (leukosit), dan keping darah (trombosit).
a.
Plasma
Darah
Sekitar 91% plasma darah terdiri atas air. Selebihnya adalah zat terlarut
yang terdiri dari protein plasma (albumin, protrombin, fibrinogen, dan
antibodi), garam mineral, dan zat-zat yang diangkut darah (zat makanan,
sisa metabolisme, gas-gas, dan hormon). Fibrinogen yang ada dalam plasma
darah merupakan bahan penting untuk pembekuan darah jika terjadi luka.
Proses pembekuan darah ini akan dijelaskan pada bahasan selanjutnya.b.
Sel-Sel
Darah
Sel-sel darah pada manusia, terdiri atas sel darah merah (eritrosit), sel darah
putih (leukosit), dan keping darah (trombosit). Dalam sel-sel darah,
kandungan sel darah putih dan keping darah sebanyak 1%, sedangkan sel
darah merah sebanyak 99%.

1)
Sel
darah
merah
(eritrosit)
Pernahkah kamu melihat darah? Darah berwarna merah. Tahukah kamu
mengapa darah berwarna merah? Darah berwarna merah karena adanya selsel darah merah. Sel darah merah berbentuk bulat gepeng yang kedua
permukaannya cekung. Sel darah merah tidak memiliki inti sel dan
mengandung hemoglobin. Kamu masih ingat apa itu hemoglobin?
Hemoglobin (Hb) merupakan protein yang mengandung zat besi.
Fungsi hemoglobin adalah untuk mengikat oksigen dan karbon dioksida
dalam darah. Hemoglobin berwarna merah, karena itu sel darah merah
berwarna merah. Jumlah sel darah merah yang normal kurang lebih adalah 5
juta sel/mm3 darah. Sel darah merah dibentuk pada tulang pipih di sumsum
tulang dan dapat hidup hingga 120 hari. Jika sel darah merah rusak atau
sudah tua maka sel ini akan dirombak dalam limfa. Hemoglobin dari sel
darah merah yang dirombak akan terlepas dan dibawa ke dalam hati untuk
dijadikan zat warna empedu. Sel darah merah baru akan dibentuk kembali
dengan bahan zat besi yang berasal dari hemoglobin yang terlepas tadi.
2)
Sel
darah
putih
(leukosit)
Sel darah putih sesungguhnya tidaklah berwarna putih, tetapi jernih. Disebut
sel darah putih untuk membedakannya dari sel darah merah yang berwarna
merah. Sel darah putih bentuknya tidak teratur atau tidak tetap. Tidak
seperti sel darah merah yang selalu berada di dalam pembuluh darah, sel
darah putih dapat keluar dari pembuluh darah. Kemampuan untuk bergerak
bebas diperlukan sel darah putih agar dapat menjalankan fungsinya untuk
menjaga tubuh. Sel darah putih memiliki inti sel tetapi tidak berwarna atau
tidak memiliki pigmen.
Berdasarkan zat warna yang diserapnya dan bentuk intinya sel darah putih
dibagi menjadi lima jenis, yaitu basofil, neutrofil, monosit, eosinofil, dan
limfosit. Secara normal jumlah sel darah putih pada tubuh kita adalah kurang
lebih 8.000 pada tiap 1 mm3 darah. Sel darah putih hanya hidup sekitar 12
13 hari. Fungsi sel darah putih sebagai pertahanan tubuh dari serangan
penyakit. Jika tubuhmu terluka dan ada kuman yang masuk, selsel darah
putih akan menyerang atau memakan kumankuman tersebut. Ibarat sebuah
negara, sel darah putih adalah pasukan tempur. Jika seseorang diserang
penyakit. Tubuh akan memproduksi lebih banyak sel-sel darah putih untuk
melawan bibit penyakit tersebut.

3)
Keping
darah
(trombosit)
Keping darah berbentuk bulat atau lonjong. Ukuran keping darah lebih kecil
daripada sel darah merah. Jumlahnya kurang lebih 300.000 pada tiap 1 mm3
darah. Keping darah hidupnya singkat, hanya 8 hari. Keping darah berfungsi
pada proses pembekuan darah. Saat terjadi luka, darah keluar melalui luka
tersebut.
Keping darah menyentuh permukaan luka, lalu pecah dan mengeluarkan
trombokinase. Masih ingatkah kamu tentang plasma darah yang
mengandung zat untuk proses pembekuan darah, yaitu protrombin dan
fibrinogen? Trombokinase dibantu dengan ion kalsium akan mengubah
protrombin menjadi trombin. Trombin diperlukan untuk mengubah fibrinogen
menjadi benang-benang fibrin. Luka akan ditutup oleh benang fibrin yang
berupa benang-benang halus, sehingga darah berhenti keluar.

2.
Golongan
Darah
Pernahkah kamu mendengar tentang golongan darah? Tahukah kamu
golongan darah apa yang kamu miliki? Apabila kamu belum mengetahui
golongan darahmu kamu bisa ke dokter untuk memeriksakan golongan

darahmu. Salah satu sistem penggolongan darah yang banyak digunakan


adalah sistem ABO. Berdasarkan sistem ini darah dikelompokkan menjadi 4
golongan darah, yaitu golongan darah A, B, AB, dan O.
Dasar penggolongan darah sistem ABO adalah keberadaan aglutinogen pada
permukaan sel darah merah. Darah yang sel darah merahnya mengandung
aglutinogen A disebut bergolongan darah A; darah yang sel darah merahnya
mengandung aglutinogen B disebut bergolongan darah B; darah yang sel
darah merahnya mengandung aglutinogen A dan aglutinogen B disebut
bergologan darah AB; dan darah yang sel darah merahnya tidak
mengandung aglutinogen A maupun aglutinogen B disebut bergolongan
darah O.
Golongan darah sangat penting untuk transfusi darah. Jika seseorang
mendapatkan transfusi darah yang golongan darahnya berbeda hal ini bisa
menimbulkan bahaya. Sebab hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya
pembekuan atau penggumpalan darah. Golongan darah AB merupakan
golongan darah yang dapat menerima transfusi dari golongan darah lain.
Oleh karena itu, golongan darah AB disebut dengan resipien universal
(penerima). Sebaliknya golongan darah O dapat menjadi donor (pemberi)
untuk semua golongan darah atau golongan darah O disebut sebagai donor
universal. Untuk lebih jelasnya perhatikan tabel berikut.

GOLONGAN DARAH DAN TRANSFUSI DARAH


Darah dibagi dalam berbagai golongan berdasrkan tipe antigen yang terdapat didalam sel.
Golongan Darah
Membran eritrosit mengandung dua antigen yaitu tipe-A dan tipe-B. antigen ini disebut
aglutinogen. Sebaliknya, antibody yang terdapat dalam plasma akan bereaksi spesifik terhadap

antigen tipe-A atau tipe-B yang dapat menyebabkan aglutinasi (penggumpalan) eritrosit.
Antibody plasma yang menyebabkan penggumpalan aglutinogen disebut aglutinin. Ada dua
macam aglutinin, yaitu aglutinin-a (zat anti-A) dan aglutinin-b (zat anti-B).
Aglutinogen-A mempunyai enzim glikosil tranferase yang mengnadung asetil glukosamin pada
rangka glikoproteinnya. Sedangkan aglutinogen-B mengandung enzim galaktosa pada rangka
glikoprotennya. Aglutinogen-AB adalah golongan yang memiliki kedua jenis enzim tersebut.
Ahli imunologi (ilmu tentang kekebalan tubuh) kebangsaan Austria bernama Karl Landsteiner
(1868-1943) mengelompokkan golongan darah manusia. Berdasarkan ADA ATAU TIDAK
ADANYA AGLUTINOGEN maka golongan darah dikelompokkan menjadi golongan darah A,
B, AB, dan O.

Golongan darah A, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-A dan aglutinin-b dalam plasma

darah.
Golongan darah B, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-B dan aglutinin-a dalam plasa

darah.
Golongan darah AB, yaitu jika eritrosit mengandung aglutinogen-A dan B, dan plasma darah

tidak meiliki aglutinin.


Golongan darah O, yaitu jika eritrosit tidak memiliki agutinogen-A dan B, dan plasma darah
memiliki aglutinin-a dan b.
Tabel Golongan Darah Berdasarkan Aglutinin dan Aglutinogen

Golongan Darah
A
B
AB
O

Aglutinogen
A
B
A dan B
Tidak Ada

Aglutinin
b
a
Tidak Ada
a dan b

Uji Golongan Darah


Uji golongan darah atau tes darah dilakukan untuk mengetahui golongan darah seseorang. Cara
melakukan tes darah adalah dengan mengambil sampel darah orang yang akan di tes golongan
darahnya, kemudian sampel darah tersebut ,masing- masing akan ditetesi oleh serum anti A, anti

B dan anti AB. Serum tersebut identik dengan aglutinin sehingga serum tersebut dapat
menggumpalkan darah apabila bercampur dengan darah yang memiliki aglutinogen yang sesuai.
Contohnya seseorang dengan golongan darah A jika ditetesi dengan serum anti A maka darahnya
akan menggumpal, karena aglutinogen pada darah orang tersebut bercampur dengan serum anti
A yang identik dengan aglutinin a. Sedangkan ketika ditetesi serum anti B darahnya tidak
menggumpal karena orang tersebut tidak memiliki aglutinogen B sehingga serum anti B tidak
menggumpalkan darah.

Tabel aglutinasi golongan darah dengan serum anti A, Anti B dan anti AB
Golongan

Serum Anti A/ Serum anti B/ Serum anti AB/ Aglutinoge

Darah
A

Aglutinin a
Menggumpal

Aglutinin b
Tidak

Aglutinin ab
Menggumpal

n
A

Tidak

Menggumpal
Menggumpal

Menggumpal

AB
O

Menggumpal
Menggumpal
Tidak

Menggumpal
Tidak

Menggumpal
Tidak

AB
Tidak Ada

Menggumpal

Menggumpal

Menggumpal

Gambar 2.1 Uji serum golongan darah ( Tes darah )


Metode Rhesus
Cara lain dalam mengelompokan golongan darah adalah dengan menggunakan metode Rhesus.
Tipe Rhesus ini pertama kali ditemukan pada eritrosit kera spesies Maccacus rhesus.
Rhesus positif (+) maka di dalam eritrositnya terdapat aglutinogen/ antigen rhesus (Disebut juga
aglutinogen D). Rhesus negative (-) maka di dalam eritrositnya tidak terdapat aglutinogen/
antigen rhesus (Aglutinogen D).
Kira-kira 85% dari seluruh bangsa berkulit putih adalah Rh negatif, sedangkan pada bangsa Afrika
yang berkulit hitam 100% adalah Rh positif.
Golongan darah rhesus ini dapat mempengaruhi keturunan dan jika terjadi ketidakcocokan maka
dapat menyebabkan kelainan eritroblastosis fetalis.
Tabel Fenotip dan Genotip
Macam Rhesus
Rhesus (+)
Rhesus (-)

Fenotip
Rhesus Positif
Rhesus Negatif

Genotip
Rh+Rh+ / Rh+RhRh-Rh-

Eritroblastosis Fetalis
Seorang ibu Rh- dan ayah Rh+ dapat memiliki janin yang Rh+. Selama kehamilan atau
persalinan antigen Rh (aglutinogen Rh) dari bayi dapat masuk ke peredaran darah ibu melalui
plasenta dan darah ibu akan bereaksi dengan memproduksi aglutinin anti Rh. Makin sering si ibu
hamil maka akan semakin banyak aglutinin Rh yang dibentuk si ibu.
Aglutinin Rh ini kemudian akan masuk kedalam peredaran darah janin melalui plasenta, dan
akan menimbulkan aglutinasi dan hemolisis eritrosit janin, dan timbul anemia pada janin. Untuk
mengatasi anemia ini, sum-sum merah, hati, limfa janin melepaskan eritroblas yang belum
matang ke peredaran darah, sehingga timbul penyakit yang disebut eritroblastosis fetalis. Karena
terjadi hemolisis maka kadar bilirubin janin dapat meingkat.
Kehamilan pertama biasanya hanya menimbulkan efek kecil terhadap janin, tetapi pada
kehamilan-kehamilan berikutnya janin dapat mati didalam rahim.

Gambar 2.2 Proses terjadinya eritroblastosis fetalis


Transfusi Darah

Transfusi darah adalah pemberian darah seseorang kepada orang lain. Orang yang berperan
sebagai pemberi darah disebut dengan DONOR dan yang menerima darah disebut RESIPIEN.
Donor perlu memperhatikan jenis aglutinogen di dalam eritrosit, sedangkan resipien perlu
memperhaitkan jenis aglutinin dalam plasma darah.
Sebelum melakukan transfusi perlu menentukan golongan darah resipien dan golongan darah
donor. Proses penentuan golongan darah dilakukan dengan cara Tes Darah seperti yang telah
dijelaskan sebelumnya.
Setelah diketahui jenis golongan darah antara donor dan resipien barulah proses transfuse darah
dapat dilakukan.

Bagan Transfusi Darah

Golongan darah O adalah DONOR UNIVERSAL karena dapat di transfusikan ke seluruh


golongan

darah

Golongan drah AB adalah RESIPIEN UNIVERSAL karena dapat menerima semua jenis
golongan

darah

Tabel aglutinasi dari berbagai golongan darah


Golongan Darah
O
A

Aglutinin A
Tidak Menggumpal
Menggumpal

Aglutinin B
Tidak Menggumpal
Tidak Menggumpal

B
AB

Tidak Menggumpal
Menggumpal

Menggumpal
Menggumpal

Dari bagan dan tabel diatas dapat kita ketahui dari dan ke golongan darah apa saja proses
transfusi darah dapat terjadi.
Pada tabel melukiskan reaksi yang terjadi pada empat golongan darah yang berbeda. Golongan
darah O, eritrositnya tidak mempunyai aglutinogen sehingga tidak dapat bereaksi dengan salah
satu serum anti-A atau anti-B. Golongan darah A mempunyai aglutinogen-A sehingga
beraglutinasi dengan aglutinin anti-A. Golongan darah AB mempunyai aglutinogen B sehingga
beraglutinasi dengan kedua jenis aglutinin.
Golongan darah AB adalah resipien universal karena dapat menerima semua jenis golongan
darah. Sebaliknya golongan darah O adalah donor universal karena dapat ditransfusikan kepada
seluruh golongan darah. Tetapi transfusi darah yang terbaik adalah transfusi darah dari golongan
darah yang sejenis. Jika transfuse dilakukan dengan jenis golongan darah yang berbeda,
meskipun itu memungkinkan, misalnya golongna darah O ditransfusikan ke golongan darah AB,
masih mungkin terjadi penggumpalan walaupun sedikit.
Di dalam hati terdapat sel yang berfungsi merombak sel darah merah yang sudah
tua dan rusak. Sel yang demikian dinamakan sel histiosit. Sel darah merah yang
tua dan rusak di dalam hati sekitar lebih dari 10 juta sel. Dalam proses
perombakannya, hemoglobin (Hb) dipecah menjadi zat besi (Fe), hemin, dan globin.
Zat besi akan diambil dan di simpan dalam hati, yang selanjutnya dikembalikan ke
sumsum tulang sehingga terbentuk eritrosit baru. Globin akan dibentuk menjadi Hb
baru. Sementara hemin dipecah menjadi bilirubin dan biliverdin yang berwarna
hijau biru. Zat warna empedu dikeluarkan ke usus 12 jari dan dioksidasi menjadi
urobilin yang berwarna kuning coklatan. Warna ini akan memberikan warna khas
tersendiri pada feses dan urine yang kita keluarkan setiap hariny
Jawaban Terbaik: Sel darah merah atau eritrosit tua (berumur +- 120 hari)
dihancurkan dalam hati oleh sel2 makrofag..
Kemudian haemoglobin yang terdapat pada eritrosit tsb akan diuraikan menjadi:
1. Globulin
Globulin akan dimanfaatkan lagi untuk pembentukan Hb (haemoglobin) baru /
antibodi

2. Fe
Fe2+ akan diambil & disimpan di hati, kemudian akan dikirim ke sumsum tulang
merah untuk pembentukan Hb baru dalam eritorsit (sel darah merah) yang baru
3. Hemin
Hemin diubah menjadi:
a. Bilirubin
Dioksidasi mejadi:
- Stercobilin (zat pewarna faeces)
- Urobilin (zat pewarna urine)
b. Biliverdin
Merupakan zat pewarna empedu yang akan disalurkan ke vesika urinaria (kantung
kemih (kencing) & nantinya masuk ke pembuluh darah)

Faktor Rh, Pengaruhnya Terhadap Kehamilan


Faktor Rh menggambarkan adanya partikel protein (antigen D) di dalam sel darah seseorang.
Bagi yang ber-Rh negatif berarti ia kekurangan faktor protein dalam sel darah merahnya.
Sedangkan yang ber-Rh positif memiliki protein yang cukup. Pada jaman dahulu dalam transfusi
darah, asal golonganya sama, tidak dianggap ada masalah lagi. Padahal, bila terjadi ketidak
cocokan rhesus, bisa terjadi pembekuan darah yang berakibat fatal, yaitu kematian penerima
darah.

Orang-orang dengan rhesus negatif mempunyai sejumlah kesulitan karena diseluruh dunia ini,
orang dengan rhesus negatif relatif jumlahnya lebih sedikit. Pada orang kulit putih, rhesus negatif
hanya sekitar 15%, pada orang kulit hitam sekitar 8%, dan pada orang asia bahkan hampir
seluruhnya merupakan orang dengan rhesus positif.
Di Indonesia, kasus kehamilan dengan rhesus negatif ternyata cukup banyak dijumpai.
Umumnya dijumpai pada orang-orang asing atau orang yang mempunyai garis keturunan asing
seperti Eropa dan Arab, walaupun tidak langsung. Ada juga orang yang tidak mempunyai riwayat
keturunan asing, namun jumlahnya lebih sedikit.
Bila seorang wanita dengan rhesus negatif mengandung bayi dari pasangan yang mempunyai
rhesus positif, maka ada kemungkinan sang bayi mewarisi rhesus sang ayah yang positif. Dengan
demikian akan terjadi kehamilan rhesus negatif dengan bayi rhesus positif. Hal ini disebut
kehamilan dengan ketidak cocokan rhesus (rhesus inkontabilita).
Kehadiran janin sendiri di tubuh ibu merupakan benda asing, apalagi jika Rh janin tak sama
dengan Rh ibu. Secara alamiah tubuh bereaksi dengan merangsang sel darah merah (eristrosit)

membentuk daya tahan atau antibodi berupa zat anti Rh untuk melindungi tubuh ibu sekaligus
melawan benda asing tersebut. Inilah yang menimbulkan ancaman pada janin yang dikandung.
Efek ketidakcocokan bisa mengakibatkan kerusakan besar-besaran pada sel darah merah bayi
yang disebut erytroblastosis foetalis dan hemolisis. Hemolisis ini pada jaman dahulu merupakan
penyebab umum kematian janin dalam rahim, disamping hydrop fetalis, yaitu bayi yang baru
lahir dengan keadaan hati yang bengkak, anemia dan paru-paru penuh cairan yang dapat
mengakibatkan kematian.
Selain itu kerusakan sel darah merah bisa juga memicu kernikterus (kerusakan otak) dan
jaundice (bayi kuning/hiperbilirubinimia), gagal jantung dan anemia dalam kandungan maupun
setelah lahir.
Dikarenakan jarangnya kasus kehamilan dengan rhesus negatif, maka sangat sedikit pula rumah
sakit yang dapat menanganinya. Untuk itu walaupun tidak ada masalah serius dokter biasanya
akan tetap menangani kehamilan dengan rhesus negative secara khusus. Langkah pertama yang
dilakukan dokter adalah dengan memeriksa darah ibu untuk memastikan jenis rhesus dan untuk
melihat apakah telah tercipta antibodi.
Bila belum tercipta antibodi, maka pada usia kehamilan 28 minggu dan dalam 72 jam setelah
persalinan akan diberikan injeksi anti-D (Rho) immunoglobulin, atau biasa juga disebut
RhoGam. Proses terbentuknya zat anti dalam tubuh ibu sendiri sangat cepat sehingga akan lebih
baik lagi jika setelah 48 jam melahirkan langsung diberi suntikan RhoGAM agar manfaatnya
lebih terasa. Sayangnya, perlindungan RhoGAM hanya berlangsung 12 minggu. Setelah lewat
batas waktu, suntikan harus diulang setiap kehamilan berikutnya.
Bila dalam diri ibu telah tercipta antibodi, maka maka akan dilakukan penanganan khusus
terhadap janin yang dikandung, yaitu dengan monitoring secara reguler dengan scanner
ultrasonografi. Dokter akan memantau masalah pada pernafasan dan peredaran darah, cairan
paru-paru, atau pembesaran hati, yang merupakan gejala-gejala penderitaan bayi akibat
rendahnya sel darah merah.
Bila memang ada zat anti-Rh dalam tubuh ibu hamil, sebaiknya dilakukan pemeriksaan jenis
darah janin melalui pengambilan cairan ketuban (amniosentesis). Dapat juga melalui
pengambilan cairan dari tulang belakang Chorionic Villi Sampling (CVS), dan pengambilan
contoh darah dari tali pusat janin (kordosentesis). Pada kasus tertentu, kadang diputuskan untuk
melakukan persalinan lebih dini, sejauh usia janin sudah cukup kuat untuk dibesarkan diluar
rahim. Tindakan ini akan segera diikuti dengan penggantian darah janin dari donor yang tepat.
Induksi persalinan juga akan dilakukan pada ibu yang belum mempunyai antibodi bila
kehamilannya telah lewat dari waktu persalinan yang diperkirakan sebelumnya, untuk mencegah
kebocoran yang tak terduga.
Pada kasus janin belum cukup kuat untuk dibesarkan diluar, maka perlu dilakukan transfusi
darah terhadap janin yang masih dalam kandungan. Biasanya bila usia kandungan belum
mencapai 30 minggu. Proses transfusi ini akan diawasi secara ketat dengan scanner
ultrasonografi dan bisa diulang beberapa kali hingga janin mencapai ukuran dan usia yang cukup

kuat untuk diinduksi. Setelah bayi lahir, ia akan mendapat beberapa pemerikasaan darah secara
teratur untuk memantau kadar bilirubin dalam darahnya. Bila diperlukan akan dilakukan
phototerapi. Bila kadar bilirubin benar-benar berbahaya akan dilakukan penggantian darah
dengan transfusi. Kadar cairan dalam paru-paru dan jantungnya juga akan diawasi dengan ketat,
demikian juga dengan kemungkinan anemia.
Perbedaan Rh ibu dan janin tak terlalu berbahaya pada kehamilan pertama. Sebab, kemungkinan
terbentuknya zat anti-Rh pada kehamilan pertama sangat kecil. Kalaupun sampai terbentuk,
jumlahnya tidak banyak. Sehingga, bayi pertama dapat lahir sehat.
Pembentukan zat anti Rh baru benar-benar dimulai pada saat proses persalinan (atau keguguran)
pada kehamilan pertama. Saat plasenta lepas, pembuluh-pembuluh darah yang menghubungkan
dinding rahim dengan plasenta juga putus. Akibatnya, sel-sel darah merah bayi dapat masuk ke
dalam peredaran darah ibu dalam jumlah yang lebih besar. Peristiwa ini disebut transfusi fetomaternal. Selanjutnya, 48-72 jam setelah persalinan atau keguguran, tubuh ibu dirangsang lagi
untuk memproduksi zat anti-Rh lebih banyak lagi. Demikian seterusnya.
Saat ibu mengandung lagi bayi kedua dan selanjutnya, barulah zat anti-Rh di tubuh ibu akan
menembus plasenta dan menyerang sel darah merah janin. Sementara itu bagi ibu perbedaan
rhesus ibu dan janin sama sekali tidak mengganggu dan mempengaruhi kesehatan ibu.