Anda di halaman 1dari 7

Diskolorisasi Akibat Trauma

Nekrosis
Patogenesis :iritan pulpa dengan adanya bakteri karies, akibat adanya trauma,
terpapar bahan kimia yang dapat mengiritasi pulpa.
Perawatanya : bleaching internal.
Derajat keparahan diskolorasinya bergantung pada berapa lama pulpa udah
mengalami nekrosis.

a.

PROSEDUR BLEACHING
BLEACHING INTERNA (NONVITAL)
Indikasi untuk teknik bleaching internal adalah: diskolorasi pada ruang pulpa, diskolorasi pada
dentin, dan diskolorasi yang tidak dapat dilakukan bleaching eksternal. Kontraindikasi untuk teknik
bleaching internal yaitu: diskolorasi enamel superfisial, defek pada pembentukan enamel, hilangnya
dentin dalam jumlah besar, adanya karies, dan diskolorasi tumpatan komposit di proksimal (kecuali
jika tumpatannya akan diganti seteah bleaching). Teknik bleaching internal terbagi tiga, yaitu walking
bleach, teknik thermocatalytic, dan ultraviolet photooxidation.
a. TEKNIK TERMOKATALITIK
Teknik ini meliputi penempatan agen oksidasi pada ruang pulpa dan kemudian
pengaplikasian panas. Panas ini dapat diberikan melalui lampu panas, instrument yang
dipanaskan, atau alat pemanas elektrik, yang khusus dibuat untuk prosedur bleaching gigi.
Langkah:
1. Bersihkan gigi, lindungi jaringan lunak dengan mengulaskan pasta pelindung pada bibir dan
mukosa mulut, pasang rubber dam pada gigi yang akan dirawat.
2. Letakkan kapas yang telah dibasahi larutan hidrogen peroksida pada bagian labial dan palatal
gigi.
3. Pemanasan dilakukan dengan cara memakai lampu reostat controlled photoflood yang
diletakkan sekitar 30 cm dari gigi selama 10-30 menit atau dengan hand-held thermostatically
controlled yaitu dengan menempelkan ujung alat ini pada permukaan gigi yang telah diberi
kapas yang dibasahi dengan superoxol.
4. Kapas dilepas, gigi dibilas dengan air hangat, lepaskan rubber dam, bersihkan sisa pasta
pelindung mulut.
5. Suruh pasien menyikat gigi kemudian lakukan pemolesan.
6. Pasien disuruh datang 1 minggu kemudian, bila hasil belum memuaskan prosedur bleaching
diulang.
b. WALKING BLEACH
Teknik Walking Bleach digunakan pada situasi apapun yang membutuhkan bleaching
internal. Teknik ini efektif dan membutuhkan chair time yang paling sedikit.

1.

Pasien harus diberitahu tentang kemungkinan penyebab diskolorasi, prosedur yang


akan dilakukan, hasil yang diharapkan, dan kemungkinan terjadinya diskolorasi lagi
(regresi) untuk menghindari kesalahpahaman. komunikasi yang efektif sebelum, saat,
dan sesudah perawatan sangat dibutuhkan.
2. Buatlah radiograf untuk melihat keadaan jaringan periapeks dan kualitas perawatan
saluran akarnya. Kegagalan perawatan atau pengisian saluran akar yang meragukan
harus dirawat ulang sebelum pemutihan dilakukan.
3. Periksa kualitas dan warna setiap tumpatan yang ada. Bila ada defek, tumpatan harus
diganti. Seringnya perubahan warna gigi disebabkan oleh kebocoran dan perubahan
warna tumpatan. Selain itu, pasien harus diberi tahu bahwa prosedur pemutihan dapat
mempengaruhi warna tumpatan untuk sementara waktu (atau permanen) sehingga
harus diganti.
4. Evaluasi warna gigi dengan shade guide, buat foto pada saat awal dan selama
prosedur perawatan untuk acuan pembanding kelak bagi dokter gigi maupun pasien.
5. Isolasi gigi dengan rubber dam, dapat juga digunakan wedge interproksimal untuk
isolasi yang lebih baik. Kalau bahan bleaching superoxol, pakailah krim (vaselin,
orabase, cocoa butter) sebelum isolator karet dipasang untuk melindungi jaringan
lunak.
6. Bongkarlah tumpatan pada kavitas. Pembuangan bahan tumpatan harus dilakukan
hati-hati untuk menghindari terpotongnya dentin sehat.
7. Tahap ini mungkin diperlukan jika perubahan warnanya diduga oleh logam: Selapis
tipis dentin yang berubah warna dibuang secara hati-hati ke arah labial dari kamar
pulpa dengan bur bulat menggunakan handpiece putaran rendah. Tindakan ini akan
mengambil lebih banyak bagian yang mengalami perubahan warna. Dapat juga
membuka tubulus dentin agar masuknya bahan kimia menjadi lebih baik.
8. Semua bahan harus diangkat sampai sedikit di bawah tepi gingival. Untuk
melarutkan sisa-sisa semen saluran akar pakailah pelarut yang sesuai (kloroform,
oranye, atau xylol dengan cotton pellet). Tanduk pulpa harus dibuka dan dibersihkan
dengan bur bulat.
9. Letakkan selapis semen basis secukupnya (ZnOE atau cavit setebal 2 mm) di atas
bahan pengisi.
10. Siapkan pasta walking bleach dengan mencampurkan natrium perborat dengan cairan
inert seperti air, salin, atau cairan anastesi hingga membentuk konsistensi seperti

c.

pasir basah (kira-kira 2g/ml). Kamar pulpa diisi pasta dengan instrumen plastis.
Kelebihan cairan dihilangkan dengan cara ditekan dengan cotton pellet. Tindakan ini
juga akan memampatkan dan mendorang pasta ke dalam ceruk-ceruk kamar pulpa.
11. Buang kelebihan pasta oksidator dari daerah undercut di dalam tanduk pulpa. Di atas
pasta aplikasikan langsung campuran padat ZOE (atau IRM). Tumpat dengan hatihati paling sedikit setebal 3 mm untuk memastikan sealing yang baik.
12. Buka rubber dam. Pasien diberi tahu bahwa bahan pemutih bekerjanya lambat dan
pemutihannya tidak akan terlihat dalam 2 atau 3 minggu. Tidak adanya perubahan
pertama itu merupakan hal yang biasa, tetapi hasil yang signifikan terjadi pada harihari atau minggu berikutnya atau setelah pengaplikasian selanjutnya.
13. Buat janji dengan pasien agar kembali lagi kira-kira 1 bulan dan ulang prosedurnya.
ULTRAVIOLET PHOTOOXIDATION
Teknik ini dilakukan dengan mengaplikasikan cahaya ultraviolet ke permukaan labial gigi
yang ingin di-bleaching. Larutan H2O2 30-35% ditempatkan di ruang pulpa dengan cotton pellet
lalu disinari dengan cahaya ultraviolet selama 2 menit. Tindakan ini akan menyebabkan terjadinya
pelepasan oksigen, sama seperti pada teknik termokatalitik.

EVALUASI BLEACHING
Contoh warna yang sangat terkenal dan dangat luas digunakan di dunia kedokteran gigi yaitu warna
Lumin Vacuum dari Vita.
Warna di dunia Dental Whitening dapat dipecah menjadi beberapa komponen penting terutama :
Hue, adalah istilah untuk warna itu sendiri, jadi biru, merah, kuning itu adalah hue, secara klinis
merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut warna gigi dari golongan A, B, C atau D.LV (lumin vacuum
system)
Chroma, adalah istilah untuk kepekatan warna, jadi ada biru muda, hijau tua, atau merah muda adalah
istilah-istilah untuk chroma, secara klinis merupakan istilah yang digunakan untuk menyebut warna gigi dari
satu golongan tetapi berbeda kepekatannya A1, A2, A3, atau A3,5.
Value, adalah istilah untuk kecerahan atau gelap-terang, akan tampak jelas pada gambaran gradasi dari
hitam ke putih, semakin gelap menuju hitam semakin rendah valuenya demikian pula kebalikannya semakin
terang kearah putih, semakin tinggi valuenya, urutan warna yang digunakan pada perawatan dental whitening
menggunakan dasar value dimana contoh warna dengan value rendah yaitu C4 diletakan pada sisi paling kanan
contoh warna dengan value yang paling tinggi yaitu B1 diletakkan disisi tepi paling kiri dari urutan contoh
warna.

Value Shade Guide, sebetulnya adaalah shade guide yang sama dengan dipakai untuk keperluan
prostodontic dan restorative dentistry, yaitu contoh warna yang sangat popular dikenal dan digunakan didunia
kedokteran gigi lumin vacuum dari vita, khusus untuk pemakaian pada perawatan dental whitening maka
susunan urut dari warna itu diubah , menjadi susunan urut yang berdasarkan value, bukan hue dan chroma.
Susunan ini harus dipahami karena parameter keberhasilan perawatan dental whitening menggunakan
ukuran beberapa unit perbedaan warna (value) geligi yang telah dilakukan perawatan Dental Whitening
dibandingkan dengan warna (value) awal.
Pasien yang hendak memutihkan gigi biasanya memiliki harapan tertentu mengenai seputih apa warna
gigi yang ia harapkan nantinya. Penting bagi dokter gigi untuk mencatat warna gigi dan mengambil foto gigi
sebelum perawatan. Kemudian dokter gigi dan pasien dapat menyepakati bersama tujuan warna putih yang akan
dicapai, berdasarkan penunjuk warna (shade guide) yang telah disediakan.
Hasil bleaching biasanya ditentukan dari warna dasar gigi tersebut. Secara umum, perbedaan warna
dasar gigi memiliki rentang dari kuning pucat, cokelat pucat, hingga abu-abu pucat. Menurut ADA (American
Dental Association), orang dengan warna asli gigi kuning pucat memiliki tingkat keberhasilan bleaching yang

lebih tinggi jika dibandingkan dengan warna gigi cokelat pucat. Sedangkan warna dasar gigi abu-abu pucat
bersifat kurang responsif terhadap bleaching.

Mikroabrasi
Untuk gigi nonvital
- Termokatalitik in-office bleaching
- Walking
bleach/intrakoronal
bleaching
- Inside/outside bleaching
- Closed
chamber
bleaching/extracoronal bleaching
Laser-assisted bleaching

RENCANA PERAWATAN PASIEN TERSEBUT


(MACAM, INDIKASI, KONTRAINDIKASI)
Bleaching adalah prosedur pemutihan gigi
melalui aplikasi agen kimia untuk mengoksidasi
pigmentasi organik pada gigi. Tujuan untuk
mengembalikan warna alami gigi dengan mewarnai
noda yang ada dengan agen oksidasi kuat, yang
dikenal sebagai agen bleaching.
KONTRAINDIKASI PADA BLEACHING
a. Seleksi kasus yang buruk
Pasien
yang
mempunyai
masalah
psikologi atau emosi bukanlah sebuah
pilihan yang tepat untuk dilakukan
bleaching.
b. Hipersensitivitas dentin
Gigi yang hipersensitiv perlu perlindungan
ekstra sebelum dibleaching.
c. Gigi yang direstorasi meluas
Gigi ini kurang pas untuk dibleaching
karena :
- Tidak
memiliki
cukup
untuk
merespon secara properly terhadap
bleaching
- Gigi direstorasi dengan restorasi
sewarna gigi yang terlihat
d. Gigi dengan tanda hipoplastik dan crack
Aplikasi agen bleaching meningkatkan
kontras diantara titik opak putih dan
struktur gigi normal. Dalam kasus ini,
bleaching
dapat
berhasil
dengan
kombinasi bersama :
- Mikroabrasi
- Ameloplasty selektif
- Composite resin bonding
e. Restorasi yang cacat dan mengalami
kebocoran
- Diskolorasi dari garam logam
terutama silver amalgam : tubulus
dentin gigi menjadi tidak nyata,
tersaturasi dengan alloy dan tidak ada
sejumlah bleaching dengan produk
yang tersedia yang akan menambah
shadenya secara signifikan.
- Obturasi yang cacat : jika saluran akar
tidak terobturasi dengan baik, refilling
harus selesai sebelum dilakukan
bleaching.

TEKNIK BLEACHING EKSTERNAL/VITAL


TEKNIK HOME BLEACHING/NIGHT GUARD
VITAL BLEACHING
Indikasi
Noda yang ringan secara umum
Diskolorasi enamel yang ringan
Diskolorasi yang berhubungan dengan
usia
Noda tetrasiklin yang ringan
Fluorosis ringan
Noda superfisial bawaan
Noda dari merokok tembakau
Perubahan warna yang berhubungan
dengan trauma pulpa atau nekrosis
Kontraindikasi
Gigi dengan enamel yang tidak mencukupi
untuk bleaching
Gigi dengan crack permukaan dan dalam
serta garis fraktur
Gigi dengan restorasi yang tidak adekuat
atau rusak
Diskolorasi pada pasien remaja dengan
kamar pulpa yang besar
Fluorosis yang parah dan pitting
hypoplasia
Pasien noncompliant
Pasien hamil atau menyusui
Gigi dengan restorasi anterior yang besar
Noda tetrasiklin yang parah
Gigi yang mengalami fraktur atau
malaligned
Gigi yang memiliki sensitivitas ekstrim
terhadap panas, dingin, atau manis
Gigi dengan spot putih opak
Nervosa bullmia

TEKNIK BLEACHING
a. Untuk gigi vital
- Home bleaching /night guard vital
bleaching
- In-office bleaching
Termokatalitik
Nontermokatalitik

IN-OFFICE BLEACHING
BLEACHING TERMOKATALITIK GIGI VITAL
Indikasi
Noda superfisial
Noda ringan sampai sedang
Kontraindikasi
Noda tetrasiklin

b.

c.

Restorasi yang meluas


Diskolorasi yang parah
Karies yang meluas
Pasien sensitif terhadap agen bleaching

MIKROABRASI
Indikasi
Noda intrinsik yang berkembang dan
diskolorasi terbatas terhadap enamel
superfisial saja
Diskolorasi enamel sebagai hasil dari
hypomineralisasi atau hypermineralisasi
Lesi dekalsifikasi dari stasis plak dan dari
orthodontic band
Area fluorosis enamel
Noda superfisial yang bermacam-macam
warna dan tekstur permukaan yang
ireguler
Kontraindikasi
Noda yang berhubungan dengan umur
Lesi hipoplastik enamel yang dalam
Area enamel yang dalam dan noda pada
dentin
Kasus amelogenesis imperfecta dan
dentinogenesis imperfecta
Noda tetrasiklin
Lesi karies dibawah regio dekalsifikasi
MOUTHGUARD BLEACHING
Kontraindikasi terhadap pasien yang memiliki gigi
hipersensitif, kebiasaan bruxim, atau reaksi alergi
terhadap banyak komponen produk bleaching.
BLEACHING GIGI NONVITAL/INTERNAL
BLEACHING INTRAKORONA
Indikasi
Diskolorasi yang berasal dari kamar pulpa
Noda tetrasiklin sedang sampai parah
Diskolorasi dentin
Diskolorasi yang tidak agreeable terhadap
bleaching ekstrakorona
Kontraindikasi
Diskolorasi enamel superfisial
Pembentukan enamel yang rusak
Adanya karies
Kehilangan dentin yang parah
Diskolorasi komposit
Prognosis gigi yang tidak terprediksi
TEKNIK CLOSED CHAMBER
Indikasi

Pada kasus saluran yang terkalsifikasi


secara total pada gigi yang mengalami
trauma
Sebagai maintenance perawatan bleaching
beberapa
tahun
setelah
bleaching
intrakorona awal
Perawatan
untuk
remaja
dengan
pematangan gingiva yang belum sempurna
Gigi nonvital yang gelap dimana gigi
sekelilingnya tersinari secara cukup atau
dimana gigi vital yang lain juga
dibleaching.

PADA ANAK-ANAK
MIKROABRASI PUMIS-ASAM
HIDROKLORAT
Indikasi
- Fluorosis
- Speckling idiopatik
- Demineralisasi setelah perawatan
prosthodontik
- Penempatan veneer untuk noda yang
berbatas jelas
- Noda permukaan coklat atau putih,
contohnya infeksi predecessor primer
ke sekunder atau trauma (Turner
teeth)
NONVITAL BLEACHING
Indikasi
- Diskolorasi gigi non vital
- Pengisian akar dengan gutta percha
yang terkondensasi dengan baik
- Tidak ada tanda radiologis atau klinis
dari penyakit periapikal
Kontraindikasi
- Gigi yang direstorasi terlalu banyak
- Noda karena amalgam
VITAL BLEACHING CHAIRSIDE
Indikasi
- Noda tetrasiklin yang sangat ringan
tanpa obvious banding
- Fluorosis ringan
- Penguningan karena penuaan
- Gigi tunggal dengan kamar pulpa dan
kanal sklerotik
VITAL BLEACHING NIGHTGUARD
Indikasi
- Fluorosis ringan
- Fluorosis sedang sebagai adjungsi
mikroabrasi pumis-asam hidroklorat
- Penguningan karena penuaan