Anda di halaman 1dari 17

Apa interpretasi dan makna dari pemeriksaan fisik (semua)?

9 10 11
Pemeriksaan

Hasil Normal

Hasil pemeriksaan

Interpretasi

Equinus foot

Negatif

Positif

Abnormal

Varus of the foot

Negatif

Positif

Abnormal

Etiologi
Sampai saat ini masih banyak perdebatan dalam etiopatologi CTEV. Banyak teori telah
diajukan sebagai penyebab deformitas ini, termasuk faktor genetik, defek sel germinativum
primer, anomali vaskular, faktor jaringan lunak, faktor intrauterine dan faktor miogenik.
Telah diketahui bahwa kebanyakan anak dengan CTEV memiliki atrofi otot betis, yang tidak
hilang setelah terapi, karenanya mungkin terdapat hubungan antara patologi otot dan
deformitas ini. Beberapa teori yang dikemukakan mengenai penyebab clubfoot.
(1)

Hipotesis gaya mekanik atau posisi

Hoffa (1902) mengajukan hipotesis restriksi uterus, yang mengatakan bahwa


keterbatasan gerakan kaki fetus karena uterus menyebabkan ICTEV. Ia berpendapat bahwa
ICTEV timbul karena oligohydramnion, bahwa pengurangan volume cairan amnion sebagai
penyebab. Bagaimanapun, episode oligohydramnion diasosiasikan secara umum dengan
kelainan perkembangan lainnya dan munngkin memiliki sebab yang berhubungan dengan
neurologi. Lebih lanjut, dalam percobaan amniosintesis, kebocoran cairan amnion hanya
dicatat pada beberapa kasus saja, oleh sebab itu, mekanisme yang menyebabkan ICETV
setelah amniosintesis awal mungkin memiliki penyebab lain.
(2)

Hipotesis tulang/sendi

Hipotesis tulang/sendi berpendapat bahwa posisi abnormal dari tulang menyebabkan


anomali. Hippocrates menulis: Kelainan bentuk meliputi kombinasi keseluruhan dari tulang
yang menyusun rangka dari kaki. Segala perubahan yang terlihat pada bagian yang lunak
adalah efek sekunder.. Fritsch dan Eggers juga mendukung teori ini melalui osifikasi
endokondral dan hubungannya dengan ossifikasi perikondral.
(3)

Hipotesis jaringan penyambung.

Hipotesis jaringan penyambung menyebutkan bahwa abnormalitas jaringan


penyambung berperan dalam terjadinya ICTEV. Studi terhadap fetus member bukti yang
kuat. Dari 12 fetus dengan ICTEV, mereka menyimpulkan bahwa otot, tendon, fasia, dan
jaringan lunak lainnya dalam batas normal. Ippolito dan Ponseti mendokumentasikan
munculnya peningkatan jaringan fibrosa pada otot, fascia, ligament, dan lapisan tendon.
(4)

Hipotesis vaskular

Studi dari Atlas (1980) mendokumentasikan kelainan vascular pada 12 fetus dengan
kelainan kaki. Pada level sinus tarsi, terdapat hambatan pada salah satu cabang vascular kaki.
Hal ini yang paling kelihatan pada periode awal kehidupan fetus, dan berkurang menjadi

infiltrate lemak kecil dan jaringan fibrosa pada specimen lebih tua dan pada bayi baru lahir.
Penderita ICTEV memiliki otot betis ipsilateral yang lemah, yang kemungkinan berhubungan
dengan kurangnya perfusi arteri ibialis anterior.
(5)

Hipotesis Neurologi

CTEV adalah bentuk dari sindrom neurologi, sebagai contoh, sering terlihat
bersamaan dengan kelainan neurologi yang merupakan efek sekunder dari spina bifida.
Conduksi saraf yang abnormal dilaporkan pada 18 dari 44 kasus ICTEV, dimana 8
diantaranya memiliki kelainan pada level spinal.
(6)

Hipotesis gagal pertumbuhan

Selama masa perkembangan tungkai janin yang normal (minggu 9-38), kondrifikasi
kaki diselesaikan, proses osifikasi dimulai, ruang sendi dan pembentukan ligament
diselesaikan, dan tungkai distal rotasi ke medial. Proses rotasi ini memungkinkan tumit kaki
menapak ke tanah, daripada menetap dengan tumit menghadap ke dalam seperti terlihat pada
kaki pada periode embrionik akhir. Proses pronasi berlanjut setelah lahir. Bhm (1929)
meneliti hipotesis ini dan membuat model lilin dari kaki fetus pada umur kehamilan yang
berbeda. (lihat gambar). Pengamatannya membawa pada kesimpulan bahwa clubfoot berat
mirip seperti kaki embrio pada kehamilan awal minggu kedua dan kelainan bentuk ini
ditemani dengan keterlambatan perkembangan tulang dan otot. Penemuan ini kemudian
diulang oleh Kawashima & Uhthoff (1990) yang mendukung pendapat bahwa clubfoot
mungkin timbul karena gagalnya rotasi media dari kaki pada masa perkembangan fetus tahap
akhir. Memang, dapat saja ICETV ti,bul sebagai hasil terhadap kontrol genetik atas proses
rotasi ini, atau sebuah kelainan.
Beberapa teori mengenai patogenesis clubfoot sebagai berikut:

Gangguan pada perkembangan fetus di tahap fibular.

Defektinya tulang rawan talus di masa awal perkembangan.

Faktor neurogenik: Kelainan histokemikal telah ditemukan di kelompok otot


posteromedial dan peroneal pada pasien dengan clubfoot. Hal ini dipostulasikan karena
adanya perubahan inervasi pada masa kehidupan intrauterin, sekunder dari kejadian
neurologik, seperti stroke yang dapat menyebabkan hemiparesis atau paraparesis. Hal ini
diperkuat oleh adanya 35% insidensi kelainan bentuk varus dan equinovarus pada spina
bifida.

Retraksi fibrosis (myofibrosis) sekunder dari peningkatan jaringan fibrosa di otot dan
ligamen: Pada studi terhadap fetus dan kadaver, Ponseti juga menemukan kolagen pada
semua struktur ligamen dan tendon (kecuali tendon Achilles), dan sangat longgar dan dapat
diregangkan. Di sisi lain, tendon Achilles, dibentuk oleh kolagen yang padat dan sulit untuk
diregangkan. Zimny dll. Menemukan myoblas dalam fascia media pada mikroskop elektron
dan berpostulat bahwa hal itu membuat kontraktur medial.


Insersi abnormal tendon: Inclan berpendapat bahwa insersi abnormal tendon
menyebabkan clubfoot. Namun, belum ada studi yang mendukung pendapat ini. Sebenarnya,
anatomi yang terganggu akibat clubfoot dan membuat seolah-olah adanya insersi abnormal
dari tendon.

Variasi musim: Robertson mencatat variasi musim sebagai faktor dalam studi
epidemiologinya pada negara berkembang. Hal ini memiliki kesamaan variasi pada insiden
poliomyelitis pada anak-anak di komunitas tersebut. Clubfoot pun akhirnya diajukan sebagai
sequele dari kondisi polio-like pranatal. Teori ini didukung oleh adanya perubahan motor
neuron pada kornu anterior medula spinalis pada bayi-bayi tersebut.
Bagaimana cara mendiagnosis penyakit pada kasus?10 11
Cara Penegakkan Diagnosis
Telusuri secara mendalam riwayat keluarga penderita clubfoot atau gangguan neuromuskular,
dan lakukan permeriksaan umum untuk mengidentifikasi kelainan lainnya. Periksa kaki anak,
dengan melihat aspek plantar kaki, dan supinasikan untuk mengevaluasi rotasi internal dan
varus. Jika sang anak dapat berdiri, tentukan jika kakinya plantigrade, jika tumit memikul
beban, dan jika varus, valgus, atau netral.
Pemeriksaan fisik pada bayi
Merupakan pemeriksaan fisik yang dilakukan oleh bidan, perawat, atau dokter untuk menilai
status kesehatan yang dilakukan pada saat bayi baru lahir, 24 jam setelah lahir, dan pada
waktu pulang dari rumah sakit. Dalam melakukan pemeriksaan ini sebaiknya bayi dalam
keadaan telanjang di bawah lampu terang, sehingga bayi tidak mudah kehilangan panas.
Tujuan pemeriksaan fisik secara umum pada bayi adalah menilai status adaptasi atau
penyesuaian kehidupan intrauteri ke dalam kehidupan ekstrauteri serta mencari kelainan pada
bayi.
Adapun pemeriksaan fisik yang dapat dilakukan pada bayi antara lain sebagai berikut:
Hitung Frekuensi Napas
Pemeriksaan frekuensi napas ini dilakukan dengan menghitung rata-rata pernapasan dalam
satu menit. Pemeriksaan ini dikatakan normal pada bayi baru lahir apabila frekuensinya
antara 30-60 kali per menit, tanpa adanya retraksi dada dan suara merintih saat ekspirasi,
tetapi apabila bayi dalam keadaan lahir kurang dari 2.500 gram atau usia kehamilan kurang
dari 37 minggu, kemungkinan terdapat adanya retraksi dada ringan. Jika pernapasan berhenti
beberapa detik secara periodik, maka masih dikatakan dalam batas normal.
Lakukan Inspeksi pada Warna Bayi

Pemeriksaan ini berfungsi untuk mengetahui apakah ada warna pucat, ikterus, sianosis
sentral, atau tanda lainnya. Bayi dalam keadaan aterm umumnya lebih pucat dibandingkan
bayi dalam keadaan preterm, mengingat kondisi kulitnya lebih tebal.
Hitung Denyut Jantung Bayi dengan Menggunakan Stetoskop
Pemeriksaan denyut jantung untuk menilai apakah bayi mengalami gangguan vang
menyebabkan jantung dalam keadaan tidak normal, seperti suhu tubuh yang tidak normal,
perdarahan, atau gangguan napas. Pemeriksaan denyut jantung ini dikatakan normal apabila
frekuensinya antara 100-160 kali per menit, dalam keadaan normal apabila di atas 60 kali per
menit dalam jangka waktu yang relatif pendek, beberapa kali per hari, dan terjadi selama
beberapa hari pertama jika bayi mengalami distres.
Ukur Suhu Aksila
Lakukan pemeriksaan suhu melalui aksila untuk menentukan apakah bayi dalam keadaan
hipo atau hipertermi. Dalam kondisi normal suhu bayi antara 36,5-37,5 derajat celcius.
Kaji Postur dan Gerakan
Pemeriksaan ini untuk menilai ada atau tidaknya epistotonus/hiperekstensi tubuh yang
berlebihan dengan kepala dan tumit ke belakang, tubuh melengkung ke depan, adanya
kejang/ spasme, serta tremor. Pemeriksaan postur dalam keadaan normal apabila dalam
keadaan istirahat kepalan tangan longgar dengan lengan panggul dan lutut semi fleksi.
Selanjutnya pada bayi berat kurang dari 2.500 gram atau usia kehamilan kurang dari 37
minggu ekstremitasnya dalam keadaan sedikit ekstensi. Apabila bayi letak sungsang, di
dalam kandungan bayi akan mengalami fleksi penuh pada sendi panggul atau lutut/sendi lutut
ekstensi penuh, sehingga kaki bisa mencapai mulut. Selanjutnya gerakan ekstremitas bayi
harusnya terjadi secara spontan dan simetris disertai dengan gerakan sendi penuh dan pada
bayi normal dapat sedikit gemetar.
Periksa Tonus atau Kesadaran Bayi
Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat adanya letargi, yaitu penurunan kesadaran di mana
bayi dapat bangun lagi dengan sedikit kesulitan, ada tidaknya tones otot yang lemah, mudah
terangsang, mengantuk, aktivitas berkurang, dan sadar (tidur yang dalam tidak merespons
terhadap rangsangan). Pemeriksaan ini dalam keadaan normal dengan tingkat kesadaran
mulai dari diam hingga sadar penuh serta bayi dapat dibangunkan jika sedang tidur atau
dalam keadaan diam.

Pemeriksaan Ekstremitas
Pemeriksaan ini berfungsi untuk menilai ada tidaknya gerakan ekstremitas abnormal,
asimetris, posisi dan gerakan yang abnormal (menghadap ke dalam atau ke luar garis tangan),
serta menilai kondisi jari kaki, yaitu jumlahnya berlebih atau saling melekat.
Pemeriksaan Kulit
Pemeriksaan ini berfungsi untuk melihat ada atau tidaknya kemerahan pada kulit atau
pembengkakan, postula (kulit melepult), luka atau trauma, bercak atau tanda abnormal pada
kulit, elastisitas kulit, serta ada tidaknya main popok (bercak merah terang dikulit daerah
popok pada bokong). Pemeriksaan ini normal apabila tanda seperti eritema toksikum(titik
merah dan pusat putih kecil pada muka, tubuh, dan punggung) pada hari kedua atau
selanjutnya, kulit tubuh yang terkelupas pada hari pertama.
Pemeriksaan Tali Pusat
Pemeriksaan ini unluk melihat apakah ada kemerahan, bengkak, bernanah, berbau, atau
lainnya pada tali pusat. Pemeriksaan ini normal apabila warna tali pusat putih kebiruan pada
hari pertama dan mulai mengering atau mengecil dan lepas pada hari ke-7 hingga ke-10.
Pemeriksaan Kepala dan Leher
Pemeriksaan

bagian

kepala

yang

dapat

diperiksa

antara

lain

sebagai

berikut:

1. Pemeriksaan rambut dengan menilai jumlah dan warna, adanya lanugo terutama pada
daerah bahu dan punggung.
2. Pemeriksaan wajah dan tengkorak, dapat dilihat adanya maulage, yaitu tulang tengkorak
yang saling menumpuk pada saat lahir untuk dilihat asimetris atau tidak. Ada tidaknya caput
succedaneum (edema pada kulit kepala, lunak dan tidak berfluktuasi, batasnya tidak tegas,
serta menyeberangi sutura dan akan hilang dalam beberapa hari). Adanya cephal hematom
terjadi sesaat setelah lahir dan tidak tampak pada hari pertama karena tertutup oleh caput
succedaneum, konsistensinya lunak, berfluktuasi, berbatas tegas pada tepi hilang tengkorak,
tidak menyeberangi sutura,dan apabila menyeberangi sutura akan mengalami fraktur tulang
tengkorak yang akan hilang sempurna dalam waktu 2-6 bulan. Adanya perdarahan yang
terjadi karena pecahnya vena yang menghubungkan jaringan di luar sinus dalam tengkorak,
batasnya tidak tegas, sehingga bentuk kepala tampak asimetris. Selanjutnya diraba untuk
menilai adanya fluktuasi dan edema. Pemeriksaan selanjutnya adalah menilai fontanella
dengan cara melakukan palpasi menggunakan jari tangan, kemudian fontanel posterior dapat
dilihat proses penutupannya setelah usia 2 bulan, dan fontanel anterior menutup saat usia 1218 bulan.

3. Pemeriksaan mata untuk menilai adanya strabismus atau tidak, yaitu koordinasi gerakan
mata yang belum sem purna. Cara memeriksanya adalah dengan menggoyangkan kepala
secara perlahan-lahan, sehingga mata bayi akan terbuka, kemudian baru diperiksa. Apabila
ditemukan jarang berkedip atau sensitivitas terhadap cahaya berkurang, maka kemungkinan
mengalami kebutaan. Apabila ditemukan adanya epicantus melebar, maka kemungkinan anak
mengalami sindrom down. Pada glaukoma kongenital, dapat terlihat pembesaran dan terjadi
kekeruhan pada kornea. Katarak kongenital dapat dideteksi apabila terlihat pupil yang
berwarna putih. Apabila ada trauma pada mata maka dapat terjadi edema palpebra,
perdarahan konjungtiva, retina, dan lain-lain.
4. Pemeriksaan telinga dapat dilakukan untuk menilai adanya gangguan pendengaran.
Dilakukan dengan membunyikan bel atau suara jika terjadi refleks terkejut, apabila tidak
terjadi refleks, maka kemungkinan akan terjadi gangguan pendengaran.
5. Pemeriksaan hidung dapat dilakukan dengan cara melihat pola pernapasan, apabila bayi
bernapas melalui mulut, maka kemungkinan bayi mengalami obstruksi jalan napas karena
adanya atresia koana bilateral atau fraktur tulang hidung atau ensefalokel yang menonjol ke
nasofaring. Sedangkan pernapasan cuping hidung akan menujukkan gangguan pada paru,
lubang hidung kadang-kadang banyak mukosa. Apabila sekret mukopurulen dan berdarah,
perlu dipikirkan adanya penyakit sifilis kongenital dan kemungkinan lain.
6. Pemeriksaan mulut dapat dilakukan dengan melihat adanya kista yang ada pada mukosa
mulut. Pemeriksaan lidah dapat dinilai melalui warna dan kemampuan refleks mengisap.
Apabila ditemukan lidah yang menjulur keluar, dapat dilihat adanya kemungkinan kecacatan
kongenital. Adanya bercak pada mukosa mulut, palatum, dan pipi bisanya disebut sebagai
monilia albicans, gusi juga perlu diperiksa untuk menilai adanya pigmen pada gigi, apakah
terjadi penumpukan pigmen yang tidak sempurna.
7. Pemeriksaan leher dapat dilakukan dengan melihat pergerakan, apabila terjadi keterbatasan
dalam pergerakannya, maka kemungkinan terjadi kelainan pada tulang leher, misalnya
kelainan tiroid, hemangioma, dan lain-lain.
Pemeriksaan Abdomen dan Punggung
Pemeriksaan pada abdomen ini meliputi pemeriksaan secara inspeksi untuk melihat bentuk
dari abdomen, apabila didapatkan abdomen membuncit dapat diduga kemungkinan
disebabkan hepatosplenomegali atau cairan di dalam rongga perut. Pada perabaan, hati
biasanya teraba 2 sampai 3 cm di bawah arkus kosta kanan, limfa teraba 1 cm di bawah arkus
kosta kiri. Pada palpasi ginjal dapat dilakukan dengan pengaturan posisi telentang dan

tungkai bayi dilipat agar otot-otot dinding perut dalam keadaan relaksasi, batas bawah ginjal
dapat diraba setinggi umbilikus di antara garis tengah dan tepi perut. Bagian-bagian ginjal
dapat diraba sekitar 2-3 cm. Adanya pembesaran pada ginjal dapat disebabkan oleh
neoplasma, kelainan bawaan, atau trombosis vena renalis. Untuk menilai daerah punggung
atau tulang belakang, cara pemeriksaannya adalah dengan meletakkan bayi dalam posisi
tengkurap. Raba sepanjang tulang belakang untuk mencari ada atau tidaknya kelainan seperti
spina bifida atau mielomeningeal (defek tulang punggung, sehingga medula spinalis dan
selaput otak menonjol).
Pengukuran Antropometri
Pada bayi baru lahir, perlu dilakukan pengukuran antropometri seperti berat badan, dimana
berat badan yang normal adalah sekitar 2.500-3.500 gram, apabila ditemukan berat badan
kurang Bari 2.500 gram, maka dapat dikatakan bayi memiliki berat badan lahir rendah
(BBLR). Akan tetapi, apabila ditemukan bavi dengan berat badan lahir lebih dari 3.500 gram,
maka bayi dimasukkan dalam kelompok makrosomia. Pengukuran antropometri lainnya
adalah pengukuran panjang badan secara normal, panjang badan bayi baru lahir adalah 45-50
cm, pengukuran lingkar kepala normalnya adalah 33-35 cm, pengukuran lingkar dada
normalnya adalah 30-33 cm. Apabila ditemukan diameter kepala lebih besar 3 cm dari lingkar
dada, maka bayi mengalami hidrosefalus dan apabila diameter kepala lebih kecil 3 cm dari
lingkar dada, maka bayi tersebut mengalami mikrosefalus.
Pemeriksaan Genitalia
Pemeriksaan genitalia ini untuk mengetahui keadaan labium minor yang tertutup oleh labia
mayor, lubang uretra dan lubang vagina seharusnya terpisah, namun apabila ditemukan sstu
lubang maka didapatkan terjadinya kelainan dan apabila ada sekret pada lubang vagina, hal
tersebut karena pengaruh hormon. Pada bayi laki-laki sering didapatkan fimosis, secara
normal panjang penis pada bayi adalah 3-4 cm dan 1-1,3 cm untuk lebaruya, kelainan yang
terdapat pada bayi adalah adanya hipospadia yang merupakan defek di bagian ventral ujung
penis atau defek sepanjang penisnya. Epispadia merupakan kelainan defek pada dorsinn
penis.
Pemeriksaan pada Clubfoot
Saat ini terdapat suatu sistem penilaian yang dirancang oleh prof. dr. Shafiq Pirani, seorang
ahli ortopaedist di Inggris. Sistem ini dinamakan The Pirani Scoring System. Dengan
menggunakan sistem ini, kita dapat mengidentifikasi tingkat keparahan dan memonitor
perkembangan suatu kasus CTEV selama koreksi dilakukan.

Sistem ini terdiri dari 6 kategori, masing-masing 3 dari hindfoot dan midfoot.

Untuk

hindfoot, kategori terbagi menjadi tonjolan posterior/posterior crease (PC), kekosongan


tumit/emptiness of the heel (EH), dan derajat dorsofleksi yang terjadi/degree of dorsiflexion
(DF).

Sedangkan

untuk

kategori

midfoot,

terbagi

menjadi

kelengkungan

batas

lateral/curvature of the lateral border (CLB), tonjolan di sisi medial/medial crease (MC) dan
tereksposnya kepala lateral talus/uncovering of the lateral head of the talus (LHT).
Cara untuk menghitung Pirani Score adalah sebagai berikut :
a. Curvature of the Lateral Border of the foot (CLB)
Batasan lateral dari kaki normalnya lurus. Adanya batas kaki yang nampak melengkung
menandakan terdapatnya kontraktur medial.

Lihat pada bagian plantar pedis dan letakkan batangan/penggaris di bagian lateral kaki.
Normalnya, batas lateral kaki nampak lurus, mulai dari tumit sampai ke kepala metatarsal
kelima. Apabila didapatkan batas lateral kaki lurus, maka skor yang diberikan adalah 0.

Pada kaki yang abnormal, batas lateral nampak menjauhi garis lurus tersebut. Batas lateral
yanng nampak melengkung ringan diberi nilai 0,5 (lengkungan terlihat di bagian distal kaki
pada area sekitar metatarsal).

Kelengkungan batas lateral kaki yang nampak jelas diberi nilai 1 (kelengkungan tersebut
nampak setinggi persendian kalkaneokuboid).
b. Medial crease of the foot (MC)
Pada keadaan normal, kulit pada daerah telapak kaki akan memperlihatkan garis-garis halus.
Lipatan kulit yang lebih dalam dapat menandakan adanya kontraktur di daerah medial.
Pegang kaki dan tarik dengan lembut saat memeriksa.

Lihatlah pada lengkung dari batas medial kaki. Normalnya akan terlihat adanya garis-garis
halus pada kulit telapak kaki yang tidak merubah kontur dari lengkung medial tersebut. Pada
keadaan seperti ini, maka nilai dari MC adalah 0.

Pada kaki yang abnormal, maka akan nampak adanya satu atau dua lipatan kulit yang dalam.
Apabila hal ini tidak terlalu banyak mempengaruhi kontur lengkung medial, maka nilai MC
adalah sebesar 0,5.

Apabila lipatan ini tampak dalam dan dengan jelas mempengaruhi kontur batas medial kaki,
maka nilai MC adalah sebesar 1.
c. Posterior crease of the ankle (PC)
Pada keadaan normal, kulit pada bagian tumit posterior akan memperlihatkan lipatan kulit
multipel halus. Apabila terdapat adanya lipatan kulit yang lebih dalam, maka hal tersebut
menunjukkan adanya kemungkinan kontraktur posterior yang lebih berat. Tarik kaki dengan
lembut saat memeriksa.

Pemeriksa melihat ke tumit pasien. Normalnya akan terlihat adanya garis-garis halus yang
tidak merubah kontur dari tumit. Lipatan-lipatan ini menyebabkan kulit dapat menyesuaikan
diri, sehingga dapat meregang saat kaki dalam posisi dorsofleksi. Pada kondisi ini, maka nilai
untuk PC adalah 0.

Pada kaki yang abnormal, maka akan didapatkan satu atau dua lipatan kulit yang dalam.
Apabila lipatan ini tidaak terlalu mempengaruhi kontur dari tumit, maka nilai dari PC adalah
sebesar 0,5.

Apabila pada pemeriksaan ditemukan lipatan kulit yang dalam di daerah tumit dan hal
tersebut merubah kontur tumit, maka nilai dari PC adalah sebesar 1.
d. Lateral part of the Head of the Talus (LHT)
Pada kasus CTEV yang tidak diterapi, maka pemeriksa dapat meraba kepala Talus di bagian
lateral. Dengan terkoreksinya deformitas, maka tulang navikular akan turun menutupi kepala
talus, kemudian hal tersebut akan membuat menjadi lebih sulit teraba, dan pada akhirnya
tidak dapat teraba sama sekali. Tanda turunnya navikular menutupi kepala talus adalah
pengukur besarnya kontraktur di daerah medial.

Foto Polos
Metode evaluasi radiologis yang standar digunakan adalah foto polos. Pemeriksaan harus
mencakup gambaran tumpuan berat karena stress yang terlibat dapat terjadi berulang-ulang.
Pada infant, tumpuan berat dapat disimulasikan dengan pemberian stress dorsal flexi

Gambar. Gambaran kaki normal

Gambar 7. Gambaran lateral talipes equinovarus menunjukkan elevasi sudut tibiocalcaneal yang abnormal.
Sudut yang normal adalah 60-900.

Gambar 10. Proyeksi dorsoplantar dari kaki normal menunjukkan bahwa garis yang melalui aksis panjang talus
melintasi secara medial ke arah dasar metatarsal pertama. Ukuran sudut talokalkaneus dapat terlihat. Ukuran
normalnya yaitu 15-40.

Gambar 11. Gambaran Dorsoplantar dari pasien dengan CTEV unilateral menunjukkan bahwa talus dan
kalkaneus lebih tumpang tindih (overlapping) daripada kaki normal. Sudut talocalcanues 15 atau kurang.
Perhatikan bahwa garis yang melalui aksis panjang dari talus melintas secara lateral ke metatarsal pertama
karena posisi varus dari kaki depan.

Ukuran

Kaki normal

Sudut

60-90

Tibiocalcaneal

lateral

Sudut Talocalcaneal 25-45


lateral,

pada

CTEV
gambaran >90 ( equinus kaki belakang ) pada
gambaran lateral

pada

gambaran <

15-40

gambaran DP
Konvergensi

Sedikit

Metatarsal

lateral,

pada

kaki belakang)

pada

pada gambaran lateral, < 15 (varus kaki


belakang) pada gambaran DP

gambaran Tidak ada (supinasi kaki depan) pada

sedikit

gambaran DP

25 (varus

pada gambaran lateral, peningkatan (supinasi


kaki depan) pada gambaran DP

CT-Scan
Beberapa artikel mengenai kegunaan CT scan pada elevasi di CTEV telah dipublikasikan.
Kerugian dari CT scan termasuk risiko radiasi ionisasi, kurangnya osifikasi pada tulang
tarsal, suseptibilitas dari artifak gambar dan gerakan, dan dibutuhkannya peralatan yang
mahal dan aplikasi software untuk rekonstruksi multiplanar. Di sisi lain, deformitas 3 dimensi
yang kompleks ini dapat dinilai dengan lebih baik dengan rekonstruksi 3 dimensi jika
dibandingkan dengan radiografi 2 dimensi. Penggunaan CT dalam evaluasi artikulasi talus
pada trauma dan koalisi tarsal telah digunakan secara luas.
MRI
Saat ini MRI tidak dilakukan untuk pemeriksaan radiologi CTEV, dan terbatasnya
pengalaman penggunaan MRI telah dipublikasikan dalam literature. Penggunaan MRI
terbatas karena berbagai kerugian, diantaranya:dibutuhkan alat khusus dan sedasi pasien,
besarnya pengeluaran untuk software yang digunakan, hilangnya sinyal yang disebabkan oleh
efek feromagnetik dari alat fiksasi, dan waktu tambahan yang dibutuhkan untuk transfer data
dan postprocessing. Di sisi lain, keuntungan dari MRI jika dibandingkan dengan foto polos
dan CT adalah kapabilitas imaging multiplanar dan penggambaran yang sangat baik untuk
nucleus osifikasi, kartilago anlage (primordium) serta struktur jaringan lunak disekitarnya.

Ultrasonografi (USG)
Telah dilakukan beberapa penelitian mengenai temuan USG pada kaki normal ataupun
CTEV, meskipun kegunaan klinis dari modalitas ini tidak umum digunakan. Kekurangan
terbesar dari USG adalah ketidakmampuan gelombang suara untuk menembus seluruh tulang,
terutama jika terdapat bekas luka post operasi. Keuntungan ultrasonografi termasuk tidak
ada / kurangnya radiasi pengion, tidak membutuhkan obat sedative, kemampuannya untuk
menggambarkan bagian tulang yang tidak terosifikasi, dan kapasitasnya dalam hal imaging
dynamics.
Angiografi
Angiogram dapat menunjukkan abnormalitas ukuran dan distribusi pembuluh darah kecil
pada CTEV, tapi temuan ini masih terbatas dalam kegunaannya secara klinis.

Bagaimana diagnosis banding dari kasus (associated CTEV abnormality) ?11 1


Diagnosis Banding
Postural clubfoot disebabkan karena posisi fetus dalam uterus. Jenis abnormalitas kaki
seperti ini dapat dikoreksi secara manual oleh pemeriksa. Postural clubfoot memberi respon
baik dengan pemasangan gips serial dan jarang relaps.
Metatarsus adductus (atau varus) adalah suatu deformitas dari tulang metatarsal saja.
Forefoot mengarah pada garis tengah tubuh, atau berada pad aposisi addkutus. Abnormalitas
ini dapat dikoreksi dengan manipulasi dan pemasangan gips serial.
Bagaimana komplikasi dari kasus?10 11
Infeksi (jarang)
Kekakuan dan keterbatasan gerak : adanya kekakuan yang muncul di awal berhubungan
dengan hasil yang kurang baik.
Nekrosis avaskular talus : sekitar 40% kejadian nekrosis avaskular talus muncul pada tehnik
kombinasi pelepasan medial dan lateralis.
Dapat terjadi overkoreksi yang mungkin dikarenakan :
Pelepasan ligamen interoseus dari persendian subtalus
Perpindahan tulang navikular yang berlebihan ke arah lateral
Adanya perpanjangan tendon

Bagaimana prognosis dari kasus?11 1


Dubia ad bonam
Kurang lebih 50% dari kasus CTEV pada bayi baru lahir dapat dikoreksi tanpa
tindakan operatif. dr Ponseti melaporkan tingkat kesuksesan sebesar 89% dengan
menggunakan tehniknya (termasuk dengan tenotomi tendon Achilles). Peneliti lain
melaporkan rerata tingkat kesuksesan sebesar 10-35%. Sebagian besar kasus melaporkan
tingkat kepuasan setinggi 75-90%, baik dari segi penampilan maupun fungsi kaki.
Hasil yang memuaskan didapatkan pada kurang lebih 81% kasus. Faktor utama yang
mempengaruhi hasil fungsional adalah rentang gerakan pergerakan kaki, dimana hal tersebut
dipengaruhi oleh derajat pendataran kubah dari tulang talus. Tiga puluh delapan persen dari
pasien dengan kasus CTEV membutuhkan tindakan operatif lebih lanjut (hampir 2/3 nya
adalah prosedur pembentukan ulang tulang).
Rerata tingkat kekambuhan deformitas mencapai 25%, dengan rentang antara 10-50%.
Hasil terbaik didapatkan pada anak-anak yang dioperasi pada usia lebih dari 3 bulan
(biasanya dengan ukuran lebih dari 8 cm).