Anda di halaman 1dari 8

BAGIAN ILMU FILSAFAT

TUGASAN MAKALAH

NAMA : MOHAMAD NURAMIN BIN MASROM


NIM

: C11112817

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2013
AHLI FILSAFAT AL-FARABI

PENDAHULUAN
Nama lengkapnya Abu Nashr Muhammad ibn Muhammad ibn Tarkhan ibn Auzalagh.
Dikalangan orang-orang latin abad tengah, Al-Farabi lebih dikenal dengan Abu Nashr. Ia lahir di
Wasij, Distrik Farab (sekarang kota Atrar), Turkistan pada 257 H. Pada tahun 330 H, ia pindah ke
Damaskus dan berkenalan dengan Saif al-Daulah al-Hamdan, sultan dinasti Hamdan di Allepo.
Sultan memberinya kedudukan sebagai seorang ulama istana dengan tunjangan yang sangat
besar, tetapi Al-Farabi memilih hidup sederhana dan tidak tertarik dengan kemewahan dan
kekayaan. Al-Farabi dikenal sebagai filsuf Islam terbesar, memiliki keahlian dalam banyak
bidang keilmuan dan memandang filsafat secara utuh dan menyeluruh serta mengupasnya secara
sempurna, sehingga filsuf yang datang sesudahnya, seperti Ibnu Sina dan Ibn Rusyd banyak
mengambil dan mengupas sistem filsafatnya.
BIOGRAFI
Al-Farabi merupakan salah satu ilmuwan Islam, beliau juga dikenal sebagai: fisikawan,
kimiawan, filsuf, ahli ilmu logika, ilmu jiwa, metafisika, politik, musik, dll.
Al-Farabi lahir di Farab, tahun 257 H / 870 M dan wafat di Haleb (Aleppo) pada tahun 339 H /
950 M. Nama lengkapnya Abu Nasr Muhammad bin Muhammad bin Tarkhan bin Uzlag. Filsuf
muslim terkemuka pada zamannya yang sukar dicari padanannya.
Dimasa kecil, ia yang dikenal rajin belajar dan memiliki otak yang cerdas, belajar agama, bahasa
Arab, bahasa Turki, dan bahasa Parsi di kota kelahirannya, Farab. Setelah besar al-Farabi pindah
ke Baghdad dan tinggal selama 20 tahun. Di Baghdad ia memperdalam filsafat, logika,
matematika, etika, ilmu politik, musik, dll. Dari Baghdad Al-Farabi kemudian pindah ke Harran
(Iran). Disana ia mempelajari filsafat Yunani kepada beberapa ahli diantaranya Yuhana bin
Hailan. Dari Harran kemudian pindah lagi ke Baghdad.
Selama di Baghdad waktunya dihabiskan untuk mengajar dan menulis. Hasil karyanya
diantaranya buku tentang ilmu logika, fisika, ilmu jiwa, metafisika, kimia, ilmu politik, musik, dll.
Tapi kebanyakan karyakaryanya yang ditulis dalam bahasa Arab telah hilang dari peredaran.
Sekarang yang masih tersisa diperkirakan hanya sekitar 30 buah. Diantara karyakaryanya antara
lain :

1. Agrad al Kitab ma Bada Tabiah (Intisari Buku Metafisika)


2. AlJamu Baina Rayai alHakimaini (Mempertemukan dua pendapat Filusuf : Plato dan
Aristoteles)
3. Uyun al Masail ( Pokok pokok persoalan )
4. Arau Ahl alMadinah (Pikiran pikiran Penduduk Kota)
5. Ihsa al Ulum (Statistik Ilmu)
Ketika pergolakan politik di Baghdad memuncak pada tahun 330 H/941 M, alFarabi merantau
ke Haleb (Aleppo), disana ia mendapat perlakuan istimewa dari sultan Dinasti Hamdani yang
berkuasa ketika itu, yakni Saifuddawlah. Karena perlakuan baiknya maka al-Farabi tetap tinggal
di sana sampai akhir hayatnya.
PEMIKIRAN
a)

Pemaduan Filsafat

Al-Farabi berusaha memadukan beberapa aliran filsafat yang berkembang sebelumnya terutama
pemikiran Plato, Aristoteles, dan Plotinus, juga antara agama dan filsafat. Karena itu ia dikenal
filsuf sinkretisme yang mempercayai kesatuan filsafat. Dalam ilmu logika dan fisika, ia
dipengaruhi oleh Aristoteles. Dalam masalah akhlak dan politik, ia dipengaruhi oleh Plato.
Sedangkan dalam hal matematika, ia dipengaruhi oleh Plotinus.
Untuk mempertemukan dua filsafat yang berbeda seperti dua halnya Plato dan Aristoteles
mengenai idea. Aristoteles tidak mengakui bahwa hakikat itu adalah idea, karena apabila hal itu
diterima berarti alam realitas ini tidak lebih dari alam khayal atau sebatas pemikiran saja.
Sedangkan Plato mengakui idea merupakan satu hal yang berdiri sendiri dan menjadi hakikat
segala-galanya. Al-Farabi menggunakan interpretasi batini, yakni dengan menggunakan tawil
bila menjumpai pertentangan pikiran antara kedanya. Menurut Al-Farabi, sebenarnya Aristoteles
mengakui alam rohani yang terdapat diluar alam ini. Jadi kedua filsuf tersebut sama-sama

mengakui adanya idea-idea pada zat Tuhan. Kalaupun terdapat perbedaan, maka hal itu tidak
lebih dari tiga kemungkinan:
1)

Definisi yang dibuat tentang filsafat tidak benar

2)

Adanya kekeliruan dalam pengetahuan orang-orang yang menduga bahwa antara keduanya

terdapat perbedaan dalam dasa-dasar falsafi.


3)

Pengetahuan tentang adanya perbedaan antara keduanya tidak benar, padahal definisi

keduanya tidaklah berbeda, yaitu suatu ilmu yang membahas tentang yang ada secara mutlak.
Adapun perbedaan agama dengan filsafat, tidak mesti ada karena keduanya mengacu kepada
kebenaran, dan kebenaran itu hanya satu, kendatipun posisi dan cara memperoleh kebenran itu
berbeda, satu menawarkan kebenaran dan lainnya mencari kebenaran. Kalaupun terdapat
perbedaan kebenaran antara keduanya tidaklah pada hakikatnya, dan untuk menghindari itu
digunakab tawil filosofis. Dengan demikian, filsafat Yunani tidak bertentangan secara hakikat
dengan ajaran Islam, hal ini tidak berarti Al-farabi mengagungkan filsafat dari agama. Ia tetap
mengakui bahwa ajaran Islam mutlak kebenarannya.
b)

Jiwa

Adapun jiwa, Al-Farabi juga dipengaruhi oleh filsafat Plato, Aristoteles dan Plotinus. Jiwa
bersifat ruhani, bukan materi, terwujud setelah adanya badan dan tidak berpindah-pindah dari
suatu badan ke badan lain. Kesatuan antara jiwa dan jasad merupakan kesatuan secara accident,
artinya antara keduanya mempunyai substansi yang berbeda dan binasanya jasad tidak membawa
binasanya jiwa. Jiwa manusia disebut al-nafs al-nathiqah, yang berasal dari alam ilahi,
sedangkan jasad berasal dari alam khalq, berbentuk, beruapa, berkadar, dan bergerak. Jiwa
diciptakan tatkala jasad siap menerimanya.
Mengenai keabadian jiwa, Al-Farabi membedakan antara jiwa kholidah dan jiwa fana. Jiwa
khalidah yaitu jiwa yang mengetahui kebaikan dan berbuat baik, serta dapat melepaskan diri dari
ikatan jasmani. Jiwa ini tidak hancur dengan hancurnya badan.

c)

Politik

Pemikiran Al-Farabi lainnya yang sangat penting adalah tentang politik yang dia tuangkan dalam
karyanya, al-Siyasah al- Madiniyyah (Pemerintahan Politik) dan ara al-Madinah al-Fadhilah
(Pendapat-pendapat tentang Negara Utama) banyak dipengaruhi oleh konsep Plato yang
menyamakan negara dengan tubuh manusia. Ada kepala, tangan, kaki dan anggota tubuh lainnya
yang masing-masing mempunyai fungsi tertentu. Yang paling penting dalam tubuh manusia
adalah kepala, karena kepalalah (otak) segala perbuatan manusia dikendalikan, sedangkan untuk
mengendalikan kerja otak dilakukan oleh hati. Demikian juga dalam negara. Menurut Al-Farabi
yang amat penting dalam negara adalah pimpinannya atau penguasanya, bersama-sama dengan
bawahannya sebagai mana halnya jantung dan organ-organ tubuh yang lebih rendah secara
berturut-turut. Pengusa ini harus orang yang lebih unggul baik dalam bidang intelektual maupun
moralnya diantara yang ada. Disamping daya profetik yang dikaruniakan Tuhan kepadanya, ia
harus memilki kualitas-kualitas berupa: kecerdasan, ingatan yang baik, pikiran yang tajam, cinta
pada pengetahuan, sikap moderat dalam hal makanan, minuman, dan seks, cinta pada kejujuran,
kemurahan hati, kesederhanaan, cinta pada keadilan, ketegaran dan keberanian, serta kesehatan
jasmani dan kefasihan berbicara.
Tentu saja sangat jarang orang yang memiliki semua kualitas luhur tersebut, kalau terdapat lebih
dari satu, maka menurut Al-Farabi yang diangkat menjadi kepala negara seorang saja, sedangkan
yang lain menanti gilirannya. Tetapi jika tidak terdapat seorang pun yang memiliki secara utuh.
Dua belas atribut tersebut, pemimpin negara dapat dipikul secara kolektif antara sejumlah warga
negara yang termasuk kelas pemimpin.
Pemikiran Al-Farabi tentang kenegaraan terkesan ideal sebagaimana halnya konsepsi yang
ditawarkan oleh Plato. Hal ini dimungkinkan, Al-Farabi tidak pernah memangku suatu jabatan
pemerintahan, ia lebih menyenangi berkhalawat, menyendiri, sehingga ia tidak mempunyai
peluang untuk belajar dari pengalaman dalam pengelolaan urusan kenegaraan. Kemungkinan lain
yang melatarbelakangi pemikiran Al-Farabi itu adalah situasi pada waktu itu, kekuasaan
Abbassiyah diguncangkan oleh berbagai gejolak, pertentangan dan pemberontakan.

JASA & SUMBANGAN


Jasa Al-Farabi bagi perkembangan ilmu filsafat pada umumnya dan filsafat Islam pada
khususnya sangat besar. Menurut berbagai sumber, ia menguasai 70 jenis bahasa dunia, karena
itulah al Farabi dikenal menguasai banyak cabang keilmuan.
Dalam bidang ilmu pengetahuan, keahliannya yang paling menonjol ialah dalam ilmu *mantik
(logika). Kepiawaiannya dibidang ini jauh melebihi gurunya, Aristoteles. Menurut al Ahwani,
pengarang alFalsafah al Islamiyyah, besar kemungkinan gelar Guru Kedua (al-Muallim
asSani) yang disandang al-Farabi diberikan orang karena kemashurannya dalam bidang ilmu
mantik. Dialah orang yang pertama memasukkan ilmu logika kedalam kebudayaan Arab,
sebagaimana Aristoteles yang dijuluki Guru Pertama (al Muallim al Awwal) karena dialah
yang pertama kali menemukan ilmu logika dengan melatakkan dasar dasarnya.
Dibidang filsafat, Al-Farabi tergolong ke dalam kelompok filusuf kemanusiaan. Ia lebih
mementingkan soalsoal kemanusiaan seperti akhlak (etika), kehidupan intelektual, politik, dan
seni.
Filsafat Al-Farabi sebenarnya merupakan campuran antara filsafat Aristoteles dan Neo
Platonisme dengan pikiran keislaman yang jelas dan corak aliran Syiah Imamiah. Dalam soal
ilmu mantik dan filsafat fisika, umpamanya ; ia mengikuti pemikiranpemikiran Aristoteles,
sedangkan dalam lapangan metafisika alFarabi mengikuti jejak Plotinus (205 270), seorang
tokoh utama Neoplatonisme.
Al-Farabi berkeyakinan penuh bahwa antara agama dan filsafat tidak terdapat pertentangan
karena sama sama membawa kepada kebenaran. Namun demikian, ia tetap berhati hati atau
bahkan khawatir kalau kalau filsafat itu membuat iman seorang menjadi rusak, dan oleh karena
itu ia berpendapat seyogianya disamping dirumuskan dengan bahasa yang samar samar, filsafat
juga hendaknya jangan sampai bocor ke tangan orang awam.

Di antara pemikiran filsafat Al-Farabi yang terkenal adalah penjelasannya tentang emanasi (alfaid), yaitu teori yang mengajarkan tentang proses urut urutan kejadian suatu wujud yang
mungkin (alam makhluk) dari Zat yang wajib al wujud (Tuhan). Menurut nya, Tuhan adalah
akal pikiran yang bukan berupa benda. Segala sesuatu, menurut al-Farabi, keluar (memancar)
dari Tuhan karena Tuhan mengetahui bahwa Ia menjadi dasar susunan wujud yang sebaik
baiknya. Ilmu-Nya menjadi sebab bagi wujud semua yang diketahui-Nya.
Bagaimana cara emanasi itu terjadi? Al-Farabi mengatakan bahwa Tuhan itu benar benar Esa
sama sekali. karena itu, yang keluar dari pada Nya juga tentu harus satu wujud saja. Kalau
yang keluar dari zat Tuhan itu terbilang, maka berarti zat Tuhan juga terbilang. Menurut AlFarabi dasar adanya emanasi ialah karena dalam pemikiran Tuhan dan pemikiran akal-akal
yang timbul dari Tuhan terdapat kekuatan emanasi dan penciptaan.
Selain filsafat emanasi, Al-Farabi juga terkenal dengan filsafat kenabian dan filsafat politik
kenegaraannya. Dalam hal filsafat kenabian, al-Farabi disebut sebut sebagai filusuf pertama
yang membahas soal kenabian secara lengkap. Al-Farabi berkesimpulan bahwa para nabi /
rasul maupun para flusuf sama sama dapat berkomunikasi dengan akal Faal, yakni akan ke
sepuluh (malaikat). Perbedaannya, komunikasi nabi / rasul dengan akal kesepuluh terjadi
melalui perantaraan imajinasi (al-mutakhayyilah) yang sangat kuat, sedangkan para filusuf
berkomunikasi dengan akal kesepuluh melalui akal Mustafad, yaitu akal yang mempunyai
kesanggupan dalam menangkap inspirasi dari akal kesepuluh yang ada diluar diri manusia.
Dalam hal filsafat kenegaraan, Al-Farabi membedakan menjadi lima macam:
1. Negara Utama (al-madinah al-fadilah), yaitu negara yang penduduknya berada dalam
kebahagiaan. Menurutnya negara terbaik adalah negara yang dipimpin oleh rasul dan
kemudian oleh para filusuf;
2. Negara orang orang bodoh (al-madinah al-jahilah), yaitu negara yang penduduknya
tidak mengenal kebahagiaan;

3. Negara orang orang fasik (al-madinah al-fasiqah), yakni negara yang penduduknya
mengenal kebahagiaan, Tuhan dan akal Faalal-madinah al-fadilah), tetapi tingkah laku
mereka sama dengan penduduk negeri yang bodoh;seperti penduduk utama (
4. Negara yang berubah ubah (al-madinah almutabaddilah), ialah negara yang
penduduknya semula mempunyai pikiran dan pendapat seperti yang dimiliki negra
utama, tetapi kemudian mengalami kerusakan;
5. Negara sesat (al-madinah ad-dallah), yaitu negara yang penduduknya mempunyai
konsepsi pemikiran yang salah tentang Tuhan dan akal Faal, tetapi kepala negaranya
beranggapan bahwa dirinya mendapat wahyu dan kemudian ia menipu orang banyak
dengan ucapan dan perbuatannya.