Anda di halaman 1dari 18

Jembatan garam

Jembatan aram biasanya berupa tabung berbentuk U yang diisi dengan agar-agar yang dijenuhkan dengan KCl.
Jembatan garam berfungsi untuk menjaga kenetralan muatan listrik pada larutan. Karena konsentrasi larutan
elektrolit pada jembatan garam lebih tinggi daripada konsentrasi elektrolit di kedua bagian elektroda, maka ion
negatif dari jembatan garam masuk ke salah satu setengah sel yang kelebihan muatan positif dan ion positif dari
jembatan garam berdifusi ke bagian lain yang kelebihan muatan negatif.
Dengan adanya jembatan garam terjadi aliran electron yang kontinu melalui kawat pada rangkaian luar dan aliran
ion-ion melalui larutan sebagai akibat dari reaksi redoks yang spontan yang terjadi pada kedua elektroda.
Jika kedua elektrolit pada sel dipisahkan sama sekali tanpa adanya jembatan garam, maka dapat dilihat bahwa aliran
electron akan segera berhenti. Hal ini terjadi karena pada kedua elektroda terjadi ketidaknetralan listrik, di satu
bagian kelebihan muatan positif dan di bagian lain kelebihan muatan negatif. Dengan adanya jembatan garam dapat
terjadi penetralan muatan listrik di setiap elektroda melalui difusi ion-ion, akan tetapi kedua larutan elektroda tetap
dapat dijaga untuk tidak saling bercampur secara bebas, sebab kalau dibiarkan bercampur maka ion-ion Cu 2+ akan
bereaksi langsung dengan elektroda Zn, dan electron tidak akan mengalir melalui kawat pada rangkaian luar.
Penggunaan agar-agar mempunyai keuntungan, diantaranya menjaga agar larutan elektrolit di satu bagian elektroda
tidak mengalir ke bagian elektroda lainnya saat permukaan kedua larutan elektrolit di kedua elektrolit berbeda.
Adanya jembatan garam menyebabkan adanya pertemuan cairan elektrolit. Hal ini menyebabkan munculnya
potensial perbatasan di kedua cairan, tapi potensial cairan-perbatasan (E j) antara larutan KCl (pekat dalam agar-agar)
dengan larutan encer pada setengah sel sangat kecil. Hal ini terjadi karena larutan KCl yang digunakan pekat
sehingga potensial perbatasan terutama ditentukan oleh ion-ion dari larutan tersebut, sementara ion-ion dari larutan
encer memberikan kontribusi yang dapat diabaikan terhadap potensial perbatasan.
Karena mobilitas ion K+ dan Cl- dalam air hampir sama, maka ion-ion ini berdifusi keluar dari jembatan garam ke
dalamlarutan encer pada kecepatan yang hampir sama dan oleh karena itu potensil perbatasannya juga sangat kecil.
Pertemuan cairan perbatasan dengan adanya jembatan garam ada dua pertemuan yakni antara KCl jenuh dengan
kedua larutan encer dari setiap bagian elektroda. Hal ini akan semakin memperkecil potensial perbatasan nettonya
karena adanya pengurangan sebagai akibat dari arahnya yang saling berlawanan.
Jembatan Garam
Jembatan garam adalah alat yang digunakan untuk menghubungkan reaksi reduksi dan oksidasi setengah
sel dari sel volta. Jembatan garam berbentuk seperti huruf U terbalik yang diisi dengan larutan elektrolit KCl (dalam
agar-agar) yang kedua ujungnya disumbat dengan kapas agar tidak terjadi aliran mekanis. Selain KCl, bisa juga
digunakan elektrolit KNO3, NaCl dan K2SO4. Fungsi dari jembatan garam adalah untuk menghantarkan arus listrik
antara kedua elektrolit yang berada dalam bejana. Selain itu, jembatan garam juga berguna untuk menetralkan
kelebihan atau kekurangan muatan dari ion-ion yang ada dalam larutan di dalam kedua bejana selama reaksi
elektrokimia berlangsung. Oleh karena itu syarat dari suatu zat yang digunakan untuk jembatan garam adalah zat
tersebut tidak boleh bereaksi dengan elektrolit yang digunakan dalam pengukuran potensial sel.
Lingkungan Asam, Basa dan Garam
Pada lingkungan air laut, dengan konsentrasi garam NaCl atau jenis garam-garam yang lain seperti KCl
akan menyebabkan laju korosi logam cepat. Sama halnya dengan kecepatan alir dari air laut yang sebanding dengan
peningkatan laju korosi, akibat adanya gesekan, tegangan dan temperatur yang mendukung terjadinya korosi.

Pada larutan basa seperti NaOH (caustic soda), baja karbon akan tahan terhadap serangan korosi pada
media ini dengan suhu larutan 75 oF (24 oC) dan konsentrasi 45% berat. Pada larutan asam seperti asam kromat
(CrO3), dengan konsentrasi asam kromat 10% pada suhu 60 oC, tidak akan menyerang baja tahan karat. Dan tingkat
korosi akan naik sebanding dengan temperatur dan konsentrasi yang juga meningkat.
Sedangkan pada larutan asam seperti H2SO4, proses terjadinya perkaratan pada permukaan baja yang
terbuka keseluruhannya terhadap hujan lebih baik dari pada sebagian saja terkena hujan atau sebagian terlindungi.
Mekanismenya sebagai berikut.
FeH2SO4 + 1/2O2
FeSO4 1/4O2 + 1/2 H2SO4 1/2Fe2(SO4)
1
1
1
/2Fe2(SO4) /2H2O
/2Fe2O3 + 3/2 H2SO4
(Sumber: Widharto,1999:5)
Senyawa kromat mampu sebagai pemasif yang efektif terhadap laju korosi pada logam. Dalam
kenyataannya dapat tereduksi menjadi Cr2O3 yang membentuk serpih yang berwarna hijau kecoklatan. Cr2O3
banyak digunakan sebagai abrasi pada pemolesan karena Cr 2O3 keras, tajam sehingga mampu mengikis atau
mengasah logam menjadi mengkilap.
Penggunaan larutan garam natrium kromat atau sodium kromat (Na 2CrO4) dengan kadar tertentu mampu
menghambat laju korosi. karena natrium kromat sebagai inhibitor kimia, yaitu suatu zat kimia yang dapat
menghambat atau memperlambat suatu reaksi kimia. Secara khusus, inhibitor korosi merupakan suatu zat kimia
yang bila ditambahkan ke dalam suatu lingkungan tertentu, dapat menurunkan laju penyerangan lingkungan itu
terhadap suatu logam.
Selain itu, fungsi dari inhibitor adalah mampu memperpanjang umur pakai logam, melindungi dan
memperindah permukaan logam, lebih mengkilap dan terang dengan warna tertentu yang dihasilkan sesuai
inhibitornya.
Penggunaannya sebagai berikut:
Na2CrO4 dengan konsentrasi 50 ppm digunakan pada pipa baja.
2,3 gr/l Na2CrO4 untuk sambungan galvanik Cu-Zn-Fe.
2,4 gr/l Na2CrO4 untuk sambungan galvanik Fe-Al.
0,1% Na2CrO4 digunakan untuk penghambat laju korosi logam Fe, Cu, Zn dalam sistem air pendingin (water
cooling) dan pada larutan garam (Brines).
0,1% - 1% Na2CrO4 digunakan untuk penghambat laju korosi (inhibisi) logam Fe, Pb, Cu, Zn dalam sistem
mesin pendingin (engine coolants).
Terdapat berbagai macam media korosi dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju korosi, seperti yang terlihat
pada gambar 4 di bawah ini (Sumber: Widharto S, 1999:2).
Pengolahan Limbah Elektroplating / Penyepuhan
Elektroplating merupakan salah satu aplikasi dari metode elektrokimia. Sesuai dengan namanya, metode
elektrokimia adalah metode yang didasarkan pada reaksi redoks, yakni gabungan dari reaksi reduksi dan oksidasi,
yang berlangsung pada elektroda yang sama/berbeda dalam suatu system elektrokimia. Sistem elektrokimia meliputi
sel elektrokimia dan reaksi elektrokimia. Sel elektrokimia yang menghasilkan listrik karena terjadinya reaksi
spontan didalamnya disebut sel galvani. Sedangkan sel elektrokimia dimana reaksi tak-spontan terjadi di dalamnya
disebut sel elektrolisis.
Peralatan dasar dari sel elektrokimia adalah dua elektroda, umumnya konduktor logam, yang dicelupkan ke dalam
elektrolit konduktor ion (yang dapat berupa larutan maupun cairan) dan sumber arus. Karena didasarkan pada reaksi
redoks, pereaksi utama yang berperan dalam metode ini adalah elektron yang dipasok dari suatu sumber listrik.
Sesuai dengan reaksi yang berlangsung, elektroda dalam suatu sistem elektrokimia dapat dibedakan menjadi katoda,
yakni elektroda dimana reaksi reduksi (reaksi katodik) berlangsung, dan anoda, dimana reaksi oksidasi (reaksi
anodik) berlangsung.

a. Pengertian Elektroplating
Elektroplating (penyepuhan) adalah proses pelapisan logam dengan logam yang lebih tipis melalui prinsip bahwa
logam yang akan disepuh diperlakukan sebagai katoda, dan logam penyepuh diperlakukan sebagai anoda. Dalam
penyepuhan, kedua elektroda dimasukkan dalam larutan elektrolit, yaitu larutan yang mengandung ion logam
penyepuh. Elektroplating juga dapat didefinisikan sebagai pelapisan logam pada benda padat konduktif dengan
bantuan arus listrik. Jika akan menyepuh benda dengan krom, maka anoda yang digunakan adalah krom dan larutan
elektrolit adalah asam kromat (H2CrO4). Jika elektroplating perak, tentu perak sebagai anoda dan larutannya adalah
perak nitrat.
Pada elektroplating maka logam dasar seperti besi, tembaga, kuningan, seng, dan aluminium dilapisi oleh berbagai
variasi logam yang kebanyakan adalah tembaga (copper), nikel, kromium, seng, cadmium, dan tin juga beberapa
logam mulia seperti perak, emas, rhodium, paladium dan platinum.
b. Tujuan Elektroplating
Elektroplating dimaksudkan untuk melindungi logam terhadap korosi atau untuk memperbaiki penampilan.
Elektroplating adalah carayang digunakan untuk melapis permukaan logam besi dengan logam yangtahan terhadap
karat seperti nikel dan krom. Hasil elektroplating sangat keras dan tahan terhadap goresan atau tumbukan. Oleh
karena itu pelapisan jenis ini sering digunakan pada pelek roda kendaraan bermotor, starter, kursi besi, perkakas
rumah tangga, peralatan untuk membuat roti, peralatan teknik dan lain sebagainya. Selain itu lapisan krom atau nikel
pada logam Fe atau baja dapat mengurangi terjadinya korosi dan juga dapat memperindah penampilan benda.
Dalam industri pembuat sepeda motor, alat elektroplating ini digunakan untuk melapisi logam nikel/krom pada
knalpot, pelek roda, kick starter, stir, reflektor lampu, pedal porseling (persenalan), pedal rem dan lain sebagainya.
Penggunaan yang lebih luas adalah untuk melapisi alat-alat seperti kunci pas, kunci sok, kunci ring, kunci busi,
kunci inggris, dan lain-lain.
c. Pengolahan Limbah Elektroplating
Limbah yang akan dihasilkan pada proses ini sebenarnya ada dua macam senyawa atau zat, yaitu zat organik dan zat
inorganik selain juga sisa dari cairan proses elektroplating ini. Cairan sisa hasil proses ini mungkin bisa dicegah
masuk ke saluran umum dengan cara menampung sisa prosesnya, tapi pada proses pencucian bahan hasil proses
elektroplating kita tidak bisa menghindarkan cairan ini untuk masuk ke saluran pembuangan. Sebelum cairan ini
masuk ke saluran umum sebaiknya cairan ini diolah terlebih dahulu dalam penampungan khusus.
Cara pengolahannya bisa dilakukan secara bertahap. Tahap pertama menghilangkan zat zat anorganik berbahaya
yang masuk ke dalam cairan buangan, Zat anorganik yang terbawa adalah bahan kimia proses elektroplating seperti
krom, nikel, tembaga, asam sulfat, dan sebaganya. Untuk pengolahan limbah anorganik ini diuraikan secara detail di
bagian Penghilangan Kontaminan Inorganik. Setelah bahan pengotor anorganik ini diolah baru selanjutnya
pengolahan bahan buangan organik yang terbawa dalam saluran buangan. Contoh bahan organik yang terbawa
adalah, grease, oli, dan bahan pembersih seperti sabun. Cara pengolahan buangan bahan organik diuraikan di bagian
Penghilangan Kontaminan Organik.
1. Penghilangan Kontaminan Inorganik
Di pengolahan baja, besi adalah kontaminan yang biasa dan dengan filtrasi konstan yang baik. Besi biasanya
mengakibatkan beberapa masalah. Perawatan pH tinggi dalam tangki tambahan dengan kelembaban karbonat nikel
tersebar dengan agitasi yang baik digunakan untuk menghilangkan konsentrasi yang berlebihan dari besi, serta

aluminium, kromium trivalen, atau ion fosfat. Penambahan sekitar 0,5 sampai 1 ml hidrogen peroksida 30% dengan
perawatan pH tinggi menghilangkan semua besi sebagai ferric hydroxide, disediakan minimal 2 jam pengadukan
yang digunakan dan suhu bak disimpan sekitar 60 65C. Juga karbon dioksida berevolusi dari penggunaan nikel
karbonat dihilangkan dengan pengadukan dan pemanasan.
Pada pengolahan tembaga, kuningan atau pengecoran seng, kontaminan tembaga dan seng paling baik dihilangkan
oleh purifikasi dengan densitas rendah, lebih baik secara terus menerus. Seng, tembaga, dan timah semua dapat
dihilangkan pada saat yang sama dengan mengelektrolisis sekitar 0,2 A/dm2. Semakin cepat agitasi, semakin tinggi
kerapatan arus yang dapat digunakan untuk menghilangkan kotoran logam.
Pada pengolahan krom, chromic acid harus dirubah menjadi ion chrom bervalensi tiga (trivalent chrom), yang tidak
mudah larut dalam air. Untuk mereduksi chromic acid digunakan sodium metabisulfite. Chromic acid (Cr 6+) yang
tadinya berwarna kuning akan berubah menjadi warna hijau (Cr 3+) dan dengan diberi soda api (Na OH) akan
terbentuk chrome hidroksida yang tidak larut dalam air, sehingga dapat mudah dipisahkan dengan air. Untuk
mempercepat pemisahan digunakan larutan tawas sebagai koagulant. Untuk menambah waktu pengendapan
dibutuhkan bak pengendapan dengan design seperti pada gambar di bawah ini.

Untuk mengurangi jumlah limbah sebaiknya dibuatkan sistem pembilasan yang baik, sehingga jumlah bahan kimia
yang dibutuhkan untuk pengolahan limbah juga ikut berkurang.
Pada pengolahan nikel, dapat melakukan elektrolisis dengan elektrokoagulator, pengendapan limbah dalam bentuk
flok, penyaringan limbah dengan pasir, lalu dianalaisa dengan UV VIS (ultraviolet sinar tampak).
2. Penghilangan Kontaminan Organik
Kontaminan organik dapat diakibatkan oleh pemilihan pelapis tangki yang tidak benar, pelapis rak, selang filter,
karet patch, oleh kontaminasi udara dari serat debu tebal, atau semprotan minyak atau tetesan dari loose welding
scale, dari metode pembersihan inferior, dan oleh kerusakan pada anoda atau katoda agen penambahan kelas II.
Jika bak terlalu terkontaminasi dengan bahan organik, metode terbaik adalah dengan adsorpsi pada karbon aktif
dalam tangki tambahan, setelah mengoreksi sejauh mungkin sumber-sumber kontaminasi organik. Penambahan
hidrogen peroksida seperti telah dijelaskan sebelumnya, dan agitasi bak selama beberapa jam dengan 1 sampai 3 g /
L karbon aktif, akan membantu purifikasi. Setelah pengendapan dengan bantuan filter dan pengujian sampel dari
larutan yang diolah di laboratorium sesuai kondisi plat, jika disetujui larutan disaring kembali ke dalam tangki
plating.
Penggunaan sejumlah kecil karbon aktif dalam filter, seperti 2 sampai 4 g/100 L larutan dan menambahkan jumlah
yang sama untuk filter sekali atau dua kali seminggu merupakan metode yang baik untuk menghindari atau
meminimalkan biaya perawatan bak, semibright , atau bak plating nikel. Pengecekan harus dilakukan secara berkala
untuk memastikan bahwa agen pembasah atau brighteners lainnya tidak terlalu diserap.
KOROSI
Secara umum defenisi dari korosi adalah perusakan material secara kimia atau elektrokimia dengan lingkungan.
Selain itu korosi juga di definisikan sebagai degradasi material (logam dan paduannya) akibat reaksi kimia dengan
lingkungan. Contoh perusakan kimia adalah pengkaratan yang terjadi akibat gas pada temperature tinggi, sedangkan
reaksi elektrokimia dapat di lihat pada sel galvanik.
Adapun syarat terjadinya korosi adalah :

Adanya katoda
Adanya anoda
Adanya elektrolit
Adanya penghubung elektroda
Tanpa adanya salah satu syarat di atas maka korosi tidak akan terjadi. Korosi tidak dapat di hilangkan tetapi
hanya dapat di minimalisir pertumbuhannya.Pada proses korosi ada dua reaksi yang menyebabakan terjadinya
korosi yaitu reaksi oksidasi dan reaksi reduksi. Pada reaksi oksidasi akan terjadi pelepasan elektron oleh material
yang lebih bersifat anodik. Sedangkan reaksi reduksi adalah pemakaian elektron oleh material yang lebih bersifat
katodik. Proses korosi secara galvanis dapat kita lihat pada gambar berikut :

Pada reaksi di atas dapat kita lihat dimana Cu bertindak sebagai katoda mengalami pertambahan massa
dengan melekatnya electron pada Cu. Sedangkan Zn bertindak sebagai anoda, dimana terjadinya pengurangan massa
Zn yang di tandai dengan lepasnya electron dari Zn. Peristiwa pelepasan dan penerimaan elektron ini harus
mempunyai lingkungan, dimana yang menjadi lingkungan adalah Asam Sulfat. Jika ada dua buah unsur yang di
celupkan dalam larutan elektrolit yang di hubungkan dengan sumber arus maka yang akan mengalami korosi adalah
material yang lebih anodik.
Untuk mengetahui unsur yang lebih anodik dan lebih katodik dapat kita lihat pada deret Volta. Berikut deret
Volta :
K Ca Na Mn Al Zn Fe Sn Pb H Cu Hg Ag Pt Au
Anodik
Katodik
Selain contoh reaksi sebelumnya kita juga dapat lihat peristiwa korosi lainnya yaitu pada peristiwa
perkaratan (korosi) logam Fe mengalami oksidasi dan oksigen (udara) mengalami reduksi. Rumus kimia dari karat
besi adalah Fe2O3 . xH2O dan berwarna coklat-merah. Pada korosi besi, bagian tertentu dari besi itu berlaku sebagai
anoda, dimana besi mengalami oksidasi.
Fe(s)
-----> Fe2+(aq) +2e
E=+0,44V
O2(g) + 2H2O(l) +4e ----> 4OH
E=+0,40V
Ion besi (II) yg terbentuk pada anoda selanjutnya teroksidasi membentuk ion besi (III) yang kemudian membentuk
senyawa oksida terhidrasi Fe2O3 . xH2O.
Berdasarkan sifatnya korosi terbagi atas :
1. Korosi Aktif
Ciri-ciri dari korosi aktif ini antara lain :
Mudah melepaskan ion
Mudah menempel di tangan
Contoh : Paku yang berkarat
2. Korosi Pasif
Ciri-ciri dari korosi pasif ini antara lain :
Sulit melepaskan ion
Sulit menempel di tangan
Contoh : Korosi pada AL

Jenis-jenis Korosi
1. Uniform or general attack corrosion (korosi seragam)
Korosi seragam adalah korosi yang terjadi pada permukaan material akibat bereaksi dengan oksigen
Biasanya korosi seragam ini terjadi pada material yang memiliki ukuran butir yang halus dan homogenitas yang
tinggi.
Cara pengendalian dari korosi seragam adalah :
Dengan melakukan pelapisan dengan cat atau dengan material yang lebih anodik.
Melakukan inhibitas dan cathodic protection.
2. Rithing Corossion (Korosi Sumuran atau kawah)
Korosi sumuran adalah korosi yang terjadi akibat cacat pada permukaan material seperti celah atau
lubang kecil. Pada daerah cacat ini akan lebih anodik dibandingkan permukaan material sehingga korosi akan
menuju bagian dalam material.
Cara pengendalian korosi sumuran adalah :
Hindari permukaan logam dari cacat goresan.
Perhalus permukaan material.
Hindari variasi yang sedikit pada komposisi material.
3. Crevice Corrosion (korosi celah)
Korosi celah adalah korosi yang di temukan pada daerah berkonsentrasi rendah atau korosi yang terjadi
pada celah yan terbentuk akibat pendempetan material. Pada celah, kadar oksigen lebih rendah dari
lingkungannya sehingga elektron akan berpindah pada kadar oksigen yang tinggi sehingga terjadi korosi. Korosi
celah sering terjadi pada sambungan paku.
Cara pengendalian korosi celah :
Hindari pemakaian sambungan paku keling atau baut, gunakan
sambungan las.
Gunakan gasket non absorbing.
Usahakan menghindari daerah dengan aliran udara.
4. Intergranular Corrosion (korosi batas butir)
Korosi batas butir adalah korosi yang terjadi pada atau di sepanjang batas butir dan batas butir bersifat
anodik dan bagian tegah butir bersifat katodik. Korosi ini terjadi akibat presipitasi dari pengotor seperti
khromium di batas butir, yang menyebabkan batas butir menjadi rentan terhadap serangan korosi. Dimana
presipitat krom karbida terbentuk karena karbon meningkat yang ada di sekitarnya, sehingga krom disekitarnya
akan berkurang dan terjadi korosi. Proses terbentuknya presipitat karbon karbida disebut sentisiasi. Terjadi pada
temperatur 500-800 sehingga kekurangan krom yang memudahkan terjadinya korosi.
Cara pengendalian korosi batas butir adalah :
Turunkan kadar Karbon dibawah 0,03%.
Tambahkan paduan yang dapat mengikat Karbon.
Pendinginan cepat dari temperatur tinggi.
Pelarutan karbida melalui pemanasan.
Hindari Pengelasan.
5. Stress Corossion (korosi tegangan)
Korosi tegangan adalah korosi yang di sebabkan adanya tegangan tarik yang mengakibatkan terjadinya
retak. Tegangan ini di sebabkan pada temperatur dan deformasi yang berbeda.
Berikut retak serta bentuk penjalarannya yang di akibatkan oleh korosi tegangan :
Cara pengendalian korosi tegangan adalah :
Turunkan besarnya tegangan
Turunkan tegangan sisa termal
Kurangi beban luar atau perbesar area potongan
6. Errosion Corrosion (korosi erosi)
Korosi erosi adalah korosi yang di sebabkan oleh erosi yang mengikis lapisan pelindung material , zat
erosi itu dapat berupa fluida yang mengandung material abrasive. Korosi tipe ini sering di temui pada pipa-pipa
minyak.
Faktor-faktor yang mempengaruhi korosi ini antara lain :

Persentase ketidaksamaan, material yang lebih anodik


Area permukaan Anodik dan Katodik
Temperatur
Persentase larutan elektrolit
Kesediaan oksigen
Cara pengendalian korosi erosi :
Menghindari partikel abrasive pada fluida
Mengurangi kecepatan aliran fluida
7. Selectif Corrosion
Selectif corrosion adalah korosi yang menyerang unsur di dalam logam akibat perbedaan potensial unsur
utamanya. Korosi ini di sebabkan karena komposisi yang tidak merata pada material. Korosi ini biasa terjadi
pada pipa-pipa besi cor.
Cara pengendalian selective korosi :
Menghindari komposisi yang berbeda dari material penyusun.
8. Korosi Galvanik
Korosi galvanik adalah korosi yang terjadi pada dua logam yang berbeda jenis jika di hubungkan. Korosi
ini juga terjadi karena pasangan elektrikal pada dua logam atau paduan logam yang memiliki perbedaan
komposisi. Logam yang lebih anodik akan terkorosi sementara logam lainnya yang lebih katodik akan
terlindungi. Posisi logam pada deret volta akan menentukan apakan suatu logam lebih anodik atau katodik
Pengendalian korosi galvanic adalah :
Hindari pemakaian 2 jenis logam yang berbeda
Pergunakan logam yang lebih anodik dengan rasio yang lebih besar dibanding logam katodik
Lapisi pada pertemuan dua logam yang berbeda jenis
Gunakan logam ketiga yang lebih anodik
Metoda-metoda yang di lakukan dalam pengendalian korosi adalah :
Menekan terjadinya reaksi kimia atau elektrokimianya seperti reaksi anoda dan katoda
Mengisolasi logam dari lingkungannya
Mengurangi ion hydrogen di dalam lingkungan yang di kenal dengan mineralisasi
Mengurangi oksigen yang larut dalam air
Mencegah kontak dari dua material yang tidak sejenis
Memilih logam-logam yang memiliki unsure-unsur yang berdekatan
Mencegah celah atau menutup celah
Mengadakan proteksi katodik,dengan menempelkan anoda umpan.
MENGONTROL KOROSI
Untuk dapat berlangsungnya proses korosi, maka harus ada reaksi anoda dan katoda, sehingga untuk
mencegah korosi, salah satu reaksi tersebut harus dicegah. Cara yang paling efektif adalah menghentikan kedua
proses reaksi dengan melapisi obyek menggunakan cat atau lapisan
pelindung lainnya.Cara mencegah korosi terbaik adalah memberikan muatan negatif
pada logam, sehingga membuat reaksi M M2+ + 2e- sulit terjadi.
6.2.1 Pelapisan logam aktif.
Salah satu cara pemberian muatan negatif adalah pelapisan dengan logam yang lebih aktif. Cara ini merupakan cara
umum untuk melindungi besi dari korosi, yaitu dengan melapisinya menggunakan lapisan tipis seng (gambar 17a).
Proses ini dikenal sebagai proses galvanisasi. Pelapis seng menjadi lebih reaktif dibanding besi, sehingga cenderung
mengalami korosi lebih dulu. Pelarutan pelapis aktif ini meninggalkan elektron yang terkonsentrasi dalam besi,
membuatnya menjadi katoda sehingga mencegahnya menjadi terlarut. Pengaruh pelapisan besi dengan logam yang
kurang aktif memberikan efek kebalikannya. Contoh besi dilapisi timah (gambar 17b). Elektron mengalir dari besi

ke timah, membuat besi lebih anodik, sehingga timah secara aktif mempromosikorosibesi.

6.2.2 Perlindungan katodik


Cara lain mencegah korosi logam; adalah menghubungkannya dengan sumber arus langsung dari luar. Untuk
struktur yang lebih kecil seperti perahu dan alat penghangat air (water heater) arus disuplai oleh anoda yang terbuat
dari alumnium atau seng. Untuk struktur yang lebih besar seperti pipa air, digunakan photovoltaic power supply.

Aplikasi Persamaan Nernst


G = Go + RT ln Q sedangkan
G = -nFEsel juga Go = -nFEosel sehingga
-nFEsel = -nFEosel + RT ln Q
Esel = Eosel (RT/nF) ln Q
Saat Q < 1 sehingga [reaktan] > [produk] maka Esel > Eosel
Saat Q = 1 sehingga [reaktan] = [produk] maka Esel = Eosel
Saat Q > 1 sehingga [reaktan] < [produk] maka Esel < Eosel
Jika kita memasukkan nilai R dan T pada 298
Esel = Eosel (0,0592 V/n) log Q (pada 25oC)
Di sekitar katode
terdapat ion positif
H+(aq) dari asam reaksinya
: 2H+(aq) + 2e- H2(g)

Umumnya logam golongan I


III A : 2H2O(l) + 2e- H2(g) +

Logam selain golongan IIII


A : Ln+(aq) + ne- L(s)

Anode terbuat dari :


Grafit, Platina, Karbon.
Maka disekitar anode
terdapat ion negatif

Elektroda dengan logam yang


lain. Maka pada anode akan
terjadi reaksi oksidasi :
L(s) Ln+(aq) + ne-

OH- dari suatu basa :


4OH-(aq) O2(g) + 2H2O(g) +
4e-

Anion dari ion halida (X = Cl-,


Br-, I-) :
2X-(aq) X2(g) + 2eSisa asam oksi (ROnx-) yang tidak
teroksidasi, sehingga H20 sebagai
pelarut yang teroksidasi :

FUEL CELL

Fuel cell adalah alat konversi energi elektrokimia yang akan mengubah hidrogen dan oksigen menjadi air, secara
bersamaan menghasilkan energi listrik dan panas dalam prosesnya. fuel cell merupakan suatu bentuk teknologi
sederhana seperti baterai yang dapat diisi bahan bakar untuk mendapatkan energinya kembali, dalam hal ini yang
menjadi bahan bakar adalah oksigen dan hidrogen.
Layaknya sebuah baterai, segala jenis fuel cell memiliki elektroda positif dan negatif atau disebut juga katoda dan
anoda. Reaksi kimia yang menghasilkan listrik terjadi pada elektroda. Selain elektroda, satu unit fuel cell terdapat
elektrolit yang akan membawa muatan-muatan listrik dari satu elektroda ke elektroda lain, serta katalis yang akan
mempercepat reaksi di elektroda. Umumnya yang membedakan jenis-jenis fuel cell adalah material elektrolit yang
digunakan. Arus listrik serta panas yang dihasilkan setiap jenis fuel cell merupakan produk samping reaksi kimia
yang terjadi di katoda dan anoda.
Karena energi yang diproduksi fuel cell merupakan reaksi kimia pembentukan air, alat konversi energi elektrokimia
ini tidak akan menghasilkan efek samping yang berbahaya bagi lingkungan seperti alat konversi energi konvensional
(misalnya proses pembakaran pada mesin mobil). Sedangkan dari segi efisiensi energi, penerapan fuel cell pada
baterai portable seperti pada handphone atau laptop akan sepuluh kali tahan lebih lama dibandingkan dengan baterai
litium. Dan untuk mengisi kembali energi akan lebih cepat karena energi yang digunakan bukan listrik, tetapi bahan
bakar berbentuk cair atau gas.
Cara kerja suatu unit fuel cell dapat diilustrasikan dengan jenis PEMFC (proton exchange membrane fuel cell). Jenis
ini adalah jenis fuel cell yang menggunakan reaksi kimia paling sederhana. PEMFC memiliki empat elemen dasar
seperti kebanyakan jenis fuel cell.

Pertama, anoda sebagai kutub negatif fuel cell. Anoda merupakan elektroda yang akan mengalirkan elektron yang
lepas dari molekul hidrogen sehingga elektron tersebut dapat digunakan di luar sirkuit. Pada materialnya terdapat
saluran-saluran agar gas hidrogen dapat menyebar ke seluruh permukaan katalis.
Kedua, katoda sebagai kutub elektroda positif fuel cell yang juga memiliki saluran yang akan menyebarkan oksigen
ke seluruh permukaan katalis. Katoda juga berperan dalam mengalirkan elektron dari luar sirkuit ke dalam sirkuit
sehingga elektron-elektron tersebut dapat bergabung dengan ion hidrogen dan oksigen untuk membentuk air.
Ketiga, elektrolit. Yang digunakan dalam PEMFC adalah membran pertukaran proton (proton exchange
membrane/PEM). Material ini berbentuk seperti plastik pembungkus yang hanya dapat mengalirkan ion bermuatan
positif. Sedangkan elektron yang bermuatan negaif tidak akan melalui membran ini. Dengan kata lain, membran ini
akan menahan elektron.
Keempat, katalis yang digunakan untuk memfasilitasi reaksi oksigen dan hidrogen. Katalis umumnya terbuat dari
lembaran kertas karbon yang diberi selapis tipis bubuk platina. Permukaan katalis selalu berpori dan kasar sehingga
seluruh area permukaan platina dapat dicapai hidrogen dan oksigen. Lapisan platina katalis berbatasan langsung
dengan membran penukar ion positif, PEM.
Pada ilustrasi cara kerja PEMFC, diperlihatkan gas hidrogen yang memiliki tekanan tertentu memasuki fuel cell di
kutub anoda. Gas hidrogen ini akan bereaksi dengan katalis dengan dorongan dari tekanan. Ketika molekul H2
kontak dengan platinum pada katalis, molekul akan terpisah menjadi dua ion H+ dan dua elektron (e-). Elektron
akan mengalir melalui anoda, elektron-elektron ini akan membuat jalur di luar sirkuit fuel cell dan melakukan kerja
listrik, kemudian mengalir kembali ke kutub katoda pada fuel cell.
Di sisi lain, pada kutub katoda fuel cell, gas oksigen (O2) didorong gaya tekan kemudian bereaksi dengan katalis
membentuk dua atom oksigen. Setiap atom oksigen ini memiliki muatan negatif yang sangat besar. Muatan negatif
ini akan menarik dua ion H+ keluar dari membran PEM, lalu ion-ion ini bergabung dengan satu atom oksigen dan
elektron-elektron dari luar sirkuit untuk membentuk molekul air (H2O).
Pada satu unit fuel cell terjadi reaksi kimia yang terjadi di anoda dan katoda. Reaksi yang terjadi pada anoda adalah
2 H2 --> 4 H+ + 4 e-. Sementara reaksi yang terjadi pada katoda adalah 2 + 4 H+ + 4e- --> 2 H2O. Sehingga
keseluruhan reaksi pada fuel cell adalah 2H2 + O2 --> 2 H2O. Hasil samping reaksi kimia ini adalah aliran elektron
yang menghasilkan arus listrik serta energi panas dari reaksi.
Satu unit fuel cell ini menghasilkan energi kurang lebih 0,7 volt. Karena itu untuk memenuhi energi satu baterai
handphone atau menggerakkan turbin gas dan mesin mobil, dibutuhkan berlapis-lapis unit fuel cell dikumpulkan
menjadi satu unit besar yang disebut sebagai fuel cell stack.
Sumber Hidrogen
Hidrogen adalah unsur paling melimpah dengan persentase kira-kira 75% dari total massa unsur alam semesta.
Kebanyakan bintang dibentuk oleh hidrogen dalam keadaan plasma. Senyawa hidrogen relatif langka dan jarang
dijumpai secara alami di bumi, dan biasanya dihasilkan secara industri dari berbagai senyawa hidrokarbon seperti
metana 5).
Hidrogen merupakan molekul yang sangat reaktif. Keberadaan hidrogen dibumi lebih banyak membentuk senyawa
dengan unsur lainnya. Contohnya metana (CH4), air (H2O), dan sebagainya.

Hidrogen secara industri dihasilkan dari proses pembakaran bahan bakar fosil. Namun, hasil dari pembakaran bahan
bakar mencemari lingkungan. Metana menjadi reaktan dengan proses steam reforming menghasilkan CO2, CO, H2S,
hidrogen, dan energi. Karbon monoksida inilah yang menjadi limbah sehingga perlu handling yang baik.
Produksi hidrogen dapat dijadikan sebagai bahan bakar, bahan baku proses industri kimia, dan sumber energi listrik
Fuel Cell. Namun untuk mendapat hidrogen tersebut dengan cara yang tergolong sulit dan mahal, antara lain dengan
cara produksi hidrokarbon, gasifikasi, biomassa, biologis, dan hidrokarbon 6). Hal ini menjadi permasalahan
penerapan BBH karena harga hidrogen mahal.
Kekurangan dari BBH ini, antara lain : produksi, perawatan alat, dan pengaturan jumlah pemakai kendaraan. Untuk
menggunakan BBH secara massal perlu produksi dalam skala besar. Biaya produksi, distribusi, dan konsumsi harus
diatur dengan baik. Perawatan alat penghasil energi juga menjadi kendala. Pereaksian hidrogen dengan oksigen
bukan hanya air saja yang dihasilkan, sinar UV menjadi produk sampingnya. Resiko ledakan sangat rentan dalam
penggunaannya. Para peneliti terus mencari cara meminimalisasi ledakan tersebut. Selain itu, pengaturan jumlah
pemakai kendaraan menjadi hal penting dalam penerapan penggunaan BBH. Masalah kemacetan tidak lepas dari
penggunaan kendaraan yang banyak. Maka dari itu, perlu tindakan dari pemerintah yang baik sehingga penerapan
penggunaan BBH tidak memberi dampak negatif bagi masyarakat.

KOROSI PADA BADAN KAPAL


Pada dasarnya semua baja tidak stabil dan cenderung bereaksi dengan lingkungannya, dengan membentuk senyawa
oksida atau karbonat yang bersifat stabil. Kecenderungan baja untuk melepaskan elektron pada saat terjadi proses
reaksi elektro-kimia dalam membentuk korosi, menunjukkan sifat keaktifan dari baja yang bersangkutan.

Elektrolit: larutan yang dapat menghantarkan listrik, larutan asam dan Katoda : merupakan baja yang tidak terkorosi Anoda : baja yang terkorosi

Kemudian reaksi katodik dan anodik pada proses korosi besi dapat ditulis sebagai berikut [5]:
Fe(padat) Fe++(ion) + 2e-(elektron) (1)
Pada katoda,
2H+(ion hidrogen) + 2e- H2 (gas) (2)
2H+ + O2 (gas) + 2e- H2O (3)
O2 + 2H2O + 4e- 4 OH-(ion hidroksil) (4)
Kemudian ion hidroksil (OH-) yang dihasilkan oleh reaksi katodik dapat mengakibatkan kerusakan cat yang
diakibatkan oleh adanya serangan alkali.

Gambar menggambarkan proses korosi, ketika ion besi (Fe++) dilepaskan melalui reaksi anodik yang berinteraksi
dengan ion hidroksil dan dihasilkan oleh reaksi katodik membentuk Fe(OH)2 di dekat perbatasan daerah anodik dan
katodik. Selanjutnya hadirnya oksigen (O2) mempercepat pembentukan Fe(OH)3. Yang pada akhirnya akan
membentuk karat (Fe2O3).
Sistem dan lapisan pelindung cat
Istilah cat meliputi sejumlah sistem pelapisan berbeda yang dirancang untuk keperluan yang berbeda pula. Cat
merupakan suatu larutan berpigmen dalam air, minyak, maupun pelarut organik lainnya, yang digunakan untuk
melapisi permukaan benda-benda
yang terbuat dari kayu maupun baja dengan maksud memberi perlindungan permukaan maupun memperindah
penampilan. Cat selalu mengandung pigmen dan juga resin (polimer). Pada dasarnya cat dapat dikelompokan
sebagai [7-8];
a. Wahana (vehicle), terdiri dari pelarut dan resin cat, yaitu zat cair yang menjadikan cat memiliki fluiditas dan bila
mengering atau menguap meninggalkan selaput kering yang padat (dry film).
b. Pigmen yang tersuspensikan dalam wahana. Pigmen mengendalikan laju korosi atau laju difusi reaktan-reaktan
pada selaput kering (dry film).
c. Aditif yang mempercepat proses pengeringan atau memungkinkan lapisan cat kering lebih tahan terhadap
lingkungan kerjanya.
Kemudian wahana akan menjadi kering melalui salah satu proses berikut :
Penguapan unsur pelarut dalam wahana.
Perubahan kimia, terutama oksidasi terhadap unsur cair dalam wahana, misalnya minyak cat. Cat mengering mulai
dari permukaannya dan diulaskan atau disemprotkan selapis demi selapis hingga mencapai ketebalan yang
dikehendaki.
Polimerisasi, yaitu reaksi kimia antara wahana dan agen pengering (curing agent) yang dicampurkan ke dalam cat
tepat sebelum digunakan. Agen pengering itu disebut cat kemasan ganda.
Dalam hal ini, cat mengering diseluruh lapisan secara bersamaan, jadi dapat diulaskan atau disemprotkan
membentuk lapisan tebal sekaligus. Apabila cat sudah dicampurkan dengan agen pengering, cat tersebut harus
digunakan, sebab bila tidak demikian maka cat akan menjadi rusak.
Ketika cat telah mengering, sisa bagian wahana yang padat bertindak sebagai pengikat (binder). Bagian ini menahan
pigmen di posisi masing-masing, mengikat lapisan itu ke permukaan dan menjadi penghalang yang membatasi
masuknya air, oksigen, dan ion-ion agresif ke permukaan baja. Fungsi pigmen ada dua yaitu mengendalikan proses
korosi pada permukaan baja dalam lapisan primer yang pertama dan pigmen-pigmen yang lembam menambah
panjang lintasan difusi yang harus ditempuh oleh oksigen dan butir-butir air yang mencoba menembus selaput
sehingga menunda dimulainya proses korosi serta memperlambat laju reaksinya.

Contoh Soal:
Berapa daya listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan 1 metrik ton
(1000 kg) klorin dari brin dalam satu hari, anggap sel dioperasikan pada
2,0 volt dan efisiensinya dianggap 100%?
Penyelesaian:

Mol Cl2 yang dihasilkan = (106 g)/(70 g mol -1) = 14300 mol Cl2
Muatan Faraday = (2 F/mol) x (14300 mol) = 28600 F
Muatan dalam coulomb = (96500 c/F) x (28600 F) = 2,76 x 10 9 c
Durasi elektrolisis = (3600 s/h) x (24 h) = 86400 s
Arus (laju deliveri) = (2,76 x 109 amp-sec) + (86400 sec) = 32300 amps
Daya (volt-amps) = (2,0 v) x (32300 amps) = 64,6 kw
Energi dalam kwh = (64,6 kw) x (24 h) = 1550 kwh
Energi dalam joule = (1550 kwh) x (3,6 Mj/kwh) = 5580 Mj
(ingat: 1 w = 1 J/s, 1 kwh = 3,6 Mj)