Anda di halaman 1dari 11

PENGUKURAN AKTIVITAS PROTEASE PADA IKAN LELE

(Clarias batrachus) DAN IKAN NILEM (Osteochilus vittatus)

Oleh:
Nama
NIM
Rombongan
Kelompok
Asisten

: Dini Darmawati
: B1J014058
:I
:2
: Sutri Handayani

LAPORAN PRAKTIKUM FISIOLOGI NUTRISI

KEMENTRIAN RISET, TEKNOLOGI, DAN PENDIDIKAN TINGGI


UNIVERSITAS JENDERAL SOEDIRMAN
FAKULTAS BIOLOGI
PURWOKERTO
2016

I.
PENDAHULUAN
I.1. Latar Belakang
Perubahan keberadaan pakan yang terjadi pada selama siklus hidup, seringkali
dihadapi oleh hewan, termasuk ikan. Kondisi ini dapat terjadi di lingkungan alami
maupun pada kondisi budidaya. Pada kondisi budidaya, perubahan keberadaan
pakan terjadi karena diterapkannnya strategi pemuasaan dan pemberian pakan.
Beberapa penelitian menyebutkan bahwa strategi pemuasaan dan pemberian pakan
kembali dapat memicu munculnya perubahan fisiologi pada ikan (Zhu et al., 2004
dalam Susilo et al., 2013).
Perubahan fisiologi yang dimaksud ialah perubahan aktivitas enzim digesti
pada ikan. Metode pembatasan pakan menunjukkan bahwa perubahan keberadaan
pakan di lingkungan hidupnya juga menyebabkan perbedaan respon aktivitas enzim
yang berkaitan dengan proses digesti. Salah satu enzim yang berkaitan dengan
proses digesti ialah enzim protease. Protease merupakan salah satu enzim yang
penting untuk kelangsungan makhluk hidup karena berperan dalam sejummlah
reaksi biokimia seluler (Roa et al., 1998).
Oleh karena itu tujuan praktikum ini adalah ingin mengetahui perbedaan
kapasitas pencernaan ikan yang terukur sebagai aktivitas protease pada ikan yang
diberi pemuasan dan pemberian pakan. Praktikum ini menggunakan dua ikan yaitu
ikan lele dan

ikan nilem, sesuai dengan kelompok masing-masing. Misalnya,

kelompok 2 mendapatkan ikan lele. Menurut Arifin (1991), Ikan Lele (Ciarias
batrachus) termasuk kelompok ikan siluroid yang sering disebut catfish. Kelompok
ini mencakup jenis-jenis ikan yang bertulang keras dengan ciri-ciri bagian luar tidak
bersisik, berkumis 2-4 pasang disekitar mulut dan pada sirip dada terdapat sepasang
duri (patil).
I.2. Tujuan
Tujuan dari praktikum ini adalah mengetahui perbedaan kapasitas
pencernaan ikan yang terukur sebagai aktivitas protease pada ikan yang diberi
pemuasaan dan pemberian pakan.

II.
MATERI DAN CARA KERJA
II.1. Materi
Bahan yang digunakan pada praktikum kali ini adalah ikan lele (Clarias
batrachus), nilem (Osteochilus vittatus), balok es dan 50 mM Tris-HCl buffer.
Alat yang digunakan adalah alat bedah, bak preparat, homogenizer, ependorf,
sentrifuge, digital scales, glovers, beaker glass, pipet dan tissue.
II.2. Cara Kerja
Prosedur preparasi jaringan
1. Alat dan bahan disiapkan
2. Ikan dibedah diatas balok es, saluran digesti diisolasi dan ditimbang.
3. Larutan 50 mM Tris-HCl buffer ditambahkan pada saluran digesti dengan
rasio 1:8.
4. Saluran digesti yang sudah dicampur dengan Tris-HCl dilumat dengan
homogenizer.
5. Dipindahkan ke eppendoft dan disentrifuge 12.000 rpm, selama 15 menit
dengan suhu 4C.
6. Supernatan diambil dan disimpan pada suhu -80 C.
Pengukuran aktivitas protease
1. Buffer Tris-HCl sebanyak 350 L dimasukkan ke dalam masing-masing
tabung (tabung sampel 1, tabung sampel 2 dan blanko).
2. Ekstrak enzim dimasukkan ke dalam tabung sampel 1 dan sampel 2 sebanyak
50 L.
3. Seluruh tabung diinkubasi pada suhu 370C selama 10 menit.
4. Subtrat kasein 1% dimasukkan ke dalam masing-masing tabung sebanyak
5.
6.
7.
8.
9.

350 L.
Seluruh tabung diinkubasi kembali selama 20 menit pada suhu 370C.
Reagen TCA 8% ditambahkan ke masing-masing tabung sebanyak 750 L.
Ekstrak enzim ditambahkan sebanyak 50 L ke dalam tabung blanko.
Seluruh tabung dimasukkan ke dalam refrigerator selama 15 menit.
Dipindahkan ke dalam tabung ependorf , kemudian disentrifugasi selama 10

menit dengan kecepatan 6000 rpm.


10. Supernatan sebanyak 1000 L ditambahkan ke dalam tabung berisi akuades
sebanyak 1500 L, kemudian divortex.
11. Diukur absorbansinya pada 280 nm.

III.
HASIL DAN PEMBAHASAN
III.1. Hasil
Tabel 3.1.1 Hasil Preparasi Jaringan Digesti
Kelompo
k
1

Jenis Ikan

Berat Usus
(gram)

Berat Tris-HCl
(gram)

Lele Makan

0,76

6,08

Lele Puasa

0,32

2,56

Lele MakanNo. Tabung0,61


2Kelompok
/ Ikan Lele Puasa
0,44
3

Nilem
Makan 1
Standard

Nilem
Puasa 2
Standard
Nilem Makan
Standard 3
4
Nilem Puasa
Standard 4
Nilem Makan
5
Standard 5
Nilem Puasa
1/Lele
1 (lele makan)
makan dan
lele puasa

4,88
Nilai Absorbansi
3,52

Tabel
3.1.2
Pengukuran Nilai
Absorbansi dan
Konsentrasi
Protease Romb. I
Nilai Konsentrasi

0,57

4,56
0,125

25.000

0,86

6,88
0,144
7,12
0,306
5,04
0,422
7,04
0,762
8,16
0,782

50.000

0,89
0,63
0,88
1,02

100.000
200.000
400.000
406.305

2 (lele makan)

0,325

139.169

3 (Blanko lele makan)

0,206

69.854

4 (lele puasa)

0,396

180.961

5 (lele puasa)

0,316

134.123

6 (Blanko lele puasa)

0,303

126.545

2 / Lele
7 (lele makan)
makan dan
lele puasa

0,373

8 (lele makan)

0,287

117.002

9 (Blanko lele makan)

0,168

47.664

10 (lele puasa)

0,238

88.550

11 (lele puasa)

0,217

76.666

12 (Blanko lele puasa)

0,172

13 (nilem makan)

0,854

3 / Nilem

167.247

50.385
448.258

makan dan
nilem
puasa
14 (nilem makan)

0,748

386.148

15 (Blanko nilem makan)

0,376

169.110

16 (nilem puasa)

0,854

448.060

17 (nilem puasa)

0,787

408.650

18 (Blanko nilem puasa)

0,342

149.213

4 / Nilem
makan dan
19 (nilem makan)
nilem
puasa

1,151

621.541

20 (nilem makan)

1,376

752.737

21 (Blanko nilem makan)

0,372

166.585

22 (nilem puasa)

1,222

662.611

23 (nilem puasa)

1,227

665.365

24 (Blanko nilem puasa)

0,274

109.767

5 / Nilem
makan dan
25 (nilem makan)
nilem
puasa

0,563

278.343

26 (nilem makan)

0,681

347.381

27 (Blanko nilem makan)

0,316

133.979

28 (nilem puasa)

1,135

611.959

29 (nilem puasa)

1,114

599.755

30 (Blanko nilem puasa)

0,440

206.707

Data perhitungan Tris-HCl rasio (1:8) :


Kelompok 1
Lele makan

Kelompok 3
= berat usus x 8

Nilem Makan = berat usus x 8

= 0,76 x 8

= 0,57 x 8

= 6,08 gram

= 4,56 gram

Lele Puasa

= berat usus x 8

Nilem Puasa = berat usus x 8

= 0,32 x 8

= 0,86 x 8

= 2,56 gram

= 6,88 gram

Kelompok 2
Lele makan

Lele Puasa

Kelompok 4

= berat usus x 8

Nilem Makan = berat usus x 8

= 0,61 x 8

= 0,89 x 8

= 4,88 gram

= 7,12 gram

= berat usus x 8

Nilem Puasa = berat usus x 8

= 0,44 x 8

= 0,63 x 8

= 3,52 gram

= 5,04 gram

Kelompok 5
Nilem Makan = berat usus x 8
= 0,88 x 8
= 7,04
Nilem Puasa = berat usus x 8
= 1,02 x 8
= 8,16
Data perhitungan aktivitas enzim protease kelompok 2 rombongan I
1. Aktivitas enzim dinyatakan dalam konsentrasi (X)
167.247+117.002
-47.664
a. Lele makan
= 2
b. Lele puasa

= 94.460,5 U

88.550 + 76.666
- 50.385
= 2

= 32.223 U

2. Aktivitas enzim dinyatakan dalam konsentrasi/menit


94.460,5
a. Lele makan
= 20
= 4723,025 U/menit
b. Lele puasa

III.2.

32.223
= 20

= 1611,15 U/menit

III.2.

Pembahasan
Perubahan strategi pemberian pakan akan berefek pada perubahan fisiologis

ikan, salah satunya ialah perubahan aktivitas protease. Hal ini dikarenakan setiap
hewan umumnya dipengaruhi oleh pola makan. Misalnya, pada ikan Clarias,
diketahui struktur memiliki perut maskulin yang dapat dilembungkan. Hal ini
menunjukkan ketergantungan pada pola makan hewani pada ikan Clarias
(Hlophe et al., 2014).
Perubahan fisiologis yang terjadi salah satunnya ialah perubahan pada
aktivitas enzim protease. Enzim protease merupakan biokatalisator dalam reaksi
pemecahan protein. Enzim ini akan mengkatalisis reaksi yang melibatkan unsur
air pada ikatan spesifik substrat atau yang biasa disebut reaksi hidrolase
(Winarno, 1983). Protease merupakan enzim yang sangat kompleks. Protease
memiliki sifat fisiko kimia dan sifat katalitik yang sangat bervariasi. Protease
dapat dihasilkan secara ekstraseluler dan intraseluler dan berperan penting dalam
metabolisme sel dan keteraturan proses dalam sel (Ward, 1983).
Menurut Winarno (1983), beberapa enzim protease yang terdapat dalam
pankreas atau usus halus ikan lele, diantaranya:
1. Tripsin, berfungsi untuk memotong protein pada urutan asam amino
setelah asam amino basa, yaitu Lysin dan Arginin.
2. Kimotripsin, berfungsi memotong protein pada urutan asam amino
setelah asam amino aromatik, yaitu fenilalanin, Tyronin, dan
Triptophan.
3. Elastase, berfungsi memotong protein pada urutan asam amino
setelah asam amino non-polar kecil yaitu Alanin dan Serin.
4. Amino peptidase, berfungsi memotong protein pada asam amino
ujung-N.
5. Karboksi peptidase, berfungsi memotong protein pada asam amino
ujung-C.
Beberapa faktor yang mempengaruhi aktivitas enzim, salah satunya ialah
enzim protease, diantaranya :
1. pH
Enzim memiliki pH optimum dimana enzim tersebut mempunyai
aktivitas maksimal. Misal enzim protease yang terdapat di dalam
usus halus memiliki pH optimum 7,7 berbeda dengan enzim protease
yang terdapat di lambung dengan pH optimum 2. Apabila enzim
berada pada kondisi pH di atas atau di bawah pH optimum, maka
aktivitas enzim berkurang (Nelson et al., 2008). Perubahan pH dapat

mempengaruhi ionisasi pada sisi aktif enzim atau mempengaruhi


struktur tersier dari apoenzim. Selain itu, perubahan pH yang drastis
dapat menyebabkan denaturasi protein (Lehninger, 1982).
2. Suhu
Enzim rpotease memiliki suhu optimum 470C. Sehingga, jika
suhunya dibawah suhu optimum, aktivitas enzim protease tidak
optima. Namun, jika suhu melebihi suhu optimum dapat menyebakan
denaturasi enzim; aktivitas enzim akan berkurang (Lehninger, 1982).
3. Inhibitor
Inhibitor adalah senyawa yang bersifat menghambat katalisis,
memperlambat atau menahan reaksi enzimatik. Inhibisi aktivitas
enzim dapat bersifat irreversibel, yaitu terikat secara kovalen pada
enzim atau reversibel yaitu dapat terdisosiasi dari enzim (Lehninger,
1982).
Metode yang digunakan untuk mengukur aktivitas protease pada praktikum
ini ialah metode hidrolisis kasein. Buffer Tris-HCl sebanyak 350 L dimasukkan
ke dalam masing-masing tabung (tabung sampel 1, tabung sampel 2 dan blanko).
Buffer Tris-HCl ini berfungsi sebagai larutan penyangga. Kemudian, Ekstrak
enzim dimasukkan ke dalam tabung sampel 1 dan sampel 2 sebanyak 50 L,
sedangkan pada tabung blanko, ekstrak enzim dimasukkan setelah inkubasi.
Ekstrak enzim ini ialah protease yang berfungsi memecah protein. Seluruh
tabung diinkubasi pada suhu 370C selama 10 menit. Inkubasi dilakukan untuk
meningkatkan aktivitas enzim, karena masing-masing enzim memiliki aktivitas
berbeda-beda pada suhu tertentu. Selanjutnya, subtrat kasein 1% dimasukkan ke
dalam masing-masing tabung sebanyak 350 L. Kasein berfungsi sebagai
substrat yang akan terikat pada sisi aktif enzim sehingga pengukuran aktivitas
enzim dapat dilakukan.Seluruh tabung diinkubasi kembali selama 20 menit pada
suhu 370C untuk memulai aktivitas enzim menghidrolisis substrat. Reagen TCA
8% ditambahkan ke masing-masing tabung sebanyak 750 L. TCA (Tri
Chloroacetat Acid) berfungsi sebagai inhibitor yang menghentikan reaksi antara
enzim dan substrat. Seluruh tabung dimasukkan ke dalam refrigerator selama 15
menit agar terbentuk natan dan supernatan. Dipindahkan ke dalam tabung
ependorf , kemudian disentrifugasi selama 10 menit dengan kecepatan 6000 rpm.
Hal ini bertujuan akan supernatan benar-benar terpisah dari natan. Supernatan
sebanyak 1000 L ditambahkan ke dalam tabung berisi akuades sebanyak 1500

L agar tidak terlalu pekat, sehingga dapat diukur absorbansinya menggunakan


spektrofootometer, kemudian divortex agar homogen. Selanjutnya diukur pada
280 nm. Hasil absorbansi kemudian dihitung unit aktivitas enzimnya. Unit
aktivitas enzim merupakan jumlah enzim yang menyebabkan kenaikan 0,001 A
unit/menit (Schenk, 1981).
Berdasarkan hasil perhitungan, diketahui aktivitas enzim protease yang
dinyatakan dalam konsentrasi (x) ikan lele yang diberi pakan memiliki hasil
yang lebih tinggi, yaitu 94.460,5 U sedangkan hasil dari ikan lele yang
dipuasakan adalah 32.223 U. Begitu juga dengan hasil perhitungan aktivitas
enzim protease per menit. Ikan lele yang diberi pakan memiliki hasil yang lebih
tinggi yaitu 4723, 025 U/ menit, sedangkan ikan lele puasa ialah 1611,15
U/menit. Hasil ini sesuai dengan pustaka. Menurut Hanum et al., (2013), pada
saluran digesti, pakan akan bertindak sebagai penginduksi aktivitas enzim. Oleh
sebab itu ikan yang diberi pakan akan memiliki aktivitas enzim yang lebih tinggi
daripada ikan yang dipuasakan.

IV.
KESIMPULAN DAN SARAN
IV.1. Kesimpulan
Berdasarkan hasil dan pengamatan sebelumnya, dapat disimpulkan
bahwa :
1. Kapasitas pencernaan ikan yang terukur sebagai aktivitas protease
pada ikan lele yang diberi pakan memiliki aktivitas yang lebih tinggi
yaitu 94.460,5 U dan 4723,025 U/menit, sedangkan ikan lele yang
dipuasakan aktivitas enzim proteasenya lebih rendah yaitu 32.223 U
dan 1611,15 U/menit.
IV.2. Saran
Seharusnya praktikum dimulai tepat waktu, sehingga tidak terjadi
keterlambatan waktu saat selesai praktikum yang terlalu lama.

DAFTAR REFERENSI
Arifin, M.Z. 1991. Budidaya Lele. Semarang : Dohara prize.
Hanum, Wieka Mahalida., Untung Susilo., & Slamet Priyanto. 2013. Aktivitas
Protease dan Kadar Protein Tubuh Ikan Lele Dumbo (Clarias gariepinus)
pada Kondisi Puasa dan Pemberian Pakan Kembali. Jurnal.pp. 1-7.
Hlophe, S. N., N. A. G. Moyo., & I. Ncube. 2014. Postprandial changes in pH
and enzyme activity from the stomach and intestines of Tilapia rendalli
(Boulenger, 1897), Oreochromis mossambicus (Peters, 1852) and Clarias
gariepinus (Burchell, 1822). J. Appl. Ichthyol. Vol. 30, pp. 3541.
Lehninger, A.L. 1982. Dasar-Dasar Biokimia, diterjemahkan oleh M.
Theniwidjaja. Jakarta : Erlangga.
Nelson, D.L. & M.C. Michael. 2008. Principle of Biochemistry Fifth edition. New
York : W.H. Fremann and Company.
Roa, R.L. & H.J. Vicente. 2009. Compensantory Weight Gain and Muscle Tissue
Biochemical Composition of GET Excel Tilapia (Oreochromis niloticus)
Juvenniles. Journal of Environment and Aquatic Resources. Vol 1(1), pp.
99-111.
Schenk, G.H. 1981. Quantitative Analytical Chemistry. New Jersey : Prentice
Hall.
Susilo, Untung., Nuning Setyaningrum., & Farida Nur Rachmawati. 2013.
Aktivitas Protease dan Komposisi Proksimat Tubuh Ikan Sidat (Anguilla
bicolor Mcclelland) pada Kondisi Puasa dan Pemberian Pakan Kembali.
Jurnal, pp. 1-8.
Ward, O.P. 1983. Proteinases In Fogatory Microbial Enzymes and Biotechnology.
New York : Applied Science Publisher.
Winarno, F.G. 1983. Enzim Pangan. Jakarta : Gramedia Pustaka Utama.
Zhu, X., S. Xie., Z. Zou., W. Lei., Y. Cui., Y. Yang., & R.J. Wootton. 2004.
Compensantoryy growth and food consumption in gibel carp Carrassius
auratus gibelio and Chinese longsnout catfish Leiocassis longirostris,
Experiencing cycles of feed deprivation and re-feeding. Aquaculture. Vol.
241, pp. 235-247.