Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN

PADA KOMPLIKASI KEHAMILAN TORCH


DOSEN PEMBIMBING: DEVI PERMATASARI, S.Kep., Ns., MAN

DISUSUN OLEH (KELOMPOK 5) :


1. ANNISA NAWANG P
2. KRIS NOVITA D
3. SELLY RAHAYU

(1502093)
(1502109)
(1502123)

PRODI D-III KEPERAWATAN II.C


STIKES MUHAMMADIYAH KLATEN
OKTOBER 2016

KATA PENGANTAR
Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah SWT, yang telah memberikan
rahmat dan hidayah-Nya kepada kita semua, dan tak lupa syalawat serta salam
kita hanturkan kepada Nabi besar Muhammad SAW, sehingga kami dapat

menyelesaikan tugas Makalah Asuhan Keperawatan pada mata kuliah Maternitas


ini tepat waktu.
Makalah dengan judul Asuhan Keperawatan Pada Komplikasi Kehamilan
TORCH ini kami susun untuk memenuhi nilai tugas mata kuliah Maternitas yang
di berikan oleh Ibu Devi Permatasari, S.Kep., Ns., MAN Kami mengucapkan
banyak terima kasih kepada Ibu Devi Permatasari, S.Kep., Ns., MAN selaku
dosen pembimbing kami, terimakasih kepada anggota kelompok 5, serta pihakpihak yang telah banyak membantu dalam menyusun makalah ini.
Kami menyadari masih banyak kekurangan dari makalah ini, dengan
kerendahan hati kami memohon maaf.
Semoga makalah ini dapat berguna dan bermanfaat bagi pembaca sekalian.

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i

DAFTAR ISI.............................................................................................. ii
BAB I...................................................................................................... 1
PENDAHULUAN....................................................................................... 1
A.

Latar Belakang.................................................................................. 1

B.

Tujuan............................................................................................. 2

BAB II..................................................................................................... 3
KONSEP DASAR....................................................................................... 3
A.

Pengertian........................................................................................ 3

B.

Etiologi........................................................................................... 4

C.

Patofisiologi..................................................................................... 5

D.

Tanda dan Gejala............................................................................... 6

E.

Pemeriksaan Diagnostik.......................................................................7

F.

Penatalaksanaan: Prinsip Perawatan dan Terapi Medis.................................7

G.

Pathways......................................................................................... 8

BAB III.................................................................................................... 9
KONSEP KEPERAWATAN...........................................................................9
A.

Pengkajian....................................................................................... 9

B.

Diagnosa Keperawatan........................................................................9

C.

Intervensi....................................................................................... 10

BAB IV.................................................................................................. 17
PENUTUP............................................................................................... 17
A.

Kesimpulan.................................................................................... 17

DAFTAR PUSTAKA................................................................................. 18

BAB I
PENDAHULUAN

A.Latar Belakang
Wanita hamil dan janinnya, rentan terhadap banyak infeksi dan penyakit
infeksi. Beberapa penyakit ini mungkin cukup serius dan mengancam nyawa bagi
ibu, sementara yang lain menimbulkan dampak besar pada neonatus karena
besarnya kemungkin infeksi pada janin
Bakteri, virus dan parasit dapat memperoleh akses ke plasenta saat tahap
viremia, bakterimia, atau parasitemia infeksi pada ibu. Mikroorganisme juga dapat
menembus selaput ketuban yang utuh. Infeksi pada janin mungkin terjadi pada
awal kehamilan dan menyebabkan stigmata yang nyata saat lahir. Sebaliknya,
organism mungkin mengolonisasi dan menginfeksi janin saat persalinan dan
kelahiran
Efek infeksi virus terhadap kehamilan bergantung pada apakah virus dapat
melewati barier plasenta
Infeksi perinatal adalah infeksi pada neonatus yang terjadi pada masa
antenatal, intranatal dan postnatal. Infeksi antenatal adalah infeksi yang terjadi
pada masa kehamilan ketika kuman masuk ke tubuh janin melalui sirkulasi darah
ibu, lalu masuk melewati plasenta dan akhirnya ke dalam sirkulasi darah
umbilikus. Riwayat kehamilan yang meningkatkan resiko bayi terinfeksi,
diantaranya adalah infeksi pada ibu selama kehamilan seperti TORCH, diabetes
melitus, ekslampsia, dan penyakit bawaan pada ibu. Infeksi intranatal adalah
infeksi yang terjadi pada masa persalinan. Infeksi ini sering terjadi ketika
mikroorganisme masuk dari vagina, lalu naik kemudian masuk ke dalam rongga
amnion, biasanya setelah selaput ketuban pecah. Ketuban yang pecah lebih dari 12
jam akan menjadi penyebab timbulnya plasentitis dan amnionitis. Infeksi dapat
terjadi pula walaupun air ketuban belum pecah, yaitu pada partus lama yang
sering dilakukan manipulasi vagina, termasuk periksa dalam dan kromilage
(melebarkan jalan lahir dengan jari penolong). Infeksi dapat pula terjadi melalui
kontak langsung dengan kuman yang berasal dari vagina, misalnya pada
Blennorhoe. Infeksi postnatal adalah infeksi yang terjadi setelah bayi lahir
lengkap, misalnya melalui kontaminasi langsung dengan alat-alat yang tidak steril,
tindakan yang tidak antiseptik atau dapat pula terjadi akibat infeksi silang
misalnya pada tetanus neonatorum, omfalitis, dll.

B.Tujuan
1.
2.
3.
4.

Untuk mengetahui pengertian dari TORCH


Untuk mengetahui etiologi dari TORCH
Untuk mengetahui patofisiologi dari TORCH
Untuk mengetahui tanda dan gejala dari TORCH

5. Untuk mengetahui pemeriksaan diagostik dari TORCH


6. Untuk mengetahui penatalaksanaan pada TORCH
7. Untuk mengetahui asuhan keperawatan pada pasien TORC

BAB II
KONSEP DASAR
A.Pengertian
Infeksi TORCH (toksoplasma, rubella, cytomegalovirus/CMV dan herpes
simplex) adalah sekelompok infeksi yang dapat ditularkan dari wanita hamil
5

kepada bayinya. Ibu hamil yang terinfeksi TORCH beresiko tinggi menularkan
kepada janinnya yang bisa menyebabkan cacat bawaan. Dugaan terhadap infeksi
TORCH baru bisa dibuktikan dengan melakukan pemeriksaan darah atau skrining.
Jika hasilnya positif, atau terdapat infeksi aktif, selanjutnya disarankan
pemeriksaan diagnostik berupa pengambilan sedikit cairan ketuban untuk di
periksa di laboratorium.
TORCH adalah istilah yang mengacu kepada infeksi yang disebabkan oleh
(Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV) dan Herpes simplek virus II
(HSV-II) dalam wanita hamil. TORCH merupakan singkatan dari Toxoplasma
gondii (toxo), Rubella, Cyto Megalo Virus (CMV), Herpes Simplex Virus (HSV)
and other desease. Infeksi TORCH ini sering menimbulkan berbagai masalah
kesuburan (fertilitas) baik pada wanita maupun pria sehingga menyebabkan
terjadinya sulit kehamilan. Infeksi TORCH bersama dengan paparan radiasi dan
obat-obatan teratogenik dapat mengakibatkan kerusakan pada embrio. Beberapa
kecacatan janin yang bisa timbul akibat TORCH yang menyerang wanita hamil
antara lain kelainan pada saraf, mata, telinga, kelainan pada otak, paru-paru,
terganggunya fungsi motorik, hidrosepalus dan lain sebagainya. TORCH tidak
hanya berkaitan dengan masalah kehamilan saja. TORCH juga bisa menyerang
orang tua, anak muda dari berbagai kalangan, usia dan jenis kelamin. TORCH
bisa menyerang otak (misalnya timbul gejala sering sakit kepala), menyebabkan
sering timbul radang tenggorokan, flu berkepanjangan, sakit pada otot,
persendian, pinggang, sakit pada kaki, lambung, mata dan sebagainya .
(Maryunani & Puspita, 2013)
Dari pengertian diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa TORCH adalah
infeksi yang disebabkan oleh (Toksoplasma, Rubella, Cytomegalovirus (CMV)
dan Herpes simplek virus II (HSV-II) pada wanita hamil yang dapat mengganggu
kesehatan janin maupun bayi yang telah dilahirkannya. TORCH termasuk infeksi
antenatal, yaitu infeksi yang terjadi pada masa kehamilan ketika kuman masuk ke
tubuh janin melalui sirkulasi darah ibu, lalu masuk melewati plasenta dan
akhirnya ke dalam sirkulasi darah umbilikus.

B.Etiologi
TORCH dapat disebabkan oleh beberapa faktor
1. Makan daging setengah matang yang berasal dari hewan terinfeksi
(mengandung sista), misalnya daging sapi, kambing, domba, kerbau, babi,
ayam, kelinci, dan lainnya.Kemungkinan terbesar penularan TORCH ke
6

manusia adalah melalui jalur ini yaitu melalui masakan sate yang setengah
matang atau masakan lain yang dagingnya dimasak tidak sempurna,
termasuk otak, hati, dan lainnya
2. Makan makanan yang tercemar oosista dari feses (kotoran) kucing yang
menderita TORCH. Fese kucing yang mengandung oosista akan mencemari
tanah (lingkungan) dan dapat menjadi sumber penularan baik pada manusia
maupun hewan. Tingginya resiko infeksi TORCH melalui tanah yang
tercemar disebabkan karena oosista bisa bertahan di tanah sampai beberapa
bulan
3. Tranfusi darah (trofozoid), transplantasi organ atau cangkok jaringan
(trozoid sista), kecelakaan di laboratorium yang menyebabkan TORCH
masuk ke dalam tubuh atau tanpa sengaja masuk melalui luka
4. Hubungan seksual antara pria dan wanita juga bisa menyebabkan
menularnya TORCH. Misalnya seorang pria terkena salah satu penyakit
TORCH kemudian melakukan hubungan seksual dengan seorang wanita
(padahal sang wanita sebelumnya belum terjangkit) maka ada kemungkinan
wanita tersebut nantinya akan terkena penyakit TORCH sebagaimana yang
pernah diderita oleh lawan jenisnya
5. Ibu hamil yang kebetulan terkena salah satu penyakit TORCH ketika
mengandung maka ada kemungkinan juga anak yang dikandungnya terkena
penyakit TORCH melalui plasenta
6. Air Susu Ibu (ASI) juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit
TORCH. Hal ini bisa terjadi seandainya sang ibu yang menyusui kebetulan
terjangkit salah satu penyakit TORCH maka ketika menyusui penyakit
tersebut bisa menular kepada sang bayi yang sedang di susuinya
7. Keringat yang menempel pada baju ataupun yang masih menempel di kulit
juga bisa menjadi penyebab menularnya penyakit TORCH. Hal ini bisa
terjadi apabila seorang yang kebetulan kulitnya menempel ataupun lewat
baju yang baru saja dipakai si penderita penyakit TORCH
8. Faktor lain yang dapat mengakibatkan terjadinya penularan pada manusia,
antara lain kebiasaan makan sayuran mentah dan buah-buahan segar yang
dicuci kurang bersih, makan tanpa mencuci tangan terlebih dahulu,
mengkonsumsi makanan dan minuman yang disajikan tanpa ditutup,
sehingga kemungkinan terkontaminasi oosista lebih besar
7

9. Air liur juga bisa sebagai penyebab menularnya penyakit TORCH. Cara
penularannya juga hampir sama dengan penularan pada hubungan seksual
(Maryunani & Puspita, 2013)

C.Patofisiologi
1. Toxoplasmosis
a. Transmisi toxoplasma kongenital hanya terjadi bila infeksi toxoplasma
akut terjadi selama kehamilan.
b. Bila infeksi akut dialami ibu selama kehamilan yang telah memiliki
antibodi antitoxoplasma karena sebelumnya telah terpapar, resiko bayi
lahir memperoleh infeksi kongenital adalah sebesar 4-7/1.000 ibu hamil.
c. Resiko meninggkat menjadi 50/1.000 ibu hamil bila ibu tidak
mempunyai antibodi spesifik.
d. Keadaan parasitemia yang ditimbulkan oleh infeksi maternal
menyebabkan parasit dapat mencapai plasenta.
e. Selama invasi dan menetap diplasenta parasit berkembang baik serta
sebagian yang lain berhasil memperoleh akses kesirkulasi janin.
f. Telah diketahui adanya korelasi antara isolasi toxooplasma dijaringan
plasenta dan infeksi neonatus, artinya bahwa hasil isolasi positif
dijaringan plasenta menunjukan terjadinya infeksi pada neonatus dan
sebaliknya hasil isolasi negatif menegaskan infeksi neonatus tidak ada.
g. Berdasarkan hasil pemeriksaan otopsi neonatus yang meninggal dengan
toxoplasmaosis kongrnital ini disususn suatu konsep bahwa infeksi yang
diperoleh janin dalam uterus terjadi melalui aliran darah serta infeksi
plasenta akibat toxoplasmosis merupakan tahapan penting setelah fase
maternal dan sebelumnya terinfeksinya janin.
h. Selanjutnya konsepsi ini berkembang lebih jauh dengan hasil penelitian
sebagai berikut:
1) Frekuensi infeksi toxoplasmosis kongenital sama dengan frekuensi
infeksi plasenta
2) Tiap-tiap kasus bergantung pada usia kehamilan saat terjadinya infeksi
maternal
3) serta apakah ibu memberoleh pengobatan selama kehamilan
2. Rubella
Kematian pada post natal rubella biasanya disebabkan oleh
enchepalitis. Pada infeksi awal virus akan masuk melalui traktus
respiratorius yang kemudian akan menyebar ke kelenjar limfa sekitar dan
mengalami multiplikasi serta mengawali terjadinya viremia dalam waktu 7
hari. Janin dapat terinfeksi selama terjadinya viremia maternal. Saat ini,
telah diketahui bahwa infeksi plasenta terjadi pada 80% kasus dan resiko

kerusakan jantung, mata atau telinga janin sangat tinggi pada trimester I.
jika infeksi maternal terjadi sebelum usia kehamilan 12 minggu, 60% bayi
akan terinfeksi. Kemudian, resiko akan menurun menjadi 17% pada
minggu ke 14 dan selanjutnya menjadi 6% setelah usia kehamilan 20
minggu akan tetapi, plasenta biasanya terinfeksi dan virus akan menjadi
laten pada bayi yang terinfeksi kongenital selama bertahun-tahun.
3. Citomegalovirus (CMV)
Infeksi ini pada umumnya terjadi pada daerah sosial ekonomi yang rendah
oleh karena kebersihan lingkungan kuraang memenuhi syarat dan daya
tahan tubuh yang tidak mampu menolaknya. Infeksi pertam merupakan
infeksi laten, sekalipun terdapat antibody. Cara penularan infeksi dengan
jalan :
a. Horizontal yaitu droplet,saliva dan barang lainnya, kemudian memalui
tempat perawatan atau sebagai sumber infeksi.
b. Vertikal : infeksi menuju janin yaitu terutama melalui plasenta 30-40%
menimbulkan kelainan kongenital,15-20 % menimbulkan gangguan
neurologis dan mental, 10-30% akan mengalami kematian.
4. Herpes
Dalam tahun-tahun terakhir ini, herpes genital telah mengalami
peningkatan. Akan tetapi, untungnya herpes neonatal agak jarang terjadi,
bervariasi dari satu dalam 2000 sampai 1 dalam 60.000 bayi baru lahir.
Transmisi terjadi dari kontak langsung dengan penderita herpes pada saat
melahirkan. Resiko infeski perinatal adalah 35-40% jika ibu yang
melahirkan terinfeksi herpes genital primer pada akhir kehamilannya.

D.Tanda dan Gejala


1. Pada Ibu hamil
a. Demam
b. Pusing, sakit kepala
c. Lemas, letih, lesu, dan cepat lelah
d. Mata terasa nyeri dan berair
e. Nyeri sendi
f. Tenggorokan kering disertai pharingitis
g. Pembengkakan kelenjar getah bening
h. Kemerahan di kulit dan organ genetalia
2. Pada bayi baru lahir
a. Kelainan pada mata (radang mata)
b. Kerusakan telinga (tuli)
c. Kerusakan jantung
d. Gangguan pertumbuhan
e. Gangguan saraf pusat

f. Kerusakan otak (radang otak)


g. Keterbelakangan mental
h. Pembesaran hati dan limpa

E. Pemeriksaan Diagnostik
Diagnosis dilakukan dengan tes ELISA. Ditemukan bahwa antibodi IgM
menunjukkan hasil positif 40 (10.52%) untuk toxoplasma, 102 (26,8%) untuk
Rubella, 32 (8.42%) untuk CMV, dan 14 (3,6%) untuk HSV-II. Antibodi IgG
menunjukkan hasil positif 160 (42.10%) untuk toxoplasma, 233 (61.3%) untuk
rubella, 346 (91,05%) untuk CMV dan 145 (33.58%) untuk HSV-II

F. Penatalaksanaan: Prinsip Perawatan dan Terapi Medis


1. Penatalaksanaan Medis
a. Spiramisin, dijaringan obat ini ditemukan kadar atau konsentrasi yang
tinggi tertama pada plasenta tanpa melewatinya serta aktif membunuh
takizoid sehingga menekan transmisi transplasental
b. Piramitamin, pemakaian obat ini dimulai trimester II setelah umur
kehamilan 14 minggu guna menghindari efek teratogenik pada janin
c. Jika diketahui adanya infeksi rubella alamiah pada awal kehamilan,
tindakan aborsi sebaiknya dipertimbangkan karena terjadinya resiko
cacat pada janin sangat tinggi
d. Obat yang digunakan untuk anti CMV untuk saat ini adalh Ganciclovir,
Foscarnet, CidofiVir dan Valaciclovir
e. Pemberian parasetamol pada penderita herpes untuk mengatasi nyeri dan
demam
2. Penatalaksanaan Keperawatan
a. Menganjurkan mengunakan sarung tangan saat membersihkan tempat
sampah
b. Menganjurkan memberi makanan matang pada hewan peliharaan seperti
kucing dan mecegah berburu tikus dan burung
c. Menganjurkan pemberian imunisasi Rubella untuk semua orang yang
rentan
d. Melakukan konseling, pada infeksi primer yang terjadi pada umur
kehamilan 20 minggu setelah memperhatikan hasil diagnosis prenatal
kemungkinan dapat dipertimbangkan adanya terminasi kehamilan
e. Bersihkan lesi dengan menggunakan larutan antiseptik dan kompres
dengan air hangat
f. Bila diputuskan bersalin dengan pervagina, hindarkan transmisi bayi atau
penolong

10

G.Pathways

11

BAB III
KONSEP KEPERAWATAN
A.Pengkajian
1. Keluhan utama: demam
2. Riwayat kesehatan sekarang: Suhu tubuh meningkat, malaise, sakit
tenggorokan, mual dan muntah, nyeri otot
3. Riwayat kesehatan dahulu:
a. kien sering berkontak langsung dengan binatang
b. klien sering mengkonsumsi daging setengah matang
c. klien pernah mendapatkan transfusi darah
4. Pemeriksaan Fisik (data fokus):
a. Sistem muskuloskeletal: nyeri
b. Sistem pencernaan: diare, mual, dan muntah
c. Integument: suhu tubuh meningkat, timbulnya rash dan lesi pada kulit
d. Genetalia: terdapat flek, nyeri
5. Pemeriksaan Penunjang
a. Anti-Toxoplasma IgM dan Anti-Toxoplasma IgG (untuk mendeteksi
infeksi Toxoplasma)
12

b. Anti-Rubella IgM dan Anti-Rubella IgG (untuk mendeteksi infeksi


Rubella)
c. Anti-CMV IgM dan Anti-CMV IgG (untuk mendeteksi infeksi
Cytomegalovirus)
d. Anti-HSV2 IgM dan Anti-HSV2 IgG (untuk mendeteksi infeksi virus
Herpes)

B.Diagnosa Keperawatan
1. Kerusakan integritas kulit bd hipertermia
2. Hipertermia bd peningkatan laju metabolisme
3. Ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd kurang asupan
makanan
4. Nyeri akut bd agen cidera biologis (infeksi, iskemia, neoplasma)
5. Resiko infeksi
6. Dukacita bd kematian orang terdekat
(Internasional, 2015)

C.Intervensi
1. Diagnosa 1
Kerusakan integritas kulit bd hipertermia
Adalah peruabahan pada epidermis dan dermis
NOC
:
Tissue Integrity : Skin and Mocous Membrane
Kriteria hasil :
a. Integritas
kulit
yang
baik
bisa
dipertahankan
(sensasi,elastisitas,temperatus,hidrasi,pigmentas)
b. Tidak ada luka atau lesi pada kulit
c. Perfusi jaringan baik
d. Menunjukan pemahaman dalam proses perbaikan kulit dan mencegah
terjadinya cidera berulang
e. Mampu melindungi kulit dan mempertahankan kelembaban kulit serta
perawatan alami
NIC
:
Presure management
a. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang longgar
b. Hindari kerutan pada tempat tidur

13

c. Jaga kebersihan kulit agar tetep bersih dan kering


d. Mobilisasi pasien (ubah posisi pasien) setiap dua jam sekali
e. Monitor kulit akan adanya kemerahan
f. Oleskan lotion atau minyal/baby oil pada daerah yang tertekan
g. Monitor aktifitas dan mobilitas pasien
h. Monitor status nutrisi pasien
i. Memandikan pasien dengan sabun dan air hangat
2. Diagnosa 2
Hipertermia bd peningkatan laju metabolisme
Adalah suhu inti tubuh di atas kisaran normal diural karena kegagalan
termoregulasi
NOC
a. Thermoregulation
Kriteria Hasil
a. Suhu tubuh dalam rentang normal
b. Nadi dan RR dalam rentang normal
c. Tidak ada perubahan warna kulit dan tidak ada pusing
NIC
Fever treatment
a. Monitor suhu sesering mungkin
b. Monitor IWL
c. Monitor warna dan suhu kulit
d. Monitor tekanan darah, nadi dan RR
e. Monitor penurunan tingkat kesadaran
f. Monitor WBC, Hb, dan Hct
g. Monitor intake dan output
h. Berikan antipiretik
i. Berikan pengobatan untuk mengatasi penyebab demam
j. Selimuti pasien
k. Lakukan tapid sponge
l. Kolaborasi pemberian cairan intravena
m. Kompres pasien pada lipat paha dan aksila
n. Tingkatkan sirkulasi darah
o. Berikan pengobatan untuk mencegah terjadinya menggigil
Temperature regulation
a. Monitor suhu minimal tiap 2 jam
b. Rencanakan monitoring suhu secara kontinyu
c. Monitor TD, nadi dan RR
d. Monitor warna dan suhu kulit
e. Monitor tanda-tanda hipertermi dan hipotermi
f. Tingkatkan intake cairan dan nutrisi
g. Selimuti pasien untuk mencegah hilangnya kehangatan tubuh
h. Ajarkan pada pasien cara mencegah keletihan akibat panas
i. Diskusikan tentang pentingnya pengaturan suhu dan kemungkinan efek
negatif dari kedinginan

14

j. Beritahukan tentang indikasi terjadinya keletihan dan penanganan


emergency yang diperlukan
k. Ajarkan indikasi dari hipotermi dan penanganan yang diperlukan
l. Berikan antipiretik
Vital sign monitor
a. Monitor TD, suhu, nadi dan RR
b. Catat adanya fluktuasi tekanan darah
c. Monitor VS saat pasien berbaring, duduk, atau berdiri
d. Auskultasi TD pada kedua lengan dan bandingkan
e. Monitor TD, nadi, RR sebelum, selama, dan setelah aktivitas
f. Monitor kualitas dari nadi
g. Monitor frekuensi dan irama pernafasan
h. Monitor suara paru
i. Monitor pola pernafasan abnormal
j. Monitor suhu, warna, dan kelembaban kulit
k. Monitor sianosis perifer
l. Monitor adanya chusing triad (tekanan nadi yang melebar, bradikardi,
peningkatan sistolik)
m. Identifikasi penyebab dari perubahan vital sign
3. Diagnosa 3
Ketidak seimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh bd kurang asupan
makanan
Adalah asupan nutrisi tidak cukup untuk memenuhi kebutuhan metabolik
NOC
a. Nutritional Status: Food and Fluid Intake
b. Nutritional Status: Nutrient Intake
c. Weigh control
Kriteria Hasil
a. Adanya peningkatan berat badan sesuai dengan tujuan
b. Berat badan ideal sesuai dengan tinggi badan
c. Mampu mengidentifikasi kebutuhan nutrisi
d. Tidak ada tanda-tanda malnutrisi
e. Menunjukkan peningkatan fungsi pengecap dari menelan
f. Tidak terjadi penurunan berat badan yang berarti
NIC
Nutrion Management
a. Kaji adanya alergi makanan
b. Kolaborasi dengan ahli gizi untuk menentukan jumlah kalori dan nutrisi
yang dibutuhkan pasien
c. Anjrkan pasien untuk meningkatkan intake Fe
d. Anjurkan pasien untuk meningkatkan protein dan vitamin C
e. Berikan substansi gula
f. Yakinkan diet yang dimakan mengandung tinggi serat untuk mencagah
konstipasi
g. Berikan makanan yang terpilih (sudah dikonsultasikan dengan ahli gizi)

15

h. Ajarkan pasien bagaimana membuat catatan makanan harian


i. Monitor jumlah nutrisis dan kandungan kalori
j. Berikan informasi tentang kebutuhan nutrisi
k. Kaji kemampuan pasien untuk mendapatkan nutrisis yang dibutuhkan
Nutrion Monitoring
a. BB pasien dalam batas normal
b. Monitor adanya penurunan berat badan
c. Monitor tipe dan jumlah aktivitas yang bisa dilakukan
d. Monitor interaksi anak atau orang tua selama makan
e. Monitor lingkungan selama makan
f. Jadwalkan pengobatan dan tindakan tidak selama jam makan
g. Monitor kulit kering dan perubahan pigmentasi
h. Monitor turgor kulit
i. Monitor kekeringan, rambut kusam, dan mudah patah
j. Monitor mual dan muntah
k. Monitor kadar albumin, total protein Hb dan kadar Ht
l. Monitor makanan kesukaan
m. Monitor pertumbuhan dan perkembangan
n. Monitor pucat, kemerahan, dan kekeringan jaringan konjungtiva
o. Monitor kalori dan intake nutrisi
p. Catat adanya edema, hiperemik, hipertonik papila lidah dan cavitas oral
q. Cacat jika lidah berwarna magenta, scarlet
4. Diagnosa 4
Nyeri akut bd agen cidera biologis (infeksi, iskemia, neoplasma)
Adalah pengalaman sensori dan emosional tidak menyenangkan yang
muncul akibat kerusakan jaringan aktual atau potensial atau yang
digambarkan sebagai kerusakan (International Association for the Study of
Pain); awitan yang tiba-tiba atau lambat dari intensitas ringan hingga berat
dengan akhir yang dapat diantisipasi atau diprediksi
NOC
a. Pain level
b. Pain control
c. Comfort control
Kriteria Hasil
a. Mampu mengontrol nyeri (tahu penyebab nyeri, mampu menggunakan
tehnik nonfarmakologi untuk mengurangi nyeri, mencari bantuan)
b. Melaporkan bahwa nyeri berkurang dengan menggunakan manajemen
nyeri
c. Mampu mengenali nyeri (skala, intensitas, frekuensi, dan tanda nyeri)
d. Menyatakan rasa nyaman setelah nyeri berkurang
e. Tanda vital dalam rentang normal
NIC
Paint management
a. Lakukan pengkajian nyeri secara komprehensif termasuk lokasi,
karakteristik, durasi, frekuensi, kualitas dan faktor presipitasi

16

b. Observasi reaksi nonverbal dari ketidaknyamanan


c. Gunakan tehnik komunikasi terapeutik untuk mengetahui pengalaman
pasien
d. Kaji kultur yang mempengaruhi respon nyeri
e. Evaluasi pengalaman nyeri masa lampau
f. Evaluasi bersama pasien dan tim kesehatan lain tentang ketidakefektifan
kontrol nyeri masa lampau
g. Bantu pasien dan keluarga untuk mencari dan menemukan dukungan
h. Kontrol lingkungan yang dapat mempengaruhi nyeri seperti suhu
ruangan pencahayaan, dan kebisingan
i. Kurangi faktor presipitasi nyeri
j. Pilih dan lakukan penanganan nyeri (farmakologi, nonfarmakologi dan
interpersonal)
k. Kaji tipe dan sumber nyeri untuk menentukan intervensi
l. Ajarkan tentang tehnik nonfarmakologik
m. Berikan analgetik untuk mengurangi nyeri
n. Evaluasi keefektifan kontrol nyeri
o. Tingkatkan istirahat
p. Kolaborasikan dengan dokter jika ada keluhan dan tindakan nyeri tidak
berhasil
q. Monitor penerimaan pasien tentang manajemen nyeri
Analgesik administration
a. Tentukan lokasi, karakteristik, kualitas, dan derajat nyeri sebelum
pemberian obat
b. Cek intruksi dokter tentang jenis obat, dosis, dan frekuensi
c. Cek riwayat alergi
d. Pilih analgesik yang diperlukan atau kombinasi dari analgesik ketika
pemberian lebih dari satu
e. Tentukan pilihan analgesik tergantung dari tipe dan beratnya nyeri
f. Tentukan analgesik pilihan, rute pemberian dan dosis optimal
g. Pilih rute pemberian secara IV, IM, untuk mengobati nyeri secara teratur
h. Monitor vital sigh sebelum dan sesudah pemberian analgesik pertama
kali
i. berikan analgesik tepat waktu terutama saat nyeri hebat
j. evaluasi efektivitas analgesik, tanda dan gejala (efek samping)
5. Diagnosa 5
Resiko infeksi
Adalah rentan mengalami invasi atau multiplikasi organisme patogenik yang
dapat mengganggu kesehatan
NOC
a. Immune Status
b. Knowledge: infektion control
c. Risk control
Kriteria Hasil
a. Klien bebas dari tanda dan gejala infeksi
17

b. Mendiskripsikan proses penularan penyakit, faktor yang mempengaruhi


penularan serta penatalaksanaannya
c. Menunjukkan kemampuan untuk mencegah timbulnya infeksi
d. Jumlah leukosit dalam batas normal
e. Menunjukkan perilaku hidup sehat
NIC
Infection Control (kontrol infeksi)
a. Bersihkan lingkungan setelah dipakai pasien lain
b. Pertahankan tehnik isolasi
c. Batasi pengunjung
d. Intruksikan pada pengunjung untuk mencuci tangan saat berkunjung dan
setelah berkunjung meninggalkan pasien
e. Gunakan sabun antimikrobia untuk cuci tangan
f. Cuci tangan setiap sebelum dan sesudah tindakan keperawatan
g. Gunakan baju, sarung tangn sebagai alat pelindung
h. Pertahankan lingkungan aseptik selama pemasangan alat
i. Ganti letak IV perifer dan linen central dan dressing sesuai dengan
petunjuk umum
j. Gunakan kateter interminten untuk menurunkan infeksi kandung kencing
k. Tingkatkan intake nutrisi
l. Berikan terapi antibiotik
Infektion Protection (proteksi terhadap infeksi)
a. Monitor tanda dan gejala infeksi sistemik dan lokal
b. Monitor hitung granulosit, WBC
c. Monitor kerentanan terhadap infeksi
d. Batasi pengunjung
e. Saring pengunjung terhadap penyakit menular
f. Pertahankan tehnik aspesis pada pasien yang beresiko
g. Pertahankan tehnik isolasi k/p
h. Berikan perawatan kulit pada area epidema
i. Inspeksi kulit dan membran mukosa terhadap kemerahan, panas, drainase
j. Ispeksi kondisi luka/insisi bedah
k. Dorong masukan nutrisi yang cukup
l. Dorong istirahat
m. Intruksikan pasien untuk minum antibiotik sesuai resep
n. Ajarkan pasien dan keluarga tanda dan gejala infeksi
o. Laporkan kecurigaan infeksi
p. Laporkan kultur positif
6. Diagnosa 6
Dukacita bd kematian orang terdekat
Adalah suatu proses kompeks yang normal meliputi respon dan perilaku
emosional, fisik, spiritual, sosial, dan intelektual ketika individu, keluarga,
dan komunitas memasukkan kehilangan yang aktual, adaptif, atau
dipersepsikan ke dalam kehidupan mereka sehari-hari
NOC
:

18

a. Grief Resolution
Kriteria Hasil:
a. Klien mengungkapkan kepercayaan tentang kematian
b. Ungkapan kelapangan hati tentang kehilangan
c. Ungkapan harapan positif tentang masa depan
NIC
:
a. Mendorong anggota keluarga melihat dan memegang bayi selama yang
diinginkan
b. Mendorong keluarga untuk memberikan waktu kepada ibu dan jenazah
bayinya sendirian
c. Memandikan dan memberikan perawatan kepada jenazah dengan baik
d. Memberikan anjuran untuk pergi ke tempat ibadah

BAB IV
PENUTUP

19

A.Kesimpulan
Sekalipun sudah jarang dijumpai, tetapi infeksi kelompok TORCH pada
kehamilan masih tetap memerlukan perhatian yang serius. Infeksi kelompok
TORCH bersama-sama mengakibatkan kelainan congenital diantaranya :
1. Gangguan pertumbuhan intrauteri yang menimbulkan :
a. Pertumbuhan janin terlambat
b. Terjadi penurunan IQ bayi
2. Gangguan pertumbuhan fisik janin :
a. Keterbelakangan mental
b. Gangguan pertumbuhan mata (katarak) dan pendengaran (tuli)
c. Gangguan pertumbuhan
Cara kerja untuk dapat menimbulkan gangguan tumbuh kembang janin intra
uteri adalah:
1. Secara tidak langsung : melalui gangguuan fungsi plasenta sehingga tidak
mampu memenuhi kebutuhan O2 dan nutrisi
2. Secara langsung :
a. Virus, bakteri, dan lainnya, menembus plasenta sehingga secara langsung
dapat menggangu pertumbuhan organ vital janin.
b. Bentuk gangguan oraganogenesis sangat tergantung dari beratnya infeksi
dan umur kehamilan.

20

c. Makin muda usia kehamilan, akan makin besar kemungkinan terjadi


kelainan kongenitalnya.
d. Kemampuan untuk membentuk immunitas (IgG) yang dapat memberi
perlindungan saat organogenesis janin.
Untuk selalu waspada terhadap penyakit TORCH dengan cara mengetahui
media dan cara penyebaran penyakit ini kita dapat menghindari kemungkinan
tertular. Hidup bersih dan makan makanan yang dimasak dengan matang.

DAFTAR PUSTAKA

Green, C. J., & Wikinson, J. M. (2012). Rencana Asuhan Keperawatan


Maternal & Bayi Baru Lahir. Jakarta: EGC.
Internasional, N. (2015). diagnosis Keperawatan Definisi & Klasifikasi
2015-2017. Jakarta: EGC.
Maryunani, A., & Puspita, E. (2013). Asuhan Kegawatdaruratan
Maternal dan Neonatal. jakarta : CV. TRANS INFO MEDIA.
Ridha, H. N. (2014). Buku Ajar Keperawatan Anak. Yogyakarta: Pustaka
Pelajar.
Suriadi, S. M., & Rita Yuliani, S. M. (2012). Asuhan Keperawatan Pada
Anak Edisi 2. Jakarta : CV. Sagung Seto.

21