Anda di halaman 1dari 19

Lapangan sepak bola

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas


(Dialihkan dari Lapangan Pertandingan)

Ukuran luas lapangan sepak bola yang sering dipakai adalah 105x68 m (115x74 yd) atau berukuran 7140
meter persegi.

Bandar pertandingan sepak bola (juga dikenal sebagai football field atau lapangan hijau ) adalah
permukaan tanah lapang untuk pertandingan sepak bola yang umumnya berupa lapangan rumput
alami atau rumput sintetis . Aturan tentang bentuk dan ketentuan lebih lanjut diatur dalam pasal
pertama dari LOTG , " The Field of Play ".
Semua wilayah di dalam garis lapangan pada lapangan adalah bagian dari area permainan.
Pelanggaran yang dilakukan di bagian seluas 16,5 meter (18 yard) pada pertahanan tim (area
penalti) dapat menghasilkan tendangan penalti. Oleh karena bola harus benar-benar melewati garis
lapangan untuk keluar dari area permainan, maka bola harus sepenuhnya telah melewati garis
gawang (antara dua tiang gawang) saat gol disahkan; jika ada sebagian dari bola yang masih
berada di garis gawang, bola tersebut masih dalam area permainan.

Meskipun sering dimaknai sebagai garis dalam antara kedua tiang gawang, garis gawang
sebenarnya diukur dari kedua ujung lapangan, dari satu bendera sudut ke bendera yang lain.
sedangkan, garis byline merujuk pada garis gawang di luar area gawang.[1]
Sisi kanan dan kiri lapangan yang membatasi antara wilayah permainan dan wilayah luar disebut
"garis lapangan" (panjang lapangan), sementara sisi lainnya (lebar lapangan) di area pertahanan
disebut garis gawang. Panjang lapangan harus berukuran antara 90 sampai 120 meter (100 sampai
110 meter untuk pertandingan resmi tingkat internasional), dan lebar lapangan antara 45 sampai 90
meter (64 dan 75 meter untuk pertandingan resmi tingkat internasional) dan harus berbentuk persegi
panjang. Semua garis harus memiliki luas yang sama dan tidak melebihi 12 cm (5 inchi). Keempat
sudut lapangan harus dibatasi oleh bendera sudut. Lingkaran pusat adalah istilah lain untuk garis
melingkar dengan diameter 9,5 m (10 yard) di tengah area lapangan.

[2]

Pada bulan Maret 2008, IFAB mencoba untuk mengadakan standardisasi ukuran lapangan sepak
bola. Lapangan untuk pertandingan internasional disebut harus memiliki ukuran 105 x 68 meter.
Akan tetapi, pada pertemuan khusus IFAB berikutnya disepakati bahwa penerapan standardisasi ini
akan ditunda, menunggu penghitungan dan kesepakatan oleh seluruh anggota di tingkat
internasional.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Jumlah pemain (sepak bola)


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Jumlah Pemain)

Jumlah pemain pada setiap tim sepak bola maksimal terdiri dari sebelas orang (ditambah para
pemain cadangan) dengan salah satu di antara mereka menempati posisi kiper.Kiper merupakan
satu-satunya pemain yang diizinkan untuk bermain bola dengan tangan atau lengan mereka,
asalkan mereka melakukannya dalam area penalti sendiri. Berbagai posisi selain kiper yang
ditempatkan oleh pelatih, tidak diatur secara khusus. Aturan ini diberlakukan menurut hukum ke3 LOTG.
Sejumlah pemain dapat diganti dengan pemain cadangan selama pertandingan. Jumlah maksimum
pemain pengganti (substitusi) yang diizinkan dalam sebuah pertandingan resmi liga domestik dan
ajang internasional FIFA adalah tiga orang, meskipun dapat bervariasi dalam ajang kompetisi lain
atau dalam pertandingan persahabatan (friendly match). Alasan umum untuk substitusi termasuk
cedera, kelelahan, perbaikan posisi pemain, pengubahan taktik, atau pengulur waktu di akhir
pertandingan. Pemain yang telah diganti tidak diizinkan terlibat lebih lanjut dalam pertandingan.
IFAB menekankan tidak bisa ada kompetisi yang terus berlangsung jika salah satu tim berjumlah
kurang dari tujuh pemain. [1]

Perlengkapan pemain (sepak bola)


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Peralatan Pemain sepak bola)

Perlengkapan pemain dalam sepak bola adalah segala aturan standar peralatan dan pakaian yang
dikenakan oleh pemain dalam pertandingan. Aturan lebih lanjut tercantum dalam Hukum ke4 LOTG.

Perlengkapan pemain[sunting | sunting sumber]


Pemain dilarang memakai atau menggunakan sesuatu yang membahayakan untuk diri sendiri atau
pemain lain, seperti perhiasan atau jam tangan. Peraturan perlengkapan utama bagi pemain sepak
bola profesional (tidak termasuk kiper) terdiri dari:

jersey atau pakaian olahraga khusus yang seragam untuk sebuah tim

celana pendek yang seragam dalam sebuah tim

sepasang kaos kaki yang seragam dalam sebuah tim

pelindung tulang kering bagi pemain yang bermain di lapangan permainan

sepasang sepatu untuk seluruh pemain

ban kapten (khusus bagi pemimpin sebuah tim)

Kiper memiliki sedikit perbedaan ketentuan dalam perlengkapan bermain. Kiper harus memakai
pakaian yang berbeda dengan pemain di posisi lain maupun ofisial pertandingan. [1][2] :

jersey harus berwarna dan berpola lain dibanding jersey pemain lain (termasuk kiper tim
lawan)

sarung tangan pelindung harus dikenakan selama pertandingan berlangsung

celana panjang diizinkan

jersey berlengan panjang diizinkan

Seluruh pemain dan anggota tim (pihak pelatih dan pegawai tim) diperbolehkan mengenakan
peralatan tambahan, misalnya untuk menangani cuaca dingin:

celana pendek pelapis berwarna sama dengan celana pendek luar

kaos pelapis berlengan berwarna sama dengan jersey

sarung tangan untuk menghangatkan tubuh

kacamata khusus diizinkan jika tidak menimbulkan bahaya bagi pemakai atau pemain lain.

Pakaian pelindung ( jockstrap ) dan tutup sendi ( protective cup ) sangat dianjurkan oleh para ahli
medis dan profesional. [3] Memakai perangkat tambahan lain / perhiasan adalah hal yang sangat
dilarang, kecuali untuk alat pelindung yang tidak melanggar dasar LOTG . [4]

Pelengkapan wasit pertandingan [ sunting | sunting sumber ]


Pada awal abad ke-19, peraturan perlengkapan bagi wasit, asisten wasit dan pengadil keempat
serupa dengan pemain sampai tahun 1950-an ketika wasit lebih umum mengenakan pakaian
berjaket tipis dibanding jersey. Meskipun tidak ditegaskan secara khusus dalam Laws of the Game,
telah menjadi ciri khas dalam sepak bola bahwa 'kubu pengadil lapangan' memakai kemeja khusus
yang berbeda dengan pakaian kedua tim. Warna hitam adalah warna yang umum dikenakan oleh
para pengadil dalam pertandingan sepak bola,[5][6] Warna hitan sebagai tanda "penegas hukum"
yang digunakan "pengadil lapangan" (istilah informal untuk wasit), meskipun warna lain juga
digunakan di era modern.

Referensi[sunting | sunting sumber]


1.

^ "Saran Kesehatan untuk Boys" . Strikingeagles.tripod.com.

2.

^ "Sepakbola Position Paper" (PDF) .

3.

^ "Interpretasi hukum permainan dan pedoman untuk wasit: Hukum 4 - Peralatan Pemain
'". Laws of The Game 2010/2011 (PDF) . FIFA. p. 63.

4.

^ "Pemain sepakbola" . Visual Kamus online . Merriam-Webster .

5.

^ O'Hagan, Simon. "Masa Rosy untuk pria hitam" . The Independent .

6.

^ Hyde, Marina. "Andre Marriner bencana menyoroti FIFA keengganan untuk teknologi
video" . The Guardian .

Referensi[sunting | sunting sumber]

Wasit
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Wasit adalah seorang yang memiliki wewenang untuk mengatur jalannya suatu
pertandingan olahraga. Ada bermacam-macam istilah wasit. Dalam bahasa Inggris
dikenalreferee, umpire, judge atau linesman.
Istilah wasit dalam bahasa Inggris Referee berasal dari sepak bola. Awalnya kapten dari setiap tim
saling berkonsultasi untuk menyelesaikan perselisihan yang terjadi di lapangan. Kemudian peran ini
didelegasikan kepada seorang umpire. Setiap tim membawa umpire-nya masing-masing sehingga
masing-masing kapten tim dapat berkonsentrasi kepada permainan. Akhirnya, seorang yang
dianggap netral dinamai referee (dari would be "referred to") bertindak sebagai orang yang akan
menyelesaikan permasalahan jika umpire tidak bisa menyelesaikannya. Referee tidak berada di
lapangan sampai 1891, ketika umpire menjadi linesman (sekarang asisten wasit).

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Asisten wasit
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Asisten Wasit)

Asisten Wasit (dikenal pula sebagai hakim garis) adalah salah satu pengadil dalam
pertandingan sepak bola yang bertugas membantu wasit utama dalam menegakkan Laws of the
Game selama pertandingan. Aturan lebih lanjut tentang asisten wasit tercantum dalam hukum ke6 LOTG.
Seorang pengadil keempat sedang menginformasikan menit yang ditambahkan (injury time).

Pada tingkat pertandingan sepak bola profesional, kubu wasit terdiri dari seorang wasit utama di
lapangan permainan dan dua asisten wasit, yang keduanya mengadili di sepanjang salah satu paruh
garis lapangan. Tugas asisten wasit umumnya adalah mengamati bola yang telah meninggalkan
lapangan permainan - termasuk tim yang berhak untuk mendapat tendangan bebas langsung dalam
area permainan, memberi isyarat saat kasus offside terjadi, dan membantu wasit utama
memutuskan pelanggaran yang didapati dalam pengawasannya secara objektif. Asisten wasit dapat
menggantikan wasit utama jika ia tidak dapat melanjutkan memimpin pertandingan. [1]
Pada tingkat yang lebih tinggi dari seorang wasit dalam lapangan, ada seorang pengadil (offisial
pertandingan) keempat. Tugas pengadil keempat umumnya sebagai wasit administratif dalam
bertugas di sisi lapangan untuk membantu tugas wasit utama yang termasuk pengelolaan secara
teknis, pergantian pemain, pencatatan jumlah skor serta kartu kuning/kartu merah yang diterima

pemain, penghitungan tentang lama waktu yang terbuang dalam penghentian laju pertandingan
akibat berbagai insiden (pelanggaran, lemparan ke dalam, perawatan pemain, persiapan tendangan
bebas) dalam menentukan waktu untuk selanjutnya memberitahukan informasi tentang injury
timekepada penonton. Selain itu, seorang pengadil keempat bertugas menilai kesesuaian pakaian
dan peralatan para pemain di lapangan berdasarkan asas LOTG, serta menjadi perantara wasit
utama dalam memberi keterangan selama pertandingan berlangsung kepada offisial klub, panitia
pertandingan dan pihak berwajib apabila terjadi insiden. Dalam aturan di tingkat nasional, pengadil
keempat dapat menggantikan wasit atau salah satu asisten wasit jika tidak dapat melanjutkan untuk
mengadili pertandingan.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Durasi pertandingan (sepak bola)


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Durasi Pertandingan)

Durasi pertandingan sepak bola resmi terdiri dari dua periode 45 menit, yang masing-masing
dikenal sebagai babak. Tidak seperti beberapa oleh raga bola yang lain, Waktu berjalan terus
menerus, yang berarti bahwa penghitungan waktu tidak dihentikan saat bola keluar dari permainan
atau ketika terjadi pelanggaran. Umumnya ada 15 menit istirahat antara dua babak. Akhir
pertandingan ini dikenal sebagai full-time. Wasit adalah sumber waktu resmi dalam pertandingan,
dan dapat memperhitungkan penyisihan waktu yang hilang ketika pergantian pemain, perawatan
pemain yang terkapar, atau penghentian lainnya. [1][2]
Tambahan waktu juga disebut masa penghujung (injury time) diterapkan dalam dokumen peraturan
FIFA, sementara penggantian waktu juga dapat digunakan sebagai sinonim. Durasi perpanjangan
waktu adalah kebijaksanaan dari wasit. petugas wasit sendiri memberi sinyal akhir pertandingan.
Dalam pertandingan resmi di mana terdapat wasit keempat yang ditunjuk, menjelang menit terakhir
memberikan berapa menit waktu tambahan yang diinformasikan para pemain dan penonton dengan
mengangkat sebuah papan yang menunjukkan jumlah tambahan menit. Mengisyaratkan durasi
terakhir yang dapat diperpanjang secara sesuai oleh wasit di lapangan apabila terjadi pelanggaran
yang menyita waktu. Permainan sepak bola tidak boleh diakhiri dengan menyatakan sebuah
pelanggaran tanpa tendangan bebas.[3]
Masa penghujung diperkenalkan akibat sebuah insiden yang terjadi pada tahun 1891 saat
pertandingan antara Stoke City dan Aston Villa. Karena terdesak dalam skor 1-0, Stoke mendapat
tendangan penalti dengan hanya dua menit yang ditambahkan. Kiper Villa menangkis bola keluar

dari tanah, dan pada saat bola telah ditendang kembali, 90 menit yang telah terlewati dan
pertandingan berakhir. Undang-undang yang sama juga menetapkan bahwa durasi tambahan
diperpanjang sampai hukuman tendangan yang terjadi, sehingga tidak ada permainan yang berakhir
sebelum hukuman atas pelanggaran diambil.[4]
Umumnya pada kompetisi knock-out (gugur) sebuah permainan yang imbang pada akhir waktu
dapat berlanjut ke perpanjangan waktu (extra time), yang terdiri dari dua periode 15 menit disertai
sebuah jeda. Jika skor masih imbang setelah perpanjangan waktu memungkinkan penggunaan adu
penalti (dikenal secara resmi di LOTG sebagai "tendangan-tendangan dari sebuah titik penalti")
untuk menentukan tim pemenang yang akan lolos ke tahap berikutnya dari turnamen. Gol yang
dicetak selama perpanjangan waktu dihitung terhadap skor akhir pertandingan, namun tendangantendangan dari sebuah titik penalti yang hanya digunakan untuk menentukan tim yang maju ke
babak selanjutnya dari turnamen (dengan gol-gol yang dicetak dalam adu penalti tidak termasuk dari
skor akhir) Penerapan kontes adu penalti diberlakukan oleh IFAB sejak akhir dekade 1990. [5]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Awal dan pelanjutan ulang permainan (sepak


bola)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Awal dan pelanjutan ulang permainan (Start and Restart of Play) adalah sebuah aturan yang
diterapkan dalam sepak bola untuk memulai dan melanjutkan kembali pertandingan setelah terjadi
gol, istirahat babak pertama, istirahat extra-time atau terjadi insiden. Peraturan ini tercantum dalam
hukum ke-8 LOTG dan diawasi oleh badan internasional IFAB.[1]

Lemparan bola oleh wasit secara vertikal di antara dua pemain

Cara paling umum yang dijadikan penanda awal pertandingan sepak bola adalah tendangan awal
(kick-off) di titik tengah lapangansesudah dua kapten dan wasit utama menentukan tim pertama

yang memulai pertandingan melalui sebuah undian koin. Sebelum pertandingan dimulai, kedua tim
wajib berada pada sisi separuh lapangan masing-masing. Tanda pertandingan secara sah dimulai
adalah tiupan panjang peluit dari wasit. Apabila saat permainan berlangsung terjadi insiden (pemain
terkapar, kericuhan penonton atau hal lain) yang mengakibatkan penghentian pertandingan untuk
sementara, maka wasit melanjutkan kembali pertandingan dengan melempar bolasecara vertikal di
antara dua pemain dari kedua tim yang bertanding.
Sebagai bentuk sportivitas, pemain dapat menendang bola keluar lapangan pertandingan ketika
terjadi insiden tanpa harus menunggu aba-aba atau penghentian secara mendesak oleh wasit. [2][3]

Lihat pula[sunting | sunting sumber]

Bola masuk dan keluar dari area lapangan (sepak


bola)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Bola masuk dan keluar dari area lapangan (Ball in play or out of play) adalah metode untuk
menentukan keadaan bola dalam sebuah pertandingan sepak bola. Aturan ini merupakan hukum ke9 dalam LOTG.

Bola A, B and C masih dalam permainan apabila belum sepenuhnya melewati garis. Bola D telah sepenuhnya
melampaui garis pembatas lapangan, maka bola tidak dalam permainan.

Bola dalam keadaan aktif (on play) dari awal sampai akhir laga, terkecuali ketika bola telah
sepenuhnya meninggalkan lapangan saat melintasi garis gawang atau garis dalam (termasuk ketika

gol); atau ketika permainan dihentikan oleh wasit (misal ketika sebuah pelanggaran terjadi, seorang
pemain terluka parah, atau bola menjadi rusak).
Peraturan menjelaskan pula bahwa bola masih dalam keadaan aktif ketika terpental dari objek tiang
gawang, mistar gawang, sudut bendera, wasit atau asisten wasit, apabila bola tersebut masih
berada di lapangan permainan setelah terpental. Pergantian pemain tidak boleh dilakukan saat
permainan masih berlangsung.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Metode Gol
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Metode Gol adalah cara penentuan keabsahan gol dalam pertandingan sepak bola yang
merupakan aturan ke-10 di LOTG. Aturan ini secara umum menjelaskan bahwa sebuah tim
menciptakan skor ketika bola telah melewati garis gawang tim yang dihadapi, sekalipun seorang
pemain tim lawan yang mendapati kontak terakhir pada bola sebelum melewati garis gawang atau
juga disebut gol bunuh diri. Akan tetapi, Sebuah gol dianggap ilegal (dan dibatalkan oleh wasit) jika
pemain yang mencetak gol atau anggota timnya terlibat pelanggaran sebelum bola melewati garis
gawang. Gol juga dianggap tidak sah jika seorang pemain tim lawan terlebih dahulu melakukan
pelanggaran sebelum bola melewati garis yang mengakibatkan tendangan bebas dalam kotak
penalti di titik pemain menendang sebelum bola menyeberangi garis gawang. [1]
Gawang terdiri dari dua tiang tegak yang harus berjarak sama dari tempat sudut lapangan, serta
terdapat mistar gawang yang horizontal pada bagian atas gawang. Panjang garis gawang harus
7.32 meter (8 yard) dan tinggi tiang gawang harus 2,44 meter (8 kaki). Jaring gawang biasanya
ditempatkan di belakang gawang, meskipun tidak diwajibkan oleh LOTG.[2] Tiang gawang dan
palang-palang harus berwarna putih yang terbuat dari kayu, logam atau bahan lain yang diizinkan.
Bentuk tiang gawang dan palang tidak boleh membahayakan pemain yang bertanding.
Penerapan tiang gawang telah ada sejak permulaan sepak bola di Inggris, namun mistar gawang
tidak ditemukan hingga tahun 1875, sebagai penyambung antar dua tiang gawang.[3]
Untuk menghindari kontroversi dalam penentuan gol, FIFA telah menerapkan sistem teknologi garis
gawang pada Piala Dunia 2014.

Referensi[sunting | sunting sumber]

Offside
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Seorang asisten wasit mengisyaratkan offside terjadi.

Offside (bahasa Indonesia:luar posisi) adalah salah satu aturan sepak bola, yang terkodifikasi
dalam Hukum ke-11 dari Laws of the Game. Undang-undang FIFA tersebut menyatakan bahwa
seorang pemain di luar area permainan atau offside, apabila tersentuh bola atau menerima umpan
bola dari rekan satu tim, dengan keadaan pemain tersebut berada mendahului pemain paling
belakang dari tim lawan dan apabila pemain tersebut berada lebih dekat dengan garis gawang
lawan setelah kiper. Pada dasarnya pemain sepak bola "tidak boleh berada secara pasif dalam area
lapangan lawan untuk menyerang, meski diizinkan bermain secara pasif di area lapangan sesama
untuk bertahan".

Pemain biru pada posisi paling kiri dalam gambar berada dalam posisi offside karena mendahului para pemain
belakang tim lawan, walau offside tidak berlaku apabila tidak menerima umpan atau terkena bola.

Berada di posisi offside bukanlah sebuah pelanggaran. Ketika offside terjadi, wasit menghentikan
pertandingan dan memberi tendangan bebas tidak langsung kepada tim lawan dari yang dikenai
offside.[1] Namun bisa terjadi pelanggaran dalam kasus tertentu, misal mencetak gol yang setelah
terjadi offside dapat dianulir apabila wasit terlebih dahulu menyatakan offside. Hal ini juga sering
memicu lahirnya perdebatan tentang objektivitas pada asisten wasit ketika posisi pemain berada
sejajar atau hampir melampaui pemain bertahan lawan namun menjadi posisi offside dalam
pandangan wasit. Penggunaan teknologi penilaian offside juga masih menjadi perdebatan di antara
para pengamat sepak bola. meskipun demikian, strategi offside sering diterapkan sebagai salah
satu cara menjebak pemain lawan dalam area pertahanan. Offside ditemukan pada Peraturan
Cambridge pada tahun 1848 bahwa seorang pemain dilarang memainkan bola apabila telah
mendahului tiga pemain bertahan lawan paling belakang dan ia harus membiarkan bola pada
penguasaan mereka.[2]

Salah satu tugas utama dari dua asisten wasit adalah untuk membantu wasit dalam menentukan
posisi offside seorang pemain. posisi mereka di sisi lapangan memberikan keadaan yang lebih
akurat melihat posisi pemain. Asisten wasit dapat menyatakan bahwa offside telah terjadi dengan
mengangkat sinyal bendera.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]


1.

^ "Law 11 Offside" (PDF). Laws of the Game 2014/2015. Zurich: Fdration Internationale
de Football Association. p. 35.

2.

^ Offside History Kenaston

3.

^ Peters, Jerrad. "Offside interpretations continue to evolve, logic be damned". The Score
Blog.

Pranala luar[sunting | sunting sumber]

Laws of the Game 2014/2015 Hukum kesebelas.

FIFA Offside Presentation

Offside explained at AskTheRef.com

FIFA interactive guide


Kategori:
Istilah sepak bola

Pelanggaran dan tindakan menyimpang (sepak


bola)
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Penyimpangan dan Pelanggaran)

Pelanggaran dan tindakan menyimpang dalam sepak bola adalah tingkah laku pemain yang
dianggap tidak etis dalam pertandingan yang dapat dikenai hukuman. Pelanggaran dan tindakan
menyimpang dibahas pada hukum ke-12 LOTG.[1]
Sebuah Pelanggaran adalah tindakan tidak adil/tidak pantas oleh seorang pemain yang diketahui
oleh wasit karena perbuatan tersebut bertentangan Laws of the Game, serta dapat mengganggu
atau merusak permainan yang sedang berlangsung. Pelanggaran oleh seorang pemain dihukum
dengan tendangan bebas langsung atau tidak langsung atau tendangan penalti untuk tim lawan.
Selain itu, pelanggaran hanya dapat dilakukan oleh pemain di lapangan (bukan pemain cadangan).
Pelanggaran dibatasi untuk tindakan salah yang dilakukan terhadap lawan.
Tindakan menyimpang adalah setiap perilaku indisipliner atau di luar aturan dasar sepak bola yang
diperbuat oleh pemain dan layak mendapat sanksi disiplin (peringatan atau pengusiran dari
lapangan). Tindakan menyimpang termasuk tindakan selain pelanggaran. Tindakan menyimpang
dapat terjadi setiap saat, termasuk saat bola tidak dalam permainan, di sekitar lapangan, sebelum
dan setelah pertandingan. Baik pemain dan regu cadangan dapat terkena sanksi untuk tindakan
menyimpang. Komite Disiplin sebuah Federasi adalah pihak yang mengurus segala teknis dan
peninjauan terhadap sanksi bagi kasus pelanggaran.

Pelanggaran[sunting | sunting sumber]


Pelanggaran dengan hukuman tendangan bebas langsung
Sebuah tendangan bebas langsung dapat diberikan ketika seorang pemain melakukan salah satu
pelanggaran berikut dengan cara yang dianggap oleh wasit karena ceroboh, tidak sengaja atau
menggunakan kekuatan yang berlebihan:[2]
1. Menjegal (tackling) lawan tanpa mengalami sentuhan (kontak) dengan bola
2. Membenturkan diri atau anggota badan dalam merebut bola
3. Menarik anggota tubuh lawan yang menguasai bola
4. Mendorong lawan
5. Melompati lawan
6. Menghambat kaki lawan saat berlari
7. Mengangkat kaki terlalu tinggi yang membahayakan pemain lawan
8. Menyentuh bola dengan tangan secara aktif (kecuali untuk kiper dalam area penalti sendiri)
Dalam menentukan pelanggaran pemain yang menyentuh bola (handsball), wasit harus jeli dalam
beberapa pertimbangan yang dinilai sebagai pelanggaran:
1. Gerakan tangan secara aktif ke arah bola / Kesengajaan pemain menghalangi laju bola
(bukan gerakan bola ke arah tangan)
2. Posisi tangan (posisi 'pasif/diam' atau posisi 'menghalangi bola')
3. Menyentuh bola secara sengaja dengan baju (pakaian) dianggap sebagai pelanggaran
4. Mengubah laju bola dengan benda yang ada pada lapangan dianggap sebagai pelanggaran
Jika seorang pemain melakukan pelanggaran yang dihukum tendangan bebas langsung di area
penalti sendiri, maka tendangan penalti diberikan untuk kubu lawan.
Pelanggaran dengan hukuman tendangan bebas tidak langsung
Perlakuan yang diakibatkan kelengahan dan pengabaian dapat menghasilkan tendangan bebas
tidak langsung. Tendangan jenis ini tidak boleh dipergunakan tendangan secara langsung ke arah
gawang untuk peluang mencetak gol. Jenis-jenis pelanggaran yang dihukum dengan tendangan
bebas tidak langsung adalah:
Ketika seorang kiper, di dalam area penalti sendiri:
1. menangkap bola yang sengaja ditendang secara keras oleh rekan (aturan back-pass)
2. menangkap bola saat menerima langsung lemparan ke dalam
Ketika seorang pemain:

1. menghadapi serangan lawan secara pasif untuk menghentikan laju pemain lawan
2. menghalangi kiper ketika hendak menendang bola dari tangan
Ketika offside terjadi, tendangan bebas tidak langsung dilakukan, akan tetapi offside tidak termasuk
pelanggaran.

Tindakan menyimpang[sunting | sunting sumber]


Setiap pelanggaran serius atau tindakan menyimpang dihukum dengan tendangan bebas langsung.
berikut ini jenis-jenis perlakuan bisa dikenai hukuman kartu kuning:

Tandukan Zinedine Zidane pada Marco Materazzi di final Piala Dunia 2006.

1. Tendangan atau upaya untuk menendang anggota tubuh lawan


2. Menjatuhkan lawan secara kasar untuk menghentikan penguasaan bola
3. Berselisih dengan kata-kata atau tindakan yang wajar
4. Menjegal kaki lawan dengan cara kasar
5. Mengulur waktu untuk membuang waktu bermain
6. Meninggalkan dan kembali memasuki lapangan bermain tanpa izin wasit
7. Melakukan selebrasi gol secara berlebihan (melepas baju, memakai alat provokasi dll.)
8. Pelanggaran yang tetap diulangi
9. Mengkritik keputusan wasit secara berlebihan
Tindakan yang merusak permainan sepak bola dan memberi pengaruh signifikan terhadap hasil
akhir, bisa mendapat hukuman kartu merah secara langsung:
1. Menjegal yang beresiko cedera serius
2. Melakukan kekerasan fisik fatal
3. Melecehkan atau merendahkan pihak lawan secara terang-terangan
4. Menghalangi tim lawan mencetak gol ke gawang, secara sengaja memegang bola (tidak
belaku bagi penjaga gawang dalam area penalti sendiri)

5. Menghalangi kesempatan lawan bergerak saat menyerang yang secara jelas dapat
menghasilkan gol apabila tanpa gangguan
6. Menyulut provokasi kepada pemain lain, memaki atau mengucap kata kasar / gestur
berlebihan terhadap lawan
7. Melakukan pelanggaran lainnya, yang belum tidak disebutkan, yang dapat menimbulkan
permainan dihentikan sementara waktu
8. Telah menerima peringatan kedua (hukuman kartu kuning) dan tetap mengulangi kesalahan
yang sejenis[3]
Secara umum, apabila seorang pemain mendapat sebuah kartu merah pada sebuah pertandingan,
maka pemain tersebut mendapat sanksi tidak boleh memperkuat tim pada satu pertandingan
berikutnya. Jika seorang pemain mendapat dua kartu kuning pada dua pertandingan secara
beruntun, maka gabungan kedua kartu kuning (akumulasi kartu) menghasilkan sanksi larangan
bertanding di satu laga berikutnya. Hukuman larangan bertanding yang diberi bergantung pada
ukuran tindak pelanggaran ringan atau berat.
Dalam beberapa kasus tertentu, semisal di Piala Dunia, pemain yang mendapat hukuman kartu
merah pada semifinal diizinkan bermain di pertandingan final apabila timnya lolos.

Referensi[sunting | sunting sumber]


1.

2.

^ International Football Association Board. Laws of the Game (PDF) (2014/2015 ed.). Zurich:
FIFA. Diakses tanggal 20 November 2014.
^ United States Soccer Federation Inc.,; Michael Lewis (2000). Soccer for dummie

Tendangan bebas langsung


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Situasi tendangan bebas langsung

Tendangan bebas langsung adalah metode tendangan disertai persiapan dalam permainan sepak
bola yang disebabkan sebuah pelanggaran. Pada jarak yang memungkinkan untuk mencetak gol,
sebuah tendangan langsung ke arah gawang umumnya digunakan. Cara-cara lain untuk
memanfaatkan peluang dari tendangan ini adalah mengumpan lambung ke arah gawang,

mengumpan pendek disertai tendangan langsung, teknik mengelabui lawan atau mengumpan pada
pemain yang berposisi bebas untuk mencetak gol. Beserta tendangan bebas tidak langsung,
metode ini tercantum dalam hukum ke-13 LOTG.[1]
Tendangan ini dilakukan pada titik sebuah pelanggaran terjadi. Berdasarkan jarak ke gawang,
beberapa pemain lawan dapat membentuk "tembok" untuk mengurangi ruang laju bola. Garis busa
(vanishing spray) telah dipergunakan di pertandingan profesional sejak tahun 2000 untuk menjaga
keadaan "tembok pemain" terhadap bola. Jarak antara titik penendang dengan tembok pemain
lawan adalah 9,15 m (10 yard).

Referensi[sunting | sunting sumber]

Tendangan bebas tidak langsung


Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tendangan bebas tidak langsung adalah metode tendangan yang bebas dilakukan oleh pemain
manapun dalam permainan sepak bola yang disebabkan pelanggaran tertentu atau offside. Tidak
seperti tendangan bebas langsung, metode ini tidak dapat dipergunakan untuk mencetak gol secara
langsung. Aturan ini berasal dari Aturan Sheffield yang menyatakan bahwa tiada gol yang boleh
dilakukan dari tendangan bebas tidak langsung. Sebuah tendangan bebas tidak langsung dapat
diberikan kepada tim lawan saat permainan seketika dihentikan sementara untuk mengingatkan
atau mengganti pemain yang cedera bila tidak ada pelanggaran yang terjadi. Beserta Tendangan
bebas langsung, metode ini tercantum dalam hukum ke-13 LOTG.[1]
Tendangan ini diizinkan diambil tidak di titik pelanggaran terjadi, apabila dalam area permainan
sendiri.[2]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Tendangan penalti
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
(Dialihkan dari Tendangan Penalti)

Tendangan penalti adalah metode menendang dalam pertandingan sepak bola, yang dilakukan
dari titik penalti berjarak 11 meter menuju gawang. Tendangan penalti dilakukan selama permainan
berlangsung. Hal ini diberikan ketika pelanggaran dengan hukuman tendangan bebas terjadi dalam

area penalti. Tendangan yang sama yang dibuat dalam adu penalti di beberapa sistem
kompetisi untuk menentukan tim pemenang setelah pertandingan berakhir imbang; meskipun sama
dalam penerapan, adu penalti memiliki batasan-batasan yang sedikit berbeda.

Tendangan penalti dalam sebuah pertandingan.

Dalam praktiknya, hukuman lebih sering menjadi gol daripada tidak, bahkan terhadap kiper kelas
dunia, yang berarti bahwa pemberian tendangan penalti sering menentukan, terutama dalam
permainan yang sedikit menghasilkan gol. Tendangan penalti yang berhasil sering mematahkan
semangat pada pemain lawan karena dianggap dimudahkan untuk mencetak gol.
Tendangan ini diperkenalkan pertama kali di wilayah Britania Raya pada akhir abad ke-19.
Tendangan penalti pertama pada sebuah laga resmi di dunia diberikan kepada tim
Skotlandia, Airdrieonians pada tahun 1891 di Broomfield Park.[1] tendangan penalti pertama di liga
diberikan kepada Wolverhampton Wanderers dalam pertandingan mereka melawan Accrington di
Stadion Molineuxpada tanggal 14 September 1891. Hukuman itu diambil dan dicetak gol oleh Billy
Heath ketika Wolves memenangkan pertandingan dengan skor 5-0. [2] Terdapat beberapa teknik
dalam tendangan penalti yang langka diterapkan seperti menendang bola pelan untuk kemudian
ditendang oleh pemain lain ke arah gawang, seperti percobaan tendangan penalti yang
dilakukan Robert Piresyang menendang bola secara pelan untuk ditendang Thierry Henry dalam
pertandingan di Liga Primer Inggris antara Arsenal danManchester City di Highbury, meskipun
tendangan ini tak berhasil menghasilkan gol.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Lemparan kedalam
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Situasi lemparan kedalam

Lemparan kedalam (bahasa Inggris: Throw-in) adalah metode lemparan ke area permainan pada
permainan sepak bola karena bola keluar dari garis lapangan sebelumnya. Metode ini dijelaskan
dalam hukum ke-15 LOTG. Lemparan kedalam tidak boleh dipergunakan sebagai tendangan kaki
ataupun sundulan kepala melainkan lemparan bola dengan dua tangan menuju area permainan.
Sebuah gol tidak boleh dilakukan melalui lemparan ini. Pelempar bola tidak boleh diganggu ketika
melontarkan bola.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Tendangan gawang
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Tendangan gawang dalam sebuah pertandingan.

Tendangan gawang (bahasa inggris:Goal kick) adalah metode tendangan yang dilakukan dari area
dalam penalti pada permainan resmisepak bola yang disebabkan kontak bola terakhir pada pemain
lawan sebelum melewati garis gawang luar, berbeda dengan sebuah gol yang melewati garis
gawang dalam. Apabila terjadi kontak terakhir bola pada pemain sendiri sebelum melewati garis
gawang luar, makatendangan sudut yang diberikan. Ketika tendangan ini dilakukan, pemain lawan

harus di luar area penalti. Sebuah gol dapat dilakukan secara langsung dari tendangan gawang
namun tidak berlaku untuk gol bunuh diri. Offside tidak berlaku apabila pemain mendapat umpan
dari tendangan ini.[1]

Referensi[sunting | sunting sumber]

Tendangan sudut
Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas

Situasi tendangan sudut.

Tendangan sudut (bahasa inggris:Corner kick) adalah metode tendangan pada salah satu sisi
pojok lapangan dalam permainansepak bola. Metode ini berasal dari Aturan
Sheffield tahun 1867 dan diterapkan secara resmi oleh federasi The FA pada 17 Februari 1872.
Sebuah tendangan sudut diberikan kepada tim menyerang saat bola meninggalkan area permainan
setelah terjadi kontak terakhir pada pemain lawan. Tendangan ini diambil dari sudut-sudut lapangan
permainan terdekat dimana bola melewati garis gawang. Tendangan sudut dianggap menjadi
peluang mencetak gol untuk tim penyerang, meskipun tidak sebaik tendangan
penalti atautendangan bebas langsung di dekat tepi area penalti. Seorang asisten wasit akan
mengisyaratkan bahwa tendangan sudut harus diberikan dengan terlebih dahulu mengangkat
bendera, kemudian menggunakannya untuk menunjuk di tempat sudut pada lapangan.

Tendangan sudut yang dilakukan seorang pemain.

Gol dapat dihasilkan secara langsung melalui tendangan sudut apabila penendang memiliki
perhitungan akurat tentang penempatan bola atau faktor angin cukup kuat bertiup ke arah gawang.
Jenis gol ini dijuluki sebagai gol Olimpiade atau tendangan Olimpiade,[1] atau gol olmpico di Amerika
Latin. Julukan ini dikenal sejak 2 Oktober 1924 dalam Argentina melawan Uruguay dimana Cesareo
Onzari mencetak gol dari tendangan sudut. Pada waktu itu Argentina baru saja memenangkan gelar
Olimpiade 1924.[2] Pesepak bola Portugal Joo Morais mencetak gol dari tendangan pojok langsung
bagi Sporting Lisbon pada final European Cup Winners' Cup 1964, yang menjadi penentu gelar
juara.
Pemegang Rekor Dunia untuk gol terbanyak melalui tendangan sudut langsung adalah pemain Turki
bernama Sukru Glesin, selama kariernya ia mencetak 32 gol secara akurat dari tendangan sudut.
Pada tahun 1950, Glesin tercatat di Guinness Book of Records sebagai top-skorer corner
kicks dunia.[3]

Referensi[sunting | sunting sumber]