Anda di halaman 1dari 23

Audit Keuangan Daerah

KERTAS KERJA PEMERIKSAAN

Oleh:
Donik Ariyanto

(F1315034)

Mukhlis Erisnanto

(F1315065)

T.A.R Jatmiko

(F1315094)

Gde Agus Arief Suyasa

(F1315107)

Jivati Patmahati Peni

(F1315112)

Audit Keuangan Daerah

UNIVERSITAS SEBELAS MARET


2016

Audit Keuangan Daerah

DAFTAR ISI
A. PENGERTIAN KERTAS KERJA PEMERIKSAAN...........................................1
B. HUBUNGAN PKA DENGAN KKP...............................................................1
C. TUJUAN DAN MANFAAT KKP....................................................................2
D. JENIS-JENIS KKP......................................................................................4
E. PRINSIP PENYUSUNAN KKP....................................................................5
F.

ISI KKP...................................................................................................7

G. FORMAT KKP..........................................................................................8
H. PENOMORAN KKP.................................................................................11
I.

DAFTAR ISI KKP....................................................................................12


1. KONSEP LHP dan TINDAK LANJUT.....................................................12
2. SURVEI PENDAHULUAN.....................................................................12
3. EVALUASI SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN..............................12
4. PENGUJIAN SUBSTANTIF DAN PENGEMBANGAN TEMUAN.................13
5. BERKAS PENUGASAN........................................................................13

J.

PENGELOMPOKAN KKP.........................................................................13

K. PENGUASAAN KKP...............................................................................14
L. SIMULASI.............................................................................................15
REFERENSI:................................................................................................20

Audit Keuangan Daerah


KERTAS KERJA PEMERIKSAAN

A. PENGERTIAN KERTAS KERJA PEMERIKSAAN


Kertas

Kerja

Pemeriksaan/Audit

(KKP/KKP)

adalah

catatan

(dokumentasi) yang dibuat oleh auditor mengenai bukti-bukti yang


dikumpulkan, berbagai teknik dan prosedur audit yang diterapkan,
serta simpulan-simpulan yang dibuat selama melakukan audit. Dalam
pengertian dokumentasi yang dibuat oleh auditor adalah berupa
dokumen-dokumen yang dikumpulkan oleh auditor, baik yang dibuat
sendiri maupun dokumen yang berupa fotokopi/salinan (auditors copy)
yang diperoleh auditor selama pelaksanaan audit. Dalam pengertian
dokumen bukan saja yang berbentuk kertas, namun juga termasuk
foto/film/gambar,

kaset

rekaman,

disket,

file

komputer.

Sumber

dokumen KKP dapat berasal dari auditi, pihak di luar auditi/instansi


lainnya, maupun dari pihak auditor.
KKP mencerminkan:
1 Kegiatan audit mulai dari perencanaan,

survei

pendahuluan,

evaluasi pengendalian manajemen, pengujian substantif, sampai


dengan pelaporan dan tindak lanjut hasil audit. Hal ini dikarenakan
semua kegiatan audit didokumentasikan dalam bentuk KKP.
2 Langkah-langkah audit yang ditempuh, pengujian yang dilakukan,
informasi yang diperoleh, dan simpulan-simpulan hasil audit.
Langkah-langkah
menghasilkan

kerja

data

dalam

beserta

PKA

yang

penarikan

telah

dilaksanakan

simpulan

hasil

audit

didokumentasikan dalam KKP.


B. HUBUNGAN PKA DENGAN KKP
Program Kerja Audit adalah rancangan prosedur dan teknik audit yang
akan

diikuti/

pelaksanaan

dilaksanakan
PKA.

Bagan

dan

KKP

dibawah

adalah

dokumentasi

merupakan

contoh

hasil
yang

memperlihatkan hubungan PKA dan KKP tersebut.

KKP

Audit Keuangan Daerah

Dari contoh di atas, terlihat bahwa KKP Nomor 2.1 adalah dokumentasi
dari pelaksanaan PKA Nomor AR-2. Pada contoh tersebut juga dapat
dilihat hubungan langkah kerja pada PKA dengan hasilnya yang terlihat
pada judul KKP
C. TUJUAN DAN MANFAAT KKP
Tujuan serta manfaat penyusunan KKP adalah:
1. Pendukung laporan audit
KKP merupakan penghubung antara audit yang dilaksanakan
dengan LHP, jadi informasi dalam LHP harus dapat dirujuk ke KKP.
2. Dokumentasi informasi
KKP

Audit Keuangan Daerah


KKP mendokumentasikan seluruh informasi yang diperoleh selama
kegiatan audit, mulai dari kegiatan perencanaan sampai dengan
penyusunan konsep LHP.
3. Identifikasi dan dokumentasi temuan audit
KKP mencakup seluruh masalah yang

ditemukan

selama

pelaksanaan audit, termasuk perluasan perolehan bukti untuk


mendukung temuan audit.
4. Pendukung pembahasan
KKP akan membantu auditor pada saat pembahasan permasalahan
dengan auditi. Dengan KKP yang lengkap, jika suatu permasalahan
disanggah oleh auditi, maka auditor akan dapat menjelaskan
permasalahannya dengan rinci dengan bantuan KKP yang disusun.
5. Media reviu pengawas
Penyusunan KKP dapat digunakan sebagai sarana mengawasi,
menilai, dan memonitor perkembangan pelaksanaan audit. KKP juga
dapat digunakan sebagai sarana untuk memantau pelaksanaan PKA,
serta menilai kecukupan teknik dan prosedur audit dalam rangka
memenuhi standar audit. Dalam hal ini reviu pengawas ditujukan
untuk

memberikan

rekomendasi

teknik

atau

prosedur

audit

tambahan yang diperlukan yang harus dilaksanakan oleh timnya.


6. Bahan pembuktian
KKP dapat menjadi bahan pembuktian dalam hal masalah diajukan
ke pengadilan. Dalam hal menghadapi tuntutan pengguna LHP, KKP
yang lengkap dapat menjadi alat, untuk membela diri tentang
kecukupan

prosedur

audit

yang

telah

dijalankan

dan

simpulansimpulan audit yang mendasari LHP sesuai dengan standar


profesi yang telah ditetapkan.
7. Referensi
KKP dapat menjadi referensi dalam perencanaan tugas audit atau
pelaksanaan

audit

periode

berikutnya

dan

referensi

dalam

memonitor tindak lanjut audit.


8. Membantu auditor ekstern
KKP yang disusun auditor intern dapat digunakan untuk membantu
auditor ekstern dalam mengevaluasi sistem pengendalian intern
auditi. KKP juga dapat digunakan oleh auditor ekstern untuk
mengevaluasi pekerjaan auditor intern, sebelum auditor ekstern

KKP

Audit Keuangan Daerah


memutuskan untuk memanfaatkan hasil kerja auditor intern yang
terkait dengan keperluan auditnya.
9. Sarana pengendalian mutu
Penyusunan KKP memungkinkan dilakukannya reviu oleh rekan
sejawat (peer review) atau oleh lembaga yang berwenang, juga
sebagai

pertanggungjawaban

auditor

bahwa

audit

telah

dilaksanakan sesuai standar audit.


D. JENIS-JENIS KKP
Jenis-jenis kertas kerja audit adalah sebagai berikut:

KKP utama
KKP ikhtisar
KKP pendukung
KKP
UTAMA

KKP
Ikhtisar

KKP
Pendukun
g

KKP
Ikhtisar

KKP
Pendukun
g

KKP
Pendukun
g

KKP
Ikhtisar

KKP
Pendukun
g

KKP
Pendukun
g

KKP
Pendukun
g

Figur 1 Hubungan Antar KKP


1. KKP Utama (Top Schedule)
KKP utama adalah KKP yang berisi simpulan hasil audit untuk
keseluruhan/suatu

segmen/bagian/kegiatan

yang

diaudit.

KKP

utama sering juga disebut sebagai top schedule atau lead schedule.
KKP utama dibuat untuk setiap segmen/bagian kegiatan yang
diaudit.
2. KKP Ikhtisar
KKP ikhtisar adalah KKP yang berisi ringkasan informasi dari KKP
yang berisi informasi yang sejenis/sekelompok tertentu. KKP ikhtisar
tidak harus ada dalam suatu susunan KKP. KKP ikhtisar hanya
KKP

Audit Keuangan Daerah


disusun jika diperlukan untuk membantu pemahaman permasalahan
agar menjadi lebih sederhana.
3. KKP Pendukung
KKP pendukung adalah KKP yang berisi data dasar yang digunakan
untuk mendukung KKP utama. KKP pendukung merupakan bukti
audit yang diperoleh langsung selama pelaksanaan kegiatan audit,
sehingga

KKP

pendukung

berisi

informasi

rinci

dari

setiap

permasalahan. KKP pendukung dibuat setiap lembar untuk suatu


permasalahan.

KKP

pendukung

disusun

selama

proses

audit

dilaksanakan dengan mengikuti PKA dan menuliskan referensi


PKAnya.
Contoh:
Misalkan Bawasda melakukan audit atas pengelolaan bantuan raskin
dan bantuan peralatan pertanian yang dilaksanakan oleh Dinas
Sosial Kabupaten. Penyaluran bantuan tersebut mencakup seluruh
desa dengan koordinasi oleh masing-masing kecamatan. Dengan
susunan yang demikian KKP dapat disusun sebagai berikut:
KKP Utama:

Simpulan penyaluran raskin kabupaten


Simpulan penyaluran bantuan peralatan pertanian kabupaten

KKP Ikhtisar:

Ringkasan penyaluran raskin per kecamatan (tergantung

jumlah kecamatan yang diaudit)


Ringkasan penyaluran bantuan

peralatan

pertanian

per

kecamatan (tergantung jumlah kecamatan yang diaudit)


KKP Pendukung:

Seluruh KKP rinci setiap perolehan bukti untuk masing-masing


desa, termasuk didalamnya konfirmasi ke para penerima

bantuan.
Berisi pengujian-pengujian yang dilakukan sebagai bagian
untuk pengambilan simpulan audit secara keseluruhan.
KKP

Audit Keuangan Daerah

KKP pendukung dikelompokkan sesuai pengelompokan per


kecamatan sesuai dengan susunan yang dibuat pada KKP
ikhtisar

E. PRINSIP PENYUSUNAN KKP


KKP yang baik akan memenuhi prinsip-prinsip penyusunan KKP sebagai
berikut:
1. Relevan
Relevan artinya informasi yang dimuat berhubungan dengan tujuan
audit dan permasalahan yang dihadapi. PKA yang baik dan supervisi
yang memadai dapat mencegah pembuatan KKP yang tidak relevan.
Auditor

perlu

menggarisbawahi

dan

menekankan

angka/kata/

baris/informasi yang relevan dengan tujuan pengujiannya atau


simpulannya.
2. Sesuai dengan PKA
Sesuai PKA artinya KKP disusun sedemikian rupa sehingga sejalan
dengan langkah-langkah yang telah dimuat dalam PKA. Penyusunan
yang seusai PKA akan memudahkan pemonitoran dan reviu selama/
setelah audit. Prosedur audit dalam PKA yang tidak dilaksanakan
atau diubah perlu diberi penjelasan dalam KKP disertai dengan
alasan pembatalan atau perubahannya.
3. Lengkap dan cermat
Informasi dan data dalam KKP harus lengkap dan cermat agar
mendukung simpulan, LHP, temuan audit, dan rekomendasinya.
Kelengkapan

dan

kecermatan

lebih

berhubungan

dengan

informasi /data atas suatu permasalahan, bukan berhubungan


dengan populasi data. Auditor di lapangan sebaiknya membuat
daftar hal-hal yang perlu dilakukan untuk menjaga kelengkapan dan
kecermatan KKP.
4. Mudah dipahami

KKP

Audit Keuangan Daerah


KKP harus menggunakan bahasa yang sederhana, ringkas, dan
runtut

alur

pikirnya,

sehingga

dapat

diketahui

perencanaan,

pelaksanaan, temuan, dan yang disimpulkan. Beberapa hal agar


KKP Mudah dipahami:

Judul harus jelas pada setiap permasalahan/topik.


Jargon-jargon sebaiknya dihindari,
Istilah teknis perlu dibuat penjelasannya.
Penggunaan tickmarks dan simbol lainnya harus konsisten

selama audit dan diberi penjelasan yang memadai.


KKP yang berkaitan harus diberi referensi silang yang memadai

dan sumber data harus diidentifikasi dengan jelas.


5. Rapi
Kerapian

berhubungan

dengan

tata

ruang/lay

out

penulisan,

pengorganisasian, dan pengelolaan fisik KKP. Untuk kerapian, KKP


sebaiknya ditulis pada satu muka. Apabila diperlukan untuk menulis
pada halaman sebaliknya, harus dibuat petunjuk yang jelas. Untuk
informasi/data yang saling berhubungan antar berbagai lembar KKP,
perlu dilengkapi dengan pemberian daftar isi, penomoran dan
pemberian indeks secara sistematis, serta pemberian referensi yang
jelas.
6. Efisien
Efisien artinya menghindari pembuatan daftar yang tidak perlu, dan
menggunakan copy dari catatan auditi. Auditor cukup memberikan
simbol dan tickmark untuk menandai pengujian yang dilakukan.
Agar efisien, auditor perlu melakukan berbagai analisis dalam satu
daftar (worksheet). Usaha efisiensi penyusunan KKP berarti pula
memanfaatkan KKP tahun lalu, di up-date (dimutakhirkan) dengan
informasi terbaru, penomoran kembali, diberi tanggal dan inisial
oleh auditor tahun berjalan. Pada KKP tahun lalu harus dibuat
catatan atas pemindahan KKP-nya.
7. Seragam
KKP sebaiknya disiapkan dengan tampilan, bentuk, dan ukuran yang
baku (standar). Biasanya instansi auditor telah mencetak kertas
KKP

Audit Keuangan Daerah


yang digunakan sebagai KKP dalam berbagai ukuran dengan
mengakomodasi berbagai kepentingan, misalnya telah dimuat nama
instansi, kolom/baris nomor KKP, disusun oleh, tanggal/paraf, direviu
oleh, tanggal/paraf, nama auditi, dan masa yang diaudit. Kertas juga
disiapkan untuk berbagai ukuran misalnya untuk konsep LHP, lima
kolom, sembilan kolom, atau empat belas kolom. KKP yang
disiapkan dalam kertas yang lebih kecil dari standar harus
diletakkan pada kertas standar, dan yang disiapkan dalam kertas
yang lebih besar harus dilipat sedemikian rupa sehingga rapi
pemberkasannya.
F. ISI KKP
KKP antara lain berisi dokumen/informasi berupa:
1. perencanaan, termasuk program kerja audit,
2. pengujian dan evaluasi atas kecukupan dan efektivitas sistem
pengendalian manajemen,
3. prosedur audit yang dilakukan, informasi yang diperoleh dan
simpulan hasil pemeriksaan,
4. reviu oleh pengawas,
5. pelaporan audit,
6. catatan atas tindak lanjut yang dilakukan oleh auditi,
7. salinan kontrak dan perjanjian yang penting,
8. hasil-hasil konfirmasi,
9. gambar, grafik, dan peraga lainnya
10.

pengujian dan analisis transaksi,

11.

hasil reviu analitis,

12.

laporan audit dan tanggapan manajemen,

13.

korespondensi audit yang relevan.

G. FORMAT KKP

KKP

Audit Keuangan Daerah


Setiap instansi pengawasan memiliki format KKP masing-masing, tetapi
secara umum informasi atau isinya sama. Berikut ini contoh format KKP
dan penjelasan bagian-bagian informasinya

Penjelasan:
A
B

Adalah identitas unit organisasi auditor yang melakukan audit.


Nomor KKP
: Diisi sesuai dengan tata cara penomoran
KKP yang berlaku secara sistematis,
misalnya

dari

angka

romawi,

diikuti

huruf kapital, diikuti angka arab, dan


seterusnya
Nomor Ref. PKA

masingmasing

dipisahkan dengan / dan /atau -.


Diisi
dengan
nomor
PKA
yang
dilaksanakan

Disusun Oleh

yang

dan

dituangkan

lembar KKP yang bersangkutan


Diisi dengan nama
auditor

dalam
yang

bertugas/melaksanakan
KKP

Audit Keuangan Daerah

Tanggal dan

Paraf

kegiatan/membuat KKP.
Diisi dengan tanggal KKP disusun dan
diberikan paraf
auditor yang membuat KKP. Pemberian
nama dan paraf
memberikan

pertanggungjawaban

pelaksanaan pekerjaan
sesuai dengan pembagian kerja yang
dituangkan dalam
PKA. Sedangkan tanggal pembuatan KKP
memberikan
petunjuk untuk menilai tingkat kemajuan
pekerjaan audit
Direviu Oleh

dari perencanaan.
Diisi dengan nama

auditor

yang

bertugas dan berhak untuk mereviu KKP.


KKP yang disusun oleh anggota tim
direviu oleh ketua tim, sedangkan KKP
yang disusun oleh ketua tim direviu oleh
Tanggal dan

Paraf

pengendali teknis
Diisi dengan tanggal reviu dilakukan dan
paraf ketua tim
atau pengendali teknis yang melakukan

Nama Auditi

reviu.
Diisi dengan nama unit kerja atau badan
hukum yang

Masa yang
diaudit

menjadi objek audit.


Diisi dengan masa / tahun yang menjadi
jangkauan
penugasan

audit.

Masa

dapat

menunjukkan bagian tahun,


D

bulan
Diberikan judul yang jelas. Judul memberikan penjelasan
tentang kegiatan audit yang dituangkan di dalam lembar KKP
yang bersangkutan. Sering dibuat juga, bahwa setelah judul,

KKP

10

Audit Keuangan Daerah


diberikan

ringkasan

PKA

yang

berisi

tujuan

dan

langkah/prosedur audit yang dijalankan.


Isi KKP mungkin menghabiskan satu lembar atau lebih, namun
untuk setiap permasalahan hendaknya dituangkan pada
E

lembar/halaman yang terpisah dan diberikan judul tersendiri.


Diberikan tick mark atau simbol-simbol audit yang digunakan
dalam proses pengujian dan diberikan referensi silang yang
memadai untuk menghubungkan lembar KKP satu dengan

yang lain, dengan saling merujuk nomor KKP masing-masing


Simpulan dari pengujian yang dilakukan pada lembar KKP

yang bersangkutan harus dibuat dengan cermat dan teliti.


Istilah teknis atau singkatan tidak lazim harus diberikan

penjelasan yang layak.


Gunakan bahasa tulis yang sederhana, jelas, dan mudah
dimengerti. Bila diperlukan dapat menggunakan tabel, kolom,
bagan arus, atau diagram yang dapat membantu menjelaskan
suatu permasalahan atau pemberian informasi. Untuk setiap
langkah

pelaksanaan

prosedur/teknik

audit

hendaknya

dibuatkan simpulan yang memberikan gambaran tentang


I

hasil pengujian yang dilaksanakan


Berikan keterangan atas tick mark atau simbol-simbol yang

digunakan dalam lembar KKP yang bersangkutan


Tuliskan secara singkat sumber data yang

menjadi

dasar/bahan pembuatan informasi/pengujian. Hal ini dapat


digunakan untuk menilai tingkat relevansi dan kompetensi
data/informasi

yang

digunakan

dan

validitas

dalam

pembuatan simpulan
H. PENOMORAN KKP
Untuk

ketertiban

dan

memudahkan

penggunaan

KKP

sebagai

referensi di waktu yang akan datang, serta memudahkan reviu, maka


KKP hendaknya diberi nomor. Pada dasarnya tidak terdapat patokan
mengenai keharusan menggunakan
Namun

demikian,

pola penomoran

tertentu.

sangat dianjurkan bahwa setiap instansi auditor

menetapkan cara penomoran KKP yang diterapkan secara konsisten.

KKP

11

Audit Keuangan Daerah


Berikut ini diberikan contoh cara penomoran KKP yang dapat
digunakan sebagai rujukan.
Penomoran KKP pada contoh berikut didasarkan pada Daftar Isi KKP di
bawah ini. Perhatikan sistematika penomoran dalam Daftar Isi dan
juga nomor KKP pada tiap-tiap lembar yang dapat menunjuk pada
tahapan audit dari KKP dimaksud. Perhatikan juga, nomor KKP dapat
digunakan untuk referensi silang antar KKP (cross reference) untuk
memudahkan

pemahaman

dan

penghematan

dalam

proses

penyusunan KKP.
I. DAFTAR ISI KKP
Nama Auditi
Tahun/Masa Audit

: Dinas Pekerjaan Umum


: 2008

1. KONSEP LHP dan TINDAK LANJUT


I. Konsep LHP
II. Temuan Hasil Audit

A/I
A/II

III. Tindak Lanjut

A/III

2. SURVEI PENDAHULUAN
I.
II.

Program Survei Pendahuluan


Pelaksanaan Survei Pendahuluan

B/I
B/II

1. Simpulan Hasil Survei

B/II/1

2. Organisasi

B/II/2

3. Sumber Daya Manusia

B/II/3

4. Ketentuan Peraturan Perundang-undangan

B/II/4

5. Sistem dan Prosedur

B/II/5

3. EVALUASI SISTEM PENGENDALIAN MANAJEMEN


I.

Program

Kerja

Audit

Evaluasi

SPM

C/I
II.

Pelaksanaan

Evaluasi

SPM

C/II
1.

Simpulan

Hasil

Evaluasi

SPM

C/II/1

KKP

12

Audit Keuangan Daerah


2.

Organisasi

CII/2
3.

Kebijakan

C/II/3
4.

Perencanaan

C/II/4
5.

Prosedur

C/II/5
6.

Pencatatan

C/II/6
7.

Pelaporan

C/II/7
8.

Pembinaan

C/II/8
9.

Personil

Reviu

Intern

C/II/9
4. PENGUJIAN SUBSTANTIF DAN PENGEMBANGAN TEMUAN
I.

Pengujian Substantif

Dan Pengembangan Temuan

D/I
II.

Pelaksanaan

Pengujian

Substantif

D/II
1. Simpulan

Hasil

Pengujian

Substantif

dan

Pengembangan Temuan

D/II/1

2. Pengujian Substantif dan Pengambangan temuan


D/II/2
5. BERKAS PENUGASAN
I.

Surat Penugasan

E/I

II.

Kartu Kendali

E/II

III

Informasi Awal Auditi

E/III

Sebagai contoh KKP Utama No KKP: A/II/1/1-2 diartikan sebagai


berikut:
A

: merupakan bagian dari KKP KONSEP LHP dan TINDAK

LANJUT.
/II
: merupakan bagian dari ringkasan temuan hasil audit.

KKP

13

Audit Keuangan Daerah


/II/1

: merupakan segmen/kegiatan pembuatan gambar desain

yang diberi kode keuangan 2, produksi 3, dan seterusnya.


/II/1/1-2 : merupakan halaman 1 dari dua halaman seluruhnya.
J. PENGELOMPOKAN KKP
KKP atas suatu penugasan auditi dapat dikelompokkan dalam dua
kelompok sesuai dengan sifat informasinya sebagai berikut:
1. Dosir Aktual (Current File)
Dosir aktual adalah KKP yang berisi informasi yang terutama
berhubungan dengan tahap audit yang sedang berjalan (aktual)
dan tidak

dipertimbangkan

untuk

dipakai

dalam

penugasan

berikutnya.
KKP ini antara lain:

Program kerja audit


Hasil reviu terhadap

manajemen
KKP analisis serta KKP lain pendukung pekerjaan

audit
Catatan

instansi/auditi
Korenspondensi aktual
Bukti yang dikumpulkan untuk mendukung

temuan
Bahan dan KKP yang dikumpulkan dalam rangka penyiapan

mengenai

sistem

pengendalian

pembicaraan

dengan

LHP termasuk konsepnya.


2. Dosir Tetap (Permanent File)
Dosir tetap adalah KKP yang berisi informasi yang dapat digunakan
berulang kali dalam audit yang akan datang. Dosir ini harus
dimutakhirkan bila terjadi perubahan pada audit berikutnya.
Contoh 6.2
1. Sejarah

terbentuknya

perundang-undangan

yang

menyangkut pembentukan instansi, program, serta kegiatan ;


2. Dosir mengenai perundang-undangan yang berlaku, terus
menerus yang relevan dengan kegiatan auditi;

KKP

14

Audit Keuangan Daerah


3. Kebijakan dan prosedur baku instansi, termasuk yang berkaitan
dengan sistem pengendalian manajemen;
4. Rencana pembiayaan jangka panjang;
5. Struktur organisasi dan kebijakan personalia;
6. Kebijakan anggaran, akuntansi, pelaporan, dan prosedur;
7. Statistik
mengenai
alokasi
anggaran,
pengeluaran,
pencapaian (fisik)
8. kegiatan, dan sebagainya;
9. Lokasi kegiatan.
K. PENGUASAAN KKP
1. Kepemilikan KKP
KKP merupakan hak milik instansi auditor
Auditi
tidak
mempunyai
hak
atas

KKP

meskipun

berisi data/informasi tentang Auditi


2. Kerahasiaan KKP
KKP bersifat rahasia terhadap auditi
KKP bersifat rahasia terhadap pihak ketiga
Pihak kejaksaan, kepolisian, atau pihak

yang

berwenang

lainnya dapat menggunakan informasi/data dalam KKP sesuai


dengan ketentuan perundang-undangan yang berlaku.
KKP dapat ditelaah oleh pihak luar dalam rangka peer review.
3. Prinsip Pengelolaan KKP
Karena bersifat rahasia dan penting:

Pada jam kerja, KKP tidak boleh ditinggal di tempat yang bisa di
datangi oleh umum, pegawai instansi, atau pihak lain yang

tidak memiliki kewenangan untuk menelaahnya.


Di luar jam kerja atau pada saat istirahat makan siang, KKP

harus disimpan dalam keadaan terkunci.


Dokumen rahasia, seperti rencana auditi

untuk

operasi

serta perluasan di masa depan dan laporan penyelidikan


harus disimpan dalam keadaan terkunci apabila tidak sedang

dipakai.
Untuk dokumen yang sifatnya sangat sensitif, perlu dilakukan
tindakan pengamanan khusus dengan menggunakan lemari
dengan kunci pengaman/kombinasi.

KKP

15

Audit Keuangan Daerah


Jika tidak terdapat indikasi mengenai kecurangan, auditor mungkin
saja dapat mengambil manfaat dari KKP dengan membahas hasil
auditnya dengan pegawai instansi yang diperiksa.
L. SIMULASI
Pemeriksa melakukan pemeriksaan atas aset pada Pemerintah Kota N.
Salah satu yang menjadi fokus audit adalah memastikan aset yang
tercatat

benar-benar

dimiliki

oleh

Pemerintah

Kota

(asersi

keberadaan). Prosedur yang dilakukan antara lain membandingkan


daftar aset tetap/buku inventaris barang/kartu inventaris barang
dengan lampiran aset tetap pada laporan keuangan dan melakukan
cek fisik untuk memeriksa keberadaan aset.
Dari hasil pemeriksaan, salah satu temuan adalah keberadaan enam
buah laptop pada SKPD A dengan nilai total Rp48.000.000,00 tidak
dapat ditelusuri.
Setiap prosedur, temuan, beserta bukti dan hal-hal penting lainnya
didokumentasikan dalam Kertas Kerja Pemeriksaan untuk membantu
penyusunan laporan dan sebagai pendukung opini yang diterbitkan.

KKP

16

Audit Keuangan Daerah

Dibuat

Indek: A.2
DLR
$

oleh
Direviu

PRS

oleh
Disetujui

HST

Akun

oleh
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota N
Tahun 2013
PROGRAM PEMERIKSAAN
Prosedur
KKP Ref

o
a.
b.
c.

Kas
Piutang
Aset

1. Bandingkan

Tetap

daftar

Catatan

aset A.3.1

tetap/buku

inventaris

barang/kartu

inventaris

barang dengan lampiran

A.3.1

aset tetap pada laporan


keuangan
2. Jika
dari
tersebut

daftar

aset

memungkinkan

untuk dilakukan cek fisik,


lakukan
secara

inspeksi
uji

fisik
petik

keberadaan penambahan
aset tetap atau saldo awal
aset tetap dan kemudian
dituangkan dalam Berita
Acara Pemeriksaan Fisik
atas aset tetap tersebut.

KKP

17

Audit Keuangan Daerah

Dibuat

Indek: A.3.1
DLR
$

oleh
Direviu

PRS

oleh
Disetujui

HST

Akun

oleh
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota N
Tahun 2013
PROGRAM PEMERIKSAAN PERORANGAN
Prosedur
KKP Ref

o
a.
b.
c.

Kas
Piutang
Aset

1. Bandingkan

Tetap

daftar

Catatan

aset B.4

tetap/buku

inventaris

barang/kartu

inventaris

barang terkait aset laptop

B.4

SKPD H
2. Lakukan cek fisik untuk
mengetahui

kesesuai

jumlah laptop

KKP

18

Audit Keuangan Daerah

Dibuat

Indek: B.4
DLR
$

oleh
Direviu

PRS

oleh
Disetujui

HST

oleh
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota N
Tahun 2013
LEMBAR SAMPUL
Akun yang Diperiksa: Aset Tetap
KKP Ref
Hasil pemeriksaan:
B.4.1
Terjadi selisih karena terdapat aset yang tidak dapat
ditelusuri sebesar Rp48.000.000,00
Indek:
Dibuat oleh
Direviu oleh

B.4.1
DLR $
PRS
%

Disetujui

HST

Aku

a.

Aset

oleh
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota N
Tahun 2013
Kertas Kerja Pendukung
Akun Aset Tetap
KKP
Saldo
Koreks Koreksi
(K)
Ref
i
(D)
Rp48.000.000
B.4.1. Rp298.000.000,0

Teta

Audited

Rp250.000.0
00

p
Indek:
Dibuat

B.4.1.1
DLR
$

oleh
Direviu

PRS

oleh
KKP

19

Audit Keuangan Daerah


Disetujui

HST

oleh
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota N
Tahun 2013
Hasil Pelaksanaan Prosedur Pemeriksaan
Prosedur : PKP.c.2.
Pemeriksaan fisik atas inventaris laptop di SKPD H
Tujuan: menguji asersi keberadaan
Hasil pemeriksaan: selisih jumlah 6 buah laptop senilai
Rp48.000.000,00
Indek: B.4.1.1
Dibuat

a
DLR

oleh
Direviu

PRS

oleh
Disetujui

HST

oleh
Pemeriksaan atas Laporan Keuangan
Pemerintah Kota N
Tahun 2013
Berita Acara Pemeriksaan Fisik
Akun yang Diperiksa: Aset Tetap - Laptop
Hasil pemeriksaan:
Terdapat enam buah laptop senilai Rp48.000.000,00
yang tidak dapat ditelusuri

REFERENSI:
Nurhayanto, 2009. Dasar-Dasar Auditing. Jakarta: Pusat Pendidikan dan
Pelatihan Pengawasan BPKP
BPK. Panduan Pemeriksaan Laporan Keuangan Pemerintah Daerah, 2015.

KKP

20