Anda di halaman 1dari 19

BAB I

PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Hipertensi
didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and
tratment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90
mmHg. 5
Menurut konsensus hipertensi 2014, tekanan darah tinggi adalah suatu
keadaan di mana upaya penurunan tekanan darah akan memberikan manfaat lebih
besar dibandingkan dengan tidak melakukan upaya tersebut. Di sadari bahwa
tekanan darah adalah suatu kontinuum, di mana risiko kardiovaskular meningkat
bila tekanan darah diatas 110/75 mmHg, jadi tidak ada angka yang pasti yang
dapat menggambarkan bertambahnya risiko tersebut. Suatu angka adalah suatu
konsensus atau kesepakatan bersama.8
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi
berbagai faktor risiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi
dibedakan menjadi yang tidak daspat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis
kelamin, dan umur. Faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya
aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung
natrium dan lemak jenuh.
Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kelemahan
jantung, Penyakit Jantung Koroner (PJK), gangguan ginjal dan lain lain yang
berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan lain lain
yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan
jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. Hipertensi atau yang
disebut silent killer yang merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh
menyebabkan penyakit jantung (cardiovaskuler).

Berkaitan dengan hal tersebut peneliti tertarik untuk meneliti


hubungan berbagai faktor resiko yang dapat menyebabkan hipertensi.
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang di atas, dapat dirumuskan masalah
penelitian ini adalah:
bagaimana distribusi angka kejadian hipertensi berdasarkan karakteristik
penderita dan seberapa besar peranan faktor resiko terhadap hipertensi ?
1.3 Tujuan Penelitian
1.3.1 Tujuan Umum
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Prevalensi factor risiko
kejadian hipertensi di Kota Palembang

1.3.2 Tujuan Khusus


1. Mengetahui

distribusi

karakteristik

penderita

hipertensi

berdasarkan usia, suku, jenis kelamin, pekerjaan, faktor


keturunan, kebiasaan merokok, kebiasaan olahraga, dan
penyakit penyerta pada paien tersebut.
2. Mengetahui hubungan antara hipertensi dengan faktor resiko
yang ada.
1.4 Manfaat Penelitian
1.4.1 Manfaat untuk Ilmu Pengetahuan
Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan referensi
atau data dalam melakukan penelitian selanjutnya maupun penelitian yang sejenis.
1.4.2

Manfaat untuk Masyarakat


Memberikan saran atau informasi kepada masyarakat pada umumnya dan

petugas kesehatan khususnya dalam melaksanakan pengelolaan (pencegahan,


pengobatan, maupun edukasi) pasien hipertensi dan pengetahuan yang bermanfaat
bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat.

1.4.3

Manfaat untuk Instansi Terkait

Memberi masukan data kepada instansi terkait pemegang kebijakan


pembangunan kesehatan seperti Dinas Kesehatan untuk melakukan promosi
kesehatan berkaitan dengan factor risiko hipertensi untuk menurunkan angka
kejadian hipertensi..

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Definisi
Hipertensi adalah meningkatnya tekanan darah sistolik lebih besar dari 140
mmHg dan atau diastolik lebih besar dari 90 mmHg pada dua kali pengukuran
dengan selang waktu 5 menit dalam keadaan cukup istirahat (tenang). Hipertensi
didefinisikan oleh Joint National Committee on Detection, Evaluation and
tratment of High Blood Pressure sebagai tekanan yang lebih tinggi dari 140/90
mmHg. 5

Menurut konsensus hipertensi 2014, tekanan darah tinggi adalah suatu


keadaan di mana upaya penurunan tekanan darah akan memberikan manfaat lebih
besar dibandingkan dengan tidak melakukan upaya tersebut. Di sadari bahwa
tekanan darah adalah suatu kontinuum, di mana risiko kardiovaskular meningkat
bila tekanan darah diatas 110/75 mmHg, jadi tidak ada angka yang pasti yang
dapat menggambarkan bertambahnya risiko tersebut. Suatu angka adalah suatu
konsensus atau kesepakatan bersama.8
Hipertensi merupakan penyakit yang timbul akibat adanya interaksi
berbagai faktor risiko yang dimiliki seseorang. Faktor pemicu hipertensi
dibedakan menjadi yang tidak daspat dikontrol seperti riwayat keluarga, jenis
kelamin, dan umur. Faktor yang dapat dikontrol seperti obesitas, kurangnya
aktivitas fisik, perilaku merokok, pola konsumsi makanan yang mengandung
natrium dan lemak jenuh.
Hipertensi dapat mengakibatkan komplikasi seperti stroke, kelemahan
jantung, Penyakit Jantung Koroner (PJK), gangguan ginjal dan lain lain yang
berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan lain lain
yang berakibat pada kelemahan fungsi dari organ vital seperti otak, ginjal dan
jantung yang dapat berakibat kecacatan bahkan kematian. Hipertensi atau yang
disebut silent killer yang merupakan salah satu faktor risiko paling berpengaruh
menyebabkan penyakit jantung (cardiovaskuler).
2.2

Epidemiologi
Menurut Riset kesehatan dasar (Riskesdas) 2013, sampai saat ini,

prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui pengukuran pada umur >
18 tahun sebesar 25.8 %. Tertinggi di Bangka belitung (30.9%). diikuti
Kalimantan Selatan (30,8%), Kalimantan Timur (29,6%) dan Jawa Barat (29,4%).
Prevalensi hipertensi di Indonesia yang didapat melalui kuesioner terdiagnosis
tenaga kesehatan sebesar 9,4 persen, yang didiagnosis tenaga kesehatan atau
sedang minum obat sebesar 9,5 persen. Jadi, ada 0,1 persen yang minum obat
sendiri. Responden yang mempunyai tekanan darah normal tetapi sedang minum

obat hipertensi sebesar 0.7 persen. Jadi prevalensi hipertensi di Indonesia sebesar
26,5 persen (25,8% + 0,7 %).9
Sebanyak 85-90% kasus hipertensi tidak diketahui penyebabnya atau
disebut sebagai hipertensi primer (hipertensi esensial atau idiopatik). Hanya
sebagian kecil hipertensi yang dapat ditetapkan penyebabnya (hipertensi
sekunder).Tidak ada data akurat mengenai prevalensi hipertensi sekunder. Data
yang tersedia pun sangat tergantung pada lokasi di mana penelitian itu dilakukan.
Diperkirakan terdapat sekitar 6% pasien yang menderita hipertensi sekunder,
sedangkan di pusat rujukan dapat mencapai sekitar 35%.9

2.3.

Klasifikasi Hipertensi
Hipertensi dapat dibedakan menjadi tiga golongan yaitu hipertensi sistolik,

hipertensi diastolik, dan hipertensi campuran. Hipertensi sistolik (isolated systolic


hypertension) merupakan peningkatan tekanan sistolik tanpa diikuti peningkatan
tekanan diastolik dan pada umumnya ditemukan pada usia lanjut. Tekanan sistolik
berkaitan dengan tingginya tekanan pada arteri apabila jantung berkonstraksi
(denyut jantung). Tekanan sistolik merupakan tekanan maksimum dalam arteri
dan tercermin pada hasil pembacaan tekanan darah sebagai tekanan atas yang
nilainya lebih besar.
Hipertensi diastolik (diastolic hypertension) merupakan peningkatan
tekanan diastolik tanpa diikuti peningkatan tekanan sistolik, biasanya ditemukan
pada anak anak dan dewasa muda. Hipertensi diastolik terjadi apabila pembuluh
darah kecil menyempit secara tidak normal, sehingga memperbesar tahanan
terhadap aliran darah yang melaluinya dan meningkatkan tekanan diastoliknya.
Tekanan darah diastolik berkaitan dengan tekanan arteri bila jantung berada dalam
keadaan relaksasi diantara dua denyutan. Hipertensi campuran merupakan
peningkatan tekanan sistolik dan diastolik.
Berdasarkan penyebabnya hipertensi dibagi menjadi dua golongan, yaitu:
1.

Hipertesi esensial atau hipertesi primer yang tidak diketahui


penyebabnya, disebut juga hipertensi idiopatik. Terdapat sekitar 95%
kasus. Banyak faktor yang mempengaruhi seperti genetik, lingkungan

, hiperaktivitas susunan saraf simpatis. Sistem renin angiotensin,


defek dalam ekskresi Na, peningkatan Na dan Ca intraseluler, dan
faktor faktor yang meningkatkan risiko, seperti obesitas, alkohol,
merokok, serta polisitemia.
Hipertensi sekunder atau hipertensi renal. Terdapat sekitar 5% kasus.

2.

Penyebab spesifiknya diketahui seperti penggunaan estrogen,


penyakit ginjal, hipertensi vaskuler renal, hiperaldosteronisme primer
dan sindrom cushing, feokromosifoma, koartasio aorta, hipertensi
yang berhubungan dengan kehamilan , dan lain lain.
Menurut the eighth Reportof Joint National Committee on Prevention,
Detection, Evaluation, and Treathment of High Blood Pressure (JNC VII),
klasifikasi hipertensi pada orang dewasa dapat dibagi menjadi kelompok normal,
prehipertensi, hipertensi derajat 1 dan derajat 2 (tabel 1)
Tabel 1. Klasifikasi tekanan darah menurut JNC VII 5
Klasifikasi Tekanan Darah

Tekanan Darah Sistolik

Tekanan Darah Diastolik

<120

<80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi derajat I

140-159

90-99

Hipertensi derajat II

160

100

Normal

Menurut konsensus hipertensi 2014, diagnosis hipertensi ditegakkan bila


tekanan darah 140/90 mmHg. Tingkatan hipertensi ditentukan berdasarkan
ukuran tekanan darah sistolik dan diastolik. Klasifikasi hipertensi pada orang
dewasa dibagi menjadi kelompok normal, prehipertensi, hipertensi tingkat 1,
hipertensi tingkat 2, dan hipertensi sistolik terisolasi.8
Tabel 2. Klasifikasi tekanan darah menurut WHO 10
Klasifikasi Tekanan Darah
Optimal

Tekanan Darah Sistolik

Tekanan Darah Diastolik

<120

<80

Normal

<130

<85

Normal tinggi

130-139

85-89

Hipertensi derajat I

140-159

90-99

Hipertensi derajat II

160-179

100-109

Hipertensi derajat III

180

110

Hipertensi sistolik terisolasi

140

<90

Menurut American Heart Association, klasifikasi hipertensi dibagi


menjadi 5 kelompok, normal, prehipertensi, hipertensi derajat 1, hipertensi derajat
2, krisis hipertensi ( membutuhkan penanganan emergensi)
Tabel 3. Klasifikasi tekanan darah menurut American Heart Association
Klasifikasi Tekanan Darah

Tekanan Darah Sistolik

Tekanan Darah Diastolik

<120

<80

Prehipertensi

120-139

80-89

Hipertensi derajat I

140-159

90-99

Hipertensi derajat II

160

100

Krisis Hipertensi

>180

>110

Normal

Menurut National Heart Foundation of Australia klasifikasi hipertensi


dibagi menjadi 7 kelompok, normal, normal tinggi, hipertensi derajat 1, hipertensi
derajat 2, hipertensi derajat 3, hipertensi sistolik terisolasi, dan hipertensi sistolik
terisolasi dengan perlebaranan tekanan nadi.
2.4.

Etiologi
Sampai saat ini penyebab hipertensi esensial tidak dapat diketahui dengan

pasti. Hipertensi primer tidak disebabkan oleh faktor tunggal tunggal dan khusus.
Hipertensi ini disebabkan berbagai faktor yang saling berkaitan. Hipertensi
sekunder disebabkan oleh faktor primer yang diketahui yaitu seperti kerusakan
ginjal, gangguan obat tertentu, stres akut, kerusakan vaskuler dan lain lain.

Adapun penyebab paling umum pada penderita hipertensi maligna adalah


hipertensi yang tidak terobati. Risiko relatif hipertensi tergantung pada jumlah dan
keparahan dari faktor risiko yang dapat dimodifikasi dan yang tidak dapat
dimodifikasi. Faktor- faktor yang tidak dapat dimodifikasi antara lain faktor
genetik, umur, jenis kelamin, dan etnis. Sedangkan faktor yang dapat dimodifikasi
meliputi stres, obesitas dan nutrisi.
2.5

Patogenesis
Tubuh memiliki sistem yang berfungsi mencegah perubahan tekanan darah

secara akut yang disebabkan oleh gangguan sirkulasi, yang berusaha untuk
mempertahankan kestabilan tekanan darah dalam jangka panjang reflek
kardiovaskuler melalui sistem saraf termasuk sistem kontrol yang bereaksi segera.
Kestabilan tekanan darah jangka panjang dipertahankan oleh sistem yang
mengatur jumlah cairan tubuh yang melibatkan berbagai organ terutama ginjal.
1. Perubahan anatomi dan fisiologi pembuluh darah
Aterosklerosis adalah kelainan pada pembuluh darah yang ditandai dengan
penebalan dan hilangnya elastisitas arteri. Aterosklerosis merupakan
proses multifaktorial. Terjadi inflamasi pada dinding pembuluh darah dan
terbentuk deposit substansi lemak, kolesterol, produk sampah seluler,
kalsium dan berbagai substansi lainnya dalam lapisan pembuluh darah.
Pertumbuhan ini disebut plak. Pertumbuhan plak dibawah lapisan tunika
intima akan memperkecil lumen pembuluh darah, obstruksi luminal,
kelainan aliran darah, pengurangan suplai oksigen pada organ atau bagian
tubuh tertentu
Sel endotel pembuluh darah juga memiliki peran penting dalam
pengontrolan pembuluh darah jantung dengan cara memproduksi sejumlah
vasoaktif lokal yaitu molekul oksida nitrit dan peptida endotelium.
Disfungsi endotelium banyak terjadi pada kasus hipertensi primer.
2. Sistem renin- angiotensin
Mekanisme terjadinya hipertensi adalah melalui terbentuknya angiotensin
II dari angiotensin I oleh angiotensin I- convertting enzyme (ACE).

Angiotensin II inilah yang memiliki peranan kunci dalam menaikkan


tekanan darah melalui dua aksi utama
a. Meningkatkan sekresi Anti- diuretik hormone (ADH) dan rasa haus.
Dengan meningkatkan ADH, sangat sedikit urin yang diekskresikan ke
luar tubuh (antidiuretik), sehingga menjadi pekat dan tinggi
osmolaritasnya. Untuk mengencerkannya, volume cairan ekstraseluler
akan ditingkatkan dengan cara menarik cairan dari bagian intraseluler.
Akibatnya volume darah meningkat, yang pada akhirnya akan
meningkatkan tekanan darah.
b. Menstimulasi sekresi aldosteron dari korteks adrenal. Untuk mengatur
volume cairan ekstraseluler, aldosteron akan mengurangi ekskresi
NaCl(garam) dengan cara mereabsorpsinya dari tubulus ginjal. Naiknya
konsentrasi NaCl akan diencerkan kembali dengan cara meningkatkan
volume cairan ekstraseluler yang pada gilirannya akan meningkatkan
volume dan tekanan darah

c. Mekanisme yang mengontrol konstriksi dan relaksasi pembuluh darah


terletak di pusat vasomotor, pada medula di otak. Dari pusat vasomotor
ini bermula jaras saraf simpatis, yang berlanjut ke bawah ke korda
spinalis dan keluar dari kolumna medula spinalis ke ganglia simpatis di
toraks dan abdomen. Rangsangan pusat vasomotor dihantarkan dalam
bentuk impuls yang bergerak ke bawah melalui saraf simpatis ke
ganglia simpatis. Pada titik ini, neuron preganglion melepaskan
asetilkolin, yang akan merangsang serabut saraf pasca ganglion ke
pembuluh

darah,

dimana

dengan

dilepaskannya

norepinefrin

mengakibatkan konstriksi pembuluh darah.


2.6.

Diagnosis hipertensi
Diagnosis yang akurat merupakan langkah awal dalam penatalaksanaan

hipertensi. Akurasi cara pengukuran tekanan darah dan alat ukur yang digunakan,
serta ketepatan waktu pengukuran. Pengukuran tekanan darah dianjurkan

10

dilakukan pada posisi duduk setelah beristirahat 5 menit dan 30 menit bebas rokok
dan kafein
Pengukuran tekanan darah posisi berdiri atau berbaring dapat dilakukan
pada keadaan tertentu. Sebaiknya alat ukur yang dipilih adalah sfigmamonometer
air raksa dengan ukuran cuff yang sesuai. Balon di pompa sampai 20-30 mmHg
diatas tekanan sistolik yaitu saat pulsasi nadi tidak teraba lagi, kemudian dibuka
secara perlahan lahan. Hal ini dimaksudkan untuk menghindari auscultatory gap
yaitu hilangnya bunyi setelah bunyi pertama terdengar yang disebabkan oleh
kekakuan arteri
Pengukuran ulang hampir selalu diperlukan untuk menilai apakah
peninggian tekanan darah menetap sehingga memerlukan intervensi segera atau
kembali ke normal sehingga hanya memerlukan kontrol yang periodik. Selain itu
diperlukan pemeriksaan penunjang untuk menilai faktor risiko kardiovaskuler lain
seperti hiperglikemi atau hiperlipidemi yang dapat dimodifikasi dan menemukan
kerusakan organ target akibat tingginya tekanan darah seperti hipertrofi ventrikel
kiri atau retinopati hipertensi pada funduskopi. Tentu saja sebelum melakukan
pemeriksaan fisik diperlukan anamnesis yang baik untuk menilai riwayat
hipertensi dalam keluarga, riwayat penggunaan obat anti hipertensi atau obat lain
gejala yang berhubungan dengan gangguan organ target, kebiasaan dan gaya
hidup serta faktor psikososial

2.7

Gejala klinis
Individu yang menderita hipertensi kadang tidak menunjukkan gejala

sampai bertahun tahun. Oleh karena itulah hipertensi dikenal sebagai silent killer.
Pada pemeriksaan fisik, tidak dijumpai kelainan apapun selain tekanan darah yang
tinggi, tetapi dapat pula ditemukan perubahan pada retina, seperti perdarahan,
eksudat (kumpulan cairan), penyempitan pembuluh darah, dan pada kasus berat
akan mengalami edema pupil.
Sebagian besar gejala klinis timbul setelah mengalami hipertensi bertahun tahun

11

a. Nyeri kepala saat terjaga, kadang kadang disertai mual dan muntah, akibat
b.
c.
d.
e.

peningkatan tekanan darah intrakranial


Penglihatan kabur akibat kerusakan retina akibat hipertensi
Ayunan langkah yang tidak mantap akibat susunan saraf pusat telah rusak
Nokturia karana peningkatan aliran darah ginjal dan filtrasi glomerolus
Edema dependen dan pembengkakan akibat peningkatan tekanan kapiler

Gejala lainnya yang umumnya terjadi pada penderita hipertensi yaitu pusing,
muka merah, sakit kepala, keluarnya darah dari hidung secara tiba tiba, tengkuk
terasa pegal dan lain lain
2.8.

Komplikasi Hipertensi

Hipertensi yang terjadi dalam kurun waktu yang lama akan berbahaya

sehingga menimbulkan komplikasi. Komplikasi tersebut dapat menyerang


berbagai target organ tubuh yaitu otak, mata, jantung, pembuluh darah arteri, serta
ginjal.Sebagaui dampak terjadinya komplikasi hipertensi kualitas hidup penderita
menjadi rendah dan kemungkinan terburuknya adalah terjadinya kematian pada
penderita akibat komplikasi hipertensi yang dimilikinya. Hipertensi dapat
menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara langsung maupun tidak
langsung. Beberapa penelitian menemukan bahwa penyebab kerusakan organorgan tersebut dapat melalui akibat langsung dari kenaikan tekanan darah
padaorgan, atau karena efek tidak langsung, antara lain adanya autoantibodi
terhadap reseptor angiotensin II, stress oksidatif, down regulation, dan lain-lain.
Penelitian lain juga membuktikan bahwa diet tinggi garam dan sensitivitas
terhadap garam berperan besar dalam timbulnya kerusakan organ target, misalnya
kerusakan pembuluh darah akibat meningkatnya ekspresi transforming growth
factor- (TGF-).6
Umumnya, hipertensi dapat menimbulkan kerusakan organ tubuh, baik secara
langsung maupun tidak langsung. Kerusakan organ-organ yang umum ditemui
pada pasien hipertensi adalah:6
1. Jantung
-

Hipertrofi ventrikel kiri

Angina atau infark miokardium

12

Gagal jantung

2. Otak
-

Stroke atau transient ischemic attack

3. Penyakit ginjal kronis


4. Penyakit arteri perifer
5. Retinopati
2.9

Tatalaksana
Tujuan deteksi dan penatalaksanaan hipertensi adalah menurunkan risiko

penyakit kardiovaskular dan mortalitas serta morbiditas yang berkaitan. Berikut


adalah rujukan terbaru tentang manajemen penatalaksanaan hipertensi menurut
JNC 8.5
Dosis Obat Hipertensi JNC 8
Obat Antihipertensi

Inisial
Dosis Harian, mg

ACE inhibitors
1. Captopril
2. Enalapril
3. Lisinopril
Angiostensi receptor blockers (ARB)
1. Eprosartan
2. Candesartan
3. Losartan
4. Valsartan
5. Irbesartan
-Blockers
1. Atenolol
2. Metoprolol
Calcium Channel Blockers
1. Amlodipine
2. Diltiazem extended
release
3. Nitredipine
Thiazide-type diuretics
1. Bendroflumethiazide
2. Chlorthalidone
3. Hydrochlorothiazide
4. Indapamide

Dosis Target
RCT, mg

Jumlah
Obat / Hari

50
5
10

150-200
20
40

2
1-2
1

400
4
50
40-80
75

600-800
12-32
100
160-320
300

1-2
1
1-2
1
1

25-50
50

100
100-200

1
1-2

2,5
120-180

10
360

1
1

10

20

1-2

5
12,5
12,5-25
1,25

10
12,5-25
25-100
1,25-2,5

1
1
1-2
1

13

Algorithma Penatalaksanaan Hipertensi JNC 8

Dewasa 18 tahun + Hipertensi


Pengaturan Lifestyle
(terus berlangsung sepanjang terapi)

Mengatur tekanan darah sesuai target dan memulai terapi obat sesuai dengan usia, diabtes, CKD
Populasi Umum
tanpa CKD & DM

Umur 60 tahun

Umur < 60 tahun

Target TD
SBP < 150 mmHg
DBP < 90 mmHg

Target TD
SBP < 140 mmHg
DBP < 90 mmHg
Non Kulit Hitam

Populasi CKD & DM

Semua umur + DM tanpaSemua umur +


CKD dengan/tanpa DM
CKD

Target TD
SBP < 140 mmHg
DBP < 90 mmHg
Kulit Hitam

Target TD
SBP < 140 mmHg
DBP < 90 mmHg
Semua Kasus

ACEI atau ARB,


thiazide-type
diuretic
atau CCB, sendiri atau kombinasi
de-type diuretic atau ACEI atau ARB Inisiasi
atau CCB,
sendiri atau
kombinasi
sendiri atau kombinasi dengan obat golongan

Pilih strategi terapi titrasi obat


Dosis maksimum obat pertama sebelum tambahkan obat kedua
Tambahakan obat kedua sebelum mengunakan obat pertama pa
Mulai dengan 2 kelas obat terpisah atau mengunakan kombina

Apakah tujuan TD tercapai ?


Tidak

Memperkuat terapi dan mengatur agar pola lifestyle tetap sesuai


Untuk strategi A dan B tambahakan dan titrasi thiazide-type diuretic atau ACEI atau ARB atau CCB (gunakan terapi ke
Untuk strategi C, dosis dititrasi dan inisiasi medikasi sampai maksimum

Tidak

Apakah tujuan TD tercapai ?


Tidak

14

Memperkuat terapi dan mengatur agar pola lifestyle tetap sesuai


Tambahkan obat dan titrasi thiazide-type diuretic atau ACEI atau ARB atau CCB (gunakan terapi kelas obat yang tidak

Apakah tujuan TD tercapai ?


Tidak

Memperkuat terapi dan mengatur agar pola lifestyle tetap sesuai


Tambahkan obat golongan lain ( -blocker, aldosterone antagonist atau yang lainnya) dan rujuk pasi

Tidak

2.10

Apakah tujuan TD tercapai ?

Pencegahan
Pencegahan lebih baik daripada pengobatan, demikian juga terhadap

hipertensi. Pada umumnya, orang berusaha mengenali hipertensi jika dirinya atau
keluarganya sakit keras atau meninggal dunia akibat hipertensi.
Tidak semua penderita hipertensi memerlukan obat. Apabila hipertensinya
tergolong ringan maka masih dapat dikontrol melalui sikap hidup sehari-hari.
Pengontrolan sikap hidup ini merupakan langkah pencegahan amat baik agar
penderita hipertensi tidak kambuh gejala penyakitnya.
Usaha pencegahan juga bermanfaat bagi penderita hipertensi agar
penyakitnya tidak menjadi parah, tentunya harus disertai pemakaian obat-obatan
yang ditentukan oleh dokter. Agar terhindar dari komplikasi fatal hipertensi, harus
diambil tindakan pencegahan yang baik (Stop High Blood Pressure), antara lain
dengan cara menghindari faktor risiko hipertensi.
1. Pola makan
Makanan merupakan faktor penting yang menentukan tekanan darah.
Mengkonsumsi buah dan sayuran segar dan menerapkan pola makan yang rendah
lemak jenuh, kolesterol, lemak total, serta kaya akan buah, sayur, serta produk
susu rendah lemak telah terbukti secara klinis dapat menurunkan tekanan darah.

15

Untuk menanggulangi keadaan tekanan darah yang tinggi, secara garis


besar ada empat macam diet, yaitu :
a.

Diet rendah garam


Ada tiga macam diet rendah garam (sodium) yaitu :

1) Diet ringan, boleh mengkonsumsi 1,5-3 gram sodium perhari, senilai


dengan 3,75-7,5 gram garam dapur.
2) Diet menengah, boleh mengkonsumsi 0,5-1,5 gram sodium perhari, seniali
1,25-3,75 gram garam dapur.
3) Diet berat, hanya boleh mengkonsumsi dari 0,5 gram sodium atau kurang
dari 1,25 gram garam dapur perhari.
Tujuan diet rendah garam untuk membantu menghilangkan retensi
(penahan) air dalam jaringan tubuh sehingga dapat menurunkan tekanan
darah. Walaupun rendah garam, yang penting diperhatikan dalam
melakukan diet ini adalah komposisi makanan harus tetap mengandung
cukup zat-zat gizi, baik kalori, protein, mineral maupun vitamin yang
seimbang.
b.

Diet rendah kolesterol dan lemak terbatas


Diet ini bertujuan untuk menurunkan kadar kolesterol darah dan
menurunkan berat badan bagi penderita yang kegemukan.
Beberapa hal yang harus diperhatikan dalam mengatur diet ini
antara lain sebagai berikut :

1) Hindari penggunaan lemak hewan, margarin dan mentega terutama


goreng-gorengan atau makanan yang digoreng dengan minyak.
2) Batasi konsumsi daging, hati, limpa, dan jenis lainnya serta sea food
(udang, kepiting), minyak kelapa dan kelapa (santan).
3) Batasi konsumsi kuning telur, paling banyak tiga butir dalam seminggu.
4) Lebih sering mengkonsumsi tempe, tahu, dan jenis kacang.
5) Batasi penggunaan gula dan makanan yang manis manis, seperti sirup,
dodol, kue, dan lain-lain.
6) Lebih banyak mengkonsumsi sayuran dan buah, kecuali durian dan
nangka. Selain itu, juga harus memperhatikan gabungan makanan yang
dikonsumsi karena perlu disesuaikan dengan kadar kolesterol darah.
c. Diet tinggi serat

16

Diet tekanan darah tinggi dianjurkan setiap hari mengkonsumsi


makanan berserat tinggi. Beberapa contoh jenis bahan makanan yang
mengandung serat tinggi yaitu :
1) Golongan buah-buahan, seperti jambu biji, belimbing, papaya, mangga, apel,
semangka dan pisang.
2) Golongan sayuran, seperti bawang putih, daun kacang panjang, kacang panjang,
daun singkong, tomat, wortel, touge.
3) Golongan protein nabati seperti kacang tanah, kacang hijau, kacang kedelai,
kacang merah, dan biji-bijian.
4) Makanan lainnya seperti agar-agar dan rumput laut.
d. Diet rendah kalori bagi yang kegemukan
Orang yang berat badannya lebih (kegemukan) akan beresiko
tinggi terkena hipertensi. Demikian juga orang yang berusia diatas usia 40
tahun. Penanggulangan hipertensi dapat dilakukan dengan pembatasan
asupan kalori, hal yang harus diperhatikan yaitu :
1) Asupan kalori dikurangi sekitar 25%
2) Menu makanan harus seimbang dan memenuhi kebutuhan zat gizi
3) Aktivitas olahraga dipilih yang ringan-sedang
2. Pola istirahat
Pemulihan anggota tubuh yang lelah beraktifitas sehari penuh untuk
menetralisir tekanan darah.
3. Pola aktivitas
Tekanan darah. Jenis latihan yang dapat mengontrol tekanan darah yaitu :
bejalan kaki, bersepeda, berenang, aerobik. Kegiatan atau pekerjaan sehari-hari
yang lebih aktif baik fisik maupun mental memerlukan energi / kalori yang lebih
banyak. Orang dengan gaya hidup yang tidak aktif akan rentan terhadap tekanan
darah tinggi. Melakukan olahraga secara teratur tidak hanya menjaga bentuk dan
berat badan, tetapi juga dapat menurunkan tekanan darah.
4. Pengobatan

17

Hipertensi esensial tidak dapat diobati tetapi diberikan pengobatan untuk


mencegah terjadinya komplikasi.
Langkah awal biasanya adalah merubah pola hidup penderita:
1) Penderita hipertensi yang mengalami kelebihan berat badannya sampai batas
ideal.
2) Merubah pola makan pada penderita diabetes, kegemukan atau kadar kolesterol
darah tinggi. Mengurangi pemakaian garam serta mengurangi alkohol.
3) olahraga
4) berhenti merokok.

2.11 Kerangka Konsep


Usia

Jenis
Kelamin

Suku

Genetik

Pekerjaan

Kebiasaan
Merokok

Hipertensi
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Jenis Penelitian


Jenis penelitian yang dilakukan adalah penelitian observasional analitik
dengan rancangan cross sectional dengan menggunakan data pada pasien yang
berobat ke Rumah Sakit X.
3.2 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilakukan dari tanggal 21 Maret 2016 sampai 21 Maret 2017 di
Rumah Sakit X.

Kebiasaan
Olahraga

18

3.3 Populasi dan Sampel Penelitian


3.3.1 Populasi
Populasi target penelitian ini adalah semua pasien yang datang berobat
di Rumah Sakit X.
3.3.2

Sampel
Sampel penelitian ini adalah semua pasien yang datang berobat dalam

periode 21 Maret 2016 sampai 21 Maret 2017.


3.4 Variabel Penelitian
Variabel terikat penelitian ini adalah:
1. Usia
2. Jenis kelamin
3. Faktor keturunan
4. Suku
5. Status gizi

Variabel bebas penelitian ini adalah:


1. Pekerjaan
2. Kebiasaan merokok
3. Kebiasaan olahraga
3.5 Definisi Operasional
3.5.1 Usia
Usia yang digunakan pada penelitian ini dihitung berdasarkan
ulang tahun terakhir dari subjek penelitian dalam satuan tahun
Penggolongan sebagai berikut :
1. 40
2. 40
3.5.2

Jenis kelamin
Identitas pasien berdasarkan jenis kelamin
Dikategorikan atas :
1. Pasien laki-laki
2. Pasien perempuan

3.5.3

Faktor keturunan
Ada atau tidaknya anggota keluarga yang menderita penyakit

hipertensi.

19

3.5.4 Suku
Berasal dari suku dan bangsa mana pasien tersebut.
3.5.5

Status gizi
Status gizi pasien dihitung berdasarkan perhitungan IMT(indeks

massa tubuh). Dengan kategori :


- Underweight
- Normal
- overweight
3.5.6

Kebiasaan merokok
Kebiasaan merokok pasien dirinci berdasarkan jenis rokok, lama
merokok, jumlah rokok, dan merek rokok.

3.5.7

Kebiasaan berolahraga
Kebiasaan berolahraga dirinci berdasarkan sering atau tidaknya

pasien berolahraga.
3.6 Teknik Pengolahan Data
Data yang diperoleh dalam penelitian ini akan diolah dan dianalisis
secara deskriptif berdasarkan jumlah kasus yang didapatkan dari rekam
medik sesuai dengan variabel yang diteliti.
3.7 Teknik Penyajian Data
Data yang telah diolah kemudian akan disajikan dalam bentuk tabel
dan grafik yang dijelaskan dalam bentuk narasi.
3.7.1

Rencana penyajian data


Data akan diolah menggunakan SPSS.19 dengan teknik penyajian data

secara distributif frekuensi dan korelasi antar variabel