Anda di halaman 1dari 20

BAB III

TINJAUAN PUSTAKA
3.1 Anatomi femur
Femur merupakan tulang terpanjang dan terkeras yang ada pada tubuh dan
dikelompokkan ke dalam ekstremitas bagian bawah. Di sebelah atas, femur
bersendi dengan acetabulum untuk membentuk articulatio coxae dan di bawah
dengan tibia dan patella untuk membentuk articulatio genus. Ujung atas femur
memiliki caput, collum, trochanter major, dan trochanter minor.
Caput membentuk dua pertiga dari bulatan dan bersendi dengan
acetabulum os coxae. Pada pusat caput terdapat lekukan kecil yang disebut fovea
capitis, yang berguna sebagai tempat melekatnya ligamentun capitis femoris.
Sebagian suplai darah untuk caput femoris dari arteri obturatoria dihantarkan
melalui ligamentum ini dan memasuki tulang melalui fovea capitis.
Collum yang menghubungkan caput dengan corpus berjalan ke bawah,
belakang, dan lateral serta membentuk sudut 125 dan lebuh kecil pada
perempuan dengan sumbu panjang corpus femoris. Besarnya sudut ini dapat
berubah karena adanya penyakit.
Trochanter mayor dan minor merupakan tonjolan yang besar pada taut
antara collum dan corpus. Linea intertrocanterica menghubungkan kedua trocanter
ini di bagian anterior, tempat melekatnya ligamentum iliofemorale dan di bagian
posterior oleh crista intertrochanterica yang menonjol, pada crista ini terdapat
tuberculum quadratum.
Corpus femoris permukaan anteriornya lebih licin dan bulat, sedangkan
permukaan posterior mempunyai rigi yang disebut linea asoera. Pada linea ini
melekat otot-otot dan septa intermuskularis. Garis tepi linea melebar ke atas dan
ke bawah. Tepi medial berlanjut ke distal sebagai crista supracondylaris medialis
yang menuju ke tuberculum adductorum pada condylus medial. Tepi lateral
melanjutkan diri ke distal sebagai crista supracondylaris lateralis. Pada permukaan
posterior corpus, tepatnya dibawah trochanter major terdapat tuberositas glutea
sebagai tempat melekatnya musculus gluteus maximus. Corpus melebar kearah

ujung distalnya dan membentuk daerah segitiga datar pada permukaan


posteriornya yang disebut facies poplitea.
Ujung bawah femur memiliki condyli medialis dan lateralis yang bagian
posteriornya dipisahkan oleh insisura intercondylaris. Permukaan anterior
condylus ikut serta dalam pembentukan articulatio genus. Diatas condyli terdapat
epicondylus lateralis dan medialis. Tuberkulum adductorum dilanjytkan oleh
epicondylus medialis.

Ruang fascia anterior tungkai atas diisi oleh musculus sartorius, muskulus
iliacus, musculus psoas, musculus pectineus dan musculus cuadriceps femoris.
Dipersarafi oleh nervus femoralis ruang anterior facia tungkai atas dialiri
pembuluh darah arteri femoralis. Ruang fascia medial tungkai atas diisi oleh
musculus gracilis, musculus adductor longus, musculus adductor magnus,
musculus obturatorius externus dengan dipersarafi oleh nervus obturatorius ruang
fascial medial diperdarahi oleh arteri profunda femoris dan arteri obturatoria.
Ruang fascia posterior tungkai atas diisi oleh musculus biceps femoris, msculus

semitendinosus, musculus semimembranosus, dan sebagian kecil musculus


adductor magnus (otot-otot hamstring)/ dipersarafi oleh nervus ischiadicus ruang
fascia posterior tungkai atas diperdarahi oleh cabang-cabang arteri profunda
femoris.

3.2 Fraktur
3.2.1 Definisi
Fraktur didefinisikan sebagai hilangnya kontinuitas tulang, tulang
rawan sendi, tulang rawan epifisis biasanya akibat adanya ruda paksa baik
yang bersifat total maupun yang bersifat parsial

3.2.2 Proses Terjadinya Fraktur


Proses terjadinya fraktur tergantung pada keadaan fisik tulang dan
keadaan trauma yang dapat menyebabkan tulang patah. Tulang kortikal
mempunyai struktur yang dapat menahan kompresi dan tekanan memuntir.
Kebanyakan fraktur terjadi karena kegagalan tulang menahan tekanan
terutama tekanan membengkok, memutar dan tarikan.
Trauma dapat bersifat:
-

Trauma langsung menyebabkan tekanan langsung pada tulang dan


terjadi fraktur pada daerah tekanan. Fraktur yang terjadi bersifat

komunitif dan jaringan lunak ikut rusak.


Trauma tidak langsung apabila trauma dihantarkan ke daerah yang
lebih jauh dari daerah fraktur dan biasanya jaringan lunak tetap utuh.

3.2.3 Klasifikasi Fraktur


a.
b.

1. Klasifikasi etiologis
Fraktur traumatik, terjadi karena trauma yang tiba-tiba
Fraktur patologis, terjadi karena kelemahan tulang sebelumnya

c.

akibat kelainan patologis di dalam tulang


Fraktur stres, terjadi karena trauma yang terus-menerus pada suatu
tempat tertentu

2. Klasifikasi klinis
Fraktur tertutup (simple fracture) tanpa hubungan dengan dunia

a.
luar
b.

Fraktur terbuka (compound fracture) berhubungan dengan dunia

luar melalui luka pada kulit dan jaringan lunak, dapat berbentuk from within dan
c.

from without sehingga memungkinkan masuknya kuman dari luar ke dalam luka
Fraktur dengan komplikasi (complicated fracture) disertai
dengan komplikasi misalnya malunion, delayed union, nonunion, infeksi tulang
3. Klasifikasi radiologis
Klasifikasi ini berdasarkan atas:
1. Lokalisasi
a. Diafisial
b. Metafisial
c. Epifisis
d. Intra-artikuler
e. Fraktur dengan dislokasi
2. Konfigurasi
a. Fraktur transversal
b. Fraktur oblik
c. Fraktur spiral
d. Fraktur Z
e. Fraktur segmental
f. Fraktur komunitif
g. Fraktur kupu-kupu
h. Fraktur greenstick
i. Fraktur baji biasanya pada vertebra karena trauma kompresi
j. Fraktur avulsi, fragmen kecil tertarik oleh otot atau tendo
k. Fraktur depresi, karena trauma langsung
l. Fraktur impaksi
m. Fraktur pecah (burst), fragmen kecil yang berpisah
3. Menurut ekstensi
a. Fraktur total
b. Fraktur tidak total (fraktur crack)
c. Fraktur buckle atau torus
d. Fraktur garis rambut
e. Fraktur green stick
4. Menurut hubungan antara fragmen dengan fragmen lainnya
a. Tidak bergeser
b. Bergeser, dapat terjadi dalam 6 cara, yaitu bersampingan,
angulasi, rotasi, distraksi, over-riding, impaksi

3.2.4 Proses Penyembuhan Fraktur


Proses penyembuhan fraktur pada tulang kortikal terdiri atas lima fase,
yaitu:
a. Fase hematoma
Pada fraktur tulang panjang, pembuluh darah kecil yang melewati
kanalikuli dalam sistem Haversian akan robek pada daerah fraktur dan
akan membentuk hematoma di antara kedua sisi fraktur. Hematoma
yang besar akan diliputi periosteum. Periosteum terdorong dan robek
akibat tekanan hematoma sehingga terjadi ekstravasasi darah ke
jaringan lunak. Osteosit dari daerah fraktur akan kehilangan darah dan
mati.
b. Fase proliferasi seluler subperiosteal dan endosteal
Terjadi reaksi jaringan lunak sekitar fraktur sebagai suatu reaksi
penyembuhan karena sel-sel osteogenik berproliferasi dari periosteum
untuk membentuk kalus eksterna serta pada daerah endosteum
membentuk kalus interna sebagai aktivitas seluler dalam kanalis
medularis. Setelah beberapa minggu, kalus dari fraktur akan
membentuk massa yang membentuk jaringan osteogenik.
c. Fase pembentukan kalus (fase union secara klinis)
Setelah pembentukan jaringan seluler yang bertumbuh dari setiap
fragmen sel dasar yang berasal dari osteoblas dan kemudian pada
kondroblas membentuk tulang rawan. Tempat osteoblas diduduki oleh
matriks interseluler kolagen dan perlekatan polisakarida oleh garam
kalsium membentuk suatu tulang yang imatur (woven bone).
d. Fase konsolidasi (fase union secara radiologik)
Woven bone akan membentuk kalus primer dan diubah menjadi tulang
yang lebih matang oleh aktivitas osteoblas yang menjadi struktur
lamelar dan kelebihan kalus akan diresorpsi secara bertahap.
e. Fase remodeling

Jika union sudah lengkap, tulang yang baru membentuk bagian yang
menyerupai bulbus yang meliputi tulang tanpa kanalis medularis.
Kemudian, terjadi resorbsi secara osteoklastik dan tetap terjadi proses
osteoblastik pada tulang dan kalus eksterna secara perlahan
menghilang. Kalus intermediat menjadi tulang kompak dan berisi
sistem Haversian dan kalus bagian dalam akan mengalami peronggaan
membentuk ruang sumsum.

Solomon, Louis, David Warwick, Selvadurai Nayagam. 2010. Apleys System of Orthopaedics and
Fractures Ninth Edition. India: Replica Press.

3.2.5 Diagnosis Fraktur


Anamnesis
Penderita datang dengan traumatik fraktur, baik yang hebat maupun
trauma ringan dan diikuti dengan ketidakmampuan untuk menggunakan
anggota gerak. Fraktur tidak selalu terjadi di daerah trauma dan mungkin
terjadi pada daerah lain. Trauma dapat terjadi karena kecelakaan lalu lintas,
jatuh dari ketinggian, jatuh di kamar mandi pada orang tua, trauma olah
raga, dll. Biasanya penderita datang dengan keluhan nyeri, deformitas
(angulasi, rotasi, diskrepansi), pembengkakan, gangguan fungsi anggota
gerak, deformitas, kelainan gerak, krepitasi atau gejala lainnya. Mekanisme
terjadinya trauma juga patut ditanyakan untuk mengetahui proses terjadinya
fraktur
Pemeriksaan Fisik

Pada pemeriksaan awal, diperhatikan apakah adanya tanda-tanda :


1.
2.
3.

Syok, anemia atau perdarahan


Kerusakan pada organ lain
Faktor predisposisi, misalnya pada fraktur patologis

Pemeriksaan Lokal/Pemeriksaan Orthopedi


1.
-

Inspeksi (Look)
Bandingkan dengan bagian yang sehat
Perhatikan posisi anggota gerak
Keadaan umum penderita
Ekspresi wajah karena nyeri
Lidah kering atau basah
Tanda anemia karena perdarahan
Luka pada kulit dan jaringan lunak (membedakan fraktur terbuka

dan tertutup)
Ekstravasasi darah subkutan dalam beberapa jam sampai hari
Deformitas berupa angulasi, rotasi, kependekan
Survey pada seluruh tubuh apakah ada trauma pada organ lain
Kondisi mental penderita
Keadaan vaskularisasi

2.
-

Palpasi (Feel)
Temperatur setempat
Nyeri tekan, yang bersifat superficial biasanya disebabkan oleh

kerusakan jaringan lunak yang dalam akibat fraktur pada tulang


- Krepitasi
- Pemeriksaan vaskuler pada daerah distal trauma berupa palpasi
arteri radialis, a. dorsalis pedis, a. tibialis posterior (sesuai dengan
-

angota gerak yang terkena)


Refilling (pengisian) arteri pada kuku, warna kulit pada bagian

distal daerah trauma, temperatur kulit


Pengukuran tungkai terutama pada

tungkai

bawah

untuk

mengetahui adanya perbedaan panjang tungkai


3.

Pergerakan (move)
Penderita diajak untuk menggerakan secara aktif dan pasif sendi
proksimal dan distal dari daerah yang mengalami trauma

4.

Pemeriksaan neurologis

Berupa pemeriksaan saraf secara sensoris dan motoris serta gradasi


kelainan

neurologis,

yaitu

neuropraksia,

aksonotmesis

atau

neurotmesis
Pemeriksaan radiologis
Pemeriksaan radiologis dilakukan dengan beberapa prinsip dua:
-

Dua posisi proyeksi, yaitu antero-posterior dan lateral. Jika


keadaan pasien tidak mengizinkan, dibuat 2 proyeksi yang tegak
lurus satu sama lain. Ada kalanya perlu proyeksi khusus,
misalnya proyeksi aksial, bila ada fraktur pada femur proksimal

atau humerus proksimal.


Dua sendi pada anggota gerak dan tungkai harus difoto, di atas

dan di bawah sendi yang mengalami fraktur


Dua anggota gerak
Dua trauma, pada trauma hebat sering menyebabkan fraktur pada

dua daerah tulang


Dua kali dilakukan foto

Pemeriksaan radiologis selanjutnya adalah untuk kontrol:


a.

Segera

setelah

reposisi untuk menilai kedudukan fragmen. Bila dilakukan


reposisi terbuka perlu diperhatikan kedudukan pen intrameduler
(terkadang pen menembus tulang), plate dan screw (terkadang
screw lepas)
b.

Pemeriksaan periodik
untuk menilai penyembuhan fraktur
- Pembentukan kalus
- Konsolidasi
- Remodeling
- Adanya komplikasi: osteomielitis, nekrosis avaskuler,
nonunion, delayed union, malunion, atrofi Sudeck

Pemeriksaan radiologis lainnya:


1.
2.
3.

Tomografi, misalnya pada fraktur vertebra atau


kondilus tibia
CT-scan
MRI

4.

Radioisotop scanning

3.2.6 Prinsip dan Metode Pengobatan Fraktur


Secara umum, terdapat 4 prinsip umum pengobatan fraktur, yaitu:1
a. Recognition (mengenali)
Prinsip pertama adalah mengetahui dan menilai keadaan fraktur
dengan anamnesis, pemeriksan klinis dan radiologis. Pada awal
pengobatan perlu diperhatikan :
-

Kerusakan pada tulang dan jaringan lunak


Mekanisme trauma (tumpul atau tajam, langsung atau tidak

langsung)
- Lokalisasi fraktur
- Bentuk fraktur
- Menentukan teknik yang sesuai untuk pengobatan
- Komplikasi yang mungkin terjadi selama dan sesudah pengobatan
b. Reduction (mengembalikan)
Reduksi berarti mengembalikan jaringan atau fragmen ke posisi
semula (reposisi). Restorasi fragmen fraktur dilakukan untuk
mendapatkan posisi yang dapat diterima.
- Alignment yang sempurna
- Aposisi yang sempurna
c. Retention/Retaining
Tindakan mempertahankan hasil reposisi dengan fiksasi (imobilisasi
fraktur). Hal ini akan menghilangkan spasme otot pada ekstremitas
yang sakit sehingga terasa lebih nyaman dan sembuh lebih cepat.
d. Rehabilitation
Mengembalikan aktivitas fungsional dari anggota yang sakit agar dapat
berfungsi semaksimal mungkin.
Metode pengobatan fraktur tertutup antara lain:
1. Konservatif
a. Proteksi untuk mencegah trauma lebih lanjut, misalnya dengan
cara memberikan sling (mitela) pada anggota gerak atas atau
tongkat pada anggota gerak bawah.

b. Imobilisasi dengan bidai eksterna (tanpa reduksi), biasanya


menggunakan plaster of Paris (gips) atau dengan bidai dari
plastik dan metal, diindikasikan untuk fraktur yang perlu
dipertahankan posisinya dalam proses penyembuhan.
c. Reduksi tertutup dengan manipulasi dan imobilisasi eksterna,
menggunakan gips, diindikasikan sebagai bidai pada fraktur
untuk pertolongan pertama, untuk imobilisasi sebagai pengobatan
definitif pada fraktur, imobilisasi untuk mencegah fraktur
patologis, sebagai alat bantu tambahan pada fiksasi interna yang
kurang kuat.
d. Reduksi tertutup dengan traksi berlanjut diikuti dengan
imobilisasi, dengan cara traksi kulit dan tulang.
e. Reduksi tertutup dengan traksi kontinu dan counter traksi dengan
menggunakan alat-alat mekanik, seperti bidai Thomas, bidai
Brown Bohler, bidai Thomas dengan Pearson knee flexion
attachment. Tindakan ini untuk reduksi bertahap dan imobilisasi.
Indikasi:
-

Bila tidak memungkinkan untuk dilakukan reduksi tertutup


dengan manipulasi dan imobilisasi serta mencegah tindakan

operatif.
Bila terdapat otot yang kuat mengelilingi fraktur pada tulang
tungkai bawah yang menarik fragmen dan menyebabkan
angulasi, over-riding, dan rotasi yang dapat menimbulkan

malunion, nonunion, delayed union.


Fraktur yang tidak stabil, oblik, spiral, kominutif pada tulang

panjang.
Fraktur dengan pembengkakan yang sangat hebat disertai

dengan pergeseran yang hebat serta tidak stabil.


Fraktur Colles atau fraktur pada orang tua dimana reduksi
tertutup dan imobilisasi eksterna tidak memungkinkan.

Terdapat 4 metode traksi kontinu yang digunakan, yaitu:


1. Traksi kulit

Traksi dengan menggunakan leukoplas yang melekat pada


kulit disertai dengan pemakaian bidai Thomas atau bidai
Brown Bohler.
2. Traksi menetap
Traksi menggunakan leukoplas yang melekat pada bidai
Thomas atau bidai Brown Bohler yang difiksasi pada salah
satu bagian dari bidai Thomas, dilakukan pada fraktur femur
yang tidak bergeser.
3. Traksi tulang
Traksi menggunakan kawat Kirschner (K-wire) dan pin
Steinmann yang dimasukkan ke dalam tulang dan dilakukan
traksi dengan menggunakan berat beban dengan bantuan
bidai Thomas dan bidai Brown Bohler. Tempat untuk
memasukkan pin, yaitu pada bagian proksimal tibia di bawah
tuberositas tibia, bagian distal tibia, trokanter mayor, bagian
distal femur pada kondilus femur, kalkaneus (jarang
dilakukan), prosesus olekranon, bagian distal metakarpal dan
tengkorak.

4. Traksi berimbang dan traksi sliding


Traksi yang digunakan pada fraktur femur, menggunakan
traksi skeletal dengan beberapa katrol dan bantalan khusus,
biasanya digunakan bidai Thomas dan Pearson attachment.
Komplikasi dari traksi kontinu, yaitu:
-

Penyakit trombo-emboli
Infeksi kulit superfisial dan reaksi alergi
Leukoplas yang mengalami robekan sehingga fraktur

mengalami pergeseran
Infeksi tulang akibat pemasangan pin
Terjadi distraksi di antara kedua fragmen fraktur

Dekubitus pada daerah tekanan bidai Thomas, misalnya pada


tuberositas isiadikus

Solomon, Louis, David Warwick, Selvadurai Nayagam. 2010. Apleys System of Orthopaedics and
Fractures Ninth Edition. India: Replica Press.

2. Reduksi tertutup dengan fiksasi eksterna atau fiksasi perkutaneus


dengan K-wire

K-wire perkutaneus dapat dimasukkan untuk mempertahankan reduksi


setelah dilakukan reduksi tertutup pada fraktur yang tidak stabil. Dapat
dilakukan pada fraktur leher femur dan pertrokanter dengan
memasukkan batang metal, serta pada fraktur batang femur dengan
teknik tertutup dan hanya membuat lubang kecil pada daerah
proksimal femur. Teknik ini memerlukan bantuan alat rontgen image
intensifier (C-arm).
3. Reduksi terbuka dan fiksasi interna atau fiksasi eksterna tulang
Tindakan operasi harus diputuskan dengan cermat dan cepat (dalam
satu minggu) dalam ruangan yang aseptik. Alat-alat yang digunakan
dalam operasi yaitu kawat bedah, kawat Kirschner, screw, screw dan
plate, pin Kuntscher intrameduler, pin Rush, pin Steinmann, pin
Trephine (pin Smith Peterson), plate dan screw Smith Peterson, pin
plate teleskopik, pin Jewett dan protesis.
Selain alat-alat metal, tulang yang mati ataupun hidup dapat pula
digunakan berupa bone graft baik autograft/allograft, untuk mengisi
defek tulang atau pada fraktur yang nonunion. Operasi dilakukan
dengan cara membuka daerah fraktur dan fragmen direduksi secara
akurat dengan penglihatan langsung. Saat ini, teknik operasi yang
dikembangkan oleh grup ASIF (metode AO) yang dilakukan di Swiss
dengan menggunakan peralatan yang secara biomekanik telah diteliti.
Prinsip operasi teknik AO berupa reduksi akurat, reduksi rigid,
mobilisasi dini yang akan memberikan hasil fungsional yang
maksimal.
a. Reduksi terbuka dengan fiksasi interna
Indikasi:
-

Fraktur intraartikuler
Reduksi tertutup yang gagal
Terdapat interposisi jaringan di antara kedua fragmen
Jika diperlukan fiksasi rigid

Fraktur dislokasi yang tidak dapat direduksi secara baik dengan

reduksi tertutup
Fraktur terbuka
Terdapat kontraindikasi pada imobilisasi eksterna sehingga

diperlukan mobilisasi yang cepat


Eksisi fragmen yang kecil
Eksisi fragmen tulang yang kemungkinan mengalami nekrosis

avaskuler
Fraktur avulsi
Fraktur epifisis tertentu pada grade III dan IV pada anak
Fraktur multiple
Untuk mempermudah perawatan penderita

Solomon, Louis, David Warwick, Selvadurai Nayagam. 2010. Apleys System of Orthopaedics and Fractures
Ninth Edition. India: Replica Press.

b. Reduksi terbuka dengan fiksasi eksterna


Indikasi:
-

Fraktur terbuka grade II dan III


Fraktur terbuka disertai hilangnya jaringan atau tulang yang hebat
Fraktur dengan infeksi atau infeksi pseudoartrosis
Fraktur yang miskin jaringan ikat
Fraktur tungkai bawah penderita DM
Komplikasi:

Infeksi (osteomielitis)
Kerusakan pembuluh darah dan saraf
Kekakuan sendi bagian proksimal dan distal

Kerusakan periosteum yang hebat sehingga terjadi delayed union

atau nonunion
Emboli lemak

4. Eksisi fragmen tulang dengan penggantian dengan protesis


Pada fraktur leher femur atau sendi siku orang tua, biasanya terjadi
nekrosis avaskuler dari fragmen atau nonunion, maka dipasang
protesis,

yaitu

alat

dengan

komposisi

metal

tertentu

untuk

menggantikan bagian yang nekrosis. Metilmetakrilat sering digunakan


sebagai bahan tambahan.
3.2.7 Komplikasi Fraktur
1.

Komplikasi segera
a. Lokal
- Kulit dan otot: berbagai vulnus, kontusio, avulsi
- Vaskular: terputus, kontusio, perdarahan
- Organ dalam: jantung, paru-paru, hepar, limpa, buli-buli
- Neurologis, otak, medulla spinalis, kerusakan saraf perifer
b. Umum
- Trauma multipel, syok
2.
Komplikasi dini
a. Lokal
- Nekrosis kulit-otot, sindrom kompartemen, trombosis, infeksi
sendi, osteomyelitis
b. Umum
- ARDS, emboli paru, tetanus
3.
a.
b.

Komplikasi lama
Lokal
Tulang: malunion, nonunion, delayed union, osteomielitis,
gangguan pertumbuhan, patah tulang rekuren
Sendi: ankilosis, penyakit degeneratif sendi pascatrauma
Miositis osifikan
Distrofi refleks
Kerusakan saraf
Ulkus dekubitus akibat tirah baring lama
Umum

Batu ginjal (akibat imobilisasi lama di tempat tidur dan

hiperkalsemia)
Neurosis pasca trauma

BAB IV
ANALISIS KASUS
Fraktur adalah terputusnya kontinuitas dari tulang bisa disebabkan oleh
suatu kejadian trauma, stress pada tulang yang terus menerus, atau melemahnya
tulang secara abnormal seperti pada fraktur patologis. Fraktur femur paling sering
dialami pada kaum dewasa muda seelah suatu trauma berkekuatan tinggi seperti
kecelakaan lalu lintas atau trauma berkekuatan rendah seperti terjatuh pada wanita

usia tua. Semua fraktur yang tidak konsisten dengan derajat kekuatan trauma
harus diselidiki lebih lanjut untuk kemungkinan adanya fraktur patologis.
Berdasarkan anamnesis, kurang lebih 2 tahun yang lalu pasien terjatuh dari
tangga dengan tinggi sekitar 1 meter. Pasien jatuh dengan posisi kaki menapak ke
tanah lalu terduduk. Saat itu pasien merasakan nyeri, bengkak, namun masih dapat
berdiri dan berjalan. Hal ini merupakan salah satu fase dari proses penyembuhan
fraktur, yaitu fase hematoma.
Beberapa bulan kemudian, pasien mulai merasakan nyeri saat beraktivitas,
walaupun bengkak berkurang danpergi ke dukun patah untuk diurut. Setelah di
urut, pasien tidak bisa berjalan. Terjadi bengkak di paha, batas tidak tegas (-),
nyeri (+), benjolan di tempat lain (-). Pasien datang ke RSUD Kayuagung.
Dilakukan pemeriksaan X-Ray didapatkan patah pada tulang paha. Nyeri (+)
terlokalisir di paha, bengkak (+) minimal. Hal ini kemungkinan disebabkan karena
terjadinya proses penyembuhan fraktur yang tidak sempurna yaitu non-union,
yang bisa disebabkan oleh kurangnya aliran darah dan suplai nutrisi ke lokasi
frakutr dan fiksasi yang tidak benar.
Di RSUD Kayuagung, pasien tidak diberikan obat. Kemudian pasien
dirujuk ke RSMH Palembang, namun pasien tidak langsung datang ke RSMH
Palembang. Hasil pemeriksaan fisik pada status lokalis didapatkan dari Look yaitu
adanya luka (-), scar (-), warna kulit sama dengan sekitar, benjolan (-), edema (+)
minimal, deformitas (+), shortening (+). Feel yaitu nyeri tekan (+) minimal,
sensibilitas (+) baik, arteri poplitea (+) teraba. Pengukuran panjang tulang yaitu
True leg length dekstra 76 cm True, leg length sinistra 78 cm, Apparent leg length
dekstra 82 cm, Apparent leg length sinistra 85 cm. Pada pemeriksaan Movemenet
didapatkan gerakan aktif dan pasif terbatas. Hasil radiologis berupa berupa
pemeriksaan X-Ray yang dilakukan di RSUD Kayuagung sekitar 8 bulan yang
lalu didapatkan fraktur pada tulang paha.
Dari anamnesis, pemeriksaan fisik, dan radiologi dapat ditegakkan
diagnosis berupa fraktur femur dextra. Untuk penatalaksaan lebih lanjut, dapat
dilakukan terapi non-farmakologi, pembedahan dan rehabilitasi medik sesuai
dengan keperluan dan aktivitas pasien. Dari segi non-farmakologi dapat

menginformasikan kepada pasien bahwa tulang pasien ada yang patah akibat
trauma yang minimal dan menjelaskan kepada pasien bahwa tatalaksana dengan
skin traksi yaitu dengan menarik bagian tulang yang patah melalui tarikan yang
dilakukan dari luar atau dengan tarikan pada kulit. Pasien kemudian disarankan
untuk dirujuk ke dokter spesialis bedah tulang. Secara farmakologis dapat
diberikan obat analgesik apabila nyeri berupa asam mefenamat 3x500mg.

DAFTAR PUSTAKA
1. Rasjad, Chairuddin. 2003. Pengantar Ilmu Bedah Ortopedi: Bab 14 Trauma.
Makassar: Bintang Lamumpatue.
2. Sjamsuhidajat R, Warko Karnadihardja, Theddeus O.H. Prasetyono, Reno
Rudiman. 2011. Buku Ajar Ilmu Bedah Edisi 3: Bab 42 Sistem Muskuloskeletal.
Jakarta: EGC.
3. McMillan, S. 2013. Anterior Cruciate Ligament Reconstruction. Burlington:
Lourdes Medical Associates Professional Orthopaedics

4. Snell, R.S. 2006. Anatomi Klinik untuk Mahasiswa Kedokteran Edisi 6. Penerbit
Buku Kedokteran EGC: Jakarta, 176-179.
5. Moore, K.L, Dalley A.F, Agur, Anne M.R. 2011. Clinically Oriented Anatomy
Sixth Edition. Lippincott Wiliams and Wilkins: Philadephia.
6. Apley GA, Solomon L. Buku ajar ortopedi dan fraktur sistem Apley. Edisi ke-7.
Jakarta:Widya Medika; 1995.
7. Kumar V, Abbas AK, Fausto N, Aster JC. Bones, joints, and soft-tissue tumors. In:
Robbins and Cotran pathologic basis of disease 8th edition. Philadelphia: Saunders
Elsevier; 2010. p 1219-1220.