Anda di halaman 1dari 81

1

BAB 1
PENDAHULUAN

I.1 Latar Belakang


Pangan merupakan salah satu kebutuhan primer dari manusia selain sandang
dan papan. Pangan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, oleh
karena itu dibutuhkan suatu jaminan bahwa pangan yang dikonsumsi sehari-hari
oleh manusia memiliki tingkat keamanan yang tinggi, sehingga manusia dapat
bebas dari serangan penyakit atau bahaya yang berasal dari makanan. Pemerintah
menyadari pentingnya keamanan pangan yang dikonsumsi oleh manusia sehingga
menetapkan Undang-Undang Nomor 18 tahun 2012 yang mengatur pangan di
Indonesia. Disamping itu terdapat Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2004
tentang keamanan, mutu dan gizi pangan, memberikan wewenang kepada Badan
POM untuk melakukan pengawasan keamanan, mutu dan gizi pangan yang
beredar (BPOM, 2008).
Makanan merupakan suatu hal yang sangat penting di dalam kehidupan
manusia, makanan yang kita makan bukan saja harus memenuhi gizi dan
mempunyai bentuk yang menarik, akan tetapi juga harus aman dalam arti tidak
mengandung mikroorganisme dan bahan-bahan kimia yang dapat menyebabkan
penyakit. Oleh karena itu, makanan dan minuman yang dikonsumsi haruslah
terjamin baik dari segikualitas dan kuantitasnya. Mencegah kontaminasi makanan
dengan zat-zat yang dapat mengakibat kan gangguan kesehatan diperlukan
penerapan sanitasi makanan. Sanitasi makanan adalah usaha untuk mengamankan
dan menyelamatkan makanan agar tetap bersih, sehat dan aman (Adams, 2003).
Sanitasi makanan yang buruk dapat disebabkan 3 faktor yakni faktor fisik,
faktor kimia, dan faktor mikrobiologi. Faktor fisik terkait dengan kondisi ruangan
yang tidak mendukung pengamanan makanan seperti sirkulasi udara yang kurang
baik, temperatur ruangan yang panas dan lembab, dan sebagainya. Menghindari
kerusakan makanan yang disebabkan oleh faktor fisik, maka perlu diperhatikan
susunan dan konstruksi dapur serta tempat penyimpanan makanan. Sanitasi

makanan yang buruk disebabkan oleh faktor kimia karena adanya zat-zat kimia
yang digunakan untuk mempertahankan keawetan makanan, warna yang menarik
atau penambahan tambahan makanan yang lainnya. Sanitasi makanan yang buruk
disebabkan oleh faktor mikrobiologi karena adanya kontaminasi oleh bakteri,
virus, jamur dan parasit. Akibat buruknya sanitasi makanan dapat timbul
gangguan kesehatan pada orang yang mengkonsumsi makanan tersebut.
Gangguan kesehatan yang dapat terjadi akibat makanan dapat dibagi 2 yaitu
keracunan makanan dan penyakit bawaan makanan (Mulia, 2005).
Kasus keracunan makanan di berbagai daerah di Indonesia sering
diberitakan di media massa, hal ini sesuai dengan data Direktorat Surveilan dan
Penyuluhan Keamanan Pangan Badan Pengawas Obat dan Makanan Republik
Indonesia (BPOM RI) menunjukkan pada tahun 2008 jumlah korban keracunan
pangan Indonesia mencapai 25.268 orang dengan jumlah kasus sebanyak 8.943
kasus. Sementara di tahun 2009, jumlah korban berkurang menjadi 7.815 orang
dengan jumlah kasus sebanyak 3.239 kasus. Data 2009 menyebutkan, Indonesia
masih menjadi negara 10 tertinggi pasien diare yang akhirnya meninggal. Data
BPOM RI pada 2011 menunjukkan terjadi 128 kejadian luar biasa (KLB)
keracunan pangan di Indonesia. Dari jumlah tersebut, 38 KLB atau 29,69 %
diakibatkan cemaran mikroba, sedangkan 19 KLB atau 14,84 % akibat cemaran
bahan kimia. Sumber makanan yang disebut Badan Pengawas Obat dan Makanan
(BPOM) sebagai Pangan Tidak Memenuhi Syarat (TMS) ini kebanyakan tercemar
mikroba, 66 % pada 2012 dan mengalami peningkatan menjadi 76% pada 2013.
Kantor Kesehatan Pelabuhan merupakan Unit Pelaksana Teknis (UPT)
Kementerian Kesehatan yang mempunyai tugas mencegah masuk dan keluarnya
penyakit menular potensial wabah, kekarantinaan, pelayanan kesehatan terbatas di
wilayah kerja pelabuhan serta pengendalian dampak kesehatan lingkungan. Dalam
melaksanakan tugas pokok di atas terdapat 16 fungsi untuk mendukung tugas
tersebut salah satunya kegiatan pengawasan Tempat Pengolahan Makanan.
Untuk melindungi masyarakat pelabuhan dari faktor risiko lingkungan
yang akan berdampak pada kesehatan, salah satunya adalah terselenggaranya
pengawasan terhadap Tempat Pengelolaan Makanan (TPM) yang memenuhi

persyaratan kesehatan. Kegiatan ini dilakukan melalui pembinaan terhadap


pengelola dan penjamah makanan pada tempat pengelolaan dan penyediaan
makanan di wilayah kerja Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Kegiatan
pengawasan pengamanan makanan/minuman ini meliputi pengawasan terhadap
kebersihan peralatan, pengolahan dan penyajian makanan/minuman, serta
pengambilan sampel makanan.
I.2 Tujuan
Tujuan Umum
Mengidentifikasi

sampel

makanan

secara

mikrobiologis,

kimawi

serta

pemeriksaan fisik Tempat Pengolahan Makanan (TPM) Pelabuhan Tanjung Emas


Semarang tahun 2016
Tujuan Khusus
1. Mengidentifikasi sampel makanan basah secara mikrobiologis dari Tempat
Pengolahan Makanan (TPM) Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
2. Mengidentifikasi sampel makanan kering secara kimiawi dari Tempat
Pengolahan Makanan (TPM) Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
3. Mengidentifikasi Kondisi Fisik Tempat Pengolahan Makanan (TPM)
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang

I.3 Manfaat
I.3.1 Bagi Mahasiswa
a. Memperoleh pengalaman mengenai berbagai macam kegiatan yang
dilakukan sebagai upaya cegah tangkal penyakit dan penanggulangan
KLB
b. Memperoleh gambaran umum, ruang lingkup pekerjaan dan pelaksaan
teknis di seksi pengendalian risiko lingkungan (PRL), pengendalian
karantina dan surveilans epidemiologi (PKSE), dan upaya kesehatan
dan lintas wilayah (UKLW).
c. Belajar kritis dalam menganalisis faktor risiko penyakit yang dapat
menular melalui makanan (food borne disease).
I.3.2 Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat

a. Melalui kegiatan praktik magang mahasiswa, dapat menjadi salah satu


penghubung antara dunia pendidikan formal di perguruan tinggi
dengan dunia kerja di instansi KKP (Kantor Kesehatan Pelabuhan).
b. Menjadi sarana untuk memperoleh masukan dan perbaikan terkait
perkembangan keilmuan dan teknologi yang diterapkan dalam praktik
magang
c. Menjalin kerjasama yang baik antara lembaga pendidikan dengan
instansi KKP dalam upaya memberikan bekal mahasiswa mengenai
dunia profesionalitas kerja.
I.3.3 Bagi Instansi (Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang)
a. Mengetahui sejauh mana pelaksanaan surveilans epidemiologi dengan
mengikutsertakan mahasiswa praktik magang
b. Sharing dan saling belajar terkait beberapa perkembangan keilmuan
dan informasi terkini baik bagi mahasiwa sebagai akademisi maupun
bagi para pegawai di instansi KKP
c. Memperoleh gambaran dan pandangan

bagaimana

etos

dan

kemampuan profesional para akademisi kesehatan masyarakat di dunia


kerja.

BAB 2
GAMBARAN UMUM

2.1 PROFIL INSTANSI


Gambaran Umum
Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Semarang merupakan
Unit Pelaksana Teknis (UPT) dari Kementerian Kesehatan RI yang
bertanggung jawab pada Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan
Penyehatan Lingkungan (Dirjen PP dan PL) sesuai dengan Permenkes RI
No.356/MENKES/PER/2008 tanggal 14 April 2008 tentang Organisasi dan
Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan (Permenkes, 2008).
Kantor Kesehatan Pelabuhan
mempunyai tugas melaksanakan
pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial wabah,
surveilans epidemiologi, kekarantinaan, pengendalian dampak kesehatan
lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan OMKABA serta pengamanan
terhadap penyakit baru dan penyakit yang muncul kembali, bioterorisme,
unsur biologi, kimia dan pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat negara (Permenkes, 2008).
Menyadari bahwa lalu lintas internasional atau nasional mampu
membawa perubahan dalam penyebaran penyakit serta timbulnya New
Emerging Diseases dan Re-Emerging Diseases, maka Kantor Kesehatan
Pelabuhan sangat berperan dalam meningkatkan berbagai upaya dan langkahlangkah yang paling efektif untuk menjaga masuk/keluarnya penyakit
karantina maupun penyakit menular potensial wabah (Kepmenkes, 2007).
Adapun sasaran pengawasan KKP adalah faktor risiko penularan
penyakit karantina dan Public Health Emergency International Concern
(PHEIC) atau penyakit potensial wabah yang meliputi orang, barang dan alat
angkut, vektor dan lingkungan pelabuhan/bandara, dan perilaku provider dan
konsumen (Dirjen P2PL, 2012).

2.1.1

Letak Geografis
Kantor Kesehatan Pelabuhan Induk Kelas II Semarang terletak di

Jalan W.R. Supratman No.6, Semarang, Provinsi Jawa Tengah. Adapun


wilayah kerja kantor induk KKP Kelas II terdapat di Pelabuhan Tanjung

Emas, tepatnya di Jalan M. Pardi No.3, Pelabuhan Tanjung Emas,


Semarang.
Wilayah Kerja Pelabuhan Tanjung Emas Semarang terletak pada
posisi 6o6 LS dan 110o BT di ujung pantai utara Jawa Tengah termasuk
dalam wilayah Kecamatan Semarang Utara Kota Semarang. Luas
wilayahnya yaitu 178.638 ha yang terdiri dari 638 ha sebagai daerah
daratan dan 178.000 ha sebagai daerah perairan laut (KKP Semarang,
2012).
Adapun wilayah Pelabuhan Tanjung Emas Semarang dibagi
dalam dua daerah pengawasan, yaitu :
1. Perimeter Area
Merupakan daerah pelabuhan tempat kapal bersandar, tempat
melaksanakan bongkar muat barang, gudang-gudang, dan kantorkantor pemerintah maupun swasta yang berada disekitar pelabuhan.
Daerah perimeter Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mempunyai
luas 636,79 ha; dimana tidak boleh dijadikan pemukiman warga.
2. Buffer Area
3. Buffer Area
Merupakan daerah pelabuhan di luar perimeter dengan
radius 400 m. Daerah ini meliputi wilayah pemukiman penduduk,
perumahan karyawan, sekolah, pasar, dan sarana olahraga. Daerah
buffer Pelabuhan Tanjung Emas Semarang mempunyai luas wilayah
136,36 ha (KKP Semarang, 2012).

Gambar 2.1 Batas Area Buffer dan Perimeter pada Pelabuhan Udara

Gambar 2.2 Batas Area Buffer dan Perimeter pada Pelabuhan Laut
Sesuai Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
2348/MENKES/PER/XI/20011 tentang Organisasi dan Tata Kerja
Kantor Kesehatan Pelabuhan, maka Kantor Kesehatan Pelabuhan Kelas
II Semarang mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan kegiatan di 10
wilayah kerja, yaitu 8 wilayah kerja pelabuhan laut dan 2 wilayah kerja
pelabuhan udara (KKP Semarang, 2012).

Berikut merupakan wilayah kerja KKP Kelas II Semarang


beserta luas serta jarak daerah perimeter dan buffer dari kantor induk
KKP.
Lokasi
Pelabuhan Tanjung Emas
Bandara Ahmad Yani Semarang
Bandara Adi Sumarmo Surakarta

Luas (Ha)
Perimeter
Buffer
11,24
136,36
12
24
8,50
12

Jarak
(Km)
10,9*
7
90

Pelabuhan Laut Pekalongan


Pelabuhan Laut Tegal

2,50

125

5,03

12

150

Pelabuhan Laut Jepara

4,30

70

Pelabuhan Laut Juwana

2,50

3,50

100

11,24

136,36

120

12

24

100

Pelabuhan Laut Rembang


Pelabuhan Laut Batang
Pelabuhan Laut Karimun Jawa

12,50
20
110
Tabel 2.1 Luas dan Jarak Wilayah Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan
Kelas II Semarang

Gambar 2.3 Peta Wilayah Kerja KKP Kelas II Semarang


2.1.2

Dasar Hukum
Berdasarkan

Peraturan

Menteri

Kesehatan

No.

356/MENKES/PER/IV/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor


Kesehatan Pelabuhan, dalam melaksanakan program kerjanya dilandasi
oleh peraturan perundang-undangan dan peraturan lain sebagai berikut :
1. Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1962 tentang Karantina Laut.

2. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1962 tentang Karantina Udara.


3. Undang-Undang Nomor 4 Tahun 1984 tentang Wabah Penyakit
Menular.
4. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1962 tentang Higiene Untuk
Usaha-Usaha Bagi Umum, Pasal 3(D) Alat Pengangkutan Umum.
5. Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1966 tentang Higiene, Antara Lain
Pasal 4 Tentang Tindakan Pencegahan Penyakit Menular.
6. International Health Regulation (IHR) 2005, IHR Bertujuan
Mencegah,

Melindungi

terhadap,

Mengendalikan

Penyebaran

Penyakit secara Internatsional Sesuai dengan dan terbatas pada


Faktor Risiko yang dapat Mengganggu Kesehatan dengan Sesedikit
Mungkin

Menimbulkan

Hambatan

pada

Lalu-Lintas

dan

Perdagangan Internasional.
7. Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000 tentang Pelimpahan
Kewenangan Pusat Kepada Daerah (Otonomi Daerah).
8. Peraturan Pemerintah Nomor 40 Tahun 1991 tentang Penangkalan
Wabah Penyakit Menular (Lembaran Negara Tahun 1991 Nomor 49,
Tambahan Lembaran Negara Nomor 3447).
9. Peraturan Pemerintah Nomor 69 Tahun 2001 tentang Kepelabuhan
(Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 127, Tambahan Lembaran
Negara Nomor 4145).
10. Peraturan Pemerintah

Nomor

70

Tahun

2001

tentang

Kebandarudaraan (Lembaran Negara Tahun 2001 Nomor 128,


Tambahan Lembaran Negara Nomor 4146).
11. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian
Urusan Pemerintahan Antara Pemerintah, Pemerintahan Daerah
Provinsi, dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota.
12. Peraturan Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara

Nomor

Per/18/M.PAN/11/2008, tentang Pedoman Organisasi Unit Pelaksana


Teknis Kementerian dan Lembaga Pemerintah Nonkementerian.
13. Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1144/MENKES/PER/VIII/2010
tentang Organisasi dan Tata Kerja Kementerian Kesehatan.
14. Keputusan Menteri Kesehatan 1762 Dan 1735 Tahun 2000 tentang
Kantor Kesehatan Pelabuhan Sebagai Unit Pusat.

10

15. Keputusan Menteri Kesehatan Nomor 264/MENKES/SK/III/2004


tentang Kriteria Klasifikasi Kantor Kesehatan Pelabuhan.
16. Peraturan

Menteri

Kesehatan

Rebublik

Indonesia

Nomor

256/MENKES/PER/IV/2008 Tentang Organisasi dan Tata Kerja


Nomor Kesehatan
2.1.3

Visi, Misi, Kebijakan, Strategi, Tujuan dan Sasaran Kantor

Kesehatan Pelabuhan
Sebagai Unit Pelaksana Teknis Kementerian Kesehatan RI maka
visi dan misi Kantor Kesehatan Pelabuhan hendaknya mengacu pada visi
dan misi kementerian kesehatan, yaitu masyarakat sehat mandiri dan
berkeadilan. Sedangkan visi dan misi Kantor Kesehatan Pelabuhan
Semarang adalah sebagai berikut :
A. Visi KKP Semarang
Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang KKP Tangguh dan
Prima.
B. Misi KKP Semarang
a. Memelihara & menghasilkan pelayanan kesehatan pelabuhan
yang bermutu, merata dan memadai.
b. Memelihara dan meningkatkan kesehatan individu, masyarakat
pelabuhan, dan lingkungan SEHAT pelabuhan/bandara, kapal
laut/pesawat terbang .
c. Mendorong kemandirian masyarakat Pelabuhan dan Bandara
untuk hidup sehat .
d. Meningkatkan dan mengembangkan SDM yang profesionalisme.
e. Menjamin ketersediaan dan pemerataaan sumber daya.
C. Kebijakan
a. Capacity Building
Membangun kapasitas yang dimiliki secara optimal.
b. Strengthening
Menguatkan potensi secara maksimal.
c. Performance
Meningkatkan eksistensi melalui peningkatan kinerja.

11

D. Strategi
a. Pendekatan kemampuan dan pengembangan:
1 Sumber DayaManagement/Organisasi
2 Pendelegasian wewenang dan tanggung jawab
b. Kebersamaan (collectivity) dan keterbukaan.
c. Peningkatan koordinasi dan kerjasama (jejaring).
d. KIE dalam berbagai aspek.
e. Mawas diri dan evaluasi.
E. Tujuan
Terselenggaranya pencegahan masuk dan keluarnya penyakit
karantina dan penyakit menular potensial wabah melalui kapal dan
pesawat,

pengendalian

risiko

lingkungan

di

pelabuhan/kapal/pesawat, serta pelayanan kesehatan terbatas di


pelabuhan laut dan udara.
F. Sasaran
a Pelaksanaan administrasi umum.
b Pelaksanaan upaya kekarantinaan dan surveilans epidemiologi
c

secara optimal di pelabuhan/bandara dan alat angkut.


Pelaksanaan upaya pengendalian risiko lingkungan

di

pelabuhan/bandara dan alat angkut.


d

Pelaksanaan

upaya

kesehatan

pelabuhan

diwilayah

pelabuhan/bandara.
2.1.4
1

Tugas Pokok dan Fungsi


Tugas Pokok Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah melaksanakan
pencegahan masuk dan keluarnya penyakit, penyakit potensial
wabah,

surveilans

epidemiologi,

kekarantinaan,

pengendalian

dampak kesehatan lingkungan, pelayanan kesehatan, pengawasan


OMKABA serta pengamanan terhadap penyakit baru dan penyakit
yang muncul kembali, bioterorisme, unsur biologi, kimia dan
pengamanan radiasi di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas
2

batas darat negara.


Fungsi Kantor Kesehatan Pelabuhan adalah sebagai berikut :
a Pelaksanaan kekarantinaan.

12

b
c

Pelaksanaan pelayanan kesehatan.


Pelaksanaan pengendalian risiko

pelabuhan, dan lintas batas darat negara.


Pelaksanaan pengamatan penyakit, penyakit potensial wabah,

penyakit baru, dan penyakit yang muncul kembali.


Pelaksanaan pengamanan radiasi pengion dan non pengion,

biologi, dan kimia.


Pelaksanaan sentra/simpul jejaring surveilans epidemiologi

lingkungan

di

bandara,

sesuai penyakit yang berkaitan dengan lalu lintas nasional,


g

regional, dan internasional.


Pelaksanaan, fasilitasi dan

advokasi

kesiapsiagaan

dan

penanggulangan Kejadian Luar Biasa (KLB) dan bencana bidang


kesehatan, serta kesehatan matra termasuk penyelenggaraan
h

kesehatan haji.
Pelaksanaan, fasilitasi, dan advokasi kesehatan kerja di

lingkungan pelabuhan/bandara dan lintas batas darat.


Pelaksanaan pemberian sertifikasi kesehatan Obat, Makanan,
Kosmetika dan Alat Kesehatan (OMKA) ekspor dan mengawasi

j
k

persyaratan dokumen kesehatan OMKA impor.


Pelaksanaan pengawasan kesehatan alat angkut dan muatannya.
Pelaksanaan pemberian pelayanan kesehatan terbatas di wilayah

kerja pelabuhan, bandara, dan lintas batas darat.


Pelaksanaan jaringan informasi dan teknologi bidang kesehatan

pelabuhan/bandara dan lintas batas darat.


m Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan bidang kesehatan
n

pelabuhan/bandara dan lintas batas darat.


Pelaksanaan kajian kekarantinaan, pengendalian

lingkungan, dan surveilans kesehatan pelabuhan.


Pelaksanaan
pelatihan
teknis
bidang

risiko

kesehatan

pelabuhan/bandara dan lintas batas darat.


p
2.1.5

Pelaksanaan ketatausahaan dan kerumahtanggaan KKP.


Struktur Organisasi
Sesuai PERMENKES RI Nomor 356/MENKES/PER/IV/2008

tanggal 14 April 2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Kantor

13

Kesehatan Pelabuhan, Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang termasuk


Kelas II dengan Struktur Organisasi sebagai berikut :

Gambar 2.4 Struktur Organisasi KKP Kelas II Tanjung Emas


Semarang
2.2 Gambaran Khusus
2.2.1
Sub Bagian Tata Usaha
Berdasarkan PERMENKES Nomor 2348/ MENKES/ PER/ XI/
2011 tentang perubahan PERMENKES 356/MENKES/PER/IV/2008
tentang Organisiasi dan Tata Kerja Kantor Kesehatan Pelabuhan, Sub
Bagian Tata Usaha mempunyai tugas melakukan penyusunan program,
pengelolaan informasi, evaluasi dan laporan, urusan-urusan tata usaha,
keuangan, kepegawaian, perlengkapan dan rumah tangga.
Sub Bagian Tata Usaha mempunyai tugas seperti :
1 Melakukan Penyusunan Program
Adapun tugasnya meliputi sebagai berikut :
- Rencana Aksi Kegiatan (RAK).
- Rencana Kerja Anggaran Kementerian/Lembaga (RKAKL).
- Laporan Akuntabilitas Kinerja Instansi Pemerintah.
(Permenkes, 2011)

14

Pengelolaan Informasi, Evaluasi, dan Laporan


Untuk keperluan pengelolaan informasi, evaluasi, dan
laporan, KKP Kelas II Semarang telah menggunakan sistem
informasi berbasis komputer. Adapun sistem informasi yang
digunakan meliputi :
a SIMKA (Sistem Informasi Kepegawaian).
b Sistem Informasi Keuangan Terintegrasi.
c SISKOHATKES (Sistem Komputerisasi Haji Terpadu Bidang
d
e

Kesehatan).
SIMKESPEL (Sistem Informasi Kesehatan Pelabuhan).
SIMKKP (Sistem Informasi Manajemen Kantor Kesehatan
Pelabuhan).

(Permenkes, 2011)
3

Urusan-Urusan Tata Usaha


Kegiatan bidang urusan tata usaha yang dilakukan adalah
pengarsipan surat dan administrati penyelenggaraan kegiatan haji
(Permenkes, 2011).

Keuangan
Anggaran yang disusun dan dikelola berdasarkan kebutuhan
yang dirasionalisasi menurut skala prioritas dan rencana kebutuhan,
dengan mengikutsertakan semua komponen di Kantor Kesehatan
Pelabuhan Kelas II Semarang dan mempertimbangkan anggaran
yang tersedia, serta tidak lepas dari peraturan perundangan yang
berlaku (Permenkes, 2011).

Kepegawaian
Urusan kepegawaian meliputi kegiatan administratif yang
berkaitan dengan pengelolaan pegawai. Pengelolaan yang dimaksud
meliputi penyusunan formasi kebutuhan dan distribusi, pengajuan
usulan yang berkaitan dengan jenjang karier, klasifikasi, dan
pengolahan data, serta peningkatan kualitas pegawai (Permenkes,
2011).

15

Perlengkapan dan Rumah Tangga


Kegiatan utama bidang perlengkapan dan rumah tangga
adalah pengelolaan inventaris kantor serta pengadaan barang dan
jasa.
Peran tata usaha, diantaranya sebagai berikut :
a Perencanaan program dan kegiatan berdasarkan masukan dari
b

ketua sie, penanggung jawab wilker, kebijakan yang ditetapkan.


Kelengkapan sarana dan prasarana penunjang sesuai alokasi

anggaran dan skala prioritas.


Meningkatan manajemen program secara terencana, sistematis,

berkelanjutan, efektif dan efisien.


Meningkatkan koordinasi lintas program dan lintas sektoral,

jejaring kerja dan kemitraan.


Meningkatkan manajemen kepegawaian, keuangan, perlengkapan

dan pelaporan.
Peningkatan Sumber daya manusia yang berkualitas.

(Permenkes, 2011)
2.2.2

Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL)


Pengendalian risiko lingkungan bertujuan untuk membuat

wilayah pelabuhan (wilayah perimeter dan wilayah buffer) dan alat


angkut tidak menjadi sumber penularan ataupun habitat yang subur bagi
reservoir dan vektor pembawa penyakit menular (Permenkes, 2011).
1. Ruang Lingkup Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan
a. Pelabuhan
Ruang lingkung kerja KKP di pelabuhan meliputi area
perimeter, yaitu 2 km dengan garis lingkar terjauh dan area
buffer dengan 400 m setelah area perimeter.
b. Bandara
Ruang lingkup bandara meliputi area perimeter, yaitu 2
km lingkar terjauh dan area buffer dengan jarak 400 m setelah
area perimeter.
c. Perairan Pelabuhan dan Bandara
Ruang lingkup perairan pelabuhan dan bandara meliputi
seluruh sistem penyediaan air bersih mulai dari sumber sampai
penerima, seperti toilet, dapur, tangki kapal, dan pesawat.

16

d. Kapal
Ruang lingkup kapal meliputi seluruh bagian kapal yang
berpotensi mempunyai resiko penularan penyakit dan habitat
vektor penyakit (kantin, kamar mandi, penampungan air kapal,
kamar tidur awak kapal, kamar tidur penumpang, dll).
e. Pesawat
Ruang lingkup pesawat meliputi seluruh bagian kabin
dari pesawat tanpa terkecuali, termasuk sanitasi air dan makanan
di pesawat.
(Permenkes, 2011)
2. Kegiatan Operasional
a. Survey Nyamuk
Survey nyamuk adalah kegiatan untuk menentukan
kepadatan nyamuk betina dewasa. Untuk nyamuk Aedes aegypti,
survei dilakukan dengan cara Resting Collection, yaitu cara
menangkap nyamuk dengan menggunakan aspirator ketika
nyamuk sedang beristirahat (Anggraini, 2010).
b. Survey Jentik Nyamuk
Survey jentik nyamuk adalah kegiatan untuk mengetahui
jenis jentik maupun kepadatan jentik. Data hasil kegiatan survey
jentik untuk menentukan tindakan selanjutnya apakah perlu
dilakukan tindakan pengendalian atau tindakan lainnya. Metode
survey jentik dapat dilakukan dengan cara berikut :
1) Single Larva
Dilakukan dengan mengambil satu jentik di setiap tempat
genangan air yang ditemukan jentik untuk diidentifikasi lebih
lanjut.
2) Visual
Dilakukan dengan melihat ada atau tidaknya jentik di setiap
tempat genangan air tanpa mengambil jentiknya. Biasanya
dalam program DBD menggunakan cara visual.
(Depkes RI, 2005)
c. Pemberantasan Jentik (Larvasidasi)
Larvasidasi merupakan pemberantasan jentik nyamuk
secara kimia dengan menggunakan larvasida. Larvasidasi ini

17

merupakan bagian dari kegiatan Pemberantasan Sarang Nyamuk


(PSN) atau Pemantauan Jentik Berkala (PJB) yang dapat
dilaksanakan secara perorangan, keluarga, masyarakat, dan
petugas PJB dengan sasarannya yaitu tempat yang sulit atau tidak
mungkin dikuras.
Cara melakukan larvasidasi, yaitu dengan menaburkan
bubuk larvasida (abate/temephos/altocid) sebanyak 10 gram pada
tempat penampungan air yang terisi air sebanyak 100 liter setiap
2-3 bulan sekali (Okumu, 2007).
d. Fogging
Salah satu usaha penanggulangan terhadap DBD adalah
dengan kegiatan pemberantasan nyamuk melalui penyemprotan
rumah (pengasapan/fogging). Tujuan kegiatan ini adalah untuk
memutuskan rantai penularan sehingga peningkatan jumlah
penderita dapat dibatasi dan penyebarluasan penyakit dapat
dicegah ( Depkes RI, 2000).
e. Survei Lalat
Survei lalat menggunakan alat fly grill. Fly grill
diletakkan pada tempat yang potensial, misal TPS, kontainer
sampah, tempat penjualan makanan, dan lainnya. Setelah
dilakukan survei kepadatan lalat, selanjutnya adalah menganalisis
rekomendasi, jika kepadatan tinggi atau sangat tinggi maka
dilaksanakan tindakan pengendalian. Mengingat lalat berperan
sebagai vektor, baik bakteri patogen, protozoa, dan cacing
(Chandra, 2005).
Sedangkan surveilans lalat di pelabuhan bertujuan untuk
mengetahui keberadaan lalat di kapal, dilakukan dengan melihat
secara visual adanya lalat hidup.pengamatan di kapal ini
dilakukan bersamaan dengan pemeriksaan sanitasi kapal dan
pemeriksaan kapal dalam rangka penerbitan SSCC. Apabila
ditemukan kehidupan lalat, direkomendasikan untuk dilakukan
tindakan desinseksi.
f. Fumigasi

18

Fumigasi merupakan pengendalian hama dengan jalan


memasukkan atau melepaskan fumigan kedalam ruangan
tertutup/kedap udara selama beberapa waktu yang diperlukan
dengan dosis dan konsentrasi tertentu, dapat mematikan hama di
gudang, bangunan, pesawat udara dan kapal laut. Fumigasi kapal
harus dilakukan pada sebuah kapal baik kapal penumpang, kapal
cargo, atau jenis kapal lainnya (Siswanto, H, 2003).
Fumigasi kapal dilakukan apabila :
1) Hasil pemeriksaan ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan
tikus dan atas permintaan pihak kapal (nakhoda/pemilik).
2) Dilakukan apabila dalam pemeriksaan dijumpai adanya
tanda-tanda kehidupan tikus.
3) Kegunaannya adalah untuk melakukan hapus tikus/serangga
diatas kapal sebagai syarat untuk mendapatkan dokumen
kesehatan

Internasional

(Surat

Keterangan

Bebas

Pengawasan Sanitasi Kapal)


4) Bila fumigasi dilakukan, harus ditentukan fumigan yang
dipakai (HCN,CH3Br atau CO2).
(KKP Semarang, 2012).
g. Desinseksi
Menurut Dirjen PP dan PL (2007), disinseksi adalah
hapus serangga (insekta), yaitu pembasmian serangga yang
menjadi vektor penularan penyakit dengan menggunakan bahan
kimia/pestisida/insektisida. Adapun kegiatan ini dilakukan ketika
dijumpai vektor kecoa di dalam kapal.
h. Trapping dan Identifikasi Tikus
Trapping tikus merupakan penggunaan perangkap sebagai
teknik pengendalian tikus. Guna memenuhi ketentuan dalam
IHR, KKP Kelas II Semarang berusaha agar daerah pelabuhan
terbebas dari tikus, terutama permasalahan di bidang kesehatan
yang menjadi perhatian dunia seperti pes dan penyakit lain yang
disebabkan oleh bakteri, virus, spirochaeta, dan cacing (Ditjen
PP & PL, 2008).
Kegiatan ini dilakukan rutin oleh seksi PRL setiap 1 bulan
sekali oleh petugas KKP sendiri. Penempatan trapping tikus

19

dilakukan baik di area buffer dan perimeter. Selanjutnya,


dilakukan identifikasi spesies tikus yang telah ditangkap dan
dilakukan pemeriksaan ada atau tidaknya pinjal.
i. Inspeksi Tempat Pengelolaan Makanan
Inspeksi sanitasi tempat pengelolaan makanan bertujuan
untuk mengurangi resiko terjadinya penyakit dan penularan
penyakit pada orang yang mengonsumsi, terutama masyarakat
pelabuhan, bandara, para penumpang, dan crew alat angkut.
Petugas KKP mengambil makanan dan spesimen TPM yang
terdiri dari sampel makanan, usap tangan, usap dubur dan usap
alat makanan, dan sampel air. Kemudian sampel tersebut dikirim
ke laboratorium (KKP Semarang, 2011).
j. Pemeriksaan dan Pengambilan Sampel Air
Pengawasan penyediaan air bersih adalah pengawasan
terhadap sarana penyediaan air bersih, kualitas air (fisik, kimia,
dan bakteriologis), dan tindak lanjut di pelabuhan maupun di
kapal. Ruang lingkup pengawasan meliputi sumber, reservoir,
pipa distribusi, hydran, gerobak air, perahu air/mobil air dan
didistribusikan ke kapal, mobil air lalu ke pesawat udara, tempattempat umum lainnya. Pemeriksaan kualitas air dilakukan di
lapangan atau laboratorium, dan hasilnya adalah sertifikat
kesehatan air yang diberikan kepada pihak pengelola (KKP
Semarang, 2012).
k. Pengukuran Kebisingan
Pengukuran kebisingan dilakukan dengan menggunakan
sound level meter. Prinsip kerja alat ini adalah dengan mengukur
tingkat tekanan bunyi. Pengukuran ini dilakukan oleh petugas
KKP sebagai upaya mendeteksi gangguan kebisingan yang
terjadi di sekitar area bandara (KKP Semarang, 2012).
2.2.3

Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi

(PKSE)

20

Berdasarkan Permenkes 2348 Tahun 2011 tentang perubahan


Permenkes 356 Tahun 2008 tentang Organisiasi dan Tata Kerja Kantor
Kesehatan Pelabuhan, Seksi Pengendalian Karantina & Surveilans
Epidemiologi (PKSE) Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II
Semarang mempunyai tugas antara lain :
1. Melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi,
penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan kekarantinaan,
2. Surveilans epidemiologi penyakit, penyakit potensial wabah,
penyakit baru, dan penyakit yang muncul kembali,
3. Pengawasan alat angkut dan muatannya, lalu lintas OMKABA,
4. Jejaring kerja, kemitraan, kajian, serta pengembangan teknologi,
5. Pelatihan teknis bidang kekarantinaan dan surveylans epidemiologi
di wilayah kerja pelabuhan, dan lintas batas darat negara.
Program kegiatan Karantina dan Surveilans Epidemiologi Kantor
Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang meliputi pemeriksaan alat
angkut, penerbitan dokumen kesehatan, tindakan karantina, pengawasan
OMKABA, surveilans epidemiologi, dan kegiatan lain yang bukan
merupakan kegiatan rutin tahunan.
1. Penerbitan Certificate of Pratique (COP)
Certificate of Pratique adalah dokumen kesehatan yang
diterbitkan terhadap kapal yang datang dari luar negeri. Diberikan
kepada pihak kapal setelah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan
bebas dari penyakit karantina maupun penyakit menular potensial
wabah (Kemenkes, 2007).
2. Penerbitan SSCC/SSCEC
Penerbitan Sertifikat Bebas Pengawasan Sanitasi Kapal/ Ship
Sanitation Control Exemption Certificate (SSCEC) dan Sertifikat
Pengawasan Sanitasi Kapal/ Ship Sanitation Control Certificate
(SSCC) adalah penyempurnaan dari dokumen sebelumnya. Dalam
penerbitan SSCEC dan SSCC tidak hanya memeriksa keberadaan
tanda-tanda kehidupan tikus saja, tetapi juga memeriksa vektor
penyakit menular lainnya, sanitasi kapal/pesawat, stok obat-obatan,
dan lain-lainnya (Kemenkes, 2007).
Masa berlaku sertifikat tersebut 6 bulan dan dapat diperpanjang
setelah masa berlaku habis. SSCEC dan SSCC wajib dimiliki oleh

21

setiap kapal yang berlabuh atau berlayar baik di Indonesia atau di


dunia sesuai dengan aturan IHR tahun 2005 bahwa setiap kapal harus
bebas dari tanda-tanda kehidupan serangga atau hewan pengerat. Bila
dalam pemeriksaan kapal ditemukan adanya tanda-tanda kehidupan
serangga atau tikus, maka akan dilakukan tindakan sanitasi di kapal
(IHR, 2005).
Tindakan sanitasi kapal dapat berupa :
1) Fumigasi: pemberantasan atau hapus tikus kapal.
2) Disinseksi: pemberantasan serangga.
3) Disinfeksi: pembebasan hama di kapal
Alur penerbitan SSCC/SSCEC adalah sebagai berikut :

Gambar 2.5 Bagan Alur Penerbitan SSCC/SSCEC

22

3. Pemeriksaan Kapal
Kegiatan pemeriksaan kapal/boarding adalah pemeriksaan
yang dilakukan terhadap kapal-kapal yang datang baik dari luar negeri
maupun dalam negeri, kapal yang datang dengan rute pelayaran
internasional maupun interinsulair, dilakukan dengan cara pemeriksaan
langsung terhadap kondisi suatu kapal, ABK/crew dan penumpang,
barang muatan kapal, serta dokumen kesehatan kapal (Kemenkes,
2007).
4. Penerbitan Sailing Permit
Sailing Permitt adalah surat izin berlayar yang diterbitkan bagi
kapal

line

interinsulair

yang

akan

berlayar

tetapi

sertifikat

SSCEC/SSCC-nya habis masa berlakunya dan kapal tersebut tidak


dapat dilakukan pemeriksaan sanitasi kapalnya karena masih ada sisa
muatan > 50 % dari total muatan awal. Sertifikat ini hanya berlaku
untuk sekali perjalanan (Kemenkes, 2007).
5. Penerbitan One Mounth Extention Certificate (OMEC)
One Month Extention Certificate (OMEC) merupakan sertifikat
yang diberikan bagi kapal berbendera asing maupun bendera Indonesia
yang akan berlayar ke luar negeri dan pada saat akan berangkat,
SSCEC-nya habis masa berlaku, sedangkan kapal tersebut tidak
memungkinkan dilakukan pemeriksaan karena sisa muatan masih > 50
%. OMEC hanya berlaku selama 1 (satu) bulan dan atau 1 kali
perjalanan (Kemenkes, 2007).
6. Penerbitan Health Book
Health book adalah sarana tukar informasi. Kegunaan dari
Buku Kesehatan Kapal disamping sebagai kelengkapan dokumen
kesehatan, juga

sebagai jejaring surveilans antar pelabuhan di

Indonesia, media pemberian advise (saran) terhadap kapal dan sumber


PNBP. Health Book hanya berlaku di Indonesia, diterbitkan apabila
sebuah kapal belum memilikinya baik karena baru pertama kali datang
ke Indonesia, kapal baru, ganti nama, atau jika Health book yang lama
telah habis lembarannya (Kemenkes, 2007).
7. Penerbitan Port Health Quarantine Clearance (PHQC)

23

Port Health Quarantine Clearance (PHQC) adalah keterangan


ijin kesehatan berlayar/terbang yang dikeluarkan oleh KKP sebelum
kapal/pesawat tersebut mendapatkan clearance (ijin berlayar) dari
Syahbandar (untuk kapal) dan ijin terbang dari pihak Angkasa Pura
(untuk pesawat). Penerbitan PHQC dilakukan sebelum kapal/pesawat
berangkat meninggalkan suatu pelabuhan, setelah dinyatakan bahwa
baik ABK/crew, penumpang kapal/pesawat, kondisi kapal/pesawat,
maupun barang muatan dalam keadaan sehat dan bebas dari PHEIC,
serta semua dokumen kesehatan lengkap (Kemenkes, 2007).
8. Penerbitan Health Allert Card
Health Allert Card (kartu kewaspadaan) adalah kartu kendali
yang diberikan kepada orang-orang yang datang dari suatu daerah
endemis penyakit menular atau dari suatu daerah dimana terjadi
kasus/outbreak PHEIC dan dikhawatirkan berpeluang untuk terjadi
penularan pada daerah yang dikunjungi (Kemenkes, 2007).
9. Pengawasan Lalu Lintas Penumpang
Pengawasan lalu lintas penumpang adalah pengawasan yang
dilakukan terhadap seluruh penumpang, baik penumpang yang datang
(dari dalam negeri dan luar negeri) maupun penumpang yang
berangkat (dari dalam negeri dan luar negeri). Adapun pengawasan
terhadap penumpang berupa pengawasan terhadap kemungkinan
ada/tidaknya PHEIC yang diderita oleh penumpang (Kemenkes, 2007).
10. Pengawasan Lalu Lintas ABK/Crew
Pengawasan ABK/Crew bertujuan untuk mengawasi
kemungkinan ada/tidaknya PHEIC yang diderita/dibawa oleh ABK
maupun Crew. Pengawasan dilakukan baik yang datang atau berangkat
ke luar negeri maupun ABK/Crew yang datang atau berangkat ke
dalam negeri (Kemenkes, 2007).
11. Pemberian Sertifikat OMKABA
Pemberian sertifikat OMKABA adalah kegiatan pengawasan
lalu-lintas Obat, Makanan, Kosmetika, Alat-alat Kesehatan, dan Bahan
Aditif (OMKABA) dilakukan terhadap OMKABA ekspor maupun
Impor (Kemenkes, 2007).
12. Tindakan Pelanggaran UU Karantina (Tindakan Administratif)

24

Pelanggaran UU Karantina yang dilakukan oleh kapal/pesawat


dapat diberikan sanksi tindakan administratif atau sanksi verbal.
Bentuk pelanggaran UU Karantina yang dijumpai antara lain : kapal
berlayar tidak dilengkapi dokumen kesehatan (Buku Kesehatan,
SSCEC/SSCC), Kapal berlayar tanpa clearance out dari pelabuhan
asal/sebelumnya, dan pelanggaran-pelanggaran lain termasuk kapal
yang memiliki dokumen ganda. Untuk tindakan administratif dapat
berupa pembinaan/teguran (Kemenkes, 2007).
2.2.4

Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW)


Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah mempunyai tugas

sebagai berikut :
1. Melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi,
penyusunan laporan,
2. Koordinasi pelayanan kesehatan terbatas, kesehatan kerja, kesehatan
matra, kesehatan haji, perpindahan penduduk, penanggulangan
bencana,
3. Vaksinasi internasional,
4. Pengembangan jejaring kerja, kemitraan, kajian dan teknologi,
5. Pelatihan teknis bidang upaya kesehatan di wilayahkerja bandara,
pelabuhan, dan lintas batas darat Negara,
6. Pencegahan masuk dan keluarnya penyakit-penyakit karantina dan
PHEIC melalui kapal, orang dan barang.
Sedangkan fungsi dari seksi UKLW adalah melakukan
pengamatan

penyakit

menular,

melakukan

imunisasi/vaccinatie

(meningitis, yellow fever, dan thypoid), melakukan pemeriksaan dan


pemberian International Certificate Vaccination (ICV), melakukan
pengujian kesehatan ABK dan penjamah makanan, melakukan pelayanan
kesehatan

terbatas,

pengasingan

penderita

penyakit

karantina,

melaporkan KLB ke instansi berwenang, serta membantu melaksanakan


penanggulangan KLB/ Kesehatan Matra (Kepmenkes Tahun 2008).
1. Pelayanan kesehatan terbatas, rujukan dan gawat darurat
medik di wilayah kerja bandara,pelabuhan, dan lintas batas
darat Negara

25

Bahwa

semakin

meningkatnya

aktivitas

di

bandara,

pelabuhan, dan lintas batas darat negara berkaitan dengan transmisi


penyakit potensial wabah serta penyakit lainnya yang berpotensi
menimbulkan kedaruratan kesehatan yang meresahkan dunia. Oleh
sebab itu, sangat perlu adanya pelayanan kesehatan terbatas, rujukan,
dan gawat darurat medik di wilayah kerja KKP.
2. Pemeriksaan kesehatan haji, kesehatan kerja, kesehatan matra
di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat
Negara
Pemeriksaan kesehatan haji, kesehatan matra diwilayah kerja
KKP merupakan kewajiban yang harus dipenuhi oleh seksi Upaya
Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW). Hal itu dimaksudkan agar
tetap terjaganya kesehatan haji dan mencegah masuknya suatu
penyakit ke wilayah Indonesia dari aktifitas perjalanan ke luar negeri
oleh peserta haji maupun orang dengan perjalanan ke luar negeri.
3. Pengujian kesehatan nahkoda/pilot dan anak buah
kapal/pesawat udara serta penjamah makanan
Berdasarkan tugas khusus seksi UKLW, maka kesehatan
nahkoda kapal, ABK, maupun pilot wajib dijamin oleh KKP melalui
seksi UKLW.
4. Vaksinasi dan penerbitan sertifikat vaksinasi internasional
Pentingnya vaksinasi bagi traveller termasuk jamaah
haji/umroh sebagai perlindungan dari penyakit-penyakit menular
tertentu

yang

dapat

dicegah

melalui

vaksinasi/imunisasi.

Disampaikan bahwa selain melindungi individu, vaksinasi juga


melindungi keluarga, masyarakat dari penyebaran penyakit tertentu
yang potensial wabah. Dan lebih luas lagi, vaksinasi juga
melindungi negara terhadap ancaman masuknya penyakit yang
endemis di negara lain. Dengan kata lain bahwa vaksinasi
internasional adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan Negara.
5. Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di wilayah kerja
bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat Negara
Pelaksanaan jejaring kerja dan kemitraan di wilayah kerja
bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara dimaksudkan untuk

26

tetap menjaga kesehatan negara dari ancaman penyakit yang


memungkin masuk ke wilayah negara. Dengan kerja sama jejaring
dan kemitraan, maka diharapkan dapat berkoordinasi dengan baik
untuk menjaga kesehatan negara.
6. Pengawasan pengangkutan orang sakit dan jenazah di wilayah
kerja bandara, pelabuhan, dan lintas batas darat negara, serta
ketersediaan

obat-obatan/peralatan

P3K di kapal/pesawat

udara/alat transportasi lainnya


Pengawasan itu dimaksudkan untuk mengantisipasi potensi
wabah yang dibawa oleh orang sakit maupun jenazah yang
meninggal di dalam kapal atau pesawat, sehingga KKP mampu
menepis adanya wabah yang kemungkinan bisa menggangu
kesehatan negara.
7. Kajian dan pengembangan teknologi serta pelatihan teknis
bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah
Kajian dan pengembangan teknologi serta pelatihan teknis
bidang upaya kesehatan dan lintas wilayah merupakan suatu fungsi
dan tugas pokok dari seksi UKLW yang dimaksudkan agar para staf
mampu menggunakan teknologi dengan baik dan mengetahui tugas
pokok sebagai seksi UKLW, sehingga dapat melaksanakan surveilans
dan pembuatan sistem laporan yang baik dalam upaya penyehatan
lintas wilayah.
8. Penyusunan laporan di bidang upaya kesehatan dan lintas
wilayah
Seksi Kesehatan Matra dan Lintas Wilayah mempunyai tugas
melakukan penyiapan bahan perencanaan, pemantauan, evaluasi,
penyusunan laporan, dan koordinasi pelaksanaan vaksinasi dan
penerbitan sertifikasi vaksinasi international (ICV), pengawasan
pengangkutan orang sakit dan jenazah, kesehatan matra, kesehatan
haji, perpindahan penduduk, penanggulangan bencana, pelayanan
kesehatan terbatas, rujukan gawat darurat medik, pengembangan
jejaring kerja, kemitraan, dan teknologi, serta pelatihan teknis bidang

27

kesehatan matra di wilayah kerja bandara, pelabuhan, dan lintas


batas darat negara (Kepmenkes Tahun 2008).

BAB 3
HASIL KEGIATAN MAGANG
Kegiatan praktik magang di Kantor Kesehatan Pelabuhan yang telah
dilakukan oleh 5 orang mahasiswa Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas
Diponegoro Peminatan Epidemiologi dan Penyakit Tropik, dimulai sejak tanggal
20 Juni hingga 29 Juli 2016, dimana terhitung sebanyak 30 hari aktif kerja.
Berkenaan dengan waktu pelaksanaan magang, pada beberapa minggu
awal magang bersamaan dengan pelaksanaan ibadah puasa bulan ramadhan.

28

Mengingat kondisi tersebut, maka banyak kegiatan yang tidak dilakukan di


lapangan. Akan tetapi, dilihat secara keseluruhan melalui kegiatan praktik magang
ini secara tidak langsung telah memberikan kesempatan kepada para mahasiswa
magang untuk belajar sharing, berdiskusi, berpikir kritis, bersikap terampil dan
profesional, serta mampu meng-upgrade keilmuannya. Baik penempatan di seksi
Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL), Pengendalian Karantina dan Surveilans
Epidemiologi (PKSE), maupun Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW).
Selanjutnya, pembahasan hasil kegiatan magang pada bab ini akan
menggambarkan secara keseluruhan beberapa kegiatan magang yang turut
dilakukan oleh mahasiswa.
3.1 Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL)
Pelaksanaan kegiatan magang di seksi PRL berlangsung dari 20 Juni
hingga 29 Juli 2016 di Kantor Induk Kesehatan Pelabuhan, Jalan W.R.
Supratman No. 6, Semarang. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan
selama magang di seksi tersebut adalah sebagai berikut :
3.1.1
Inspeksi Sampel Makanan
a. Pemeriksaan Sampel Makanan secara Mikrobiologis dari
Pengolahan Tempat Makanan (TPM) di Kawasan Pelabuhan
1) Lokasi dan Waktu
Pelaksanaan survei pengolahan tempat makanan (TPM)
di kawasan pelabuhan dilakukan di beberapa warung tempat
makan Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
pada Tanggal 24 Juni 2016.
2) Hasil Kegiatan
Beberapa sampel makanan yang terdapat di Tempat
Pengolahan Makanan (TPM) Terminal Penumpang Pelabuhan
Tanjung Emas Semarang selanjutnya dilakukan pemeriksaan di
Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Selain melakukan pemeriksaan pada jenis makanan yang
dijual, para petugas KKP bersama mahasiswa magang juga
melakukan inspeksi terkait kondisi, fasilitas, dan tempat
penjualan makanan.

29

Berikut merupakan hasil pemeriksaan secara fisik dari


TPM di wilayah pelabuhan.

30

Nomor

Tempat

Air

Pencahayaan Dapur
Sampel Sampah
Bersih
1
Bk
Baik
Baik
Tidak
2
Bk
Baik
Baik
Bersih
3
Bk
Baik
Baik
Tidak
4
Bk
Baik
Baik
Bersih
5
Bk
Baik
Baik
Tidak
6
Bk + Ttp Baik
Kurang
Tidak
7
Bk
Baik
Baik
Tidak
8
Bk + Ttp Baik
Baik
Bersih
9
Bk
Baik
Baik
Bersih
10
Bk
Baik
Baik
Bersih
11
Bk
Baik
Baik
Tidak
12
Bk
Baik
Baik
Bersih
13
Bk
Baik
Baik
Bersih
14
Bk
Baik
Baik
Bersih
15
Ttp
Baik
Baik
Bersih
16
Ttp
Baik
Baik
Bersih
Tabel 3.1 Hasil Pemeriksaan TPM Pelabuhan Tanjung Emas
secara fisik
Berdasarkan

hasil

pemeriksaan

TPM

secara

fisik,

dapat

disimpulkan bahwa higienitas TPM belum maksimum. Hal ini disebabkan


masih banyak penjual makanan yang menggunakan tempat sampah yang
terbuka dan kurang dijaganya kebersihan dapur yang mereka gunakan.
Dimana hal ini dapat menyebabkan mudahnya mikrobiologi masuk ke
dalam makanan yang dijual.
Berikut merupakan hasil pemeriksaan secara mikrobiologis yang
dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.
Nomor

Staphylococcus

Sampel
1
2
3
4
5
6
7
8

sp.
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

E.coli
Negatif
Negatif
Positif
Negatif
Negatif
Negatif
Positif
Negatif

Salmonella
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

Vibrio
cholera
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif
Negatif

31

9
10
11
12
13
14
15
16

Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Positif
Negatif Negatif
Negatif
Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Negatif
Negatif Negatif
Negatif
Tabel 3.2 Hasil Pemeriksaan Sampel Makanan secara
Mikrobiologis

Dari hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa higienitas TPM di


Pelabuhan Tanjung Emas Semarang belum sepenuhnya baik. Karena
setelah dilakukan hasil pemeriksaan laboratorium secara mikrobiologis
masih ditemukan makanan yang mengadung bakteri Staphylococcus sp.
dan E. coli. Hal ini disebabkan kurang terjaganya kebersihan para penjual
makanan pada saat melakukan pengolahan dan penyajian makanan. Dalam
penyajian makanan juga masih banyak ditemukan makanan yang dibiarkan
terbuka sehingga memudahkan vektor dan bakteri untuk

melakukan

kontak dengan makanan. Untuk mengatasi hal tersebut maka petugas KKP
Semarang,

diharapkan

untuk

memberikan

penyuluhan

mengenai

pengolahan dan penyajian makanan, serta selalu melakukan monitoring


terhadap pengolahan dan penjualan makanan di TPM Pelabuhan Tanjung
Emas Semarang.
b. Pemeriksaan

Sampel Makanan secara Kimiawi dari Pengolahan

Tempat Makanan (TPM) di Kawasan Pelabuhan


1) Lokasi dan Waktu
Pelaksanaan survei pengolahan tempat makanan (TPM) di
kawasan pelabuhan dilakukan di beberapa warung tempat makan
Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada
Tanggal 30 Juni 2016.
2) Hasil Kegiatan
Beberapa sampel

makanan

yang

terdapat

di

Tempat

Pengolahan Makanan (TPM) Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung


Emas Semarang selanjutnya dilakukan pemeriksaan oleh petugas KKP
dengan menggunakan tester kit.

32

Berikut merupakan hasil pemeriksaan secara kimiawi.

33

Nomor Sampel

Metanil

Boraks

Formalin
Yellow
1
Negatif
2
Negatif
3
Negatif
Negatif
4
Negatif
5
Negatif
Negatif
Negatif
6
Negatif
7
Negatif
Negatif
8
Negatif
Negatif
9
Negatif
Negatif
10
Negatif
11
Negatif
12
Negatif
13
Negatif
Tabel 3.3 Hasil Pemeriksaan Sampel Makanan secara
Kimiawi

Berdasarkan hasil pemeriksaan TPM secara kimiawi tidak


ditemukan makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti boraks,
metanil yellow, dan formalin. Sehingga, dapat disimpulkan bahwa
makanan yang beredar di TPM Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
tergolong aman untuk di konsumsi. Namun perlu di waspadai karena
masih ditemukan makanan yang dijajakan dalam keadaan yang
melewati batas tanggal kadaluarsa.
3.1.2

Inspeksi Kualitas Sampel Air


Inspeksi atau pemeriksaan sampel air dilakukan untuk menguji

kualitas kandungan air dari segi fisik, kimia, maupun biologi. Inspeksi
kualitas air yang turut dilakukan para mahasiswa berlokasi di kapal luar
negeri, kapal dalam negeri, dan persediaan air minum di wilayah
pelabuhan.
a. Inspeksi Kualitas Air di Kapal
1) Lokasi dan Waktu
- Lokasi
: KM Binaiya
Waktu
: 28 Juni 2016
Negara
: Indonesia
Asal-Tujuan
: Sampit-Sampit
- Lokasi
: KLM Rahmat Shofa Marwa
Waktu
: 13 Juli 2016

34

Negara
Asal-Tujuan
Lokasi
Waktu
Negara
Asal-Tujuan

: Indonesia
: Sangkulirang-Banjarmasin
: MV Kanway Galaxy
: 15 Juli 2016
: Panama
: Singapura-Singapura

35

2) Hasil Kegiatan
Berikut maerupakan hasil pemeriksaan sampel air yang dilakukan di beberapa kapal yang berlabuh
di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang.
Parameter
Fisika

Lokasi

Suhu

Rasa

Bau

Binaya

Tdk berwarna

Tdk berasa

Tdk berbau

29

Jernih

193

Rahmat S.M.

Tdk berwarna

Tdk berasa

Tdk berbau

28

Jernih

164

7.2

Tdk berwarna

Tdk berasa

Tdk berbau

29

Jernih

170

6.5

158

6.8

Kanway
Galaxy
Sinar Banda

Tdk berwarna
Tdk berasa Tdk berbau
27
jernih
Tabel 3.4 Hasil Pemeriksaan Fisik Sampel Air pada Kapal

(Mg/L)

pH

Kimia
Sisa Chlor

Warna

(C)

Kekeruhan

TDS

(Mg/L)

36

b.

Lo

a.

kasi
o.

d.

Warna

g.

PT.

Tdk

p.

Ras

h.

a
q.

Pelindo
berwarna
x.
Hidran VI y.
Tdk

berasa

Der-

berasa

maga berwarna

Samudera
ag.
Hidran

I ah.

Tdk

Dermaga

berwarna

Nusantara
ap.
Reservoir

aq.

TPKS

z.

ai.

ar.

berasa

Reservoir

berwarna
az.
Tdk

Term Penumpang
bh.
Reservoir

berwarna
bi.
Tdk

berasa

PT Sriboga

berwarna

berasa

ay.

ba.
bj.

e.
j.

i.

Bau

Suhu

Tdk

r.

Tdk

berbau
Tdk

aa.

Tdk

berbau
Tdk

aj.

Tdk

berbau
Tdk

as.

Tdk

berbau
Tdk

bb.

Tdk

berbau
Tdk

bk.

berbau

Tdk

Kek

k.

eruhan

(C)

berasa

Tdk

Parameter

Fisika
T

l.

DS

m.

pH

(Mg/L)
Jerni u.
6 v.

Chlor
(Mg/L)
w.
0.05

s.

t.

30.3

ab.

ac.

31

ak.

al.

30.2

at.

au.

29

bc.

bd.

Jerni be.

6 bf.

bg.

30

bl.

bm.

50
Jerni bn.

7.6
6 bo. bp.

30.8

24
Jerni ad.

7.6
6 ae. af.

22
Jerni am.

6 an. ao.

24
jerni

av.

0.05

7.7
0.05

7.6
6 aw. ax.

43

7.5

13

7.7

b. Inspeksi Kualitas Air di Pelabuhan


1) Lokasi dan Waktu
- Lokasi
: Reservoir PT PELINDO, Hidran Nomor VI
Dermaga Samudera, Hidran Nomor I Dermaga Nusantara,
Reservoir TPKS, Reservoir Terminal Penumpang, Reservoir PT
Sriboga
- Waktu
: 22 Juni 2016
2) Hasil Kegiatan
c.
Berikut maerupakan hasil pemeriksaan sampel air yang
dilakukan di beberapa wilayah di Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang.
d.
e.

Kimia
n.
Sisa

Tabel 3.5 Hasil Pemeriksaan Fisik Sampel Air di Wilayah Pelabuhan

37

f.

38

g.

Menurut

persyaratan

baku

mutu

air

sesuai

PERMENKES No. 416/Menkes/Per/IX/1990, kualitas air yang baik


di antaranya adalah tidak berwarna, tidak berbau, tidak berasa,
jernih, suhu 3C, TDS < 1500 Mg/L, Ph 6,5 9,0 dan sisa chlor
0,2 Mg/L. Berdasarkan pemeriksaan sampel air yang telah
dilakukan, maka diperoleh hasil bahwa dari keseluruhan reservoir air
baik yang terdapat di dalam kapal dan yang terdapat di wilayah
pelabuhan menunjukkan kandungan air telah sesuai dengan syarat
baku mutu air, sehingga air tersebut aman untuk dikonsumsi dan
digunakan.
h.

Selanjutnya

untuk

pemeriksaan

air

secara

mikrobiologis beberapa sampel dari wilayah di sekitar pelabuhan,


dibawa ke Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah
dengan hasil sebagai berikut.
i. Nom

j. Colif

or

orm

Sam

Fecal

pel

ad.

k. E. coli

l. 1

m. -

n. -

o. 2

p. -

q. -

r. 3

s. -

t. -

u. 4

v. -

w. -

x. 5

y. -

z. -

aa. 6

ab. -

ac. -

Tabel 3.6 Hasil Pemeriksaan Mikrobiologis Sampel Air di


Wilayah Pelabuhan
ae.

Berdasarkan

416/Menkes/SK/IX/90,

baku
kadar

mutu

maksimal

Permenkes
total

coliform

No.
yang

39

diperbolehkan yaitu : a) air perpipaan : 10/100 ml sampel, b) non


perpipaan : 50/100 ml sampel.
af.

Melihat persyaratan sesuai baku mutu tersebut maka

dapat diketahui bahwa reservoir air di beberapa wilayah di


Pelabuhan Tanjung Emas Semarang memenuhi syarat dan layak
dikonsumsi. Dengan demikian, petugas KKP Semarang dapat
memberikan intervensi dan keterangan kepada pihak pengurus
reservoir. Selanjutnya petugas KKP diharapkan terus memantau
kualitas air di reservoir tersebut agar setelah adanya pemeriksaan
tersebut dapat memperbaiki sanitasi penampungan air bersih.
3.1.3
Survei Lalat dengan Menggunakan Fly Grill
a. Lokasi dan Waktu
ag.
Pelaksanaan survei lalat bersama para mahasiswa
magang di KKP Kelas II Semarang dilakukan pada hari tanggal 22 Juli
2016 di 2 lokasi berbeda, yaitu :
1) Lokasi 1 (Perimeter Area)
ah. Survei dilakukan di Tempat Pembuangan Sampah
(TPS) dalam area pelabuhan yang biasanya diguanan untuk
membuang sampah dapur dari kapal. Lokasi berada di Jl. Ampenan
Kelurahan Tanjung Mas Semarang pada pukul 07:55 WIB,
2) Lokasi 2 (Buffer Area)
ai. Lokasi kedua merupakan TPS Kelurahan Tanjung Emas
di Jl. Yos Sudarso dilakukan pada pukul 08:10 WIB.
b. Hasil Kegiatan
aj.
Setelah melakukan perhitungan populasi lalat yang
hingga pada fly Grill pada kedua lokasi wilayah perimeter dan buffer
Pelabuhan Tanjung Emas, maka diperoleh hasil sebagai berikut.
ak.

40

Waktu

bq. br.

bs.

bt.

okasi

Jumlah lalat yang hinggap


bu.
pada fly grill

bv.

umlah
lat

ca.

T cb.

anggal

cz.

dp.

da.

Jam

2/07/201
6
dq.

2/07/201
6

db.

07:55

dr.

08:10

dc.

l.
Ampera
ds.

l. Yos
Sudarso
al.
am.

cf.

ch.

cj.

cl.

cn.

cp.

cr.

ct.

cv.

30

30

30

30

30

30

30

30

30

30

ce.

cg.

ci.

ck.

cm. co.

cq.

cs.

cu.

cw.

10

dd. de.

df.

dg. dh. di.

dj.

dk.

dl.

dm. dn.

16

13

12

10

dt.

du. dv.

12

10

11

12

16

18

15

14

13

dw. dx.

dy.

dz.

ea.

eb.

ec.

12

Tabel 3.7 Hasil Survey Kepadatan Lalat

(5

5 tertinggi)

tertinggi
cx.

cd.

Ra

ta-rata
la by.

bw.

bx.

7
9

ed.

cy.

do.

16

ee.

11

41

an.

Adapun perhitungan penentuan populasi lalat adalah

sebagai berikut :
- Rata-Rata Jumlah Lalat Tertinggi
ao. Dari setiap lokasi

dilakukan

10

kali

periode

penghitungan lalat hinggap. Data diambil pada 5 periode dengan


jumlah paling banyak dan kemudian diambil reratanya dengan
membagi dengan konstanta 5.
ap. Hasil rata-rata jumlah lalat pada lokasi 1 dan 2
perhitungan rata-rata jumlah lalat digunakan sebagai acuan dalam
menentukan kategori kepadatan populasi lalat pada tempat
pembuangan sampah yang di survei. Kategori kepadatan populasi
lalat adalah sebagai berikut :
0-2
: Rendah
3-5
: Sedang
6-20
: Tinggi
21
: Sangat Tinggi
aq.

Demikian maka diperoleh hasil bahwa pada surveI lalat

pada lokasi 1 dan 2 memiliki tingkat kepadatan lalat termasuk


kategori tinggi. Selanjutnya perlu dilakukan upaya pengamanan
terhadap tempat perkembangbiakan lalat dan dilakukan tindakan
pengendalian seperti spraying lalat.
3.1.4

Trapping dan Identifikasi Tikus


ar. Kegiatan yang dilakukan sebagai pelaksanaan kegiatan dari

seksi Pengendalian Risiko LIngkungan (PRL) di wilayah kerja Tanjung


Emas Semarang salah satunya kegiatan pengendalian luas wilayah bebas
vektor pes dengan menggunakan perangkap dan pengamatan pinjal tikus
penyebar pes. Pes merupakan zoonosis pada tikus yang dapat ditularkan
kepada manusia melalui gigitan pinjal Xenopsylla cheopsis yang
mengandung Yersinia pestis. Meningkatnya arus transportasi barang dan
penumpang antarnegara, pes mungkin tersebar melalui pelabuhan.

42

as.

Maka perlu adanya tindakan pengendalian dan pencegahan

yang harus dilakukan, diantaranya dengan mengidentifikasi spesies tikus


dan pinjal, menghitung kepadatan tikus, infestasi pinjal pada tikus dan
indeks pinjal sebagai indikator kerentanan terhadap penularan pes.
a. Persiapan
at.
Pelaksanaan kegiatan diawali dengan persiapan
perangkap tikus dengan umpan kelapa bakar sebanyak 200 buah.
b. Lokasi Penyebaran
au.
Perangkap tikus disebar pada Terminal Penumpang dan
Tempat Pengolahan Makanan di kawasan Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang, serta pemukiman di Wilayah Margorejo Barat.
c. Pengambilan Hasil
av.
Perangkap yang telah di pasang pada daerah perimeter
dan buffer pelabuhan Tanjung Emas kembali dikumpulkan setelah
dibiarkan sehari semalam. Dari 200 perangkap yang disebar didapakan 9
tikus celurut diidentifikasi umum dan 11 tikus ratus diidentifikasi
specifik berdasarkan ciri-ciri menggunkan kunci identifikasi spesies.
d. Identifikasi dan Pengamatan Pinjal
1) Alat dan Bahan
-

Kantong

udara
Kapas
Chloroform
Pinset
Panic stainless
Sikat/sisir pinjal
Mistar

plastik

kedap -

Neraca

(ketelitian 10gr)
Masker
Handscoon
Lembar

identifikasi
Pinset
Form data
Tube

timbang

Kunci

2) Prosedur Kerja
- Tikus yang tertangkap dimatikan dengan dimasukkan dalam
plastic kedap udara yang diberi kapas yang sudah dibasahi
-

dengan chloroform.
Tunggu beberapa saat hingga tikus benar-benar mati.

43

Mulai pengamatan dan identifikasi, pengukuran total panjang


tubuh, panjang ekor, panjang telinga, panjang kaki belakang, dan
warna bulu atas serta bulu abdomal, identifikasi jenis kelamin

dan jumlah kelenjar mamae.


Penyisiran pinjal. Tikus diamati seluruh bulunya untuk melihat

keberadaan pinjal. Kemudian dilakukan penyisiran.


Mencatat hasil pengamatan pada form data dan mencocokan
cirri-ciri yang didapat pada lembar kunci identifikasi.

Pinjal yang didapat dikumpulkan pada tube berisi air.

aw. Dari hasil kegiatan ini didapatkan informasi tentang spesies


tikus di sekitar pelabuhan Tanjung Emas sebagai berikut :
ax.

ay. Spesies

az. Jumlah

ba.

bb. Ratus

bc. 3

bd.
bg.

Tiomanicus
be. Ratus Diardi
bh. Ratus

bf. 2
bi. 4

bj.
bm.

Norwegcus
bk. Ratus Exulas
bl. 1
bn. Ratus Arge
bo. 1
bp. Tabel 3.8 Hasil Trapping Tikus

bq.

Kepadatan Tikus (KT) = Tikus Tertangkap / Jumlah Perangkap

di pasang.
br.

Hasil perhitungan indeks kepadatan pinjal (IP) sebagai

berikut :
bs.

Indeks kepadatan pinjal (IP) = jumlah pinjal tertangkap /

jumlah tikus yang terperangkap. Pada pengamatan kali ini dari 11 tikus ratus
yang diidentifikasi terdapat 2 pinjal.
bt. KT = 20/200 = 0,1
bu. IP = 2/11 = 0,18

44

bv. Meskipun indeks pinjal tidak tinggi pada tikus yang


tertangkap, sistem kewaspadaan perlu dilaksanakan secara konsisten dalam
upaya kewaspadaan terhadap penularan penyakit pes di KKP kelas II
Semarang, khususnya wilayah kerja Pelabuhan Tanjung Emas, sehingga
dapat segera dilakukan upaya pengendalian terhadap populasi tikus dan
pinjal. Hasil IP ini digunakan sebagai acuan penetuan kemungkinan
timbulnya wabah penyakit pes di Wilayah Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang.
3.2 Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi (PKSE)
bw.Pelaksanaan kegiatan magang di seksi PKSE berlangsung dari tanggal
20 Juni hingga 29 Juli 2016 di Kantor Kesehatan Pelabuhan Tanjung Emas, Jalan
M. Pardi No.5, Semarang. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan selama
magang di seksi tersebut adalah sebagai berikut :
3.2.1

Inspeksi Kekarantinaan, Kedatangan, dan Keberangkatan Kapal

(Boarding)
a. Kapal Luar Negeri
bx.
Inspeksi karantina kapal dilakukan pada kapal luar
negeri yang bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang. Selama
kegiatan magang, mahasiswa telah diberikan kesempatan untuk ikut
serta kegiatan boarding sebanyak 3 kali.
1) Lokasi dan Waktu
- Lokasi
: MV Kanway Galaxy
by.
Waktu
: 24 Juni dan 15 Juli 2016
bz.
Negara
: Panama
ca.
Asal-Tujuan : Singapura-Singapura
- Lokasi
: KM Sinar Banda
cb.
Waktu
: 20 Juli 2016
cc.
Negara
: Indonesia
cd.
Asal-Tujuan :Singapura-Singapura
2) Pelaksanaan
ce. Pelaksanaan inspeksi kapal luar negeri dilakukan untuk
memeriksa dokumen-dokumen kapal, kualitas air minum dan air

45

bersih, kesehatan kaptem dan ABK Kapal, obat dan P3K, ruang
penyimpanan makanan, dapur, dan ruang lainnya di dalam kapal.
cf. Adapaun dokumen kapal yang di maksud adalah :
- Maritime Declaration of Health (MDH)
- Health Book (HB)
- Ship Sanitation Control Certificate (SSCC)
- Ship Sanitation Control Exemption Certificate (SSCEC)
- Crew List
- Vaccination List
- Medical Examination
- Voyage Memo
- Certificate of Medicines
cg. Pemeriksaan kesehatan crew kapal dapat dilihat dari
buku International Certificate of Vaccination/Prophylaxic (ICV),
Medical record, dan Medical Examination.
ch. Pemeriksaan fasilitas dan ruang kapal diantaranya
pemeriksaan pada tempat penyimpanan makanan, dapur, dan ruang
first aid. Sedangkan pemeriksaan sanitasi kualitas air dilakukan
dengan uji secara langsung dari suhu, warna, bau, kekeruhan, Ph,
sisa chlor, dan TDS.
ci. Selanjutnya setalah selesai pemeriksaan maka petugas
KKP menerbitkan Certificate of Pratique (COP) yang menunjukkan
bahwa kapal diperbolehkan untuk menurunkan bendera kuning serta
melakukan aktivitas bongkar muat barang dan diijinkan berlabuh ke
lokasi tujuan.
cj.

46

3) Hasil Kegiatan
4)

Berikut merupakan hasil dari inspeksi kapan yang pernah diikuti oleh mahasiswa selama

kegiatan magang.
6)
9)
5)

Na
ma

16)

8)

I
CV

K 10)

Keterangan Hasil Inspeksi

ualitas

ualitas

Air

Air

Minum

Bersih

11)

3K

12)

apur

13)

Ruang

Penyimpanan
Makanan

14)

Do

kumen

Kan

B 19)
way Galaxy 18)
17)
(24 erlaku
aik
Juni)
26)
Kan
B 29)
way Galaxy 28)
27)
(15 erlaku
aik
Juli)

36)

Sina 37)

r Banda

erlaku
45)

46)

B 38)
aik

20)

aik

30)

aik

engkap

aik
39)

21)

31)

40)
engkap

aik

engkap
B

22)

32)

aik
L

41)
aik

23)

33)

42)

Baik

Baik

Baik

24)

Le

ngkap

34)

Med

ical Record
ABK
25)

Tida

k
Bermasalah

Le

ngkap
43)

15)

35)

Tida

k
Bermasalah

Le

ngkap

Tabel 3.9 Keterangan Hasil Inspeksi Kegiatan Boarding Kapal Luar Negeri

44)

Tida

k
Bermasalah

47

47) Secara keseluruhan hasil inspeksi dari kegiatan


boarding yang dilakukan menunjukkan kesesuaian dengan standar
yang telah ditetapkan oleh KKP. Dengan demikian, manajemen
kapal dan sanitasi kesehatan kapal terbilang baik karena tidak
ditemukan masalah kesehatan yang berarti.
b. Kapal Dalam Negeri
48)
Inspeksi langsung kapal dalam negeri yang dilakukan
bersama mahasiswa selama masa magang yaitu 3 kali.
1) Lokasi dan Waktu
- Lokasi
: KM Binaiya
49)
Waktu
: 28 Juni 2016
- Lokasi
: KLM Rahmat Shofa Marwa
50)
Waktu
: 13 Juli 2016
- Lokasi
: KM Dahlia Merah
51)
Waktu
: 13 Juli 2016
2) Pelaksanaan
52) Pelaksanaan inspeksi kapal dilakukan karena dokumen
kapal seperti sertifikat air, SSCEC/SSCC, dan sertifikat P3K telah
berakhir masa berlakunya. Adapun petugas KKP bersama mahasiswa
magang melakukan pemeriksaaan P3K, kualitas air minum, kualitas
air bersih, dapur, dan beberapa ruangan dalam kapal.
3) Hasil Kegiatan
53) Berikut merupakan hasil dari inspeksi kapan yang
pernah diikuti oleh mahasiswa selama kegiatan magang.
54)

48

56)
59)

55)
I
Na 58)
CV
ma

K 60)

ualitas

ualitas

Air

Air

Minum
B 68)
B

66)

Bi

67)

naya
75)

Ra

erlaku
aik
76)
B 77)

Keterangan Hasil Inspeksi

K
61)

3K

62)

apur

Ruang

Penyimpanan
Makanan

Bersih
69)
B

70)

71)

aik
78)

engkap
79)
L

aik
80)

63)

72)

Baik

81)
Baik
hmat S.W. erlaku
aik
aik
engkap
aik
84)
Da
85)
B 86)
B 87)
B 88)
L 89)
B
hlia
90)
Baik
erlaku
aik
aik
engkap
aik
Merah
93)
Tabel 3.10 Keterangan Hasil Inspeksi Kegiatan Boarding Kapal
Dalam Negeri
94) Hasil dari inspeksi kapal menunjukkan bahwa kualitas
air minum dan air bersih telah memenuhi persyaratan baku mutu air.
Pemeriksaan pada beberapa ruangan di kapal dan dapur, tidak
ditemukan adanya hama atau serangga vektor penyakit. Namun,
ketersediaan obat/P3K kurang lengkap sehingga KKP menghimbau
pihak kapal agar melengkapi perlengkapan obat-obatan.
95)

64)

Do

kumen
73)

Le

ngkap
82)
Le
ngkap
91)
ngkap

Le

49

4) Akumulasi Jumlah Kapal


5)

Banyaknya jumlah kapal baik kapal dalam negeri

maupun kapal luar negeri yang bersandar di pelabuhan Tanjung


Emas, Semarang selama kegiatan magang yang terdata oleh
mahasiswa adalah seperti diagram berikut.
6)

Rasio Jumlah Kapal Dalam dan Luar Negeri

10%
Kapal Luar Negeri
Kapal Dalam Negeri

90%

7)

Gambar 3.1 Rasio Jumlah Kapal dari Dalam dan Luar Negeri
8)

Berdasarkan data banyaknya jumlah kapal yang

bersandar di Pelabuhan Tanjung Emas selama mahasiswa magang 20


Juni hingga 29 Juli 2016, yaitu sebanyak 276 buah kapal dari dalam
negeri dan 30 buah kapal dari luar negeri. Dari periode tersebut

50

maka kapal dalam negeri lebih

banyak bersandar di Pelabuhan

Tanjung Emas.
3.2.2
Penerbitan Dokumen Kapal
a. Penerbitan PHQC
9)
Port Health Quarantine Clearance (PHQC) dalam hal
ini merupakan surat izin berlayar karantina kesehatan yang diberikan
kepada setiap kapal yang datang dan akan berlabuh dari Pelabuhan
Tanjung Emas Semarang atas wewenang petugas Knator Kesehatan
Pelabuhan Kelas II Semarang.
10)
Tujuan kegiatan clearance adalah untuk memeriksa
kesehatan kapal yang akan berlabuh ke tempat tujuan agar terhindar dari
faktor risiko penularan penyakit yang terdapat di kapal.
11)
Adapun hasil clearance selama masa magang di seksi
PKSE adalah sebanyak 306 kapal dalam negeri. Dari seluruh kapal
terdapat kapal jenis motor, penumpang, takbud, tongkang, dan kargo.
b. Penerbitan SSCEC
12)
Penerbitan Sertifikat Bebas Pengawasan Sanitasi
Kapal / Ship Sanitation Control Exemption Certificate (SSCEC) selama
masa magang yaitu sebanyak 8 kali pada jenis kapal yang berbeda. Dari
ke 8 tersebut semuanya merupakan kapal dari dalam dan luar negeri.
c. Penerbitan COP
13)
Certificate of Pratique diberikan kepada pihak kapal
luar negeri yang telah dilakukan pemeriksaan dan dinyatakan bebas dari
penyakit karantina. Adapaun selama magang, mahasiswa mendata
bahwa terdapat 23 kapal asing yang diberikan COP oleh petugas KKP
Semarang. Dari keseluruhan kapal asing tersebut merupakan kapal jenis
kargo yang memuat barang-barang dengan jumlah yang banyak.
d. Penerbitan Health Book
14)
Penerbitan health Book diberikan oleh petugas KKP
kepada kapal yanh telah berakhir masa berlakunya. Selama mahasiswa
magang, terdata sebanyak 9 buah kapal yang melakukan perpanjangan

51

Health Book. 9 buah kapal tersebut merupakan kapal dari dalam dan luar
negeri.
15)

Adapun pentingnya Health Book setiap kapal adalah

sebagai indentitas keterangan kesehatan kapal dari penumpang sehingga


dapat menentukan apakah kapal tersebut layak atau tidak untuk
melakukan keberangkatan menuju daerah tujuan.
16)

Health

Book

sebenarnya

merupakan

dokumen

kesehatan kapal yang hanya berlaku di Negara Indonesia. Adanya


pemberlakuan buku tersebut oleh Kementerian Kesehatan tentunya
sebagai bentuk kesadaran Negara terhadap upaya meminimalisasi
penyebaran faktor risiko penyakit menular yang berpotensi wabah
terutama pada kapal-kapal sebagai target high risk.
3.2.3

Screening Malaria
17) Screening penyakit menular di area pelabuhan atau perairan

Tanjung Emas merupakan salah satu wewenag dan refleksi dari tugas pokok
dan fingsi pihak KKP kelas II Semarang sebagai upaya Cegah Tangkal
Penyakit dengan upaya pengendalian, deteksi, dan pencegahan yang tepat.
Pemeriksan yang dilakukan ditujukan pada ABK ataupun penumpang kapal
dari daerah endemis malaria. Kegiatan ini dilakukan dengan melibatkan
mahasiswa magang dilakukan pada ABK kapal Sirimau, Binaiya, dan
penumpang kapal Egon.
18) Sumber daya Manusia petugas KKP Kelas II Semarang yang
terlibat dalam kegiatan tersebut diantaranya petugas medis (dokter/perawat),
sanitarian, staff PKSE, dan mahasiswa magang.
a. Alat yang dibutuhkan
19)
Berupa lanset, kapas alcohol, form data, RDT malaria
test kit yang sensitif pada plasmodium falciparum dan plasmodium
vivax, label, handscoon, masker, souvenir, dan alat tulis.
b. Mekanisme Kerja
1) Petugas KKP berkoordinasi dengan pihak kapal
melaksanakan kegiatan.

sebelum

52

2) Petugas menyiapkan alat dan tempat yang sesuai.


3) Captain kapal menginstruksikan ABK untuk diperiksa.
4) ABK didaftar dalam Form Data meliputi data nama, usia, asal daerah
dan nomor telpon.
5) ABK diperiksa sampel darah tepi dari ujung jari sebanyak 2 tetes
darah menggunakan pipet khusus dan diteteskan pada sumur A pada
RDT malaria.
6) Diteteskan 5 tetes larutan Buffer pada sumur B RDT.
7) Hasil dapat dibaca setelah 20 menit. Pengamatan dilihat pada garis
Control dan garis indicator Pv (Plasmodium vivax) dan Pf
(Plasmodium falciparum)
c. Hasil kegiatan screening dari target 200 orang sampel yang terdiri dari :
20)

Lok

21)

asi
25)

Sasa

22)

ran

Tang
gal

KM

26)

AB

Sirimau
30)
KM

K
31)

Juni 2016
Penu 32)
28

Egon
35)
KM

mpang
36)
AB

Binaya
41)

K
40)

27)

23)

umlah
Sampel
28)
4

20

3
33)

Juni 2016
37)
28

asil
29)

egatif
34)
N

egatif
39)
N

5
38)

24)

Juni 2016
2
egatif
Tabel 3.11 Hasil Screening Malaria

Dari 200 sampel yang diperiksa didapatkan 100% hasil negatif.

Pada saat pemeriksaan dilakukan treatment dengan pembagian souvenir


agar para sasaran mau dilakukan diperiksa.
3.2.4

Surveilans Penyalahgunaan Narkoba


42) Seksi PKSE juga telah melaksanakan surveilans terhadap

potensi penyalahgunaan narkoba dan alkohol pada ABK kapal di Pelabuhan


Tanjung

Emas

sebagai

tindak

lanjut

dari

peraturan

Pencegahan

Penyalahgunaan Pemberantasan dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN)


Transportasi Darat, Laut, Udara dan Kereta Api Nomor PM.19 Tahun 2012,
yaitu :

53

a. Alat yang dibutuhkan


43)
Tube urin, form data, RDT narkotic test kit, label,
handscoon, masker, souvenir, dan alat tulis.
b. Mekanisme Kerja
1) Petugas KKP berkoordinasi dengan

pihak

kapal

sebelum

melaksanakan kegiatan.
2) Petugas menyiapkan alat dan tempat yang sesuai.
3) Captain kapal menginstruksikan ABK untuk diperiksa.
4) ABK didaftar dalam Form Data meliputi data nama, usia, asal daerah
dan nomor telpon.
5) ABK diberi tube urin untuk menampung sampel yang akan
diperiksa.
6) Tes kit Narkoba di celupkan pada sampel.
7) Hasil dapat dibaca setelah 5 menit. Pengamatan dilihat pada garis
yang muncul. 2 strip bar menandakan hasil negatif, 1 strip bermakna
positif, dan tanpa strip bar berarti pemeriksaan invalid.
c. Hasil kegiatan screening dari target 200 orang sample yang terdiri dari :

44)

Lokasi

49)

KM

Sirimau
54)
KM

45)

Sasar
an

50)

ABK

55)

Penu

Egon
59)
KM

mpang

Dharma Ferry

60)

ABK

65)

ABK

II
64)

KM

Sirimau
69)
70)

46)

Tang
gal

51)

20

Juni 2016
56)
28

47)
umlah

20

19

egatif
9 58)
N

egatif
63)
N

57)

62)

Juli 2016
66)

48)

asil
Sampel
52)
4 53)
N

Juni 2016
61)

1
8

67)

Juli 2016
4
Tabel 3.12 Hasil Screening Narkoba

egatif

5 68)

egatif

Dari 200 sampel dengan pemeriksaan narkoba semua

yang diperiksa menunjukkan hasil negatif. Pada saat pemeriksaan


dilakukan treatment dengan pembagian souvenir agar para sasaran mau

54

dilakukan diperiksa. Pemeriksaan narkoba ini menggunakan alat Rapid


Diagnostic Test (RDT)

55

3.3 Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW)


71) Pelaksanaan kegiatan magang di seksi UKLW berlangsung dari
tanggal 20 Juni hingga 29 Juli 2016 di Kantor Kesehatan Pelabuhan Induk, jalan
W.R. Supratman No. 6, Semarang. Adapun beberapa kegiatan yang dilakukan
selama magang di seksi tersebut adalah sebagai berikut :
3.3.1
Layanan Vaksinasi
72) Selama kegiatan magang berlangsung, mahasiswa membantu
pihak UKLW dalam melakukan layanan vaksinasi bagi para pasien.
Kegiatan vaksinasi dibuka setiap hari Senin - Jumat pukul 07.00 14.00
WIB. Berikut merupakan kegiatan pelayanan vaksinasi di KPP Kelas II
Semarang.
a. Registrasi
73)

Pasien

datang

melakukan

regsitrasi

di

bagian

pendaftaran dengan melakukan pengisian formulir permohonan vaksin


(tergantung jenis vaksin : meningitis atau yellow fever), menyerahkan
fotokopi passport, dan fotokopi KTP.
b. Pemeriksaan Medis
74)
Setelah melakukan

vaksinasi,

pasien

kemudian

melakukan pemeriksaan secara medis oleh dokter yang bertugas. Pada


pemeriksaan, dokter memberikan informasi terkait vaksinasi yang akan
disuntikkan dan menanyakan riwayat alergi maupun jenis obat yang
sedang dikonsumsi apakah ada atau tidak.
75)
Bagi wanita usia produktif yang sedang mengalami
masa susbur, sebelum diinjeksi vaksi wajib melakukan uji kehamilan
(PP Test). Pada uji kehamilan tersebut, petugas menggunakan test pack.
Adapun cara melakukan uji kehamilan dengan mencelupkan test pack
pada urin pasien selama 30-60 detik. Apabila terdapat 2 garis merah
muada berarti pasien positif hamil, sedangkan apabila terdapat 1 garis
merah muda berarti negatif hamil. Bagi pasien yang positif hamil
dilarang oleh pertugas untuk diberikan vaksin.
c. Pengisian ICV

56

76)

Pengisian buku International Certificate of Vaccination

(ICV) dilakukan berdasarkan data pada formulir yang telah diisi oleh
pasien. Berikut terkait vaksin yang tersedia di KKP Kelas II Semarang.
1) Vaksin Meningitis meningococcus
77) Nama Vaksin : Menveo
78) Masa Berlaku : 2 tahun
2) Vaksin Yellow Fever
79) Nama Vaksin : Staramil
80) Masa Berlaku : 10 tahun
81)
Sementara untuk pelayanan vaksin thypoid, pasien
hanya dapat melakukan legalisasi di KKP Kelas II Semarang. Adapun
hasil kegiatan vaksinasi selama mahasiswa magang adalah sebagai
berikut :
1) Data PP Test
82) Berdasarkan

grafik,

seluruh

wanita

subur

yang

melakukan uji kehamilan selama periode 20 Juni - 29 Juli 2016


dinyatakan negatif, sehingga dapat diberikan vaksin sesuai
permohonan pasien. Adapun mayoritas, pasien wanitas usia subur.
Pentingnya uji kehamilan dilakukan adalah agar pasien yang
dinyatakan positif hamil tidak mendapatkan vaksin sebagaimana
diketahui bahwa vaksin dapat mengganggu proses perkembangan
janin selama berada di rahim, terlebih yang paling fatal adalah
vaksin tersebut dapat menyebabkan janin mati dalam kandungan
sang ibu (pasien).
2) Pasien Vaksin
- Jenis Kelamin
83)

Berikut merupakan data pasien yang melakukan

vaksinasi berdasarkan jenis kelamin.


84)
Berdasarkan grafik tersebut junmlah pasien
yang melakukan vaksinasi pada periode Juni-Juli 2016 sebanyak
orang. Terdiri dari 37 orang pasien berjenis kelamin perempuan
dan .. pasien berjenis kelamin laki-laki. Sedikit menggambarkan

57

bahwa saat ini pasien yang melakukan vaksinasi bukan hanya


3.3.2

laki-laki atau perempuan tetapi keduanya.


Input Pelayanan Vaksin ke Program Simkespel dan SiPerKaSa
85) Upaya integrasi pelaporan dan deseminasi informasi dalam

lingkungan KKP se-Indonesia ditujukan untuk menjaga keteraturan dan


memudah dalam pendataan pasien yang telah melakukan vaksinasi. Dalam
upaya tersebut maka diperlukan sistem informasi dimana dalam sistem
tersebut telah dimasukkan semua data mengenai vaksin, sehingga lebih
mudah untuk didapatnya sebuah informasi dan dilakukannya pengontrolan.
86) Secara lokal KKP semarang telah memiliki sistem yang baik
dalam pendataan pasien vaksinasi. Hal-hal yang direkap dalam SiPerKasa
(Sistem Perbendaharaan Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang) meliputi :
a. Nama pasien
b. Pelayanan yang diberikan (vaksinasi atau legalisasi)
c. Tanggal vaksinasi
d. Merk vaksin
e. Data tanggal lahir pasien
f. Jenis kelamin
87) Vaksin yang tersedia pada pelayanan seksi UKLW yaitu
Meningitis, Yellow Fever, serta proses legalisasi vaksinasi. Data ini
kemudian di entry/input pada SimKesPel (Sistem Informasi Manajemen
Kesehatan Pelabuhan) dengan tujuan mempermudah trakcing/pelacakan
data pasien yang telah divaksinasi dan dapat dilihat dalam jaringan nasional

58

88) BAB IV
89) ANALISIS DAN PEMBAHASAN
90)
4.1 Identifikasi Kegiatan Pemeriksaan Sampel Makanan
91)

Kantor Kesehatan Pelabuhan merupakan Unit Pelaksana

Teknis (UPT) Kementerian Kesehatan yang mempunyai tugas mencegah


masuk dan keluarnya penyakit menular potensial wabah, kekarantinaan,
pelayanan

kesehatan

terbatas

di

wilayah

kerja

pelabuhan

serta

pengendalian dampak kesehatan lingkungan. Dalam melaksanakan tugas


pokok di atas terdapat 16 fungsi untuk mendukung tugas tersebut salah
satunya kegiatan pengawasan Tempat Pengolahan Makanan.
92)
Untuk melindungi masyarakat pelabuhan dari faktor risiko
lingkungan yang akan berdampak pada kesehatan, salah satunya adalah
terselenggaranya pengawasan terhadap Tempat Pengelolaan Makanan
(TPM) yang memenuhi persyaratan kesehatan. Kegiatan ini dilakukan
melalui pembinaan terhadap pengelola dan penjamah makanan pada
tempat pengelolaan dan penyediaan makanan di wilayah kerja Pelabuhan
Tanjung

Emas

makanan/minuman
peralatan,

Semarang.
ini

pengolahan

Kegiatan

meliputi
dan

pengawasan

pengawasan

penyajian

pengamanan

terhadap

kebersihan

makanan/minuman,

serta

pengambilan sampel makanan.


93)

Kegiatan

Pengambilan

dan

Pemeriksaan

Sampel

Makanan/Minuman dilakukan di Kantor Kesehatan Pelabuhan Semarang


dan Wilayah Kerja. Kegiatan dilakukan secara rutin dan juga pada saat
kegiatan pengawasan makanan dalam kegiatan pengawasan katering
penyedia makan pada jamaah calon haji. Dalam pelaksanaannya kegiatan
ini mengambil sampel untuk diperiksa secara organoleptik, kimia dan
bakteriologis, namun hanya pemeriksaan secara organoleptik yang
dilaksanakan secara rutin tiap bulan, terutama dilaksanakan bersamaan
saat kegiatan inspeksi sanitasi TPM

59

94)

Kegiatan

pengambilan

dan

pemeriksaan

sampel

makanan/minuman secara organoleptik rutin dilaksanakan setiap bulan


bersamaan dengan kegiatan inspeksi sanitasi TPM. Namun untuk
pemeriksaan secara kimia dan bakterologis, hanya dilakukan setiap 6
bulan sekali, karena adanya keterbatasan sumber daya yang dimiliki.
Kegiatan ini dilakukan dalam rangka pengawasan sehingga makanan yang
disajikkan tersebut layak untuk dikonsumsi oleh masyarakat.
95)

Pelaksanaan survei pengolahan tempat makanan (TPM) di

kawasan pelabuhan dilakukan dalam 2 kali. Survei yang pertama


dilakukan di beberapa warung tempat makan Terminal Penumpang
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada Tanggal 24 Juni 2016.
Beberapa sampel makanan yang terdapat di Tempat Pengolahan
Makanan (TPM) Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang selanjutnya dilakukan pemeriksaan di Balai Laboratorium
Kesehatan Provinsi Jawa Tengah. Pelaksanaan survei yang kedua
mengenai pengolahan tempat makanan (TPM) di kawasan pelabuhan
dilakukan di beberapa warung tempat makan Terminal Penumpang
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada Tanggal 30 Juni 2016.
96)

Selain melakukan pemeriksaan pada jenis makanan yang

dijual, para petugas KKP bersama mahasiswa magang juga melakukan


inspeksi terkait kondisi, fasilitas, dan tempat penjualan makanan. Adapun
alur pelaksaan survei pemeriksaan sampel makanan dan minuman yaitu :
97)
98)
99)
100)
101)
102)
103)
104)
105)

60

106)
107)
108)
109)
Gambar 4.1 Alur Uji Sampel
110)
Pemberitahuan kepada pihak Pemilik Tempat Makan
Makanan
111)
112)
113)

Pemilik Tempat Magang bersedia dilakukan pengecekan

114)
115)
116)

Pengisian Form dan data Pemilik Tempat Makan

117)
118)
119)

Pengambilan sampel makanan secara steril

Pengambilan sampel makanan kering

120)
121)
122)

Sampel dimasukkan dalam tempat steril

Tempat sampel diberi identitas dengan label

123)
124)
125)

Dilakukan Pemeriksaan RDT Secara Kimiawi dan Fisik oleh petugas K


Tempat sampel diberi identitas dengan label

126)
127)
128)

Sampel diletakkan dalam cool box

129)
130)
131)

Sampel dikirimkan di BLK Prov. Jateng

132)

133)
134)
135)
136)
Positif

Negatif

Penyuluhan dan pembinaan kepada tempat pengolahan


makanan
Pengawasan
kepada TPM dan pemberian edukasi kepada pemilik

61

137)
138)
139)
140)
141)
4.2 Makanan dan Minuman
142) Makanan dan minuman adalah semua bahan baik dalam bentuk
alamiah maupun dalam bentuk buatan yang dimakan manusia kecuali air dan
obat-obatan, karena itu makanan merupakan satu-satunya sumber energi bagi
manusi. Sebaliknya makanan juga dapat menjadi media penyebaran penyakit.
Dengan demikian penanganan makanan harus mendapat perhatian yang cukup.
Untuk itu, produksi dan peredaran makanan di Indonesia telah diatur dalam
Peraturan Menteri Kesehatan No. 329/MenKes/XII/1976 Bab II pasal 2 peraturan
ini menyebutkan bahwa makanan yang diproduksi dan diedarkan di wilayah
Indonesia harus memenuhi syarat-syarat keselamatan, kesehatan, standar mutu,
atau persyaratan yang ditetapkan oleh menteri untuk tiap jenis makanan (Susanna,
2003).
143)

Makanan yang dikonsumsi hendaknya memenuhi kriteria bahwa

makanan tersebut layak untuk dimakan dan tidak menimbulkan penyakit,


diantaranya (Prabu, 2008) :
1. Berada dalam derajat kematangan yang dikehendaki.
2. Bebas dari pencemaran di setiap tahap produksi dan penanganan selanjutnya.
3. Bebas dari perubahan fisik, kimia yang tidak dikehendaki, sebagai akibat dari
pengaruh enzym, aktifitas mikroba, hewan pengerat, serangga, parasit dan
kerusakan-kerusakan karena tekanan, pemasakan dan pengeringan.
4. Bebas dari mikroorganisme dan parasit yang menimbulkan penyakit yang
dihantarkan oleh makanan (food borne illness).
144)

Makanan juga bukan saja bermanfaat bagi manusia, tetapi

makanan juga sangat baik untuk pertumbuhan mikroba yang patogen. Oleh
karena itu, perlu dijaga sanitasi makanan bagi mendapatkan keuntungan
maksimum dari makanan (Slamet, 2007).
145)

Menurut Mukono (2004), sanitasi adalah upaya kesehatan

dengan cara memelihara dan melindungi kebersihan lingkungan, misalnya

62

penyediaan tempat sampah agar sampah tidak dibuang sebarangan.


Sanitasi makanan pula adalah upaya untuk menjamin kualitas makanan
dalam mencegah kontaminasi dan penyakit bawaan makanan (Smith,
2008).
146)

Menurut Mukono (2004) lagi, pengelolaan makanan yang

higienis ditentukan oleh beberapa faktor, antara lain:


a. Faktor lingkungan
1. Bangunan dan lokasi
2. Peralatan dan perabotan kerja untuk proses pengelolaan
3. Fasilitas sanitasi
b. Faktor manusia
1. Keadaan fisik tubuh dan pakaian yang dipakai
2. Pengetahuan yang dimiliki
3. Sikap atau pandangan hidup
4. Perilaku atau tindakan yang biasa
c. Faktor makanan
1. Pemilihan bahan makanan
2. Pengelolaan makanan
3. Penyimpanan makanan jadi
4. Pengangkutan makanan
5. Penyajian makanan
147)
148)

Prinsip Sanitasi Makanan


Sanitasi makanan dapat ditingkatkan melalui sejumlah

tindakan umum. Tindakan umum yang terpenting dirumuskan oleh World


Health Organization (WHO, 2004) sebagai kumpulan lima langkah dalam
pengelolaan sanitasi makanan yaitu:
1. Penggunaan bahan makanan mentah dan sumber air yang bersih.
149)

Konsumen perlu mengetahui produk bahan mentah apa

yang mempunyai resiko yang tinggi dalam menyebabkan penyakit bawaan


makanan. Contoh bahan mentah adalah seperti ikan, daging dan telur mentah.
Makanan ini perlulah dipilih dengan berhati-hati. Bahan makanan mentah ini

63

bisa dinilai samada masih bisa digunakan atau tidak dengan cara melihat
warna dan bau (WHO, 2004) .
150)

Daging mudah sekali rusak karena mikroba. Kerusakan

pada daging dapat dikenal karena tanda-tanda seperti adanya perubahan bau
menjadi tengik atau bau busuk, terbentuknya lendir, adanya perubahan warna
dan adanya perubahan rasa menjadi asam. Di samping daging, ikan juga
mudah sekali rusak karena serangan mikroba. Tanda-tanda kerusakan ikan
karena mikroba adalah seperti adanya bau busuk karena gas amonia, sulfida
atau senyawa busuk lainnya, terbentuknya lendir pada permukaan ikan,
adanya perubahan warna, yaitu kulit dan daging ikan menjadi kusam atau
pucat dan adanya perubahan daging ikan menjadi tidak kenyal lagi (BPOM,
2002).
151)

Warna tidak bisa dijadikan patokan dalam menentukan

apakah bahan makanan mentah itu masih bisa digunakan atau tidak. Seeloknya
dilihat dari tempoh berlaku suatu produk makanan itu. Jika tidak dapat menilai
dengan benar dan masih diragui samada bahan makanan mentah ini masih bisa
digunakan atau tidak, seeloknya bahan makanan ini dibuang bagi menghindar
dari terjadinya kontaminasi. Sumber air yang baik juga mempengaruhi sanitasi
suatu makanan. Oleh itu, Sebaiknya air yang bersih digunakan sepanjang
pengelolaan makanan (WHO, 2004).
2. Penjagaan makanan supaya sentiasa bersih.
152)

Konsumen sebaiknya mempraktikkan perilaku mencuci

tangan dengan sabun dan air terutama sebelum dan selepas mengelola
makanan, sebelum dan selepas makan, dan juga sebelum dan selepas ke kamar
mandi. Alat yang digunakan untuk memasak dan juga pengelolaan makanan
sebaiknya dicuci juga bagi mengelakkan pertumbuhan mikroorganisme yang
suka berkembang biak pada suhu kamar dan di tempat yang lembab (WHO,
2004).
3. Pengasingan makanan yang mentah dan yang sudah dimasak.
153)

Alat yang digunakan untuk mengendalikan bahan makanan mentah

juga sebaiknya diasingkan dari alat yang digunakan pada bahan makanan yang

64

siap. Tujuan pengasingan ini adalah bagi mengelakkan makanan mentah yang
terkontaminasi dari menular ke bahan makanan yang sudah siap dimasak
(WHO, 2004) .
4. Memasak dengan sempurna.
154)

Memasak pada suhu dan jangka waktu yang betul bisa membunuh

mikroorganisme yang terdapat pada suatu bahan makanan mentah. Jangka


waktu dan suhu yang betul bervariasi tergantung pada tipe makanan (WHO,
2004).
5. Penyimpanan makanan di tempat yang selamat.
155)

Mikroorganisme biasanya berkembang biak dengan cepat pada

suhu 40F-140F. Suhu yang dingin hanya bisa melambatkan pertumbuhan


mikroorganisme tapi tidak bisa membunuhnya. Maka dengan penyimpanan
yang betul bisa mengurangkan resiko berlakunya penyakit bawaan
makanan(WHO, 2004) .
156)

Meskipun Five Keys to Safer Food diterapkan dengan

seimbang dalam seluruh aktivitas penyiapan makanan, usaha katering


berskala besar merupakan pekerjaan yang lebih rumit dibandingkan
dengan penyiapan makanan langsung untuk konsumsi keluarga dan
memerlukan lebih banyak aturan yang rinci. Kegiatan ini mencakup
penyiapan makanan dalam jumlah besar untuk lebih banyak orang,
terutama dengan menggunakan pekerja yang dibayar, dengan ruangan dan
perlatan yang khusus (Adams dan Motarjemi, 2004).
157)

Usaha ini menjadi penting karena semakin banyak orang

yang mengkonsumsi makanan yang disiapkan diluar rumah, di tempat


kerja, di rumah sakit, tempat pendidikan,atau di pertemuan sosial dan lainlain. Jika praktik higienis yang baik tidak berhasil dilakukan, konsekuensi
yang terjadi jauh lebih serius dalam jumlah orang yang terkena. Aturanaturan praktik higienis yang baik dalam penyiapan makanan berkaitan
terutama dengan tiga area yang berbeda (Adams dan Motarjemi, 2004):
1. Faktor-faktor fisik: bangunan dan peralatan

65

158)

Syarat pertama adalah bahwa lingkungan kerja harus

memiliki pencahayaan yang baik, ventilasi yang baik dan rapi karena ini akan
mendorong praktik kerja yang baik dan meningkatkan keamanan makanan.
Lingkungan kerja juga harus bersih dan mudah dibersihkan (Adams dan
Motarjemi, 2004).
159)

Syarat kedua pula adalah peralatan yang digunakan

haruslah dibersihkan sebelum dan selepas penggunaan. Sebagai contoh kain


lap. Lap yang digunakan untuk membersihkan dapat dengan cepat
mengandung sejumlah besar populasi mikroorganisme. Maka lap itu harus
selalu diganti setiap hari dan direbus sebelum digunakan kembali. Sama
halnya dengan peralatan masak, yang harus tepat penggunaannya, dipelihara
dengan baik, dan diperiksa dengan teratur untuk memastikan bahwa alat
tersebut berfungsi dengan baik (Adams dan Motarjemi, 2004).
2. Faktor-faktor operasional: penanganan makanan secara higienis
160)
berkaitan

Sebahagian besar penanganan makanan secara higienis


dengan

pengaturan

suhu

yang

tepat

untuk

mengontrol

mikroorganisme, menghindari suhu yang memungkinkan pertumbuhan


mikroba, jika perlu, memastikan bahwa suhu cukup tinggi untuk membunuh
mikroorganisme (Adams dan Motarjemi, 2004).
3. Faktor-faktor personal: higiene dan pelatihan personal
161)

Penjamah makanan seringkali menjadi sumber utama

kontaminasi. Berikut beberapa praktik higienis yang perlu diikuti. Sebagai


contoh, tangan harus selalu dicuci dengan teratur memakai sabun dan air yang
bersih, tetapi khususnya sebelum mengolah makanan, setelah menggunakan
kamar mandi, dan setelah memegang bahan mentah atau sampah makanan.
Carta aturan mencuci tangan yang betul juga seharusnya ditempel di tempat
mencuci tangan agar bisa menjadi pedoman kepada penjamah makanan
tentang langkah-langkah mencuci tangan yang betul. Akan lebih mudah untuk
menjaga kebersihan tangan jika kuku jari penjamah makanan pendek dan
perhiasan makanan dilepaskan saat mengolah makanan karena kotoran dapat
tersangkut di bawahnya dan sulit dibersihkan (Adams dan Motarjemi, 2004).

66

162)

Penjamah makanan juga jangan sampai batuk ditangan

mereka atau menyentuh rambut, hidung atau mulut saat mengolah makanan
tanpa mencuci makanan setelahnya. Jika makanan harus ditangani oleh
seseorang yang kulitnya berbintik-bintik, berlesi atau lukanya terinfeksi, luka
tersebut harus ditutup dengan kain yang tahan air. Seeloknya penjamah
makanan memakai sarung tangan saat menangani makanan (Adams dan
Motarjemi, 2004).
163)

Berikut ini beberapa contoh kecil penyakit yang dapat

ditimbulkan akibat mengkonsumsi makanan yang terkontaminasi oleh


bakteri. Diantaranya yaitu :
1. Typhus abdominalis
164)
Thypus abdominalis adalah penyakit infeksi akut yang
biasa mengenai saluran pencernaan. Gejala yang biasa ditimbulkan adalah
demam yang tinggi lebih dari 1 minggu, gangguan pada saluran pencernaan,
dan gangguan kesadaran (FKUI, 1985). Demam tifoid disebabkan oleh kuman
Salmonella typhi dengan masa tunas 6 14 hari. Sedangkan typhus
abdominalis adalah penyakit infeksi akut pada usus halus yang biasanya lebih
ringan dan menunjukkan manifestasi klinis yang sama dengan enteritis akut.
Penyakit typhus abdominalis biasa dikenal dengan penyakit typhus. Namun,
dalam dunia kedokteran disebut tyfoid fever. Di Indonesia, diperkirakan angka
kejadian penyakit ini adalah 300 810 kasus per 100.000 penduduk/tahun.
Insiden tertinggi didapatkan pada anakanak. Orang dewasa sering mengalami
infeksi ringan dan sembuh sendiri lalu menjadi kebal. Insiden penderita
berumur 12 tahun keatas adalah 70 80%, penderita umur antara 12 dan 30
tahun adalah 10 20%, penderita antara 30 40 tahun adalah 5 10%, dan
hanya 5 10% diatas 40 tahun. Penyebab penyakit ini adalah Salmonella
typhi, Salmonella para typhii A, dan Salmonella para typhii B. Basil gram
negatif, bergerak dengan rambut getar, tidak berspora, mempunyai 3 macam
antigen yaitu antigen O, antigen H, dan antigen VI. Dalam serum penderita
terdapat zat (aglutinin) terhadap ketiga macam antigen tersebut. Kuman
tumbuh pada suasan aerob dan fakultatif anaerob pada suhu 15 41C

67

(optimum 37C) dan pH pertumbuhan 6 8. Masa inkubasi rata-rata 2 minggu


gejalanya: cepat lelah, malaise, anoreksia, sakit kepala, rasa tidak enak di
perut, dan nyeri seluruh badan. Demam berangsur-angsur naik selama minggu
pertama. Demam terjadi terutama pada sore dan malam hari (febris remitten).
Pada minggu 2 dan 3 demam terus menerus tinggi (febris kontinue) dan
kemudian turun berangsurangsur.
165)
Infeksi masuk melalui makanan dan minuman yang
terkontaminasi, infeksi terjadi pada saluran pencernaan. Basil di usus halus
melalui pembuluh limfe masuk ke dalam peredaran darah sampai di organorgan terutama hati dan limfa sehingga membesar dan disertai nyeri. Basil
masuk kembali ke dalam darah (bakterimia) dan menyebar ke seluruh tubuh
terutama kedalam kelenjar limfoid usus halus menimbulkan tukak berbentuk
lonjong pada mukosa usus. Tukak dapat menyebabkan perdarahan dan
perforasi usus. Jika kondisi tubuh dijaga tetap baik, akan terbentuk zat
kekebalan atau antibodi. Dalam keadaan seperti ini, kuman typhus akan mati
dan penderita berangsur-angsur sembuh.
2. Disentri
166)
Disentri merupakan peradangan pada usus besar yang
ditandai dengan sakit perut dan buang air besar yang encer secara terus
menerus (diare) yang bercampur lendir dan darah. Berdasarkan penyebabnya
disentri dapat dibedakan menjadi dua yaitu disentri amuba dan disentri
basiler. Penyebab yang paling umum yaitu adanya infeksi parasit Entamoeba
histolytica yang menyebabkan disentri amuba dan infeksi bakteri golongan
Shigella yang menjadi penyebab disentri basiler. Kuman-kuman tersebut
dapat tersebar dan menular ke orang lain melalui makanan dan air yang sudah
terkontaminasi kotoran dan juga lalat.Parasit Entamoeba hystolytica hidup
dalam usus besar, parasit tersebut mempunyai dua bentuk, yaitu bentuk yang
bergerak dan bentuk yang tidak bergerak. Parasit yang berbentuk tidak
bergerak tidak menimbulkan gejala, sedangkan bentuk yang bergerak bila
menyerang dinding usus penderita dapat menyebabkan mulas, perut kembung,
suhu tubuh meningkat, serta diare yang mengandung darah dan bercampur
lendir, namun diarenya tidak terlalu sering. Disentri basiler biasanya

68

menyerang secara tiba tiba sekitar dua hari setelah kemasukan


kuman/bakteri Shigella. Gejalanya yaitu demam, mual dan muntah-muntah,
diare dan tidak napsu makan. Bila tidak segera diatasi, dua atau tiga hari
kemudian keluar darah, lendir atau nanah dalam feses penderita. Pada disentri
basiler, penderita mengalami diare yang hebat yaitu mengeluarkan feses yang
encer hingga 20-30 kali sehari sehingga menjadi lemas, kurus dan mata
cekung karena kekurangan cairan tubuh (dehidrasi). Hal tersebut tidak bisa
dianggap remeh,

karena

bila

tidak

segera

diatasi dehidrasi

dapat

mengakibatkan kematian. Gejala lainnya yaitu perut terasa nyeri dan


mengejang. Penyakit ini umumnya lebih cepat menyerang anak-anak. Kuman
kuman masuk ke dalam organ pencernaan yang mengakibatkan
pembengkakan dan pemborokan sehingga timbul peradangan pada usus besar.
Penderita disentri harus segera mendapat perawatan, yang perlu dihindari
adalah mencegah terjadinya dehidrasi karena dapat berakibat fatal.
167)
4.3 Hasil Kegiatan
168)

Pemeriksaan Sampel Makanan secara Mikrobiologis dari Pengolahan

Tempat Makanan (TPM) di Kawasan Pelabuhan


169)
Pelaksanaan survei pengolahan tempat makanan (TPM) di kawasan
pelabuhan dilakukan di beberapa warung tempat makan Terminal Penumpang
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada Tanggal 24 Juni 2016.
170)
Beberapa sampel makanan yang terdapat di Tempat Pengolahan
Makanan (TPM) Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
selanjutnya dilakukan pemeriksaan di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi
Jawa Tengah.
171)
Selain melakukan pemeriksaan pada jenis makanan yang dijual,
para petugas KKP bersama mahasiswa magang juga melakukan inspeksi terkait
kondisi, fasilitas, dan tempat penjualan makanan.
172)
Berikut merupakan hasil pemeriksaan secara fisik dari TPM di
wilayah pelabuhan.

69

174)
175)
176)
177)
178)
179)
180)
181)

173) 1)

N 2)

omor

empat

Sampel

Sampah
7)
B

6)
11)

1
2

182)
a
e

16)

21)

26)

31)

36)

41)

46)

51)

0
56)

1
1

k
32)

57)
62)
67)
72)
77)
82)

13)

14)

Baik

18)
23)
28)
33)
38)
43)
48)
53)
58)

19)

Baik

24)

Baik

63)
68)

29)

Baik

73)

34)

Kurang

39)

Baik

78)
83)

30)

35)

40)

idak
B

44)

Baik

49)

Baik

54)

Baik

45)

ersih
50)

ersih
55)

ersih
B

59)

Baik

64)

Baik

60)

idak
65)

ersih
B

69)

Baik

70)

ersih
B

74)

Baik

79)

Baik

75)

ersih

aik
T

T T
b
B l

idak

aik
T

25)

idak

aik
B

ersih

aik
B

20)

idak

aik
B

15)

ersih

aik
B

10)

idak

aik
B

tp
1

Baik

aik
B

k
52)

9)

aik

k + Ttp
47)

aik
B

k
42)

8)

apur

aik

k + Ttp
37)

ir Bersih ayaan

aik

k
1

5
81)

k
27)

Pencah 5)

aik
B

4
76)

k
22)

4)

aik

3
71)

k
17)

aik
B

k
1

2
66)

12)

1
61)

3)

80)

ersih
B

84)

Baik

85)

6
tp
aik
ersih
4.1 Hasil Pemeriksaan TPM Pelabuhan Tanjung Emas secara fisik

70

183)

Dari Tabel diatas menunjukkan bahwa 12 TPM (75%)

menggunakan tempat sampah terbuka, 2 TPM (13%) menggunakan tempat


sampah tertutup dan 2 TPM (12%) menggunakan tempat sampah terbuka
dan tertutup. Untuk Kondisi dapur, 10 TPM (63%) mempunyai dapur yang
baik dan 6 TPM (37%) mempunyai dapur yang tidak baik. Serta untuk
pencahayaan, sebanyak 15 TPM (94%) mempunyai pencahayaan yang
baik.
184)

Berdasarkan hasil pemeriksaan TPM secara fisik, dapat

disimpulkan bahwa higienitas TPM belum maksimum. Hal ini disebabkan


masih banyak penjual makanan yang menggunakan tempat sampah yang
terbuka dan kurang dijaganya kebersihan dapur yang mereka gunakan. Hal
ini dapat menyebabkan mudahnya mikrobiologi masuk ke dalam makanan
yang dijual.
185)

Berikut merupakan hasil pemeriksaan secara mikrobiologis

yang dilakukan di Balai Laboratorium Kesehatan Provinsi Jawa Tengah.


186)

omor
Sampel
191)

196)

187)

Staphylo

206)

Sal

.coli

192)

Negatif

193)

N 194)

Neg

197)

Negatif

egatif
atif
198) N 199)

Neg

egatif

202)
3

E 189)

coccus sp.

201)

188)

Negatif

203)
ositif

207)

Negatif

208)
egatif

monella

atif

ibrio
cholera
195) N
200)
Nega

Neg

atif

N 209)

egatif

atif

P 204)

190)

205)
Nega

Neg

210)
Nega

71

212)
211)

223)
ositif

Negatif

228)
egatif

Negatif

233)
egatif

237)
236)

Negatif

232)
231)

218)
egatif

227)
226)

Negatif

222)
221)

213)
egatif

217)
216)

Negatif

Negatif

238)
egatif

N 214)

Neg

atif

N 219)

Nega

Neg

atif

P 224)

Neg

Neg

230)
Nega

Neg

atif

N 239)

225)
Nega

atif

N 234)

220)
Nega

atif

N 229)

215)

235)
Nega

Neg

atif

240)
Nega

0
242)
241)

Negatif

243)
egatif

N 244)

Neg

atif

245)
Nega

1
247)
246)

Positif

248)
egatif

N 249)

Neg

atif

250)
Nega

2
251)

252)

Negatif

253)

N 254)

Neg

255)

72

egatif

atif

Nega

3
257)
256)

Negatif

258)
egatif

N 259)

Neg

atif

260)
Nega

4
262)
261)

Negatif

263)
egatif

N 264)

Neg

atif

265)
Nega

5
267)
266)

Negatif

268)
egatif

N 269)

Neg

atif

270)
Nega

6
271)

Tabel 4.2 Hasil Pemeriksaan Sampel Makanan secara Mikrobiologis


272)

Berdasarkan Tabel diatas didapatkan bahwa untuk sampel

makanan yang mengandung bakteri jenis Staphylococcus sp. Sebanyak 1


sampel dan 15 negatif. Serta untuk sampel makanan yang mengandung
bakteri E.Coli sebanyak 2 Sampel. Untuk bakteri Salmonella dan Vibrio
Cholera tidak ditemukan dalam sampel makanan.
273)

Dari hasil diatas, dapat disimpulkan bahwa higienitas TPM

di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang belum sepenuhnya baik. Karena


setelah dilakukan hasil pemeriksaan laboratorium secara mikrobiologis
masih ditemukan makanan yang mengadung bakteri Staphylococcus sp.
dan E. coli. Hal ini disebabkan kurang terjaganya kebersihan para penjual
makanan pada saat melakukan pengolahan dan penyajian makanan. Dalam
penyajian makanan juga masih banyak ditemukan makanan yang dibiarkan
terbuka sehingga memudahkan vektor dan bakteri untuk

melakukan

kontak dengan makanan. Untuk mengatasi hal tersebut maka petugas KKP
Semarang,

diharapkan

untuk

memberikan

penyuluhan

mengenai

pengolahan dan penyajian makanan, serta selalu melakukan monitoring

73

terhadap pengolahan dan penjualan makanan di TPM Pelabuhan Tanjung


Emas Semarang.
274)
275)

Pemeriksaan

Sampel Makanan secara Kimiawi dari Pengolahan

Tempat Makanan (TPM) di Kawasan Pelabuhan


276)
Pelaksanaan survei pengolahan tempat makanan (TPM) di kawasan
pelabuhan dilakukan di beberapa warung tempat makan Terminal Penumpang
Pelabuhan Tanjung Emas Semarang pada Tanggal 30 Juni 2016.
277)
Beberapa sampel makanan yang terdapat di Tempat Pengolahan
Makanan (TPM) Terminal Penumpang Pelabuhan Tanjung Emas Semarang
selanjutnya dilakukan pemeriksaan oleh petugas KKP dengan menggunakan
tester kit.Berikut merupakan hasil pemeriksaan secara kimiawi.
278)

Tabel 4.3 Hasil Pemeriksaan Sampel Makanan secara Kimiawi


279)86)

Nomor

280)Sampel
arkan

87)

oraks

88)

Metanil 89)

Yellow

91)

92)

94)

95)

96)

Negatif

98)

99)

100) Negatif

106) 5
110) 6
114) 7
118) 8
122) 9

103) 107) N

egatif
111) 115) N

egatif
119) N

egatif
123) N

egatif

Berdas

malin

90)

102) 4

For

104) Negatif
108) Negatif
112) Negatif
116) 120) Negatif
124) -

126) 10

127) -

128) -

130) 11
134) 12
138) 13

131) 135) 139) -

132) Negatif
136) Negatif
140) Negatif

93)

Neg

hasil

atif
97)
101) Neg

atif
105) 109) Neg

atif
113) 117) Neg

atif
121) 125) Neg

atif
129) Neg

atif
133) 137) 141) -

pemeriksaan TPM secara kimiawi tidak ditemukan makanan yang mengandung

74

bahan berbahaya seperti boraks, metanil yellow, dan formalin. Sehingga, dapat
disimpulkan bahwa makanan yang beredar di TPM Pelabuhan Tanjung Emas
Semarang tergolong aman untuk di konsumsi. Namun perlu di waspadai karena
masih ditemukan makanan yang dijajakan dalam keadaan yang melewati batas
tanggal kadaluarsa.
281)
4.4

Analisis Output Kegiatan Uji Sampel Makanan


282)

Hasil dari uji sampel makanan secara mikrobiologi, kimia

dan juga fisik apabila ditemukan hasil positif maka akan diberikan
tindakan lanjut. Untuk Tempat Pengelola sampel makanan yang ditemukan
bakteri E.Coli sebanyak 2 maka diberikan tindak lanjut dari pihak KKP
dengan pembinaan dan penyuluhan kepada TPM yang bersangkutan.
283)
Secara keseluruhan, dengan diadakannya kegiatan survei
uji sampel makanan maka berpengaruh besar dalam upaya pencegahan
dan penularan penyakit infeksi menular melalui makanan (food borne
disease). Sebagaimana, pelabuhan merupakan tempat publik dengan
mobilitas tinggi bagi setiap pihak yang beraktivitas di dalamnya, sehingga
risiko untuk transmisi penyakit terutama penyakit menular tersebut lebih
rentan terjadi antara host satu ke host lainnya.
4.5

Rekomendasi Kegiatan
284)

Kegiatan uji sampel makanan secara mikrobiologi, kimia dan fisik

yang telah dilaksanakan dengan melibatkan seluruh mahasiswa magang, secara


keseluruhan telah memberikan impact yang sangat penting dan baik bagi masingmasing mahasiswa. Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa telah diberikan
kesempatan untuk turut terlibat melakukan bagaimana proses pengambilan sampel
hinggan uji RDT pemeriksaan fisik dan kimia. Adapun beberapa rekomendasi
sebagai wujud feedback dan kontribusi penulis sebagai mahasiswi praktik magang
terkait pengamatan kegiatan pemeriksaan sampel makanan tersebut adalah sebagai
berikut.
1. Pengambilan Sampel Makanan

75

a. Dikarenakan bertepatan dengan bulan Suci Ramadhan, sebagian besar


Tempat pengolahan makanan tutup sehingga sedikit sampel yang
didapatkan.
b. Ketidak ditemukan makanan yang telah melewati batas kadarluarsanya
hendaknya makanan dikumpulkan, agar tidak dijual belikan lagi oleh
penjual.
2. Uji Sampel Makanan
a. Untuk pemeriksaan Kimiawi, Hendaknya dilakukan di Laboratorium
yang sesuai dengan standar juga peralatan yang digunakan tidak
seadanya.
b. Untuk Pemeriksaan Secara Kimiawi hendaknya perlu pemeriksaan di
laboratorium selain menggunakan tester kit.
285)

Pada akhirnya, kegiatan pengambilan sampel makanan tersebut

diharapkan mampu meningkatkan fungsi surveilans epidemiologi KKP Kelas


II Semarang pada

pengelola makanan sebagai sasaran utama. Dengan

demikian, tugas utama KKP dalam rangka cegah tangkal penyakit menular
dapat diterapkan terutama di tempat pengelola makanan setempat yang berada
di wilayah kerja KKP. Hal tersebut, dilakukan agar senantiasa menjaga dan
meningkatkan derajat kesehatan masyarakat Indonesia dari penyebaran
berbagai macam penyakit. Selain itu pula perlu dilakukan tindak lanjut untuk
TPM yang positif mengandung bakteri Staphylococcus sp. Ataupun E.Coli
dan juga TPM yang lainnya. Pengawasan yang berkala bukan hanya
menjelang Hari Raya Idul Fitri juga Natal perlu dilakukan untuk mencegah
terjadinya dampak yang dapat merugikan konsumen.
286)
287)
288)
289)
290)
291)
292)
293)
294) BAB 5
295) PENUTUP

76

296)
5.1 Simpulan
297)
Berdasarkan kegiatan magang yang telah dilakukan di Kantor
Kesehatan Pelabuhan Kelas II Semarang, maka kesimpulannya adalah
sebagai berikut :
1. Kantor Kesehatan Kelas II Semarang terdiri atas tiga seksi, yaitu Seksi
Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL), Pengendalian Karantina dan
Surveilans Epidemiologi (PKSE), dan Upaya Kesehatan dan Lintas
Wilayah (UKLW), selain itu juga terdapat satu Sub Bagian Tata Usaha
(TU).
2. Kegiatan yang dilakukan selama magang di seksi PRL, antara lain
inspeksi sampel makanan secara mikrobiologis dan kimiawi dari TPM
di kawasan pelabuhan, inspeksi kualitas sampel air di kapal dan
pelabuhan, survey lalat, serta trapping dan identifikasi tikus.
3. Kegiatan yang dilakukan selama magang di seksi PKSE, antara lain
boarding kapal baik dari dalam dan luar negeri, screening malaria pada
ABK dan penumpang kapal, serta screening narkoba pada ABK.
4. Kegiatan yang dilakukan selama magang di seksi UKLW, antara lain
layanan vaksinasi dan menginput pelayanan vaksin ke program
Simkespel dan SiPerKaSa.
5. Dari pemeriksaan sampel makanan secara mikrobiologis didapatkan
bahwa untuk sampel makanan yang mengandung bakteri jenis
Staphylococcus sp. Sebanyak 1 sampel serta untuk sampel makanan
yang

mengandung

bakteri

E.Coli

sebanyak

Sampel

yang

menunjukkan higienitas TPM di Pelabuhan Tanjung Emas Semarang


belum sepenuhnya baik.
6. Dari pemeriksaan sampel makanan secara kimiawi didapatkan bahwa
tidak ditemukan makanan yang mengandung bahan berbahaya seperti
boraks, metanil yellow, dan formalin. Sehingga makanan yang beredar
di TPM Pelabuhan Tanjung Emas Semarang tergolong aman untuk di

77

konsumsi. Namun perlu di waspadai karena masih ditemukan makanan


yang dijajakan dalam keadaan yang melewati batas tanggal kadaluarsa.
7. Dari pemeriksaan fisik pada tempat pengolahan makanan diperoleh
hasil untuk 12 TPM (75%) menggunakan tempat sampah terbuka, 2
TPM (13%) menggunakan tempat sampah tertutup dan 2 TPM (12%)
menggunakan tempat sampah terbuka dan tertutup. Untuk Kondisi
dapur, 10 TPM (63%) mempunyai dapur yang baik dan 6 TPM (37%)
mempunyai dapur yang tidak baik. Serta untuk pencahayaan, sebanyak
15 TPM (94%) mempunyai pencahayaan yang baik. Hal tersebut
menunjukkan bahwa higienitas TPM belum maksimum karena dapat
menyebabkan mudahnya mikrobiologi masuk ke dalam makanan yang
dijual.
298)
5.2 Saran
299) Adapun saran yang dapat diberikan penulis guna meningkatkan
kualitas pelayanan dan kinerja pegawai di Kantor Kesehatan Pelabuhan
Kelas II Semarang maupun perbaikan kualitas sistem akademik di Fakultas
Kesehatan Masyarakat Universitas Diponegoro adalah sebagai berikut.
1. Bagi Kantor Kesehatan Pelabuhan (KKP) Kelas II Semarang
1) Seksi Pengendalian Risiko Lingkungan (PRL)
a. Pada kegiatan magang di seksi PRL, khususnya kegiatan
lapangan, sebaiknya melibatkan mahasiswa pada beberapa
kegiatan lain yang belum sempat dilakukan seperti trapping,
survei jentik nyamuk, survei nyamuk, fogging, dan lainnya.
b. Arsip, data, dan dokumentasi seluruh kegiatan PRL sebaiknya
disusun dengan sistematis agar memudahkan pencarian dan
penemuan data-data penting ketika dibutuhkan dalam kondisi
darurat.
2) Seksi Pengendalian Karantina dan Surveilans Epidemiologi (PKSE)

78

a. Pada petugas KKP yang sedang piket di Kantor Pelabuhan


TanjungEmas, sebaiknya memperhatikan kondisi keamanan
kantor ketika akan melakukan inspeksi kapal ataupun saat akan
boarding kapal agar tidak meninggalkan kantor dalam keadaan
kosong. Hal yang dikhawatirkan adalah ketika ada pihak agen
kapal yang akan melakukan clearance ataupun pihak lain yang
memiliki kepentingan di saat tersebut, namun petugas KKP tidak
berada di tempat. Oleh karena itu, adanya manajemen
pembagian

petugas

piket

pelabuhan

yang

baik

dapat

meminimalisasi tindak kejahatan dari berbagai pihak. .


b. Terkait fokus pada kegiatan Perlu dilakukan tindak lanjut untuk
TPM yang positif mengandung bakteri Staphylococcus sp.
Ataupun E.Coli dan juga TPM yang lainnya. Pengawasan yang
berkala bukan hanya menjelang Hari Raya Idul Fitri juga Natal
perlu dilakukan untuk mencegah terjadinya dampak yang dapat
merugikan konsumen. Untuk makanan yang telah melewati
batas kadarluarsanya hendaknya disita, agar tidak dijual belikan
lagi oleh penjual. Untuk pemeriksaan Kimiawi, Hendaknya
dilakukan di Laboratorium yang sesuai dengan standar juga
peralatan yang digunakan tidak seadanya. Untuk Pemeriksaan
Secara Kimiawi hendaknya perlu pemeriksaan di laboratorium
selain menggunakan tester kit.
3) Seksi Upaya Kesehatan dan Lintas Wilayah (UKLW)
a. Khusus bagian layanan vaksinasi, sebaiknya di bagian informasi
terdapat petugas yang selalu standby agar pasien yang hendak
melakukan vaksinasi tidak bingung dan dapat memahami
prosedur vaksinasi dengan baik.
b. Memperbaiki atau mengganti fasilitas peralatan medis yang
rusak. Salah satunya seperti memperbaiki neraca berat

79

badanagar tetap dapat digunakan dengan baik oleh pasien


umum.
c. Survei kepuasan pasien yang diberikan hendaknya dilakukan
ketika pasien telah selesai melewati semua prosedur pelayanan
vaksin sehingga pasien dapat menilai kinerja pelayanan secara
keseluruhan.
4) Sub Bagian Tata Usaha (TU)
a. Meningkatkan manajemen diklat seperti alokasi pembagian
waktu yang tepat bagi para mahasiswa praktik magang.
b. Meningkatkan

sistem

penyusunan

data-data

maupun

dokumentasi secara lebih rapi dan sistematis, agar ketika


dibutuhkan dapat memudahkan pencarian
2. Bagi Fakultas Kesehatan Masyarakat
1) Hendaknya diadakan supervisi pada awal dan akhir kegiatan magang
sehingga dapat menjalin kerjasama lebih dengan instansi terkait
sehingga dapat mengetahui potensi dan kelemahan mahasiswa untuk
meningkatkan kualitas mahasiswa.
2) Pentingnya pembinaan dan pembekalan magang secara lebih
intenship agar mahasiswa yang nantinya akan diterjunkan di instansi
magang benar-benar memahami dan mengaplikasikan bekal magang
secara berkualitas.
300)
301)
302)
303)

DAFTAR PUSTAKA
304)
305)
306)
307) Adams dan Y. Motarjemi, 2003. Dasar-Dasar keamanan makanan untuk
petugas kesehatan. Jakarta : buku kedokteran.

80

308) Adams, M., dan Motarjemi, Y., 2004. Dasar-Dasar Keamanan Makanan
Untuk Petugas Kesehatan. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC.
309)

Anggraini. 2010. Stop Demam Berdarah Dengue: Bogor: CV. Cita Insan
Madani

310) BPOM RI. 2008. Info POM Badan Pengawas Obat dan Makanan. Jakarta:
Badan POM RI. vol. 9(2):1.
311) BPOM RI. 2009. Penetapan Batas Maksimum Cemaran Mikroba Dan
Kimia Dalam Makanan. Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan
Makanan Republik Indonesia Nomor HK.00.06.1.52.4011. Jakarta: BPOM.
312)
313)

Chandra, B. 2005. Pengantar Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC


Christopher A.P, 2009. Optimalisasi Kegiatan Pemeriksaan jentik Berkala
di Wilayah Kerja Pelabuhan Kampung Dalam- Pekanbaru. Fakultas

314)

Kedokteran Universitas Riau


Depkes RI. 2000. Pengenalan Pestisida. Jakarta: Departemen Kesehatan

315)

RI
Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan
Departemen

Kesehatan

RI,

2008.

Panduan

Petugas

Kesehatan

316)

Internasional Health Regulations (IHR) 2005


Dirjen P2PL. 2012. Profil Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

317)

Lingkungan Tahun 2012. Jakarta: Kemenkes RI


Ditjen P2PL. 2009. Analisis Kecenderungan Perilaku Berisiko Terhadap
HIV di Indonesia-Laporan Survei Terpadu Biologis dan Perilaku Tahun
2007. Jakarta: Direktorat Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan

318)

Lingkungan DepKes RI
Ditjen P2PL. 2011. Pedoman Nasional Penanganan IMS 2011. Jakarta:

319)

Kemenkes RI
Kepmenkes.2007. Pedoman Penyelenggaraan Karantina Kesehatan di
Kantor Kesehatan Pelabuhan. Diakses pada tanggal 26 Juli 2016 melalui
http://peraturan.bkpm.go.id/jdih/userfiles/batang/KEPMENKES_425_200
7.pdf

320) Mukono, H.J., 2004. Higiene dan Sanitasi Hotel dan Restoran. Surabaya:
Airlangga University Press.
321) Mulia RM., 2005. Kesehatan Lingkungan. Graha Ilmu. Yogyakarta.

81

322)

Okumu, F O et al,. 2007. Larvacidal Effect of a Neem (Azadirachta


indica) Oil Formulation on the Malaria Vector Anopheles Gambiae.

323)

Malaria Journal
Permenkes. 2011. Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia

324)

Nomor 2348/MENKES/PER/XI/2011. Jakarta: Permenkes RI


Permenkes.2011. ORGANISASI DAN TATA KERJA
KESEHATAN

PELABUHAN.

[Online].

KANTOR

Tersedia

http://pppl.depkes.go.id/_asset/_regulasi/Permenkes_No._2348.pdf

(28

Juli 2016, 08:58)


325) Prabu. 2008. Higiene dan Sanitasi Makanan. http//gmpg.org. Jakarta .
Diakses tanggal 13 Desember 2012
326)

Siswanto, H. 2003. Kesehatan Lingkungan. Jakarta: EGC

327) Slamet, J.S., 2007. Kesehatan Lingkungan.Cetakan ketujuh. Yogyakarta:


Gajah Mada University Press
328)
Smith,
S.,
2008.

Food

Safety.

California.

Available

from:http://www.umm.edu/ency/article/002434.htm. [Accessed 5 Sept 2016]


329) Susanna, Dewi dan Budi Hartono. 2003. Pemantauan Kualitas Makanan
Ketoprak dan Gado - Gado di Lingkungan Kampus UI Depok Melalui
Pemeriksaan Bakteriologis. Makara Seri Kesehatan
330) World Health Organization (WHO), 2006. Penyakit Bawaan Makanan
Fokus Pendidikan Kesehatan. Cetakan Pertama. Jakarta: Penerbit Buku
Kedokteran EGC
331)