Anda di halaman 1dari 25

METODE PENENTUAN POTENSIAL

Persoalan listrik statis dapat diselesaikan secara sederhana menggunakan integral sebaran
muatan baik dalam menentukan potensial ataupun medan listrknya. Jika sebaran muatan tidak
diketahui maka akan menyulitkan dalam menyelesaikan persoalan listrik statis. Misalnya saja
persoalan listrik statis pada penghantar yang sebaran muatannya tidak diketahui, maka harus
diketahui potensial untuk mencari medannya atau sebaliknya. Misalnya sebuah lempeng
konduktor yang rapat muatannya tidak diketahui secara pasti, untuk mengetahui besar potensial
dan medan listriknya maka tidak bisa menggunakan persamaanpersamaan sederhana seperti
yang teah dibahas sebelumnya. Untuk menyiasati hal ini, maka perlu ditinjau metode lain untuk
menyelesaikan persoalan listrik statis tanpa melibatkan variabel sebaran muatan. Motode yang
dimaksud adalah dengan menerapkan persamaan poisson, persamaan lapalace, syarat batas,
metode bayangan, dan sparasi variabel.
Sebelum lebih mempelajari persamaan poisson dan laplace ada beberapa hal penting
yang harus diketahui berkaitan dengan operator matematis yang akan digunakan. Operator
⃗ ) atau sering disebut differential partial yang merupakan sebuah vektor.
tersebut adalah nabla (∇
Karena merupakan vektor, operator nabla berbeda menurut koordinat yang digunakan.
Menurut Boas, M. L. (2006)
1. Operator nabla untuk koordinat kartesian:
⃗∇= 𝑖̂ 𝜕 + 𝑗̂ 𝜕 + 𝑘̂ 𝜕 (1)
𝜕𝑥 𝜕𝑦 𝜕𝑧

Dan operator laplasiannya:


𝜕2 𝜕2 𝜕2
∇2 = 𝜕𝑥 2 + 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2 (2)

2. Operator nabla untuk koordinat silinder:


⃗ = 𝜌̂ 𝜕 + 𝜑̂ 1 𝜕 + 𝑧̂ 𝜕
∇ (3)
𝜕𝜌 𝜌 𝜕𝜑 𝜕𝑧

Dan operator lapasiannya:


1 𝜕 𝜕 1 𝜕2 𝜕2
∇2 = 𝜌 𝜕𝜌 (𝜌 𝜕𝜌) + 𝜌2 𝜕𝜑2 + 𝜕𝑧 2 (4)

3. Operator nabla untuk koordinat bola:


⃗∇= 𝑟̂ 𝜕 + 𝜃̂ 1 𝜕 + 𝜑̂ 1 𝜕 (5)
𝜕𝑟 𝑟 𝜕𝜃 𝑟𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜑

Dan operator laplasiannya:


1 𝜕 𝜕 1 𝜕 𝜕 1 𝜕2
∇2 = 𝑟 𝜕𝑟 (𝑟 𝜕𝑟) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 (𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃) + 𝑟 2 sin2 𝜃 𝜕𝜑2 (6)

1
Selain operator-operator tersebut hal yang akan menunjang pengetahuan tentang
persamaan laplace dan poisson hukum gauss dalam bentuk differensial yang telah dipelajari
sebelumnya. Menurut Suyoso (2003), berikut hukum gauss secara differensial
Hukum Gauss dalam bentuk differensial untuk muatan di dalam luasan gauss
⃗∇𝐸⃗ = 𝜌 (7)
𝜀 0

Hukum Gauss dalam bentuk differensial untuk muatan di luar luasan gauss atau rapat
muatannya nol
⃗∇𝐸⃗ = 0 (8)
1. Persamaan Poisson
Persamaan poisson adalah salah satu metode matematis yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan lisrik statis
⃗ 𝐸⃗ = 𝜌
∇ (9)
𝜀 0

Menurut Suyoso (2003), medan listrik sama dengan negatif gradien dari potensialnya
atau secara matematis dapat ditulis sebgaai berikut.

𝐸⃗ = −∇
⃗𝑉 (10)
Dengan mensubstitusi persamaan X ke persamaan X maka persamaan baru sebagai
berikut.
⃗ 𝑉) = 𝜌
⃗∇(−∇ (11)
𝜀 0
𝜌
∇2 𝑉 = − 𝜀 (12)
0

Dengan menggunakan operator laplasian maka didapatkan persamaan baru dalam 3


koordinat sebagai berikut.
a. Pada Koordinat Kartesian
𝜌
∇2 𝑉 = − 𝜀 (13)
0

𝜕2 𝜕2 𝜕2 𝜌
(𝜕𝑥 2 + 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2 ) 𝑉 = − 𝜀 (14)
0

𝜕2 𝑉 𝜕2 𝑉 𝜕2 𝑉 𝜌
+ 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2 = − 𝜀 (15)
𝜕𝑥 2 0

b. Pada Kordinat Silinder


𝜌
∇2 𝑉 = − 𝜀 (16)
0

2
1 𝜕 𝜕 1 𝜕2 𝜕2 𝜌
(𝜌 𝜕𝜌 (𝜌 𝜕𝜌) + 𝜌2 𝜕𝜑2 + 𝜕𝑧 2 ) 𝑉 = − 𝜀 (17)
0

1 𝜕 𝜕𝑉 1 𝜕2 𝑉 𝜕2 𝑉 𝜌
(𝜌 𝜕𝜌) + 𝜌2 𝜕𝜑2 + 𝜕𝑧 2 = − 𝜀 (18)
𝜌 𝜕𝜌 0

c. Pada Koordinat Bola


𝜌
∇2 𝑉 = − 𝜀 (19)
0

1 𝜕 𝜕 1 𝜕 𝜕 1 𝜕2 𝜌
(𝑟 𝜕𝑟 (𝑟 𝜕𝑟) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 (𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃) + 𝑟 2 sin2 𝜃 𝜕𝜑2 ) 𝑉 = − 𝜀 (20)
0

1 𝜕 𝜕𝑉 1 𝜕 𝜕𝑉 1 𝜕2 𝑉 𝜌
(𝑟 𝜕𝑟 ) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 (𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 ) + 𝑟 2 sin2 𝜃 𝜕𝜑2 = − 𝜀 (21)
𝑟 𝜕𝑟 0

Untuk menyelesaikan persamaan poisson maka harus ditentukan syarat batas dan
pemisahan variabel.
Contoh : bola yang dimuatui secara uniform
Muatan q didistribusikan pada seluruh bola berjari-jari R, dengan kerapatan muatan  ,
dan untuk r >R kerapatannya adalah nol
Penyelesaian:
Di dalam daerah r  R potensial mengikuti persamaan Poisson.

1 d  2 dV  
r   (21)
r 2 dr  dr  0

Untuk daerah r>R, potensial mengikuti persamaan Laplace:

1 d  2 dV 
r 0 (22)
r 2 dr  dr 

Solusi dari persamaan poison diatas adalah:

( r )    r
2
A1
  B1 ; r  R (23)
6 0 r

Dan solusi dari persamaan Lapalace adalah:

(r )  A2  B2 ; r  R (24)
r

Potensial tersebut harus memenuhi persamaan batas:

1. V r     0 ;

2. V r  0 adalah berhingga karena tidak ada muatan titik pada pusar bola;

3. dua potensial akan kontinous pada r =R; dan

3
4. muatan total dari distribusi ini adalah 4  3 R  . Syarat batas pertama mengharuskan
3

A1 = 0. Hubungan antara B1dan A2 dapat dicari dari syarat batas ketiga yaitu:

 R 2  B1 
A2 (25)
6 0 R

Dengan syarat batas ke empat dapat digunakan untuk menghitung A2. Dengan
mengambil permukaan Gauss, yang mana kulit yang jari-jarinya r >R pada pusat
distribusi muatan, memberikan:

 4R 3 
 E  ˆ
n da 
3 0
(26)

Medan listrik di luar bola dapat ditentukan dengan mengambil gradient dari potensial
yakni:

 
E  .(r )   2  B2   A2 r 2 ,
A
(27)
 r  r

Jadi:

 E nˆ da  A

2

r2
 rˆ da

= A2 rˆ
r24r 2
 4 A2 (28)

A2   R  .
3
Dengan mensubstitusikan persamaan (27) , maka diperoleh  
 3 0 

Substitusikan nilai A2 ini ke dalam persamaan (28). maka diperoleh B2   R .


2

2 
 0 
Dengan demikian potensial menjadi:

R 2  r2 
V (r )  1  2  ; r<R (29)
2 0  3R 

Atau

R 2 1
V (r )  ; r>R (30)
3 0 r

4

Persamaan  E  nˆ da  4R 
3
menyatakan bahwa potensial di dalam boal merupakan
3 0

fungsi kuadratik dari r dengan potensial pada pusat lebih besar dari pada di tepi bola.
Perlu juga ditekankan bahwa medan listrik adalah kontinu pad r = R.


Untuk r  R, E    r rˆ

 3 0


Untuk r  R. E  R rˆ , yang memberikan  R rˆ pada r = R.
3


3 0 r 2
 
 3 0 

2. Persamaan Laplace
Persamaan poisson adalah salah satu metode matematis yang digunakan untuk
memecahkan permasalahan lisrik statis
⃗ 𝐸⃗ = 0
∇ (31)
Menurut Suyoso (2003), medan listrik sama dengan negatif gradien dari potensialnya
atau secara matematis dapat ditulis sebgaai berikut.

𝐸⃗ = −∇
⃗𝑉 (32)
Dengan mensubstitusi persamaan X ke persamaan X maka persamaan baru sebagai
berikut.
⃗∇(−∇
⃗ 𝑉) = 0 (33)
∇2 𝑉 = 0 (34)
Dengan menggunakan operator laplasian maka didapatkan persamaan baru dalam 3
koordinat sebagai berikut.
a. Pada Koordinat Kartesian
∇2 𝑉 = 0 (35)
𝜕2 𝜕2 𝜕2
(𝜕𝑥 2 + 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2 ) 𝑉 = 0 (36)
𝜕2 𝑉 𝜕2 𝑉 𝜕2 𝑉
+ 𝜕𝑦 2 + 𝜕𝑧 2 = 0 (37)
𝜕𝑥 2

b. Pada Koordinat Silinder


∇2 𝑉 = 0 (38)
1 𝜕 𝜕 1 𝜕2 𝜕2
(𝜌 𝜕𝜌 (𝜌 𝜕𝜌) + 𝜌2 𝜕𝜑2 + 𝜕𝑧 2 ) 𝑉 = 0 (39)
1 𝜕 𝜕𝑉 1 𝜕2 𝑉 𝜕2 𝑉
𝜌 𝜕𝜌
(𝜌 𝜕𝜌) + 𝜌2 𝜕𝜑2 + 𝜕𝑧 2 = 0 (40)

5
c. Pada Koordinat Bola
∇2 𝑉 = 0 (41)
1 𝜕 𝜕 1 𝜕 𝜕 1 𝜕2
(𝑟 𝜕𝑟 (𝑟 𝜕𝑟) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 (𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃) + 𝑟 2 sin2 𝜃 𝜕𝜑2 ) 𝑉 = 0 (42)

1 𝜕 𝜕𝑉 1 𝜕 𝜕𝑉 1 𝜕2 𝑉
(𝑟 𝜕𝑟 ) + 𝑟 2 𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 (𝑠𝑖𝑛𝜃 𝜕𝜃 ) + 𝑟 2 sin2 𝜃 𝜕𝜑2 = 0 (43)
𝑟 𝜕𝑟

Untuk menyelesaikan persamaan poisson maka harus ditentukan syarat batas dan
pemisahan variabel.
Persamaan Laplace dalam Satu Dimensi

Dalam permasalahan simetri geometri yang sangat tinggi, dengan potensial V


merupakan fungsi variable tunggal maka persamaan laplace dalam permasalahan ini
direduksi menjadi persamaan deferensial biasa dengan solusi yang sederhana. Misalkan
saja dalam suatu system koordinat katersian, V dinyatakan hanya sebagai fungi z. dalam
bentuk persamaan dituliskan sebagai berikut.

d2V
0 (44)
dz 2

denagn solusi: V (z) = a z + b

Dimana a dan b adalah konstanta yang akan dicari dengan syarat batas. Sedangkan
didalam koordinat bola, dengan potensial hanya sebagai fungsi r, maka potensial dapat
dirumuskan sebagai berikut.

1 d  2 dV 
r  0 (45)
r 2 dr  dr 

Persamaan tersebut dikalikan dengan r2 ≠ 0 serta diintegrasikan akan memberikan:

a
V= +b (46)
r

Dengan b adalah konstanta integrasi yang lain, serta a dan b di hitung dari syarat batas
nyang diberikan.

Apabila potensial merupakan fungsi  dan tidak bergantung pada  dan z dalam
koordinat silinder dapat dirumuskan sebagai berikut.

1 d  dV  (47)
 d   d   0
 

6
Persamaan tersebut dikalikan dengan  ≠ 0 serta diintegrasikan akan diperoleh
persamaan:

dV a
 (48)
d 

Dari persamaan tersebut, jika diintegrasikan, maka akan diperoleh:

V = a ln () + b, atau

  
V = a ln   (49)
 0 

Dengan b atau 0 adalah konstanta yang lain, dengan a dapat di hitung dari syarat batas
yang diberikan.

Contoh: Menentukan potensial pada jarak  dari sumbu pada sebuah batang penghantar
yang sangat panjang dengan muatan yang sama pada permukaan dengan kerapatan .

Potensial yang muncul pada system tersebut


Z
hanya bergantung pada koordinat  dalam system
koordinat silinder. Dengan muatan pada system
yang diperluas sampai pada jarak tak hingga dengan

demikian, diharapkan V () ≠ 0. Dengan
konsekuensi harus menggunakan potensial nol pada
 P
sumbu simetri (sumbu batang). Ini dikarenakan oleh
konduktor adalah volume eksponensial dengan
seluruh volume batang tersebut memiliki potensial
20
nol.

Gambar 3. Sebuah batang


penghantar Untuk daerah li luar konduktor, haruslah 2 V = 0.
Ini karena V dan E hanya bergantung pad akoordinat
Sumber: Sujanem, R. 2007
silinder , maka bentuk persamaannya menjadi:

1 d  dV 
 d   d   0
 

7
  
Dengan solusi V = a ln   . Untuk menentukan konstanta, maka masukkan syarat
 0 
batas pada konduktor. Dengan V ( = 0) = 0. Pada permukaan konduktor dimana E =
/0, maka;

V
 0
   0

a    
  atau a    0 
0 0  0 

Dengan demikian maka diperoleh persamaan:

 0       
V ln    ln   , dengan   0
0   0  2 0   0 

dan  adalah muatan per satuan panjang dari batang tersebut.

Persamaan Laplace Dua Dimensi

Jika V tergantung dari dua variable, misalnya x dan y maka persamaan Laplace
menjadi:

(50)

Penyelesaian yang didapat akan memiliki dua sifar, yaitu:

 Nilai V ditulis (x,y) adalah rata-rata dari sekeliling titik. Jika digambarkan
lingkaran dengan jari-jari R yang terkait dengan titik (x,y), maka harga rata-rata
V pada lingkaran adalah sama dengan harga pada pusat lingkaran.

(52)

 V tidak ada lokasi maksimum atau minimal, harga ekstrem terjadi pada batas. Jika
V maksimum di P, makadapat digambarkan suatu bola yang mengelilingi P yang
semua harga dari V akan lebih kecil daripada harga V di P.

Persamaan Laplace Tiga Dimensi

Jika V tergantung dari segitiga variable x, y, z maka persamaan Laplace seperti


persamaan.

8
(53)

Penyelesaian V yang tergantung akan memiliki dua sifat, yaitu:

 Nilai V pada titik P adalah merupakan nilai rata-rata pada permukaan bola berjari-
jari R dengan titik pusat P.

(54)

 Sebagai konsekuensi, V dapat tidak ada lokasi maksimum atau minimum


sedangkan nilai ekstrem V terjadi pada batas. Jika V maksimum di P, maka dapat
digambarkan suatu bola mengelilingi P yang semua harga dan akan lebih kecil
daripada harga V di P.

3. Syarat Batas
Hal-hal yang menjadi suatu asumsi dalam pembahasan ini adalah sebagai berikut.

a. Daerah yang menarik V, adalah muatan ruang bebas, dengan   E   2V  0
b. Syarat batas dari V, secara lengkap dispesifikasikan dengan variasi permukaan, secara
kolektif disebut S. Salah satu syarat batas dapat berkaitan dengan permukaan bola di
“tak hingga”, di mana didefisikan potensial akan bervariasi terhadap 1/r, dan medan
berubah terhadap 1/r2.
Dalam tiga dimensi, dijumpai adanya persamaan diferensial parsial, yang dalam
banyak hal tidak mudah memperoleh syarat batas yang sesuai. Oleh karenanya V akan
secara khusus (unik) ditentukan harganya pada batas dan untuk selanjutnya syarat batas
yang lain digunakan juga (Loeksmanto, 1993). Sehingga diperoleh seperangkat syarat
batas yang memenuhi solusi tersebut dan dapat dinyatakan dalam teorema keunikan
sebagai berikut
a. Teorema Keunikan Pertama
Solusi persamaan Laplace di suatu daerah, ditentukan secara khusus (unik), bila
harga V merupakan hasil dari fungsi pada semua batas dalam daerah tersebut.

9
Pembuktian:
Pada Gambar 1 ditunjukkan suatu daerah dengan perbatasannya. Batas luar dapat saja
dibuat di suatu tempat tak berhingga, yang biasanya dinyatakan potensialnya nol.

Dalam volume ini


V akan dicari

V khusus pada
permukaan batas

Gambar 2. Suatu daerah dengan perbatasannya


Sumber: Suyoso, 2003

Misalnya terdapat dua solusi dari persamaan Laplace, yaitu V1 dan V2 yang
memenuhi  2V1  0 dan  2V2  0 . Kedua solusi ini mempunyai harga tertentu di
permukaan batas dan dapat ditunjukkan bahwa V1=V2. Pembuktiannya dengan
mengambil solusi V3=V2-V1 yang memenuhi  2V3   2V1   2V2  0 . Jika V3= 0, maka
V1 = V2. Persamaan Laplace tidak memerlukan adanya maksimum dan minimum di titik
lokal, sehingga harga maksimum dan minimum keduanya dinyatakan dengan nol.
Teorema keunikan pertama adalah suatu cara untuk mencari solusi dengan ketentuan
bahwa:
1) Solusinya memenuhi persamaan Laplace
2) Solusinya mempunyai harga yang tepat di perbatasan.
Selanjutnya untuk menangani permasalahan menggunakan persamaan diferensial

Poisson  2V  . Cara penyelesaiannya sama yaitu dengan mengambil V3 = V1-V2
0
dengan V1 dan V2 sebagai solusinya. Dengan demikian berlaku:
 
 2V3   2V1   2V2   0
0 0
dan V3 merupakan solusi dari persamaan Laplace, di mana V3 = 0 pada semua perbatasan.
Kemudian diperoleh V1=V2 seperti sebelumnya. Akibat penjelasan di atas disimpulkan
bahwa potensial di suatu daerah dapat ditentukan secara khusus (unik) bila memenuhi
ketentuan berikut ini.
1) Rapat muatan diketahui di seluruh daerah

10
2) Harga V diketahui pada semua perbatasan.
b. Konduktor dan Teorema Keunikan Kedua
Suatu cara yang sederhana dalam menetapkan seperangkat syarat batas adalah
dengan memberikan harga V pada semua permukaan yang mengelilingi suatu daerah
yang menjadi perhatian. Prakteknya di laboratorium misalnya bahwa kawat konduktor
yang dihubungkan dengan baterai pada harga potensial tertentu, atau kawat dihubungkan
dengan tanah di mana sering dinyatakan mempunyai harga V = 0. Tetapi kenyataanya,
dapat saja terjadi, bahwa potensial V di batas tidak diketahui, melainkan muatan pada
berbagai permukaan konduktor diketahui harganya.

Permukaan integrasi

Q1 Q3
Q5

Q2
Q4

Batas luar  dapat dibuat menjadi tak hingga


Gambar 3. Daerah yang mengandung beberapaaa konduktor
Sumber: Suyoso, 2003

Misalkan Q1 pada konduktor ke-1, Q2 konduktor ke-2,….dst, di mana di daerah


antara beberapa konduktor tadi diketahui keadaan rapat muatan  (Gambar 3).
Untuk menyelesaikan masalah ini digunakan teorema keunikan ke dua sebagai
berikut. Di dalam daerah yang mengandung beberapa konduktor yang diantaranya berisi
pula muatan tertentu denagn kerapatan  , maka medan listri dapat ditentukan secara
unik, bila muatan total pada setiap konduktor diketahui.
Pembuktian:
 
Misalnya terdapat dua medan E1 dan E2 yang memenuhi persyaratan dan merupakan
   
solusi persamaan diferensial. Hukum Gauss   E1  dan   E 2  . Dalam bentuk
0 0
integral dengan mengambil permukaan Gauss mengelilingi setiap konduktor, maka dapat
ditulis:

11
  Q1   Q2

s1
E1  da  dan
0  2  da 
E
s1
0
(55)

dengan Si = permukaan konduktor yang ke-i.


Sama halnya untuk batas permukaan luar Sl (yang dapat pula dibuat besar sampai tak
hingga), hukum Gauss menjadi
  Qtot   Qtot
 1  da  dan
E
s1
0 0  2  da 
E
s1
(56)

  
Dengan memakai cara seperti sebelumnya, E3  E1  E2 , di mana memenuhi ketentuan.
    
  E3    E1    E2    0 untuk daerah ruang antara konduktor, maka
0 0
setiap batas permukaan S, berlaku perumusan integral:
 
 E3  da  0
s1
(57)


Untuk menetapkan apakah E3 = 0, tinjau ketentuan bahwa konduktor merupakan
benda yang ekipotensial artinya V3 adalah konstan pada setiap konduktor. Walaupun
tidak perlu bahwa potensial V3 mempunyai harga konstan yang sama untuk setiap
konduktor, dan harga V3 tidak perlu nol. Selanjutnya dengan mengunakan aturan:

    
  fA  f   A  A   f  (58)
untuk menyatakan hubungan

 
 
  V3 E3 V 3   E3  E3  V3  (59)
dengan

  E  = 0 dan E
3 3  V3 (60)
Sehingga diperoleh:

 

  V3 E3  E3  .
2
(61)
Dengan mengintegrasikan hubungan di atas antar semua daerah ruang antara konduktor,
dan menggunakan pula teorema Stokes, bentuk integralnya adalah:

 
 
   V3 E3 dv   V3 E3  da    E2  dv
2
(62)
vol A vol

Dengan s meliputi semua permukaan batas daerah ruang yang menjadi perhatian,
termasuk semua permukaan konduktor dan batas luar. Karena potensial V3 konstan untuk
setiap permukaan walaupun pada permukaan batas luar yang ukurannya tak terhingga
diambil V3 = 0, maka integral yang ke dua menjadi:

12
 
V3  E3  da    E 2  dv  0
2
(63)
vol

Kesimpulan yang diperoleh yaitu E3 = 0 yang berarti E1=E2.

4. Metode bayangan (susunan muatan yang memiliki syarat batas sama dengan bidang
yang lainnya)
Dengan mempergunakan syarat batas, bahwa diasumsikan semua muatan ada pada
permukaan konduktor, dan permasalahan elektrostatik di mana rapat muatan bukan nol
di daerah yang ditempati konduktor. Sehingga, hanya muatan titik dan muatan garis yang
akan dikaji secara detail. Dengan melihat bahwa permasalahan ini kurang baik
diperlakukan dengan nilai syarat batas yang telah dikembangkan. Permasalaahn ini dapat
dipecahkan dengan menggunakan metode bayangan. Untuk mencari solusi permasalahan
ini, maka:
1. Kesesuaian syarat batas equipotensial hanya pada permukaan konduktor.
2. Kesesuaian persamaan Laplace atau Poisson diluar atau didalam ruang
Jika muatan berkedudukan di luar permuakaan konduktor diperlukan persamaan
Laplace yang ekivalen dengan pernyataan bahwa bagian dari solusinya harus sedemikian
sehingga sesuai dengan muatan di dalam ruang.
Muatan titik dan Bidang
Dengan mengilustrasikan muatan titik dan mengganggap sebuah muatan q pada
jarak z di atas sebuah bidang pelat konduktor yang sangat luas (seperti pada gambar 4).
Bila bidang tersebut dihubungkan dengan bumi, maka potensialnya nol. Maka dari itu
dapat dicari potensial dan medan listrik di dalam ruang yang berisi q. Pada gambar
tersebut adalah daerah dari ruang z ≥ 0. Dengan menempatkan sementara muatan q di
bawah titik asal dari permukaan konduktor.

13
Konduktor

r + zz’ r -zz’

-q z’ 0 z’ q z

Gambar 5. muatan q pada jarak z di atas sebuah bidang pelat konduktor


Sumber: Suyoso, 2003

Untuk mengkaji hal ini, maka jelaslah bahwa sistem koordinat silinder yang akan
digunakan karena simestri terhadap sumbu z. Dengan menggambil z = 0 pada permukaan
konduktor, kemudian jumlah potensial yang disebabkan oleh q dan muatan bayangan –q
yang terletak z’ di bawah bidang z = 0. Maka dari itu, potensial dan medan listrik untuk
z ≥ 0 adalah sederhana terhadap dua muatan titik q dan –q yang terpisah pada jarak 2z’.
Sehingga solusinya adalah:
 
1  q q 
V r     , untuk z ≥ 0 . (64)
4 0  ^ ^

r  z' z r  z' z
 

Dalam koordinat silinde r, r     z ' z , dan r  z ' z   2  z  z '  . Medan


^ ^ ^ 2

listrik dapat diperoleh dari pernyataan E r   V r  atau secara langsung dari hukum
coulumb untuk dua muatan titik (dalam Sujanem,???).
  ' 
^
 ' 
^ 
 q r  z z   q r  z z  
1     
E r  , untuk z ≥ 0 (65)
4 0  ^ 3 ^ 3

 r z z rz z 
' '

 
^
Bila z = 0, r    , maka diperoleh:

14
 ^ ' 
^
 ^ ' 
^
    z z       z z   
q 
^
    q  '
E r   2 z z .
 
     
(66)
4 0   2  z ' 2 3/ 2
 2  z'
2 3/ 2
 4 0   2  z '2 3 / 2 
   

Berdasarkan hasil yang diperoleh, maka dapat ditentukan kerapatan muatan permukaan
aktual pada z = 0 muka dari konduktor diberikan oleh:
q
   0  E  z 
^ z'

 
. (67)
  z 0 2   2  z '2 3/ 2

Muatan induksi seperti yang diharapkan adalah berharga negatif. Muatan induksi
tersebut mempunyai harga maksimum pada ρ = 0, dan jatuh mengikuti 1/ ρ3, sehingga
ρ menjadi besar dibandingkan z’ (seperti pada gambar 6 dibawah). Ini berarti muatan
induksi ditambah muatan q asal yang menghasilkan solusi yang aktual, sama dengan
pemikiran bahwa solusinya sesuai dengan q dan ”muatan bayangan” –q.

1/ ρ3

ρ
Gambar 6. Grafik muatan induksi
Untuk menunjukkan muatan permukaan induksi total Q adalah sama dengan –q,
termasuk bahwa semua garis gaya berakhir pada konduktor. Integrasikan rapat muatan
untuk seluruh luas bidang konduktor yang memberikan sebuah persamaan yaitu:

 d
Q   2   d  qz   q
 3/ 2
(68)
'2
0
2
z
Muatan q mengalami gaya yang menariknya kepermukaan konduktor. Lintasan partikel
bermuatan dekat permukaan ditunjukkan pada gambar 7 dibawah.
Gaya itu mempunyai besar yang ditentukan oleh medan listrik dari muatan
permuakaan induksi. Karena medan ini identik dengan medan muatan bayangan, gaya
dengan mudah diperoleh seperti gaya antara dua muatan titik yaitu:

15
^ q2
F  z (69)
 
4 0 2 z '
2

Konduktor

- +

Gambar 7. Gaya bayangan

Gaya bayangan ini memberikan kontribusi yang besar dalam mengukur pencegahan
elektron keluar dari permukaan konduktor yang diasosiasikan dengan fungsi kerja bahan
konduktor.
Muatan Titik dengan Suatu Bola Konduktor
Untuk menganalisis potensial yang ditimbulkan oleh muatan titik dan bola
konduktor, lihat gambar 7 berikut
P(r, θ)

r r1

R1
R2 r2
a
θ +q
O b -q2 d

V= 0

Gambar 8. Muatan titik dengan suatu bola konduktor

16
Ada 2 muatan titik q1 dan –q2, dengan q1 > -q2, dan dengan posisi (0, d) dan (0,b). Apabila
potensial pada permukaan bola dianggap mempunyai harga V=0, maka rumus potensial:

1  q1 q 2 
V      0 , (70)
4 0  R1 R2 
q1 q 2
maka diperoleh hubungan  (71)
R1 R2
Nyatakan titik asal koordinat kutub (r, θ), dan berdasarkan gambar tersebut dapat
diketahui adanya ketentuan:
 a 2  d 2  2a d cos
2
R1 (72)

 a 2  d 2  2ab cos
2
R1 (73)
Karena V=0, maka dapat dibuktikan persamaan berikut ini.

 q1


2
R 
2
 
d  a 2 / d  d  2a cos 
   1    2
 q2   R2  
a  a / d  b  2a cos  
 (74)

Persamaan (74) berlaku untuk setiap θ, bila dinyatakan bahwa:


(i) a2 = db,
2
q  d
(ii)  1  , karena d > b, maka q1 > q2
 q2  b
Selanjutnya terdapat kasus di mana bola konduktor dengan jejari a diberi potensial nol,
dan pada sejarak d dipasang muatan q1 dari pusat bola. Menurut metode bayangan, maka
bola tersebut dapat digantikan dengan muatan titik. Gunakan ketentuan (persamaan i dan
ii), untuk menetapkan muatan q2 sebagai pengganti bola.

 a / d q,
d
q2   (75)
bq1

Pada posisi b = (a2/d) dari pusat bola dan potensial dititik p dengan koordinat (r, θ) di
luar bola:

1  q1 q 2 
V ( P ) V r ,       (76)
4 0  r1 r2 

q1  1 a / d 
V ( P ) V r ,       (77)
4 0  r1 r2 


r1  r 2  d 2  2d cos   1/ 2

r  r  2rb cos  
1/ 2
2
2
 b2

17
Jadi,

q1  1 ad 

V (r , ) (78)
 
4 0  r  d  2rd cos
2 2
 r
1/ 2 2
 
 a 2 / d 2  2r a 2 / d cos 
1/ 2 

Selanjutnya, medan listrik dapat ditentukan yaitu:
V 1 V
Er   dan E r   (79)
r r 
Kasus pada permukaan bola, di mana r = a, medan listriknya arahnya radial sehingga:

q1  d 2  a2 
 , dan
Er 

4 0  a a 2  d 2  2ad cos 
3/ 2 

Eθ = 0 (80)

Karena Er = , sehingga diperoleh muatan induksi per satuan luas pada bola konduktor,
0
adalah:

q1  d 2  a2 
   (81)

4a  a a 2  d 2  2ad cos 3/ 2

Sedangkan gaya antara bola dengan muatan q1 adalah:

1  q1 q 2  1  aq1 2 
F     (82)
4 0  d  b2  4
 0
 d d  b2



Persamaan diatas menyatakan gaya antara muatan q1 dengan bola konduktor yang
dihubungkan dengan tanah.

Muatan Garis dengan Silinder Bermuatan


Untuk menganalisis potensial yang ditimbulkan oleh muatan titik dan bola
konduktor, seperti pada gambar 8 P(r, θ)

r r

a
x 0 θ
d
-λ +λ

V=0

Gambar 9. Muatan Garis dengan Silinder Bermuatan

18
Terdapat 2 muatan garis saling sejajar terpisah dengan jarak d. Misalkan muatan per
satuan panjang untuk masing-masing muatan garis adalah – λ dan +λ. Potensial titik P
akibat adanya – λ dan + λ adalah:
 
V P   ln r '  ln r  C (83)
2 0 2 0
Dengan memperhatikan ada konduktor silinder dengan jari-jari a seperti pada gambar 9.
Agar V=0 untuk semua permukaan silinder, yaitu:

C ln(r ' / r ) 2 (84)
2 0
Dengan memisalkan,
2
 r,  r 2  d 2  2rd cos
   2
 m 2 , konstan pada rentangan 0 < m < ∞.
r  r

Sehingga,
r 2  d 2  2rd cos  m 2 r 2 , apabila x = r cos θ, y = r sin θ, maka diperoleh:
2
 d  m2d 2
 x    y 2
 . (85)
 m2 1 m2 1
2
 
md
Persamaan ini menyatakan rumus permukaan silinder yang jari-jarinya
m 2

1
d
dan titik pusat silinder di posisi x  
 
dan y = 0. Sedangkan, untuk m >1,
m 12

md
silinder dengan harga potensial V = 0 sumbunya terletak pada jarak di kiri titik
m 2

1
0 (yang dianggap sebagai titik asal koordinat kutub).
Jarak sumbu silinder hingga +λ adalah:
d m2d
pd 2  2  ma .
   
(86)
m 1 m 1
d
dan jarak x   a / m  a2 / p
 
(87)
m 1
2

19
5. Metode Pemisahan Variabel.
Jika dilihat dari strategi dasarnya metode pemisahan variabel merupakan perkalian
suatu fungsi, dimana masing –masing dibuat pada satu koordinat kartesian, bola dan
silinder.
Persamaan Laplace dalam Sistem Koordinat Kartesian
Contohnya : Apabila dua buah plat logam tak hingga terletak sejajar pada bidang
xz, salah satu y = 0 dan yang lain y = π, seperti gambar 10. Pada ujung sebelah kiri x = 0
yang ditutup pada plat tak hingga dan potensialnya dibuat konstan, berapa potensial
dalam sistem!

v=0
π

x
0 v=0

z Gambar 10. Sistem koordinat kartesian


Penyelesaian
Berdasarkan gambar 1, sistem tidak bergantung pada pada z, Dengan demikian
merupakan permasalahan dalam dua dimensi. Dengan menggunakan persamaan Laplace
2x 2 y
 =0 (88)
x 2 y 2
Dengan syarat batas
1. V = 0, bila Y = 0
2. V = 0, bila Y = π
3. V = Vo (y), bila x = 0
4. V 0, bila x = 
Langkah 1, memecahkan dalam permasalahan bentuk perkalian fungsi yaitu
V (x,y) = X (x) Y (y), sehingga persamaan laplace menjadi
2x 2 y
Y 2  X 2 0 (89)
x y

20
Membagi persamaan 1 dan 2 dengan V (x,y), maka diperoleh
1 d 2x 1 d 2 y
 0 (90)
X dx 2 Y dy 2
Pada persamaan 3 suku pertama hanya bergantung pada nilai x dan suku kedua bergantung
pada nilai y, sehingga dapat ditulis
f (x) + g (y) = 0, dimana persamaan ini hanya berlaku jika f dan g apabila bernilai kostan.
1 d 2x 1 d2y
Jadi, f (x) =  C1 , g (x) =  C2 . (91)
X dx 2 Y dy 2

sehingga dari persamaan 4 diperoleh C1  C 2 = 0, dimana salah satu dari konstanta tersebut

bernila positif dan yang lainnya 0 atau keduanya 0. Misalkan C1  k 2 dan C 2 =  k 2 , maka
persamaan diferensialnya menjadi
d2X d 2Y
2
 k 2
X , dan 2
  k 2Y (92)
dx dy
Solusi yang sesuai adalah
X (x) = Ae kx  Be  kx
Y (y) = C sin ky + D cos ky
Selanjutnya diperoleh solusi umum yaitu,
V (x,y) = (Ae kx  Be  kx )( C sin ky + D cos ky) (93)
Apabila ingin mendapatkan solusi secara khusus maka harus memasukkan syarat batas yang
telah diketahui, dengan memasukkan syarat batas yang ke 4 V 0, bila
x   .Sehingga solusinya menjadi
V (x,y) = e  kx ( C sin ky + D cos ky) (94)
Dimana konstanta B terserap pada konstanta C dan D , selanjutnya menasukkan syarat batas 1,
dimana V = 0, bila Y = 0, dan konstanta D = 0, yang berarti
V (x,y) = e  kx ( C sin ky + D cos ky) (95)
Sedangkan untuk syarat batas ke 2, memberikan
Sin kπ = 0
Dengan k adalah bilangan bulat. Namun apabila C1 negatif maka solusinya menjadi sinusoida,
dimana untuk harga x menuju tak hingga, potensialnya tidak akan berharga 0. Persamaan
Laplace merupakan persamaan yang linier, hal ini berarti apabila terdapat apabila terdapat
sejumlah solusi yang memenuhi syarat, yaitu : V 1 ,V2 ,V3 ,.....................

21
Maka gabungan liniernya V = α 1V1   2V2   3V3  ............ , dengan α 1 2 3 ............
merupakan suatu konstanta yang sembarang. Dengan demikian solusinya

C
 kx
V (x,y) = ke sin ky (96)
k 1

Kemudian masukkan syarat batas ke 3, V = Vo (y), bila x = 0, maka diperoleh


C
 kx
V (x,y) = ke sin ky = Vo (y) (97)
k 1

Untuk menentukan konstanta C k menggunakan analisis fourier dengan memperhatikan sifat


ortogonalitas yang dikalikana kedua ruas pada persamaan 97 dengan sin (ly) dan integritas dari
0 sampai π, yaitu
 

C 
k 1
k
0
sin (ky ) sin (ly ) dy   Vo ( y ) sin (ly )dy (98)
0

Dimana l merupakan bilangan bulat positif, harga integral pada ruas kiri yaitu

 sin ky sin (ly )dy 


0
1) 0, jika k = 1


2) , jika k  1
2

2
Dengan mengambil k = 1, maka diperoleh C k =
  Vo ( y ) sin (ky)dy
0
(99)

Apabila ditetapkan potensial pada x = 0 adalah konstanta Vo, maka diperoleh:




2 0
C k  Vo sin (ky ) dy

2V k
= (1  cos ) (100)
k 2
= 1). 0, jika k = genap
4V
2). , jika k = ganjil
k
Sehingga hasil akhirnya,
4Vo 1  kx
V (x,y) = 
 k 1,3,5,... k
e sin ky 1015)

22
Persamaan Laplace dalam Sistem Koordinat Bola
Koordinat bola (r, θ, φ), dan persamaan Laplacenya adalah
1   2 V  1   V  1
 2V  r  2  sin   2  0 (102)
r r  r  r sin   
2
  r sin   2
2

Untuk keadaan yang terjadi pada simetri azimut, terdapat ketidaktergantungan V terhadap φ,
sehingga persamaan Laplacenya menjadi:
  2 V  1   V 
 2V  r   sin  0 (103)
r  r  sin     
Dengan menggunakan metode pemisahan variabel :
V (r,θ) = R (r)  (θ)
Maka diperoleh :
1 d  2 dR  1 1 d d
r  (sin  )=0 (104)
R dr  dr   sin  d d
Pada persamaan 103, suku pertama hanya bergantung pada r dan suku kedua bergantung pada
θ, dimana artinya masing-masing suku harus konstan.
1 d  2 dR 
r   1 (1  1)
R dr  dr  (105)

1 1 d d
(sin  )   1 (1  1) (106)
 sin  d d
Persamaan diferensial pada bagian radial dapat dinyatakan :
d  2 dR 
r  1(1  1) R, (107)
dr  dr 
Persamaan secara umum:
B
R (r) = Ar l  (108)
r l 1
Dengan A dan B konstanta sembarang sehingga persamaan diferensial anguler dapat
dinyatakan dengan
d d
(sin  )   1 (1  1) sin   (109)
d d
dan mempunyai solusi umum dalam bentuk polinomial Legendre
    P1 cos  (110)

Dengan P1 x  diberikan oleh formula Rodrigues yaitu:

23
l

 x  1
1 d  2
P1 x  =
l
l 
(111)
2 l!  dx 
Selanjutnya mensubstitusi persamaan , maka diperoleh
 B 
V (r,θ) =  Ar l  l 1  P1 cos  (112)
 r 
Jadi solusi umumnya merupakan kombinasi linier dari pemisahan variabel, sehingga
diperoleh

 B 
V (r,θ) =   Ar l  l 1  P1 cos  (113)
l 0  r 
Persamaan Laplace dalam Sistem Koordinat Silinder
Dalam kasus koordinat silinder maka analisis potensial yang akan dikaji menggunakan
sistem koordinat silinder. Potensial yang dikaji terbatas pada fungsi ρ dan φ, sehingga potensial
yang muncul dalam kasus silinder merupakan simetri sepanjang sumbu z. Pada daerah yang
terdapat muatan titik, potensialnya mengikuti persamaan Laplace sebagai berikut.
1   R  1  2V
  0 (114)
      2  2
Dengan metode pemisahan variabel maka hasilnya dapat ditulis V (ρ,φ) = R (ρ)    , dan
substitusikan pada persamaan 114, maka
   R  1  2
     (115)
R       2

Kedua ruas dari persamaan 115 akan diambil sama dengan K 2 ,dimana secara terpisah yaitu
konstan. Dimana untuk persamaan 
d 2
 K 2  0 (116)
 2
Disamping itu persamaan yang mengandung bagian radial, dapat mengambil (K = n), yaitu
d  R  n 2 R
  0 (117)
    
Untuk n =0, berarti potensial tidak bergantung pada sudut, yaitu
d  R 
 0 (118)
   
Dimana R (ρ) = konstan, R (ρ) = ln ρ, namun untuk n = 0 mempunyai dua solusi yaitu,
 n dan   n , sehingga solusi umum :

24
   
V(r,  )   An cos n  Bn sin n   n   Cn cos n  Dn sin n  n  Ao  Ao ln  (119)
 n 1  n 1

25