Anda di halaman 1dari 11

PERAN GURU PROFESIONAL DALAM INOVASI PENDIDIKAN

Oleh:
Ismail, S.Pd. M.Pd.
Kepala SDN Socorejo Kecamatan Jenu Kabupaten Tuban
ABSTRAK
Peningkatan dan Pengembangan sumber daya manusia merupakan prioritas
pembangunan nasional, di mana guru menjadi salah satu kunci utamanya.
Guru sebagai tenaga profesional mempunyai peran yang sangat penting dalam
mewujudkan tujuan pendidikan nasional, yaitu berkembangnya potensi
peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan
Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri serta
menjadi warga negara yang demokratis dan bertanggung jawab. Guru
profesional adalah mereka yang dapat mengantarkan peserta didik menguasai
ilmu pengetahuan dan teknologi untuk memasuki abad 21 yang kompetitif.
Untuk itu setiap guru dituntut menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi
yang terus berkembang dengan cepat. Inovasi merupakan bagian dari
perubahan sosial, dan perkembangan pendidikan. Mengingat bahwa
penyelenggara pendidikan formal adalah suatu organisasi maka guru termasuk
di dalamnya harus mengikuti pola inovasi dalam organisasi yang lebih sesuai
diterapkan dalam bidang pendidikan. Inovasi pendidikan adalah inovasi dalam
bidang pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi
inovasi pendidikan adalah suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau
diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau kelompok orang
(masyarakat), baik berupa invensi atau diskoveri yang digunakan untuk
mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.
Pembelajaran di sekolah harus dipandang sebagai ruh dari pendidikan yang
secara terus menerus ditingkatkan mutunya. Peningkatan mutu pembelajaran
di sekolah melibatkan berbagai pihak yang berkepentingan (stakeholders)
dengan proses pembentukan insan Indonesia yang kompetitif dan berdaya
saing tinggi. Tujuan utama inovasi di sekolah ialah untuk meningkatkan
kualitas sekolah. Tanda-tanda sekolah yang kualitasnya baik antara lain
proses belajar mengajar efektif, prestasi hasil belajar siswa tinggi, para
guru memepunyai waktu yang cukup banyak untuk melaksanakan tugas
sesuai dengan profesinya, kepala sekolah menggunakan sebagian besar
waktunya untuk bekerja lebih akrab dengan siswa dan guru serta selalu
berusaha untuk memperoleh balikan guna meningkatkan kualitas sekolah.
Setiap orang yang bekerja di sekolah melakukan tugasnya sesuai dengan
minat dan kemampuannya untuk mengembangkan karir.
Kata Kunci: Peran Guru, Inovasi Pendidikan
Pengertian Inovasi
Inovasi berasal dari kata latin, innovation yang berarti pembaruan dan perubahan. Kata
kerjanya innovo yang artinya memperbarui dan mengubah. Inovasi adalah suatu ide, barang,
kejadian, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi seseorang atau
sekelompok orang (masyarakat), baik itu berupa hasil invensi atau diskoveri. Inovasi diadakan
untuk mencapai tujuan tertentu atau untuk memecahkan suatu masalah tertentu (Ibrahim, 1988).
Invensi adalah suatu penemuan yang benar-benar baru artinya hasil kreasi manusia yang berupa
benda atau hal yang ditemukan itu benar-benar sebelumnya belum ada, kemudian diadakan
1

dengan hasil kreasi baru. Sedangkan diskoveri adalah suatu penemuan sesuatu yang sebenarnya
benda atau hal yang ditemukan itu sudah ada, tetapi belum diketahui orang.
Ibrahim (1988) mengemukakan bahwa inovasi pendidikan adalah inovasi dalam bidang
pendidikan atau inovasi untuk memecahkan masalah pendidikan. Jadi inovasi pendidikan adalah
suatu ide, barang, metode, yang dirasakan atau diamati sebagai suatu hal yang baru bagi
seseorang atau kelompok orang (masyarakat), baik berupa invensi atau diskoveri yang digunakan
untuk mencapai tujuan pendidikan atau untuk memecahkan masalah pendidikan.
Tujuan Inovasi Pendidikan
Menurut Fuad Ihsan (2005), tujuan inovasi pendidikan adalah meningkatkan efisiensi,
relevansi, kualitas dan efektivitas, sarana serta jumlah peserta didik sebanyak-banyaknya, dengan
hasil pendidikan sebesar-besarnya (menurut criteria kebutuhan peserta didik, masyarakat, dan
pembangunan), dengan menggunakan sumber, tenaga, uang, alat, waktu dalam jumlah yang
sekecil-kecilnya.
Kalau dikaji, arah tujuan inovasi pendidikan Indonesia tahap demi tahap,yaitu :
a.

Mengejar ketinggalan-ketinggalan yang dihasilkan oleh kemajuan-kemajuan ilmu dan


teknologi sehingga makin lama pendidikan di Indonesia makin berjalan sejajar dengan
kemajuan-kemajuan tersebut.

b. Mengusahakan terselenggaranya pendidikan sekolah maupun luar sekolah bagi setiap warga
negara.Misalnya daya tampung usia sekolah SD, SLTP, SLTA, dan Perguruan Tinggi.
Di samping itu, akan diusahakan peningkatan mutu yang dirasakan makin menurun
dewasa ini.Dengan sistem penyampaian yang baru, diharapkan peserta didik menjadi manusia
yang aktif, kreatif, dan terampil memecahkan masalahnya sendiri.
Tujuan jangka panjang yang hendak dicapai adalah terwujudnya manusia Indonesia
seutuhnya.
Masalah-Masalah yang Menuntut Diadakan Inovasi
Adapun masalah-masalah yang menuntut diadakan inovasi pendidikan di Indonesia,
yaitu :
a.

Perkembangan ilmu pengetahuan menghasilkan kemajuan teknologi yang mempengaruhi


kehidupan social, ekonomi, politik, pendidikan dan kebudayaan bangsa Indonesia.Sistem
pendidikan yang dimiliki dan dilaksanakan di Indonesia belum mampu mengikuti dan
mengendalikan kemajuan-kemajuan tersebut sehingga dunia pendidikan belum dapat
menghasilkan tenaga-tenaga pembangunan yang terampil, kreatif, dan aktif sesuai dengan
tuntutan dan keinginan masyarakat.

b. Laju eksplorasi penduduk yang cukup pesat, yang menyebabkan daya tampung, ruang, dan
fasilitas pendidikan yang sangat tidak seimbang.
c. Melonjaknya aspirasi masyarakat untuk memperoleh pendidikan yang lebih baik, sedangkan di
pihak lain kesempatan sangat terbatas.

d. Mutu pendidikan yang dirasakan makin menurun, yang belum mampu mengikuti
perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi.
e. Belum mekarnya alat organisasi yang efektif, serta belum tumbuhnya suasana yang subur
dalam masyarakat untuk mengadakan perubahan-perubahan yang dituntut oleh keadaan
sekarang dan yang akan datang.
Hambatan Pendidikan Guru dan Inovasi Pendidikan
Hofstede seorang ahli psikologi industri pada 1991 melakukan penelitian selama enam
tahun tentang perbedaan budaya di 40 negara salah satunya di Thailand sebagai anggota Asean.
Menurut Hofstede, Thailand sangat menganut High Power Distance. Di mana keputusan harus
selalu dibuat oleh yang memiliki kedudukan lebih tinggi dan seringkali diikuti tekanan seperti
hubungan kepala dinas dengan kepala sekolah, guru dengan murid dan kepala sekolah dengan
guru. Selain itu, senioritas masih dipegang teguh oleh Thailand dalam dunia pendidikan.
Kondisi Thailand, tidak jauh berbeda dengan di Indonesia, sampai hari ini kita masih
menganut apa yang ada di Thailand. Dalam dunia pendidikan kita, inovasi dan inisiatif serta
kreativitas sangat sulit dilakukan secara individu. Sangat mustahil seseorang bergerak tanpa ada
keputusan dari pihak yang memiliki posisi lebih tinggi.
Misalnya, ketika seorang guru ingin mengikuti lomba karya ilmiah atau inovasi
teknologi dalam mengajar. Yang pertama harus dia urusi adalah izin dan persetujuan atasan. Ini
tentu sangat lucu dan memalukan. Orang mau maju, kok malah dipersulit dengan berbagai alasan
ini dan itu. Ini sangat ironis dengan UU Guru dan Dosen yang mengagung-agungkan
profesionalisme guru dan dosen.
Contoh lainnya, di Negara-negara seperti Norwegia, Finlandia, Belanda, Swedia dan
Jerman orang yang berkarya dan bekerja di perguruan tinggi minimal bergelar doktor atau
professor. Artinya, perguruan tinggi di sana, sangat susah menemui dosen atau peneliti bergelar
S1 atau Master. Namun, di Indonesia jangankan untuk bergelar doktor atau professor, mau
melamar sekolah saja sulitnya minta ampun. Padahal, sekolahnya dibiayai pihak lain. Dan lagilagi mempersulit adalah karena sistem Higher Power Distance.
Kita juga menganut paham Collectivism di mana segala sesuatu harus dilakukan
secara bersama-sama dan semua keputusan harus dilakukan atas persetujuan bersama pula
sehingga risiko yang akan dihadapi akan ditanggung bersama. Dalam pendidikan kita, sifat
individualitik sangat tidak didukung. Hal ini sangat memungkinkan sebuah inovasi dan inisiatif
akan memakan waktu yang lama dalam prosesnya dan mungkin pudar sebelum menjadi sebuah
projek karena sulitnya mencari kata setuju diantara anggota kelompok. Padahal, inovasi akan
muncul dari individu-individu yang memang memiliki bakat untuk maju secara sendiri-sendiri
sehingga hasilnya bias digunakan secara bersama-sama. Dan parahnya, senioritas masih sangat
dijunjung tinggi di dalam dunia pendidikan kita. Kita memang diharuskan mendukung ungkapan
bahwa yang lebih tua lebih berpengalaman dalam berinovasi dan berkreasi. Serta pendidikan
kita juga selalu mengutamakan yang lebih senior dan yang memiliki posisi lebih tinggi untuk
3

mengikuti kegiatan-kegiatan diluar seperti seminar, workshop, lokakarya, bahkan studi lanjutpun
harus senior kalau perlu lebih dahulu. Bahkan atas nama kebersamaan dan senioritas seringkali
mengangkat dan memilih orang tidak tepat serta kering inovasi untuk menduduki jabatan
tertentu.
Memang di dalam dunia pendidikan menjunjung tinggi hubungan sosial dan
kebersamaan, mempertahankan harmonisasi dalam kelompok dan mencegah konflik sangat
dibutuhkan agar tujuan yang telah disepakati bisa dicapai. Akan tetapi, jangan sampai inovasi,
kreativitas dan inisiatif untuk kemajuan sebuah lembaga terhambat oleh hal tersebut di atas.
Kalau ini terjadi maka sampai kapan pun, pendidikan kita akan tetap mengalami kekeringan
dalam berinovasi. (From where does mans weakness come? From the inequality between his
strength and his desires).
Pendidikan Guru dan Inovasi Pendidikan
Banyak program pendidikan baru yang inovatif diberlakukan oleh
pemerintah dalam waktu paling tidak lima tahun terakhir ini, seperti broad
based education, life skills, manajemen pendidikan berbasis sekolah,
contextual teaching-learning (CTL), evaluasi belajar model portofolio, dan
yang terakhir Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK). Semua itu kurang atau
bahkan tidak mengikutsertakan guru sebagai variabel penting dalam
pelaksanaan program-program itu, padahal semua program baru itu
bertujuan meningkatkan kualitas pendidikan di negeri ini.
Dengan banyaknya program baru itu, semestinya para guru kita
didorong untuk memiliki profesionalisme yang lebih tinggi. Hal itu juga diikuti
kesejahteraan

yang

lebih

memadai.

Kenyataan

tidaklah

seperti

itu.

Banyaknya program baru itu justru menambah beban kerja guru.


Mengapa beban? Karena guru belum atau tidak mengerti secara sempurna
terhadap berbagai inovasi pendidikan itu. Akibatnya, mereka berada dalam
ketidakmenentuan profesi ketika harus melakukan program-program inovatif
di tempat kerja masing-masing.
Penggagas pembaharuan pendidikan memiliki asumsi, guru dengan
serta merta dapat melakukan apa saja yang menjadi program pembaharuan
yang dicanangkan pemerintah. Asumsi inilah yang tidak benar. Sebab,
kenyataannya guru harus mendapatkan retraining yang memadai dan
tersistem untuk dapat melakukan berbagai pembaharuan dalam bidang
pendidikan.
Karena itu, ke depan pemerintah perlu melihat kemampuan riil yang
dimiliki guru untuk melakukan atau mengadopsi setiap inovasi di bidang
pendidikan.
4

Profesionalisme
Saat ini kita hidup pada era knowledge based economy. Artinya sistem
ekonomi

secara

pengetahuan

dan

global

berjalan

teknologi.

berdasarkan

Dampaknya,

negara

kaidah-kaidah

ilmu

yang

dan

memiliki

menguasai ilmu pengetahuan yang kuat akan menguasai ekonomi.


Mengapa demikian? Karena dengan penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, sebuah bangsa akan memiliki daya saing yang tinggi di tengahtengah bangsa lain. Jika sebuah bangsa memiliki daya saing yang tinggi, ia
dapat dipastikan bisa menguasai dunia secara ekonomi. Negara-negara
seperti Jepang, Jerman, Amerika Serikat, Korea, Singapura, dan Australia
memiliki

perekonomian

perekonomian

kita.

yang

Sebab,

jauh

lebih

negara-negara

baik

dibandingkan

tersebut

dengan

menguasai

ilmu

pengetahuan dan teknologi.


Lalu apa implikasinya terhadap pendidikan, terutama guru, di negeri
ini? Implikasinya, kita harus melakukan profesionalisme pada pekerjaan guru.
Dengan guru yang memiliki profesionalisme yang tinggi, pendidikan akan
bisa ditingkatkan kualitasnya. Kualitas pendidikan yang baik pada akhirnya
akan

meningkatkan

daya

saing

bangsa

melalui

penguasaan

ilmu

pengetahuan dan teknologi.


Untuk bisa menjamin terjadinya penguasaan ilmu pengetahuan dan
teknologi, bangsa ini mau tidak mau ke depan harus meningkatkan
profesionalisme guru. Jika ini harus dilakukan, kita harus memperhatikan
syarat-syarat terjadinya profesionalisme yang perlu dimiliki para guru kita.
Antara lain, menurut Houle, harus memiliki landasan pengetahuan yang
kuat, berdasarkan atas kompetensi individual (bukan atas dasar KKN),
memiliki sistem seleksi dan sertifikasi, dan ada kerja sama dan kompetisi
yang sehat antarsejawat. Selain itu, ada kesadaran profesional yang tinggi,
memiliki prinsip-prinsip etik (kode etik), memiliki sistem sanksi profesi, ada
militansi individual, dan memiliki organisasi profesi.
Dari syarat-syarat yang harus dimiliki guru agar mereka termasuk
dalam kategori profesional tersebut, tentu perlu ada sistem peningkatan
pengetahuan bagi guru secara tersistem dan berkelanjutan. Pendek kata,
perlu ada in service training yang baik bagi para guru kita.
Guru dan Profesionalisme
Guru sebagai ujung tombak dalam pelaksanaan pendidikan merupakan pihak yang
sangat berpengaruh dalam proses belajar mengajar. Kepiawaian dan kewibawaan guru sangat
menentukan kelangsungan proses belajar mengajar di kelas maupun efeknya di luar kelas. Guru
5

harus pandai membawa siswanya kepada tujuan yang hendak dicapai. Ada beberapa hal yang
dapat membentuk kewibawaan guru antara lain adalah penguasaan materi yang diajarkan,
metode mengajar yang sesuai dengan situasi dan kondisi siswa, hubungan antar individu, baik
dengan siswa maupun antar sesama guru dan unsur lain yang terlibat dalam proses pendidikan
seperti adminstrator, misalnya kepala sekolah dan tata usaha serta masyarakat sekitarnya,
pengalaman dan keterampilan guru itu sendiri.
Dengan demikian, maka dalam pembaharuan pendidikan, keterlibatan guru mulai dari
perencanaan inovasi pendidikan sampai dengan pelaksanaan dan evaluasinya memainkan peran
yang sangat besar bagi keberhasilan suatu inovasi pendidikan. Tanpa melibatkan mereka, maka
sangat mungkin mereka akan menolak inovasi yang diperkenalkan kepada mereka. Hal ini
seperti diuraikan sebelumnya, karena mereka menganggap inovasi yang tidak melibatkan mereka
adalah bukan miliknya yang harus dilaksanakan, tetapi sebaliknya mereka menganggap akan
mengganggu ketenangan dan kelancaran tugas mereka. Oleh karena itu, dalam suatu inovasi
pendidikan, gurulah yang utama dan pertama terlibat karena guru mempunyai peran yang luas
sebagai pendidik, sebagai orang tua, sebagai teman, sebagai dokter, sebagi motivator dan lain
sebagainya. (Wright 1987)
Pengembangan Profesionalisme Guru menurut para ahli, profesionalisme menekankan
kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi
penerapannya. Maister (1997) mengemukakan bahwa profesionalisme bukan sekadar
pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi lebih merupakan sikap, pengembangan
profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya memiliki keterampilan yang tinggi tetapi
memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Apabila guru di Indonesia telah memenuhi standar profesional guru maka kualitas
Sumber Daya Manusia Indonesia semakin baik. Selain memiliki standar profesional guru
sebagaimana diuraikan dalam jurnal Educational Leadership 1993 (dalam Supriadi 1998)
dijelaskan bahwa untuk menjadi profesional seorang guru dituntut untuk memiliki lima hal: (1)
Guru mempunyai komitmen pada siswa dan proses belajarnya, (2) Guru menguasai secara
mendalam bahan/mata pelajaran yang diajarkannya serta cara mengajarnya kepada siswa, (3)
Guru bertanggung jawab memantau hasil belajar siswa melalui berbagai cara evaluasi, (4) Guru
mampu berfikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan belajar dari pengalamannya, (5)
Guru seyogyanya merupakan bagian dari masyarakat belajar dalam lingkungan profesinya.
Arifin (2000) mengemukakan guru Indonesia yang profesional dipersyaratkan
mempunyai; (1) dasar ilmu yang kuat sebagai pengejawantahan terhadap masyarakat teknologi
dan masyarakat ilmu pengetahuan di abad 21; (2) penguasaan kiat-kiat profesi berdasarkan riset
dan praksis pendidikan yaitu ilmu pendidikan sebagai ilmu praksis bukan hanya merupakan
konsep-konsep belaka. Pendidikan merupakan proses yang terjadi di lapangan dan bersifat
ilmiah, serta riset pendidikan hendaknya diarahkan pada praksis pendidikan masyarakat
Indonesia; (3) pengembangan kemampuan profesional berkesinambungan, profesi guru
merupakan profesi yang berkembang terus menerus dan berkesinambungan antara LPTK dengan
6

praktek pendidikan. Kekerdilan profesi guru dan ilmu pendidikan disebabkan terputusnya
program pre-service dan in-service karena pertimbangan birokratis yang kaku atau manajemen
pendidikan yang lemah.
Dengan adanya persyaratan profesionalisme guru ini, perlu adanya paradigma baru
untuk melahirkan profil guru Indonesia yang profesional di abad 21 yaitu; (1) memiliki
kepribadian yang matang dan berkembang; (2) penguasaan ilmu yang kuat; (3) keterampilan
untuk membangkitkan peserta didik kepada sains dan teknologi; dan (4) pengembangan profesi
secara berkesinambungan. Keempat aspek tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak
dapat dipisahkan dan ditambah dengan usaha lain yang ikut mempengaruhi perkembangan
profesi guru yang profesional.
Apabila syarat-syarat profesionalisme guru di atas itu terpenuhi akan mengubah peran
guru yang tadinya pasif menjadi guru yang kreatif dan dinamis. Hal ini sejalan dengan pendapat
Semiawan (1991) bahwa pemenuhan persyaratan guru profesional akan mengubah peran guru
yang semula sebagai orator yang verbalistis menjadi berkekuatan dinamis dalam menciptakan
suatu suasana dan lingkungan belajar yang invitation learning environment.
Pengembangan profesionalisme guru menjadi perhatian secara global, karena guru
memiliki tugas dan peran bukan hanya memberikan informasi-informasi ilmu pengetahuan dan
teknologi, melainkan juga membentuk sikap dan jiwa yang mampu bertahan dalam era
hiperkompetisi. Tugas guru adalah membantu peserta didik agar mampu melakukan adaptasi
terhadap berbagai tantangan kehidupan serta desakan yang berkembang dalam dirinya.
Pemberdayaan peserta didik ini meliputi aspek-aspek kepribadian terutama aspek intelektual,
sosial, emosional, dan keterampilan. Tugas mulia itu menjadi berat karena bukan saja guru harus
mempersiapkan generasi muda memasuki abad pengetahuan, melainkan harus mempersiapkan
diri agar tetap eksis, baik sebagai individu maupun sebagai profesional.
Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus menerus. Dalam proses ini,
pendidikan prajabatan, pendidikan dalam jabatan termasuk penataran, pembinaan dari organisasi
profesi dan tempat kerja, penghargaan masyarakat terhadap profesi keguruan, penegakan kode
etik profesi, sertifikasi, peningkatan kualitas calon guru, imbalan, dll secara bersama-sama
menentukan pengembangan profesionalisme seseorang termasuk guru.
Peran Guru Profesonal dalam Inovasi
Dalam bukunya yang berjudul Reinventing Education, Louis V. Gerstmer, Jr. dkk
(1995), menyatakan bahwa di masa-masa mendatang peran-peran guru mengalami perluasan
yaitu guru sebagai: pelatih (coaches), konselor, manajer pembelajaran, partisipan, pemimpin,
pembelajar, dan pengarang.
a. Pelatih (coaches); Sebagai pelatih (coaches), guru harus memberikan peluang yang sebesarbesarnya bagi siswa untuk mengembangkan cara-cara pembelajarannya sendiri sesuai dengan
kondisi masing-masing. Guru hanya memberikan prinsip-prinsip dasarnya saja dan tidak
memberikan satu cara yang mutlak. Hal ini merupakan analogi dalam bidang olah raga, di
7

mana pelatih hanya memberikan petunjuk dasar-dasar permainan, sementara dalam permainan
itu sendiri para pemain akan mengembangkan kiat-kiatnya sesuai dengan kemampuan dan
kondisi yang ada.
b. Konselor; Sebagai konselor, guru harus mampu menciptakan satu situasi interaksi belajarmengajar, di mana siswa melakukan perilaku pembelajaran dalam suasana psikologis yang
kondusif dan tidak ada jarak yang kaku dengan guru. Disamping itu, guru diharapkan mampu
memahami kondisi setiap siswa dan membantunya ke arah perkembangan optimal.
c. Manajer Pembelajar; Sebagai manajer pembelajaran, guru memiliki kemandirian dan
otonomi yang seluas-luasnya dalam mengelola keseluruhan kegiatan belajar-mengajar dengan
mendinamiskan seluruh sumber-sumber penunjang pembelajaran.
c. Partisipan; Sebagai partisipan, guru tidak hanya berperilaku mengajar akan tetapi juga
berperilaku belajar dari interaksinya dengan siswa. Hal ini mengandung makna bahwa guru
bukanlah satu-satunya sumber belajar bagi anak, akan tetapi ia sebagai fasilitator
pembelajaran siswa.
d. Pemimpin; Sebagai pemimpin, diharapkan guru mampu menjadi seseorang yang mampu
menggerakkan orang lain untuk mewujudkan perilaku menuju tujuan bersama. Disamping
sebagai pengajar, guru harus mendapat kesempatan untuk mewujudkan dirinya sebagai pihak
yang bertanggung jawab dalam berbagai kegiatan lain di luiar mengajar.
e. Pembelajar; Sebagai pembelajar, guru harus secara terus menerus belajar dalam rangka
menyegarkan kompetensinya serta meningkatkan kualitas profesionalnya.
f. Pengarang; Sebagai pengarang, guru harus selalu kreatif dan inovatif menghasilkan berbagai
karya yang akan digunakan untuk melaksanakan tugas-tugas profesionalnya. Guru yang
mandiri bukan sebagai tukang atau teknisi yang harus mengikuti satu buku petunjuk yang
baku, melainkan sebagai tenaga yang kreatif yang mampu menghasilkan berbagai karya
inovatif dalam bidangnya. Hal itu harus didukung oleh daya abstraksi dan komitmen yang
tinggi sebagai basis kualitas profesionaliemenya.
Dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, guru memiliki multi fungsi yaitu sebagai
fasilitator, motivator, informator, komunikator, transformator, change agent, inovator, konselor,
evaluator, dan administrator (Soewondo, 1972 dalam Arifin 2000).
Menurut Makagiansar (1996) memasuki abad 21 pendidikan akan mengalami
pergeseran perubahan paradigma yang meliputi pergeseran paradigma: (1) dari belajar terminal
ke belajar sepanjang hayat, (2) dari belajar berfokus penguasaan pengetahuan ke belajar holistik,
(3) dari citra hubungan guru-murid yang bersifat konfrontatif ke citra hubungan kemitraan, (4)
dari pengajar yang menekankan pengetahuan skolastik (akademik) ke penekanan keseimbangan
fokus pendidikan nilai, (5) dari kampanye melawan buta aksara ke kampanye melawan buat
teknologi, budaya, dan komputer, (6) dari penampilan guru yang terisolasi ke penampilan dalam
tim kerja, (7) dari konsentrasi eksklusif pada kompetisi ke orientasi kerja sama. Dengan
memperhatikan pendapat ahli tersebut nampak bahwa pendidikan dihadapkan pada tantangan
8

untuk menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas dalam menghadapi berbagai
tantangan dan tuntutan yang bersifat kompetitif.
Gambaran Pembelajaran di Abad Pengetahuan praktek pembelajaran yang terjadi
sekarang masih didominasi oleh pola atau paradigma yang banyak dijumpai di abad industri.
Pada abad pengetahuan paradigma yang digunakan jauh berbeda dengan pada abad industri.
Galbreath (1999) mengemukakan bahwa pendekatan pembelajaran yang digunakan pada abad
pengetahuan adalah pendekatan campuran yaitu perpaduan antara pendekatan belajar dari guru,
belajar dari siswa lain, dan belajar pada diri sendiri. Praktek pembelajaran di abad industri dan
abad pengetahuan dapat dilihat pada Tabel berikut;
Abad Industri
1. Guru sebagai pengarah
2. Guru sebagai sumber pengetahuan

Abad Pengetahuan
1. Guru sebagai fasilitator, pembimbing,
konsultan

3. Belajar diarahkan oleh kuri- kulum.

2. Guru sebagai kawan belajar

4. Belajar dijadualkan secara ketat dgn waktu

3. Belajar diarahkan oleh siswa kulum.

yang terbatas
5. Terutama didasarkan pd fakta

4. Belajar secara terbuka, ketat dgn waktu yang


terbatas fleksibel sesuai keperluan

6. Bersifat teoritik, prinsip- prinsip dan survei

5. Terutama berdasarkan proyek dan masalah

7. Pengulangan dan latihan

6. Dunia nyata, dan refleksi prinsip dan survei

8. Aturan dan prosedur

7. Penyelidikan dan perancangan

9. Kompetitif

8. Penemuan dan penciptaan

10. Berfokus pada kelas

9. Colaboratif

11. Hasilnya ditentukan sblmnya

10. Berfokus pada masyarakat

12. Mengikuti norma

11. Hasilnya terbuka

13. Komputer sebagai subyek belajar

12. Keanekaragaman yang kreatif

14. Presentasi dengan media statis

13. Komputer sebagai peralatan semua jenis

15. Komunikasi sebatas ruang kls


16. Tes diukur dengan norma

belajar
14. Interaksi multi media yang dinamis
15. Komunikasi tidak terbatas ke seluruh dunia
16. Unjuk kerja diukur oleh pakar, penasehat,
kawan sebaya dan diri sendiri.

Berdasarkan Tabel dapat diambil beberapa kesimpulan bahwa;


1. Pada abad industri banyak dijumpai belajar melalui fakta, drill dan praktek, dan menggunakan
aturan dan prosedur-prosedur. Sedangkan di abad pengetahuan menginginkan paradigma
belajar melalui proyek-proyek dan permasalahan-permasalahan, inkuiri dan desain,
menemukan dan penciptaan.
2. Betapa sulitnya mencapai reformasi yang sistemik, karena bila paradigma lama masih
dominan, dampak reformasi cenderung akan ditelan oleh pengaruh paradigma lama.
9

3. Meskipun telah dinyatakan sebagai polaritas, perbedaan praktik pembelajaran Abad


Pengetahuan dan Abad Industri dianggap sebagai suatu kontinum. Meskipun sekarang
dimungkinkan memandang banyak contoh praktek di Abad Industri yang murni dan jauh
lebih sedikit contoh lingkungan pembelajaran di Abad Pengetahuan yang murni, besar
kemungkinannya menemukan metode persilangan perpaduan antara metode di Abad
Pengetahuan dan metode di Abad Industri. Perlu diingat dalam melakukan reformasi
pembelajaran, metode lama tidak sepenuhnya hilang, namun hanya digunakan kurang lebih
jarang dibanding metode-metode baru.
4. Praktek pembelajaran di Abad Pengetahuan lebih sesuai dengan teori belajar modern. Melalui
penggunaan prinsip-prinsip belajar berorientasi pada proyek dan permasalahan sampai
aktivitas kolaboratif dan difokuskan pada masyarakat, belajar kontekstual yang didasarkan
pada dunia nyata dalam konteks ke peningkatan perhatian pada tindakan-tindakan atas
dorongan pembelajar sendiri.
5. Pada Abad Pengetahuan nampaknya praktek pembelajaran tergantung pada piranti-piranti
pengetahuan modern yakni komputer dan telekomunikasi, namun sebagian besar karakteristik
Abad Pengetahuan bisa dicapai tanpa memanfaatkan piranti modern. Meskipun teknologi
informasi dan telekomunikasi merupakan katalis yang penting yang membawa kita pada
metode belajar Abad Pengetahuan, perlu diingat bahwa yang membedakan metode tersebut
adalah pelaksanaan hasilnya bukan alatnya. Kita dapat melengkapi peralatan lembaga
pendidikan kita dengan teknologi canggih tanpa mengubah pelaksanaan dan hasilnya.
Kesimpulan
Memperhatikan peran guru dan tugas guru sebagai salah satu faktor determinan bagi
keberhasilan pendidikan, maka keberadaan dan peningkatan profesi guru menjadi wacana yang
sangat penting. Pendidikan di abad pengetahuan menuntut adanya manajemen pendidikan
modern dan profesional dengan bernuansa pendidikan.
Kemerosotan pendidikan bukan diakibatkan oleh kurikulum tetapi oleh kurangnya
kemampuan profesionalisme guru dan keengganan belajar siswa. Profesionalisme menekankan
kepada penguasaan ilmu pengetahuan atau kemampuan manajemen beserta strategi
penerapannya. Profesionalisme bukan sekadar pengetahuan teknologi dan manajemen tetapi
lebih merupakan sikap, pengembangan profesionalisme lebih dari seorang teknisi bukan hanya
memiliki keterampilan yang tinggi tetapi memiliki suatu tingkah laku yang dipersyaratkan.
Guru yang profesional pada dasarnya ditentukan oleh attitudenya yang berarti pada
tataran kematangan yang mempersyaratkan willingness dan ability, baik secara intelektual
maupun pada kondisi yang prima. Profesionalisasi harus dipandang sebagai proses yang terus
menerus. Usaha meningkatkan profesionalisme guru merupakan tanggung jawab bersama antara
LPTK sebagai pencetak guru, instansi yang membina guru (dalam hal ini Depdiknas atau
yayasan swasta), PGRI dan masyarakat.
10

DAFTAR PUSTAKA

Arifin, I. 2000. Profesionalisme Guru: Analisis Wacana Reformasi Pendidikan dalam Era
Globalisasi. Simposium Nasional Pendidikan di Universitas Muham-madiyah Malang,
25-26 Juli 2001.
Dahrin, D. 2000. Memperbaiki Kinerja Pendidikan Nasional Secara Komprehensip:
Transformasi Pendidikan. Komunitas, Forum Rektor Indonesia. Vol.1 No. Hlm 24.
Degeng, N.S. 1999. Paradigma Baru Pendidikan Memasuki Era Desentralisasi dan Demokrasi.
Jurnal Getengkali Edisi 6 Tahun III 1999/2000. Hlm. 2-9.
Galbreath, J. 1999. Preparing the 21st Century Worker: The Link Between Computer-Based
Technology and Future Skill Sets. Educational Technology Nopember-Desember 1999.
Hlm. 14-22.
Gerald Zaltman, Rober Duncan, Johny Holbek. (1973).
Innovation
and
Organization. A Wiley-Interscience Publication John Wiley and Sons, New York.
London, Sydney, Toronto.
Mattew B. Miles (1964). Innovation in Education, Bureau of Publication Teachers
College. Columbia University New York
Maister, DH. 1997. True Professionalism. New York: The Free Press.
Makagiansar, M. 1996. Shift in Global paradigma and The Teacher of Tomorrow, 17th.
Convention of the Asean Council of Teachers (ACT); 5-8 Desember, 1996, Republic of
Singapore.
Naisbitt, J. 1995. Megatrend Asia: Delapan Megatrend Asia yang Mengubah Dunia, (Alih bahasa
oleh Danan Triyatmoko dan Wandi S. Brata): Jakarta: Gramdeia.
Mulyasa, E. (2008). Menjadi Guru Profesinal Menciptakan pembelajaran
Kreatif dan Menyenangkan. Bandung: Remaja Rosdakarya.

11