Anda di halaman 1dari 8

Sikap Nabi terhadap kaum non muslim:

Nabi Muhammad saw merupakan pemimpin yang terbaik di dunia, hal ini tidak hanya menjadi klaim
umat muslim semata tapi juga diakui oleh orang-orang non muslim, bahkan dimasa hidup beliau, kaum
kafir Quraisy yang senantiasa memusuhi beliaupun mengakui akan kepemimpinan beliau. Sikap rendah
hati, sopan santun, lemah lembut dan adil serta sabar bisa kita temukan dalam keseharian beliau, maka tak
heran bahwa siapapun akan kagum dengan sikap dan perilaku beliau.
Pada saat tinggal di Mekkah, orang-orang kafir Quraisy senantiasa mencaci maki dan menghina bahkan
perlakuan kasar terhadap fisik beliau pun sering dilakukan oleh mereka. Tapi yang beliau lakukan hanya
sabar dan tawakkal kepada Allah SWT dan mendoakan semoga mereka diberi petunjuk oleh Allah
SWT,disamping itu beliau pun tetap menyampaikan risalah beliau kepada mereka dengan bijaksana dan
baik, sesuai dengan firman Allah Taala:
Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan-mu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka
dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang
tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk. (QS AnNahl: 125)
Ini menjadi salah satu bukti bahwa sikap dan perilaku beliau merupakan cerminan seorang hamba
didasari dengan ketakwaan sehingga beliau menaruh kecintaan terhadap sesama makhluk Allah Taala
yang dengan jelas-jelas membenci beliau. kecintaan dan kasih sayang beliau terhadap makhluk Allah ini,
memancar dari diri beliau secara fitrati.
Pertama, Menghormati orang-orang non muslim
Kejadian Fatah Mekkah membuat umat Islam memegang kendali di Mekkah namun, beliau senantiasa
menanamkan kepada kaum muslimin untuk tetap menghormati orang-orang kafir Quraisy dan tidak
mengganggu harta mereka, serta tidak berlaku sewenang-wenang atas mereka.beliau menyampaikan
bahwa janganlah kalian saling menzhalim, Karena itu merupakan kezhaliman yang dilarang oleh Allah
swt dan Al-Quran mengajarkan bahwa:
Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, Maka lindungilah
ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman baginya.
demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS At-Taubah 6)
Dari beberapa riwayat ini maka jelas, bahwa kehadiran rasulullah ditengah-tengah umat manusia
senantiasa membawa manusia kearah kebaikan dan memberikan teladan bagi umat manusia umumnya
dan kaum muslimin khususnya. beberapa sikap yang telah di contohkan oleh Rasulullah saw diatas tadi
hendaknya menjadi pedoman bagi kita bersama,sehingga kita bisa mengikuti setiap amalan yang beliau
lakukan, dan menjadi pengikut beliau yang sejati.
Dari riwayat diatas dapat diketahui pula, bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw
merupakan agama yang indah yang di dalam nya kental dengan nuansa kedamaian, toleransi dan saling
mengasihi sesama makhluk Allah Taala.amin.

Kedua, menolong non Muslim yang lemah


Adalah termasuk kisah yang amat masyhur, bahwa Nabi adalah yang paling perhatian terhadap kondisi
pengemis tua dari bangsa Yahudi yang menetap di salah satu sudut pasar di Madinah.
Setiap hari, Nabi datang menyuapi pengemis tersebut, yang selain faktor usia, ia juga sudah tidak bisa
melihat (tunanetra). Dan, setiap Nabi datang menyuapi, pengemis Yahudi itu selalu menyebut-nyebut
Muhammad sebagai orang yang jahat, mesti dijauhi dan sebagainya.
Hingga pada akhirnya, Yahudi tua itu terkejut, ketika tangan yang biasa menyuapinya selama ini berbeda
pada suatu hari. Ya, tangan itu adalah tangan Abu Bakar Ash-Shiddiq yang senantiasa ingin mengikuti
Nabi dalam segala hal.
Saat itulah, Yahudi mendapatkan berita bahwa tangan yang selama ini menyuapinya telah tiada, dan
tangan itu adalah tangan Nabi Muhammad Shallallahu Alayhi Wasallam.
Ketiga, tidak membalas kejahilannya
Ketika masih di Makkah, setiap hendak ke Kabah, dalam perjalannanya, Nabi selalu mendapat perlakuan
jahil (buruk) dari seorang Yahudi yang itu dilakukan hampir setiap kali Nabi melintas.
Terhadap perlakuan buruk itu, Nabi tidak membalas, beliau tetap tidak menghiraukannya. Hingga tiba
suatu hari, dimana mestinya beliau mendapat perlakuan buruk (diludahi seorang Yahudi) ternyata saat itu
tidak. Bukannya senang, Nabi pun mencari tahu kemana gerangan si Yahudi.
Setelah mendapat kabar bahwa Yahudi sakit, Nabi pun menjenguknya. Dan, luar biasa kaget si Yahudi,
bahwa Nabi Muhammad, orang yang selama ini diperlakukan buruk, justru menjadi yang pertama
menjenguknya kala ia sakit.
Keempat, memberikan perlindungan dan pemahaman Islam jika meminta
Allah Taala memerintahkan Nabi untuk memberikan perlindungan kepada orang kafir yang meminta
perlindungan kepada beliau.



Dan jika seorang diantara orang-orang musyrikin itu meminta perlindungan kepadamu, maka
lindungilah ia supaya ia sempat mendengar firman Allah, kemudian antarkanlah ia ketempat yang aman
baginya. Demikian itu disebabkan mereka kaum yang tidak mengetahui. (QS: At-Taubah [9]: 6).
Memaparkan ayat tersebut Ibn Katsir menulis bahwa ayat tersebut menjadi acuan Nabi dalam
memperlakukan orang kafir atau musyrik yang ingin mendapatkan perlindungan, entah statusnya sebagai
orang yang ingin bertanya ataupun sebagai utusan dari orang-orang kafir.
Hal itulah yang dilakukan serombongan kafir Quraisy yang terdiri dari Urwah bin Masud, Mukriz bin
Hafsh, Suhail bin Amr dan lain-lain. Satu persatu dari orang-orang musyrik itu menghadap Nabi

memaparkan permasalahannya, sehingga mereka mengetahui bagaimana kaum Muslimin mengagungkan


Nabi.
Sebuah pemandangan mengagumkan yang tidak mereka jumpai pada diri raja-raja di masa itu. Mereka
pulang kepada kaumnya dengan membawa berita tersebut. Peristiwa ini dan peristiwa semisalnya
merupakan faktor terbesar masuknya sebagian besar mereka ke dalam agama Islam, tulis Ibn Katsir.
Dan, seperti terdorongnya orang kafir masuk Islam tersebut, begitulah yang terjadi pada kategori pertama
dan kedua dalam bahasan akhlak Nabi terhadap orang kafir. Akhlak Nabi adalah dakwah sejati, yang
penerapannya bisa menggugah hati mendapat hidayah Ilahi.
Dari riwayat diatas dapat diketahui pula, bahwa agama Islam yang dibawa oleh Rasulullah saw
merupakan agama yang indah yang di dalam nya kental dengan nuansa kedamaian, toleransi dan saling
mengasihi sesama makhluk Allah Taala.amin.
Mau mencontoh sikap yang mana wahai orang muslim?

Perjaanjian antara nabi muhammad dengan non muslim


Perjanjian yang dibuat dengan orang-orang Kristen Najran di selatan Semenanjung Arab adalah contoh
teladan lain keadilan Nabi Saw. Salah satu pasal dalam perjanjian itu berbunyi, "Kehidupan masyarakat
Najran dan sekitarnya, agama mereka, tanah mereka, harta, ternak, dan orang-orang mereka yang hadir
atau tidak, rasul mereka dan tempat-tempat ibadah mereka berada di bawah perlindungan Allah dan
perwalian Nabi-Nya (Muhammad)."
Piagam Madinah, ditandatangani oleh para imigran Muslim dari Makkah, penduduk asli Madinah, dan
kaum Yahudi Madinah adalah contoh lain pentingnya keadilan Rasulullah. Sebagai hasil konstitusi, yang
menetapkan keadilan antara masyarakat dengan keyakinan berbeda dan memastikan perlindungan dari
berbagai kepentingan mereka, dan mengakhiri permusuhan yang terjadi selama bertahun-tahun. Salah
satu keistimewaan yang paling luar biasa dari perjanjian ini adalah dikokohkannya kebebasan beragama.
Salah satu pasal Piagam Madinah menyebutkan, "Orang-orang Yahudi Bani `Auf merupakan satu bangsa
dengan umat Islam. Orang Yahudi memiliki agama mereka dan Muslim memiliki mereka."
Pasal 16 dari perjanjian tersebut berbunyi, "Orang Yahudi yang mengikuti kami dipastikan berhak atas
dukungan kami dan persamaan hak yang sama seperti salah satu dari kami. Ia tidak akan dirugikan atau
musuhnya tidak akan dibantu."
Para sahabat Rasulullah tetap berpegang pada Piagam Madinah tersebut, bahkan setelah beliau wafat. Dan
mereka bahkan menerapkannya dengan orang-orang Barbar, Buddha, Brahmana, dan orang-orang dari
keyakinan lain.
Salah satu alasan utama mengapa zaman keemasan Islam merupakan salah satu masa yang dinaungi
perdamaian dan keamanan adalah sikap Nabi yang adil, dan itu merupakan cerminan moralitas Al-Qur'an.

Oleh sebab itu, satu-satunya solusi untuk menghentikan pertempuran dan konflik yang terjadi di seluruh
dunia adalah dengan mengadopsi moralitas Al-Qur'an. Sebagaimana Rasulullah Saw, beliau tidak pernah
menghindar dari jalan keadilan, dan beliau tidak pernah membeda-bedakan manusia berdasarkan agama,
bahasa, atau ras.
Hidayah hanya milik Allah
Nabi Yang Mulia Sendiri Tidak Dapat Memberi Hidayah Taufik
Turunnya ayat ini berkenaan dengan cintanya Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam kepada pamannya
Abu Tholib. Akan tetapi, segala cara dan upaya yang dilakukan beliau untuk mengajak pamannya kepada
kebenaran, tidak sampai membuat pamannya menggenggam Islam sampai ajal menjemputnya. Seorang
rosul yang kita tahu kedudukannya di sisi Allah saja tidak mampu untuk memberi hidayah kepada
pamannya, apalagi kita yang keimanannya sangat jauh dibandingkan beliau.
Tidakkah kita melihat perjuangan Nabi Allah Nuh di dalam menegakkan tauhid kepada umatnya? Waktu
yang mencapai 950 tahun tidak dapat menjadikan umat nabi Nuh mendapatkan hidayah Allah, bahkan
untuk keturunannya sendiri pun ia tidak dapat menyelamatkannya dari adzab, Allah berfirman yang
artinya Dan Nuh memanggil anaknya yang berada di tempat yang jauh, Wahai anakku! Naiklah bahtera
ini bersama kami dan janganlah kamu bersama orang-orang kafir. Dia berkata, Aku akan berlindung ke
gunung yang akan menghindarkanku dari air bah. Nuh berkata, Hari ini tidak ada lagi yang bisa
melindungi dari adzab Allah kecuali Dzat Yang Maha Penyayang. Dan gelombang pun menghalangi
mereka berdua, maka jadilah anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan. (QS. Hud:42-43)
Melihat anaknya yang tenggelam, Nabi Nuh berdoa (yang artinya),Dan Nuh pun menyeru Rabbnya,
Wahai Rabbku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu adalah janji
yang benar, dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya. Allah berfirman, Wahai Nuh, sesungguhnya
dia bukan termasuk keluargamu (yang diselamatkan), sesungguhnya amalannya bukanlah amalan yang
shalih. Maka janganlah engkau meminta kepada-Ku sesuatu yang tidak engkau ketahui. Sesungguhnya
Aku peringatkan engkau agar jangan termasuk orang-orang yang jahil. (QS. Hud: 45-46)
Contoh lainnya adalah apa yang dialami oleh Nabi Allah, Ibrohim. Berada ditengah-tengah orang-orang
yang menyekutukan Allah, ia termasuk orang yang mendapat petunjuk. Allah dengan mudahnya
memberikan hidayah kepada seseorang yang dikehendakinya, padahal tidak ada seorang pun yang
mengajarkan dan menerangkan kebenaran kepadanya, Allah berfirman yang artinya Dan demikianlah
Kami perlihatkan kepada Ibrahim tanda-tanda keagungan yang ada di langit dan di bumi, agar dia
termasuk orang-orang yang yakin. Ketika malam telah gelap, dia melihat bintang, lalu berkata, Inilah
rabbku. Tetapi tatkala bintang itu tenggelam, dia berkata, Aku tidak suka pada yang tenggelam.
Kemudian ketika dia melihat bulan terbit, dia berkata, Inilah rabbku. Tetapi setelah bulan itu terbenam,
dia berkata, Sesungguhnya jika Rabbku tidak memberi petunjuk padaku, pasti aku termasuk orang-orang
yang sesat. Kemudian tatkala dia melihat matahari terbit, dia berkata, Inilah rabbku, ini lebih besar.
Tatkala matahari itu terbenam, dia pun berkata, Wahai kaumku, sesungguhnya aku berlepas diri dari apa
yang kalian persekutukan! Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Rabb yang menciptakan
langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang
yang menyekutukan-Nya. (QS. Al-Anam: 75-79)

Dari hal ini, sangat jelaslah bagi kita, hidayah hanyalah milik Allah, dan Allah memberi hidayah kepada
orang yang dikehendakinya. Barangsiapa yang Allah beri hidayah, tidak ada seorang pun yang bisa
menyesatkannya dan barangsiapa yang telah Allah sesatkan, tidak ada seorang pun yang bisa memberi
hidayah kepadanya. Allah berfirman yang artinya Allah memberikan hidayah kepada siapa yang
dikehendaki-Nya kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Baqarah: 213) dan Allah berfirman yang artinya Dan
barangsiapa yang disesatkan Allah, niscaya tak ada baginya seorang pemberi petunjuk. (QS. Azzumar:23).

Kejahatan firaun
Kekejaman fira'un sebagai seorang pemimpin sungguh benar ada didalam kitab suci Al-quran, maka
sudahkan kita sedikit menengok dan merenung dengan apa yang diturunkan oleh Allah dalam kisah yang
nyata? Kekejaman fir'aun mungkin bila dirasakan sekarang sangatlah mengerikan, dia tidak menghendaki
seorang laki-laki untuk tumbuh, dan lantas menyembelihnya khususnya di kalangan bani Israil. Dia hanya
membiarkan anak perempuan yang bisa tumbuh dikerajaannya. Sesungguhnya Firaun telah berbuat
sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah, dengan menindas
segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak
perempuan mereka. Sesungguhnya Firaun termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (Al:Qashas:6)
Barangkali masih banyak kekejaman yang tiada mampu dipaparkan disini seperti perbudakan yang
merajalela, menindas bangsa yang lemah dan tak berdaya. Namun sungguh kita harus percaya bahwa
memang benarlah adanya fir'aun adalah seorang yang diberi laknat oleh Allah Maha Mulia.
Kejahatan Namrud
Namrud adalah seorang ateis, dia telah menyalahgunakan kemampuan itu untuk menyesatkan rakyatnya.
Antara lain menggunakan ilmu falak untuk menciptakan berbagai sistem meramal nasib seperti horoskop
dan meramal nasib palmistry. Tujuannya adalah untuk menunjukkan bahwa manusia tidak perlu Tuhan
karena manusia mampu memprediksi dan mengubah nasibnya dengan sendiri. Selain itu, ia membangun
banyak bangunan dan berhala yang megah dan indah agar manusia kagum dengan kehebatan ciptaannya
sendiri. Menara Babel yang berarti "Pintu Gerbang yang Sempurna" merupakan kuil dimana pendetapendeta memuji Namrud. Tujuannya dibangun adalah untuk menaikkan sebuah bangunan yang mampu
mencapai kayangan.
Ia juga sangat meminati ilmu sihir dan menggunakannya untuk mempengaruhi pikiran rakyatnya. Konon,
dia mempelajari ilmu tersebut dari dua malaikat Harut dan Marut yang pernah disebut dalam Al-Quran.
Selain itu, Namrud telah memulai suatu era yang baru dimana manusia memandang rendah pada tuhan.
Rakyatnya tidak dianjurkan untuk melakukan kebaikan demi tuhan, karena baginya tuhan yang ghaib
adalah lemah. Oleh itu orang-orang dibawah pemerintahannya bisa mengikuti nafsu manusia seperti
berpesta, seks bebas, arak dan segala kemungkaran yang lain. Oleh karena itu, Namrud diberi gelar
Bacchus atau Dewa Anggur karena ia 'mabuk' dengan keduniaan. Ia juga mengklaim dirinya Tuhan
karena, sebagai seorang manusia dia merasa lebih tahu tentang kelemahan manusia lain dibandingkan
Tuhan yang jauh terpisah dari makhluknya sendiri.
Apa yang mau disamakan dan dihubungkan dengan ahok(pake logika)!

Jangan Mudah Menerima Berita Media


Lakukanlah tabayyun, kroscek atau carilah kejelesan terhadap berita-berita media, jangan terima mentahmentah begitu saja. Apalagi media yang ada saat ini cuma cari tenar dan sensasi.
Allah Taala berfirman,



Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka
periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa
mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu. (QS. Al Hujurat: 6).
Ibnu Katsir rahimahullah dalam Tafsir Al Quran Al Azhim berkata, Allah Taala memerintahkan untuk
melakukan kroscek terhadap berita dari orang fasik. Karena boleh jadi berita yang tersebar adalah berita
dusta atau keliru.
Syaikh Abdurrahman bin Nashir As Sadi saat menerangkan ayat di atas, beliau berkata, Termasuk adab
bagi orang yang cerdas yaitu setiap berita yang datang dari seseorang hendaknya dicek terlebih dahulu,
tidak diterima mentah-mentah. Sikap asal-asalan menerima amatlah berbahaya dan dapat menjerumuskan
dalam dosa. Jika diterima mentah-mentah, itu sama saja menyamakan dengan berita dari orang yang jujur
dan adil. Ini dapat membuat rusaknya jiwa dan harta tanpa jalan yang benar. Gara-gara berita yang asalasalan diterima akhirnya menjadi penyesalan.

Sesungguhnya manusia tempat salah dan dosa


Semua diantara kita tentu mempunyai kesalahan.Karena setiap manusia tentu pernah berbuat suatu
kekhilafan ataupun dosa,sekecil apapun itu.Tidak ada seorang manusiapun yang terbebas dan luput dari
dosa.
llah,disamping menciptakan manusia dengan kesempurnaannya,juga menciptakan kelemahannya
Dengan kelemahan kelemahan yang dimiliki manusia itu,tentu sangat berpotensi
melakukan kesalahan kesalahan.Orang yang baik kata Rasul,bukan orang yang tidak pernah berbuat
kesalahan,tapi orang yang baik itu adalah orang yang menyadari kesalahannya,lalu menyesali, lantas
memohon ampun dan bertaubat kepada Allah seraya berjanji tidak akan mengulanginya lagi.
Manusia adalah tempatnya salah dan lupa ( ) Maka pantas predikat itu selalu melekat pada
diri manusia.Seorang ahli etimologi bahasa mengatakan bahwa terbentuknya kata manusia dalam bahasa
indonesia,erat hubungannya dengan "qaidah lughatil Arobiyyah",( )berarti :sesuatu,hal,perkara,apa apa.Sedangkan ( )berarti lupa.Ketika manusia berbuat salah maka sesungguhnya ia telah berjalan
kearah yang salah manjauhi jalan yang telah ditentukan.Nah untuk bisa berjalan lagi di jalur yang benar
maka ia harus "kembali",itulah taubat.

janganlah menyebar kebencian, dengan mencari cari kesalahan orang lain apakah diri anda sendiri sudah
merasa paling benar? Selalu bersikaplah Tawadhu

Pendapat beberapa ulama


Buya Syafi'i akal sehatnya mengatakan bahwa Ahok bukan orang jahat yang kemudian ditanggapi
beragam oleh berbagai kalangan. Setelah itu, Buya Syafi'i mendapat hujatan cukup banyak, begitu juga
yang membela.
"Semua berdasarkan Fatwa MUI yang tidak teliti itu, semestinya MUI sebagai lembaga menjaga
martabatnya melalui fatwa-fatwa yang benar-benar dipertimbangkan secara jernih, cerdas, dan
bertanggung jawab," kata Buya.
jangan mau di doktrin orang yang mengatas namakan islam demi kepentingan mereka sendiri dengan cara
memfitnah seseorang. seolah- olah ahok itu salah, menistakan padahal itu cuma pemikiran mereka yang
tidak suka. Seandainya ada yang salah itu cuma perkataan bukan perbuatan, bukankah sudah meminta
maaf kurang apalagi, proses hukum juga sudah berjalan.
Ada 2 ayat dalam Al-Quran Suci yang biasanya menjadi landasan terorisme berkedok Islam, yaitu AtTaubah:5 : maka bunuhlah orang-orang musyrikin itu dimana saja kamu jumpai mereka.
Dan Al-Baqoroh:191 : Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, untuk menghalalkan
tindakan mereka. Mereka menganggap tindakan tersebut merupakan perintah Allah yang Maha Perkasa.
Bayangkan kalau ayat-ayat ini DIPAKAI orang-orang yang tidak bertanggung jawab demi memuaskan
syahwat gilanya saja.
Maka saya akan berkata, "Saudaraku, jangan mau dibohongi orang PAKAI ayat-ayat tersebut."
Jadi menggunakan ayat-ayat tertentu untuk tujuan tertentu tergantung orangnya yang menggunakan. Kita
menyebutnya dengan mencari pembenaran atas perbuatan kita PAKAI ayat-ayat Al-Qu'an.
Dari dua ayat diatas, silahkan telusuri secara lengkap ayat sebelum dan sesudahnya, maka akan terlihat,
bahwa yang harus dibunuh adalah kaum musyrik yang mengangkat senjata dan mendahului menyerang
kaum muslimin. Sebagaimana termuat dalam permulaan ayat At-Taubah, ada kelompok musrik yang
mengadakan perjanjian dengan kaum muslimin, kemudian membatalkan perjanjian tersebut, bahkan
akhirnya menyerang kaum muslimin. Jadi bukan semua golongan musrik, tetapi hanya yang mengadakan
perjanjian dengan kaum muslimin.
Islam, seperti dicontoh Nabi, menjunjung tinggi perdamaian
Dalam surat Al-Anfal:61-62 Dan jika mereka condong kepada perdamaian, maka condonglah kepadanya
dan bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.
Dan jika mereka bermaksud menipumu, maka sesungguhnya cukuplah Allah (menjadi pelindungmu).
Dialah yang memperkuatmu dengan pertolongan-Nya dan dengan para mumin.
Terlihat disini bahwa kaum muslimin sangat dianjurkan untuk mengadakan perdamaian.

Jadi Islam sama sekali tidak mengajarkan kekerasan, dan bahkan yang biasa menyebut basmalah
harusnya sudah tahu artinya, "Dengan nama Allah yang MAHA PENGASIH lagi MAHA
PENYANYANG".
Sebagai perintah Allah yang terbanyak, "Ya tafakarun.. ya tafakarun.. Berfikirlah.. berfikirlah..", hanya
orang yang berfikir yang bisa menerima berbagai hidayah dan pengetahuan dari Allah.

Lebih baik hentikan perdebatan- perdebatan yang tidak ada manfaatnya, jangan mengurusi
masalah orang lain. Tujuan kita hidup di dunia adalah untuk ibadah dan mentauhidkan Allah.
Sebagaimana dalam ayat (yang artinya), Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia
melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku. (QS. Adz Dzariyat: 56)