Anda di halaman 1dari 5

PENGENDALIAN KETINGGIAN FLUIDA DENGAN KAPASITIF PROBES

I.

TUJUAN PERCOBAAN
Setelah melakukan praktikum ini mahasiswa diharapkan mampu:
1. Melakukan simulasi pengendalian kontinyu menggunakan kapasitif probes
2. Memahami mekanisme pengendalian kontinyu
3. Mencetak grafik pengendalian dan menjelaskan grafik tersebut

II.

ALAT DAN BAHAN


Alat yang digunakan
1. Satu set unit pengendalian level RCN 200
2. Personal computer
Bahan yang digunakan
1. Air dalam tangki penampungan

III.

DASAR TEORI

Pengontrol Proporsional
Pengontrol proposional memiliki keluaran yang sebanding atau proposional dengan
besarnya sinyal kesalahan (selisih antara besaran yang di inginkan dengan harga aktualnya).
Secara lebih sederhana dapat dikatakan bahwa keluaran pengontrol proporsional merupakan
perkalian antara konstanta proporsional dengan masukannya. Perubahan pada sinyal masukan
akan segera menyebabkan sistem secara langsung mengeluarkan output sinyal sebesar konstanta
pengalinya.
Pengontrol proporsional memiliki 2 parameter, pita proporsional (Propotional Band) dan
konstanta proporsional. Daerah kerja kontroler efektif dicerminkan oleh pita proporsional
sedangkan konstanta proporsional menunjukan nilai faktor penguatan sinyal terhadap sinyal
kesalahan Kp. Hubungan antara pita proporsional (PB) dengan konstanta proporsional (Kp)
ditunjukkan secara persentasi oleh persamaan berikut:
PB = 100/ Kp
P = Kp.Ep + Po

Ciri-ciri pengontrol proporsional harus diperhatikan ketika pengontrol tersebut diterapkan


pada suatu sistem. Secara eksperimen, pengguna pengontrol proporsional harus memperhatikan
ketentuan-ketentuan berikut ini :
1. Kalau nilai Kp kecil, pengontrol proporsional hanya mampu melakukan koreksi
kesalahan yang kecil, sehingga akan menghasilkan respon sisitem yang lambat.
2. Kalau nilai Kp dinaikan, respon sistem menunjukan semakin cepat mencapai set point
dan keadaan stabil.
3. Namun jika nilai Kp diperbesar sehingga mencapai harga yang berlebihan, akan
mengakibatkan sistem bekerja tidak stabil, atau respon sistem akan berosolasi
Pengontrol Integral
Pengontrol integral berfungsi menghasilkan respon sistem yang memiliki kesalahan
keadaan stabil nol. Jika sebuah plant tidak memiliki unsur integrator (1/s), pengontrol
proporsional tidak akan mampu menjamin keluaran sistem dengan kesalahan keadaan stabilnya
nol. Dengan pengontrol integral, respon sistem dapat diperbaiki, yaitu mempunyai kesalahan
keadaan stabilnya nol. Pengontrol integral memiliki karaktiristik seperti halnya sebuah integral.
Keluaran sangat dipengaruhi oleh perubahan yang sebanding dengan nilai sinyal kesalahan.
Keluaran pengontrol ini merupakan penjumlahan yang terus menerus dari perubahan
masukannya. Kalau sinyal kesalahan tidak mengalami perubahan, keluaran akan menjaga
keadaan seperti sebelum terjadinya perubahan masukan. Sinyal keluaran pengontrol integral
merupakan luas bidang yang dibentuk oleh kurva kesalahan penggerak. Sinyal keluaran akan
berharga sama dengan harga sebelumnya ketika sinyal kesalahan berharga nol.
Ketika digunakan, pengontrol integral mempunyai beberapa karakteristik berikut ini:
1. Keluaran pengontrol membutuhkan selang waktu tertentu, sehingga pengontrol integral
cenderung memperlambat respon.
2. Ketika sinyal kesalahan berharga nol, keluaran pengontrol akan bertahan pada nilai
sebelumnya.
3. Jika sinyal kesalahan tidak berharga nol, keluaran akan menunjukkan kenaikan atau
penurunan yang dipengaruhi oleh besarnya sinyal kesalahan dan nilai Ki.
4. Konstanta integral Ki yang berharga besar akan mempercepat hilangnya offset. Tetapi
semakin besar nilai konstanta Ki akan mengakibatkan peningkatan osilasi dari sinyal
keluaran pengontrol.

Pengontrol Derivative
Keluaran pengontrol Derivative memiliki sifat seperti halnya suatu operasi differensial.
Perubahan yang mendadak pada masukan pengontrol, akan mengakibatkan perubahan yang
sangat besar dan cepat
Ketika masukannya tidak mengalami perubahan, keluaran pengontrol juga tidak
mengalami perubahan, sedangkan apabila sinyal masukan berubah mendadak dan menaik
(berbentuk fungsi step), keluaran menghasilkan sinyal berbentuk impuls. Jika sinyal masukan
berubah naik secara perlahan (fungsi ramp), keluarannya justru merupakan fungsi step yang
besar magnitudnya sangat dipengaruhi oleh kecepatan naik dari fungsi ramp dan faktor konstanta
diferensialnya.
Karakteristik pengontrol derivative adalah sebagai berikut:
1. Pengontrol ini tidak dapat menghasilkan keluaran bila tidak ada perubahan pada
masukannya (berupa sinyal kesalahan).
2. Jika sinyal kesalahan berubah terhadap waktu, maka keluaran yang dihasilkan pengontrol
tergantung pada nilai Td dan laju perubahan sinyal kesalahan. (Powel, 1994, 184).
3. Pengontrol derivative mempunyai suatu karakter untuk mendahului, sehingga pengontrol
ini dapat menghasilkan koreksi yang signifikan sebelum pembangkit kesalahan menjadi
sangat besar. Jadi pengontrol derivative dapat mengantisipasi pembangkit kesalahan,
memberikan aksi yang bersifat korektif, dan cenderung meningkatkan stabilitas sistem.

Berdasarkan karakteristik pengontrol tersebut, pengontrol derivative umumnya dipakai


untuk mempercepat respon awal suatu sistem, tetapi tidak memperkecil kesalahan pada keadaan
stabilnya. Kerja pengontrol derivative hanyalah efektif pada lingkup yang sempit, yaitu pada
periode peralihan. Oleh sebab itu pengontrol derivative tidak pernah digunakan tanpa ada
pengontrol lain sebuah sistem (Sutrisno, 1990, 102).

Tujuan pengukuran tinggi permukaan cairan pada proses adalah untuk :


1. Mencegah kerusakan equipment dan kerugian akibat cairan bahan untuk proses industri
terbuang.
2. Pengontrolan jalannya proses.
3. Mendapatkan spesifikasi yang

diinginkan

seperti

pada

Evaporator-evaporator

hydrocarbon.
Differensial transmitter elekrtik merupakan sensor yang dipergunakan untuk mengukur
besarnya tinggi permukaan cairan (Level pada tangki) sebagai alat untuk dapat di baca ke
controller hingga ke pengaturan akhir. Setiap proses selalu mempunyai keadaan yang sedang
berlangsung. Agar keadaan yang diinginkan sama dengan keadaan yang berlangsung maka
pengontrolan harus dilakukan dengan memerlukan suatu alat pengukuran. Adapun gambaran
permasalahan yang di peroleh sebelum merancang instrumentasi pengukur besarnya tinggi
permukaan cairan (Level pada tangki) dalam tangki dengan menggunakan diferensial transmitter
elektrik dan keterpasangan instrumentasi pengukuran pada posisi masing-masing. Guna
mendapat ketelitian atau keakuratan dalam memberikan hasil yang diinginkan.

IV.

PROSEDUR KERJA
1. Menghidupkan alat dengan memutar MAIN SWITCH ke posisi ON.
2. Menghidupkan komputer dan menghubungkan antara level control unit dengan komputer
menggunakan kabel USB yang tersedia
3. Menjalankan program DIDATEC CONTROL pada layar desktop dengan mengklik 2x
menggunakan mouse
4. Menghidupkan pompa dan mengatur debit 1600L/jam
5. Mengatur USB port di monitor ke COM 3 dan mengubah set point menjadi 4
6. Memasukkan harga proporsional band 50% Integral time 1 dan derivatif time 1

7. Mengklik START ACQUISITION pada layar monitor untuk memulai proses


pengendalian level fluida
8. Menyimpan grafik dengan mengklik tombol SAVE THE GRAPH
9. Mengulangi langkah nomor 6 dengan mengubah nilai proporsional band 30%, 70%,
derivatif time 3 dan 5
10. Mengamati proses hingga di dapat grafik perubahan yang cenderung stabil.