Anda di halaman 1dari 44

BAB I

PENDAHULUAN
1.1

Latar Belakang Kerja Praktik


Seiring berkembangnya ilmu pengetahuan dan teknologi, dituntut sumber daya
manusia yang terampil dan mampu beradaptasi serta berkontribusi dalam gagasan atau
ide pada lingkungan kerja. Setelah menyelesaikan studinya,seorang mahasiswa dituntut
sudah mampu untuk terjun ke dunia kerja dengan memberikan tenaga dan ide ide
kreatifnya serta mengaplikasikan ilmu pengetahuan dan teknologi yang didapat di
bangku kuliah. Mahasiswa yang memperoleh gelar sarjana pada dunia kerja dituntut
sebagai penyelesai masalah yang ada.
Kerja Praktik merupakan jembatan penghubung antara industri dengan
institusi pendidikan.Pelaksanaan kerja praktik bagi mahasiswa sangatlah penting untuk
menambah wawasan didunia industri. Disamping itu pelaksanaan kerja praktik
bertujuan untuk dapat memahami serta mengenal lebih jauh implementasi disiplin ilmu
sesuai dengan program studi yang dijalani. Lebih dari itu pelaksanaan kerja praktik
memberikan masukan kepada mahasiswa dalam hal menemukan, merekayasa, dan
mengembangkan objek yang ditemukan di industri, sehingga nantinya diharapkan
bermanfaat bagi pengembangan industri tersebut.
Setiap tahunnya kebutuhan semen di Indonesia semakin lama semakin
meningkat. Meningkatnya permintaan semen terjadi karena semakin gencarnya
pembangunan yang dilakukan di Indonesia baik di kota kota kecil maupun kota kota
besar. Untuk memenuhi permintaan tersebut, kapasitas produksi pabrik semen di
Indonesia perlu ditingkatkan lagi. PT Semen Padang adalah pabrik semen pertama dan
menjadi yang tertua di Indonesia..
PT Semen Padang didirikan pada tahun 1910 saat Belanda masih menguasai
Indonesia. Seorang perwira berkebangsaan jerman Ir. Carl Cristhopus yang tertarik
dengan batu batuan yang ada di Bukit Karang Putih dan Bukit Ngalau. Perusahaan ini
sudah sangat berpengalaman dalam pembuatan semen di Indonesia.Dengan pengalaman
yang dimiliki industri-industri seperti PT Semen Padang inilah, dapat dijadikan sebagai
tempat kerja praktik bagi mahasiswa yang ingin mencari pengalaman di bidang industry
persemenan.
1

Pada saat kerja praktek ini, penulis ditempatkan di pemeliharaan mesin,


Departemen Produksi Indarung V di PT Semen Padang, bagian cement mill . Bagian ini
mengurus pemeliharaan dari mesin-mesin yang ada pada cement mill. Pemeliharaan
dilakukan untuk memastikan mesin-mesin yang beroperasi pada bagian cement mill
tetap beroperasi dengan optimal dan dapat mencegah kerusakan besar yang dapat
terjadi. Penulis lebih memfokuskan pada optimalisasi mobilgear 680 terhadap keausan
slide shoe.
1.2

Tujuan Kerja Praktik


Adapun tujuan yang ingin dicapai dalam kegiatan kerja praktik di PT Semen
Padang adalah :
1.

Mengaplikasikan ilmu yang telah didapat pada perkuliahan terutama dibidang


teknik mesin

2.

Memberi kesempatan kepada mahasiswa untuk memperoleh pengetahuan lebih


dan pengalaman langsung mengenai penerapan ilmu-ilmu teknik mesin, serta
mengenali permasalahan di industry semen secara nyata dan menjawab
permasalahan tersebut

3.

Mengetahui kompetensi yang diperlukan seorang lulusan Teknik Mesin di


dunia kerja, khususnya di bidang industri semen

4.
1.3

Memenuhi salah satu syarat untuk melaksanakan tugas akhir.

Pelaksanaan Kerja Praktik


Pelaksanaan kerja praktik dilaksanakan di PT Semen Padang yang berada di
Indarung Padang, Sumatera Barat. Kerja praktik dilaksanakan dari tanggal 20 Juni 2016
sampai dengan 5 Agustus 2016.

1.4

Ruang Lingkup Kerja Praktik


Ruang lingkup dari kerja praktik adalah slide shoe (journal bearing), keausan,
cement mill, pelumasan, dan pompa LP dan HP.

1.5

Metodologi Penelitian
Dalam penyusunan laporan ini terdapat 3 metode pengumpulan data yang
digunakan, yaitu :

1.

Metode Observasi
Metode ini berupa peninjauan langsung ke lapangan untuk melihat dan
memantau kejadian yang terjadi di lapangan.

2.

Metode Wawancara
Metode ini beupa wawancara dengan staff dan pekerja lapangan bagian
Cement Mill Indarung V PT.Semen Padang. Metode ini digunakan untuk
mengetahui informasi lebih spesifik mengenai kejadian yang terjadi di
lapangan.

3.

Metode Literatur
Metode ini berupa mengumpulkan data dan informasi dari sumber buku
buku referensi yang ada

1.6

Sistematika Penulisan
Sistematika penulisan dari laporan ini terdiri dari enam bagian, yaitu :
1.

BAB I Pendahuluan
Berisi latar belakang masalah, tujuan kerja praktek, batasan masalah atau
ruang lingkup, metodologi penulisan dan sistematika penulisan laporan.

2.

BAB II Profil Perusahaan


Berisi tentang profil dari PT Semen Padang sebagai tempat kerja praktek dan
proses pembuatan semen di PT Semen Padang secara umum.

3.

BAB III Teori Dasar


Berisi tentang pengertian bantalan (bearing) secara umum , klasifikasi, prinsip
kerja dan operasi serta perhitungan tentang journal bearing.

4.

BAB IV Pengumpulan Data


Berisi tentang data-data yang berhubungan dengan spesifikasi bantalan slide
shoe, pompa HP dan LP, spesifikasi cement mill, pelumas mobilgear 600 XP
680, dan data-data lain yang berhubungan.

5.

BAB V Pengolahan Data dan Pembahasan


Berisi tentang pengolahan data analisis pelumasan slide shoe menggunakan
pelumas mobilgear 600 XP 680 agar kerja dari slide shoe lebih optimal serta
berisi tantang analisis lain yang berhubungan.

6.

BAB VI Penutup
Berisi kesimpulan dari pembahasan analisis pelumasan mobilgear 600 XP 680
pada slide shoe bearing dan saran dari penulis.
3

BAB II
PROFIL PT SEMEN PADANG
2.1

Sejarah Singkat PT Semen Padang


PT Semen Padang adalah salah satu perusahaan BUMN di dalam lingkungan

Direktorat Jendral Industri Logam, Mesin dan Kimia. PT Semen Padang merupakan pabrik
semen tertua di Indonesia yang didirikan pada tahun 1910. PT Semen Padang terletak di
kelurahan Indarung Kecamatan Lubuk Kilangan yang jaraknya lebih kurang 15 Km dari kota
Padang dengan ketinggian lebih kurang 200 m dari permukaan laut.
Pada abad ke-19 tepatnya tahun 1906 seorang perwira Belanda berkebangsaan
Jerman yang bernama Ir. Carl Cristhopus, tertarik dengan batu-batuan yang ada di
bukitKarang Putih dan Bukit Ngalau. Setelah ia melakukan penelitian ternyata batu itu adalah
batu kapur, dan didalamnya juga terdapat batu silica dan tanah liat yang merupakan bahan
baku pembuatan semen. Penemuan ini membuat para pengusaha Belanda tertarik untuk bisa
mengolah bahan-bahan yang telah ada tersebut. Maka pada tanggal 18 Maret 1910, mereka
mendirikan perusahaan semen yang bernama NV.Nederland Indische Portland Cemen
Maatshappiji (NIPCM). Pabrik semen pertama ini beroperasi dengan kapasitas pertamanya
76,50 ton per hari. Kapasitas ini terus ditingkatkan hingga pada tahun 1939 kapasitas
produksinya mencapai 170.000 ton pertahun
Pada waktu pemerintahan Jepang menguasai Indonesia tahun 1942-1945, pabrik
dikuasai oleh pemerintahan Jepang dengan manajemen dari Asano Cement Jepang. Produksi
tidak berjalan dengan sebagaimana mestinya karena sulit mendapatkan minyak pelumas dan
sparepart yang dibutuhkan.
Dan ketika reformasi kemerdekaan tahun 1945 pabrik ini diambil alih oleh
karyawan, yang selanjutnya diserahkan kepada pemerintahan Republik Indonesia dengan
nama Kilang Semen Padang. Namun hal ini tidak berlangsung lama karena dalam agresi I
pada tahun 1947, pabrik ini direbut kembali oleh Belanda dan mengganti namanya dengan
NV Padang Portland Cement Maatscappij (NV PPCM) dengan produksi 154.000 ton per
tahun.
Pada tanggal 5 Juli pabrik ini diambil alih oleh Pemerintah Republik Indonesia
dalam rangka perjuangan perebutan Irian barat dari tangan Belanda. Hal ini seiring dengan
4

keluarnya Peraturan Pemerintah (PP) No. 10 tahun 1958, yang menyatakan bahwa: Semua
perusahaan yang berada di tangan Belanda diserahkan kembali ke tangan Pemerintah
Republik Indonesia. Sebagai pengelola, pemerintah RI menunjuk Badan Pengelola
Perusahaan Industri dan Tambang (BAPPIT) pusat dan pada waktu itulah nama Semen
Padang mulai diperkenalkan.
Setelah tiga tahun dikelola oleh BAPPIT pusat berdasarkan PP No. 135 tahun 1961,
status perusahaan ini berubah menjadi perusahaan negara (PN) dengan nama PT Semen
Padang. Pada saat itu produksi semen sangat minim, terlihat pada produksi semen tahun 1967
dengan jumlah 77.030 ton per tahun. Kemudian pada tahun 1971 produksi semen meningkat
menjadi 172.000 ton per tahun yang disebabkan adanya penggantian Dewan Direksi pada
tahun 1970.
Kemudian dengan PP No. 7 tahun 1971 status Semen Padang sebagai perusahaan
negara (PN) di ubah menjadi PT Semen Padang (Persero) dengan modal seluruhnya dimiliki
oleh pemerintah RI.
Pabrik Indarung I sebagai pabrik tertua yang menggunakan proses basah terhitung
sejak 1 Januari 2000 tidak beroperasi lagi dengan pertimbangan meningkatnya dampak
limbah terhadap lingkungan sekitarnya. Pabrik Indarung II mulai dibangun pada tahun 1977
dan selesai pada tahun 1980.Setelah itu berturut-turut dibangun Pabrik Indarung III A (19811983) dan Pabrik Indarung III B (selesai tahun 1987), sedangkan Pabrik Indarung III C
dibangun pada tahun 1994. Kemudian dalam perkembangannya Pabrik Indarung III A
akhirnya dinamakan Pabrik Indarung III, sedangkan Pabrik Indarung III B dan III C yang
menggunakan satu kiln yang sama diberi nama Pabrik Indarung IV. Dan untuk meningkatkan
produksinya, PT Semen Padang membangun satu pabrik lagi, yaitu Pabrik Indarung V.
Berdasarkan SK Mentri Keuangan RI No. S-326/MK.016/1995 tanggal 5 Juni 1955,
pemerintah melakukan konsolidasi atas tiga buah BUMN Semen yaitu PT Semen Gersik
(PTSG), PT Semen Padang (PTSP), dan PT Semen Tonasa (PTST) yang direalisasikan pada
tanggal 15 September 1995. Ketiga perusahaan ini berada dalam holding PT Semen Gresik
(Persero) Tbk. Sejak 7 Januari 2013, PT Semen Gresik Tbk berubah nama menjadi PT Semen
Indonesia (Persero) Tbksesuai hasil Rapat Umum Pemegang Saham Luar Biasa (RUPSLB) di
Jakarta pada 20 Desember 2012 dan PT Semen Padang bersama PT Semen Gresik, PT Semen
Tonasa dan Thang Long Cement Company Vietnam resmi menjadi bagian dari PT Semen
Indonesia, perusahaan semen terbesar di Indonesia.
5

2.2

Visi dan Misi PT Semen Padang


Visi
Menjadi perusahaan persemenan yang andal, unggul dan berwawasan
lingkungan di Indonesia bagian barat dan Asia Tenggara.
Misi
1.

Memproduksi dan memperdagangkan semen serta produk tekait lainnya


yang berorientasi kepada kepuasan pelanggan.

2.

Mengembangkan SDM yang kompeten, profesional dan berintegritas


tinggi.

3.

Meningkatkan

kemampuan

rekayasa

dan

engineering

untuk

mengembangkan industri semen nasional.


4.

Memberdayakan, mengembangkan dan mensinergikan sumber daya


perusahaan

5.

yang berwawasan dan lingkungan.

Meningkatkan nilai perusahaan secara berkelanjutan dan memberikan


yang terbaik kepada stakeholder.

2.3

Logo PT Semen Padang


Logo PT Semen Padang (PTSP) pertama kali diciptakan pada 1910, semasih

bernama Nederlandsch Indische Portland Cement (Pabrik Semen Hindia Belanda).Logonya


berbentuk bulat, terdiri atas dua lingkaran (besar dan kecil) dengan posisi lingkaran kecil
berada di dalam lingkaran besar.Di antara kedua lingkaran tersebut terdapat tulisan "Sumatra
Portland Cement Works". Di dalam lingkaran kecil terdapat huruf N.I.P.C.M, singkatan
Nederlandsch Indische Portland Cement Maatschappij, sebuah pabrik semen di Indarung, 15
km di timur kota Padang.
Logo itu hanya berumur 3 tahun karena pada 1913 dibuat sebuah logo baru, meski
bentuk bulat dengan dua garis lingkaran dan kata-katanya tetap dipertahankan. Hanya saja,
NIPCM ditambah dengan NV. Nah, ini yang menarik: ada gambar seekor kerbau jantan
dalam lingkaran kecil tampak sedang berdiri menghadap ke arah kiri dengan latar panorama
alam Minangkabau. Gambar ini menggantikan posisi huruf NIPCM sebelumnya.

Logo itu diubah lagi pada 1928.Kata Nederlandsch Indische diubah menjadi
Padang.Jadi, tulisan di antara kedua lingkaran tersebut adalah N.V. Padang Portland Cement
Maatschapij.Di bagian bawahnya tertulis Fabrik di Indarung Dekat Padang, Sumatera
Tengah, yang ditulis dengan huruf yang lebih kecil.Wah, telah muncul bahasa Melayu,
setelah Sumpah Pemuda pada 1928. Dalam lingkaran kecil, selain gambar kerbau, terdapat
gambar seorang laki-laki yang sedang berdiri di depan sebelah kanan kerbau sambil
memegang tali kerbaunya. Ada pula gambar sebuah rumah adat, kelihatan hanya dua
gonjongnya, di belakang sebelah kanan kerbau.Panorama di latar belakang ditambah dengan
lukisan Gunung Merapi, lambang sumarak ranah Minang.Gambar kerbau tetap ditampilkan
mendominasi di lingkaran kecil tersebut.
Jepang kemudian datang membawa perubahan, NV PPCM diganti dengan Semen
Indarung.Logo PT SP tidak diubah, kecuali perubahan tulisan dari bahasa Belanda ke bahasa
Indonesia.Demikianlah sampai Perang Kemerdekaan (1945-1949).Ada sedikit perubahan,
yaitu digantinya tulisan Semen Indarung dengan Kilang Semen Indarung. Namun, saat
Belanda kembali pada 1950, nama NVPPCM muncul kembali.Logo PTSP dimodifikasi lagi,
pada 1958, seiring dengan kebijakan pemerintah pusat tentang nasionalisasi perusahaan
asing. Logonya yang bulat dipertahankan, tapi tulisan NV PPCM diganti dengan Semen
Padang Pabrik Indaroeng.Gambar kerbau tetap ada.Tapi tiada lagi gambar seorang laki-laki,
rumah adat, dan gambar panorama Gunung Merapi. Penggantinya adalah gambar atap rumah
gadang dengan lima gonjong di atas gambar kerbau.
Logo PTSP diperbarui lagi pada 1970.Dua lingkaran dihilangkan, sehingga tulisan
Padang Portland Cement Indonesia dibuat melingkar sekaligus menjadi pembatasnya.
Gambar kerbau hanya menampilkan kepalanya saja dengan posisi menghadap ke depan. Di
atas kepala kerbau dibuat pula gambar atap/gonjong (5 buah) rumah adat.Muncul pula moto
PTSP yang berbunyi "Kami Telah Berbuat Sebelum yang Lain Memikirkan". Namun, pada
1972 logo tersebut dimodifikasi dengan memunculkan dua garis lingkaran: besar dan kecil.
Perubahan terjadi lagi pada 1991, saat tulisan Padang Portland Cement menjadi Padang
Cement Indonesia.
Pada 1 Juli 2012, PT SP kembali melakukan perubahan logo. Pada perubahan kali
ini, PT Semen Padang tidak melakukan perubahan yang bersifat fundamental karena brand
perusahaan tertua di Indonesia ini dinilai sudah kuat. Pergantian ini dilakukan dengan
pertimbangan, logo yang dipakai sebelumnya memiliki ciri, tanduk kerbau kecil dan
7

complicated (rumit). Mata kerbau kelihatan old (tua), gonjong dominan, dan telinga terlihat
off position. Pada logo baru disempurnakan menjadi, tanduk kerbau menjadi besar dan
kokoh/melindungi, mata kelihatan tajam/tegas, gonjong menjadi sederhana (crown) , dan
telinga pada posisi on (selalu mendengar).
Logo baru ini memiliki kriteria dan karakter yang kokoh (identitas semen), universal
(tidak kedaerahan), lebih simpel (mudah diingat/memorable), dan lebih konsisten (aplicable
dalam ukuran terkecil).

Gambar 1. Logo PT Semen Padang dari masa ke masa

2.4

Struktur Organisasi PT Semen Padang

Gambar 2. Struktur Organisasi PT Semen Padang


Struktur organisasi PT Semen Padang terdiri dari staf dengan pemegang saham
sebagai pemilik kekuasaan tertinggi dalam hal ini pemerintah melalui Dewan Komisaris.
Sebagai BUMN para direksi yang terdiri dari lima orang, yang diangkat dan diberhentikan
oleh Menteri Perdagangan dan Industri. Struktur organisasi PT Semen Padang yang
selengkapnya dapat dilihat pada Lampiran.
Satu dari lima direksi diangkat sebagai Direktur Utama dan yang lainnya memimpin
bidang-bidang sebagai berikut :

Direktur Komersil

Direktur Produksi

Direktur Keuangan

Keempat direktur ini bertindak langsung sebagai pengelola (Dewan Direksi).


Untuk operasionalnya sehari-hari masing-masing direksi dibantu oleh karyawan yang
dibagi atas (divisi pabrik, 1982) :

Karyawan Tetap

Staf, sebagai kepala departemen, kepala biro dan kepala bidang.

Non-Staf, sebagai kepala urusan (supervisor yang bertanggung


jawab atas distribusi dan kelancaran kerja di lingkungan kerjanya)
beserta bawahannya.

Karyawan Honor
Karyawan yang tidak memiliki Nomor Induk Pegawai (NIP)
perusahaan dengan masa kerja seharian, tetapi dengan kedudukan lebih
tinggi daripada karyawan harian.

Karyawan Harian
Karyawan yang tidak memiliki NIP perusahaan dengan masa kerja
seharian, dengan kedudukan lebih rendah daripada karyawan honor.
Departemen Produksi V dikepalai oleh seorang kepala departemen.
Kepala Departemen ini membawahi empat Kepala Biro, yaitu Biro
Produksi V, Biro Pemeliharaan mesin V, Biro Pemeliharaan Listrik dan
Instrument V dan Biro Tenaga.
Untuk Pemeliharaan Mesin Indarung V, dikepalai oleh seorang
Kepala Biro. Kepala Biro membawahi tiga Kepala Bidang, yaitu Kepala
Bidang Pemeliharan Mesin Raw Mill V, Kepala Bidang Pemeliharaan
Mesin Kiln dan Coal Mill V dan Kepala Bidang Pemeliharaan Mesin
Cement Mill V. Untuk Kepala Bidang Pemeliharaan Mesin Cement Mill
V, membawahi dua orang Kepala Urusan.

2.5

Manajemen Perusahaan
Dalam mengelola suatu perusahaan agar dapat berjalan dengan baik dan benar, maka

diperlukan manajemen yang terstruktur dan terprogram. Sistem manajemen inilah yang
nantinya akan menentukan jalannya roda perusahaan. Sistem manajemen ditentukan oleh
pengambil keputusan atau pimpinan perusahaan yang akhirnya dilahirkan kebijaksanaan yang
penting bagi perusahaan sehingga perusahaan dapat berjalan dengan baik.
Manajemen merupakan suatu hal yang sangat penting dalam mengelola suatu
perusahaan.Lancar tidaknya kegiatan dalam suatu perusahaan sangat tergantung pada sistem
10

manajemen yang dipakainya.Tidak ada satu perusahaan pun yang dapat bertahan tanpa
memiliki sistem manajemen yang efektif dan efisien.
Manajemen adalah bagaimana membuat orang lain mau bekerja serta rela
mengerjakan pekerjaan yang kita kehendaki. Dari pengertian diatas dapat diartikan seorang
pemimpin perusahaan dalam melaksanakan tugasnya tidak terlepas dari fungsi-fungsi
manajemen, karena melalui fungsi manajemen itulah tujuan yang dikehendaki oleh
perusahaan dapat tercapai. Berdasarkan garis besarnya fungsi manajemen itu dapat dibagi
atas :
a.

Planning
Planning merupakan fungsi manajemen untuk melaksanakan tujuan policy
dan program perusahaan.Setiap kegiatan-kegiatan yang tercapai atau dilaksanakan
harus dibuat perencanaannya terlebih dahulu.Pada PT Semen Padang perencanaan
dibuat oleh pemimpin sedangkan perencanaan yang sifatnya kecil pada masingmasing unit dilaksanakan oleh masing-masing unit itu sendiri.

b.

Organizing
Struktur organisasi merupakan kelengkapan yang penting bagi sebuah
perusahaan dimana didalamnya tergambar tingkat tanggung jawab, wewenang, dan
tugas yang jelas.Organisasi merupakan gabungan dari beberapa orang yang
terkoordinir untuk mencapai tujuan dengan pembagian tugas.
Dalam mencapai tujuan tersebut akan dihadapkan pada beberapa kegiatan
yang akan dilaksanakan. Hal ini bergantung kepada besar kecilnya perusahaan
sehingga dapat memberikan gambaran perusahaan secara menyeluruh.

c.

Actuating
Actuating merupakan suatu usaha penggerakan seorang pemimpin terhadap
yang dipimpinnya.Jadi disini yang menjadi fokusnya adalah manusia yang dikenal
secara luas dengan hubungan silaturahmi antar manusia.Pada PT Semen Padang hal
ini dilaksanakan dengan cukup baik dengan adanya koperasi karyawan, siraman
rohani secara berkala, dharma wanita perusahaan dan lain-lain.

d.

Controlling
Controlling merupakan tindakan yang harus dilaksanakan oleh seorang
pemimpin

perusahaan

untuk

menjaga

agar

tidak

terjadi

penyimpangan
11

penyelewengan tugas dan wewenang dari yang telah ditentukan semula, sehingga
dapat dicapai hasil yang baik pula. Pada PT Semen Padang pengawasan dilakukan
terhadap proses produksi, keuangan, tugas, sistem dan prosedur hasil produksi.
2.6

Proses Pembuatan Semen

Gambar 3. Proses produksi semen PT Semen Padang


Secara umum psroses produksi semen terdiri dari beberapa tahapan :
1.

Tahap penambangan bahan mentah (quarry). Bahan dasar semen adalah batu kapur,
tanah liat, pasir besi dan pasir silica. Bahan-bahan ini ditambang dengan
menggunakan alat-alat berat kemudian dikirim ke pabrik semen.

2.

Bahan mentah ini diteliti di laboratorium, kemudian dicampur dengan proporsi yang
tepat dan dimulai tahap penggilingan awal bahan mentah dengan mesin penghancur
sehingga berbentuk serbuk.

3.

Bahan kemudian dipanaskan di preheater

4.

Pemanasan dilanjutkan di dalam kiln sehingga bereaksi membentuk kristal klinker

5.

Kristal klinker ini kemudian didinginkan di cooler dengan bantuan angin. Panas dari
proses pendinginan ini di alirkan lagi ke preheater untuk menghemat energi

6.

Klinker ini kemudian dihaluskan lagi dalam tabung yang berputar yang bersisi bolabola baja sehingga menjadi serbuk semen yang halus.

12

7.

Klinker yang telah halus ini disimpan dalam silo (tempat penampungan semen mirip
tangki minyak pertamina)

8.

Dari silo ini semen dipak dan dijual ke konsumen.


Ada 3 bagian proses utama pembuatan semen :

1.

Raw Mill

2.

Kiln

3.

Cement Mill

Raw
Material

Raw
Mill

Raw Mix

Kiln

Klinker

Cemen
Mill

Semen

PPI

Gambar 4. Proses pembuatan semen secara keseluruhan dari Raw Materia sampai PPI

Proses produksi secara umum pembuatan semen adalah material berupa bahan baku
masuk ke dalam raw mill. Material yang berada di dalam raw millakan dihaluskan menjadi
raw mix. Raw mix tersebut akan dibakar di dalam kiln sehingga akan menjadi klinker atau
biasa disebut sebagai semen setengah jadi. Kemudian klinker dihaluskan kembali dan
dicampur dengan bahan tambahan sesuai dengan jenis semennya di dalam cement mill.
Setelah melalui cement mill, semen sudah berupa barang jadi, hanya saja belum dibungkus.
Semen yang akan dibungkus akan melakukan proses pembungkusan di dalam PPI.

1.

Raw Mill
Semen mempunyai empat bahan baku dasar yaitu: batu kapur (lime stone 80%),

batu silika (silica stone 10%), tanah liat (clay 5%), pasir besi (iron sand 5%). Empat bahan
baku semen tersebut disimpan di dalam tempat penyimpanan (storage) yang berbeda.
Bahan baku yang disimpan di tempat penyimpanan merupakan bahan baku yang siap
diambil untuk menjalani proses berikutnya. Dua dari empat bahan baku disimpan kembali
ke dalam hopper yang digunakan sebagai pengatur kadar dan komposisi bahan baku
semen di dalam campuran. Bahan baku yang masuk ke dalam hopper adalah lime stone
dan silica stone, sementara iron sand dan clay tidak masuk ke dalam hopper.

13

Material bahan baku kemudian akan masuk ke dalam feeder raw mill. Feeder
raw mill merupakan alat yang digunakan untuk mengatur kadar dan komposisi dari bahan
baku dengan menggunakan kecepatan motor belt conveyor sebagai variabel pengatur
feeding-nya. Kadar dan komposisi lime stone dan silica stone bergantung kepada jumlah
iron sand dan clay yang masuk.

Gambar 5. Proses pada Raw Mill


Material yang telah tercampur selanjutnya masuk ke dalam mill untuk
menghaluskan material melalui belt conveyor. Mill yang digunakan biasanya ada dua
jenis, yaitu vertical mill dan tube mill. Vertical mill menghaluskan material dengan cara
menggesekkan material dengan alas yang berputar dan penumbuk (crusher) yang berada di
empat arah yang berbeda. Vertical mill mampu menyaring material halus dan kasar secara
langsung sehingga tidak membutuhkan separator sebagai penyaring material. Berbeda
dengan vertical mill, tube mill menghaluskan material dengan

prinsip penumbukan.

Material yang berada di dalam tube mill akan bercambur bersama penumbuk (grinding
media) yang berbentuk seperti bola. Penumbuk tersebut akan menumbuk material ketika
tube mill berputar. Setelah material dihaluskan oleh tube mill, material masuk ke dalam
separator dan di dalam separator material halus dan kasar akan dipisahkan. Jika material

14

masih kasar, material akan dihaluskan kembali ke dalam mill. Material yang sudah halus
dinamakan raw mix.
Proses akhir dari proses raw mill ini adalah proses penyimpanan raw mix. Raw
mix dibawa oleh air slide ke dalam silo raw mix. Raw mix yang disimpan ke dalam silo
siap untuk dibawa untuk proses selanjutnya pada kiln
2.

Kiln

Gambar 6. Proses pada Kiln

Raw mix yang telah disimpan di dalam silo raw mix dibawa oleh air slide sampai
ke dalam hopper.Di dalam hopper, material di-feeding untuk diatur kecepatan atau debit
masuknya ke dalam suspension preheater maupun kiln. Jika di dalam kiln material masih
banyak melakukan pembakaran, hopper berhenti atau sedikit melakukan feeding.
Setelah feeding selesai dilaksanakan, material akan masuk ke dalam suspension
preheater. Suspension preheater merupakan alat pemanasan awal material bahan baku
sebelum memasuki kiln. Tujuannya agar pada kiln, beban panas yang dilepaskan tidak
terlalu besar sehingga kerja kiln tidak terlalu berat.
Material yang telah mengalami pemanasan awal selanjutnya akan dibakar ke
dalam kiln sehingga menjadi klinker. Di dalam kiln, pembakaran dilakukan di dalam
kondisi bertemperatur 1400C. Material yang dibakar di dalam kiln juga akan diputar agar
pembakaran dapat dilakukan secara merata. Sumber panas kiln berasal dari pembakaran
batubara.
Proses selanjutnya setelah mengalami pembakaran di dalam kiln adalah proses
pendinginan. Pendinginan dilakukan di dalam grate cooler. Grate cooler menggunakan
prinsip yang pendinginan yang sama dengan cooling tower.

15

Klinker yang telah didinginkan kemudian dihancurkan menggunakan crusher


klinker.Tujuannya agar klinker yang telah didinginkan tersebut dihaluskan kembali
sebelum memasuki intermediate silo.Crusher klinker merupakan alat penumbuk material
yang berbentuk seperti poros yang mempunyai penumbuk di permukaan porosnya. Jika
poros tersebut diputar, makan penumbuk akan menumbuk klinker sehingga menjadi lebih
halus. Klinker yang telah halus disimpan sementara di dalam intermediate silo sebelum
memasuki proses pada cement mill.
3.

Cement Mill

Gambar 7. Proses pada Cement Mill


Klinker yang telah disimpan pada intermediate silo lalu dimasukkan pada hopper
klinker menggunakan alat transportasi bucket elevator. Lalu dari hopper klinkerini terjadi
proses pengaturan feeding dan ditransportasikan oleh belt conveyor sebelum masuk roller
press.
Roller press berfungsi sebagai pre-grinding yaitu sebagai penghalusan awal
klinker agar kerja tube mill tidak terlalu berat.Roller press menggunakan prinsip double
roller yang berputar berlawanan arah dengan celah tertentu untuk menghaluskan klinker
sesuai ukuran celah. Sebagian hasil klinker yang dihaluskan dari roller press
16

ditransportasikan kembali kepada roller press oleh belt conveyor agar kerja roller press
tidak terlalu berat (over load) karena material halus bercampur dengan material kasar.
Setelah proses pre-grinding pada roller press, maka klinker yang telah dihaluskan
dimasukkan pada tube mill untuk dihaluskan sekaligus pencampuran gypsum. Tube mill
pada cement mill ini menggunakan grinding media berupa bola-bola baja yang akan
menumbuk klinker didalam tube mill yang berputar.
Material hasil penggilingan pada tube mill disaring oleh separator yang diangkut
oleh air slide lalu diteruskan oleh bucket elevator. Material yang masih kasar kemudian
ditransportasikan kembali oleh belt conveyor pada tube mill sedangkan material yang telah
halus ditransportasikan oleh air slide menuju silo cement. Material yang telah halus pada
silo cement ini adalah merupakan semen jadi yang siap untuk dikantongkan dan
ditransportasikan.
2.7

Jenis Semen Produksi PT Semen Padang dan Kegunaanya

Gambar 8. Jenis Semen PT Semen Padang


a.

Portland Cement Type I


Dipakai untuk keperluan konstruksi umum yang tidak memerlukan

persyaratan khusus terhadap panas hidrasi dan kekuatan tekan awal. Lebih tepat
digunakan pada tanah dan air yang mengandung sulfat 0,0% - 0,10 %, dapat juga
digunakan untuk bangunan rumah pemukiman, gedung-gedung bertingkat, dan
lain-lain.
17

b.

Portland Cement Type II


Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan yang terbuat dari

beton massa yang memerlukan ketahanan sulfat lebih tinggi (pada lokasi tanah
dan air yang mengandung sulfat antara 0,10-0,20%) dan panas hidrasi sedang,
misalnya bangunan di pinggir laut, bangunan di tanah rawa, saluran irigasi, beton
massa untuk dam-dam dan landasan jembatan.
c.

Portland Cement Type V


Lebih tepat digunakan untuk konstruksi bangunan-bangunan pada

tanah/air yang mengandung sulfat > 0,20 % dan sangat cocok untuk instalasi
pengolahan limbah pabrik, konstruksi dalam air, jembatan, terowongan,
pelabuhan, dan pembangkit tenaga nuklir.
d.

Super Masonry Cement


Semen ini lebih tepat digunakan untuk konstruksi perumahan gedung,

jalan dan irigasi yang struktur betonnya maksimal K 225. Dapat juga digunakan
untuk bahan baku pembuatan genteng beton, hollow brick, paving block, tegel
dan bahan bangunan lainnya.
e.

Oil Well Cement


Merupakan semen khusus yang lebih tepat digunakan untuk pembuatan

sumur minyak bumi dan gas alam dengan konstruksi sumur minyak bawah
permukaan laut dan bumi. Untuk saat ini jenis OWC yang telah diproduksi adalah
class G, HSR (High Sulfat Resistance) disebut juga sebagai "BASIC OWC".
Bahan additive/ tambahan dapat ditambahkan/ dicampurkan hingga
menghasilkan kombinasi produk OWC untuk pemakaian pada berbagai
kedalaman dan temperatur.
f.

Portland Pozzolan Cement


Adalah semen hidrolid yang dibuat dengan menggiling terak, gypsum

dan bahan pozzolan. Produk ini lebih tepat digunakan untuk bangunan umum dan
18

bangunan yang memerlukan ketahanan sulfat dan panas hidrasi sedang, seperti:
jembatan, jalan raya, perumahan, dermaga, beton massa, bendungan, bangunan
irigasi dan fondasi pelat penuh.
2.8

Kapasitas Produksi
Total kapasitas produksi PT.Semen Padang 5.240.000 ton/tahun dengan rincian

sebagai berikut :

Pabrik Indarung II

= 660.000 ton/tahun (proses kering)

Pabrik Indarung III

= 660.000 ton/tahun (proses kering)

Pabrik Indarung IV

= 1.620.000 ton/tahun (proses kering)

Pabrik Indarung V

= 2.300.000 ton/tahun (proses kering)

Disamping produk utamanya semen, PT Semen Padang berusaha meningkatkan dan


mengembangkan penguasaan teknologi sejalan dengan perkembangan industri nasional
melalui

partisipasi

dibidang rancang bangun dan rekayasa serta pengembangan

manufacturing dan konstruksi pabrik. Peningkatan dan pengembangan teknologi maju


dilaksanakan sejalan dengan perkembangan industri nasional melalui peningkatan Brainware
(pengetahuan, proses alih teknologi maju, kreatifitas, rekayasa) dan Hardware (sarana
peralatan). Adanya potensi personil yang berpengalaman, ditunjang juga dengan
fasilitas/peralatan yang memadai, serta adanya fasilitas untuk keperluan design enginering
untuk menghasilkan daya cipta yang dapat diandalkan.

19

BAB III
TEORI DASAR
3.1

Pengertian Umum Bantalan (Bearing)


Pada suatu peralatan/mesin dapat dipastikan bahwa terdapat banyak komponen yang

bergrak baik dalam bentuk gerakanangular maupun gerakan linear. Gerakan relative antar
komponen mesin akan menimbulkan gesekan, dimana gesekan ini dapat menurunkan
efisiensi mesin, meningkatnya keausan, meningkatkan temperature, dan berbagai efek
negative lainya. Gesekan antara komponen mesin tersebut dapat diminimalkan dengan
menggunakan bantalan (bearing).
Bantalan

merupakan

salahsatu

bagian

dari

elemen

mesin

yang

memegangperanan cukup penting karena fungsi dari bantalan yaitu untuk menumpu
sebuahporos agar poros dapat berputar tanpa mengalami gesekan yang berlebihan. Bantalan
harus cukup kuat untuk memungkinkan poros serta elemen mesin lainnya bekerja
dengan baik.

Gambar 9. Bantalan (bearing)

Sejarah penggunaan bantalan utuk mengurangi efek gesekan dapat ditelusuri dari
hasil penemuan kereta sederhana yang telah berumur 5000 tahun di Euphrates di dekat sungai
tigris. Penggunaan bantalan yang lebih maju terlihat pada kereta Celtic sekitar 2000 tahun
20

yang lalu seperti ditunjukkan pada gambar dibawah. Kereta ini menggunakan bantalan kayu
dan pelumas dari lemak hewan.

Gambar 10. Kereta celtic dan bearingkayu yang digunakanpada kereta celtic

Dalam sejarah modern, desain dan penggunaan bantalan yang terdokumentasikan


dengan baik dimulai oleh Leonardo Davinci pada tahun 1452.Dia menggunakan bantalan
gelinding ntuk kincir angin dan penggilingan gandum.Paten pertama tentang bantalan
didaftarkan di Prancis 400 tahun kemudian.Selanjutnya katalog bantalan pertama di dunia
diterbitkan di Inggris pada tahun 1900. Saat ini,penggunaan bantalan sebagai komponen anti
gesek telah digunakan secara luas dngan dengan variasi ukuran, variasi beban, variasi putaran
yang sangat lebar. Bantalan untuk peralatan ini haruslah mampu menahan beban yang sangat
besar serta umur teknis yang lama.
Terdapat dua jenis mekanisme yang digunakan bantalan dalam mengatasi gesekan
yaitu mekanisme sliding dan mekanisme rolling.Untuk mekanisme sliding, terjadi gerakan
relative antar permukaan, maka penggunaan pelumas memegang peranan yang sangat
penting. Sedangkan mekanisme rolling, dimana tidak boleh terjadi gerakan relative antara
permukaan yang berkontak, peran pelumas lebih kecil, dimana bentuk pelumas dapat berupa
gas,cair maupun padat.
3.2

Klasifikasi Bearing
Secara umum bantalan dapat diklasifikasikan berdasarkan konstruksi atau

mekanismenya mengatasi gesekan dan berdasarkan arah beban.


21

3.2.1 Klasifikasi Bantalan Berdasarkan Arah Beban yang Diterima


Berdasarkan arah beban yang diterima bantalan, bantalan terbagi pada
beberapa jenis, yaitu :
1.

Bantalan radial/ radial bearing : menahan beban dalam arah radial

2.

Bantalan aksial/ thrust bearing : menahan beban dalam arah aksial

3.

Bantalan kombinasi : menahan beban arah radial dan aksial

Gambar 11. Arah beban yang diterima bantalan

3.2.2 Klasifikasi Berdasarkan Konstruksi atau Mekanisme Menahan Gesekan


1.

Bantalan luncur
Bantalan luncur menggunakan mekanisme sliding, diamana dua permukaan
komponen mesin saling bergerak relative dengan terdapat pelumas diantara
kedua permukaan tersebut sebagai alat utama untuk mengurangi gesekan
antara kedua permukaan. Bantalan luncur untuk beban arah radial disebut
journal bearing dan untuk beban arah aksial disebut plain thrust bearing

2.

Bantalan gelinding
Bantalan gelinding menggunakan elemen rolling untuk mengatasi gesekan
antara kedua komponen yan bergerak.Diantara kedua permukaan terdapat
elemen gelinding seperti bola, rol, taper, dll. Kontak gelinding terjadi antara
22

elemen ini dengan komponen lain yang berarti pada permukaan kontak
tidak ada gerakan relative.

Gambar 12. (a) Journal bearing, dan (b) rolling bearing


3.3

Sliding bearing
Slider bearing memerlukan gesekan langsung dari elemen yang membawa beban

pada tumpuannya. Hal ini berbeda dengan rolling-element bearings dimana bola atau roller
dipasang diantara dua permukaan geser. Slider bearing atau sering juga disebut plain bearing
terdiri atas dua jenis seperti yang ditunjukkan oleh Gambar dibawah, yaitu:
1.

Journal atau sleeve bearing ,yang bentuknya silindris dan menahan beban
radial (yang tegak lurus terhadap sumbu poros).

2.

Thrust bearing ,yang bentuknya biasanya datar, dimana pada kasus poros yang
berputar, dapat menahan beban yang searah dengan sumbu poros.

Gambar 13. a). thrust bearing b).journal bearing


3.3.1 Kelebihan dan Kekurangan Sliding Bearing
Kelebihan bantalan luncur adalah :
1.

Mampu menumpu poros berputaran tinggi dengan beban besar.

2.

Konstruksinya sederhana dan dapat dibuat serta dipasang dengan mudah.


23

3.

Dapat meredam tumbukan dan getaran sehingga hampir tidak bersuara.

4.

Tidak memerlukan ketelitian tinggi sehingga harganya lebih murah

Kekurangan bantalan luncur adalah :


1.

Gesekan besar pada awal putaran.

2.

Memerlukan momen awal yang besar.

3.

Pelumasannya tidak begitu sederhana.

4.

Panas yang timbul dari gesekan besar sehingga memerlukan pendinginan


khusus

3.3.2 Prinsip Kerja Sliding Bearing


Prinsip kerja dari sliding bearing adalah sebagai berikut :

Sliding Murni
Yaitu tanpa ada cairan/gas pelumas (contoh: Teflon, Nylon, Graphite)

Hydrodynamic
Yaitu terdapat lapisan batas antar permukaan

Hydrostatic
Yaitu terdapat pelumas bertekanan yang memisahkan kedua permukaan

Kombinasi Hydrodynamic dan Hydrostatic

3.3.3 Material bearing


Bahan bantalan harus mempunyai sifat sebagai berikut :
Sifat mekanik

Comformability (modulus elastis rendah) dan deformability ( plastic


flow) : mudah menyesuaikan terhadap misalignment dan defleksi

Indention softness : memungkinkan partikel kecil yang terjebak pada


celah bearing menyusup ke permukaan bearing sehingga tidak merusak
poros

Kekuatan geser rendah : permukaan bearing mudah menjadi halus

Kekuatan tekan dan kekuatan lelah yang mencukup untuk dapat


menopang beban

24

Sifat termal

Konduktifitas termal yang baik

Koefisien pemuaian yang tidak banyak berbeda dengan poros dan


rumahnya

Sifat metalurgi

Compatibility dengan bahan poros dalam hal scoring, welding dan


seizing

Sifat kimia

tahan karat terhadap asam yang dapat terbentuk akibat oksidasi


pelumas maupun kontaminasi

Jenis material sliding bearing :

Tabel 1. Jenis material sliding bearing


Sifat dari tiap jenis material bearing adalah sebagai berikut :
bearing material

fatigue
strength

comformability

embeddability

antiscoring

corrosion
resistance

thermal
conductivity

Tin base babbit

poor

good

excellent

excellent

excellent

poor

lead base babbit

poor to fair

good

good

good to excellent

fair to poor

poor

lead bronze

fair

poor

poor

poor

good

fair

copper lead

fair

poor

poor to fair

poor to fair

poor to fair

fair to good

aluminium

good

poor to fair

poor

good

excellent

fair

silver

excellent

almost none

poor

poor

excellent

excellent

silver lead deposited

excellent

excellent

poor

poor to good

excellent

excellent

Tabel 2. Sifat material bearing


25

3.4

Sistem Pelumasan
Sistem pelumasan antara dua permukaan yang bergerak relatif melibatkan behavior

partikel pelumas antara kedua permukaan, tipe pelumas, jenis pelumasan, dan metoda
aplikasi pelumas.
Pelumas memiliki beberapa fungsi utama yaitu menurunkan gesekan, mengurangi
keausan, melindungi permukaan dari korosi atau oksidasi, meredam beban kejut, menghidari
kontaminasi, dan mendinginkan permukaan kontak.
Gambar di bawah menunjukkan bagaimana pelumas bekerja diantara dua
permukaan. Untuk mengetahui perilaku pelumas dalam menguragi efek gesekan diperlukan
teori pelumasan yang melibatkan persamaan matematik yang sangat komplek. Sampai saat ini
solusi persamaan differensial yang mengatur mekanisme pelumasan didasarkan oleh berbagai
idealisasi dan penyederhanaan sehingga solusi yang ada adalah masih pendekatan.
Tipe pelumas dapat berbentuk gas, cair, maupun padat. Sedangkan jenis pelumasan
dibedakan menjadi boundary, mixed boundary, dan full film lubrication. Hal ini didasarkan
pada karakteristik gesekan dan lapisan pelumas antara permukaan yang bergesekan. Aplikasi
pelumas pada suatu peralatan dapat dilakukan secara manual maupun automatis dengan
menggunakan pompa.

Gambar 14. Lapisan pelumas diantara permukaan yang berkontak

26

3.4.1 Jenis Pelumas


Pelumas adalah substansi atau material yang dapat menurunkan gesekan dan
keausan serta memberikan smooth running dan umur yang memuaskan untuk suatu
elemen mesin. Pelumas dapat berwujud gas, cair maupun padat. Semua jenis pelumas
ini dapat dibedakan menjadi dua jenis yaitu pelumas alam dan pelumas buatan
(sintetic). Dalam aplikasinya, pelumas cair adalah jenis pelumas yang paling banyak
digunakan. Pelumas cair memiliki kelebihan yaitu kekuatan geser yang rendah dan
kekuatan tekan yang tinggi. Pelumas padat biasanya digunakan pada kondisi dimana
pelumas cair tidak dapat bertahan pada permukaan atau pada situasi khusus seperti pada
temperatur yang sangat rendah atau sangat tinggi. Sedangkan pelumas berwujud gas
atau udara digunakan pada kondisi yang sangat khusus dimana dibutuhkan koefisien
gesekan yang sangat rendah.
3.4.2 Viskositas
Viskositas didefinisikan sebagai ukuran ketahanan suatu fluida terhadap beban
geser. Viskositas suatu material cair umumnya berbanding terbalik terhadap
temperature dan berbanding lurus terhadap tekanan. Ada dua jenis ekspresi viskositas
yaitu viskositas absolut atau viskositas dinamik dan viskositas kinematik yang
dihubungkan oleh persamaan :
=
dimana adalah densitas fluida. Viskositas kinematik dinyatakan dengan satuan
cm2/detik (Stoke) dalam SI atau dalam inchi2/detik dalam USCS.
Viskositas kinematik suatu cairan dapat diukur dengan viskometer yang bisa
menggunakan mekanisme kapiler atau rotasional. Viskometer kapiler mengukur laju
aliran fluida melalui tabung kapiler pada suatu temperatur tertentu, biasanya antara 400
atau 1000 Celcius. Sedangkan viscometer rotasional mengukur nilai torsi dan putaran
suatu poros vertikal atau konus vertikal pada anulus konsentris yang diisi dengan
pelumas yang diuji.
Viskositas absolut dinyatakan dalam satuan Pascal-detik, dyne-detik per cm2
(centi Poise) atau dalam lb-detik/ inchi2 (reyn). Sebagai contoh viskositas absolut udara
adalah 0,0179 centi-Poise (cP) atau 0,0026 reyn pada temperatur 200 C. Sedangkan
air memiliki viskositas absolut 1,0 cP atau 0,145 reyn.
27

viscosity system
grade
identification

mid-point
viscosity cSt
mm2/s@ 40C

kinematic viscosity limits


cSt (mm2/s) @ 40C
min

max

ISO VG 2

2.2

1.98

2.42

ISO VG 3

3.2

2.88

3.52

ISO VG 5

4.6

4.14

5.06

ISO VG 7

6.8

6.12

7.48

ISO VG 10

10

11

ISO VG 15

15

13.5

16.5

ISO VG 22

22

19.8

ISO VG 32

32

23.8

ISO VG 46

46

41.4

ISO VG 68

68

61.2

ISO VG 100

100

90

ISO VG 150

150

135

ISO VG 220

220

198

ISO VG 320

320

268

ISO VG 460

460

414

ISO VG 680

680

612

ISO VG 1000

1000

900

ISO VG 1500

1500

1350

Tabel 3. Klasifikasi oli pelumas ISO untuk engine


3.4.3 Tipe Pelumasan
Berdasarkan derajat pemisahan permukaan oleh pelumas, secara umum modus
pelumasan dapat dibedakan menjadi tiga jenis yaitu : full-film lubrication, mixed-film
lubrication, dan boundary lubrication. Gambar dibawah ini menunjukkan ketiga kasus
pelumasan.

Gambar 15. Skematik tipe-tipe pelumasan

Pada Full-film lubrication, permukaan sliding sepenuhnya dipisahkan oleh


lapisan pelumas (film) sehingga tidak ada kontak samasekali antara kedua
permukaan. Beban yang cenderung membuat permukaan berkontak ditahan
oleh pelumas bertekanan di antara kedua permukaan. Jadi secara ideal tidak
28

akan terjadi keausan dan rugi gesekan hanya terjadi pada pelumas yang
mengalami geseran. Koefisien gesekan pada full-film biasanya antara 0,002
sampai dengan 0,010. Sedangkan tebal film pelumas sekitar 0,008 sampai
dengan 0,02 mm.

Pada mixed film lubrication beberapa puncak permukaan bersentuhan dan


pada bagian lain terbentuk lapisan pelumas. Koefisien gesekan pada mode ini
berkisar antara 0,004 s/d 0,10.

Pada boundary lubrication, terjadi kontak yang terus menerus antara kedua
permukaan, tetapi pelumas juga terus menerus melumuri permukaan. Dengan
demikian koefisien gesekan menjadi rendah. Koefisien gesekan untuk mode
ini biasanya sekitar 0,05 s/d 0,20.

Gambar 16. Skematik perbedaan tipe pelumasan


Dalam operasi, semua mode pelumasanterjadi:

Saat journal berhenti, terjadi kontak antarpermukaan sliding

Saat start-up dan stop, terjadi mode boundarylubrication

Seiring bertambahnya kecepatan putar, terjadimixed film-boundary

Pada kecepatan rancangan, terjadi full-filmLubrication


29

3.5

Dasar Perhitungan Pelumasan Journal Bearing


a.

Tekanan Bantalan (Pb)

dimana,

b.

Pb

= Tekanan bantalan, Psi

= beban radial, lbf

= diameter bearing, inch

= lebar bantalan , inch

Clearance diameter ,Cd


Nilai Cd didapatkan dari grafik tergantung nilai N dan d dimana :
N

= putaran poros , rpm

= diameter baring, inch

Gambar 17. Grafik hubungan diameter journal bearing dengan diameter clearance

30

c.

clearance modulus, m

d.

rasio l/d (length to diameter)

e.

Parameter tekanan bantalan, (P)

Dimana ,

f.

= tekanan bantalan

= clearance modulus

Pb

= tekanan bantalan, Psi

= viskositas pelumas, centipoises (cP)

= putaran poros, rpm

rasio eksentrisitas, e
dilihat dari grafik dengan menggunakan nilai P dan l/d

Gambar 18. Grafik rasio eksentrisitas

31

g.

parameter torsi , T
dilihat dari grafik dengan menggunakan nilai l/d dan e

Gambar 19. Grafik hubungan parameter torsi dengan eksentrisitas


h.

Torsi gesekan, Tf

Dimana,
Tf

= Torsi gesekan , inch-pounds/imch

= parameter torsi

= jari jari bantalan , inch

= viskositas pelumas, centipoises (cP)

= clearance modulus

= putaran poros, rpm

i.

friction horse power, Pf

j.

Faktor X : untuk perhitungan aliran pelumas


32

Dimana
= massa jenis pelumas , lb/in3
c

= specific heat of lubricants , Btu/lb F

Jika pelumasnya adalah jenis mineral oil , maka nilai X bisa didapatkan dari table
berikut :
temperature

X factor

100

12.9

150

12.4

200

12.1

250

11.8

300

11.5

Tabel 4. Nilai X untuk mineral oil


k.

Total aliran pelumas yang dibutuhkan Qr

Qr = total pelumas yang dibutuhkan, gallon / min


Pf = friction horse power, Hp
= kenaikan temperature di dalam bantalan , F

33

BAB IV
PENGUMPULAN DATA
Setelah dilakukan pengumpulan data di lapangan baik secara langsung di lapangan,
menyesuaikan dengan katalog alat, dan meminta data dari control pusat, di dapat data-data
terkait dengan slide shoe bearing, mill, mobilgear 600 X 680 serta pompa yang digunakan
dalam pelumasan slide shoe sebagai berikut :
4.1

Spesifikasi slide shoe


Berikut ini merupakan gambar teknik dari slide shoe yang digunakan di PT Semen

Padang beserta spesifikasi dari slide shoe tersebut.

Gambar 20. Slide shoe tampak samping

Gambar 21. Slide shoe tampak atas

34

Spesifikasi slide shoe PT Semen Padang adalah :

4.2

Material

: Babbit

Panjang

: 160 mm

Lebar

: 710 mm

Diameter lubang

: 10 mm

Tebal maksimum

: 380 mm

Temperature operasi

: 80-90 C

Spesifikasi mill
Berikut ini adalah cement mill yang digunakan oleh PT Semen Padang. Cement mill

ini bertipe tube mill dan memiliki nomenclature 5Z2M01.

Gambar 22. Cement Mill Indarung V 5Z2M01

Gambar 23. Gambar teknik cement mill


35

Gambar 24. Diameter cement mill


Spesifikasi cement mill PT Semen Padang :
Panjang mill

= 16.4 m

Diameter mill

= 5.4 m

Putaran mill (N) = 14.2 rpm


Load (W)
4.3

= 840 kN

Spesifikasi pelumas mobilgear 600 XP 680


Berikut ini adalah spesifikasi dari mobilgear 600 XP 680 yang digunakan di PT

Semen Padang :
Jenis

: mineral oil

Viscosity ASTM D 445

:39.2 mm2/s @ 100 C

Density

: 0.91 kg/l

Quality di cement mill

: 700 liter

36

Tabel 5. Spesifikasi mobilgear 600 XXP680


4.4

Spesifikasi pompa
Pompa HP

Gambar 25. Pompa HP


Spesifikasi pompa HP (high pressure), yaitu :

37

Merk

= HAWE Hydraulik made in Germany

Type

= R 4,2

P max

= 450 bar

Vg = 2,98 cm3/U
Pompa LP
Spesifikasi pompa LP (low pressure), yaitu:
Merk

: Concentric pump made in Germany

Sesifikasi : GPA3-63-E-30-R

Gambar 26. Pompa LP


Berikut adalah data performance dari pompa LP yang digunakan :

Tabel 6. Data performansi pompa LP


38

BAB V
PENGOLAHAN DATA DAN PEMBAHASAN
Salah satu faktor utama yang mempengaruhi tingkat keausan slide shoe adalah
sistem pelumasanya. Jika pelumasannya tidak sesuai dengan yang seharusnya , maka akan
terjadi gesekan antara slide shoe dan slide ring. Gesekan ini akan menimbulkan panas yang
nantinya akan menyebabkan kerusakan pada permukaan slideshoe sehingga kerja dari mill
akan terganggu.
Untuk mengurangi gesekan antara slide shoe dan slide ring, maka dibutuhkan
pelumas yang cukup di antara kedua permukaan kontak. Ini dapat meminimalisir keausan
pada slide shoe karena permukaan kontak slide shoe dan slide ring tidak bergesekan secara
langsung. Dalam pemenuhan kebutuhan lapisan film pelumas tersebut, dibutuhkan jumlah
minimal aliran pelumas saat slide shoe beroperasi agar efisiensinya meningkat dan umur dari
bearing nya juga semakin lama.
Dalam proses pelumasanya, digunakan pompa LP dan pompa HP dimana pompa HP
digunakan pada start-up awal untuk mengangkat mill pada tekanan 100 bar sedangkan pompa
LP digunakan pada saat mill sudah berputar pada tekanan 60-70 bar untuk sirkulasi dari
pelumasnya yaitu mobilgear 600 XP 680 .
Berikut adalah perhitungan untuk menentukan kebutuhan minimal slide shoe
terhadap pelumas mobilgear 600 XP 680 :
a.

Nilai viskositas pelumas


Berdasarkan data spesifikasi pelumas mobilgear 600 XP 680 pada BAB sebelumnya,
yaitu

dan

, maka didapatkan nilai viskositas pelumas

dengan menggunakan persamaan :

b.

Tekanan Bantalan
Tekanan bantalan slide shoe dapat dinyatakan dengan persamaan dibawah ini :
39

c.

Clearance diameter ,Cd


Setelah nilai viskositas pelumas dan tekanan pada bantalan di dapatkan , maka langkah
selanjutnya adalah mencari besar nilai clearance diameter atau Cd. Nilai Cd didapat
dari grafik pada gambar 17 dengan menggunakan nilai N = 14.2 rpm dan l = 27.9527
inch, yaitu sebesar Cd = 0.2 inchi

d.

Clearance modulus, m
Nilai Cd pada perhitungan poin c digunakan untuk menentukan nilai modulus clearance
dengan persamaan :

e.

Rasio l/d (length to diameter)


Langkah selanjutnya adalah menghitung nilai rasio panjang-lebar jurnal bearing, yaitu:

f.

Parameter tekanan bantalan, P


Kemudian, hitung nilai parameter tekanan bantalan dengan menggunakan persamaan
dibawah ini :

40

g.

Rasio eksentrisitas, e
Dengan menggunakan nilai

pada poin f dan

pada

poin e, didapatkan nilai 1/(1-e) = 2 pada grafik dibawah ini

Gambar 27. Nilai rasio eksentrisitas


h.

Parameter torsi , T
dan nilai 1/(1-e) = 2, didapat nilai T = 0.7

Dengan nilai

0.7

Gambar 28. Nilai parameter torsi


41

i.

Torsi gesekan, Tf
Untuk mendapatkan besar torsi gesekan pada bearing , diguanakn persamaan :

j.

Friction horse power, Pf


Kemudian dihitung nilai daya gesek bantalan yaitu :

k.

Faktor X : untuk perhitungan aliran pelumas


Mobilgear 600 XP 680 termasuk ke dalam jenis mineral oil , maka nilai X didapat dari
table berikut :

Tabel 7. Faktor X untuk mineral oil


Dari table diatas , didapatkan nilai X adalah 12.9
l.

Total aliran pelumas yang dibutuhkan Qr


Langkah terakhir adalah menghitung total aliran pelumas yang dibutuhkan pada operasi
slide shoe yaitu :

42

25.12 gallon/min
95.09 liter/min
Dari perhitungan di atas , didapatkan kebutuhan aliran pelumas sebesar 95.09
liter/min. Kebutuhan aliran pelumas ini didapatkan ketika besar beban radial yang diterima
slide shoe adalah sebesar 840 kN.

Pada tabel di atas diketahui bahwa pompa LP GPA3-63 pada tekanan operasi 70 bar
mengalirkan pelumas sebesar 89,5 liter/min . Jika dibandingkan dengan kebutuhan pelumas
secara teoritis, nilai aliran pelumas pompa LP yang digunakan lebih kecil dibandingkan
dengan jumlah aliran pelumas yang dibutuhkan. Perbedaan ini disebabkan oleh adanya
perbedaan beban yang diterima slide shoe secara teoritik dengan factual di lapangan . Faktor
lain yang menyebabkan terjadinya perbedaan jumlah aliran pelumas adalah

kebocoran

pompa (baik pompa HP maupun pompa LP) yang mana akan mengakibatkan kerja dari slide
shoe tidak maksimal.

43

BAB VI
PENUTUP
6.1

Kesimpulan
Berdasarkan analisis , didapatkan kesimpulan sebagai berikut :
1.

Aliran pelumas mobilgear 600 XP 680 yang dibutuhkan pada slide


shoe pada kondisi menahan beban radial mill sebesar 840 kN, Q =
95.09 liter/min lebih besar dibandingkan dengan jumlah aliran pelumas
yang dipompakan oleh pompa LP yang digunakan pada tekanan 70 bar
yaitu sebesar Q = 89.5 liter/min

2.

Kinerja dari slide shoe akan lebih optimal jika aliran pelumasan sesuai
dengan yang dibutuhkan

3.

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat keausan dari slide shoe adalah
kebocoran pompa, material slide shoe , serta beban dan putaran cement
mill.

6.2

Saran
Saran untuk PT Semen Padang :
1.

Sebaiknya jumlah aliran pelumas yang digunakan adalah jumlah aliran


yang sesuai dengan teoritik (ketika beban maksimum), yaitu 95.09
liter/min untuk meningkatkan kinerja slide shoe

2.

Sebaiknya terdapat data yang lebih akurat dalam melakukan


pengecekan tebal film pelumas

44